Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Alam dan Lingkungan , Vol.

6 (11) Maret 2015

ISSN 2086-4604

KARAKTERISTIK FUNGI ARBUSKULAR MIKORIZA GENUS GLOMUS


PADA AKAR BEBERAPA JENIS POHON DI HUTAN KOTA
UNIVERSITAS HASANUDDIN TAMALANREA
Resti Ura, Samuel A. Paembonan, Anwar Umar
Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin, Makassar
uraresti@yahoo.com
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik fungi arbuskular mikoriza Genus
Glomus pada akar beberapa jenis pohon di Hutan Kota Universitas Hasanuddin Tamalanrea
Makassar. Penelitian ini mengunakan metode pewarnaan akar (Kormanik dan McGraw) yang
dimodifikasi untuk identifikasi karakteristik fungi arbuskular mikoriza. Data hasil penelitian
dianalisis secara deskriptif terhadap fungi arbuskular mikoriza dari beberapa jenis rambut
akar pohon penelitian. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa karakteristik yang didapatkan
adalah hifa memiliki percabangan, ada klamidospora, percabangan hifa kadang berbentuk
tipe H, vesikel berbentuk oval/lonjong, dan terdapat arbuskular. Karakteristik fungi
arbuskular mikoriza tersebut merupakan ciri dari Genus Glomus. Kemampuan Glomus
menginfeksi rambut akar pohon bitti (40%), tanjung (25%) dan kecrutan (17,5%).
Kata kunci: Fungi Arbuskular Mikoriza, Glomus, Pohon

pemakaiannya aman (tidak menyebabkan


pencermaran lingkungan), berperan aktif
dalam siklus hara dan sekali tanaman
terinfeksi FAM manfaatnya akan
diperoleh selama hidup tanaman
tersebut. Sejalan dengan perkembangan
ilmu bioteknologi, fungi arbuskular
mikoriza merupakan objek yang
mempunyai
prospek
untuk
dikembangkan lebih lanjut. Penelitian
mengenai fungi arbuskular mikoriza
indigenous pada berbagai akar pohon
masih kurang diteliti, padahal mikoriza
indigenous sangat berpotensi sebagai
pupuk hayati yang berperan penting
dalam membantu penyerapan hara,
sehingga
dapat
meningkatkan
pertumbuhan tanaman. Fungi arbuskular
mikoriza dapat ditemukan pada berbagai
tanaman tingkat tinggi yang tumbuh
pada berbagai tipe habitat dan iklim.
Keuntungan tanaman yang terinfeksi
oleh FAM antara lain meningkatkan
kemampuan
tanaman
dalam
pengambilan unsur hara (K, Mg, Ca,O,
H, C, dan S) terutama fosfor yang
berguna
untuk
merangsang
pertumbuhan dan perkembangan akar

PENDAHULUAN
Fungi
arbuskular
mikoriza
merupakan salah satu jenis fungi yang
terdapat di dalam tanah memiliki
tingkat penyebaran yang luas. Jenis
mikoriza yang dapat bersimbiosis
dengan akar tumbuhan tanpa adanya
campur tangan manusia disebut mikoriza
indigenous.
Mikoriza
indigenous
memiliki potensi yang tinggi untuk
menginfeksi tanaman karena dapat
mengenali tanaman
inangnya dan
toleran terhadap pengaruh lingkungan
(Sundari, dkk., 2011).
Aktivitas
mikroorganisme tanah di sekitar rizosfer
sangat membantu perbaikan kesuburan
tanah dan berdampak positif terhadap
peningkatan kualitas dan kuantitas
produksi tanaman (Chauhan et al. 2013).
Pemanfaatan fungi arbuskular mikoriza
(FAM) sebagai agen hayati merupakan
pendekatan biologis ramah lingkungan
dan
telah
dikembangkan
secara
luas
pada
bidang
kehutanan,
pertanian dan perkebunan (Nova, 2005;
Sausa et al. 2013). Keunggulan yang
diperoleh
dengan
pemanfaatan
fungi mikoriza arbuskular adalah
16

Jurnal Alam dan Lingkungan , Vol.6 (11) Maret 2015

(Chauhan et al. 2013; Odigie dan


Elziashi, 2013). Mikoriza adalah suatu
bentuk hubungan simbiosis mutualisme
antara fungi dan perakaran tumbuhan
tingkat
tinggi
(Kavitha
dan
Nelson, 2013). Simbiosis ini terjadi
saling
menguntungkan,
fungi
memperoleh karbohidrat dan unsur
pertumbuhan lain dari tanaman inang,
sebaliknya fungi memberi keuntungan
kepada tanaman inang, dengan cara
membantu tanaman dalam menyerap
unsur hara terutama unsur fosfor
(Pulungan, 2013). Mikoriza menginfeksi
akar tanaman Dicotyledoneae sebanyak
83 %, terbanyak
menginfeksi akar
Leguminosae
dan
tanaman
Monocotyledoneae
sebanyak
79%,
terbanyak menginfeksi akar Gramineae
(Chalimah, dkk., 2007; Kavitha dan
Nelson, 2013). Berdasarkan struktur
tubuh dan cara menginfeksi akar,
mikoriza dapat dibedakan atas dua
kelompok
yaitu ektomikoriza dan
endomokoriza namun ada juga yang
membedakan menjadi tiga kelompok
dengan menambah jenis peralihan dari
dua bentuk tersebut yang disebut
ektendomikoriza. Fungi
arbuskular
mikoriza termasuk kelompok fungi
endomikoriza, membentuk vesikular dan
arbuskular yang besar di dalam sel
korteks dapat dijumpai pada Glomus
(Dewi, 2007). Pertumbuhan Glomus
memiliki tingkat adaptasi yang tinggi
terhadap
kondisi
lingkungan
(Puspitasari, dkk., 2012), sehingga
Glomus
paling banyak
dijumpai
bersimbiosis dengan akar berbagai jenis
tanaman (Navarro et al. 2012). Kampus
Universitas Hasanuddin Tamalanrea
memiliki luas
+ 220 Ha dan telah
ditetapkan
berdasarkan
Keputusan
Walikota
Makassar
Nomor:
522.4/807/Kep/XI/2008
sebagai
Kawasan Hutan Kota di Kota Makassar
dengan luas Hutan Kota sebesar 20 Ha
dan ditumbuhi berbagai jenis pohon
(Keputusan Walikota Makassar, 2008
dalam Tambaru, 2012). Berdasarkan

ISSN 2086-4604

uraian di atas maka dilakukan penelitian


mengenai
Karakteristik
Fungi
Arbuskular Mikoriza Genus Glomus
pada Akar Beberapa Jenis Pohon di
Hutan Kota Universitas Hasanuddin
Tamalanrea.
METODE PENELITIAN
Alat yang digunakan adalah botol
sampel, tabung reaksi, pinset, spatula,
saringan, gelas ukur 1000 ml, beaker
glass, timbangan digital, cawan petri,
objek glass dan desk glass, wadah
preparat, mikroskop compound olympus
CX-31, GPS, mikroskop kamera nikon
eclipse 80i, pH tanah, termo-hygrometer,
lux meter, gunting, tissue, label, mistar,
jangka sorong, pisau, linggis, skop,
kamera digital, dan alat tulis menulis.
Bahan
penelitian
yang
digunakan adalah rambut akar jenis
pohon penelitian yaitu: rambut akar Vitex
cofassus,
Mimusops
elengi
dan
Sphatodea campanulata. Bahan kimia
yang digunakan untuk analisis FAM
yaitu: larutan formalin asam asetat
alkohol (FAA merupakan campuran
bahan kimia yang terbuat dari formalin
90 ml asam asetat 5 ml dan alkohol
50%), larutan KOH 10% 100 ml, larutan
H2O2 10% 65 ml, larutan HCl 2% 40 ml,
larutan staining 125 ml, dan larutan
distaining 250 ml.
Metode Kerja
Pengambilan sampel rambut akar
pohon penelitian dilakukan dengan cara
menggali tanah di bawah tajuk pohon
penelitian. Pengambilan sampel rambut
akar dilakukan pada kedalaman tanah
0-30 cm. Pewarnaan rambut akar
menggunakan metode pewarnaan akar
(Kormanik
dan
McGraw,
1982;
Nusantara,
dkk.,
2012)
yang
dimodifikasi. Pengamatan infeksi fungi
arbuskular mikoriza dilakukan secara
sistematik dengan cara mengambil
potongan-potongan rambut akar yang
telah diwarnai sepanjang 1 cm secara
acak sebanyak 10 potong rambut akar
17

Jurnal Alam dan Lingkungan , Vol.6 (11) Maret 2015

dan disusun di dalam slide mikroskop


lalu
diamati
dengan
mikroskop
compound olympus CX-3. Menurut
Giovannetti dan Mosse (1980) dalam
Utaminingsih (2011), slide mikroskop
yang
menunjukkan
tanda-tanda
kolonisasi (terdapat hifa, vesikular,
arbuskular, klamidospora, dan spora)
diberi tanda positif (+), sedangkan jika
tidak terdapat tanda-tanda kolonisasi
diberi tanda negatif (-). Persentase akar
terinfeksi dapat dihitung dengan rumus
(Kormanik dan McGraw, 1982; Tushar
dan Satish, 2013) sebagai berikut:

ISSN 2086-4604

FAM yang didapatkan pada setiap jenis


rambut
akar
pohon
penelitian.
Identifikasi fungi arbuskular mikoriza.
Penelitian ini juga mengukur variabel
lingkungan antara lain: suhu udara,
kelembapan udara, intensitas cahaya,
pH tanah, dan kelembapan tanah.
Analisis Data
Data penelitian dianalisis secara
deskriptif terhadap fungi arbuskular
mikoriza dari beberapa jenis rambut
akar pohon penelitian. Data hasil
penelitian
yang diperoleh ditabulasi
dalam
bentuk
tabel
berdasarkan
parameter penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian karakteristik
fungi arbuskular mikoriza (FAM) Genus
Glomus yang bersimbiosis dengan
rambut akar pohon penelitian disajikan
pada Tabel 1. sebagai berikut:

Variabel Pengamatan
Variabel pengamatan penentuan
jenis fungi arbuskular mikoriza meliputi
karakteristik morfologi spora, warna
spora bentuk dan struktur hifa, vesikular,
arbuskular,
ada
atau
tidaknya
klamidospora dan persentase infeksi

Tabel 1. Karakteristik Fungi Arbuskular Mikoriza (FAM) Genus Glomus pada Rambut
Akar Pohon Penelitian
FAM
Rerata
No.
Nama Pohon
Genus
H A V Ks S Infeksi FAM
(%)
1.
Bitti
+
+
+
+
+
40
Glomus
2.
Tanjung
+
+
+
+
+
25
Glomus
3.
Kecrutan
+
+
+
+
+
17.5
Glomus
Keterangan:
Hifa (H), Arbuskular (A), Vesikular (V), Klamidospora (Ks), Spora (S), Terinfeksi
Fungi Arbuskular Mikoriza (+), dan Tidak Terinfeksi Fungi Arbuskular Mikoriza (-).

Spora berasal dari perkembangan hifa


disebut
klamidospora.
Setiap
percabangan hifa akan membentuk
klamidospora yang disebut tandan spora
(sporocarp). Ukuran spora 46-54 m dan
warna spora cokelat tua.

Karakteristik
Fungi
Arbuskular
Mikoriza Pada Rambut Akar Pohon
Pohon Penelitian Di Hutan Kota
Universitas Hasanuddin Tamalanrea
1. Bitti Vitex copassus Reinw ex Blume
Rambut
akar
pohon
bitti
memiliki hifa fungi yang relatif lurus
sepanjang korteks akar. Vesikular
berbentuk oval, terdapat arbuskular.
Spora terbentuk dari pembengkakan
ujung
hifa.
Ujung
hifa
yang
menggelembung berubah menjadi spora.

2. Tanjung Mimusops elengi L.


Rambut
akar
pohon
bitti
memiliki hifa fungi yang relatif lurus
sepanjang korteks akar. Vesikular
berbentuk
oval,
terdapat
arbuskular. Spora terbentuk dari
18

Jurnal Alam dan Lingkungan , Vol.6 (11) Maret 2015

pembengkakan ujung hifa. Ujung hifa


yang menggelembung berubah menjadi
spora. Spora berasal dari perkembangan
hifa disebut klamidospora. Setiap
percabangan hifa akan membentuk
klamidospora yang disebut tandan spora
(sporocarp). Ukuran spora 46-54 m dan
warna spora cokelat tua.

ISSN 2086-4604

spora putih, kuning dan cokelat. Hasil


penelitian persentase infeksi pada rambut
akar bitti sebanyak 40%, tanjung 25%
dan kecrutan 17,5%. Persentase infeksi
FAM tidak sampai 50%, akan tetapi
dapat memberikan gambaran positif pada
masa akan datang, bahwa di Hutan Kota
Universitas Hasanuddin terdapat FAM
yang bersimbiosis dengan rambut akar
pohon penghijauan ditemukan mikoriza
Genus Glomus. Persentase infeksi FAM
sangat diperlukan untuk mengetahui
seberapa besar akar pohon penelitian
mampu di infeksi oleh FAM, sehingga
dapat diketahui tingkat kesuburan tanah
apabila tanah terinfeksi FAM tinggi,
maka tanah disekitarnya kurang subur
dan jika infeksi FAM rendah, maka
tanah di sekitarnya subur. Fungi
arbuskular mikoriza indigenous yang
menginfeksi
rambut
akar
pohon
penelitian merupakan mikoriza yang
hidup tanpa campur tangan manusia.
Mikoriza indigenous berpotensi besar
karena mikoriza indigenous merupakan
salah satu sumber mikroorganisme yang
dapat membantu penyerapan hara
dalam
tanah,
sehingga
dapat
memacu
pertumbuhan
tanaman
(Sundari, dkk., 2011). Kemampuan fungi
arbuskular mikoriza menginfeksi rambut
akar tanaman berbeda-beda tergantung
dari tingkat infektivitas dan efektivitas
setiap simbiosis antara tanaman inang
dan FAM (Chalimah, dkk., 2007;
Ulfa, dkk., 2011). Fungi arbuskular
mikoriza dapat dijadikan sebagai salah
satu alternatif teknologi untuk membantu
pertumbuhan dan meningkatkan kualitas
dan produktivitas tanaman khususnya
pada tanah-tanah marginal yang kurang
subur (Pulungan, 2013). Infeksi fungi
arbuskular mikoriza tidak terlepas dari
pengaruh karakteristik tanaman dan
sejumlah faktor lingkungan seperti: suhu,
kelembapan
udara,
pH
tanah,
kelembapan tanah, dan intensitas cahaya.
Hasil pengukuran faktor lingkungan
pada lokasi penelitian ini yaitu: Glomus
pada rambut akar pohon bitti, tanjung
dan kecrutan memiliki suhu udara

3. Kecrutan Sphatodea campanullata


Beauv.
Rambut akar pohon kecrutan
memiliki hifa yang relatif lurus
sepanjang korteks akar. Vesikular
berbentuk oval, terdapat arbuskular.
Spora terbentuk dari pembengkakan
ujung
hifa.
Ujung
hifa
yang
menggelembung berubah menjadi spora.
Spora berasal dari perkembangan hifa
disebut
klamidospora.
Setiap
percabangan hifa akan membentuk
klamidospora yang disebut tandan spora
(sporocarp). Ukuran spora 16-32 m dan
warna spora cokelat tua.
PEMBAHASAN
Fungi
arbuskular
mikoriza
mampu menginfeksi dan mengkolonisasi
akar berbagai jenis tanaman, tetapi ada
jenis tanaman yang paling disukai
dengan
memperlihatkan
respon
kolonisasi pada akar. Hifa pada FAM
ada dua macam yaitu: hifa eksternal
berfungsi dalam penyerapan unsur hara
fospor dan air dari dalam tanah,
kemudian dipindahkan ke dalam hifa
internal
dan
arbuskular
untuk
pertumbuhan
tanaman
inang
(Nusantara, dkk., 2012) dan hifa internal
berfungsi menyerap bahan organik dari
tanaman inang untuk pertumbuhan
mikoriza (Dewi, 2007). Hasil penelitian
pada rambut akar yang terinfeksi Glomus
dijumpai pada pohon penelitian ini
yaitu: bitti, tanjung dan kecrutan.
Menurut
Brundrett
(2008)
dan
Nusantara, dkk., (2012) ciri-ciri Glomus
yaitu hifa memiliki percabangan, ada
klamidospora, percabangan hifa kadang
berbentuk tipe H, vesikel berbentuk
lonjong, terdapat arbuskular dan warna
19

Jurnal Alam dan Lingkungan , Vol.6 (11) Maret 2015

30-32,6 oC, kelembapan udara 58-78%,


pH tanah 4,4-5,8, kelembapan tanah
40-72%,
dan
intensitas
cahaya
11400-72000 lux. Hasil dari beberapa
penelitian FAM menunjukkan bahwa
Glomus mempunyai tingkat adaptasi
yang tinggi terhadap berbagai kondisi
lingkungan ekstrim (Sayuti, dkk., 2011).
Glomus mampu hidup pada kondisi
tanah asam (Puspitasari, dkk., 2012)
dan
kondisi
tanah
netral
(Sundari, dkk., 2011). Menurut Tushar
dan Satish (2013) menyatakan faktor
yang memengaruhi kolonisasi fungi
arbuskular mikoriza yaitu pH tanah,
kelembapan, temperatur, dan intensitas
cahaya (Dewi, 2007). Kondisi pH tanah
asam (pH <7) jumlah kerapatan spora
tinggi, sedangkan tanah alkali (pH >7)
kerapatan spora rendah. Jumlah spora
pada musim panas lebih sedikit,
sedangkan pada musim penghujan spora
lebih banyak, karena pada saat tersebut
tanah di sekitar pohon lembap
(Tushar dan Satish, 2013).

ISSN 2086-4604

Chalimah, S., Muhadiono, L. Aznam, S.


Haran, N. T. Mathius, 2007.
Perbanyakan Gigaspora sp. dan
Acaulospora sp. dengan Kultur Pot
di Rumah Kaca. Biodiversitas
Vol 7, No. 4,
Hal. 12-19,
Januari 2007. ISSN: 1412-033X.
Chauhan, S., S. Kaushik, and A.
Aggarwal, 2013. AM Fungal
Diversity in Selected Medicinal
Plants of Haryana, India. Botany
Research International 6 (2):
41-46, 2013. ISSN: 2221-3635.
Dewi, I. R., 2007. Makalah Peran,
Prospek dan Kendala dalam
Pemanfaatan
Endomikoriza.
Jurusan
Budidaya
Pertanian
Program Studi Agronomi Fakultas
Pertanian. Universitas Padjadjaran.
Jatinangor, Jawa Barat.
Kavitha, T. and R. Nelson, 2013.
Diversity
of
Arbuskular
Mycorrhizal Fungi (AMF) in the
Rhizophere of Helianthus annuus
L. American-Eurasian J. Agric. &
Environ. Sci., 13 (7): 982-987,
2013. ISSN: 1818-6769.
Kormanik, P. P. and A. C. McGraw,
1982. Quantification of VesikularArbuskular Mikorizae in Plant
Roots. Dalam Schenck, N. C.
(Eds.) Methods and Principles of
Mycorrizal
Research.
The
American
Phytopatological
Society.
Navarro, A. M., J. G. S. Moragues, A. V.
Banuet, and M. Verd, 2012. The
Network Structure of PlantArbuscular Mycorrhizal Fungi.
NewPhytologist
(2012)
194: 536-547.
Nusantara, A.D., Y. H. Bertham, dan I.
Mansur, 2012. Bekerja dengan
Fungi Mikoriza Arbuskula. Seameo
Biotrop Southeast Asian Regional
Centre for Tropical Biology.
Cetakan Pertama: November 2012.
Institut
Pertanian
Bogor.
ISBN: 978-979-8275-33-3.
Nova, H., 2005. Pemanfaatan Tanah
dari Bawah Tegakan Jati Muna di

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
bahwa: karakteristik fungi arbuskular
mikoriza yang didapatkan adalah hifa
memiliki
percabangan,
ada
klamidospora, percabangan hifa kadang
berbentuk tipe H, vesikel berbentuk
oval/lonjong,
terdapat
arbuskular.
Karakteristik fungi arbuskular mikoriza
tersebut merupakan ciri dari Genus
Glomus.
Kemampuan
Glomus
menginfeksi rambut akar pohon bitti
(40%), tanjung (25%) dan kecrutan
(17,5%).
DAFTAR PUSTAKA
Brundrett, M., 2008. Mycorrizal
Associations: The Web Resource,
Section 4. Arbuskular Mycorrizal.
Version
2.
http://www.mycorrhizas.info/vam.
html. [06 Maret 2014].
20

Jurnal Alam dan Lingkungan , Vol.6 (11) Maret 2015

Sulawesi
Tenggara
sebagai
Sumber Inokulum CMA. Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor.
Odigie, E. E., and Eziashi, E. I., 2013.
Anatomy
of
Arbuscular
Mycorrhizal
Fungus
(AMF)
Acaulospora scrobiculatu on Roots
of the Shea Tree Vitellaria
paradoxa in Nigeria. Discourse
Journal of Agriculture and Food
Sciences Vol 1 (7): 123-127,
July 2013. ISSN: 2346-7002.
Pulungan, A. S. S., 2013. Infeksi Fungi
Mikoriza Arbuskular pada Akar
Tanaman
Tebu
(Saccharum
officinarum L.). Jurnal Biosains
Unimed Vol. 1, No. 1, Juni 2013.
ISSN: 2338-2562.
Puspitasari, D., K. I. Purwani, dan A.
Muhibuddin, 2012. Eksplorasi
Vesicular Arbuscular Mycorrhiza
(VAM) Indigenousous pada Lahan
Jagung di Desa Torjun, Sampang
Madura. Jurnal Sains dan Seni ITS
Vol. 1, Hal. 19-22, (Sep, 2013).
ISSN: 2301-928X.
Sundari, S., T. Nurhidayati, dan I,
Trisnawati, 2011. Isolasi dan
Identifikasi
Mikoriza
Indigenousous dari Perakaran
Tembakau
Sawah
(Nicotiana
tabacum L) di Area Persawahan
Kabupaten Pamekasan Madura.
Jurusan
Biologi,
Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Institut Teknologi Sepuluh
November, hal. 2.
Sousa, C. d. S., R.S.C. Menezes, E. V. d.
S. B. Sampaio, F. d. S. Lima, F.
Oehl, and L.C. Maia, 2013.
Arbuscular Mycorrhizal Fungi
Within
Agroforestry
and
Traditional Land Use Systems in
Semi-Arid Northeast Brazil. Acta
Scientiarum. Agronomy Maring,
v. 35, n. 3, p. 307-314, July-Sept.
2013. ISSN: 1679-9275.
Tambaru, E., 2012. Potensi Absorpsi
Karbon Dioksida pada Beberapa
Jenis Pohon Hutan Kota di Kota

ISSN 2086-4604

Makassar. Disertasi Program Studi


Ilmu
Pertanian
Program
Pascasarjana
Universitas
Hasanuddin Makassar.
Tushar, K.S. and A. B. Satish, 2013.
Incidences
of
Arbuscular
Mycorrhizal Fungi (AMF) in
Urban Farming of Mumbai and
Suburbs, India. Environmental
Sciences Research Laboratory,
Department of Botany, Wilson
College,
Mumbai,
India.
International Research Journal of
Environment Sciences. Vol. 2(1),
12-18,
January
(2013).
ISSN: 2319-1414.
Ulfa, M., A. Kurniawan, Sumardi, dan I.
Sitepu, 2011. Populasi Fungi
Mikoriza Arbuskula (FMA) Lokal
pada Lahan Pasca Tambang
Batubara. Jurnal Penelitian Hutan
dan Konservasi Alam Vol. 8 No.
3: 301-309.
Utaminingsih, P. R., 2011. Aplikasi
Kompos dan Fungi Mikoriza
Arbuskula (FMA) Indigen dari
Lahan Bekas Tambang Kapur
untuk Meningkatkan Pertumbuhan
Semai Jati Tectona grandis Linn. f.
Skripsi Jurusan Biologi Fakutas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Hasanuddin,
Makassar.

21