Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN

HERNIA UMBILIKALIS
I. KONSEP PENYAKIT
A. Definisi
Hernia umbilikalis merupakan hernia congenital pada umbilicus
yang hanya ditutup peritoneum dan kulit, berupa penonjolan yang
mengandung isi rongga perut yang masuk melalui cincin umbilicus akibat
peninggian tekanan intra abdomen, biasanya jika bayi menangis. Angka
kejadian hernia ini lebih tinggi pada bayi premature.
Hernia umbilikalis pada orang dewasa merupakan lanjutan hernia
umbilikalis pada anak. Peninggian tekanan karena kehamilan, obesitas atau
asites merupakan factor predisposisi.

B. Etiologi
Menurut Black,J dkk (2002).Medical Surgical Nursing, edisi 4.
Pensylvania: W.B Saunders, penyebab hernia adalah:
1.

Kelemahan otot dinding abdomen.


a. Kelemahan jaringan
b. Adanya daerah yang luas di ligamen inguinal
c. Trauma

2.

Peningkatan tekanan intra abdominal.


a.
b.
c.
d.
e.
f.

3.

Obesitas
Mengangkat benda berat
Mengejan dan Konstipasi
Kehamilan
Batuk kronik
Hipertropi prostate

Faktor resiko: kelainan kongenital

C. Manifestasi Klinik
a. Penonjolan di daerah umbilikalis
b. Nyeri pada benjolan/bila terjadi strangulasi.
c. Obstruksi usus yang ditandai dengan muntah, nyeri abdomen seperti
d.
e.
f.
g.
h.
i.

kram dan distensi abdomen.


Terdengar bising usus pada benjolan
Kembung
Perubahan pola eliminasi BAB
Gelisah
Dehidrasi
Hernia biasanya terjadi/tampak di atas area yang terkena pada saat
pasien berdiri atau mendorong.

D. Klasifikasi
Banyak sekali penjelasan mengenai klasifikasi hernia menurut macam,
sifat dan proses terjadinya.
1) Macam-macam hernia menurut letaknya :
a. Inguinal
Hernia inguinal ini dibagi lagi menjadi :
(1) Indirek / lateralis: Hernia ini terjadi melalui cincin inguinalis
dan melewati korda spermatikus melalui kanalis inguinalis. Hal
ini umumnya terjadi pada pria dari pada wanita. Insidennya
tinggi pada bayi dan anak kecil. Hernia ini dapat menjadi sangat
besar dan sering turun ke skrotum. Benjolan tersebut bisa
mengecil atau menghilang pada waktu tidur dan bila menangis,
mengejan atau mengangkat benda berat atau bila posisi pasien
berdiri dapat timbul kembali.
(2) Direk / medialis: Hernia ini melewati dinding abdomen di area
kelemahan otot, tidak melalui kanal seperti pada hernia
inguinalis dan femoralis indirek. Ini lebih umum pada lansia.
Hernia inguinalis direk secara bertahap terjadi pada area yang
lemah ini karena defisiensi kongenital. Hernia ini disebut direkta
karena langsung menuju anulus inguinalis eksterna sehingga
meskipun anulus inguinalis interna ditekan bila pasien berdiri
atau mengejan, tetap akan timbul benjolan. Bila hernia ini
sampai ke skrotum, maka hanya akan sampai ke bagian atas
skrotum, sedangkan testis dan funikulus spermatikus dapat

dipisahkan dari masa hernia. Pada pasien terlihat adanya massa


bundar pada anulus inguinalis eksterna yang mudah mengecil
bila pasien tidur. Karena besarnya defek pada dinding posterior
maka hernia ini jarang sekali menjadi ireponibilis.
b. Femoral :
Hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada
wanita dari pada pria. Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis
femoralis yang membesar dan secara bertahap menarik peritoneum
dan hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk ke dalam
kantung. Ada insiden yang tinggi dari inkarserata dan strangulasi
dengan tipe hernia ini.
c. Umbilikal :
Hernia umbilikalis pada orang dewasa lebih umum pada wanita dan
karena peningkatan tekanan abdominal. Ini biasanya terjadi pada
klien gemuk dan wanita multipara. Tipe hernia ini terjadi pada sisi
insisi bedah sebelumnya yang telah sembuh secara tidak adekuat
karena masalah pascaoperasi seperti infeksi, nutrisi tidak adekuat,
distensi ekstrem atau kegemukan.
d. Incisional :
Batang usus atau organ lain menonjol melalui jaringan parut yang
lemah.
2) Macam-macam Hernia berdasarkan terjadinya:
a. Hernia bawaan atau kongenital Patogenesa
b. Hernia dapatan atau akuisita (acquisitus = didapat)
3) Macam-macam Hernia menurut sifatnya :
a. Hernia reponibel/reducible,
yaitu bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau
mengejan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak
ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.
b. Hernia ireponibel,
yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam
rongga. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada
peri tonium kantong hernia. Hernia ini juga disebut hernia akreta
(accretus = perlekatan karena fibrosis). Tidak ada keluhan rasa nyeri
ataupun tanda sumbatan usus.

c. Hernia strangulata atau inkarserata (incarceratio = terperangkap,


carcer = penjara),
yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. Hernia inkarserata
berarti isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam
rongga perut disertai akibatnya yang berupa gangguan pasase atau
vaskularisasi.Secara klinis hernia inkarserata lebih dimaksudkan
untuk hernia ireponibel dengan gangguan pasase, sedangkan
gangguan vaskularisasi disebut sebagai hernia strangulata. Hernia
strangulata mengakibatkan nekrosis dari isi abdomen di dalamnya
karena tidak mendapat darah akibat pembuluh pemasoknya terjepit.
Hernia jenis ini merupakan keadaan gawat darurat karenanya perlu
mendapat pertolongan segera.
E. Patofisiologi
Hernia

berkembang

ketika

intra

abdominal

mengalami

pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang


berat, pada saat buang air besar atau batuk yang kuat atau bersin dan
perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang
berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu
kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak
cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau
terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan
abdominal dan kegemukan. Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat
kecil pada dinding abdominal, kemudian terjadi hernia. Karena organorgan selalu selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung
dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan dan
mengakibatkan

kerusakan

yang

sangat

parah.sehingga

akhirnya

menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami


kelemahan jika suplai darah terganggu maka berbahaya dan dapat
menyebabkan ganggren (Oswari, E. 2000).

Obesitas batuk, kongental, mengedan,


pengangkatan beban
Tekanan intra abdomen meningkat
Rusaknya integritas dinding otot perut
Organ terdorong keluar melalui defek

F. Pathway
Hernia

Mengeluarkan zat-zat proteolitik


(Bradakini,histamine,
prostaglandin)

Hernia umbikalis
kongenital

Hernia para
umbikalis

Hernia
inguinalis

Kantung hernia
keluar melalui
umbikalis

Kantung hernia
melewati dinding
abdomen

Kantung hernia
memasuki celah
inguinal

Respon nyeri

Nyeri
Nyeri

Hiatus hernia

Hernia insisional

Kantung hernia
memasuki
rongga thorak

Kantung hernia
memasuki celah
bekas insisi

Terdorong lewat dinding posterior


canalis inguinal yang lemah
Benjolan pada regio inguinal

Abdomen
terdesak
Mual, muntah
Asupan nutrisi kurang

Ketidakseimbang
Ketidakseimbang
an
an nutrisi
nutrisi kurang
kurang
dari
dari kebutuhan
kebutuhan
tubuh
tubuh

Pembedahan

Insisi bedah

Dampak anestesi

Terputusnya
kontuinitas jaringan

SAB

Pemasangan
elektroda
Posisi tidak
tepat
Resiko
Resiko injury
injury

Cemas
Cemas

Mengeluarkan zat-zat
proteolitik
(Bradakini,histamine,
prostaglandin)

Luka terbuka
Port de entry
kuman

Respon nyeri
Resiko
Resiko infeksi
infeksi
Nyeri
Nyeri
Kerusakan
Kerusakan
integritas
integritas kulit
kulit

Ekstremitas bawah
tidak dapat
digerakkan
Hambatan
Hambatan
mobilitas
mobilitas fisik
fisik

G. Pemeriksaan Penunjang
1.

Pemeriksaan diameter
Dengan inspeksi, adanya benjolan pada umbilikus dan terlihat cukup
jelas.

2.

Pemeriksaan lab:
a. Darah lengkap: Peningkatan jumlah sel darah putih dengan
pergeseran diferensial.
b. Urinalis untuk mendeteksi adanya infeksi saluran kemih

3.

Pemeriksaan rontgen
a. Rontgen abdomen, untuk mendeteksi penyebab lain
b. Rontgen dada, untuk mengesampingkan pneumonia

H. Penatalaksanaan
1.
Konservatif
a.
Istirahat di tempat tidur dan menaikkan bagian
kaki, hernia ditekan secara perlahan menuju abdomen (reposisi),
b.

selanjutnya gunakan alat penyokong.


Jika suatu operasi daya putih isi hernia diragukan,
diberikan kompres hangat dan setelah 5 menit di evaluasi
kembali.

c.
d.

Istirahat baring
Pengobatan dengan pemberian obat penawar nyeri,
misalnya Asetaminofen, antibiotic untuk membasmi infeksi, dan

e.

obat pelunak tinja untuk mencegah sembelit.


Diet cairan sampai saluran gastrointestinal
berfungsi lagi, kemudian makan dengan gizi seimbang dan tinggi
protein untuk mempercepat sembelit dan mengedan selama BAB,
hindari kopi kopi, teh, coklat, cola, minuman beralkohol yang

2.

dapat memperburuk gejala-gejala.


Reposisi

Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulate, kecuali


pada pasien anak-anak. reposisi dilakukan secara bimanual.
Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian
sedative dan kompres es diatas hernia. Jika reposisi hernia tidak
3.

berhasil dalam waktu enam jam harus dilakukan operasi segera.


Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia
inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis
ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan
hernioraphy.
a. Herniotomy
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai
kelehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada
perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat
setinggi mungkin lalu dipotong
b. Hernioraphy
Pada hernioplasti/hernioraphy dilakukan tindakan memperkecil
anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang
kanalis inguinalis. Hernioplasti mencegah terjadinya residif.
Dikenal berbagai metode hernioplastik seperti metode Bassini, atau
metode McVay. Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang
diperlukan pemakaian bahan sintesis seperti mersilene, prolene
mesh atau marleks untuk menutup defek.

I.

Komplikasi
Akibat dari hernia dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut :
1. Terjadi perlekatan antara isi hernia dengan kantong hernia, sehingga isi
hernia tidak dapat dimasukkan kembali (hernia inguinalis lateralis
ireponibilis). Pada keadaan ini belum ada gangguan penyaluran isi usus.
2. Terjadi penekanan pada cincin hernia, akibatnya makin banyak usus
yang masuk. Cincin hernia menjadi relatif sempit dan dapat
menimbulkan gangguan penyaluran isi usus. Keadaan ini disebut hernia
inguinalis lateralis incarcerata.
3. Bila incarcerata dibiarkan, maka timbul edema sehingga terjadi
penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis. Keadaan ini disebut
hernia inguinalis lateralis strangulata.

4. Timbul edema bila terjadi obstruksi usus yang kemudian menekan


pembuluh darah dan kemudian timbul nekrosis.
5. Bila terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung,
6.
7.
8.
9.

muntah dan obstipasi.


Kerusakan pada pasokan darah, testis atau saraf jika pasien laki-laki,
Pendarahan yang berlebihan/infeksi luka bedah,
Komplikasi lama merupakan atropi testis karena lesi.
Bila isi perut terjepit dapat terjadi: shock, demam, asidosis metabolik,

abses.
II. Asuhan Keperawatan Pre, Intra dan Post Herniotomy
A. Pengkajian Umum
1.

Identitas
Pengkajian umum terdiri dari identitas klien mencakup nama, umur,
alamat, pendidikan, agama ,suku bangsa. Identitas penanggung jawab,
meliputi nama , umur, alamat, pekerjaan,dan hubungan dengan klien.
Riwayat Kesehatan Klien baik Riwayat kesehatan dahulu, sekarang dan
riwayat kesehatan keluarga.

2.

Pola kebiasaan
a.

Nutrisi
Kaji pola makanan,kebiasaanmakanandan riwayat alergi terhadap
makanan

b.

Pola eliminasi
Kaji frekuensi BAB dan BAK, ada tidaknya gangguan BAK dan
BAB, Keluhan riwayat Diare, konstipasi dll.

c.

Pola aktivitas dan latihan

Kemampuan
perawatan diri
Makan/ minum
Mandi
Toileting
Berpakaian
Mobilisasi di
tempat tidur
Berpindah
Ambulasi ROM
Keterangan :

d.

: mandiri

: alat bantu

: dibantu orang lain

: dibantu orang lain dan alat

: tergantung total

Pola tidur dan istirahat


Kaji pola tidur, tingkat kenyamaan saat istirahat, dan frekuensi
tidur per hari

e.

Pola persepsi diri


Kaji perasaan klien tentang dirinya, keadaan yang dialami saat ini

f.

Pola peran dan hubungan


Kaji perubahan peran yang dialami saat sakit dan sebelum
sakit,perubahan peran yang dialami saat sakit dan sebelum sakit

g.

Pola manajemen koping stress


Kaji manajemen yang biasanya dilakukan klien saat mengalami
masalah, tingkat manajemen koping dan pemecahan masalah

h.

System nilai dan keyakinan


Kaji kebiasaan beribadah klien, system kepercayaan dan dan
budaya klien

3.

Pemeriksaan fisik
a.

Keadaan umum

: Keadaan umum klien, Glasgow coma scale

b.

Kulit

: Ada tidaknya perubahan warna, integritas

dankulit
c.

Kepala

: Bentuk Kebersihan Kulit kepala, dan warna

rambut
d.

Mata
padasclera

: Ada tidaknya konjungtivitis dan ikterik

e.

Telinga

: Ada tidaknya gangguan pendengaran,

kebersihan, kesimetrisan
f.

Hidung

: Kebersihan, atau kelainan lain

g.

Mulut

: Kebersih, ada tidaknya caries, dan infeksi

mulut lainnya
h.

Leher

: JVP meningkat atau tidak, ada tidaknya

pergerakan yang terganggu


i.

Dada

: Kesimetrisan ekspansi dada normal, tidak

ada nyeri tekan


j.

Paru-paru

: ekspansi paru terlihat jelas

k.

Abdomen

: datar, simetris, tidak teraba massa, tidak

terdapat nyeri saat dipalpasi, tidak terdapat rasa mual maupun


muntah
l.

Genetalia

: Ada tidaknya kelalinan pada daerah

genitalia
m. Anus dan rectum

: Ada Tidaknya kelainan seperti terdapat

hemoroid
n.

Ektrimitas

: Kelengkapan ekstermitas atas dan bawah,

ada tidaknya oedema, akral teraba dingin, da nada tidaknya


penurunan fungsi pergerakan

B. Persiapan Pra Operatif


a. Informed consent (tanda persetujuan secara tertulis).
b. Penyuluhan pre operasi :
1. Menjelaskan apa yang akan dihadapi oleh pasien jika ia akan
2.

dioperasi.
Menjelaskan bagaimana tubuh akan tetap berfungsi setelah

3.

dilakukan Herniotomy.
Menjelaskan bahwa akan merasa sakit / nyeri pada daerah luka /
insisi setelah operasi.

4.

Untuk mencegah komplikasi pasca operasi (atelektasis) pasien


diajarkan tentang kesehatan paru-paru, batuk efektif, menarik nafas

dalam.
c. Persiapan fisik.
1. Nutrisi
Pasien diberi makanan yang berkadar lemak rendah, tinggi
karbohidrat, protein, vitamin dan kalori. Pasien harus berpuasa 12
2.

18 jam sebelum operasi.


Cairan
Pasien tidak boleh minum selama 8 jam sebelum operasi. Tindakan
pemberian cairan dan elektrolit maupun plasma sebelum operasi.

3.

4.

Perhatikan balance 6 8 jam pre operasi.


Hygiene
- Pasien harus mandi sebelum operasi.
- Kuku disikat dan cat kuku dibuang.
- Mulut harus dibersihkan.
Istirahat
Malam sebelum operasi diusahakan agar pasien dapat tidur
nyenyak dan beristirahat, kalau perlu kolaborasi pemberian obat

5.

penenang.
Eliminasi
- Kandung kencing harus kosong, sedapat mungkin kateterisasi
harus dihindari.
- Pengosongan isi usus dengan pemberian garam fisiologis atau di

6.

lavement.
Obat-obatan pre medikasi
Pre medikasi:
Adalah pemberian obat untuk menjamin anastesi dapat berjalan
dengan baik dan lancar, dan bertujuan sebagai:
- Menghilangkan rasa gelisah dan takut sebelum operasi.
- Menurunkan BM, mengurangi pemakaian O2 tubuh.
- Melemahkan gerak refleks pada sistem saraf otonom untuk
menahan keluarnya air liur dan sekresi di bagian atas tenggorok
untuk mencegah konvulsi dan muntah.
- Mengurangi pemakaian obat anestesi dasar (utama).
- Analgesia, yang sering digunakan adalah:
a. Morfin untuk mengurangi perasan sakit.
b. Atrofin mengurangi sekresi dari mulut dan

7.

pernafasan.
c. Obat anti muntah.
Kulit

saluran

8.
9.

Mencukur bagian yang akan dioperasi.


Observasi tanda-tanda vital
Transporting pasien
Pasien harus dibawa tepat pada waktunya, jangan terlalu cepat,
sebab terlalu lama menunggu saat operasi akan menyebabkan
pasien gelisah dan takut. Baju pasien diganti dengan baju khusus
operasi, barang-barang berharga diserahkan pada keluarga.

Diagnosa Dan Intervensi Keperawatan


Diagnosa

Tujuan

Kurang

Setelah

Intervensi

diberikan Pengetahuan penyakit


1. Kaji pengetahuan klien
pengetahuan b.d penjelasan selama 2 x,
tentang penyakitnya
prosedur/tindakan tentang penyakit, pasien
2. Jelaskan tentang proses
Herniatomy
mengerti
proses
penyakit (tanda dan
penyakitnya dan program
gejala),
identifikasi
perawatan serta Therapi yg
kemungkinan
diberikan dg:
penyebab.
Jelaskan
Indikator:
Pasien mampu:
kondisi tentangklien
1. Menjelaskan
3. Jelaskan
tentang
kembali

tentang

penyakit,
2. Mengenal

pengobatan

pengobatan

dan

alternatif

pengobantan
4. Diskusikan

kebutuhan
perawatan

program

dan
tanpa

tentang

terapi dan pilihannya


5. Tanyakan
kembali
pengetahuan

cemas

tentang

klien
penyakit,

prosedur operasi
Teaching : Preoperative
1.
Informasikan
klien

waktu

pelaksanaan
2.

prosedur

operasi/perawatan
Informasikan
klien

lama

pelaksanaan

waktu
prosedur

3.

operasi/perawatan
Jelaskan tujuan
prosedur

4.

operasi/perawatan
Jelaskan hal-hal
yang perlu dilakukan
setelah

5.

prosedur

operasi/perawatan
Pastikan
persetujuan

6.
Kecemasan

operasi

telah ditandatangani
Lengkapi

ceklist operasi
dilakukan Penurunan kecemasan
1. Bina
Hub.
Saling
perawatan selama 2x24 jam
percaya
cemas ps hilang atau
2. Libatkan keluarga
berkurang dg indikator:
3. Jelaskan
semua
1. Mengungkapkan
Prosedur
cara
mengatasi
4. Hargai pengetahuan ps
cemas
2. Mampu
tentang penyakitnya
5. Bantu
ps
untuk
menggunakan
mengefektifkan sumber
coping
3. Dapat tidur
support
4. Mengungkapkan
6. Berikan reinfocement
Setelah

tidak ada penyebab

untuk

fisik

Sumber Coping yang

yang

dapat

menyebabkn cemas

C. Pengkajian Intra Operatif


Di ruang penerimaan perawat sirkulasi :
a)

Memvalidasi identitas klien.

b)

Memvalidasi inform concent.

Chart Review :

efektif

menggunakan

a)

Memberikan

informasi

yang

dibutuhkan

untuk

mengidentifikasi kebutuhan actual dan potensial selama pembedahan


Herniatomy.
b)

Mengkaji dan merencanakan kebutuhan klien selama dan


sesudah operasi.

Perawat menanyakan :
a)

Riwayat allergi, reaksi sebelumnya terhadap anesthesia


atau tranfusi darah.

b)

Check riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik.

c)

Check pengobatan sebelumnya : therapy, anticoagulasi.

d)

Check adanya gigi palsu, kontaks lens, perhiasan, wigs


dan dilepas.

e)

Kateterisasi.

Diagnosis keperawatan
Diagnosa
Tujuan
Resiko infesi, NOC: Kontrol infeksi
dengan

faktor Selama

dilakukan

Intervensi
NIC: kontrol infeksi intra operasi
tindakan

1. gunakan

resiko: Prosedur operasi tidak terjadi transmisi


agent infeksi.

Herniatomy,

Indikator:

infus, DC

Alat dan bahan yang dipakai

Resiko

tidak terkontaminasi
NOC: control temperature

NIC:

hipotermi

Kriteria:

intraoperatif

faktor

1. Temperature

resiko:

Berada

nyaman

diruangan yang

khusus

ruang operasi

invasif:

dengan

pakaian

2. Pertahankan prinsip aseptic


dan antiseptik

pengaturan

temperature:

ruangan Aktivitas:

2. Tidak terjadi hipotermi

dingin

1. Atur suhu ruangan yang


nyaman
2. Lindungi area diluar wilayah

Resiko

cedera NOC: control resiko

operasi
NIC: surgical precousen

dengan

faktor Indicator: tidak terjadi injuri

Aktifitas:

resiko:
Gangguan

1. Tidurkan klien pada meja


operasi dengan posisi sesuai

persepsi sensori

kebutuhan

karena anestesi

2. Monitor

penggunaan

instrumen, jarum dan kasa


3. Pastikantidak ada instrumen,
jarum

atau

kasa

yang

tertinggal dalam tubuh klien

D.

Pengkajian Post Operatif


Setelah menerima laporan dari perawat sirkulasi, dan pengkajian klien,
perawat mereview catatan klien yang berhubungan dengan riwayat
klien, status fisik dan emosi, sebelum pembedahan dan alergi.
Pemeriksaan Fisik Dan Manifestasi Klinik
1)

System Pernafasan
Ketika klien dimasukan ke PACU, Perawat segera mengkaji klien:
a)

Potency jalan nafas, meletakan tangan di atas mulut atau


hidung.

b) Perubahan pernafasan (rata-rata, pola, dan kedalaman). RR <


10 X / menit depresi narcotic, respirasi cepat, dangkal
gangguan cardiovasculair atau rata-rata metabolisme yang
meningkat.
c)

Auscultasi paru keadekwatan expansi paru, kesimetrisan.

d) Inspeksi: Pergerakan didnding dada, penggunaan otot bantu


pernafasan diafragma, retraksi sternal efek anathesi yang
berlebihan, obstruksi.
e)
2)

Thorax Drain.
Sistem Cardiovasculer.

a)

Sirkulasi darah, nadi dan suara jantung dikaji tiap 15


menit ( 4 x ), 30 menit (4x). 2 jam (4x) dan setiap 4 jam
selama 2 hari jika kondisi stabil.

b)

Penurunan tekanan darah, nadi dan suara jantung


depresi miocard, shock, perdarahan atau overdistensi.

c)

Nadi meningkat shock, nyeri, hypothermia.

d)

Kaji sirkulasi perifer (kualitas denyut, warna,


temperatur dan ukuran ektremitas).

e)

Homans saign trombhoplebitis pada ekstrimitas


bawah (edema, kemerahan, nyeri).

2)

Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit


a)

Inspeksi membran mukosa : warna dan kelembaban,


turgor kulit, balutan.

b)

Ukur cairan NG tube, out put urine, drainage luka.

c)

Kaji intake / out put.

d)

Monitor cairan intravena dan tekanan darah.

3)

Sistem Persyarafan
a)

Respon pupil, kekuatan otot, koordinasi. Anesthesia


umum depresi fungsi motor.

4)

Sistem Perkemihan.
a)

Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah


6 8 jam post anesthesia inhalasi, IV, spinal.
Anesthesia, infus IV, manipulasi operasi retensio urine.
Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusi abdomen bawah
(distensi buli-buli).

b)

Dower catheter kaji warna, jumlah urine, out put


urine < 30 ml / jam komplikasi ginjal.

5)

Sistem Gastrointestinal.
a)

Mual muntah

b)

Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara


usus.

c)

Kaji paralitic ileus suara usus (-), distensi


abdomen, tidak flatus

6)

Sistem Integumen.
a)

Luka bedah sembuh sekitar kurang lebih 2 minggu.


Jika tidak ada infeksi, trauma, malnutrisi, obat-obat steroid.

b)

Penyembuhan sempurna sekitar 6 bulan satu tahun.

c)

Ketidak efektifan penyembuhan luka

Diagnosa dan Intervensi keperawatan Post Operasi


Diagnosa
Tujuan
Gangguan pertukaran gas, NOC :
1. Respiratory Status : Gas exchange
berhubungan dengan efek
2. Respiratory Status : ventilation
sisa
anesthesia,
3. Vital Sign Status
Kriteria Hasil :
imobilisasi, nyeri.
1. Mendemonstrasikan peningkatan

Intervensi
NIC :
Airway Management
1. Buka jalan nafas, guanakan teknik chin
ventilasi

dan

oksigenasi yang adekuat


2. Memelihara kebersihan paru paru dan bebas dari
tanda tanda distress pernafasan
3. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas
yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu
(mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas
dengan mudah, tidak ada pursed lips)
4. Tanda tanda vital dalam rentang normal

lift atau jaw thrust bila perlu


2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan
ventilasi
3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan
alat jalan nafas buatan
4. Pasang mayo bila perlu
5. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
6. Keluarkan sekret dengan batuk atau
suction
7. Auskultasi suara nafas, catat adanya
suara tambahan
8. Lakukan suction pada mayo
9. Berika bronkodilator bila perlu
10. Barikan pelembab udara
11. Atur
intake
untuk

cairan

mengoptimalkan keseimbangan.
12. Monitor respirasi dan status O2
Respiratory Monitoring
1. Monitor rata rata, kedalaman, irama

dan usaha respirasi


2. Catat
pergerakan

dada,amati

kesimetrisan, penggunaan otot tambahan,


retraksi

otot

supraclavicular

dan

intercostal
3. Monitor suara nafas, seperti dengkur
4. Monitor pola nafas : bradipena,
takipenia,

kussmaul,

cheyne stokes, biot


5. Catat lokasi trakea
6. Monitor kelelahan

hiperventilasi,

otot

( gerakan paradoksis )
7. Auskultasi suara nafas,

diagfragma
catat

area

penurunan / tidak adanya ventilasi dan


suara tambahan
8. Tentukan kebutuhan

suction

dengan

mengauskultasi crakles dan ronkhi pada


jalan napas utama
9. Auskultasi suara paru setelah tindakan
untuk mengetahui hasilnya
Kerusakan integritas kulit NOC : Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes
NIC :
Kriteria Hasil :
Pressure Management
berhubungan dengan luka
1. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan
1. Anjurkan pasien untuk menggunakan

Herniatomy,
drainage.

drain

dan

(sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)


2. Tidak ada luka/lesi pada kulit
3. Perfusi jaringan baik
4. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan
kulit dan mencegah terjadinya sedera berulang
5. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan
kelembaban kulit dan perawatan alami

pakaian yang longgar


2. Hindari kerutan padaa tempat tidur
3. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih
dan kering
4. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
setiap dua jam sekali
5. Monitor kulit akan adanya kemerahan
6. Oleskan lotion atau minyak/baby oil
pada derah yang tertekan
7. Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
8. Monitor status nutrisi pasien
9. Memandikan pasien dengan sabun dan
air hangat

Nyeri akut berhubungan NOC :


NIC
1. Pain Level,
Pain Management
dengan incisi pembedahan
2. Pain control,
1. Lakukan pengkajian nyeri secara
Herniatomy dan posisi
3. Comfort level
komprehensif
termasuk
lokasi,
Kriteria Hasil :
selama
pembedahan
1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
Herniatomy.
mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk
dan faktor presipitasi
2. Observasi
reaksi
nonverbal
dari
mengurangi nyeri, mencari bantuan)
2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan
ketidaknyamanan
3. Kontrol
lingkungan
yang
dapat
menggunakan manajemen nyeri
3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas,
mempengaruhi nyeri seperti suhu

frekuensi dan tanda nyeri)


4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
5. Tanda vital dalam rentang normal

ruangan, pencahayaan dan kebisingan


4. Kurangi faktor presipitasi nyeri
5. Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologi, non farmakologi dan inter
personal)
6. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
7. Ajarkan tentang teknik non farmakologi
8. Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri
9. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
10. Tingkatkan istirahat
11. Kolaborasikan dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

Risiko

injury NOC :
NIC :
Risk Kontrol
Environment
Management
(Manajemen
berhubungan
dengan
kriteria hasil :
lingkungan)
effect anesthesia, sedasi,
1. Klien terbebas dari cedera
1. Sediakan lingkungan yang aman untuk
2. Klien
mampu
menjelaskan
cara/metode
analgesi.
pasien
untukmencegah injury/cedera
2. Identifikasi kebutuhan keamanan pasien,
3. Klien mampu menjelaskan factor resiko dari
sesuai dengan kondisi fisik dan fungsi
lingkungan/perilaku personal
4. Mampumemodifikasi gaya hidup untukmencegah
kognitif pasien dan riwayat penyakit
injury

terdahulu pasien

5. Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada


6. Mampu mengenali perubahan status kesehatan

3. Menghindarkan
berbahaya

lingkungan

(misalnya

yang

memindahkan

perabotan)
4. Memasang side rail tempat tidur
5. Menyediakan tempat tidur yang nyaman
dan bersih
6. Menganjurkan keluarga untuk menemani
pasien.
7. Mengontrol lingkungan dari kebisingan
8. Memindahkan barang-barang yang dapat
membahayakan
9. Berikan penjelasan pada pasien dan
keluarga

atau

pengunjung

adanya

perubahan status kesehatan dan penyebab


penyakit.
Kekurangan

volume NOC:
NIC :
1. Fluid balance
Fluid management
cairan
berhubungan
2. Hydration
1. Timbang popok/pembalut jika diperlukan
dengan kehilangan cairan
3. Nutritional Status : Food and Fluid Intake
2. Pertahankan catatan intake dan output
Kriteria Hasil :
intra dan post operasi
yang akurat
1. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia
3. Monitor status hidrasi ( kelembaban
dan BB, BJ urine normal, HT normal
membran mukosa, nadi adekuat, tekanan
2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas
darah ortostatik ), jika diperlukan

normal
3. Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor

4. Monitor vital sign


5. Monitor masukan makanan / cairan dan

kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa

hitung intake kalori harian


Lakukan terapi IV
Monitor status nutrisi
Dorong masukan oral
Dorong keluarga untuk membantu pasien

haus yang berlebihan

6.
7.
8.
9.

makan
10. Kolaborasi dokter jika tanda cairan
berlebih muncul meburuk
Ketidak

efektifan NOC :
1. Respiratory status : Ventilation
kebersihan jalan nafas
2. Respiratory status : Airway patency
berhubungan
dengan
3. Aspiration Control
peningkatan skresi

Kriteria Hasil :
1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas
yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu
(mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas
dengan mudah, tidak ada pursed lips)
2. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak
merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan
dalam rentang normal, tidak ada suara nafas
abnormal)

NIC :
Airway suction
1. Pastikan

kebutuhan

oral

tracheal

suctioning
2. Auskultasi suara nafas sebelum dan
sesudah suctioning.
3. Informasikan pada klien dan keluarga
tentang suctioning
4. Minta klien nafas dalam sebelum suction
dilakukan.
5. Berikan O2 dengan menggunakan nasal
untuk memfasilitasi suksion nasotrakeal
6. Gunakan alat yang steril sitiap
melakukan tindakan

3. Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor


yang dapat menghambat jalan nafas

7. Anjurkan pasien untuk istirahat dan


napas dalam setelah kateter dikeluarkan
dari nasotrakeal
8. Monitor status oksigen pasien
9. Ajarkan keluarga bagaimana

cara

melakukan suksion
10. Hentikan suksion dan berikan oksigen
apabila pasien menunjukkan bradikardi,
peningkatan saturasi O2, dll.
Airway Management
1. Buka jalan nafas, guanakan teknik chin
lift atau jaw thrust bila perlu
2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan
ventilasi
3. Identifikasi pasien perlunya pemasangan
alat jalan nafas buatan
4. Pasang mayo bila perlu
5. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
6. Keluarkan sekret dengan batuk atau
suction
7. Auskultasi suara nafas, catat adanya
suara tambahan
8. Lakukan suction pada mayo

9. Berikan bronkodilator bila perlu


10. Berikan pelembab udara Kassa basah
NaCl Lembab
11. Atur
intake

untuk

mengoptimalkan keseimbangan.
12. Monitor respirasi dan status O2

cairan

DAFTAR PUSTAKA
Arief Mansyur, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, EGC, Jaharta.
Brunner & Suddarth, 2001, Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 vol, EGC,
Jakarta.
Carpenito, Lynda Juall, 1995, Diagnosa keperawatan Aplikasi pada Praktek
Klinik Edisi 6, EGC, Jakarta
Carpenito, Lynda Juall, 1995, Rencana Asuhan dan Dokumentasi keperawatan
Edisi 2, EGC, Jakarta
Engram, Barbara,1999, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume I,
EGC, Jakarta
Gayton & Hall, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, EGC, Jakarta.
Gibson, John, MD, 1995, Anatomi Dan Fisiologi Modern Untuk Perawat, EGC,
Jakarta
Hudak & Gallo, 1996, Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik, Edisi VI, EGC,
Jakarta
Keliat, B.A. 1994, Proses Keperawatan, Arcan, Jakarta.
Made Kusala Girl, Farid Nur Mantu, 2000, Hernia Inguinalis Lateralis pada
Anak-anak, Laboratorium Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas
Hasanuddin, Ujung Pandang
Marrilyn. E. Doengoes, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3 EGC,
Jakarta
Soeparman A. Sarwono Waspadji, 1990, Ilmu Penyakit Dalam jilid II, UI, Jakarta.
Susan Martin Tucker, 1999, Standar Perawatan Pasien, EGC, Jakarta.