Anda di halaman 1dari 2

STEP 7

2.

1. Pada tahap awal infeksi virus, respon imun bawaan dan antibody dapat
membantu mengendalikan invasi virus. Pada gambar di atas, diasumsikan
bagwa telah terjadi pemajanan virus sebelumnya dan sudah terdapat

antibody dalam sirkulasi. Antibody tersebut akan berikatan dengan virus


untuk mencegah masuk ke sel sasaran. Tapi, apabila virus sudah dalam sel
sasaran, maka kinerja antibody tidak lagi efektif.
2. Makrofag yang memakan virus memasukkan fragmen antigen virus ke
dalam molekul MHC-II (Major Histocampatibility Complex II) pada
membrannya. Makrofag juga menyekresi berbagai sitokin. Beberapa di
antaranya

menginisiasi

respons

inflamasi.

Selain

itu

makrofg

menghasilkan interferon-, yang menyebabkan sel pejamu membentuk


protein antivirus untuk mencegah replikasi virus. Sitokin makrofag lainnya
merangsang sel di NK dan sel T helper.
3. Sel T helper berikatan dengan antigen virus pada molekul MHC-II
makrofag. Selanjutnya, sel TH akan teraktivasi menyekresi sitokin untuk
merangsang aktivasi limfosit B dan sel sitotoksik.
4. Pemajanan sebelumnya terhadap virus menghasilkan limfosit B memori
dengan antibody virus pada permukaannya. Pemajanan kedua terhadap
virus ini mengaktifkan sel memori dan mendukung pembentukan sel
plasma, menghasilkan pembentukan antibody tambahan.
5. Sel T sitotoksik memakai kompleks MHC-I antigen virus untuk mengenali
sel pejamu yang terinfeksi. Ketika sel T sitotoksik sudah mngenali sel
pejamu yang terinfeksi, mereka menyekresi kandungan granulanya ke
permukaan sel. Molekul perforin memasukkan pori ke membran sel
pejamu sehingga granzim dapat masuk ke dalam sel, menginduksi sel
melakukan bunuh diri dan menjalani apoptosis. Penghancuran sel pejamu
yang terinfeksi adalah langkah kunci dalam menghentikan replikasi virus
penginvasi.
Sumber

: Silverthorn, Dee Unglaub. 2013. Fisiologi Manusia : Sebuah

Pendekatan Terintegrasi. Jakarta: EGC.