Anda di halaman 1dari 12

Laporan Pendahuluan

Asuhan Keperawatan pada Pasien Tumor Abdomen

Oleh:
Komang Tatis Yunny Wulandari
1102105046

Program Studi Ilmu Keperawatan


Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana
2015

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Definisi
- Tumor merupakan kumpulan sel abdormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh
terus mennerus, tidak terbatas, tidak terkoordinasi dengan jaringan disekitarnya serta
-

tidak berguna bagi tubuh. (Kusuma, Budi 2001)


Tumor adalah massa padat besar, meninggi dan berukuran lebih dari 2 cm. ( Carwin,

Elizabeth.J. 2000)
Tumor abdomen merupakan massa yang padat dengan ketebalan yang berbeda-beda,
yang disebabkan oleh sel tubuh yang mengalami transformasi dan tumbuh secara
autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal, sehingga sel tersebut berbeda
dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. Secara patologi kelainan ini mudah
terkelupas dan dapat meluas ke retroperitonium, dapat terjadi obstruksi ureter atau
vena kava inferior. Massa jaringan fibrosis mengelilingi dan menentukan struktur

yang di bungkusnya tetapi tidak menginvasinya.


Tumor primer retroperitoneum berasal terutama dari jaringan ikat longgar, lemak,
fasia, otot, saraf somatis ataupun autonom, jaringan vaskuler, dan pembuluh atau
kelenjar limfe. (Karnadiharaja Warko, 2004)

2. Epidemiologi
Tumor adalah penyakit kedua setelah penyakit kardiovaskuler yang menyebabkan
kematian utama di Amerika Serikat. Lebih dari 496.000 orang Amerika meninggal
akibat proses maligna, setiap tahunnya. Memperlihatkan frekuensinya, penyebab
kematian akibat tumor di Amerika Serikat meliputi kanker paru, prostate, dan area
kolorektal pada pria dan pada tumor paru, payudara, dan area kolorektal pada wanita.
(Smelstzer, Suzanne C.2001)
3. Penyebab / Faktor Predisposisi
Penyebab terjadinya tumor abdomen karena, ter
Penyebab terjadinya tumor abdomen karena terjadinya pembelahan sel yang
abnormal. Perbedaan sifat sel tumor tergantung dari besarnya penyimpangan
dalam bentuk dan fungsi autonominya dalam perubahan kemampuannya
mengadakan infiltrasi dan menyebabkan metastasis. Banyak kondisi yang
menimbulkan tumor abdomen. Secara garis besar, keadaan tersebut dapat
dikelompokkan dalam lima hal yaitu :
a. Proses peradangan bacterial kimiawi
b. Obstruksi mekanis : seperti pada volvulus, hernia atau pelengketan.

c. Neoplasma/tumor : karsinoma, polypus atau kehamilan ektopik.


d. Kelainan vaskuler : emboli, tromboemboli, perforasi dan fibrosis.
e. Kelainan kongenital.
Adapun penyebab tumor abdomen akut :
a. Kelainan traktus gastrointestinal : nyeri non-spesifik, appendicitis, infeksi
usus halus dan usus besar, hernia strangulate, perforasi ulkus peptic,
perforasi usus, diverticulitis meckel, sindrom boerhaeve, kelainan inflamasi
usus, indrom Mallory weiss, gatroienteritis, gastritis akut, adenitis
mesenterika.
b. Kelainan pancreas : pancreatitis akut.
c. Kelainan traktus urinarius : kolik renal atau ureteral, pielonefritis akut,
sistisis akut, infark renal.
d. Kelainan hati, limpa, dan traktus biliaris : kolestitisis akut kolangitis akut,
abses hati, ruptur tumor hepar ruptur spontan limpa, kolik bilier, hepatitis
akut.
e. Kelainan ginekologi : kehamilan ektopik terganggu, tumor ovarium,
salpingitis akut, dismenorea, endometriosis.
f. Kelainan vaskuler : ruptur aneurisma aorta dan visceral, iskemia kilitis akut,
trombosis mesenterika.
g. Kelainan peritoneal : abses intraabdomen, peritonitis primer, peritonitis
TBC.
h. Kelainan retroperitoneal : perdarahan retroperitoneal ( Ibnu Zainal Arrosyad, 2010 ).
Penyebab terjadinya tumor karena terjadinya pembelahan sel yang abnormal. Pembedaan
sel tumor tergantung dari besarnya penyimpangan dalam bentuk dan fungsi aotonomnya
dalam pertumbuhan, kemampuanya mengadakan infiltrasi dan menyebabkan metastasis.
Ada beberapa factor yang dapat menyebabkan terjadinya tumor antara lain:
Karsinogen
Hormone
Gaya hidup, kelebihan nutrisi khususnya lemak dan kebiasaan makan makanan yang
kurang berserat.
Genetic
Infeksi, trauma, hipersensitivitas terhadap obat-obatan.

4. Patofisiologi
Tumor adalah proses penyakit yang bermula ketika sel abnormal di ubah oleh mutasi ganetic
dari DNA seluler, sel abnormal ini membentuk kolon dan berpopliferasi secar abnormal,
mengabaikan sinyal mengatur pertumbuhan dalam lingkungan sekitar sel tersebut.
Sel-sel neoplasma mandapat energi terutama dari anaerob karena kemampuan sel untuk
oksidasi berkurang, meskipun mempunyai enzim yang lengkap untuk oksidasi.
Susunan enzim sel uniform sehingga lebih mengutamakan berkembang biak yang
membutuhkan energi unruk anabolisme daripada untuk berfungsi yang menghasilkan energi
dengan jalan katabolisme.
Jaringan yang tumbuh memerlukan bahan-bahan untuk membentuk protioplasma dan energi,
antara lain asam amino. Sel-sel neoplasma dapat mengalahkan sel-sel normal dalam
mendapatkan bahan-bahan tersebut. (Kusuma, Budi. 2001).
Ketika dicapai suatu tahap dimana sel mendapatkan ciri-ciri invasi, dan terjadi perubahan
pada jaringan sekitarnya. Sel-sel tersebut menginfiltrasi jaringan sekitar dan memperoleh
akses ke limfe dan pembuluh-pembuluh darah, melalui pembuluh darah tersebut sel-sel dapat
terbawa ke area lain dalam tubuh untuk membentuk metastase (penyebaran tumor) pada
bagian tubuh yang lain.
Meskipun penyakit ini dapat diuraikan secara umum seperti yang telah digunakan, namun
tumor bukan suatu penyakit tunggal dengan penyebab tunggal : tetapi lebih kepada suatu
kelompok penyakit yang jelas denagn penyebab, metastase, pengobatan dan prognosa yang
berbeda. (Smelstzer, Suzanne C. 2001).

5. Klasifikasi
-

Neuroblastoma
Diagnosis dini tumor ini sulit. Sebagian besar datang dalam stadium lanjut sehingga
diagnosis lebih mudah ditegakkan tetapi angka kematiannya tinggi.
Tumor ini paling banyak berasal dari kelenjar adrenal dan gejala yang ditimbulkan
merupakan akibat dilepaskannya metabolit katekolamin secara berlebihan yaitu
berupa hipertensi, kemerahan (flushing), keringat yang berlebihan dan demam. Bila
tumor telah membesar menyebabkan perasaan tidak nyaman dan penuh dalam perut
disertai penurunan berat badan sampai failure to thrive. Ditemukannya benjolanbenjolan subkutis terutama di daerah kepala atau proptosis dan ekimosis periorbita,
merupakan gambaran penyakit yang lanjut atau metastasis.

Kadar vanillyl mandelic acid (VMA) ialah suatu derivat katekolamin biasanya
meningkat dan dapat ditemukan dalam urin penderita.
Pemeriksaan foto polos abdomen tidak jarang dapat ditemukan tanda-tanda
perkapuran dalam massa tumor dan pada pielografi intravena biasanya sistem
pelviokalises masih baik hanya letaknya berubah. Pemeriksaan USG dan CT scan
dapat lebih mengetahui perluasan tumor dan metastasis.
Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologis tumor, kadang-kadang
diperlukan pemeriksaan imunohistokimia seperti neurofilament, synaptophysin dan
neuron specific enolase (NSE)
Pada stadium lanjut dapat ditemukan kelompok-kelompok metastasis neuroblastoma
dalam sumsum tulang.
-

Nefroblastoma (Tumor Wilms)


Tumor ini berasal dari parenkim ginjal, oleh karena itu bila telah menyebar dapat
menimbulkan hematuria. Disamping itu dapat disertai hipertensi karena tumor ini
dapat merangsang aktifitas renin. Gejala tersebut dapat disertai nyeri, demam ataupun
kadang-kadang anemia atau gejala tumor abdomen umumnya.
Tumor Wilms disebut dalam kepustakaan dapat disertai aniridia dan hemihipertrofi,
walaupun keadaan tersebut sangat jarang. Pada pielografi intravena biasanya
ditemukan gambaran sistem pelviokalises yang rusak atau gambar hidronefrosis dan
tidak jarang gambaran sekresi ginjal tidak tampak.
Pada stadium lanjut dapat ditemukan gambaran metastasis dalam paru. Ultrasonografi
dan CT scan walaupun tidak mutlak tetapi sangat membantu menegakkan diagnosis
dan juga mencari metastasis.
Diagnosis pasti ditentukan dengan pemeriksaan histopatologi dari ginjal yang berisi
tumor yang telah diangkat pada laparatomi eksplorasi.
Limfoma Abdomen
Limfoma abdomen dapat timbul dari kelenjar getah bening di hati, limpa dan usus.
Apabila timbul di hati atau limpa akan menyebabkan hepatomegali atau splenomegali
atau keduanya. Tetapi bila timbulnya di usus, maka massa tumor dapat menyebabkan
obstruksi usus atau sebagai leading point untuk terjadinya intususepsi. Gejala yang
dapat timbul ialah nyeri disertai pembengkakan perut dan perubahan kebiasaan buang
air besar serta gejala obstruksi usus serta mual dan muntah. Perdarahan saluran cerna
jarang terjadi apalagi perforasi usus. Biasanya pasien dengan gejala seperti tersebut di

atas datang pada ahli bedah. Pemeriksaan radiologik yang diperlukan ialah barium
meal terutama bila obstruksinya parsial. Dapat pula dilakukan pemeriksaan USG usus.
-

Teratoma
Tumor yang berasal dari sel germinativum ini dapat timbul di manamana. Tumor
yang asalnya dari rongga abdomen hanya sekitar 1-2% dan biasanya letaknya
retroperitoneal.

Kira-kira

29%

teratoma

berasal

dari

ovarium.

Teratoma

retroperitoneal harus dibedakan dengan tumor Wilms, neuroblastoma atau


rhabdomiosarkoma.
Selain ditemukan massa tumor dalam abdomen yang biasanya cukup besar, untuk
teratoma matur, pada pemeriksaan foto polos abdomen dapat ditemukan gambaran
gigi, tulang dan lain-lain.
-

Rhabdomiosarkoma
Umumnya sebagian tumor ini berasal dari rongga pelvis, tetapi bila sudah besar dapat
mendesak ke rongga abdomen sehingga secara klinis sukar dibedakan asalnya.
Tumor ini dapat memberikan gejala hematuria, sekret berdarah ataupun obstruksi
saluran kemih. Pada anak perempuan tumor dapat keluar melalui vagina khususnya
jenis botryoid, sehingga diagnosis menjadi lebih mudah.
Pemeriksaan penunjang lain untuk tumor ini tidak banyak memberikan bantuan
kecuali pemeriksaan histopatologis dan imunohistokimia seperti vimentin, actin,
myosin dan desmin.

6. Gejala Klinis
Gejala dan tanda dini tidak ada karena tumor disini walaupun sudah amat besar, jarang
menimbulkan keluhan. Keluhan pertama berupa pembesaran perut disertai perasaan
penuh dengan atau tanpa nyeri jelas. Selanjutnya, timbul gejala akibat pendorongan atau
penekanan tumor besar pada organ-organ retroperitoneal. Mual, muntah, perubahan
kebiasaan buang air besar dapat terjadi karena ada penekanan pada saluran cerna.
Hematuria, disuria, polakisuria, oliguria, dan anuria terjadi karena penekanan pada
saluran kemih. Nyeri yang menjalar ke kedua paha menunjukkan adanya penekanan pada
saraf lumbal dan sakral. Udem dan varises pada tungkai bawah dapat terjadi karena
penekanan pada pembuluh limfa atau vena. Penderita mungkin sesak nafas karena letak
tinggi diafragma. Semuanya akhirnya diikuti dengan hilangnya nafsu makan, dan
penurunan berat badan. (Karnadiharaja Warko, 2004)
Keluhan yang menonjol adalah nyeri perut. Adapun jenis nyeri perut terdiri dari :
a) Nyeri Viseral

Terjadi bila terdapat rangsangan pada organ atau struktur dalam rongga perut.
Peritonium visceral yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem saraf
otonom dan tidak peka terhadap rabaan atau pemotongan. Akan tetapi bila dilakukan
regangan organ atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot yang menyebabkan
iskhemia akan timbul nyeri. Pasien biasanya tidak dapat menunjukkan secara tepat
letak nyeri. Nyeri visceral disebut juga sebagai nyeri sentral.
Penderita memperlihatkan pola yang khas sesuai dengan persarafan organ embrional
yang terlibat. Saluran cerna yang berasal dari usus depan (foregut) menyebabkan nyeri
di ulu hati atau epgastrium. Saluran cerna yang berasal dari usus tengah (midgut)
menyebabkan nyeri di sekitar umbilikus. Bagian saluran cerna yang berasal dari usus
belakang (hindgut) menyebabkan nyeri di perut bagian bawah. Demikian juga nyeri
dari buli-buli atau rektosigmoid. Karena tidak disertai rangsang peritonium nyeri ini
tidak dipengaruhi gerakan sehingga penderita dapat aktif bergerak.
b) Nyeri Somatik
Nyeri somatik terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi oleh saraf tepi,
dan luka pada dinding perut. Nyeri dirasakan seperti ditusuk atau disayat, dan pasien
dapat menunjukkan secara tepat letaknya dengan jari. Rangsang yang menimbulkan
nyeri ini berupa rabaan, tekanan, rangsang kimiawi atau proses radang.
Gesekan antara visera yang meradang menimbulkan rangsang peritoneum dan
menyebabkan nyeri. Perdangannya sendiri maupun gesekan antar kedua peritoneum
menyebabkan perubahan intensitas nyeri.
7. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan

fisik, yang

menonjol adalah

ditemukannya

massa

tumor

retroperitoneal, kadang dengan balotemen positif di rongga abdomen. Bentuk dan


konsistensinya tergantung dari jenis tumor. (Karnadiharaja Warko, 2004)
8. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan penunjang diagnostik yang penting adalah pemeriksaan rotgen, yaitu pada
saluran cerna, pielogram intravena dan /atau pielogram retrograd, dan aotografi untuk
melihat tanda-tanda pendorongan dan penekanan saluran cerna, saluran kemih, dan aorta
serta cabang-cabangnya. Pemeriksaan penunjang yang lainnya adalah ultrasonografi.
(Karnadiharaja Warko, 2004)
Prosedur diagnostik lain yang biasa dilakukan dalam mengevaluasi malignansi meliputi :
1) Marker tumor
Substansi yang ditemukan dalam darah atau cairan tubuh lain yang tumor atau oleh
tubuh dalam berespon terhadap tumor.
2) Pencitraan resonansi magnetic (MRI)

Penggunaan medan magnet dan sinyal frekuensi_radio untuk menghasilkan gambaran


berbagai struktur tubuh.
3) CT Scan
Menggunakan pancaran sinar sempit sinar-X untuk memindai susunan lapisan
jaringan untuk memberikan pandangan potongan melintang.
4) Flouroskopi
Menggunakan sinar-X yang memperlihatkan perbedaan ketebalan antar jaringan
(dapat mencakup penggunaan bahan kontras).
5) Ultrasound
Echo dari gelombang bunyi berfrekuensi tinggi direkam pada layer penerima,
digunkan untuk mengkaji jaringan yang dalam di dalam tubuh.
6) Endoskopi
Memvisualkan langsung rongga tubuh atau saluran dengan memasukan suatu ke
dalam rongga tubuh atau ostium tubuh; memungkinkan dilakukannya biopsy jaringan,
aspirasi dan eksisi tumor yang kecil.
7) Pencitraan kedokteran nuklir
Menggunakan suntikan intravena atau menelan bahan radiosisotope yang diikuti
dengan pencitraan yang menjadi tempat berkumpulnya radioisotope
9. Diagnosis
Diagnosis dini tumor ini sulit. Sebagian besar datang dalam stadium lanjut sehingga
diagnosis lebih mudah ditegakkan tetapi angka kematiannya tinggi. Tumor ini paling
banyak berasal dari kelenjar adrenal dan gejala yang ditimbulkan merupakan akibat
dilepaskannya metabolit katekolamin secara berlebihan yaitu berupa hipertensi,
kemerahan (flushing), keringat yang berlebihan dan demam. Bila tumor telah membesar
menyebabkan perasaan tidak nyaman dan penuh dalam perut disertai penurunan berat
badan sampai failure to thrive. Ditemukannya benjolan-benjolan subkutis terutama di
daerah kepala atau proptosis dan ekimosis periorbita, merupakan gambaran penyakit
yang lanjut atau metastasis.
Diagnosis ditegakkan atas dasar pemeriksaan histologik. (Karnadiharaja Warko, 2004)
10. Therapy / Tindakan Penanganan
Pengelolaan tumor Retroperitoneum terdiri atas operasi, radiasi, dan khusus untuk
limfoma, kemoterapi disertai radioterapi.
Pengobatan operatif biasanya paling efektif dan memberikan kemungkinan besar untuk
penyembuhan. Terutama pada tumor jinak, operasi eksisi dapat memberikan kesembuhan
sempurna. Umumnya jaringan biopsi harus diperoleh melalui laparotomi.
Indikasi radioterapi adalah tumor yang tidak mungkin dsoperasi, sisa tumor setelah
operasi, tumor yang radiosensitif seperti limfoma malignum, dan sebafgai terapi adjuvan
tertentu. (Karnadiharaja Warko, 2004)

A. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
PENGKAJIAN
1. Identitas
Kaji identitas klien seperti di bawah ini
Nama

Umur

Jenis kelamin

Pendidikan

Pekerjaan

Status perkawinan

Agama

Suku

Alamat

2. Riwayat keluarga
Kaji apakah ada keluarga pasien yang mengalami penyakit yang sama dengan klien.
3. Status kesehatan
a. Status Kesehatan Saat Ini
Keluhan utama (saat MRS dan saat ini)
Tanyakan klien dengan keluhan apa saat masuk rumah sakit. Bisa
dihubungkan dengan manifestasi klinis yang sesuai dengan penyakit tumor
abdomen
Alasan masuk Rumah Sakit dan perjalanan Penyakit saat ini
Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya
Kaji apa yang klien lakukan untuk mengatasi masalahnya (apakah berobat ke
dokter/praktisi kesehatan lainnya atau ke dukun)
b. Status Kesehatan Masa Lalu
Kaji apakah klien pernah mengalami penyakit lainnya atau bahkan yang sama
dengan saat ini. Beberapa yang harus dikaji adalah:
Penyakit yang pernah dialami
Pernah dirawat
Riwayat alergi

Riwayat tranfusi
Kebiasaan :
Kaji adanya kebiasaan klien seperti di bawah ini :
Merokok
Minum kopi
Penggunaan Alkohol
4. Riwayat Penyakit Keluarga
5. Diagnosa Medis dan therapy
6. Pola Fungsi Kesehatan ( Pola Gordon )
a. Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan
b. Nutrisi/ metabolic :Nafsu makan, mual, muntah, perut terasa kembung, klien
mengatakan BB terus mengalami penurunan.
c. Pola eliminasi : nyeri saat berkemih, frekuensi berkemih meningkat saat malam
hari (untuk mengetahui fungsi dari sistem perkemihan yang mungkin disebabkan
akibat penekanan daerah retroperitoneum.
d. Pola aktivitas dan latihan

Kemampuan perawatan diri

Makan/minum

Mandi

Toileting

Berpakaian

Mobilisasi di tempat tidur

Berpindah

Ambulasi ROM

e. Pola tidur dan istirahat


f. Pola kognitif-perseptual
g. Pola persepsi diri/konsep diri
h. Pola seksual dan reproduksi
i. Pola peran-hubungan
j. Pola manajemen koping stress
k. Pola keyakinan-nilai
7. Riwayat Kesehatan dan Pemeriksaan fisik

Kaji keadaan umum, TTV (tekanan darah, nadi, suhu, respirasi rate) dan melakukan
pengkajian head to toe.
Pengkajian dari aspek inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi
8. Pemeriksaan Penunjang
a. Data laboratorium yang berhubungan
b. Pemeriksaan Radiologi
c. Hasil Konsultasi
d. Pemeriksaan penunjang diagnostik lain
2. Diagnosa Keperawatan
Pre Operasi:
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik yang ditandai dengan pasien
mengeluh nyeri, tampak meringis menahan nyeri dan perubahan tanda-tanda vital
Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan keletihan otot pernapasan yang
ditandai dengan dispnea dan takipnea
Mual berhubungan dengan iritasi lambung oleh karena asam lambung ditandai
dengan pasien mengatakan mual
Gangguan eleminasi urin berhubungan dengan obstruksi anatomik yang ditandai
dengan disuria, sering berkemih dan nokturia
Keletihan berhubungan dengan malnutrisi yan ditandai dengan klien melaporkan
lelah
Hipertermi berhubungan dengan penyakit (pelepasan protein tumor) yang ditandai
dengan peningkatan suhu tubuh klien
Ketidakseimbangan nutrisi: Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan mengabsorpsi nutrient yangditandai dengan penurunan berat badan
20% atau lebih dibawah berat badan ideal
Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pajanan informasi tentang
penyakit yang ditandai dengan pengungkapan masalah klien
Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan yang ditandai dengan
pasien terlihat gelisah, gugup, dan khawatir.
Post Operasi:
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik yang ditandai dengan pasien
mengeluh nyeri, tampak meringis menahan nyeri dan perubahan tanda-tanda vital.
Resiko Infeksi berhubungan dengan prosedur infasif dan pengetahuan yang tidak
cukup untuk menghindari pemajanan patogen.
3. Rencana Asuhan Keperawatan
Terlampir

4. Evaluasi
Terlampir

DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer, Suzane C., Bare, Brenda G. 2002. Keperawatan Medikal-Bedah. Volume 1. Edisi 8.
Jakarta: EGC
Dochterman, Joanne., and Bulecheck, Gloria N. 2004. Nursing Intervention Clasification
(NIC). edisi 4. Missouri:Mosby
Herdman, T. Heather. 2011. NANDA International Diagnosa Keperawatan Definisi dan
Klasifikasi 2009-2011. Jakarta:EGC
Moorhead, Sue. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC). edisi 4 . Missouri:Mosby
Karnadiharaja Warko. 2004. Bedah Retroperineum. Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC