Anda di halaman 1dari 19

Nyeri Abdomen Akibat Kehamilan Ektopik Terganggu

Mukti Wisendha
102013546
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat Korespondensi : Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510
Email : mukti.wisendha@gmail.com

Pendahuluan
Dalam proses kehamilan, terdapat istilah yang dikenal dengan kehamilan ektopik.
Pengertian yang biasanya muncul ialah kehamilan di luar kavum uteri. Kehamilan ektopik
sebenarnya merupakan istilah yang lebih luas daripada kehamilan ekstrauterin, karena istilah ini
mencakup gestasi pada pars interstisialis tuba, kehamilan kornu (gestasi pada kornu uteri yang
rudimenter), dan kehamilan servikalis, dan juga kehamilan abdominal, kehamilan ovarial, dan
kehamilan tuba. Kehamilan tuba merupakan jenis gestasi yang paling sering pada kehamilan
ektopik, yakni sekitar 95% dari kehamilan ektopik.1
Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba (90%) terutama di ampula
dan isthmus. Sangat jarang terjadi di ovarium, rongga abdomen, maupun uterus. Keadaan keadaan yang memungkinkan terjadinya kehamilan ektopik adalah penyakit radang panggul,
pemakaian antibiotika pada penyakit radang panggul, pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim
IUD (Intra Uterine Device), riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, infertilitas, kontrasepsi yang
memakai progestin dan tindakan aborsi.
Pada kehamilan ektopik, akibat implantasi hasil konsepsi yang tidak pada tempatnya,
maka janin tidak mampu untuk tumbuh dan berkembang, juga di samping itu manifestasi serta
komplikasi yang dapat terjadi bisa membahayakan nyawa ibu. Namun pada awal kehamilan
ektopik, tanpa pemeriksaan rutin biasanya juga sulit untuk diketahui karena tidak tampak gejala
apapun sampai hasil konsepsi membesar dan mulai mempengaruhi struktur di sekitarnya. Oleh

karena itu penting untuk dapat mendiagnosis dini lalu memberikan penanganan yang cepat dan
tepat untuk sebisa mungkin meminimalisir terjadinya perdarahan sehingga dapat menyelamatkan
penderita.
Pembahasan
Pada makalah Kehamilan Ektopik Terganggu ini akan dibahas antara lain; anamnesis,
pemeriksaan fisik dan penunjang, patofisiologi, gejala klinis, etiologi, epidemiologi, diagnosis
banding, tatalaksana, komplikasi dan pencegahan.
Anamnesis
Kita menanyakan keluhan utama pasien datang kepada kita, lalu riwayat penyakit
sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat penyakit sosial, dll.
Namun pada kasus KET ini terdapat keluhan khas seperti berikut

Nyeri perut
Merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik terganggu Pada kehamilan ektopik yang
terganggu rasa nyeri perut bawah bertambah sering dan keras. Rasa nyeri mungkin unilateral
atau bilateral pada abdomen bagian bawah atau pada seluruh abdomen, atau malahan di
abdomen bagian atas. Dengan adanya hemiperitoneum , rasa nyeri akibat iritasi diafragma
bisa dialami pasien. Diperkirakan bahwa serangan nyeri hebat pada ruptura kehamilan
ektopik, ini disebabkan oleh darah yang mengalir ke kavum peritonei.

Perdarahan
Gangguan kehamilan sedikit saja sudah dapat menimbulkan perdarahan yang berasal dari
uterus. Perdarahan dapat berlangsung kontinyu dan biasanya berwarna hitam. Selama fungsi
endokrin plasenta masih bertahan, perdarahan uterus biasanya tidak ditemukan, tetapi bila
dukungan endokrin dari endometrium sudah tidak memadai lagi, mukosa uterus akan
mengalami perdarahan. Perdarahan tersebut biasanya sedikit-sedikit, berwarna coklat gelap
dan dapat terputus-putus atau terus menerus. Meskipun perdarahan vaginal yang masif lebih
menunjukkan kemungkinan abortus inkompletus intrauteri daripada kehamilan ektopik,
tetapi perdarahan semacam ini bisa terjadi pada kehamilan tuba.

Amenorea
Amenorea sering ditemukan walau hanya pendek sebelum diikuti perdarahan, malah
kadang-kadang tidak amenorea. Tidak ada riwayat haid yang terlambat bukan berarti
kemungkinan kehamilan tuba dapat disingkirkan. Salah satu sebabnya adalah karena pasien
menganggap perdarahan pervaginam sebagai periode menstruasi yang normal, dengan
demikian memberikan tanggal haid yang keliru.2

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan umum:
Penderita tampak kesakitan dan pucat. Pada perdarahan dalam rongga perut tanda-tanda
syok dapat ditemukan. Pada jenis tidak mendadak perut bagian bawah hanya sedikit
menggembung dan nyeri tekan. Kehamilan ektopik yang belum terganggu tidak dapat
didiagnosis secara tepat semata-mata atas adanya gejala-gejala klinis dan pemeriksaan fisik.1

Pemeriksaan ginekologi
Tanda-tanda kehamilan muda mungkin ditemukan. Pergerakan serviks menyebabkan rasa
nyeri. Bila uterus dapat diraba, maka akan teraba sedikit membesar dan kadang-kadang
teraba tumor di samping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Kavum Douglas yang
menonjol dan nyeri-raba menunjukkan adanya hematokel retrouterina. Suhu kadang-kadang
naik sehingga menyukarkan perbedaan dengan infeksi pelvik.
Hampir semua kehamilan ektopik didiagnosis antara kehamilan 5 dan 12 minggu.
Identifikasi dari tempat implantasi embrio lebih awal dari pada kehamilan 5 minggu
melampaui kemampuan teknik-teknik diagnostik yang ada. Pada usia kehamilan 12 minggu,
kehamilan ektopik telah memperlihatkan gejala-gejala sekunder terhadap terjadinya ruptur
atau uterus pada wanita dengan kehamilan intrauteri yang normal telah mengalami
pembesaran yang berbeda dengan bentuk dari kehamilan ektopik.1

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium

Human Chorionic Gonadotropin (-hCG)


Penentuan kehamilan secara cepat dan akurat sangat penting dalam mengevaluasi
wanita dengan keluhan yang mengarah kepada kehamilan ektopik. Uji-uji kehamilan
serum dan urin yang saat ini ada dan menggunakan metode ELISA untuk -hCG cukup
sensitif untuk kadar 10-20 mlU/mL dan positif pada lebih dari 99% kehamilan ektopik.
Namun, meskipun jarang pernah dilaporkan kasus-kasus kehamilan ektopik dengan
pemeriksaan -hCG serum yang negatif.1
-

Progesteron Serum
Pengukuran progesterone serum satu kali sudah dapat digunakan untuk menetapkan
bahwa kehamilan berkembang normal dengan tingkat kepercayaan tinggi. Nilai yang
melebihi 25 ng/mL menyingkirkan kehamilan ektopik dengan sensitivitas 92,5%. Nilai <
5ng/mL menandakan kehamilan intrauterus dengan janin meninggal atau suatu kehamilan
ektopik. Karena pada sebagian besar kehamilan ektopik kadar progesterone bervariasi
antara 10 dan 25ng/mL maka pemakaian klinis pemeriksaan ini terbatas.1

Hemogram
Setelah perdarahan, volume darah yang berkurang akan dipulihkan ke arah normal
dengan hemodilusi dalam satu hari atau lebih. Bahkan setelah perdarahan yang cukup
banyak, hemoglobin atau hematokrit mungkin hanya memperlihatkan penurunan ringan.
Karena itu, setelah perdarahan akut, penurunan kadar hemoglobin atau hematokrit setelah
beberapa jam merupakan indeks yang lebih bermanfaat daripada kadar awal. Pada sekitar
separuh wanita dengan kehamilan ektopik terganggu (ruptur), dapat dijumpai leukositosis
dengan derajat bervariasi hingga 30.000/L.1

Sonografi

Sonografi Transvagina (TVS)


Sonografi transvagina beresolusi tinggi menimbulkan revolusi dalam perawatan
wanita yang dicurigai mengalami kehamilan ektopik. Metode ini adalah bagian integral
dari sebagian besar algoritme yang ditujukan untuk mengidentifikasi kehamilan ektopik.1
-

Sonografi Transabdomen
Identifikasi hasil kehamilan tuba dengan sonografi transabdomen lebih sulit
dilakukan. Jika kantong gestasi jelas dapat diidentifikasi di dalam rongga uterus maka
kehamilan ektopik masih perlu dipertimbangkan jika pasien menggunakan assisted
reproductive technology (ART). Sebaliknya, jika secara sonografi tidak dijumpai
kehamilan uterus maka hasil pemeriksaan positif untuk -hCG, cairan di cul-de-sac, dan
adanya massa pelvis abnormal menandakan bahwa kehamilan ektopik hampir pasti.
Kehamilan uterus biasanya belum diketahui dengan sonografi abdomen sampai 5 hingga
6 minggu haid atau 28 hari setelah ovulasi.1

Kuldosentesis
Teknik sederhana inidahulu sering digunakan untuk mengidentifikasi hemoperitoneum.
Serviks ditarik menuju simfisis dengan tenakulum, dan dilakukan insersi jarum ukuran 16
atau 18 melalui forniks vagina posterior ke dalam cul-de-sac. Jika ada, cairan dapat
diaspirasi, tetapi, tidak adanya cairan hanya diinterpretasikan sebagai insersi yang tidak
memuaskan ke cul-de-sac dan tidak menyingkirkan kehamilan ektopik, mengalami ruptur
atau tidak. Cairan yang mengandung fragmen bekuan darah, atau cairan berdarah yang tidak
membeku, sesuai dengan diagnosis hemoperitoneum akibat kehamilan ektopik. Jika darah
kemudian membeku, maka darah tersebut mungkin berasal dari pembuluh darah sekitar dan
bukan dari perdarahan kehamilan ektopik.1

Laparoskopik

Visualisasi langsung tuba uterine dan panggul dengan laparoskopi menawarkan diagnosis
yang dapat diandalkan bagi hampir semua kasus yang dicurigai kehamilan ektopik. Tindakan
ini juga dapat diubah dengan cepat menjadi terapi operatif definitif. 1
Patofisiologi
Proses implantasi ovum yang dibuahi yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan
halnya di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau interkolumner. Implantasi
secara kolumner yaitu telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan
telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan
kemudian diresorpsi. Pada nidasi secara interkolumner telur bernidasi antara dua jonjot
endosalping. Setelah tempat nidasi tertutup, maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan
jaringan yang menyerupai desidua dan dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan
desidua di tuba tidak sempurna, dengan mudah vili korialis menembus endosalping dan masuk
ke dalam lapisan otot-otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan
janin selanjutnya bergantung pada beberapa faktor, seperti tempat implantasi, tebalnya dinding
tuba dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas.3
Di bawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron dari korpus luteum graviditas dan
trofoblas, uterus menjadi besar dan lembek. Endometrium dapat pula berubah menjadi desidua.
Setelah janin mati, desidua dalam uterus mengalami degenerasi dan kemudian dikeluarkan
berkeping-keping atau dilepaskan secara utuh. Perdarahan pervaginam yang dijumpai pada
kehamilan ektopik terganggu berasal dari uterus dan disebabkan oleh pelepasan desidua yang
degeneratif.
Tuba bukanlah tempat untuk pertumbuhan hasil konsepsi, sehingga tidak mungkin janin
tumbuh secara utuh seperti dalam uterus. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur
kehamilan antara 6 sampai 10 minggu. Terdapat beberapa kemungkinan mengenai nasib
kehamilan dalam tuba yaitu:

1. Hasil konsepsi mati dini dan diresorpsi

Pada implantasi secara kolumner, ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi
kurang dan dengan mudah terjadi resorpsi total. Dalam keadaan ini penderita tidak mengeluh
apa-apa dan haidnya terlambat untuk beberapa hari.
2. Abortus ke dalam lumen tuba
Perdarahan yang terjadi karena pembukaan pembuluh-pembuluh darah oleh villi koriales
pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari dinding tersebut
bersama-sama dengan robeknya pseudokapsularis. Pelepasan ini dapat terjadi sebagian atau
seluruhnya. Bila pelepasan menyeluruh, mudigah dan selaputnya dikeluarkan dalam lumen
tuba dan kemudian didorong oleh darah ke arah ostium tuba abdominale. Perdarahan yang
berlangsung terus menyebabkan tuba membesar dan kebiru-biruan (Hematosalping) dan
selanjutnya darah mengalir ke rongga perut melalui ostium tuba, berkumpul di kavum
douglas dan akan membentuk hematokel retrouterina.
3. Ruptur dinding tuba
Ruptur tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada
kehamilan muda. Sebaliknya ruptur pada pars interstitialis terjadi pada kehamilan yang lebih
lanjut. Faktor utama yang menyebabkan ruptur ialah penembusan villi koriales ke dalam
lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum. Ruptur dapat terjadi secara spontan atau karena
trauma ringan. Darah dapat mengalir ke dalam rongga perut melalui ostium tuba abdominale.
Bila ostium tuba tersumbat, ruptur sekunder dapat terjadi. Dalam hal ini, dinding tuba yang
telah menipis oleh invasi trofoblas, pecah karena tekanan darah dalam tuba. Kadang-kadang
ruptur terjadi di arah ligamentum latum dan terbentuk hematoma intraligamenter antara 2
lapisan ligamentum tersebut. Jika janin hidup terus, dapat terjadi kehamilan intraligamenter.
Pada ruptur ke rongga perut, seluruh janin dapat keluar dari tuba, tetapi bila robekan tuba
kecil, perdarahan terjadi tanpa hasil konsepsi dikeluarkan dari tuba. Nasib janin bergantung
pada tuanya kehamilan dan kerusakan yang diderita. Bila janin mati dan masih kecil, dapat
diresorpsi seluruhnya, dan bila besar dapat diubah menjadi litopedion.
Janin yang dikeluarkan dari tuba dengan masih diselubungi oleh kantong amnion dan
dengan plasenta masih utuh kemungkinan tumbuh terus dalam rongga perut, sehingga terjadi
kehamilan ektpik lanjut atau kehamilan abdominal sekunder. Untuk mencukupi kebutuhan

makanan bagi janin, plasenta dari tuba akan meluaskan implantasinya ke jaringan sekitarnya
misalnya ke sebagian uterus, ligamentum latum, dasar panggul dan usus. 1,3
Menurut lokasinya, kehamilan ektopik dapat dibagi dalam beberapa golongan atau tempat,
yaitu :

Tuba fallopi
Dinding tuba merupakan lapisan luar dan kapsularis yang merupakan lapisan dalam dari
hasil konsepsi. Karena tuba tidak dan bukan merupakan tempat normal bagi kehamilan, maka
sebagian besar kehamilan tuba akan terganggu pada umur 6-10 minggu kehamilan.
Pada saat proses fertilisasi yaitu proses penyatuan ovum dengan spermatozoon terjadi di
ampulla tuba. Dari sini ovum yang telah di buahi di gerakan ke kavum uteri dan di tempat
akhir ini mengadakan inplantasi di endometrium. Keadaan oada tuba yang menghambat atau
menghalangi gerakan ini, dapat menjadi sebab bahwa implantasi terjadi pada endosalping;
selanjutnya ada kemungkinan pula bahwa kelainan pada ovum yang di buahi memberi
pradisposisi untuk implantasi di luar kavum uteri, akan tetapi hal ini kiranya tidak banyak
terjadi. Diantara sebab-sebab yang menghambat perjalan ovum ke uterus sehingga blastokista
mengadakan implantasi di tuba ialah :
- Bekas radang pada tuba; disini radang menyebabkan perubahan-perubahan pada
endosalping, sehingga walaupun fertilisasi masih dapat terjadi, gerakan uterus ke ovum
-

terlambat
Kelainan bawaan pada tuba, anatara lain divertikulum, tuba sangat panjang dan

sebagainya.
Gangguan fisiologik pada tuba karena pengaruh hormonal, perlekatan perituba, tekanan

pada tuba oleh tumor dari luar, dan sebagainya.


Operasi plastik pada tuba
Abortus buatan.

Perjalanan kehamilan ektopik dalam tuba fallopi, dapat dibagi lagi dalam beberapa tempat
atau bagian, yaitu :

Pars interstisialis (2%)


Karena dinding agak tebal, dapat menahan kehamilan sampai 4 bulan atau lebih, kadang kala
sampai aterme, kalau pecah dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan keluarnya janin
dalam rongga perut.

Isthmus (25%)
Dinding tuba disini lebih tipis, biasanya pada kehamilan 2 sampai 3 bulan sudah pecah
Ampula (55%)
Dapat terjadi abortus atau ruptur pada kehamilan 1-2 bulan
Fimbria (17%)
Dapat terjadi abortus atau ruptur pada kehamilan 1-2 bulan
Uterus
- Kanalis servikalis
Kehamilan ini jarang dijumpai, dan biasanya terjadi abortus spontan di dahului
-

perdarahan yang makin lama makin banyak. Jarang terjadi lebih dari 20minggu.
Divertikulum
Kehamilan pada uterus jarang sekali terdapat, dan sangat sulit untuk mebuat
diangnosisnya. USG atau MRI kiranya dapat membantu menegakan diagnosis. Akibat
kehamilan ini adalah ruptur keluar dari uterus atau abortus. Kadang-kadang kehamilan
dapat berlangsung terus dan memerlukan laparatomi untuk melahirkan janin, diikuti

histeroktomi
- Kornua
- Tanduk rudimeter
Ovarium
Kehamilan ovarial primer sangat jarang terjadi. Diagnosis kehamilan tersebut ditegakkan
1

atas dasar 4 kriteria dari Spiegelberg, yakni :


a. Tuba pada sisi kehamilan harus normal
b. Kantong janin harus berlokasi pada ovarium
c. Kantong janin dihubungkan dengan uterus oleh ligamentum ovary proprium
d. Jaringan ovarium yang nyata harus ditemukan dalam dinding kantong janin
Diagnosis yang pasti diperoleh bila kantong janin kecil dikelilingi oleh jaringan ovarium
dengan trofoblas memasuki alat tersebut. Pada kehamilan ovarial biasanya terjadi rupture
pada kehamilan muda dengan akibat perdarahan dalam perut. Hasil konsepsi dapat pula
mengalami kematian sebelumnya sehingga tidak terjadi rupture, ditemukan benjolan dengan
berbagai ukuran yang terdiri atas ovarium yang mengandung darah, vili korialis dan mungkin
juga selaput mudigah. 1

Intraligamenter
Abdominal
Kombinasi kehamilan di dalam dan di luar uterus

Gejala Klinis
Gejala klinis kehamilan tuba yang belum terganggu tidak khas dan penderita maupun dokter
biasanya tidak mengetahui adanya kelainan dalam kehamilan, sampai terjadinya abortus tuba
atau ruptur tuba.3
1.

Kehamilan ektopik belum terganggu


Kehamilan ektopik yang belum terganggu atau belum mengalami ruptur sulit untuk
diketahui, karena penderita tidak menyampaikan keluhan yang khas. Amenorea atau
gangguan haid dilaporkan oleh 75-95% penderita. Lamanya amenore tergantung pada
kehidupan janin, sehingga dapat bervariasi. Sebagian penderita tidak mengalami amenore
karena kematian janin terjadi sebelum haid berikutnya. Tanda-tanda kehamilan muda seperti
nausea dilaporkan oleh 10-25% kasus.3
Di samping gangguan haid, keluhan yang paling sering disampaikan ialah nyeri di perut
bawah yang tidak khas, walaupun kehamilan ektopik belum mengalami ruptur. Kadangkadang teraba tumor di samping uterus dengan batas yang sukar ditentukan. Keadaan ini juga
masih harus dipastikan dengan alat bantu diagnostik yang lain seperti ultrasonografi (USG)
dan laparoskopi.2
Mengingat bahwa setiap kehamilan ektopik akan berakhir dengan abortus atau ruptur
yang disertai perdarahan dalam rongga perut, maka pada setiap wanita dengan gangguan haid
dan setelah diperiksa dicurigai adanya kehamilan ektopik harus ditangani dengan sungguhsungguh menggunakan alat diagnostik yang ada sampai diperoleh kepastian diagnostik
kehamilan ektopik karena jika terlambat diatasi dapat membahayakan jiwa penderita.3

2.

Kehamilan Ektopik Terganggu


Gejala dan tanda kehamilan tuba tergangu sangat berbeda-beda dari perdarahan banyak
yang tiba-tiba dalam rongga perut sampai terdapatnya gejala yang tidak jelas. Gejala dan
tanda bergantung pada lamanya kehamilan ektopik terganggu, abortus atau ruptur tuba,
tuanya kehamilan, derajat perdarahan yang terjadi dan keadaan umum penderita sebelum
hamil.

Diagnosis kehamilan ektopik terganggu pada jenis yang mendadak atau akut biasanya
tidak sulit. Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik terganggu (KET). Pada
ruptur tuba, nyeri perut bagian bawah terjadi secara tiba-tiba dan intensitasnya disertai
dengan perdarahan yang menyebabkan penderita pingsan, tekanan darah dapat menurun dan
nadi meningkat serta perdarahan yang lebih banyak dapat menimbulkan syok, ujung
ekstremitas pucat, basah dan dingin. Rasa nyeri mula-mula terdapat dalam satu sisi, tetapi
setelah darah masuk ke dalam rongga perut, rasa nyeri menjalar ke bagian tengah atau
keseluruh perut bawah dan bila membentuk hematokel retrouterina menyebabkan defekasi
nyeri.
Perdarahan pervaginam merupakan tanda penting kedua pada kehamilan ektopik
terganggu. Hal ini menunjukkan kematian janin dan berasal dari kavum uteri karena
pelepasan desidua. Perdarahan dari uterus biasanya tidak banyak dan berwarna coklat tua.
Frekuensi perdarahan ditemukan dari 51-93%. Perdarahan berarti gangguan pembentukan
Hcg (human chorionic gonadotropin).
Yang menonjol ialah penderita tampak kesakitan, pucat dan pada pemeriksaan
ditemukan tanda-tanda syok serta perdarahan rongga perut. Pada pemeriksaan ginekologik
ditemukan serviks yang nyeri bila digerakkan dan kavum Douglas yang menonjol dan nyeri
raba. Pada abortus tuba biasanya teraba dengan jelas suatu tumor di samping uterus dalam
berbagai ukuran dengan konsistensi agak lunak. Hematokel retouterina dapat diraba sebagai
tumor di kavum Douglas.3
Kesulitan

diagnosis

biasanya

terjadi

pada

kehamilan

ektopik terganggu jenis

atipik atau menahun. Kelambatan haid tidak jelas, tanda dan gejala kehamilan muda
tidak jelas, demikian pula nyeri perut tidak nyata dan sering penderita tampak tidak
terlalu pucat. Hal ini dapat

terjadi

apabila

perdarahan

pada

kehamilan

ektopik

yang terganggu berlangsung lambat. Dalam keadaan yang demikian, alat bantu diagnostik
sangat diperlukan untuk memastikan diagnosis.3
Etiologi
Ada berbagai macam faktor yang dapat menyebabkan kehamilan ektopik. Namun
kehamilan ektopik juga dapat terjadi pada wanita tanpa faktor risiko. Lebih dari setengah

kehamilan ektopik yang berhasil diidentifikasi ditemukan pada wanita tanpa ada faktor resiko.
Faktor risiko kehamilan ektopik adalah4:

Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya


Merupakan faktor risiko paling besar untuk kehamilan ektopik. Angka kekambuhan
sebesar 15% setelah kehamilan ektopik pertama dan meningkat sebanyak 30% setelah
kehamilan ektopik kedua.4

Penggunaan kontrasepsi spiral dan pil progesteron


Kehamilan ektopik meningkat apabila ketika hamil masih menggunakan kontrasepsi
spiral (3-4%). Pil yang mengandung hormon progesteron juga meningkatkan kehamilan
ektopik karena dapat mengganggu pergerakan sel rambut silia di saluran tuba yang
membawa sel telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi ke dalam rahim.4

Kerusakan dari saluran tuba


1. Faktor dalam lumen tuba:
-

Endosalpingitis dapat menyebabkan lumen tuba menyempit atau membentuk


kantong buntu akibat perlekatan endosalping.

Pada Hipoplasia uteri, lumen tuba sempit dan berkeluk-keluk dan hal ini disertai
gangguan fungsi silia endosalping.

Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab
lumen tuba menyempit.

2. Faktor pada dinding tuba:


-

Endometriosis tuba dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi dalam


tuba.

Divertikel tuba kongenital atau ostium assesorius tubae dapat menahan telur
yang dibuahi di tempat itu.

3. Faktor di luar dinding tuba:


-

Perlekatan peritubal dengan ditorsi atau lekukan tuba dapat menghambat


perjalanan telur.

Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba

4. Faktor lain :

Migrasi luar ovum yaitu perjalanan dari ovarium kanan ke tuba kiri atau
sebaliknya. Hal ini dapat memperpanjang perjalanan telur yang dibuahi ke
uterus, pertumbuhan telur yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi
prematur.

Fertilisasi in vitro.

Epidemiologi
Frekuensi dari kehamilan ektopik dan kehamilan intrauteri dalam satu konsepsi yang
spontan terjadi dalam 1 dalam 30.000 atau kurang. Angka kehamilan ektopik per 1000 diagnosis
konsepsi, kehamilan atau kelahiran hidup telah dilaporkan berkisar antara 2,7 hingga 12,9.
Angka kejadian kehamilan ektopik dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Diantara faktorfaktor yang terlibat adalah meningkatnya pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim, penyakit
radang panggul, usia ibu yang lanjut, pembedahan pada tuba, dan pengobatan infertilitas dengan
terapi induksi superovulasi.1
Angka kejadian kehamilan ektopik di Amerika Serikat meningkat dalam dekade terakhir
yaitu dari 4,5 per 1000 kehamilan pada tahun 1970 menjadi 19,7 per 1000 kehamilan pada tahun
1992. Kehamilan ektopik masih menjadi penyebab kematian utama pada ibu hamil di Kanada
yaitu berkisar 4% dari 20 kematian ibu pertahun. Pada tahun 1980-an, kehamilan ektopik
menjadi komplikasi yang serius dari kehamilan, terhitung sebesar 11% kematian maternal terjadi
di Amerika Serikat.1
Di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta angka kejadian kehamilan ektopik pada tahun 1987
ialah 153 di antara 4.007 persalinan atau 1 di antara 26 persalinan.5
Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun
dengan umur rata-rata 30 tahun. Frekuensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar
antara 0-14,6%.
Sekurangnya 95 % implantasi ektopik terjadi di tuba Fallopii. Di tuba sendiri, tempat
yang paling sering adalah pada ampulla, kemudian berturut-turut pada pars ismika, infundibulum
dan fimbria, dan pars intersisialis. Implantasi yang terjadi di ovarium, serviks, atau cavum
peritonealis jarang ditemukan.1

Diagnosis Banding

Appendisitis
Apendisitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab
abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki
maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang anak laki-laki berusia antara 10 sampai 30
tahun.
Keluhan appendisitis biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus
yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2 12 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan
bawah, yang akan menetap dan di perberat bila berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan
anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi,
tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual dan muntah.
Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. Namun
dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif, dan dengan
pemeriksaan seksama akan dapat di tunjukan satu titik dengan nyeri maksimal. Perkusi
ringan pada kuadran kana bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri. Nyeri lepas dan
spasme biasanya juga muncul. Bila tanda rovsing, psoas, dan obturator positif, akan semakin
menyakitkan diagnosis klinis apendisitis.

Kista Ovarium
Kista ovarium merupakan tumor jinak berupa kantong abnormal berisi cairan atau
setengah cair yang tumbuh dalam indung telur (ovarium). Indung telur adalah rongga
berbentuk kantong berisi cairan di dalam jaringan ovarium. Kista tersebut disebut juga kista
fungsional karena terbentuk setelah telur dilepaskan sewaktu ovulasi. Kista fungsional akan
mengkerut dan menyusut setelah beberapa waktu (setelah 1-3 bulan).
Gejala dari kista ovarium adalah
- Perut terasa kembung, penuh dan berat
- Merasa kandung kemih anda tertekan sehingga sulit buang air kecil
- Siklus menstruasi anda tidak teratur
- Nyeri disekitar panggul, biasanya menetap atau sesekali yang menyebar ke panggul
-

bawah dan paha


Nyeri ketika bersenggama
Payudara mengeras
Mual hingga ingin muntah

Salpingitis

Salpingitis adalah peradangan pada saluran tuba, dipicu oleh infeksi bakteri. Salpingitis
kadang-kadang disebut penyakit radang panggul (PID). Ini istilah umum termasuk infeksi
lain dari sistem reproduksi wanita, termasuk rahim dan ovarium. Hampir semua
kasus salpingitisdisebabkan oleh infeksi bakteri, termasuk penyakit menular seksual seperti
gonore dan klamidia. Peradangan yang meminta tambahan sekresi cairan atau bahkan nanah
untukmengumpulkan dalam tuba falopi. Infeksi dari salah satu tabung biasanya
menyebabkan infeksi yang lain, karena bakteri bermigrasi melalui pembuluh getah bening di
dekatnya.
Salpingitis adalah salah satu penyebab paling umum dari ketidaksuburan wanita.
Tanpaperawatan yang segera, infeksi secara permanen dapat merusak tuba falopi sehingga
telursetiap siklus menstruasi dilepaskan tidak dapat bertemu dengan sperma. Gejalagejala salpingitis meliputi :
- Nyeri abdomen di kedua sisi
- Sakit punggung
- Sering buang air kecil
- Gejala-gejala biasanya muncul setelah periode menstruasi
- Demam tinggi dengan menggigil
- Nyeri perut Abnormal discharge vagina, seperti warna yang tidak biasa atau bau
- Dismenorea
- Tidak nyaman atau hubungan seksual yang menyakitkan
- Kanan kiri bawah, terutama kalau ditekan
- Defense kanan dan kiri atas ligamen pourpart
- Mual dan muntah, ada gejala abdomen akut karena terjadi rangsangan peritoneum
- Kadang-kadang ada tendensi pada anus karena proses dekat pada rektum dan sigmoid
- Pada periksa dalam nyeri kalau portio digoyangkan, nyeri kiri dan kanan yterus, kadang-

kandang ada penebalan dari tuba.


Nyeri saat ovulasi.

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan Darurat
Pasien kirim ke rumah sakit, pasang infus dengan jarum berdiameter besar pada vena
besar. Dapatkan hemogram, panel pembekuan darah dan darah untuk menentukan golongan
darah dan pencocokan silang. Berikan upaya-upaya untuk mengatasi syok sesuai keperluan:

kristaloid IV, tranfusi komponen darah, menjaga pasien tetap hangat, berikan oksigen.6
Bedah

Laparoskopi adalah terapi bedah yang dianjurkan untuk kehamilan ektopik, kecuali jika
wanita yang bersangkutan secara hemodinamis tidak stabil. Berdasarkan pengalaman yang
telah terkumpul, kasus-kasus yang semula ditangani dengan laparotomi misalnya, kehamilan
tuba atau kehamilan interstisium yang mengalami ruptur, dapat dengan aman diatasi dengan
laparoskopi.
Bedah tuba dianggap konservatif jika tuba diselamatkan. Contohnya adalah
salpingostomi, salpingotomi, dan ekspresi kehamilan ektopik melalui fimbria. Bedah radikal
didefinisikan sebagai salpingektomi. Bedak konservatif dapat meningkatkan angka
keberhasilan kehamilan uterus berikutnya tetapi menyebabkan peningkatan angka persistensi
fungsi trofoblas.
Salpingostomi digunakan untuk mengangkat kehamilan kecil yang panjangnya biasanya
kurang dari 2cm dan terletak di sepertiga distal tuba uterin dengan membuat insisi linier 1015mm dengan kauter jarum unipolar di atas kehamilan. Hasil kehamilan akan menyembul
dari insisi dan mudah dikeluarkan atau dibilas. Perdarahan ringan dikontrol dengan
elektrokoagulasi atau laser, dan insisi dibiarkan tidak dijahit agar sembuh dengan secondary
intention.
Salpingotomi

sudah

jarang

dilakukan

sekarang.

Prosedurnya

serupa

dengan

salpingostomi, kecuali bahwa insisi ditutup dengan jahitan menggunakan benang yang
lambat diserap. Salpingektomi merupakan reseksi tuba yang mungkin dilakukan untuk
kehamilan ektopik ruptur dan tak ruptur.1

Medikamentosa
Penatalaksanaan medis dengan Metotrexate. Antagonis asam folat ini sangat efektif
terhadap trofoblas yang cepat berploriferasi dan telah digunakan selama lebih dari 40 tahun
untuk mengobati penyakit trofoblastik gestasional. Obat ini juga digunakan untuk mengakhiri
kehamilan dini. Methotrexate awalnya pernah digunakan untuk mengobati kehamilan
interstisium, dan sejak itu obat ini berhasil digunakan untuk berbagai variasi kehamilan
ektopik.

Perdarahan intra-abdomen aktif adalah kontraindikasi untuk kemoterapi. Kontraindikasi


mutlak lain adalah kehamilan intrauterus, menyusui, imunodefisiensi, alkoholisme, penyakit
hati, ginjal, atau paru kronik, diskrasia darah, dan penyakit tukak peptik.
Regimen-regimen ini dilaporkan jarang menyebabkan kelainan laboratorium dan gejala
meskipun kadang terjadi toksisitas berat. Efek samping mereda dalam 3-4 hari setelah
methotrexate dihentikan. Efek terering adalah keterlibatan hati, stomatitis, gastroenteritis,
depresi sumsum tulang, nutropenia, demam, pneumonitis imbas obat, alopesia. Yang penting
obat NSAID dapat meningkatkan toksisitas methotrexate, sementara vitamin yang
mengandung asam folat dapat menurunkan efektivitas obat ini.1

Komplikasi
Tanpa intervensi bedah, kehamilan ektopik yang ruptur dapat menyebabkan perdarahan
yang mengancam nyawa (0,1% mengakibatkan kematian ibu). Infeksi sering terjadi setelah
ruptur kehamilan ektopik yang terabaikan. Sterilitas atau gagal reproduksi lainnya dapat terjadi
setelah atau akibat kehamilan ektopik (pada 30%-50% pasien yang menjalani operasi
pengangkatan tuba karena kehamilan ektopik). Obstruksi dan fistula dapat jadi setelah
hematoperitoneum, peritonitis atau pembentukan litopedion.6
Pencegahan
Pencegahan yang dapat dilakukan, yaitu dengan mengobati salpingitis secara tepat,
mengeluarkan hasil konsepsi secara lengkap pada abortus inkomplit, dan melakukan
peritonealisasi semua daerah pada pembedahan (untuk menghindari perlekatan).6
Prognosis
Kehamilan ektopik merupakan kelainan yang mengancam nyawa pada >10% kasus, dan
>1% pasien-pasien ini meninggal karena perdarahan interna dan syok atau karena komplikasi
lanjut. Jarang sekali janin dapat tetap hidup pada kehamilan ini.

Kehamilan ektopik dapat berulang pada sekitar 15% kasus, tetapi kebanyakan pasien
yang pernah mengalami satu kali kehamilan ektopik selanjutnya akan mengalami kehamilan
normal.
Pada kehamilan ganda di luar rahim dan di dalam rahim, biasanya hanya salah satu yang
akan terdiagnosis (jarang keduanya). Umunya, kehamilan di luar rahim akan mati dan 60%
dalam rahim akan terus hidup.6

Kesimpulan
Kehamilan ektopik kemungkinan dapat ditandai oleh keterlambatan haid (amenore), diikuti
oleh perdarahan per vagina, dan rasa nyeri hebat di abdomen bawah dan panggul. Untuk
memastikan dapat dilakukan pemeriksaan fisik obstetrik dan ginekologik dan penunjang seperti
sonografi, kuldosentesis, dan laparoskopi yang juga dapat sebagai terapi. Selain itu dapat
diketahui faktor risiko penyebab terjadinya kehamilan ektopik sehingga dapat dilakukan
pencegahan.
Keberhasilan penatalaksanaan pada kehamilan ektopik dapat bergantung pada diagnosis dini.
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan dapat berupa tindakan bedah untuk mengeluarkan hasil
konsepsi dan medikamentosa dengan methotrexate.
Pada kehamilan ektopik sangat jarang janin dapat hidup, bahkan dapat mengancam nyawa
apabila terlambat dalam mendiagnosis dan penanganannya. Penanganan yang tepat dan cepat
dapat menghindari komplikasi dan menghindari bahaya.
Daftar Pustaka
1. Cunningham, Leveno, Bloom, et al. Obstetri Williams. Edisi ke-23. Volume 1. Jakarta: EGC;
2013.
2. Varney, H, Kriebs, M. Jan, et al. Carolyn. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi ke-4. Volume
2. Jakarta: EGC; 2008.
3. Jonathan Gleadle. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Edisi ke-1. Jakarta :
Erlangga; 2007.
4. Prawirohardjo, S. Ilmu Kandungan. Edisi ke-3. Jakarta : Bina Pustaka; 2014.

5. Saifuddin, AB. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2006.
6. Benson, Ralph C. Buku saku obstetri dan ginekologi. Jakarta: EGC; 2009.