Anda di halaman 1dari 38

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Kondisi Umum Lokasi Penelitian

Pada awalnya Pasar Atas sekitar tahun 1990 dibangun oleh Pemerintah

Belanda dengan sebutan Pasar Senen karena diadakan pada waktu itu hanya hari

senin atau satu minggu satu kali, dan juga tidak hanya kebutuhan sembako saja

yang terjual, tetapi termasuk hewan ternak yaitu kuda.

Menurut keterangan bahwa musibah demi musibah dialami yaitu

kebakaran sampai 3 (tiga) kali terjadi, dari kejadian tersebut terjadi penambahan

jumlah pedagang sehingga mencapai 248 pedagang, terdiri dari kios pemda dan

hasil swadaya masyarakat. Pada waktu masih Pemerintah Kotif Cimahi

Kabupaten Bandung dituntut untuk menata, termasuk wilayah pasar. Berdasarkan

kesepakatan antara masyarakat, pemerintah dan pengembang atau investor dalam

hal ini PT. USINDO, maka sekitar tahun 1994 mulai dibangun pasar yang cukup

memadai baik sarana maupun prasarana.

Pengembang PT. USINDO bekerjasama dengan Bank Muamalat yang

mengkoordinir pembayaran uang muka serta cicilan kios selama 5 (lima) tahun,

dan uang muka sebesar 20% dari harga kios meskipun pihak bank telah

memberikan ketentuan batas waktu cicilan selama 5 (lima) tahun, namun

dikarenakan terjadi krisis ekonomi yang dampaknya dirasakan oleh pedagang,

maka pihak bank memberikan kelonggaran bahwa cicilan dapat diperpanjang

43
44

lebih dari 5 (lima) tahun, hingga sekarang masih ada pedagang yang belum

melunasi kiosnya (sumber dari Bank Muamalat).

PT. USINDO membangun Pasar Atas di atas tanah seluas 4950 m² dengan

batas-batas :

 Barat : Dinas Perhubungan

 Timur : Sub. Terminal Pasar Atas

 Utara : Jl. Pegadaian/Tata Kota

 Selatan : Jl. Pacinan/Perumahan Penduduk

A. Data dan Potensi

I. Data Pasar :

1. Status Pasar : Milik Pemda

2. Luas Tanah : 4.500 m²

3. Jumlah Kios : 420 Kios, terdiri dari :

a. Ukuran 3 X 3m : 80 Kios

b. Ukuran 3 X 2m : 286 Kios

c. Ukuran 2 X 2m : 54 Kios

3. Jumlah Pedagang Kios : 200 Orang

4. Jumlah Pedagang Lapak : 12 Orang

B. Jenis Komoditi yang Diperjual Belikan dan Jumlah Pedagang :

1. Beras : 10 orang

2. Sayuran : 29 orang

3. Daging (ayam & sapi) : 24 orang


45

4. Kelontongan : 9 orang

5. Kue :19 orang

6. Pupuk : 3 orang

7. Sembako :10 orang

8. Pakan ternak : 3 orang

9. Tukang jahit : 3 orang

10. Makanan : 6 orang

11. Kopi : 1 orang

12. Elektronik : 3 orang

13. Toko obat : 2 orang

14. Jamu : 1 orang

15. Buah-buahan : 12 orang

16. Pakaian : 14 orang

17. Ikan basah : 4 orang

18. Pindang : 5 orang

19. Toko emas : 4 orang

20. Tempe/tahu : 10 orang

21. Reparasi : 2 orang

22. Tukang cukur : 2 orang

23. Alat tulis : 2 orang

24. Rampe : 1 orang

25. Ikan hias : 1 orang

26. Gilingan bakso : 3 orang


46

27. Plastik : 5 orang

28. Ikan asin : 4 orang

29. Parud kelapa : 5 orang

30. Sendal/sepatu : 3 orang

C. Data Pegawai dan Sarana Pendukung :

I. Jumlah Pegawai/Personil Pasar 35 Orang terdiri dari :

a. Pegawai Negeri Sipil (PNS) : 5 orang

b. Tenaga Kerja Kontrak (TKK) : 25 orang

c. Sukarelawan (SUKWAN) : 5 orang

II. Struktur Organisasi Pengelola Pasar Atas :

a. Kepala Pasar : 1 orang

b. TU/Administrasi : 4 orang

c. Sie. Retribusi : 5 orang

d. Kaur. Kamtib : 1 orang

e. Anggota Kamtib : 14 orang

f. Kaur. K 3 : 1 orang

g. Anggota K 3 : 9 orang

III. Sarana Pendukung :

a. Kantor Pasar

b. Kantor Kamtib dan Kebersihan

c. Mushola Pasar

d. M C K

e. TPSS
47

f. Listrik

D. Situasi dan Kondisi Pasar

Setelah selesai dibangun sejak tahun 1995 hingga sekarang, situasi dan

kondisi pasar sedikitnya berubah dari segi fisik bangunan maupun kuantitas

pedagang. Namun demikian, Pasar Atas masih layak pakai dan dilestarikan

sebagai pasar tradisional.

Dari segi Kamtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat), saat ini

cukup kondusif, dan pengelola pasar senantiasa berupaya untuk mengantisifasi

dengan peningkatan pelaksanaan tugas, baik Kamtibmas maupun kebersihannya.

Dengan keberadaan fisik bangunan yang kurang memadai, pengelola berupaya

untuk mengalokasikan dana sesuai anggaran.

E. Asal Pedagang

Para pedagang Pasar Atas bukan saja masyarakat Kota Cimahi, akan tetapi

berasal dari wilayah lain yaitu Cisarua, Parongpong, Lembang, Batujajar,

Padalarang, dan lain-lain. Tetapi diyakini bahwa sebanyak 80% pelaku ekonomi

di Pasar Atas adalah masyarakat Kota Cimahi.

F. Pasokan Barang

Aktivitas pedagang dalam melaksanakan jual beli kebutuhan sehari-hari

berasal dari luar daerah, di samping itu ada juga kebutuhan masyarakat yang

dihasilkan dari Kota Cimahi. Di samping mereka sudah mempunyai agen masing-

masing yang mengirim barangnya ke pasar, pedagang pun langsung belanja ke


48

pusat perbelanjaan (Caringin, Ciroyom, dan lain-lain). Apalagi jika musim panen

tiba, terkadang para petani pun langsung menjual hasil panennya ke Pasar Atas.

G. Asal Konsumen

Asal konsumen selama ini yang datang ke Pasar Atas, di samping warga

sekitar banyak juga yang datang dari wilayah lain seperti Cisarua, Parongpong,

Gadobangkong, Cilame, Pakuhaji, Ngamprah, dan lain-lain, Apalagi ditunjang

oleh sarana transportasi yang cukup memadai sehingga konsumen yang datang

lebih meningkat.

H. Pembinaan Pedagang

Dalam rangka lebih mendekatkan tali silaturahmi sesama warga, pengelola

melaksanakan kunjungan tersamar (incognito) sambil menampung aspirasi

pedagang, tukar pikiran, sambil mengontrol kinerja petugas Kamtib maupun

petugas kebersihan di lapangan.

Dalam kegiatan tersebut pengelola juga memberikan wawasan kepada

pedagang serta menyosialisasikan program Pemerintah Kota Cimahi dan

mengajak mereka untuk mendukungnya. Untuk lebih meningkatkan ekonomi

pedagang, pengelola berharap kepada pemerintah benar-benar merealisasikan

program yang menjadi skala prioritas, yaitu meningkatkan ekonomi masyarakat

yang utamanya memberikan bantuan/pinjaman modal kepada pedagang.

I. Sarana Keamanan/Kebersihan

Sejalan dengan perkembangan Kota Cimahi, PEMKOT Cimahi

mempunyai program dan skala prioritas. Bila dikemudian hari ada rencana

perubahan pasar (rehab/renovasi) dikarenakan tidak layak pakai dan sebagainya,


49

atau akan meningkatkan status pasar dari pasar tradisional ke pasar semi modern

maka persyaratannya adalah:

1. Musyawarah dan mufakat serta sosialisasi yang baik.

2. Pedagang lama yang dibuktikan legalitas IPK/IPL nya mendapat prioritas

utama, dan diberikan kemudahan dan keringanan.

3. Pedagang lama ditempatkan di lantai bawah. Dengan adanya rencana

bantuan permodalan dan Koperasi Syariah Mandiri Kota Cimahi,

khususnya para pemohon agar segera dapat terrealisasi sehingga kedua

belah pihak menguntungkan.

4.1.2 Identitas Responden

Data primer mengenai identitas responden, diperoleh dengan cara

pengamatan langsung di Pasar Atas Cimahi dan juga wawancara secara langsung

kepada responden. Wawancara terhadap responden dilakukan dengan cara

memberikan kuisioner dengan bentuk pertanyaan terbuka dan tertutup untuk

mendapatkan data mengenai respon konsumen terhadap mie instant yang mereka

beli.

Responden yang diambil adalah responden yang datang ke pasar atas

Cimahi pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu waktu dimana

konsumen biasanya mendatangi Pasar. Konsumen responden yang diambil adalah

sebanyak 60 orang dari konsumen yang datang ke Kios sample yang menjual mie

instant produk Indofood. Pengambilan sampel ini diambil dengan cara systematic

sampling, yaitu pemilihan sampel yang dilakukan secara sistematik, artinya

dengan menggunakan aturan tertentu yang dipatuhi secara konsisten selama


50

proses pemilihan sampel. Pengambilan responden dilakukan selama 10 hari. Hal

ini dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan data yang diperlukan untuk

mengetahui respon konsumen terhadap mie instan produk Indofood.

4.1.3 Umur Responden

Umur biasanya mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mengambil

keputusan dalam hal membeli suatu produk. Pada umumnya konsumen yang

berada pada umur 17 sampai dengan umur 65 tahun merupakan konsumen yang

masih memiliki daya beli untuk membeli suatu produk. Hal ini dikarenakan

mereka umumnya masih bekerja, sehingga mereka masih mempunyai penghasilan

untuk membeli suatu produk yang diinginkannya.

Pengambilan responden didasarkan kepada kelompok umum ini dimana

mereka yang telah memiliki sumber penghasilan sendiri sehingga mereka

memiliki kemampuan untuk membeli sendiri produk, dimana dalam hal ini ini

adalah produk mie instan. Keadaan umur konsumen yang menjadi responden di

Pasar atas Cimahi adalah konsumen yang berusia 25-55 tahun, berdasarkan

pertimbangan bahwa konsumen pada usia tersebut telah mampu untuk mengambil

keputusan sendiri. Keadaan umur Konsumen responden dapat dilihat pada Tabel 5

berikut ini:

Tabel 5. Keadaan Umur Konsumen Responden


Kisaran umur Jumlah orang Persentase ( % )
25-29 2 3,3
30-34 12 20
35-39 18 30
40-44 18 30
45-49 4 6,7
50-55 6 10
51

Jumlah 60 100

Dilihat dari kondisi umur, sebagian besar responden adalah konsumen

yang masih tergolong ke dalam usia produktif atau masih bekerja. Hal ini

menandakan bahwa mereka masih memiliki kemampuan untuk membeli suatu

barang atas dasar kemampuan mereka sendiri.

4.1.4 Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap daya tangkap atau respon

konsumen terhadap produk atau barang yang ditawarkan kepada mereka. Semakin

tinggi tingkat pendidikan konsumen, maka biasanya konsumen tersebut akan

semakin kritis terhadap suatu produk yang ditawarkan kepadanya. Kondisi ini

terjadi pada manusia umumnya, karena pada umumnya orang yang berpendidikan

relatif lebih mudah menerima sesuatu yang baru bagi mereka.

Penelitian ini dilakukan di Pasar Atas Cimahi, sehingga rata-rata

responden yang ditemui adalah berlatarbelakang pendidikan tinggi. Dalam

pengambilan responden tidak dilakukan pemilihan berdasarkan tingkat

pendidikan, artinya data tingkat pendidikan ini diperoleh berdasarkan temuan di

lapangan pada saat mewawancarai responden.

Tingkat pendidikan responden yang ditemui di Pasar Atas Cimahi lebih

jelas dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini.

Tabel 6. Tingkat Pendidikan konsumen mie instant produk indofood


Tingkat Pendidikan Jumlah ( orang ) Persentase (%)
SMP 1 1,6
SMA 5 8,3
D-3 12 20
S-1 40 66,6
52

S-2 2 3,3
Jumlah 60 100
4.1.5 Mata Pencaharian

Semua responden yang telah di wawancarai pada umumnya telah

mempunyai mata pencaharian sendiri, sehingga mereka dapat memutuskan sendiri

dalam proses pembelian suatu produk. Persentase pada Tabel 7 di bawah ini

menunjukkan persentase jenis pekerjaan dari jumlah total responden.

Tabel 7. Mata Pencaharian Responden


Jenis Pekerjaan Jumlah ( orang ) Persentase (%)
PNS 2 3
Mahasiswa 2 3
Wiraswasta 4 6
Ibu rumah tangga 35 58,3
Buruh 17 29,7

Responden yang berhasil ditemui sebagian besar adalah ibu rumah tangga,

dimana mereka umumnya datang ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-

hari. Buruh merupakan responden yang banyak ditemui setelah ibu rumah tangga.

Mereka ini biasanya membeli mie instan untuk konsumsi di rumah dan juga di

kantor. Namun saat ini rata-rata kantor melarang karyawanya membawa makanan

dari rumah sehingga mereka mengalihkan konsumsi mie instan tersebut sebagai

makanan tambahan dan makanan cadangan untuk di rumah. Hal ini mereka

lakukan karena mereka telah mendapat jatah makan di kantor mereka masing-

masing.

4.2 Pembahasan

Langkah pertama dalam pembahasan respon konsumen ini adalah

melakukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi respon konsumen terhadap


53

mie instant produk indofood. Dalam pembahasan pertama ini analisis dilakukan

untuk mengetahui tingkat kepercayaan konsumen terhadap suatu atribut produk.

Kepercayaan ini adalah kekuatan kepercayaan bahwa suatu produk memiliki

atribut tertentu.

Langkah kedua dalam pembahasan respon konsumen ini adalah

melakukan analisis terhadap frekuensi tingkat kepercayaan konsumen terhadap

atribut suatu produk. Pada dasarnya sikap seorang konsumen terhadap suatu objek

akan ditentukan oleh sikapnya terhadap berbagai atribut yang dimiliki oleh objek

tersebut.

Konsumen akan mengungkapkan kepercayaan terhadap berbagai atribut

yang dimiliki suatu merek dan produk yang dievaluasinya. Langkah ini

digambarkan oleh bi yang mengukur kepercayaan konsumen terhadap atribut

yang dimiliki oleh produk mie instant. Kepercayaan tersebut sering disebut

sebagai object-attribute linkages, yaitu kepercayaan konsumen tentang

kemungkinan adanya hubungan antara sebuah objek dengan atributnya yang

relevan.

Evaluasi atribut adalah evaluasi baik atau buruknya suatu atribut, yaitu

menggambarkan pentingnya suatu atribut bagi konsumen. Konsumen akan

mengidentifikasi atribut-atribut dari produk yang kemudian akan dievaluasi.

Konsumen akan menganggap atribut produk memiliki tingkat kepentingan yang

berbeda. Konsumen kemudian akan mengevaluasi kepentingan atribut produk

tersebut. Komponen ei mengukur evaluasi kepentingan atribut-atribut yang

dimilki oleh objek tersebut. Dalam hal ini konsumen belum memperhatikan merek
54

dari produk mie instan ketika mengevaluasi tingkat kepentingan tersebut. Ei

mengukur seberapa senang persepsi konsumen terhadap atribut dan suatu produk.

4.2.1 Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Respon Konsumen

Terhadap Mie Instan Produk Indofood

Analisis yang dilakukan untuk mengetahui Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Respon Konsumen Terhadap Mie Instan Produk Indofood ini

dilakukan dengan cara menganalisis tingkat kepentingan suatu atribut produk

menurut pandangan atau preferensi konsumen. Tingkat kepentingan ini adalah

suatu kegiatan untuk mengevaluasi baik atau buruknya suatu atribut dalam suatu

produk, yaitu menggambarkan pentingnya suatu atribut tersebut bagi konsumen.

Konsumen akan mengidentifikasi atribut-atribut atau karakteristik yang

dimiliki oleh objek yang akan dievaluasi. Konsumen dalam hal ini akan

menganggap atribut produk yang berbeda akan memiliki tingkat kepentingan yang

berbeda pula dan kemudian konsumen akan mengevaluasi kepentingan atribut

tersebut.

Dalam mengukur evaluasi kepentingan atribut-atribut yang dimiliki oleh

objek tersebut, konsumen belum memperhatikan merek dari suatu produk ketika

mengevaluasi kepentingan atribut tersebut. Untuk menganalisis faktor-faktor yang

mempengaruhi respon komsumen dalam penelitian ini dilakukan dengan cara

menganalisis tingkat kepentingan dari atribut-atribut produk yang ada.

1. Hasil Analisis Tingkat Kepentingan Faktor Rasa Mie Instan

Analisis tingkat kepentingan ini adalah suatu tahapan dalam mengevaluasi


55

Uraian pada bagian ini adalah analisis dari pengaruh faktor rasa mie instan

terhadap keputusan atau pertimbangan konsumen untuk membeli mie instan

produk Indofood tersebut. Pada Lampiran 2 dapat dilihat hasil evaluasi tingkat

kepentingan faktor rasa yang terdiri dari atribut Rasa mie, kekenyalan mie, aroma

dan cita rasa mie instan.

Pada Lampiran 2 terlihat bahwa pada atribut rasa mie instan, konsumen

sebagian besar berpendapat bahwa atribut rasa ini adalah penting bagi mereka

dalam menentukan pendapat atau respon mereka terhadap suatu produk mie

instan. Konsumen yang memilih atribut rasa ini penting adalah sebanyak 73.3 %,

sedangkan yang memilih atribut rasa ini sangat penting adalah sebesar 20 %.

Kenyataan ini memperlihatkan bahwa konsumen masih mementingkan faktor rasa

dalam memilih suatu produk mie instan.

Atribut kedua yang menjadi kajian adalah atribut kekenyalan mie.

Konsumen berpendapat bahwa kekenyalan mie ini ternyata mempengaruhi respon

mereka terhadap suatu produk mie instan. Sebanyak 68,3 % konsumen

menganggap bahwa kekenyalan mie ini penting dalam mempengaruhi respon

mereka terhadap produk mie instan, dan sebanyak 18,3 % konsumen menganggap

bahwa tingkat kekenyalan mie ini sangat penting dalam mempengaruhi respon

mereka terhadap produk mie instan.

Atribut ketiga yang menjadi kajian adalah atribut aroma mie. Konsumen

berpendapat bahwa aroma mie ini ternyata mempengaruhi respon mereka

terhadap suatu produk mie instan. Sebanyak 70 % konsumen menganggap bahwa

aroma mie ini penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie
56

instan, dan sebanyak 18,3 % konsumen menganggap bahwa aroma mie ini sangat

penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan.

Konsumen umumnya menganggap bahwa aroma ini merupakan daya tarik sendiri

bagi mereka dalam memlihi suatu produk mie instan. Bagi ibu-ibu rumah tangga,

aroma mie ini dapat meningkatkan selera makan anak-anak dan keluarga.

Atribut keempat yang menjadi kajian adalah atribut cita rasa. Atribut ini

berbeda dengan atribut rasa mie, karena cita rasa ini mempengaruhi persepsi

konsumen yang pernah mengkonsumsi mie instan. Biasanya dalam pikiran

konsumen telah terbentuk cita rasa yang berbeda-beda untuk setiap produk mie

instan. Konsumen berpendapat bahwa cita rasa mie ini ternyata mempengaruhi

respon mereka terhadap suatu produk mie instan. Sebanyak 75 % konsumen

menganggap bahwa cita rasa mie ini penting dalam mempengaruhi respon mereka

terhadap produk mie instan, dan sebanyak 16,3 % konsumen menganggap bahwa

aroma mie ini sangat penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap

produk mie instan.

Rata-rata tingkat kepentingan atribut rasa produk ini adalah berkisar antara

0,15 – 0,33, dimana angka ini berada diantara angka 0 dan 1, sehingga dapat

disimpulkan bahwa umumnya konsumen menganggap bahwa atribut rasa ini

adalah penting dalam menentukan respon mereka terhadap suatu produk.

2. Hasil Analisis Faktor Harga Mie Instan

Uraian pada bagian ini adalah melakukan analisis dari pengaruh faktor

harga mie instan terhadap keputusan atau pertimbangan konsumen untuk

membeli mie instan produk Indofood tersebut. Pada Lampiran 2 dapat dilihat
57

hasil evaluasi tingkat kepentingan faktor harga yang terdiri dari atribut harga mie

instan, volume atau ukuran dari mie instan, kandungan gizi dan tingkat kepuasan

terhadap harga jual.

Pada Lampiran 2 terlihat bahwa pada atribut harga mie instan, konsumen

sebagian besar berpendapat bahwa atribut harga ini adalah penting bagi mereka

dalam menentukan pendapat atau respon mereka terhadap suatu produk mie

instan. Konsumen yang memilih atribut harga ini adalah penting sebanyak 81,6 %,

sedangkan yang memilih atribut harga ini sangat penting adalah sebesar 10 %.

Mie instan ini telah menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat, namun

demikian konsumen tetap memilih atribut harga ini penting dalam mempengaruhi

krespon mereka dalam memilih produk mie instan, akan tetapi masih dalam taraf

normal saja.

Atribut kedua yang menjadi kajian dalam evaluasi tingkat kepentingan

harga ini adalah atribut volume atau ukuran mie. Konsumen berpendapat bahwa

volume atau ukuran mie ini ternyata mempengaruhi respon mereka terhadap suatu

produk mie instan. Sebanyak 78,3 % konsumen menganggap bahwa volume atau

ukuran mie ini penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie

instan, dan sebanyak 11,6 % konsumen menganggap bahwa tingkat volume atau

ukuran ini sangat penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk

mie instan. Volume mie ini ternyata cukup diperhatikan oleh konsumen karena

mereka beranggapan bahwa mie ini harus cukup mengenyangkan bagi konsumen.

Rasa kenyang ini relatif bagi setiap orang, sehingga konsumen biasanya

menyesuaikan atribut volume ini dengan kebutuhannya masing-masing.


58

Atribut ketiga yang menjadi kajian adalah atribut kandungan gizi dalam

mie. Konsumen berpendapat bahwa kandungan gizi mie ini ternyata

mempengaruhi respon mereka terhadap suatu produk mie instan. Sebanyak

78,3 % konsumen menganggap bahwa kandungan gizi mie ini penting dalam

mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan, dan sebanyak 6,6 %

konsumen menganggap bahwa kandungan gizi mie ini sangat penting sekali

dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan. Konsumen

menganggap bahwa kandungan gizi ini merupakan hal yang penting bagi mereka.

Konsumen beranggapan bahwa saat ini mie harus menjadi suatu produk yang

menjadi solusi murah sekaligus juga solusi sehat. Konsumen mengharapkan

dengan adanya suatu keamanan dari produk mie instan ini, sehingga mereka

merasa aman dan sehat dalam menkonsumsi mie instan ini.

Atribut keempat yang menjadi kajian adalah atribut kepuasan konsumen

terhadap harga jual. Konsumen berpendapat bahwa kepuasan terhadap harga jual

mie ini ternyata mempengaruhi respon mereka terhadap suatu produk mie instan.

Sebanyak 83,3 % konsumen menganggap bahwa kepuasan terhadap harga jual

mie ini penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan,

dan sebanyak 15 % konsumen menganggap bahwa kepuasan terhadap harga jual

mie ini sangat penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie

instan. Konsumen menganggap bahwa kepuasan terhadap harga jual ini

merupakan hal yang penting bagi mereka. Konsumen berpendapat bahwa mereka

harga jual harus proporsional dan sebanding dengan kualitas produk yang mereka

terima, oleh karena itu apabila konsumen telah merasa puas terhadap hal tersebut,
59

maka respon mereka di masa yang akan datang terhadap produk mie instan ini

pun akan baik pula.

Rata-rata tingkat kepentingan atribut harga produk ini adalah berkisar

antara 0,08 - 0,15 –, dimana angka ini berada diantara angka 0 dan 1, sehingga

dapat disimpulkan bahwa umumnya konsumen menganggap bahwa atribut rasa

ini adalah penting bagi mereka dalam menentukan respon terhadap suatu produk.

3. Hasil Analisis Faktor Kegiatan Promosi Mie Instan

Uraian pada bagian ini adalah analisis dari pengaruh faktor promosi mie

instan terhadap keputusan atau pertimbangan konsumen untuk membeli mie

instan produk Indofood tersebut. Pada Lampiran 3 dapat dilihat hasil evaluasi

tingkat kepentingan faktor promosi yang terdiri dari atribut Penampilan kemasan,

Merek, Iklan, frekuensi iklan, Undian, Diskon harga dan kegiatan promosi

langsung suatu produk mie instan

Atribut pertama yang menjadi kajian dalam evaluasi tingkat kepentingan

atribut promosi produk ini adalah atribut penampilan kemasan. Konsumen

berpendapat bahwa penampilan kemasan ini ternyata mempengaruhi respon

mereka terhadap suatu produk mie instan. Sebanyak 66,6 % konsumen

menganggap bahwa penampilan kemasan mie ini penting dalam mempengaruhi

respon mereka terhadap produk mie instan, dan sebanyak 16,6 % konsumen

menganggap bahwa tingkat penampilan kemasan mie ini kurang penting dalam

mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan. Hal ini menarik karena

atribut kemasan saat ini sudah mulai tidak begitu dihiraukan oleh konsumen. Saat

ini konsumen telah lebih mengerti mengenai kualitas suatu produk, dimana
60

kualitas tersebut tidak lagi dinilai dari suatu penampilan, namun dari kualitas dari

produk tersebut.

Atribut kedua yang menjadi kajian adalah atribut merek mie. Konsumen

berpendapat bahwa merek mie ini ternyata mempengaruhi respon mereka

terhadap suatu produk mie instan. Sebanyak 80 % konsumen menganggap bahwa

merek mie ini penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie

instan, dan sebanyak 10 % konsumen menganggap bahwa merek mie ini sangat

penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan.

Penelitian ini lebih fokus kepada mie instan produk indofood, adapun atribut

merek ini tetap dimasukkan sebagai salah satu atribut yang mempengaruhi respon

konsumen terhadap suatu produk mie instan adalah dikarenakan saat ini Indofood

memiliki beberapa merek mie instan yang berbeda-beda. Berdasarkan kajian di

lapangan, tiga merek indofood yang paling digemari oleh konsumen saat ini

adalah indomie, supermie dan sarimi. Oleh karena itu atribut merek ini tetap

dimasukkan dalam kajian respon konsumen ini.

Atribut ketiga yang menjadi kajian adalah atribut iklan mie. Konsumen

berpendapat bahwa iklan mie ini ternyata mempengaruhi respon mereka terhadap

suatu produk mie instan. Sebanyak 68,3 % konsumen menganggap bahwa iklan

mie ini penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan,

dan sebanyak 13,3 % konsumen menganggap bahwa iklan mie ini sangat penting

dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan. Konsumen

umumnya menganggap bahwa iklan ini merupakan suatu informasi yang dapat

memudahkan bagi mereka dalam memlih suatu produk mie instan.


61

Atribut keempat yang menjadi kajian adalah atribut frekuensi iklan.

Konsumen berpendapat bahwa frekuensi iklan ini ternyata kurang mempengaruhi

respon mereka terhadap suatu produk mie instan. Sebanyak 43,4 % konsumen

menganggap bahwa frekuensi iklan ini kurang penting dalam mempengaruhi

respon mereka terhadap produk mie instan, dan sebanyak 31,6 % konsumen

menganggap bahwa frekuensi iklan mie ini penting dalam mempengaruhi respon

mereka terhadap produk mie instan. Frekuensi iklan dianggap kurang penting

karena pada umumnya mereka telah mengenal mie instan produk indofood ini

dengan baik sehingga mereka menganggap frekuensi iklan bukanlah suatu hal

yang penting dalam mempengaruhi respon konsumen terhadap produk mie instan.

Atribut kelima yang menjadi kajian adalah atribut pengundian. Konsumen

berpendapat bahwa pengundian mie ini ternyata kurang mempengaruhi respon

mereka terhadap suatu produk mie instan. Sebanyak 83,3 % konsumen

menganggap bahwa kegiatan pengundian mie ini kurang penting dalam

mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan, dan sebanyak 13,3 %

konsumen menganggap bahwa pengundian mie ini tidak penting dalam

mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan. Konsumen umumnya

menganggap bahwa kegiatan pengundian ini telah banyak dilakukan oleh produk-

produk lainnya, sehingga saat ini telah terjadi kejenuhan di masyarakat. Ada juga

anggapan bahwa suatu produk yang terlalu sering mengadakan undian berhadiah

akan menyebabkan tingkat kepercayaan konsumen terhadap produk tersebut akan

berkurang, karena muncul anggapan bahwa produk tersebut kurang berkualitas


62

sehingga harus melakukan kegiatan pengundian berhadiah untuk menarik minat

konsumen.

Atribut keenam yang menjadi kajian adalah atribut diskon harga.

Konsumen berpendapat bahwa diskon harga ini ternyata juga kurang

mempengaruhi respon mereka terhadap suatu produk mie instan. Sebanyak 88,3

% konsumen menganggap bahwa diskon harga ini kurang penting dalam

mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan, dan sebanyak 6,6 %

konsumen menganggap bahwa diskon harga ini tidak penting dalam

mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan. Sama halnya dengan

kegiatan pengundian, saat ini konsumen lebih memilih produk yang kualitasnya

benar-benar dapat dipercaya, sehingga diskon harga tidak mempengaruhi mereka

dalam memilij suatu produk mie instan. Hal lain yang berpengaruh terhadap hal

ini adalah bahwa mie instan saat ini sudah dianggap sebagai kebutuhan pokok

masyarakat, sehingga harga relatif tidak menjadi masalah bagi konsumen dalam

membuat keputusan untuk membeli mie instan produk indofood ini.

Atribut ketujuh yang menjadi kajian adalah atribut promosi langsung.

Konsumen berpendapat bahwa promosi langsung ini ternyata kurang

mempengaruhi respon mereka terhadap suatu produk mie instan. Sebanyak 86,6

% konsumen menganggap bahwa promosi langsung ini kurang penting dalam

mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan, dan sebanyak 11,6 %

konsumen menganggap bahwa promosi langsung ini penting dalam

mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan. Konsumen umumnya


63

menganggap bahwa promosi langsung ini sudah tidak dibutuhkan karena mereka

umumnya telah mengetahui tentang mie instan produk indofood.

Rata-rata tingkat kepentingan atribut promosi produk ini adalah berkisar

antara -1,25 sampai dengan 1, dimana angka ini berada diantara angka -2 dan 1,

sehingga dapat disimpulkan bahwa umumnya konsumen menganggap bahwa

atribut promosi ini adalah kurang penting dalam menentukan respon mereka

terhadap suatu produk.

4. Hasil Analisis Faktor Keberadaan Mie Instan

Uraian pada bagian ini adalah analisis dari pengaruh faktor ketersediaan

mie instan terhadap keputusan atau pertimbangan konsumen untuk membeli mie

instan produk Indofood. Pada Lampiran 3 dapat dilihat hasil evaluasi tingkat

kepentingan faktor ketersediaan produk yang terdiri dari atribut produk di pasar

tradisional, ketersediaan produk di supermarket dan ketersediaan produk di

warung.

Atribut pertama yang menjadi kajian dalam evaluasi tingkat kepentingan

atribut ketersediaan produk ini adalah atribut ketersediaan di pasar tradisional.

Konsumen berpendapat bahwa ketersediaan produk di pasar tradisional ini

ternyata mempengaruhi respon mereka terhadap suatu produk mie instan.

Sebanyak 53,3 % konsumen menganggap bahwa keberadaan produk mie di pasar

tradisional ini penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie

instan, dan sebanyak 31,6 % konsumen menganggap bahwa tingkat ketersediaan

mie di pasar tradisional ini sangat penting dalam mempengaruhi respon mereka

terhadap produk mie instan. Hal ini terjadi karena rata-rata konsumen berdomosili
64

di sekitar Cimahi sehingga mereka merasa kedekatan produk mie dengan rumah

tinggal mereka adalah penting

Atribut kedua yang menjadi kajian adalah atribut ketersediaan produk mie

di supermarket. Konsumen berpendapat bahwa keberadaan produk mie di

supermarket ini ternyata mempengaruhi respon mereka terhadap suatu produk mie

instan. Sebanyak 56,6 % konsumen menganggap bahwa ketersediaan produk mie

di supermarket ini penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk

mie instan, dan sebanyak 25 % konsumen menganggap bahwa tingkat

ketersediaan produk mie di supermarket ini sangat penting dalam mempengaruhi

respon mereka terhadap produk mie instan.

Atribut ketiga yang menjadi kajian adalah atribut ketersediaan produk mie

di warung. Konsumen berpendapat bahwa keberadaan produk mie di warung ini

ternyata mempengaruhi respon mereka terhadap suatu produk mie instan.

Sebanyak 61,6 % konsumen menganggap bahwa ketersediaan produk mie di

warung ini penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie

instan, dan sebanyak 28,3 % konsumen menganggap bahwa ketersediaan produk

mie di warung ini sangat penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap

produk mie instan.

Rata-rata tingkat kepentingan atribut rasa produk ini adalah berkisar antara

0,48 – 0,61, dimana angka ini berada diantara angka 0 dan 1, sehingga dapat

disimpulkan bahwa umumnya konsumen menganggap bahwa atribut rasa ini

adalah penting dalam menentukan respon mereka terhadap suatu produk.

5. Hasil Analisis Faktor Proses Psikologis


65

Uraian pada bagian ini adalah analisis dari pengaruh faktor psikologis

terhadap keputusan atau pertimbangan konsumen untuk membeli mie instan

produk Indofood tersebut. Pada Lampiran 3 dapat dilihat hasil evaluasi tingkat

kepentingan faktor psikologis yang terdiri dari atribut status sosial dan dorongan

iklan

Atribut pertama yang menjadi kajian dalam evaluasi tingkat kepentingan

atribut psikologis ini adalah status sosial. Konsumen berpendapat bahwa status

sosial ini ternyata kurang mempengaruhi respon mereka terhadap suatu produk

mie instan. Sebanyak 46,6 % konsumen menganggap bahwa status sosial ini

kurang penting dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan,

dan sebanyak 43,3 % konsumen menganggap bahwa status sosial ini penting

dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan. Konsumen

beranggapan bahwa status sosial ini tidak relevan dalam mempengaruhi respon

seseorang terhadap produk mie instan. Saat ini mie instan telah menyentuh

seluruh golongan masyarakat, sehingga siapapun dapat mengkonsumsi mie instan

tanpa harus memandang status sosial dari orang atau konsumen tersebut.

Atribut kedua yang menjadi kajian adalah atribut dorongan iklan.

Konsumen berpendapat bahwa dorongan iklan ini ternyata mempengaruhi respon

mereka terhadap suatu produk mie instan. Sebanyak 56,6 % konsumen

menganggap bahwa dorongan iklan ini kurang penting dalam mempengaruhi

respon mereka terhadap produk mie instan, dan sebanyak 30 % konsumen

menganggap bahwa tingkat dorongan iklan mie ini penting dalam mempengaruhi

respon mereka terhadap produk mie instan.


66

Rata-rata tingkat kepentingan atribut psikologis ini adalah berkisar antara

-0,33 sampai – 0,48 dimana angka ini berada diantara angka 0 dan -1, sehingga

dapat disimpulkan bahwa umumnya konsumen menganggap bahwa atribut

psikologis ini adalah kurang penting dalam menentukan respon mereka terhadap

suatu produk. Alasan lain yang mendukung hal ini adalah dikarenakan produk mie

instan adalah produk yang sudah sangat familier dikonsumsi di kalangan

masyarakat.

6. Hasil Analisis Faktor Pengaruh Lingkungan

Uraian pada bagian ini adalah analisis dari pengaruh faktor lingkungan

terhadap keputusan atau pertimbangan konsumen untuk membeli mie instan

produk Indofood tersebut. Pada Lampiran 4 dapat dilihat hasil evaluasi tingkat

kepentingan faktor pengaruh lingkungan yang terdiri dari atribut gaya hidup dan

dorongan keluarga.

Atribut pertama yang menjadi kajian dalam evaluasi tingkat kepentingan

atribut pengaruh lingkungan ini adalah gaya hidup. Konsumen berpendapat bahwa

gaya hidup ini ternyata mempengaruhi respon mereka terhadap suatu produk mie

instan. Sebanyak 58,3 % konsumen menganggap bahwa gaya hidup ini penting

dalam mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan, dan sebanyak

28,3 % konsumen menganggap bahwa gaya hidup ini sangat penting dalam

mempengaruhi respon mereka terhadap produk mie instan. Konsumen

beranggapan bahwa gaya hidup ini mempengaruhi respon seseorang terhadap

produk mie instan. Gaya hidup menurut persepsi konsumen disini adalah cara

hidup konsumen. Sebagai contoh apabila si konsumen tersebut adalah seorang


67

yang memiliki mobilitas tinggi, sehingga dia tidak sempat untuk memasak, maka

dalam memenuhi kebutuhan makannya si konsumen tadi akan menkonsumsi mie

instan karena faktor kepraktisannya. Gaya hidup ini tentunya berbeda-beda untuk

setiap responden sehingga hasilnya pun akan berbeda-beda pula.

Atribut kedua yang menjadi kajian adalah atribut dorongan keluarga.

Konsumen berpendapat bahwa dorongan keluarga ini ternyata mempengaruhi

respon mereka terhadap suatu produk mie instan. Sebanyak 63,3% konsumen

menganggap bahwa dorongan keluarga ini penting dalam mempengaruhi respon

mereka terhadap produk mie instan, dan sebanyak 20 % konsumen menganggap

bahwa tingkat dorongan keluarga ini penting dalam mempengaruhi respon mereka

terhadap produk mie instan. Dorongan keluarga ini dianggap penting karena rata-

rata konsumen yang membeli mie instan didasarkan kepada kebutuhan konsumsi

dari keluarganya.

Rata-rata tingkat kepentingan atribut psikologis ini adalah berkisar antara

-0,3 sampai 0,15 dimana angka ini berada diantara angka 1 dan -1, sehingga dapat

disimpulkan bahwa umumnya konsumen masih menganggap atribut pengaruh

lingkungan ini adalah penting dalam menentukan respon mereka terhadap suatu

produk.

4.2.2 Analisis Respon Konsumen Terhadap Mie Instan Indofood

Analisis yang dilakukan untuk mengetahui Respon Konsumen Terhadap

Mie Instan Produk Indofood ini dilakukan dengan cara menganalisis tingkat

kepercayaan suatu atribut produk menurut pandangan atau preferensi konsumen.

Kepercayaan ini adalah suatu kekuatan kepercayaan bahwa suatu produk memiliki
68

atribut tertentu. Konsumen akan mengungkapkan kepercayaan terhadap berbagai

atribut yang dimiliki suatu merek dan produk yang dievaluasinya. Langkah ini

merupakan suatu kegiatan dalam mengukur kepercayaan konsumen terhadap

atribut produk yang dimiliki oleh suatu merek tertentu dimana dalam penelitian

ini adalah mie instan produk indofood.

Konsumen harus memperhatikan merek dari suatu produk ketika

mengevaluasi atribut yang dimiliki oleh masing-masing merek dari produk yang

diamati. Kepercayaan tersebut menggambarkan kemungkinan adanya hubungan

antara sebuah objek dengan atributnya yang relevan. Kekuatan kepercayaan ini

biasanya digambarkan oleh angka bipolar yang menunjukkan tingkat

selera/preferensi konsumen terhadap suatu atribut dari produk mie instan

indofood.

Berdasarkan hal tersebut maka atribut-atribut yang telah diukur tingkat

kepentingannya pada analisis sebelumnya, kembali diukur tingkat kepercayaannya

pada analisis respon konsumen, hanya dalam analisis ini konsumen telah

mengetahui merek dari produk mie instan indofood tersebut. Konsumen dalam hal

ini lebih fokus dan konsentrasi terhadap atribut suatu produk dan mulai

menggambarkan respon mereka terhadap produk mie instan sesuai dengan atribut

yang ditanyakan kepada mereka.

1. Hasil Analisis Tingkat Kepercayaan Faktor Rasa Mie Instan

Analisis yang dilakukan dalam bagian ini adalah analisis kekuatan

kepercayaan dari atribut rasa mie instan. Setiap konsumen diminta untuk
69

menyatakan responnya terhadap pernyataan yang dinyatakan ke dalam 5 angka

skala. Model ini menggambarkan respon konsumen terhadap produk mie instan

produk indofood. Uraian analisis respon konsumen ini dapat dilihat pada

Lampiran 4 dapat dilihat hasil evaluasi tingkat kepentingan faktor rasa yang

terdiri dari atribut Rasa mie, kekenyalan mie, aroma dan cita rasa mie instan.

Atribut pertama yang dianalisis dalam evaluasi tingkat kepercayaan atribut

rasa produk ini adalah rasa mie instan, konsumen sebagian besar berpendapat

bahwa mie instan produk indofood ini memiliki rasa yang enak. Konsumen yang

merespon rasa mie instan produk indofood ini enak adalah sebanyak 81,6 %,

sedangkan konsumen yang merespon rasa mie instan produk indofood ini sangat

enak adalah sebesar 10 %. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa konsumen

merasa puas terhadap rasa mie instan produk indofood ini dan mereka

memberikan respon yang cukup baik terhadap atribut rasa ini.

Atribut kedua yang menjadi kajian adalah atribut kekenyalan mie.

Konsumen berpendapat bahwa mie instan produk indofood ini memiliki

kekenyalan mie yang cukup kenyal. Konsumen yang merespon mie instan produk

indofood ini kenyal adalah sebanyak 71,6 %, sedangkan konsumen yang

merespon rasa mie instan produk indofood ini tingkat kekenyalannya biasa-biasa

saja adalah sebesar 23,3 %. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa konsumen

merasa puas terhadap kekenyalan mie instan produk indofood ini dan mereka

memberikan respon yang cukup baik terhadap atribut kekenyalan mie ini.

Konsumen menganggap bahwa kenikmatan dalam menyantap mie adalah tingkat


70

kekenyalan mie tersebut. Mie yang kenyal lebih disukai karena mie jenis ini lebih

mengenyangkan apabila dibandingkan dengan mie yang tidak kenyal.

Atribut ketiga yang menjadi kajian tingkat kepercayaan konsumen ini

adalah atribut aroma mie. Konsumen berpendapat bahwa mie instan produk

indofood ini memiliki aroma mie yang cukup sedap. Konsumen yang merespon

mie instan produk indofood ini sedap adalah sebanyak 83,3 %, sedangkan

konsumen yang merespon aroma mie instan produk indofood ini sangat sedap

adalah sebesar 10 %. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa konsumen merasa

puas terhadap aroma mie instan produk indofood ini dan mereka memberikan

respon yang cukup baik terhadap atribut aroma mie ini. Konsumen menganggap

bahwa aroma mie instan produk indofood ini dapat membangkitkan selera,

terutama terhadap anak-anak. Mereka umumnya menyukai aroma mie instan

tersebut dan hal ini merupakan stimulus bagi mereka untuk makan

Atribut keempat yang menjadi kajian tingkat kepercayaan konsumen ini

adalah atribut cita rasa mie. Konsumen berpendapat bahwa mie instan produk

indofood ini memiliki cita rasa mie yang cukup enak. Konsumen yang merespon

mie instan produk indofood ini memiliki cita rasa yang lumayan enak adalah

sebanyak 75 %, sedangkan konsumen yang merespon cita rasa mie instan produk

indofood ini sangat sedap adalah sebesar 16,6 %. Kenyataan ini memperlihatkan

bahwa konsumen merasa puas terhadap cita rasa mie instan produk indofood ini

dan mereka memberikan respon yang cukup baik terhadap atribut cita rasa mie

ini. Alasan mengapa konsumen menganggap bahwa cita rasa mie ini adalah

lumayan enak adalah karena konsumen telah memilih beberapa cita rasa yang
71

biasanya mereka konsumsi, seperti rasa kaldu ayam, ayam bawang dan kari ayam,

sedangkan untuk cita rasa yang lainnya mereka kurang mengenalnya, sehingga

ketika diajukan pertanyaan mengenai tingkat kepercayaan terhadap cita rasa mie,

konsumen menganggap rasa yang lain adalah lumayan, sedangkan untuk rasa

yang biasa mereka konsumsi adalah enak.

2. Hasil Analisis Tingkat Kepercayaan Faktor Harga Mie Instan

Uraian pada bagian ini adalah melakukan analisis terhadap tingkat

kepercayaan konsumen terhadap harga mie instan produk indofood. Pada

Lampiran 5 dapat dilihat hasil evaluasi tingkat kepercayaan faktor harga ini

terdiri dari atribut harga mie instan, volume atau ukuran dari mie instan,

kandungan gizi dan tingkat kepuasan terhadap harga jual.

Atribut pertama yang dianalisis dalam evaluasi tingkat kepercayaan atribut

harga produk ini adalah harga mie instan, konsumen sebagian besar berpendapat

bahwa mie instan produk indofood ini memiliki harga yang biasa-biasa saja.

Konsumen yang merespon harga mie instan produk indofood ini biasa-biasa saja

adalah sebanyak 86,6 %, sedangkan konsumen yang merespon harga mie instan

produk indofood ini mahal adalah sebesar 6,6 %. Kenyataan ini memperlihatkan

bahwa konsumen merasa tidak keberatan dengan harga yang berlaku sekarang,

dan dengan harga yang berlaku tersebut respon mereka terhadap mie instan

produk indofood ini baik.

Atribut kedua yang menjadi kajian adalah atribut volume/ukuran mie.

Konsumen berpendapat bahwa mie instan produk indofood ini memiliki

volume/ukuran mie yang cukup pas. Konsumen yang merespon mie instan produk
72

indofood ini volume/ukurannya pas adalah sebanyak 81,6 %, sedangkan

konsumen yang merespon volume/ukuran mie instan produk indofood ini kurang

pas adalah sebesar 15 %. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa konsumen

merasa pas terhadap volume/ukuran mie instan produk indofood ini dan mereka

memberikan respon yang cukup baik terhadap atribut volume/ukuran mie ini.

Konsumen merasa pas terhadap volume mie instan produk indofood yang ada saat

ini dikarenakan mereka menganggap mie instan adalah makanan sampingan,

sehingga konsumen menilai tidak perlu makan mie terlalu banyak, karena mie ini

hanya sebagai pelengkap saja, bukan sebagai makanan utama.

Atribut ketiga yang menjadi kajian tingkat kepercayaan konsumen ini

adalah atribut kandungan gizi mie. Konsumen berpendapat bahwa mie instan

produk indofood ini memiliki kandungan gizi yang lengkap. Konsumen yang

merespon mie instan produk indofood ini memiliki kandungan gizi yang lengkap

adalah sebanyak 56,6 %, sedangkan konsumen yang merespon mie instan produk

indofood ini memiliki kandungan gizi yang kurang lengkap adalah sebesar

38,3 %. kondisi ini memperlihatkan bahwa konsumen yang merasa bahwa

kandungan gizi mie instan sudah lengkap dan konsumen yang merasa bahwa hal

tersebut masih kurang lengkap masih relatif seimbang. Konsumen masih

beranggapan mie instan saat ini belum mampu memenuhi kriteria gizi yang

lengkap untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Masih ada pandangan bahwa mie

instan hanyalah makanan pelengkap, dimana kekurangan gizi di dalamnya

dilengkapi oleh makanan lainnya. Namun bagi sebagian konsumen mie instan

produk indofood ini dinilai telah cukup memenuhi syarat kecukupan gizi sehingga
73

mereka berpendapat bahwa kandungan gizi yang terdapat di dalam mie instan

produk indofood ini sudah lengkap.

Atribut keempat yang menjadi kajian adalah atribut tingkat kepuasan

terhadap harga jual mie. Konsumen berpendapat bahwa mie instan produk

indofood ini telah memberikan kepuasan dalanm hal harga jual. Konsumen

menilai bahwa harga jual yang berlaku saat ini sesuai dengan kriteria produk mie

yang dijual. Konsumen yang merespon mie instan produk indofood ini

memberikan tingkat kepuasan terhadap harga jual yang memuaskan adalah

sebesar 88,3 %, sedangkan konsumen yang memberikan tingkat kepuasan

terhadap harga jual yang kurang memuaskan terhadap mie instan produk indofood

ini adalah sebesar 10 %. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa konsumen merasa

puas terhadap harga jual mie instan produk indofood ini dan mereka memberikan

respon yang cukup baik terhadap atribut harga jual mie ini.

3. Hasil Analisis Tingkat Kepercayaan Faktor Promosi Mie Instan

Uraian pada bagian ini adalah melakukan analisis terhadap tingkat

kepercayaan konsumen terhadap atribut promosi mie instan produk indofood.

Pada Lampiran 6 dapat dilihat hasil evaluasi tingkat kepercayaan faktor promosi

ini terdiri dari atribut Penampilan kemasan, Merek, Iklan, frekuensi iklan, Undian,

Diskon harga dan kegiatan promosi langsung suatu produk mie instan

Atribut pertama yang menjadi kajian dalam evaluasi tingkat kepercayaan

atribut promosi produk ini adalah atribut penampilan kemasan. Konsumen

berpendapat bahwa penampilan kemasan mie instan produk indofood ini adalah

menarik. Konsumen yang merespon mie instan produk indofood ini memiliki
74

penampilan kemasan yang menarik adalah sebanyak 88,3 %, sedangkan

konsumen yang merespon mie instan produk indofood ini memiliki penampilan

kemasan yang kurang menarik adalah sebesar 8,3 %. Konsumen beranggapan

bahwa penampilan kemasan mie instan yang ada saat ini belum mengalami

perubahan-perubahan yang signifikan. Hal ini juga membuat konsumen

berpendapat bahwa penampilan kemasan mie instan produk indofood ini menjadi

kurang menarik, padahal kemasan tidak berubah. Kenyataan ini disebabkan oleh

timbulnya rasa jenuh dari konsumen terhadap penampilan kemasan yang ada saat

ini.

Atribut kedua yang menjadi kajian adalah atribut merek mie. Konsumen

menyatakan bahwa mereka telah mengenal merek mie instan produk indofood ini.

Sebanyak 50 % konsumen mengaku mengenal merek indofood ini dengan baik,

dan sebanyak 35 % konsumen mengaku sangat mengenal merek indofood ini

dengan baik.

Atribut ketiga yang menjadi kajian dalam evaluasi tingkat kepercayaan

atribut promosi produk ini adalah atribut iklan. Konsumen berpendapat bahwa

iklan mie instan produk indofood ini sering muncul dalam berbagai media masa.

Konsumen yang merespon mie instan produk indofood ini memiliki intensitas

iklan yang sering dan menarik adalah sebanyak 68,3 %, sedangkan konsumen

yang merespon mie instan produk indofood ini memiliki intensitas iklan yang

sangat sering dan menarik adalah sebesar 13,3 %. Konsumen beranggapan bahwa

mereka umumnya telah sangat mengenal produk mie instan indofood ini sehingga

perhatian mereka terhadap iklan yang ada saat ini tidak terlalu besar.
75

Atribut keempat yang menjadi kajian dalam evaluasi tingkat kepercayaan

atribut promosi produk ini adalah atribut Undian. Konsumen berpendapat bahwa

kegiatan undian berhadiah yang diadakan oleh Indofood saat ini adalah jarang.

Konsumen yang merespon bahwa indofood saat ini jarang mengadakan kegiatan

undian berhadiah adalah sebanyak 83,3 %, sedangkan konsumen yang merespon

bahwa indofood saat ini sangat jarang mengadakan kegiatan undian berhadiah

adalah sebanyak 13,3 %.

Atribut kelima yang menjadi kajian adalah atribut diskon harga.

Konsumen berpendapat bahwa kegiatan diskon harga yang diadakan oleh

Indofood saat ini adalah jarang. Konsumen yang merespon bahwa indofood saat

ini jarang mengadakan kegiatan diskon harga adalah sebanyak 83,3 %, sedangkan

konsumen yang merespon bahwa indofood saat ini sangat jarang mengadakan

kegiatan diskon harga adalah sebanyak 13,3 %.

Atribut keenam yang menjadi kajian adalah atribut promosi langsung.

Konsumen berpendapat bahwa kegiatan promosi langsung yang diadakan oleh

Indofood saat ini adalah jarang. Konsumen yang merespon bahwa indofood saat

ini jarang mengadakan kegiatan promosi langsung adalah sebanyak 86,6 %,

sedangkan konsumen yang merespon bahwa indofood saat ini sering mengadakan

kegiatan promosi langsung adalah sebanyak 11,6 %. Kegiatan promosi langsung

jarang dilakukan karena saat ini konsumen telah mengenal dengan baik mie instan

produk indofood ini.

4. Hasil Analisis Tingkat Kepercayaan Faktor Ketersediaan Mie Instan


76

Uraian pada bagian ini adalah melakukan analisis terhadap tingkat

kepercayaan konsumen terhadap atribut ketersediaan mie instan produk indofood

di pasaran. Pada Lampiran 6 dapat dilihat hasil evaluasi tingkat kepercayaan

faktor ketersedian mie instan ini terdiri dari atribut ketersediaan mie instan produk

Indofood di pasar tradisional, ketersediaan mie instan produk Indofood di

supermarket dan ketersediaan mie instan produk Indofood di warung

Atribut pertama yang menjadi kajian dalam evaluasi tingkat kepercayaan

atribut ketersediaan produk mie instan ini adalah atribut ketersediaan mie instan

produk Indofood di pasar tradisional. Konsumen berpendapat bahwa ketersediaan

mie instan produk Indofood di pasar tradisional adalah penting karena jarak pasar

tradisional yang dekat. Konsumen yang merespon bahwa ketersediaan mie instan

produk Indofood di pasar tradisional penting adalah sebesar 53,3 %, sedangkan

konsumen yang merespon ketersediaan mie instan produk Indofood di pasar

tradisional adalah sangat penting sebesar 31,6 %. Konsumen beranggapan bahwa

ketersediaan mie instan produk Indofood di pasar tradisional ini adalah penting

karena konsumen responden ini umumnya bertempat tinggal dekat dengan Pasar

Atas Cimahi, sedangkan bagi responden yang setiap hari berbelanja di Pasar Atas

Cinahi ini beranggapan bahwa ketersediaan mie instan produk Indofood di pasar

tradisional sangat penting karena memudahkan mereka apabila akan membeli

produk mie instan tersebut, sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan biaya

ekstra untuk membeli mie instan di tempat yang lain.

Atribut kedua yang menjadi kajian adalah atribut keberadaan mie instan

produk Indofood di supermarket. Konsumen yang merespon bahwa keberadaan


77

mie instan produk Indofood di supermarket penting adalah sebesar 56,6 %,

sedangkan konsumen yang merespon keberadaan mie instan produk Indofood di

supermarket adalah sangat penting sebesar 25 %, sedangkan konsumen yang

merespon keberadaan mie instan produk Indofood di supermarket adalah sangat

penting sekali sebesar 18,33 % Konsumen beranggapan bahwa keberadaan mie

instan produk Indofood di supermarket ini adalah penting karena konsumen

responden ini umumnya bertempat tinggal dekat dengan Pasar Atas Cimahi, dan

konsumen menganggap bahwa supermarket saat ini telah berubah menjadi tempat

belanja yang menyenangkan bagi konsumen, sehingga mereka menganggap

penting keberadaan mie instan di supermarket.

Atribut ketiga yang menjadi kajian adalah atribut keberadaan mie instan

produk Indofood di warung. Konsumen yang merespon bahwa keberadaan mie

instan produk Indofood di warung penting agar mie instan mudah didapat adalah

sebesar 53,3 %. Konsumen menganggap bahwa keberadaan mie instan di warung

adalah suatu hal yang biasa, karena saat ini di sekitar rumah mereka telah banyak

berdiri supermarket ataupun toko-toko kecil lainnya. Sedangkan konsumen yang

merespon keberadaan mie instan produk Indofood di warung agar mudah didapat

sebesar 28,3 %, Konsumen beranggapan bahwa keberadaan mie instan produk

Indofood di warung ini adalah agar mie instan produk indofood mudah didapat

dikala mereka membutuhkan produk tersebut dalam jumlah kecil. Apabila mereka

membutuhkan mie dalam jumlah yang banyak, konsumen biasanya lebih memilih

supermarket ataupun pasar untuk membeli mie instan tersebut.

5. Hasil Analisis Tingkat Kepercayaan Faktor Proses Psikologis


78

Uraian pada bagian ini adalah analisis tingkat kepercayaan dari faktor

psikologis terhadap respon konsumen. Pada Lampiran 7 dapat dilihat hasil

evaluasi tingkat kepercayaan faktor psikologis yang terdiri dari atribut status

sosial dan dorongan iklan.

Atribut pertama yang menjadi kajian dalam evaluasi tingkat kepercayaan

atribut psikologis ini adalah atribut status sosial. Konsumen berpendapat bahwa

status sosial adalah kurang penting karena saat ini konsumen yang mengkonsumsi

mie instan produk indofood berasal dari berbagai kalangan. Produk mie instan ini

merupakan salah satu kebutuhan pokok yang dikonsumsi setiap orang. Konsumen

yang merespon bahwa status sosial ini kurang penting adalah sebesar 63,3 %,

sedangkan konsumen yang merespon atribut status sosial penting adalah sebesar

28,3 %.

Atribut kedua yang menjadi kajian adalah atribut dorongan iklan.

Konsumen yang merespon bahwa atribut dorongan iklan kurang berpengaruh

adalah sebesar 63,3 %, sedangkan konsumen yang merespon atribut dorongan

iklan berpengaruh adalah sebesar 20 %. Konsumen beranggapan bahwa atribut

dorongan iklan kurang berpengaruh adalah karena konsumen responden menilai

bahwa mie instan produk indofood ini sebelumnya telah dikenal oleh konsumen,

sehingga saat ini konsumen membeli mie instan bukan lagi ditentukan oleh

dorongan iklan.

6. Hasil Analisis Faktor Pengaruh Lingkungan

Uraian pada bagian ini adalah analisis tingkat kepercayaan dari faktor

pengaruh lingkungan terhadap respon konsumen. Pada Lampiran 7 dapat dilihat


79

hasil evaluasi tingkat kepercayaan faktor pengaruh lingkungan yang terdiri dari

atribut gaya hidup dan dorongan keluarga.

Atribut pertama yang menjadi kajian dalam evaluasi tingkat kepercayaan

atribut pengaruh lingkungan ini adalah atribut gaya hidup. Konsumen berpendapat

bahwa gaya hidup berpengaruh dalam menentukan respon konsumen terhadap

mie instan produk indofood. Konsumen yang merespon bahwa gaya hidup ini

berpengaruh pada respon mereka terhadap mie instan produk Indofood adalah

sebesar 83,3 %, sedangkan konsumen yang merespon atribut gaya hidup tidak

berpengaruh adalah sebesar 16,6 %. Gaya hidup ternyata mempengaruhi respon

konsumen terhadap mie instan, karena konsumen menyesuaikan cara atau pola

makannya dengan gaya hidupnya. Seorang mahasiswa yang ketersediaan dananya

terbatas dan seorang pekerja yang membutuhkan kepraktisan dalam makan

ternyata membutuhkan mie instan untuk menunjang pola makan mereka. Hal ini

bukanlah sesuatu yang baku karena apabila mereka mempunyai waktu lebih,

maka mereka memilih untuk memasak atau membeli makanan yang lengkap

porsinya. Oleh karena itu atribut gaya hidup ini mempengaruhi respon konsumen

terhadap mie instan produk Indofood.

Atribut kedua yang menjadi kajian adalah atribut dorongan keluarga.

Konsumen yang merespon bahwa atribut dorongan keluarga berpengaruh adalah

sebesar 81,6 %, sedangkan konsumen yang merespon atribut dorongan keluarga

tidak berpengaruh adalah sebesar 13,3 %. Konsumen beranggapan bahwa atribut

dorongan keluarga berpengaruh terhadap respon mereka akan mie instan produk

Indofood adalah karena konsumen responden menilai bahwa mie instan produk
80

indofood adalah salah satu jenis makanan yang disukai dan telah menjadi

makanan penunjang bagi sebagian besar keluarga saat ini, sehingga mereka

menganggap alasan mereka membeli mie instan ini salah satunya adalah

dikarenakan dorongan keluarga.