Anda di halaman 1dari 20

Penanganan bagi Bayi Prematur dengan Respiratory Distress Syndrome

102012479
Muhammad Asyraf bin Mohammad Nazari
Fakultas Kedokteran Umum
Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat
scootaccess@gmail.com

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masalah respirasi seperti Respiratory Distress Syndrome (RDS) sering memberi kesukaran
kepada dokter terutama dalam hal seperti penegakan diagnosis dan penanganan yang tepat bagi
memastikan bayi yang baru lahir dapat berkembang dengan baik dan sihat. Penanganan yang
tepat penting bagi menghalang terjadinya komplikasi-komplikasi yang sering terjadi dikarenakan
RDS pada bayi. Jurnal ini menjelaskan beberapa diagnosis banding dan penanganan yang perlu
difikirkan pada bayi prematur yang lahir dengan masalah respirasi.1
Seorang doktor mendapat panggilan daripada rumah sakit bahwa ada seorang ibu hamil dengan
waktu gestasi 33 minggu datang ke rumah sakit dengan perdarahan antepartum yang berat. Ibu
hamil tersebut segera dibawa ke UGD untuk dilakukan caesarean section. Tidak ada masa bagi
pemberian steroid. Kamar ventilasi bayi sudah penuh. Rumah sakit lain yang juga mempunyai
kamar ventilasi bayi adalah sejauh 20 batu dan juga sudah penuh. Perawat yang bertugas mulai
menanyakan dokter apakah bayi butuh bantuan ventilasi atau tidak. Dan jika perlu, apakah
bantuan yang perlu diberikan kepada bayi?1
Bayi laki-laki dengan berat lahir 2 kg mempunyai kadar respirasi 80 kali/min dengan retraksi
pada sela iga dan berdengkur. Saturasi oksigen pada bayi dalam suhu kamar adalah sekitar 84%.
Bayi masih dibalut dalam tuala hangat.1
Apakah diagnosis banding yang dapat difikirkan? Apakah penanganan yang dapat dilakukan
bagi bayi prematur dengan kondisi di atas?

Epidemiologi
Biasanya, bayi dilahirkan saat usia kehamilan ibu mencapai 37-42 minggu atau sekitar 9 bulan.
Jika kurang dari 37 minggu (atau kurang lebih 259 hari dihitung dari HPHT (Hari Pertama Haid
Terakhir) sudah melahirkan maka bayi disebut lahir prematur.1
Bayi prematur mempunyai dua klasifikasi, iaitu berdasarkan berat lahir dan usia
kehamilan si ibu. Jika berdasarkan berat badan, bayi yang memiliki berat lahir kurang dari 2500
gram disebut dengan bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Bayi yang memiliki berat badan
kurang dari 1500 gram disebut bayi Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLSR). Kemudian,
bayi yang punya berat badan kurang dari 1000 gram saat lahir disebut dengan bayi Berat Badan
Lahir Ekstrim Rendah. Semakin kurang berat lahir bayi, semakin tinggi pula risiko yang akan
dialami oleh bayi. Sedangkan menurut usia kehamilan ibu, bayi prematur dapat diklasifikasikan
dalam empat jenis. Pertama, ada yang disebut dengan Extreme Prematurity, yaitu bayi yang
berada dalam kandungan kurang dari 28 minggu. Kedua, Very Preterm, di mana bayi lahir antara
29 hingga 32 minggu dalam kandungan ibu. Ketiga, Moderate Prematurity, bayi yang usianya 32
hingga 34 minggu di dalam perut. Terakhir, ada Late Prematurity, yaitu 34 hingga 37 minggu
dalam kandungan.1
Bayi yang lahir prematur memiliki risiko 10 kali lebih tinggi untuk meninggal daripada
bayi yang lahir normal. Hal ini disebabkan oleh ketidaksiapan organ dan psikologis bayi. Karena
itulah, ada beberapa hal yang dapat dialami oleh bayi yang lahir prematur. Antara komplikasi
yang boleh terjadi pada bayi adalah gangguan pernafasan, gangguan otak, jantung, gangguan
saluran cerna, kuning, dan bayi juga akan rentan terhadap infeksi. Selain itu, ia juga bisa
memiliki komplikasi jangka panjang misalnya paru-paru kronis, gangguan penglihatan,
pendengaran, palsi serebral, dan gangguan tumbuh kembang lainnya.1
Secara epidemiologi, tingkat mortalitas bayi di Amerika Serikat meningkat seiring
dengan menurunnya usia lahir bayi. Mortalitas didapatkan setinggi 18.5/1000 kelahiran pada
bayi yang lahir antara 30-34 minggu, 6.9/1000 pada bayi yang lahir pada 35-36 minggu dan
2.5/1000 pada bayi yang lahir cukup bulan. Hasil kajian juga menunjukkan penambahbaikan
masalah pernafasan bayi dengan penggunaan steroid sebelum ibu melahirkan sehingga
menyebabkan penurunan kasus RDS dan keperluan bayi untuk menggunakan alat bantu
pernafasan.2 Di Itali, 30.8% bayi yang lahir prematur menderita masalah respirasi. Consortium
on Safe Labour juga baru-baru ini mempublifikasikan 24% (daripada 19334) bayi yang lahir
prematur (34-46 minggu) menderita masalah respirasi seperti RDS, Transient Tachypnoea of the
newborn (TTN), memerlukan non invasive ventilation, invasive ventilation dan high frequency
2

oscillatory ventilation (HFOV).3 Yorkshire Neonatal Network juga melaporkan (2005-2007)


bahwa tingkat probabiliti bagi RDS meningkat dua kali ganda bagi setiap minggu gestasi yang
kurang daripada 37 minggu. Ini terbukti apabila didapatkan jumlah bayi yang memerlukan
bantuan respirasi meningkat daripada 40% pada gestasi 32 minggu kepada 60% pada gestasi 31
minggu.4
PEMERIKSAAN
A.

Pemeriksaan Fisik pada saat Bayi Lahir

Pemeriksaan pertama pada bayi baru lahir harus dilakukan di kamar bersalin. Perlu mengetahui
riwayat keluarga, riwayat kehamilan sekarang dan sebelumnya dan riwayat persalinan.
Pemeriksaan dilakukan bayi dalam keadaan telanjang dan dibawah lampu yang terang. Tangan
serta alat yang digunakan harus bersih dan hangat.5
Tujuan pemeriksaan ini adalah :
1.

Menilai gangguan adaptasi bayi baru lahir dari kehidupan dalam uterus ke luar uterus yang

memerlukan resusitasi.
2.

Untuk menemukan kelainan seperti cacat bawaan yang perlu tindakan segera.

3.

Menentukan apakah bayi baru lahir dapat dirawat bersama ibu (rawat gabung) atau tempat

perawatan khusus.
Pemeriksaan yang dilakukan antara lain :
1.

Menilai APGAR

Nilai APGAR merupakan suatu metode penilaian cepat untuk menilai keadaan klinis bayi baru
lahir pada usia 1 menit dan 5 menit. Pada tahun 1952 dr. Virginia Apgar mendesain sebuah
metode penilaian cepat untuk menilai keadaan klinis bayi baru lahir. Nilai Apgar dapat
digunakan untuk mengetahui keadaan bayi baru lahir dan respon terhadap resusitasi. Perlu kita
ketahui nilai Apgar suatu ekspresi keadaan fisiologis bayi baru lahir dan dibatasi oleh waktu.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi nilai Apgar, antara lain pengaruh obat-obatan, trauma
lahir, kelainan bawaan, infeksi, hipoksia, hipovolemia dan kelahiran prematur. Nilai Apgar dapat
juga digunakan untuk menilai respon resusitasi.5

Tanda
Warna kulit
Denyut jantung
Upaya bernafas
Tonus otot
Reflek

2.

0
Biru, pucat
Tidak ada
Tidak ada
Lemah
Tidak beraksi

1
Kemerahan ekstremitas biru
<100
Tidak teratur
Fleksi pada ekstremitas
Meringis
Tabel 1: Apgar score5

2
Semua kemerahan
>100
Baik (menangis kuat)
Gerakan aktif
Batuk, bersin, menangis

Mencari Kelainan Kongenital

Pemeriksaan di kamar bersalin juga menentukan adanya kelainan kongenital pada bayi terutama
yang memerlukan penanganan segera pada anamnesis perlu ditanyakan apakah ibu menggunakan
obat-obat teratogenik, terkena radiasi atau infeksi virus pada trimester pertama. Juga ditanyakan
adakah kelainan bawaan keluarga disamping itu perlu diketahui apakah ibu menderita penyakit
yang dapat mengganggu pertumbuhan janin seperti diabetes mellitus, asma bronkial dan
sebagainya.5
3.

Memeriksa cairan amnion

Pada pemeriksaan cairan amnion perlu diukur volume. Hidramnion ( volume > 2000 ml ) sering
dihubungkan dengan obstruksi traktus intestinal bagian atas, ibu dengan diabetes atau eklamsi.
Sedangkan oligohidramnion (volume < 500 ml) dihubungkan dengan agenesis ginjal bilateral.
Selain itu perlu diperhatikan adanya konsekuensi oligohidramnion seperti kontraktur sendi dan
hipoplasi paru.5
4.

Memeriksa tali pusat

Pada pemeriksaan tali pusat perlu diperhatikan kesegaranya, ada tidaknya simpul dan apakah
terdapat dua arteri dan satu vena. Kurang lebih 1 % dari bayi baru lahir hanya mempunyai satu
arteri umbilikalis dan 15 % dari pada mempunyai satu atau lebih kelainan konginetal terutama
pada sistem pencernaan, urogenital, respiratorik atau kardiovaskuler.5
5.

Memeriksa plasenta

Pada pemeriksaan plasenta, plasenta perlu ditimbang dan perhatikan apakah ada perkapuran,
nekrosis dan sebagainya. Pada bayi kembar harus diteliti apakah terdapat satu atau dua korion
(untuk menentukan kembar identik atau tidak). Juga perlu diperhatikan adanya anastomosis
vascular antara kedua amnion, bila ada perlu dipikirkan kemungkinan terjadi tranfusi feto-fetal.5
6.

Pemeriksaaan bayi secara cepat dan menyeluruh.

7.

Menimbang berat badan dan membandingkan dengan masa gestasi.

Kejadian kelainan congenital pada bayi kurang bulan 2 kali lebih banyak dibanding bayi cukup
bulan, sedangkan pada bayi kecil untuk masa kehamilan kejadian tersebut sampai 10 kali lebih
besar.5
Masa gestasi bayi dapat dinilai melalui Ballard Score.

Gambar 1: Ballard score5

Sistem Ballard score ini berguna untuk menentukan masa gestasi bayi baru lahir melalui
penilaian neuromuskular dan fisik bayi. Pada penilaian neuromuskular yang akan dilihat adalah:
a.

Postur Tonus otot tubuh bayi

b.

Square Window Fleksibilitas pergelangan tangan

c.

Arm recoil

d.

Popliteal Angle Manuver

e.

Scarf sign

f.

Heel to ear

g.

Pemeriksaan maturitas fisik

8.

Pemeriksaan mulut

Pada pemeriksaan mulut perhatikan apakah terdapat labio-palatoskisis harus diperhatikan juga
apakah terdapat hipersalivasi yang mungkin disebabkan oleh adanya atresia esofagus.
Pemeriksaan patensi esophagus dilakukan dengan cara memasukkan kateter ke dalam lambung,
setelah kateter di dalam lambung, masukkan 5 - 10 ml udara dan dengan stetoskop akan
terdengar bunyi udara masuk ke dalam lambung. Dengan demikian akan tersingkir atresia
esophagus, kemudian cairan amnion di dalam lambung diaspirasi. Bila terdapat cairan melebihi
30 ml pikirkan kemungkinan atresia usus bagian atas. Pemeriksaan patensi esophagus dianjurkan
pada setiap bayi yang kecil untuk masa kehamilan, ateri umbulikalis hanya satu, polihidramnion
atau hipersalivasi.5
Pada pemeriksaan mulut perhatikan juga terdapatnya hipoplasia otot depresor aguli oris. Pada
keadaan ini terlihat asimetri wajah apabila bayi menangis, sudut mulut dan mandibula akan
tertarik ke bawah dan garis nasolabialis akan kurang tampak pada daerah yang sehat (sebaliknya
pada paresis N.fasialis). Pada 20 % keadaan seperti ini dapat ditemukan kelainan congenital
berupa kelainan kardiovaskular dan dislokasi panggul kongenital.5
9.

Pemeriksaan anus

Perhatikan adanya adanya anus imperforatus dengan memasukkan thermometer ke dalam anus.
Walaupun seringkali atresia yang tinggi tidak dapat dideteksi dengan cara ini. Bila ada atresia
perhatikan apakah ada fistula rekto-vaginal.5
10. Pemeriksaan garis tengah tubuh
Perlu dicari kelainan pada garis tengah berupa spina bidifa, meningomielokel dan lain-lain.

11. Pemeriksaan jenis kelamin


Biasanya orang tua ingin segera mengetahui jenis kelamin anaknya. Bila terdapat keraguan
misalnya pembesaran klitoris pada bayi perempuan atau terdapat hipospadia atau epispadia pada
bayi lelaki, sebaiknya pemberitahuan jenis kelamin ditunda sampai dilakukan pemeriksaan lain
seperti pemeriksaan kromosom.5
B.

Pemeriksaan Fisik Bayi Baru Lahir

Pemeriksaan ini harus dilakukan dalam 24 jam dan dilakukan setelah bayi berada di ruang
perawatan. Tujuan pemeriksaan untuk mendeteksi kelainan yang mungkin terabaikan pada
pemeriksaan di kamar bersalin.5
Pemeriksaan ini meliputi :
1. Aktifitas fisik
2. Pemeriksaan suhu
3. Kulit
4. Kepala
5. Wajah
6. Mata
7. Telinga
8. Hidung
9. Mulut
10. Leher
11. Dada
12. Payudara
13. Abdomen
14. Genitalia eksterna
15. Anus
16. Tulang belakang
17. Ekstremitas
18. Pemeriksaan reflek
a. Berkedip
b. Tonic neck
c. Moro
d. Mengenggam
7

e. Rooting
f. Menghisap
g. Menari / melangkah
19. Pengukuran antropometri
a. Penimbang berat badan
o
o
o
o

Normal
BBLR
BBLSR
BBLASR

: 2500-3500 g
: <2500 g
: 1000-1500 g
: <1000 g

Pengukuran berat badan juga dapat dikombinasikan dengan penilaian terhadap umur
kehamilan bayi yang normalnya berkisar antara 37-42 minggu dengan grafik yang
disebut grafik Lubchenco, bertujuan untuk menentukan apakah neonates termasuk
bayi yang kurang, sesuai, lebih bulan /dan kecil, sesuai, lebih masa kehamilan.

Gambar 2: Grafik lubchenco5


b. Panjang badan
c. Lingkar kepala
d. Lingkar dada5

DIAGNOSIS BANDING
Antara diagnosis banding yang ditemukan pada bayi prematur dengan masalah respirasi adalah
RDS, TTN, pneumonia kongenital dan sepsis, depresi lahir, pneumotorak, penyakit jantung
kongenital, aspirasi dan lain-lain.
Respiratory Distress Syndrome (Diagnosis Kerja)
Dalam jurnal ini, dijelaskan bahwa RDS terjadi dalam waktu 4 jam setelah lahir dan
memburuk pada masa 24-36 jam sebelum membaik selama 1-2 hari. RDS terjadi disebabkan
oleh kurangnya produksi surfaktan alveolar menyebabkan terjadinya ateleksis, pertukaran gas
yang buruk dan kegagalan respirasi. Pada X-ray (tidak dilakukan lagi pada bayi) biasanya akan
tampak gambaran ground glass dan udara bronchograms. Kriteria dari Vermonth Oxford
Network membutuhkan kadar PaO2 yang kurang dari 6.6kPa (50mmHg) atau memerlukan
oksigen. Faktor penyebab utama RDS adalah masa gestasi yang singkat. Produksi surfaktan
bermula seawal 24-25 minggu dan akan menjadi matang pada sekitar 36-37 minggu.
Kortikosteroid akan mempercepat kematangan paru-paru sehingga dianjurkan pada kelahiran
prematur (24-34 minggu). Maternal Diabetis Mellitus, hypotiroidism dan hypothermi juga
meningkatkan resiko terjadinya RDS.1

Gambar 3: Gambaran ground glass dan air bronchogram pada bayi RDS1

Transient Tachypnoea of the Newborn (TTN)


Peningkatan epinefrin fetus semasa ibu sedang hamil biasanya mengurangkan produksi
cairan paru dan mengaktifkan kanal natrium. Kegagalan mengurangkan cairan paru ini
menyebabkan TTN. Termasuk faktor resiko TTN adalah kelahiran prematur, caesarean section
dan maternal asthma. X-ray menggambarkan opasiti paru yang menyebar atau streaky dengan
tampak ada cairan di fissura transversa dan sering juga ditemukan cardiomegali. TTN sering
didapatkan pada 5 berbanding 1000 bayi dan boleh terjadi bersama dengan RDS. TTN biasanya
terjadi dengan gejala takipnoea mencecah lebih 100/min dan hiperinflasi. Diagnosis TTN sering
ditegakkan setelah membuang kemungkinan ia adalah RDS, gagal jantung dan sepsis.1

Gambar 4: Gambaran streaky pada paru bayi TTN1


Pneumonia kongenital dan sepsis
Tingkat kejadian pneumonia kongenital dan sepsis meningkat pada bayi prematur terutama pada
bayi yang mengalami ruptur membran yang lama. Kuman penyebab tersering adalah grup B
Streptococcus. Kuman lain yang boleh menjadi penyebab adalah Haemophilus influenza,
Streptococcus pneumoniae, Listeria dan bakteri gram negatif yang lain. Karena sukarnya
membedakan penyakit ini dengan RDS, terapi empirikal berupa antibiotik adalah penting sebagai
profilaksi.1

10

Depresi lahir
Asfiksia intrapartum boleh menyebabkan masalah respirasi dengan cara menginduksi respirasi
yang cepat dan dalam sebagai percobaan bagi mengeluarkan CO 2 yang dihasilkan oleh
metabolisma anaerob atau gagal jantung. Sering ditemukan riwayat janin sesak dan gas tali pusat
menjadi asidotik. Kelainan metabolisme, tirotoksikosis dan Jouberts syndrome sering ditemukan
bersama takipnoea.1
Pneumotorak
Kekurangan relatif surfaktan pada masa 32-34 minggu menyebabkan kesukaran pada paru-paru
yang belum matang pada bayi prematur ini untuk bekerja sehingga meningkatkan resiko
pneumotorak dan pneumomediastinum. Kebocoran udara mungkin terjadi secara spontan atau
disebabkan oleh tekanan positif ventilasi. Penanganan dengan oksigen harus digunakan secara
berhati-hati supaya tidak terjadi toksisitas oksigen. Drainase mungkin dianjurkan pada kasus
hipoksia, gagal respirasi dan tension pneumotorak.1
Obstruksi jalan nafas
Biasanya terjadi segera setelah lahir dengan gambaran retraksi sela iga dan sternum sewaktu
inspirasi. Stridor mungkin terjadi dikarenakan abnormaliti pada jalan nafas atas. Apnoe
intermiten dan sianosis mungkin terjadi karena choanal atresia atau mikrognathia. Dalam banyak
kasus, pembetulan jalan nafas boleh mengurangkan keperluan untuk dilakukan ventilasi.
Propanolol juga terbukti mengecilkan simptomatik hemangiomata pada bayi.1
PATOFISIOLOGI
Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur disebabkan oleh
alveoli masih kecil sehingga kesulitan berkembang, pengembangan kurang sempurna kerana
dinding thorax masih lemah, produksi surfaktan kurang sempurna. Kekurangan surfaktan
mengakibatkan kolaps pada alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku. Hal tersebut
menyebabkan perubahan fisiologi paru sehingga daya pengembangan paru (compliance)
menurun 25% dari normal, pernafasan menjadi berat, shunting intrapulmonal meningkat dan
terjadi hipoksemia berat, hipoventilasi yang menyebabkan asidosis respiratorik.6
Telah diketahui bahwa surfaktan mengandung 90% fosfolipid dan 10% protein,
lipoprotein ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan menjaga agar alveoli tetap
mengembang. Secara makroskopik, paru-paru nampak tidak berisi udara dan berwarna
11

kemerahan seperti hati. Oleh sebab itu paru-paru memerlukan tekanan pembukaan yang tinggi
untuk mengembang. Secara histologi, adanya atelektasis yang luas dari rongga udara bahagian
distal menyebabkan edema interstisial dan kongesti dinding alveoli sehingga menyebabkan
desquamasi dari epithel sel alveoli tipe II. Dilatasi duktus alveoli, tetapi alveoli menjadi tertarik
karena adanya defisiensi surfaktan ini.6
Dengan adanya atelektasis yang progresif dengan barotrauma atau volutrauma dan
keracunan oksigen, menyebabkan kerosakan pada endothelial dan epithelial sel jalan pernafasan
bagian distal sehingga menyebabkan eksudasi matriks fibrin yang berasal dari darah. Membran
hyaline yang meliputi alveoli dibentuk dalam satu setengah jam setelah lahir. Epithelium mulai
membaik dan surfaktan mulai dibentuk pada 36- 72 jam setelah lahir. Proses penyembuhan ini
adalah komplek; pada bayi yang immatur dan mengalami sakit yang berat dan bayi yang
dilahirkan dari ibu dengan chorioamnionitis sering berlanjut menjadi Bronchopulmonal Displasia
(BPD).6
MANIFESTASI KLINIS
Berat dan ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat dipengaruhi oleh tingkat
maturitas paru. Semakin rendah berat badan dan usia kehamilan, semakin berat gejala klinis yang
ditujukan.7
Manifestasi dari RDS disebabkan adanya atelektasis alveoli, edema, dan kerosakan sel
dan selanjutnya menyebabkan kebocoran serum protein ke dalam alveoli sehingga menghambat
fungsi surfaktan. Gejala klinikal yang timbul iaitu: adanya sesak nafas pada bayi prematur segera
setelah lahir, yang ditandai dengan takipnea (> 60 x/minit), pernafasan cuping hidung, grunting,
retraksi dinding dada, dan sianosis, dan gejala menetap dalam 48-96 jam pertama setelah lahir.
Berdasarkan foto thorak, menurut kriteria Bomsel ada 4 stadium RDS yaitu:
o Pertama, terdapat sedikit bercak retikulogranular dan sedikit bronchogram udara.
o Kedua, bercak retikulogranular homogen pada kedua lapangan paru dan gambaran air
bronchogram udara terlihat lebih jelas dan meluas sampai ke perifer menutupi bayangan
jantung dengan penurunan aerasi paru.
o Ketiga, alveoli yang kolaps bergabung sehingga kedua lapangan paru terlihat lebih
opaque dan bayangan jantung hampir tak terlihat, bronchogram udara lebih luas.
o Keempat, seluruh thorax sangat opaque (white lung) sehingga jantung tak dapat dilihat.7

PENATALAKSANAAN
12

Bayi dengan takipnoea atau sukar bernafas perlu diperiksa saturasi oksigen, gas darah
arteri, X-ray dada dan skreening darah (kultur darah, C-reaktif protein, hitung eritrosit).
Oksigenasi yang optimal membantu penggunaan otot respirasi ke tahap optimal. Tetapi saturasi
oksigen yang dibenarkan pada bayi prematur hanyalah sebanyak 88-92%. Yang ditakutkan pada
penggunan oksigen adalah toksisitas oksigen yang menyebabkan retinopati prematur pada bayi.
Pada bayi dengan asidosis, berikan penanganan suportif seperti sodium bikarbonat atau vitamin.1
Non invasive ventilation

Nasal continuous positive airflow pressure (NCPAP)

NCPAP memberikan tekanan akhir-ekspirasi yang mengurangkan atelektasis, mengekalkan


kapasitas fungsional residual supaya tetap tinggi selain meningkatkan kemampuan paru dengan
mengurangkan tenaga kerja dan meminimalisasi ketidaksamaan ventilasi/perfusi (V/Q). NCPAP
mengurangkan hambatan dan apnoea sentral, dan membaikpulih sinkronisasi pergerakan
pernafasan. NCPAP juga diketahui mengurangkan kemungkinan untuk intubasi selain bekerja
baik sebagai suatu langkah awal pada bayi baru lahir dengan masalah respirasi seperti RDS. Bayi
dengan paru-paru RDS mungkin memerlukan kenaikan PEEP yang lebih tinggi berbanding bayi
dengan TTN dan sepsis. Tetapi haruslah diketahui bahwa kenaikan PEEP yang berlebihan bisa
meningkatkan resiko terjadinya pneumotorak dan mungkin berlanjut mengganggu cardiac
output bayi. Hal ini menyebabkan sebarangkan kenaikan PEEP maupun keperluan oksigen (>
40%) menunjukkan kegagalan NCPAP dan dengan ini memerlukan penanganan lebih lanjut yang
lain.1

Non invasive positive pressure ventilation

Non invasive positive pressure ventilation atau nama lainnya bilevel positive airway pressure
(BiPAP) menggunakan nasal prongs atau masker untuk menghantar ventilasi pernafasan
terkontrol ke CPAP. Pernafasan ini disinkronisasikan dengan kemampuan pernafasan bayi.
BiPAP mampu meningkatkan kemampuan ventilasi bayi dengan mengekalkan patensi
pengudaraan atas dan memicu reflek respirasi. Ada sugesti yang mengatakan penggunaan BiPAP
pada bayi baru lahir dengan RDS dapat menurunkan komplikasi bronkopulmonal displasia
(BPD) tetapi masih belum ada penelitian yang menyokong sugesti ini.1

13

Gambar 5: Algoritma penanganan RDS pada bayi prematur1

Humidified high flow nasal cannula therapy

Sistem Humidified high flow nasal cannula therapy (HHFNC) seperti Vapotherm, Optiflow dan
Humicare membenarkan penghantaran udara lembab dan hangat melalui kalibrasi kecil nasal
cannulae pada kadar melebihi 1 l/min tanpa menyebabkan kekeringan udara yang berlebihan,
14

kerosakan pada mukosa, perdarahan dan peningkatan resiko infeksi yang dapat memberi
komplikasi pada penggunaan HHFNC ini. HHFNC juga dilaporkan mengurangkan insiden
trauma jalan nafas, penurunan noise exposure dan perawatan yang lebih mudah berbanding
NCPAP. Seperti NCPAP, HHFNC juga meningkat tekanan pada faring, dan boleh membuang
CO2 daripada dead space nasofaring. Tetapi tekanan yang dihasilkan tidak bisa diukur dan tidak
terkontrol. Tekanan yang dihasilkan bervariasi dan terkait dengan kadar penghantaran udara dan
saiz bayi baru lahir. Hal ini memungkinkan terjadinya komplikasi lain akibat daripada tekanan
yang tidak terkontrol ini, namun masih belum terbukti dengan uji kaji maupun randomised
controlled trial yang formal.1
Invasive ventilation
o Intubasi
Mengelak daripada melakukan intubasi tidak semestinya merupakan jalan yang
terbaik dalam menangani bayi dengan RDS. Hal ini karena sekalipun sudah
diberikan tindakan ventilasi yang tidak invasif, kondisi bayi kadang-kadang tetap
tidak berubah dan malah semakin memburuk pada sesetengah kasus.
Ada juga kemungkinan untuk mendapat komplikasi jika didapatkan PEEP atau
kadar inspirasi oksigen yang tinggi pada bayi.
Indikasi intubasi:
PEEP lebih daripada 7 cm H2O
Keperluan oksigen (FiO2) > 40%
pH < 7.251
o Pemberian surfactant pada bayi prematur: emergensi atau profilaksis?
Pemberian surfaktan merupakan antara terapi yang selamat dan efektif bagi pengobatan RDS.
Rata-rata percobaan pada bayi baru lahir dengan gestasi bawah 30 minggu (tanpa mengambil
kira pengambilan steroid) yang diberikan surfaktan sebagai terapi RDS terbukti mengurangkan
angka mortalitas dan BPD. Selain RDS, defisiensi surfaktan juga ditemukan pada pneumonia
kongenital, sepsis dan hipertensi pulmonal persisten bayi baru lahir. Tetapi pada kondisi ini, bayi
tidak direkomendasi pemberian surfaktan. Sedangkan pada kasus bayi prematur dengan ventilasi
berat, tindakan profilaksis dengan surfaktan adalah yang terbaik dilakukan sebaik saja bayi lahir.
Karena pada bayi yang sudah matur sukar untuk diindikasikan pemberian surfaktan karena 60%
bayi didapatkan sembuh tanpa ventilasi invasif. Intubasi rutin bersama dengan pemberian
surfaktan tidak digalakkan jika bayi lahir asimptomatik. Surfaktan lebih efektif bila diberikan
awal dan saat keperluan oksigen kurang daripada 45%. Kegagalan pemberian surfaktan dapat
15

meningkatkan masa pengobatan dengan ventilasi mekanikal. Oleh itu, bayi yang diberikan terapi
suportif yang tidak invasif harus sering dimonitor dan dilakukan analisis gas darah supaya
sebarang masalah respirasi yang ditemukan dapat dijadikan indikasi untuk pemberian surfaktan.1
o Terapi InSurE
Jika ada konflik apakah mau memberi surfaktan pada bayi atau mau langsung melakukan non
invasive therapy, boleh dilakukan terapi InSurE (intubasi, surfaktan, ekstubasi). Bayi dengan
RDS diintubasi secara elektif, diberikan surfaktan dan diekstubasi secepatnya. Ekstubasi cepat
boleh dipermudah dengan mengelak premedikasi, penggunaan short acting sedative drugs atau
membalikkan aksi opiat dengan nalokson. Bayi yang menerima InSurE mempunyai lebih sedikit
keperluan untuk menggunakan ventilasi mekanikal, dan jarang menderita pneumotorak dan BPD.
o Ventilasi mekanikal
Kerusakan paru mungkin tidak dapat dielakkan bila menggunakan tekanan ventilasi positif pada
paru-paru yang tidak matur, tetapi masih ada strategi yang boleh digunakan bagi menurunkan
tingkat kecederaan dan membantu ekstubasi awal. Antaranya ialah dengan:
Ventilasi yang sinkronis
Ventilasi yang tersinkronisasi diketahui mengurangkan kebocoran udara dan mengurangkan
durasi ventilasi. Hal ini karena kerusakan paru yang sering terkait dengan tidal volume yang
berlebih dan seiring dengan peningkatan tidal volume, menyebabkan lebih banyak kerja
diperlukan untuk bernafas, melakukan atelektasis dan ketidaksamaan V/Q.1

Ventilasi yang jumlahnya disasarkan (volume targetted ventilation)


Kemampuan paru berubah dengan cepat dengan pemberian surfaktan, sementara volume
targetted ventilation menurunkan frekuensi tidak volume berlebih dan mengurangkan
hiperventilasi yang tidak disengajakan. Manfaat jangka pendek seperti pengurangan masa
ventilasi mekanikal, penurunan kasus pneumotorak dan penurunan frekuensi perdarahan
intraventrikular berat.1
Masa inspirasi yang memadai
Masa inspirasi yang pendek (<0.5 s) patut digunakan pada bayi baru lahir prematur. Ini
menurunkan insiden kebocoran udara pada bayi dengan ketidakmampuan paru. Flow sensors
yang dimasukkan ke dalam breathing circuit ventilator yang modern dapat membantu
menghindari kadar inspirasi berlebihan.1
PEEP yang optimal

16

Ventilasi optimal memerlukan difusi gas yang sama rata di sepanjang paru dan PEEP yang
secukupnya diperlukan untuk meraih objektif ini. Menentukan PEEP yang diperlukan oleh satu
individu bukanlah tugas mudah tetapi secara generalisasi PEEP di bawah 5 cm H 2O perlu
dielakkan.1
Hiperkapnia permisif
Salah satu pendekatan yang boleh digunakan untuk mengurangkan kadar kecederaan yang
disebabkan oleh penggunaan ventilator adalah dengan mentolerir kadar pCO 2 yang tinggi
(hiperkapnia permisif) supaya dapat membenarkan penggunaan tidal volume yang lebih rendah.
Akan tetapi, tidak ada sebarang percobaan yang dapat membuktikan terjadinya penurunan kasus
BPD dengan cara ini. Selain itu, penurunan kadar pCO 2 juga diketahui menurunkan aliran darah
ke serebral sehingga bisa menimbulkan hipokapnia, kerusakan otak bayi baru lahir dan palsi
serebral.1
Tambahan
Penatalaksanaan atau terapi tambahan boleh dilakukan dengan menggunakan antibiotik, kafein,
termoregulasi dan cairan/nutrisi.
1. Antibiotik
Infeksi boleh menjadi faktor utama penyebab kecederaan pada paru bayi prematur.
Kemungkinan bagi bayi prematur dengan masalah respirasi untuk menderita masalah ini
adalah tinggi dikarenakan rata-rata bayi cuma diprediksi untuk menderita penyakit paru
yang ringan. Selain itu, korioamnionitis maternal mungkin menjadi penyebab terjadinya
kehamilan bayi prematur. Memandangkan adanya resiko yang tidak kita ketahui apakah
ia bisa terjadi atau tidak (infeksi) pada pada ibu maupun bayi, antibiotik intravena adalah
penting untuk diberikan kepada ibu dan mana-mana bayi lahir prematur dengan masalah
respirasi. Antibiotik yang sering digunakan adalah penicilin atau amoksisilin, dan
gentamisin atau sefalosporin. Kultur darah sebaiknya dilakukan tetapi tidak diambil
cairan atau sekret dari paru kecuali jika intubasi sudah dilakukan pada bayi. Pemberian
antibiotik sebaiknya digunakan secara rasional dan dihentikan sekiranya sudah
mendiagnosa keluar kemungkinan terjadinya infeksi.1
2. Kafein
Kasus apnoe pada bayi prematur semakin kurang pada umur gestasi yang lebih panjang.
Kejadian apnoe rekuren pada bayi yang lahir matur akan menimbulkan kemungkinan
bayi menderita infeksi, hipoksia, kegagalan respirasi atau patologi intrakranial. Jika
17

terjadi kasus seperti ini, kafein akan bertindak sebagai pilihan terapi efektif pada bayi
dengan umur gestasi 37 minggu. Penggunaan kafein di peringkat awal sangat efektif
dalam mengurangkan durasi pernafasan suportif dan terdapat juga bukti kafein bole
meningkatkan perkembangan neuron seseorang. Sekalipun tidak ada bukti penggunaan
kafein secara rutin pada bayi dengan umur gestasi sekitar 32-34 minggu, kafein masih
terbukti membaik pulih bayi dengan apnoe rekuren dan membantu memulihkan mereka
dengan terapi respirasi suportif.1
3. Termoregulasi
Hipotermia meningkatkan keperluan metabolik dan oksigen dan dikenali sebagai
penyebab peningkatan mortalitas bayi lahir prematur. Suhu sebaiknya dikawal antara 36.5
o

C sampai 37.3oC dengan menggunakan intubator atau selimut hangat.

4. Cairan/nutrisi
Pada fase akut, cairan intavena perlu diberikan kepada bayi prematur. Pemberian makan
sepenuhnya dengan cara enteral biasanya ditunda sehingga masalah respirasi selesai,
tetapi pemberian makan minimal dengan cara enteral nasogastric boleh diteruskan.
Monitor juga keseimbangan cairan. Tidak ada bukti hambatan cairan maupun diuretik
pada penatalaksanaan kasus TTN atau RDS. Nutrisi yang efektif ini penting untuk
pertumbuhan otot dan mineralisasi tulang diperlukan untuk membantu pernafasan yang
efektif.1
KOMPLIKASI
1.

Komplikasi jangka pendek (akut) dapat terjadi :

a. Ruptur alveoli
b. Infeksi
c. Perdarahan intrakranial dan leukomalacia periventrikular
d. PDA dengan peningkatan shunting dari kiri ke kanan merupakan komplikasi bayi dengan
RDS terutama pada bayi yang dihentikan terapi surfaktannya.
2.

Komplikasi jangka panjang yang sering terjadi :

a.

Bronchopulmonary Dysplasia (BPD)

b.

Retinopathy premature8
PENCEGAHAN
18

Tindakan pencegahan yang harus dilakukan untuk mencegah komplikasi pada bayi resiko
tinggi adalah mencegah terjadinya kelahiran prematur, mencegah tindakan seksio sesarea yang
tidak sesuai dengan indikasi medis, melaksanakan manajemen yang tepat terhadap kehamilan
dan kelahiran bayi resiko tinggi.
Tindakan yang efektif utntuk mencegah RDS adalah:

Mencegah kelahiran < bulan (premature).


Mencegah tindakan seksio sesarea yang tidak sesuai dengan indikasi medis.
Management yang tepat.
Pengendalian kadar gula darah ibu hamil yang memiliki riwayat DM.
Optimalisasi kesehatan ibu hamil.
Kortikosteroid pada kehamilan kurang bulan yang mengancam.
Obat-obat tocolysis (-agonist : terbutalin, salbutamol)
Steroid (betametason 12 mg sehari untuk 2x pemberian, deksametason 6 mg setiap 12

jam untuk 4 x pemberian)


Cek kematangan paru (lewat cairan amniotik pengukuran rasio lesitin/spingomielin : > 2
dinyatakan mature lung function)8
KESIMPULAN
Bayi prematur yang lahir dengan masalah respirasi atau Respiratory Distress Syndrome (RDS)
memerlukan penanganan yang berhati-hati karena banyaknya diagnosis banding yang mungkin
terjadi. Sekalipun NCPAP sudah diketahui efektivitasnya, high flow therapy juga boleh menjadi
terapi alternatif. Pemberian suraktan dan intubasi perlu difikirkan pada bayi yang memerlukan
peningkatan kadar oksigen lebih 40% atau asidosis respirasi (pH<7.25). Elakkan terjadinya
hiperoksia dan hipokapnia. Terapi suportif dengan pengaturan suhu yang baik, nutrisi dan
antibiotik adalah sama penting dengan terapi lainnya.1
DAFTAR PUSTAKA
1. Lawrence M, Sam W, The management of respiratory distress in the moderately
preterm newborn infant. BMJ. 2011; 1-8.
2. Escobar GJ. Unstudied infants: outcomes of moderately premature infants in the
neonatal intensive care unit. Neonatal J. 2006; 91:44
3. Hibbard JU. Consortium on safe labour: respiratory morbidity. JAMA. 2010; 304: 41925.
4. Wilkins I. Yorkshire neonatal network: respiratory morbidity in preterm birth. JAMA.
2010; 216: 309-18.
5. Kumar, Vinay at all. 2007. Pemeriksaan fisik pada bayi. Ed.VII. EGC. Jakarta. h. 80-4.
19

6. Ilyas, Sidarta, 2009. Kelainan respiratori pada bayi baru lahir. FKUI. Jakarta. h. 108-11.
7. Sidarta, Ilyas, Rendy, 2011. Ilmu kesehatan anak: bayi prematur. FKUI. Jakarta. h. 1319.
8. Desen, Wan. 2013. Ilmu kesehatan anak.. FKUI. h. 153-60.

20