Anda di halaman 1dari 27

PRESENTASI KASUS

NEURODERMATITIS (LIKEN SIMPLEKS KRONIKUS)

Pembimbing :
dr. Ismiralda Oke Putranti, Sp.KK

Disusun Oleh :
Ryan Aprilian Putri

G4A013011

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO
2015

HALAMAN PENGESAHAN
NEURODERMATITIS (LIKEN SIMPLEKS KRONIKUS)

Disusun oleh :
Ryan Aprilian Putri

G4A013011

Presentasi kasus ini telah dipresentasikan dan disahkan sebagai salah satu tugas di
bagian Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Purwokerto,

Juni 2015

Pembimbing

dr. Ismiralda Oke Putranti, Sp.KK


NIP 19790622 201012 2 001

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas berkat,
rahmat, hidayah dan inayah-Nya, sehingga presentasi kasus dengan judul
Neurodermatitis (Liken Simpleks Kronikus) ini dapat diselesaikan.
Presentasi kasus ini merupakan salah satu tugas di SMF Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin. Oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritik untuk
perbaikan penulisan di masa yang akan datang.
Tidak lupa penyususn mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Dr. Ismiralda Oke P, Sp.KK selaku dosen pembimbing
2. Dokter-dokter spesialis kulit dan kelamin di SMF Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin RSUD. Margono Soekarjo
3. Orangtua serta keluarga penulis atas doa dan support yang tidak pernah
henti diberikan kepada penulis
4. Rekan-rekan co-assisten Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin atas
semangat dan dorongan serta bantuannya.
Semoga presentasi kasus ini bermanfaat bagi semua pihak yang ada di
dalam maupun di luar lingkungan RSUD. Margono Soekarjo.

Purwokerto,

Juni 2015

Ryan Aprilian Putri

DAFTAR ISI
COVER......................................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN......................................................................
KATA PENGANTAR..............................................................................
DAFTAR ISI.............................................................................................
I. PENDAHULUAN
A. Identitas Pasien..............................................................................
B. Anamnesis.....................................................................................
C. Status Generalis............................................................................
D. Status Dermatologikus..................................................................
E. Pemeriksaan Penunjang................................................................
F. Resume..........................................................................................
G. Diagnosis Kerja.............................................................................
H. Diagnosis Banding.........................................................................
I. Pemeriksaan Anjuran.....................................................................
J. Penatalaksanaan.............................................................................
K. Prognosis.......................................................................................
EFFLORESENSI ....................................................................................
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi........................................................................................
B. Sinonim ......................................................................................
C. Etiopatogenesis dan Patofisiologi...............................................
D. Epidemiologi...............................................................................
E. Gejala Klinis...............................................................................
F. Pemeriksaan Penunjang...............................................................
G. Diagnosis....................................................................................
H. Diangnosis Banding....................................................................
I. Penatalaksanaan.............................................................................
J. Prognosis.....................................................................................
III. PEMBAHASAN
IV. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

i
ii
iii
iv
5
5
6
7
7
7
8
8
8
9
9
9
11
11
11
13
14
16
17
17
19
22
23
26
27

I.
A.

PENDAHULUAN

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. S

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Usia

: 64 tahun

Pekerjaan

: Petani

Pendidikan Terakhir : SD

B.

Status Pernikahan

: Sudah Menikah

Alamat

: Gunung Wetan 2/2 Jatilawang

Agama

: Islam

No. CM

: 00948919

ANAMNESIS
Diambil dari autoanamnesis pada tanggal 9 Juni 2015, pukul 10.00 WIB
Keluhan Utama

: Gatal di kedua pergelangan dan telapak kaki

Keluhan Tambahan : Kulit menjadi merah, kasar dan tebal karena sering
digaruk
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien Tn. S laki-laki, usia 64 tahun datang dengan keluhan gatal
di kedua pergelangan dan telapak kaki sejak satu tahun yang lalu. Keluhan
gatal dirasakan semakin bertambah setiap harinya sehingga pasien tidak
tahan dan menggaruk-garuk daerah yang gatal.
Keluhan muncul terutama saat pasien sedang memiliki masalah
yang menjadi beban pikiran atau sehabis bekerja ke sawah, gatal tidak
diperberat dengan berkeringat ataupun pasien menggunakan detergen
untuk mencuci. Karena gatalnya tidak dapat ditahan, pasien menggarukgaruk daerah yang gatal hingga kemerahan bahkan menurut pasien tidak
terasa dapat sampai berair dan berdarah setelah itu rasa gatal hilang dan
5

pasien merasa lebih baik. Keluhan gatal pada malam hari sampai
menggangu waktu tidur pasien, sehingga waktu tidurnya terganggu.
Menurut pasien daerah yang digaruk menjadi merah dan lama kelamaan
tebal, kemerahan dan bersisik, padahal sebelumnya hanya berupa benjolan
kecil tidak terasa panas dan nyeri, tetapi setelah digaruk semakin meluas
dan melebar. Sebelum datang ke Poli Penyakit Kulit dan Kelamin RS
Margono Soekardj, pasien pernah mendapat pengobatan berupa suntikan
dan salep dari Rumah Sakit Rawalo. Pasien mengaku keluhan membaik,
namun keluhan kadang-kadang muncul kembali pada lokasi yang sama
dan dirasa semakin memberat , sehingga pasien datang untuk memeriksaan
diri ke Poli Kulit dan Kelamin RS. Margono Soekardjo.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Terdapat riwayat Hipertensi
Tidak ada.Riwayat Alergi
Tidak ada Riwayat Penyakit Diabetes Mellitus
Tidak ada Riwayat Penyakit Asma
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada yang menderita penyakit dengan keluhan yang sama dengan
pasien.
Tidak ada yang menderita Alergi
Tidak ada yang menderita Penyakit Asma pada keluarga pasien
Tidak ada yang menderita Penyakit Diabetes Mellitus, Hipertensi
Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien tinggal dengan istrinya. Pasien sehari-hari bekerja sebagai petani


di sawah .
C.

STATUS GENERALIS
Keadaaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Keadaan gizi

: Baik, BB: 55 kg, TB: 170 cm

Vital Sign

: Tekanan Darah

: 140/90 mmHg
6

Nadi

: 80 x/menit

Pernafasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,5 C

Kepala

: Mesochepal, rambut hitam, distribusi merata

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Hidung

: Simetris, deviasi septum (-), sekret (-)

Telinga

: Bentuk daun telinga normal, sekret (-)

Mulut

: Mukosa bibir dan mulut lembab, sianosis (-)

Tenggorokan

: T1 T1 tenang , tidak hiperemis

Thorax

: Simetris, retraksi (-)


Jantung : BJ I II reguler, murmur (-), Gallop (-)
Paru

Abdomen

: SD vesikuler, ronki (-/-), wheezing (-)

: Supel, datar, BU (+) normal

Kelenjar Getah Bening: tidak teraba pembesaran.


Ekstremitas
D.

: Akral hangat, edema (

), sianosis (

STATUS DERMATOLOGIKUS
Lokasi

: Ekstremitas inferior

Effloresensi

: Tampak papula milier, hiperpigmentasi, berbatas tegas,

likenifikasi dengan skuama halus pada bagian tepi, ukuran plakat, bentuk
lingkaran tidak beraturan, serta terdapat erosi dan ekskoriasi lokalisasi
multipel di dorsum pedis dextra et sinistra dan regio cruris anterior dextra.
E.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan

F.

RESUME
Pasien Tn S laki-laki, usia 64 tahun datang dengan keluhan gatal
di kedua pergelangan dan telapak kaki. Gatal dirasakan semakin
bertambah setiap harinya sehingga pasien tidak tahan dan menggarukgaruk daerah yang gatal.
7

Pasien mengeluh gatalnya kumat-kumatan dan bertambah berat


terutama saat pasien sedang memiliki masalah yang menjadi beban pikiran
dan setelah bekerja di sawah. Gatal dirasakan saat istirahat dan hilang saat
beraktivitas. Menurut pasien daerah yang digaruk menjadi merah,
kemudian lama kelamaan tebal dan bersisik. Padahal sebelumnya hanya
berupa benjolan kecil tidak terasa panas dan nyeri, tetapi setelah digaruk
semakin meluas dan melebar. Sebelumnya pasien pernah mendapat
pengobatan berupa suntikan dan salep. Keluhan dirasa berkurang namun
masih sering kambuh-kambuhan di tempat yang sama dan semakin
memberat.
Pada pemeriksaan status generalis dalam batas normal. Pada
pemeriksaan status dermatologi, lokasi ekstremitas inferior, tampak papula
milier, hiperpigmentasi, berbatas tegas, likenifikasi dengan skuama halus
pada bagian tepi, ukuran plakat, bentuk lingkaran tidak beraturan, serta
terdapat erosi dan ekskoriasi lokalisasi multipel di dorsum pedis dextra et
sinistra dan regio cruris anterior dextra.
G.

DIAGNOSA KERJA
Liken simpleks kronikus (Neurodermatitis Sirkumskripta)

H.

DIAGNOSIS BANDING
1. Psoriasis
Predileksi:

scalp.

Tengkuk,

interskapula,

lumbosakral,

bagian

ekstensor lutut dan siku, areola, mamaer, lipatan mamae, umbilicus,


punggung kaki dekat pergelangan
UKK: makula eritematosa yang merata berbatas tegas dengan skuama
tebal diatasnya. Skuama kasar berlapis-lapis, warna putih transparan,
bentuk bulat atau lonjong, ukuran bervariasi.
2. Liken Planus
Predileksi: permukaan fleksor pergelangan tangan, batang tubuh, kaki,
glans penis, medial paha, selaput lendir dan vagina.
UKK : lesi yang khas berupa papula kecil, datar, poligonal permukaan
mengkilap, warna keunguan, berangulasi dengan anyaman garis

keabu-abuan (wickhams striae) pada permukaannya. Di atasnya


terdapat skuama halus.
3. Dermatitis Atopik
Predileksi: muka, kepala, tengkuk, lipat siku, pergelangan tangan, fosa
poplitea
UKK: edema, vesikel/bula, dapat disertai ekskoriasi. Pada keadaan
kronik dapat terjadi penebalan kulit/ likenifikasi dan hiperpigmentasi.
I.

PEMERIKSAAN ANJURAN
Histopatologi

J.

PENATALAKSANAAN
1.

Non Medikamentosa
a. Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakitnya.
b. Mencegah garukan dan gosokan pada daerah yang gatal
c. Istirahat yang cukup
d. Hindari stress psikologis
e. Menjaga kebersihan kulit dengan mandi
f. Hindari dari gigitan serangga

2.

Medikamentosa
Sistemik:
Antihistamin Loratadin 10 mg tablet 1x1
Topikal:
Nerilon 15 gr cream

K.

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad kosmeticum : dubia ad bonam


Quo ad sanationam

: dubia ad bona

EFFLORESENSI PADA PASIEN Tn. S

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

10

Neurodermatitis Sirkumskripta atau dikenal sebagai Liken Simpleks


Kronik adalah penebalan kulit dengan garis kulit tampak lebih menonjol
menyerupai kulitbatang kayu (likenifikasi) yang timbul secara sekunder akibat
garukan ataugosokan berulang dalam waktu yang cukup lama (Hogan D. J.
dan Mason S., 2009).
Neurodermatitis merupakan proses yang sekunder ketika seseorang
mengalami sensasi gatal pada daerah kulit yang spesifik dengan atau tanpa
kelainan kulit yang mendasar yang dapat mengakibatkan trauma mekanis pada
kulit yang berakhir dengan likenifikasi. Penyakit ini biasanya timbul pada
pasien dengan kepribadian yang obsesif, dimana selalu ingin menggaruk
bagian tertentu dari tubuhnya (Soter NA, 2003).
B. Sinonim
Nama lain dari liken simpleks kronikus adalah neurodermatitis
sirkumskripta, istilah yang pertama kali dipakai oleh Vidal, oleh karena itu
disebut pula liken Vidal (Djuanda Adhi, 2006).
C. EtioPatogenesis & Patofisiologi
Penyebab neurodermatitis (liken simpleks kronikus) belum diketahui
secara pasti. Namun ada berbagai faktor yang mendorong terjadinya rasa
gatal pada penyakit ini, faktor penyebab dari liken simpleks kronikus dapat
dibagi menjadi dua yaitu:
a. Faktor Eksterna
1) Lingkungan
Faktor lingkungan seperti panas dan udara yang kering dapat
berimplikasi dalam menyebabkan iritasi yang dapat menginduksi
gatal. Suhu yang tinggi memudahkan seseorang berkeringat sehingga
dapat mencetuskan gatal, hal ini biasanya menyebabkan liken
simpleks kronikus pada daerah anogenital.
2) Gigitan Serangga
Gigitan serangga dapat menyebabkan reaksi radang dalam tubuh yang
mengakibatkan rasa gatal (Soter N.A., 2003).
b. Faktor Interna
1) Dermatitis atopik

11

Asosiasi antara liken simpleks kronikus dan gangguan atopik telah


banyak dilaporkan, sekitar 26% sampai 75% pasien dengan dermatitis
atopik terkena liken simpleks kronikus.
2) Psikologis
Kecemasan telah dilaporkan memiliki prevalensi tertinggi yang
mengakibatkan liken simpleks kronikus. Kecemasan sebagai bagian
dari proses patologis dari lesi yang berkembang. Telah dirumuskan
bahwa neurotransmitter yang mempengaruhi perasaan, seperti
dopamine, serotonin, atau peptide opioid, memodulasikan persepsi
gatal melalui penurunan jalur spinal (Soter NA, 2003).
Stimulus untuk perkembangan liken simpleks kronikus adalah pruritus.
Pruritus sebagai dasar dari gangguan kesehatan dapat berhubungan dengan
gangguan kulit, proliferasi dari nervus dan tekanan emosional. Pruritus yang
memegang peranan penting dapat dibagi dalam dua kategori besar, yaitu
pruritus tanpa lesi dan pruritus dengan lesi. Pasien dengan liken simpleks
kronikus mempunyai gangguan metabolik atau gangguan hematologik.
Pruritus tanpa kelainan kulit dapat ditemukan pada penyakit sistemik,
misalnya gagal ginjal kronik, obstruksi kelenjar biliaris, hodgkins lymphoma,
polisitemia rubra vera, hipertiroidisme, gluten-sensitive enteropathy dan
infeksi imunodefisiensi. Pruritus yang disebabkan oleh kelainan kulit yang
terpenting adalah dermatitis atopik, dermatitis kontak alergi dan gigitan
serangga (Soter NA, 2003).
Pada pasien yang memiliki faktor predisposisi, garukan kronis dapat
menimbulkan penebalan dan likenifikasi. Jika tidak diketahui penyebab yang
nyata dari garukan, maka disebut liken simpleks kronikus. Adanya garukan
yang terus menerus diduga karena adanya pelepasan mediator dan aktivitas
enzim proteolitik. Walaupun sejumlah peneliti melaporkan bahwa garukan
dan gosokan timbul karena respon dari adanya stress. Adanya sejumlah saraf
mengandung immunoreaktif CGRP (calcitonin gene-related peptide) dan SP
(substance P) meningkat pada dermis. Hal ini ditemukan pada prurigo
nodularis, tetapi tidak pada liken simpleks kronikus. SP dan CGRP
melepaskan histamine dan sel mast yang selanjutnya akan memicu pruritus.
Ekspresi faktor pertumbuhan saraf p75 pada membran sel Schwan dan sel
12

perineurum meningkat, mungkin ini menghasilkan hiperplasi neural (Djuanda


Adhi, 2006; Soter NA, 2003).
Liken simpleks kronikus ditemukan pada kulit di daerah yang mudah
diakses untuk digaruk. Pruritus memprovokasi garukan dan gosokan yang
menghasilkan lesi klinis, tetapi patofosiologi yang mendasar tidak diketahui.
Beberapa jenis kulit lebih rentan terhadap likenifikasi, seperti kulit yang
cenderung menuju kondisi eczema (yaitu, dermatitis atopik). Suatu hubungan
antara kemungkinan jaringan saraf pusat dan perifer dan produk sel inflamasi
dalam persiapan gatal di liken simpleks kronikus. Ketegangan emosional
pada penderita cenderung mungkin memainkan peran kunci dalam
mendorong sensasi pruritus, mengarahkan untuk menggaruk yang dapat
menjadi reflex dan kebiasaan. Interaksi di antara lesi primer, faktor psikis,
dan intensitas pruritus mempengaruhi tingkat dan keparahan dari liken
simpleks kronikus (Odom RB, 2000; Hunter John, 2004).
D. Epidemiologi
Frekuensi yang tepat pada populasi umum tidak diketahui. Dalam suatu
studi, 12%

dari pasien penuaan

dengan

kulit

pruritus

telah

mengalami liken simpleks kronis. Prevalensi tertinggi yaitu pada usia


dewasa pertengahan dan dewasa lanjut, dengan puncaknya antara usia 30-50
tahun. Tidak ada perbedaan dilaporkan dalam frekuensi antara ras. Lebih
sering pada wanita dibandingkan pada pria. Kebanyakan terjadi pada
pertengahan akhir dewasa,dengan prevalensi tertinggi pada orang berusia 3050 tahun (Djuanda Adhi, 2006; Susan Burgin, 2008).
E. Gejala Klinis
Penderita mengeluh gatal sekali, bila timbul malam hari dapat
mengganggu tidur. Gatal memang tidak terus menerus, biasanya pada waktu
tidak sibuk, dan bila muncul sulit ditahan, bahkan harus digaruk sampai luka,
baru hilang gatalnya untuk sementara.Lesi biasanya tunggal, tetapi dapat pula
lebih dari satu. Lokasi yang biasa di tengkuk, sisi leher, tungkai bawah,
pergelangan kaki, skalp, paha bagian medial, lengan bagian ekstensor,
skrotum dan vulva. Pada stadium awal kelainan kulit berupa eritema dan
13

edema atau kelompokan papul. Selanjutnya karena garukan yang berulangulang, bagian tebal menebal, kering dan berskuama serta pinggirnya
hiperpigmentasi. Ukuran lesi lentikular sampai plakat, bentuk umumnya
lonjong. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada wanita daripada pria,
puncak insidensi 30 50 tahun.
Gatal yang berat merupakan gejala dari liken simpleks kronikus.
Menggosok dan menggaruk mungkin disengaja dengan tujuan menggantikan
sensasi gatal dan nyeri, atau dapat secara tidak sengaja yang terjadi pada
waktu tidur.Keparahan gatal dapat diperburuk dengan berkeringat, suhu atau
iritasi dari pakaian. Gatal juga dapat bertambah parah pada saat terjadi stress
psikologis (Djuanda Adhi, 2006; Soter NA, 2003).
Pada liken simpleks kronik, penggosokan dan penggarukan yang
berulang menyebabkan terjadinya likenifikasi (penebalan kulit dengan garisgaris kulit semakin terlihat) plak yang berbatas tegas dengan ekskoriasi,
sedikit edematosa, lambat laun edema dan eritema menghilang. Bagian tengah
berskuama dan menebal, sekitarnya hiperpigmentasi, batas dengan kulit
normal tidak jelas.Lesi biasanya tunggal, pada awalnya berupa plak
eritematosa, sedikit edematosa, lambat laun edema dan eritema menghilang,
bagian tengah berskuama dan menebal, likenifikasi dan eskoriasi; sekitarnya
hiperpigmentasi, batas dengan kulit normal tidak jelas.Gambaran klinis
dipengaruhi juga oleh lokasi dan lamanya lesi. Daerah yang terjadi likenifikasi
umumnya akan dirasakan sangat nyaman bila digaruk sehingga terkadang
pasien tidak menyadari menggaruk dan menjadi kebiasaan (Hogan, 2011;
Rajalaksmi, 2011).
Letak lesi bisa timbul dimana saja, tetapi yang biasa ditemukan adalah di
scalp, tengkuk, samping leher, lengan bagian ekstensor, pubis, vulva, skrotum,
perianal, paha bagian medial, lutut, tungkai bawah lateral, pergelangan kaki
bagian depan, dan punggung kaki. Neurodermatitis di daerah tengkuk (lichen
nuchae) umumnya hanya pada wanita, berupa plak kecil di tengah tengkuk
atau dapat meluas hingga ke scalp.Biasanya skuamanya banyak menyerupai
psoriasis (Hogan, 2011).

14

Variasi klinis neurodermatitis dapat berupa prurigo nodularis, akibat


garukan atau korekan tangan penderita yang berulang-ulang pada suatu
tempat.Lesi berupa nodus berbentuk kubah, permukaan mengalami erosi
tertutup krusta dan skuama, lambat laun menjadi keras dan berwarna lebih
gelap.Lesi biasanya multiple, lokalisasi tersering di ekstremitas; berukuran
mulai beberapa milimeter sampai 2 cm.(Djuanda Adhi, 2006).

F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
a. Tes Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium tidak ada tes yang spesifik untuk
neurodermatitis sirkumskripta. Tetapi walaupun begitu, satu studi
mengemukakan bahwa 25 pasien dengan neurodermatitis sirkumskripta
positif terhadap patch test. Pada dermatitis atopik dan mikosis fungiodes
bisa terjadi likenefikasi generalisata oleh sebab itu merupakan indikasi
15

untuk melakukan patch test. Pada pasien dengan pruritus generalisata


yang kronik yang diduga disebabkan oleh gangguan metabolik dan
gangguan hematologi, maka pemeriksaan hitung darah harus dilakukan,
juga dilakukan tes fungsi ginjal dan hati, tes fungsi tiroid, elechtroporesis
serum, tes zat besi serum, tes kemampuan pengikatan zat besi (iron
binding capacity), dan foto dada. Kadar immunoglobulin E dapat
meningkat pada neurodermatitis yang atopik, tetapi normal pada
neurodermatitis nonatopik. Bisa juga dilakukan pemeriksaan potassium
hydroksida pada pasien liken simpleks genital untuk mengeleminasi tinea
cruris (Wolff Klauss, A Lowell. et.all., 2008).
b. Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi untuk

menegakkan

diagnosis

neurodermatitis sirkumskripta adalah menunjukkan proliferasi dari sel


schwann dimana dapat membuat infiltrasi selular yang cukup besar. Juga
ditemukan neural hyperplasia. Didapatkan adanya hiperkeratosis dengan
area yang parakeratosis, akantosis dengan pemanjangan rete ridges yang
irregular, hipergranulosis dan perluasan dari papillo dermis. Spongiosis
bisa ditemukan, tetapi vesikulasi tidak ditemukan. Papilomatosis kadangkadang ditemukan. Ekskoriasi, dimana ditemukan garis ulserasi punctata
karena adanya jaringan nekrotik papila dermis superfisial. Fibrin dan
neutrofil bisa ditemukan, walaupun keduanya biasanya ditemukan pada
penyakit dermatosis yang lain. Pada papillary dermis ditemukan
peningkatan jumlah fibroblas. Pada lesi yang sudah sangat kronis,
khususnya pada likenifikasi yang gigantik

besar, akantosis dan

hiperkeratosis dapat dilihat secara gross,danrete ridges tampak ireguler


namun tetap memanjang dan melebar (Wolff Klauss, A Lowell. et.all.,
2008).
G. Diagnosis
Diagnosis untuk liken simpleks kronis dapat ditegakkan melalui
anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang. Pasien dengan
neurodermatitis sirkumskripta mengeluh merasa gatal pada satu daerah atau
lebih. Sehingga timbul plak yang tebal karena mengalami proses likenifikasi.
16

Biasanya rasa gatal tersebut muncul pada tengkuk, leher, ekstensor kaki, siku,
lutut, pergelangan kaki. Eritema biasanya muncul pada awal lesi. Rasa gatal
muncul pada saat pasien sedang beristirahat dan hilang saat melakukan
aktivitas dan biasanya gatal timbul intermiten (Wolff Klauss, A Lowell.
et.all., 2008).
Pemeriksaan fisis menunjukkan plak yang eritematous, berbatas tegas,
dan terjadi likenifikasi. Terjadi perubahan pigmentasi, yaitu hiperpigmentasi
(Wolff Klauss, A Lowell. et.all., 2008).
Pada pemeriksaan
hiperkeratosis

dengan

penunjang histopatologi didapatkan


area

yang

parakeratosis,

akantosis

adanya
dengan

pemanjangan rate ridges yang irregular, hipergranulosis dan perluasan dari


papil dermis (Djuanda Adhi, 2006).
H. Diagnosis Banding
Kasus-kasus primer yang umumnya menyebabkan likenifikasi adalah :
a. Dermatitis kontak alergi
Dermatitis kontak alergi adalah inflamasi dari kulit yang diinduksi oleh
bahan kimia yang secara langsung merusak kulit dan oleh sensitifitas
spesifik, pada kasus penderita umumnya mengeluh gatal pad daerah
pajanan. Kelainan kulit tergantung pada keparahan dermatitis dan
lokalisasinya. Pada yang akut dimulai dengan bercak eritematous yang
berbatas jelas kemudian diikuti dengan edema, papulovesikel, vesikel atau
bulla. Vesikel atau bulla dapat pecah menimbulkan erosi dan eksudasi.
Pada fase kronik kulit terlihat kering, skuama,papul,likenifikasi, fisura,
berbatas tidak tegas (Djuanda Adhi, 2006)
b. Plak psoriasis
Psoriasis merupakan gangguan peradangan kulit yang kronik, dengan
karakteristik

plak

eritematous,

berbatas

tegas,

berwarna

putih

keperakan,skuama yang kasar, berlapis-lapis, transparan, disertai fenomena


tetesan lilin, Auspitz dan Kobner. Lokasi terbanyak ditemukan didaerah
ekstensor. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa

17

hipotesa telah mendapatkan bahwa penyakit ini bersifat autoimun, dan


residif (Wolff Klauss, A Lowell. et.all.)
c. Dermatitis seboroik
Dermatitis seboroik merupakan gangguan papuloskuamosa yang terdapat
pada daerah kaya sebum seperti kulit kepala, wajah dan punggung.
Dermatitis ini berhubungan dengan malassezia, abnormalitas imunologis,
dan aktivasi dari komplemen. Berhubungan erat dengan keaktifan glandula
sebasea. Biasa terjadi pada bayi umur bulan pertama dan mencapai puncak
pada umur 18-40 tahun. Kelainan kulit terdiri atas eritema dam skuama
yang berminyak dan agak kekuningan, batasnya agak kurang tegas
(Djuanda Adhi, 2006).
d. Liken Planus
Lesi yang pruritis, erupsi popular yang dikarakteritikkan dengan warna
kemerahan berbentuk polygonal, dan kadang berbatas tegas. Sering
ditemukan pada permukaan fleksor dari ekstremitas, genitalia dan
membrane mukus. Mirip dengan reaksi mediasi imunologis. Liken planus
ditandai dengan papul-papul yang mempunyai warna dan konfigurasi yang
khas. Papul-papul berwarna merah biru, berskuama, dan berbentuk sikusiku. Gambaran histopatologi: papul menunjukkan penebalan lapisan
granuloma, degenrasi mencair membrane basal dan sel basal. Dapat pula
ditemukan infiltrate seperti pita yang terdiri dari limfosit dan histiosit pada
lapisan dermis bagian atas (Djuanda Adhi, 2006; Susan Burgin, 2008).

e. Dermatitis atopi
Peradangan kulit kronis yang residif disertai gatal, yang umumnya sering
terjadi selama masa bayi dan anak-anak. Sering berhubungan dengan
peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau
penderita. Kelainan kulit berupa papul gatal, yang kemudian mengalami
ekskoriasi dan likenifikasi, distribusinya di lipatan. Gambaran lesi kulit
pada remaja dan dewasa dapat berupa plak papuler, eritematosa, dan
berskuama atau plak likenifikasi yang gatal. Lokasi dermatitis atopik pada
18

lipat siku dan lipat lutut (fleksor) hilang pada usia 2 tahun, pada
neurodermatitis sirkumskripta pada siku dan punggung kaki (ekstensor)
dan berlanjut sampai tua (Susan Burgin,2008; CA Holden, 2004)
f. Tinea corporis
Kelainan kulit yang berbatas tegas, dengan pinggir aktif dan bagian tengah
relative tenang ( Siregar,2004)
I. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dari neurodermatitis sirkumskripta secara primer adalah
untuk mengurangi pruritus dan meminimalkan lesi yang ada dan
menghindarkan pasien dari kebiasaan menggaruk dan menggosok secara
terus-menerus. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti memotong
kuku

pasien,

memberikan

antipruritus,

glukokortikoid

topikal

atau

intralesional, atau produk-produk tar, konsultasi psikiatrik, dan mengobati


pasien dengan cryoterapi, cyproheptadine, atau capsaicin (Wolff Klauss,
2009).
a. Steroid topical (Richards, 2010)
Pengobatan pilihan karena dapat mengurangi peradangan dan gatal
serta perlahan-lahan menghaluskan hiperkeratosisnya. Karena lesinya
kronik, Pentalaksanaannya biasanya lama. Pada lesi yang besar dan
aktif, steroid potensi sedang dapat digunakan untuk mengobati
inflamasi akut. Tidak direkomendasikan untuk kulit yang tipis (vulva,
skrotum, axilla dan wajah). Steroid potensi kuat digunakan selama 3
minggu pada area kulit yang lebih tebal.
1. Clobetasol
Topical steroid super poten kelas 1: untuk menekan mitosis dan
menambah sintesis protein yang mengurangi peradangan dan
menyebabakan vasokonstriksi.
2. Betamethasone dipropionate cream 0,05%.6,9

Untuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid.


Bekerja mengurangi peradangan dengan menekan migrasi
leukosit polimorfonuklear dan memeperbaiki permeabilitas
kapiler.
3. Triamcinolone 0,025 %, 0.1%, 0.5 % ointment
Untuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid.
Bekerja mengurangi peradangan dengan menekan migrasi
19

leukosit polimorfonuklear dan memeperbaiki permeabilitas


kapiler.
4. Fluocinolone cream 0.1 % atau 0.05%

Topikal

kortikosteroid

potensi

tinggi

yang

menghambat

proliferasi sel. Mempuyai sifat imonusupresif dan sifat anti


peradangan.
b. Obat oral anti anxietas, sedasi dan antidepresi
Obat oral dan anti anxietas dapat dipertimbangkan pada
beberapa pasien. Menurut kebuthan individual, penatalaksanaan dapat
dijadwalkan setiap hari, pada ssat pasien tidur, atau keduanya.
Antihistamin

seperti

dipenhydramine

dan

hidroxyzine

biasa

digunakan. Doxepin dan clonazepam dapat dipertimbangkan pada


beberapa kasus.
Amitriptilin merupakan antidepresi trisiklik Amitriptilin bekerja
dengan menghambat pengambilan kembali neurotransmiter di otak.
Amitriptilin mempunyai 2 gugus metil, termasuk amin tersier
sehingga lebih resposif terhadap depresi akibat kekurangan serotonin.
Senyawa ini juga mempunyai aktivitas sedatif dan antikolinergik yang
cukup kuat. Obat ini penggunanaya untuk memperbaiki kualitas tidur.
Pada pemberian oral, Amitriptilin diaborpsi dengan baik, kurang lebih
90% berkaitan dengan protein plasma dan tersebar luas dalam jaringan
dan susunan saraf pusat. Metabolisme di hati berlngsung lambat dan
waktu paruh 10,3-25,3 jam, kemudian diekskresi bersama urin
(Stewarts, 2010).
c. Agen anti pruritus
Obat oral dapat mengurangi gatal dengan memblokir efek pelepasan
histamin secara endogen. Gatal berkurang, pasien merasa tenang atau
sedatif dan merangsang untuk tidur. Obat topikal menstabilisasi
membrane neuron dan mencegah inisiasi dan transmisi implus saraf
sehingga memberi aksi anestesi lokal.
1. Dipenhidramin
Untuk meringankan gejala pruritus yang disebabkan oleh pelepasan
histamin.
2. Cholorpheniramine
Bekerja sama dengan histamin atau permukaan reseptor H1 pada sel
efektor di pembuluh darah dan traktus respiratori.
20

3. Hidroxyzine
Reseptor H1 antagonis diperifer. Dapat menekan aktifitas histamin
diregion subkortikal sistem saraf pusat.
4. Klonazepam
Untuk anxietas yang disertai pruritus. Berikatan dengan reseptorreseptor di SSP, termasuk sistem limbik dan pembentukan retikular.
Efeknya bisa dimediasi melalui reseptor GABA.
d. Agen imunosupresor
Tacrolimus, Mekanisme kerjanya pada liken simpleks kronik tidak
diketahui. Dapat mengurangi gatal dan peradangan dengan menekan
pelepasan sitokin dari sel T. juga menghambat transkripsi gen yang
mengkode IL-3, IL-4, IL5, GM-CSF, dan TNF- alfa, yang semuanya
terlibat dalam aktivasi sel T derajat dini. Juga dapat menghambat
pelepasan mediator sel mast dan basofil kulit dan mengurangi regulasi
ekspresi FCeRI pada sel langerhans. Obat dari kelas ini lebih mahal dari
kortikosteroid topikal. Terdapat dalam bentuk ointment dalam konsentrasi
0.03% dan 0.1%. indikasi apabila pilihan terapi yang lain tidak berhasil.
e. Immunodilator
Berasal dari ascomycin, suatu bahan alami yang diproduksi oleh jamur
streptomyces hygroscopicus var asmyeticus, bekerja menghambat
produksi dan pelepasan sitokin inflamasi dari sel T teraktivasi secara
selektif dan berikatan dengan reseptor imunofilin sitosolik makrofilin 12
(cytosolic immunophili receptor macrophilin-12). Menghambat kompleks
yang menghambat kalsineurin fofatase, yang kemudian memblokir
aktivasi sel T dan pelepasan sitokin. Atropi kutaneus tidak didapati pada
percobaan klinis yang merupakan kelebihan terhadap kortikosteroid
topical. Indikasi apabila pilihan terapi yang lain tidak berhasil (Wolff
Klauss, 2009).
J. Prognosis
Prognosis berbeda-beda, tergantung dari kondisi pasien, apabila ada
gangguan

psikologis

dan

apabila

ada

penyakit

lain

yang

menyertai.Pengobatan yang teratur dapat meringankan kondisi pasien.


Penyebab utama dari gatal dapat hilang, atau dapat muncul kembali.

21

Pencegahan pada tahap awal dapat menghambat proses penyakit ini


(Pedoman diagnosis, 2007).

III.

PEMBAHASAN

Anamnesis
Pasien mengeluh gatal di pergelangan dan telapak kaki kanan kiri, sejak 6
bulan yang lalu.
Keluhan gatal muncul saat istirahat, membaik saat beraktivitas dan digaruk
Muncul saat pasien memiliki masalah yang

menjadi beban pikiran dan

setelah bekerja di sawah.

Sesuai dengan menurut NA Soner pada Fitzpatricks Dermatology in General


Medicine dan Adhi Juanda Pada Ilmu Penyakit Kulit FKUI bahwa:

Penderita mengeluh gatal sekali, Rasa gatal memang tidak terus menerus,

biasanya pada waktu tidak sibuk (saat istirahat)


Gatal yang muncul sulit ditahan untuk tidak digaruk. Penderita merasa
enak setelah digaruk yang dilakukan secara sengaja untuk mengurangi
sensasi gatal dan nyeri.

22

Gatal dapat bertambah parah pada saat terjadi stress psikologis dan
tekanan emosi, terutama pada seseorang yang memiliki kecemasan.

Status Dermatologis
Lokasi: Ekstremitas Inferior
Effloresensi : Tampak papula milier, hiperpigmentasi, berbatas tegas,
likenifikasi dengan skuama halus pada bagian tepi,
ukuran plakat, bentuk lingkaran tidak beraturan, serta
terdapat erosi dan ekskoriasi lokalisasi multipel di
dorsum pedis dextra et sinistra dan regio cruris
anterior dextra dextra.
Sesuai dengan Adhi Juanda Pada Ilmu Penyakit Kulit FKUI, Hogan dan Wolff
Klauss, A Lowell. et.all.:

Lokalisasi lesi yang paling sering di ekstrimitas. lesi bisa terjadi pada
daerah tungkai bawah lateral, pergelangan kaki bagian depan, dan

punggung kaki
Lesi biasanya tunggal, pada awalnya berupa plak eritematosa, sedikit
edematosa, lambat laun edema dan eritema menghilang, bagian tengah
berskuama

dan

menebal,

likenifikasi

dan

eskoriasi;

sekitarnya

hiperpigmentasi, batas jelas.

Letak lesi bisa timbul dimana saja, tetapi yang biasa ditemukan adalah di
scalp, tengkuk, samping leher, lengan bagian ekstensor, pubis, vulva,
skrotum, perianal, paha bagian medial, lutut, tungkai bawah lateral,
23

pergelangan kaki bagian depan, dan punggung kaki. Neurodermatitis di


daerah tengkuk (lichen nuchae) umumnya hanya pada wanita, berupa plak
kecil di tengah tengkuk atau dapat meluas hingga ke scalp. Biasanya
skuamanya banyak menyerupai psoriasis (Hogan, 2011).

Penatalaksanaan
Sistemik:
Antihistamin diberikan Loratadine 1x 10 mg tablet
Antidepresan diberikan Amitriptylin 3x25 mg tablet
Topikal diberikan 2 kali sehari:
Inerson
Asam Salisilat 3%
LCD vaseline salep

Sesuai Djuanda adhi, Wolff Klauss, A Lowell. et.all:


Penatalaksanaan pada penyakit ini adalah tujuannya untuk mengurangi pruritus
dan meminimalkan lesi dengan:
a. Antipruritus (antihistamin reseptor H1 contohnya cholorpheniramine,
loratadine, cetirizine)
b. Antidepresi yang mempunyai aktivitas sedatif contohnya: Amitriptylin
c. Obat topikal menstabilisasi membrane neuron dan mencegah inisiasi dan
transmisi implus saraf sehingga memberi aksi anestesi lokal
Prognosis untuk penyakit liken simpleks kronis adalah :
Pengobatan untuk pencegahan pada stadium-stadium awal dapat
membantu untuk mengurangi proses likenifikasi.
Rasa gatal dapat diatasi, likenifikasi yang ringan dan perubahan
pigmentasi dapat diatasi setelah dilakukan pengobatan.
Relaps dapat terjadi, apabila dalam masa stress atau tekanan emosional yang

24

- Gatal dapat bertambah parah pada saat terjadi stress psikologis dan
tekanan emosi, terutama pada seseorang yang memiliki kecemasan.

VI. KESIMPULAN
1.

Neurodermatitis adalah penebalan kulit dengan skala variable yang timbul


sekunder karena garukan atau gosokan berulang-ulang (Djuanda Adhi, 2006;
Susan Burgim, 2008; Odom RB, 2000).

2.

Peradangan kulit kronis, gatal, sirkumskrip, ditandai dengan kulit tebal dan
garis kulit tampak lebih menonjol (likenifikasi) menyerupai kulit batang
kayu, akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena berbagai
rangsangan pruritogenik (Djuanda Adhi, 2006; Susan Burgim, 2008; Odom
RB, 2000).

3.

Lesi biasanya tunggal, pada awalnya berupa plak eritematosa, sedikit


edematosa, lambat laun edema dan eritema menghilang, bagian tengah
berskuama

dan

menebal,

likenifikasi

dan

eskoriasi;

sekitarnya

hiperpigmentasi, batas jelas (Djuanda Adhi, 2006).


4.

Diagnosis banding liken simpleks kronikus antara lain; dermatitis atopik,


liken planus dan psoriasis (Djuanda Adhi, 2006).

5.

Penatalaksanaannya meliputi pemberian steroid, antipruritus dan anxielitik.

25

DAFTAR PUSTAKA

Djuanda Adhi. 2006. Neurodermatitis Sirkumskripta. Dalam: Ilmu Penyakit Kulit


dan Kelamin Edisi kelima. Jakarta: FKUI. h. 147-148.
Hunter John, John Savin, Marck Dahl editors. 2002. Clinical Dermatology:
eczema and dermatitis. 3rd edition Blackwell publishing: p. 70.
Hogan D J, Mason S H. 2011. Lichen Simplex Chronicus. Diakses dari www.emedicine.com
24 Februari 2011.
Odom RB, James WD, Berger TG. 2000. Atopic dermatitis, eczema,
andnoninfectious immunodeficiency disorders. Dalam: Andrews Diseasesof
The Skin: Clinical Dermatology. 9th ed. Philadelphia: WBSaunders. h. 69-94
Pedoman Diagnosis dan Terapi Penyakit Kulit dan Kelamin RSUP Sanglah
Denpasar tahun 2007.
Rajalakshmi R, Thappa DM, Jaisankar TJ, et al. 2011. Lichen simplexchronicus of
anogenital region: Aclinico-etiological study. Indian J Dermat ol Venereol Leprol JanFeb; 77(1) : 28-36.
Richards R N. 2010. Update on intralesional steroid: focus on dermatoses.
J Cutan Med Surg Jan-Feb; 14(1).
Siregar. 2004. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit Edisi Dua. Jakarta: EGC.
Soter NA. 2003. Numular Eczema and Lichen Simpleks Chronicus/Prurigo
Nodularis. Dalam: Freedberg IM, Eizen AZ, Wollf K, Austen KF,
Goldsmith LA, Katz SI, eds. Fitzpatricks Dermatology in General
Medicine. 7th ed. New York : Mc. Graw Hill: p. 160-162.
26

Stewart KM. 2010. Clinical care of vulvar pruritus, with emphasis on onecommon
cause, lichen simplex chronicus. Dermat ol Clin Oct; 28(4): 669-80.
Susan Burgin, MD. 2008. Numular Eczema and Lichen Simplex Chronic/Prurigo
Nodularis. Dalam: Fitzpatrick TB, Eizen AZ, Woff K,Freedberg IM, Auten
KF, penyunting: Dermatology in generalmedicine, 7th ed, New York: Mc Graw
Hill: p. 158-162.
Wolff Klauss, A Lowell. et.all. 2008. Lichen Simplex Chronicus and Prurigo
Nodularis. Dalam: Fitzpatricks Dermatologyin General Medicine7 th
Edition volumes 1 & 2. New York: Mc Graw Hill Medical: p. 198-200.
Wolff Klauss. 2009. Lichen Simplex Chronicus. Dalam: Fitzpatricks Color Atlas
& Synopsis of Clinical Dermatology 6th Edition. New York: McGraw Hill
Medical: p. 42-43.

27