Anda di halaman 1dari 92

HUBUNGAN POLA ASUH IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA

PADA KELUARGA NELAYAN DI KOTA PADANG

SKRIPSI
Diajukan ke Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebagai
Pemenuhan salah satu syarat untuk mendapatkan Gelar Sarjana Kedokteran

Oleh
REZI AMALIA PUTRI
No.BP.1110312003

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015

HUBUNGAN POLA ASUH IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA


PADA KELUARGA NELAYAN DI KOTA PADANG

SKRIPSI
Diajukan ke Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebagai
Pemenuhan salah satu syarat untuk mendapatkan Gelar Sarjana Kedokteran

Oleh
REZI AMALIA PUTRI
No.BP.1110312003

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015

HUBUNGAN POLA ASUH IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA


PADA KELUARGA NELAYAN DI KOTA PADANG

SKRIPSI

Oleh :

REZI AMALIA PUTRI


No. BP. 1110312003

Telah disetujui oleh Pembimbing Skripsi Fakultas Kedokteran Unand


Pembimbing Skripsi
Nama
Dr.dr.H.Masrul,Msc.Sp.GK

Drs.Adrial,M.Kes

Jabatan
Pembimbing I

Pembimbing II

ii

Tanda tangan

HUBUNGAN POLA ASUH IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA


PADA KELUARGA NELAYAN DI KOTA PADANG

SKRIPSI

Oleh :

REZI AMALIA PUTRI


No. BP. 1110312003

Telah dipertahankan didepan Penguji Skripsi Fakultas Kedokteran


Universitas Andalas pada Tanggal 08 April 2015
Penguji Skripsi
Nama
Prof. Dr. Nur Indrawati
Lipoeto, MSc, PhD,
SpGK

Jabatan
Penguji I

Dr. Rahmi Lestari, SpA

Penguji II

Dr.Edison, MPH

Penguji III

iii

Tanda tangan

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat ALLAH SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat
menyusun dan menyelesaikan skripsi ini.
Penyusunan skripsi ini merupakan kewajiban setiap mahasiswa tingkat
akhir sebagai salah satu syarat menjadi Sarjana Kedokteran di Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas. Penulis memilih judul Hubungan Pola Asuh Ibu
dengan Status Gizi Balita pada Keluarga Nelayan di Kota Padang.
Dalam penyelesaian skripsi ini penulis telah banyak mendapat bimbingan,
nasehat, dan bantuan dari berbagai pihak.

Pada kesempatan ini penulis

mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :


1. Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Dr. dr. Masrul,
M.Sc, Sp.GK. Staf pengajar, dan seluruh Civitas Akademika FK UNAND,
yang telah membantu penulis selama kuliah di Fakultas Kedokteran ini.
2. Bapak Dr. dr. Masrul, M.Sc, Sp.GK selaku dosen pembimbing I yang telah
banyak memberikan bimbingan, petunjuk, dan dorongan semangat mulai
dari pelaksanaan sampai penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Drs.Adrial, M.kes selaku dosen pembimbing II yang telah banyak
memberikan bimbingan, petunjuk, dan dorongan semangat mulai dari
pelaksanaan sampai penyusunan skripsi ini.
4. Prof. dr. Nur Indrawati Lipoeto, M.Sc. PhD. Sp.GK selaku penguji I yang
juga ikut memberikan masukan dan petunjuk dalam penyelesaian skripsi
ini.
iv

5. dr. Rahmi Lestari, Sp.A selaku penguji II yang juga ikut memberikan
masukan dan petunjuk dalam penyelesaian skripsi ini.
6. dr. Edison, MPH selaku penguji III yang juga ikut memberikan masukan
dan petunjuk dalam penyelesaian skripsi ini.
7. Bapak Drs. Endrinaldi, MS selaku pembimbing akademik yang telah
memberikan bimbingan, perhatian, saran, arahan, dan nasehat bagi penulis
dalam menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
ini.
8. Bapak pimpinan, staf pengajar, dan seluruh Civitas Akademika FK
UNAND yang telah membantu penulis selama kuliah di Fakultas
Kedokteran ini.
9. Ayahanda Zulkifli, Ibunda Gusneti tersayang yang selalu ada dan
senantiasa memberikan doa, bimbingan, semangat dan kesabaran yang
tidak ada batasnya.
10. Teman-teman dari NEURO11 yang telah mengarahkan dan sangat
membantu dalam terselesaikannya skripsi ini serta semua pihak yang tidak
dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam
pelaksanaan sampai penyusunan skripsi ini.
Semoga usaha, bimbingan, bantuan, dorongan, semangat, dan doa yang
telah diberikan tidak akan sia-sia, hanya Allah Yang Maha Tahu dan memberi
balasan yang berlipat ganda serta limpahan rahmat pada kita semua.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu penulis mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun
dari pembaca demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya dengan segala kekurangan
yang ada, penulis hanya bisa mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat
terutama kepada pembaca dan penulis sendiri.
v

Padang, April 2015

Penulis

ABSTRACT
THE ASSOCIATION BETWEEN
CARE PRACTICE WITH NUTRITIONAL STATUS IN CHILDREN
AT THE FISHERMANS FAMILY IN PADANG
By
REZI AMALIA PUTRI
1110312003
vi

Toddlerhood is a period of rapid growth and development called golden


age, thus require optimal nutrition. Role of mother is very dominant in nurture
and educating children that will affect the children, especially children's
nutritional status. Fishermans family are families with low economically and
educationally, so less optimal for nutrition and care of their toddler to meet the
needs of growth and development of toddlers.
This cross-sectional study was to aim the relation of care practices with
nutritional status in children at the fishermans family in Padang, followed by 140
mothers from 140 children age 12-60 months old. Care practices was measured
by interviewing the mother using questionnaire. Nutritional status was determined
by measuring body weight/body height according to WHO growth chart.
This study showed 91.4% children were normal nutritional status, 8.6%
children were undernutrition. This study also found 67.1% children with good
care for nutrition, 97.1% with good care for health and 51.4% with low care for
psychosocial. There was no significant relation between care for nutrition, health
and psychosocial with nutritional status.
From this study we suggested

the mother to maintain and improve

nutritional status of children, and support

in fulfilling

socialization and

education of early childhood associated with cross-sector.


Keywords : care practices, nutritional status, toddler.

ABSTRAK
HUBUNGAN POLA ASUH IBU DENGAN STATUS GIZI BALITA
vii

PADA KELUARGA NELAYAN DI KOTA PADANG


Oleh
REZI AMALIA PUTRI
1110312003
Balita merupakan masa tumbuh kembang yang sangat cepat, disebut
dengan masa keemasan (golden age), sehingga membutuhkan gizi yang optimal.
Peran ibu sangat dominan dalam mengasuh dan mendidik anak yang berpengaruh
terhadap pertumbuhan khususnya status gizi anak. Keluarga nelayan merupakan
keluarga dengan golongan ekonomi dan pendidikan yang rendah, sehingga kurang
optimal dalam asupan nutrisi dan pengasuhan terhadap balitanya untuk memenuhi
kebutuhan tumbuh kembangnya.
Untuk mengetahui hubungan pola asuh ibu dengan status gizi balita pada
keluarga nelayan di Kota Padang dilakukan dengan desain cross-sectional dengan
sampel sebanyak 140 ibu dengan 140 anak berumur 12-60 bulan. Ibu sebagai
responden diwawancarai dengan menggunakan kuesioner. Status gizi balita diukur
dengan indikator berat badan/tinggi badan (BB/TB) dan diinterpretasikan
berdasarkan klasifikasi status gizi dari WHO.
Hasil penelitian menunjukkan 91.4 % balita memiliki status gizi normal,
8.6% balita memiliki status gizi kurang. Berdasarkan pola asuh makan, terbanyak
pada kategori baik (67.1%). Berdasarkan pola asuh kesehatan, terbanyak pada
kategori baik (97.1%). Pola asuh psikososial, terbanyak pada kategori rendah
(51.4%). Terdapat hubungan yang tidak signifikan antara pola asuh makan,
kesehatan, dan psikososial dengan status gizi.
Dari hasil penelitian ini diharapkan ibu mempertahankan dan
meningkatan status gizi anak dan memberi dukungan dalam memenuhi sosialiasi
dan pendidikan balita dengan lintas sektor terkait.
Kata Kunci : Pola asuh, status gizi, balita

DAFTAR ISI

viii

Kata Pengantar.
Abstract
Abstrak
Daftar Isi.........................................................................................................
Daftar Tabel...............................................................................................
Daftar Gambar..............................................................................................
Daftar Singkatan...
Daftar Lampiran...
BAB I

BAB II

iv
vii
viii
ix
xi
xii
xiii
xiv

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................
1.3 Tujuan Penelitian........................................................................
1.3.1 Tujuan Umum................................................................
1.3.2 Tujuan Khusus................................................................
1.4 Manfaat Penelitian......................................................................
1.4.1 Manfaat Teoritis.
1.4.2 Manfaat Praktis..
1.4.3 Manfaat bagi Masyarakat...

1
4
4
4
5
5
5
6
6

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Status Gizi...................................................................................
2.1.1 Pengertian Status Gizi.........................................
2.1.2 Penilaian Status Gizi....................................................
2.2 Faktor - faktor yang Mempengaruhi Status Gizi........................
2.2.1 Faktor Langsung.
2.2.2 Faktor Tidak Langsung...............
2.2.2.1 Ketahanan Pangan di Keluarga................
2.2.2.2 Pelayanan Kesehatan dan Sanitasi Lingkungan.
2.2.2.3 Pola Pengasuhan............................................

7
7
7
19
19
20
20
20
20

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN


3.1 Kerangka Konseptual Penelitian............................................. 31
3.2 Hipotesis Penelitian................................................................. 31
BAB IV METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian...........................................................................
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian......................
4.3 Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel..................
4.2.1 Populasi Penelitian.........................................................
4.2.2 Sampel Penelitian...........................................................
4.2.3 Teknik Pengambilan Sampel..........................................
4.4 Variabel Penelitian......................................................................
4.5 Instrumen Penelitian...................................................................
4.6 Prosedur Pengumpulan Data...................................................
4.6.1 Data Primer....................................................................
4.6.2 Data Sekunder............................
ix

32
32
32
32
32
33
34
37
37
37
39

4.7 Teknik pengolahan dan Analisis Data.... 39


4.7.1 Pengolahan Data............................................................. 39
4.7.2 Analisis Data.................................................................. 39
BAB V

HASIL PENELITIAN
5.1 Gambaran Umum........................................................................
5.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian.
5.1.2 Karakteristik Responden...............
5.1.2.1 Karakteristik Ibu.......................
5.1.2.2 Karakteristik Balita..
5.1.3 Gambaran Pola Asuh Makan....................
5.1.4 Gambaran Pola Asuh Kesehatan..
5.1.5 Gambaran Pola Asuh Psikososial
5.1.6 Status Gizi Anak Usia 1-5 Tahun Berdasarkan Indeks
BB/TB..............................................................................
5.2 Hubungan Pola Asuh dengan Status Gizi Balita

BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Karakteristik Responden.............................................................
6.1.1 Karakteristik Ibu...................................
6.1.2 Karakteristik Balita...
6.2 Status Gizi...
6.3 Pola Asuh................................................
6.3.1 Pola Asuh Makan..
6.3.2 Pola Asuh Kesehatan
6.3.3 Pola Asuh Psikososial...
6.4 Hubungan Pola Asuh dengan Status Gizi Balita...
6.5 Keterbatasan Penelitian..

41
41
42
43
44
45
45
45
45
46
48
48
49
50
51
51
51
52
52
55

BAB VII PENUTUP


10.1 Kesimpulan . 56
10.2 Saran.... 56
DAFTAR PUSTAKA.............

58

LAMPIRAN...

62

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1

Klasifikasi KEP Menurut Gomez..........................................

16

Tabel 1.2

Klasifikasi Status Gizi Menurut Wellcome Trust..................

17

Tabel 1.3

Klasifikasi Status Gizi Menurut Waterlow............................

17

Tabel 1.4

Klasifikasi KEP Menurut Jelliffe........................................... 17

Tabel 1.5

Klasifikasi KEP Menurut Bengoa.........................................

Tabel 1.6

Klasifikasi Status Gizi Menurut Rekomendasi Lokakarya


Antropometri, 1975 serta Puslitbang Gizi, 1978...

Tabel 1.7

18
18

Klasifikasi Menurut Direktorat Bina Gizi Masyarakat


Depkes RI Tahun 1999..

19

Tabel 1.8

Klasifikasi Menurut cara WHO.

19

Tabel 2.1

Pengukuran Makanan Balita.. 25

Tabel 5.1

Distribusi responden ibu berdasarkan karakteristik umur,


pekerjaan, tingkat pendidikan dan jumlah anak

43

Tabel 5.2

Distribusi frekuensi jenis kelamin balita...

44

Tabel 5.3

Distribusi frekuensi umur balita

44

Tabel 5.4

Distribusi frekuensi pola asuh makan....

45

Tabel 5.5

Distribusi frekuensi pola asuh kesehatan... 45

Tabel 5.6

Distribusi frekuensi pola asuh psikososial. 45

Tabel 5.7

Distribusi frekuensi status gizi balita berdasarkan indeks


BB/TB 45

Tabel 5.8

Hubungan pola asuh makan dengan status gizi balita...

46

Tabel 5.9

Hubungan pola asuh kesehatan dengan status gizi balita..

46

Tabel 5.10

Hubungan pola asuh psikososial dengan status gizi balita

47

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Konseptual Model Yang Menentukan Tumbuh Kembang


xi

Anak oleh UNICEF..

DAFTAR SINGKATAN
ASI

= Air Susu Ibu

BB/U

= Berat Badan per Umur


xii

30

BB/TB

= Berat Badan per Tinggi Badan

BGM

= Bawah Garis Merah

HOME

= Home Observation for Measurement of the Environment

IMD

= Inisiasi Menyusu Dini

ISPA

= Infeksi Saluran Nafas Akut

KEP

= Kekurangan Energi Protein

LK

= Lingkar Kepala

LLA/U

= Lingkar Lengan Atas per Umur

MDGs

= Millenium Development Goals

MP-ASI

= Makanan Pendamping Air Susu Ibu

PCM

= Protein Calori Malnutrition

PSG

= Pemantauan Status Gizi

TB/U

= Tinggi Badan per Umur

WHO

= World Health Organization

WHO-NCHS = World Health Organization-National Centre for Health Statistics

DAFTAR LAMPIRAN

xiii

Lampiran 1. Rancangan Tabel Penelitian

62

Lampiran 2. Surat Pernyataan Persetujuan..

65

Lampiran 3. Informed Consent.

66

Lampiran 4. Kuesioner.

67

Lampiran 5. Analisa Data Penelitian.......

78

xiv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah Gizi merupakan salah satu masalah penting yang harus
diperhatikan karena salah satu penyebab kematian pada kelompok risiko tinggi,
yaitu bayi dan balita. Diperkirakan sepertiga dari kematian di antara anak di
bawah usia 5 dikaitkan dengan masalah gizi. Gizi menempatkan anak-anak lebih
berisiko dari kematian dan penyakit parah karena kekurangan gizi melemahkan
sistem kekebalan tubuh sehingga anak mudah terserang infeksi umum, seperti
pneumonia, diare, malaria, HIV/ AIDS dan campak (Unicef, 2013).
Kasus gizi buruk banyak terjadi pada kelompok balita sehingga dikatakan
sebagai kelompok rentan karena pada usia tersebut merupakan masa pertumbuhan
yang pesat di mana memerlukan zat gizi yang optimal. Saat ini masalah kesehatan
dan gizi diprioritaskan untuk kelompok yang rentan yaitu balita karena pada masa
tersebut merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang. Pada masa
ini proses tumbuh kembang berlangsung sangat cepat disebut dengan masa
keemasan (golden age), di mana pada masa ini otak berkembang sangat cepat dan
akan berhenti saat anak berusia tiga tahun. Balita yang sedang mengalami proses
pertumbuhan dengan pesat, memerlukan asupan zat makanan relatif lebih banyak
dengan kualitas yang lebih baik dan bergizi (Sutomo 2010 dalam Adriani, 2011).
Masalah gizi pada balita masih merupakan tantangan yang harus diatasi
dengan serius, diantaranya masalah gizi kurang dan buruk serta balita pendek.
Gizi buruk pada 1000 hari pertama kehidupan anak akan memberikan dampak
yang bersifat irreversible (Unicef, 2013). Dampak masalah gizi pada usia dini
1

berakibat

terganggunya

pertumbuhan

dan

perkembangan

anak

seperti

meningkatnya kematian balita, kecerdasan yang rendah, keterbelakangan mental,


ketidakmampuan berprestasi, produktivitas yang rendah di mana mengakibatkan
rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) (Depkes, 2000).
Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi gizi kurang berdasarkan BB/TB
pada tahun 2013 di lndonesia adalah 5,3 %. Di Sumatera Barat, prevalensi gizi
buruk 0,9% dan gizi kurang 5%. Di kota Padang, berdasarkan data prevalensi
status gizi balita (BB/TB) Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2012, gizi buruk
3,38%, gizi kurang 6,64%, dan gizi lebih 10,99%. Kecamatan Padang Selatan
merupakan kecamatan dengan angka gizi kurang tertinggi di kota Padang, yaitu
9,00%. Kecamatan Padang Selatan merupakan kecamatan yang terletak pada
pemukiman keluarga nelayan.
Rosegrant, et al pada the International Food Policy Food Research
Institute mengatakan terdapat lima faktor yang berhubungan dengan terjadinya
malnutrisi dalam masa kanak-kanak, yaitu asupan energi rata-rata dari makanan,
tingkat pendidikan ibu, ketersediaan air bersih, bagian anggaran total pengeluaran
publik yang ditentukan untuk tujuan sosial (pendidikan, kesehatan), dan
berdomisili di Asia Selatan (Gibney dkk, 2009). Engle, Menon dan Haddad (1997)
menambahkan faktor ketersediaan sumber daya keluarga seperti pendidikan dan
pengetahuan ibu, pendapatan keluarga, pola pengasuhan, sanitasi dan penyehatan
rumah, ketersediaan waktu serta dukungan ayah, sebagai faktor yang
memengaruhi status gizi. Pola pengasuhan turut berkontribusi terhadap status gizi
anak diantaranya pola asuh makan, pola asuh kesehatan dan pola asuh psikososial.
Peran ibu dalam pertumbuhan dan perkembangan anak sangatlah dominan untuk
2

mengasuh dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang menjadi anak yang
berkualitas. Pola asuh yang diterapkan oleh ibu dapat berpengaruh terhadap
pertumbuhan anak khususnya status gizi anak (Zulfadli, 2012).
Santoso (2005), menyatakan bahwa pengasuhan merupakan faktor yang
sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan anak berusia di
bawah lima tahun. Masa anak usia 1-5 tahun (balita) adalah masa dimana anak
masih sangat membutuhkan suplai makanan dan gizi dalam jumlah yang cukup
dan memadai. Kekurangan gizi pada dapat menimbulkan gangguan tumbuh
kembang secara fisik, mental, sosial dan intelektual yang sifatnya menetap dan
terus dibawa sampai anak menjadi dewasa. Pada masa ini juga, anak masih benarbenar tergantung pada perawatan dan pengasuhan oleh ibunya. Pengasuhan
kesehatan dan makanan pada tahun pertama kehidupan sangatlah penting untuk
perkembangan anak.
Dari data Riskesdas 2010 terlihat status gizi pada balita berdasarkan
pekerjaan kepala keluarga dan prevalensi gizi kurang tertinggi adalah pada
keluarga petani, nelayan atau buruh yaitu dengan prevalensi 15,2 %. Kondisi gizi
kurang dapat ditemukan pada setiap kelompok masyarakat dan di setiap sudut
dunia. Namun, keadaan tersebut banyak terdapat pada kelompok kecil di negara
berkembang (Gibney dkk, 2009).
Keluarga nelayan dalam struktur masyarakat Indonesia merupakan lapisan
masyarakat yang menempati posisi terendah dan paling miskin dibandingkan
masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani dan lainnya. Faktor
rendahnya pendidikan, keterampilan, ketiadaan modal menyebabkan nelayan
menjadi kelompok yang semakin terpinggirkan. Hal ini diperkuat oleh temuan
3

Sinaga (1982), Sinaga dan Simatupang (1987) yang menunjukkan bahwa keadaan
sosial ekonomi nelayan pantai di Jawa masih sangat memprihatinkan, pendidikan
sangat rendah, bahkan sekitar 38% nelayan masih buta huruf dan 58% istri
nelayan buta huruf. Karena rendahnya pendidikan ibu dan miskinnya keluarga
nelayan mengakibatkan kurang optimalnya asupan nutrisi dan pengasuhan ibu
terhadap balitanya untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang balita
sebagaimana mestinya (Zid, 2011).
Dari uraian di atas maka penulis tertarik untuk meneliti mengenai
hubungan pola asuh ibu dengan status gizi balita pada keluarga nelayan di kota
Padang.

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, muncul pernyataan berikut :
1. Bagaimana pola asuh balita pada keluarga nelayan di kota Padang?
2. Bagaimana distribusi status gizi balita pada keluarga nelayan di kota
Padang?
3. Bagaimana hubungan pola asuh dengan status gizi balita pada keluarga

nelayan di kota Padang?


1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui hubungan pola asuh dengan status gizi pada keluarga
nelayan di kota Padang.
1.3.2

Tujuan khusus
1. Mengetahui distribusi status gizi balita pada keluarga nelayan
di kota Padang.
2. Mengetahui pola asuh pemberian makanan pada balita pada
keluarga nelayan di kota Padang.
3. Mengetahui pola asuh kesehatan pada balita pada keluarga
nelayan di kota Padang.
4

4. Mengetahui pola asuh stimulasi psikososial pada balita pada


keluarga nelayan di kota Padang.
5. Mengetahui hubungan pola asuh pemberian makanan dengan
status gizi balita pada keluarga nelayan di kota Padang.
6. Mengetahui hubungan pola asuh kesehatan dengan status gizi
balita pada keluarga nelayan di kota Padang.
7. Mengetahui hubungan pola asuh stimulasi psikososial dengan
status gizi balita pada keluarga nelayan di kota Padang.
1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis
Penulis mengharapkan agar hasil penelitian ini dapat memberikan
sumbangan pemikiran khususnya mengenai status gizi balita dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya keluarga nelayan,
dan juga merupakan bahan masukan bagi peneliti yang berminat pada
bahasan yang sama.
1.4.2 Manfaat Praktis
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat menjadikan masukan dan
informasi bagi pelayan kesehatan mengenai status gizi guna perencanaan
peningkatan derajat kesehatan.
1.4.3 Manfaat bagi Masyarakat
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang
status gizi balita pada keluarga nelayan, sehingga masyarakat lebih
meningkatkan pengasuhan kepada anak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Status Gizi


2.1.1 Pengertian Status Gizi
Gizi adalah proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi
secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan,
metabolisme

dan

pengeluaran

zat-zat

yang

tidak

digunakan

untuk

mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ,


seperti menghasilkan energi. Keadaan gizi terlihat dari keseimbangan antara
konsumsi dan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut, atau
keadaan fisiologik akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluler tubuh (Supariasa,
dkk, 2002).

Status gizi seseorang dinilai dengan mengumpulkan informasi mengenai


pasien dari beberapa sumber. Skrinning nutrisi, riwayat kesehatan pasein, temuan
pemeriksaan fisik, dan hasil laboratorium dapat digunakan sebagai informasi
untuk menentukan kemungkinan faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi
pasien (A.C Ross, dkk, 2014).

2.1.2 Penilaian Status Gizi


Untuk menilai status gizi digunakan dua metode penilaian status gizi, yaitu
secara langsung dan tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung dapat
dibagi menjadi empat penilaian, yaitu penilaian antropometri, klinis, biokimia,
dan biofisik. Sedangkan untuk penilaian status gizi secara tidak langsung dapat
dibagi menjadi tiga yaitu survei konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor
ekologi (Supariasa, dkk, 2002).

a. Penilaian Status Gizi Secara Tidak Langsung


1). Survei Konsumsi Makanan
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak
langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.
Pengumpulan data konsumsi makanan dapat memberikan gambaran tentang
konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga, dan individu. Survei ini
dapat mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan zat gizi (Supariasa, dkk, 2002).
2). Statistik Vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data
beberapa kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan
dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan

gizi. Penggunaannya dipertimbangkan sebagai bagian dari indikator tidak


langsung pengukuran status gizi masyarakat (Supariasa, dkk, 2002).
3). Faktor Ekologi
Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor
fisik, biologis, dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat
bergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dan lain-lain.
Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab
malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi
gizi (Supariasa, dkk, 2002).
b. Penilaian Status Gizi Secara Langsung
1). Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi
masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang
dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan
epitel (superficial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral
atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
Penggunaan metode ini umumnya untuk surveiklinis secara cepat. Survei ini
dirancang untuk mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari
kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu digunakan untuk
mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik
yaitu tanda dan gejala atau riwayat penyakit (Supariasa, dkk, 2002).
2). Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji
secara laboratories yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan
tubuh yang digunakan antara lain, darah, urin, tinja dan juga beberapa jaringan
8

tubuh seperti hati dan otot. Metode ini digunakan untuk mendeteksi kemungkinan
akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang
kurang spesifik, maka penentuan kimia faal dapat lebih banyak menolong untuk
menentukan kekurangan gizi yang spesifik (Supariasa, dkk, 2002).

3). Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penetuan status gizi dengan
melihat kemampuan fungsi dan melihat perubahan struktur dari jaringan.
Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja
epidemic (epidemic of night blindness) (Supariasa, dkk, 2002).
4). Antropometri
Antropometri adalah ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi,
maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran
dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
Antropometri digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan
energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi
jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh (Supariasa, dkk,
2002).

c.Pengertian Antropometri
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan
mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh
manusia, antara lain umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar
9

kepala, lingkar dada, lingkar pinggul dan tebal lemak dibawah kulit (Supariasa,
dkk, 2002).

d. Indeks Antropometri
Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi.
Kombinasi dari beberapa parameter disebut Indeks Antropometri (Supariasa, dkk,
2002). Status gizi merupakan bagian dari pertumbuhan anak. Untuk menilai
pertumbuhan fisik anak sering digunakan ukuran-ukuran antropometri yang
dibedakan menjadi 2 kelompok yang meliputi :
a). Tergantung umur
(1). Umur
Umur merupakan parameter yang sangat penting dalam penentuan status gizi.
Kesalahan penentuan umur akan menyababkan kesalahan pada interpretasi status
gizi. Hasil penimbangan berat badan dan tinggi badan menjadi tidak berarti bila
tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Perhitungan umur dihitung
dalam bulan penuh. Ketentuannya 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari
(Depkes 2004 dalam Lestari, 2013)
(2). Berat Badan
Berat badan merupakan hasil peningkatan atau penurunan semua jaringan yang
ada pada tubuh, antara lain tulang, otot, lemak, cairan tubuh, dan lain-lainnya.
Berat badan dipakai sebagai indikator yang terbaik pada saat ini untuk mengetahui
keadaan gizi dan tumbuh kembang anak, sensitif terhadap perubahan sedikit saja,
pengukuran obyektif dan dapat diulangi lagi, dapat digunakan timbangan apa saja
yang relatif murah, mudah dan tidak memerlukan banyak waktu (Soetjiningsih,
1995).
10

(3). Berat Badan Menurut Umur (BB/U)


Berat badan adalah antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal,
keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan gizi
terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya
dalam keadaan abnormal, terdapat 2 kemungkinan perkembangan berat badan,
yaitu dapat berkembang cepat atau lebih lambat dari keadaan normal. Berdasarkan
karakteristik berat badan ini, maka indeks berat badan menurut umur digunakan
sebagai salah satu cara pengukuran status gizi. Mengingat karakteristik berat
badan yang labil, maka indeks BB/U lebih menggambarkan status gizi seseorang
saat ini (current nutritional status) (Supariasa, dkk,2002).
(4). Tinggi Badan
Tinggi badan merupakan ukuran antropometri kedua

yang

terpenting.

Keistimewaannya adalah bahwa ukuran tinggi badan pada masa pertumbuhan


meningkat terus sampai tinggi maksimal dicapai. Walaupun kenaikan tinggi badan
ini berfluktuasi, tinggi badan meningkat pesat pada masa bayi, kemudian
melambat, dan menjadi pesat kembali (pacu tumbuh adolesen), selanjutnya
melambat lagi dan akhirnya berhenti pada umur 18-20 tahun. Keuntungan
indikator TB ini adalah pengukurannya objektif dan dapat diulang, alat dapat
dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa, merupakan indikator yang baik untuk
gangguan pertumbuhan fisik yang sudah lewat (stunting), sebagai perbandingan
terhadap perubahan-perubahan relatif, seperti terhadap berat badan (BB) dan
lingkar lengan atas (LLA). Disamping itu, dibutuhkan 2 macam teknik
pengukuran, pada anak-anak umur kurang dari 2 tahun dengan posisi tidur
terlentang (posisi supinasi) dan pada umur lebih dari 2 tahun dengan posisi
berdiri. Panjang supinasi umumnya 1 cm lebih panjang daripada tinggi berdiri
11

pada anak yang sama meski diukur dengan teknik pengukuran yang terbaik dan
secara cermat (Soetjiningsih, 1995).
(5). Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)
Tinggi badan merupakan antropometri

yang

menggambarkan

keadaan

pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan
pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif
kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu yang pendek.
Pengaruh defisiensi zat gizi teerhadap tinggi badan akan tampak dalam waktu
yang relatif lama. Berdasarkan Beaton dan Bengoa (1973) menyatakan bahwa
indeks TB/U disamping memberikan gambaran status gizi masa lampau, juga
lebih erat kaitannya dengan status sosial-ekonomi (Supariasa, dkk,2002).
(6). Lingkar Lengan Atas (LLA)
Lingkar lengan atas (LLA) mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan
otot yang tidak terpengaruh banyak oleh keadaan cairan tubuh dibandingkan
dengan berat badan. LLA dapat dipakai untuk menilai keadaan gizi/tumbuh
kembang pada kelompok anak prasekolah. Laju tumbuh lambat, dari 11 cm pada
saat lahir menjadi 16 cm pada umur satu tahun. Selanjutnya tidak banyak berubah
selama 1-3 tahun. Keuntungan penggunaan LLA ini adalah alatnya murah, bisa
dibuat sendiri, mudah dibawa, cepat penggunaannya, dan dapat digunakan oleh
tenaga yang tidak terdidik. Sedangkan kerugiannya adalah LLA hanya untuk
identifikasi anak dengan gangguan gizi/pertumbuhan yang berat, sukar
menentukan pertengahan LLA tanpa menekan jaringan, dan hanya untuk anak
umur 1-3 tahun, walaupun ada yang mengatakan dapat untuk anak mulai umur 6
bulan s.d 5 atau 6 tahun (Soetjiningsih, 1995).
(7). Lingkar Lengan Atas Menurut Umur (LLA/U)
Lingkar lengan atas (LLA) berkorelasi dengan indeks BB/U maupun BB/TB.
Lingkar lengan atas seperti berat badan merupakan parameter yang labil, dapat
12

berubah-ubah dengan cepat. Oleh karena itu, lingkar lengan atas merupakan
indeks status gizi saat kini. Namun, indeks lingkar lengan atas sulit digunakan
untuk melihat pertumbuhan anak. Pada usia 2 sampai 5 tahun perubahannya tidak
nampak secara nyata, oleh karena itu lingkar lengan atas banyak digunakan
dengan tujuan skrining individu, tetapi dapat juga digunakan untuk pengukuran
status gizi. Penggunaan lingkar lengan atas sebagai indikator status gizi,
disamping digunakan secara tunggal, juga dalam bentuk kombinasi dengan
parameter lainnya seperti LLA/U dan LLA/TB yang sering disebut Quack Stick
(Supariasa, dkk,2002).
(8). Lingkar Kepala
Lingkar kepala mencerminkan volume intrakranial. Dipakai untuk menaksir
pertumbuhan otak. Apabila tidak tumbuh normal maka kepala akan kecil.
Sehingga pada lingkar kepala (LK) yang lebih kecil dari normal (mikrosefali),
maka menunjukkan adanya retardasi mental. Sebaliknya kalau ada penyumbatan
pada aliran cairan serebrospinal pada hidrosefalus akan meningkatkan volume
kepala, sehingga LK lebih besar dari normal. Sampai saat ini yang dipakai sebagai
acuan untuk LK ini adalah kurve LK dari Nellhaus yang diperoleh dari 14
penelitian di dunia, tidak terdapat perbedaan yang bermakna terhadap suku
bangsa, ras, maupun secara geografi. Sehingga kurva LK Nellhaus (1968) tersebut
dapat digunakan juga di Indonesia (Soetjiningsih, 1995).
b). Tidak tergantung umur
(1). Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)
Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan. Dalam keadaan
normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan
dengan kecepatan tertentu. Jelliffe pada tahun 1966 telah memperkenalkan indeks
ini untuk mengidentifikasi status gizi. Indeks BB/TB merupakan indikator yang
13

baik untuk menilai status gizi saat ini. Indeks BB/TB merupakan indeks yang
independen terhadap umur (Supariasa, dkk,2002).
(2). Lingkar Lengan Atas Terhadap Tinggi Badan (LLA/TB)
Lingkar Lengan Atas Terhadap Tinggi Badan (LLA/TB) disebut juga QUAC Stick
(Quacker Arm Circumference measuring stick) (Soetjiningsih, 1995).
e.Klasifikasi Status Gizi
Dalam menentukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang
disebut reference.

Baku antropometri yang sekarang digunakan di lndonesia

adalah WHO-NCHS. Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Depkes dalam


Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita tahun 1999 menggunakan baku rujukan
World Health Organization- National Centre for Health Statistics (WHO-NCHS).
Pada Loka Karya Antropometri tahun 1975 telah diperkenalkan baku Harvard.
Berdasarkan Semi Loka Antropometri, Ciloto, 1991 telah direkomendasikan
penggunaan baku rujukan WHO-NCHS (Supariasa dkk,2002).
Berdasarkan baku Harvard status gizi dapat dibagi menjadi empat yaitu
a) Gizi lebih untuk overweight, termasuk kegemukan dan obesitas
b) Gizi baik untuk well nourished
c) Gizi kurang untuk underweight yang mencakup mild dan moderate
PCM(protein Calori Malnutrition)
d) Gizi buruk untuk severe PCM, termasuk marasmus, marasmik-kwasiorkor
dan kwashiorkor.
Dibawah ini akan diuraikan beberapa klasifikasi yang umum digunakan adalah
sebagai berikut :
Klasifikasi Gomez (1956)
Baku yang digunakan oleh Gomez adalahbaku rujukan Harvard. Indeks yang
digunakan adalah berat badan menurut umur (BB/U). Sebagai baku patokan

14

digunakan persentil 50. Gomez mengklasifikasikan status gizi atau KEP yaitu
normal, ringan, sedang dan berat.
Tabel 1.1. Klasifikasi KEP Menurut Gomez
Kategori (Derajat KEP)
BB/U (%) *)
0= Normal
>90%
1= Ringan
75-89%
2= Sedang
60-74%
3= Berat
<60%
*) Baku = persentil 50 Harvard

Klasifikasi Kualitatif Menurut Wellcome Trust


Penentuan klasifikasi menurut Wellcome Trust dapat dilakukan dengan mudah.
Hal ini dikarenakan tidak memerlukan pemeriksaan klinis maupun laboratorium.
Penentuan dapat dilakukan oleh tenaga medis setelah diberi latihan yang cukup.
Baku yang digunakan adalah baku Harvard.

Tabel 1.2. Klasifikasi status Gizi Menurut Wellcome Trust


Berat badan % Edema
Tidak Ada
Ada
dari baku *)
>60%
<60%

Gizi Kurang
Marasmus

Kwashiorkor
Marasmus- Kwashiorkor

*) Baku = persentil 50 Harvard

Klasifikasi Menurut Waterlow


Waterlow membedakan antara penyakit KEP yang terjadi akut dan kronis. Beliau
berpendapat bahwa penurunan berat badan terhadap tinggi badan mencerminkan
gangguan gizi yang akut dan menyebabkan keadaan wasting (kurus-kering).
Penurunan yang signifikan menurut umur merupakan akibat kekurangan gizi yang
berlangsung sangat lama. Akibat yang ditimbulkan adalah anak menjadi pendek
(stunting) untuk umurnya.
Tabel 1.3. Klasifikasi status Gizi Menurut Waterlow
Kategori
Stunting
(Tinggi menurut umur)
15

Wasting
(Berat menurut tinggi)

0
1
2
3

>95%
90-95%
85-89%
<85%

>90%
80-90%
70-80%
<70%

Klasifikasi Jelliffe
Indeks yang digunakan oleh Jelliffe adalah berat badan menurut umur.
Pengkategoriannya adalah kategori I,II,III, dan IV.
Tabel 1.4. Klasifikasi KEP menurut Jelliffe
Kategori
BB/U (% baku)
KEP I
80-90
KEP II
70-80
KEP III
60-70
KEP IV
<60

Klasifikasi Bengoa
Bengoa mengklasifikasikan KEP menjadi tiga kategori, yaitu KEP I, KEP II, KEP
III. Indeks yang digunakan adalah berat badan menurut umur.
Tabel 1.5. Klasifikasi KEP menurut Bengoa
Kategori
BB/U (% baku)
KEP I
76-90
KEP II
61-75
KEP III
Semua penderita dengan edema
Klasifikasi Status Gizi menurut Rekomendasi Lokakarya Antropometri,
1975 serta Puslitbang Gizi, 1978
Dalam rekomendasi tersebut digunakan lima macam indeks yaitu : BB/U, TB/U,
LLA/U, BB/TB dan LLA/TB. Baku yang digunakan adalah Harvard. Garis baku
adalah persentil 50 baku Harvard.

16

Tabel 1.6. Klasifikasi Status Gizi menurut Rekomendasi Lokakarya Antropometri,


1975 serta Puslitbang Gizi, 1978
Kategori
BB/U*)
TB/U*)
LLA/U
BB/TB*)
LLA/TB
Baik
80-100
95-100
85-100
90-100
85-100
Kurang
60- <80
85- <95
70- <85
70- <90
75- <85
Buruk**)
<60
<85
<70
<70
<75
*) garis baku adalah persentil 50 baku Harvard
**) Kategori gizi buruk termasuk marasmus, marasmik-kwashiorkor, kwashiorkor

Klasifikasi Menurut Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI Tahun 1999


Dalam buku petunjuk teknis Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita tahun
1999, klasifikasi status gizi dapat diklasifikasikan menjadi 5, yaitu gizi lebih, gizi
baik, gizi sedang, gizi kurang, dan gizi buruk. Buku rujukan yang digunakan
adalah WHO-NCHS, dengan indeks berat badan menurut umur.
Tabel 1.7. Klasifikasi Menurut Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI Tahun
1999
Kategori
Cut of point *)
Gizi lebih
>120% median BB/U baku WHO-NCHS, 1983
Gizi baik
80%-120% median BB/U baku WHO-NCHS, 1983
Gizi sedang
70%-79,9% median BB/U baku WHO-NCHS, 1983
Gizi kurang
60%-69,9% median BB/U baku WHO-NCHS, 1983
Gizi buruk
<60% median BB/U baku WHO-NCHS, 1983
*) Laki-laki dan perempuan sama
Klasifikasi Cara WHO
Pada dasarnya cara penggolongan indeks sama dengan cara Waterlow. Indikator
yang digunakan meliputi BB/TB, BB/U, dan TB/U. Standar yang digunakan
adalah NCHS (National Centre of Health Statistic, USA).
Tabel 1.8. Klasifikasi menurut cara WHO
BB/TB
BB/U
TB/U
Normal
Rendah
Rendah
Normal
Normal
Normal
Normal
Tinggi
Tinggi
Rendah
Rendah
Tinggi
Rendah
Rendah
Normal
Rendah
Normal
Tinggi
17

Status Gizi
Baik, pernah kurang
Baik
Jangkung,masih baik
Buruk
Buruk, kurang
Kurang

Tinggi
Tinggi
Tinggi

Tinggi
Tinggi
Normal

Rendah
Normal
Rendah

Lebih, obesitas
Lebih, tidak obesitas
Lebih,pernah kurang

2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengauhi Status Gizi


2.2.1 Faktor langsung
2.2.1.1 Asupan makanan.
Masalah gizi kurang berkaitan dengan asupan nutrisi. Asupan nutrisi sangat
berkaitan dengan asupan kalori dan asupan protein. Apabila susunan hidangan
memenuhi kebutuhan tubuh, baik dari sudut kualitas maupun kuantitasnya, maka
tubuh akan mendapat kondisi kesehatan gizi dengan sebaik-baiknya. Tingkat
kesehatan gizi sesuai dengan konsumsi pangan, tingkat kesehatan gizi terbaik
adalah kesehatan gizi optimum (Pertiwi J.L, dkk, 2014).
2.2.1.2 Penyakit infeksi.
Penyakit infeksi dapat menyebabkan gizi kurang dan sebaliknya yaitu gizi kurang
akan semakin memperberat sistem pertahanan tubuh yang selanjutnya dapat
menyebabkan seorang anak lebih rentan terkena penyakit infeksi. Penyakit infeksi
yang paling sering menyebabkan gangguan gizi dan sebaliknya adalah infeksi
saluran nafas akut (ISPA) terutama tuberculosis dan diare. Penelitian yang
dilakukan Ferrari et al menyebutkan bahwa faktor risiko gizi buruk pada balita
adalah infeksi saluran nafas atas (lSPA) (lstiono, dkk, 2009).
2.2.2 Faktor tidak langsung
2.2.2.1 Ketahanan pangan di keluarga
Kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota
keluarga dalam jumlah yang cukup dan baik mutunya. Tingkat pengetahuan ibu

18

berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam pemilihan makanan yang pada
akhirnya akan berpengaruh pada keadaan gizi. (lstiono, dkk, 2009)
2.2.2.2 Pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan
Tersedianya air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh
seluruh keluarga. Sistem pelayanan kesehatan yang ada diharapkan dapat
menjamin penyediaan air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang
terjangkau oleh setiap keluarga yang membutuhkan (lstiono,dkk, 2009).
2.2.2.3 Pola Pengasuhan
Pola asuh adalah suatu ketentuan dalam rumah tangga untuk memberikan
waktu untuk bersama, perhatian, dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisik,
mental dan kebutuhan sosial untuk pertumbuhan anak dan anggota keluarga
lainnya. Karakteristik anak ditentukan oleh jenis pengasuhan yang diterima. Cara
interaksi antara ibu dan anak mempengaruhi status gizi dan kesehatan anak.
Sumber daya ibu dalam memberikan pengasuhan yaitu pendidikan, pengetahuan,
dan kepercayaan; kesehatan fisik dan status gizi; kesehatan jiwa dan kepercayaan
diri; ketersediaan waktu dan dukungan sosial masyarakat ( Engle, dkk, 1997).
Kerangka konseptual yang dikemukan oleh UNICEF yang dikembangkan
lebih lanjut oleh Engle et al (1997) menekankan bahwa tiga komponen makanan
kesehatanasuhan merupakan faktor-faktor yang berperan dalam menunjang
pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal. Engle, et al (1997)
mengemukakan bahwa pola asuh meliputi 6 hal yaitu : (1) perhatian / dukungan
ibu terhadap anak, (2) pemberian ASI atau makanan pendamping pada anak, (3)
rangsangan psikososial terhadap anak, (4) persiapan dan penyimpanan makanan,
(5) praktek kebersihan atau higiene dan sanitasi lingkungan dan (6) perawatan
19

balita dalam keadaan sakit seperti pencari pelayanan kesehatan. Secara umum,
pola asuh terdiri atas 3 komponen penting, yaitu pemberian makanan, stimulasi
psikososial dan kesehatan anak.
a. Pemberian makanan pada anak
Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang terdiri atas Asuh, Asih dan
Asah. Asuh merupakan suatu kebutuhan fisik dan biomedis seorang anak, unsur
utama dari Asuh ini adalah pangan atau gizi seorang anak (Soetjiningsih, 1995).
a). Pemberian ASI pada bayi
Air susu ibu (ASI) merupakan makanan bayi berstandar emas yang menjadi
langkah awal dalam pemenuhan hak-hak anak (Maryunani, 2012). Pemberian ASI
secara ekslusif dapat mencegah kematian balita sebanyak 13%. Pemberian
makanan pendamping ASI pada saat dan jumlah yang tepat dapat mencegah
kematian balita sebanyak 6% sehingga pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan
dilanjutkan dengan pemberian ASI sampai >2 tahun bersama makanan
pendamping ASI yang tepat dapat mencegah kematian balita sebanyak 19%
(YAPMEDI FK UI, 2008).
Di bidang kesehatan Ibu dan Anak semakin digalakkan tentang
penatalaksanaan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), ASI Ekslusif dan Manajemen
Laktasi. Cakupan ASI Ekslusif yang ditargetkan dalam Program Pembangunan
Nasional Millenium Development Goals (MDGs) membantu mengurangi
kemiskinan, kelaparan, angka kematian bayi. Pada UU Kesehatan No.36 tahun
2009 pasal 128-200 menjelaskan tentang hak bayi untuk mendapatkan ASI
Ekslusif selama 6 (enam) bulan.
ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garamgaram anorganik yang disekresikan oleh kelenjar mammae ibu, dan berguna
sebagai makanan bayi. Air Susu Ibu Eksklusif (ASI Eksklusif) adalah ASI yang
20

diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa


menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain.
Keseimbangan zat-zat gizi dalam air susu ibu berada pada tingkat terbaik dan air
susunya memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda. ASI juga
sangat kaya akan sari-sari makanan yang mempercepat pertumbuhan sel-sel otak
dan perkembangan sistem saraf (Maryunani, 2012).
ASI memiliki keunggulan dibandingkan makanan bayi lain, yaitu
a) Komposisi ASI sesuai dengan kebutuhan bayi
b) ASI mengandung zat protektif yang dapat memberikan perlindungan
terhadap penyakit
c) ASI mempunyai efek psikologis yang menguntungkan karena terdapat
kontak kulit antara ibu dan bayi ketika menyusui
d) ASI mengurangi kejadian karies dentis dan maloklusi
e) ASI sedikit sekali berhubungan dengan udara luar sehingga kemungkinan
terkontaminas bakteri sangat sedikit.
f) ASI memiliki tempratur yang sama dengan tempratur tubuh bayi
g) ASI relatif tidak merepotkan karena tidak perlu diolah atau dimasak
terlebih dahulu.
Namun,terdapat faktor-faktor yang menghambat pemberian ASI kepada bayi,yaitu
a) Kurangnya pengetahuan ibu terhadap keunggulan ASI dan fisiologi laktasi
b) Kurangnya persiapan fisik dan mental ibu
c) Kurangnya dukungan keluarga
21

d) Kurangnya dukungan dari fasilitas pelayanan kesehatan


e) Kurangnya dukungan lingkungan
b). Penyediaan dan pemberian makan pada anak
Masalah gizi merupakan dampak dari ketidakseimbangan antara asupan
dan keluaran zat gizi (nutritional imbalance), yaitu asupan yang melebihi keluaran
atau sebaliknya, disamping kesalahan dalam memilih bahan makanan untuk di
konsumsi (Arisman, 2010). Pemberian makanan bertujuan untuk mencukupkan
kebutuhan nutrisi anak agar dapat memelihara kesehatan, cepat memulihkan
kondisi jika sakit, melaksanakan pelbagai aktivitas, menjaga pertumbuhan dan
perkembangan fisik serta psikomotor (Widjaja, 2002). Pemberian makan sangat
berperan penting dalam proses pertumbuhan pada anak karena dalam makanan
banyak mengandung gizi. Keadaan gizi ditentukan oleh dua hal pokok yaitu
situasi pangan dan penggunaan pangan secara biologis. Penggunaan biologis
pangan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu mutu pangan tersebut, kondisikondisi kesehatan (ada atau tidaknya infeksi) dan fisiologis dari tubuh anak
(Suhardjo, 1992).
Pada banyak penelitian dilaporkan bahwa kebanyakan anak hanya mau
makan satu jenis makanan selama berminggu-minggu (food jag) (Arisman, 2010).
Namun, pemberian yang beraneka ragam makanan harus dilakukan sejak bayi,
saat bayi masih makan nasi tim, yaitu ketika usia baru enam bulan ke atas, ibu
harus tahu dan mampu menerapkan pola makan sehat (Widjaja, 2002).
Pemberian makanan kepada anak haruslah memberikan makanan yang
bergizi seimbang. Gizi seimbang adalah makanan yang dikonsumsi dalam satu
hari yang beragam dan mengandung zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur

22

sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Susunan hidangan seimbang terdiri dari 3


(tiga) golongan bahan makanan yaitu :
a. Golongan bahan makanan sumber zat pembangun : daging, susu, telur, keju,
b.

ikan,hati ayam, ayam, tahu, kedelai, dan tempe.


Golongan bahan makanan sumber zat pengatur : sayuran berwarna hijau,
bayam, daun katuk, kangkung, kacang panjang, sawi dan sayuran berwarna

c.

jingga dan kuning seperti wortel, tomat, labu.


Golongan makanan sumber tenaga yaitu : beras, kentang, ubi, roti, singkong,

d.

talas, terigu, biskuit, minyak goreng.


Buah-buahan berupa pepaya, nenas, mangga, pisang, dan jambu boleh
diberikan pada bayi (Widjaja, 2002).
Jenis jumlah dan frekuensi makan pada bayi dan anak balita, hendaknya

diatur sesuai dengan perkembangan usia dan kemampuan organ pencernaannya


(Depkes RI dalam Husin CR, 2008).
Tabel 2.1.Pengukuran Makanan Balita
Umur (bulan)
Jenis/bentuk
Porsi Per hari
makanan
0-6 bulan
ASI
Disesuaikan
dengan kebutuhan
ASI diberikan
setiap anak
menangis siang
atau malam hari
makin sering
makin baik
6-9 bulan
ASI
Disesuaikan
dengan kebutuhan
MP-ASI
Makanan Lunak

9-12 bulan

ASI
Makanan Lembik
Makanan Selingan

Frekuensi
Min 6 kali

Min 6 kali

Usia 6 bulan: 6
sendok makan
(setiap kenaikan
usia anak 1
bulan porsi
ditambah 1 sdm)
Disesuaikan
dengan kebutuhan

2 kali

1 piring ukuran
sedang
1 piring ukuran

4-5 kali

23

Min 6 kali

1 kali

1-2 tahun

sedang
Disesuaikan
dengan kebutuhan

ASI
Makanan keluarga

porsi orang
dewasa
Makanan selingan
porsi orang
dewasa
>24 bulan
Makanan Keluarga Disesuaikan
kebutuhan
Makanan Selingan Disesuaikan
kebutuhan
Sumber : Depkes RI dalam Husin CR, 2008

3 kali
2 kali
3 kali
2 kali

Dalam mempersiapkan makanan, kebersihan makanan perlu mendapat


perhatian khusus.Makanan yang kurang bersih dan sudah tercemar dapat
menyebabkan diare atau cacingan pada anak. Begitu juga dengan pembuat
makanan dan peralatan yang dipakai seperti sendok, mangkok, gelas, piring dan
sebagainya sangat menentukan bersih tidaknya makanan.
b. Stimulasi Psikososial pada anak
Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan perkembangan
anak.

Lingkungan

yang

baik

akan

memungkinkan

tercapainya

suatu

perkembangan yang baik, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya.


Lingkungan

ini

merupakan

lingkungan

bio-fisiko-psiko-sosial

yang

mempengaruhi individu mulai dari konsepsi hingga akhir hayat. Lingkungan


tempat anak tumbuh dan berkembang adalah keluarga dan terutama sekali orang
tua. Sikap orang tua memengaruhi cara mereka memperlakukan anak dan
mempengaruhi sikap anak terhadap mereka. Pada dasarnya hubungan orang tua
dan anak tergantung dari sikap orang tua. Dalam buku Tumbuh Kembang Anak,
Soetjiningsih menjelaskan terdapat beberapa faktor psikososial yaitu :

24

1) Stimulasi, anak mendapatkan stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih
cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang dan tidak
mendapatkan stimulasi
2) Motivasi belajar, memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar,
seperti suasana yang tenang, tersedianya buku dan sarana yang lain
3) Ganjaran atau hukuman yang wajar, hukuman yang diberikan harus objektif,
bukan hukuman untuk melampiaskan kebencian terhadap anak
4) Kelompok sebaya, proses sosialisasi dengan lingkungannya

anak

membutuhkan teman sebaya


5) Stress, stress dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak seperti terlambat
bicara, nafsu makan menurun dan sebagainya
6) Cinta dan kasih sayang, merupakan salah satu hak anak untuk dicintai dan
dilindungi sehingga anak memerlukan kasih sayang dan perlakuan yang adil
dari orangtuanya
7) Kualitas interaksi anak dan orang tua merupakan interaksi timbal balik antara
anak dan orang tua akan menimbulkan keakraban dalam keluarga.
c. Kesehatan Anak
Di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, terdapat dua faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan anak, yaitu gizi dan infeksi. Lima penyakit
anak yang sering terjadi di RSCM selama 1967 dan 1971 adalah Gastroenteritis,
defisiensi gizi, Bronkopneumonia, Tetanus, dan Kejang. Penyebab anak mudah
terserang penyakit adalah
1). Kebutuhan gizi dan metabolik yang tinggi dibandingkan dengan
kelompok usia yang lebih tua
2). Sistem imunitas belum terbentuk dengan baik
3). Kebutuhan anak tergantung pada orangtua atau orang dewasa yang
merawatnya.
Untuk menjaga kesehatan anak harus terdapat perhatian dari orang tua,
yaitu dengan cara segera membawa anak yang sakit ketempat pelayanan
kesehatan yang terdekat. Selain itu, untuk mencapai kesehatan anak yang baik,
25

orangtua harus memperhatikan keadaan gizi anak, kelengkapan imunisasinya,


kebersihan diri anak dan lingkungan, dan usaha ibu dalam memberi dan mencari
pertolongan ketika anak sakit.
d. Hubungan Pola Asuh Dengan Status Gizi Balita
Pada bukunya yang berjudul Care And Nutrition Concepts And
Measurement Engle mengatakan bahwa terdapat kaitan antara gizi kurang
dengan 3 faktor seperti pola asuh, nutrisi, dan pelayanan kesehatan dan kesehatan
lingkungan. Engle et al (1997) juga mengatakan terdapat hubungan antara pola
asuh terhadap status gizi seorang anak yang akhirnya akan mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak.
Pola asuh merupakan sebab tidak langsung yang mempengaruhi tumbuh
kembang anak. Engle, et al menjelaskan bahwa Unicef dan Jonsson (1995)
merancang suatu model yang mengkaitkan faktor-faktor yang mempengaruhi
tumbuh kembang anak. Konseptual model UNICEF menjelaskan tentang
kelangsungan hidup anak, pertumbuhan dan perkembangan serta mengidentifikasi
peran pola pengsuhan. Perawatan, ketahanan pangan rumah tangga dan
lingkungan yang sehat mendasari tiga faktor yang menentukan asupan nutrisi dan
kesehatan anak, dan, kelangsungan hidup anak, pertumbuhan, dan pekembangan
anak. Pola pengasuhan mengacu pada praktek-praktek yang dilakukan oleh ibu
yang mempengaruhi asupan gizi, kesehatan, dan pengembangan kognitif dan
psikososial anak.
e. Penelitian Tentang Hubungan Pola Asuh Dengan Status Gizi Balita
Dari studi yang dilakukan oleh Purwati dkk (2012) dikatakan bahwa anak
yang dengan status gizi kurang mendapatkan jenis makanan yang tidak lengkap,
frekuensi makan yang tidak baik, dan pemberian ASI yang kurang baik. Studi
26

yang dilakukan Lubis (2008) didapatkan bahwa perhatian/dukungan ibu terhadap


praktek pemberian makan dan perawatan kesehatan mempunyai hubungan yang
erat dengan status gizi. Linda (2011) melakukan penelitian di kota dan kabupaten
Tanggerang, Banten didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara
pendidikan ayah dan status gizi balita. Penelitian yang dilakukan oleh
Masithah,dkk (2005) didapatkan bahwa pola asuh makan dan pola asuh kesehatan
berhubungan signifikan dengan tingkat kecukupan protein anak batita. Adriani
dkk (2011) melakukan penelitian terhadap balita dengan status gizi bawah garis
merah (BGM) di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalimantan Tengah didapatkan
bahwa sebagian besar orang tua berpendidikan Sekolah Dasar (SD), ibu bekerja
sebagai ibu rumah tangga dan ayah bekerja serabutan atau jualan. Ditinjau dari
kebiasaan makan yang terkait dengan status gizi balita berupa pemberian makanan
selain ASI pada anak usia 06 bulan meliputi madu, air tajin, susu formula, biskuit
bayi, pisang yang dilembutkan, bubur susu, makanan lunak, nasi, sayur, ikan,
telur, daging sapi, jajanan dan camilan, dengan alasan agar anak mau makan dan
tidak menangis. Kejadian tersebut mengakibatkan tidak diterapkannya Inisiasi
Menyusu Dini (IMD) dan ASI ekslusif. Pemberian makanan untuk balita lebih
ditujukan agar balita kenyang dan tidak rewel, tanpa memperhatikan nilai gizi
makanan.

27

Tumbuh Kembang anak

Sebab
Langsung

Intake Makanan

Sebab
Tidak
Langsung

Ketahanan
makanan
keluarga

Kesehatan Anak

Asuhan bagi
Ibu dan
Anak

Pemanfaatan
layanan
kesehatan dan
lingkungan
yang sehat

Pendidikan Keluarga

Keberadaan control
sumber daya keluarga :
manusia, ekonomi dan
organisasi

Superstruktur politik dan ideologi


Sebab Dasar
Struktur Ekonomi

Potensi Sumber daya

Gambar 2.1 Konseptual model yang menentukan tumbuh kembang anak oleh
(UNICEF 1990, Jonsson 1995).Sumber : Engle et al. 1997. Care And Nutrition
Concepts And Measurement.

BAB III
28

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN


3.1 Kerangka Konsep

Perawatan Anak
Pola Asuh

Pemberian
ASI

Penyediaan
dan
pemberian
makanan

Stimulasi
psikososial

Makanan

Kesehatan

Status Gizi Balita

3.2 Hipotesis penelitian


Terdapatnya hubungan positif antara pola asuh dengan status gizi balita pada
keluarga nelayan.

BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
29

Penelitian ini merupakan studi potong lintang (cross sectional) untuk


mengetahui hubungan pola asuh dengan status gizi balita pada keluaga
nelayan di Kota Padang.
4.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada keluaga nelayan di Kota Padang pada bulan
Juni 2014 Januari 2015
4.3 Populasi, Sampel Penelitian dan Teknik Pengambilan Sampel
4.3.1 Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah ibu dan anaknya yang berusia 1-5
4.3.2

tahun pada keluarga nelayan di Kota Padang.


Sampel Penelitian
Besarnya sampel diambil dengan menggunakan rumus sebagai berikut
(Lameshow, 1997) :
n = Z2pq
d2
Maka besar sampel adalah sebesar:
n = (1,96)2.(0,10).(0,90)
(0,05)2
= 0,3457
0,0025
= 138,29ibu = 139 ibu dan anak

Keterangan :
n

: besar sampel

: standar deviasi normal biasanya ditentukan pada 1,96

: proporsi gizi kurang pada balita (10%) (Dinkes Kota Padang, 2012)

: 1,0 - p

: presisi atau ketepatan yang diinginkan (5%)


30

4.3.3

Teknik Pengambilan Sampel


Teknik pengambilan sampel dilakukan secara Consecutive Sampling

dimana semua sampel yang didapat dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan
dalam penelitian sampai jumlah sampel yang diperlukan terpenuhi (Sastroasmoro
S, 2011).
Kriteria inklusi sampel :
1. Bertempat tinggal di lokasi penelitian;
2. Memiliki anak usia 1-5 tahun yang tidak cacat;
3. Ibu bersedia diwawancarai dan menandatangani informed concent.
Kriteria eksklusi sampel :
1. Anak sedang mengalami diare saat dilakukan penelitian (sakit yang
menyebabkan penurunan berat badan);
2. Anak yang mengalami penyakit menahun atau kronis;
3. Ibu yang memiliki gangguan pendengaran atau tuna wicara.

4.4 Variabel Penelitian


1. Status Gizi
Definisi Operasional

: keadaan fisik anak balita yang ditentukan dengan


menggunakan antropometri Berat Badan menurut Tinggi
Badan (BB/TB) kemudian diinterpretasikan dengan
standar WHO-NCHS dengan menggunakan indikator
BB/TB.

Cara ukur
Alat ukur

: penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan.


: 1. Berat badan : timbangan injak dan Timbangan dacin.
31

2. Tinggi badan : mikrotoa dan meteran.


3. Grafik BB/TB WHO-NCHS untuk anak laki-laki
Skala ukur
Hasil ukur

dan perempuan usia 1-5 tahun.


: rasio yang diubah menjadi ordinal
: Normal
: > -2 SD sampai +2 SD
Kurang
: < -2 SD

2. Pola Asuh Pemberian Makan


Definisi Operasional
: gambaran mengenai tindakan ibu dalam memilih
makanan, menyusun menu makanan, memberi makan,
Cara ukur
Alat ukur
Skala ukur
Hasil ukur

serta penyimpanan makanan.


: wawancara
: kuesioner
: ordinal
: diukur berdasarkan jawaban dari kuesioner dengan
menggunakan sistem scoring. Setiap pertanyaan diberi
skor, dengan rincian skor maksimal yaitu 3. Penilaian
kategori menggunakan Skala Guttman, yaitu dengan

kategori :
Pola asuh makan baik, jika skornya 31-45
Pola asuh makan tidak baik, jika skornya 15-30
3. Pola Asuh Stimulasi Psikososial
Definisi Operasional
: perlakuan ibu terhadap anak dalam hal penjagaan dan
pengawasan anak, penyediaan mainan untuk anak dan
Cara ukur
Alat ukur
Skala ukur
Hasil ukur

lain-lain.
: wawancara
: kuesioner
: ordinal
:diukur dengan

menggunakan

instrument

Home

Observation for Measurement of the Environment


(HOME. Masing-masing pertanyaan memiliki nilai 1
untuk jawaban (+) dan nilai 0 untuk jawaban (-).
The Infant-Todler Home (IT-Home) untuk menilai pola
asuh stimulasi psikososial pada anak usia 0-3 tahun.
32

Terdiri

dari

45

pertanyaan.Dari

jawaban

akan

didapatkan.
1. Rendah, bila nilai total 0-25
2. Sedang, bila nilai total 26-36
3. Baik, bila nilai total 37-45
The early childhood HOME (EC-HOME) untuk menilai
pola asuh stimulasi psikososial pada anak usia 3-6
tahun. Terdiri dari 55 pertanyaan. Dari jawaban akan
didapatkan.
1. Rendah, bila nilai total 0-29
2. Sedang, bila nilai total 30-45
3. Baik, bila nilai total 46-55
4. Pola Asuh Kesehatan Anak
Definisi Operasional : tindakan yang dilakukan ibu untuk menjaga kesehatan
anak dalam kebersihan dan lingkungan anak serta
Cara ukur
Alat ukur
Skala ukur
Hasil ukur

pelayanan kesehatan saat anak sakit.


: wawancara
: Kuesioner
: ordinal
: diukur berdasarkan jawaban dari kuesioner dengan
menggunakan sistem scoring. Setiap pertanyaan diberi
skor, dengan rincian skor maksimal yaitu 3. Penilaian
kategori menggunakan Skala Guttman, yaitu dengan
kategori :
Pola asuh kesehatan baik, jika skornya 21-30
Pola asuh kesehatan tidak baik, jika skornya 15-20

4.5 Instrumen Penelitian


Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah
1. Kuesioner HOME untuk menilai pola asuh ibu terhadap anak.
2. Timbangan injak merk OneMed dengan kapasitas maksimal 130 kg
dan ketelitian 0,1 kg untuk pengukuran berat badan anak berusia lebih
dari 24 bulan.Timbangan Dacin dengan kapasitas 25 Kg dan ketelitian
0,1 kg untuk pengukuran berat badan anak usia kecil dari 24 bulan.
33

3. Mikrotoa dengan ketelitian 0,1 cm untuk anak di atas 2 tahun atau


panjang badan lebih dari 85 cm. Meteran dengan ketelitian 1 mm
untuk anak di bawah 2 tahun.
4.6 Prosedur Pengumpulan Data
4.6.1 Data primer
a. Berat Badan
Berat badan anak diukur dengan timbangan bayi dan timbangan injak.
Sebelum menimbang seharusnya timbangan dikalibrasi dengan mengatur
jarum timbangan ke titik nol. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menimbang adalah anak berpakaian seminim mungkin, sebaiknya dilakukan
setelah anak mengosongkan kandung kemih dan sebelum makan, anak berdiri
tenang di tengah timbangan dan kepala menghadap lurus ke depan tanpa
dipegangi.

b. Tinggi Badan
Pengukuran tinggi badan untuk anak balita yang sudah berdiri dilakukan dengan
alat pengukur tinggi (mikrotoa) yang mempunyai ketelitian 0,1 cm. cara
mengukur tinggi anak adalah
- Mikrotoa ditempelkan pada dinding yang lurus dan datar
- Sepatu dan sandal dilepaskan
- Anak berdiri tegak seperti sikap sempurna dengan kaki lurus, tumit, pantat,
punggung, dan kepala bagian belakang menempel pada dinding dan muka
menghadap lurus ke depan
- Mikrotoa diturunkan sampai rapat pada kepala bagian atas kemudian baca
skala yang tampak
Untuk anak yang belum dapat berdiri, digunakan alat pengukur panjang bayi,
dengan cara pengukuran sebagai berikut
- Alat pengukur diletakkan pada meja dan tempat yang datar
34

- Bayi ditidurkan lurus, alat pengukur diletakkan di atas kepala dan bagian
telapak kaki bayi.
- Gunakan meteran untuk mengukur panjang badan bayi, kemudian baca skala
c.

pada sisi alat pengukur.


Pola Asuh
Pengukuran pola asuh dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan
kuesioner yang terdiri dari 3 aspek (pola asuh pemberian makan, stimulasi
psikososial dan perawatan kesehatan anak) terhadap ibu yang memiliki anak
balita usia 1-5 tahun .

4.6.2

Data Sekunder
Data sekunder mencakup gambaran umum lokasi penelitian (demografi,

status gizi balita) yang diambil dari instansi terkait.


4.7 Teknik Pengolahan dan Analisis Data
4.7.1 Pengolahan Data
Langkah-langkah pengolahan data yang dilakukan adalah
a. Editing, yaitu data diperiksa kelengkapan dan kejelasannya terlebih dahulu
a. Coding, yaitu proses pemberian kode pada setiap data variable yang telah
terkumpul yang berguna untuk memudahkan pengolahan selanjutnya;
b. Entry,yaitu memasukkan data ke dalam program Statistical Program for
Social Science (SPSS) secara single entry;
c. Cleaning, yaitu data yang telah dientry, diperiksa kembali untuk
memastikan bahwa data tersebut telah bersih dari kesalahan, baik
kesalahan dalam pengkodean ataupun kesalahan dalam membaca kode.
4.7.2 Analisis Data
Setelah dilakukan pengolahan data, selanjutnya data dianalisis dengan sistem
komputerisasi menggunakan program Statistical Program For Social Science
(SPSS) agar data mempunyai arti yang dapat digunakan untuk memecahkan
masalah penelitian. Analisis data dilakukan bertahap mulai dari analisis univariat
dan bivarvat.

35

1. Univariat
Analisis Univariat dilakukan untuk melihat frekuensi data dan persentase
setiap variable. Data disajikan dalam bentuk table distribusi frekuensi.
2. Bivariat
Analisis Bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara pola asuh
dengan pertumbuhan balita.Analisis bivariat dilakukan dengan uji
statistic chi square. Apabila probabilitas (p) lebih kecil daripada
(p<0,05) berarti ada hubungan yang signifikan antara variaible-variabel
penelitian dengan status gizi balita (Singarimbun, 2008).

BAB V
HASIL PENELITIAN
36

5.1. Gambaran Umum


5.1.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Kota Padang merupakan ibukota Propinsi Sumatera Barat yang
berlokasi di pesisir barat Pulau Sumatera. Berdasarkan PP No. 17 Tahun 1980,
luas Kota Padang adalah 1.414,96 Km2 yang terdiri dari 694,96 Km2 daratan dan
720,0 Km2 lautan dengan jumlah penduduk berjumlah 876.678 orang yang
tersebar di 11 kecamatan atau 103 kelurahan. Kota Padang sebagai ibukota
Propinsi Sumatera Barat terletak pada dataran rendah di pantai barat Pulau
Sumatera. Secara geografis Kota Padang terletak pada 00044'00'' -01'08'' 35'' LS
dan 100 05'05''-100 34' 09'' BT, dengan panjang pantai sepanjang 68.126 km
(Badan Pusat Statistik Kota Padang, 2013).
Secara administrasi lokasi penelitian dilaksanakan di tiga kecamatan, yaitu
Kecamatan Padang Barat, Kecamatan Padang Utara dan Kecamatan Koto Tengah.
Kecamatan Padang Utara memiliki 3 Kelurahan dengan luas wilayahnya
lebih kurang 8,08 Km. Jumlah penduduk di Kecamatan Padang Utara lebih
kurang 70.051 orang. Dua kelurahan di Kecamatan Padang Utara yaitu Kelurahan
Air Tawar Timur dan Ulak Karang Utara terletak di pinggir pantai dan umumnya
penduduk bekerja sebagai nelayan.
Kecamatan Padang Barat memiliki 10 Kelurahan dengan luas wilayah 7
Km. Jumlah penduduk di Kecamatan Padang Barat lebih kurang 45.781 orang.
Kelurahan Purus merupakan salah satu kelurahan di Padang Barat yang terletak di
pinggir pantai Kota Padang.
Kecamatan Koto Tengah memiliki 13 kelurahan dengan luas wilayah lebih
kurang 232,25 Km. Jumlah penduduk di Kecamatan Koto Tengah 232,25 orang.
Penelitian dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya dengan cakupan

37

wilayah yang terdiri dari 6 kelurahan. Penelitian dilakukan di Kelurahan Pasir


Nan Tigo yang terletak di pinggir pantai.
5.1.2. Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini adalah

ibu yang memiliki balita

berusia 12-60 bulan pada keluarga nelayan di Kota Padang.

5.1.2.1.Karakteristik Ibu
Tabel 5.1 Distribusi responden ibu berdasarkan karakteristik umur, pekerjaan,
tingkat pendidikan dan jumlah anak.
Karakteristik
Umur Ibu
- <20
- 20-29
- 30-39
- >40
Pekerjaan Ibu
- Pegawai negeri sipil
- Pegawai swasta
- Wiraswasta
- Pedagang
- Ibu rumah tangga
- Dan lain-lain
Tingkat Pendidikan Ibu
- Tidak sekolah/tidak tamat SD
- Tamat SD/sederajat
- Tamat SLTP/sederajat
- Tamat SLTA/sederajat
- Tamat Akademi/perguruan tinggi
Jumlah Anak
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6

Persentase
2.9%
44.3%
47.9%
5%
0%
0%
2.1%
17.1%
80%
0.7%
4.3%
13.6%
35.7%
44.3%
2.1%
31,4%
32,1%
23,6%
7,9%
3,6%
1.4%
38

Jumlah

a.

100%

Umur ibu
Dari tabel 5.1 dapat disimpulkan bahwa responden ibu yang paling banyak

adalah kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 47,9%. Rata-rata umur ibu adalah
29,9 tahun dengan standar deviasi + 6,14.
b. Pekerjaan ibu
Berdasarkan tabel 5.1 dapat disimpulkan bahwa responden ibu yang paling
banyak adalah ibu rumah tangga sebanyak 80%. Ibu rumah tangga diharapkan
memiliki lebih banyak waktu untuk mengasuh anaknya dibandingkan dengan ibu
yang bekerja.
c. Tingkat pendidikan ibu
Dari tabel 5.1 dapat disimpulkan bahwa mayoritas tingkat pendidikan ibu
sudah baik yaitu tamat SLTA/sederajat sebanyak 44,3%.
d. Jumlah anak
Berdasarkan tabel 5.1 dapat disimpulkan bahwa responden ibu yang paling
banyak memiliki 2 anak sebanyak 32,1% dengan nilai rata-rata 2,24 anak (SD
+ 1,16). Semakin sedikit jumlah anak yang dimiliki ibu diharapkan ibu
memiliki lebih banyak waktu dan perhatian untuk mengasuh anaknya.
5.1.2.2. Karakteristik Balita
a. Jenis Kelamin Balita
Tabel 5.2 distribusi frekuensi jenis kelamin balita
Jenis Kelamin Balita
Frekuensi
Persentase
Laki-Laki
75
53.6 %
Perempuan
65
46.4%
Jumlah
140
100%
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin responden balita
paling banyak ialah laki-laki sebanyak 53.6%.
b. Umur Balita
Tabel 5.3 Distribusi frekuensi umur balita
Umur Balita
Frekuensi
12-23 bulan
39
24-35 bulan
35
36-47 bulan
39
48-60 bulan
27
Jumlah
140
X = 34,1 bulan (SD + 13,5)
39

Persentase
27.9%
25.0%
27.9%
19.3%
100%

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa responden balita yang


paling banyak ialah kelompok umur 12-23 bulan dan 36-47 bulan sebanyak 39%.
Rata-rata umur balita ialah 34,1 (SD + 13,5).
5.1.3. Gambaran Pola Asuh Makan
Tabel 5.4 Distribusi frekuensi pola asuh makan
Pola Asuh Makan
Frekuensi
Tidak baik
46
Baik
94
Jumlah
140

Persentase
32.9%
67.1%
100%

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa pola asuh makan


paling banyak dalam kategori baik sebanyak 67,1%.
5.1.4 Pola Asuh Kesehatan
Tabel 5.5 Distribusi frekuensi pola asuh kesehatan
Pola Asuh Kesehatan
Frekuensi
Tidak baik
4
Baik
136
Jumlah
140

Persentase
2.9%
97.1%
100%

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa pola asuh kesehatan paling
banyak dalam kategori baik sebanyak 97.1%.
5.1.5 Pola asuh Psikososial
Tabel 5.6 Distribusi frekuensi pola asuh psikososial
Pola Asuh Psikososial
Frekuensi
Rendah
72
Sedang
65
Baik
3
Jumlah
140

Persentase
51.4%
46.4%
2.1%
100%

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa pola asuh psikososial paling
banyak dalam kategori rendah sebanyak 51.4%.
5.1.6

Status Gizi Anak Usia 1-5 tahun berdasarkan Indeks BB/TB


Status gizi anak diukur dengan menggunakan indeks BB/TB dengan

standar WHO/NCHS (Z score).


Tabel 5.7 Distribusi frekuensi status gizi anak berdasarkan indeks BB/TB
Status Gizi Balita
Frekuensi
Persentase
Kurang
12
8.6%
Normal
128
91.4%
Jumlah
140
100%
40

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar balita


memiliki status gizi normal. Pada penelitian ini ditemukan balita dengan status
gizi sangat kurang sebanyak 1.4% dan status gizi lebih sebanyak 5%.
5.2 Hubungan Pola Asuh dengan Status Gizi Blita
Tabel 5.8 Hubungan antara pola asuh makan dengan status gizi balita
Pola asuh makan
Jumlah
Status Gizi
p value
Tidak baik
Baik
n
%
N
%
n
%
Kurang
3
25%
9
75% 12
100%
Normal
43 33.6% 85 66.4% 128 100%
0.544
Jumlah
46 32.9% 94 67.1% 140 100%
X2 = 0,367 ; p > 0,05
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa persentase balita dengan pola
asuh makan tidak baik paling banyak pada balita dengan status gizi normal
sebanyak 33,6%. Hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square didapatkan
nilai p=0,544 (p>0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh makan dengan status gizi
balita pada keluarga nelayan di Kota Padang.
Tabel 5.9 Hubungan antara pola asuh kesehatan dengan status gizi balita
Pola asuh kesehatan
Jumlah
Status Gizi
p value
Tidak baik
Baik
n
%
N
%
n
%
Kurang
0
0%
12
100% 12
100%
Normal
4
3.1%
124 96.9% 128 100%
0.534
Jumlah
4 2.9%
136
97.1% 140 100%
X2 = 0,386 ; p > 0,05
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa persentase balita dengan pola
asuh kesehatan tidak baik paling banyak pada balita dengan status gizi normal
sebanyak 3,1%. Hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square didapatkan
nilai p=0,534 (p>0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh kesehatan dengan status gizi
balita pada keluarga nelayan di Kota Padang.
Tabel 5.10 Hubungan antara pola asuh psikososial dengan status gizi balita
Pola Asuh Psikososial
Jumlah
41

Jumlah
72 51.4%
65 46.4% 3
2.1%
140 100%
X2= 0,323; p > 0,05
Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa persentase balita dengan pola
asuh psikososial rendah paling banyak pada balita dengan status gizi normal
sebanyak 51,6%. Hasil uji statistik dengan menggunakan chi-square didapatkan
nilai p=0,851 (p>0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa
tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh psikososial dengan
status gizi balita pada keluarga nelayan di Kota Padang.

BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Karakteristik Responden
6.1.1 Karakteristik Ibu
a. Umur Ibu
Responden ibu paling banyak berada pada kelompok umur 30-39
tahun sebanyak 47,9%. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata umur ibu
sudah cukup dewasa dalam mengasuh anak. Menurut Notoatmodjo
(2003) seseorang yang umurnya lebih tua akan lebih banyak
pengalamannya

sehingga

mempengaruhi
42

pengetahuan

yang

dimilikinya, maka semakin ibu cukup umur akan berpikir semakin


matang dan logis. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Munir
M (2012) adanya hubungan antara usia ibu dengan pola asuhnya
terhadap anak.
b. Pekerjaan Ibu
Responden ibu paling banyak adalah ibu rumah tangga sebanyak
80%. Penelitian yang dilakukan oleh Diana (2004) menunjukkan
bahwa pola asuh anak yang baik lebih tinggi persentasenya pada ibu
yang tidak bekerja dibandingkan dengan ibu yang bekerja. Ibu rumah
tangga memilki lebih banyak waktu dalam mengasuh anak sehingga
dapat menunjang kualitas pengasuhan anak.
c. Tingkat Pendidikan Ibu
Dari segi tingkat pendidikan ibu mayoritas berpendidikan rendah,
yaitu sebesar 53,6% hanya berpendidikan hingga SMP. Cukup tinggi
jika dibandingkan dengan ibu berpendidikan SLTA dan akademi, yaitu
sebesar 46,4%. Rendahnya pendidikan ibu akan mempengaruhi
pengetahuan ibu mengenai pentingnya pola hidup bersih dan sehat dan
pentingnya zat gizi bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Semakin tinggi tingkat pendidikan, ibu memiliki pengetahuan yang
lebih baik dalam mengasuh anak (Engle, 2000).
d. Jumlah Anak
Responden ibu paling banyak memiliki 2 anak sebanyak 32,1%.
Dengan jumlah anak yang sedikit diharapkan ibu lebih fokus dalam
mengasuh anak. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Soetjipto
HP (1989) disimpulkan bahwa semakin sedikit jumlah anak dalam
6.1.2

keluarga maka semakin baik pola asuh orang tua kepada anaknya.
Karakteristik Balita
a. Jenis kelamin balita
43

Dalam penelitian ini responden balita paling banyak ialah bejenis


kelamin laki-laki yaitu sebanyak 53.6%. Penelitian yang dilakukan
oleh Pratiwi (2013) didapatkan responden terbanyak berjenis kelamin
perempuan yaitu sebanyak 51,5%. Penelitian yang dilakukan oleh
Masithah (2005) juga didapatkan responden terbanyak berjenis
kelamin perempuan sebanyak 52,3%.
b. Umur balita
Responden balita paling banyak pada kelompok umur 12-23 bulan
dan 36-47 bulan sebanyak 39%. Hal ini berarti kelompok balita
berumur di atas 36 bulan tidak terlalu rawan terkena penyakit infeksi
dibandingkan balita berumur di bawah 36 bulan. Pada balita usia 12-23
bulan terjadi pertumbuhan cepat pada sel-sel otak sehingga pada usia
dua tahun pertumbuhan sel-sel otak sudah mencapai 80% (Mirayanti,
2012).
6.2 Status Gizi
Status gizi merupakan hasil keseimbangan antara konsumsi zat-zat gizi
dengan kebutuhan gizi untuk berbagai proses biologis dari organisme tersebut.
Apabila dalam keseimbangan normal maka individu tersebut berada dalam
keadaan normal. Terpenuhinya kebutuhan zat gizi ditentukan oleh dua faktor
utama, pertama asupan makanan dan kedua adalah utilisasi biologik zat gizi
(Savitri dalam Munthofiah, 2008).
Berdasarkan tabel 5.7, status gizi balita pada keluarga nelayan di Kota
Padang yang diukur secara antropometri dengan menggunakan indeks BB/TB
yang disesuaikan dengan standar WHO-NCHS didapatkan bahwa 8,6 % balita
dengan status gizi kurang dan 91,4% balita dengan status gizi normal. Hasil ini
lebih tinggi dibandingkan dengan persentase balita dengan status gizi kurang di
44

Indonesia dan Sumatera Barat sebesar 5,3% dan 5,9% (Riskesdas, 2013).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan 67,14% balita di keluarga nelayan tidak
diberikan ASI Eksklusif. Pemberian ASI Eksklusif akan berdampak pada
prtumbuhan dan perkembangan anak pada kemudian hari. Sehingga pemberian
makanan yang kurang tepat dapat menyebabkan terjadinya kekurangan gizi
(Septiana, Djannah, Djamil,2013). Tidak diberikannya ASI Eksklusif pada bayi
dipengaruhi oleh factor pendidikan ibu yang mayoritas berpendidikan rendah
sehingga kurangnya pengetahuan ibu tentang pola makan yang tepat untuk anak.
Gizi dianggap sebagai modal dasar agar anak dapat mengembangkan
potensi genetiknya secara optimal (A Nurul, 2012). Selain itu, status gizi
merupakan indikator penting untuk kesehatan anak. Status gizi merupakan salah
satu faktor risiko terjadinya kesakitan dan kematian (Pratiwi, 2013).
6.3 Pola Asuh
Pola asuh merupakan perilaku dalam rumah tangga atau lingkungan dalam
penyediaan waktu, perhatian dan dukungan untuk kebuuhan fisik, mental, dan
sosial anak dan anggota keluarga lainnya. Pola asuh terbagi tiga, yaitu pola asuh
makan, pola asuh kesehatan, da pola asuh psikososial. Di negara-negara
berkembang pelaku utama pengasuhan bagi bayi dan anak balita dalam rumah
tangga umumnya adalah ibu (Engle, 1997).
6.3.1 Pola Asuh Makan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh makan sebagian besar pada
kategori baik sebesar 67,1%, sedangkan pada kategori tidak baik sebesar 32,9%.
Hal ini dapat disebabkan karena sebagian besar responden ibu adalah ibu rumah
tangga, yaitu sebesar 80%. Sebagian besar responden ibu yang memiliki anak
sebanyak 2 anak sebesar 32,1% sehingga memiliki lebih banyak waktu dan
45

perhatian dalam pengasuhan makan anaknya. Penelitian yang dilakukan oleh


Mashitah (2005) di desa Mulyaharja, Bogor, menunjukkan bahwa paling banyak
pola asuh makan pada kategori sedang sebesar 59,1% sedangkan 37,1% pada
kategori rendah.
6.3.2 Pola Asuh Kesehatan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh kesehatan sebagian besar
pada kategori baik sebesar 97,1%. Sedangkan kategori tidak baik sebesar 2,9%.
Berdasarkan penelitian pada keluarga nelayan di Kota Padang, 70% balita dibawa
ke posyandu setiap bulannya. Pelaksanaan posyandu dilakukan secara rutin setiap
bulannya sehingga membantu pelayanan kesehatan ibu dan balita. Selain itu,
97,85% balita yang datang ke posyandu mendapatkan imunisasi lengkap sesuai
umur. Kesehatan anak harus mendapat perhatian dari orang tua yaitu dengan
segera membawa anak yang sakit ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Balita
sangat rentan terhadap berbagai macam penyakit, seperti infeksi saluran
pernafasan, diare dan campak (Soetjiningsih, 1995).
6.3.3 Pola Asuh Psikososial
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar pola asuh
psikososial berada dalam kategori rendah sebesar 51,4%. Hal ini disebabkan
karena ibu tidak menyediakan mainan dan alat belajar yang tepat sesuai usia anak
di rumah. Masih ditemukan ibu yang menghukum anak lebih dari sekali dalam
seminggu terakhir. Selain itu, keadaan rumah dan lingkungan tempat bermain
anak. Keadaan rumah yang gelap dan monoton serta kurang luasnya rumah
mempengaruhi pola asuh psikososial anak.
6.4 Hubungan Pola Asuh dengan Status Gizi Balita
Berdasarkan hasil tabulasi silang pada tabel 5.8 antara status gizi dengan pola
asuh makan dapat diketahui pada status gizi normal 33,6% dengan pola asuh
46

makan tidak baik, 66,4% dengan pola asuh makan baik. Status gizi kurang 25%
dengan pola asuh makan tidak baik, 75% dengan pola asuh makan baik. Dari
tabulasi silang dengan uji statistik chi-square didapatkan nilai p>0,05 (0,544)
yang berarti tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh makan
dengan status gizi balita. Berdasarkan penelitian yang dilakukan 80% balita mulai
diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI) pada umur 6 bulan. Umur yang paling
tepat untuk memperkenalkan MP-ASI adalah enam bulan, pada usia tersebut air
susu ibu sudah tidak lagi mencukupi kebutuhan bayi untuk tumbuh kembangnya.
Faktor lainnya, cukup baiknya pola asuh makan sebesar 67,1%. Kecukupan
asupan nutrisi anak berperan dalam kebutuhan gizi anak (Supariasa,dkk, 2002).
Hal ini sesuai dengan penelitian Sirajuddin (2013) yang menyatakan bahwa
pemberian pola asuh makan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan
baiknya status gizi anak. Sedangkan pada hasil penelitian Lubis (2008) di
Kabupaten Langkat, Sumatera Utara menunjukkan bahwa praktek pemberian
makan yang baik sangat mendukung tercapainya status gizi anak yang baik. Dan
sebaliknya jika praktek pemberian makan pada anak tidak baik dapat
menyebabkan status gizi anak tidak baik pula.
Berdasarkan tabulasi silang antara status gizi dengan pola asuh kesehatan
pada tabel 5.9 dapat diketahui pada status gizi normal terdapat 96,9% dengan pola
asuh kesehatan baik dan 3,1% dengan pola asuh kesehatan tidak baik. Sedangkan
pada status gizi kurang terdapat 100% dengan pola asuh kesehatan baik. Dari hasil
tabulasi silang dengan uji statistik chi-square nilai p>0,05 (0,534) yang berarti
tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh kesehatan dengan status
gizi balita. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa 70% balita
47

dibawa keposyandu setiap bulannya. Pelaksanaan posyandu dilakukan secara rutin


setiap bulannya sehingga membantu pelayanan kesehatan ibu dan balita. Selain
itu, 97,85% balita yang datang ke posyandu mendapatkan imunisasi lengkap
sesuai umur.
Hal ini sesuai dengan penelitian Cut Ruhana Husin (2008) di Kabupaten
Pidie Provinsi Nangroe Sceh Darussalam tidak ada hubungan yang bermakna
antara pola asuh kesehatan anak dengan status gizi balita. Hal ini menunjukkan
bahwa praktek perawatan kesehatan anak dalam keadaan sakit dengan status gizi
sudah baik. Perawatan kesehatan anak yang baik memberikan makanan yang
bergizi, kelengkapan imunisasi, kebersihan diri anak dan lingkungan dimana anak
berada, serta upaya ibu dalam mencari pengobatan terhadap anak apabila sakit ibu
membawa anak kepelayanan kesehatan seperti kerumah sakit, klinik, puskesmas,
dan polindes. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Ritayani Lubis (2008)
pada balita di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara menyebutkan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan antara pola asuh kesehatan dengan status gizi balita.
Berdasarkan tabulasi silang antara status gizi dengan pola asuh psikososial
pada tabel 5.10 dapat diketahui pada status gizi normal 2,3% pola asuh pskososial
baik, 46,1% pola asuh psikososial sedang dan 51,6% pola asuh psikososial
rendah. Sedangkan pada status gizi kurang, 50% pola asuh psikososial sedang dan
50% pola asuh psikososial rendah. Hasil tabuasi silang dengan uji statistik chisquare menunjukkan bahwa p>0,05 (0,851) yang berarti tidak terdapat hubungan
yang bermakna antara pola asuh psikososial dengan status gizi balita. berdasarkan
penelitian ditemukan 89,28% ibu tidak menyediakan mainan dan alat belajar yang
tepat sesuai usia anak di rumah. Selain itu, masih ditemukan ibu yang
menghukum anak lebih dari sekali dalam seminggu terakhir. Keadaan rumah dan
48

lingkungan tempat bermain anak juga mempengaruhi pola asuh psikososial anak.
Keadaan rumah yang gelap dan monoton serta kurang luasnya rumah banyak
ditemukan pada keluarga nelayan di Kota Padang, yaitu sebanyak 98,57%.
Penelitian yang dilakukan Ritayani Lubis (2008) pada anak balita di
Kabupaten Langkat, Sumatera Utara menunjukkan hasil yang sama yaitu tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara pola asuh psikososial dengan status gizi
balita. Hal ini bertentangan dengan pendapat Engle (1997), rangsangan
psikososial yang baik berkaitan dengan kesehatan anak sehingga secara tidak
langsung dapat mempengaruhi status gizi anak.
1.5 Keterbatasan Penelitian
Beberapa keterbatasan penelitian yang terdapat dalam penelitian ini adalah
1. Penelitian tidak memperhitungkan faktor risiko lainnya yang berhubungan
dengan status gizi balita, seperti faktor ekonomi, sehingga kemungkinan
terjadi bias dalam penelitian ini.
2. Penelitian ini berdesain cross-sectional sehingga menghadapi kelemahan
dalam melihat pengaruh suatu variable dengan variable lain.

49

BAB VII
PENUTUP
7.1. Kesimpulan
Setalah dilakukan penelitian mengenai hubungan pola asuh dengan status gizi
balita pada keluarga nelayan di Kota Padang, maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut :
1. Angka balita dengan status gizi kurang yaitu 8,6%.
2. Pola asuh makan anak balita umumnya termasuk kategori baik
3. Pola asuh kesehatan anak balita terbanyak pada kategori baik
4. Pola asuh psikososial anak balita sebagian besar termasuk kategori rendah
5. Tidak adanya hubungan antara pola asuh makan dengan status gizi balita
pada keluarga nelayan di Kota Padang.
6. Tidak adanya hubungan antara pola asuh kesehatan dengan status gizi
balita pada keluarga nelayan di Kota Padang.
7. Tidak adanyaa hubungan antara pola asuh psikososial dengan status gizi
balita pada keluarga nelayan di Kota Padang.
7.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian maka saran yang dapat diberikan peneliti adalah
1. Anak balita dengan status gizi kurang masih tinggi , oleh karena itu dalam
meningkatkan

status

gizi,

kepada

ibu

diharapkan

untuk

tetap

memperhatikan asupan gizi anak, baik asupan energi maupun protein.


2. Rendahnya pola asuh psikososial pada anak. Sehingga dibutuhkan
dukungan dari orang tua dalam memenuhi sosialiasi dan pendidikan anak
usia dini dengan bekerja sama dengan sektor terkait.
3. Kepada ibu yang sudah menerapkan pola pengasuhan anak seperti praktek
pemberian makan dan praktek kesehatan yang sudah baik diharapkan agar
tetap mempertahankannya.
4. Bagi peneliti selanjutnya agar dapat melanjutkan penelitian pada faktorfaktor yang berhubungan dengan status gizi balita mengingat masih

50

terdapatnya balita dengan status gizi kurang pada keluarga nelayan di


Kota Padang.

DAFTAR PUSTAKA
A Nurul, 2012. Hubungan Antara Perilaku Ibu dalam Pemenuhan Kebutuhan Gizi
dengan Status Gizi Balita di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten
Malang. Jurnal.
A.C Ross, dkk. 2014. Modern Nutrition In Health And Disease 11th Edition.
Lippincot Williams and Wilkins. USA.
51

Adi AC, Andrias DR, 2010. Balita Pada Rumahatangga Miskin Di Kabupaten
Prioritas Kerawanan Pangan Di Indonesia Lebih Rentan Mengalami
Gangguan Gizi. Jurnal. Universitas Airlangga.
Adriani M, Kartika V, 2011.Pola Asuh Makan Pada Balita Dengan Status Gizi
Kurang Di Jawa Timur, Jawa Tengah Dan Kalimantan Tengah,Tahun
2011.
Arisman MB, 2010. Gizi dalam Daur Kehidupan. Penerbit Buku Kedokteran.
Jakarta : ECG.
Ariswandhana YM, 2013. Pola Asuh Orang Tua Pada Keluarga Nelayan
Tradisional Di Dusun Karanganom Kelurahan Karangrejo Kabupaten
Banyuwangi Tahun 2013. Skripsi, Universitas Jember.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Padang, Letak Geografis Kota Padang,
Berbagai Edisi Tahun penerbitan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Padang, Padang dalam Angka, Berbagai Edisi
Tahun penerbitan.
Depkes RI, 2000. Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional tahun 2001-2005,
Jakarta
Diana FM, 2006. Hubungan Pola Asuh dengan Status Gizi Anak. Jurnal
Kesehatan Masyarakat.
Dinas Kesehatan Kota Padang, 2012. Prevalensi Status Gizi Dinas Kesehatan
Kota Padang Tahun 2012. Padang.
Dinas Kesehatan Kota Padang, 2013. Laporan Tahunan Tahun 2013. Padang.
Elizabeth B. Hurlock. 2005. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Engle PL, Bentley M, Pelto G, 2000. The Role of Care in Nutrition Programmers :
Current Research and a Research Ganda. Proceeding of The Nutrition
Society 59 : 25-35.
Engle PL, Menon P, Hadad L, 1997. Care and Nutrition : Concepts and
Measurements. Washington D.C : FCND Discussion Paper No.18.
Gibney M, Margetts B, Kearney J, Arab L. 2009. Gizi Kesehatan Masyarakat
(Public Health Nutrition). Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta : EGC.
Gunarsa S, 2003. Psikologi Perkembangan. Jakarta : PT. BPK Gunung Mulia.
Hasan R, Alatas H, Latief A, Napitupulu PM, Pudjiadi A, Ghazali M.V, Putra ST.
1968. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1. Jakarta : Bagian
Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
52

Husin CR, 2008. Hubungan Pola Asuh Anak dengan Status Gizi Balita Umur 2459 Bulan di Wilayah Terkena Tsunami Kabupaten Pidie Provinsi
Nangroe Aceh Darussalam. Tesis, Universitas Sumatera Utara.
Istiono, dkk, 2009, Berita Kedokteran Masyarakat Vol. 25 : Analisis Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Status Gizi Balita,Yogyakarta : Ilmu Kesehatan
Masyarakat, Fakultas Kedokteran UGM.
Kementrian Kesehatan RI, 2011. Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia : Standar Antropomentri Penilaian Status Gizi Anak,
Jakarta.
Lestari MU, 2013. Hubungan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)
Dengan Status Gizi Anak Usia 1-3 Tahun Di Kota Padang Tahun
2012. Skripsi, UniversitasAndalas.
Linda O, 2011. Hubungan Pendidikan Dan Pekerjaan Orangtua Serta Pola Asuh
Dengan Status Gizi Balita Di Kota Dan Kabupaten Tangerang, Banten.
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Lubis M, 2008. Hubungan Pola Asuh Ibu Dengan Status Gizi Anak Balita di
Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura
Kabupaten Langkat Tahun 2008. Skripsi, Universitas Sumatera Utara.
Maryunani A, 2012. Inisiasi Menyusu Dini, ASI Ekslusif dan Manajemen Laktasi.
Jakarta : CV. Trans Info Media.
Masithah,dkk, 2005. Hubungan Pola Asuh Makan Dan Kesehatan Dengan Status
Gizi Anak Batita Di Desa Mulya Harja, Bogor. Jurnal.
Mirayanti, 2012. Hubungan Pola Asuh Pemenuhan Nutrisi dalam Keluarga
dengan Status Gizi Balita di Kelurahan Pasir Gunung Selatan
Kecamatan Cimanggis Kota Depok. Tesis. Universitas Indonesia.
Muchina EN, PM Waithaka dkk. 2010. Relationship Between Breastfeeding
Practices And Nutritional Status Of Children Aged 0-24 Months In
Nairobi, Kenya. African Scholarly Science Communications Trust
Munir M, Poham VY, Shobirun MN, 2012. Hubungan Antara Pola Asuh Terhadap
Perkembangan Bahasa Anak Usia Toddler (1-3 Tahun) di Desa
Sambiroto Demak.
Munthofiah, 2008. Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap, Dan Perilaku Ibu
Dengan Status Gizi Anak Balita. Tesis. Universitas Sebelas Maret.
Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
53

Pertiwi J.L, dkk, 2014, Hubungan Angka Kecukupan Gizi (Akg) Dan
Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Dengan Status Gizi Balita Di Desa
Cipacing. Jurnal. Universitas Padjadjaran.

Pratiwi T, 2013. Hubungan Pola Asuh Ibu dengan Status Gizi Balita di Wilayah
Kerja Puskesmas Belimbing. Skripsi, Universitas Andalas.
Riskesdas, 2007. Prevalensi Status Gizi Balita Menurut Provinsi. Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Indonesia.
Riskesdas, 2010. Prevalensi Status Gizi Balita Menurut Provinsi. Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Indonesia.
Riskesdas, 2013. Prevalensi Status Gizi Balita Menurut Provinsi. Badan Penelitian
dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Indonesia.
Roedjito D, 1989. Kajian Penelitian Gizi. Jakarta : PT. Mediyatama Sarana
Perkasa.
Sarjulis, 2011. Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Nelayan Tanjung Mutiara
Kabupaten Agam (1970 2009). Skripsi. Universitas Andalas.
Sastroasmoro S, Ismael S. 2011. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.
Jakarta : Sagung Seto.
Septiana, Djannah, Djamil. 2013. Hubungan Antara Pola Pemberian Makanan
Pendamping Asi (Mp-Asi) Dan Status Gizi Balita Usia 6-24 Bulan Di
Wilayah

Kerja

Puskesmas

Gedongtengen Yogyakarta

(Tesis).

Universitas Ahmad Dahlan.


Shochib M, 2000. Pola asuh Orang Tua Untuk Membantu Anak Mengembangkan
Disiplin Diri. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Singarimbun M, Effendi S, 1989. Metode Penelitian Survei. Jakarta : LP3ES.
Sirajuddin, dkk, 2013. Hubungan Pola Asuh Makan Oleh Ibu Bukan Pekerja
Dengan Status Gizi Baduta Di Kecamatan Tongkuno Selatan
Kabupaten Muna. Jurnal. Universitas Hasanuddin.
Smith LC, dkk. 2003. The Importance of womens Status for Child Nutrition in
Developing Countries. Wahington D.C : Emory University.
Soetjiningsih, 1995. Tumbuh Kembang Anak. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta:
EGC.
Soetjiningsih,1997. ASI Petunjuk Untuk Tenaga
Kedokteran, Jakarta : EGC.
54

Kesehatan.

Penerbit Buku

Soetjipto, HP. 1989. Hubungan Antara Jumlah Anak Dalam Keluarga, Persepsi
Pola Asuh Orangtua, dan Kemandirian Siswa Kelas I SMA Negeri
yang Mempunyai Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja di Kotamadya
Yogyakarta. Universitas Gajah Mada.
Supariasa, Bakri B, Fajar I, 2001. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku
Kedokteran, Jakarta : EGC.
Totsika, V, Synia K. 2004. Child and Adolescent Mental Health Volume 9 : The
Home Observation for Measurement of the Environment Revisited.
USA : Departemen of Educational Studies University of Oxford.
Unicef, 2013. Improving Child Nutrition The Achievable Imperative For Global
Progress. USA :www.unicef.org/publications/index.html.
Wenas W, Malonda N, Bolang A, Kapantow N, 2011. Hubungan Antara
Pengetahuan Dan Sikap Ibu Menyusui Dengan Pemberian Air Susu
Ibu Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Tompaso Kecamatan
Tompaso. Jurnal. Universitas Sam Ratulangi Manado .
Widjaja, 2008. Gizi Tepat untuk Pengembangan Otak Dan Kesehatan Balita.
Jakarta : Kawan Pustaka.
YAPMEDI FK UI, 2008. Manfaat ASI dan Menyusui. Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Yusnidaryani, 2009. Pengaruh Pola Asuh terhadap Status Gizi Bayi Pada Keluarga
Miskin dan Keluarga Tidak Miskin di Kabupaten Aceh Utara. Tesis.
Universitas Sumatera Utara.
Zid, 2011. Sosialita Volume 9: Fenomena Strategi Nafkah Keluarga Nelayan:
Adaptasi Ekologis di Cikahuripan-Cisolok, Sukabumi. Jurnal,
Universitas Negeri Jakarta.
Zulfadli, 2012. Pengaruh Pola Asuh Terhadap Status Gizi Anak Balita Di
Kecamatan Suka Makmur Kabupaten Aceh Besar. Tesis. Universitas
Sumatera Utara.
RANCANGAN TABEL PENELITIAN
1.
a.

Karakteristik responden
Karakteristik ibu

Karakteristik
Umur Ibu
- < 20 Tahun
- 20-29
- 30-39
- 40-49
Pekerjaan Ibu
- Pegawai negeri sipil

Persentase

55

- Pegawai negeri swasta


- Wiraswasta
- Pedagang
- Ibu rumah tangga
- Dan lain-lain
Tingkat Pendidikan Ibu
- Tidak sekolah/tidak tamat SD
- Tamat SD/sederajat
- Tamat SLTP/sederajat
- Tamat SLTA/sederajat
- Tamat Akademi/perguruan tinggi
Jumlah Anak
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
Jumlah

b. Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Balita
Laki-laki
Perempuan

Frekuensi

Persentase

Frekuensi

Persentase

Frekuensi

Persentase

Frekuensi

Persentase

Jumlah
c. Umur Balita
Umur Balita
12-23 bulan
24-53 bulan
36-47 bulan
48-60 bulan
Jumlah
2. Gambaran Pola Asuh
a. Pola Asuh Makan
Pola Asuh Makan
Tidak baik
Baik
Jumlah
b. Pola Asuh Kesehatan
Pola Asuh Kesehatan
Tidak baik

56

Baik
Jumlah
c. Pola Asuh Psikososial
Pola Asuh Psikososial
Tidak baik
Baik
Jumlah

Frekuensi

Persentase

Frekuensi

Persentase

3. Status Gizi Balita


Status Gizi Balita
Kurang
Normal
Jumlah

4. Hubungan Pola Asuh dengan Status Gizi Balita


a. hubungan pola asuh makan dengan status gizi balita
Status Gizi

Pola asuh makan


Tidak baik
baik
n
%
n
%

Jumlah
n

Kurang
Normal
Jumlah

p value

b. hubungan pola asuh kesehatan dengan status gizi balita


Status Gizi

Pola asuh kesehatan


Tidak baik
baik
n
%
n
%

Jumlah
n

Kurang
Normal
Jumlah
c. hubungan pola asuh psikososial dengan status gizi balita
Status Gizi

Pola Asuh Psikososial


rendah
sedang
Baik
n
%
n
%
n
%

Kurang
Normal
Jumlah

57

Jumlah
%

p value

p value

PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN


Dengan hormat,
Saya yang bertandatangan dibaw ah ini :
Nama

: Rezi Amalia Putri

No.Bp

: 1110312003
58

Pekerjaan

:Mahasiswa

Pendidikan

Dokter

Fakultas

Kedokteran

Universitas Andalas
Alamat

: Komplek Puri Filano Asri Blok D, No.10 Kubu Dalam


Parak Karakah,, Padang

Akan mengadakan penelitian dengan judul Hubungan Pola Asuh Ibu


Dengan Status Gizi Balita Pada Keluarga Nelayan Di Kota Padang.
Penelitian ini tidak akan merugikan Ibu sebagai responden. Semua
informasi yang diberikan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. Sebagai
bukti ketersediaan Ibu dimohonkan untuk menandatangani lembar persetujuan
yang disediakan.
Demikianlah permohonan ini saya sampaikan, atas ketersediaan dan
kerjasamanya sebagai responden saya ucapkan terimakasih.
Peneliti,

Rezi Amalia Putri


BP. 1110312003

PERNYATAAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN


(Informed Consent)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia untuk


berpartisipasi menjadi responden untuk penelitian yang dilakukan oleh saudara,
Rezi Amalia Putri, Mahasiswa Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
59

Universitas Andalas dengan judul Hubungan Pola Asuh Ibu Dengan Status Gizi
Balita Pada Keluarga Nelayan Di Kota Padang.
Tandatangan saya ini menyatakan bahwa saya bersedia tanpa paksaan dari
pihak manapun menjadi responden.

Padang, ..2015
Responden

(.)

KUISIONER PENELITIAN HUBUNGAN POLA ASUH IBU DENGAN


STATUS GIZI BALITA

Nama Responden
Kecamatan
Desa
Tanggal Pengambilan

:
:
:
:

A. KARAKTERISTIK IBU
1. Nama
:
60

2. Umur
:
3. Alamat
:
4. Pekerjaan utama adalah :
1. Pegawai negeri sipil
2. Pegawai swasta
3. Wiraswasta
4. Pedagang
5. Ibu rumah tangga
6. Dan lain-lain, sebutkan
5. Pendidikan terakhir adalah
:
1. Tidak sekolah/tidak tamat SD
2. Tamat SD/sederajat
3. Tamat SLTP/sederajat
4. Tamat SLTA/sederajat
5. Tamat Akademi/perguruan tinggi
B. KARAKTERISTIK AYAH
6. Nama
:
7. Umur
:
8. Pekerjaan utama adalah :
1. Tidak bekerja
2. Pegawai negeri sipil
3. Pegawai swasta
4. Wiraswasta
5. Nelayan
6. Dan lain-lain, sebutkan
9. Pendidikan terakhir adalah
:
1. Tidak sekolah/tidak tamat SD
2. Tamat SD/sederajat
3. Tamat SLTP/sederajat
4. Tamat SLTA/sederajat
5. Tamat Akademi/perguruan tinggi
C. KARAKTERISTIK BALITA
10. Nama
:
11. Jenis Kelamin
:
12. Tanggal lahir/ umur
:
13. Anak ke : .. dari .. ..bersaudara
14. Berat badan sekarang
: kg
15. Tinggi badan sekarang : cm
D. Pola Asuh Makan
16. Jika anak tidak mau makan apa yang ibu lakukan?
3. Berusaha membujuk
2. Diperiksa
1. Dibiarkan
17. Siapa yang memasak makanan untuk anak?
3. Ibu sendiri
2. Nenek/keluarga
1. Pembantu
61

18. Apakah ibu selalu menemani anak waktu makan?


3. Selalu
2. Kadang-kadang
1. Tidak
19. Apakah bayi baru lahir diberikan ASI saja sampai umur 6 bulan?
3. Ya, selama 6 bulan
2. Ya, <4 bulan
1. Tidak diberikan
20. Sejak umur berapa anak mulai diberikan susu formula/susu kaleng?
3. Sejak usia 6 bulan
2. Sejak lahir
1. Tidak diberikan
21. Sejak umur berapa anak mulai diberikan bubur tepung atau bubur
dicampur dengan pisang?
3. Sejak usia 6 bulan
2. Sejak lahir
1. Tidak diberikan
22. Sejak umur berapa anak mulai diberikan buah, misalnya jeruk,
pepaya?
3. Sejak usia 6 bulan
2. Sejak lahir
1. Tidak diberikan

23. Sejak umur berapa anak mulai diberikan makanan selingan seperti kue,
agar-agar atau kacang hijau?
3. Sejak usia 1 tahun
2. Sejak usia 6 bulan
1. Tidak diberikan
24. Sejak umur berapa anak mulai diberikan makanan padat, seperti nasi?
3. 6 bulan
2. 12 bulan
1. 24 bulan
25. Berapa kali anak diberi makan dalam sehari?
3. 3-4 kali
2. 2 kali
1. 1 kali
26. Apakah pemberian makanan kepada anak dihentikan apabila anak
kenyang, walaupun belum habis?
3. Dihentikan sementara kemudian diteruskan
2. Kadang-kadang
1. Ya, dihentikan
27. Bagaimana porsi makanan anak dari hari ke hari?
3. Semakin hari semakin naik
2. Kadang naik kadang tetap
1. Tetap/menurun
62

28. Apakah makanan anak lebih diutamakan dari anggota keluarga yang
lain?
3. Diutamakan
2. Kadang-kadang
1. Sama saja
29. Kalau anak tidak suka pada menu makanan tertentu, apakah ibu
mengusahakan makanan lain?
3. Ya, mengusahakan makanan lain
2. Kadang-kadang
1. Tidak
30. Apakah makanan anak bervariasi antara pagi sampai sore setiap hari?
3. Ya, bervariasi
2. Kadang-kadang
1. Tidak
E. Pola Asuh Kesehatan
31. Apakah dalam satu bulan terakhir anak ibu mengalami penyakit diare?
2. Tidak
1. Ya
32. Apakah dalam satu bulan terakhir anak ibu mengalami penyakit ISPA?
2. Tidak
1. Ya
33. Jika anak ibu sakit, apakah dibawa berobat?
2. Ya
1. Tidak
34. Jika ya, kemana dibawa berobat, apakah ke pos pelayanan kesehatan
(Puskesmas, Posyandu, dsb)?
2. Ya
1. Tidak
35. Apakah pos pelayanan tersebut jauh dari rumah ibu?
2. Ya
1. Tidak
36. Apakah ibu menggunakan pos pelayanan tersebut untuk berobat?
2. Ya
1. Tidak
37. Menurut ibu, apakah pos pelayanan tersebut memberikan pelayanan
yang baik?
2. Ya
1. Tidak
38. Apakah tenaga pelayanan tersebut memberikan pelayanan yang
memuaskan?
2. Ya
1. Tidak
39. Apakah anak ibu sudah mendapatkan imunisasi?
2. Ya
1. Tidak
63

40. Apakah anak ibu sudah mendapatkan imunisasi sesuai dengan umur?
2. Ya
1. Tidak
41. Bila anak sakit, apa tindakan yang dilakukan ibu?
2. Dibawa ke dokter/tenaga kesehatan
1. Dibiarkan saja
42. Siapa yang membawa anak ke Posyandu?
2. Ibu sendiri
1. Nenek/keluarga/pembantu
43. Apakah anak ibu mempunyai KMS?
2. Ya
1. Tidak
44. Apakah anak ibu mendapatkan PMT (Pemberian Makanan Tambahan)
di Posyandu?
2. Ya
1. Tidak
45. Apakah anak ibu ditimbang setiap bulan?
2. Ya
1. Tidak
F. Pola Asuh Stimulasi Psikososial
Anak Usia 0-3 Tahun
1. Respon Verbal dan emosional terhadap pengasuh
No
1 (O).

Item Pertanyaan (P)/Pengamatan (O)


Apakah ibu secara spontan berbicara/ memanggil bayi
sekurang-kurangnya 2 kali selama pengamatan? (tidak
termasuk caci maki)
2 (O). Apakah ibu menanggapi terhadap bicara/ocehan bayi dengan
suara atau kata-kata?
3. (O). Apakah ibu menyebut nama beberapa barang/benda atau
nama orang yang sedang datang ke rumahnya kepada bayi
selama kunjungan?
4 (O). Apakah bicara ibu jelas dan dapat terdengar dan dipahami?
5 (O). Apakah ibu aktif berbicara selama kunjungan dan tidak
hanya menjawab pertanyaan dengan singkat?
6 (O) Apakah ibu berbicara secara bebas dan terbuka tanpa malumalu atau menutupi sesuatu?
7 (P). Apakah ibu memperbolehkan bayinya bermain-main pada
tempat kotor, seperti di tanah, tempat berair, dan lain-lain?
8 (O). Apakah ibu secara spontan memuji bayinya sekurangkurangnya dua kali selama pengamatan?
9 (O). Apakah ibu memperlihatkan perasaan sayangnya terhadap
anak lewat kata-kata : anak, sayang ?
10(O). Ibu membelai, mengusap atau mencium anak sekurangkurangnya sekali selama pengamatan
64

+/-

11(O). Puji anak si ibu. Perhatikan, apakah ibu menanggapi secara


positif pujian yang diberikan dengan mengatakan : ... benar,
atau . Memang
Subtotal
2. Menerima Terhadap Perilaku Bayi
No
12 (O).
13 (O).

14(O).
15(P).
16(O).
17(O).

18 (P).
19 (P).

Item Pertanyaan (P)/Pengamatan (O)


Apakah ibu pernah berteriak kepada anak selama
pengamatan?
Apakah ibu pernah memperlihatkan kekecewaan kepada
anak, baik dengan kata-kata atau tingkah laku selama
pengamatan?
Apakah ibu pernah memukul atau mencubit anak selama
pengamatan?
Apakah ibu pernah menghukum anak dalam satu dua
minggu terakhir. Bila pernah berapa kali
Apakah ibu pernah memarahi anak baik dengan kata
maupun dengan isyarat selama pengamatan?
Apakah ibu melarang anak bermain sesuka hatinya baik
dengan kata-kata maupun dengan tindakan selama
pengamatan? Bila ada nerapa kali
Apakah ada buku di dalam rumah?
Apakah keluarga memiliki binatang piaraan yang dapat
diajak bermain oleh anak seperti kucing, anjing, dll?
Subtotal

+/-

3. Pengaturan Fisik Lingkungan Bayi


No
20 (P).
21 (P).

22 (P).
23 (P).

24 (P).
25 (P).

Item Pertanyaan (P)/Pengamatan (O)


Apabila ibu pergi meninggalkan anaknya, apakah
anaknya diasuh oleh orang yang sama?
Apakah ibu atau pengasuh lain pernah membawa anak
ke pasar, toko atau warung untuk berbelanja sekurangkurangnya dalam seminggu terakhir?
Apakah anak pernah dibawa pergi meninggalkan rumah
dalam seminggu terakhir?
Apakah anak dibawa secara teratur mengunjungi dokter
atau klinik untuk periksa kesehatan dalam 3 bulan
terakhir?
Apakah ada tempat khusus untuk menyimpan mainan
dan barang-barang berharga milik anak?
Apakah anak-anak bermain pada tempat yang aman dan
65

+/-

bebas dari hal-hal yang berbahaya?


Subtotal

4. Penyediaan Alat Permainan Anak yang Memadai


No.
26 (P)
27 (P).
28 (P).
29 (O).
30 (P).
31 (P).
32 (P).
33 (P).

34 (P).

5.

Item Pertanyaan (P)/Pengamatan (O)


Apakah ada mainan atau alat untuk latihan anak,
seperti bola, kaleng, balok, dll?
Apakah ada mainan yang bisa didorong-dorong atau
ditarik oleh anak seperti mobil-mobilan, keretakeretaan, meja kursi?
Apakah ada mainan atau alat untuk belajar berjalan
anak seperti : mobil-mobilan, sepeda roda tiga, kursi
beroda?
Apakah selama pengamatan ibu menyediakan mainan
untuk anaknya dan mempersilahkan anak bermain
sendiri?
Apakah ibu menyediakan mainan yang tepat sesuai
usia anak, seperti boneka, pasar-pasaran, rumahrumahan, dll?
Apakah ibu menyediakan mainan yang tepat sesuai
usia anak, seperti mobil-mobilan, meja kursi, pensil
mainan, dll?
Apakah ibu menyediakan alat permainan yang
mengkoordinasikan mata-tangan sederhana, seperti
kotak dan penutupnya, gelas mainan dan penutupnya?
Apakah ibu menyediakan alat permainan yang
mengkoordinasikan mata-tangan yang lebih komplek,
dimana ada 3 bagian mainan dapat disatukan, seperti
alat permainan balok-balok atau bangunan?
Apakah ibu menyediakan alat mainan belajar
menggambar, menulis, atau alat music untuk anak?
Subtotal

+/-

Keterlibatan Ibu Dan Bayi

No.
35 (P).
36 (P).
37 (P).
38 (P).
39 (P).

Item Pertanyaan (P)/Pengamatan (O)


Apakah ibu sering mengawasi anak secara langsung
sambil bekerja?
Apakah ibu sering berbicara pada anak sambil
mengerjakan suatu pekerjaan?
Apakah ibu selau memperhatikan dan merangsang
perkembangan anak? Bila ya, contohnya.
Apakah
ibu menyediakan mainan anak untuk
kematangan jiwa bayi?bila ya, contohnya.
Apakah ibu mengatur, kapan anak boleh bermain,
66

+/-

40 (P).

dan kapan tidak boleh bermain?


Apakah ibu menyediakan alat permainan yang baru
untuk menantang keterampilan baru anak
dibanding dengan permainan yang telah ada?
Subtotal

6. Memberikan Kesempatan Stimulasi Bervariasi Setiap Hari


No.
41 (P).
42 (P).
43 (P).
44 (P).
45 (P).

Item Pertanyaan (P)/Pengamatan (O)


Apakah suami ibu ikut mengasuh anak setiap hari
Pernahkah ibu membacakan cerita atau mendongeng
kepada anak?
Apakah anak diajak makan bersama ayah, ibu dan
anggota keluarga lainnya yang dewasa?
Dalam satu bulan terakhir, pernahkah keluarga ibu
mengunjungi famili (yang menginap) atau dikunjungi
famili (yang menginap)
Apakah anak memili buku sendiri?
Subtotal

+/-

Keterangan :
(P) : Pertanyaan
(O) : Pengamatan
Jumlah skor :
0-25 : pola asuh stimulasi psikososial rendah
26-36 : pola asuh stimulasi psikososial sedang
37-45 : pola asuh stimulasi psikososial baik
Anak Usia 3-6 Tahun
1. Permainan dan aktivitas yang yang berhubungan langsung dengan
perkembangan intelektual anak
No.
1.(P)
2.(P)
3.(P)

4.(P)
5.(P)
6.(P)
7.(P)

Item Pertanyaan (P)/Pengamatan (O)


Apakah anak memiliki permainan yang mengajarkan tentang
warna, ukuran dan bentuk?
Apakah anak memiliki tiga atau lebih permainan teka-teki?
Apakah anak memiliki alat pemutar rekaman atau kaset
perekam dan setidaknya memiliki 5 rekaman untuk anakanak?
Apakah anak memiliki permainan yang membuat anak bebas
berekspresi?
Apakah anak memiliki permainan yang membutuhkan
gerakan halus?
Apakah anak memiliki permainan yang membantu anak
untuk belajar berhitung?
Apakah anak memiliki paling sedikit 10 buku anak-anak?
67

+/-

8.(P) Apakah buku tersebut terdapat di rumah?


9.(P) Apakah keluarga membeli dan membaca koran setiap hari
10.(P) Apakah keluarga berlangganan paling kurang 1 (satu)
majalah?
11.(P) Apakah anak didorong untuk mengenal bentuk?
Subtotal
2. Komunikasi verbal antara pengasuh dan anak untuk membantu perkembangan
tatabahasa anak
No.
12.(P)

Item Pertanyaan (P)/Pengamatan (O)


Apakah anak memiliki permainan yang membantu anak
untuk mengenal nama binatang?
13.(P) Apakah anak didorong untuk mengenal huruf alphabet?
14.(P) Apakah orangtua mengajarkan anak menyebutkan tatakrama
seperti terimakasih, maaf, silahkan?
15.(O) Apakah orangtua menggunakan tatabahasa dan ucapan yang
benar?
16.(P) Apakah orangtua mendukung anak untuk berbicara dan
meluangkan waktu untuk mendengarkan?
17.(O) Apakah orangtua menyampaikan sesuatu yang baik kepada
anak?
18.(P) Apakah anak diizinkan untuk memberikan pilihan menu
sarapan pagi atau makan siang?
Subtotal

+/-

3. Keadaan Rumah keluarga


No.
Item Pertanyaan (P)/Pengamatan (O)
19.(O) Apakah bangunan tampak aman dan bebas dari bahaya?
20.(P) Apakah lingkungan bermain anak di luar rumah aman?
21.(O) Apakah interior dalam rumah tidak gelap atau tidak
membosankan?
22.(P) Apakah lingkungan sekitar secara estetika menyenangkan?
23.(P) Apakah rumah mempunyai ruang sebear 30m2 per orang?
24.(O) Apakah rumah tidak terlalu penuh dengan furnitur?
25.(O) Apakah rumah bersih dan hanya sedikit berantakan?
Subtotal

+/-

4. Interaksi verbal antara pengasuh dan anak


No.
26.(P)

Item Pertanyaan (P)/Pengamatan (O)


Apakah orangtua berinteraksi dengan anak selama 10-15
menit setiap hari?
68

+/-

27(O)

Apakah orangtua berinteraksi dengan anak sekurangkurangnya 2 kali selama pengamatan?


28.(P) Apakah orangtua menjawab pertanyaan anak atau
permintaan anak secara verbal?
29.(P) Apakah orangtua sering memberi respon secara verbal
terhadap perkataan anak?
30.(O) Apakah orangtua memuji kualitas anak 2 kali selama
pengamatan?
31.(O) Apakah orang tua membelai, mencium atau memeluk anak
selama pengamatan?
32.(O) Apakah orangtua membantu anak untuk menunjukkan
kepandaian anak selama pengamatan?
Subtotal
5. Dorongan terhadap perkembangan intelektual anak
No.
33.(P)
34.(P)
35.(P)
36.(P)
37.(P)

Item Pertanyaan (P)/Pengamatan (O)


Apakah orangtua mendukung anak untuk belajar mengenal
warna?
Apakah orangtua mendukung anak untuk belajar pola
berbicara?
Apakah orangtua mendukung anak untuk belajar tentang
hubungan tataruang/di mana benda diletakkan?
Apakah orangtua mendukung anak untuk belajar berhitung?
Apakah orangtua mendukung anak untuk belajar membaca
beberapa kata?
Subtotal

+/-

6. Penggunaan batasan-batasan pada hubungan pengasuh dan anak


No.
38.(P)
39.(P)
40.(P)
41.(P)
42.(P)

Item Pertanyaan (P)/Pengamatan (O)


Apakah kepuasan makan yang kurang bagus sudah dapat
diperkirakan?
Apakah TV digunakan dengan bijaksana?
Apakah orangtua memperkenalkan tamu kepada anak?
Apakah anak dapat mengkespresikan perasaan yang tidak
senang tanpa tindakan yang kasar?
Apakah anak dapat memukul orangtuanya tanpa niat buruk?
Subtotal

+/-

7. Kegiatan indoor dan outdoor anak


No.
43.(P)

Item Pertanyaan (P)/Pengamatan (O)


Apakah anak memiliki instrument musik sungguhan atau
mainan ?
69

+/-

44.(P)
45.(P)
46.(P)
47.(P)
48.(P)
49.(P)
50.(P)
51.(P)

Apakah anak dibawa keluar oleh anggota keluarga minimal


setiap akhir minggu?
Apakah anak melakukan perjalanan lebih dari 80 km selama
setahun terakhir?
Apakah anak pernah dibawa ke museum selama satu tahun
terakhir ?
Apakah
orangtua
mendorong
anak
untuk
membersihkan/merapikan mainannya tanpa bantuan?
Apakah orangtua menggunakan struktur kalimat yang
lengkap dan kosa kata yang kompleks?
Apakah karya seni anak dipajang di suatu tempat di dalam
rumah?
Apakah anak memakan sedikitnya satu makanan perhari
bersama ibu dan ayah?
Apakah orangtua membiarkan anak untuk memilih makanan
favorit tertentu atau merk tertentu di toko makanan?
Subtotal

8. Cara pengasuhan disiplin pada anak


No.
Item Pertanyaan (P)/Pengamatan (O)
52.(O) Apakah orangtua memarahi, meneriaki atau merendahkan
anak lebih dari satu kali?
53.(O) Apakah orangtua tidak menghalangi gerak fisik anak selama
pengamatan?
54.(O) Apakah orangtua tidak menampar ataupun memukul anak
selama pengamatan?
55.(P) Apakah tidak ada satupun hukuman fisik yang terjadi selama
satu minggu terakhir?
Subtotal
Keterangan :
(P) : Pertanyaan
(O) : Pengamatan
Jumlah skor :
0-29 : pola asuh stimulasi psikososial rendah
30-45 : pola asuh stimulasi psikososial sedang
46-55 : pola asuh stimulasi psikososial baik

70

+/-

Frequencies
Statistics
N

Valid
Missing

Mean
Median
Mode
Std. Deviation
Minimum
Maximum

Umur Ibu
Jumlah Anak
140
140
0
0
29.97
2.24
30.00
2.00
25a
2
6.146
1.168
17
1
57
6

a. Multiple modes exist. The smallest value is shown

Frequencies
Statistics

Valid
Missing

Pekerjaan Ibu
140
0

Pendidikan
Ibu
140
0

Jumlah Anak
140
0

Pekerjaan
Ayah
140
0

Frequency Table
Pekerjaan Ibu

Valid

Ibu RT
Pedagang
wiraswasta
Dan lain-lain
Total

Frequency
112
24
3
1
140

Percent
80.0
17.1
2.1
.7
100.0

Valid Percent
80.0
17.1
2.1
.7
100.0

Cumulative
Percent
80.7
97.9
100.0
.7

Pendidikan Ibu

Valid

Frequency
3
19
62
1
49
6
140

Tamat Akademi/ Perguruan Tinggi


Tamat SD/sederajat
Tamat SLTA/sederajat
tamat sltp/sederajat
Tamat SLTP/sederajat
Tidak Sekolah/tidak tamat SD
Total

71

Percent
2.1
13.6
44.3
.7
35.0
4.3
100.0

Valid Percent
2.1
13.6
44.3
.7
35.0
4.3
100.0

Cumulative
Percent
2.1
15.7
60.0
60.7
95.7
100.0

Jumlah Anak

Valid

1
2
3
4
5
6
Total

Frequency
44
45
33
11
5
2
140

Percent
31.4
32.1
23.6
7.9
3.6
1.4
100.0

Cumulative
Percent
31.4
63.6
87.1
95.0
98.6
100.0

Valid Percent
31.4
32.1
23.6
7.9
3.6
1.4
100.0

Frequencies
Statistics
N

Valid
Missing

Mean
Median
Mode
Std. Deviation
Minimum
Maximum

Umur (bulan)
140
0
34.12
34.50
13
13.464
12
59

TB (cm)
140
0
85.92
86.00
80a
10.696
60
115

BB (kg)
140
0
11.75
11.40
10a
2.824
6
22

a. Multiple modes exist. The smallest value is shown

Frequencies
Statistics
JK
N

Valid
Missing

140
0

Umur (bulan)
140
0

Gizi
140
0

Pola Asuh
Makan
140
0

Pola Asuh
Kesehatan
140
0

Frequency Table
JK

Valid

Laki-Laki
Perempuan
Total

Frequency
75
65
140

Percent
53.6
46.4
100.0

72

Valid Percent
53.6
46.4
100.0

Cumulative
Percent
53.6
100.0

Pola Asuh
Psikososial
140
0

Umur (bulan)

Valid

12 - 23 bulan
24 - 35 bulan
36 - 47 bulan
48 - 60 bulan
Total

Frequency
39
35
39
27
140

Percent
27.9
25.0
27.9
19.3
100.0

Valid Percent
27.9
25.0
27.9
19.3
100.0

Cumulative
Percent
27.9
52.9
80.7
100.0

Pola Asuh Makan

Valid

Tidak Baik
Baik
Total

Frequency
46
94
140

Percent
32.9
67.1
100.0

Valid Percent
32.9
67.1
100.0

Cumulative
Percent
32.9
100.0

Pola Asuh Kesehatan

Valid

Tidak Baik
Baik
Total

Frequency
4
136
140

Percent
2.9
97.1
100.0

Valid Percent
2.9
97.1
100.0

Cumulative
Percent
2.9
100.0

Pola Asuh Psikososial

Valid

Rendah
Sedang
Baik
Total

Frequency
72
65
3
140

Percent
51.4
46.4
2.1
100.0

73

Valid Percent
51.4
46.4
2.1
100.0

Cumulative
Percent
51.4
97.9
100.0

Frequencies
Statistics
N

Gizi
140
0

Valid
Missing

Status Gizi
140
0

Frequency Table
Gizi

Valid

Normal
Kurus
Total

Frequency
128
12
140

Percent
91.4
8.6
100.0

Valid Percent
91.4
8.6
100.0

Cumulative
Percent
91.4
100.0

Crosstabs
Gizi * Pola Asuh Makan Crosstabulation

Gizi

Normal
Kurus

Total

Count
% within Gizi
Count
% within Gizi
Count
% within Gizi

Pola Asuh Makan


Tidak Baik
Baik
43
85
33.6%
66.4%
3
9
25.0%
75.0%
46
94
32.9%
67.1%

Chi-Square Tests

74

Total
128
100.0%
12
100.0%
140
100.0%

Pearson Chi-Square
Continuity
Correction(a)
Likelihood Ratio

Asymp. Sig.
(2-sided)
.544

.081

.776

.384

.536

Value
.367(b)

Df

Exact Sig.
(2-sided)

Fisher's Exact Test

Exact Sig.
(1-sided)

.751

Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

.365

.400

.546

140
a Computed only for a 2x2 table
b 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.94.

Crosstabs
Case Processing Summary

N
Gizi * Pola Asuh
Kesehatan
Gizi * Pola Asuh
Psikososial

Cases
Missing
N
Percent

Valid
Percent

Kurus
Total

Percent

100.0%

.0%

140

100.0%

140

100.0%

.0%

140

100.0%

Crosstab

Normal

140

Gizi * Pola Asuh Kesehatan

Gizi

Total

Count
% within Gizi
Count
% within Gizi
Count
% within Gizi

Pola Asuh Kesehatan


Tidak Baik
Baik
4
124
3.1%
96.9%
0
12
.0%
100.0%
4
136
2.9%
97.1%

75

Total
128
100.0%
12
100.0%
140
100.0%

Chi-Square Tests

Pearson Chi-Square
Continuity Correctiona
Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

Value
.386b
.000
.728

df
1
1
1

.383

Asymp. Sig.
(2-sided)
.534
1.000
.394

Exact Sig.
(2-sided)

Exact Sig.
(1-sided)

1.000

.696

.536

140

a. Computed only for a 2x2 table


b. 2 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is .
34.

Gizi * Pola Asuh Psikososial


Crosstab

Gizi

Normal
Kurus

Total

Count
% within Gizi
Count
% within Gizi
Count
% within Gizi

Pola Asuh Psikososial


Rendah
Sedang
Baik
66
59
3
51.6%
46.1%
2.3%
6
6
0
50.0%
50.0%
.0%
72
65
3
51.4%
46.4%
2.1%

Chi-Square Tests

Pearson Chi-Square
Likelihood Ratio
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

Value
.323a
.578
.002

2
2

Asymp. Sig.
(2-sided)
.851
.749

.962

df

140

a. 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The


minimum expected count is .26.

76

Total
128
100.0%
12
100.0%
140
100.0%

Frequencies

Statistics

Layanan
Posyandu
140
0
1,30
1,00
1,00
1,00
2,00

Valid
Missing

Mean
Median
Percentiles

25
50
75

Makanan
Padat
140
0
1,93
2,00
2,00
2,00
2,00

Frequency Table

Layanan Posyandu

Valid

Ya
Tidak
Total

Frequency
98
42
140

Percent
70,0
30,0
100,0

Valid Percent
70,0
30,0
100,0

Cumulative
Percent
70,0
100,0

Statistics
MP-ASI
N
Valid
Missing

140
0

MP-ASI

Valid

6 bulan
sejak lahir
tidak diberikan
Total

Frequency
112
19
9
140

Percent
80,0
13,6
6,4
100,0

77

Valid Percent
80,0
13,6
6,4
100,0

Cumulative
Percent
80,0
93,6
100,0

Anda mungkin juga menyukai