Anda di halaman 1dari 22

Negara dan Kebebasan Beragama (Abu Rokhmad)

NEGARA DAN KEBEBASAN BERAGAMA


Perspektif Filsafat Politik Hukum Islam
(Siyasah Syariyyah)
Abu Rokhmad
(Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang)
ABSTRAKSI
Artikel ini mengkaji tentang negara dan kebebasan beragama
perspektif siyasah syariyyah. Secara normatif, kebebasan beragama
dijamin keberadaannya, baik oleh intrumen hukum nasional maupun
internasional.
Sekalipun
demikian,
implementasi
kebebasan
beragama di masyarakat masih banyak menimbulkan problem yang
belum tuntas. Di satu sisi, negara berkewajiban untuk menjamin
kebebasan warga untuk menjalankan agamanya. Di sisi lain,
kebebasan beragama menimbulkan implikasi negatif di masyarakat
yang tidak mudah dipahami. Sebagian masyarakat belum sepakat
tentang definisi dan batas-batas kebebasan beragama. Dalam
masalah agama dan hal-hal yang berhubungan dengannya, peran
negara sesungguhnya diatur secara jelas dalam konstitusi dan
peraturan lainnya yang intinya adalah Negara menjamin kebebasan
warganya untuk menjalankan agama dan kepercayaannya masingmasing. Secara filosofis, jaminan ini adalah komitmen dan janji
agung negara kepada warganya yang wujud konkretnya berupa
disusunnya berbagai peraturan organik dan kesediaan aparatus
negara untuk mengimplementasikan peraturan tersebut. Negara yang
demokratis sama sekali tidak bisa mengekang pikiran-pikiran
warganya dalam menafsirkan pokok-pokok ajaran suatu agama.
Tetapi negara memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga
ketertiban. Apa saja yang memungkinkan suatu tertib hukum dan
sosial terganggu, negara harus hadir dan wajib mencegah dan
menindaknya.
Kata Kunci: Negara, Kebebasan Beragama, Siyasah Syariyyah

295

Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 32, No.2, Juli Desember 2012: 295-316
A. PENDAHULUAN
Peningkatan tuntutan sosial dan global atas realisasi hak Asasi
manusia (HAM) memperlihatkan semakin kuatnya legitimasi politik
HAM sebagai kerangka konseptual, gagasan dan paradigma yang
harus menjadi acuan dalam pencapaian tujuan-tujuan pembangunan
nasional.1 Tuntutan itu semakin tidak bisa ditawar ketika Indonesia
mengklaim diri sebagai negara demokrasi yang harus mengakomodasi
nilai-nilai universal HAM.
Hubungan demokratisasi dan HAM sesungguhnya sangat
nyata. Untuk dapat disebut pemerintahan demokratis, maka sejumlah
elemen HAM khususnya yang menyangkut hak-hak sipil harus ada.
George Soreson misalnya, mengemukakan elemen-elemen dasar
demokrasi; yaitu kompetisi ekstensif, partisipasi politik yang sangat
inklusif dan kebebasan sipil dan politik.2
Jalan demokrasi3 yang telah disepakati untuk dianut oleh
bangsa Indonesia memunculkan banyak implikasi yang membutuhkan
kedewasan berpikir, bersikap dan bertindak segenap rakyatnya. Nilainilai dasar (core values) demokrasi4 yang berhubungan dengan
1
Mulyana W. Kusuma, Menuju Pembangunan Berwawasan HAM, dalam E.
Sobirin Najd dan Naning Mardiniah (ed.), Diseminasi Hak Asasi Manusia: Perspektif dan
Aksi, (Jakarta: Cesda LP3ES, 2000), h. 57.
2
Robert Robinson (ed.), Pathways to Asia: The Politics of Engagement, (New
South Wales: Allen & Unwin Pty. Ltd, 1996), h. 114-5.
3
Demokrasi merupakan suatu terminology yang sarat makna dan tafsir.
Pengertiannya berkait erat (linkage) dengan sistem sosial yang mendukungnya. Selain
memiliki unsur-unsur yang bersifat universal (universal common denominator),
demokrasi juga mengusung unsur-unsur kontekstual (cultural relativism). Dalam
kerangka ini, muncul pelbagai usaha untuk mencari standar demokrasi (standard of
democracy), walaupun diakui bahwa demokrasi sendiri bukanlah suatu kesatuan yang
statis (democracy is not a static entity) dan menunjukkan lebih dari sekedar political
machinary, tapi juga mengandung pandangan hidup (way of life) suatu masyarakat.
Tinggi dan rendahnya standar demokrasi sangat tergantung dari berbagai faktor
pendukung (facilitating conditions) seperti kemajuan sosial-ekonomi, kualitas golongan
menengah, kualitas kepemimpinan atau negara yang berdaulat. Muladi, Menggali
Kembali Pancasila Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Hukum Indonesia, Makalah
dalam Seminar Nasional Menggagas Ilmu Hukum Progressif Indonesia, Kerjasama IAIN
Walisongo dengan PDIH Undip, tanggal 8 Desember 2004.
4
Nilai-nilai dasar demokrasi atau standar demokrasi universal (disebut pula
indeks demokrasi/ indices democracy) merupakan sarana untuk melakukan democratic
audit melalui the key auditing tool yang terdiri atas 30 (tiga puluh) pertanyaan dan
dapat dikelompokan menjadi 4 (empat) dimensi, yaitu: (a) free and fair elections
(Pemilihan Umum yang jujur dan adil); (b) open, accountable and responsive
goverment (pemerintahan yang terbuka, akuntabel dan responsif); (c) civil and political

296

Negara dan Kebebasan Beragama (Abu Rokhmad)


promosi dan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) misalnya,
memiliki implikasi ikutan yang tidak mudah diterapkan di masyarakat.
Contoh soal tentang kebebasan (berekspresi, menyampaikan
pendapat, berkeyakinan dan seterusnya) yang disandarkan pada
demokrasi dan HAM, tentulah tidak sama dengan berpikir dan
bersikap semaunya dan suka-suka sendiri. Implementasi kebebasan
sebagai bagian kecil dari nilai HAM semakin tidak mudah diwujudkan
di semua tempat karena perbedaan geografis, kultur, agama,
pendidikan, dan mungkin juga politik.
Setidaknya ada dua masalah filosofis terkait dengan HAM yang
perlu dijelaskan. Pertama, apakah benar keseluruhan konsep HAM
hanya ditujukan sebagai perlindungan warga terhadap kekuasaan
negara (maksudnya: pelanggaran HAM oleh negara kepada rakyat),
ataukah juga terhadap kemungkinan pelanggaran oleh sesama
individu di dalam masyarakat? Kedua, apakah HAM yang pada
hakekatnya bertujuan untuk melindungi hak perorangan tersebut
tidak mengharuskan adanya kewajiban bagi penyandang hak untuk
juga menghormati hak orang lain serta masyarakat sekitarnya?5
Pertanyaan filosofis di atas menempatkan negara pada dua
posisi sekaligus; (1) negara dapat menjadi pelaku pelanggaran HAM;
dan (2) negara wajib melindungi warga negara yang hak-haknya
dirampas atau diganggu oleh penyandang hak lainnya. Padahal
perbedaan atau persamaan antara melanggar dan melindungi
tersebut setipis benang dan sangat tergantung dari konteks dan motif
yang diinginkan. Atas nama melindungi kepentingan sebagian warga,
negara dapat menginjak HAM milik sebagian warga lainnya.
Keyakinan keagamaan kelompok Lia Eden Aminuddin
misalnya, dituduh melakukan penodaan agama oleh negara dan
divonis 2 tahun penjara karena melanggar KUHP pasal 156a. Hal ini
merupakan contoh betapa melanggar dan melindungi kebebasan
beragama dan berkeyakinan sangat problematis penerapannya.6
rights (promosi dan perlindungan HAM, khususnya hak-hak sipil dan politik); dan (d)
democratic society (adanya masyarakat yang demokratik). Muladi, Demokratisasi, Hak
Asasi Manusia dan Reformasi Hukum di Indonesia ( Jakarta: The Habibie Center, 2002),
h. 79.
5

h. 10.

Saafroedin Bahar, Konteks Kenegaraan HAM, (Jakarta: Sinar Harapan, 2002),

6
Untuk sebagian dari itu, negara perlu mengawasi aliran-aliran kepercayaan,
gerakan sempalan yang dianggap dapat mengganggu ketertiban dan keamanan. Tugas
mengawasi ini diformalkan dengan
nama PAKEM (Pengawas Aliran Kepercayaan
Masyarakat) di bawah lembaga kejaksaan di seluruh wilayah Indonesia.

297

Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 32, No.2, Juli Desember 2012: 295-316
Setiap pihak dapat menafsirkan sendiri HAM-nya yang kemungkinan
besar dapat bersinggungan dengan HAM milik orang lain. Kebebasan
beragama sebagai HAM-nya Lia Eden, telah mengganggu ketertiban
yang menjadi HAM-nya (menodai ajaran) umat agama lain. Inilah
dilema filosofis dan praktis yang perlu dikaji lebih serius supaya
penggunaan atas nama HAM dan demokrasi untuk kebebasan
beragama dan berkeyakinan tidak dilakukan secara anarkis dan
sewenang-wenang. Bagaimanakah sejatinya kebebasan beragama itu?
B. PEMBAHASAN
1. Norma Kebebasan Beragama
Secara normatif, kebebasan beragama dijamin oleh konvensi
internasional dalam Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM/ The
Universal Declaration of Human Rights). Deklarasi ini terdiri dari 30
pasal dan memuat bermacam-macam hak yang dapat dikategorikan
ke dalam: hak personal, hak legal, hak sipil, hak politik, hak
subsistensi, hak ekonomi, hak sosial dan hak kultural. Pasal 2 DUHAM
menegaskan bahwa diskriminasi7 atas dasar agama tidak dibenarkan.
Beragama atau tidak beragama, menafsirkan dan meyakini apa yang
dianggap benar merupakan bagian HAM seseorang yang harus
dihormati.
Tuntutan
untuk
menjamin
kebebasan
beragama dan
berkeyakinan juga menjadi tuntutan international seperti dalam
International Covenant on Civil and Political Rights (ICPPR). Indonesia
sudah meratifikasi tentang ICCPR melalui Undang-Undang No. 12
Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and
Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan
Politik). Dengan ratifikasi itu, maka Indonesia menjadi Negara Pihak
(State Parties) yang terikat dengan isi ICCPR.
Kovenan tersebut menetapkan hak setiap orang atas
kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama serta perlindungan
atas hak-hak tersebut (Pasal 18); hak orang untuk mempunyai
7
Dalam pasal 1c UU No. 39 Tahun 1999 dijelaskan bahwa diskriminasi adalah
setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung maupun tak langsung
didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar suku, ras, etnis, kelompok, golongan,
status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik yang berakibat
pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau
penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual
maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya dan aspek
kehidupan lainnya.

298

Negara dan Kebebasan Beragama (Abu Rokhmad)


pendapat tanpa campur tangan pihak lain dan hak atas kebebasan
untuk menyatakan pendapat (Pasal 19); dan tindakan untuk
melindungi golongan etnis, agama, atau bahasa minoritas yang
mungkin ada di negara pihak (Pasal 27).
Dalam UUD Republik Indonesia, jaminan perlindungan
kebebasan beragama untuk warga negara dapat dilihat pada Pasal 28
(e) ayat 1 dan 2:
1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut
agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih
pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di
wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali;
2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan,
menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
Hal tersebut ditegaskan lagi dalam pasal 29 (1) UUD RI:
"Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.", dan (2) "Negara
menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan
kepercayaanya itu."
Dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
memberikan landasan normatif bahwa agama dan keyakinan
merupakan hak dasar manusia yang tidak bisa ditawar. Dalam pasal
22 ditegaskan:
1) Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu;
2) Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya
masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan
kepercayaannya itu.
Dalam pasal 8 juga ditegaskan bahwa Perlindungan,
pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia menjadi
tanggung jawab negara, terutama pemerintah.
Kebebasan beragama dan berkeyakinan yang dijamin
keberadaannya oleh konvensi internasional maupun perangkat hukum
nasional, tidak serta merta membuat semua persoalan yang
menyangkut kebebasan beragama dan berkeyakinan selesai.
Setidaknya ada banyak faktor yang membuat implementasi jaminan
kebebasan beragama tidak mudah dilakukan;
Pertama, perbedaan definisi tentang apa yang dimaksud
dengan kebebasan beragama dan keyakinan itu? Jika yang dimaksud

299

Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 32, No.2, Juli Desember 2012: 295-316
adalah kebebasan untuk memeluk atau tidak memeluk suatu agama
tertentu, hemat saya tidak menjadi masalah. Jika yang dimaksud
adalah kebebasan untuk membuat agama baru dan meyakininya
sebagai agama yang benar, hemat saya juga tidak masalah.
Yang menjadi problem adalah jika kebebasan beragama yang
dimaksud dilakukan secara anarkis tanpa memperhatikan koridor ilmu
penganut agama yang dianut oleh mayoritas pemeluk agama
tersebut. Misalnya, seorang pemeluk agama Islam menafsirkan diri
dan mengakui sebagai malaikat, atau imam Mahdi atau mengaku
sebagai Rasulullah. Sementara menurut mayoritas umat Islam (yang
bersumber dari ketentuan normatif al-Quran dan al-Hadits) meyakini
tidak mungkin ada malaikat yang turun ke bumi menjelma sebagai
manusia atau setelah Nabi Muhammad Saw tidak ada lagi Rasul yang
turun ke dunia.
Apa yang dianggap sebagai HAM-nya orang yang mengaku
sebagai rasul, adalah penodaan terhadap kesucian ajaran suatu
agama. Oleh karena itu, pelakunya dianggap telah menodai dan
menyebarkan
ajaran-ajaran
yang
menyimpang
dari
ajaran
mainstream. Penyebaran ajaran yang dianggap sesat akan
menimbulkan kerawanan sosial dan menganggu ketertiban umum.
Jika kebebasan beragama dan berkeyakinan telah menimbulkan
ketidakketertiban (disorder) masyarakat, maka negara berkewajiban
mengharmoniskan kembali, misalnya melalui penegakan hukum.
Kedua, perbedaan definisi tentang apa yang dimaksud dengan
HAM. Apakah HAM identik dengan kebebasan sebebas-bebasnya,
sehingga setiap orang bebas dan berhak mengaku sebagai tuhan,
rasul dan nabi yang sedang menyampaikan risalah kepada manusia.
Kebebasan beragama yang diyakini seperti ini adalah bagian dari HAM
yang anarkis; identik dengan kehidupan di rimba raya. Padahal,
masyarakat yang lain juga memiliki HAM yang perlu dihormati pula.
Menafsirkan doktrin ajaran agama secara anarkis tanpa
melihat rambu-rambu ilmu, hukum dan sosial juga berpotensi
menimbulkan benturan antar masyarakat. Menafsirkan tentang ajaran
jihad dan menyimpulkan bahwa semua orang yang menentang Islam
dicap sebagai kafir dan boleh dibunuh di manapun mereka berada,
adalah HAM bagi yang meyakininya. Tetapi keyakinan seperti ini pasti
berbenturan dengan keyakinan bagi orang lain yang menjadi HAMnya. Benturan ide, negara tidak berwenang untuk melerainya. Tapi
benturan ide yang menjurus pada meresahkan masyarakat, akan
mengundang negara untuk hadir menertibkannya.

300

Negara dan Kebebasan Beragama (Abu Rokhmad)


Ketiga, apa yang dimaksud dengan melindungi HAM sama saja
artinya dengan melanggar sebagian HAM milik orang lain. Batas-batas
HAM yang dimiliki setiap orang adalah ketika kebebasan beragama
dan keyakinannya telah membuat orang lain (yang seagama
dengannya) merasa tidak nyaman dan terganggu karenanya. Oleh
karena itu, dalam HAM dan juga demokrasi, setiap orang harus berani
mengorbankan HAM dirinya untuk menghormati HAM orang lain.
Dengan cara ini, kehidupan sosial yang harmonis akan tercapai.
Setiap orang bisa merasa ternodai jika ajaran agama yang
diyakini ditafsirkan secara radikal dan anarkis oleh orang lain. Sebab,
kebebasan berpikir bagi dirinya, bisa jadi adalah penodaan dan
penistaan bagi orang lain. Sesuatu yang sangat logis untuk
dimengerti. Oleh karena itu, bagi pengamal kebebasan beragama,
hargai pula HAM milik orang lain agar tidak dicap sebagai penoda dan
penista agama.
2. Penodaan dan Delik Agama
Kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah bagian dari
demokrasi dan HAM yang harus dihormati. Agar kebebasan beragama
tidak berlangsung secara anarkis, maka perlu diadakan peraturan
yang menjamin pelaksanaan kebebasan beragama dapat berlangsung
secara tertib. Di sini peran negara diundang, ketika kebebasan
beragama menjadi masalah sosial di ranah publik.
Peran negara ini diamanatkan pada Pasal 29 (2) UUD RI yang
menegaskan bahwa "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk
beribadat menurut agama dan kepercayaanya itu." Dalam UU No. 39
Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 8 juga ditegaskan
bahwa Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak
asasi manusia menjadi tanggung jawab negara,
terutama
pemerintah. Mafhum mukhalafah dari pasal ini dapat berarti negara
menjamin agar kemerdekaan dan kebebasan beragama itu berjalan
secara baik, saling hormat-menghormati dan tidak menimbulkan
persoalan di masyarakat.
Atas dasar ini, negara merasa perlu untuk mengatur masalah
delik8 agama dalam suatu undang-undang, misalnya dalam KUHP.
8
Delik (delict, actus reus) atau tindak pidana (criminal act) atau perbuatan
pidana adalah perbuatan atau tindakan yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan
diancam dengan pidana bagi barangsiapa (orang atau badan hukum) yang melanggar

301

Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 32, No.2, Juli Desember 2012: 295-316
Istilah delik agama pertama kali dikenalkan oleh Oemar Seno Adji,
dan memang dapat menimbulkan kebingungan karena mengandung
beberapa pengertian: a) delik menurut agama; b) delik terhadap
agama; c) delik yang berhubungan dengan agama. Prof. Oemar Seno
Adji seperti dikutip Barda Nawawi Arief menyebutkan bahwa delik
agama hanya mencakup delik terhadap agama dan delik yang
berhubungan dengan agama.9
Berbeda dengan yang di atas, Surat Kejaksaan Agung RI No.
B-1177/D.1/101982 tanggal 30 Oktober 1982 tentang Tindak Pidana
Agama dala UU No. 1/PNPS/1965 menyebut istilah delik
penyelewengan agama dan delik antiagama. Penyelewengan agama
berarti perbuatan menafsirkan atau melakukan kegiatan keagamaan
yang
menyimpang
dari
pokok-pokok
ajaran
agama
yang
bersangkutan. Sedangkan dalam delik antiagama meliputi dua hal,
yaitu delik penodaan/ penghinaan agama dan delik agar orang tidak
menganut suatu agama.
Di negara-negara Eropa seperti Inggris, istilah delik agama itu
dikenal dengan istilah blashphemy. Blacks Law Dictionary
mengartikan: the offence of speaking matter relating to god, Jesus
Christ, or the book of common prayer, intended to wound the feelings
of mindkind or to excite contempt and hatred againts the crurch by
law established or to promote immorality.
Pasal 156a KUHP sering disebut sebagai pasal penodaan
agama bisa dikategorikan sebagai delik terhadap agama. Sedang delik
kategori c tersebar dalam beberapa perbuatan seperti merintangi
pertemuan/ upacara agama dan upacara penguburan jenazah (pasal
175); mengganggu pertemuan/ upacara agama dan upacara
penguburan jenazah (pasal 176); menertawakan petugas agama
dalam menjalankan tugasnya yang diizinkan dan sebagainya.

larangan tersebut. Pengertian yang sama diperoleh dari J. Dressler yang mengartikan
criminal act sebagai actus reus may be defined as such result of human conduct as the
law seeks to prevent. Untuk dapat dipidana, seseorang tidak cukup hanya karena
melanggar aturan hokum (crimincal act). Orang tersebut harus juga mempunyai
kesalahan (mens rea) yang dapat berupa kesengajaan (intention) atau kealpaan, yang
merupakan unsure utama dalam criminal responsibility. Dikutip dari Ifdhal Kasim,
Perkembangan Delik Agama dari Masa ke Masa, makalah dalam Konsultasi Publik RUU
KUHP: Perlindungan HAM Melalui Reformasi Hukum Pidana, Hotel Santika Jakarta, 3-4
Juli 2007.
9

Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, (Bandung:


Citra Aditya Bakti, 1996), h. 331.

302

Negara dan Kebebasan Beragama (Abu Rokhmad)


Pasal 156a yang sering dijadikan
memutus kasus penodaan agama, berbunyi:

rujukan

hakim

untuk

Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun


barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan
perasaan atau melakukan perbuatan:
a. yang pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau
penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama
apapun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang maha
Esa.
Pasal ini bisa dikategorikan sebagai delik terhadap agama.
Asumsinya, yang ingin dilindungi oleh pasal ini adalah agama itu
sendiri. Agama, menurut pasal ini, perlu dilindungi dari kemungkinankemungkinan perbuatan orang yang bisa merendahkan dan
menistakan simbol-simbol agama seperti Tuhan, Nabi, Kitab Suci dan
sebagainya. Meski demikian, karena agama tidak bisa bicara maka
sebenarnya pasal ini juga ditujukan untuk melindungi penganut
agama.10
Pasal tersebut masuk dalam Bab V KUHP tentang Kejahatan
terhadap Ketertiban Umum. Di sini tidak ada tindak pidana yang
secara spesifik mengatur tindak pidana terhadap agama. Pasal 156a
merupakan tambahan untuk men-stressing-kan tindak pidana
terhadap agama. Dalam pasal 156 disebutkan:
Barang siapa di muka umum menyatakan perasaan
permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap suatu atau
beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling
banyak empat ribu lima ratus rupiah. Perkataan golongan
dalam pasal ini dan pasal berikutnya berarti tiap-tiap bagian
dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau
beberapa bagian lainnya karena ras, negeri asal, agama,
tempat asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut
hukum tata negara.11
10
Prof. H. Oemar Seno Adji, Hukum (Acara) Pidana dalam Prospeksi, (Jakarta:
Erlangga, 1981), cet. 3, h. 79-80.
11
Dalam penjelasan pasal ini disebutkan bahwa tindak pidana yang dimaksud
di sini ialah semata-mata (pada pokoknya) ditujukan kepada niat untuk memusuhi atau
menghina. Orang yang melakukan tindak pidana tersebut di sini, di samping
mengganggu ketenteraman orang beragama pada dasarnya mengkhianati sila pertama
dari negara secara total, karena itu sudah sepantasnya kalau perbuatan itu dipidana.

303

Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 32, No.2, Juli Desember 2012: 295-316
Benih-benih delik penodaan agama juga dapat dilihat dalam
pasal 1 Undang-Undang No. 1/PNPS/1965 tegas menyebutkan
larangan mengusahakan dukungan umum dan untuk melakukan
penafsiran tentang sesuatu agama. Ketentuan pasal ini selengkapnya
berbunyi:
"Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum
menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan
umum untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama
yang utama di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan
keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan agama itu,
penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok
ajaran dari agama itu".
Mengapa aturan tentang penodaan agama perlu dimasukkan
dalam KUHP? Pertanyaan ini barangkali bisa dijawab dengan
memperhatikan konsideran dalam UU No. 1/PNPS/1965 tersebut. Di
sana disebutkan beberapa hal, antara lain:
Pertama, undang-undang ini dibuat untuk mengamankan
Negara dan masyarakat, cita-cita revolusi dan pembangunan nasional
dimana penyalahgunaan atau penodaan agama dipandang sebagai
ancaman revolusi.
Kedua, timbulnya berbagai aliran-aliran atau organisasiorganisasi
kebatinan/kepercayaan
masyarakat
yang
dianggap
bertentangan dengan ajaran dan hukum agama. Aliran-aliran tersebut
dipandang telah melanggar hukum, memecah persatuan nasional dan
menodai agama, sehingga perlu kewaspadaan nasional dengan
mengeluarkan undang-undang ini.
Ketiga, karena itu, aturan ini dimaksudkan untuk mencegah
agar jangan sampai terjadi penyelewengan ajaran-ajaran agama yang
dianggap sebagai ajaran-ajaran pokok oleh para ulama dari agama
yang bersangkutan; dan aturan ini melindungi ketenteraman
beragama tersebut dari penodaan/penghinaan serta dari ajaranajaran untuk tidak memeluk agama yang bersendikan Ketuhanan
Yang Maha Esa. Keempat, seraya menyebut enam agama yang diakui
pemerintah (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu
[Confusius]), undang-undang ini berupaya sedemikian rupa agar
aliran-aliran keagamaan di luar enam agama tersebut dibatasi
kehadirannya.
Pasal 156a dalam praktiknya memang menjadi semacam
peluru yang mengancam, daripada melindungi warga Negara.
Ancaman itu terutama bila digunakan oleh kekuatan yang anti
304

Negara dan Kebebasan Beragama (Abu Rokhmad)


demokrasi dan anti pluralisme, sehingga orang dengan mudah
menuduh orang lain telah melakukan penodaan agama. Dalam
pratiknya pasal ini seperti pasal karet (hatzaai articelen) yang bisa
ditarik-ulur, mulur-mungkret untuk menjerat siapa saja yang
dianggap menodai agama. Pasal ini bisa digunakan untuk menjerat
penulis komik, wartawan, pelaku ritual yang berbeda dengan
mainstream, aliran sempalan, dan sebagainya. Karena kelenturannya
itu, pasal karet bisa direntangkan hampir tanpa batas.12
Pada dasarnya, pasal ini tidak hanya bisa dipakai untuk
menjerat aliran-aliran seperti Lia Eden dan Ahmadiyah, misalnya,
melainkan juga bisa dikenakan kepada aliran-aliran atau organisasi
agama yang suka membuat kekerasan dan onar di dalam masyarakat
yang mengatasnamakan agama tertentu. Sayangnya, dalam
praktiknya, pasal 156a ini tidak pernah diterapkan baik oleh Polisi
maupun Hakim untuk melindungi korban. Dalam kasus Lia Eden
Aminudin, misalnya, yang justru ditangkap dan diadili ketika ada
tekanan massa. Lia sebagai korban justru dikorbankan dan dijerat
dengan pasal ini karena ada tekanan dari FPI yang dipicu oleh Fatwa
MUI yang menganggapnya sesat.13
Kerisauan sebagian kalangan terhadap pasal penodaan agama
ini diwujudkan dalam pengajuan Judicial Review kepada Mahkamah
Konstitusi oleh pemohon yang tergabung dalam Tim Advokasi
Kebebasan Beragama, yang terdaftar dengan nomor 140/PUUVII/2009 perihal Pengajuan UU No. 1/PNPS/1965 terhadap UUD
Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam putusan yang
dibacakan pada tanggal 19 April 2010, MK memutuskan menolak
seluruh permohonan Judicial Review UU No. 1/PNPS/1965 tentang
Pencegahan Penyalahgunaan dan/ atau Penodaan Agama yang
diajukan oleh Tim Advokasi Kebebasan Beragama (TAKB).
Dalam ringkasan pertimbangan hukum yang diajukan MK,
antara lain dinyatakan bahwa:14
(1) UU tersebut di atas tetap dipertahankan berdasarkan suatu
pertimbangan filosofis bahwa praktik keberagamaan yang terjadi

12
Rumadi, Delik Penodaan Agama dan Kehidupan Beragama dalam RUU
KUHP, makalah dalam Annual Conference Kajian Islam di Lembang Bandung, 26 30
November 2006.
13

Ibid.

14

Dikutip dari Ioanes Rakhmat, Catatan Kritis atas Keputusan MK, dalam
Koran Tempo, 12 Mei 2010.

305

Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 32, No.2, Juli Desember 2012: 295-316
di Indonesia adalah berbeda dengan praktik keberagamaan di
negara lain yang tidak dapat disamakan dengan Indonesia.
(2) Bahwa kebebasan beragama merupakan salah satu HAM yang
sangat fundamental. Bahwa penafsiran keyakinan atas ajaran
agama merupakan bagian dari kebebasan yang berada pada forum
internum.
(3) Bahwa kebebasan beragama tidak dapat dilepaskan dari tanggung
jawab sosial dan kewajiban dasar untuk mewujudkan HAM bagi
setiap orang, sebab hanya dengan cara inilah kebebasan
beragama seseorang tidak melukai kebebasan beragama orang
lain.
(4) Bahwa
penafsiran
yang
bebas
dilakukan
tetap
harus
berkesesuaian dengan pokok-pokok ajaran agama melalui
metodologi yang benar berdasarkan sumber ajaran agama yang
bersangkutan sehingga kebebasan melakukan penafsiran terhadap
suatu agama tidak bersifat mutlak atau absolut.
Beberapa pertimbangan hukum yang diajukan MK cukup
memuaskan pihak-pihak yang masih mempertahankan keberadaan
UU tersebut. Tetapi di pihak lain, kritik pedas diarahkan kepada MK
yang
dianggap
tetap
melanggengkan
UU
yang
jelas-jelas
bertentangan dengan UUD Negara Republik Indonesia.
3. Politik Hukum dan Siyasah Syariyyah
Kebebasan beragama dan berkeyakinan di satu sisi, dan
pengaturan tentang penodaan agama di sisi lain, secara hukum sudah
final putusannya berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi. Pada
artikel ini, saya akan memberikan analisis dengan acuan yang
berbeda berdasarkan perspektif politik hukum dan Siyasah Syariyyah
terhadap peraturan dan kebijakan negara tentang kebebasan
beragama. Sebelumnya akan diuraikan lebih dulu tentang apa yang
dimaksud dengan politik hukum dan Siyasah Syariyyah itu.
a. Politik Hukum
Para ahli hukum memberikan definisi dan deskripsi yang
beragam tentang apa yang dimaksud dengan politik hukum. Soedarto
memberikan pengertian politik hukum sebagai kebijakan dari negara
melalui badan-badan negara yang berwenang untuk menetapkan
peraturan-peraturan yang dikehendaki, yang diperkirakan akan

306

Negara dan Kebebasan Beragama (Abu Rokhmad)


digunakan untuk mengekspresikan apa yang terkandung dalam
masyarakat dan untuk mencapai apa yang dicita-citakan.15
Padmo Wahjono mendefinisikan politik hukum sebagai
kebijakan dasar yang menentukan arah, bentuk, maupun isi dari
hukum yang akan dibentuk dan tentang apa yang dijadikan kriteria
untuk menghukumkan sesuatu.16 Menurut Satjipto Rahardjo, politik
hukum adalah aktivitas memilih dan cara yang hendak dipakai untuk
mencapai suatu tujuan sosial dan hukum tertentu dalam
masyarakat.17
Satjipto Rahardjo juga memberikan ancang-ancang tentang
studi politik hukum ini, yaitu 1). Tujuan apa yang hendak dicapai
dengan sistem hukum yang ada; 2). Cara-cara apa dan yang mana,
yang dirasa paling baik untuk bisa dipakai untuk mencapai tujuan
tersebut; 3). Kapan waktunya hukum itu perlu diubah dan melalui
cara-cara bagaimana perubahan itu sebaiknya dilakukan; dan 4).
Dapatkah dirumuskan suatu pola yang baku dan mapan yang bisa
membantu dalam proses pemilihan tujuan serta cara-cara untuk
mencapai tujuan tersebut secara baik.18
Menurut Abdul Hakim Garuda Nusantara, secara harfiah politik
hukum dapat diartikan sebagai kebijakan hukum (legal policy) yang
hendak diterapkan atau dilaksanakan secara nasional oleh suatu
pemerintahan negara tertentu. Politik hukum nasional dapat meliputi:
(1) pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada secara konsisten;
(2) pembangunan hukum yang intinya adalah pembaruan terhadap
ketentuan hukum yang telah ada dan yang dianggap usang, dan
penciptaan ketentuan hukum baru yang diperlukan untuk memenuhi
tuntutan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat; (3)
penegasan fungsi lembaga penegak atau pelaksana hukum dan
pembinaan anggotanya; (4) meningkatkan kesadaran hukum
masyarakat menurut persepsi kelompok elit pengambil kebijakan.19

15

Soedarto, Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat: Kajian Terhadap


Hukum Pidana, (Bandung: Sinar Baru, 1983), h. 20.
16
Padmo Wahjono, Indonesia Negara Berdasarkan atas Hukum, (Jakarta:
Ghalia Indonesia, 1986), h. 160. Baca pula Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari,
Dasar-dasar Politik Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 26-27.
17

352.

Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bhakti, 1991), h.

18

Ibid, h. 352-3.

19

Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari, Op. Cit., h. 30-31.

307

Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 32, No.2, Juli Desember 2012: 295-316
Menurut Mahfudz MD, politik hukum adalah legal policy atau
arah hukum yang diberlakukan oleh negara untuk mencapai tujuan
negara yang bentuknya dapat berupa pembuatan hukum baru dan
penggantian hukum lama. Dalam arti yang seperti ini, politik hukum
harus berpijak pada tujuan negara dan sistem hukum yang berlaku di
negara tersebut.20
Dari berbagai definisi politik hukum yang dikemukakan para
ahli di atas, saya berpendirian bahwa politik hukum sesungguhnya
adalah cita-cita yang diwujudkan dalam kebijakan negara untuk
mensejahteran warganya melalui berbagai peraturan yang disusun.
Pasal-pasal penodaan agama dalam KUHP maupun UU No. 1/ PNPS/
1965 sesungguhnya didedikasikan negara untuk menjamin kehidupan
beragama yang harmonis dan bersahabat.
Dalam masalah agama dan hal-hal yang berhubungan
dengannya, peran negara sesungguhnya diatur secara jelas dalam
konstitusi dan peraturan lainnya yang intinya adalah: Negara
menjamin kebebasan warganya untuk menjalankan agama dan
kepercayaannya masing-masing. Secara filosofis, jaminan ini adalah
komitmen dan janji agung negara kepada warganya yang wujud
konkretnya berupa disusunnya berbagai peraturan organik dan
kesediaan aparatus negara untuk mengimplementasikan peraturan
tersebut.
Negara yang demokratis sama sekali tidak bisa mengekang
pikiran-pikiran warganya dalam menafsirkan pokok-pokok ajaran
suatu agama. Tetapi negara memiliki tanggung jawab besar untuk
menjaga ketertiban. Apa saja yang memungkinkan suatu tertib
hukum dan sosial terganggu, negara harus hadir dan wajib mencegah
dan menindaknya.
Dengan kata lain, sepanjang kebebasan beragama dan
berkeyakinan seseorang atau kelompok tidak mengganggu kebebasan
beragama dan berkeyakinan orang atau kelompok lain, maka negara
hanya diam saja. Namun, ketika kebebasan beragama telah
menimbulkan masalah di masyarakat, atau terjadi benturan fisik
akibat perbedaan pandangan di antara mereka, maka negara wajib
menegakkan hukum yang berlaku.

20

Moh. Mahfudz MD, Membangun Politik Hukum Menegakkan Konstitusi,


(Jakarta: LP3ES, 2006), h. 5.

308

Negara dan Kebebasan Beragama (Abu Rokhmad)


b.

Siyasah Syariyyah

Menurut rumusan ideal teori hukum Islam, pembuat hukum


atau Syari sejati (the law maker) adalah Allah Swt. Tugas ini
kemudian diemban oleh Rasulullah Muhammad Saw selama masih
hidup. Selanjutnya hukum Islam dilaksanakan oleh para ulama,
khususnya para ahli fikih (fukaha). Sedangkan otoritas hukum Islam
dalam dunia peradilan berada di tangan para qadhi. Para qadi yang
bertanggung jawab dan berwenang dalam mengadili perkara sesuai
dengan shariah.
Terlaksananya hukum Islam merupakan bagian dari tugas
pokok seorang pemimpin (imam/ khalifah). Al-Mawardi mengatakan
bahwa tugas pemerintahan (al-imamah) adalah menjaga agama dan
menjalankan politik dunia (harasat al-din wa siyasat al-dunya).21
Penguasa masyarakat Muslim dari waktu ke waktu berperan
penting dalam perumusan dan pelaksanaan Syariat Islam. Banyak
cara yang ditempuh, antara lain dalam pengangkatan qadi dan nazir
mahkamah mazhalim.22 Cara yang paling sering dilakukan dan
memang diakui oleh teori hukum Islam adalah melalui doktrin siyasah
syariyyah. Doktrin ini memberikan otorisasi kepada penguasa untuk
menentukan cara bagaimana syariat harus dirumuskan dan
diterapkan.23 Siyasah Syariyyah merupakan bagian dari kajian fikih
siyasah. Kedua hal ini kadang dimaknai dalam pengertian yang sama
atau dengan sebutan fiqh siyasah syariyyah. 24
Secara bahasa, siyasah syariyyah berarti kebijakan yang
berorientasi pada syariat (syariah-oriented policy) atau pemerintahan
sesuai dengan prinsip-prinsip syariat. Dalam arti literalnya, siyasah
syariyyah mencakup seluruh kebijakan pemerintahan, apakah ia

21
Al-Mawardi, Al-Ahkam al-Sulthaniyyah fi al-Wilayah al-Diniyyah, (Beirut: Dar
al-Kutub al-Arabiyyah, 1990), h. 5.
22

Wilayah al-mazalim bertindak dalam perkara-perkara yang tidak dapat


diputuskan oleh para qadi, yaitu perkara-perkara yang menyangkut penolakan
pengadilan, kesulitan melakukan eksekusi, dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan
oleh orang-orang yang berkuasa. Joseph Schacht, An Introduction to Islamic Law,
(Oxford: Oxford University Press, 1964), h. 51.
23
Nur A. Fadhil Lubis, Hukum Islam: Dalam Kerangka Teori Fikih dan Tata
Hukum Indonesia, (Medan: Pustaka Widyasarana, 1995), h. 37.
24

A. Djazuli, Fiqh Siyasah: Implementasi Kemaslahatan Ummat dalam


Rambu-rambu Syariah, (Jakarta: Kencana, 2003), h. 2-3.

309

Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 32, No.2, Juli Desember 2012: 295-316
dalam bidang yang diatur jelas oleh syariat ataupun tidak.25 Alsiyasah
juga
berarti
kewajiban
menangani
sesuatu
yang
mendatangkan kemaslahatan. Artinya, mengatur rakyat dan
menangani urusan mereka dan mendatangkan kemaslahatan bagi
mereka.26
Menurut istilah ahli fikih, siyasah syariyyah merupakan
keputusan dan langkah kebijakan yang diambil oleh pemimpin dan ulil
amri dalam permasalahan yang tidak diatur secara spesifik oleh
syariah. Menurut Ibn al-Qayyim, siyasah syariyyah tidak harus
berarti ketentuan yang eksplisit syariat. Menurutnya, setiap langkah
yang secara aktual membawa manusia lebih dekat kepada kebaikan
(shalah) dan lebih jauh dari kerusakan (fasad) merupakan bagian dari
siyasah yang adil meski pun hal itu tidak disuruh langsung oleh Allah
dan rasul-Nya.27
Abdul Wahhab Khallaf menyatakan siyasah syariyyah (atau
fikih siyasah) adalah pengelolaan masalah umum bagi Negara
bernuansa Islam yang menjamin terealisirnya kemaslahatan dan
terhindar dari kemudaratan dengan tidak melanggar ketentuan dan
prinsip-prinsip syariat yang umum meskipun tidak sesuai dengan
sesuai dengan pendapat para imam mazhab. Menurutnya, yang
dimaksud masalah umum bagi Negara adalah setiap urusan yang
memerlukan pengaturan baik mengenai perundang-undangan Negara,
kebijakan mengenai benda dan keuangan, penetapan hukum,
peradilan, kebijaksanaan pelaksanaannya, maupun mengenai urusan
dalam dan luar negeri.28
Dari beberapa definisi di atas, obyek kajian fikih siyasah adalah
membuat peraturan perundang-undangan yang dibutuhkan untuk
mengurus Negara sesuai dengan pokok-pokok ajaran agama.
Realisasinya untuk tujuan kemaslahatan manusia dan untuk
memenuhi kebutuhan mereka.29 Menurut J. Suyuthi Pulungan,
berdasarkan beberapa pendapat para fuqaha, obyek kajian fikih

25

Ibid, h. 38.

26

Yusuf al-Qardlawi, Al-Siyasah al-Shariyyah, terj. Kathur Suhardi, Pedoman


Bernegara dalam Perspektif Islam, cet. II, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1999), h. 35.
27
Ibn al-Qayyim, al-Thuruq al-Hukmiyyah fi al-Siyasah al-Syariyyah, (AlQahirah: Muassasat al-Arabiyyah li al-ThabI wa al-Nasyr, 1961), h. 16.
28

Abdul Wahhab Khallaf, al-Siyasah al-Syariyyah, (al-Qahirah: Dar al-Anshar,


1977), h. 15-16.
29

310

Ibid, h. 5.

Negara dan Kebebasan Beragama (Abu Rokhmad)


siyasah secara garis besar meliputi 1) peraturan dan perundangundangan Negara sebagai pedoman dan landasan idiil dalam
mewujudkan kemaslahatan ummat; 2) pengorganisasian dan
pengaturan untuk mewujudkan kemaslahatan; dan 3) mengatur
hubungan antara penguasa dan rakyat serta hak dan kewajiban
masing dalam usaha mencapai tujuan Negara.30
Dari definisi dan obyek kajian di atas, fikih siyasah dibagi
menjadi beragam bidang. Al-Mawardi membaginya menjadi lima
bidang: siyasah dusturiyyah (politik perundang-undangan), siyasah
maliyyah (politik keuangan), siyasah qadaiyyah (politik peradilan),
siyasah harbiyyah (politik humaniter/ peperangan) dan siyasah
idariyyah (politik administrasi). Ibn Taymiyyah membagi kajiannya
menjadi empat: siyasah dusturiyyah, siyasah idariyyat, siyasah
dauliyyah (politik hubungan Internasional), dan siyasah maliyyah.
Abdul Wahhab Khallaf membidangkan fikih siyasah menjadi
tiga bahasan: siyasah dusturiyyah, siyasah kharijiyah (politik
hubungan luar negeri) dan siyasah maliyyah. Hasbi Ash Shiddieqy
membagi fikih siyasah menjadi delapan bidang: siyasah dusturiyyah
syariyyah, siyasah tasyriiyyah syariyyah, siyasah qadhaiyyah
syariyyah, siyasah maliyyah syariyyah, siyasah idariyyah syariyyah,
siyasah kharijiyyah syariyyah/ siyasah dauliyyah, siyasah tanfidziyyah
syariyyah dan siyasah harbiyyah syariyyah.31
Dari pembidangan di atas, pembuatan, perumusan dan
pelaksanaan perundang-undangan merupakan kajian penting dalam
fikih siyasah. Menurut pembidangan Hasbi Ash Shiddieqy, politik
hukum kebebasan beragama dapat dikaji dalam kajian siyasah
dusturiyyah syariyyah (politik hukum perundang-undangan dalam
mengatur kebebasan beragama), siyasah tasyriyyah syariyyah
(politik hukum pembentukan perundang-undangan yang mengatur
kebebasan beragama), siyasah qadaiyyah syariyyah (politik hukum
peradilan kebebasan beragama) dan siyasah tanfidziyyah syariyyah
(politik
hukum
pelaksanaan
perundang-perundangan
tentang
kebebasan beragama).

30
J. Suyuthi Pulungan, Fiqh Siyasah: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran, (Jakarta:
Rajawali dan LSIK, 1997), h. 28.
31
Ibid, h. 39-40. Hasbi Ash Shiddieqy, Pengantar Siyasah Syariyyah,
(Yogyakarta: Madah, tt), h. 8. Selain buku ini, Hasbi juga memiliki buku yang khusus
membahas ilmu kenegaraan, yaitu Ilmu Kenegaraan dalam Fiqih Islam, (Jakarta:
Matahari Masa, 1969).

311

Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 32, No.2, Juli Desember 2012: 295-316
Menurut Muhammad Hashim Kamali, siyasah shariyyah ini
beroperasi dengan mengikuti empat jalan. Pertama, dengan
membatasi apa yang diperbolehkan untuk menjamin kemanfaatan
atau mencegah bahaya. Contohnya seperti kebijakan Umar Ibn
Khattab yang melarang penduduk makan daging dua hari berturutturut dalam seminggu ketika pasokan daging di Madinah menipis.
Kedua, dengan membuat legislasi baik di dalam maupun di luar
wilayah yang diatur shariah. Legislasi dapat dilakukan untuk
melaksanakan keputusan al-Quran melalu shura, kesederajatan, dan
keadilan. Ketiga, dengan memilih satu diantara pemecahanpemecahan yang tersedia. Jika ada beberapa pandangan hukum
dalam isu tertentu, penguasa boleh memilih salah satu yang ia
anggap paling sesuai. Keempat, dalam wilayah hukum pidana, yakni
dengan melakukan tazir yang memungkinkan hakim melakukan
fleksibilitas dalam memilih jenis dan jumlah hukuman yang sesuai.32
Dalam
masalah
kebebasan
beragama,
hukum
Islam
memberikan pedoman yang cukup detail mengenai hal ini (sebagian
bersumber dari al-Quran dan sebagian yang merupakan hasil ijtihad).
Pemikiran politik Islam klasik mengenal adanya dar al-harb dan dar
al-Islam untuk menyebut teritori yang telah tunduk di bawah
kekuasaan Islam dan yang sebaliknya. Pembagian ini bukan berarti
bahwa dar al-harb adalah daerah yang wajib diperangi.
Dalam fiqh, pemeluk agama lain dikategorikan menjadi empat
golongan, yaitu ahl al-dhimmah (kelompok yang mendapat jaminan
dari Tuhan dalam hak dan hukum negara; mustaman (pemeluk
agama lain yang minta perlindungan keselamatan dan harta kepada
penguasa muslim; muahadah (perjanjian damai dan persahabatan
antara negara Islam dan negara lain yang bukan negara Islam, baik
disertai perjanjian saling tolong-menolong maupun tidak; harbi
(pemeluk agama lain yang mengganggu keamanan dan ketertiban
serta memaksa muslim untuk meninggalkan agamanya.33
Kebebasan beragama dalam arti kebebasan menafsirkan
agama yang diyakini, Islam juga memberikan kemerdekaan. Perlu
dipahami oleh penyokong kebebasan beragama, bahwa di dalam
Islam ada dua hal yang dibedakan, yaitu masalah pokok-pokok agama
(ushul) dan masalah-masalah cabang (furu). Masalah akidah dan
32
Seperti dikutip Ahwan Fanani, Menggugat Keadilan Politik Hukum Ibn
Qayyim al-Jauziyyah, (Semarang: Walisongopress, 2009), h. 46.
33

Ahmad Sukardja, Fikih Siyasah, dalam Taufik Abdullah, dkk, Ensiklopedis


Tematis Dunia Islam, III, (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2002), h. 2000.

312

Negara dan Kebebasan Beragama (Abu Rokhmad)


ibadah adalah dua masalah ushul yang harus dibela keberadaannya
karena sumber-sumber hukum Islam menegaskan tentang hal
tersebut. Sedangkan masalah furuiyyah yang dapat menimbulkan
perbedaan pendapat (ikhtilaf) di antara umat Islam, sudah banyak
orang yang bisa memaklumi.
Seseorang yang mengaku muslim, seharusnya ia sadar bahwa
dalam akidah Islam nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir dan
tidak mungkin ada nabi akhir lainnya. Kalau ia mengaku diri sebagai
nabi berarti ia menodai akidahnya, kecuali kalau ia keluar dari Islam
dan membuat agama baru misalnya.
Dalam hal kebebasan untuk menafsirkan keyakinan agama,
negara memang tidak berhak mencampuri. Namun, dalam perspektif
siyasah syariyyah, negara (sekalipun Indonesia bukan negara Islam)
dapat menutup jalan menuju kerusakan jika kebebasan menafsirkan
agama hanya akan berujung pada mafsadat. Kehidupan masyarakat
menjadi tidak tenang karena masing-masing pemeluk agama terjebak
pada rutinitas perdebatan tentang keabsahan suatu amalan tertentu.
C. KESIMPULAN
Kajian tentang negara dan kebebasan beragama masih
menyisakan banyak persoalan. Di satu sisi, negara berkewajiban
untuk menjamin kebebasan warga untuk menjalankan agamanya. Di
sisi lain, kebebasan beragama menimbulkan implikasi di masyarakat
yang tidak mudah dipahami. Sebagian masyarakat belum siap
menerima kebebasan beragama. Tampak masih kuat perbedaan
tentang definisi dan batasan tentang apa yang dimaksud dengan
kebebasan beragama di kalangan masyarakat. Dalam masalah agama
dan
hal-hal
yang
berhubungan
dengannya,
peran
negara
sesungguhnya diatur secara jelas dalam konstitusi dan peraturan
lainnya yang intinya adalah: Negara menjamin kebebasan warganya
untuk menjalankan agama dan kepercayaannya masing-masing.
Secara filosofis, jaminan ini adalah komitmen dan janji agung negara
kepada warganya yang wujud konkretnya berupa disusunnya berbagai
peraturan
organik
dan
kesediaan
aparatur
negara
untuk
mengimplementasikan peraturan tersebut.
Dalam perspektif siyasah syariyyah, negara memberi
kebebasan bagi setiap warga negara untuk menafsirkan keyakinan
agama masing-masing. Namun negara juga memiliki hak untuk
menutup jalan menuju kerusakan jika kebebasan menafsirkan agama
hanya akan berujung pada mafsadat. Hal ini dikarenakan akan
313

Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 32, No.2, Juli Desember 2012: 295-316
mengakibatkan kehidupan masyarakat menjadi tidak tenang karena
masing-masing pemeluk agama terjebak pada rutinitas perdebatan
tentang keabsahan suatu amalan tertentu.
________________________________________________________

DAFTAR PUSTAKA

Mulyana W. Kusuma, Menuju Pembangunan Berwawasan HAM,


dalam E. Sobirin Najd dan Naning Mardiniah (ed.), Diseminasi
Hak Asasi Manusia: Perspektif dan Aksi, (Jakarta: Cesda
LP3ES, 2000).
Robert Robinson (ed.), Pathways to Asia: The Politics of Engagement,
(New South Wales: Allen & Unwin Pty. Ltd, 1996).
Muladi, Menggali Kembali Pancasila Sebagai Dasar Pengembangan
Ilmu Hukum Indonesia, Makalah dalam Seminar Nasional
Menggagas Ilmu Hukum Progressif Indonesia, Kerjasama IAIN
Walisongo dengan PDIH Undip, tanggal 8 Desember 2004.
Muladi, Demokratisasi, Hak Asasi Manusia dan Reformasi Hukum di
Indonesia ( Jakarta: The Habibie Center, 2002).
Saafroedin Bahar, Konteks Kenegaraan HAM, (Jakarta: Sinar Harapan,
2002).
Ifdhal Kasim, Perkembangan Delik Agama dari Masa ke Masa,
makalah dalam Konsultasi Publik RUU KUHP: Perlindungan
HAM Melalui Reformasi Hukum Pidana, Hotel Santika Jakarta,
3-4 Juli 2007.
Barda

Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan


(Bandung: Citra Aditya Bakti, 1996).

Hukum

Pidana,

Oemar Seno Adji, Hukum (Acara) Pidana dalam Prospeksi, cet. 3


(Jakarta: Erlangga, 1981).

314

Negara dan Kebebasan Beragama (Abu Rokhmad)


Rumadi, Delik Penodaan Agama dan Kehidupan Beragama dalam
RUU KUHP, makalah dalam Annual Conference Kajian Islam di
Lembang Bandung, 26 30 November 2006.
Ioanes Rakhmat, Catatan Kritis atas Keputusan MK, dalam Koran
Tempo, 12 Mei 2010.
Soedarto, Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat: Kajian
Terhadap Hukum Pidana, (Bandung: Sinar Baru, 1983).
Padmo

Wahjono, Indonesia Negara Berdasarkan


(Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986).

atas

Hukum,

Imam Syaukani dan A. Ahsin Thohari, Dasar-dasar Politik Hukum,


(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004).
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bhakti, 1991).
Moh. Mahfudz MD, Membangun Politik Hukum Menegakkan Konstitusi,
(Jakarta: LP3ES, 2006).
Al-Mawardi, Al-Ahkam al-Sulthaniyyah fi al-Wilayah
(Beirut: Dar al-Kutub al-Arabiyyah, 1990).

al-Diniyyah,

Joseph Schacht, An Introduction to Islamic Law, (Oxford: Oxford


University Press, 1964).
Nur A. Fadhil Lubis, Hukum Islam: Dalam Kerangka Teori Fikih dan
Tata Hukum Indonesia, (Medan: Pustaka Widyasarana, 1995).
A. Djazuli, Fiqh Siyasah: Implementasi Kemaslahatan Ummat dalam
Rambu-rambu Syariah, (Jakarta: Kencana, 2003).
Yusuf al-Qardlawi, Al-Siyasah al-Shariyyah, terj. Kathur Suhardi,
Pedoman Bernegara dalam Perspektif Islam, cet. II, (Jakarta:
Pustaka al-Kautsar, 1999).
Ibn al-Qayyim, al-Thuruq al-Hukmiyyah fi al-Siyasah al-Syariyyah,
(Al-Qahirah: Muassasat al-Arabiyyah li al-ThabI wa al-Nasyr,
1961).
Abdul Wahhab Khallaf, al-Siyasah al-Syariyyah, (al-Qahirah: Dar alAnshar, 1977).
J. Suyuthi Pulungan, Fiqh Siyasah: Ajaran, Sejarah dan Pemikiran,
(Jakarta: Rajawali dan LSIK, 1997).

315

Jurnal Ilmu Dakwah, Vol. 32, No.2, Juli Desember 2012: 295-316
Hasbi Ash Shiddieqy, Pengantar Siyasah Syariyyah, (Yogyakarta:
Madah, tt).
Ahwan Fanani, Menggugat Keadilan Politik Hukum Ibn Qayyim alJauziyyah, (Semarang: Walisongopress, 2009).
Ahmad Sukardja, Fikih Siyasah, dalam Taufik Abdullah, dkk,
Ensiklopedis Tematis Dunia Islam, III, (Jakarta: Ikhtiar Baru
Van Hoeve, 2002).

316