Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Gonore merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri


diplokokus gram negatif Neisseria honorhoeae yang menginfeksi lapisan
permukaan membran mukosa (uretra bagian dalam, leher rahim, rektum,
tenggorokan, dan konjungtiva). Penyebaran gonore dalam tubuh bisa melalui
aliran darah terutama kulit dan persendian. Pada wanita, gonore bisa menjalar ke
saluran kelamin kemudian menginfeksi selaput yang ada di dalam pinggul
sehingga menimbulkan nyeri pinggul dan gangguan reproduksi. Pada umumnya
gonore merupakan penyakit yang mempunyai insidensi yang paling tinggi
diantara penyakit menular seksual lainnya. Penularan gonore selain ditularkan
dengan cara berhubungan seksual yaitu genito-genital, oro-genital, dan anogenital, Akan tetapi dapat juga ditularkan secara manual melalui barang perantara
yang sudah dipakai oleh penderita seperti pakaian terutama pakaian dalam, haduk,
termometer, dan sebagainya.
Gonore Biasanya ditandai dengan uretritis purulen kelamin dan disuria.
Infeksi juga bisa tanpa gejala, terutama pada wanita. Penderita Pembawa
asimtomatik lebih mungkin menularkan penyakit dibandingkan orang dengan
infeksi terbuka. Demikian pula, infeksi anorektal dan faring, yang tidak jarang
terjadi pada wanita dan pria yang melakukan hubungan seksual dengan pria,
sering terjadi tanpa gejala akan tetapi tetap merupakan sumber penularan yang
potensial. Kejadian gonore diperkirakan Global adalah sekitar 62 juta orang
terinfeksi setiap tahunnya. Komplikasi yang terjadi pada penyakit gonore ini
adalah termasuk epididimitis pada pria dengan risiko berikutnya infertilitas dan
kehamilan ektopik. Dalam sekitar 1% kasus, gonococcus menjadi invasif dan
bakteremia berkembang.
Penyakit Gonore tersebar di seluruh dunia. Di Afrika, prevalensi rata-rata
gonore pada wanita hamil adalah 10%. Insiden disseminated gonococcal infection
DGI bervariasi dengan kejadian lokal strain gonococcus dari DGI. Insidensi
tertinggi terjadi di negara berkembang. Prevalensi DGI pada wanita hamil: 10% di
Afrika, 5% di Amerika Latin, 4% di Asia. 11 Insiden gonore di Amerika Serikat
meningkat secara dramatis pada tahun 1960 dan awal 1970 mencapai lebih dari 1
juta kasus dilaporkan setiap tahun. Diperkirakan bahwa kurang dari sepertiga dari
kasus baru dilaporkan. Pada tahun 1980, terjadi penurunan lambat dalam kasus
yang dilaporkan kepada sekitar 700.000 per tahun. Penurunan bertahap terus
dengan kurang dari 400.000 kasus gonore dilaporkan pada tahun 2000. Tren
penurunan infeksi melambat, tapi terus berlanjut sampai 1997. Penyakit ini
tersebar hampir secara eksklusif oleh aktivitas seksual, meskipun bayi baru lahir
Gonore

dapat terinfeksi oleh eksposur selama proses kelahiran. Meskipun semua


kelompok umur rentan, infeksi lebih menonjol dalam 15 sampai 35 tahun
kelompok usia. Di antara perempuan pada tahun 2000, 15 sampai 19 tahun
memiliki insiden tertinggi (715,6 / 100.000), sementara di kalangan pria, 20
sampai 24 tahun memiliki tingkat tertinggi (589,7 / 100.000).

Gonore

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Gonore adalah infeksi purulen dari permukaan membran mukosa yang
disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Gonore juga dapat menyebar melalui
kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi, sehingga ibu bisa menularkan infeksi
kepada bayinya saat melahirkan. Baik pria maupun wanita bisa mendapatkan
gonore. Infeksi mudah menyebar dan terjadi paling sering pada orang yang
memiliki banyak pasangan seks.
Menurut kamus saku dorlan gonore adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrheae yang sebagian besar kasus
ditularkan melalui hubungan seksual.

B. Epidemiologi
Gonore dapat terjadi pada semua ras, usia dan tidak memandang strata
sosial tetapi sering didapatkan pada usia dewasa dan bayi yang baru lahir.
Kejadian penyakit ini meningkat dengan adanya kontak seksual dengan
banyak mitra.Di dunia diperkirakan terdapat 200 juta kasus baru gonore
setiap tahunnya. Dimana pria 1,5 kali lebih banyak daripada wanita.Di
Amerika Serikat diperkirakan terdapat 600.000 kasus baru gonore setiap
tahunnya, kira-kira 240 kasus per 100.000 populasi. Insiden gonore tertinggi
terjadi di negara-negara berkembang. Lebih banyak mengenai penduduk
dengan sosial ekonomi rendah.
Infeksi ini ditularkan melalui hubungan seksual, dapat juga ditularkan
kepada janin pada saat proses kelahiran berlangsung. Walaupun semua
golongan rentan terinfeksi penyakit ini, tetapi insidens tertingginya berkisar
pada usia 15-35 tahun pada populasi wanita pada tahun 2000, insidens
tertinggi terjadi pada usia 15 -19 tahun (715,6 per 100.000) sebaliknya pada
laki-laki insidens rata-rata tertinggi terjadi pada usia 20-24 tahun (589,7 per
100.000).
Epidemiologi Neiserria gonorrhoeaeberbeda pada tiap tiap negara
berkembang. Di swedia,insiden gonore dilaporkan sebanyak 487/100.000
orang yang menderita pada tahun1970. Pada tahun 1987 dilaporkan
sebanyak 31/100.000 orang yang menderita, padatahun 1994 dilaporkan
penderita gonore semakin berkurang yaitu hanya sekitar 31/100.000 orang
yang menderita. Amerika Serikat, insiden dari kasus gonore mengalami
penurunan. Pada tahun1975 dilaporkan 473/100.000 orang yang menderita,

Gonore

dimana dengan angka tersebutmenunjukkan bahwa kasus gonore di Amerika


Serikat mengalami penurunan sampaitahun 1984.
Angka gonorea di Amerika Serikat lebih tinggi dari pada di negaranegaraindustri lainnya, dengan perkiraan 50 kali lebih banyak daripada
Swedia dan 8 kalidari Kanada (CDC, 2000). Setelah infeksi oleh Neisseria
gonorrhoeae tidak timbulimunitas alami, sehingga infeksi dapat berjangkit
lebih dari satu kali.Angka gonore di Amerika Serikat terus mengalami
penurunan sejak pertengahan tahun 1970 sampai 1997, kemudian terjadi
peningkatan 9% antara tahun 1997 dan1999.
Tidak semua orang yang terpajan oleh gonore akan terjangkit penyakit ini,
dan resiko penularan dari laki-laki kepada perempuan lebih tinggi daripada
penularanperempuan kepada laki-laki terutama karena lebih luasnya selaput
lendir yang terpajandan eksudat yang berdiam lama di vagina.

Gambar 1. Rates of Reported Cases per 100,000 Population by


Race/Ethnicity,
Age Group, and Sex, United States, 2013

C. Etiolgi

Gonore

Penyebab penyakit gonore adalah Gonokokus yang ditemukan oleh Neissr


pada tahun 1879, dan kemudian baru ditemukan pada tahun 1982. Setelah
ditemukan kemudian kuman tersebut dimasukkan dalam grup Neisseria dan pada
grup ini dikenal 4 spesies dan diantaranya adalah N. gonorrhoeae, N. meningitidis
dimana kedua spesies ini bersifat patogen. Kemudian 2 spesies lainnya yang
bersifat komensel diantaranya adalah N. catarrhalis dan N. pharyngis sicca.
Keempat spesies dari grup neisseria ini sukar untuk dibedakan kecuai dengan
menggunakan tes fermentasi. Gonokokus termasuk golongan bakteri diplokok
berbentuk seperti biji kopi yang bersifat tahan terhadap asam dan mempunyai
ukuran lebar 0,8 dan mempunyai panjang 1,6. dalam sediaan langsung yang
diwarnai dengan pewarnaan gram, kuman tersebut bersifat gram negatif, tampak
diluar dan didalam leukosit, kuman ini tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati
dalam keadaan kering, tidak tahan terhadap suhu diatas 39oc, dan kuman ini tidak
tahan terhadap zat desinfektan.
Secara morfologik Gonokokus ini terdiri atas 4 tipe yaitu tipe 1 dan 2 yang
mempunyai pili yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai
pili dan bersifat nonvirulen. Pili tersebut akan melekat pada mukosa epitel dan
akan menimbulkan suatu peradangan.

Gambar 2. N. Gonorrhoeae di bawah


mikroskop elektron

D. Patofsiologi
Bakteri Neisseria gonorhoeae merupakan bakteri diplokokus aerobic gram
negatif, intraseluler yang dapat mempengaruhi epitel kuboid atau kolumner host.
Beberapa faktor yang mempengaruhi cara Gonokokus memediasi virulensi dan
patogenisitasnya. Pili dapat membantu pergerakan Gonokokus ke permukaan
mukosa. Membran protein luar seperti protein opacity-associated (opa) dapat
meningkatkan perlekatan antara Gonokokus dan juga dapat meningkatkan
perlekatan fagosit. Produksi yang dimediasi plasmid tipe TEM-1 beta laktamase
(penisilinase) juga berperan pada virulensinya. Dengan bantuan pili dan protein
opa Gonokokus dapat melekat pada sel mukosa host dan kemudian terjadi
penetrasi seluruhnya diantara sel dalam ruang subepitel. Karakteristik respon host
Gonore

oleh invasi dengan netrofil, diikuti dengan pengelupasan epitel, kemudian


pebentukan mikroanses submukosal dan discharge puruen. Apabila tidak
dilakukan pengobatan infiltrasi makrofag dan limfosit akan digantikan oleh
netrofil. Beberapa stran menyebabkan infeksi asimptomatik.
E. Patogenesis
Gonococcus memiliki afinitas untuk epitel kolumnar; epitel skuamosa
bertingkat dan lebih tahan terhadap serangan. Epitel ditembus antara sel-sel epitel,
menyebabkan radang submukosa dengan polimorfonuklear (PMN) reaksi leukosit
dengan keluarnya cairan purulen yang dihasilkan. Strain gonococcus yang
menyebabkan DGI cenderung menyebabkan peradangan genital sedikit dan
dengan demikian menghindari deteksi. Sebagian tanda-tanda dan gejala DGI
adalah manifestasi dari kekebalan kompleks pembentukan dan pengendapan.
Beberapa episode dari DGI mungkin berhubungan dengan kelainan faktor
komponen komplemen terminal.
F. Gambaran Klinis
Penularan gonore dapat terjadi malalui kontak seksual dengan penderita
gonoroe. Masa tunas penyakit ini terutama pada laki laki bevariasi berkisar antara
2-5 hari. Biasanya bisa lebih lama berkisar 1-14 hari, hal ini disebabkan karena
penderita sudah mengobati diri sendiri. Pada wanita sulit ditemukan masa
tunasnya karena pada umumnya asimtomatik. Gejala yang paling sering
ditemukan pada pria adalah uretritis anterior akut dan dapat menjalar ke
proksimal, keluhan subyektif yang dirasakan adalah rasa gatal dan panas dibagian
distal uretra, terutama disekitar orifisium uretra eksternum, kemudia disusul
disuria, polakisuria, keluar duh tubuh yang kadang kadang disertai dengan darah
dari jung uretra dan disertai rasa nyeri pada saat ereksi. Pada saat pemeriksaan
tampak orifisium uretra eksternum eritematosa, edematosa dan ektropion. Pada
wanita baik penyakitnya akut ataupun kronik gejala subyektif jarang ditemukan
dan hampir tidak pernah didapati adapun gejala yang didapatkan adalah berupa
keputihan atau duh tubuh yang mukopurulen, disuria, bisa juga uretritis, servisitis,
bartholinitis dan proktitis. Biasanya pada wanita gejala yang dikeluhkan timbul
setelah terjadi komplikasi.

Gonore

Gambar 3. Infeksi GO pada pria dan


wanita

Gambar 4. GO akut pada penis, cairan kental dan purulent


dari OUE

Gonore

G. Diagnosis
Diagnosis penyakit ini ditegakkan atas dasar anamnesis, dari anamnesis
didapatkan keluhan rasa gatal dan panas dibagian distal uretra, terutama disekitar
orifisium uretra eksternum, kemudia disusul disuria, polakisuria, keluar duh tubuh
yang kadang kadang disertai dengan darah dari jung uretra dan disertai rasa nyeri
pada saat ereksi. Pada pemeriksaan fisik tampak orifisium uretra eksternum
eritematosa, edematosa dan ektropion. Pemeriksaan penunjang : sediaan langsung
didapatkan Bakteri Neisseria gonorrhoe, Kultur media yang digunakan tumbuh
kolono Neisseria gonorrhoe, Tes Thomson terjadi kekeruhan pada gelas yang
berisi urin, test definitif pada tes toksidasi terjadi perubahan wana dari jernih ke
merah muda, test fermentasi bakteri memfermentasi glukosa, test beta-laktamase
terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah.
1. Sediaan Langsung
Pada sediaan langsung bahan sediaan yang digunakan diambil pada pasien
pria dari pus di uretra yang keluar spontan atau melalui pijatan, sedimrn urin,
masase prostat. Sedangkan pada wanita muara uretra, muara kelenjar bartolini,
servic, rektum. Bahan yang diambil setelah dibuat sediaan kemudian dilakukan
pewarnaan gram untuk melihat adanya kuman diplococcus gram negatif
berbentuk seperti biji kopi yang terletak intra dan ekstra seluler.
2. Percobaan dua gelas (tes Thomson)
Digunakan untuk mengetahui infeksi sudah sampai uretra bagian anterior
atau posterior.
Bahyan yang digunakan pada pemeriksaan ini adalah urin pagi pada saat
kandung kencing masih penuh. Gelas 1 diisi dengan urin sebanyak 80cc gelas 2
sisanya. Bila gelas 1 keruh dan gelas 2 jernih berarti infeksi pada uretra
anterior, dan bila kedua gelas keruh berarti infeksi sudah memasuki uretra
posterior.
3. Kultur
Pada pemeriksaan kultur digunakan media selektif berupa:
1. Thayer Martin
Media ini selektif untuk megisolasi gonokokus. media ini mengandung
vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman positif-Gram,
kolestimeta untuk menekan pertumbuhan gakteri negatif-Gram, dan
nistatin untuk menekan pertumbuhan jamur.
2. Modifikasi Thayer Martin

Gonore

Isi media ini adalah media thayer martin ditambah dengan trimethoprim
untuk mencegah pertumbuhan kuman proteus spp.
3. Agar coklat McLeod
Media ini berisi agar coklat, agar serum, dan agar hidrokel. Selain
kuman gonokokus bakteri lain juga dapat tumbuh pada media ini.
4. Tes Definitif (dari hasil kultur yang positif)
a. Tes oksidasi
Coloni Gonokokus tersangka + laruan tetrametil-p-fenilendiamin
hiroklorida 1 % hasil positif bila warna koloni berubah dari jernih ke
erah muda atau merah lembayung
b. Tes fermentasi
Menggunakan glukosa, maltosa dan sukrosa. Kuman Gonokokus
hanya memfermentasi glukosa
c. Tes beta-laktamase
Menggunakan cefinase TM disc. BBL 96192 yang mengandung
chromogenic chepalosporin. Bila kuman megandung beta-laktamase
akan terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah.
5. Tes Beta-laktamase
Pemeriksaan dengan menggunakan cefitenase TM disc. BBL 961192
yang mengandung chromogenic cephalosporin, akan menyebabkan
perubahan warna dari kuning menjadi merah apabila kuman
mengandung enzim beta-laktamase
H. Diagnosis Banding
1. Non gonore Uretritis : Ditandai dengan disuria, sering dengan
keluarnya cairan dari uretra atau frekuensi kencing, dan dengan tidak
adanya N. gonorrhoeae, masa inkubasi lebih lama, onset yang kurang
akut, dan keluarnya cairan dari uretra hanya sedikit sekali kali, cairan
tidak jelas, rasa tidak nyaman atau nyeri hanya pada uretra.
2. Trichomonas vaginalis infeksi. Pada wanita biasanya muncul sebagai
eksudat, warna kekuning kunigan, berbusa, bau tidak enak, dinding
vagina tampak kemeahan dan sembab. Pada laki laki gejalanya berpa
disuria, poliuria dan sekret uretra mukoid dan mukopurulen, urin
biasanya jernih dan kadang kadang ada benang benang halus.
I. Komplikasi
Komplikasi pada pria :

Uretritis

Gonore

Uretritis yang sering dijumpai adalah uretitis anterior akut dan apat
menjalar ke proksimal, selanjutnya mengakibatkan komplikasi lokal,
asendens, dan diseminata. Keluhan subyektif biasanya berupa rasa gtal,
panas dibagia distal uretra disekitar orifisium uretra eksternum, kemudian
disusul disuria, polakisuria, duh tubuh yang kluar dari ujung uretra dan
biasanya disertai dengan darah dan disetai juga dengan perasaan nyeri
pada waktu ereksi. Pada pemeriksaan yang dilakukan terlihat orifisium
uretra ekstrnum eritematosa, edematosa dan ekstropion.
Tysonitis
Kelenjar tyson adalah kelenjar yang menghasilkan segmen, dimana
infeksi biasany dapat terjadi pada penderita yang mempunyai proputium
sangat panjang dan kebersihan yang kurang baik, pada komplikasi ini
biasanya diagnosis dibuat derdasarkan ditemukannya butir pus atau
pembengkakan pada daerah frenulum yang nyeri tekan.

Parauretritis
Biasanya terjadi pada penderita denga orifisium uretra eksternum
yang terbuka atau hipospadia. Infeksi ini dapat ditandai dengan adanya
buti pus yang ditemukan pada kedua muara parauretra.

Cowperitis
Jika infeksi hanya mengenai duktus biasanya tanpa disertai gejala.
Akan tetapi jika yang terkena pada kelenjar cowper dapat ditandai dengan
terjadinya abses. Keluhan yang dirasakan berupa nyeri dan adanya
benjolan pada daerah perinium disertai rasa penuh dan panas, nyeri pada
waktu defekasi, dan disuria. Jika tidak diobati maka abses akan pecah
melalui kulit perineum, uretra atau rektum dan mengakibatkan proktitis.

Prostatitis
Prostatitis akut ditandai dengan perasaan tidak enak pada daerah
perineum dan suprapubis, malese, demam, nyeri kencing sampai
hematuria, spasme otot uretra sehingga dapat terjadi retensi urin, tenesmus
ani, sulit buang air besar dan obstipasi. Pada pemeriksaan didapatkan
pembesaran prostat dengan konsistensi kenyal, nyeri tekandan didapatkan
fluktuasi bila telah terjadi abses. Pada pemeriksaan prostat didapatkan
prostat terasa kenyal, berbentuk nodus, dan terasa nyeri pada penekanan
dan biasanya didapatkan fluktuasi jika terdapat abses.

Vesikulitis
Vesikulitis merupakan suatu radang akut yang mengenai bagian
vesikula seminalis dan duktus ejakulatoris, dapat juga timbul menyertai

Gonore

10

prostatitis akut atau epididimitis akut. Gejala subyektif yang timbul hampir
menyerupai gejala prostatitis akut berupa demam, polakisuri, hematuria
termina, nyeri pada waktu ereksi atau ejakulasi, dan spasme mengandung
darah. Pada pemeriksaan yang dilakukan melalui rektum dapat teraba
vesikula seminalis yang membengkak dan keras seperti sosis, memanjang
diatas prostat.

Epididimitis
Epididimitis akut biasanya unilateral dan setiap epididimitis
biasanya disertai oleh deferenitis ( infeksi duktus deferen). Keadaan yang
dapat menimbulkan epididimitis biasanya adalah treuma pada uretra
posterior, biasanya disebabkan oleh kesalahan dalam penanganan atau
kelalaian yang dilakukan oleh penderita sendiri. Faktor yang dapat
mempengaruhi keadaan ini antara lain irigasi yang sering dilakukan, cairan
irigator terlalu panas atau pekat, instrumentasi yang kasar, pengurutan
prostat yang terlalu berlebihan. aktivitas seksual dan jasmani yang terlalu
berlebihan. Epididimis teraba panas dan membengkak, juga testis,
menyerupai hidrokel sekunder. Pada penekanan terasa nyeri sekali. Bila
mengenai kedua epididirmis dapat mengakibatkan sterilitas.

Trigonitis
Infeksi asenden dari uretra posterior dapat mengenai trigonum
vesika urinaria. Trigonitis menimbulkan gejala berupa poli uria, disuria
terminal, dan hematuria.

Komplikasi pada wanita :

Uretritis
Gejala uama yang ditimbulkan berupa disuria, biasanya juga bisa
terjadi poliuria. Gejalanya biasanya bervariasi, nanah dapat terlihat
dipancarkan dari meatus, urin berwarna merah di luar. Pada pemeriksaan
yang dilakukan didapatkan orifisium uretra eksternum tampak merah,
edematosa, dan terdapat sekret yang mukopurulen.

Servisitis
Pada infeksi ini dapat berupa asimtomatok biasanya menimbulkan
rasanyeri pada punggung bawah. Kasus ini tidak terdeteksi atau diterima
sebagai veriation normal. Pada pemeriksaan leher rahim bisa terlihat
normal, atau mungkin menunjukkan perubahan inflamasi ditandai dengan

Gonore

11

erosi serviks dan nanah memancar dan sekret mukopurulen, duh tubuh
terlihat lebih banyak.

Bartholinitis
Pada infeksi ini labia mayor pada sisi yang terkena membengkak,
merah dan nyeri tekan. Kelenjar bartolini membengkak dan terasa nyeri
sekali apabila penderita berjalan dan selain itu juga penderita sukar untuk
duduk. Bartholin yang bengkak dapat teraba sebagai massa membengkak
jauh di setengah bagian belakang labia majora jika saluran kelenjar
tersebut timbul abses dan dapat pecah melalui mukosa atau kulit. kalo
tidak diobati dapat menjadi rekuren dan menjadi kusta.

Salpingitis
Pada peradangan yang terjadi dapat bersifat akut, subakut, ataupun
kronik. Ada beberapa faktor sebagai predis posisi diantaranya masa
puerperium (nifas), dilatasi setelah kuretase, dan pemakaian AIU, tindakan
AKDR. Cara infeksi dapat langsung melalui tuba falopi sampai pada
daerah salping dan ovarium sehingga dapat menimbulkan penyakit radang
panggul. Kurang lebih 10% wanita dengan mengalami penyakit gonore
akan berakhir dengan penyakit radang panggul. Gejala yang dirasakan
berupa nyeri yang dirasakan pada daerah abdomen bawah, duh tubuh
vagina, disuri, dan menstruasi yang tidak teratur atau abnormal.

Penyakit gonore selain menginfeksi genetalia dapat juga menginfeksi


organ lain non-genitalia.
1. Proktitis
Proktitis yang terjadi pada pria dan wanita pada umumnya
asimtomatik. Pada wanita biasanya terjadi karena kontaminasi dari vagina
dan kadang - kadang terjadi karena hubungan seksual genetoanal seperti
pada pria. Keluhan yang dirasakan pada wanita biasanya lebih ringan dari
pada pria, terasa panas seperti terbakar pada daerah anus dan pada
pemeriksaan yang dilakukan tampak mukosa eritematosa, edematosa, dan
tertutup pus mukopurulen.
2. Orofaringitis
Cara infeksi pada penyakit ini melalui kontak langsung secara
orogenital. Faringitis gonore dan tonsilitis gonore lebih sering daripada
gingivitis, stomatis, atau laringitis. Keluhan yang dirasakan biasanya

Gonore

12

bersifat asimtomatik. Pada pemeriksaan yang dilakukan di daerah


orofaring tampak eksudat mukopurulen.
3. Konjungtivitis
Penyakit ini dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dari ibu yang
menderita servisitis gonore. Gejala pada bayi ditemukan kelainan bilateral
dengan sekret kuning kental, sekret dapat bersifat serous tetapi kemudian
menjadi kuning kental dan purulen. Kelopak mata membengkak, sukar
dibuka dan terdapat pseudomembran pada konjungtiva tarsal. Konjungtiva
bulbi merah, kemotik dan tebal. Pada orang dewasa infeksi terjadi karena
penularang konjungtiva melalui tangan atau alat-alat. Keluhan yang
dirasakan pada penderita berupa fotofobia, konjungtiva bengkak,
konjungtiva merah dan keluar eksudat mukopurulen.

Konjungtiva gonore pada bayi


4. Gonore diseminata
Penyakit gonore akan berkelanjutan menjadi penyakit gonore
diseminata kurang lebih 1% kasus gonore. DGI adalah infeksi sistemik
yang mengikuti penyebaran hematogen dari gonococcus dari situs mukosa
yang terinfeksi ke kulit, tenosynovium, dan sendi. Penyakit ini biasanya
banyak terjadi pada penderita dengan gonore asimtomatik sebelumnya
terutama terjadi pada wanita. gejala yang timbul pada penyakit ini dapat
berupa demam, lesi acral petechial atau berjerawat, arthralgias asimetris,
tenosynovitis, atau arthritis septik, Kadang-kadang rumit oleh miokarditis,
endokarditis, perikarditis, meningitis, dan dermatitis.

Gonore

13

J. Penatalaksanaan

Tidak ada Fasilitas Laboratorium

Duh Tubuh Uretra

Terapi Standar GO
Alergi Penisilin
7 hari
Duh Tubuh (-)

Sembuh

Terapi
Alternatif
Duh tubuh (+)

Terapi NGU
7 hari
Duh tubuh (-)

Duh tubuh (+)

Sembuh

Rujuk

Gonore

14

Ada Fasilitas Laboratorium ( Mikroskop )

Duh
DuhTubuh
TubuhUretr
Uretr

Gram
Diplokokus Intrasel
(+)

Terapi Standar GO
7
hari

Diplokokus Intrasel
(-)
Alergi Penisilin

Leuko < 5

Leuko 5

Terapi Alternatif

Terapi (-)

Terapi NGU
7

Diplokok (-)
Leuko < 5

Diplokok (+)

Terapi
Alternatif

Diplokok (-)
Leuko > 5

Terapi NGU
7
hari
Leuko < 5

Leuko >
5

Rujuk

Gonore

15

Leuko < 5

Terapi (-)

Leuko >
5

Rujuk

Fasilitas Laboratorium Lengkap

Duh Tubuh Uretra


Gram :
Diplok.int (+)
Kultur
Terapi Standar
3 hari

Diplokok (+)

NGPP

Terapi
Alternatif
NGPP

Non NGPP +
Resistensi

Diplokok (-)

Leuko <
5

Leuko >
5

Sembuh

Terapi
Alternatif Non
NGPP

7 hari

3 hari

Diplokok (-)

Sembuh

Gonore

Diplokok (+)

Sesuai
Resistensi

16

Leuko <
5

Leuko >
5

Sembuh

Terapi
NGU

Disamping fasilitas pemeriksaan Laboratorium, Penatalaksanaan Uretritis


gonore juga bergantung pada insiden galur NGPP. Akan tetapi apabila kita melihat
laporan Centers for Disease Control (C.D.C) pada tahun 1989, maka pola
penatalaksanaan uretritis gonore mengalami beberapa perubahan yang disebabkan
oleh:
1. Tingginya insidensi klamidia bersamaan dengan gonore (25-50%)
2. Tingginya insiden infeksi klamidia dan gonore disertai komplikasi
3. Kesukaran teknik pemeriksaan klamidia
4. Makin banyaknya laporan galur gonore yang resisten terhadap
tetrasiklin
5. Makin tingginya laporan galur NGPP
Mengingat hal trsebut diatas, Maka CDC (1989) menganjurkan agar pada
pengobatan uretritis gonore tidak digunakan lagi penisilin atau derivatnya, dan
disamping itu diberikan juga obat untuk uretritis non gonore (klamida) secara
bersamaan.

Uretritis GO :

Seftriakson 250 mg i.m., atau


Spektinomisin 2 gr i.m., atau
Siprofloksasin 500 mg, oral.
+
Doksisiklin 2x100 mg, selama 7 hari, atau
Tetra siklin 4x500 mg, selama 7 hari, atau
Eritromisin 4x500 mg, selama 7 hari.

Alternatif lain untuk GO :

Sefuroksim 1 gr. oral


+ 1 gr probenesid
Sefotaksim 1 gr. i.m.
+
Doksisiklin 2x100 mg, selama 7 hari, atau
Tetrasiklin 4x500 mg, selama 7 hari, atau
Eritromisin 4x500 mg, selama 7 hari

Untuk daerah dengan insidensi Galur NGPP rendah

Gonore

17

Penisilin procain in aqua 4,8 juta unit, atau


Ampisilin 3,5 gr, atau
Amoksisilin 3 gr
+
Doksisiklin 2x100 mg, selama 7 hari, atau
Tetrasiklin 4x500 mg, selama 7 hari, atau
Eritromisin 4x500 mg, selama 7 hari.

+ 1 gr
probenesid

Gonore Tanpa komplikasi (cerviks, uretra, rectum dan faring)


ciprofloxacine 500 mg per oral dosis tunggal
ofloxaxine 400 mg per oral dosis tunggal
cefixime 400 mg per oral dosis tunggal
ceftriaxone 250 mg i.m. dosis tunggal.
bila diduga ada infeksi campuran dengan chlamydia ditambah
Azithromycin 1 g per oral dosis tunggal
erytromycine 500 mg sehari 4 kali per oral selama 7 hari
doxycycline 100 mg sehari 2 kali per oral selama 7 hari
Gonore dengan komplikasi sistemik
Meningitis dan endocarditis
o cetriaxone 1-2 g i.v. setiap 24 jam,
o untuk meningitis dilanjutkan 10-14 hari
o untuk endokarditis diteruskan paling sedikit 4 minggu
artritis, tenosynovitis dan dermatitis
o ciprofloxacine 500 mg i.v setiap 12 jam
o ofloxacine 400 mg setiap 12 jam
o cefotaxime 1 g i.v. setiap 8 jam
o ceftriaxone 1 g i.m/i.v tiap 24 jam
gonore pada bayi dan anak
sepsis, arthritis, meningitis atau abses kulit kepala pada bayi
o ceftiaxone 25-50 mg/kg/hari i.m/i.v 1 kali sehari selama 7 hari
o cefotaxime 25 mg/kg i.v/i.m setiap 12 jam selama 7 hari
o bila positif meningitis lama pengobatan 10-14 hari
vulvovaginitis, cervicitis, uretritis, faringitis atau proctitis pada anak
o ceftriaxone125 mg i.m dosis tunggal + pengobatan infeksi
chlamydia
o untuk anak dengan berat badan > 45 kg obat dan dosis obat sama
seperti orang dewasa
bakterimeia atau arthritis pada anak
o ceftriaxone 50 mg/kg (maks.1 g untuk BB < 45 kg dan 2 g untuk
BB > 45 kg) i.m/i.v 1 kali sehari selama 7 hari atau 10-14 hari
untuk BB >45
gonore pada wanita hamil
Ceftriaxone 250 mg dosis tunggal
Gonore

18

amoxicillin 3 g + probenesid 1 g
cefixime 400 mg dosis tunggal.
K. Prognosis
Sebagian besar infeksi gonore memberikan respon yang

Gonore

cepat terhadap pengobatan dengan antibiotik.


Prognosis baik jika diobati dengan cepat dan lengkap.

19

BAB III
KESIMPULAN

Gonore merupakan penyakit hubungan seksual yang disebabkan


oleh kuman Neiserria gonorrhoeae yang menyerang uretra pada lakilaki dan endoserviks pada wanita, paling sering ditemukan dan
mempunyai insiden yang cukup tinggi. WHO memperkirakan bahwa
tidak kurang dari 25 juta kasus baru ditemukan setiap tahun di seluruh
dunia. Di Amerika Serikat diperkirakan dijumpai 600.000 kasus baru
setiap tahunnya. Neiserria gonorrheae merupakan kuman kokus gram
negatif, berukuran 0,6- 1,5 m, berbentuk diplokokus seperti biji kopi
dengan sisi yang datar berhadap-hadapan.
Kuman ini tidak motil dan tidak membentuk spora. Masa tunas
gonore sangat singkat, pada waktu masa tunas sulit untuk ditentukan
karena pada umumnya bersifat asimtomatis. Umumnya penyulit akan
timbul jika uretritis tidak cepat diobati atau mendapat pengobatan
yang kurang adekuat. Di samping adanya penyulit ,gonore pada
umumnya bersifat lokal sehingga penjalarannya sangat erat dengan
susunan anatomi dan faal alat kelamin.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis pada laki-laki jauh lebih mudah
daripada wanita, baik secara klinis maupun laboratorium, karena pada
wanita seringkali asimptomatis. Pada dasarnya pengobatan baru
diberikan setelah diagnosis ditegakkan. Antibiotik canggih dan mahal
tanpa didasari diagnosis, dosis dan cara pemakaian yang tepat tidak
akan menjamin kesembuhan dan bahkan dapat memberi dampak
berbahaya

dalam

penggunaannya,

misalnya

resistensi

kuman

penyebab.
Pengobatan yang benar meliputi : pemilihan obat yang tepat
serta dosis yang adekuat untuk menghindari resistensi kuman.
Melakukan tindak lanjut secara teratur sampai penyakitnya dinyatakan
sembuh. Sebelum penyakitnya benar-benar sembuh dianjurkan untuk

Gonore

20

tidak melakukan hubungan seksual. Pasangan seksual harus diperiksa


dan diobati agar tidak terjadi fenomena ping pong.

Gonore

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda, Adhi, Mochtar, Aisah, Siti. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Edisi Keenam. FKUI, Jakarta: 2013
2. sukmayanti. E, 2008. Penyakit Hubungan Seksual. Karya Tulis Ilmiah.
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada. Bandung.
3. Doudier B, Garcia S, Quennee V: Prognostic factors associated with severe
leptospirosis. Clin Microbiol Infect 2006 Apr; 12(4): 299-300.
4. Wong, Brian. 2011. Gonococcal Infections. diakses 26 may 2012 dari
http://emedicine.medscape.com/article/218059-overview
5. Siregar,R.S.2004. Gonore. Sari Pati Penyakit Kulit. EGC : Jakarta, hal :
299
6. Perpustakaan nasional. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorlan.
Ed.25.EGC. Jakarta.
7. Barakbah, J dkk. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga : Surabaya
8. Larry I, Lutwick. 2009. Gonococcal Infection. diakses 24 may 2012 dari
http://emedicine.medscape.com/article/218059-treatment
9. Ilyas, Sidarta. Atlas Ilmu Penyakit Mata. Sagung Seto, Jakarta: 2001. 23
10. wolff K, Richard AJ, Dick S. 2005. fitzpatrick's color atlas and synopsis of
clinical dermatology. McGraw-Hill Professional. English.
11. Freedberg IM, dkk. 2003. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine.
McGraw-Hill
12. Habif TP. 2004. Clinical Dermatology: a color guide to diagnosis and
therapy. Mosby.

Gonore

22