Anda di halaman 1dari 12

GEOLOGI LINGKUNGAN by Sigit Widiadi, 2015

KONSEP GEOLOGI LINGKUNGAN


Menurut Coates (1981), geologi lingkungan adalah suatu cabang ilmu geologi yang berupa
aplikasi dalam usaha pemenuhan kebutuhan manusia dengan memanfaatkan sumberdaya dengan
memperhatikan perlindungan terhadap sumberdaya tersebut, proses alam seperti erosi, dan
perbaikan terhadap daerah yang mengalami kerusakan akibat pemanfaatan sumberdaya tersebut.
Definisi lain dari geologi lingkungan menurut Bennett and Doyle (1997) adalah interaksi antara
manusia dengan lingkungan geologis. Lingkungan geologi yang dimaksud tidak hanya berupa
unsur-unsur fisik dari bumi saja (batuan, sedimen, soil dan fluida), tetapi juga permukaan bumi,
bentang alamnya dan terutama proses-proses yang berlangsung dan mengubah bumi tersebut dari
waktu ke waktu.
Obyek studi geologi lingkungan antara lain hubungan berbagai aspek antara manusia dengan
material penyusun bumi, proses alam, dan bentang alam. Geologi lingkungan merupakan
gabungan dari berbagai cabang-cabang ilmu geologi lainnya seperti geologi ekonomi, geologi
teknik, geomorfologi, geofisika, volkanologi, geokimia, dan geohidrologi. Walaupun demikian,
cakupan pembahasan obyek studinya tidak hanya mencakup cabang-cabang ilmu geologi seperti
yang disebutkan di atas, tetapi mencakup juga ilmu yang mempunyai keterkaitan dengan ilmu fisik,
seperti geografi, biologi, serta ilmu sosial. Melihat hal itu, dapat dikatakan bahwa geologi
lingkungan merupakan kumpulan berbagai cabang-cabang ilmu geologi (multidisiplin) dengan sifat
gabungan antar cabang ilmu pengetahuan (interdisiplin).
Luasnya cakupan dari geologi lingkungan menyebabkan ilmu ini menjadi bagian dari proses
pembuatan kebijakan dari perencanaan dan pengaturan suatu wilayah. Tujuan penerapan ilmu
geologi lingkungan yang merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan adalah memenuhi
kebutuhan manusia dengan memanfaatkan sumberdaya dan berusaha meminimalkan dampaknya
terhadap lingkungan. Selain itu tujuan geologi lingkungan adalah untuk mencegah dan mengatasi
permasalahan lingkungan yang berkaitan dengan kondisi geologi dan mengelola sumberdaya
geologi secara berkelanjutan.
Sumberdaya adalah suatu produk yang dapat menjamin kelangsungan hidup manusia. Coates
(1981) membagi sumberdaya menjadi dua kelompok besar, yaitu sumberdaya alam dan
sumberdaya buatan. Sumberdaya alam dibagi lagi menjadi tiga, yaitu sumberdaya alam planet,
sumberdaya alam terbarukan dan sumberdaya alam tak terbarukan.
Sumberdaya alam planet (udara, iklim, laut, danau, dan daratan) adalah sumberdaya alam
yang mempengaruhi proses-proses yang terjadi, baik pada sumberdaya alam terbarukan maupun
sumberdaya alam tak terbarukan, seperti sinar matahari berpengaruh terhadap proses pelapukan
batuan dan proses kimia dalam air, dimana batuan merupakan sumberdaya alam yang tidak

GEOLOGI LINGKUNGAN by Sigit Widiadi, 2015

terbarukan sedangkan air merupakan sumberdaya alam yang terbarukan. Sumberdaya alam
terbarukan adalah sumberdaya alam yang apabila kita manfaatkan maka keberadaannya akan
tetap terjaga (pertanian, peternakan, pepohonan, dan air). Sedangkan sumberdaya alam yang tak
terbarukan adalah sumberdaya alam yang apabila kita manfaatkan maka keberadaanya akan
berkurang ataupun habis dikarenakan sumberdaya alam ini dihasilkan dalam jangka waktu yang
lama melebihi jangka waktu hidup manusia normal (batuan, mineral, air, dan soil).
Analisis Geologi Lingkungan diawali dengan pembuatan unit geologi lingkungan. Unit geologi
lingkungan ini berfungsi untuk membatasi dan lebih mengkhususkan bahasan pada suatu unit yang
memiliki kesamaan unsur-unsur geomorfologinya. Penempatan unsur geomorfologi sebagai dasar
dalam pembagian unit geologi lingkungan didasarkan pada :
1.

Geomorfologi mencakup bentuk lahan yang menggambarkan konfigurasi permukaan bumi,


struktur geologi, jenis batuan dan proses-proses geomorfologi yang terjadi.

2.

Bentuk lahan mempunyai hubungan yang erat dengan keadaan lingkungannya.

Secara umum pembagian unit geologi lingkungan akan sama persis dengan pembagian jenis
morfologi yang ada di wilayah penelitian. Informasi lainnya seperti kondisi geologi, hidrogeologi,
potensi sumber daya, potensi bencana dan informasi non geologi akan memberikan warna
tersendiri di masing-masing unit geologi lingkungan tersebut. Dari potensi yang dimiliki oleh
masing-masing unit geologi lingkungan akan dapat ditentukan arah pengembangan yang
memberikan keuntungan optimal dengan tetap mempertimbangkan potensi bencana yang
mungkin timbul sehingga dapat mendukung tingkat pemenuhan kesejahteraan masyarakat.

KONSEP GEOLOGI PENGEMBANGAN WILAYAH

Data geologi lingkungan sangat berperan dalam proses pengembangan wilayah. Geologi
lingkungan yang memberikan keterangan tentang potensi sumber daya geologi dan potensi
bencana alam geologi suatu wilayah menjadi dasar pijakan untuk melakukan proses perencanaan
pengembangan wilayah. Hal ini menjadi penting karena proses perencanan suatu wilayah perlu
mempertimbangkan sejauh mana potensi sumber daya geologi tersebut dapat dimanfaatkan dan
sejauh mana kita bisa meminimalisir aspek bencana geologi yang kemungkinan akan timbul.
Penerapan ilmu geologi dalam suatu pengembangan wilayah pada saat ini mutlak diperlukan.
Konsep geologi pengembangan wilayah merupakan ilmu terapan yang dipakai untuk menilai suatu
area/kawasan (kota, desa, pesisir dll) terhadap optimalisasi penggunaan lahannya. Dasar konsep
penilaian geologi dalam melihat suatu wilayah/kawasan antara lain :

GEOLOGI LINGKUNGAN by Sigit Widiadi, 2015

1. Geomorfologi/morfologi : Geomorfologi merupakan komponen yang penting untuk diamati


karena mencerminkan proses geologi yang telah sedang dan sedang berlangsung sehingga
dapat digunakan untuk memperkirakan dampak dari percepatan proses geologi tersebut,
misal kemiringan dan geometri lereng di suatu kawasan. Penilaian kemiringan lereng
dilakukan dengan menggunakan klasifikasi dari Nichols and Edmunson, (1975) (Tabel 1).

Taberl 1. Klasifikasi Lereng

2. Stratigrafi : melihat susunan batuan berdasarkan urutan (umur), jenis, sifat dan lingkungan
pembentukannya. Stratigrafi memiliki peranan dalam pembentukan tanah, kekuatan tanah
untuk menahan tekanan dan juga memiliki pengaruh terhadap keadaan hidrogeologi
(airtanah) suatu wilayah.
3. Struktur geologi (aktif dan pasif) : memberikan kontribusi resiko atau bahaya geologi yang
mungkin terjadi pada suatu wilayah, misal patahan. Dari struktur geologi ini dapat diketahui
proses-proses yang pernah terjadi di daerah tersebut dan lebih berkaitan dengan sejarah
geologi daerah tersebut.
4. Hidrogeologi :memberikanparameterketersediaan air bersih untuk suatu wilayah.
5. Potensi Sumberdaya geologi : merupakan aspek potensi yang dilihat dari sudut pandang
geologi dapat dimanfaatkan untuk mensejahterakan masyarakat. Memberikan informasi
potensi sumberdaya positif misal potensi bahan galian dan air.
6. Potensi Bencana geologi : memberikan informasi bencana yang bersifat merusak atau
merugikan misal letusan gunungapi, gempa bumi t ektonik, gerakan tanah, banjir, aliran
debris, erosi dan abrasi. Dalam melakukan penataan terhadap suatu wilayah, bencana alam
yang mungkin dan dapat terjadi harus diiventarisasi dan dibuat penanggulanganya untuk
dapat mengurangi kerugian yang ditimbulkan oleh bencana alam tersebut.

GEOLOGI LINGKUNGAN by Sigit Widiadi, 2015

7. Kondisi Geologi Teknik : memberikan informasi sifat-sifat keteknikan dari tanah dan batuan.
Dalam penyelidikan geologi lingkungan di wilayah penelitian ini menggunakan data-data
yang berdasarkan pada data primer yaitu data yang langsung diperoleh dari lapangan.
Pengambilan data geologi teknik di lapangan dilakukan dengan :
a.

Penyondiran
Pekerjaan penyondiran dilakukan dengan menggunakan sondir kapasitas 2,5 ton. Ujung
penetrometer/sondir yang dipakai dalam penyelidikan ini adalah Friction Sleeve
(Bikonus). Penyondiran ini dimaksudkan untuk mengetahui data tekanan konus hingga
lebih besar dari 150 kg/cm3, hambatan lekat serta friction ratio.
Dari penyondiran ini diperoleh hasil berupa :
1. Tekanan yang dibutuhkan untuk mendapatkan nilai konus dan lekatan yaitu dengan
cara menekankan konus yang berada di ujung stang sondir dengan kecepatan
penetrasi 1 cm/detik.
2. Pembacaan nilai konus dan lekatan dilakukan setiap interval 50 cm. Pembacaan
pertama adalah nilai konus dan pembacaan yang kedua adalah nilai konus dan
lekatan mantel.
Penyondiran pada umumnya dilakukan pada daerah cohesive soil atau fine grain soil.
Hasil sondir ini akan disajikan dalam bentuk grafik yang menyatakan hubungan antara
kedalaman, nilai tekanan konus, nilai hambatan lekat setempat, jumlah hambatan
lekat, dan fraction ratio yang dapat digunakan untuk menafsirkan nilai empiris
besarnya daya dukung

b. Pengambilan contoh tanah


Pengambilan contoh tanah/batuan dilakukan dengan dua macam cara yaitu
pengambilan contoh tanah tidak terganggu (undisturbed sampel) dan pengambilan
sampel yang terganggu (disturbed sampel), dimaksudkan untuk mendapatkan contoh
tanah yang dapat mewakili kondisi asli pada kedalaman tertentu.
Pada pengambilan contoh tanah tidak terganggu dipergunakan tabung contoh dari baja
tipis (thin walled tube) yang dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan pemboran
tangan atau dari lubang bor sumur uji. Sedangkan pada pengambilan contoh tanah
terganggu dapat dipergunakan karung atau kantong plastik. Sebagai contoh tanah yang
diambil adalah 6 sampel.

Cakupan geologi pengembangan wilayah yaitu menilai semua parameter geologi untuk
menentukan layak atau tidaknya penggunaan lahan. Arahan layak atau tidaknya penggunaan lahan
didasarkan pada 3 jenis kawasan yaitu kawasan budidaya, kawasan lindung dan kawasan rawan
bencana. Konsep pengembangan wilayah tidak hanya untuk wilayah yang belum dikembangkan,

GEOLOGI LINGKUNGAN by Sigit Widiadi, 2015

tetapi juga diterapkan untuk wilayah yang sudah dikembangkan. Pada wilayah yang sudah
dikembangkan perlu dievaluasi lebih mendalam mengenai sesumber dan potensi bencana untuk
meminimalkan degradasi lingkungan.
Konsep dan strategi pengembangan wilayah mengacu pada konsep keterpaduan,
keberlanjutan pengembangan, dan konsep ruang. Terpadu artinya selektif, tidak semua parameter
harus dikembangkan, dicari yang paling menguntungkan dimana penilaian mencakup komponen
biotik dan abiotik. Keberlanjutan pengembangan artinya konsep pengembangan wilayah juga telah
merencanakan untuk masa depan baik dari segi sosial, ekonomi dan lingkungan.
Strategi dalam konsep pengembangan wilayah mempunyai sifat sebagai berikut :
1.

Fleksibel (flexible planning);

2.

Setting priority (didahulukan prioritas yang paling diperlukan);

3.

PendekatanProgram;

4.

PendekatanEkosistem/ruang.

Skenario pengembangan wilayah dillakukan berdasarkanan analisis yang dilakukan pada


potensi yang dimiliki di masing-masing unit geologi lingkungan yang telah ada. Proses
pengembangan wilayah adalah usaha yang bertujuan untuk membuat masyarakat sejahtera baik
lahir maupun batin yang dilaksanakan di atas wilayah.
Perencanaan pengembangan wilayah adalah menetapkan kelayakan wilayah tersebut untuk
menerima perubahan fungsi sesuai dengan kemampuannya. Dalam perubahan fungsi ini sangat
diperlukanan anlisis tentang tingkat kemampuan lahan (landcapability) dan tingkat kesesuaian
lahan (landsuitability).
Tingkat kemampuan lahan berbasis geologi, berisi informasi mengenai daya dukung
lingkungan fisik yang berupa potensi sumber daya geologi dan bencana geologi pada suatu daerah.
Sedangkan evaluasi kesesuaian lahan dilakukan dengan cara mengetahui daya dukung dan potensi
geologi untuk dimanfaatkan pada suatu kriteria kawasan/penggunaan lahan yang dibandingkan
dengan penggunaan lahan sekarang.
Informasi Geologi Teknik dan Tata Lingkungan dalam konteks pengembangan wilayah berbasis pada
informasi mengenai tingkat kemampuan lahan dan tingkat kesesuaian lahan (secara geologi) mencakup
beberapa faktor yaitu

1.

Informasi daya dukung lingkungan fisik, informasi ini mencakup pada data-data fisik yang
dimiliki oleh wilayah yang akan dikembangkan, seperti data geologi, geomorfologi,
geohidrologi, juga termasuk di dalamnya data sumberdaya geologi dan data non geologi.

2.

Penganalisaan perkiraan bencana geologi yang hadir dalam wilayah tersebut.

GEOLOGI LINGKUNGAN by Sigit Widiadi, 2015

3.

Informasi mengenai pemanfaatan lahan saat ini. Informasi ini menjadi penting ketika kita
ingin mengubah atau menyarankan perubahan pemanfaatan lahan yang lebih
menguntungkan daripada pemanfatan lahan saat ini.

4.

Skenario

pengembangan

unit

geologi

lingkungan.

Proses

penentuan

skenario

pengembangan wilayah ini tentunya didasarkan pada analisa ke tiga poin sebelumnya.

Proses pengembangan wilayah (Howard dan Remson, 1978) dilakukan dengan tahapantahapan sebagai berikut :

Definisi masalah dan objek masalah


Definisi masalah dan objek masalah yang kita hadapi dalam rangka pengembangan wilayah
merupakan hal pertama yang harus dilakukan. Hal ini penting dilakukan untuk membatasi
permasalahan yang akan diatasi dalam rangka pengembangan wilayah.

Studi pustaka dari wilayah yang akan dikembangkan


Sebelum melakukan studi langsung ke daerah yang akan kita kembangkan, seharusnya kita
memiliki referensi yang cukup mengenai daerah yang akan kita kembangkan.

Rencana dan persiapan


Rencana dan persiapan yang matang akan memberikan hasil yang maksimal dalam melakukan
sebuah pekerjaan, apalagi pekerjaan yang berhubungan dengan banyak bidang (interdisipliner)
seperti dalam pengembangan suatu wilayah.

Implementasi program dan perundang-undangan


Penerapan program yang telah direncanakan dan melengkapinya dengan perundangundangan yang melindungi apa yang telah menjadi rancangan pengembangan suatu wilayah.

Gambar 1. Bagan tahapan pengembangan suatu wilayah (Howard & Remson, 1978)

Tahapan ini merupakan tahap awal dalam proses pengembangan suatu wilayah. Selanjutnya
proses perencanaan pengembangan wilayah akan ditinjau dari beberapa factor yaitu factor
ekonomi, sosial, politik dan fisik. Berdasarkan keempat factor tersebut maka akan dibuat rencana

GEOLOGI LINGKUNGAN by Sigit Widiadi, 2015

awal pengembangan wilayah. Setelah rencana awal ini disusun, kemudian disusun rencana yang
nyata akan direalisasikan berdasarkan atas feedback yang didapatkan dari keempat factor tersebut
(Gambar 1).
Strategi pengembangan wilayah dilakukan dengan dasar analisis dan pengolahan data, baik
data yang diperoleh dari hasil pengamatan lapangan maupun data sekunder. Metoda tumpang
susun (overlay) peta dan metode geological landscape zoning untuk mendapatkan rekomendasi
penggunaan lahan berbasis geologi. Analisis dilakukan untuk menetapkan zonasi (unit) geologi
lingkungan untuk penataan ruang perkotaan dan rekomendasi penggunaan lahan wilayah.
Metode ini dibagi menjadi 3 tahapan yaitu tahapan penentuan unit geologi lingkungan yang
menghasilkan peta geologi lingkungan dan yang ke dua adalah melakukan proses analisis deskriptif
kualitatif terhadap unit-unit geologi lingkungan yang telah ada dan yang terakhir adalah melakukan
komparatif (overlay) antara potensi geologi yang terdapat pada masing-masing unit dengan
pemanfaatan lahan saat ini.
Adapun penjelasan dari alur metode tersebut adalah sebagai berikut :
1.

Penentuan unit geologi lingkungan


Penentuan unit geologi lingkungan ini dilakukan berdasarkan peta geomorfologi. Menurut
Purbo Hadiwidjojo 1976, peta geomorfologi dipilih sebagai dasar dalam perencanaan
pengembangan wilayah karena berperan sebagai unit pemetaan dengan pertimbangan
sebagai berikut :
a) Bentuk lahan menggambarkan konfigurasi permukaan bumi, struktur geologi, jenis batuan
dan proses geomorfologi yang terjadi.
b) Bentuk lahan mempunyai kaitan erat dengan unsur-unsur lingkungan, seperti persediaan
air tanah dan air permukaan, soil, vegetasi, iklim, kemiringan lereng, potensi bahan galian
atau bahan tambang dan potensi bencana alam geologi.

2.

Deskriptif kualitatif
Deskriptif kualitatif ini dilakukan dengan melakukan pendeskripsian kondisi lapangan yang
berdasarkan pada masing-masing unit geologi lingkungan, hanya dengan berdasarkan
kualitasnya saja. Deskripsi yang dilakukan berdasarkan atas parameter-parameter yang
menjadi dasar pijakan dalam proses pengembangan wilayah.
Parameter-parameter ini terdiri atas parameter geologi lingkungan dan parameter non
geologi. Parameter geologi lingkungan terdiri atas aspek sumberdaya geologi dan aspek
bahaya geologi. Sedangkan aspek non geologi dalam penelitian ini adalah berupa aspek-aspek
fisik seperti, analisa tutupan lahan, iklim dan adanya potensi wisata alam. Hasil analisis
deskriptif kualitaif ini akan menghasilkan peta geologi lingkungan yang akan menjadi dasar
pijakan dalam proses pengembangan wilayah secara umum.

GEOLOGI LINGKUNGAN by Sigit Widiadi, 2015

3.

Komparatif
Komparatif adalah proses terakhir yang dilakukan dalam metode ini. Proses ini dilakukan
dengan mengkomparasikan (overlay) antara kondisi pemanfaatan lahan saat ini dengan tingkat
kemampuan lahan dan tingkat kesesuaian lahan yang berbasis pada kondisi geologi.
Pembandingan ini akan memberikan gambaran proses pengembangan wilayah yang akan
dilakukan pada daerah tersebut.

Hasil akhir dari proses analisis ini yang terwakilkan dalam 3 tahapan diatas adalah peta
geologi pengembangan wilayah yang mana bisa dijadikan sebuah dasar pemikiran dalam
menentukan layak tidaknya wilayah tersebut dikembangkan.

MANAJEMEN TATA RUANG


Ruang (space) merupakan wilayah dimana manusia dan makhluk hidup lainnya tinggal,
beraktifitas dan mempertahankan kehidupannya yang meliputi daratan, laut dan udara. Suatu
kesatuan ruang yang ditetapkan berdasarkan aspek administrasi dan aspek fungsi disebut kawasan
budidaya. Kawasan budidaya dibagi menjadi 3 kawasan :
1.

Kawasan Pedesaaan (Rural area)


Merupakan kawasan yang fungsi utamanya adalah untuk pertanian (fungsi agraris) yang
meliputi kawasan manajemen sumber daya alam dan termasuk di dalamnya pemukiman. Jadi
dalam kawasan ini boleh terdapat kegiatan perekonomian maupun pemerintahan setempat,
asal tdak mengganggu fungsi utamanya (agraris).

2.

Kawasan Perkotaan (Urbanarea)


Merupakan kawasan dengan aktifitas utama non agraris dan kawasan ini mempunyai fungsi
sebagai pusat aktivitas masyarakat perkotaanitusendirimaupunwilayah di sekitarnya yang
terdiri atas pusatperindustrian, perdagangan, pendidikan, teknologi dan lainsebagainya.

3.

Kawasan Khusus (Specialarea)


Merupakan kawasan yang ditetapkan dengan basis untuk kepentingan nasional yang
mempunyai fungsi strategis dan pengelolaan/penggunaannya mempunyai prioritas tinggi.
Pada dasarnya manajemen tata ruang menurut pandangan berbagai ahli memiliki dimensi

yang berbeda-beda, namun pada dasarnya memiliki ciri adanya suatu proses atau usaha
peningkatan ke arah yang lebih baik, berkesinambungan, dilakukan secara terencana dan dilakukan
secara bertahap untuk mencapai suatu tujuan yang telah digariskan.

GEOLOGI LINGKUNGAN by Sigit Widiadi, 2015

Salah satu data dasar yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam penyusunan
rencana tata ruang adalah informasi lingkungan fisik yang beraspek geologi lingkungan. Beberapa
kriteria geologi umum yang berperan dalam proses penunjang perencanaan dan pengembangan
wilayah adalah :
1.

Kondisi bentang alam yang sesuai.

2.

Kondisi tanah yang mampu mendukung fisik bangunan, kwualitas dan cadangan yang cukup
dari mineral/batuan untuk bahan bangunan dan bahan dasar industri/energi.

3.

Kualitas dan cadangan berbagai sumber air yang memenuhi persyaratan bagi berbagai
pembangunan dan pengembangan wilayah/kota.

4.

Keadaan lahan dan lereng yang stabil bagi erosi, longsoran, dan amblesan.

5.

Wilayah yang bebas dari ancaman bencana alam kebumian seperti banjir, tanah longsor,
letusan gunung api dan aliran lahar, gempa bumi, dan tsunami.

6.

Tidak adanya sesar aktif yang melalui wilayah.

7.

Tersedianya lahan untuk memenuhi syarat bagi pembuangan sampah/limbah.

Dengan dilibatkannya data-data geologi dalam proses pengembangan wilayah maka


diharapkan tidak terjadi lagi penetapan peruntukan kawasan yang tidak cocok/sesuai dengan daya
dukung alamnya.

METODE ANALISIS
Data yang dikumpulkan terdiri dari dua macam, yakni data geologi dan data non-geologi.
Data geologi terdiri atas data sumber daya geologi yang mencakup produktifitas air tanah,
kemiringan lereng, tanah/batuan, bahan galian; serta data bahaya geologi yang mencakup gempa
bumi, gerakan tanah, dan amblesan.Adapun data non geologi yang berupa rona lingkungan
penutup lahan, batas kawasan lindung, daerah banjir, infrastruktur dan sungai.
Metode analisis yang digunakan adalah overlay. Dalam metode ini menurut Indra (2007)
perlu dilakukan penggabungan antara data geologi lingkungan dan non geologi (Tabel 2 Tabel 5).
Dalam penggabungan ini setiap parameter geologi lingkungan ditentukan bobot, kelas dan nilainya.
Kemudian dihitung skornya yang merupakan hasil perkalian antara bobot dan nilai. Selanjutnya
ditentukan total skor yang merupakan jumlah seluruh skor parameter geologi lingkungan.
Berdasarkan total skor ini dapat diketahui nilai geologi lingkungannya.
Adapun kisaran nilai geologi lingkungan adalah 24-38 (zona tidak leluasa), 38-52 (zona kurang
leluasa), 52-67 (zona agak leluasa), 81-96 (zona leluasa) serta zona tidak layak yang merupakan

GEOLOGI LINGKUNGAN by Sigit Widiadi, 2015

daerah dengan bahaya geologi ataupun karena peraturan/perundangan sudah ditetapkan sebagai
kawasan lindung.

Tabel 2. Komponen Sumber Daya Geologi (Indra, 2007)


No.
1

Komponen
Air Tanah
a. Zona Konservasi
(pengambilan air tanah)

b. Produktivitas akuifer

c.Kedalaman air tanah

d. Kesesuaian kelayakan
sebagai air minum

2.

3.

Kemiringan Lereng

Tanah / Batuan

Keras
Sedang

Kisaran

Kelas

Daerah aman

Daerah rawan (termasuk daerah


imbuhan)
Daerah kritis dan rusak
Tinggi (>3 lt/dt)
Sedang (1-3 lt/dt)
Rendah (0,5-1 lt/dt)
Sangat rendah (<0,5 lt/dt)
Dangkal (0-50m)
Agak dalam (50-100m)
Dalam (100-200m)
Sangat dalam (>200m)
1. Air tanah dangkal sesuai untuk air
baku sampai setempat tercemar
atau setempat tidak sesuai untuk
air baku. Air tanah dalam sesuai
untuk air baku.
2. Air tanah dangkal tidak sesuai
untuk air baku. Air tanah dalam
sesuai untuk air baku.
3. Air tanah dangkal dan air tanah
dalam setempat tidak sesuai untuk
air baku.
4. Air tanah dangkal tidak sesuai
untuk air baku. Air tanah dalam
setempat tidak sesuai sampai
seluruhnya tidak sesuai untuk air
baku.
Datar (0-5%)
Landai (5-10%)
Terjal (10-15%)
Sangat Terjal ( > 15%)
NSPT
Kg/cm2
Ton/m2
(pembo- (sondir)
(Qal)
ran)
> 50
> 150
> 21,6

30-50

60-150

7,2-21,6

10-30

20-60

3,6-7,2

< 10

< 20

< 3,6

Lunak

Sangat lunak

1
4
3
2
1
4
3
2
1

Nilai

Baik

Sedang

Buruk

Sangat
buruk

Bobot
3

Skor

12

P
O
T
E

N
S

Baik
Sedang
Buruk
Sangat buruk
Jenis
material
permukaan
Batuan
Tanah
residu
(>2m) Pasir
& kerikil
(5m)
Lanau,
pasir, dan
kerikil (<5m)
Lempung
Lumpur,
lempung
organik dan
gambut

4
3
2
1

16
12
8
4

Baik

20

Sedang

15

Buruk

10

Sangat
buruk

GEOLOGI LINGKUNGAN by Sigit Widiadi, 2015

Tabel 3. Komponen Bahaya Geologi (Indra, 2007)

Sumber : Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol.2 No.2 Agustus 2011 : 95 - 112

Tabel 4. Komponen Penyisih Geologi (Indra, 2007)

Sumber : Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol.2 No.2 Agustus 2011 : 95 - 112

GEOLOGI LINGKUNGAN by Sigit Widiadi, 2015

Tabel 5. Komponen Penyisih Non Geologi (Indra, 2007)

Sumber : Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, Vol.2 No.2 Agustus 2011 : 95 - 112