Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP DASAR
A. Definisi
Kanker endometrium adalah kanker yang terjadi pada organ endometrium atau
pada dinding rahim. Endometrium adalah organ rahim yang berbentuk seperti
buah pir sebagai tempat tertanam dan berkembangnya janin. kanker
endometrium kadang-kadang disebut kanker rahim, tetapi ada sel-sel lain
dalam rahim yang bisa menjadi kanker seperti otot atau sel miometrium.
kanker endometrium sering terdeteksi pada tahap awal karena sering
menghasilkan pendarahan vagina di antara periode menstruasi atau setelah
menopause (Whoellan 2009)
B. Klasifikasi (Pada tahun 1988 FIGO menetapkan kriteria stadium surgikal)
Saat ini, stadium kanker endometrium ditetapkan berdasarkan surgical staging,
menurut The International Federation of Gynecology and Obstetrics(FIGO)
1988 :
Tingkat
0

Kriteria
Karsinoma

In

Situ,

lesiparaneoplastik

seperti

hyperplasia

adenomatosa endometrium atau hyperplasia endometrium atipik


I

Proses masih terbatas pada korpus uteri

IA

Tumor terbatas pada endometrium (miometrium intak)

IB

Invasi miometrium minimal, kurang dari separuh miometrium

IC

Invasi miometrium lebih dari separuh tebal miometrium

II

Proses sudah meluas ke servik, tapi tidak meluas ke atas uterus

IIA

Keterlibatan kelenjar endoserviks

IIB

Sudah melibatkan stroma serviks

III

Proses sudah keluar uterus,tapi masih berada dalam panggul kecil

IIIA

Invasi cairan serosa uterus, adneksa, atau hasil positif pada sitologi
cairan peritoneum

IIIB

Invasi ke vagina

IIIC

Metastasis ke kelenjar getah bening pelvis dan/atau paraaorta

IV

Proses sudah keluar dari panggul kecil

IVA

Invasi ke kandung kemih dan/atau rectum

IVB

Metastasis jauh, termasuk ke organ visera atau KGB inguinal

C. Etiologi
Sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebab kanker endometrium,
tetapi beberapa penelitiian menunjukkan bahwa rangsangan estrogen yang
berlebihan dan terus menerus bisa menyebabkan kanker endometrium. Berikut
ini beberapa faktor resiko yang bisa meningkatkan munculnya kanker
endometrium :
1. Obesitas atau kegemukan.
Pada wanita obesitas dan usia tua terjadi peningkatan reaksi konversi
androstenedion menjadi estron. Pada obesitas konversi ini ditemukan
sebanyak 25-20 kali. Obesitas merupakan faktor resiko utama pada kanker
endometrium sebanyak 2 sampai 20 kali. Wanita dengan berat badan 10-25
Kg diatas berat badan normal menpunyai resiko 3 kali lipat dibanding
dengan wanita dengan berat badan normal. Bila berat badan lebih dari 25
Kg diatas berat badan normal maka resiko menjadi 9 kali lipat.
2. Haid pertama (menarche).
Wanita mempunyai riwayat menars sebelum usia 12 tahun mempunyai
resiko 1,6 kali lebih tinggi daripada wanita yang mempunyai riwayat menars
setelah usia lenih dari 12 tahun. Menstruation span merupakan metode
numerik untuk menentukan faktor resiko dengan usia saat menarche, usia
menopause dari jumlah paritas. Menstruasion span (MS) = usia menars
(jumlah paritas x1,5). Bila MS 39 maka resiko terkena kanker endometrium
sebanyak 4,2 kali dibanding MS < 29.
3. Tidak pernah melahirkan.
Memiliki resiko terkena kanker endometrium lebih tinggi baik sudah
menikah atau belum dibanding wanita yang pernah melahirkan. Penelitian
menunjukkan bahwa 25% penderita kanker endometrium tidak pernah
melahirkan anak (nulipara). Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa

faktor

ketidaksuburan(infertilitas)

lebih

berperan

daripada

jumlah

melahirkan (paritas).
4. Penggunaan estrogen.
Estrogen sering digunakan sebagai terapi sulih hormon. Peningkatan
penggunaan hormon ini diikuti dengan meningkatnya resiko kanker
endometrium.
5. Hiperplasia endometrium.
Hiperplasia endometrium adalah pertumbuhan yang berlebihan dari jaringan
selaput lendir rahim disertai peningkatan vaskularisasi akibat rangsangan
estrogen

yang

berlebihan

dan

terus

menerus.

Disebut

neoplasia

endometrium intraepitel jika hiperplasia endometrium disertai sel-sel


atipikal dan meningkatkan resiko menjadi kanker endometrium sebesar
23%.
6. Diabetes mellitus (DM).
Diabetes melitus dan tes toleransi glukosa (TTG) abnorml merupakan faktor
resiko keganasan endometrium. Angka kejadian diabetes melitus klinis pada
penderita karsinoma endometrium berkisar antara 3-17%, sedangkan angka
kejadian TTG yang abnormal berkisar antara 17-64%.
7. Hipertensi.
50% dari kasus endometrium menderita hipertensi dibandingkan dengan 1/3
populasi kontrol yang menderita penyakit tersebut, kejadian hipertensi pada
keganasan endometrium menurut statistik lebih tinggi secara bermakna
daripada populasi kontrol.
8. Faktor lingkungan dan diet.
Faktor lingkungan dan menu makanan juga mempengaruhi angka kejadian
keganasan endometrium lenih tinggi daripada di ngara-negara yang sedang
berkembang. Kejadian keganasan endometrium di Amerika Utara dan Eropa
lebih tinggi daripada angka kejadian keganasan di Asia, Afrika dan Amerika
latin. Agaknya perbedaan mil disebabkan perbedaan menu dan jenis makan
sehari-hari dan juga terbukti dengan adanya perbedaan yang menyolok dari
keganasan endometrium pada golongan kaya dan golongan miskin. Keadaan
ini tampak pada orang-orang negro yang pindah dari daerah rural ke
Amerika Utara. Hal yang sama juga terjadi pada orang-orang Asia yang
pindah ke negara industri dan merubah menu makanannya dengan cara barat

seperti misalnya di Manila dan Jepang, angka kejadian keganasan


endometrium lebih tinggi daripada di negara-negara Asia lainnya
9. Riwayat keluarga.
Ada kemungkinan terkena kanker endometrium, jika terdapat anggota
keluarga yang terkena kanker ini, meskipun prosentasenya sangat kecil.
10. Tumor memproduksi estrogen.
Adanya tumor yang memproduksi estrogen, misalnya tumor sel granulosa,
akan meningkatkan angka kejadian kanker endometrium.
D. Manifestasi Klinis
Keluhan utama yang dirasakan pasien kanker endometrium adalah
perdarahan pasca menopause bagi pasien yang telah menopause dan
perdarahan intermenstruasi bagi pasien yang belum menopause. Keluhan
keputihan merupakan keluhan yang paling banyak menyertai keluhan
utama. Gejalanya bisa berupa:
a. Perdarahan rahim yang abnormal
b. Siklus menstruasi yang abnormal
c. Perdarahan diantara 2 siklus menstruasi (pada wanita yang masih
mengalami menstruasi)
d. Perdarahan vagina atau spotting pada wanita pasca menopause
e. Perdarahan yang sangat lama, berat dan sering (pada wanita yang berusia
f.
g.
h.
i.

diatas 40 tahun)
Nyeri perut bagian bawah atau kram panggul
Keluar cairan putih yang encer atau jernih (pada wanita pasca menopause)
Nyeri atau kesulitan dalam berkemih
Nyeri ketika melakukan hubungan seksual (Isdaryanto: 2010).

E. Komplikasi
1. Anemia disebabkan oleh sifat fagosit sel tumor atau adanya perdarahan.
2. Obstruksi khusus disebabkan pembesaran sel-sel tumor yang dapat
menekan usus.
3. Depresi sum-sum tulang disebabkan faktor penghasil sel darah merah dari
sum-sum tulang sebagai sistem imun. Sel darah merah berusaha untuk
menghancurkan sel-sel tumor sehingga kerja sel-sel tumor optimal.
4. Perdarahan disebabkan pembesaran tumor pada ovarium yang dapat
menyebabkan ruptur

F. Patofisiologi
Kanker endometrium adalah kanker yang terbentuk di dalam
endometrium yang merupakan lapisan dalam halus rahim atau rahim. Rahim
terletak di daerah panggul dan menyerupai bentuk sebuah pepaya atau buah pir.
90% dari semua kanker rahim yang terbentuk di endometrium. Profesional
medis tidak tahu persis apa yang menyebabkan kanker endometrium, tetapi
telah dikaitkan dengan estrogen terlalu banyak, yang merupakan hormon
wanita. Ini adalah ovarium yang memproduksi estrogen, tetapi mereka juga
memproduksi hormon lain yang disebut progesteron yang membantu untuk
menyeimbangkan estrogen. Kedua hormon harus seimbang, tetapi jika terlalu
banyak estrogen yang diproduksi akan menyebabkan endometrium tumbuh,
sehingga meningkatkan risiko kanker endometrium. Ada faktor lain yang
meningkatkan kadar estrogen dan salah satunya adalah obesitas. Jaringan
lemak dalam tubuh juga memproduksi hormon estrogen. Pola makan dengan
asupan tinggi lemak hewani, termasuk daging, susu, dan unggas, bersama
dengan makanan olahan dan gula halus adalah nomor satu penyebab obesitas.
Makanan ini harus dihindari terutama oleh mereka yang beresiko. Mereka yang
berisiko adalah wanita yang telah melalui menopause, tidak punya anak,
menderita diabetes, memiliki kanker payudara, atau sering mengkonsumsi
makanan dengan lemak tinggi.
Tanda pertama kanker endometrium adalah perdarahan atau bercak.
Pendarahan atau bercak mungkin tidak selalu hasil dari kanker, tetapi ide yang
baik untuk segera memeriksakan ke dokter agar diperiksa lebih detail lagi.
Gejala lain dari kanker endometrium adalah penurunan berat badan, kelelahan,
nyeri panggul, kesulitan buang air kecil dan nyeri selama hubungan seksual.
Kanker ini terutama mempengaruhi wanita yang telah melewati menopause.
Mayoritas kasus pada perempuan berusia 55-70 tahun (Corwin: 1999).
G. Pathway

Usia,
Obesitas
Peningkatan kadar
estrogen

Opera
si
Pengangkatan
rahim
Disfungsi

Kanker
endometrium
Nye
Ansiet

Kemotera
pi
Iritasi
gastrointestinal

Disfungsi
Gangguan citra

H. Pemeriksaan Penunjang
1. Pap Smear
adalah metode skrining

ginekologi,

dicetuskan

oleh

Mu

Georgias

Papanikolaou, untuk mendeteksi kanker rahim yang disebabkan oleh


human papilomavirus. Pengambilan sampel endometrium, selanjutnya di
periksa dengan mikroskop (PA). Cara untuk mendapatkan sampel adalah
dengan aspirasi sitologi dan biopsy hisap (suction biopsy) menggunakan
suatu kanul khusus. Alat yang digunakan adalah novak, serrated novak,
kovorkian, explora (mylex), pipelly (uniman), probet (Hidayat: 2009).
2. Dilatasi dan Kuretase (D&C)
Caranya yaitu leher rahim dilebarkan dengan dilatator kemudian
hiperplasianya dikuret. Hasil kuret lalu di cek di lab Patologi.
Memasukkan kamera (endoskopi) kedalam rahim lewat vagina. Dilakukan
juga pengambilan sampel untuk di cek di lab Patologi (Hidayat: 2009).
3. Biopsi endometrium
Endometrial biopsi, teknik pengambilan dan pemeriksaan sampel sel
jaringan rahim yang bertujuan menemukan kanker endometrial dan hanya
dilakukan pada pasien yang beresiko tinggi (Hidayat: 2009).
4. Pelvic exam, dokter memeriksa daerah sepanjang kandungan apakah
terdapat lesi, benjolan, atau mengetahui daerah mana yang terasa sakit jika
diraba. Untuk daerah kandungan bagian atas dokter menggunakan alat
speculum. Teknik pemeriksaan ini sebenarnya harus rutin dilakukan oleh
wanita untuk mengetahui kondisi vaginanya (Hidayat: 2009).
I. Penatalaksaan Medis

Radiasi atau histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis merupakan


pilihan terapi untuk adenokarsinoma endoserviks yang masih terlokalisasi,
sedangkan staging surgical yang meliputi histerektomi simple dan pengambilan
contoh kelenjar getah bening para-aorta adalah penatalaksanaan umum
adenokarsinoma endometrium.
1.

Pembedahan
Kebanyakan penderita akan menjalani histerektomi (pengangkatan

rahim). Kedua tuba falopii dan ovarium juga diangkat (salpingo-ooforektomi


bilateral) karena sel-sel tumor bisa menyebar ke ovarium dan sel-sel
kanker dorman (tidak aktif) yang mungkin tertinggal kemungkinan akan
terangsang oleh estrogen yang dihasilkan oleh ovarium. Jika ditemukan sel-sel
kanker di dalam kelenjar getah bening di sekitar tumor, maka kelenjar getah
bening tersebut juga diangkat. Jika sel kanker telah ditemukan di dalam
kelenjar getah bening, maka kemungkinan kanker telah menyebar ke bagian
tubuh lainnya. Jika sel kanker belum menyebar ke luar endometrium (lapisan
rahim), maka penderita tidak perlu menjalani pengobatan lainnya.
2. Radioterapi
Pada radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh
sel-sel kanker. Terapi penyinaran merupakan terapi lokal, hanya menyerang
sel-sel kanker di daerah yang disinari. Pada stadium I, II atau III dilakukan
terapi penyinaran dan pembedahan. Angka ketahanan hidup 5 tahun pada
pasien kanker endometrium menurun 20-30% dibanding dengan pasien dengan
operasi dan penyinaran. Penyinaran bisa dilakukan sebelum pembedahan
(untuk memperkecil ukuran tumor) atau setelah pembedahan (untuk
membunuh sel-sel kanker yang tersisa). Stadium I dan II secara medis hanya
diberi terapi penyinaran. Pada pasien dengan risiko rendah (stadium IA grade 1
atau 2) tidak memerlukan radiasi adjuvan pasca operasi.

3. Kemoterapi

Adalah pemberian obat untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi


merupakan terapi sistemik yang menyebar keseluruh tubuh dan mencapai
sel kanker yang telah menyebar jauh atau metastase ke tempat lain.
Tujuan Kemoterapi
a)
b)
c)

Membunuh sel-sel kanker.


Menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.
Meningkatkan angka ketahanan hidup selama 5 tahun.

J. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Riwayat Menstruasi
1) Menarche

: Usia menarch dini (<12 tahun) berkaitan

dengan meningkatnya risiko kanker endometrium walaupun tidak


selalu konsisten.
2) Siklus
: dapat mengalami perdarahan diluar siklus haid
dan lebih panjang (banyak atau bercak)
3) Jumlah
: lebih banyak
4) Lamanya
: dapat memanjang
5) Sifat Darah
: encer atau bergumpal
6) Teratur / tidak
: mengalami perubahan
7) Dismenorhea
: dapat terjadi
8) Fluor albus
: berlebihan, berbau, purulen, bercampur darah
9) HPHT
:
b. Riwayat Penyakit yang lalu:
Menggali riwayat penyakit yang pernah dan sedang diderita oleh ibu
khususnya penyakit ginekologi,diabetes dan hipertensi.
c. Riwayat penyakit keluarga
Menggali riwayat penyakit keluarga, karena kanker endometrium berisiko
pada wanita yang memiliki riwayat genetik.
d. Riwayat Sosial Budaya
1) Status Emosional :
Menggali kondisi emosional ibu yang berkaitan dengan
penyakitnya.
2) Tradisi :
Menggali kebiasaan-kebiasaan terhadap penyakitnya (merokok
atau perokok pasif), sirkumsisi.

e. Riwayat Penyakit Sekarang:


Masalah yang mungkin terjadi ketidaknyamanan yang berkaitan
dengan perubahan pola menstruasi (perdarahan banyak), nyeri, adanya
keputihan, keluhan lain yang disebabkan oleh penekanan tumor pada
vesika urinaria, uretra, ureter, rectum, pembuluh darah dan limfe.
2. Diagnosa keperawatan
a. Pre Penanganan
1) Nyeri kronis berhubungan dengan nekrosis jaringan akibat kanker
endometrium.
2) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan
akibat proses penyakit.
3) Disfungsi seksual berhubungan dengan koitus yang nyeri akibat
nekrosis jaringan akibat kanker endometrium.
b. Post Penanganan Operasi, Radiasi, Chemoterapi
1) Mual berhubungan dengan iritasi gastrointestinal akibat kemoterapi
2) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan
sekunder akibat kemoterapi
3) Ketidakefektifan kinerja peran berhubungan dengan kehilangan
fungsi peran sebagai wanita akibat tindakan operatif pengangkatan
rahim.
3. Perencanaan
No
1

Diagnosa
Tujuan
Intervensi
Nyeri
kronis Nyeri
berkurang NIC Label >> Pain management
berhubungan

atau

dengan

nekrosis dengan

jaringan

akibat hasil:

kanker
endometrium.

terkontrol, a. Lakukan
kriteria

a. Klien
mengeluh
nyeri.
b. Klien

komprehensif
meliputi

tidak

pengkajian

onset/durasi,

terhadap

lokasi,

yang
nyeri,

karasteristik,

frekuensi,

kualitas,

intensitas nyeri, serta faktor-faktor


yang dapat memicu nyeri.
tidak b. Observasi tanda-tanda non verbal

merintih
kesakitan
c. Klien
tidak

atau isyarat dari ketidaknyamanan.


c. Gunakan
strategi
komunikasi
terapeutik

dalam

mengkaji

gelisah
d. Wajah

pengalaman
klien

nyeri

dan

menyampaikan penerimaan terhadap

tampak relaks
e. RR dalam batas

respon klien terhadap nyeri.


d. Kaji tanda-tanda vital klien.
(16-20 e. Kaji pengetahuan dan pengalaman

normal

kali/menit)
klien terhadap nyeri klien.
f. Nadi
dalam f. Diskusikan bersama klien mengenai
batas

normal

(60-100

faktor-faktor

yang

dapat

memperburuk nyeri klien.


g. Evaluasi bersama klien dan tim

kali/menit)

medis mengenai riwayat keefektifan

l.

intervensi

nyeri

yang

pernah

diberikan pada klien.


h. Kontrol faktor lingkungan yang
dapat

menyebabkan

ketidaknyamanan,

seperti

suhu

ruangan, pencahayaan, kebisingan).


i. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen
nyeri non farmakologi, (mis: teknik
terapi

musik,

distraksi,

imagery, masase dll).


j. Kolaborasi
dalam
2

pemberian

analgetik sesuai indikasi.


diberikan NIC Label >> nausea management

Nausea

Setelah

berhubungan

asuhan keperawatn

dengan

guided

Berikan pasien untuk memonitor

iritasi selama x24 jam pengalaman nauseanya

gastrointestinal

diharapkan nausea

akibat kemoterapi

pasien
dengan

Nausea

pasien

strategi

untuk

teratasi, mengatur rasa mualnya


criteria

hasil:
NOC

Ajarkan

Lakukan pengkajian lengkap rasa


mual termasuk frekuensi, durasi, tingkat

Label

>>

mual, dan faktor yang menyebabkan

and pasien mual.

Vomiting Control

Kurangi

faktor

personal

yang

Klien

menyebabkan atau meningkatkan mual

menyadari

onset (cemas, takut, kelelahan, dan kurang

dari nausea secara informasi)


teratur

Berikan istirahat dan tidur yang

Klien

dapat adekuat untuk mengurangi mual

menghindari faktor
penyebab

Berikan terapi farmakologi pada

nausea mual yang tidak dapat ditoleransi

dengan baik

Anjurkan klien mengurangi jumlah

Klien

makanan yang bisa menimbulkan mual.

melakukan

NIC Label >> Fluid Management

tindakan

Pencatatan

intake

output

secara

pencegahan nausea akurat


dengan teratur
Klien

Monitor status nutrisi


dapat

Monitor status hidrasi (Kelembaban

melaporkan mual, membran mukosa, vital sign adekuat)


muntah, dan dapat
dapat

Batasi minum 1 jam sebelum, 1 jam

mengontrol sesudah dan selama makan

muntahnya dengan
baik
NOC

Label

>>

hidrasi
Status
hidrasi
membran

hidrasi:
kulit
mukosa

baik, tidak ada rasa


haus
abnormal,
3

Gangguan

yang
urin

output normal
citra Setelah diberikan NIC label >>Active Listening

tubuh

asuhan

Tentukan tujuan interaksi.

berhubungan

keperawatan 3x24

Tunjukan rasa tertarik pada pasien.

dengan perubahan jam diharapkan:


penampilan akibat NOC
proses penyakit.

Fokus

seperti

tidak

>> menjudge.

Adaptation

to

Physical Disability
Mengungkapka
n

interkasi,

secara

untuk

Gunakan

interaksi

berseri

atau

kontinu kepada pasien.


NIC

label

>>

Body

Image

verbal Enhancement

mengatur

ketidakmampuan
(skala 5)

Jelaskan

ekspektasi

citra

tubuh

pasien berdasarkan stase perkembangan.


Gunakan pedoman antisipasi untuk

Mampu

prediksi perubahan pada citra tubuh.

beradaptasi

dari NIC label >> Coping Enhancement

ketebatasan fungsi

Gunakan pendekatan yang tenang.

tubuh (skala 5)

Sediakan atmosfer penerimaan.

Mampu

Bantu

menggunakan
strategi

pasien

untuk

identifikasi

informasi yang didapat padanya.


untuk

Kurangi stimulasi lingkungan yang

mengurangi stress dapat

mengakibatkan

misinterpretasi

yang berhubungan perawatan.


dengan

Evaluasi kemampuan pasien dalam

ketidakmampuan

mengambil keputusan.

(skala 5)

NIC label >> Emotional Support

Mampu

Diskusi

menggunakan

dengan

pasien

tentang

pengalaman emosinya.

sumber komunitas

Buat pernyataan suportif dan empati.

yang ada (skala 5)

Identifikasi kemarahan dan frustasi

NOC

label

>>

Body Image
Mampu
menjelaskan
gambaran internal
diri (skala 5)

pasien.
Sediakan asisten dalam membuat
keputusan.

Sikap

mampu

menyentuh bagian
tubuh

yang

berpengaruh

pada

citra tubuh (skala


5)
Sikap

mampu

menggunakan
strategi

untuk

pengingkatan
fungsi (skala 5)
Peningkatan
hak

perubahan

tubuh
untuk aging (skala
5)
NOC

label

>>

Coping
Mampu
mengidentifikasi
pola koping yang
efektif (skala 5)
Mampu
mengidentifikasi
pola koping yang
tidak efektif (skala
5)
Melaporkan
penurunan

stress

(skala 5)
Melaporkan

penurunan
perasaan

negative

(skala 5)
Melaporkan
peningkatan
kenyamanan
psikologi (skala 5)

4. Evaluasi
a. Nyeri kronis berhubungan dengan nekrosis jaringan akibat kanker
endometrium.
NOC Label >> Discomfort level
1)
2)
3)
4)

Klien tidak mengeluh nyeri telah tercapai


Klien tidak merintih kesakitan telah tercapai
Klien tidak gelisah telah tercapai
Wajah klien tampak relaks telah tercapai

NOC Label >> Pain level


1) Klien tidak melaporkan adanya nyeri telah tercapai
2) Klien tidak merintih ataupun menangis telah tercapai
3) Klien tidak menunjukkan ekspresi wajah terhadap nyeri telah
tercapai
4) RR dalam batas normal (16-20 kali/menit) telah tercapai
5) Nadi dalam batas normal (60-100 kali/menit) telah tercapai
NOC Label >> Pain control
1) Klien dapat mengenali onset nyeri telah tercapai
2) Klien dapat mendeskripsikan faktor-faktor penyebab nyeri telah
tercapai
3) Klien dapat mengontrol nyerinya dengan menggunakan teknik
manajemen nyeri non farmakologis telah tercapai
4) Klien menggunakan analgesik sesuai rekomendasi telah tercapai
5) Klien melaporkan nyeri terkontrol telah tercapai
b. Nausea berhubungan dengan iritasi gastrointestinal akibat kemoterapi
NOC Label >> Nausea and Vomiting Control

1) Klien menyadari onset dari nausea secara teratur tercapai


2) Klien dapat menghindari faktor penyebab nausea dengan baik
tercapai
3) Klien melakukan tindakan pencegahan nausea dengan teratur
tercapai
4) Klien dapat melaporkan mual, muntah, dan dapat dapat mengontrol
muntahnya dengan baik tercapai
NOC Label >> hidrasi
1) Status hidrasi: hidrasi kulit membran mukosa baik, tidak ada rasa
haus yang abnormal, urin output normal tercapai
c. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan
akibat proses penyakit.
NOC>> Adaptation to Physical Disability
1) Mengungkapkan secara verbal untuk mengatur ketidakmampuan
(skala 5) tercapai
2) Mampu beradaptasi dari ketebatasan fungsi tubuh (skala 5)tercapai
3) Mampu menggunakan strategi untuk mengurangi stress yang
berhubungan dengan ketidakmampuan (skala 5) tercapai
4) Mampu menggunakan sumber komunitas yang ada (skala
5) tercapai
NOC label >> Body Image
1) Mampu menjelaskan gambaran internal diri (skala 5) tercapai
2) Sikap mampu menyentuh bagian tubuh yang berpengaruh pada
citra tubuh (skala 5) tercapai
3) Sikap mampu menggunakan strategi untuk pengingkatan fungsi
(skala 5)tercapai
4) Peningkatan hak perubahan tubuh untuk aging (skala 5) tercapai
NOC label >> Coping
1) Mampu mengidentifikasi pola koping yang efektif (skala
5) tercapai
2) Mampu mengidentifikasi pola koping yang tidak efektif (skala
5)tercapai
3) Melaporkan penurunan stress (skala 5) tercapai
4) Melaporkan penurunan perasaan negative (skala 5) tercapai
5) Melaporkan peningkatan kenyamanan psikologi (skala 5)tercapai

DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth. 1996. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume 3.
Jakarta : EGC
Hidayat.

2009.

Askep

Ginekologi.

http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/08/askep-ginekologi/. [Akses :
Maret 2011]
NANDA Internasional. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi
2012-2014. Jakarta: EGC.
Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan, Edisi Kedua. Jakarta : Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.