Anda di halaman 1dari 17

Kontaminasi Amnion oleh Mikroorganisme

Egidius Ian Andrian


102012346 Kelompok : B1
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 2012
Jalan Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510 Telp : 021-56942061 Fax : 021-5631731
E-mail : egidius.andrian@civitas.ukrida.ac.id

PENDAHULUAN
Berbagai mikroorganisme dapat mengkontaminasi uterus antara jaringan ibu dan
membran janin (yaitu di dalam rongga koriodesidua), membrane bayi (amnion dan korion),
plasenta, cairan amnion, tali pusat hingga akhirnya janin.1
Proses kontaminasi mikroorganisme ini sering dikenal dengan korioamnionitis yang
telah diketahui sebagai penyebab paling sering pada beberapa kasus ketuban pecah, persalinan
preterm atau keduanya. Kurang lebih 40% persalinan preterm disebabkan oleh korioamnionitis.
Pada suatu penelitian yang dilakukan oleh Cox, 1996 didapatkan bakteri pada amniosentesis dari
20% wanita yang mengalami persalinan preterm tanpa gejala klinik infeksi atau selaput ketuban
utuh. Penelitian yang dilakukan Hauth dkk menunjukkan adanya hubungan signifikan antara
korioamnionitis dan meningkatnya kejadian persalinan preterm spontan. Persalinan preterm
masih merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada neonatus dan menyebabkan
75% kematian neonatal tiap tahunnya tanpa disertai anomaly kongenital.2
1.Definisi korion dan amion
Korion adalah salah satu membran yang ada selama kehamilan antara janin dan ibu.
Korion ini dibentuk oleh mesoderm ekstraembrionik dan dua lapisan trofoblas. Korion
mengelilingi embrio dan membran lainnya. Vili korionik muncul dari korion, menyelusup ke
dalam endometrium, dan memungkinkan transfer nutrisi dari darah ibu ke darah janin.(8)
Amnion adalah membran pembentuk kantung ketuban yang mengelilingi dan melindungi
embrio. Pada reptil, burung, dan mamalia, disebut "Amniota", tapi pada amfibi dan ikan
(Ichthyopsida), disebut "Anamniota". Peran utamanya adalah melindungi perkembangan embrio.
Amnion berasal dari mesoderm somatik ekstraembrionik pada sisi luarnya dan ektoderm
ekstraembrionik pada sisi dalamnya.(5)
Dalam perkembangan embrio manusia, tahap-tahap awal pembentukan amnion belum
diamati secara terperinci, tapi pada embrio yang paling muda telah dipelajari bahwa amnion
sudah hadir sebagai kantung tertutup, dan muncul di dalam sel-massa sebagai rongga. Rongga ini
beratapkan strata tunggal pipih, sel ectodermal, ektoderm ketuban, dan lantai yang terdiri dari
1

ektoderm prismatik dari disk-kontinuitas embrio, antara atap dan lantai yang membentuk disk
embrio. Di luar ektoderm ketuban terdapat lapisan tipis mesoderm, yang menyambung ke
somatopleure dan dihubungkan oleh tangkai tubuh-dengan lapisan mesodermal dari korion.(5)
Ketika pertama kali dibentuk, amnion menempel dengan tubuh embrio, tetapi pada
minggu keempat atau kelima cairan (cairan amnion) mulai menumpuk di dalamnya. Lapisan
amnion meningkatkan jumlah cairan dan meluaskan rongga amnion dan akhirnya menyentuh
permukaan dalam korion, sehingga bagian ekstra-embrio coelom tersebut berangsur-angsur
lenyap. Jumlah cairan amnion meningkat sampai dengan bulan keenam atau ketujuh kehamilan,
setelah itu berkurang sedikit, pada akhir kehamilan jumlah cairan mencapai sekitar 1 liter.(5)
Cairan ketuban memungkinkan gerakan bebas dari janin selama tahap-tahap akhir
kehamilan, dan juga melindungi dengan mengurangi risiko cedera dari luar. Cairan ini berisi
padatan kurang dari 2 persen, yang terdiri dari urea dan ekstraktif lainnya, garam anorganik,
sejumlah kecil protein dan gula. Bahwa beberapa cairan amnion ditelan oleh janin dibuktikan
oleh fakta bahwa sisa-sisa epidermal dan rambut telah ditemukan di antara isi saluran pencernaan
janin.(5)
2. Anatomi korion dan amnion

Gambar 1.1
Selaput amnion merupakan jaringan avaskular yang lentur tetapi kuat. Bagian dalam
selaput yang berhubungan dengan cairan merupakan jaringan sel kuboid yang berasal dari
ectoderm. Jaringan ini berhubungan dengan lapisan interstisial dan mengandung kolagen I, III,

dan IV. Bagian luar dari selaput ialah jaringan mesenkim yang berasal dari mesoderm. Lapisan
amnion ini berhubungan dengan korion Laeve.(2)
Selaput amnion juga meliputi tali pusat. Sebagian cairan berasal dari difusi pada tali
pusat. Pada kehamilan kembar dikorionik-diamniotik terdapat selaput amnion dari masingmasing yang kemudian bersatu. Namun, ada jaringan koroin leave di tengahnya (pada USG
tampak sebagai huruf Y, pada awal kehamilan); sedangkan pada kehamilan kembar dikorion
monoamniotik (kembar satu telur) tidak akan ada jaringan korion di antara kedua amnion (pada
USG tampak gambaran huruf T).(2)
Pecahnya ketuban berkaitan dengan kekuatan selaput. Pada perokok dan infeksi terjadi
pelemahan pada pada ketahanan selaput sehingga pecah. Pada kehamilan normal kadang
ditemukan sedikit makrofag. Pada saat persalinan, leukosit akan masuk kedalam cairan amnion
sebagai reaksi terhadap peradangan. Pada kehamilan normal tidak ada IL-1B, tetapi pada
persalinan pretem IL-1B akan ditemukan. Dikarenakan terjadinya infeksi.(2)
Amnion berkembang dari delaminasi sitotrofoblas sekitar hari ke-7 atau ke-8
perkembangan ovum normal atau pada dasarnya berkembang sebagai ekstensi dari ekstoderm
janin. Dimulai sebagai vesikel kecil, amnion berkembang menjadi sebuah kantong kecil yang
menutupi permukaan dorsal embrio. Ketika amnion membesar, perlahan-lahan kantong ini
meliputi embrio yang sedang berkembang yang akan prolaps kerongganya. Distensi kantong
amnion akhirnya mengakibatkan kantong tersebut menempel dengan bagian interior korion.
Amnion dan korion, walaupun menempel tidak pernah berhubungan erat dan biasanya dapat
dipisahkan dengan mudah bahkan pada waktu aterm. Amnion normal mempunyai tebal 0,02-0,5
mm. Volume rata-rata yaitu 1 liter, banyaknya dapat berbeda-beda, pada minggu ke-36
banyaknya 1030 cc, minggu ke-40 banyaknya 790 cc dan pada minggu ke-43 sudah berkurang
menjadi 240 cc. Jika banyaknya lebih dari 2 liter dinamakan Polyhidramnion atau Hidramnion
kalau terlalu sedikit kurang dari 500 cc disebut Oligohidramnion. Cairan amnion merupakan
bantalan bagi fetus akibat trauma dengan memperhalus dan menghilangkan kekuatan benturan
dan memungkinkan pergerakan yang bebas bagi perkembangan sistem muskuloskeletal. Cairan
amnion yang normalnya berwarna putih, akan menjadi agak keruh lalu berkumpul di dalam
rongga amnion kemudian jumlahnya bertambah banyak selama kehamilan lanjut sampai
mendekati aterm dan normalnya akan berkurang pada saat aterm. Cairan amnion reaksinya
alkalis dengan BJ 1.008, komposisinya terdiri dari 99 % air, sisanya albumin, urea, asam urea,
kreatinin, sel-sel epitel, rambut lanugo, verniks kaseosa dan garam organik. Secara makroskopis
berbau amis, adanya lanugo, rambut, dan verniks kaseosa, bercampur mekonium. Secara
mikroskopis terdapat lanugo dan rambut, melalui pemeriksaan laboratorium dapat dilihat kadar
urea (ureum) lebih rendah dibanding dengan air kencing. (5)
3. Pembentukan korion dan amnion
3

Ketika morula masuk ke dalam ruang uterus, cairan mulai penetrasi melewati zona
pelusida ke dalam ruang interselular, cairan menjadi confluent dan membuat satu ruang di dalam
yang disebut blastocele. Saat ini embrio dikenal sebagai blastocyst. Sel yang berada di dalam
blastocyst disebut embryoblast yang terletak pada satu kutub, dan sel yang ada di luar disebut
trofoblast.(6)

Gambar 1.2
Mencapai umur embrio hari ke 8, blastocyst telah menempel sebagian pada stroma
endometrium. Trofoblast kemudian berdiferensiasi menjadi 2 lapis: (1) lapisan dalam adalah sel
mononukleus yang disebut cytotrofoblast dan (2) lapisan luar dengan sel multinukleus yang
disebut sinsitiotrofoblast.(6)
Embrioblast juga berdiferensiasi menjadi 2 lapis: (1) lapisan dengan sel kuboid yang
masuk ke dalam kavitas blastocyst, yang dikenal sebagai lapisan hypoblast, dan (2) lapisan
dengan sel silindris yang berada pada kavitas amnion yang disebut lapisan epiblast. Sel epiblas
yang masuk ke dalam cytotrofoblast disebut amnioblast, bersama dengan epiblast, mereka
membentuk ruang amnion. (6)

Gambar 1.3
Pada hari 11 dan 12, populasi sel baru mulai terbentuk diantara permukaan dalam
cytotrofoblast dan lapisan luar kavitas eksokoelomik. Sel-sel ini berasal dari sel yolk sac,
membentuk jaringan konektif yang disebut ekstraembrionik mesoderm, yang kemudian akan
mengisi ruang antara bagian luar trofoblas dan amnion serta bagian dalam membrane
4

eksokoelomik. Sesaat kemudian, akan terbentuk ruang yang besar pada ekstraembrionik
mesoderm, dan ketika confluent, mereka membentuk ruang baru yang disebut ruang
ekstraembrionik atau ruang korion. (6)

Gambar 1.4
Pada hari ke 13, hipoblast memproduksi sel yang bermigrasi di membrane eksokoelomik.
Kemudian sel ini berproliferasi dan bertahap membentuk ruang baru yang disebut secondary
yolk sac atau definitive yolk sac. Ketika masa pembentukannya, sebagian besar ruang
eksokoelomik terpisahkan dan biasanya ditemukan di dalam ruang korion. Pada waktu yang
sama, ekstraembrionik coelom meluas, dan membentuk ruang, yaitu ruang korion. Mesoderm
ekstraembrionik yang berada di dalam cytotrofoblast kemudian disebut korion plate. Satusatunya daerah dimana mesoderm ekstraembrionik dapat berhubungan dengan ruang korion
adalah melewati stalk penghubung (connecting stalk). Yang kemudian berkembang menjadi
pembuluh darah, dan stalk akan menjadi tali pusat. (6)

Gambar 1.5
Pada minggu pertama perkembangannya, vili menutupi seluruh permukaan korion.
Ketika kehamilan berlanjut, vili dari kutub embrionik tumbuh dan meluas sehingga membentuk
korion frondosum (bushy chorion). Vili pada kutub abembrionik berdegenerasi, dan menginjak
usia kehamilan 3 bulan, daerah korion ini disebut chorion leave, yang halus. Perkembangan
selanjutnya, chorion leave ini akan bersentuhan dengan dinding uterus di sisi baliknya uterus,
dan kemudian keduanya akan berfusi/ menyatu. Korion frondosum bersama dengan desidua
basalis akan membentuk plasenta. Sedangkan penyatuan antara amnion dan korion akan
membentuk membrane amniokorionik yang akan mengisi ruang korion. (6)
Ruang amnion diisi oleh cairan jernih yang diproduksi oleh sel amnion tapi dipengaruhi
terutama dari darah ibu. Jumlah cairan meningkat dari 30 mL pada 10 minggu pertama sampai
mencapai 450 mL pada umur 20 minggu, kemudian 800 sampai 1000 mL pada minggu ke 37.
Pada kehamilan bulan pertama, embrio ditahan oleh tali pusat yang berada pada cairan ini,
sehingga melindunginya dari trauma. Volume cairan amnion tergantikan setiap 3 jam. Pada awal
bulan ke 5, fetus dapat menelan cairan amnion dan diperkirakan dapat minum sampai 400mL
perhari, sekitar setengah dari jumlah total. Urine dari fetus menambah volume cairan amnion
setiap harinya pada bulan ke 5 kehamilannya, tapi urinnya hanya terdiri dari air, karena placenta
yang akan berfungsi sebagai pertukaran sisa metabolisme. (6)

4. Fungsi korion dan amnion


6

Amnion jelas lebih dari sekedar membrane avaskular yang berfungsi menampung cairan
amnion. Membran ini aktif secara metabolis, terlibat dalam transport air dan zat terlarut untuk
mempertahankan homeostasis cairan aminion, dan menghasilkan berbagai senyawa bioaktif
menarik, termasuk peptide vasoaktif, factor pertumbuhan, dan sitokin. Lapisan dalam amnion
merupakan mikrovili yang berfungsi mentransfer cairan dan metabolic. Lapisan ini
menghasilkan zat penghambat metalloproteinase-1.(7)
Sel mesenkim itu, jaringan tersebut menghasilkan sitokin IL-6, IL-8, MCP-1 (monosit
chemoattraciant protein-1); zat ini bermanfaat untuk melawan bakteri. Disamping itu, selaput
amnion menghasilkan zat vasoaktif: endotelin-1 (vasokonstriktot), dan PHRP (parathyroid
hormone related protein), suatu vasorelaksan. Dengan demikian selaput amnion mengatur
peredaran darah dan tonus pembuluh lokal.(2)
Sejak awal kehamilan cairan amnion telah dibetuk. Cairan amnion merupakan pelindung
dan bantalan untuk proteksi sekaligus menunjang pertumbuhan. Osmolalitas, kadar natrium,
ureum, kreatinin tidak berbeda dengan kadar pada serum ibu, artinya kadar di cairan amnion
merupakan hasil difusi dari ibunya. Cairan amnion mengandung banyak sel janin (lanugo,
verniks kaseosa). Fungsi cairan amnion yang juga penting ialah menghambat bakteri karena
mengandung zat seperti fosfat dan seng.(2)
Fungsi cairan amnion antara lain memungkinkan anak bergerak dengan bebas dan
tumbuh dengan optimal kesegala jurusan karena tekanan pada anak sama pada semua bagiannya.
Hal ini sangat penting karena seandainya anak tertekan oleh organ sekitarnya maka pertumbuhan
akan terganggu. Selain itu juga untuk melindungi anak terhadap pukulan-pukulan dari luar dan
ibu terhadap gerakan-gerakan anak. Jika cairan berkurang pergerakan anak dirasakan nyeri oleh
ibu. Kemudian mempertahankan suhu yang tetap bagi anak. Mencegah terjadinya perlengketan.
Waktu persalinan cairan amnion dapat membuka servik dengan mendorong selaput janin
kedalam ostium uteri. Bagian selaput anak yang diatas ostium uteri yang menonjol waktu his
disebut ketuban dan membuka servik pada saat persalinan.

KORIOAMNIONITIS
7

Korioamnionitis merupakan infeksi jaringan membarana fetalis beserta cairan amnion


yang terjadi sebelum partus sampai 24 jam post partum. Insidensi dari chorioamnionitis adalah 1
5% dari kehamilam aterm dan sekitar 25% dari partus preterm.(2)
Korioamnionitis adalah peradangan ketuban, biasanya berkaitan dengan pecah ketuban
lama dan persalinan lama. Korioamnionitis adalah keadaan pada perempuan hamil dimana
korion, amnion, dan cairan ketuban terkena infeksi bakteri. Korioamnionitis merupakan
komplikasi paling serius bagi ibu dan janin, bahkan berlanjut menjadi sepsis. Korioamnionitis
tersamar (silent), yang disebabkan oleh beragam mikroorganisme, baru-baru ini muncul
sebagai salah satu penjelasan kasus-kasus pecah ketuban, persalinan premature, atau keduanya.
Korioamnionitis meningkatkan morbiditas janin dan neonatus secara bermakna. Secara spesifik ,
sepsis neonatus, distress pernapasan, perdarahan intraventrikel, kejang, leukomalasia
periventrikel, dan palsi serebral lebih sering terjadi pada bayi yang lahir dari ibu dengan
korioamnionitis.(1)

Gambar 2.1
DIAGNOSIS
1.Anamnesis
Para peneliti menemukan bahwa reaksi inflamasi dapat bersifat tidak spesifik dan tidak
selalu terbukti terjadi infeksi pada ibu. Sebagai contoh, Yamada dan kolega ( 2000 ) menemukan
bahwa cairan yang terwarna mekonium merupaka penarik kimiawi bagi leukosit. Sebaliknya,
Benirschke dan Kaufmann (2000) mempercayai bahwa korioamnionitis secara mikroskopik
selalu disebabkan infeksi. Korioamnionitis sering berhubungan dengan rupture membran,
8

kelahiran preterm, ataupun keduanya. Seing kali sulit dibedakan apakah infeksi terlebih dahulu
atau ruptur membran terlebih dahulu yang terjadi. Gambaran khasnya adalah selaput ketuban
yang terlihat seperti susu dan berkabut (akibat adanya lekosit polimorfonuklear dan eksudat)
disertai infiltrasi leukosit perivaskular pada tali pusat clan pembuluh darah janin (omfalitis).
Peradangan vilus fokal merupakan manifestasi lanjut.
2.Pemeriksaan fisis
Korioamnionitis bermanifestasi pada beberapa gejala klinis, beberapa gejala klinis yang
khas dari korioamnionitis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan fisik langsung pada pasien
seperti pemeriksaan keadaan umum, kesadaran, pemeriksaan tanda tanda vital, inspeksi, palpasi,
perkusi hingga auskultasi. Sebagai contoh gejala dari korioamnionitis adalah demam, sehingga
pemeriksaan suhu sangat membantu dalam diagnosis. Nadi, cairan vagina yang berbau, uterus
yang teraba lembek merupakan gejala khas lainya yang ditegakkan dengan pemeriksaan fisik.

3.Pemeriksaan penunjang
Uji laboratorium untuk diagnosis seperti pemeriksaan hapusan Gram atau kultur pada
cairan amnion biasanya tidak dilakukan. Pemeriksaan amniosentesis biasanya dilakukan pada
persalinan preterm yang refrakter (supaya dapat diputuskan apabila tokolisis tetap dilanjutkan
atau tidak) dan pada pasien yang PROM (apakah induksi perlu dilakukan). Indikasi lain dari
amniosentesis adalah untuk mencari differential diagnosis dari Infeksi intramnion, prenatal
genetic studies, dan memperediksi kematangan paru. (3)

Parameter Cairan Amniotik

Kultur

Pertumbuhan mikroba

Pewarnaan gram

Bakteri atau leukosit

Kadar glukosa

<15 mg/dl

IL-6

>7,9 mg/ml

Matrix metalloproteinase

Hasilnya positif

Jumlah leukosit

>30/mm
9

Leukosit esterase

Positif (dipstick)

Tabel 1.1

EPIDEMIOLOGI
Dengan adanya korioamnionitis, morbiditas fetus meningkat secara substansif. Alexander
dan kolega (1998) mempelajari 1367 neonatus dengan berat lahir sangat rendah yang dilahirkan
di Rumah Sakit Parkland. Sejumlah 7 % dilahirkan oleh wanita dengan korioamnionitis, dan
hasil akhir dibandingkan dengan bayi baru lahir tanpa infeksi secara klinis. Para bayi yang baru
lahir dengan grup terinfeksi mempunyai insidensi yang lebih tinggi menderita sepsis, respiratory
distress syndrome, kejang dengan onset awal, perdaraham intraventrikular, dan leukomalasia
periventrikular. Para peneliti mengkonklusi bahwa bayi-bayi dengan berat badan sangat rendah
tersebut rentan terhadap perlukaan neurologis karena korioamnionitis. Pada penelitian lain
( Yoon dan kolega, 2000) menemukan bahwa infeksi intra amnion pada bayi preterm
berhubungan dengan meningkatnya resiko cerebral palsy pada usia 3 tahun. Petroya dan kolega
(2001) mempelajari lebih dari 11 juta kelahiran hidup dari 1995 hingga 1997 yang terdaftar pada
National Center for Health Statistics linked birth-infant death cohort. Selama persalinan, 1,6 %
wanita yang mengalami demam berhubungan secara erat denga infeksi yang menyebabkan
kematian baik bayi term maupu preterm. Bullard dan rekan sejawat (2002) melaporkan hasil
yang sama
ETIOLOGI
Infeksi pada membran dan cairan amnion dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang
bervariasi. Bakteri dapat ditemukan melalui amniosintersis transabdominal sebanyak 20% pada
wanita dengan persalinan preterm tanpa manifestasi klinis infeksi dan dengan membrane fetalis
yang intak (Cox dan rekan kerja, 1996; Watts dan kolega, 1992). Produk viral juga ditemukan
(Reddy and colleagues, 2001). Infeksi tidak terbatas pada cairan amnion.(3)
Penyebab korioamnionitis adalah infeksi bakteri yang terutama berasal dari traktus
urogenitalis ibu. Secara spesifik permulaan infeksi berasal dari vagina, anus, atau rektum dan
menjalar ke uterus. Angka kejadian korioamnionitis 1-2 % Faktor resiko terjadinya
korioamninitis adalah kelahiran prematur atau ketuban pecah lama. Mycoplasma genital, seperti
ureaplasma urealyticum dan mycoplasma hominis (genital mycoplasma), organisme ini memicu
efek reaksi inflamasi mempengaruhi ibu dan fetus khususnya pada mur kehamilan preterm.
10

Biasanya organisme ini terisolasi dalam cairan amnion pada persalinan preterm atau pada
ketuban pecah dini tanpa tanda-tanda korioamnionitis. Genital mycoplasma ditemukan pada
traktus genital bawah (vagina atau servik) sedangkan keberadaannya di traktus genital atas
( uterus dan atau tuba falopi) dan korioamnion sangat jarang terjadi (<5%) pada saat tidak saat
bersalin atau ketuban pecah.(3)
Bakteri anaerob lainnya yang dapat menyebabkan korioamnionitis seperti Gardnerella
vaginalis dan bacteroides, bakteri aerob lainnya termasuk Group B Streptococcus (GBS 15 %)
dan bakteri gram negatif termasuk Escherichia coli. Organisme-organisme ini merupakan flora
normal vagina dan flora normal enterik. Biasanya korioamnionitis disebabkan oleh penyebaran
secara hematogen ke placenta karena bakteri dan virus. (3)

PATOGENESIS
Patogenesis korioamnionitis disebabkan oleh organisme yang menginfeksi korioamnion
dan atau tali pusat lalu menjalar ke plasenta. Mulainya infeksi biasanya disebabkan oleh infeksi
secara retrograde atau ascending dari traktus genitalia bawah (cervix dan vagina). Penyebaran
secara hematogen atau tranplacental dan infeksi iatrogenic karena komplikasi dari amniosintesis
atau sampling korionik villous jarang menimbulkan infeksi. Infeksi anterograde bermula dari
peritoneum via tuba falopi. Adanya infeksi dari mikroorganisme memicu respon inflamasi dari
maternal dan fetal sehingga melepaskan kombinasi proinflamasi dan inhibisi sitokin dan
chemokines dari ibu dan janinnya. Respon inflamasi mungkin menimbulkan tanda-tanda
korioamnionitis dan atau dapat memicu pelepasan prostaglandin, pematangan servik, perlukaan
membrane dan persalinan aterm atau preterm pada umur kehamilan dini. Selain dapat
menimbulkan infeksi dan sepsis pada fetus, respon inflamasi fetus dapat menimbulkan kerusakan
pada serebral pada white matter, yang akhirnya dapat menyebabkan cerebral palsy dan kelainan
neurological jangka pendek dan jangka panjang lainnya. (3)
Mekanisme pertahanan tubuh tidak bisa secara adekuat mencegah infeksi intramnion,
namun mekanisme pertahanan local memerankan peran penting dalam pencegahan infeksi.
Mucous plug yang terdapat di cervical serta mucous yang terdapat di placenta dan membrannya
memberikan perlindungan barier untuk mencegah infeksi dari carian amnion dan fetus.
Lactobacillus yang memproduksi peroxide dan berkoloni di jalan lahir yang merupakan flora
normal juga dapat menahan virulensi mikroorganisme pathogen. (3)

11

Bagan 1.1

Gambar 3.1

12

MANIFESTASI KLINIS
Koriomnionitis tidak selalu menimbulkan gejala. Bila timbul gejala antara lain demam,
nadi cepat, berkeringat, uterus pada perabaan lembek, dan cairan berbau keluar dari vagina.
Diagnosis korioamninitis ditegakkan dengan pemeriksaan fisik, gejala-gejala tersebut di atas,
kultur darah, dan cairan amnion. Kesejahteraan janin dapat diperiksa dengan ultrasound dan
kardiotokografi.(2)
Korioamnionitis secara klinis bermanifestasi sebagai demam pada ibu dengan suhu 38
celcius atau lebih, biasanya berkaitan dengan pecah ketuban. Demam pada ibu selama persalinan
atau setelah ketuban pecah biasanya disebabkan oleh korioamnionitis kecuali dibuktikan lain.
Demam sering disertai oleh takikardi ibu dan janin, lokia berbau busuk, dan nyeri tekan fundus.
Leukositosis material semata-mata tidak dapat diandalkan untuk mendiagnosis korioamnionitis.(3)
Parameter klinis yang digunakan untuk mendiagnosis korioamnionitis
Demam

Temperatur > 38 C

Maternal Takikardi

>100/menit

Fetal Takikardi

>160 / menit

Nyeri tekan pada fundus

Nyeri pada palpasi

Lochea

Lochea yang bau.

Tabel 2.1

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan korioamnionitis terdiri atas pemberian antimikroba, antipiretik, dan
pelahiran janin, sebaiknya melalui vagina. Terapi antibiotik harus dapat memberi perlindungan
terhadap lingkungan polimikroba yang terdapat di vagina dan serviks. Salah satu regimen
korioamnionitis adalah ampicilin 2 g IV setiap 6 jam atau 3 x 1000 mg, dan gentamisin, 2 mg/kg
dosis awal serta selanjutnya 1,5 mg/kg intravena setiap 8 jam atau 5mg/kgBB/hari. Klindamisin,
900 mg setiap 8 jam, dapat diberikan apabila pasien direncanankan untuk operasi sectio caesar.
Untuk pasien dengan alergi terhadap penisilin dapat diberikan vancomycin. Antibiotik biasanya
13

dilanjutkan setelah persalinan sampai wanita yang bersangkutan tidak demam dan asimptomatik
selama 24 48 jam post partum.(2)
Bila janin telah meninggal upayakan persalinan pervaginam, tindakan perabdominam
(seksio sesarea) cenderung terjadi sepsis. Lakukan induksi atau akselerasi persalinan. (2) Berikan
uterotonika supaya kontraksi uterus baik pasca persalinan. Hal ini akan mencegah / menghambat
invasi mikroorganisme melalui sinus-sinus pembuluh darah pada dinding uterus.(3)
KOMPLIKASI
1. Komplikasi Maternal
Chorioamnionitis dapat meningkatkan 2-3 kali lipat persalinan secara perabdominan dan
2-4 kali lipat terjadinya endomyometritis, infeksi perlukaan, abses pelvik, bakteremia, dan post
partum hemorragic. Peningkatan terjadinya post partum hemorrage kelihatannya disebabkan oleh
kontraksi uterus yang disfungsional karena adanya inflamasi. 10% ibu dengan korioamnionitis
memiliki hasil kultur darah yang positif (bakteremia) sebagian besar oleh bakteri GBS dan
E.coli. Namun komplikasi lainnya seperti DIC, ARDS, septic shock, kematian maternal jarang
terjadi.(3)
2. Komplikasi Fetus
Paparan infeksi pada fetus dapat menimbulkan kematian fetus, sepsis neonatus, dan
beberapa komplikasi postnatal lainnya. Respon fetus terhadap infeksi yang disebut Fetal
Inflammatory Response Syndrome (FIRS) dapat menyebabkan komplikasi berikut ini. FIRS
merupakan kebalikan proses dari Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS). Karena
parameternya hampir sama dengan SIRS, maka agak sulit membedakannya dengan yang terjadi
pada fetus, FIRS sebenarnya dapat dideteksi bila terjadi peningkatan IL-6 pada darah umbilical
(tali pusat) yang biasanya didapatkan pada persalinan preterm dan PPROM namun kadang dapat
muncul pada umur kehamilan aterm. Penunjuk histopatologik dari FIRS adalah funisitis dan
korionik vaskulitis. FIRS sekarang dikenal sebagai representasi respon pertahanan fetus terhadap
infeksi atau mediasi perlukaan yang dapat melepas sitokin dan chemokines seperti interleukins,
TNF-alpha, C-reactive protein, dan matriks melloproteinases. FIRS juga dihubungkan dengan
persalinan preterm yang dapat menimbulkan kematian dan berhubungan pada neonatus preterm
dengan kegagalan multi organ, termasuk penyakit paru kronis, leukomalasia periventrikular dan
cerebral palsy. Meski FIRS dapat ditimbulkan oleh inflamasi non infeksis, namun manifestasinya
biasanya lebih terlihat pada proses infeksi. Meski kontoversial, paparan fetus pada mycoplasma
genital ( U. Urealyticum dan M. Hominis) memiliki hubungan dengan sindrom respon sistem
inflamasi, pneumonia.(3)
3. Komplikasi jangka panjang untuk neonatus

14

Neonatus yang terpapar oleh infeksi intrauterin dan inflamasi dapat menampakkan efek
advers saat atau segera setelah lahir. Efek advers yang muncul termasuk kematian perinatal,
asfiksi, sepsis neonatus dini, septic shock, pneumonia, intraventrikular hemorrhagic (IVH),
kerusakan serebral di white matter, dan kelumpuhan jangka panjang termasuk cerebral palsy.(3)
PROGNOSIS
Usahakan diagnosis dini untuk korioamnionitis. Hal ini berhubungan dengan prognosis,
segera lahirkan janin. Bila kelahiran prematur, keadaan ini akan memperburuk prognosa janin.(2)
Hasil penelitian Alexander JM, Gilstrap LC, Cox SM, McIntire DM, dan Leveno KJ
menunjukkan adanya hubungan antara indeks korioamnionitis dan beberapa klinis morbiditas
neonatal pada bayi berat badan lahir sangat rendah. (4) Korioamnionitis tampaknya membuat bayi
berat lahir sangat rendah sangat rentan terhadap kerusakan neurologis. Komplikasi jangka
pendek bagi neonatus yang lahir dari ibu dengan korioamnionitis adalah resiko infeksi tinggi.
Morbiditas kelainan neurologi pada neonatus lebih dikarenakan komplikasi pada saat persalinan,
bukan karena komplikasi karena korioamnionitis.(4)
Segera berikan antibiotika profilaksis pada neonatus yang lahir dari ibu dengan
korioamnionitis. Sehingga dapat memberikan prognosa yang baik bagi neonatus. Ibu dengan
korioamnionitis yang tidak segera melahirkan anaknya dapat meningkatkan morbiditas
terjadinya sepsis bagi ibu. Sehingga prognosa buruk dapat didapatkan oleh ibu yang tidak dapat
melahirkan segera bayinya.
PENCEGAHAN
Manajemen dari Preterm Premature Rupture Membrane (PPROM) adalah penyebab
utama terjadinya korioamnionitis. Pemberian antibiotik profilaksis atau latency, biasanya
ampicillin dan eritromisin telah diuji dalam menurunkan angka kematian neonatus, penyakit paru
kronis,atau hasil ultrasound cerebral yang abnormal. Antibiotic telah menunjukkan menurunkan
insiden korioamnionitis dan sepsis neonatus dan pada persalinan dengan partus lama dengan
ketuban pecah dini kecuali pada persalinan fase aktif dengan ketuban utuh. Amoksisilin /
klavulanik kombinasi antibiotic harus dihindari untuk indikasi ini karena potensial meningkatkan
resiko necrotizing enterocolitis.(3)
Percobaan lain besar yang dilakukan oleh Institut Kesehatan Nasional dan Pembangunan
Manusia Maternal-Fetal Medicine Unit (NICHD MFMU) jaringan di akhir 1990-an
menyarankan untuk memberi eritromisin dalam mengurangi hasil perinatal yang merugikan
termasuk kematian perinatal dan morbiditas serta infeksi maternal. Tidak ada tindak lanjut
jangka panjang dari studi ini. Standar yang biasa di AS tetap memberikan antibiotik spektrum
luas biasanya melibatkan makrolida (eritromisin atau azitromisin) dan ampisilin selama 7-10 hari
melalui intravena (2 hari) diikuti oleh rute oral. Induksi persalinan dan kelahiran dini untuk
PPROM setelah usia kehamilan 34 minggu dianjurkan, karena dibandingkan dengan manajemen
15

infeksi saat masih hamil, melahirkan dengan cepat dapat mengurangi infeksi ibu dan
mengurangi perawatan intensif pada neonatal tanpa meningkatkan morbiditas dan mortalitas
perinatal. (3)
Namun kini sedang berlangsung uji coba untuk mengetahui manfaat dari induksi
persalinan sebelum 37 minggu dalam kasus PPROM. Pada ketuban pecah dini (> 18 jam),
antibiotik profilaksis tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan pada ibu yang tidak terinfeksi
GBS, namun CDC merekomendasikan terapi profilaksis untuk GBS jika status GBS tidak
diketahui. Dalam salah satu uji coba secara acak penggunaan antibiotik profilaksis intrapartum
(ampisilin / sulbaktam) pada ibu hamil dengan air ketuban bercampur mekonium, dapat
menurunkan risiko korioamnionitis.(3)
KESIMPULAN
Infeksi intrauterin atau korioamnionitis merupakan infeksi secara klinis pada cairan
amnion, selaput korioamnion dan atau uterus yang timbul segera sebelum atau pada saat
persalinan yang disebabkan oleh bakteri9,10. Penelitian membuktikan bahwa insiden dari infeksi
intrauterin adalah 0,5-2% dari semua persalinan, dan dihubungkan dengan 20-40% kasus sepsis
neonatal dini dan pneumonia9,11. Pada kehamilan cukup bulan, insiden terjadi pada sekitar 5%
kehamilan4. Infeksi ini berhubungan dengan ketuban pecah dini dan persalinan lama. Sekitar
25% infeksi intrauterin disebabkan oleh ketuban pecah dini. Makin lama jarak antara ketuban
pecah dengan persalinan, makin tinggi pula risiko morbiditas dan mortalitas ibu dan janin.

DAFTAR PUSTAKA
1. William Obstetricss, 22 nd. Abnormal of the Plasenta, Umbilical Cord and
Membranes. 2007; chapter 36. New York : The McGraw-Hill Companies. Inc
2. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan, 2010. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
3. Tita, Alan T.N. Diagnosis and Management of Chorioamnionitis. (homepage on the
internet)
Diunduh
tanggal
15
Januari
2013.
Pada
website
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3008318/

16

4. JM, Alexander. Chorioamnionitis and the prognosis for term infants. (home page on the
internet)
Diunduh
tanggal
20
Januari
2013.
Pada
website
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10432142
5. En.wikipedia.org. Amnion. (homepage on the internet). Diunduh tanggal 20 Januari 2013.
Pada website http://en.wikipedia.org/wiki/Amnion
6. Sadler, T.W. Langmans Medical Embryology, 12 nd. 2012: chapter 8. Baltimore,
Maryland: Lippincott Williams & Wilkins
7. Cunningham, F.Gary. Obstetri Williams, 21 nd. Vol 2. 2005. Jakarta : EGC
8. En.wikipedia.org. Chorion. (homepage on the internet) Diunduh tanggal 20 Januari 2013.
Pada website http;//en.wikipedia.org/wiki/Chorion
9. Newton, Edward R. Chorioammnionitis and Intraamniotic Infection. Clinical Obstetrics
and Gynecology Vol 36, Number 4. Lippincot Co. 1993; 795-808
10. Infeksi dalam persalinan. Dalam: Saifudin AB ed. Buku Acuan Nasional Pelayanan
Kesehatan

Maternal

dan

Neonatal.

Jakarta:Yayasan

Bina

Pustaka

Sarwono

Prawirohardjo; 2001: 255-8


11. Goldstein, Zimmer, Etan Z, et al. Intraamniotic Infection in The Very Early Phase of The
Second Trimester. Am J Obstet Gynecol. October 1990; 1261-1263

17