Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH SEMINAR ENDODONTIK

KEAMANAN BLEACHING YANG MENGGUNAKAN


BAHAN DASAR PEROKSIDA
Y.Li, L. Greenwall. Safety issues of tooth whitening using peroxide-based
materials. British Dental Journal 2013 Jul; 215(1):29-34

Pembimbing: Taofik Hidayat, drg., Sp.KG


Dolly Christine Lie, drg

Disusun oleh:
Rr. Wahyu Yenita S.
160112110013

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2014

KEAMANAN BLEACHING YANG MENGGUNAKAN BAHAN DASAR


PEROKSIDA
Y.Li*1 dan L. Greenwall2
Office bleaching yang menggunakan hidrogen peroksida (H2O2) telah digunakan
di kedokteran gigi tanpa memperhatikan pertimbangan keamanan dalam 1 abad
lebih. Beberapa perselisihan yang ada mengenai keberhasilan bleaching di rumah
berbahan dasar peroksida timbul sejak perkenalan bahan tersebut pada tahun
1989. Keamanan bahan pemutih tersebut menyebabkan timbulnya kontroversi dan
pertimbangan. Artikel ini mengulas dan mendiskusikan pertimbangan keamanan
bleaching yang menggunakan bahan dasar peroksida meliputi sifat biologis dan
toksikologi H2O2, penggunaan klorin dioksida, penelitian tentang keamanan
bleaching, dan pertimbangan klinis penggunaan bleaching. Data dikumpulkan
selama 2 abad terakhir yang menunjukkan bahwa bleaching berbahan dasar
peroksida aman dan efektif jika digunakan dengan tepat. Efek samping yang
paling sering terjadi adalah sensitivitas pada gigi dan iritasi gusi, dengan tingkat
ringan sampai sedang dan bersifat sementara. Sampai sejauh ini tidak ada bukti
yang signifikan terhadap risiko kesehatan yang dihubungkan dengan pemutih gigi.
Meskipun potensi efek samping dapat terjadi karena aplikasi yang tidak tepat,
penyalahgunaan, atau menggunakan produk pemutih yang tidak tepat. Profesional
dental dapat meresepkan bleaching kepada setiap pasien dengan cara yang efektif
dan aman untuk mencapai keuntungan maksimal sembari meminimalisir risiko
potensial jika disertai pengetahuan mengenai bahan pemutih berbahan dasar
peroksida dan mengetahui potensi efek samping yang berhubungan dengan
prosedur memutihkan gigi.
Penggunaan hidrogen peroksida (H2O2) sebagai pemutih gigi dapat
ditelusuri hingga 1 abad yang lalu.1 Prosedur ini dilakukan hanya pada praktik
dokter gigi, hingga akhirnya pada tahun 1989 Haywood dan Heymann
memperkenalkan home bleaching untuk pertama kalinya.2 Bleaching menjadi
prosedur dental estetik yang terkenal dan merupakan bagian terintegrasi dalam
1

praktik kedokteran gigi dikarenakan keefektifan bleaching dan meningkatnya


keinginan untuk memiliki gigi yang lebih putih pada populasi umum.
Istilah tooth whitening dan tooth bleaching telah digunakan secara
bergantian baik pada literatur dan praktik klinis. Organisasi Standardisasi
Internasional (ISO) mendeskripsikan tooth bleaching sebagai penghilangan
perubahan warna gigi yang intrinsik atau dapatan dengan menggunakan bahan
kimia, terkadang dikombinasikan dengan aplikasi alat tambahan. 3 Bleaching
merupakan proses oksidasi yang mengubah penyerapan cahaya atau refleksi
cahaya pada struktur gigi alami, meningkatkan persepsi putihnya gigi. Di sisi lain
pemutihan adalah proses menghasilkan suatu bahan menjadi serupa warna dengan
warna putih standar atau yang diinginkan. Di praktek dokter gigi, pendekatan
mekanis seperti pemolesan dan penyikatan dengan pasta profilaksis abrasif dan
pasta gigi digunakan untuk menghilangkan pewarnaan ekstrinsik pada permukaan
gigi yang selanjutnya menghasilkan efek pemutihan. Saat ini masih sedikit
perhatian mengenai keamanan bahan pemutih mekanis dan artikel ini akan
mengulas dan mendiskusikan hanya pada bleaching dengan bahan dasar
peroksida, oleh karena itu istilah bleaching yang akan digunakan pada bahasan
selanjutnya dibandingkan istilah whitening.
BAHAN AKTIF DAN CARA APLIKASI
Bahan bleaching saat ini hampir seluruhnya mengunakan karbamid peroksida dan
H2O2 sebagai bahan aktifnya untuk penggunaan office bleaching atau home
bleaching.4-6 Secara kimiawi, karbamid peroksida terdiri dari kira-kira 3.5 bagian
H2O2 dan 6.5 bagian urea, maka gel bleaching karbamid peroksida 10 %
menyediakan sekitar 3.5% H2O2. Maka bahan aktif sebenarnya untuk tooth
bleaching adalah H2O2. Khususnya konsentrasi H2O2 yang digunakan dalam office
bleaching berkisar dari 25-40 % sedangkan formulasi home bleaching berkisar 39 %. Bagaimanapun juga saat ini terdapat tren baru yaitu menaikkan konsentrasi
H2O2 pada produk home bleaching, dan konsentrasi H2O2 yang mencapai 15 %
telah tersedia bagi konsumen untuk penggunaan di rumah.

Cara home bleaching berasal dari bagian prosedur perawatan gigi lengkap.
Dokter gigi melakukan pemeriksaan gigi untuk memastikan bahwa tidak ada
kontra indikasi bleaching, menuliskan rencana perawatan, dan memonitor
kemajuan efek pemutihan tanpa efek samping yang signifikan.6,7 Keuntungan
home bleaching yaitu penggunaan yang mudah, biaya murah, nyaman dan efikasi
pemutihan, secara cepat dipromosikan atas pertumbuhan produk bleaching over
the counter (OTC) untuk penggunaan di rumah.
Bahan pemutih gigi klorin dioksida
Saat ini terdapat produk home bleaching dengan varian luas yang tersedia bagi
konsumen dalam berbagai sediaan meliputi sendok cetak pribadi, sikat atau strip.
Beberapa tahun terakhir juga menunjukkan peningkatan prosedur office bleaching
yang berdampak pada lingkungan di luar praktek gigi seperti toko-toko di mall,
tempat spa dan kapal pesiar.6,8 Produk OTC menunjukkan keamanan dan
keefektifan bagi konsumen, bahan lain dan metode yang belum dikenal serta yang
diaplikasikan tidak sesuai aturan dapat menyebabkan kerusakan permanen jika
digunakan dalam jangka panjang. Produk-produk di kapal pesiar dan spa
kecantikan pada umumnya menggunakan klorin dioksida sebagai bahan aktif yang
lebih aman dibandingkan hidrogen peroksida untuk menghindari legislasi negara
dan daerah terhadap penggunaan hidrogen peroksida. Pada kenyataannya, produk
klorin dioksida lebih berbahaya, memiliki sedikit tingkat keamanan dan pada
umumnya memiliki pH 2-3. Klorin dioksida dengan konsentrasi 0,5% yang
diaplikasikan ke gigi selama 20 menit oleh dokter kecantikan pada praktek gigi
dengan pelindung gusi menunjukkan pengurangan lapisan email gigi (Gambar 1),
mengurangi kekilapan email (Gambar 2) dan menyebabkan sensitivitas gigi. Pada
kasus yang terlihat pada gambar 1 bahan yang digunakan adalah klorin dioksida
dan diaplikasikan ke permukaan gigi anterior selama 20 menit. Setelahnya pasien
diberikan gel yang diaplikasikan pada gigi dan dapat dibawa pulang. Gambar 1
menunjukkan permukaan gigi anterior yang terlihat kasar dan kehilangan kilapnya
jika dibandingkan dengan gigi premolar dan molar yang normal, yang tidak
dilakukan perawatan. Sisi kiri gigi (tidak ditunjukkan) menunjukkan gambaran

yang sama. Gigi menjadi sensitif terhadap dingin, terasa kasar saat disentuh dan
mudah terkena pewarnaan.

Gambar 1. Gigi rahang atas sebelah kanan pada pasien yang dilakukan bleaching
di kapal pesiar dengan menggunakan bahan dasar klorin dioksida.

Gambar 2. Gigi insisif rahang atas kanan menunjukkan tekstur permukaan gigi
yang kasar setelah diaplikasikan klorin dioksida.

Mekanisme bleaching
Saat bleaching menjadi terkenal dan jutaan orang telah menerima perawatan
tersebut selama dua dekade terakhir, mekanisme bleaching masih belum
dimengerti seluruhnya.6,10 Mekanisme umum bleaching yang diterima menyerupai
dengan mekanisme pemutihan kertas dan tekstil: radikal bebas diproduksi oleh
H2O2, berinteraksi dengan molekul pigmen untuk menghasilkan efek pemutihan.
Pada mekanisme tersebut terdapat hipotesis bahwa H2O2 pada prosedur aplikasi
gel pemutih menghasilkan radikal bebas saat berdisfusi melalui email dan dentin,
memutus ikatan rangkap molekul pigmen dan mengubah struktur dan/atau ukuran
molekul pigmen. Perubahan tersebut mengubah sifat optik jaringan gigi,
menciptakan persepsi warna gigi menjadi lebih putih. Teori ini juga diterima

dalam menjelaskan pantulan bayangan yang biasa terlihat segera setelah


perawatan pemutihan, kemungkinan dikarenakan pembentukan ulang ikatan
rangkap.
Di samping efek bleaching oleh radikal bebas, kemungkinan tidak terdapat
efek non pemutihan selama proses pemutihan yang dapat membantu
meningkatkan efek pemutihan, meliputi pembersihan permukaan gigi. Dehidrasi
pada email selama proses bleaching juga menghasilkan efek pemutihan yang
sementara sejak dehidrasi email ini mampu memberikan pengurangan warna gigi
yang tampak secara signifikan.11 Efek pemutihan tersebut dapat hilang karena
adanya rehidrasi email.
Keberhasilan bleaching dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor dari pasien
(contoh, usia, jenis kelamin, dan warna gigi awal), bahan bleaching yang
digunakan (contoh, tipe komponen peroksida, konsentrasi peroksida dan bahanbahan lainnya), dan cara pengaplikasiannya (contoh, waktu kontak, frekuensi
aplikasi, profilaksis email sebelum perawatan bleaching). Faktor-faktor tersebut
tidak hanya berkaitan dengan keberhasilan bleaching namun juga mempengaruhi
stabilitas keberhasilan proses pemutihan yang akan datang.10-13 Diantara beberapa
faktor tersebut, waktu kontak bahan pemutih ke permukaan email cenderung lebih
berpengaruh dibandingkan dengan hal-hal lainnya.13
Keamanan bleaching dan sumber perhatian
Keamanan bleaching pada awalnya diperkenalkan saat peningkatan home
bleaching yang pesat. Sumber utama masalah keamanan bleaching berasal dari
toksisitas

H2O2 yang

telah

diketahui,

khususnya

pada

kemampuannya

menghasilkan radikal bebas, meliputi radikal hidroksil. Pada penelitian


menunjukkan bahwa reaksi oksidasi radikal bebas dengan protein, lemak dan
asam nukleat dengan potensi kerusakan patologis dapat berhubungan dengan
penuaan, stroke dan penyakit degeneratif lainnya. 14-16 Reaksi oksidasi dan
kerusakan lanjutan pada sel-sel oleh radikal bebas dipercaya sebagai mekanisme
utama yang bertanggung jawab terhadap toksisitas H2O2 yang biasa terlihat.
Akibatnya, terdapat kekhawatiran keamanan dengan potensi efek samping

sistemik jika gel bleaching terserap baik pada efek samping lokal di email, pulpa
dan gusi karena kontak langsung gel dengan jaringan. 4,17-19 Perdebatan mengenai
keamanan bleaching berbahan dasar peroksida mendorong pertimbangan yang
mendalam terhadap penggunaannya dalam kedokteran gigi, tidak hanya di bidang
penelitian namun juga bidang hukum.4,6,18-20
Saat gel digunakan secara tepat paparan H2O2 bersifat minimal. Selama
office bleaching, jaringan lunak dilindungi secara memadai dengan bahan penutup
dan gel dihilangkan pada akhir proses; gel yang tertinggal meskipun sedikit dapat
diserap oleh jaringan. Pada home bleaching, perkiraan dosis karbamid peroksida
di setiap aplikasi yaitu 90 mg.2 Laporan selanjutnya diperkirakan rata-rata 502 mg
di setiap aplikasi gel yang digunakan secara klinis untuk 10 gigi maksila (6
anterior gigi dan 4 gigi premolar).4 Saat kedua rahang dilakukan proses
pemutihan, jumlah rerata gel yang digunakan sekitar 1.0 g. Gel bleaching yang
mengandung 10% karbamid peroksida, maka dosis paparan menjadi 100 mg di
setiap aplikasi. Dahl dan Becher21 memperkirakan kandungannya sekitar 10% di
setiap gel yang teraplikasi. Oleh karena itu untuk setiap individu dengan berat
badan 60 kg yang menerima perawatan home bleaching pada kedua rahang satu
kali sehari, paparan gel pemutih yang terhitung yaitu 1.67 mg/kg/hari dan paparan
karbamid peroksida pada gel yang mengandung 10% karbamid peroksida akan
menjadi 0.167 mg/kg/hari. Gel karbamid peroksida 10% terdiri dari sekitar 3.5%
H2O2; oleh karena itu perkiraan paparan H2O2 adalah 0.058 mg/kg/hari atau 3.48
mg H2O2 per hari untuk pasien dewasa dengan berat badan 60 kg.
Tubuh

manusia

dilengkapi

dengan

berbagai

macam

mekanisme

perlindungan di tingkat sel dan jaringan untuk mencegah potensi kerusakan sel
karena H2O2 dan memperbaiki kerusakan yang terus menerus. Enzim-enzim
seperti katalase, SOD, peroksidase dan selenium yang berkaitan dengan
glutathione peroxidase, terdapat pada cairan tubuh dan jaringan secara luas
meliputi saliva yang efektif memetabolisme H2O2. Faktanya peroksidase saliva
dianggap sebagai perlindungan tubuh yang efektif dan paling penting dalam
melawan potensi efek samping H2O2.23 Sebuah penelitian pada bayi, remaja,
dewasa, dan dewasa dengan gangguan aliran saliva ditemukan adanya

dekomposisi H2O2 yang cepat pada pasta gigi.24 Satu menit setelah menyikat gigi
dengan satu gram pasta gigi, < 2% dosis H2O2 (30 mg) sebelum penyikatan gigi
terdeteksi berada pada rongga mulut di pasien tersebut. Hal ini menunjukkan
bahwa dalam 1 menit, rongga mulut dapat menghilangkan > 8 kali H 2O2 yang
digunakan dengan gel karbamid peroksida 10%. Oleh karena itu jika bahan
tersebut digunakan secara tepat maka paparan H2O2 bersifat minimal; selanjutnya,
hal tersebut diutamakan terbatas hanya di dalam rongga mulut dan tidak mampu
mencapai sampai tahap sistemik untuk menstimulasi toksisitas karena mekanisme
perlindungan metabolik.
Dengan usaha penelitian dan pengumpulan data lebih dari dua dekade
terakhir, perhatian keamanan bleaching berbahan dasar peroksida dengan potensi
toksisitas sistemik telah berkurang banyak. Bagaimanapun juga, usaha penelitian
berlanjut untuk menentukan keamanan penggunaan bleaching di rumah,
khususnya penilaian risiko, relevansi klinis pada temuan in vitro, dan peraturan
serta standar internasional.3,24-29 Di Eropa sebuah instruksi baru telah ditetapkan
untuk semua negara di EU30 dan Inggris menjadikan legislasi untuk mematuhi
instruksi pada Oktober 2012.31-34 Instruksi tersebut menyatakan bahwa hidrogen
peroksida yang mencapai 6% dapat diberikan ke pasien sebagai perawatan
bleaching di rumah hanya setelah dilakukan pemeriksaan dan perawatan pertama
oleh dokter gigi. British Dental Bleaching Society mencoba untuk menyertakan
larangan penggunaan klorin dioksida untuk memutihkan gigi dengan amandemen
dari instruksi.
Potensi risiko yang berkaitan dengan bleaching
Sementara risiko sistemik yang tidak lagi menjadi persoalan keamanan utama
untuk bleaching, penting untuk mengenal potensi efek samping lokal. Pada office
bleaching yang menggunakan gel dengan konsentrasi H2O2 yang tinggi jika
berkontak dapat menyebabkan sensasi terbakar pada mukosa. Efek tersebut
ditunjukkan pada Gambar 3 dengan konsentrasi H2O2 pada gel 25% yang
diaplikasikan pada gigi. Pada kasus ini jaringan lunak diisolasi dengan light cure
dam. Ulserasi jaringan merupakan reaksi terbakar secara kimiawi, yang biasa

dikenal dengan pemutihan jaringan. Perawatan terbaik untuk kasus tersebut


adalah segera membilas daerah yang terkena dengan air untuk menetralkan
kerusakan. Jika terdeteksi lebih awal, jaringan akan berubah menjadi merah
setelah 1 menit atau selanjutnya akan kembali ke warna merah muda.
Bagaimanapun juga jika gel power bleach tertinggal di jaringan lunak dan gusi
dalam waktu lama maka kesembuhan ulserasi akan lama dan pasien dapat
mengeluhkan rasa nyeri karena blister yang timbul selama 1-2 minggu. Ulserasi
dapat terjadi tunggal atau jamak. Anjuran pengaplikasian vitamin E untuk
membantu menyembuhkan ulserasi.

Gambar 3. Jaringan yang terbakar yang dialami oleh pasien sebagai dampak
berkontaknya gel dengan jaringan gusi selama prosedur power
bleaching.
Beberapa penggunaan home bleaching memerlukan kontak langsung gel
ke permukaan email yang berkelanjutan sampai 7 atau 8 jam (dalam satu malam).
Kontak email-gel dapat diulang pada hari yang sama atau sehari-hari dengan
waktu yang diperpanjang. Saat diaplikasikan di rumah, kontak langsung yang
tidak diharapkan dari gel bleaching ke gusi dapat terjadi dan kontak terhadap gusi
tidak dapat dihindari pada beberapa pilihan cara home bleaching seperti strip. Di
samping itu, pengguna yang melakukan home bleaching dapat memakai produk
tersebut terlalu berlebihan sehingga dapat memperburuk jaringan dikarenakan
kontak dengan gel yang berkepanjangan. Sensitivitas gigi dan iritasi gusi,
meskipun sebagian besar hanya bersifat sementara dan menghilang seiring
berjalannya waktu dan dapat dikurangi dengan protokol penggunaan yang tepat,
keluhan tersebut didokumentasikan sebagai efek samping yang berkaitan dengan
bleaching.

Risiko lokal umum yang berhubungan dengan bleaching meliputi


sensitivitas gigi, iritasi gusi serta potensi efek samping pada email dan bahan
restorasi.17-19,35-37 Tingkat risiko tergantung pada kualitas gel bleaching, teknik
yang digunakan dan respon individu terhadap perawatan bleaching.
Sensitivitas gigi
Sensitivitas gigi terhadap perubahan temperatur merupakan efek samping klinis
yang umumnya terjadi selama atau setelah bleaching pada gigi vital dengan
insidensi sampai 50%.17 Sensasi sensitivitas sering terjadi selama tahap awal
perawatan, biasanya menetap selama 2-3 hari dengan tingkat yang ringan sampai
sedang dan bersifat sementara.17-39 Sensasi ini timbul pada puncak sensitivitas saat
perawatan hari ketiga, hal ini dikarenakan tingkat kejenuhan yang maksimum di
kamar pulpa.40 Perkembangan sensitivitas gigi tidak berkaitan dengan usia atau
jenis kelamin pasien, kerusakan restorasi, abrasi email-sementum atau lengkung
rahang yang sedang dirawat; Bagaimanapun juga, risiko meningkat pada pasien
dengan mengganti gel bleaching lebih dari satu kali dalam sehari.37
Mekanisme terjadinya sensitivitas gigi belum sepenuhnya dimengerti;
akan tetapi mekanisme ini diperkirakan karena sensasi yang mengindikasikan
adanya respon pulpa terhadap H2O2 dan radikal bebas.10,13 Sebagian besar asumsi
berdasarkan pada penelitian in vitro yang menunjukkan bahwa H2O2 pada gel
pemutih yang diaplikasikan pada permukaan email dapat berpenetrasi melalui
email dan dentin sehingga dapat mencapai kamar pulpa.38-47 Secara umum,
penelitian ini menunjukkan bahwa < 30 g H2O2 dapat mencapai kamar pulpa
setelah mengaplikasikan gel dengan kandungan H2O2 12% pada permukaan email
selama 7 jam. Jumlah H2O2 yang terdeteksi dalam kamar pulpa cenderung
meningkat karena faktor waktu dan konsentrasi H2O2 di dalam gel, namun tidak
berbandingan. Telah dikemukakan bahwa jumlah 50.000 g H2O2 diperlukan
untuk menghambat enzim pulpa, maka jumlah H2O2 yang terdeteksi masuk ke
dalam kamar pulpa pada bleaching tidak dianggap sebagai penyebab kerusakan
signifikan pada jaringan pulpa. Namun terdapat kekurangan pada penelitian in
vivo di topik ini dan efek jangka panjang seperti paparan H2O2 terhadap pulpa

belum ditentukan. Oleh karena itu, para praktisi harus berhati-hati dan bleaching
sebaiknya tidak dilakukan pada gigi dengan karies, dentin yang terbuka, atau
kerusakan pada restorasi.
Bleaching telah digunakan pada anak-anak dan remaja dengan sukses pada
sebagian besar kasus.48 Sampai sejauh ini hanya terdapat satu laporan mengenai
kerusakan email yang signifikan pada remaja.49 Bagaimanapun juga praktisi
disarankan untuk sangat hati-hati karena adanya gigi yang baru bererupsi;
pengawasan

dan

perhatian

harus

diterapkan

untuk

mengurangi

risiko

kecenderungan penyalahgunaan. Untuk praktisi yang berada di wilayah cakupan


perintah EU, sangat penting mentaati peraturan bahwa bleaching dilarang
dilakukan pada individu yang lebih muda dari 18 tahun.31-34
Di samping itu, penting untuk memeriksa vital tidaknya gigi yang berubah
warna. Cara pemeriksaan dilakukan dengan mengecek respon terhadap dingin,
secara normal dengan etil klorida dan dengan electric pulp testing. Radiografi
periapikal penting dilakukan untuk memeriksa gigi yang berubah warna tersebut
memiliki gambaran radiolusen di periapikal atau tidak dan bebas dari kelainan
patologis. Jika gigi dengan gambaran radiolusen tidak dirawat maka terdapat
potensi menyebabkan nyeri yang hebat selama perawatan bleaching yang dapat
dilihat pada Gambar 4. Pada kasus ini, awalnya pasien menjalankan perawatan
power bleaching kemudian dilanjutkan dengan perawatan home bleaching.
Setelah tiga hari melakukan home bleaching pasien mengeluhkan adanya nyeri
yang hebat. Radiografi tampak pada Gambar 4a yang diambil saat terjadi keluhan
dan menggambarkan adanya gambaran radiolusen periapikal yang berhubungan
dengan gigi. Pasien memerlukan perawatan saluran akar untuk menyembuhkan
lesi dan diperkirakan rasa sakit yang timbul dikarenakan prosedur power
bleaching di awal. Dokter gigi bertanggung jawab untuk melakukan foto radiograf
pada gigi yang mengalami perubahan warna untuk mengetahui kemungkinan
adanya gambaran radiolusen. Pasien menjalani perawatan endodontik (Gambar
4b); pada gambar tersebut terdapat gumpalan semen saluran akar yang keluar dari
apeks gigi.

10

Gambar 4. Radiografi periapikal menunjukkan adanya gambaran radiolusen pada


insisif sentral rahang bawah kiri.
Iritasi gusi
Iritasi gusi juga merupakan efek samping yang biasa terjadi pada bleaching. Iritasi
gusi dapat terjadi dengan sensitivitas gigi atau tanpa sensitivitas gigi; pasien
mungkin tidak dapat membedakan iritasi gusi pada gigi yang mengalami
sensitivitas.50-53 Insidensi iritasi gusi dengan home bleaching berkisar antara 550% di sebagian besar penelitian dengan tingkat nyeri ringan sampai sedang.
Iritasi gusi dapat terjadi pada hari kedua sampai hari ketiga setelah menggunakan
gel bleaching dan kemudian menghilang. Sebagian besar pasien yang mengalami
iritasi gusi masih dapat ditahan dan bukan pembatas untuk menyelesaikan
perawatan. Jika home bleaching yang dilakukan menggunakan sendok cetak,
maka sendok cetak yang terlalu pas merupakan penyebab utama terjadinya iritasi.
Masalah tersebut diatasi dengan memotong bagian sendok cetak yang terlalu
tinggi. Risiko iritasi gusi timbul dapat berhubungan dengan konsentrasi H2O2
dalam gel dan kontak gel terhadap gusi.
Iritasi gusi biasanya berkaitan dengan office bleaching yang biasanya
sebagian umum terjadi karena proteksi gusi yang tidak memadai atau bocor. 46,47
Praktisi harus memeriksa proteksi gusi dari tanda-tanda kebocoran, biasanya
ditandai dengan gelembung udara dan menanyakan kepada pasien mengenai
ketidaknyamanan selama perawatan bleaching. Proteksi light cure harus menutupi

11

seluruh permukaan bukal gusi dan tidak boleh ada bagian gusi yang terbuka. Jika
terdapat jaringan yang terlukai (Gambar 3), permukaan yang terkena segera
dibilas dengan air sampai warna keputihan pada gusi menghilang. Pada kasus
yang lebih parah dengan pemberian anestesi topikal, pembatasan gerak, dan
instruksi kebersihan mulut akan membantu penyembuhan. Vitamin E dapat
diaplikasikan langsung pada permukaan yang terkena ulserasi kimiawi untuk
membantu penyembuhan daerah tersebut.54 Di samping itu, posisi cahaya
sebaiknya tidak terlalu dekat dengan bibir untuk mencegah terbakarnya bibir.
Posisi cahaya bleaching yang langsung ke retraktor dapat menyebabkan retraktor
tertarik ke bibir bawah yang menimbulkan terbakarnya jaringan.
Potensi efek samping pada email
Efek bleaching pada email telah ditinjau ulang pada tiga aspek: hilangnya
mineral, perubahan morfologi permukaan dan perubahan kekerasan permukaan.
Kebanyakan penelitian mengenai efek bleaching terhadap email dilakukan dengan
sistem in vitro.55-63 Secara keseluruhan, data menunjukkan adanya kehilangan
mineral pada email selama perawatan bleaching, namun hal tersebut tidak muncul
sebagai risiko yang signifikan karena mekanisme remineralisasi yang efektif di
dalam rongga mulut. Penelitian dengan mikroskop elektron dan kekerasan
permukaan mikro menunjukkan sedikit atau tidak adanya perubahan pada
permukaan email yang diputihkan. Di sisi lain, beberapa peneliti melaporkan
perubahan permukaan email sehubungan dengan bleaching. Akan tetapi, sebagian
besar kasus menunjukkan adanya perubahan yang bervariasi pada morfologi
permukaan email diantara produk-produk yang berbeda dan perubahan tersebut
berhubungan dengan produk yang menggunakan obat kumur atau gel asam
dengan pH rendah. Di samping itu, penelitian telah menunjukkan bahwa beberapa
minuman ringan dan jus buah (contoh, jus jeruk, lemon dan apel) dapat
menimbulkan demineralisasi serta perubahan morfologi permukaan email yang
setara atau lebih besar dibandingkan dengan yang terlapor pada perawatan
bleaching. Studi klinis 6 bulan menyatakan bahwa penggunaan gel bleaching

12

harian yang mengandung karbamid peroksida 10% selama 6 bulan tidak


mempengaruhi morfologi permukaan email manusia.55
Sampai saat ini, tidak ada bukti klinis mengenai efek samping pada email
yang diawasi oleh dokter gigi pada pengguna home bleaching. Bagaimanapun
juga, dua kasus klinis dilaporkan terdapat kerusakan email yang signifikan dengan
penggunaan produk pemutih gigi OTC.49,64
Potensi efek samping pada restorasi
Pertimbangan keamanan saat ini adalah merkuri yang dilepaskan dari restorasi
amalgam selama dan setelah bleaching.65-69 Hal tersebut terdapat sedikit
perdebatan mengenai pelepasan merkuri yang berhubungan dengan bleaching;
namun, jumlah pelepasan merkuri yang dilaporkan bervariasi besarnya. Masalah
potensi implikasi kesehatan mengenai pelepasan merkuri masih kontroversial dan
membutuhkan penelitian lebih lanjut karena toksisitas merkuri yang telah dikenal,
sebagai aturan umum yang tidak disarankan melakukan bleaching pada pasien
dengan banyaknya restorasi amalgam di dalam mulut.
Sedangkan efek samping bleaching pada bahan restoratif tidak
dikategorikan sebagai risiko langsung terhadap kesehatan, konsekuensi biasanya
terjadi pada kualitas dan ketahanan restorasi. Banyak penelitian melaporkan
bahwa bleaching dapat memberikan efek merugikan pada sifat fisik dan/atau
kimia bahan restoratif, meliputi peningkatan kekasaran permukaan, pembentukan
celah, kerusakan tepi restorasi, pelepasan ion metalik dan penurunan kekuatan
ikatan antara gigi dan restorasi.68-71 Efek samping bleaching terhadap kekuatan
ikatan telah didokumentasikan. Mekanisme penghambatan bahan pengikat
polimerisasi oleh pembentukan oksigen residual selama bleaching. Efek serupa
juga dapat terjadi pada bahan restoratif berbahan resin yang memerlukan
polimerisasi in situ. Efek inhibisi setelah bleaching pada polimerisasi menghilang
dengan berjalannya waktu dan dengan interval 2 minggu dianggap sebagai waktu
yang cukup untuk menghindari efek samping tersebut.
Ringkasan

13

Office bleaching telah menjadi bagian dari praktik kedokteran gigi selama
bertahun-tahun. Data yang telah terkumpul selama lebih dari 2 dekade terakhir,
perawatan home bleaching telah diterima dan merupakan prosedur terintegrasi
dalam kedokteran gigi. Data yang dikumpulkan menunjukkan tidak adanya hal
yang signifikan, risiko kesehatan jangka panjang yang berhubungan dengan home
bleaching profesional yang menggunakan gel bleaching karbamid peroksida 10%
yang bocor, setara dengan 3.5% H2O2. Oleh karena itu, saat digunakan dengan
tepat maka bleaching dapat berjalan dengan aman dan efektif.
Seperti halnya prosedur perawatan gigi, bleaching juga terdapat risiko.
Protokol penggunaan yang tepat dapat mengurangi potensi risiko secara efektif.
Sensitivitas dan iritasi gusi dapat terjadi di sebagian besar pasien, meskipun pada
kasus mereka timbul nyeri ringan sampai sedang dan bersifat sementara. Saat gel
dengan konsentrasi H2O2 yang tinggi seperti pada office bleaching diaplikasikan
tanpa proteksi gusi yang memadai, dapat terjadi kerusakan mukosa yang parah.
Hal tersebut dapat dicegah dengan menggunakan proteksi gusi yang memadai.
Meskipun jarang, efek samping mungkin terjadi karena aplikasi yang tidak tepat,
penyalahgunaan, atau penggunaan produk home bleaching yang tidak sesuai
aturan. H2O2 dapat menimbulkan efek toksikologis yang bermacam-macam;
praktisi perlu mengenal risiko potensial dan menghindarinya untuk mengurangi
konsekuensi yang merugikan.
Sejauh ini, beberapa data tersedia mengenai keamanan home bleaching
OTC yang mensimulasikan cara aplikasi produk tersebut. Cara bleaching yang
aman ditampilkan pada toko-toko di mall, salon, tempat spa dan kapal pesiar, hal
tersebut menjadi perhatian khusus karena prosedur tersebut serupa dengan office
bleaching namun diperagakan oleh orang awam tanpa latar belakang pendidikan
kedokteran gigi.
Untuk meminimalisir risiko potensial dan mendapatkan manfaat yang
maksimal,

bleaching

di

bawah

supervisi

profesional

dental

sangat

direkomendasikan. Kasus terbaru melaporkan gambaran pentingnya peran


profesional dental pada perawatan bleaching.72 Seorang pasien dengan gigi
berwarna gelap yang berhubungan dengan dentinogenesis imperfecta dibuatkan

14

rencana perawatan dengan hati-hati dan dilakukan prosedur bleaching. Perawatan


jangka panjang yang berhasil (4,5 bulan) yaitu dengan aplikasi gel bleaching yang
mengandung 14% H2O2 dilakukan di rumah. Uji komprehensif klinis pada gigi
dan gusi, desain home bleaching yang disesuaikan, instruksi detail, dan
pengawasan kemajuan bleaching dengan penyesuaian membantu untuk menjamin
keamanan dan kepuasan terhadap hasil pemutihan.

15