Anda di halaman 1dari 27

2.

4 Klasifikasi Gangguan Somatoform


Terdapat beberapa versi penggolongan gangguan somatoform yaitu sebagai berikut:
1.

Pada revisi teks edisi keempat dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders, fourth edition (DSM-IV) terdapat 7 gangguan di dalam kategori
gangguan somatoform:

Gangguan somatisasi (somatization disorder)


Ditandai dengan banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ.

Gangguan konversi (conversion disorder)


Ditandai dengan satu atau dua keluhan neurologis.

Gangguan nyeri (pain disorder)


Ditandai dengan gejala nyeri yang hanya disebabkan, atau secara signifikan
diperberat factor psikologis.

Hipokondriasis (hypochondriasis)
Ditandai dengan lebih sedikit focus gejala daripada keyakinan pasien
bahwa mereka memiliki suatu penyakit spesifik.

Gangguan dismorfik tubuh (body dysmorphic disorder)


Ditandai dengan keyakinan yang salah atau persepsi yang berlebihan bahwa
suatu bagian tubuhnya cacat.

Gangguan somatoform yang tidak terinci (undifferentiated somatoform


disorder).
Mencakup gangguan somatoform yang tidak dapat dijelaskan, telah ada
selama 6 bulan atau lebih.

Gangguan somatoform yang tidak tergolongkan (somatoform disorder not


otherwise specified-NOS).
Merupakan kategori untuk keadaan yang tidak memenuhi diagnosis
gangguan somatoform yang telah disebutkan di atas.1

2.

Menurut ICD-10/PPDGJ-III

Gangguan somatisasi (F 45.0)

Gangguan somatoform tidak terinci (F 45.1)

Gangguan hipokondrik (F 45.2)

Disfungsi otonomik somatoform (F 45.3)

Gangguan nyeri somatoform menetap (F 45.4)

Gangguan somatoform lainnya (F 45.8)3

Terdapat perbandingan antara DSM-IV-TR dengan ICD-10. DSM-IV-TR


memasukkan gangguan konversi dan body dysmorphic disorder dalam gangguan
somatoform sedangkan ICD-10 tidak. Dalam ICD-10 gangguan konversi dimasukkan
ke dalam gangguan disosiatif, dan ICD-10 juga merincikan yang disebut disfungsi
otonomik somatoform dan gangguan somatoform jenis lainnya yang dalam DSM-IV
gejala-gejalanya mirip dengan gangguan cemas dan gangguan depresi. Dalam ICD10, body dysmorphic disorder dimasukkan ke dalam kelas hipokondriasis.1,3
2.5 Gangguan Somatisasi
Definisi
Gangguan somatisasi ditandai dengan banyak gejala somatik yang tidak dapat
dijelaskan dengan adekuat berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium.
Gangguan ini biasanya dimulai sebelum usia 30, dapat berlanjut hingga tahunan, dan
dikenali menurut DSM-IV-TR sebagai kombinasi gejala nyeri, gastrointestinal,
seksual, serta pseudoneurologis. Gangguan somatisasi berbeda dengan gangguan
somatoform lainnya karena banyaknya keluhan dan banyaknya sistem organ yang
terlibat (contohnya gastrointestinal dan neurologis). Gangguan ini bersifat kronis dan
disertai penderitaan psikologis yang signifikan, hendaya fungsi social dan pekerjaan,
serta perilaku mencari bantuan medis yang berlebihan.1
Keluhan-keluhan yang diutarakan biasanya mencakup sistim-sistim organ
yang berbeda seperti nyeri yang samar dan tidak dapat didefinisikan, problem
menstruasi/seksual,

orgasme

terhambat,

penyakit-penyakit

neurologik,

gastrointestinal, genitourinaria, kardiopulmonar, pergantian status kesadaran yang


sulit ditandai dan lain sebagainya. Jarang dalam setahun berlalu tanpa munculnya
beberapa keluhan fisik yang mengawali kunjungan ke dokter. Orang dengan gangguan
somatisasi adalah orang yang sangat sering memanfaatkan pelayanan medis. Keluhankeluhannya tidak dapat dijelaskan oleh penyebab fisik atau melebihi apa yang dapat
diharapkan dari suatu masalah fisik yang diketahui. Keluhan tersebut juga tampak

meragukan atau dibesar-besarkan, dan orang itu sering kali menerima perawatan
medis dari sejumlah dokter, terkadang pada saat yang sama.1,4,5,6
Epidemiologi
Prevalensi seumur hidup gangguan somatisasi dalam populasi umum
diperkirakan 0,1 sampai 0,2 persen walaupun beberapa kelompok riset yakin bahwa
angka sebenarnya dapat lebih mendekati 0,5 persen. Perempuan dengan gangguan
somatisasi jumlahnya melebihi laki-laki 5 hingga 20 kali tetapi perkiraan tertinggi
dapat disebabkan adanya tendensi dini tidak mendiagnosis gangguan somatisasi pada
pasien laki-laki. Meskipun demikian gangguan ini adalah gangguan yang lazim
ditemukan. Dengan rasio perempuan banding laki-laki 5 banding 1, prevalensi seumur
hidup gangguan somatisasi pada perempuan di populasi umum mungkin 1 atau 2
persen. Di antara pasien yang ditemui di tempat praktik dokter umum dan dokter
keluarga, sebanyak 5 sampai 10 persen dapat memenuhi kriteria diagnostik gangguan
somatisasi. Gangguan ini berbanding terbalik dengan posisi sosial dan terjadi paling
sering pada pasien yang memiliki sedikit edukasi dan tingkat pendapatan yang rendah.
Gangguan somatisasi didefinisikan dimulai sebelum usia 30 tahun; dan paling sering
dimulai selama masa remaja seseorang.1
Etiologi
-

Faktor psikososial
Formulasi psikososial melibatkan interpretasi gejala sebagai komunikasi social,
akibatnya adalah menghindari kewajiban (contohnya harus pergi ke tempat kerja
yang tidak disukai), mengekspresikan emosi (contohnya marah kepada
pasangan), atau menyimbolkan suatu perasaan atau keyakinan (contohnya nyeri
di usus). Interpretasi gejala psikoanalitik yang kaku bertumpu pada hipotesis
bahwa gejala-gejala tersebut menggantikan impuls berdasarkan insting yang
ditekan. Perspektif perilaku pada gangguan somatisasi menekankan bahwa
pengajaran orang tua, contoh dari orang tua, dan adat istiadat dapat mengajari
beberapa anak untuk lebih melakukan somatisasi daripada orang lain. Di samping
itu, sejumlah pasien dengan gangguan somatisasi datang dari keluarga yang tidak
stabil dan mengalami penyiksaan fisik.1

Faktor Biologis dan Genetik

Sejumlah studi mengemukakan bahwa pasien memiliki perhatian yang khas dan
hendaya kognitif yang menghasilkan persepsi dan penilaian input somatosensorik
yang salah. Hendaya ini mencakup perhatian mudah teralih, ketidakmampuan
menghabituasi stimulus berulang, pengelompokan konstruksi kognitif dengan
dasar impresionistik, hubungan parsial dan sirkumstansial, serta kurangnya
selektivitas, seperti yang ditunjukkan sejumlah studi potensial bangkitan.
Sejumlah terbatas studi pencitraan otak melaporkan adanya penurunan
metabolisme

lobus

frontalis

dan

hemisfer

nondominan.

Data

genetik

menunjukkan bahwa gangguan somatisasi dapat memiliki komponen genetic.


Gangguan somatisasi cenderung menurun di dalam keluarga dan terjadi pada 10
hingga 20 persen kerabat perempuan derajat pertama pasien dengan gangguan
somatisasi. Penelitian sitokin, dapat relevan dengan gangguan somatisasi dan
gangguan somatoform lainnya. Walaupun belum ada data yang menyokong
hipotesis, pengaturan abnormal sistem sitokin dapat mengakibatkan sejumlah
gejala yang ditemukan pada gangguan somatoform.1
Diagnosis
Untuk diagnosis gangguan somatisasi, DSM-IV-TR mengharuskan awitan
gejala sebelum usia 30 tahun. Selama perjalanan gangguan, pasien harus memiliki
keluhan sedikitnya empat gejala nyeri, dua gejala gastrointestinal, satu gejala seksual,
dan satu gejala pseudoneurologis, yang seluruhnya tidak dapat dijelaskan dengan
pemeriksaan fisik atau laboratorium.1
Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Gangguan Somatisasi
A. Riwayat banyak keluhan fisik dimulai sebelum usia 30 tahun yang terjadi selama
suatu periode beberapa tahun dan menyebabkan pencarian terapi atau hendaya
fungsi social, pekerjaan, atau area fungsi penting lain yang signifikan.
B. Masing-masing kriteria berikut ini harus dipenuhi, dengan setiap gejala terjadi
pada waktu kapanpun selama perjalanan gangguan:
(1) empat gejala nyeri
(2) dua gejala gastrointestinal
(3) satu gejala seksual
(4) satu gejala psuedoneurologis
C. Baik (1) atau (2):
4

(1) Setelah penelitian yang sesuai, setiap gejala Kriteria B tidak dapat
dijelaskan secara utuh dengan keadaan medis umum yang diketahui atau
efek langsung suatu zat.
(2) Jika terdapat keadaan medis umum, keluhan fisik, atau hendaya social atau
pekerjaan yang diakibatkan jauh melebihi yang

diperkirakan dari

anamnesis, pemeriksaan fisik atau temuan laboratorium.


D. Gejala dihasilkan tanpa disengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan
buatan atau malingering).1
Gambaran Klinis
Pasien dengan gangguan somatisasi memiliki banyak keluhan somatik dan
riwayat medis yang rumit dan panjang. Mual dan muntah (selain selama kehamilan),
kesulitan menelan, nyeri di lengan dan tungkai, napas pendek tidak berkaitan dengan
olah raga, amnesia, dan komplikasi kehamilan serta menstruasi adalah gejala yang
paling lazim ditemui. Pasien sering meyakini bahwa mereka telah sakit selama
sebagian besar hidup mereka. Gejala pseudoneurologis mengesankan, tetapi tidak
patognomonik, untuk adanya gangguan neurologis. Menurut DSM-IV-TR, gejala
pseudoneurologis mencakup gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis atau
kelemahan lokal, kesulitan menelan atau benjolan di tenggorok, afonia, retensi urine,
halusinasi, hilangnya sensasi raba atau nyeri, penglihatan ganda, buta, tuli, kejang,
atau hilang kesadaran selain pingsan.1
Penderitaan psikologis dan masalah interpersonal menonjol pada gangguan
ini; ansietas dan depresi adalah keadaan psikiatri yang paling sering. Ancaman bunuh
diri lazim ada tetapi bunuh diri yang sesungguhnya jarang terjadi. Jika terjadi bunuh
diri biasanya sering terkait penyalahgunaan zat. Riwayat medis pasien berbelit-belit,
samar, tidak pasti, tidak konsisten, dan kacau. Pasien dapat bingung dengan urutan
waktu dan tidak dapat membedakan dengan jelas gejala saat ini dengan yang lalu.
Pasien perempuan dengan gangguan somatisasi dapat berpakaian dengan cara yang
ekshibisionistik. Pasien dapat dianggap sebagai seseorang yang tidak mandiri,
terpusat pada diri sendiri, haus pemujaan dan manipulatif.1
Diagnosis Banding
Sejumlah gangguan medis sering menunjukkan kelainan yang sementara dan
nonspesifik pada kelompok usia yang sama. Gangguan medis ini mencakup sclerosis
5

multipel, miastenia gravis, SLE, AIDS, porfiria akut intermiten, hiperparatiroidisme,


hipertiroidisme, dan infeksi sistemik kronik. Awitan berbagai gejala somatic pada
pasien yang berusia lebih dari 40 tahun harus dianggap disebabkan oleh keadaan
medis nonpsikiatri sampai pemeriksaan medis mendalam telah dilengkapi.1
Pasien dengan gangguan depresif berat, gangguan ansietas menyeluruh, dan
skizofrenia semuanya dapat memiliki keluhan awal yang berpusat pada gejala
somatic. Meskipun keluhan demikian, pada semua gangguan ini, gejala depresi,
ansietas, atau psikosis akhirnya mendominasi keluhan somatik. Walaupun pasien
dengan gangguan panic dapat mengeluhkan banyak gejala somatik yang berkaitan
dengan serangan paniknya, mereka tidak terganggu oleh gejala somatik di antara
serangan panik.1
Perjalanan Gangguan dan Prognosis
Gangguan somatisasi adalah gangguan yang bersifat kronis dan sering
membuat tak berdaya. Episode meningkatnya keparahan gejala dan timbulnya gejala
yang baru dianggap bertahan selama 6 hingga 9 bulan dan dipisahkan periode yang
tidak terlalu simtomatik selama 9 hingga 12 bulan. Meskipun demikian, pasien
dengan gangguan somatisasi jarang selama lebih dari satu tahun tidak mencari
perhatian medis. Sering terdapat hubungan antara periode meningkatnya stress dan
memberatnya gejala somatik.1
Terapi
Gangguan somatisasi paling baik diterapi ketika pasien memiliki satu dokter
yang diketahui sebagai dokter utamanya. Ketika lebih dari satu klinisi terlibat, pasien
memiliki kesempatan lebih untuk mengekspresikan keluhan somatiknya. Dokter
utama harus melihat pasien selama kunjungan yang terjadwal dan teratur, biasanya
dengan interval satu bulan. Kunjungan ini harus relatif singkat walaupun pemeriksaan
fisik parsial harus dilakukan untuk memberi respons terhadap keluhan somatik baru.1
Psikoterapi, baik individu maupun kelompok akan membantu pasien dalam
beradaptasi dengan gejalanya, mengekspresikan emosi yang mendasari, dan
membangun strategi alternatif untuk mengekspresikan perasaannya. Psikoterapi, baik
individual dan kelompok, menurunkan biaya perawatan kesehatan penderita gangguan
somatisasi sebesar 50 persen, sebagian besar karena penurunan jumlah perawatan di
rumah sakit. Dalam lingkungan psikoterapeutik, pasien dibantu untuk mengatasi
6

gejalanya,

untuk

mengekspresikan

emosi

yang

mendasari,

dan

untuk

menggembangkan strategi alternatif untuk mengekspresikan perasaan mereka.1,4,5,6


Memberikan obat psikotropik ketika gangguan somatisasi timbul bersamaan
dengan gangguan mood atau gangguan ansietas selalu memiliki risiko, tetapi juga
diindikasikan terapi psikofarmakologis dan terapi psikoterapeutik pada gangguan
yang timbul bersamaan. Obat harus diawasi karena pasien dengan gangguan
somatisasi cenderung menggunakan obatnya dengan tidak teratur dan tidak dapat
dipercaya. Pada pasien tanpa gangguan jiwa lain, sedikit data yang tersedia
menunjukkan bahwa terapi farmakologis efektif bagi mereka.1
2.6 Gangguan Konversi
Definisi
DSM-IV mendefinisikan gangguan konversi sebagai suatu gangguan yang
ditandai oleh adanya satu atau lebih gejala neurologis (contoh, paralisis, kebutaan,
parestesia) yang tidak dapat dijelaskan oleh gangguan neurologis atau medis yang
diketahui. Disamping itu, diagnosis mengharuskan bahwa faktor psikologis
berhubungan dengan awal atau eksaserbasi gejala.1
Gangguan konversi adalah suatu tipe gangguan somatoform yang ditandai
oleh kehilangan atau kendala dalam fungsi fisik, namun tidak ada penyebab organis
yang

jelas. Gangguan ini dinamakan

konversi karena adanya

keyakinan

psikodinamika bahwa gangguan tersebut mencerminkan penyaluran, atau konversi,


dari energi seksual atau agresif yang direpresikan ke simtom fisik.1,3
Epidemiologi
Satu survei masyarakat menemukan bahwa insidensi tahunan gangguan
konversi adalah 22 per 100.000 orang. Rasio wanita terhadap pria pada pasien dewasa
adalah 2 berbanding 1. Gangguan konversi dapat memiliki awitan kapanpun dari amsa
kanak hingga usia tua, tetapi paling lazim pada masa remaja dan dewasa muda.1
Etiologi
-

Faktor Psikoanalitik
Menurut teori psikoanalitik, gangguan konversi disebabkan oleh represi konflik
intrapsikis bawah sadar dan konversi kecemasan ke dalam suatu gejala fisik.

Konflik adalah antara impuls instinktual (contoh, agresif atau seksual) dan
penghalangan terhadap ekspresinya.1
-

Faktor Biologis
Semakin banyak data yang melibatkan faktor biologis dan neuropsikologis dalam
perkembangan gejala gangguan konversi. Penelitian pencitraan awal telah
menemukan hipometabolisme di hemisfer dominan dan hipermetabolisme di
hemisfer nondominan dan telah melibatkan gangguan komunikasi hemisferik di
dalam penyebab gangguan konversi. Gejala mungkin disebabkan oleh kesadaran
kortikal yang berlebihan yang mematikan loop umpan balik negatif antara korteks
serebral dan formasi retikularis batang otak.1

Gambaran Klinis
Paralisis, kebutaan dan mutisme adalah gejala gangguan konversi yang paling
sering. Gangguan konversi mungkin paling sering berhubungan dengan gangguan
kepribadian pasif-agresif, dependen, antisosial, dan histrionik. Gejala gangguan
kecemasan dan depresif sering kali menyertai, dan pasien yang terkena dalam risiko
untuk bunuh diri. Anastesia dan parestesia sering ditemukan, khususnya pada anggota
gerak. Satu gangguan gaya berjalan pada gangguan konversi adalah astasia-abasia,
yaitu gaya berjalan yang sangat ataksik dan sempoyongan yang disertai oleh gerakan
batang tubuh yang menyentak, iregular, kasar dan gerakan lengan yang menggelepar
dan bergelombang. Refleks tetap normal dan elektromiografi juga normal.1
La Belle Indifference adalah perilaku ketidakpedulian pasien yang tidak sesuai
terhadap gejala yang serius, yaitu pasien tampak tidak perduli dengan apa yang
menjadi gangguan utama. Pada beberapa pasien ketidakacuhan yang tersamar dapat
tidak ditemukan; hal ini juga terlihat padapasien dengan penyakit medis serius yang
memiliki perilaku menahan diri. Ada atau tidaknya La Belle Indifference adlaah
ukuran tidak akurat seoarng pasien memiliki gangguan konversi.1
Pasien dengan gangguan konversi mungkin secara tidak sadar membentuk
gejalanya pada seseorang yang penting bagi mereka. Sebagai contoh, orang tua atau
orang yang baru saja meninggal mungkin berperan sebagai model untuk gangguan
konversi. Keadaan ini sering terjadi pada reaksi dukacita patologis dimana orang yang
kehilangan memiliki gejala orang yang telah meninggal.1
Diagnosis
8

DSM-IV membatasi diagnosis pada gejala yang mempengaruhi fungsi motorik


dan sensoris yang volunter yaitu, neurologis. Pasien yang memenuhi kriteria
diagnostik tetapi yang memiliki gejala non-neurologis (sebagai contoh, pseudokiesis)
sekarang diklasifikasikan sebagai menderita gangguan somatoform yang tidak
ditentukan. Diagnosis gangguan konversi mengharuskan bahwa klinisi menemukan
suatu hubungan yang diperlukan dan penting antara penyebab gejala neurologis dan
faktor biologis, walaupun gejala tidak boleh diakibatkan oleh berpura-pura atau
gangguan buatan. Diagnosis gangguan konversi juga mengeluarkan gejala nyeri dan
disfungsi seksual dan gejala yang terjadi pada gangguan somatisasi.1
Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Gangguan Konversi
A. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi motorik volunter

atau sensorik yang mengarahkan pada kondisi neurologis atau kondisi medis lain.
B. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan gejala atau defisit

karena awal atau eksaserbasi gejala atau defisit adalah didahului oleh konflik atau
stresor lain.
C. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura).
D. Gejala atau defisit tidak dapat, setelah penelitian yang dijelaskan sepenuhnya
oleh kondisi medis umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai
perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural.

E. Gejala atau defisit menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau

gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain atau
memerlukan pemeriksaan medis.
F. Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi seksual, tidak terjadi
semata-mata selama perjalanan gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan
dengan lebih baik oleh gangguan mental lain.1
Terapi
Pemulihan gejala gangguan konversi biasanya spontan, walaupun pemulihan
kemungkinan dipermudah oleh terapi suportif berorientasi-tilikan atau terapi perilaku;
ciri yang paling penting dari terapi adalah hubungan terapeutik yang merawat dan
menguasai. Pada pasien yang kebal terhadap ide psikoterapi, dapat dianjurkan
psikoterapi yang dipusatkan pada masalah stres dan mengatasinya. Amobarbital dan

lorazepam parenteral mungkin membantu dalam mendapatkan informasi riwayat


penyakit tambahan, khususnya jika baru saja dialami suatu peristiwa traumatik.1
2.7 Hipokondriasis
Definisi
Hipokondriasis didefinisikan sebagai preokupasi seseorang mengenai rasa
takut menderita, atau yakin memiliki, penyakit berat. rasa takut atau keyakinan ini
muncul ketika sesorang salah menginterpretasikan gejala atau fungsi tubuh. Istilah
hipokondriasis berasal dari istilah medis kuno hipokondrium (di bawah rusuk) dan
mencerminkan keluhan abdomen yang lazim ada pada banyak pasien dengan
gangguan ini. Hipokondriasis merupakan salah satu dari enam gangguan somatoform
yang dikategorikan dalam DSM-IV. Hipokondriasis dibedakan dari kelainan delusi
somatik lainnya oleh karena gangguan ini dihubungkan dengan pengalaman gejala
fisik yang dirasakan oleh penderitanya, dimana gangguan somatoform lainnya tidak
menunjukkan gejala fisik di dalam dirinya.1,3,5,6
Hipokondriasis interpretasi yang tidak realistik atau tidak akurat mengenai
gejala atau sensasi fisik , walaupun tidak ada penyebab medis diketahui yang
ditemukan. Preokupasi pasien mengakibatkan distres yang signifikan pada mereka
dan mengganggu kemampuan mereka berfungsi dalam peran pribadi, sosial, maupun
pekerjaan. Gejala yang timbul bisa saja merupakan pernyataan gejala fisik yang
dilebih-lebihkan, yang justru akan memperberat gejala fisik yang disebabkan oleh
keyakinan bahwa pasien tersebut sedang sakit dan keadaannya lebih buruk dari
keadaan yang sebenarnya.1,3,5,6
Epidemiologi
Satu studi melaporkan prevalensi 6 bulan hipokondriasis sebanyak 4 hingga 6
persen di populasi klinik medis umum, tetapi mungkin dapat setinggi 15 persen. Lakilaki dan perempuan secara setara dapat mengalami hipokondriasis. Walaupun awitan
gejala dapat terjadi pada usia berapapun, gangguan ini paling lazim timbul pada orang
berusia 20 hingga 30 tahun. Sejumlah bukti menunjukkan bahwa diagnosis
hopokondriasis lebih lazim pada orang kulit hitam daripada kulit putih, tetappi posisi
sosial, tingkat edukasi, dan status perkawinan tidak tampak memengaruhi diagnosis.
Keluhan hipokondriak dulaporkan terjadi pada kira- kira 3% mahasiswa kedokteran
biasanya dalam 2 tahun pertama, tetapi umumnya terjadi sementara/ singkat.1
10

Etiologi
Di dalam kritria diagnotstik hipokondriasis, DSM-IV-TR menunjukkan bahwa
gejala mencerminkan adanya kesalahan interpretasi gejala tubuh. Sejumlah inti data
menunjukkan bahwa orang dengan hipokondriasis memperkuat sensasi somatiknya,
mereka memiliki ambang yang lebih rrendah dan toleransi yang elbih rendah terhadap
ketidaknyamanan fisik. Contohnya orang normal anggap sebagai tekanan abdomen,
orang dengan hipokondriasis merasakannya sebagai nyeri abdomen. Mereka dpat
berfokus pada sensasi tubuh, salah menginterpretasi, dan menadi waspada
terhadapnya karena skema kognitif yang salah.1
Teori kedua adalah bahwa hipokondriasis dapat dimengerti dalam hal model
pembelajaran sosial. Gejala hipokondriasis dipandang sebagai permintaan untuk
masuk ke dalam peran sakit yang diciptakan seseorang yang menghadapi masalah
yang tampaknya tidak dapat diselesaikan dan terlalu berat. Peranan sakit menawarkan
pelarian

yang

memungkinkan

pasien

menghindari

kewajiban

yang

tidka

menyebangkan, menunda yanangan yang tidak diinginkan, dan dibebaskan dari tugas
dan kewajiban.1
Teori

ketiga

mengenai

hipokondriasis

adalah

bahwa

hipokondriasis

merupakan seuatu varian gangguan jiwa lainnya, di antaranya yang paling sering
adalah gangguan depresif dan ansietas. Perkiraan 80% pasien hipokondriasis dapat
memiliki gangguan ansietas atau depresif secara bersamaan. Pasien yang memenuhi
kriteria diagnostik hipokondriasis dapat menjadi subtipe somatisasi gangguan lain ini.
Kelompok pemikiran psikodinamik mengahasilkan teori yang keempat. Menurut
terori ini keinginan agresif dan permusuhan terhadap orang lain diubah (melalui
represi dan displacement) menjadi keluhan fisik. Kemarahan pasien dengan
hipokondriasis berasal dari kekecewaan, penolakan, dan kehilangan yang dialami di
masa lalu, tetapi pasien mengekspresikan kemarahan mereka saat ini dengan meminta
tolong dan perhatian orang lain serta kemudian menolaknya karena dianggap tidak
efektif. Hipokondriasis juga dipandang sebagai pertahanan melawan rasa bersalah,
rasa keburukan alami, dan ekspresi rendahnya harga diri, serta tanda kepedulian diri
yang berlebihan. nyeri dan penderitaan somatik kemudian menjadi cara pertobatan
atau penebusan (undoing) dan dapat dialami sebagai hukuman yang panas untuk
kekesalan di masa lalu (baik kenyataan atau khayalan) serta untuk rasa berdosa dan
kejahatan seseorang.1
11

Diagnosis
Kriteria diagnostik DSM-IV-TR mengahruskan pasien memiliki preokupasi
dengan keyakinan yang salah bahwa mereja mengalami penyakit berat dan keyakinan
yang salah tersebut didasarkan apda kesalahan interpretasi tanda dan sensasi fisik,
Keyakinan tersebut harus ada selama sedikitnya 6 bulan, walaupun tanpa adanya
temuan patologis pada pemeriksaan neurologis atau medis. Kriteria diagnostik juga
mengharuskan bahwa keyakinan tersebut tidak memiliki intensitas waham (tidak tepat
didiagnosis sebagai gangguan waham) dan bahwa kenyataa tersebut tidak boleh
teratas pada penderitaan menegani penampilan (lebih sesuai didiagnosis sebagai
gangguan dismorfik tubuh). Gejala hipokondriasis harus memiliki intensitas yang
menyebabkan distres enosional atau menganggap kemampuan pasien untuk berrfungsi
di dalam area penting kehidupan. Klinisi dapat merinci adanya tilikan buruk; pasien
secara konsekuen tidak menyadari bahwa kekhawatiran mereka mengenai penyakit
berlebihan.1
Untuk diagnosis pasti, kedua hal tersebut di bawah ini harus ada :
a. Keyakinan yang menetap perihal adanya sekurang- kurangnya satu penyakit fisik
yang serius yang melandasi keluhan atau keluhan- keluhannya, meskipun
pemeriksaan yang berulang tidak menunjang adanya alasan fisik yang memadai,
ataupun preokupasi yang menetap terhadap adanya defrmitas atau pweubahan
bentuk penampakan.
b. Penolakan yang menetap dan tidak mau menerima nasihat atau dukungan
penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak ditemukan penyakit atau
abnormalitas fisik yang melandasi keluhan- keluhannya.1
Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Hipokondriasis
A. Preokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa ia menderita, suatu

penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejalagejala tubuh.
B. Preokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat dan

penenteraman
C. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas waham (seperti pada
gangguan delusional, tipe somatik) dan tidak terbatas pada kekhawatiran yang
12

terbatas tentang penampilan (seperti pada gangguan dismorfik tubuh).


D. Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
E. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.
F. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih balk oleh cangguan kecemasan umum,
gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, comas
Perpisahan, atau gangguan somatoform lain.1
Gambaran Klinis
Pasien dengan gangguan hipokondriasis secara khas datang dengan ketakutan
dan perhatian terhadap penyakitnya, dibandingkan dengan gejala yang dirasakannya.
Pasien dengan hipokondriasis percaya bahwa mereka sedang menderita suatu
penyakit yang serius yang belum pernah dideteksi, dan tidak dapat menerima
penjelasan akan gangguan yang dideritanya. Mereka terus menyimpan keyakinan
bahwa mereka memiliki penyakit yang serius. Mereka dapat mempertahankan
keyakinan bahwa mereka mengalami penyakit tertentu, seiring waktu berjalan,
mereka dapat mengubah keyakinan mereka pada penyakit lain. Pendirian mereka
bertahan walaupun hasil laboratorium negatif, perjalanan penyakit yang diduga dari
waktu ke waktu hanya bersifat ringan, dan penjelasan yang sesuai oleh dokter, tetapi
keyakinan mereka tidak sekuat seperti pada waham. Hipokondriasis sering disertai
gejala depresi dan ansietas, dan sering timbul bersamaan dengan gangguan ansietas
serta gangguan depresif.1,3,5,6
Walaupun DSM-IV-TR merinci bahwa gejala harus ada sedikitnya 6 bulan,
keadaan hipokondriak singkat dapat terjadi setelah adanya stres berat, paling sering
adalah kematian atau penyakit berat sesorang yang penting bagi pasien, atau suatu
penyakit berat (mungkin mengancam nyawa) yang telah sembuh tapi membuat pasien
untuk sementara hipokondriak. Keadaan tersebut yang ada kurang dari 6 bulan harus
didiagnosis sebagai gangguan somatoform yang tidak tergolongkan. respons
hipokondriak singkat terhadap stres eksternal umumnya membaik ketika stresnya
hilang, tetapi bisa menjadi kronis jika diperkuat oleh orang di dalam sistem sosial
pasien atau oleh profesional kesehatan.1
Diagnosis Banding
Hipokondriasis harus dibedakan dengan keadaan medis non- psikiatri terutama
gangguan yang menunjukkan gejala yang tidak mudah didiagnosis. Penyakit tersebut
mencakup AIDS, endokrinopati, miastenia gravis, sklerosis

multipel penyakit
13

degeneratif sistem saraf, systemic lupus erythematosus, dan gangguan neoplastik yang
tidak jelas.1
Hipokondriasis dibedakan dengan gangguan somatisasi yaitu bahwa
hipokondriasis menekankan rasa takut memiliki suatu penyakit dan gangguan
somatisasi menekankan kekhawatiran mengenai banyak gejala. Pembedaan yang
sangat adalah bahwa pasien dengan hipokondriasis biasanya mengeluhkan lebih
sedikit gejala daripada pasien dengan gangguan somatisasi. Gangguan somatisasi
biasanya memiliki awitan sebelum usia 30 tahun, sedangkan hipoondriasis memiliki
awitan umur yang kurang spesifik. Pasien dengan gangguan somatisasi lebih banyak
berjenis kelamin perempuam dibandingkan pada hipokondriasis, yang terdistribusi
rata antara laki- laki dan perempuan.1
Hipokondriasis juga harus dibedakan dengan gangguan somatoform lain.
Gangguan konversi bersifat akut dan umunya singkat serta biasanya melibatkan suatu
gejala, bukannya suatu penyakit tertentu. ada atau tidaknya la belle indifference
adalah ciri yang tidak meyakinkan untuk membedakan kedua keadaan tersebut.
Gangguan nyeri bersifat kronis, seperti hipokondriasis, tetapi gejalanya terbatas pada
keluhan nyeri. Pasien dengan gangguan dismorfik tubuh berharap untuk tampak
normal tetapi yakin bahwa orang lain melihat mereka tidak demikian, sedangkan
pasien dengan hipokondriasis mencari perhatian untuk dugaan penyakit mereka.
Gejala hipokondriasis juga bisa terjadi pada pasien dengan gangguan depresif dan
gangguan ansietas. Jika pasien memenuhi seluruh kriteria diagnositik hipokondirasis
dan gangguan jiwa utama lain, seperti gangguan depresif berat atau gangguan ansietas
menyeluruh,

pasien

harus

mendapatkan

kedua

diagnosis,

kecuali

gejala

hipokondriasisnya terjadi hanya selama episode gangguan jiwa lain Pasien dengan
gangguan panik awalnya dapat mengeluh mereka terkena penyakit (contohnya
gangguan jantung) tetapi pertanyaan yang teliti selama anamnesis medis biasanya
gejala klasik gangguan panik. Keyakinan hipokondriak yang bersifat waham terhadi
pada gangguan skizofrenia dan gangguan psikotik lain, tetapi dapat dibedakan dengan
hipokondriasis berdasarkan intensitas waham, dan adanya gejala psikotik lain. Di
samping itu, waham somatik pasien skizofrenik cenderung bizar, idiosinkratik, dan di
luar lingkungan budaya.1
Apabila gejala depresif sangat menonjol dan timbulnya lebih dahulu dari
gagguan hipokondrik, maka gangguan depresif mungkin merupakan gangguan primer.
Hipokondriasis dibedakan dengan gangguan buatan dengan gejala fisik dan
14

diberdakan dengan malingering yaitu pasien dengan hipokondriasis benar- benar


mengalami dan tidak membuat- buat gejala yang mereka laporkan.1
Perjalanan Gangguan dan Prognosis
Perjalanan

gangguan

hipokondriasis

biasanya

episodik;

episodenya

berlangsung bulanan hingga tahunan dan dipisahkan oleh periode tenang yang sama
panjangnya. Mungkin terdapat hubungan yang jelas antara eksaserbasi gejala
hipokondriasis dan stresos psikososial. Walaupun studi dengan hasil besar yang
dislenggarakan dengan baik belum dilaporkan, kira- kria sepertiga hingga setengah
pasien dengan hipokondriasis akhirnya membaik secara bermakna Prognosis yang
baik dikaitkan dengan status sosioekonomik yang tinggi, depresi atau ansietas yang
responsif terhadap kepribadian, dan tiak adanya keadaan medis nonpsikiatri terkait.
Sebagian besar anak dengan hipokondriasis membaik di masa remaja akhir atau masa
dewasa awal.1
Terapi
Pasien dengan hipokondriasis biasanya resisten terhadap terapi psikiatri,
walaupun beberapa pasien menerima terapi ini jika dilakukan dalam lingkup medis
dan berfokus pada pengurangan stres dan edukasi untuk menghadap penyakit kronis.
Psikoterapi kelompok sering menguntungkan bagi pasien seperti ini, sebagian karena
psikoterapi kelompok memberikan dukungan sosial dan interaksi sosial yang
tampaknya mengurangi ansietasnya. Bentuk psikoterapi lain, seperti psikotrapi
berorientasi tilikan individual, terapi perilaku, terapi kognitif, dan hipnosis dapt
berguna bagi pasien.1
Pemeriksaan fisik yang terjadwal rutin sering beguna untuk meyakinkan
pasien bahwa dokter tidak mengabaikan mereka dan keluhan mereka dianggap serius.
Meskipun demikian prosedur diagnostik dan prosedur terapeutik yang invasif
sebaiknya dilakukan dan prosedur terapeutik yang invasif sebaiknya dilakukan jika
bukti objektif mengharuskannya. Jika memungkinkan klinisi harus berhenti
menatalaksana temuan hasil pemeriksaan fisik yng tidak jelas atau kurang penting.1
Farmakoterapi meringankan gejala hipokondriak hanya jika pasien memilki
keadaan yang berespons terhadap obat yang mendasarinya, seperti gangguan ansietas
atau gangguan depresif berat. Jika hipokondriasis merupakan reaksi situasional yang

15

singkat, klinisi harus membantu pasien menghadapi stres tanpa mendukung perilaku
penyakit dan manfaat peran sakit sebagai solusi masalah mereka.1
2.8 Gangguan Dismorfik Tubuh
Definisi
Pasien dengan gangguan dismorfik tubuh memiliki perasaan subjektif yang
pervasif mengenai keburukan beberapa aspek penampilan walaupun penampilan
mereka normal atau hampir normal. Membuatnya bisa berlama-lama berkaca di depan
cermin memandang bentuk tubuh yang dianggapnya kurang, sering pasien
mendatangi spesialis bedah dan kecantikan. Inti gangguan ini adalah keyakinan atau
ketakutan seseorang yang kuat bahwa ia tidak menarik atau bahkan menjijikan. Rasa
takut ini jarang bisa dikurangi dengan pujian atau penentraman, meskipun pasien yang
khas dengan gangguan ini cukup normal penampilannya.1,3
Epidemiologi
Awitan usia yang paling lazim ditemukan adalah antara 15 dan 30 tahun dan
perempuan lebih sering terkena daripada laki-laki. Biasanya berkaitan dengan depresi,
fobia social, gangguan kepribadian. Pasien yang mengalami gangguan ini cenderung
tidak menikah. Gangguan dismorfik tubuh lazim timbul bersamaan dengan gangguan
jiwa lain. Satu studi menemukan bahwa lebih dari 90 persen pasien dengan gangguan
dismorfik tubuh pernah mengalami episode depresif berat di dalam hidup mereka;
kira-kira 70 persen pernah mengalami gangguan ansietas, dan kira-kira 30 persen
pernah mengalami gangguan psikotik.1,3
Etiologi
Penyebab gangguan dismorfik tubuh tidak diketahui. Komorbiditas yang
tinggi dengan gangguan depresif, riwayat keluarga dengan gangguan mood dan
gangguan obsesif-kompulsif yang lebih tinggi dari yang diperkirakan, serta
responsivitas keadaan tersebut terhadap obat yang spesifik serotonin menunjukkan
bahwa sedikitnya pada beberapa pasien patofisiologi gangguan ini melibatkan
serotonin dan dapat terkait dengan gangguan jiwa lain. Konsep stereotipik mengenai
kecantikan ditekankan pada keluarga tertentu dan di dalam budaya dapat
memengaruhi pasien dengan gangguan dismorfik tubuh secara signifikan. Pada model
psikodinamik, gangguan dismorfik tubuh dilihat sebagai tindakan mencerminkan
16

pemindahan konflik seksual atau emosional ke bagian tubuh yang tidak berkaitan.
Hubungan tersebut terjadi melalui mekanisme pertahanan represi, disosiasi, distorsi,
simbolisasi, dan proyeksi.1
Diagnosis
Kriteria diagnostik DSM-IV-TR gangguan dismorfik tubuh membutuhkan
preokupasi mengenai defek khayalan terhadap penampilan atau penekanan yang
berlebihan terhadap sedikit defek. Preokupasi ini menyebabkan distress emosional
yang signifikan atau secara nyata mengganggu kemampuan mereka berfungsi dalam
area penting.1
Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Gangguan Dismorfik Tubuh
A. Preokupasi mengenai defek khayalan terhadap penampilan. Jika terdapat sedikit
anomaly fisik, kepedulian orang tersebut sangat berlebihan.
B. Preokupasi ini menimbulkan penderitaan yang secara klinis bermakna atau
hendaya dalam fungsi social, pekerjaan, dan area fungsi penting lain.
C. Preokupasi ini tidak lebih mungkin disebabkan oleh gangguan jiwa lain (cth.,
ketidakpuasan akan bentuk tubuh dan ukuran pada anoreksia nervosa).1
Gambaran Klinis
Kekhawatiran yang paling lazim mencakup ketidaksempurnaan wajah,
terutama yang meliputi anggota tubuh tertentu (contohnya hidung). Gejala terkait
yang lazim ditemukan mencakup gagasan atau waham rujukan (biasanya mengenai
orang yang memperhatikan ketidaksempurnaan tubuh), baik mengaca berlebihan
maupun menghindari permukaan yang dapat memantul, serta upaya menyembunyikan
deformitas yang dianggap (dengan tata rias atau pakaian). Efeknya pada kehidupan
seseorang dapat signifikan; hampir semua pasien yang mengalami gangguan ini
menghindari pajanan social serta pekerjaan. Sebanyak sepertiga pasien dapat
mendekam di rumah karena khawatir diejek untuk deformitas yang diduga, dan
seperlima pasien mencoba bunuh diri.1
Diagnosis Banding
Distorsi citra tubuh terjadi pada anoreksi nervosa, gangguan identitas gender,
dan beberapa jenis kerusakan otak tertentu; gangguan dismorfik tubuh jangan
17

didiagnosis pada situasi ini. Gangguan dismorfik tubuh juga harus dibedakan dengan
kepedulian normal seseorang mengenai penampilan. Pada gangguan dismorfik tubuh,
seseorang mengalami distres emosional yang signifikan serta hendaya fungsi karena
kekhawatiran tersebut. Walaupun pembedaan antara gagasan yang dipegang erat
dengan waham sulit dilakukan, jika preokupasi pasien akan defek tubuh yang
dirasakan pada kenyataannya memiliki intensitas waham, diagnosis yang sesuai
adalah gangguan waham tipe somatic. Pertimbangan diagnostic lain adalah gangguan
kepribadian narsisistik, gangguan depresif, gangguan obsesif-kompulsif, dan
skizofrenia. Pada gangguan kepribadian narsisistik, kepedulian mengenai bagian
tubuh hanya gambaran kecil di dalam kumpulan umum ciri kepribadian. Pada
gangguan depresif, skizofrenia, dan gangguan obsesif-kompulsif, gejala lain
gangguan ini biasanya terlihat segera, bahkan ketika gejala awalnya adalah
kepedulian yang berlebihan akan bagian tubuh.1
Perjalanan Gangguan dan Prognosis
Awitan gangguan dismorfik tubuh biasanya bertahap. Orang yang mengalami
gangguan ini dapat mengalami kekhawatiran yang bertambah mengenai bagian tubuh
tertentu sampai orang tersebut memperhatikan bahwa fungsinya terganggu. Kemudian
orang tersebut dapat mencari pertolongan medis atau bedah untuk menyelesaikan
masalah yang diduga. Tingkat kekhawatiran mengenai masalah ini dapat memburuk
dan membaik seiring waktu, walaupun gangguan ini biasanya menjadi kronis jika
tidak ditangani.1
Terapi
Terapi pada pasien dengan gangguan dismorfik tubuh dengan prosedur bedah,
dermatologis, dental, atau prosedur medis lain untuk menyelesaikan defek yang
diduga hampir selalu tidak berhasil. Walaupun obat trisiklik, monoamine oxidase
inhibitors (MAOI), dan pimozide (Orap) dilaporkan berguna pada kasus tertentu, data
yang lebih besar menunjukkan bahwa obat yang spesifik serotonin contohnya
clomipramine (Anafranil) dan fluoxetine (Prozac) efektif dalam mengurangi gejala
pada sedikitnya 50 persen pasien. Pada pasien manapun dengan gangguan jiwa yang
terjadi bersamaan, seperti gangguan depresif atau gangguan ansietas, gangguan yang
juga ada ini harus diterapi dengan farmakoterapi dan psikoterapi yang sesuai. Berapa

18

lama terapi harus dilanjutkan setelah gejala gangguan dismorfik tubuh mengalami
remisi tidak diketahui.1
2.9 Gangguan Nyeri
Definisi
DSM-IV-TR mendefinisikan gangguan nyeri sebagai adanya nyeri yang
merupakan fokus dominan perhatian klinis. Faktor psikologis memerankan peranan
yang penting di dalam gangguan tersebut. Gejala utamanya adalah nyeri pada satu
atau lebih tempat yang tidak seutuhnya disebabkan oleh keadaan medis atau
neurologis nonpsikiatri. Gejala nyeri disertai penderitaan emosional dan hendaya
fungsi. Gangguan ini disebut gangguan nyeri somatoform, gangguan nyeri
psikogenik, gangguan nyeri idiopatik, dan gangguan nyeri atipikal.1
Nyeri timbul dalam hubungan dengan adanya konflik emosional atau problem
psikososial yang cukup jelas dapat dijadikan alasan dalam mempengaruhi terjadinya
gangguan tersebut. Dampaknya adalah meningkatnya perhatian dan dukungan, baik
personal maupun medis untuk yang bersangkutan. Nyeri yang diperkirakan timbul
oleh psikogenik pada gangguan depresif dan skizofrenia, tidak boleh dimasukkan
pada kategori ini.1,3
Epidemiologi
Gangguan nyeri didiagnosis dua kali lebih sering pada perempuan
dibandingkan laki-laki. Usia puncak awitan adalah decade keempat dan kelima,
mungkin karena toleransi terhadap nyeri berkurang seiring pertambahan usia.
Gangguan nyeri paling lazim ditemukan pada orang dengan pekerjaan industry,
mungkin karena kecenderungan mendapatkan cedera terkait pekerjaan meningkat.
Kerabat derajat pertama pasien dengan gangguan nyeri memiliki kecenderungan
meningkat untuk memiliki gangguan yang sama; oleh sebab itu, penurunan genetik
atau mekanisme perilaku mungkin terlibat di dalam transmisinya. Gangguan depresif,
gangguan ansietas, dan penyalahgunaan zat juga lebih lazim ditemukan di dalam
keluarga pasien dengan gangguan nyeri dibandingkan populasi umum.1
Etiologi
-

Faktor Psikodinamik

19

Pasien yang mengalami sakit dan nyeri di tubuh tanpa adanya penyebab fisik
yang dapat diidentifikasi dan adekuat mungkin secara simbolis mengekspresikan
suatu konflik intrapsikik melalui tubuhnya. Untuk pasien yang menderita
aleksitimia, di sini pasien tidak mampu menjelaskan keadaan perasaan internal
mereka dengan kata-kata, tubuh mereka lah yang mengekspresikan perasaan
tersebut. Pasien lain dapat secara tidak sadar menganggap nyeri emosional
sebagai sesuatu yang lemah dan kurang legitimasi. Dengan memindahkan
masalah ke tubuh, mereka dapat merasakan bahwa mereka memiliki tuntutan sah
terhadap pemenuhan kebutuhan mereka untuk bergantung. Arti simbolik
gangguan tubuh juga dapat menghubungkan untuk pertobatan dosa yang disadari,
untuk memperbaiki rasa bersalah, atau untuk menekan agresi. Banyak pasien
mengalami nyeri yang tidak responsive dan sulit dikendalikan karena mereka
yakin mereka pantas menderita. Nyeri dapat berfungsi sebagai suatu metode
untuk memperoleh cinta, hukuman untuk kesalahan, dan cara untuk memperbaiki
rasa bersalah dan rasa keburukan alami. Di antara mekanisme defens yang
digunakan pasien dengan gangguan nyeri adalah displacement, substitusi, dan
represi. Identifikasi memerankan bagian ketika pasien mengambil peran objek
cinta yang ambivalen yang juga memiliki keluhan nyeri, seperti orang tua.1
-

Faktor Perilaku
Perilaku nyeri didorong saat dihargai dan dihambat saat diabaikan atau dihukum.
Contohnya, gejala nyeri sedang dapat menjadi intens jika diikuti perilaku cemas
dan perhatian orang lain, dengan keuntungan keuangan, atau dengan berhasilnya
penghindaran aktivitas yang tidak disukai.1

Faktor Interpersonal
Nyeri yang sulit dikendalikan telah dikonseptualisasikan sebagai cara untuk
memanipulasi dan mendapatkan keuntungan dalam hubungan interpersonal,
contohnya untuk meyakinkan kasih sayang seorang anggota keluarga atau
menstabilkan perkawinan yang mudah retak. Keuntungan sekunder seperti itu
paling penting pada pasien dengan gangguan nyeri.1

Faktor Biologis
Korteks serebri dapat menghambat cetusan serat nyeri aferen. Serotonin mungkin
merupakan neurotransmiter utama dalam jaras inhibisi desenden, dan endorfin
juga memainkan peran penting dalam modulasi nyeri sistem saraf pusat.
Defisiensi endorfin tampaknya berhubungan dengan augmentasi stimulus
20

sensorik yang datang. Beberapa pasien dapat memiliki gangguan nyeri, bukannya
gangguan jiwa lain karena kelainan kimia atau struktural limbik dan sensorik
menjadi predisposisi mereka untuk mengalami nyeri.1
Diagnosis
Kriteria diagnostik DSM-IV-TR gangguan nyeri mensyaratkan adanya keluhan
nyeri yang secara klinis signifikan. Keluhan nyeri harus dinilai dipengaruhi secara
signifikan oleh faktor psikologis dan gejalanya harus menimbulkan distress emosional
yang signifikan atau hendaya fungsional (contoh, social atau pekerjaan). DSM-IV-TR
mengharuskan bahwa gangguan nyeri terkait hanya dengan faktor psikologis atau
dengan faktor psikologis maupun keadaan medis umum. DSM-IV-TR merinci lebih
jauh bahwa gangguan nyeri hanya terkait keadaan medis umum didiagnosis sebagai
keadaan aksis III dan juga memungkinkan klinisi merinci gangguan nyeri sebagai
akut atau kronis, bergantung pada durasi gejala telah selama 6 bulan atau lebih.1
Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Gangguan Nyeri
A. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis adalah fokus dominan gambaran
klinis dan cukup parah sehingga memerlukan perhatian klinis.
B. Nyeri menimbulkan distres yang secara klinis bermakna atau hendaya fungsi
sosial, pekerjaan, dan area fungsi penting lain.
C. Faktor psikologis dinilai memiliki peranan penting dalam awitan, keparahan,
eksaserbasi, atau menetapnya nyeri.
D. Gejala atau defisit tidak dibuat dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau malingering).
E. Nyeri sebaiknya tidak disebabkan gangguan mood, ansietas, atau gangguan
psikotik dan tidak memenuhi kriteria diagnostik dispareunia.1
Gambaran Klinis
Pasien dengan gangguan nyeri tidak menyusun suatu kelompok yang sama,
tetapi kumpulan orang yang heterogen dengan nyeri punggung bawah sakit kepala,
nyeri fasial atipikal, nyeri pelvis kronis, dan jenis nyeri lain. Rasa nyeri pasien dapat
berupa neuropatik, neurologis, iatrogenic, atau musculoskeletal, pasca trauma;
meskipun demikian, untuk memenuhi diagnosis gangguan nyeri, gangguan tersebut

21

harus memiliki faktor psikologis yang dinilai secara signifikan terlibat dalam gejala
nyeri dan percabangannya.1
Pasien dengan gangguan nyeri sering memiliki riwayat perawatan medis dan
pembedahan yang panjang. Mereka mengunjungi banyak dokter, meminta banyak
obat, dan terutama dapat terus menerus menginginkan pembedahan. Bahkan, mereka
dapat benar-benar memiliki preokupasi terhadap nyeri mereka dan menyebutnya
sebagai sumber semua kesengsaraan mereka. Pasien tersebut sering menyangkal
sumber lain disforia emosi dan bersikeras bahwa hidup mereka diberkati kecuali oleh
nyeri yang mereka alami. Gambaran klinis mereka dapat dipersulit oleh gangguan
terkait zat karena pasien ini berupaya mengurangi nyeri melalui penggunaan alkohol
dan zat lain. Gejala depresif yang paling menonjol pada pasien dengan gangguan
nyeri adalah anergia, anhedonia, libido berkurang, insomnia, dan iritabilitas; variasi
diurnal, turunnya berat badan, dan retardasi psikomotor tampak lebih jarang.1
Diagnosis Banding
Nyeri fisik murni dapat sulit dibedakan dengan nyeri psikogenik murni
terutama karena keduanya tidak eksklusif. Intensitas nyeri fisik berfluktuasi dan
sangat sensitive terhadap pengaruh emosi, kognitif, perhatian dan situasi. Nyeri yang
tidak bervariasi dan tidak sensitive terhadap factor-faktor ini cenderung bersifat
psikogenik. Ketika nyeri tidak membaik dan memburuk serta bahkan tidak membaik
secara sementara dengan pengalihan atau analgesic, klinisi dapat mencurigai adanya
komponen psikogenik yang penting.1
Pasien dengan hipokondriasis cenderung memiliki lebih banyak gejala
daripada pasien dengan gangguan nyeri. Gangguan konversi umumnya tidak bertahan
lama sedangkan gangguan nyeri bersifat kronis. Pasien malingering secara sadar
memberikan laporan palsu dan keluhan mereka biasanya berhubungan dengan tujuan
yang dapat dikenali dengan jelas.1
Perjalanan Gangguan dan Prognosis
Prognosisnya bervariasi walaupun gangguan nyeri sering dapat bersifat
kronik, menimbulkan distress, dan benar-benar menimbulkan ketidakmampuan. Jika
factor psikologis mendominasi gangguan nyeri, rasa nyeri tersebut dapat membaik
dengan terapi atau setelah menyingkirkan dorongan eksternal. Pasien dengan
prognosis terburuk, dengan atau tanpa terapi, memiliki masalah karakter yang
22

sebelumnya telah ada, khususnya pasivitas yang nyata; terlibat di dalam proses hokum
atau mendapatkan kompensasi keuangan; penggunaan zat yang menimbulkan
kecanduan; dan memiliki riwayat nyeri yang panjang.1
Terapi
Karena tidak mungkin mengurangi nyeri, pendekatan terapi harus mencakup
rehabilitasi.
-

Farmakoterapi
Antidepresan, seperti trisiklik dan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI),
berguna. Mekanisme antidepresan dalam mengurangi nyeri masih kontroversial,
apakah melalui kerja antidepresan atau mengeluarkan efek analgesic langsung
dan independen (mungkin dengan merangsang jaras nyeri inhibisi eferen).
Keberhasilan SSRI menyokong hipotesis bahwa serotonin penting dalam
patofisiologi gangguan ini. Amfetamin, yang memiliki efek analgesic, dapat
menguntungkan bagi beberapa pasien, khususnya jika digunakan sebagai
tambahan terhadap SSRI, tetapi dosisnya harus diawasi dengan cermat.1

Psikoterapi
Langkah utama psikoterapi adalah membangun hubungan terapeutik yang solid
melalui empati terhadap penderitaan pasien. Titik masuk yang berguna di dalam
aspek emosi nyeri adalah memeriksa percabangan interpersonal dalam kehidupan
pasien.1

Terapi lain
Biofeedback dapat membantu di dalam terapi gangguan nyeri, terutama dengan
nyeri migrain, nyeri miofasial, dan ketegangan otot, seperti sakit kepala tension.
Hipnosis, stimulasi saraf transkutan, dan stimulasi kolumna dorsalis juga telah
digunakan. Penyekatan saraf dan prosedur ablatif dengan pembedahan tidak
efektif bagi sebagian besar pasien dengan gangguan nyeri, rasa nyeri akan
kembali setelah 6 hingga 18 bulan.1

Program Pengendalian Nyeri


Kadang-kadang penting untuk menyingkirkan pasien dari lingkungan sehari-hari
mereka dan menempatkannya dalam program pengendalian nyeri rawat inap yang
komprehensif. Unit nyeri multidisiplin menggunakan banyak modalitas seperti
terapi kognitif, perilaku, dan terapi kelompok. Unit-unit ini memberikan
pembelajaran fisik yang ekstensif melalui terapi fisik dan latihan serta
23

menawarkan evaluasi dan rehabilitasi kejuruan. Gangguan jiwa yang ada secara
bersamaan didiagnosis dan diterapi, dan pada pasien yang bergantung pada
analgetik maupun hypnosis dilakukan detoksifikasi. Program terapi multimodal
rawat inap umumnya melaporkan hasil yang memuaskan.1

2.10 Gangguan Somatoform yang Tidak Terinci


Definisi
Diagnosis DSM-IV tentang gangguan somtoform yang tidak terinci adalah
tepat bagi pasien yang datang dengan satu atau lebih keluhan fisik yang tidak dapat
dijelaskan oleh suatu kondisi medis yang diketahui atau yang secara jelas melebihi
keluhan yang diharapkan dari suatu kondisi tapi tidak memenuuhi kriteria diagnostik
untuk suatu gangguan somatoform spesifik. Gejala harus telah ada sekurangnya 6
bulan dan menyebabkan penderitaan emosional yang parah bagi pasien atau
mengganggu fungsi sosial atau pekerjaan pasien.1
Dua jenis pola gejala mungkin ditemukan pada pasien dengan gangguan
somatoform yang tidak didiferensiasi: gejala melibatkan sistem saraf otonomik dan
gejala yang melibatkan sensasi kelemahan atau kelelahan.1
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Terinci
A. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya, kelelahan, hilangnya nafsu makan,
keluhan gastrointestinal atau saluran kemih)
B. Salah satu (1) atau (2)
(1) setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh
kondisi medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dari suatu zat
(misalnya, efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
(2) jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau
gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa
yang diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan
laboratorium.
C. Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.

24

D. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.


E. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih balk oleh gangguan mental lain
(misalnya, gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan
kecemasan, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan, gangguan
tidur, atau gangguan psikotik).
F. Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada gangguan

buatan atau berpura-pura).1


2.11 Gangguan Somatoform yang Tidak Tergolongkan
Definisi
Kategori untuk gangguan somatoform yang tidak ditentukan adalah suatu
kategori sisa bagi pasien yang mengarahkan suatu gangguan somatoform tetapi tidak
memenuhi kriteria diagnostik spesifik untuk gangguan somatoform lain. Pasien
mungkin memiliki suatu gejala yang tidak ditemukan pada gangguan somatoform lain
atau mungkin tidak pernah memenuhi kriteria enam bulan dari gangguan somatoform
lain.1
Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Tergolongkan
Kategori ini termasuk gangguan dengan gejala somatoform yang tidak
memenuhi kriteria untuk gangguan somatoform spesifik. Contohnya adalah:
1. Pseudokiesis: keyakinan palsu sedang hamil, yang disertai dengan tondo objektif
kehamilan, yang dapat berupa pembesaran perut (walaupun umbilikus tidak
menjadi menonjol), penurunan aliran menstruasi, amenore, sensasi subjektif
gerakan janin, don nyeri persalinan pada tanggal yang diperkirakan terjadinya
persalinan. Perubahan endokrin mungkin ditemukan tetapi sindrom tidak dapat
dijelaskan oleh suatu kondisi medis umum yang menyebabkan perubahan
endokrin (misalnya, tumor yang mensekresikan hormon).
2. Suatu gangguan yang melibatkan gejala hipokondriakal nonpsikiatrik dengan
lama kurang dari enam bulan.
3. Suatu gangguan yang melibatkan keluhan fisik yang tidak dapat dijelaskan
(misalnya, kelelahan atau kelemahan tubuh) dengan lama kurang dari enam bulan
yang tidak karena gangguan mental lain.1

25

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Keluhan fisik yang terjadi pada manusia, tidak semua berasal dari keluhan
organik, namun dapat juga merupakan problem psikiatrik. Gangguan somatoform
merupakan suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya,
nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang
adekuat. Adanya gejala fisik, dimana tidak ada kelainan organik atau mekanisme
fisiologik merupakan gambaran yang penting dari gangguan somatoform. Gangguan
somatoform dibagi menjadi: hipokondriasis, gangguan somatisasi, gangguan konversi,
gangguan dismorfik tubuh, gangguan nyeri somatoform, gangguan somatoform yang
tidak terinci, gangguan somatoform yang tidak tergolongkan.
Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai
banyak sistem organ. Gangguan Konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan
neurologis. Hipokondriasis ditandai dengan preokupasi menetap akan menderita suatu
penyakit yang serius dan progresif. Gangguan dismorfik tubuh ditandai dengan
kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh
mengalami cacat. Gangguan nyeri ditandai dengan gejala nyeri yang semata-mata
berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor
psikologis. Gangguan somatoform yang tidak terinci ditandai dengan satu atau lebih
keluhan fisik yang tidak dapat dijelaskan oleh suatu kondisi medis yang diketahui atau
yang secara jelas melebihi keluhan yang diharapkan dari suatu kondisi namun tidak
memenuhi kriteria diagnostik untuk suatu gangguan somatoform spesifik. Sedangkan
gangguan somatoform yang tidak tergolongkan ditandai dengan suatu gangguan
somatoform tetapi tidak memenuhi kriteria diagnostik spesifik untuk gangguan

26

somatoform lain. Terapi disesuaikan dengan klasifikasi gangguan somatoform serta


gejala yang terlihat pada pasien.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock buku ajar psikiatri klinis. Jakarta: EGC,
2010.h. 268-80.
2. Mansjoer A. Kapita selekta kedokteran. Edisi ke-3. Tanjungpura: Penerbit Media
Aesculapicus, 2001.
3. Departemen Kesehatan RI. Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa
di Indonesia III. Jakarta: Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen
Kesehatan RI, 1995.
4. Diunduh dari http://en.wikipedia.org/wiki/DSM-IV_codes. 3 Juni 2015.
5. Elvira SD, Hadisukanto G. Buku ajar psikiatri. Edisi ke-2. Jakarta: Badan Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013.h. 287-303.
6. Setio M. Buku saku psikiatri. Jakarta: EGC, 2003.

27