Anda di halaman 1dari 11

Karakter Arsitektural Bangunan Indische di Kawasan Jetis Yogyakarta

Marchelia Gupita Sari


Mahasiswa, Program S2 Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada

Abstract
Indische buildings are Indonesian cultural heritage which need to be conserved because of the acculturation
of two cultures, Indonesia and Indische. The aim of this article is to find the state of the art,the theoretical
gap, and the theoritical background of architectural character topic. Jetis is a rapid development district
which threaten the existence of indische buildings. The study of architectural character of Indische building
is urgently needed because of the building function transformation from residential to commercial area..
Change is unavoidable, however, we should manage the changing proccess and architectural character.
Keywords: Indische, Jetis,character,

Marchelia Gupita Sari


Jalan Grafika 2 ,Sleman, Yogyakarta
Tel: +6285729996181
e-mail: marchelia.gupita.sari@gmail.com

1. Latar Belakang
1.1. Karakteristik Kawasan Bersejarah
Sebuah kawasan dengan latar bersejarah atau
budaya yang kuat tentu telah memiliki identitas,
keunikan dan karakter yang melekat. Garnham dalam
Putra (2014 :15), mengemukakan bahwa setiap kota
harus memiliki keunikan, karakter, identitas dan spirit
yang membedakannya dengan tempat lain. Sebuah
kawasan yang memiliki latar sejarah yang kuat tentu
layak untuk dijaga keberadaannya. Bagaimana
perlakuan terhadap bangunan bangunan bersejarah
apabila kawasan tersebut terus berkembang menjadi
kawasan perekonomian menjadi hal yang perlu
dicermati. Bangunan kemudian hanya dipandang
sebagai sebagai sebuah aset estetis arsitektural dan
fungsional yang menjadi identitas semata (Goldbeger,
1994, dalam Putra, 2014 :15).
1.2. Historitas Kawasan Jetis
Kawasan Jetis memegang peran penting dalam
sejarah perkembangan kota Yogyakarta karena
dulunya merupakan salah satu dari persebaran
pemukiman kolonial saat masa penjajahan Belanda.
Permukiman kolonial tumbuh dari dekat Kraton, yaitu

Vredeburg, kemudian bergeser dari pusat kota ke arah


timur (Bintaran), timur laut (Kotabaru), dan utara
(Jetis) akibat perkembangan kebutuhan masyarakat
Belanda pada masa pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono VII. Berkembangnya permukiman
masyarakat kolonial tersebut dipicu oleh munculnya
lembaga lembaga swasta komunitas Belanda1
Struktur kawasan Jetis dibentuk oleh Jalan AM
Sangaji merupakan bagian dari sumbu imajiner
Yogyakarta yang menghubungkan antara Tugu Paal
Putih dengan Gunung Merapi. Dapat dikatakan bahwa
Tugu Paal putih merupakan titik pangkal kawasan ini
sekaligus nodes dari sumbu filosofi. Bagaimana
intrusi Belanda terhadap poros sumbu imajiner
menarik untuk dikaji. Bangunan bangunan
pemerintahan Belanda untuk aktivitas politik, militer,
maupun ekonomi disisipkan di sepanjang dan
memotong poros imajiner Kraton hingga Tugu Paal
dan poros imajiner kota. Tampaknya hal itu
merupakan cermin sikap konfrontatif terhadap
lembaga kasultanan untuk menunjukkan eksistensinya
pada ruang kota (Dinas Kebudayaan Yogyakarta,
1

www.tasteofjogja.org

Prosiding Seminar Topik Khusus/ Juli 2015

2009).
1.3. Perkembangan
Bangunan
Indische
di
Kawasan Jetis Saat Ini
Saat ini Kawasan Jetis merupakan kawasan
perekonomian yang berkembang. Pertumbuhan
kawasan mengakibatkan banyaknya perubahan
tataguna lahan dan fungsi bangunan berubah, tidak
terkecuali di kawasan yang seharusnya dilestarikan,
terutama pada penggal jalan A.M Sangaji.
Pembangunan gedung gedung baru mengakibatkan
citra kawasan berubah.
Status kawasan Jetis saat ini hanyalah Kawasan
Usulan Cagar Budaya sejak tahun 2011 meskipun
telah terdapat beberapa bangunan Indische yang telah
dideklarasikan sebagai Bangunan Cagar Budaya oleh
pemerintah seperti Kodim 073, SD Tumbuh, Bapel
Jamkesos menempati kelas C, sedangkan beberapa
rumah Indische ditetapkan sebagai Bangunan Cagar
Budaya non-kelas menurut Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan Yogyakarta, 2012.
Di dalam tatanan empiri, terdapat kecenderungan
perubahan fungsi bangunan Indische yang semula
hunian menjadi area komersial. Apakah adaptasi
bangunan yang telah berubah fungsinya dari rumah
menjadi area komersial dapat sesuai dengan prinsip
pelestarian menjadi persoalan tersendiri. Secara
praksis, belum diterbitkannya Rencana Tata Bangunan
dan Lingkungan dalam konteks Kawasan Cagar
Budaya dapat mengancam kelestarian kawasan.
Kajian mengenai karakter arsitektural bangunan
indische dapat menjadi kajian dalam menentukan
bagaimana arah pelestarian dapat dilakukan secara
baik. Pada diskusi Rencana Pengembangan Kota
Pusaka oleh Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI)
pada September 2014 pun terdapat hasil diskusi
berupa suatu kajian mengenai kesejarahan serta
karakter pada kawasan yang akan dijadikan fokus
pengembangan adalah hal yang urgent.
2. Kajian Teori
2.1. Karakter Arsitektural
Wojowasita dalam Wibisono (2004 :15)
menyatakan bahwa karakter adalah tabiat, watak,
huruf atau jenis. Quartreme dalam Wiyatiningsih
(2000:13) membedakan karakter esensial dapat
digolongkan menjadi sesuatu yang menjadi sari
suatu objek, merupakan tanda pembeda atau
modifient,dan ciri khas yang miliki sebuah objek.

Dapat disimpulkan bahwa karakter adalah sari suatu


objek yang dapat digunakan untuk memberi deskripsi
baik fisik maupun nonfisik tergantung kandungan atau
muatan isi objek dengan penekanan pada ciri-ciri
spesifik yang membuat sebuah objek dapat dikenali
dengan mudah.
Menurut Adenan (2012:2) karakter arsitektural
dapat dipahami sebagai ciri khas bangunan yang dapat
dilihat dan membedakannya dari bangunan yang lain.
2.2. Karakter Arsitektural Bangunan Kolonial
Belanda
Pada bangunan kolonial Belanda terdapat
karakter yang mempengaruhi tampilan fasad. Karakter
tersebut dapat dilihat dari beberapa elemen yang biasa
digunakan sebagai pendukung fasad (Hadinoto, 1996 :
165-177), antara lain :
a. Gable atau gavel
Elemen ini terletak di bagian depan atau tampak
bangunan. Elemen ini memiliki bentuk segitiga
atau mengikuti bentuk dari atap bangunan itu
sendiri.
b. Tower atau menara
Elemen ini memiliki bentuk yang sangat
beragam, mulai dari bentuk segi empat, segi
enam, bulat, hingga bentuk bentuk geometris
lainnya. Tower atau menara biasanya berfungsi
sebagai penanda pintu masuk bagian depan
bangunan.
c. Nok Acroteire
Hiasan puncak atap biasanya digunakan di rumah
rumah para petani di Belanda. Pada awalnya di
negara
Belanda,
hiasan
puncak
atap
menggunakan alang alang, namun terdapat
perbedaan material dengan yang digunakan di
Hindia Belanda. Biasanya, hiasan ini dibuat
menggunakan material semen.
d. Dormer atau cerobong asap semu
Elemen ini memiliki fungsi untuk penghawaan
dan pencahayaan pada bangunan. Biasanya,
dormer memiliki bentuk menjulang tinggi ke
atas. Di negara aslinya, elemen ini biasanya
digunakan sebagai ruang atau cerobong asap
perapian.
e. Windwijer atau penunjuk angin
Elemen ini berfungsi sebagai penunjuk arah
angin, diletakkan di atas nok, dan dapat berputar
mengikuti arah angin.
f. Ballustrade

Marchelia Gupita Sari

Elemen ini berfungsi sebagai pagar pembatas


balkon ataupun dek bangunan. Material
ballustrade biasanya adalah beton cor ataupun
dari bahan metal.
Selain itu, menurut Sidharta (2007:88), arsitek
Belanda telah mempelajari iklim Indonesia sehingga
tercipta adaptasi bangunan kolonial terhadap iklim.
Hal ini dapat tercermin pada hasil desain yang
mengikuti prinsip prinsip berikut :
a. beranda yang terbuka pada bagian depan,
belakang, ataupun di sekeliling keseluruhan
bangunan;
b. overhang yang lebar untuk melindungi
permukaan dinding dan jendela dari sinar
matahari langsung maupun hujan;
c. langit langit dengan tinggi mencapai empat
meter dan mendapatkan suplai pencahayaan dan
penghawaan alami yang cukup dengan pintu
maupun jendela louvers;
d. taman tropis dengan jumlah pepohonan yang
memadai.
Karakter arsitektural bangunan kolonial Belanda
sesuai dengan periodesasinya
2.3. Kebudayaan Indische
Soekiman (2000:37) menjelaskan bahwa konsep
kebudayaan Indische di Indonesia merupakan bentuk
pertemuan antar budaya Eropa dengan Jawa sejak
abad ke-18 hingga abad ke-20. Istilah Indische stijl
dikhususkan pada seni bangunan, yaitu rumah tinggal
yang dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama faktor
lingkungan
dan
gaya
hidup
masyarakat
pendukungnya. Gaya hidup dan bangunan pada masa
awal banyak bercirikan budaya Belanda seperti denah
berbentuk simetris penuh dan ciri ciri rumah
Belanda, namun semakin lama terdapat adaptasi ke
arah kultural, tidak hanya sekadar adaptasi iklim.
Misalnya, adanya beranda yang lebar selain untuk
mendapatkan penghawaan dan melindungi dari sinar
matahari ataupun hujan, juga digunakan untuk
menjaga hubungan antar tetangga, duduk bersantai
dan menghirup udara segar.
Perabotan rumah bagi suku Jawa merupakan
barang baru yang dikenal setelah orang Eropa datang
di Nusantara. Peralatan rumah tangga biasanya disebut
dengan meubelair. Bahan menggunakan material kayu
jati berukiran baik dengan ukuran motif gaya Jawa,
ditambah atau bercampur dengan motif gaya Eropa
(Soekiman, 2000:58).

2.4. Batasan Melihat Karakter Arsitektural


Untuk mengamati elemen elemen visual, yang
langsung terlihat adalah fasad bangunan. Seperti
menurut Bentley (1985), Carmona et.al (1997)
menggunakan fasad sebagai elemen yang penting
dalam melihat karakter visual pada bangunan karena
fasad memuat fisik.
2.5. Tipologi
Mike Bill dalam Wibisono, 2014:14, mengatakan
bahwa kegiatan membangun tipe merupakan sebuah
cara untuk kategorisasi, mengulang dan mengetahui.
Selain kategorisasi , tipologi adalah usaha untuk
klasifikasi dan taksonomi. Taksonomi merupakan
sebagai formulasi aturan aturan dari sejumlah
informasi tentang obyek melalui cara menyusun
keteraturan kategori secara hirarkis. Dalam klasifikasi
biasanya dilakukan kategorisasi dengan melihat dari
dimensi kontras yang ada pada setiap kategori.
Kategori adalah dimensi untuk melihat perbedaan.
Dengan demikian, dalam tipologi dapat dilihat
keseragaman dan keragamannya secara sekaligus.
Dapat disimpulkan bahwa tipologi adalah studi
mengenai tipe dengan cara kategorisasi dan klasifikasi
obyek yang nantinya akan menghasilkan tipe sehingga
dapat terlihat adanya keseragaman dan keragaman
objek (model) pada suatu struktur formal tertentu.
3. Tinjauan Penelitian Terdahulu
3.1. Karakteristik Arsitektural Bangunan Indische
pada Perumahan Pegawai Perusahaan
Jawatan Kereta Api Pengok Blok A dan Blok
B Yogyakarta
Penelitian ini adalah tesis arsitektur yang ditulis
oleh Hastati Fauzia pada tahun 2004. Terdapat dua
skala amatan yang menjadi fokus penelitian ini, yaitu
pada skala mikro adalah unit unit bangunan Indische
dan pada skala yang lebih makro adalah siteplan
perumahan. Tujuan dari penelitian ini adalah
menemukan karakteristik arsitektural bangunan
Indische serta menjelaskan faktor faktor apa saja
yang berpengaruh terhadap tatanannya. Metode
penelitian ini adalah rasionalistik-kualitatif.
Penelitian ini menggunakan kerangka teori yang
dibangun
berdasarkan
parameter
pengkajian
karakteristik arsitektural bangunan rumah yang
disusun oleh Habraken (1978). Parameter tersebut
adalah spatial system, physical system, dan stylistic
system. Analisis faktor faktor yang berpengaruh

Marchelia Gupita Sari 3

menggunakan eksplanasi mengenai karakter fisik dan


berdasarkan pustaka pustaka bersifat mendukung.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa
perumahan PJKA mendapatkan pengaruh dari dua
masa perkembangan arsitektur Indische di Indonesia,
yaitu Empire Style dan gaya arsitektur Indische pada
tahun 1902 sampai tahun 1920. Faktor yang
berpengaruh terhadap karakter arsitektural adalah
status sosial yang tercermin pada tampilan fisik
bangunan. Status sosial berlaku ke dalam, yaitu
pemisahan yang tegas antara hoofdgebouw dan
bijgebouw. Selain terdapat pemisahan zona antara
pemilik rumah dan pembantu rumah tangga, juga
terdapat pembedaan sirkulasi untuk servis dan
berhuni. Status sosial selain berpengaruh ke tataruang
rumah juga berlaku ke luar rumah, yaitu antar
penghuni rumah dalam lokasi perumah berdasarkan
pada jabatan pegawai kereta api. Iklim merupakan
sesuatu yang dipertimbangkan sebagai upaya
menciptakan kenyamanan dalam rumah.
Peneliti juga menemukan adanya akulturasi
antara langgam tradisional Jawa dengan langgam
Indische. Wujud dari akulturasi langgam terlihat dari
ornamentasi elemen bangunan seperti pintu dan
jendela. Pengaruh dari Eropa adalah pada keberadaan
luifel, gavel, cerobong asap, dan lantai. Unsur lokal
terlihat pada pola tata massa bangunan yang terdapat
area transisi, keberadaan ruang terbuka , beranda
depan, komposisi ruang terbuka dan ruang tertutup,
serta vegetasi berciri tropis dan khas, yaitu pohon
pohon besar.
Penelitian ini telah membahas unit amatan mikro
dan lebih makro dan menemukan karakter arsitektural
beserta faktor yang berpengaruh sesuai dengan
konteks lokus, yaitu Perumahan Pegawai Perusahaan
Jawatan Kereta Api. Peneliti belum menjelaskan
bagaimana pengaruh dari karakter arsitektural siteplan
terhadap lingkungan sekitar perumahan karena
kawasan Pengok dan Klitren adalah kawasan yang
didiami para pekerja di Perusahaan Jawatan Kereta
Api , selain yang bertempat tinggal di perumahan.
3.2. Ciri ciri Bangunan Rumah Lama di
Kotabaru Yogyakarta
Penelitian ini adalah tesis arsitektur yang ditulis
oleh Tony Kunto Wibisono pada tahun 2014. Fokus
pada penelitian ini adalah bangunan rumah tinggal
pada permukiman Indische Kotabaru. Unit amatan
dipilih berdasarkan keaslian bangunan, masih

digunakan baik sebagai rumah tinggal maupun area


komersial, kemudahan akses dan izin survey, serta
keragaman ornamen yang dimiliki. Deliniasi lokus
berdasarkan pada titik sebaran rumah hasil scanning
cepat dari keseluruhan populasi rumah tinggal
Indische yang berada di seluruh ruas jalan Kawasan
Kotabaru. Tujuan dari penelitian ini adalah
menemukan ciri ciri arsitektur serta faktor apa saja
yang mempengaruhinya.
Penelitian ini menggunakan kerangka teori yang
dibangun
berdasarkan
parameter
pengkajian
karakteristik arsitektural bangunan rumah yang
disusun oleh Habraken (1978). Parameter tersebut
adalah spatial system, physical system, dan stylistic
system. Variabel yang digunakan meliputi elemen fisik
dari masing masing parameter. Analisis bersifat
deskriptif untuk menjelaskan elemen masing masing
parameter.
Hasil penelitian ini adalah tipologi dari
karakteristik arsitektural. Peneliti mengemukakan
kajian terhadap elemen penting yang berpengaruh
dalam pembentukan wujud bangunan, yaitu jumlah
massa bangunan terbagi menjadi dua, yaitu bangunan
dengan satu massa dan dua masa, anatomi fasad
bangunan dipengaruhi oleh komposisi perletakan
pintu dan jendela serta terdapat perkembangan dalam
hal finishing spoonengan, kepala fasad terdapat
pemilihan jenis atap limasan, dan arah orientasi pada
jalan. Kesimpulan berdasar temuan temuan tersebut
adalah faktor apa saja yang mempengaruhi karakter
bangunan peninggalan kolonial Belanda. Terdapat
empat point penting, yaitu :
a. konsep Garden City di Kotabaru yang dirancang
oleh Thomas Karsten secara tidak langsung
memberikan guidance terhadap penampilan
bangunan dengan ornamen;
b. genius loci atau sense of place yang terbentuk
dari tatanan rumah rumah tersebut menciptakan
suatu sistem kualitas tata ruang, baik pada
tingkatan kavling maupun secara keseluruhan
yang menyatu pada konsep Garden City;
c. akulturasi budaya Belanda pada kualitas
rancangan desain dan proses konstruksi
bangunan ditinjau dari segi physical system;
d. dari konsep Garden City pulalah terbentuk tipe
tipe hunian yang memiliki ciri ciri yang khusus.
Peneliti belum menjelaskan bagaimana pengaruh
unit amatan yang bersifat mikro ke lingkungannya

Marchelia Gupita Sari

pada bagian temuan penelitian. Pada point bagian


anatomi fasad, hanya dijelaskan adanya penggunaan
material dan peninggian lantai sebagai faktor yang
berpengaruh pada karakter fasad dalam bagiannya
pada karakter arsitektural. Bagaimana pengaruh
setback bangunan terhadap konsep Garden City
kurang dikemukakan mengingat rumah rumah di
Kotabaru masih memiliki setback yang lebar, apakah
rumah rumah tersebut masih memiliki konsep
landhuiz di kota atau apakah hubungan lainnya.
3.3. Karakter Visual Fasade Bangunan Kolonial
Belanda Rumah Dinas Bakorwil Kota Madiun
Penelitian ini adalah jurnal yang ditulis oleh
Pipiet Gayatri Sukarni pada tahun 2014. Unit amatan
adalah bangunan tunggal yang menjadi ikon bangunan
bersejarah peninggalan Belanda kawasan di Kota
Madiun, yaitu rumah dinas Bakorwil. Peneliti
mengambil kasus tersebut karena telah mengalami
perubahan yang diakibatkan oleh perubahan ruang.
Pengkajian karakter visual fasad bangunan
meliputi elemen fasad antara lain atap, dinding
eksterior, pintu, jendela, balustrade , dan kolom
bangunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk
identifikasi karakter visual karena dari karakter visual
suatu bangunan dapat diketahui gaya atau langgam
yang dimilikinya. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode analisis deksripsi. Setelah mengetahui
gambaran dari fasad bangunan yang diteliti, peneliti
mendeskripsikan setiap elemen penyusun fasad
bangunan. Setelah dideskripsikan, seperti penelitian
yang lain, hasil deskripsi dianalisis lebih lanjut untuk
menyimpulkan karakter visual dari bangunan Indische
tersebut.
Penggunaan teori pada penelitian bangunan
Indische ini sudah mengerucut pada dugaan peneliti.
Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa bangunan
rumah Dinas Bakorwil Kota Madiun memiliki
langgam arsitektur Indische Empire Style. Temuan ini
melihat kepada kesimetrisan bangunan, serambi muka
dan belakang terbuka yang memiliki pilar bergaya
Yunani yang menjadi ciri khas bangunan dari masa ke
masa. Teori tentang karakter Indische Empire Style
dijabarkan melalui adanya akulturasi dengan gaya lain
di Eropa, simetris, dan merupakan gaya awal dari
langgam Indische di Indonesia dilihat dari
periodesasinya.
Fasad bangunan rumah dinas Bakorwil telah
mengalami beberapa perubahan, namun perubahan

yang terjadi dapat diidentifikasi sehingga fasad asli


dapat diketahui. Perubahan paling banyak terletak
pada fasad sisi utara dan selatan. Perubahan tampak
terjadi karena perubahan denah bangunan. Perubahan
fasad inilah yang berdampak pada elemen
kesimetrisan bangunan. Selain menunjukkan langgam
Indische Empire Style berdasarkan komposisi simetris.
Karakter visual rumah Dinas Bakorwil dibentuk
dengan adanya elemen visual yang terdiri dari atap,
dinding eksterior, balustrade, kolom , pintu dan
jendela. Atap bangunan disebutkan penulis dengan
kata monumental dan gigantic. Terdapat dua
ketebalan dinding eksterior, yaitu dinding satu bata
kurang lebih 30 cm dan pasangan setengah bata.
Terdapat pembaharuan marmer yang dinilai
mengurangi nilai karakter visual bangunan. Kolom
Tuscan merupakan ciri khas dari langgam Indische
Empire dengan skala monumental. Menurut Sukarno,
2014 : 106, kolom Tuscan menggambarkan bangunan
penguasa yang berwibawa.
Kesimpulan dari Sukarni, 2012, karakter visual
bangunan didominasi oleh elemen arsitektural dengan
ukuran gigantis. Karakter visual yang ditunjukkan
oleh bangunan induk Bakorwil kota Madiun adalah
langgam Indische Empire Style. Penelitian ini
memberikan
gambaran
terhadap
bagaimana
menemukan langgam bangunan berdasarkan karakter
visual bangunan, serta apa saja perubahan yang telah
terjadi. Perubahan tersebut mengurangi nilai karakter
visual, namun tidak menghilangkannya. Penulis tidak
menyebutkan apakah gigantis dan monumental
memang karakter dari langgam Indische Empire Style.
3.4. Karakter Visual Arsitektur Karya A.F.Aalbers
di Bandung (1930 1946) Studi Kasus :
Kompleks Villas dan Woonhuizen
Penelitian ini adalah jurnal yang ditulis oleh
Khaerani Adenan pada tahun 2012. Fokus penelitian
ini adalah untuk mencari karakter visual dari karya
seorang arsitek Belanda yang berpraktek di Bandung
pada tahun 1930 hingga 1946. Alasan peneliti mencari
karakter visual bangunan arsitektur dari F. Aalbers
karena banyak bangunan karya Aalbers yang hancur
atau berubah tanpa adanya dokumentasi, padahal
bangunan Indische merupakan kekayaan arsitektur
Indonesia dan terdapat 75 buah bangunan selama 16
tahun berkarya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mencari pola dan keteraturan penggunaan elemen
pada eksterior komples bangunan privat sehingga

Marchelia Gupita Sari 5

didapatkan kesamaan design constraints atau prinsip


perancangan yang diterapkan pada perancangan
kompleks bangunan privat di Bandung oleh Aalbers.
Metode yang digunakan adalah deskriptif.
Teori yang digunakan untuk melihat karakter
visual dari sebuah lingkungan terdiri elemen elemen
visual. Menurut Motloch (1991), terdapat lima elemen
visual; (1) point (titik), (2) line (garis), (3) form
(bentuk), (4) colour (warna), dan (5) texture (tekstur).
Kombinasi dan keteraturan dari kelima elemen
tersebut menciptakan prinsip prinsip visual, yaitu (1)
rhytm (ritme), (2) kesatuan, unity, (3)proportion
(proporsi),
(4)
scale
(skala),
(5)balance
(keseimbangan).
Selain Motloch (1991), Parolek (2008)
menyeutkan bahwa standar identifikasi untuk
mengklasifikasikan bangunan arsitektural harus
memasukkan lima elemen, yaitu :
a. Massing (bentuk massa bangunan)
b. Faade composition (komposisi fasad)
c. Windows and doors (jendela dan pintu)
d. Element and details (elemen dan detail)
e. Pallette and combination of materials (warna dan
kombinasi material)
Penelitian ini mengambil sudut pandang yang
sama dengan penelitian Chan C.S (1992), Exploring
Individual Style through Wrights Design , yaitu
mencari karakter dari beberapa produk yang dibuat
oleh para desainer. Metode bersifat kualitatif
eksploratif. Peneliti menganalisis empat bangunan
F.Aalbers dan menemukan bahwa variasi pada sebuah
kompleks bangunan privat diasumsikan terjadi karena
kebijakan dari kontraktor atau kliennya. Penelitian ini
juga menghasilkan saran berupa pendalaman terhadap
bagaimana kaitan Aalbers dengan nama W.H.
Hoogland. Hasil penelitian belum mengintepretasikan
sikap Aalbers dalam menyikapi iklim tropis Indonesia.
Dari segi analisis, tesis ini masih mengambil langkah
pertama dari tiga tahapan proses identifikasi bangunan
bersejarah. Dua tahap lagi yang masih dapat dilakukan
adalah identifikasi eksterior bangunan secara lebih
terukur.
3.5. Karakteristik
Arsitektural
Bangunan
Peninggalan Masa Kolonial Belanda di
Bintaran
Penelitian ini adalah tesis arsitektur yang ditulis
oleh Wiyatiningsih pada tahun 2001. Fokus amatan
penelitian ini adalah rumah-rumah berlanggam

Indische dan fasilitas umum yang dipilih adalah gereja


karena signifikansinya dalam kawasan tersebut.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui
karakteristik arsitektural bangunan peninggalan masa
kolonial Belanda yang terdapat di Bintaran. Metode
penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan unit
analisis adalah elemen elemen yang dilihat dari
teori.
Penggunaan teori penelitian ini adalah teori
Habraken (1978) mengenai bagaimana melihat
karakter arsitektural pada sebuah rumah yang dilihat
dari sistem fisik, spasial, dan sistem bentuk. Hasil
pembahasan penelitian ini merujuk pada sebuah
konsep non-arsitektur , yaitu konsep osmosis antara
akulturasi kebudayaan Indische dengan kebudayaan
Jawa.
Penjelasan
konsep
tersebut
adalah
menggunakan analogi osmosis kebudayaan di mana
kebudayaan akan terserap ke kebudayaan lainnya yang
diterima. Peneliti mengatakan konsep osmosis masih
merupakan hipotesis yang harus diteliti lebih lanjut.
3.6. Sintesis Langgam Arsitektur Kolonial pada
Gedung Restauran Hallo Surabaya di
Surabaya
Penelitian ini ditulis oleh Bachtiar Fauzy pada
tahun 2013 dalam bentuk penelitian Lembaga
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Penelitian ini berkenaan dengan sintesis langgam
arsitektur kolonial pada Gedung Restauran Hallo
Surabaya dengan metode yang bersifat deskriptif
analitis dan interpretatif karena berlandaskan buktibukti empirs lapangan yang ditemukan dalam studi.
Alasan pemilihan lokus karena tadinya gedung
restaurant merupakan Meesjesweeshuis yang berfungsi
sebagai rumah sakit. Gaya arsitektunya memiliki ciri
pada era kolonial tahun 1900-an yang terekspresi pada
unsur unssur bentuknya, seperti adanya gavel,
kubah, dan dormer di mana unsur pembentukannya
dipengaruhi Art Deco dan Art Nouveau.
Ditentukannya temuan sintesis arsitektur berdasarkan
tingkat paparan terhadap pengaruh budaya dan
arsitektur lokal dan non lokal (pendatang).
Penggunaan teori penelitian ini adalah teori
mengenai bangunan berukuran besar karya arsitek
Belanda yang terletak di tepi jalan raya. Tapak
bangunan bangunan pemerintahan atau rumah pejabat
hirarkinya lebih tinggi daripada di kawasan
perkampungan yang dihuni oleh warga pribumi.

Marchelia Gupita Sari

Konsep hirarki merupakan konsep dari Indische


Empire Style. Tipologi susunan ruangnya khas dengan
denah simetri penuh dan terdapat ruang tengah yang
menghubungkan antara teras depan dan teras belakang
(voor galeri dan achter galeri).
Analisis dilakukan dengan analisis secara visual,
yaitu pada denah dan tampak, secara spasial dengan
analisis orientasi bangunan, bentuk denah, bagaimana
sirkulasinya, dan sebagainya. Penelitian ini
menghasilkan paparan tentang sejauh mana ekspresi
langgam arsitektur yang dipengaruhi oleh unsur-unsur
budaya dan arsitektur kolonial berdasarkan konsep
yang melandasinya.
Kebaruan dari penelitian ini adalah temuan
desain eklektif dengan berbagai unsur langgam yang
berbeda, disesuaikan dengan iklim setempat dengan
langgam Indische Empire Style yang tampak pada
gevel gevel bagian depan. Hasil temuan lainnya
adalah bentuk bangunan yang tipis supaya terjadi
ventilasi yang baik untuk bangunan serta material
yang digunakan.
3.7. Pengaruh Arsitektur Indis pada Rumah
Kauman Semarang (Studi Kasus Rumah
Tinggal Jalan Suroyudan 55 Kampung
Kauman)
Penelitian ini ditulis oleh Sukawi pada tahun
2009. Pemilihan lokus di rumah Kauman Semarang
karena rumah Kauman dipengaruhi oleh beberapa
budaya Hindia Belanda, pengaruh kebudayaan Jawa,
kebudayaan Cina, kebudayaan Islam, dan kebudayaan
Melayu. Fokus amatan adalah rumah tinggal. Metode
penelitian bersifat deksriptif kualitatif. Penggunaan
teori pada penelitian ini adalah ciri ciri rumah yang
dapat dikategorikan sebagai Rumah Kauman
Semarang(Wijanarka dalam Sukawi, 2009), yaitu :
a. denah simetris memanjang ke belakang;
b. sirkulasi lurus dari depan ke belakang
c. atap sebagian besar limasan ataupun pelana;
d. bukaan (pintu) pada fasad berjumlah tiga;
e. pintu terdiri dari dua daun pintu;
f. ornamen tritisan (lisplank) pada fasad depan;
g. konsol terbuat dari besi atau kayu dengan
bentukan ornamentasi
h. ornamen pada ventilasi di atas pintu
i. lantai ubin bermotif
Peneliti kemudian menetapkan beberapa objek
terpilih dari syarat ciri tersebut menjadi objek amatan.
Setelah dianalisis dengan cara yang deskriptif, penulis

menemukan kesesuaian ciri arsitektur Indische pada


rumah Kauman Semarang dengan menguraikan
menjadi sistem konstruksi, fasad, tataruang, dan
ornamen. Sistem konstruksi rumah menggunakan
sistem satu bata, fasad secara keseluruhan menyerupai
arsitektur Indische, berupa bentukan atap pelana
dengan tritisan atap lebih panjang yang dilengkapi
dengan konsol. Bentuk simteris dengan tiga pintu pada
fasad ini. Terdapat juga hiasan pada tutup keyong
berupa kisi kisi dari papan kayu.
Kesimpulan pada penelitian kasus rumah
Kauman Semarang, pengaruh terbesar dari arsitektur
dan kebudayaan Indische, yakni mulai dari sistem
konstruksi, bentukan fasad, hingga ornamen
ornamen yang digunakan. Beberapa pengaruh dari
kebudayaan lain seperti Cina, Islam, dan Melayu
masih dapat dijumpai terutama pada pemanfaatan atau
penggunaan ornamen ornamen yang lebih bersifat
pembentuk estetis. Bangunan tua memiliki ruang yang
masih kontekstual dengan jaman saat ini.
Pengintegrasian hasil hasil budaya yang berkaitan
dengan arsitektur, misalnya pada ornamen, cenderung
dimanfaatkan sebatas pertimbangan estetika dan
faktor ketersediaan material pada saat itu. Pergeseran
nilai budaya mengakibatkan kepunahan secara
perlahan namun pasti.
3.8. Adaptasi Tampilan Bangunan Indis Akibat
Perubahan Fungsi Bangunan Studi Kasus :
Resto Diwang dan De Joglo Semarang
Penelitian ini ditulis oleh Sukawi pada tahun
2011. Alasan pemilihan fokus adaptasi tampilan
bangunan Indische adalah karena bangunan Indische
yang masih tersisa saat ini , yang biasanya bekas
rumah tinggal, villa, ataupun rumah dinas peninggalan
kaum priyayi, pejabat pemerintah, sering berubah
fungsi menjadi area komersial sehingga perlu
dilakukan untuk kajian bagaimana pemilik rumah atau
penghuni melakukan adaptasi terhadap perubahan
fungsi tersebut. Unit amatan penelitian ini adalah dua
buah rumah, yaitu kedua bangunan yang telah
cenderung telah meninggalkan simbol simbol
arsitektur khas Belanda karena arstektur Indis tidak
hanya mengadaptasi nilai asal dan nilai lokal suatu
daerah, namun juga mampu menyesuaikan dengan
karakteristik kebutuhannya sesuai perkembangan
jaman.
Metode penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif
dengan mendeksripsikan dua buah bangunan sesuai

Marchelia Gupita Sari 7

elemen elemen fisik yang mempengaruhi bagian


fasad depan rumah. Penggunaan teori adalah ciri
arsitektur dan tataruang Indische, terutama pada
rumah priyayi. Penulis mendeskripsikan perubahan
perubahan yang kerap terjadi pada rumah priyayi
sesuai periodesasinya. Pada tahun 1730-an, bangunan
rumah mewah sepertiga bagian dari pintu ,yaitu
dipahat dengan ajour relief. Bentuk jendela dengan
penutup rotan yang dianyam seperti anyaman kursi.
Anyaman rotan halus pada jendela bermaksud untuk
dapat mengatasi gangguan sinar matahari, yaitu
adaptasi untuk iklim. Fasad bangunan Indische yang
dianalisis adalah perpaduan gaya arsitektur Indis yang
ada, massa bangunan dan kesimetrisannya, ritme
vertikal dan horizontal, penyesuaian konstruksi.
Hasil penelitiannya adalah deksripsi mengenai
perubahan di mana Diwang Resto dan De Joglo
Semarang terdapat perubahan fisik yang mengganggu
karakter visual serta kemenerusannya.
3.9. Kajian
Tipologi
dalam
Pembentukan
Karakter Visual dan Struktur Kawasan Studi
Kasus : Kawasan Ijen, Malang
Penelitian ini ditulis oleh Asyra Ramadanta pada
tahun 2011. Unit analisis penelitian ini adalah skala
meso, yaitu Kawasan Ijen di Malang yang dirancang
oleh Karsten. Metode yang digunakan dalam kajian ini
adalah deskriptif kualitatif dengan mengalisis
komponen pembentuk tampilan visual dalam lingkup
kawasan.
Penggunaan teori adalah teori tentang tipologi
oleh Moneo. Tipologi arsitektur dibangun dalam
bentuk arsip dari given types, yaitu bentuk arsitektural
yang disederhanakan menjadi bentuk geometrik.
Given types dapat berasal dari sejarah, tetapi dapat
juga berasal dari penemuan baru (Palasello dalam
Ramadanta, 2011). Cara melihat elemen arsitektur
pendukung pada fasad menggunakan teori Krier
(1978) , yaitu elemen fasad dari sebuah bangunan
sekaligus komponen komponen yang mempengaruhi
fasad adalah atap, dinding, dan lantai. Dalam
menganalisis, peneliti membandingkan luasan lahan
dan bangunan pada Jalan Ijen Malang.
Tipologi bangunan pada kawasan Ijen karya
Karsten memperlihatkan adanya pencarian wujud
arsitektur lokal, baik dari segi bentuk maupun dari
segi material yang kontekstual dengan bangunan
tropis. Tipologi rumah yang dominan terlihat mulai
meinggalkan ciri Empire Style. Berdasarkan

pengamatan terhadap time series, sequence visual


kawasan dan penelusuran urban artefact, Karsten
adalah peletak dasar konsep engembangan kota
moderen di Indonesia seperti di Semarang,
Bandung,Batavia,Magelang,
Malang,
Madiun,
Cirebon, Jatinegara, Yogyakarta, Surakarta, dan
Purwokerto denggan konsep Garden City.
3.10.Arsitektur Transisi di Nusantara dari Akhir
Abad 19 ke Awal Abad 20
Penelitian ini ditulis oleh Samuel Hartono dan
Handinoto pada tahun 2006. Penelitian ini menyoroti
gaya arsitektur pada jaman transisi (tahun 1890-1915)
sangat sedikit terdokumentasi. Alasan pemilihan lokus
di bangunan perumahan perwira pada kompleks
militer di Jawa atas alasan sebagai berikut:
a. Perumahan perwira militer dibangun pada
periode arsitektur peralihan
b. Jenis bangunan prototype
Perhatian terhadap iklim tropis lembab seperti di
Nusantara, tetap mendapat perhatian utama dalam
desain-desain
perumahan
perwira.
Analisis
dilakukan per massa bangunan dengan fungsi yang
berbeda. Selain analisis yang bersifat deskriptif,
peneliti membuat tabulasi tentang perbandingan
antara langgam Indische Empire, arsitektur
peralihan, dan arsitektur kolonial modern yang
dikelompokkan dalam perbedaan denah, tampak,
pemakaian bahan bangunan, sistem konstruksi yang
dipakai, dan lain lain.
4. Pemetaan
Hasil
Tinjauan
Penelitian
Terdahulu
4.1. Pemetaan Subtopik
Terdapat tiga subtopik yang kerap diteliti dengan
topik besar yang khusus bangunan Indische, yaitu
penelitian
mengenai
karakter
visual/kualitas
visual/sintesis langgam maupun perubahannya,
adaptasi elemen-elemen bangunan terhadap perubahan
fungsi yang berbeda, dan tipologi bangunan.
Tabel 1. Pemetaan Jurnal Subtopik
Kelompok subtopik Jurnal
Karakter Arsittektural

Konteks Lokus
Kawasan permukiman

Karakter Visual

indische yang masih

Sintetis langgam

menjadi permukiman,
kawasan komersial,

Adaptasi akibat perubahan

Rumah berlanggam Indische

fungsi dan perubahannya


Tipologi

Tipologi rumah dan elemen

Marchelia Gupita Sari

pembentuk karakter
arsitektural
Sumber: Pribadi, 2015

Subtopik dengan pembahasan karakter visual


berkaitan dengan fasad (langgam dan ornamentasi)
mendominasi tinjauan jurnal karena perkembangan
jaman telah merubah karakter visual sehingga terdapat
kepentingan untuk konservasi. Perlunya untuk
meringkas variabel penelitian dengan hasil hasil
penelitian sebelumnya demi mengetahui bagaimana
dan kemungkinan untuk penggunaan variabel pada
penelitian nanti. Hasil dari ringkasan dapat dilihat di
tabel pada kolom baris di samping ini :
Tabel 2. Ringkasan Variabel Penelitian
Peneliti
Semua penelitian

Konteks Lokus
Karakter arsitektural
bangunan Indische
dideskripsikan dan
ditipologikan berdasarkan
elemen fisik fasad.
Langgam Empire Indische
Style banyak ditemukan di
penelitian

Semua penelitian

Rumah

Konteks lokasi pada penelitian adalah:


a. lokasi kawasan bersejarah yang berubah fungsi
tatagunanya dari residensial (permukiman) ke
arah komersial
b. kawasan perumahan Indische yang masih
dimanfaatkan dari dulu hingga sekarang
c. Kawasan Pasca-kolonial dan komersial
d. Bangunan bertipologi Indische dengan langgamlanggam turunannya
4.3. Elemen fisik yang diamati
a. Karakter fasad
b. Karakter visual
c. Karakter arsitektural
Menurut pembahasan yang telah dilakukan di
atas, karakter fasad merupakan bagian dari karakter
visual karena untuk melihat karakter visual suatu
bangunan diperlukan melihat elemen fasad yang ada.
Karakter visual adalah asbtraksi dari fasad bangunan
dan keseluruhan dari elemen yang dapat dilihat secara
fisik. Karakter arsitektural lebih luas lingkupnya, yaitu
membahas tentang ketiga elemen, yaitu fisik, spasial ,
dan stylistic sehingga tatanan spasial dan tatanan
sistem struktur dan konstruksinya dapat diketahui.

berlanggam

Indische mampu beradaptasi


dengan iklim lokal dengan
adaptasi dan penambahan
elemen

ataupun

adaptasi

Karakter arsitektural
Karakter Visual

bangunan dari arsitek atau


penghuni rumah
Adenan, 2012

Terdapat karakter

Ramadanta, 2010

arsitektural seperti dengan


perancangannya, Thomas

Karakter Fasad

Karsten dan Aalbers


Fauzia, 2003

Faktor sosio kultural

Ramadanta, 2010

masyarakat berpengaruh

Gambar 1. Bagan perletakan subtopik pada tinjauan jurnal

pada bangunan indische

(sumber: Wiyatiningsih dengan modifikasi penulis, 2015).

tersebut. Terdapat adanya

Teori yang digunakan untuk mengamati karakter


arsitektural digunakan oleh tiga peneliti, yaitu
Wiyatiningsih (2000), Wibisono (2014), dan Fauzia
(2004), yaitu teori Habraken (1978) yaitu tidak hanya
melihat karakter bangunan Indische dari tiga elemen,
yaitu sistem fisik, sistem spasial, dan sistem bentuk.
Parameter untuk mengkaji :
a. Spatial system : berkaitan dengan organisasi
ruang, mencakup hubungan ruang, hirarki ruang,
orientasi, pola hubungan ruang, dan lain

perbedaan perlakuan sesuai


dengan status sosial
seseorang yang menentukan
lokasi atau letak lahan dari
suatu rumah
Sumber: Pribadi, 2015

4.2. Konteks Lokus

Marchelia Gupita Sari 9

sebagainya
b. Physical system : sistem fisik yang mencakup
penggunaan material dan konstruksinya
c. Stylistic system : Sistem bentuk , kesatuan
komponen yang mewujudkan bentuk, meliputi
bentuk bangunan dan elemen bangunan.
Dari tinjauan jurnal di atas, terdapat tiga
penelitian dengan subtopik dan topik khusus yang
paling mirip dengan penelitian yang akan dilakukan
adalah :
a. Karakteristik Arsitektural Bangunan Peninggalan
Kolonial Belanda di Bintaran oleh Wiyatiningsih
(2001)
Hasil penelitian adalah bangunan indische
mengadopsi komponen lokal Jawa sesuai dengan
Hadinoto (1986) pada awal abad 20 adalah
menginginkan bentuk khas arsitektur Indonesia
dengan mengambil sumber lokal. Keterbatasan dari
hasil penemuan berupa adanya konsep yang masih
hipotesis dan terbatasnya pada bangunan rumah
tinggal dengan jumlah objek yang diteliti padahal
permukiman indische seperti yang telah dikatakan
teori sebelumnya adalah permukiman dengan fasilitas
fasilitas tersendiri, seperti gereja, tempat militer ,
dan sebagainya. Peneliti belum melihat konsep
siteplan dan hubungan antar rumah atau hubungan
rumah dengan lingkungan sekitar.
Konteks lokus
yang diteliti adalah lokasi di mana daerah Bintaran
berkonteks permukiman di daerah selatan yang belum
berkembang sepesat Jetis walaupun kini juga telah
berubah.
Perbedaan dengan penelitian yang akan
dilakukan adalah konteks lokus di mana lokus pada
penelitian nantinya berlokasi di sekitar garis imajiner
kota dan akan melihat bagaimana tatanan rumah atau
siteplan ke dalam hubungan intrusi garis imajiner
Kota Yogyakarta oleh pemerintah kolonial Belanda
pada jaman tersebut.
b. Karakteristik Arsitektural Bangunan Indische
pada Perumahan Pegawai Perusahaan Jawatan
Kereta Api Pengok Blok A dan Blok B
Yogyakarta
Konteks lokus penelitian adalah permukiman
Indische yang saat ini masih menjadi permukiman
dengan perubahan karakter visual tidak sepesat
kawasan Jetis. Perbedaan dengan penelitian yang akan
dilakukan adalah konteks lokus di mana lokus pada
penelitian nantinya berlokasi di sekitar garis imajiner

10

kota dan akan melihat bagaimana tatanan rumah atau


siteplan ke dalam hubungan intrusi garis imajiner
Kota Yogyakarta oleh pemerintah kolonial Belanda
pada jaman tersebut.
c. Ciri ciri Bangunan Rumah Lama di Kotabaru
Yogyakarta
Konteks lokus penelitian adalah permukiman
Indische yang berada di tengah kota saat ini. Konsep
Garden City pada penataan kawasan telah dikenali
sehingga penelitian dapat menghubungkan elemen
rumah terhadap konsep tesebut, seperti elemen
spasial , yaitu setback.
4.4. Celah Penelitian Terdahulu dan Potensi
Penelitian
Dari pembahasan di atas, celah pada pembahasan
karakter arsitektural pada penelitian penelitian
sebelumnya adalah :
a. Belum adanya karakteristik arsitektural bangunan
Indische pada permukiman kolonial di sumbu
imajiner kota. Sumbu imajiner adalah elemen
tataruang awal kota. Dalam hal ini, Kawasan
Jetis dilewati sumbu imajiner kota sehingga
dalam penelitian akan datang akan terlihat
bagaimana intrusi keruangan pemerintah kolonial
Belanda.
b. Belum terdapat penelitian tentang penyisipan
permukiman Indische di sekitar Kraton dan
Margo Mulyo.
c. Pembahasan mengenai permukiman Indische
yang dihubungkan dengan tataruang awal kota
akan
menambah
pengetahuan
mengenai
pengaruh kebudayaan Indische yang dibawa oleh
Belanda ke dalam tataruang awal kota.
Kesempatan yang ditemukan peneliti setelah
meninjau penelitian terdahulu adalah kajian tentang
bagaimana karakteristik arsitektural bangunan dalam
konteks permukiman indische terhadap elemen
penting pembentuk kota. Dalam penelitian ini,
bagaimana Kawasan Jetis menjadi permukiman
Indische dengan mempertimbangkan sumbu imajiner.
5.

Landasan Teori
Teori yang digunakan adalah Habraken (1978)
dengan parameter sistem spasial, sistem fisik, dan
sistem bentuk. Turunan parameter adalah sebagai
berikut :
a. Sistem Spasial : fungsi ruang, orientasi, sumbu
dan simetri, hirarki, skala, pola tataruang, dan

Marchelia Gupita Sari

besaran ruang.
b. Sistem Fisik : dinding, lantai, atap ,dan kolom.
c. Sistem Bentuk : terdiri dari bentuk bangunan dan
elemen bentuk, yaitu komposisi fasad.
Bentuk bangunan adalah sumbu dan simetri,
hirarki, skala, geometri dasar, entrance. Elemen
bentuk yang dilihat adalah komposisi fasad, yaitu
pintu, jendela, kolom, lantai, gavel, konsol, dan
cerobong luifel.
Referensi
1) Habraken, N.J. 1978. General Principles of About the Way
Environment

Exist.

Department

of

Architecture,

MIT

Massachusetts.
2) Fauzia,

Hastati.(2004).

Karakteristik Arsitektural

Bangunan

Indische pada Perumahan Pegawai Perusahaan Jawatan Kereta Api


Pengok Blok A dan Blok B Yogyakarta.Tesis Arsitektur
3) Fauzy,Bachtiar. (2013).Sintesis Langgam Arsitektur Kolonial pada
Gedung Restauran Hallo Surabaya. Laporan Penelitian dan
Pengabdian

kepada

Masyarakat

Universitas

Katolik

Parahyangan.
4) Hartono. (2006).Arsitektur Transisi di Nusantara dari Akhir Abad
ke 19 ke Abad 20. Dimensi Teknik Arsitektur, Vol.34 No.2, 81-92
5) Khaerani,

Adenan.(2012).Karakter

Visual

Arsitektur

Karya

A.F.Aalbers di Bandung (1930 1946) Studi Kasus : Kompleks


Villas dan Woonhuizen.Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia,
Vol.1, 64-74
6) Ramadanta, Asyra. (2011) Arahan Rancangan tata Massa pada
Pemanfaatan Ruang Pemunduran akibat Laju Perkembangan
Bangunan. Jurnal Smartek. Tanpa volume.
7) Sukarni, Pipiet Gayatri.(2014). Karakter Visual Fasade Bangunan
Kolonial Belanda Rumah Dinas Bakorwil Kota Madiun.Jurnal
NALARs.Vol.13 No.2,99-111
8) Sukawi, Dhanoe Iswanto.(2009).Pengaruh Arsitektur Indis pada
Rumah Kauman Semarang (Studi Kasus Rumah Tinggal Jalan
Suroyudan 55 Kampung Kauman). MODUL Vol.2, 89-95
9) Soekiman, Djoko. (1996). Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup
Masyarakat Pendukungnya di Jawa (Abad XVIII sampai medio
abad XX). Disertasi. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada
10) Wiyatiningsih.(2001).Karakter Arsitektural Bangunan Indische. di
Kawasan Bintaran. Tesis Arsitektur.
11) Wibisono, Tony Kunto (2004). Ciri ciri Rumah Lama di
Kotabaru. Tesis Arsitektur.

Marchelia Gupita Sari 11