Anda di halaman 1dari 15

Portofolio 2 Combustio 5% grade I et causa air panas

Nama Peserta : dr. Prisillia M. Mottoh


Nama Wahana : RSUD Noongan
Topik : Combustio 5% grade I et causa air panas
Tanggal (kasus) : 20 04 2015

No. RM : 060373

Tanggal presentasi : 09 07 2015

Nama Pendamping : dr. Lidya Komedin

Tempat Presentasi : IGD RSUD Noongan


Obyektif presentasi :
KKeilmua KKeterampila
PPenyegaran
TTinjauan pustaka
n
n
DDiagnost
MManajemen MMasalah
IIstimewa
ik
NNeonat BBay AAn RRemaj DDewas LLansi
BBumil
us
i
ak
a
a
a
Deskripsi : Laki-laki, 11 bulan, keluhan utama luka bakar pada daerah sekitar dahi dan dada karena tersiram air panas.
Tujuan : Mendiagnosis dan memberikan penatalaksanaan yang tepat pada pasien luka bakar.

Bahan bahasan :

TTinjauan pustaka

RRiset

KKas
us

AAudit

DDisku
si

Cara membahas
Data pasien

PPresentasi dan
diskusi

Nama : An. P.D

Nama klinik : IGD RSUD Noongan

Pekerjaan : -

EEma
il

PPos

No. Registrasi :
Terdaftar sejak :
20-04-2015

Data utama untuk bahan diskusi :


1. Diagnosis / gambaran klinis : Anak laki-laki, usia 11 bulan dibawa ke IGD RSUD Noongan dengan keluhan utama luka bakar di
daerah sekitar dahi dan dada sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit. Awalnya pasien sedang bermain dilantai dapur dekat air
panas yang sementara dimasak dikompor oleh ibunya, waktu ibunya mengangkat panci air panas tidak sengaja panci jatuh, sehingga
sebagian air panas tersiram mengenai daerah sekitar dahi dan dada pasien. Pasien menangis dengan kencang karena merasa nyeri
pada bagian tubuh yang tersiram air panas.
2. Riwayat kesehatan / penyakit : Pasien belum pernah menderita sakit seperti ini sebelumnya.
3. Riwayat keluarga : Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti ini.
4. Riwayat imunisasi & tumbuh kembang : Imunisasi lengkap dan tumbuh kembang sesuai usia.
5. Lain-lain : (PEMERIKSAAN FISIK, PEMERIKSAAN LABORATORIUM, dan TAMBAHAN YANG ADA, sesuai dengan
FASILITAS WAHANA)
a. Pemeriksaan fisik
Primary Survey
A : Bebas, tidak ada sumbatan jalan nafas
B : Spontan, frekuensi nafas 35x/menit, regular
C : Akral hangat, CRT < 2, frekuensi nadi 115x/menit

D : GCS 15
Secondary Survey
Status generalis
Keadaan umum

: Tampak sakit, tampak rewel

Kesadaran

: Kompos mentis

Tanda vital

: Pernafasan : 35x/menit

Berat badan

Nadi

: 115x/menit

Suhu

: 37C

: 8 kg

Kepala

: konjungtiva anemis (-), Sklera Ikterik (-)

Thoraks

: cor :

Inspeksi

: Iktus cordis tidak tampak

Palpasi

: Iktus kordis teraba di sela iga V

Perkusi

: Batas kanan : ICS II Linea parasternalis dekstra


Batas kiri : ICS IV Linea midclavicula sinistra

Auskultasi : S I-II normal, bising (-)


Pulmo : Inspeksi

: Simetris kanan = kiri

Palpasi

: Stem fremitus kanan = kiri

Perkusi

: sonor kanan = kiri

Auskultasi : Rhonki -/-, Wheezing -/Abdomen

: Datar, Lemas, BU (+) Normal, Timpani, NT(-), Turgor kembali cepat, H/L tidak teraba

Ekstremitas : Akral hangat, Edema (-)


Status lokalis :
Regio Frontalis & Regio Thoracal :
-

Look : hiperemis (+), bullae (-), vesikel (+),

Feel : nyeri tekan (+)

Luas luka bakar 5%

b. Laboratorium
Nama Pemeriksaan
Leukosit
Hemoglobin
Eritrosit
Hematokrit
Trombosit

Hasil
11.000
10,5
4,0
32%
255.000

Nilai Rujukan
5000 10.000 mm3/uL
13 - 16 g/dL
4,50 5,50 mm6/uL
45 55 %
100 300 mm3/uL

Daftar pustaka :
Sjamsuhidajat, de Jong. Luka Bakar. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed 3. Jakarta: penerbit Buku Kedokteran EGC. 2007. Hlm: 103-110.
Moenadjat Y. Luka Bakar, Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. 2003.
Hasil pembelajaran :
Definisi luka bakar
Klasifikasi luka bakar

Penentuan luas luka bakar


Tata laksana terapi cairan pada luka bakar
1. Subjektif
Keluhan Utama : Luka bakar karena tersiram air panas sejak 1 jam SMRS yang mengenai daerah sekitar dahi dan dada.
Riwayat penyakit sekarang :
Anak laki-laki, usia 11 bulan dibawa ke IGD RSUD Noongan dengan keluhan utama luka bakar di daerah sekitar dahi dan dada sejak
1 jam sebelum masuk rumah sakit. Awalnya pasien sedang bermain dilantai dapur dekat air panas yang sementara dimasak dikompor
oleh ibunya, waktu ibunya mengangkat panci air panas tidak sengaja panci jatuh, sehingga sebagian air panas tersiram mengenai daerah
sekitar dahi dan dada pasien. Pasien menangis dengan kencang karena merasa nyeri pada bagian tubuh yang tersiram air panas.
2. Objektif

Pada pemeriksaan fisik didapatkan :

Keadaan umum

: Tampak sakit, tampak rewel

Kesadaran

: Kompos mentis

Tanda vital

: Nadi : 115 x/m, Respirasi : 35 x/m, Suhu badan : 370C

Status lokalis

: Regio frontalis & Regio Thoracal :


-

Look : hiperemis (+), bullae (-), vesikel (+),

Feel : nyeri tekan (+)

Luas luka bakar 5%

Pada pemeriksaan penunjang didapatkan:


Leukosit

: 11.000 mm3/L

Hemoglobin

: 10,5 mg/dL

Eritrosit

: 4,0 mm6/ L

Hematokrit

: 32%

Trombosit

: 255.000 mm3/L

3. Assesment
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan dan atau kehilangan jaringan disebabkan kontak dengan sumber yang memiliki
suhu yang sangat tinggi. Luka bakar merupakan suatu jenis trauma dengan morbiditas dan mortalitas tinggi yang memerlukan
penatalaksanaan khusus sejak awal sampai fase lanjut. Kulit dengan luka bakar akan mengalami kerusakan pada epidermis, dermis
maupun jaringan subkutan tergantung faktor penyebab dan lamanya kulit kontak dengan sumber panas atau penyebabnya.
Dalamnya luka bakar akan mempengaruhi kerusakan atau gangguan integritas kulit dan kematian sel-sel.
Derajat Luka Bakar
Kedalaman luka bakar ditentukan oleh tingginya suhu dan lamanya pajanan suhu tinggi. Kerusakan yang diakibatkan
bervariasi mulai dari nyeri dan kulit tampak kemerahan sampai dengan hangus terbakar. Berdasarkan kelainan yang bervariasi
tersebut, maka luka bakar dibagi menjadi luka bakar derajat pertama, kedua, dan ketiga.

Luka Bakar Derajat I


- Kerusakan jaringan terbatas pada bagian permukaan (superfisial), yaitu epidermis.
- Perlekatan epidermis dengan dermis (dermal-epidermal junction) tetap terpelihara baik.
- Kulit kering, hiperemik memberikan efloresensi berupa eritema, tidak dijumpai bula.
- Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi.
- Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 5-7 hari.
Luka Bakar Derajat II
- Kerusakan meliputi seluruh ketebalan epidermis dan sebagian dermis.
- Respon yang timbul berupa reaksi inflamasi akut disertai proses eksudasi.
- Terasa nyeri, kulit kemerahan, edematous,

dan dijumpai bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena

permeabilitas dindingnya meninggi.


- Luka bakar derajat II ini dibedakan menjadi 2, yaitu : derajat II dangkal dan derajat II dalam.

a. Derajat II Dangkal (Superficial)


Kerusakan mengenai epidermis dan sebagian (1/3 bagian superfisial) dermis. Dermal-epidermal junction mengalami
kerusakan sehingga terjadi epidermolisis yang diikuti terbentuknya lepuh. Lepuh ini merupakan karakteristik luka bakar
derajat II dangkal. Pada luka bakar ini, dasar luka terlihat berwarna kemerahan, kadang pucat, edematous, folikel rambut,
kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea masih utuh. Penyembuhannya terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari, tanpa
terbentuknya parut atau parut minimal.
b. Derajat II Dalam (Deep)
Pada luka bakar ini terjadi kerusakan yang mengenai hampir seluruh ( 2/3 bagian superfisial) dermis. Folikel rambut, kelenjar
keringat, kelenjar sebasea sebagian masih utuh. Kulit yang mengalami luka bakar derajat II dalam terlihat masih basah tapi
tampak pucat, nyeri kurang karena luasnya destruksi saraf-saraf sensorik dan dapat sembuh dalam beberapa minggu hingga
beberapa bulan disertai jaringan parut.
Luka Bakar Derajat III
- Kerusakan meliputi seluruh ketebalan kulit, serta lapisan yang lebih dalam.
- Folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea mengalami kerusakan.
- Kulit yang terbakar tampak pucat atau lebih putih karena koagulasi protein dermis (eskar).
- Tidak dijumpai rasa nyeri, bahkan hilang sensasi karena ujung-ujung serabut saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian.
- Penyembuhan terjadi lama karena tidak ada proses epitelialisasi spontan, baik dari dasar luka, tepi luka, maupun lapisan yang
lebih dalam seperti folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea.
Luas Luka Bakar

Luas luka bakar dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh. Pada orang dewasa digunakan Rumus 9 atau Rule
of Nine, yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung, perut, pinggang dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri,
paha kanan, paha kiri, tungkai dan kaki kanan, serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%, sisanya 1% adalah daerah genitalia.
Rumus ini membantu untuk menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada orang dewasa.
Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak lebih besar. Karena perbandingan luas
permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda, dikenal rumus 10 untuk bayi dan rumus 10-15-20 untuk anak. Untuk anak, kepala dan
leher 15%, badan depan dan belakang masing-masing 20%, ekstremitas atas kanan dan kiri masing-masing 10%, ekstremitas bawah
kanan dan kiri masing-masing 15%.
Penatalaksanaan
Non medikamentosa
Prinsip penanganan luka bakar adalah penutupan lesi sesegera mungkin, pencegahan infeksi, mengurangi rasa sakit,
pencegahan trauma mekanik pada kulit yang vital dan elemen di dalamnya, dan pembatasan pembentukan jaringan parut.
Upaya pertama yang harus dilakukan adalah menjauhkan korban dari sumber trauma. Padamkan api dan siram kulit yang
panas dengan air. Pada trauma bahan kimia, siram kulit dengan air yang mengalir. Proses koagulasi protein sel di jaringan yang
terpajan suhu tinggi berlangsung terus walau api telah dipadamkan, sehingga destruksi tetap meluas. Proses tersebut dapat
dihentikan dengan mendinginkan daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu dingin pada jam pertama. Oleh karena itu,
merendam bagian yang terbakar selama 15 menit pertama sangat bermanfaat. Tindakan ini tidak dianjurkan pada luka bakar > 10%
karena akan terjadi hipotermia yang menyebabkan cardiac arrest.
Tindakan selanjutnya adalah :
1. Lakukan resusitasi dengan memperhatikan jalan napas, pernapasan dan sirkulasi, yaitu :

Periksa jalan napas

Bila dijumpai obstruksi jalan napas, buka jalan napas dengan pembersihan jalan napas, bila perlu lakukan trakeostomi atau
intubasi

Berikan oksigen

Pasang iv line untuk resusitasi cairan, berikan cairan RL untuk mengatasi syok

Pasang kateter buli-buli untuk pemantauan diuresis

Pasa pipa lambung untuk mengosongkan lambung selama ada ileus paralitik

Pasang pemantauan tekanan vena sentral untuk pemantauan sirkulasi darah pada luka bakar ektensif ( > 40% )

2. Periksa cedera yang terjadi di seluruh tubuh secara sistematis untuk menentukan adanya cedera inhalasi, luas dan derajat luka
bakar. Terapi cairan diindikasikan pada luka bakar derajat 2 atau 3 dengan luas > 25% atau pasien tidak dapat minum. 2 cara
yang lazim digunakan untuk menghitung kebutuhan cairan pada penderita luka bakar :
-

Cara Evans : untuk menghitung kebutuhan cairan hari pertama :


1. BB (kg) x % luka bakar x 1 ml NaCl per 24 jam
2. BB (kg) x % luka bakar x 1 ml plasma (larutan koloid) per 24 jam
3. 2000 cc glukosa 5% per 24 jam sebagai pengganti cairan yang hilang akibat penguapan
Separuh jumlah 1+2+3 diberikan dalam 8 jam pertama. Sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada hari kedua
diberikan setengah jumlah cairan hari pertama. Pada hari ketiga diberikan setengah jumlah cairan hari kedua.

Cara Baxter : merupakan cara lain yang lebih sederhana dan banyak dipakai.
Jumlah kebutuhan cairan pada hari pertama dihitung dengan rumus :

Dewasa : % luas luka bakar x BB x 4cc

Anak : % luas luka bakar x BB x 2cc + kebutuhan faal

Kebutuhan faal :
< 1 tahun = BB x 100cc
1-3 tahun = BB x 74cc
3-5 tahun = BB x 50cc
Separuh dari jumlah cairan ini diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Hari pertama
terutama diberikan kristaloid yaitu larutan RL. Untuk hari kedua diberikan setengah dari jumlah pemberian hari pertama.
3. Tindakan bedah :
-

Pemotongan eskar atau eskarotomi, dilakukan pada luka bakar derajat 3 yang melingkar pada ekstremitas atau tubuh karena
pengerutan keropeng dan pembengkakan yang terus berlangsung dapat mengakibatkan penjepitan yang membahayakan
sirkulasi sehingga nagian distal bisa mati.

Debridemen, diusahakan sedini mungkin untuk membuang jaringan mati dengan jalan eksisi tangensial.

Skin grafting. Sebaiknya dilakukan pada penderita dengan luka bakar derajat 2 dalam dan 3 untuk mencegah terjadinya
keloid dan jaringan parut hipertropik.

4. Nutrisi harus diberikan cukup untuk menutup kebutuhan kalori dan keseimbangan nitrogen yang negatif pada fase katabolisme,
yaitu sebanyak 2500-3000 kalori sehari dengan kadar protein tinggi.
5. Penderita yang sudah mulai stabil keadaanya memerlukan fisioterapi untuk memperlancar peredaran darah dan mencegah
kekakuan sendi.
Medikamentosa

Antibiotik sistemik spektrum luas diberikan untuk mencegah infeksi. Yang banyak dipakai adalah golongan aminoglikosida
yang efektif terhadap pseudomonas. Bila ada infeksi, antibiotik diberikan berdasarkan hasil biakan danuji kepekaan kuman.
Untuk mengatasi nyeri, paling baik diberikan opiat melalui intravena dalam dosis serendah mungkin yang bisa
menghasilkan analgesia yang adekuat namun tanpa disertai hipotensi.
Selanjutnya, diberikan pencegahan tetanus berupa ATS dan/atau toksoid 3000 unit pada orang dewasa dan separuhnya pada
anak-anak.
Luka bakar derajat 1 dan 2 yang menyisakan elemen epitel berupa kelenjar sebasea, kelenjar keringat atau pangkal rambut,
dapat diharapkan sembuh sendiri, asal dijaga supaya elemen epitel tersebut tidak hancur atau rusak karena infeksi. Oleh karena itu,
perlu dilakukan pencegahan infeksi. Pada luka lebih dalam, perlu diusahakan secepat mungkin membuang jaringan kulit yang mati
dan memberi obat topikal yang daya tembusnya tinggi sampai mencapai dasar jaringan yang mati. Beberapa jenis obat yang
dianjurkan seperti golongan Silver Sulfadiazine dan yang terbaru MEBO (Moist Exposure Burn Ointment). Obat topikal dapat
berbentuk larutan, salep atau krim. Antibiotik dapat diberikan dalam bentuk kasa (tulle). Antiseptik yang dipakai adalah yodium
povidon atau nitras-argenti 0,5%. Perawatan setempat dapat dilakukan secara terbuka atau tertutup.
4.

Plan

Diagnosis : Combustio 5% grade I et causa air panas


Pengobatan :
o Cefixime sirup 2x1/2 sendok takar
o Paracetamol sirup 3x1 sendok takar
o Debridemen
o Rawat luka dengan Sibro

o Kontrol poli bedah


o Pasien boleh rawat jalan
Pendidikan :
-

Jangan terlalu tegang pada otot yang cedera untuk mencegah timbulnya kontraktur

Hindari udara panas selama perawatan untuk mencegah penguapan

Edukasi keluarga pasien mengenai hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya luka bakar bagi anak-anak

Konsultasi : Konsultasikan ke dokter spesialis bedah untuk penanganan lebih lanjut.


Rujukan : Saat ini pasien tidak perlu dirujuk.

BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO


Pada hari ini tanggal 9 Juli 2015 telah dipresentasikan portofolio oleh :
Nama Peserta

: dr. Prisillia Monica Mottoh

Dengan judul / topik : Combustio 5% grade I et causa air panas

No.
1
2
3
4
5

Nama pendamping

: dr. Lidya Komedin

Nama wahana

: RSUD Noongan
Nama peserta presentasi

No.
1
2
3
4
5

Tanda tangan

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.
Pendamping

( dr. Lidya Komedin )

HALAMAN PENGESAHAN
Diajukan Oleh:
dr. Prisillia Monica Mottoh
Telah dipresentasikan dan disetujui presentasi portofolio:

COMBUSTIO 5% GRADE I ET CAUSA AIR PANAS


Hari/Tanggal : Kamis 09 Juli 2015
Tempat: IGD RSUD Noongan
Disahkan Oleh:
Pembimbing,

dr. Lidya Komedin