Anda di halaman 1dari 10

TEODAS TEGANGAN PERMUKAAN

andini
istilah permukaan biasanya dipakai bila membicarakan suatu antarmuka
gas/padat atau antarmuka gas/cair. Setiap permukaan adalah suatu antarmuka.
Suatu permukaan meja membentuk suatu antarmuka gas/padat dengan udara
diatasnya, dan permukaan dari suatu tetes hujan membentuk suatu antarmuka
gas/cair

(Martin , 2008).

Permukaan zat cair mempunyai sifat ingin meregang, sehingga permukaannya


seolah- olah ditutupi oleh suatu lapisan yang elastis. Hal ini disebabkan adanya
gaya tarik menarik antara partikel sejenis di dalam zat cair sampai ke permukaan.
Di dalam cairan, tiap molekul ditarik oleh molekul lain yang sejenis di dekatnya
dengan gaya yang sama kesegala arah. Pada permukaan cairan, tiap molekul
ditarik oleh molekul sejenis didekatnya dengan arah hanya kesamping dan
kebawah, tetapi tidak ditarik oleh molekul diatasnya karena diatas permukaan
cairan berupa fase uap ( udara ) dengan jarak antara molekul sangat renggang.
Adanya gaya atau tarikan ke bawah menyebabkan permukaan cairan berkontraksi
dan berada dalam keadaan tegang. Tegangan ini disebut dengan tegangan
permukaan.
Besarnya tegangan permukaan cairan bergantung pada gaya tarik antara
molekul- molekulnya. Ketika gaya tarik besar, seperti dengan H2O, tegangan
permukaan besar. Sebaliknya, cairan seperti bensin yang tersusun atas molekulmolekul non polar mempunyai tegangan permukaan yang kecil karena tarikan
antarmolekul lebih lemah.
Zat yang tegangan permukaannya rendah sangat mudah membasahi
permukaan bagaimanapun keadaan permukaannya. Pelarut hidrokarbon, misalnya
nafta atau bensin, menyebar pada kaca maupun permukaan berminyak dengan
mudahnya, sebab tarikan sesama molekul hidrokarbon sangat lemah. Hampir tidak
ada usaha untuk memperluas permukaan cairan, akibatnya mereka mudah
menyebar pada permukaan apapun ( Brady, 1994 ).

Tegangan permukaan merupakan fenomena menarik yang terjadi pada zat


cair (fluida) yang berada dalam keadaan diam (statis). Contoh yang menarik tetes
air cenderung berbentuk seperti balon (yang merupakan gambaran luas minimum
sebuah volum) dengan zat cair berada di tengahnya. Hal yang sama terjadi pada
jarum baja yang memiliki rapat massa lebih besar dari air tapi dapat mengambang
di permukaan zat cair. Fenomena ini terjadi karena selaput zat cair dalam kondisi
tegang, tegangan fluida ini bekerja paralel terhadap permukaan dan timbul dari
adanya gaya tarik menarik antara molekulnya

(Mohtar,2008).

Dengan kata lain terdapat gaya kohesi pada molekul-molekul air di


permukaan.Gaya kohesi ini selalu berusaha untuk memperkecil luas permukaan zat
air. Air yang berada dalam keadaan ini dikatakan memiliki tegangan permukaan.
(Soerya,2011).
Gaya kohesi pada molekul cairan membuat permukaannya tampak seperti
selaput tipis. Gaya total mengarah kebawah, cairan di permukaan memperkecil
permukaannya dengan cara menyusut sekuat mungkin

(Lohat, 2009).

Permukaan adalah lapisan batas antar fase, selalu dalam keadaan tegang
sehingga

membuat

cairan

memliki

bentuk

permukaan

terkecil.

Tegangan

permukaan () yaitu besarnya gaya yang diperlukan untuk memecah permukaan


cairan atau gaya persatuan panjang pada permukaan yang melawan ekspansi dari
luar permukaan. Molekul pada permukaan suatu cairan kedalam rongga cairan
ditarik karena adanya gaya tarik bagian lain permukaan. Tarikan kedalam ini
memungkinkan untuk terbentuknya tetesan bulat, kenaikan air dalam ini kapiler
dan gerak cairan melewati zat padat berpori. Zat padat juga mempunyai tegangan
permukaan, tapi lebih sukar untuk ditentukan. Kristal cenderung akan membentuk
bidang-bidang dengan tegangan permukaan rendah

(Aberty,2000).

Mengitung tegangan permukaan dapat di hitung menggunakan :


1. Melalui kawat
= F / 2L
2. Melalui pelat kaca

= F / 2 ( p+t )
= tegangan permukaan

Keterangan :

F = gaya
p = panjang kaca
t = tebal kaca
L = panjang kawat (Martin , 2008).
Energi bebas permukaan adalah hasil kali antara tegangan permukaan
dengan pertambahan luas permukaan
f = x 2L
Untuk

memperluas

permukaan

suatu

larutan

bergantung

pada

zat

terlarutnya :
1. Bila

sifat

zat

terlarut

cenderung

mengumpul

dipermukaan,

maka

tegangan permukaan akan menurun


2. Bila zat terlarut cenderung menyebar didalam cairan, maka tegangan
permukaan cenderung naik (Bird,1993)
Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Tegangan Permukaan:
a. Jenis cairan
Pada umumnya cairan yang memiliki gaya tarik antara molekulnya besar,
seperti
air, maka tegangan permukaannya juga besar. Sebaliknya pada cairan seperti
bensin karena gaya tarik antara molekulnya kecil, maka tegangan permukaannya
juga kecil.
b. Suhu
Tegangan permukaan cairan turun bila suhu naik, karena dengan bertambahnya
suhu molekul- molekul cairan bergerak lebih cepat dan pengaruh interaksi antara
molekul berkurang sehingga tegangan permukaannya menurun.
c. Adanya zat terlarut

Adanya zat terlarut pada cairan dapat menaikkan atau menurunkan


tegangan permukaan. Untuk air adanya elektrolit anorganik dan non elektrolit
tertentu seperti sukrosa dan gliserin menaikkan tegangan permukaan. Sedangkan
adanya zat- zat seperti sabun, detergen, dan alkohol adalah efektif dalam
menurunkan tegangan permukaan
( Yazid, 2005).
d. Surfaktan
(surface active agent) atau zat aktif permukaan adalah senyawa kimia yang
jika terdapat pada konsentrasi rendah dalam sitem, mempunyai sifat teradsorpsi
pada permukaan antarmuka pada sistem tersebut, yang molekul-molekulnya
mempunyai dua ujung yang berbeda interaksi dengan air, yaitu ujung kepala yang
suku terhadap air dan ujung ekor yang tidak suka dengan air. Surfaktan mempunyai
2 gugus berlawanan yaitu gugus hidrofolik dan gugus hidrofobik. Surfaktan
menurunkan tegangan permukaan atau antarmuka air dengan mematahkan ikatanikatan hydrogen pada permukaan. Misel adalah molekul-molekul surfaktan yang
mulai berasosiasi karena penambahan surfaktan berikutnya, pada suatu saat akan
tercapai

keadaan

dimana

permukaan-antarmuka

sudah

jenuh/tertutupi

oleh

molekul surfaktan dan adsorpsi surfaktan kepermukaan-antarmuka tidak terjadi


lagi. Konsentrasi Misel Kritis (KMK) adalah konsentrasi dimana mulai terbentuk
misel. (Muslimah,2012).
Metode Penentuan Tegangan Permukaan
1. Metode Cincin Du Nouy
Metode cincin du nouy merupakan metode yang paling baik digunakan karena lebih
akurat dan cepat dalam pengukuran tegangan permukaan deterjen, serum,
suspensi, koloid dan lain- lain.
Gaya yang dibutuhkan untuk mengangkat cincin dari permukaan air dapat dihitung
dari persamaan :
=F 4RF
R = jari- jari rata- rata cincin F = gaya yang dibutuhkan untuk mengangkut cincin
dari permukaan
(2.2)
(2.3)

= faktor koreksi yang dihitung dengan persamaan berikut : 2


F

4b 1

(a) =
2
R2 4R( )+c 12
a = 0, 725 b = 0,09075 m-1det2 c= 0,045341,679(r/R) r = Jari- jari kawat yang
digunakan untuk membuat cincin R =

jari- jari rata- rata lingkaran P1 = massa

jenis cairan yang ada di bawah P2 = massa jenis cairan yang berada di atas
Ketika mengukur tegangan permuakaan cairan- cairan, harus diperhatikan bahwa
cairan yang ada dibawah benar- benar membasahi cincin
Prinsipnya adalah gaya yang diperlukan untuk menarik cincin kawat platina yang
dicelupkan pada permukaan atau antarmuka adalah berbanding lurus dengan
tegangan permukaan atau antarmuka (Bird , 1987).

2. Metode Tekanan Gelembung Maksimum


Tegangan permukaan menyebabkan adanya perbedaan tekanan pada kedua sisi
permukaan cairan yang lengkung. Tekanan pada sisi yang cembung. Ketika
pertama kali tekanan dikenakan, jari- jari gelembung sangat besar. Sementara
gelembung itu mengembang, jari- jarinya akan semakin kecil sampai nilai minimum.
Pada keadaan ini jari- jari gelembung sama dengan jari- jari tabung gelas. Bila
tekanan terus dinaikkan, jari- jari gelembung akan membesar kembali sampai
akhirnya gelembung ini lepas dari tabung gelas dan naik ke permukaan cairan, jelas
bahwa tekanan maksimum diperoleh pada saat jari- jari minimum. Tekanan
maksimum ini bukan hanya disebabkan perbedaan tekanan pada kedua sisi
gelembung, tetapi juga disebabkan oleh adanya tekanan hidrostatik ( yang
bergantung pada ketinggian tabung gelas dalam cairan ). Jadi tekanan maksimum
yang terbaca pada manometer adalah :
maks =2+gh(0) r
r = jari- jari tabung gelas h = jarak ujung tabung gelas dari permukaan cawan
(2.4)
= Massa jenis cairan 0 =Massa jenis uap cair ( biasanya diabaikan karena 0 <<
) ( Bird, 1987)
Metode tekanan gelembung maksimum memiliki keakuratan di bawah 10 %, yang
mana tidak tergantung pada jarak kontak dan hanya merupakan sebuah
pengetahuan dasar dari densitas suatu cairan ( Jika menggunakan pipa ganda ) dan

pengukurannya juga relatif cepat. Rata- rata sebuah gelembung harganya sekitar 1/
sek (Adamson 1990).
3. Metode Kenaikan Kapiler
Metode ini didasarkan pada kenyataan bahwa bila sebatang pipa kapiler dimasukan
kedalam cairan maka permukaan cairan dalam pipa kapiler dapat mengalami
kenaikan atau penurunan. Apabila cairan membasahi bejana ( < 90 ) maka
permukaan cairan akan naik. Sedangkan bila cairan tidak membasahi bejana ( >
90 ) permukaan cairan akan turun. Peristiwa naik turunnya permukaan cairan dalam
kapiler ini disebut dengan kapilaritas.
Kenaikan atau penurunan cairan dalam kapiler disebabkan oleh adanya tegangan
permukaan yang bekerja pada permukaan cairan yang menyentuh dinding
sepanjang keliling pipa. Akibat tegangan permukaan ini pipa akan memberikan
gaya reaksi pada permukaan cairan yang besarnya sama tapi arahnya berlawanan (
Yazid, 2005 ).
Pada peristiwa terangkatnya cairan pada kolom pipa, besarnya gaya keatas akibat
tegangan permukaan diberikan persamaan :
F1 =2rcos (2.5)
F1 = Gaya ke atas akibat tegangan permukaan r = Jari- jari kapiler = tegangan
permukaan = sudut kontak
Kenaikan cairan tidak dapat berlangsung terus, karena pada permukaan cairan juga
bekerja gaya akibat berat cairan ( F2 ) yang arahnya ke bawah sebesar :
F2 = d V g

(2.6)

KarenaV=r2 h,maka: F2 =r2 hdg (2.7)


d = rapatan cairan g = percepatan grafitasi h = kenaikan atau penurunan cairan
dalam kapiler
Pada saat setimbang berlaku F1 dan F2 , sehingga diperoleh :
2rcos = r2 hdg (2.8)
=dghr 2 cos (2.9)
Untuk cairan yang membasahi bejana seperti air 0, sehingga cos = 1.
Persamaan menjadi :
=dghr (2.10)

Sedangkan untuk cairan yang tidak membasahi bejana seperti raksa = 140,
sehingga cos = - 0,766 ( berharga negatip). Akibatnya h memiliki harga negatip
yang berarti cairan mengalami penurunan atau ditekan dalam kapiler. Terjadi
apabila gaya adhesi antara molekul cairan dan dinding kapiler lebih besar daripada
gaya kohesi antar molekul cairan.

4. Metode Lempengan Wilhelmy


Metode ini didasarkan pada gaya yang diperlukan untuk menarik pelat tipis dari
permukaan cairan. Pelat digantung pada salah satu lengan neraca dan dimasukkan
kedalam cairan yang akan diselidiki. Besarnya gaya tarik pada neraca yang
digunakan untuk melepas pelat dari permukaan cairan dicatat. Pada saat pelat
terlepas berlaku hubungan :
F = W + 2 l (2.11)
Sehingga tegangan permukaan dapat dihitung sebagai :
= F 2lW

(2.12) /

Dimana: =teganganpermukaan
F = gaya tarik yang dicatat W = berat lempeng ( pelat ) 1 = lebar lempeng 2 =
faktor karena ada dua permukaan pada lempeng
Dalam metode ini diandaikan sudut kontak = 00, dan pengaruh dari ujung- ujung
lempeng dapat diabaikan

( Yazid, 2005 ).

Pada metode ini, digunakan lempengan mika tipis atau kaca slide mikrosip
yang digantung pada neraca. Pengukuran dapat dilakukan dengan cara statistik
ataupun dengan detasment yang secara akurat diberikan pada persamaan ideal.
Jika pengukurannya dilakukan dengan metode detasmen, prosedurnya hampir sama
dengan metode cincin Du Nouy, tetapi faktor koreksi hanya 0,1 % ( Adamson,
1990).
satu pelat/lempeng yang terbuat dari mika, gelas, atau foil platina yang
ditempatkan vertikal diatas permukaan cairan. Gaya yang dibutuhkan untuk
menarik permukaan pelat tergantung pada tegangan permukaan cairan.
F=2(l+t) cos , = 0 cos =1
Maka =F/2L

, total pelat T diabaikan (T << L)

Keterangan :

F = gaya
L = panjang pelat
= tegangan permukaan

5.Metode berat tetes


Metode ini digunakan untuk mengukur tegangan permukaan udara-cairan dan
antarmuka cair, yaitu dengan mengukur berat tetesan yang jatuh

(Soebagio

2010).

Gejala kapiler adalah gejala yang disebabkan oleh gaya kohesi dari tegangan
permukaan dan gaya adhesi antara zat cair dan tabung kaca, Kohesi adalah gaya
tarik menarik antara partikel partikel yang sejenis. Kohesi dipengaruhi oleh
kerapatan dan jarak antarpartikel dalam zat. Dengan demikian, gaya kohesi zat
padat

lebih

besar

dibandingkan

dengan

zat

cair

dan

gas.

Gaya

kohesi

mengakibatkan dua zat bila dicampurkan tidak akan saling melekat. Contoh
peristiwa kohesi adalah : Tidak bercampurnya air dengan minyak, tidak melekatnya
air raksa pada dinding pipa kapiler, dan air pada daun talas. Sedangkan Adhesi
adalah gaya tarik menarik antara partikel partikel yang tidak sejenis. Gaya adhesi
akan mengakibatkan dua zat akan saling melekat bila dicampurkan. Contohnya :
Bercampurnya air dengan teh/kopi, melekatnya air pada dinding pipa kapiler,
melekatnya tinta pada kertas, dll.

(Soerya,2011).

Penerapan tegangan permukaan dalam kehidupan sehari-hari:


-mencuci dengan air panas jauh lebih bersih dibandingkan dengan air yang
bersuhu normal
-antiseptik yang dipakai untuk mengobati luka,selain dapat mengobati luka
juga dapat membasahi seluruh luka

(Zulfikar ,2008).

Alberty . 2000 . Element of Physical Chemistry. Me Milan.co. London


Bird , Toni . 1993 . Kimia Fisik Untuk Universitas . Jakarta : Gramedia
Lohat , Alexander . 2009 . Tegangan Permukaan. Available online at
http://www.gurumuda.com/tegangan-permukaan.html
Martin, A . 2008 Farmasi Fisik . Jakarta : UI Press . Jakarta
Mohtar

2008

.Tegangan

Permukaan

Available

online

at

http://mohtar.staff.uns.ac.id/files/2008/08/tegangan-permukaan.doc
Muslimah,

Eva

2012

Surfaktan

Available

online

at

http://www.slideshare.net/EvaMuslimahFarmasi/surfaktan
Soebagio, Boesro . 2010 . Kumpulan Bahan Kuliah Farmasi Fisik . bandung
Soerya

2011

Zat

dan

Wujud

Availble

online

at

http://soerya.surabaya.go.id/AuP/eDU.KONTEN/edukasi.net/Fisika/Zat.Wujud/permukaan.html
Zulfikar, Ahmad . 2008 . Tegangan Permukaan Fluida Statis . Available
online at http://www.gudangmateri.com/2008/05/tegangan-permukaanfluida-statis.html

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/
27672/.../Chapter%20II.pdf

----- untuk

yang gak ada dapus tapi ada di teodas

dapetnya dari sini tp semua footnotenya


ada di jurnal kok tp gua gak bawa jurnal