Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH FARMAKOGNOSI

MINYAK ATSIRI

DisusunOleh :
Zainal Muttaqin Djatmiko (J1E109207)
Rifda Rizky Novalinda (J1E113037
Pipin Try Anugerah ( J1E1130.......)
Sinta Astri Widianti (J1E113001)
Dwi Rezky Sumawaty ( J1E113011)
Rimadini Nurmeldya (J1E1130
Rini Noor Mala Ningsih (J1E113017)
Kevin Juli Reksi (J1E113

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2014

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
Sejak dahulu orang telah mengenal berbagai jenis tanaman yang
memiliki bau spesifik. Bau tersebut ditimbulkan oleh bunga, batang, daun,
rimpang,

atau

keseluruhan

bagian

tanaman.

Masyarakat

kemudian

mengenalnya sebagai tanaman beraroma. Bau khas tanaman tersebut ternyata


ditimbulkan secara biokimia sejalan dengan perkembangan proses hidupnya
sebagai suatu produk metabolit sekunder yang disebut dengan minyak atsiri.
Minyak ini dihasilkan oleh sel tanaman atau jaringan tertentu dari tanaman
secara terus menerus sehingga dapat memberi ciri tersendiri yang berbedabeda antara tanaman satu dengan yang lainnya.
Kebutuhan minyak atsiri dunia semakin tahun semakin meningkat
seiring dengan meningkatnya perkembangan industri modern seperti industri
parfum, kosmetik, makanan aroma terapi dan obat-obatan. Minyak atsiri saat
ini sudah dikembangkan dan menjadi komoditas ekspor Indonesia yeng
meliputi minyak atsiri nilam, akar wangi, pala, cengkeh, serai wangi,
kenanga, kayu putih, cendana, lada dan kayu manis. Minyak atsiri bisa
didapatkan dari bahan-bahan diatas yang meliputi pada bagian daun, bunga,
batang dan akar (Feriyanto, 2013).
Minyak atsiri juga dikenal dengan nama minyak terbang atau minyak
eteris (essential oil atau volatile). Indonesia merupakan salah satu negara
penghasil minyak atsiri yang cukup penting di dunia. Melihat perkembangan
permintaan di pasar internasional, minyak atsiri Indonesia mempunyai
prospek yang cerah. Diharapkan para pelaku bisnis minyak atsiri di Indonesia
dapat memanfaatkan peluang tersebut sehingga dapat meningkatkan peranan
ekspornya di pasaran dunia (Kardinan, 2005).
I.2 TUJUAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk:
1. Untuk mengetahui pengertian minyak atsiri
2. Untuk mengetahui sifat-sifat minyak atsiri

3. Untuk memahami proses pembuatan minyak atsiri


4. Untuk mengetahui golongan minyak atsiri
5. Untuk mengetahui tanaman penghasil minyak atsiri

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 PENGERTIAN
Minyak atsiri adalah zat berbau yang terkandung dalam tanaman.
Minyak ini disebut juga dengan minyak menguap, minyak eteris, atau minyak
esensial karena pada suhu biasa atau suhu kamar mudah menguap di udara
terbuka. Istilah esensial dipakai karena minyak atsiri mewakili bau dari
tanaman asalnya. Dalam keadaan segar dan murni tanpa pencemar, minyak
atsiri umumnya tidak berwarna. Namun pada penyimpanan lama minyak
atsiri dapat teroksidasi dan membentuk resin serta warnanya berubah menjadi
lebih tua (gelap). Untuk mencegah supaya tidak berubah warna, minyak atsiri
dihindarkan dari pengaruh cahaya, misalnya disimpan dalam bejana gelas
yang berwarna gelapdan, ditutup rapat, serta disimpan ditempat yang kering
dan sejuk (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Secara kimia, minyak atsiri bukan merupakan senyawa tunggal tetapi
tersusun dari berbagai macam komponen yang secara garis besar terdiri dari
kelompok terpenoid dan fenil propana. Melalui asal usul biosintetik, minyak
atsiri dapat dibedakan menjadi:
- Turunan terpenoid yang terbentuk melalui jalur biosintetis asam asetat
mevalonat. Terpenoid berasal dari senyawa sederhana yang disebut
-

isoprena. Gambar isoprena


Turunan fenil propanoid yang merupakan senyawa aromatik, terbentuk
melalui jalur biosintesis asam sikimat. Fenil propanoid merupakan
gabungan inti benzena (fenil) dan propana

(Gunawan dan Mulyani, 2004).

Gambar 1. Struktur kimia Isopren

Gambar 2. Struktur kimiaFenil propanoid


II.2 SIFAT-SIFAT MINYAK ATSIRI
Minyak atsiri tersusun oleh bermacam-macam komponen senyawa.
Memiliki bau khas, umumnya bau ini mewakili bau tanaman asalnya. Bau
minyak atsiri satu dengan yang lainnya berbeda-beda tergantung dari macam
dan intensitas bau dari masing-masing komponen penyusunnya. Minyak atsiri
mempunyai rasa getir, kadang-kadang berasa tajam, menggigit, memberi
kesan hangat sampai panas atau justru dingin ketika terasa sampai di kulit,
tergantung dari jenis komponen penyusunnya. Keadaan murni atau
belumtercemar oleh senyawa lain, sifat minyak atsiri mudah menguap pada
suhu kamar sehingga bila diteteskan pada selembar kertas maka ketika
dibiarkan menguap, tidak meninggalkan bekas noda pada benda yang
ditempel. Bersifat tidak bisa disabunkan dengan alkali dan tidak bisa berubah
menjadi tengik (rancid). Ini berbeda dengan minyak lemak yang tersusun
oleh asam-asam lemak (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Minyak atsiri bersifat tidak stabil terhadap pengaruh lingkungan, baik
pengaruh oksigen udara, sinar matahari, dan panas karena terdiri dari
berbagai macam komponen penyusun. Indeks bias umumnya tinggi.
Umumnya bersifat optis aktif dan memutar bidang polarisasi dengan rotasi
yang spesifik karena banyak komponen penyusun yang memiliki atom C
asimetrik.Umumnya tidak dapat bercampur dengan air, tetapi cukup dapat
larut hingga dapat memberikan baunya kepada air walaupun kelarutannya
sangat kecil tetapi sangat mudah larut dalam pelarut organik (Gunawan dan
Mulyani, 2004).

II.3 KEBERADAAN MINYAK ATSIRI DALAM TANAMAN


Minyak atsiri terkandung dalam berbagai organ, seperti di dalam
rambut kelenjar (pada famili Labiatae), didalam sel-sel parenkim (misalnya
famili Piperaseae), di dalam saluran minyak yang disebut vittae(famili
Umbelliferae), didalam rongga-rongga skizogen dan lisigen (pada famili
Pinaceae dan Rutaceae), terkandung dalam semua jaringan (pada familli
Coniferae). Pada bunga mawar, kandungan minyak atsiri terbanyak terpusat
pada mahkota bunga, pada kayu manis (sinamon) banyak ditemui di kulit
batang (korteks), pada famili Umbelliferae banyak terdapat dalam perikarp
buah, pada Menthaesp. Terdapat dalam kelenjar batang dan daun, serta pada
jeruk tetdapat dalam kulit buah dan dalam helai daun (Gunawan dan Mulyani,
2004).
Minyak atsiri dapat terbentuk secara langsung oleh protoplasma akibat
adanya penguraian lapisan resin dari dinding sel atau oleh hidrolisis dari
glikosida tertentu. Peranan paling utama dari minyak atsiri terhadap
tumbuhan itu sendiri adalah sebagai pengusir serangga (mencegah daun dan
bunga rusak) serta sebagai pengusir hewan pemakan daun lainnya. Namun
sebaliknya minyak atsiri juga berfungsi sebagai penarik serangga guna
membantu terjadinya penyerbukan silang dari bunga (Gunawan dan Mulyani,
2004).
II.4 METODE ISOLASI MINYAK ATSIRI
Untuk memeriksa minyak atsiri perlu melakukan suatu analisis.
Sebagai standar, dapat menggunakan minyak atsiri yang sama, yang
kualitasnya baik. Analisis dapat dilakukan sendiri atau dilakukan di
laboratorium.
II.4.1 Pemeriksaan organoleptis
Pemeriksaan

organoleptis

dapat

dilakukan

dengan

pemeriksaansendiri,meliputi:
a. Warna
Bila minyak atsiri telah dibebaskan dari air, biasanya tampak
jernih tidak berwarna, kehijauan, atau kekuningan, tergantung dari
tumbuhan asal, metode, dan alat penyulingnya. Biasanya, orang yang

sudah lama berkecimpung dalam perdagangan minyak atsiri dapat


segera mengetahui adanya pemalsuan atau penambahan bahan asing
hanya dengan melihat warna minyak atsiri.
b. Bau
Pemeriksaan bau dapat dilakukan dengan meneteskan minyak
atsiri yang dihasilkan pada ujung dari suatu strip blotting paper (dapat
pula digunakan kertas saring tebal) yang merupakan suatu lembaran
tipis dengan panjang kira kira 10cm dan lebar 1 cm. gunakan dua strip
kertas. Pada ujung strip kertas yang lain, diteteskan minyak dengan
kualitas yang baik (minyak yang digunakan sebagai standar). Kedua
kertas itu dipegang dalam posisi bersilang, kemudian bandingkan
baunya. Minyak atsiri dengan kualitas yang sama akan memberikan
bau yang serupa(Koensoemardiyah, 2010).
Pemeriksaan sifat-sifat fisika dan kimia perlu dilakukan selain
pemeriksaan organoleptis. Tentu saja, hal tersebut dilakukan di laboratorium.
II.4.2 Pemeriksaan Fisika
Pemeriksaan fisika yang biasa dilakukan adalah berat jenis, rotasi
optik, kelarutan dalam alkohol cair, dan indeks bias.
II.4.3 Pemeriksaan Kimia
Pemeriksaan kimia yang dilakukan untuk mengetahui keseluruhan
kandungan minyak atsiri biasanya menggunakan alat yang disebut
kromotografi gas-spektrometri massa. Alat tersebut hanya dimiliki oleh
laboratorium atau industri yang cukup besar. Dari pemeriksaan yang
dilakukan, akan diperoleh data-data hasil pengukuran yang berupa spektra.
Melalui spektra tersebut, seorang ahli dapat mengetahui kandungan apa saja
yang ada dalam minyak atsiri (Koensoemardiyah, 2010).
Minyak atsiri umumnya diisolasi dengan empat metode yang lazim
digunakan ssbagai berikut:
1. Metode Destilasi
Metode destilasi terhadap bagian tanaman yang mengandung
minyak. Dasar dari metode ini adalah memanfaatkan perbedaan titik didih.
Beberapa metode destilasi yang populer dilakukan di berbagai perusahaan
industri penyulingan minyak atsiri, antara lain sebagai berikut:

a. Metode destilasi kering (langsung dari bahannya tanpa menggunakan


air). Metode ini paling sesuai untuk bahan tanaman yang kering dan
untuk minyak-minyak yang tahan pemanasan (tidak mengalami
perubahan bau dan warna saat dipanaskan), misalnya oleoresin dan
copaiba.
b. Destilasi air, meliputi destilasi air dan uap air dan destilasi uap air
langsung. Metode ini dapat digunakan untuk bahan kering maupun
bahan segar dan terutama digunakan untuk minyak-minyak yang
kebanyakan dapat rusak akibat panas kering. Seluruh bahan
dihaluskan kemudian dimasukkan kedalam bejana yang bentuknya
mirip dandang. Dalam metode ini ada beberapa versi perlakuan :
1) Bahan tanaman langsung direbus dalam air.
2) Bahan tanaman langsung masuk air, tetapi tidak direbus. Dari
bawah dialirkan uap air panas.
3) Bahan tanaman ditaruh di bejana bagian atas, sementara uap air
dihasilkan air mendidih dari bawah dandang.
4) Bahan tanaman ditaruh dalam bejana tanpa air dan disempurkan
uap air dari luar bejana.
2. Metode Penyarian
Metode penyarian digunakan untuk minyak-minyak atsiri yang
tidak tahan pemanasan, seperti cendana. Kebanyakan dipilih metode ini
karena kadar minyaknya di dalam tanaman sangat rendah/ kecil. Bila
dipisahkan dengan metode lain, minyaknya akan hilang selama proses
pemisahan. Pengambilan minyak atsiri menggunakan cara ini diyakini
sangat efektif karena sifat minyak atsiri yang larut sempurna di dalam
bahan pelarut organik nonpolar. Metode penyarian dengan menggunakan
pelarut penyari yang cocok. Dasar dari metode ini adalah adanya
perbedaan kelarutan. Minyak atsiri sangatmudah larut dalam pelarut
organik dan tidak larut dalam air.
3. Metode Pengepresan atau pemerasan
Metode pengepresan/ pemerasan dilakukan terutama untuk
minyak-minyak atsiri yang tidak stabil dan tidak tahan pemanasan seperti
minyak jeruk (citrus). Juga terhadap minyak-minyak atsiri yang bau dan
warnanya berubah akibat pengaruh pelarut penyari. Metode ini hanya

cocok untuk minyak atsiri yang rendemennya relatif besar atau cukup
besar. Bila tidak, nantinya akan habis di dalam proses.
4. Metode enfleurage
Metode enfleurage adalah metode penarikan bau minyak atsiri
yang diletakkan pada media lilin. Metode ini digunakan karena diketahui
ada beberapa jenis bunga yang setelah dipetik, enzimnya masih
menunjukkan kegiatan dalam menghasilkan minyak atsiri sampai
beberapa hari/ minggu, misalnya bunga melati, Jasminum sambac,
sehingga perlu perlakuan yang tidak merusak aktivitas enzim tersebut
secara lanngsung. Caranya adalah dengan menaburkan bunga di
hamparan lapisan lilin dalam sebuah kaki besar (1 m x 2 m) dan
ditumpuk-tumpuk menjadi beberapa tumpukan baki yanng saling
menutup rapat. Baki-baki berlapis lilin tersebut dieramkan, dibiarkan
menyerap bau bunga sampai beberapa hari/ minggu. Setiap kali bunga
yang sudah habis masa kerja enzimnya diganti dengan bunga segar.
Demikian seterusnya hingga dihasilkan lilin yang berbau harum (dalam
perdagangan dikenal sebagai pomade). Selanjutnya, pomade dikerok dan
diekstraksi menggunakan etanol seperti lazimnya proses ekstrasi biasa
(Gunawan dan Mulyani, 2004). Cara ini memanfaatkan aktivitas enzim
yang diyakini masih terus aktif selama sekitar 15 hari sejak bahan
minyak atsiri dipanen.
II.5 KANDUNGAN KIMIAWI MINYAK ATSIRI
Tidak satupun minyak atsiri tersusun dari senyawa tunggal, tetapi
merupakan campuran komponen yang terdiri dari tipe-tipe yang berbeda.
Berdasarkan cara isolasinya, komponen penyusun minyak atsiri dapat
dibedakan menjadi beberapa kelompok seperti berikut.
1. Kelompok yang mengkristal pada suhu rendah, misalnya stearoptena.
2. Kelompok senyawa yang dapat dippisahkan melalui proses distilasi
bertingkat.
3. Kelompok sennyawa yang dipisahkan melalui proses kristalisasi
bertingkat.
4. Kelompok senyawa yang pemisahannya dilakukan melalui kromatografi.
5. Kelompok senyawa yang diisolasi melaui proses-proses kimia.

Dengan pesatnya kemajuan instrumentasi analitik, telah dapat


dilakukan identifikasi yang tepat atas komponen-komponen penyusun minyak
atsiri, termasuk konstituen runutannya. Minyak atsiri sebagian besar terdiri
dari senyawa terpena, yaitu senyawa produk alami yang strukturnya dapat
dibagi ke dalam satuan-satuan isoprena. Satuan-satuan isoprena (C5H8) ini
rantai bercabang lima satuan atom karbon yang mengandung 2 ikatan rangkap
(Gunawan dan Mulyani, 2004).
II.7 GOLONGAN MINYAK ATSIRI
Indonesia terletak di daerah tropis yang banyak ditumbuhi tanaman
yang mengandung minyak atsiri. Beberapa diantaranya adalah minyak nilam,
minyak patchouli, minyak kayu manis, minyak cendana (sandalwood),
minyak bunga kenanga, minya kayu putih, minyak adas, minyak daun jeruk
purut, minyak serai, minyak jahe, dan minyak melati. Minyak atsiri yang kini
mulai dikenal adalah minyak lajaguya ( dari tanaman jahe-jahean yang
disebut sebagai Alpinia Malaccensis). Tanaman tersebut semula tidak begitu
diperhatikan, tetapi kini banyak dicari karena minyak hasil penyulingan
rimpangnya mulai diperdagangkan. Selain itu, ada pula minyak kemukus dan
beberapa jenis minyak lainnya. Jumlahnya semakin bertambah karena masih
banyak lagi tanaman penghasil minyak atsiri yang baru (Koensoemardiyah,
2010).

Beberapa jenis minyak atsiri


No.

Komoditas

Nama Latin

1.

Adas

Foeniculum
vulgare

Nama
Dagang
Fennel oil

Kegunaan
Flavor,
rempahrempah,
sabun, krim,

Bagian
Tanaman
Biji

2.

Akar wangi

Vetiveria
zizanioides

Vetiver oil

3.

Bangle

Bangle oil

4.

Cendana

Zingiber
cassummunar
Santalum
album

5.

Cengkih

Syzygium
aromaticum

Clove oil

6.

Gaharu

Aquilaria sp.

Agarwood
oil

7.

Gandapura

Gaultheria
fragrantissim
a

Wintergreen
oil

Sandalwood
oil

parfum,
farmasi, dan
kosmetik
Parfum,sabun
, kosmetik,
bahan fiksatif
(pengikat
bau)
Farmasi
Antibakteri,
antiseptik,
disinfektan,
ekspektoran,
sedatif,
stimulan, dan
refrigeran
Flavor dan
antibiotik
Parfum,
kosmetik, dan
farmasi
Parfum,
farmasi, dan
flavor

Akar

Rimpang
Kulit
batang,
rantai, dan
akar

Daun,
bunga, dan
tangkai
Kulit
batang
Daun dan
tangkai

(Rusli, 2010)
Komponen minyak atsiri adalah senyawa yang bertanggung jawab
atas bau dan aroma yang karateristik serta sifat kimia dan fisika minyak.
Demikian pula peranannya sangat besar dalam menentukan khasiat suatu
minyak atsiri sebagai obat. Atas dasar perbedaan komponen penyusun
tersebut maka minyak atsiri dibagi menjadi beberapa golongan sebagai
berikut.
1. Minyak Atsiri Hidrokarbon
a. Minyak Terpentin
Minyak terpentin diperoleh dari tanaman-tanaman bermarga
pinus (famili Pinaceae) yang terbagi dalam 80-90 jenis.di antara jenisjenis pinus tersebut yang penting dalam perdagangan antara lain Pinus
palustris Miller yang tumbuh di daerah Amerika Selatan dan Amerika
Tenggara, Pinus maritima Lamarck yang tumbuh di daerah Perancis,

Pinus longifolia Roxb. tumbuh di Pakistan dan India, serta Pinus


merkusii L. tumbuh di Indonesia.
Cara pengambilan terpentin pada umumnya disadap dari batang
pohonnya. Setiap sayatan pada lokasi di batang pohon mampu
mengahasilkan batang terpentin selama kurang lebih 4 tahun sebelum
kemudian pindah kesayatan di tempat lain pada batang yang sama.
Aliran sadapan dapat dipercepat dengan cara pemberian rangsangan
pada daerah sayatan. Perangsang berupa asam sulfat 50% yang
merupakan hormon tanaman atau pembunuhan biakan Fusarium sp.
Komponen terpentin sebagian besar berupa asam-asam resin
(hingga 90%), ester-ester dari asam-asam lemak, dan senyawa inerrt
yang netral disebut resena. Sebelum diolah, terpentin mengandung
asam (+)-pimarat dan asam (-)-pimarat. Namun setelah didistilasi,
asam (-)-pimarat mengalami perubahan isomerik menjadi asam abietat
dan pada pemanasan lebih lanjut berubah menjadi asam neo-abietat
yang berbau khas.
Terpentin yang dimurnikan adalah minyak atsiri yang didestiasi
dari oleoresin hasil sadapan pohon pinus dan telah dimurnian dengan
alkali encer untuk menghilangkan tapak-tapak fenol dan asam-asam
resin. Terpentin ini berupa cairan tak berwarna dengan bau khas dan
rasa menggigit. Terpentin larut dalam alkohol, eter, kloroform, dan
asam asetat glasial. Terpentin bersifat optis akti dengan pemutaran
bidang polarisasi bervariasi, tergantung dari spesies pohon yang
menghasilkannya. Minyak terpentin terutama terdiri dari (+) dan (-)-apinena, b-pinena, serta kamfena. Di udara terbuka, terpentin cenderung
teroksidasi membentuk kompleks resin yang berwarna lebih gelap.
Kegunaan terpentin dalam farmasi adalah sebagai obat luar,
melebarkan pembuluh darah kapiler, dan merangsang keluarnya
keringat. Terpentin jarang digunakan sebagai obat dalam.
b. Oleum cubebae
Oleum cubebae adalah minyak atsiri yang diperoleh dari hasil
penyulingan buah Piper cubeba Linn. (Kemukus, famili Piperaceae)
yangdisimpan dalam botol gelap tertutup rapat ditempat sejuk, dan
terlindung dari cahaya.Oleum cubebae dengan bau khas kemukus tidak

boleh berwarna atau sedikit hijau sampai kekuning-kuningan. Bobot


jenis Oleum cubebae pada suhu 25oC adalah 0,905-0,925, larutan
dalam alkohol menunjukkan reaksi netral dalam lakmus.
2. Minyak Atsiri Alkohol
Minyak pipermen merupakan minyak atsiri alkohol yang penting di
antara minyak atsiri alkohol yang lain. Minyak ini dihasilkan oleh daun
tanaman Mentha piperita Linn. (nama daerah: poko, famili Labiatae).
Tanaman ini merupakan herba menahun yang asli dari Eropa. Kini banyak
ditemui di daerah dataran tinggi pegunungan Lawu Tawangmangu, Solo.
Jenis yang berasal dari Jepang adalah Mentha avensis Linn. Var.
Piperacens. Kegunaan dari minyak pipermen antara lain stomachicum,
karminativum, kholagoga, dan emenagogum. Juga untuk korigen odoris
dan pelengkap ramuan obat batuk karena sifatnya sebagai sebagai
ekspektora.
3. Minyak Atsiri Fenol
Minyak cengkeh merupakan minyak atsiri fenol. Minyak ini
diperoleh

dari

tanaman

Eugenia

caryophyllata

atau

Syzigium

caryophyllum(famili Myrtaceae). Bagian tanaman yang dimanfaatkan


adalah bunga dan daun. Namun demikian, bunga lebih utama karena
mengandung minyak atsiri sampai 20%. Minyak cengkeh terutama
tersusun oleh eugenol, yaitu sampai 95% dari jumlah minya atsiri
keseluruhan.
4. Minyak Atsiri Eter Fenol
Minyak adas merupakan minyak atsiri eterfenol. Berasal dari hasil
penyulingan buah Pimpinella anisum atau dari Foeniculum vulgare (famili
Apiaceae dan Umbelliferae). Minyak adas produksi lokal digunakan
sebagai campuran jamu tradisional. Buah dipanen dengan cara dipetik hatihati bersama tangkainya, lalu disabetkan ke sebuah papan supaya buah
rontok. Selanjutnya, buah dikeringkan di bawah sinar matahari dengan
ditutup kain hitam. Minyak adas digunakan dalam pelengkap seddiaan
obat batuk, sebagai korigen odoris untuk menutup bau tidak enak pada
sediaan farmasi dan bahan parfum (Gunawan dan Mulyani, 2004).
5. Minyak Atsiri Oksida
Sirih (Piper betle L.) termasuk tanamanobat yang sering
digunakan,

ini

dikarenakankhasiatnya

untuk

menghentikan

pendarahan,sariawan,

gatal-gatal

dan

lain-lain.

Ekstrak

daunsirih

digunakan sebagai obat kumur dan batuk.Ekstrak daun sirih juga


berkhasiat sebagaiantijamur pada kulit. Khasiat obat inidikarenakan
senyawa

aktif

yang

dikandungnyaterutama

adalah

minyak

atsiri

(Noorcholies, etal., 1997; Heyne, 1987; Moeljatno, 2003).


Minyak atsiri dari daun sirih terdiri dari kavikol, eugenol, dan
sineol, dilihat dari strukturnya senyawa-senyawa tersebut tidak atau
kurang larut dalam pelarut polar, sehingga pada fraksinasi digunakan
pelarut non polar dan semi polar. Saat ini data mengenai aktivitas tanaman
obat lebih banyak didukung oleh pengalaman, belum sepenuhnya
dibuktikan secara ilmiah. Guna pemeliharaan dan pengembangan tanaman
obat maka diperlukan adanya penggalian, penelitian, pengujian, dan
pengembangan obat tradisional, tidak terkecuali sirih yang cukup terkenal
sebagai obat mujarab itu (Noorcholies, et al., 1997; Moeljatno, 2003).
Berdasarkan uji pendahuluan yang dilakukan diketahui bahwa minyak
atsiri dapat meredam radikal bebas melalui uji aktivitas peredaman radikal
bebas secara UV-Tampak yaitu sebesar 81,91% (Parwata, 2009)

Gambar 3. Struktur Kimia Kavikol

Gambar 4. Struktur Kimia Eugenol

Gambar 5. Struktur Kimia 1,8 - Sineol


6. Minyak Atsiri Ester
Minyak gondoputro merupakan atsiri ester. Minyak atsiri ini
diperoleh dari isolasi daun dan batang Gaultheria procumbens L. (familli
Erycaceae). Komponen utama minyak atsiri gondoputro adalah metil
salisilat yang merupakan bentuk ester. Keberadaan komponen penyusun
minyak yang lain mengakibatkan terjadinya perbedaan bau antara minyak
gondoputro alami dengan yang dibuat secara sistentik( Gunawan dan
Mulyani, 2004).
Dari sekian banyak minyak atsiri diatas yang selama ini mulai tidak
dikembangkan

adalah

minyak

atsiri

serai

wangi,

karena

untuk

mendapatkan minyak atsiri tersebut menggunakan hydro destillation dan


steam destilation membutuhkan waktu yang relatif lama yaitu sekitar 4-7
jam. Serai wangi selama ini masih mendominasi dan lebih umum diambil
minyaknya dibanding golongan serai lainnya (Feriyanto, 2013).
II.8 Tanaman yang Mengandung Minyak Atsiri
a. Nilam (Pogostemon cablin Benth)
Famili : Labaiatae
Bagian tanaman : Daun (Pogostemon Folium)
Digunakan : Untuk industri kosmetik, parfum, antiseptik dan lain-lain
(Nuryani, 2006)

Gambar 6. Daun Nilam


b. Sirih (Piper bettle Linn.)
Famili : Piperaceae
Bagian tanaman : Daun (Piperis folium)

Digunakan : obat batuk, asma, hidung berdarah (mimisan), mulut berbau,


kepala pusing, demam nifas, gusi bengkak (getah) dan minyak atsirinya
untuk radang tenggorokan
(Febriyati, 2010)

Gambar 7. Daun Sirih


c. Kencur (Caempreria galanga)
Suku : Zingiberaceae
Bagian tanaman : akar (Caempreria radix)
Digunakan : antiinflamasi, bahan baku industri obat tradisional, bumbu
dapur, bahan makanan, dan minuman penyegar
(Hasanah, 2011)

Gambar 8. Kencur
d. Kunyit (Curcuma domestica)
Famili : Zingiberaceae
Bagian tanaman : Rimpang (Curcuma rhizoma)
Digunakan : antiinflamasi, antioksidan, antipoliferasi
(Muniroh, 2010).

Gambar 9. Kunyit
e. Jahe (Zingiber officinale)
Famili : Zingiberaceae
Bagian tanaman : Rimpang (Zingiber rhizoma)

Digunakan : Antiinflamsi, antioksidan, antipiretik, antelmintik, mengobati


masuk angin, flu, batuk, panu, gatal-gatal dan rematik
(Syahriandi, 2011)

Gambar 10. Jahe


II.9 PENGGUNAAN MINYAK ATSIRI
Alam Indonesia sangat kaya tumbuhan yang mengandung minyak
atsiri. Minyak atsiri dalam tumbuhan memegang peranan penting bagi
kesehatan. Di Indonesia, penggunaan minyak atsiri bisa melalui berbagai
cara:
1. Melalui mulut atau dikonsumsi(oral), antara lain berupa jamu yang
mengandung minyak atsiri atau bahan penyedap makanan(bumbu)
2. Pemakaian luar (tropical/external use). Antara lain pemijatan lulur, obat
luka/memar, parfum/pewangi.
3. Pernapasan (inhalasi atau aroma terapi), antara lain wangi-wangian
(parfum) atau aromatika untuk keperluan aromaterapi
4. Pestisida nabati, antara lain sebagai pengendali hama lalat buah, pengusir
(repel-lent) nyamuk dan anti jamur
(Kardinan, 2005).
Minyak atsiri digunakan sangat banyak, tergantung dari jenis
tumbuhan yangdiambil hasil sulingannya. Minyak atsiri digunakan sebagai
bahan baku dalam perisa maupun pewangi (flavour and fragrance
ingredients). Industri kosmetik dan parfum menggunakan minyak atsiri
kadang sebagai bahan pewangi pembuatan sabun, pasta gigi, samphoo, lotion
dan parfum. Industri makanan menggunakan minyak atsiri setelah mengalami
pengolahan sebagai perisa atau menambah cita rasa. Industri farmasi
menggunakannya sebagai obat anti nyeri, anti infeksi, pembunuh bakteri.
Fungsi minyak atsiri sebagai fragrance juga digunakan untuk menutupi bau
tak sedap bahan-bahan lain seperti obat pembasmi serangga yang diperlukan
oleh industri bahan pengawet dan bahan insektisida(Gunawan, 2009).

DAFTAR PUSTAKA
Febriyati, 2010. Analisis Komponen Kimia Fraksi Minyak Atsiri Daun Sirih
(Piper bettle Linn.) dan Uji Aktivitas Antibakteri Terhadap Beberapa Jenis
Bakteri Gram Positif. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Jakarta.
Feriyanto, Y.K, P.J. Sipahutar, Mahfud & P. Prihatini. 2013. Pengambilan Minyak
Atsiri dari Daun dan Batang Serai Wangi (Cymbopogon winterianus)
Menggunakan Metode Distilasi Uap dan Air dengan Pemanasan
Microwave. Jurnal Teknik POMITS. Vol. 2. No. 1. ISSN : 2337-3539.
Gunawan, Didik., & Sri Mulyani. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid 1.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Hasanah, A. N. 2011. Analisis Kandungan Minyak Atsiri dan Aktivitas
Antiinflamsi Ekstrak Rimpang Kencur(Kaempferia galanga L.). Jurnal
Matematika & Sains. Vol. 16 Nomor 3.
Kardinan, Agus. 2005.Tanaman Penghasil Minyak Atsiri. Agro Media Pustaka.
Jakarta.
Konsoemardiyah. 2010. A to Z Minyak Atsiri untuk Industri
Makanan, Kosmetik, dan Aromaterapi. Andi Publisher.
Yogyakarta

Nuryani, Y. 2006. Budidaya Tanaman Nilam (Pogostemon cablin


Benth.). Balai Penelitian Tanaman Rempah Dan Aromatik

Parwata, I.M Oka Adi., et al. 2009. Isolasi dan Uji Antiradikal Bebas Minyak
Atsiri pada Daun Sirih (Piper betle) Secara Spektroskopi Ultra VioletTampak. Jurnal Kimia 3 (1) : 7-13.
Rusli, Meike Syahbana. 2010. Sukses Memproduksi Minyak
Atsiri,Agro Media Pustaka. Jakarta.

Syahriandi, A. 2011. Analisa Kandungan Minyak Atsiri Pada


Rimpang Jahe (Zingiber officinale Rose) yang Di Induksi
dengan Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA). Fakultas Farmasi
Universitas Andalas. Padang