Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I
PENDAHULUAN
Varicella adalah infeksi akut primer oleh virus Varicella Zoster (VVZ)
yang menyerang kulit dan mukosa, klinis terdapat gejala konstitusi, kelainan kulit
polimorf, terutama berlokasi dibagian sentral tubuh. Varicella juga dikenal sebagai
cacar air atau chicken pox. 1,2
Varicella merupakan penyakit yang tersebar luas diseluruh dunia
menyerang terutama anak-anak, namun dapat pula menyerang orang dewasa.
Epidemik Varicella terjadi pada musim dingin dan musim semi, tercatat lebih dari
4 juta kasus, 11.000 rawat inap, dan 100 kematian tiap tahunnya. Di Indonesia,
insidennya cukup tinggi dan terjadi secara sproradis sepanjang tahun. Varicella
merupakan penyakit serius dengan persentasi komplikasi dan angka kematian
tinggi pada dewasa, serta orang imun yang terkompromi. Pada rumah tangga,
presentasi penularan dari virus ini berkisar 65%-86%. VVZ merupakan infeksi
yang sangat menular dan menyebar biasanya dari oral, udara atau sekresi respirasi
dan terkadang melalui transfer langsung dari lesi kulit melalui transmisi
fetomaternal.2,3
Virus Varicella Zoster (VVZ) merupakan anggota famili herpesviridae dan
sub famili alfa herpes. Penamaan virus ini memberi pengertian bahwa infeksi
primer virus ini menyebabkan Varicella, sedangkan reaktivasi menyebabkan
herpes zoster.2 Berdasarkan gejala klinisnya, Varicella memiliki tiga stadium yang
terdiri dari:
1. Stadium Prodromal
Biasanya 2 3 hari dan bervariasi seperti demam yang tidak terlalu
tinggi, malase, dan nyeri kepala, batuk, sakit tenggorokan, gatal
bervariasi dari ringan hingga berat.
2. Stadium Erupsi
Pada mulanya timbul erupsi kulit berupa papul eritematosa yang dalam
waktu beberapa jam berubah menjadi vesikel. Bentuk vesikel ini
berupa tetesan embun (tear drops) dan kemudian menjadi pustul dan
krusta. Sementara proses ini berlangsung, timbul lagi vesikel-vesikel

yang baru sehingga menimbulkan gambaran polimorf. Penyebarannya


terutama didaerah badan, kemudian menyebar secara sentrifugal ke
wajah dan ekstremitas, serta dapat menyerang selaput lendir mata,
mulut, dan saluran napas bagian atas.
3. Stadium Penyembuhan
Masa penyembuhan sekitar 2 minggu dan pelepasan krusta bervariasi
dalam 2 hari sampai 2 minggu.
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pemeriksaan Tzanck dengan
pewarnaan Giemsa. Bahan diambil dari kerokan dasar vesikel dan akan didapati
sel datia berinti banyak.2
Pengobatan biasanya bersifat simptomatik, dengan pemberian antipiretik
dan analgesik. Anti histamin oral dapat diberikan untuk menghilangkan rasa gatal,
sedangkan pemberian anti virus dapat memperpendek perjalanan penyakit.2
Prognosis penyakit ini ditentukan oleh perawatan yang teliti dan
komplikasi yang mungkin timbul, namun pada umumnya prognosisnya baik.
Berikut ini dilaporkan kasus Varicella pada seorang perempuan berumur 3
tahun yang datang berobat ke Puskesmas Kalidoni pada tanggal 11 Mei 2015.

BAB II
KASUS
Nama Penderita
Umur
Alamat

: Putri Anggraini
: 3 tahun.
: Jalan Mayor Zen Lrg. Harapan Jaya II No. 4

Jenis Kelamin
Dokter Muda Pembina

Kalidoni
: Perempuan.
: Zahra Kamilah, S.Ked

A. Anamnesis
(Alloanamnesis pada Tanggal 12 Mei 2015 pukul 16.00 WIB)
Keluhan Utama
Bintil-bintil berisi cairan jernih pada punggung dan kaki.
Keluhan Tambahan
Gatal pada bintil-bintil
Riwayat Perjalanan Penyakit
Pasien datang dengan keluhan timbul bintil-bintil berisi air sejak dua hari.
Awalnya, ibu pasien melihat anaknya menggaruk garuk daerah punggung.
Kemudian ibu pasien melihat daerah punggung anaknya dan menemukan
bintil bintil berisi air pada punggung. Bintil-bintil juga ditemukan pada
kaki. Ibu pasien mengatakan keluhan tersebut juga disertai batuk dan pilek
sejak 4 hari sebelum berobat ke Puskesmas dan disertai demam. Ibu pasien
mengatakan hal ini baru dialami pertama kali oleh anaknya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga


-

Riwayat keluhan yang sama dengan pasien (+), ibu pasien

B. Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Kompos mentis.

Tekanan darah

: Tidak dilakukan

Nadi

: 80x/menit.

Pernapasan

: 22 x/menit.

Suhu

: 37,40C.

Berat badan

: 12 kg.

Keadaan Spesifik
Kepala
Kulit kepala

: Tidak ada kelainan.

Mata

: Konjungtiva palpebra tidak anemis,


sklera ikterik tidak ada, mata cekung tidak
ada

Hidung

: Sekret tidak ada, septum deviasi tidak ada.

Telinga

: CAE lapang, sekret (-), MT intak.

Tenggorokan

: Arcus faring simteris, uvula di tengah,


tonsil

T1-T1

tenang,

dinding

faring

posterior tidak hiperemis, tidak bergranula.


Mulut dan mukosa

: Tidak ada kelainan

Leher

: Tidak ada kelainan

Thoraks

: Statis dinamis simetris, retraksi tidak ada

Cor

: Bunyi Jantung I-II normal, murmur tidak


ada, gallop tidak ada

Pulmo

: Suara napas vesikuler (+), ronkhi tidak ada,


wheezing tidak ada

Abdomen

: Datar, lemas, hepar dan lien tidak teraba,


bising usus (+) normal.

Ekstremitas

: Akral hangat, edema tidak ada, CRT < 2

KGB

: Tidak ada pembesaran KGB di regio coli,


aksila dan inguinal

Status Dermatologikus
Regio trunkus posterior : vesikel, multipel, ukuran miliar - lentikuler, diskret
sebagian konfluen; sebagian terdapat erosi dan krusta kecoklatan tidak mudah di
lepas.

Regio coli pedis sinistra: vesikel, ukuran lentikuler.

C. Diagnosis Banding
Varicella
Herpes simplek disseminata
Coxsackievirus
D. Diagnosis Kerja
Varicella
E. Terapi
Non-medikamentosa:
1. Menjelaskan kepada ibu pasien agar jangan mengaruk dan memecahkan
bintil-bintil tersebut karena dapat menimbulkan bekas luka garukan di
kulit. Menaburkan bedak pada bintil.
2. Jaga kebersihan badan dengan tetap mandi walaupun masih banyak
terlihat bintil-bintil. Jangan menggosokkan handuk terlalu kencang.
3. Pasien dianjurkan untuk istirahat dirumah, mengindari kontak dengan
kerabat selama beberapa hari untuk mencegah penularan.

Medikamentosa:
Sistemik:

Acyclovir (4x 20mg/kgBB) BB = 12 kg 240 mg. Dosis pemberian : 4


x 60 mg/hari (selama 5 hari).

CTM (0.25 mg/kgBB/hari) BB = 12 kg 3 mg / hari. Dosis pemberian :


3 x 1 mg/ hari (selama 5 hari).
o Kedua obat dibuat dalam sediaan puyer.

Topikal :

Bedak salisil 2%, taburkan 2x/hari pada bintil yang belum pecah.
Gentamisina Sulfat Cream 1%, oleskan 2x/hari pada bekas bintil yang
pecah.

F. Prognosis
Quo ad Vitam

: Bonam

Quo ad Functionam

: Bonam

Quo ad Sanationam

: Bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Varicella
Varicella (Cacar Air) adalah penyakit infeksi yang umum yang
biasanya terjadi pada anak-anak dan merupakan akibat dari infeksi primer
Virus Varicella Zoster. Varicella pada anak, mempunyai tanda yang khas
berupa masa prodromal yang pendek bahkan tidak ada dan dengan adanya
bercak gatal disertai dengan papul, vesikel, pustula, dan pada akhirnya,
crusta, walaupun banyak juga lesi kult yang tidak berkembang sampai
vesikel.4

Normalnya pada anak, gejala sistemik biasanya ringan. Komplikasi


yang serius biasanya terjadi pada dewasa dan pada anak dengan defisiensi
imunitas seluler, dimana penyakit dapat bermanifestasi klinis berupa, erupsi
sangat luas, gejala konstitusional berat, dan pneumonia. Terdapat
kemungkinan fatal jika tidak ada terapi antivirus yang diberikan. 5
Vaksin Live Attenuated (Oka) mulai diberikan secara rutin pada anak
yang sehat diatas umur 1 tahun 1995. Setelah itu, insidensi varisella dan
komplikasinya mulai menurun di Amerika Serikat. Telah banyak negara
bagian yang mewajibkan vaksin ini diberikan sebagai syarat masuk
sekolah.5
Herpes Zooster disebabkan oleh reaktivasi dari Virus Varisela Zooster
yang oleh penderita varisela. Herpes Zooster ini ditandai dengan lesi
unilateral terlokalisasi yang mirip dengan cacar air dan terdistribusi pada
syaraf sensoris. Biasanya lebih dari satu syaraf yang terkena dan pada
beberapa pasien dengan penyebaran hematogen, terjadi lesi menyeluruh
yang timbul setelah erupsi lokal. Zoster biasanya terjadi pada pasien dengan
immunocompromised, penyakit ini juga umum pada orang dewasa daripada
anak-anak. Pada dewasa lebih sering diikuti nyeri pada kulit. 4

2.2 Epidemiologi Varicella


Sebelum pengenalan vaksin pada tahun 1995, varisella merupakan
penyakit infeksi paling sering pada anak-anak di USA. Kebanyakan anak
terinfeksi pada umur 15 tahun, dengan persentasi dibawah 5% pada orang
dewasa. Epidemik Varicella terjadi pada musim dingin dan musim semi,
tercatat lebih dari 4 juta kasus, 11.000 rawat inap, dan 100 kematian tiap
tahunnya.

Varicella

merupakan

penyakit

serius

dengan

persentasi

komplikasi dan kematian tinggi pada balita, dewasa, dan dengan orang imun
yang terkompromi. Pada rumah tangga, persentasi penularan dari virus ini
berkisar 65%-86%.6

Manusia merupakan host alami yang diketahui untuk VZV, dimana


dikaitkan dengan dua bentuk kesakitan- yang bentuk primer sebagai varisela
(chickenpox) dan bentuk sekunder sebagai herpes zoster. VZV merupakan
infeksi yang sangat menular dan menyebar biasanya dari oral udara atau
sekresi respirasi atau terkadang melalui transfer langsung dari lesi kulit
melalui transmisi fetomaternal. Serangan sekunder meningkat pada kontak
rumah yang rentan melebihi 85%.5
Pada iklim temperatur, angka infeksi enunjukkan variasi musiman
yang ditandai, dengan epidemis pada musim dingin akhir dan awal musim
semi. Sebaliknya, tidak ada variasi musiman yang terlihat pada iklim tropis.
Alasan untuk perbedaan penandaan ini tidaklah jelas, meskipun telah
didukung dengan pemanasan, dan kurangnya peningkatan paparan pada
virus dalam bulan musim hangat dapat menyebabkan beberapa perbedaan.
Di india, disamping dekat dengan perbataan, angka rendah yang tidak
terduga melalui transmisi antar rumah telah didokumentasikan sebesar 80%.
Di Singapura, varicella timbul dalam dua epidemis besar yang terpisah
selama 23 tahun.6
Meskipun infeksi primer asimptomatik adalah jarang, studi serologis
mendukung bahwa reinfeksi subklinis adalah sering. Jarangnya, pasien
dengan imunokompeten dapat mengalami episode kedua dari varicella.
Varicella dalam iklim temperatur lebih sering timbul pada usia sebelum
sekolah dan anak usia sekolah kurang dari usia 10 tahun dengan insidensi
tertinggi pada kelompok usia 3-6 tahun. Disamping prevalensi varisela pada
anak-anak, beberapa orang pada iklim temperatur dapat menenai orang
dewasa tanpa adanya paparan : sebuah studi rekrut militer di United States
pada era prevaksin menunjukkan bahwa 8% tentara yang direkrut adalah
seronegatif, dengan peningkatn angka seronegative pada non kulit putih dan
lebih tinggi angka seronegative pada tentara yang asalnya di luar United
States.7
2.3 Etiologi Varicella

Varicella disebabkan oleh Varicella Zooster Virus (VZV) yang


termasuk kelompok Herpes Virus dengan diameter kira-kira 150 200 nm.
Inti virus disebut capsid yang berbentuk icosahedral, terdiri dari protein dan
DNA yang mempunyai rantai ganda yaitu rantai pendek (S) dan rantai
panjang (L) dan merupakan suatu garis dengan berat molekul 100 juta dan
disusun dari 162 capsomer. Lapisan ini bersifat infeksius. 4
Varicella Zoster Virus dapat menyebabkan varicella dan herpes zoster.
Kontak pertama dengan virus ini akan menyebabkan varicella, oleh karena
itu varicella dikatakan infeksi akut primer, sedangkan bila penderita
varicella sembuh atau dalam bentuk laten dan kemudian terjadi serangan
kembali maka yang akan muncul adalah Herpes Zoster. 4
2.4 Patogenesis
Virus Varicella Zooster masuk dalam mukosa nafas atau orofaring,
kemudian replikasi virus menyebar melalui pembuluh darah dan limfe
( viremia pertama ) kemudian berkembang biak di sel retikulo endhotellial
setelah itu menyebar melalui pembuluh darah (viremia ke dua) maka
timbullah demam dan malaise.7
Permulaan bentuk lesi pada kulit mungkin infeksi dari kapiler
endothelial pada lapisan papil dermis menyebar ke sel epitel pada epidermis,
folikel kulit dan glandula sebacea dan terjadi pembengkakan. Lesi pertama
ditandai dengan adanya makula yang berkembang cepat menjadi papula,
vesikel da akhirnya menjadi crusta. Jarang lesi yang menetap dalam bentuk
makula dan papula saja. Vesikel ini akan berada pada lapisan sel dibawah
kulit. Dan membentuk atap pada stratum korneum dan lusidum, sedangkan
dasarnya adalah lapisan yang lebih dalam.7
Degenarasi sel akan diikuti dengan terbentuknya sel raksasa berinti
banyak, dimana kebanyakan dari sel tersebut mengandung inclusion body
intranuclear type A.7
Penularan secara airborne droplet. Virus dapat menetap dan laten pada
sel syaraf. Lalu dapat terjadi reaktivitas maka dapat terjadi herpes Zooster. 4

10

2.5 Gejala Klinis


Gejala mulai timbul dalam waktu 10-21 hari setelah terinfeksi pada
anak-anak yang berusia diatas 10 tahun, gejala awalnya berupa sakit kepala
demam sedang dan rasa tidak enak badan, gejala tersebut biasanya tidak
ditemukan pada anak-anak yang lebih musa. Pada permulaannya, penderita
akan merasa sedikit demam, pilek, cepat merasa lelah, lesu, dan lemah.
Gejala-gejala ini khas untuk infeksi virus. Pada kasus yang lebih berat, bisa
didapatkan nyeri sendi, sakit kepala dan pusing. Beberapa hari kemudian
timbullah kemerahan pada kulit yang berukuran kecil yang pertama kali
ditemukan di sekitar dada dan perut atau punggung lalu diikuti timbul di
anggota gerak dan wajah. 4
Kemerahan pada kulit ini lalu berubah menjadi bintil berisi cairan
dengan dinding tipis. Ruam kulit ini mungkin terasa agak nyeri atau gatal
sehingga dapat tergaruk tak sengaja. Jika bintil ini dibiarkan maka akan
segera mengering membentuk keropeng (krusta) yang nantinya akan
terlepas

dan

meninggalkan

bercak

di

kulit

yang

lebih

gelap

(hiperpigmentasi). Bercak ini lama-kelamaan akan pudar sehingga beberapa


waktu kemudian tidak akan meninggalkan bekas lagi. 6
Lain halnya jika bintil cacar air tersebut dipecahkan. Krusta akan
segera terbentuk lebih dalam sehingga akan mengering lebih lama. kondisi
ini memudahkan infeksi bakteri terjadi pada bekas luka garukan tadi. setelah
mengering bekas cacar air tadi akan menghilangkan bekas yang dalam.
Terlebih lagi jika penderita adalah dewasa atau dewasa muda, bekas cacar
air akan lebih sulit menghilang. 6
Papula di mulut cepat pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus),
yang sering menyebabkan gangguan menelan. Ulkus juga dapat ditemukan
di kelopak mata, saluran pernapasan bagian atas, rectum dan vagina.7
Papula pada pita suara dan saluran pernapasan atas kadang
menyebabkan gangguan pada pernapasan. Bisa terjadi pembengkakan
kelenjar getah bening dileher bagian samping. Cacar air jarang
menyebabkan pembentukan jaringan parut, kalaupun ada hanya berupa

11

lekukan kecil di sekitar mata. Luka cacar air bisa terinfeksi akibat garukan
dan biasanya disebabkan oleh staphylococcus.7
Anak-anak biasanya sembuh dari cacar air tanpa masalah. Tetapi pada
orang dewasa maupun penderita gangguan sistem kekebalan, infeksi ini bisa
berat atau bahkan berakibat fatal.7
Pada anak sehat yang sebelumnya nirmal, penyakit ini secara umum
dan biasanya jinak, dengan komplikasi yang paling sering adalah infesi
sekunder bakteri dari lesi kult. Jaringan parut merupakan komplikasi lain
yang sering. Komplikasi neurologis meliputi encephalitis dan ataxia
cerebellar akut. Varisela encephalitis dengan insiden 0,1% secara umum
tampak mengalami nyeri kepala, kejang, pola pemikiran yang terganggu,
dan muntah, dengan angka mortalitas sebear 5 hingga 20%. Ataxia serebelar
akut sedikit lebih jarang (0,025% insidensi) dibandingkan ensefalitis dan
secara umum tampak dalam 1 minggu ruam dengan ataxia, muntah,
pembicaraan yang terganggu, vertigo, dan atau tremor, dengan resolusi
dalam 2 hingga 4 minggu.7
Pada anak defisiensi imun atau kurang gizi yang tidak ditangani
dengan asiklovir intravena, angka kematian berkisar antara 15 hingga 18%.
Kasus ini dikarakteristikan dengan penyebaran, dengan pneumonia,
miokarditis, artritis, hepatitis, perdarahan, dan ensefalopaty (ataxia serebelar
lebih sering). Super infeksi lesi kulit dengan Staphylococcus aureus atau
Streptococcus pyogenes dapat menyebabkan pioderma, impetigo, erysipelas,
nephritis, gangrene, atau sepsis. Pada tropis Amerika, varisella pada anak
usia muda, anak kekurangan gizi dapat berkomplikasi menjadi diare berat. 3
Orang dewasa tampak mempunyai penyakit yang lebih berat
dibandingkan dengan anak-anak. Dengan peningkatan 15 kali lipat pada
mortalitasnya. Varisella onset dewasa lebih sering berkomplikasi dengan
pneumonitis dan ensefalitis, dengan secara klinis pneumonitis lebih dari 15
% kasus.7
Orang dari area tropis yang pindah ke area temperatur berada dalam
resiko untuk varisela onset dewasa, terutama jika kontak dengan anak usia
muda. Varisela ibu pada gestasi awal menimbulkan secara jarang ke sindrom

12

varisela kongenital yang ditandai dengan defek kulit, atrofi ekstremitas, dan
disfungsi sistem otonom. Maternal varisela pada gestasi akhir dapat
menimbulkan varisela neonatus, dengan angka mortalitas sama tingginya
dengan 30% pada bayi yang tidak diterapi.7
Infeksi VZV rekuren bermanifestasi sebagai herpes zoster (shingles),
sebuah penyakit yang biasanya terlihat pada orang dewasa dengan usia lebih
dari 50 tahun. Data menunukkan perbedaan rasial dalam resiko timbulnya
zoster, dengan orang tua kulit putih lebih sering berada dalam resiko
dibandingkan dengan orang tua berkulit hitam. Zoster juga dapat timbul
jarang pada anak-anak. Zoster pada pasien imunnocompromise dapat
menjadi lebih berat.7
Peningkatan insidensi zoster pada usia sama halnya dengan pasien
imunocompromised

dikarenakan

penurunan

anti-VZV

cell-mediated

immunity. Menariknya, ada bukti bahwa paparan pada orang yang


seropositive terhadap varisela terlindungi dari perkembangan zoster, tertama
dengan menambah respon imunnya. Setelah infeksi primer, VZV (seperti
HSV) timbul pada keadaan latent dengan ganglia saraf kranial dan spinal.
Stimuli non spesifik seperti stress, imunodefisiensi atau malignansi dapat
mengaktivasi virus laten dengan keterlibatan distribusi saraf yang disalurkan
melalui ganglion yang terkena. Herpes zoster timbul setelah 3- to 4-day
gejala prodromal demam, lesu, dan gangguan gastrointestinal dan erupsi
vesikular kutaneus yang nyerei pada distribusi dermatomal. Ruam biasanya
unilateral dan sepanjang hanya satu dermatom. Pada kasus yang berat,
erupsi dapat menjadi lebih umum dan variseliform. Vesikel sembuh dalam 5
hari, tetapi postherpetic neuralgia dapat saja ada. Postherpetic neuralgia,
terlihat pada lebih dari 50% pasien diatas 50 tahun, didefinisikan sebagai
nyeri konstan atau intermiten lebih dari durasi satu bulan pada area yang
melibatkan

dermatom.

Infeksi

dari

mata,

Herpes

zoster

ophthalmicusmerupakan kondisi yang serius karena dapat menyebabkan


kebutaan. Sindroma Ramsay Hunt didefinisikan sebagai keterlibatan trias
dari meatus auditorius eksternal, hilangnya rasa pada lidah dan palsy fasialis

13

ipsilateral.

Keterlibatan

dari

medula

spinalis

dapat

menyebabkan

kelumpuhan atau palsy saraf kranial.8


Resiko dari ensefalitis meningkat pada orang tua dengan keterlibatan
saraf kranial dan pada pasien AIDS. Postzoster ensefalitis dapat timbul
dalam 3 bentuk : infark yang dikarenakan vaskulitis pembuluh darah besar,
leukoensefalopati multifokal dan ventrikulitis.8
2.6 Diagnosis
Diagnosis klinik varisela pada anak-anak, saat ini variola (smallpox)
telah dieradikasi, biasanya tidaklah sulit. Ruam mempunyai karakteristik
dan jarangkali dibutuhkan untuk dibedakan dari eksantem enterovral, infeksi
S. aureus, rekasi obat, dermatitis kontak dan penyebaran infeksi HSV-1.
Diagnosis dengan kultur dari cairan vesikel kurang sensitif untuk HSV atau
CMV dan dapat membutuhkan waktu 7 hari.5
Metode ini telah diganti dengan metode shellvial sensitive dan ebih
cepat, dimana hasilnya diberikan dalam waktu 1-3 hari. Deteksi yang lebih
cepat, sensitif, dan spedifik dapat membentu sistem dasar kultur dimasa
depan sebagaimana pewarnaan PCR multiple menjadi lebih sering untuk
digunakan. Mengambil dasar vesikel mungkin dapat menunjukkan sel
raksasa multinukleasi, dimana tidak dapat jelas dibedakan dari HSV.
Bagaimanapun, immunofluorescence pada kultur atau mengambil dengan
menggunakan antibodi spesifik dapat membedakan antara HSV-1, HSV-2,
dan VZV. Deteksi serologis IgM dan tingginya titer atau empatkali
peningkatan IgG anti VZV antibodi dapat berguna dalam beberapa kasus.5
Deteksi dari IgM dapat meunjukkan infeksi primer (chicken pox),
dimana

baik

tinggi

titernya

atau

empat

kali

peningkatan

igG

mengindikasikan rekurensi. Bagaimanapun, peningkatan IgM juga dapat


terlihat pada rekurensi. Diagnosis klinis herpes zoster virus pada orang
dewasa juga biasanya tidak sulit dalam memberikan karakteristik pola
dermatom.5
2.7 Diagnosis Banding

14

Differensial diagnosis dari infeksi varicella sendiri termasuk infeksi


yang dapat menimbulkan vesikular exanthema, seperti infeksi herpes secara
umum, hand-foot-mouth infection dan exanthema enteroviral lainnya.
Dahulu, variola dan vaccinia merupakan differensial diagnosis yang penting
namun infeksi ini sudah sangat jarang ditemukan. Herpes simpleks dapat
dibedakan

dari

pengelompokan

vesikelnya,

lokasi,

dan

tes

immunoflorescent atau kultur, jika perlu. Tes Tzanck dapat membantu


membedakan varicella dengan enteroviral penyebab exanthem lainnya
dengan memperlihatkan multinucleated giant cell pada infeksi Herpes
zoster.6
2.8 Pemeriksaan Laboratorium

Pada pemeriksaan darah tidak memberikan gambaran yang spesifik.

Untuk pemeriksaan varicella bahan diambil dari dasar vesikel dengan


cara kerokan an dicat dengan Giemsa dan Hematoksilin Eosin, maka
akan terlihat sel-sel raksasa (giant cell) yang mempunyai inti banyak
dan epitel sel berisi Acidophilic Inclusion Bodies atau dapat juga
dilakukan pengecatan dengan pewarnaan imunofluoresen, sehingga
terlihat antigen virus intrasel.

Isolasi virus dapat dilakukan dengan menggunakan fibroblast pada


embrio manusia. Bahan diambil dari kerokan dasar vesikel, kadangkadang ada darah.

Antibodi terhadap varicella dapat dideteksi dengan pemeriksaan


Complemen Fixation Test, Neurailization Test, FAMA, IAHA, dan
ELISA.6

2.9 Tatalaksana
Meskipun vidarabine dan interferon- telah digunakan pada terapi
infeksi VZV yang berat, asiklovir tetaplah merupakan obat pilihan.
Asiklovir lebih efektif pada infeksi VZV yang berat jika diberikan secara
intravena dalam 24 jam setelah timbul ruam. Terapi asiklovir oral dari anak

15

sehat dengan chickenpox sebaiknya dipertimbangkan , terutama pada remaja


dan kontak dengan orang rumah secara sekunder, meskipun keuntunggannya
tetap ada. Dikarenakan strain resisten asiklovor pada pasiein dengan AIDS,
foscaranet harus dipertimbangkan untuk infeksi berat dalam keadaan ini.6
Untuk herpes zoster, obat pilihan adalah famciclovir dan valacyclovir.
Terapi awal dari zoster telah menunjukkan untuk memperpendek perjalan
penyakit kutaneus dan menurunkan durasi serta keparahan post herpetil
neuralgia. Steorid topikal juga dapat berguna pada uveitis herpetik dan
keratitis. Zoster yang sangat nyeri dapat diterapi dengan kompres basah dan
analgesik

yang menganduk

kodein.

Gabapentin,

analog struktural

neurotransmitter gamma-aminobutyric acid, berguna dalam mengatasi


postherpetic neuralgia. Antihistamin dapat berguna untuk menyingkirkan
rasa gatal varisella pada anak-anak.4
Untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah penggarukan, sebaiknya
kulit dikompres dingin. Bisa juga dioleskan losyen kalamin, antihistamin
atau losyen lainnya yang mengandung mentol atau fenol.5
Untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi bakteri, sebaiknya: kulit
dicuci sesering mungkin dengan ait dan sabun, menjaga kebersihan tangan,
kuku dipotong pendek, pakaian tetap kering dan bersih.5
Kadang diberikan obat untuk mengurangi gatal (antihistamin). Jika
terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik. Jika kasusnya berat, bisa
diberikan obat anti-virus asiklovir.5
Untuk menurunkan demam, sebaiknya gunakan asetaminofen, jangan
aspirin. Karena aspirin dapat memberikan efek samping yang buruk pada
anak-anak Obat anti-virus boleh diberikan kepada anak yang berusia lebih
dari 2 tahun. Asiklovir biasanya diberikan kepada remaja, karena pada
remaja penyakit ini lebih berat. Asikloir bisa mengurangi beratnya penyakit
jika diberikan dalam wakatu 24 jam setelah munculnya ruam yang pertama.6
2.10 Kompliksasi
Adapun komplikasi yang bisa ditemukan pada cacar air adalah: 8

Pneumonia karena virus

16

Peradangan jantung

Peradangan sendi

Peradangan hati

Infeksi bakteri (erisipelas, pioderma, impetigo bulosa)

Ensefalitis (infeksi otak).

2.11 Prognosis
Dengan perawatan teliti dan memperhatikan higiene akan memberikan
prognosis yang baik dan jaringan parut yang timbul akan menjadi
sedikit.8
Angka kematian pada anak normal di Amerika 5,4 7,5 dari 10.000
kasus varicella.8
Pada neonatus dan anak yang menderita leukimia, immunodefisiensi,
sering menimbulkan komplikasi dan angka kematian yang meningkat.8
Angka kematian pada penderita yang mendapatkan pengobatan
immunosupresif tanpa mendapatkan vaksinasi dan pengobatan antivirus
antar 7 27% dan sebagian besar penyebab kematian adalah akibat
komplikasi pneumonitis dan ensefalitis.8
2.12 Pencegahan
Untuk mencegah cacar air diberikan suatu vaksin. Kepada orang yang
belum pernah mendapatkan vaksinasi cacar air dan memiliki resiko tinggi
mengalami komplikasi (misalnya penderita gangguan sistem kekebalan),
bisa diberikan immunoglobulin zoster atau immunoglobulin varicella-zoster.
Vaksin varisela biasanya diberikan kepada anak yang berusia 12-18 bulan.6

17

BAB IV
PENCEGAHAN/PEMBINAAN
A. Genogram Keluarga An. Putri
Tn. Surya Adha/ 28 tahun

Ny. Meli / 25 tahun

18

Dian / 5 tahun

Putri / 3 tahun

B. Home Visite (9 Fungsi Keluarga)


1. Fungsi holistik, merupakan fungsi keluarga yang meliputi fungsi biologis,
fungsi psikologis, dan fungsi sosial ekonomis.
Fungsi biologis :
Keluarga terdiri dari bapak kandung dan ibu kandung serta dua orang
anak. Bapak Surya berusia 28 tahun, yang merupakan seorang kepala
rumah tangga. Ibu Meli adalah ibu kandung dari penderita, berumur 25
tahun. An. Putri, merupakan anak kedua berusia 3 tahun. Keluarga
pasien merupakan keluarga yang kurang cukup sadar mengenai
kesehatan. Saat penderita mengalami muncul bintik-bintik dan demam,
keluarga penderita tidak langsung membawa pasien ke puskesmas. An.
Putri saat berobat di dampingi oleh ibunya. Setelah ke puskesmas, An. P
didiagnosis cacar air (varisela).
Fungsi psikologis:
Keluarga ini memiliki fungsi psikologis yang baik, tidak terdapar kesulitan
dalam menghadapi setiap masalah yang ada pada keluarga, serta hubungan
antara anggota keluarga yang harmonis.
Fungsi sosial ekonomi:

19

Dari wawancara didapatkan bahwa Ny. Meli merupakan seorang ibu rumah
tangga, suaminya Tn. Surya merupakan wiraswasta. Keluarga ini berperan
aktif dalam setiap kegiatan dan kehidupan social di masyarakat. Dari sudut
pandang ekonomi, ekonomi keluarga ini tergolong sederhana.
Keluarga Ny. Meli mengaku tidak pernah mengalami konflik dengan
tetangga sekitar dan sering ikut berpartisipasi di dalam kegiatan di sekitar
rumahnya, seperti membantu suaminya untuk kerja bakti membersihkan
lingkungan, dan membantu persiapan acara resepsi pernikahan tetangga.
Dari sudut pandang sosial, keluarga Ny. Meli memiliki sosialisasi yang
baik.

2. Fungsi fisiologis keluarga diukur dengan APGAR score. APGAR score


adalah skor yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari
sudut pandang setiap anggota keluarga terhadap hubungannya dengan
anggota keluarga yang lain. APGAR score meliputi:
Adaptation :
Keluarga ini sudah mampu beradaptasi antar sesama anggota keluarga,
saling mendukung, saling menerima dan memberikan saran satu dengan
yang lainnya.

Partnership :
Komunikasi dalam keluarga ini sudah baik, mereka saling membagi, saling
mengisi antar anggota keluarga dalam setiap masalah yang dialami oleh
keluarga tersebut.

Growth:
Keluarga ini juga saling memberikan dukungan antar anggota keluarga
akan hal-hal yang baru yang dilakukan anggota keluarga tersebut.

20

Affection:
Interaksi dan hubungan kasih sayang antara anggota ini sudah terjalin
dengan baik
Resolve:
Keluarga ini memiliki rasa kebersamaan yang cukup tinggi dan sering
menghabiskan waktu bersama dengan anggota keluarga lainnya.
Adapun skor APGAR keluarga ini adalah 8, dengan interpretasi Baik.
(data terlampir).

3. Fungsi patologis dinilai dengan SCREEM score.


Social, interaksi keluarga ini dengan tetangga sekitar sudah cukup baik.
Culture, keluarga ini memberikan apresiasi dan kepuasan yang cukup
terhadap budaya, tata krama, dan sopan santun.
Religious, keluarga ini cukup taat menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran
agama yang dianutnya.
Economic, status ekonomi keluarga ini cukup.
Educational, tingkat pendidikan keluarga ini mashi rendah ayah tamatan
SMA dan ibu tamatan SMP. Kedua anak belum bersekolah.
Medical, keluarga ini sudah mampu mendapat pelayanan kesehatan yang
memadai.
4. Fungsi hubungan antarmanusia
Hubungan interaksi antar anggota keluarga sudah terjalin dengan baik.
5. Fungsi keturunan (genogram)
Fungsi genogram dalam keadaaan baik (sudah dijelaskan di atas)

21

6. Fungsi perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan)


Pengetahuan tentang kesehatan keluarga ini kurang baik, keluarga
kurang menjaga kebersihan rumah dan kurang mempraktekkan perilaku
hidup bersih dan sehat. Sikap sadar akan kesehatan dan beberapa tindakan
yang mencerminkan pola hidup sehat kurang dilakukan. Keluarga ini
memerlukan penyuluhan dan promosi kesehatan dalam hal pencegahan
primer, yaitu mengenai perilaku hidup bersih dan sehat serta sadar akan
kesehatan, dan segera membawa anggota keluarga ke puskesmas apabila
sakit.
7. Fungsi nonperilaku (lingkungan, pelayanan kesehatan, keturunan)
Lingkungan cukup sehat dan para tetangga juga menjalin kerjasama dengan
baik, serta keluarga ini menjalin kerjasama yang baik dengan para tetangga.
Keluarga ini lambat memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan sehingga
penyakit menyebar ke anggota keluarga lainnya.
8. Fungsi indoor
Gambaran lingkungan dalam rumah belum memenuhi syarat-syarat
kesehatan, lantai dan dinding dalam keadaan bersih tetapi ventilasi,
sirkulasi udara dan pencahayaan kurang baik, sumber air bersih jauh dari
rumah, jamban ada di dalam rumah, pengelolaan sampah dan limbah
kurang baik.
9. Fungsi outdoor
Gambaran lingkungan luar rumah sudah cukup baik, jarak rumah dengan
jalan raya cukup jauh, tidak ada kebisingan disekitar rumah, jarak rumah
dengan sungai juga cukup jauh, dan tempat pembuangan umum jauh dari
lokasi rumah.

C. Upaya Pencegahan dan Pembinaan

22

Upaya pencegahan dan pembinaan yang saya ajukan selaku Pembina


kesehatan keluarga Ny.Meli dapat ditinjau dari beberapa aspek.
a

Diseased-oriented point of view


Dalam rangka tatalaksana penyakit pasien berupa varicella, saya
membagi

penatalaksanaan

menjadi

dua

bagian

utama,

yaitu

penatalaksanaan umum dan khusus. Pada penatalaksanaan umum, saya


menekan pada konsep komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE).
Penjelasan mengenai penyakit yang diderita, penyebab penyakit, hal-hal
yang dapat memperberat penyakit, cara pencegahan, dan tatalaksana awal
saya berikan kepada pasien. Saya juga menekankan pentingnya kepatuhan
di dalam penatalaksanaan di dalam mencapai kesembuhan yang optimal.
Penatalaksanaan khusus yang saya berikan pada pasien berupa
medikamentosa dan suportif.
b

Preventive medicine point of view


Dalam rangka meningkatkan health literacy pasien, saya
mengedukasi pentingnya pencegahan pada pasien. Dan apabila telah
terjadi penyakit, maka segeralah berobat ke puskesmas untuk early
diagnosis and prompt treatment. Hal ini akan mengurangi morbiditas dan
mengoptimalkan activity of daily living (ADL) pasien.

DAFTAR PUSTAKA
1. Straus SE, Oxman MN. Varicella and Herpes Zoster. In : Fredberg IM, et all,
ed. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. 5th ed. Vol. 2, New York :
Mc. Grawhill inc, 1999 : 2427-50
2. Handoko RP. Penyakit Virus. Dalam : Djuanda A, dkk, editor. Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin. Edisi ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2010; 107-15

23

3. Harahap M. Varisela. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : Gramedia, 1990 :


127-29
4. Djuanda, Adhi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Keempat. Bab
Varisela. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : 2007
5. Mehta, Parang. Varicella. Emedicine from WebMD. Sept 2007. Diambil dari
http://www.emedicine.com/ped/topic2385.htm. Diakses pada tanggal 10 Mei
2015.
6. Rampengan, T.H. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta : 2005
7. Schachner, Lawrence. Pediatric Dermatology Third Edition. Mosby. 2003
8. Dewi

M.

Cacar

Air

(Varicella).

Diambil

dari

Medicastore.com

http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?
id=&iddtl=38&idktg=&idobat=&UID=20071115181404219.83.83.58.
Diakses pada tanggal 10 Mei 2015.

Lampiran 1

Kondisi Rumah

24

Kamar

Kamar

Ruang Keluarga/Ruang Tamu


WC

Lampiran 2
APGAR Score

25

0 : jarang/tidak sama sekali


1 : kadang-kadang
2 : sering/selalu
Variabe Penilaian

APGAR Ayah

APGAR Ibu

APGAR Anak

Adaptation
Partnership
Growth
Affection
Resolve

2
2
1
1
2

2
2
2
1
2

2
1
1
2
1

Total

Interpretasi : 5 : kurang, 6-7 (cukup), dan 8-10 (baik)


Rata-rata Apgar Score: 8 (baik)

Lampiran 3
SCREEM score

26

Variabel Penilaian
Social

Penilaian
Interaksi keluarga ini dengan tetangga sekitar sudah
cukup baik.

Culture

Keluarga ini memberikan apresiasi dan kepuasan yang


cukup terhadap budaya, tata krama, dan perhatian

Religious

terhadap sopan santun.


Keluarga ini cukup taat menjalankan ibadah sesuai

Economic
Educational

dengan ajaran agama yang dianutnya.


Status ekonomi keluarga ini berkecukupan.
Tingkat pendidikan keluarga ini mashi rendah ayah
tamatan SMA dan ibu tamatan SMP. Kedua anak
belum bersekolah.

Medical

Keluarga ini sudah mampu mendapat pelayanan


kesehatan yang memadai.