Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I PENDAHULUAN

I.

gg

1.4 BATASAN MASALAH

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, maka batasan masalah yang dilakukan hanya terbatas pada :

1. Lapisan perkerasan yang digunakan adalah lapisan perkerasan lentur dengan perhitungan menggunakan metode Bina Marga.

2. Data perencanaan dalam Tugas Akhir ini

menggunakan data-data sekunder yaitu data curah hujan, data tanah, dan peta rupa bumi.

3. Tidak membahas stabilitas lereng, persimpangan

jalan, gorong - gorong, jembatan, biaya operasi peralatan, penggunaan alat berat dan pelaksanaan di

1.1 LATAR BELAKANG

Salah satu ruas jalan yang akan di bangun/ditingkatkan adalah ruas jalan Arimbet - Maju - Ujung - Bukit - Iwur yang terdapat di Kabupaten Boven Digoel, hal ini dimaksudkan guna menghubungkan dan mengakses jalan dari pertigaan Arimbet-Mindiptana di Kabupaten Boven Digoel ke arah Dewok/Iwur di Kabupaten Pegunungan Bintang. Agar ruas jalan dapat memiliki koordinasi antar- alinyemen yang baik dan dapat melayani arus lalu lintas sesuai dengan umur rencana, maka diperlukan perencanaan geometrik dan perkerasan yang baik. Dengan dibangunnya ruas jalan ini maka diharapkan akan menambah dan mempercepat distribusi hasil-hasil pertanian, perkebunan, kehutanan serta kebutuhan bahan- bahan pokok pada masyarakat sekitar ruas jalan serta daerah di belakangnya.

lapangan.

1.5 LOKASI STUDI

Lokasi studi ini terdapat di Distrik Arimop sebelah utara ibukota Kabupaten Boven Digoel Provinsi Papua. Detil lokasi dapat dilihat pada Gambar 1.1 dan Gambar 1.2.

Gambar 1-1 Peta Papua (Sumber : www.papua.co.id)
Gambar 1-1 Peta Papua
(Sumber : www.papua.co.id)
Lokasi Studi
Lokasi Studi

1.2

Dari latar belakang tersebut di atas, beberapa perumusan masalah yang perlu disampaikan yaitu :

PERUMUSAN MASALAH

1.

2.

Bagaimana bentuk perencanaan geometrik yang

sesuai untuk ruas jalan Arimbet - Maju - Ujung - Bukit

- Iwur?

Bagaimana perencanaan konstruksi lapisan

perkerasan yang sesuai untuk ruas jalan Arimbet -

Maju - Ujung - Bukit - Iwur dengan umur rencana 10 tahun?

3. Berapa dimensi saluran tepi yang diperlukan sesuai dengan kondisi kontur yang ada?

4. Berapa jumlah anggaran biaya yang diperlukan

untuk perencanaan ruas jalan Arimbet - Maju - Ujung - Bukit - Iwur?

1.3 TUJUAN

Tujuan dari penyusunan tugas akhir ini adalah :

1. Merencanakan bentuk perencanaan geometrik yang sesuai untuk ruas jalan Arimbet - Maju - Ujung - Bukit - Iwur.

2. Merencanakan konstruksi lapisan perkerasan yang sesuai untuk ruas jalan Arimbet - Maju - Ujung - Bukit

 

-

Iwur dengan umur rencana 10 tahun.

3.

Merencanakan dimensi saluran tepi yang

diperlukan sesuai dengan kondisi kontur yang ada.

4. Mengetahui anggaran biaya yang diperlukan untuk

perencanaan ruas jalan Arimbet - Maju - Ujung - Bukit

- Iwur.

Gambar 1-2 Peta Kabupaten Boven Digoel (Sumber : Bag. Tata Pemerintahan Setda Kab. Boven Digoel)

2

BAB II DASAR PERENCANAAN

II.

2.1 UMUM Perencanaan geometrik secara umum terdiri atas dua bagian yaitu alinyemen horizontal dan alinyemen vertikal, dimana menyangkut aspek-aspek perencanaan elemen jalan, tikungan, kelandaian jalan, dan jarak pandangan serta kombinasi dari bagian-bagian tersebut, baik untuk suatu ruas jalan, maupun untuk perlintasan diantara dua atau lebih ruas-ruas jalan.

Besarnya jarak pandangan henti berdasarkan beberapa kecepatan rencana ditunjukkan pada Tabel 2-6.

Tabel 2-2 Jarak Pandangan Henti Minimum

Kecepatan

Rencana

Vr

Kecepatan

Jalan Vj

(km/jam)

Koefisien

Gesek

Jalan fm

d

perhitungan

untuk Vr

d

perhitungan

untuk Vj

d desain

(m)

(km/jam)

(m)

(m)

30

27

0,400

29,71

25,94

25

- 30

40

36

0,375

44,60

38,63

40

- 45

50

45

0,350

62,87

54,05

55

- 65

60

54

0,330

84,65

72,32

75

- 85

70

63

0,313

110,28

93,71

95

- 110

80

72

0,300

139,59

118,07

120

- 140

100

90

0,285

207,64

174,44

175

- 210

120

108

0,280

285,87

239,06

240

- 285

Sumber : Dasar-Dasar Perencanaan Geometrik Jalan, Sukirman 1994

2. Jarak Pandangan Menyiap (JP M ) 2.2 PARAMETER PERANCANGAN GEOMETRIK JALAN RAYA Jarak Pandangan
2.
Jarak Pandangan Menyiap (JP M )
2.2
PARAMETER PERANCANGAN GEOMETRIK
JALAN RAYA
Jarak Pandangan Menyiap hanya perlu dilihat pada
jalan 2/2 UD.
2.2.1
Kecepatan rencana
d = d
+ d
+ d
+ d
Besarnya kecepatan rencana tergantung pada kelas
jalan dan kondisi medan sebagaimana ditunjukkan pada
Tabel 2-4.
1
2
3
4
Rumus yang digunakan adalah :
at
1
d
=
0.278t
V
m
+
Tabel 2-1 Kecepatan Rencana (Vr)
1
1
2
Kecepatan Rencana, Vr (Km/jam)
Fungsi
Datar
Bukit
Pegunungan
d
= 0.278Vt
Arteri
70
- 120
60
- 80
40
- 70
2
2
Kolektor
60
- 90
50
- 60
30
- 50
d
30 s.d 100m
3 =
Lokal
40
- 70
30
- 50
20
- 30
Catatan :
2
Untuk kondisi medan yang sulit, Vr suatu segmen jalan dapat diturunkan, dengan
syarat bahwa penurunan tersebut tidak lebih dari 20 Km/jam.
d
=
d
4
2
Sumber : Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar
Kota, No. 038/TBM/1997
3
Besarnya jarak pandangan menyiap berdasarkan
beberapa kecepatan rencana ditunjukkan pada Tabel 2-
2.2.2
Jarak Pandang
7.
Jarak pandang terbagi menjadi dua bagian, yaitu Jarak
Pandang Henti (JP H ) dan Jarak Pandang Mendahului
(JP M ).
Tabel 2-7 Jarak Pandangan Menyiap Minimum
Jarak
Jarak
Jarak
Jarak
Kecepatan
Pandangan
Pandangan
Pandangan
Pandangan
Rencana
Menyiap
Menyiap
Menyiap
1.
Jarak Pandang Henti (JP H )
Menyiap
Vr
Standar
Standar
Minimum
Minimum
Adalah jarak minimum yang diperlukan oleh
pengemudi untuk menghentikan kendaraannya dengan
aman, begitu melihat adanya halangan di depan.
Rumus umum Jarak Pandang Henti Minimum (JP H )
(Sukirman, 1994) untuk jalan datar, adalah sebagai
berikut :
(km/jam)
Perhitungan
Desain
Perhitungan
Desain (m)
(m)
(m)
(m)
30
146
150
109
100
40
207
200
151
150
50
274
275
196
200
60
353
350
250
250
70
437
450
307
300
80
527
550
368
400
2
100
720
750
496
500
V
120
937
950
638
650
d
=
0.278V.t
+
Sumber
:
Dasar-Dasar
Perencanaan
Geometrik
Jalan,
254fm

Dimana :

d

: jarak pandang henti minimum (m)

fm

: koefisien gesekan antara ban dan muka jalan dalam

arah

memanjang jalan

V

: kecepatan kendaraan (km/jam)

t

: waktu reaksi = 2,5 detik

Rumus

(Sukirman, 1994) untuk jalan dengan kelandaian tertentu, adalah sebagai berikut :

Pandang Henti Minimum (JP H )

umum

Jarak

d

=

0.278V.t

+

V 2

254(f

±

L)

Sukirman 1994

2.3

KLASIFIKASI JALAN

2.3.1

Klasifikasi Menurut Fungsi Jalan

Menurut fungsi jalan, terdiri atas :

1. Jalan Arteri : yaitu jalan yang melayani angkutan utama dengan ciri-ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien.

2. Jalan Kolektor : yaitu jalan yang melayani angkutan pengumpul/pembagi dengan ciri-ciri

3

perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi.

Jalan Lokal : yaitu jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

Berdasarkan waktu tempuh di lengkung peralihan.

Ls =

V R

t

3,6

Berdasarkan landai relatif.

Ls

(

e + e

n

)

B m

maks

Berdasarkan rumus Modifikasi Shortt.

Ls

=

0.022

V

R

3

R C

2.727

V

R

e

C

3.

2.3.2

1.

Klasifkasi Menurut Medan Jalan

Medan jalan diklasifikasikan berdasarkan kondisi

sebagian besar kemiringan medan yang diukur tegak lurus garis kontur. 2. Klasifikasi menurut medan jalan untuk perencanaan geometrik dapat dilihat dalam Tabel 2-9.

Berdasarkan tingkat pencapaian perubahan kelandaian.

Ls

=

(

e

maks

e

n

)

V

R

3.6

r e

(2.15)

Dari ke empat persamaan tersebut, panjang lengkung peralihan, Ls yang digunakan untuk perencanaan adalah Ls dengan nilai yang terbesar.

Ada 3 bentuk lengkung horisontal, antara lain :

Lengkung busur lingkaran sederhana (full circle) Lengkung full circle digunakan untuk R rencana yang besar dan nilai superelevasi (e) lebih kecil atau sama dengan 3%.

CT
CT

Gambar 2-1 Lengkung Busur lingkaran Sederhana (full circle) (Sumber : Modul Rekayasa Jalan Raya)

Tc = R ◊ tg   1 ∆    2  R
Tc
=
R
tg   1
∆  
2
R
E
=
R
 1
cos
 
2
Lc =   ∆π 
180
◊ R
B IN A
M AR G A
e
e n =
2%
e n =
2%
e
T C
T C
SC
C S
3/4 Ls
1/4 Ls
1/4 Ls
3 /4 Ls
Lc

Gambar 2-2 Diagram Superelevasi Lengkung Busur Lingkaran Sederhana (full circle) (Sumber : Modul Rekayasa Jalan Raya)

Tabel 2-9 Klasifikasi Menurut Medan Jalan

No. Jenis Medan Notasi Kemiringan Medan (%) 1. Datar D < 3 2.4.1.4 Bentuk Lengkung
No.
Jenis Medan
Notasi
Kemiringan Medan
(%)
1.
Datar
D
< 3
2.4.1.4 Bentuk Lengkung Horizontal
2.
Perbukitan
B
3 – 25
3.
Pegunungan
G
> 25
1.
ELEMEN GEOMETRIK
TC
PI
E
Lc
TC
Alinyemen Horizontal
0.5
0.5
R
R
Gaya Sentrifugal
Gaya sentrifugal (F) yang terjadi : F = m a
Maka besaran gaya sentrifugal dapat ditulis sebagai
berikut :
2
W
◊ V
F =
g
◊ R
Ketentuan Panjang Bagian Lurus

Sumber : Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, No. 038/TBM/1997

2.4

2.4.1

2.4.1.1

2.4.1.2

Pada Tabel 2-10 dicantumkan panjang maksimum bagian lurus pada alinyemen horizontal.

Parameter lengkung full circle :

Tabel 2-10 Panjang Bagian Lurus Maksimum

Fungsi

Panjang Bagian Lurus Maksimum (m)

Datar

Perbukitan

Pegunungan

Arteri

3.000

2.500

2.000

Kolektor

2.000

1.750

1.500

Sumber : Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, No. 038/TBM/1997

2.4.1.3 Ketentuan Komponen Tikungan

1. Lengkung Peralihan ,Ls (Length of Spiral)

Bina Marga menetapkan, panjang lengkung peralihan mulai dari penampang melintang berbentuk mahkota (crown) sampai dengan kemiringan sebesar superelevasi. Secara detil, kelandaian relatif minimum ditunjukkan pada Tabel 2-12. Perhitungan lengkung peralihan, Ls adalah sebagai berikut :

4

2. Lengkung busur lingkaran dengan lengkung

peralihan (spiral – circle – spiral) Secara umum lengkung spiral – circle – spiral digunakan
peralihan (spiral – circle – spiral)
Secara umum lengkung spiral – circle –
spiral digunakan jika nilai superelevasi e ≥
3% dan panjang Ls > 20 meter.
Ts
E
Xs Ys
p SC
CS
k Lc
s
s
Ls
R
R
Ls
ST
Ts

Gambar 2-3 Lengkung busur lingkaran dengan lengkung peralihan (spiral – circle – spiral) (Sumber : Modul Rekayasa Jalan Raya)

Parameter lengkung spiral – circle – spiral :

Secara umum lengkung spiral – spiral digunakan jika nilai superelevasi e ≥ 3% dan panjang
Secara umum lengkung spiral – spiral
digunakan jika nilai superelevasi e ≥ 3% dan
panjang Ls ≤ 20 meter. Bentuk lengkung
dapat dilihat pada Gambar 2-10.
Ts
E
SC=CS
p
k
s
s
Ls
R
R
Ls
ST
TS

Gambar 2-5 Lengkung Peralihan (spiral – spiral) (Sumber : Modul Rekayasa Jalan Raya)

Parameter lengkung spiral – spiral :

1

θs =

2

90 Ls 2 Ls p = R (1 cos θs) π R 6 R (
90 Ls
2
Ls
p =
R (1 cos θs)
π R
6 R
(
2 θs
)
π R
2
Ls
180
k
=
Ls
R sin
s
2
2
Ls
R (1 cos θs)
40 R
Ts = (R + p)◊tg(θs)+ k
6 R
(
R
+
p
)
3
E
=
R
Ls
=
Ls
R sinθi
cos
s
2
40 R
Besarnya Ls pada tipe lengkung ini adalah
didasarkan pada landai relatif minimum.
=
(
R
+
p
)
tg   1
  +
k
)
Ls ≥
(
e + e
)
◊B ◊m
(2.13)
2
n
maks
BINA MARGA
(R
+
p)
R
 1
cos  ∆ 
e
2
2
e n = 2%
Ls
e
=
Ls
1
(2.26)
2
40
R

θs =

Lc =

p =

k

Ts

E

Xs

e n = 2%

2 Ls Ys = (2.27) 6 ◊ R Bentuk diagram superelevasi dapat dilihat pada Gambar
2
Ls
Ys =
(2.27)
6
◊ R
Bentuk diagram superelevasi dapat dilihat
pada Gambar 2-9.
BINA MARGA
e
2%
2%
e
TS
SC
CS
ST
Ls
Lc
Ls

Gambar 2-4 Diagram Superelevasi Lengkung Busur Lingkaran dengan Lengkung Peralihan (spiral – circle – spiral) (Sumber : Modul Rekayasa Jalan Raya)

TS

SC=CS

ST

Ls Ls

Ls

Ls Ls

Ls

Gambar 2-6 Diagram Superelevasi Lengkung Peralihan (spiral– spiral) (Sumber : Modul Rekayasa Jalan Raya)

2.4.1.8 Jarak Kebebasan Samping

Pandangan pengemudi kendaraan yang bergerak pada lajur tepi dalam rentan terhalang oleh gedung, tebing dan lainnya. 1. Jika jarak pandangan, S lebih kecil daripada panjang total lengkung (lihat Gambar 2-12)

5

Lajur Luar Lt Lajur Dalam S Garis Pandang E Penghalang Pandangan R R' R
Lajur Luar
Lt
Lajur Dalam
S
Garis Pandang
E
Penghalang
Pandangan
R
R'
R

Gambar 2-7 Jarak Pandangan S < Lt (Sumber : Modul Rekayasa Jalan Raya)

2.

E

=

R'

1

Jika

cos

jarak

28.65 S

R'

pandangan,

S

lebih

besar

(2.33)

daripada

panjang total lengkung (lihat Gambar 2-13), Lt

Secara detil, batasan kelandaian maksimum menurut

Bina Marga ditunjukkan pada Tabel 2-16.

Tabel 2-16 Kelandaian Jalan

Kecepatan

Jalan Luar Kota (Bina Marga)

Rencana

(km/jam)

Kelandaian Maks

Kelandaian Maks

Standar (%)

Mutlak (%)

40

7

11

50

6

10

64

   

60

5

9

80

4

8

96

   

113

   

Sumber

Sukirman 1994

:

Dasar-Dasar

Perencanaan

Geometrik

Jalan,

Lajur Luar Lt 3. Panjang Kritis Kelandaian Lajur Dalam S Besarnya panjang kritis dapat dilihat
Lajur Luar
Lt
3. Panjang Kritis Kelandaian
Lajur Dalam
S
Besarnya panjang kritis dapat dilihat pada Tabel 2.17.
Tabel 2-17 Panjang Kritis
E
Garis Pandang
R'
Kecepatan Rencana (km/jam)
R
R
80
60 50
40 30
2
Penghalang
Pandangan
5%
500m
6%
500m
7%
500m
8%
420m
9%
340m
10%
6%
500m
7%
500m
8%
420m
9%
340m
10%
250m
11%
Gambar 2-8 Jarak Pandangan S > Lt
(Sumber : Modul Rekayasa Jalan Raya)
7%
500m
8%
420m
9%
340m
10%
250m
11%
250m
12%
8%
420m
9%
340m
10%
250m
11%
250m
12%
250m
13%
Sumber : Dasar-Dasar Perencanaan Geometrik Jalan, Sukirman
28.65 S  
 S
Lt
 28.65 S  
(2.34)
1994
E =
R'
1
cos 
+
sin 
R'
2
R'
  
 
2.4.2.2 Lengkung Vertikal
2.4.1.9
Pelebaran Pada Tikungan
1. Lengkung Vertikal Cekung
Besarnya pelebaran untuk sebuah tikungan dapat dicari
dengan persamaan matematis berikut.
Beberapa persyaratan untuk menentukan panjang
lengkung vertikal cekung, antara lain :
ω =
Wc
Wn
Wc
= N (U + C)+ (N 1)Fa + Z
a) Berdasarkan jarak penyinaran lampu
kendaraan
Jarak pandangan akibat penyinaran lampu depan < L
2
2
U = µ + R
R
L
2
A
◊ S
S<L
Lv =
(2.40)
Fa
=
R
2 +
A (2L
+
A)
R
120
+ 3,5S

Z =

V

R
R

2.4.2 Alinyemen Vertikal

Alinyemen vertikal adalah perpotongan bidang vertikal dengan bidang permukaan perkerasan jalan melalui sumbu jalan, yang umumnya biasa disebut dengan profil atau penampang memanjang jalan.

2.4.2.1 Kelandaian Alinyemen Vertikal

1. Landai Minimum

Kelandaian yang baik yaitu kelandaian 0% (datar), tapi tidak demikian untuk keperluan drainase jalan melainkan yang bukan 0% (tidak datar).

2. Landai Maksimum

Kelandaian maksimum dimaksudkan untuk menjaga agar kendaraan dapat bergerak terus tanpa kehilangan

kecepatan yang berarti.

Jarak pandangan akibat penyinaran lampu depan > L

S>L

b) Berdasarkan jarak pandangan bebas di bawah jembatan

120

+ 3,5S

jarak pandangan bebas di bawah jembatan 120 + 3,5S Lv = 2S A (2.41) Asumsi: titik

Lv

=

2S

A

(2.41)

Asumsi:

titik

PPV

berada

tepat

berada

di bawah

jembatan.

S<L

berada tepat berada di bawah jembatan. S<L S>L Lv = A ◊ S 2 3480 Lv

S>L

tepat berada di bawah jembatan. S<L S>L Lv = A ◊ S 2 3480 Lv =

Lv =

A

S

2

3480

Lv = 2S

3480

A

c) Berdasarkan syarat perjalanan 3 detik

1000

Lv = 3 Vd

3600

d) Berdasarkan syarat penyerapan guncangan

6

e)

f)

g)

2.

a)

b)

c)

d)

e)

f)

g)

Lv

=

V 2

A

360

Berdasarkan keluwesan bentuk Lv = 0,6V

Berdasarkan ketentuan drainase Lv = 50A

Berdasarkan kenyamanan mengemudi

Lv =

AV

2

380

Lengkung Vertikal Cembung

Jarak

Pandangan

berada

di

dalam

lengkung (S<L) Jika JPH yang dipakai;

h1=120cm, h2=10cm, maka :

L =

AS

2

399

Jika JPM yang dipakai;

daerah

lapisan tanah dasar (subgrade)

JPM yang dipakai; daerah lapisan tanah dasar ( subgrade ) lapisan permukaan ( surface course )

lapisan permukaan (surface course)

lapisan pondasi atas (base course)

lapisan pondasi bawah (sub base course)

lapisan tanah dasar (subgrade)

Gambar 2-9 Susunan Lapisan Konstruksi Perkerasan Lentur (Sumber : Petunjuk Perencanaan Lentur Jalan Raya dengan Metode Analisa Komponen)

2.5.3 Lalu Lintas Rencana Untuk Perkerasan Lentur

Lalu lintas rencana dihitung untuk memperkirakan beban kendaraan yang akan melewati suatu ruas jalan

selama umur rencana.

2 2.5.3.1 Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) AS h1=120cm, h2=120cm, maka : L = 960
2
2.5.3.1
Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR)
AS
h1=120cm, h2=120cm, maka :
L =
960
LHR dihitung pada awal umur rencana dan pada akhir
umur rencana dengan menggunakan rumus :
Lengkung berada di dalam jarak pandangan
(S>.L)
Jika JPH yang dipakai;
h1=120cm, h2=10cm, maka :
LHR
= V kendaraan
(
1 + i
) n
awal umur rencana
LHR
= LHR
(
1 + i
) n
akhir umur rencana
awalumur rencana
399
L
= 2S
2.5.3.2
Angka Ekivalen (E) Beban Sumbu Kendaraan
A
Jika JPM yang dipakai;
h1=120cm, h2=120cm, maka :
Untuk menghitung Angka Ekivalen (E) masing-masing
golongan beban sumbu untuk setiap kendaraan
ditentukan menurut rumus berikut ini :
960
L
= 2S
4
P
A
E sumbu tunggal =
Keluwesan bentuk Lv = 0,6V
5,40
3
V
D
Syarat waktu perjalanan 3 detik
Lv =
4
3,6
E sumbu ganda =
 P 
A
 8,16
Syarat penyerapan guncangan
Lv
=
V 2
360
Sumber : SNI 07-2416-1991
Ketentuan drainase Lv = 50A
2
A◊V
2.5.3.3
Perhitungan Lalu Lintas
Syarat kenyamanan mengemudi
Lv =
380
Lintas Ekivalen Permulaan (LEP) dihitung dengan
rumus:

2.5

KONSTRUKSI PERKERASAN LENTUR

(FLEXIBLE PAVEMENT)

2.5.1

Karakteristik Perkerasan Lentur

Alasan pemilihan perkerasan lentur adalah :

LEP =

n

=

j

1

LHR

j

C

j

E

j

Lintas Ekivalen Akhir (LEA) dihitung dengan rumus

LEA =

n

LHR

j

(

1 + i

)

ur

C

j

E

j

tanah dasarnya relatif bagus (CBR min 5%) biayanya lebih murah banyak dilewati kendaraan kecil

 

j

=

1

Lintas

Ekivalen

Tengah

(LET)

dihitung

dengan

rumus

 
 

LEP

+

LEA

2.5.2

Susunan Lapisan Konstruksi Perkerasan Lentur

LET

=

2

 

Lintas

 

Ekivalen

Rencana

(LER)

dihitung dengan

Konstruksi perkerasan terdiri dari (lihat Gambar 2-25)

rumus :

 

:

lapisan permukaan (surface course) lapisan pondasi atas (base course) lapisan pondasi bawah (sub base course)

LER = LET + FP UR

FP =

10

7

Tabel 2-18 Koefisien Distribusi Kendaraan

Jumlah

Kendaraan Ringan (Berat total < 5 ton)

Kendaraan Berat (Berat total > 5 ton)

lajur

   

1

 

1 Arah

2 Arah

Arah

2 Arah

1 lajur

1,00

1,00

1,00

1,00

2 lajur

0,60

0,50

0,75

0,50

3 lajur

0,40

0,40

0,50

0,475

4 lajur

-

0,30

-

0,450

5 lajur

-

0,25

-

0,425

6 lajur

-

0,20

-

0,400

Sumber : Petunjuk Perencanaan Lentur Jalan Raya dengan Metode Analisa Komponen

2.6.1 Intensitas Hujan Rencana (I)

Adapun

persamaannya

menggunakan

Rumus

Mononobe :

I =

2 3 R 24  24      24 t  
2
3
R
24
24
24
t
c

2.6.2 Waktu Konsentrasi (tc)

Perhitungan harga I tergantung dari besarnya tc, yaitu waktu yang diperlukan oleh titik air yang berada di tempat terjauh menuju saluran tepi. Besarnya dihitung

dengan rumus :

t

c

t f

= t

o

=

L

v

+ t

f

2.6.3 Koefisien Pengaliran (C)

2.5.4

Daya Dukung Tanah Dasar (DDT)

C .A ) = ∑ ( i i C gab ∑ A i 2.6.4 Debit
C .A
)
= ∑ (
i
i
C gab
∑ A
i
2.6.4 Debit Saluran
1
Q
=
◊C ◊I ◊A
3,6
+ a
D
+ a D
2.6.5 Dimensi Saluran
2
2
3
3
2.7 GALIAN DAN TIMBUNAN

Daya dukung tanah dasar (subgrade) pada perkerasan lentur dinyatakan dengan nilai CBR (california bearing ratio). Nilai DDT dapat dicari dengan menggunakan rumus dari Bina Marga:

(2.90)

DDT = 4,3log(CBR %)+ 1,7

Untuk perhitungan air hujan yang perlu dibuang, menggunakan rumus Rasional:

(2.93)

2.5.5

Indeks Tebal Perkerasan (ITP)

Dalam menentukan tebal perkerasan digunakan perumusan sebagai berikut:

ITP = a D

1

1

Bentuk penampang saluran dipilih berdasarkan jenis tanah dasar, kedalaman saluran, kecepatan aliran dan lahan yang tersedia. Dalam Tugas Akhir ini direncanakan saluran berpenampang trapesium.

2.6

SALURAN TEPI JALAN

Tujuan pekerjaan drainase permukaan jalan raya adalah

:

h)

Mengalirkan air hujan dari permukaan jalan agar tidak terjadi genangan.

Mengalirkan air permukaan yang terhambat oleh adanya jalan raya ke alur-alur alam, sungai atau badan air lainnya.

Mengalirkan air irigasi atau air buangan melintasi jalan raya, sehingga fungsinya tidak terganggu.

i)

j)

Perhitungan volume tanah pada pekerjaan galian dan timbunan dilakukan dengan metode Double End Areas (luas ujung rangkap).

Volume

=

(

A

1

A

2

)

2

L

(2.100)

Hujan rata-rata

Standar deviasi

∑ x X = n ( 2 ) x X ∑ x = ∑ Sx
x
X =
n
(
2 )
x
X
x
= ∑
Sx
n
1

Frek. Hujan pada periode ulang T :

R T =

X

+

K

K

Sx

=

Faktor frek.

Y

T

Y

n

S

n

2.8 ANGGARAN BIAYA

Anggaran biaya tiap-tiap pekerjaan didapatkan dengan mengalikan masing-masing volume pekerjaan dengan masing-masing harga satuan pekerjaan. Harga satuan pekerjaan ini dapat dilihat pada Lampiran.

8

BAB III

METODOLOGI

1.1 LANGKAH PENGERJAAN

Di dalam penulisan tugas akhir ini diperlukan langkah kerja yang dimulai dari studi literatur dan bahan sampai dengan perhitungan. Langkah kerja adalah sebagai berikut:

1. Studi literatur dan bahan

2. Pengumpulan data

a) Data-data sekunder yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :

Peta rupa bumi didapatkan dari Bakosurtanal dengan skala 1:250000. Dikarenakan pada daerah yang dimaksud tidak terdapat data kontur yang jelas, maka daerah perencanaan diambil dari daerah Ceremlem menuju ke

daerah Kwirok. Data lalu lintas didapatkan dari data hasil survey pada jalan eksisting pada daerah Distrik Kuken. Ruas jalan yang diambil adalah Jl. Yos Sudarso. Data CBR didapatkan dari Konsultan Perencana CV. Mega Cipta Konsultan. Data curah hujan didapatkan dari Konsultan Perencana CV. Mega Cipta Konsultan.

b)

dari Konsultan Perencana CV. Mega Cipta Konsultan. b) Jari - jari minimum Panjang lengkung peralihan Bentuk
Jari - jari minimum Panjang lengkung peralihan Bentuk lengkung horizontal Jarak kebebasan samping Pelebaran pada
Jari - jari minimum
Panjang lengkung peralihan
Bentuk lengkung horizontal
Jarak kebebasan samping
Pelebaran pada tikungan
Gambar 3-10 Bagan Alir Pengerjaan
BAB IV
Perhitungan alinyemen vertikal :
PERENCANAAN
Lengkung vertikal cekung
Lengkung vertikal cembung

3. Perhitungan perencanaan

a) Volume lalu lintas

Perencanaan geometrik jalan, meliputi :

Perhitungan alinyemen horizontal :

4.1 PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN

c) Perencanaan tebal perkerasan, direncanakan sesuai dengan Petunjuk Perencanaan Tebal

Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Metode Analisa Komponen, Bina Marga.

Perkerasan Lentur Jalan Raya dengan Metode Analisa Komponen, Bina Marga.

Perhitungan lalu lintas Perhitungan daya dukung tanah dasar Indeks tebal perkerasan

Perhitungan lalu lintas Perhitungan daya dukung tanah dasar Indeks tebal perkerasan

4.1.1 Analisa Data Lalu Lintas Data lalu lintas menggunakan data hasil survey pada jalan eksisting pada daerah Distrik Kuken. Ruas jalan yang diambil adalah Jl. Yos Sudarso. Tingkat pertumbuhan lalu lintas dianalisa dari data proyeksi penduduk daerah Kab. Boven Digoel.

d) Perencanaan saluran tepi, mengolah data curah hujan hingga merencanakan dimensi saluran.

Tabel 4-1 Jumlah Dan Jenis Kendaraan Tahun 2006

Jenis Kendaraan

Jumlah

Kendaraan/arah

Hujan rencana Intensintas hujan rencana Waktu konsentrasi Koefisien pengaliran Debit saluran Dimensi saluran

Mobil Penumpang 2 ton (1.1) Truk Sedang 8,3 ton (1.2L)

 

15

16

 

Sumber : Hasil Survey Tahun 2006 Tabel 4-2 Proyeksi Penduduk Kab. Boven Digoel

Tahun

Jumlah Penduduk (jiwa)

 

e) Perencanaan biaya, didapatkan dari harga pekerjaan tiap volume galian dan timbunan.

2001

36391

2002

37408

 

2003

38452

Secara lebih jelas, dapat dilihat pada bagan alir berikut ini:

2004

39526

2005

40629

Sumber : http://www.bps.go.id/~irja

9

4.1.3 Perhitungan Perkerasan Jalan

Dari hasil perhitungan tingkat pertumbuhan penduduk didapatkan nilai 2,72%.

1. Perencanaan Indeks Permukaan Pada

Awal Umur Rencana (IPo)

Harga IPo untuk jenis laston adalah 3,9 – 3,5.

2. Perencanaan Indeks Permukaan Pada

Akhir Umur Rencana (IPt) Ruas jalan Arimbet-Maju-Ujung-Bukit-Iwur 16 memiliki jumlah LER sebesar 6,605 dan klasifikasi 17 jalan sebagai jalan arteri, maka harga IPt adalah sebesar 1,5-2,0 (lihat Tabel 2-19).

Tabel 4-4 Lalu Lintas Harian Rencana Pada Awal Umur Rencana 2009

Jenis Kendaraan

 

2009

Mobil Penumpang 2 ton (1.1) Truk Sedang 8,3 ton (1.2L)

15 (1+0,0272)^3

 

16 (1+0,0272)^3

Tabel 4-5 Lalu Lintas Harian Rencana Pada Akhir Umur Rencana 2019

3. Faktor Regional (FP)

Untuk persentase kendaraan berat >30%, kelandaian 6-10%, dan iklim untuk curah hujan rata-rata tahunan >900 mm/thn, maka ruas jalan Arimbet-Maju-Ujung-Bukit-Iwur mempunyai harga

Jenis Kendaraan

 

2019

Mobil Penumpang 2 ton (1.1) Truk Sedang 8,3 ton (1.2L)

16 (1+0,0272)^10

21

17 (1+0,0272)^10

23

factor regional (FR) sebesar 2,5 (lihat Tabel 2-21).

4.1.2 Perhitungan Lalu Lintas

1. Angka Ekivalen

Berikut

diberikan

hasil

perhitungan

Angka

4. Perhitungan CBR Tanah Asli Dalam pengerjaan Tugas Akhir ini, data tanah yang digunakan berupa data sekunder.

Ekivalen (E) pada Tabel 4-6.

Tabel 4-6 Perhitungan Angka Ekivalen (E) Jenis Kendaraan Angka Ekivalen Mobil Penumpang 2 ton (1.1)
Tabel 4-6 Perhitungan Angka Ekivalen (E)
Jenis Kendaraan
Angka Ekivalen
Mobil Penumpang 2 ton (1.1)
Truk Sedang 8,3 ton (1.2L)
0,0024
0,2777
2. Perhitungan Lintas Ekivalen Permulaan
Ruas jalan Arimbet-Maju-Ujung-Bukit-Iwur
direncanakan 2 lajur 2 arah. Koefisien distribusi
kendaraan (c) dapat dilihat pada Tabel 2-17,
dimana untuk tipe jalan 2 lajur 2 arah dengan data
LHR per arah maka ruas jalan ini memiliki nilai
koefisien sebesar 1,0.
Berikut diberikan hasil perhitungan Lintas
Ekivalen Permulaan (LEP) pada Tabel 4-7.
Nilai
DDT
dan
ITP
dapat
dicari
menggunakan rumus dari Bina Marga:
DDT = 4,3 log(CBR %)+1,7
Gt
1
Tabel 4-7 Perhitungan Lintas Ekivalen Permulaan (LEP)
logWt
= 9,36log   ITP
+
18
2,54
1   - 0,2 +
+
log
+
1094
FR
Jenis Kendaraan
LEP
0,4 +
5,19
 ITP
0,04
+ 1 
Mobil Penumpang 2 ton (1.1)
Truk Sedang 8,3 ton (1.2L)
2,54
4,82
log   IPo - IPt 
GT
=
Jumlah
4,86
 
 
IPo -1,5

dengan

3,0

(2.77)

1,2

0,372   DDT

3. Perhitungan Lintas Ekivalen Akhir

Koefisien distribusi kendaraan (c) dapat dilihat pada Tabel 2-17, dimana untuk tipe jalan 2 lajur 2 arah dengan data LHR per arah maka ruas jalan ini memiliki nilai koefisien sebesar 1,0. Berikut diberikan hasil perhitungan Lintas Ekivalen Akhir (LEA) pada Tabel 4-8.

Tabel 4-8 Perhitungan Lintas Ekivalen Akhir (LEA)

Jenis Kendaraan

LEA

Mobil Penumpang 2 ton (1.1) Truk Sedang 8,3 ton (1.2L)

0,05

6,30

Jumlah

6,35

4. Perhitungan Lintas Ekivalen Tengah

Lapisan Permukaan (surface) laston (MS 590 kg) Menggunakan CBR base course = 100%

365

WT18 = LER UR

DDT = 4,3 log(100) + 1,7 = 10,3

ITP = 2,65

ITP = a

1

D

1

D 1 =

ITP

a

1

2,65

=

0,35

= 7,57 cm

Digunakan tebal lapisan D1 = 8 cm. Lapisan pondasi atas (base course) batu pecah kelas A Menggunakan CBR sub base course = 50%

DDT = 4,3 log(50)+ 1,7 = 9,006

LET

=

LEP

+

LEA

2

=

4,86 + 6,35 = 5,605

2

5. Perhitungan Lintas Ekivalen Rencana

FP =

UR

10 = 1

10

= 10

ITP = 3,19

ITP = a D

1

1

+ a

D

ITP - a D

1

1

2

D

2

3,19 - 0,35

8

2

=

=

a

2

0,14

= 2,79 cm

10

Lapisan pondasi bawah (sub base course) sirtu kelas B Menggunakan CBR sub grade = 9,0%

DDT = 4,3 log(13,9)+ 1,7 = 4,921

ITP = 5,28

ITP = a D

D

1

1

+ a

ITP - a D

1

1

2

a

D

2

D

2

2

3

=

a

3

+ a

3

D

3

=

5,28 - 0,35

8 - 0,14

20

0,12

=

2,67 cm

Digunakan tebal lapisan min D3 = 10 cm.

4.2 PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN

4.2.1 Dasar Perencanaan

Rumus sudut azimuth = arc tan

Sudut azimuth PI 1= arc tan

= arc tan

604.6069

622.7956

= -44,151 o (kuadrant IV)

= -44,151 o + 360 o

= 315,849 o

Sudut azimuth PI 2 = arc tan

308.9906

=

arc tan 1077.4645

= 16,0016 o Dalam tugas akhir ini, ruas jalan ini termasuk dalam klasifikasi jalan arteri
= 16,0016 o
Dalam tugas akhir ini, ruas jalan ini termasuk dalam
klasifikasi jalan arteri sekunder, dengan tipe 2 lajur 2
arah tanpa median (2/2 UD). Lebar jalan rencana 7 meter,
lebar lajur rencana 3.5 m dan bahu jalan rencana sebesar
2 meter. Karena jalan ini berfungsi sebagai jalan arteri di
daerah pegunungan, maka berdasarkan Tabel 2-4,
kecepatan rencananya berkisar antara 40-70 km/jam,
digunakan untuk perencanaan ini ditetapkan sebesar 60
km/jam.
∑Sudut PI1 (∆ 1) = Sudut azimuth PI2 - Sudut
azimuth PI1
= 360 o – (315,849 o – 16,0016 o )
=60,153 o
2. Mencari harga superelevasi atau kemiringan jalan
rencana.
Harga superelevasi : e = (e + f )
f (D)
D
( e + f
)
=
(
e
+ f
)
max
max
D max
4.2.2
Perencanaan Alinyemen Horizontal
f max = -0,00065 V D + 0,192
km/jam
untuk
V D
<
80
Dalam perencanaan ini digunakan jenis lengkung
peralihan spiral-circle-spiral, dimana untuk menghindari
terjadinya perubahan kemiringan secara mendadak.
Contoh perhitungan alinyemen horizontal dengan tipe
spiral-circle-spiral pada PI-1.
Direncanakan : Vd = 60 km/jam.
Rd = 573 m
=
-0,00065 . 60 + 0,192
=
0,153
25
25
D =
360
=
360∞
= 3.003
2
R
2
477
181913,53 0,10
(
+ 0,153
)
181913,53 0,10 + 0,153
(
)
=
12,784
=
=
D max
2
2
V
60
D
181913,53 e
1.
Mencari harga jarak lurus dan sudut PI.
181913,53 0,1
= max
D
= 6,994
=
p
2
Koordinat titik start jalan :
V
(
85%
60
) 2
r
Xa,Ya (7215.7663 , 1070.6277)
2
2
V
60
D
Koordinat titik PI 1 :
h
=
e
e
=
0,1
0,1
= 0,0384
max
2
max
2
V
(
85%
60
)
Xb,Yb (6611.1594 , 1693.4233)
R
Koordinat titik PI 2 :
h 0,0384
tg α
=
= 0,00549
1 =
Xc,Yc (6920.1500 , 2770.8878)
D
p 6,994
X1 = Xb-Xa = 6611.1594 – 7215.7663 = -604.6069
f
h
0,153
0,0384
m
max
= 0,0198
tg α
=
=
2
D
D
12,784
6,994
Y1 = Yb-Ya = 1693.4233 – 1070.6277 = 622.7956 m
max
p
X2 = Xc-Xb = 6920.1500 – 6611.1594 = 308.9906 m
tg α
tg α
(
)
2
1
=
D
D
D
M o
p
max
p
Y2 = Yc-Yb = 2770.8878 – 1693.4233= 1077.4645
2
D
max
m
0,0198
0,00549
=
6,994 12,784
(
6,994
)
∑Panjang lurus segmen 1 (Start – PI 1) :
2
12,784
L1 (gambar)
=
(
X
)
2 +
(
Y
) 2
= 0,0226
1
1
Mencari f(D) :
2
2
=
604,6069 + 622,7956
Jika :
= 868 m
2
D
L1 (aktual) = 868 x 1 = 868 m
∑Panjang lurus segmen 2 (PI 1 – PI 2) :
D
D
, maka
f
(
D
)
=
M
 
 
+
D ◊
tg α
p
o
1
D
p
 
2
L2
(gambar)
=
(
X
)
2 +
(
Y
) 2
D
≥ D
,maka
D
D
(
)
max
 
(
)
2
2
p
f D
= M
+
h +
D - D
tg α
o 
p
2
D
D
max
p
2
2
=
308,9906 +1077,4645
Karena
D
D
, maka :
p
= 1120.894

L2 (aktual) = 1120.894 x 1 = 1120,93 m

11

f

(

D

)

=

0,0226

3,003

6,994

2

+

(

e + f

)

=

(

e

max

0,059

Maka :

e =

(e

+ f )

+ f

max

)

f (D)

D

D

max

= 0,059 0,024

= 0,0354

= 3.54%

3,003 0,00549

=

(

)

0,1 + 0,153

= 0,024

3,003

=

12,784

Sehingga :

Nilai superelevasi yang digunakan adalah: e =

0,0354

k

=

=

Ls

50

Ls

3

40

R

2

R sin θs

50

3

40 477

2

477 sin 3,003

= 24,998 m

Ts

=

=

(

Rd

+

p

)

tg

(

477

+

0,219

= 301,368 m

E

=

(

R

+

p

)

cos

1

2

R

=

1

2

)

tg

(

477

+

k

1

2

60,153

+

0,219

)

cos   1

2

60,153

+

477

24,998

= 74,469 m

3. Mencari besarnya panjang lengkung peralihan. Berdasarkan waktu tempuh maksimal di lengkung peralihan

L s =

Vd

t

3,6

=

60

3

3,6

= 50 m

Berdasarkan landai relatif Untuk VD = 60 km/jam, landai relatif maksimum (mmax) = 125 (Tabel 2-

11).

27 m Berdasarkan rumus Modifikasi Shortt Koefisien perubahan kecepatan (C) diambil = 0,4 m/dt 3

Ls =

Ls

Ls

2

=

50 1

50

2

2

= 49,956 m

Xs

=

Ls 1

Ls

40 R

2

2 50 2

40 477

Ys =

=

6

R

6 477

= 0,874 m

5. ∑STA Start = 0+000 ) ◊B ◊m = (0,0354 + 0.02)◊3,5 ◊125=22,2 ∑STA TS
5.
∑STA Start
= 0+000
)
◊B ◊m
= (0,0354 + 0.02)◊3,5 ◊125=22,2
∑STA TS
n
max
=
=
0+566.63
∑STA SC
= STA TS + Ls
= 0+566.63 + 50
Vd
3 Vd
◊ e
2,727
= 0+616.63
R
◊ C
C
∑STA CS
= STA SC + Lc
3
60
60 0,032
=
2,727
477 0,4
0,4
=
1+067.42
∑STA ST
= STA CS + Ls
= 1+067.42 + 50
= 1+117.42
6.

(

e + e

=

0,022

= 0,022

= 10,435 m

n

)

Vd

=

(

0,1

0,02

)

60

3,6 0,035

= 38,095

PI 1

Stationing Titik Parameter Lengkung Horisontal

= STA Start + (L1 aktual – Ts)

0+000 + (868,000 – 301,368)

0+616.63 + 450.784

Berdasarkan tingkat pencapaian perubahan

kelandaian

Untuk Vd 70 km/jam, tingkat perubahan kemiringan jalan (Re) = 0.035 m/m/dt.

Ls =

m

(

e

max

e

3,6

r

e

Diagram Superelevasi Lengkung Horisontal Untuk perencanaan kali ini, penggambaran

diagram superelevasi menggunakan metode AASHTO. Sehingga contoh diagram superelevasi untuk PI1, terlihat pada Gambar 4-2.

Sehingga :

Lengkung peralihan diambil yang terpanjang, Ls = 50

m.

4.

Mencari parameter-parameter lengkung horizontal

θs =

90 Ls

π

R

=

90 50

π 477

= 3,003 o

Lc =

(

2θ

s

)

π

R

=

(

)

60,153 2 2,5 π 477

180 180

=450,784

TS

SC

CS

ST

as jalan

-2%
-2%

3.54%

-2%
-2%

as jalan

   

3.54%

   

Ls = 50 m

Lc = 450.784 m

Ls = 50 m

Gambar 4-2. Contoh Diagram Superelevasi untuk PI 1.

m

p =

Ls

2

6

R

=

50 2

6 477

= 0,219 m

R(1

cos θs)

477(1

cos 2,5)

12

2 A ◊ S 4,00 85 2 ◊ Lv = = 69,22 m Tabel 4-11
2
A
S
4,00 85 2
Lv =
= 69,22 m
Tabel 4-11 Perhitungan Alinyemen Horisontal
120
+
3,5S
= 120
+
3,5 85
Parameter
Satuan
Start
PI 1
PI 2
PI 3
PI 4
PI 5
PI 6
S = 85 m < Lv = 69,22 m
…(tidak
e
%
10.00%
10.00%
10.00%
10.00%
10.00%
10.00%
max
B
m
3.5
3.5
3.5
3.5
3.5
3.5
(1 lajur)
memenuhi)
V
Km/jam
60
60
60
60
60
60
D
V
Km/jam
51
51
51
51
51
51
b.
Untuk S > L
R
Perhitungan sudut PI (∆)
120
+ 3,5S
m
7215.7663
6611.1594
6920.1500
4359.7075
4086.1954
4931.6604
5991.7802
120
+
3,5 ◊ 85
X start
Lv
=
2S
=
2
◊ 85
m
1070.6277
1693.4233
2770.8878
4546.9738
5291.5043
6779.1794
6477.1071
Y start
-
A
4,00
delta X
m
-604.6069
308.9906
2560.4425
-273.5121
845.4650
1060.1198
772.4038
delta Y
m
622.7956
1077.4645
1776.0860
744.5305
1487.6751
-302.0723
801.4659
= 65,63 m
L
m
868.000
1120.895
3116.143
793.180
1711.137
1102.316
1113.084
(asli)
S = 88,944 m > Lv = 65,63 m…(memenuhi)
dX
/ dY
-
-0.971
0.287
-1.442
-0.367
0.568
-3.509
0.964
o
Azimuth (β)
315.849
16.002
304.748
339.829
29.610
105.904
43.942
c.
Berdasarkan syarat perjalanan 3 detik
Hitung Sudut
-
-
β1 - β2
β2 - β1
β2 - β1
β1 - β2
β2 - β1
β1 - β2
o
-
60.153
71.254
35.081
49.782
76.294
61.962
1000
1000
Data Tabel Bina Marga
Lv = 3 ◊Vd ◊
=
3 ◊60 ◊
= 50 m
R
m
477
477
477
477
477
477
D
3600
3600
Ls
m
50
50
50
50
50
50
Perhitungan Elevasi (e)
d.
Berdasarkan syarat penyerapan guncangan
o
D
3.003
3.003
3.003
3.003
3.003
3.003
A
4,00
o
D
12.784
12.784
12.784
12.784
12.784
12.784
max
Lv
=
V 2
=
60 2
=
40,00 m
f
-
0.153
0.153
0.153
0.153
0.153
0.153
max
360
360
(e+f)
-
0.059
0.059
0.059
0.059
0.059
0.059
o
Dp
6.994
6.994
6.994
6.994
6.994
6.994
e.
Berdasarkan keluwesan bentuk
h
-
0.038
0.038
0.038
0.038
0.038
0.038
tan α 1
-
0.00549
0.00549
0.00549
0.00549
0.00549
0.00549
Lv
= 0,6V = 0,6
60 = 36 m
tan α 2
-
0.0198
0.0198
0.0198
0.0198
0.0198
0.0198
f.
Berdasarkan ketentuan drainase
M
-
0.0226
0.0226
0.0226
0.0226
0.0226
0.0226
o
cek
f
(D)
-
f(D1)
f(D1)
f(D1)
f(D1)
f(D1)
f(D1)
Lv
50A = 50 ◊4,00 = 200
m
f
(D)
-
0.0240
0.0240
0.0240
0.0240
0.0240
0.0240
e
%
3.54%
3.54%
3.54%
3.54%
3.54%
3.54%
g.
Berdasarkan kenyamanan mengemudi
Perhitungan Ls
Ls
m
50.000
50.000
50.000
50.000
50.000
50.000
(waktu)
2
A◊V
4,00 60 2
m
-
125.00
125.00
125.00
125.00
125.00
125.00
max
Lv
=
=
=
37,89 m
m
24.227
24.227
24.227
24.227
24.227
24.227
Ls (landai relatif)
380
380
C
m/dt 3
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
0.40
(diambil)
m
10.435
10.435
10.435
10.435
10.435
10.435
Ls (modif shortt)
Re
m/m/dt
0.035
0.035
0.035
0.035
0.035
0.035
m
38.095
38.095
38.095
38.095
38.095
38.095
Ls (perub kelandaian)
Ls terpilih
m
50.00
50.00
50.00
50.00
50.00
50.00
Perhitungan Parameter Lengkung
o
Өs
3.003
3.003
3.003
3.003
3.003
3.003
Dari hasil perhitungan, dipilih panjang lengkung
vertikal terpanjang sehingga nilai Lv yang tepilih
adalah Lv = 69,22 m.
∑Perhitungan EV
Lc
m
450.784
543.205
242.057
364.442
585.167
465.850
p
m
0.219
0.219
0.219
0.219
0.219
0.219
A
Lv
4,00 ◊69,22 = 0,346 m
Ev
=
=
k
m
24.998
24.998
24.998
24.998
24.998
24.998
Ts
m
301.368
366.993
175.835
246.422
399.820
311.526
800
800
E
m
74.469
110.110
23.489
49.086
129.819
79.629
Xs
m
49.986
49.986
49.986
49.986
49.986
49.986
Ys
m
0.874
0.874
0.874
0.874
0.874
0.874
∑Stationing titik parameter lengkung vertikal
cekung
L
Total
m
550.78
643.20
342.06
464.44
685.17
565.85
Perhitungan STA
STA PPV
= 1+500
TS
-
0
+ 566.63
1 + 569.95
4
+ 786.47
5
+ 499.45
7
+ 028.79
8
+ 104.93
STA PLV
= STA PPV – L/2
SC
-
0
+ 616.63
1 + 619.95
4
+ 836.47
5
+ 549.45
7
+ 078.79
8
+ 154.93
CS
-
1
+ 067.42
2
+ 163.15
5
+ 078.53
5
+ 913.89
7
+ 663.95
8
+ 620.78
=
1+500 - (69,22/2)
ST
-
1
+ 117.42
2
+ 213.15
5
+ 128.53
5
+ 963.89
7
+ 713.95
8
+ 670.78
=
1+500 – 34,61 = 1+465
STA PTV
= STA PPV + (S – L/2)
=
1+500 + (85 - (69,22/2))
4.2.3 Perencanaan Alinyemen Vertikal
=
1+500 + 50,39 = 1+550
Dalam menentukan panjang lengkung vertikal cembung
dengan tipe jalan 2/2UD digunakan Jarak Pandangan
Menyiap (JPM). Sedangkan perencanaan alinyemen
∑Perhitungan elevasi titik parameter lengkung
vertikal cekung
Elevasi PPV
= +350
vertikal cekung digunakan Jarak Panjang Henti (JPH).
Elevasi PPV’
= Elevasi PPV + Ev
1. Contoh Perhitungan Lengkung Vertikal Cekung
pada PPV-1.
∑Penentuan jarak pandangan henti (JPH) :
= +350 + 0,346
= +350,346
Elevasi PLV
= Elevasi PPV + (g1% x L/2)
VD = 60 km/jam, dan diambil nilai f = 0,33.
JPH = 75 s.d 85 m (berdasarkan Tabel 2-6).
= +350 + (0% x (69,22/2))
= +50
2
V
d
=
0.278V.t
+
Elevasi PTV
= Elevasi PPV + (g2% x (S - L/2))
254fm
= +350 + (4,00% x (85- (69,22/2))
2
60
= +352,02
d
=
0.278
60
2,5
+
= 88,944 m
254
0,33

Sehingga untuk perencanaan kali ini, JPH diambil nilai maksimum (JPH = 85 m). Perhitungan perbedaan aljabar :

g1 = 0% dan g2 = 4,00%

A

=

g1

±

g2

=(0 - 4,00) = -4,00…(LV Cekung)

Perhitungan Panjang Lengkung (L)

a. Untuk S < L

2. Contoh Perhitungan Lengkung Vertikal

Cembung pada PPV-2. Penentuan jarak pandangan menyiap (JPM) :

JPM = 250 s.d 350 m (berdasarkan Tabel 2-7)

a.

t 1

= 2,12 + 0,026 V

 

=

2,12 + 0,026 x 60 = 3,68 detik

 

a

= 2.052 + 0,0036 V

= 2.052 + 0,0036 x 60

13

d

1

=

0.278t

1

= 2,268 m/dt2

V

m

+

at

1

2

m = 15 km/jam (Sukirman, 1999)

2,268 3,68

d

1

=

0.278 3,68 60

15

+

2

= 50,306 m

b.

t 2

d 2

= 6,56 + 0,048.V

= 6,56 + 0,048 x 60 = 9,44 detik = 0,278 V.t2

= 0,278 x 50 x 9,44 = 131,216 m

c. d 3 = 30 - 100 m, diambil 30 m (Sukirman,

1999).

d. d 4 = 2/3.d 2 = 2/3 x 131,216 = 87,477 m

e. JPM min = 2/3.d2 + d3 + d4

= 87,477 + 30 + 87,477

= 204,954 m

STA PTV

= 2+000 - (50/2)

= 2+000 - 25 = 2+025 = STA PPV + L/2

= 2+000 + (50/2)

= 2+000 + 25 = 1+975

Perhitungan elevasi titik parameter lengkung

vertikal cekung

Elevasi PPV

= +370

Elevasi PPV’

= Elevasi PPV - Ev

= +370 – 0,250

= +369,75

Elevasi PLV

= Elevasi PPV - (g 1 % x L/2)

= +370 - (4% x (50/2))

= +369,000

Elevasi PTV

= Elevasi PPV - (g 2 % x L/2)

= +370 - (0% x (50/2)

= +370,000

JPM max = d1 + d2 + d3 + d4= 50,306+131,216+30+87,477= 299 m Dipakai nilai
JPM max = d1 + d2 + d3 + d4=
50,306+131,216+30+87,477= 299 m
Dipakai nilai yang terbesar yaitu S = 299 m.
f.
Tabel 4-12 Perhitungan Alinyemen Vertikal
Parameter
Satuan
PPV 1
PPV 2
PPV 3
PPV 4
PPV 5
PPV 6
V
Km/jam
60
60
60
60
60
60
D
JPH
m
75 - 85
75 - 85
75
- 85
75 - 85
75 - 85
75 - 85
JPM
m
250 - 350
250 - 350
250
- 350
250 - 350
250 - 350
250 - 350
∑Perhitungan perbedaan aljabar :
JP
-
JPH
JPM
JPH
JPM
JPH
JPM
Data Lengkung
g1 = 4,00% dan g2 = 0%
g
%
0
4
0
3.33
-3.33
0
1
g
%
4
0
3.33
-3.33
0
-2.14
2
A =
g1
±
g2
=(4,00-0) = +4,00…(LV Cembung)
A
-
-4
4
-3.33
6.66
-3.33
2.14
Tipe
-
Cekung
Cembung
Cekung
Cembung
Cekung
Cembung
Perhitungan Lengkung
∑Perhitungan Panjang Lengkung (L)
S
m
85
299
85
299
85
299
C
-
-
960
-
960
-
960
a.
Untuk S < L
L
m
69.22
372.50
57.63
620.22
57.63
199.29
(S < L)
L
m
65.63
358.00
44.62
453.86
44.62
149.40
2
(S > L)
AS
4,00 299 2
L
-
S > L
S < L
S > L
S < L
S > L
S > L
memenu hi
L =
= 372,50 m
L
m
50.00
50.00
50.00
50.00
50.00
50.00
960 =
960
(3 d tk)
L ( kenyamanan)
m
37.89
37.89
31.55
63.09
31.55
20.27
L
m
40.00
40.00
33.30
66.60
33.30
21.40
(gun can gan)
L
m
36.00
36.00
36.00
36.00
36.00
36.00
S = 299 m < Lv = 372,50 m …(memenuhi)
(ben tu k)
L
m
200.00
200.00
166.50
333.00
166.50
107.00
(dr ain ase)
b.
Untuk S > L
L
m
65.63
372.50
50.00
620.22
50.00
149.40
( max )
L
m
69.22
50.00
57.63
66.60
57.63
50.00
(ter pilih)
960
Ev
m
0.35
0.25
0.24
0.55
0.24
0.13
Perhitungan Stasioning
L = 2S
960 2 ◊299
=
= 358,00 m
PPV
-
1
+ 500
2 + 000
3
+ 000
3
+ 600
4
+ 800
5
+ 800
A 4,00
PLV
-
1 + 465
1 + 975
2
+ 971
3
+ 567
4
+ 771
5
+ 775
PTV
-
1 + 550
2 + 025
3
+ 056
3
+ 633
4
+ 856
5
+ 825
S = 299 m >Lv = 358,00 m…(tidak memenuhi)
Perhitungan Elevasi
PPV
m
+350.00
+370.00
+370.00
+390.00
+350.00
+350.00
c.
Berdasarkan syarat perjalanan 3 detik
PPV I
m
+350.35
+369.75
+370.24
+389.45
+350.24
+349.87
PLV
m
+350.00
+369.00
+370.00
+388.89
+350.96
+350.00
1000
1000
PTV
m
+352.02
+370.00
+371.87
+388.89
+350.00
+349.47
Lv
= 3 ◊Vd ◊
= 3 ◊60 ◊
= 50 m
3600
3600
d.
Berdasarkan syarat penyerapan guncangan
4.3 PERHITUNGAN DAERAH KEBEBASAN
SAMPING
A
4,00
Lv
=
V 2
=
60 2
= 40 m
360
360
e.
Berdasarkan keluwesan bentuk
Lv
= 0,6V = 0,6
60 = 36 m
f.
Berdasarkan ketentuan drainase
Daerah kebebasan samping ini perlu dihitung untuk
setiap tikungan, agar kita dapat memastikan lereng /
daerah samping jalan tidak akan menghalangi pandangan
pengemudi.
Dan berikut ini adalah contoh perhitungannya untuk PI

Lv

50A = 50 4,00 = 200 m

g. Berdasarkan kenyamanan mengemudi

Lv =

AV

2

4,00 60 2

=

380 380

= 37,89 m

Dari hasil perhitungan, dipilih panjang lengkung vertikal terpanjang sehingga nilai Lv yang tepilih adalah Lv = 50,0 m. Perhitungan EV

Ev

=

A

Lv

4,00 50 = 0,250 m

=

800 800

Stationing titik parameter lengkung vertikal cekung

STA PPV

= 2+000

STA PLV

= STA PPV – L/2

1.

Direncanakan :

R (jari-jari tikungan) = 477 m Lt (panjang lengkung total) = 550.78 m Lebar 1 lajur = 3.5 m Perhitungan :

Radius jalan sebelah dalam :

R’ = R – ½ (L 1lajur) = 477 – ½ (3.5) = 475.25 m S (jarak pandangan, dicoba dengan JPH) S = 85 m, sehingga S < Lt

Maka rumus kebebasan samping yang berlaku adalah :

M=

R '

1

cos

28.65 S  

R

'

=

475.25 1

cos   28.65 85  

475.25

=1.90 m

14

Tabel 4-13 Perhitungan Daerah Kebebasan Samping

PI

 

Data Perencanaan

R' (m)

Status S

Jika S < Lt

Jika S > Lt

 

R (m)

S (m)

Lt (m)

W 1lajur (m)

 

thd Lt

M (m)

M (m)

PI 1

477

85

550.78

3.5

475.25

S

<