Anda di halaman 1dari 38

PENDAHULUAN

Teknik dalam ortopedik hewan kecil telah berkembang pesat beberapa


tahun terakhir ini. salah satu dari pendekatan dalam ortopedi ialah pendekatan
biologis, yaitu dengan melakukan penjajaran pada bagian proksimal dan bagian
distal fragmen tulang, dengan minimalisir hematoma fraktur dan perlekatan
jaringan lunak dengan fragmen tulang. Pada fraktur batang tulang (shaft fracture),
reduksi yang sempurna bukan merupakan prioritas tertinggi dan tujuan utama
yaitu mengoptimalkan penyatuan (union) tulang dengan menyediakan kondisi
yang sama untuk jaringan lunak sekitar tulang tersebut dan stabilitas mekanik
fraktur. Contoh pendekatan biologis untuk fraktur termasuk fiksasi plat,
interlocking nails dan fiksasi eksternal.
Fraktur femur merupakan jenis fraktur yang sering terjadi pada anjing
terutama akibat kecelakaan lalu lintas. Bagian batang, distal, atau salah satu
trokanter dapat rusak. Krepitasi bisa ditemukan atau tidak sama sekali. Fraktur
femur biasanya mengharuskan untuk eutanasia pada hewan besar, tapi pada hewan
kecil penyembuhan dapat terjadi secara parsial atau sempurna.
Menurut Olmstead (1995), bermacam-macam teknik fiksasi bisa
diterapkan pada fraktur femur, termasuk pemasangan pin tertutup, pin intra
medullar terbuka, pemasangan plate tulang, dan fiksasi eksternal. Beberapa
fraktur dapat difiksasi cukup dengan satu teknik, beberapa kasus dapat juga
dengan teknik khusus.

TINJAUAN PUSTAKA
Fraktur
Fraktur adalah gangguan kontinuitas tulang dengan atau tanpa perubahan
letak fragmen tulang yang mengakibatkan tulang yang menderita tersebut
kehilangan kontinuitasnya atau keseimbangannya (Kumar, 1997). Penyebab
fraktur bisa karena sebab intrinsik dan sebab ekstrinsik (Kumar, 1997). Sedangkan
menurut Mayer et al., (1959) penyebab fraktur bisa disebabkan karena oleh
trauma atau rudapaksa yang berasal dari luar tubuh ataupun oleh penyakit.
Menurut Boden (2005), fraktur karena penyakit dapat disebabkan oleh
osteomalacia, dimana terjadi reduksi densitas tulang dan kekuatannya.
Pada banyak kasus, kejadian fraktur akan tampak jelas gejala klinisnya.
Secara sepintas akan tampak bagian yang menunjukkan kebengkakan, kelainan
bentuk, perubahan yang kaku, krepitasi dan rasa sakit. Menurut Archibald (1965),
gejala klinis yang terjadi pada fraktur adalah kebengkakan, deformitas, kekakuan
gerak yang abnormal, krepitasi, kehilangan fungsi dan rasa sakit.
Berdasarkan ada tidaknya hubungan dengan udara luar, fraktur dibedakan
menjadi fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Fraktur tertutup, apabila ujung tulang
yang patah masih tertutup oleh otot dan kulit, tidak ada hubungan dengan udara
luar. Fraktur terbuka yaitu apabila ujung tulang yang patah berhubungan dengan
udara luar, di sini kulit terbuka sehingga ujung tulang yang patah tampak dari luar
(Kumar, 1997).

Berdasarkan tingkat kerusakan tulang, fraktur dibedakan menjadi fraktur


complete dan fraktur incomplete. Fraktur complete adalah fraktur yang ditandai
dengan adanya kerusakan pada 2 fragmen dan perubahan letak dari fragmen
tersebut. Sedangkan fraktur incomplete adalah fraktur yang biasanya terjadi pada
hewan muda dan ditandai dengan hilangnya kontinuitas dan perubahan letaknya
minimal, misalnya pada fraktur greenstick dan fraktur fissura (Kumar, 1997).
Sedangkan berdasarkan arah patahan dan lokasi, fraktur dibagi menjadi
tujuh yaitu fraktur transversal jika arah patahannya tegak lurus dengan sumbu
panjang tulang. Apabila dilakukan reposisi atau reduksi, fragmen tulang tersebut
mempunyai kedudukan yang cukup stabil sehingga mempunyai pengaruh yang
baik untuk kesembuhan. Kemudian fraktur oblique (miring) adalah fraktur dengan
arah patahan miring membentuk sudut melintasi tulang yang bersangkutan, fraktur
spiral jika arah patahannya bentuk spiral disertai terpilinnya ekstremitas. Fraktur
impaktive adalah fraktur dimana salah satu ujung tulang masuk ke fragmen yang
lain. Fraktur comminutive adalah fraktur dimana tulang terpecah menjadi
beberapa bagian. Fraktur epiphyseal adalah fraktur pada titik pertemuan epiphysis
pada batang tulang dan fraktur condyloid adalah fraktur dimana bagian condylus
yang patah terlepas dari bagian yang lain (Kumar, 1997).

Gambar 1. Macam-macam fraktur (Kumar, 1997)

Diagnosis dan Terapi

Diagnosis fraktur dilakukan dengan anamnesis, inspeksi, pergerakan,


pengukuran, palpasi dan pemeriksaan foto rontgent. Anamnesis dilakukan untuk
mengetahui fraktur, penyebab, kapan terjadinya sehingga dapat membantu
diagnosis. Inspeksi dilakukan dengan seksama pada anggota gerak, apakah ada
kepincangan, pembengkakan, kekakuan gerak, perubahan warna, kebiruan, pucat
dan sebagainya. Pengukuran dilakukan dengan cara membandingkan bagian kaki
yang sehat dengan yang sakit, apakah terlihat simetris. Palpasi dilakukan dengan
cara yang hatihati untuk mengetahui untuk mengetahui adanya krepitasi,
oedema, rasa sakit, dan lain-lain. Diagnosis paling tepat adalah dengan foto
rontgent. Pemotretan fraktur harus diambil dari 2 sisi yang saling tegak lurus
sehingga diperoleh gambaran kedudukan tulang yang mengalami fraktur secara
jelas sehingga akan membantu terapinya (Mayer et al., 1959).
4

Penanganan fraktur menggunakan konsep 4 R yaitu rekognisi, reduksi,


retensi dan rehabilitasi (Kumar, 1997). Untuk reduksi atau reposisi dilakukan
secara terbuka yaitu pembedahan. Kemudian rotasi atau fiksasi dilakukan dengan
pin intramedullar yang dimasukkan dengan intramedullar drill (Kumar, 1997).
Menurut Nunamaker (1985), penggunaan pin intrameduler sering dilakukan pada
kasus fraktur pada tulang panjang, dimana penggunaan fiksasi ini lebih efektif,
murah dan resiko yang ditimbulkan rendah dibandingkan fiksasi dengan jenis lain.
Menurut Olmstead (1995), bermacam-macam teknik fiksasi dapat diterapkan pada
fraktur femur, termasuk pin intramedullar tertutup, pemasangan plate tulang, dan
fiksasi eksternal. Beberapa fraktur dapat difiksasi cukup dengan satu teknik,
beberapa kasus dapat juga dengan teknik khusus. Fraktur tranversal cukup stabil
setelah difiksasi dengan pin intramedullar.

Gambar 2. Teknik Pemasangan pin intramedular (Permattei dkk, 2006)


Proses kesembuhan

Berdasarkan proses terjadinya, kesembuhan luka dibagi menjadi dua yaitu


kesembuhan primer dan kesembuhan sekunder. Kesembuhan luka primer

merupakan kesembuhan luka alami dan jaringan yang menderita sembuh


sempurna tanpa menimbulkan gangguan fungsi dan anatomi, sedangkan
kesembuhan sekunder biasanya terjadi bila kesembuhan primer tidak tercapai
karena ulcerasi, abses, atau sebab lainnya. Kesembuhan primer merupakan
kesembuhan jaringan dengan nekrosis pasca operasi yang minimal dan tidak
ditemukannya pernanahan. Kesembuhan primer dapat diusahakan dengan
meminimalisir

trauma

bedah,

mengupayakan

dengan

sungguh-sungguh

pembedahan yang aseptis dan menyatukan kembali jaringan yang terpisah dengan
hati-hati (Mayer et al.,1959). Kesembuhan sekunder adalah kesembuhan yang
terjadi pada luka operasi setelah mengalami infeksi yang mengakibatkan
kesembuhan primer tidak terjadi. Kesembuhan sekunder dengan adanya granulasi
membutuhkan waktu 4 minggu untuk kesembuhan dan meninggalkan jejak parut
(Robbins, 1984). Pada proses pembedahan yang baik, setelah dilakukan
penutupan luka dengan benar maka ruang kecil diantara jahitan dua jaringan yang
disatukan akan terisi cairan serous. Pada beberapa hari pertama, aktivitas
kesembuhan sedikit-demi sedikit mulai tampak dan penyatuan kembali jaringan
tergantung pada kekuatan jahitan yang dibuat dalam waktu sekitar empat hari,
fibroblast mulai mulai proliferasi dengan cepat dan membantu dalam menyatukan
luka operasi. Dalam tahap ini ujung-ujung pembuluh darah yang terluka mulai
berproliferasi dan membentuk jaringan kapiler yang baru. Penyatuan jaringan
akan sempurna setelah 12-14 hari setelah pembedahan (Mayer et al.,1959).
Fase kesembuhan tulang menurut Frandson (1992) secara rinci dapat
dibagi dalam beberapa tahap sebagai berikut:

1. Phase hematoma.
Pada mulanya terjadi hematoma dan disertai pembengkakan jaringan
lunak, kemudian terjadi proliferasi jaringan penyambung muda ke dalam
daerah radang dan hematoma akan mengempis. Tiap fraktur biasanya
disertai putusnya pembuluh darah sehingga terdapat penimbunan darah
disekitar fraktur. Pada ujung tulang yang patah terjadi ischemia sampai
beberapa milimeter dari garis patahan yang mengakibatkan matinya
osteosit pada daerah fraktur tersebut.
2. Phase proliferatif.
Proliferasi sel-sel periosteal dan endosteal, yang menonjol adalah
prolifersi sel-sel lapisan dalam dari periosteal dekat daerah fraktur.
Hematoma terdesak oleh proliferasi ini dan diabsorbsi oleh tubuh.
3. Phase pembentukan kallus.
Pada tahap ini terbentuk fibrous kallus dan di sini tulang menjadi
osteoporotik akibat resorbsi kalsium untuk penyembuhan. Sel-sel
osteoblas mengeluarkan matrik interseluler yang terdiri dari kolagen dan
polisakarida, yang segera bersatu dengan garam-garam kalsium,
membentuk tulang immature atau young kallus (woven bone).
4. Phase konsolidasi.
Pada phase ini kallus yang terbentuk mengalami maturasi lebih lanjut oleh
aktivitas osteoblas. Kallus menjadi tulang yang lebih dewasa dengan
pembentukan lamella. Pada stadium ini sebenarnya proses penyembuhan
sudah lengkap. Pada phase ini terjadi pergantian fibrous callus menjadi
primary callus. Phase ini terjadi sesudah empat minggu namun pada umurumur muda lebih cepat.
5. Phase remodelling.

Pada phase ini secondary bone callus sudah ditimbuni dengan kalsium
yang banyak dan tulang sudah terbentuk dengan baik, serta terjadi
pembentukan medulla kembali.
Obat dan Anastetika

Premedikasi dan Anestesi


Anestesi adalah substansi yang apabila diberikan akan menyebabkan
hilangnya kesadaran dan respon motorik terhadap rangsangan yang merugikan.
Penggunaan anastetika untuk tujuan operasi ditujukan untuk individu yang sehat
dan dalam kondisi fisiologis normal, hal ini disebabkan atas kenyataan bahwa
setiap agen anestesi dapat digunakan dan atau mengganggu fungsi normal dari
organ atau beberapa sistem dalam tubuh (Brander et al.,1991).
Menurut Soma (1971) tahap-tahap dalam anestesi umum dibagi kedalam 4
stadia. Menurut Hall (1978) tanda-tanda anestesi pada hewan adalah : (1) Stadium
I adalah stadium induksi atau dikenal sebagai stadium eksitasi bebas atau stadium
analgesia. Pada tahap ini hewan masih sadar dan dapt melawan pemberian
anastetikum pernafasan

thorako-abdominal.

Frekuensi pulsus

dan nafas

meningkat, dilatasi pupil, hewan sering urinasi dan defekasi. (2) Stadium II
merupakan stadium eksitasi tak bebas atau delirium. Memasuki stadium ini hewan
hilang kesadarannya, nafas tidak teratur, reflek pedal sangat kuat reflek menelan,
muntah dan batuk mash ada. Stadium I dan II dapt dilewati dengan cara
pemberian separuh dosis anastetika secara cepat kemudian sisanya diteruskan
secara perlahan-lahan dengan terus memonitor denyut jantung serta frekuensi

pernafasannya sampai tercapai keadaan anestesi yanf diinginkan. (3) Stadium III,
merupakan stadium yang tepat untuk dilakukan operasi. Stadium ini dibagi
menjadi tiga tingkatan atau plane, yaitu plane dangkal, sedang dan dalam. Pada
plane dangkal ditandai oleh pernafasan yang teratur dengan tipe thorakoabdominal, otot anggota gerak relaksasi, reflek pedal, palpebrae, batuk masih ada,
bola mata bergerak dari lateral ke medial, sedangkan reflek kornea dan
konjunctiva terdepres. Anestesi pada tahap ini dapat dilaksanakan operasi yang
bersifat ringan dan untuk keperluan diagnostik. Plane sedang ditandai dengan
pernafasan thorako-abdominal, reflek batuk dan menelan masih ada, reflek pedal
melemah, bola mata bergerak ke ventromedial, otot relaksasi kecuali otot
abdominal. Anestesi pada tahap ini dapat digunakan untuk semua operasi, kecuali
operasi di daerah perut. Pada plane dalam, pernafasan abdominal semua reflek
batuk, menelan, pedal dan palpebrae hilang, otot seluruh tubuh relaksasi, bola
mata ditengah, serta tekanan rahang hilang. (4) Stadium IV adalah stadium
overdosis atau stadium paralisis. Pada tahap ini diaphragma masih aktif tetapi otot
dada mengalami paralisis sempurna, pulsus cepat tapi lemah, pupil melebar,
sekresi lakrimalis terhenti, nafas tersengal-sengal, pernafasan melemah dan
berhenti.
Untuk mempersiapkan hewan sebelum pemberian obat anastetik maka
perlu diberikan obat-obat preanastetik atau biasa disebut premedikasi.
Premedikasi diberikan dengan tujuan membuat hewan lebih tenang dan terkendali,
mengurangi dosis anatesi, mengurangi efek-efek otonomik yang tidak diinginkan,
mengurangi nyeri preoperasi (Sardjana, 2004). Menurut Kumar (1997),

premedikasi adalah suatu substansi yang terdiri dari sedativa atau transquilizer
sebagai penenang dan substansi antikolinergik. premedikasi digolongkan dalam 5
bagian yaitu: analgesik narkotik, sedativa barbiturat dan non-barbiturat,
antikolinergik dan penenang. Obat ini sebaiknya diberikan secara oral sebelum
anestesi, kecuali pada keadaan gawat (Hall dkk, 1983).
Atropin Sulfat
Atropin merupakan alkaloid yang penting dari tanaman Atropa belladona
dan digunakan dalam anestesi sebagai sulfat yang larut air (Brander et al.,1991).
Atropin sulfat merupakan anticholinergik yang paling sering digunakan sebagai
premedikasi. Dosis untuk premedikasi pada anjing dan kucing yaitu 0.022 - 0.044
mg/kg IM or SQ (Muir, 1987). Atropin, seperti agen antimuskarinik lainnya,
secara kompetitif menghambat asetilkolin atau stimulan kolinergik lain pada
neuroefektor parasimpatik postganglionik. Dosis tinggi akan menurunkan
motilitas traktus gastrointestinal dan urinarius. Pada dosis yang sangat tinggi akan
menghambat sekresi gastrium (Plumb, 1999). Atropine sulfate diabsorbsi dengan
baik setelah pemberian oral, injeksi IM, inhalasi, atau administrasi endotracheal.
Atropine dimetabolisme di hati dan diekskresikan lewat urin. Sekitar 30-50% dari
dosis diekskresikan tanpa mengalami perubahan lewat urin (Plumb, 1999).
Ketamin HCl
Ketamin HCl merupakan derivat sikloheksason yang menimbulkan
keadaan yang disebut anestesi disosiatif. (Brander, et al., 1991). Ketamin adalah
larutan yang tidak berwarna, stabil pada suhu kamar dan relatif aman (batas
keamanan lebar). Ketamin mempunyai sifat analgesik, anastetik dan kataleptik

10

dengan kerja singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk sistem somatik, tetapi
lemah untuk sistem visceral. Tidak menyebabkan relaksasi otot lurik, bahkan
kadang-kadang tonusnya sedikit meninggi (Kumar, 1997). Ketamin merupakan
anestetik umum yang bekerja cepat yang juga mempunyai aktivitas analgesik dan
efek depresan kardiopulmonary yang kurang. Ketamin menghambat GABA, dan
juga mungkin memblok serotonin, norepinefrin, dan dopamin di CNS. Ketamin
menginduksi stadium anestesi I dan II, tapi tidak stadium III. Efek pada tonus otot
bervariasi, tapi biasanya ketamin menyebabkan tidak ada perubahan tonus otot
atau dapat meningkatkan tonus otot. Efek ketamin pada sistem kardiovaskuler
termasuk peningkatan cardiac output, denyut jantung, tekanan aortik, tekanan
arteri pulmonari, dan central venous pressure. Ketamin tidak menyebabkan
depresi respirasi secara sinifikan pada dosis biasa, tapi pada dosis yang lebih
tinggi dapat menyebabkan respiratory rate menurun (Plumb, 1999).
Dosis yang digunakan pada anjing adalah 10-20 mg/kg berat badan secara
intra muscular akan memberikan pengaruh anestesi selama 20-60 menit (Kumar,
1997). Ketika digunakan sebagai obat tunggal, ketamin tidak menghasilkan
relaksasi muskulus skeletal yang baik, dan dapat mencapai recovery dengan
segera dan biasanya dapat menyebabkan konvulsi pada anjing dan terkadang
kucing. Untuk catatan dalam pemberian ketamin-xylazine pada anjing, bahwa
obat ini dapat menyebabkan kardiak aritmia, edema pulmoner, dan depresi
respirasi. Sehingga sebelum diberikan, perlu diberikan premedikasi misalnya
atropine sulfat 0.044 mg/kg IM, 15 menit kemudian diberi xylazine (1.1 mg/kg)
IM, 5 menit kemudian diberikan ketamine (22 mg/kg) IM (Plumb, 1999). Obat ini

11

seharusnya tidak diberikan pada kucing dengan kelainan jantung dan beberapa
penyakit lainnya seperti takhikardia, penyakit ginjal atau obstruksi urinari kronis
(Donalds, C.S., 1982).
Xylazine HCl
Xylazine merupakan sedativa yang efektif untuk ruminansia dan kuda,
sedangkan pada anjing dan kucing dengan pemberian 1-3 mg/kg berat badan dapat
menyebabkan vomitus dan defekasi (Brander et al.,1991). Merupakan sedativa
non narkotik yang poten dan analgesik dan merupakan relaksan muskulus yang
baik. Efek sedativa dan analgesia bekerja mendepres sistem syaraf pusat, relaksasi
muskulus karena terhambatnya tranmisi intraneural dari impuls pada syaraf pusat
(Lumb and Jones, 1984). Menurut Kumar (1997), xylazine merupakan obat yang
berfungsi sebagai muskulorelaxan. Hal ini akan menyebabkan tekanan pada
vasomotor dan pusat pernafasan. Pada pemberian lokal anastetika yang
disuntikkan pada otot atau sekitar nervus akan menghasilkan muskulorelaxan pada
tepi.
Pengaruh

pemberian

akan

tampak

setelah

10-15

menit

secara

intramuskuler ditandai dengan respirasi dan denyut jantung akan menurun dan
terjadi perubahan sementara pada konduktivitas jantung. Dosis yang digunakan
untuk anjing adalah 1-2 mg/kg berat badan (Brander et al, 1991).
Efek xylazine pada anjing dan kucing adalah terjadinya muntah, pada
pemberian secara intravena atau intramuskuler sering terjadi distensi abdomen
akut (Brander et al, 1991). Kontra indikasi dari xylazine sebagai sedativa adalah
menginduksi bradikardia pada level 2 memblok arteri. Jika anjing agresif maka

12

pemberian xylazine harus dikombinasikan dengan atropin secara simultan


(Donald, C.S., 1982).
Ketamine-Xylazine
Kombinasi antara ketamin dan xylazine merupakan kombinasi terbaik bagi
kedua agen ini untuk menghasilkan analgesia. Banyak hewan yang teranestesi
secara baik dengan menggunakan kombinasi ini. Anestesi dengan ketamin
xylazine memiliki efek lebih pendek jika dibandingkan dengan pemberian
ketamin saja, tetapi kombinasi ini menghasilkan relaksasi muskulus yang baik
tanpa konvulsi. Emesis sering terjadi pasca pemberian ketamin-xylazine, tetapi hal
ini dapat diatasi dengan pemberian atropin 15 menit sebelum pemberian ketaminxylazine (Jones and Lumb, 1984). Efek sedasi xylazine akan muncul maksimal 20
menit setelah pemberian secara intramuskuler dan akan berakhir setelah 1 jam,
sedangkan efek anestesi ketamin HCl akan berlangsung selama 30-40 menit dan
untuk recovery dibutuhkan waktu 5-8 jam (Sardjana dan Kusumawati, 2004).

Antiseptik dan desinfektan

Alkohol 70 %
Alkohol merupakan antiseptik umum, pelarut yang baik dan desinfektan.
Jika diaplikasikan secara lokal pada jaringan, alkohol mempunyai efek antibakteri
dan germicid yang kuat. Alkohol banyak dipakai dalam persiapan operasi,
persiapan penyuntikan dan pencucian alat-alat kedokteran. Untuk meningkatkan

13

daya bunuh kuman alkohol sering dikombinasikan dengan antiseptik lain karena
sifatnya sinergik (Brander et al.,1991).
Iodine
Iodine merupakan elemen non metalik yang terdapat alami pada rumput
laut, air asin, dan lain-lain. Preparatnya merupakan serbuk berwarna ungu-coklat
gelap, yang dapat larut dalam alkohol dan ether. Dalam preparat ini, iodine tidak
pernah digunakan. Iodine dalam larutan alkohol atau disebut iodine tincture lebih
penetratif dan iritatif pada kulit, terutama pada kulit sensitif. (Boden, 2005).
Iodine selain untuk untuk desinfeksi dapat juga dipakai untuk mengobati
luka seta melawan infeksi jamur dan parasit. Kemampuan iodine dalam
menembus dinding sel sangat tinggi, dan karena adanya gangguan metabolisme
pada protoplasma, kuman akan mati. Larutan tersebut apabila mengenai luka akan
menyebabkan rasa perih dan meninggalkan warna jaringan (Brander et al., 1991).
Bioplacenton
Bioplacenton jelly merupakan obat luar dengan kandungan ekstrak
plasenta 10%, neomycin sulfat 0,5%, dan jelly sampai 100%. Bioplacenton adalah
ekstrak

plasenta

yang

mengandung

biogenik

stimulator, yang

mampu

menstimulasi proses metabolisme sel berupa peningkatan konsumsi oksigen pada


sel-sel hepar, percepatan regenerasi sel, dan penyembuhan luka. Neomycin sulfat
adalah antibiotik topikal dengan poten melawan bakteri gram positif maupun
negatif, tidak dirusak oleh eksudat atau produk metabolisme bakteri (Brander et
al., 1991). Kombinasi dari bioplacenton dan neomycin sulfat menyebabkan
kesembuhan luka yang cepat. Bioplacenton digunakan 4-6 kali sehari, dengan cara

14

dioleskan merata pada kulit yang terbakar, ulcer kronis dengan kesembuhan
lambat, jaringan granulasi, ulcer dekubitus, eksim pyoderma, impetigo, dan
furunkulosis (Brander et al., 1991).

Antibiotik

Ampicillin
Ampicilin merupakan salah satu semisintesis penicillin yang paling
penting. Mempunyai aktivitas bakterisid dan merupakan antibiotika spektrum luas
serta aktif melawan sejumlah mikroorganisme gram positif dan negatif. Aktivitas
terhadap bakteri meliputi Streptococcus, Staphylococcus, Corynebacterium,
Clostridium, Fusiformis, E. Coli, Klebsiella, Shigella, Proteus, Brucella dan
Pasteurella. Ampicillin diabsorpsi dengan baik pada saluran gastrointestinal.
Pemberian peroral mencapai puncak konsentrasi dalam jangka waktu 2 jam.
Didistribusikan ke seluruh tubuh meskipun hanya sebagian kecil yang masuk ke
cairan cerebrospinal dan dalam konsentrasi tinggi terdapat dalam hati dan ginjal
(Brander et,al., 1991). Dosis pemberian peroral ampicillin pada anjing adalah 1020 mg/kg berat badan, secara parenteral diberikan 5 10 mg/kg berat badan (Kirk
dan Bistner, 1985).

Analgesik
Meloxicam
Merupakan obat anti radang non steroid (NSAID) yang berasal dari
golongan oxicam. Meloxicam diberikan kepada anjing atau kucing dengan

15

indikasi mengontrol rasa sakit dan keradangan pada kasus gangguan tulang dan
persendian. Meloxicam lebih baik diberikan secara injeksi sub-cutan atau intravena pada anjing, dengan dosis 0,2 mg/kg BB konsentrasi 0,5% dengan rentang
waktu pemberian 24 jam selama 3 hari (Plumb, 1999).
MATERI DAN METODE
Materi
Alat
Untuk memenuhi operasi yang aseptis dan legeartis, alat-alat yang
digunakan harus dicuci dengan air sabun dibilas air bersih kemudian
disucihamakan dengan autoclave. Meja operasi disterilkan dengan cara
disemprot menggunakan alkohol 70%. Alat-alat yang dipakai dalam
operasi ini adalah 1 buah scalpel dan pisaunya, 2 buah gunting lurus dan
bengkok, 1 buah pinset chirurgis dan anatomis, 1 buah needle holder, 6
buah allis forcep, 6 buah duk klem, 4 buah arteri klem (mosquito/kelly
forcep), 4 buah calmalt forcep, 1 buah duk operasi, tampon, kapas steril, 4
buah tali restrain dan spuit disposibel ukuran 3 cc 3 buah dan 5 cc 1 buah.
Jarum yang digunakan adalah jarum berujung segitiga dan bulat. Benang
yang digunakan antara lain benang katun untuk melakukan ligasi dan
untuk menjahit lapisan kulit, cat gut chromic untuk menjahit muskulus,
dan cat gut plain untuk menjahit lapisan subcutan.
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan antara lain sebagai premedikasi digunakan
atropin sulfat 0,025% dosis 0,04 mg/kg BB, xylazine 2% dosis 2 mg/kg BB, dan
ketamin HCL 10% dosis 15 mg/kg BB. Obat-obatan lain yang digunakan antara

16

lain alkohol 70%, yodium tincture 3 %, larutan penstrep, ampicillin 10 %, aquades


steril.

17

Metode
Persiapan hewan
Sebelum operasi dilakukan, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan
kondisi tubuh hewan secara umum meliputi frekuensi pulsus, frekuensi
nafas, suhu tubuh, keadaan umum dari anjing tersebut. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui apakah anjing memenuhi syarat operasi atau tidak. Bila
anjing dinyatakan memenuhi syarat dan dinyatakan sehat, maka operasi
dapat dilaksanakan. Anjing harus dipuasakan makan selama 12 jam dan
puasa minum selama 2 jam sebelum operasi dilakukan, dengan tujuan agar
kondisi usus dalam keadaan kosong sehingga anjing tidak muntah dalam
kondisi teranestesi.
Bagian tubuh yang akan diincisi yaitu daerah craniolateral dari
femur dexter dibasahi dengan air sabun untuk memudahkan pencukuran.
Rambut anjing tersebut dicukur dengan menggunakan silet yang tajam,
dibersihkan dengan air, kemudian diolesi dengan yodium tincture. Setelah
itu, lakukan penimbangan berat badan anjing untuk menentukan semua
volume obat yang akan digunakan.
Persiapan operator dan pembantu operator
Operator dan pembantu operator sebelum dan selama pelaksanaan
operasi harus selalu dalam kondisi steril. Operator dan pembantu operator
mempersiapkan diri dengan mencuci tangan dari ujung tangan sampai
batas siku sebelum operasi, menggunakan air sabun di bawah air bersih
yang mengalir, kemudian didesinfektan dengan menggunakan larutan PK
4%. Selama operasi, operator dan pembantu operator harus menggunakan
masker, sarung tangan steril, dan pakaian khusus untuk operasi untuk
mengurangi kontaminasi.

18

Persiapan obat-obatan
Premedikasi yang digunakan yaitu Atropin sulfat 0,025% dengan
dosis 0,04 mg/kg BB secara subcutan. Untuk anestesi digunakan campuran
Xylazine 2% dosis 2 mg/kg BB dengan Ketamin HCL 10% dosis 20
mg/kg BB yang diberikan secara intramuskuler. Ampicillin 10% dengan
dosis 10 mg/kg BB juga perlu dipersiapkan.
Persiapan alat
Meja operasi harus dibersihkan dan disterilkan. Alat-alat operasi
dipersiapkan dalam keadaan steril dan diletakkan secara urut dan rapi pada
meja yang berdekatan dengan meja operasi.
Pelaksanaan operasi
Setelah hewan diberi anestesi dan hewan telah teranestesi maka
diletakkan dalam posisi rebah lateral dexter dengan keempat kaki dikatkan
pada meja operasi dengan tali untuk mempertahankan posisi. Daerah
craniolateral femur dexter diolesi iodium tincture secara sirkuler dari
sentral ke perifer. Duk dipasang pada bagian tubuh dengan menempatkan
lubang duk tepat didaerah yang akan diincisi (bagian tubuh yang lain
tertutup duk), keempat sudut difiksasi dengan duk klem. Hewan dipantau
frekuensi nafas, suhu dan pulsusnya setiap 10 menit mulai teranestesi
sampai hewan kembali sadar.
Irisan kulit dilakukan pada sepanjang craniolateral tulang yang
segaris dari trochanter mayor ke patella. Demikian pula jaringan
subkutannya. Kulit dan jaringan subkutan diretraksikan, fascia lata diiris
pada sepanjang tepi cranial muskulus biceps femoris. Setelah fascia diiris
tampak septum muskulus. M. biceps femoris dirarik ke kaudal dan m.
vastus lateralis ditarik ke depan sehingga tampak bagian permukaan tulang

19

femur. Demikian pula retraksi dilakukan untuk m. adduktor magnus ditarik


ke belakang dan vastus intermedius dipreparir dan ditarik ke depan.
Usahakan batang tulang terlepas dari muskulus disekitarnya dengan cara
dipreparir menggunakan forceps.
Pemotongan os femur dengan bor listrik bermata runcing sampai
putus dengan arah potongan transversal. Setelah itu kedua potongan tulang
difiksasi dengan memasang pin intramedullar bantuan alat bor manual
kearah proksimal terlebih dahulu hingga menembus kulit, selanjutnya
kearah distal sampai pangkal os femur. Panjang pin sudah diukur agar
tidak menembus bagian distal os femur. Setelah tulang terfiksir dengan
baik dan pin terpasang dengan baik maka lakukan fiksasi muskulus dengan
mempertautkan muskulus dengan muskulus, lakukan fiksasi dengan
jahitan dengan benang cat gut chromic ukuran 2/0 dengan pola jahitan
sederhana tunggal. Selanjutnya kulit difiksasi dengan melakukan jahitan
dengan benang catgut chromic menggunakan pola jahitan intracutan.
Kemudian bekas jahitan diberi iodium tincture dan salep bioplacenton.
Setelah itu diberi injeksi Ampicillin secara intramuskuler sebanyak volume
yang telah ditentukan.
Perawatan post operasi
Untuk perawatan luka bekas operasi, anjing diberi antibotik
Ampicilline secara intramuskuler sehari dua kali selama 3 hari, diberi
injeksi Meloxicam secara subcutan satu kali sehari pada sore hari dan
diolesi salep iodin beserta salep bioplacenton setiap pagi dan sore hari.
HASIL

20

Anamnesa: Anjing tersebut dibeli di Godean, nafsu makan dan minum normal,
tidak diare, tidak muntah, pakan yang diberikan adalah nasi dicampur hati atau
cacahan tulang ayam, anjing tersebut belum pernah divaksin, belum pernah diberi
obat cacing, anjing tersebut sudah dipuasakan sehari sebelumnya, dan minta
dioperasi fraktur femur.
Berat Badan
3,8 kg
Signalemen
Anjing Lokal//7 bulan/coklat muda kuping dan moncong hitam
Keadaan Umum
Ekspresi wajah menunjukkan rasa takut, badan kurus dan kecil
Frek. Nafas
30 kali /menit
Frek. Pulsus
84 kali /menit
Temperatur
38,6 oC
Kulit dan Rambut Rambut kasar, kusam, di kulit terdapat banyak ektoparasit, turgor
Selaput Lendir

kulit normal (<2 detik)


Ginggiva dan konjungtiva berwarna pink kemerahan, CRT <2

Kelenjar Limfe
Pernafasan

detik
Tidak ada pembengkakan limfoglandula
Cuping hidung lembab, tidak ada leleran yang keluar dari
hidung, tipe pernafasan thoracoabdominal, suara pernafasan

Peredaran Darah
Pencernaan
Kelamin

vesikuler
Suara sistole dan diastole dapat dibedakan, detak ritmis
Palpasi esofagus tidak menimbulkan respon tersedak, anus

bersih, tidak diare, gerak peristaltik usus normal


dan Tidak ada reaksi sakit saat ginjal dan vesica urinaria dipalpasi,

Perkencingan
Saraf

vesica urinaria kosong


Reflek palpebrae, reflek pupil dan reflek pedal masih berfungsi

Anggota Gerak

dengan baik
Anjing berjalan normal dengan keempat kakinya, menapak

Tata Laksana

dengan 4 kaki, tidak ada kelainan formasi tulang


Operasi Fraktur Femur

Pemberian Anastesi
Premedikasi : Atropin sulfat secara subcutan jam 12.43 WIB
- Konsentrasi 0,025%, dosis 0,04 mg/kg BB
- BB anjing : 3,8 kg
- Volume dosis : 0,6 ml
Anestesi : Ketamin HCl Xylazine secara intramuskuler (15 menit pasca
pemberian atropin sulfat)
- Ketamin HCl : Konsentrasi 10%, dosis 15 mg/kg BB (BB: 3,8 kg)
21

-Volume dosis : 0,57 ml


- Xylazine : Konsentrasi 2%, dosis 2 mg/kg BB (BB : 3,8 kg)
-Volume dosis : 0,38 ml
Pasca Operasi
Hari

Rencana pengobatan

ke
1

1. Ampicilin 0,38 mL -

Frek. Nafas
P
S
S

Frek. Pulsus
P
S
S

Temperatur
P
S
S

45

60

40

80

82

80

38,4 38,6 38,4

40
50
56

55
71
82

46
64
50

78
86
100

76
80
96

84
82
120

38
38,6 38,5
39
39
39
38,7
38,9

50
44
40
-

64
48
38
36

52
40
42
33
-

84
80
86
100
-

82
116

76
92
82
122
-

37,6
39
38,6
38,2
38,8

pagi dan sore


2. Meloxicam 0,14 mL
-sore
3. Salep Betadine - pagi
dan sore
1, 2,3
1,2,3
1. Ampicilin 0,38 mL

2
3
4

pagi dan sore


3. Salep Betadine pagi
dan sore
4. Bioplacnton salep pagi dan sore
5
6
7
8
9
10

1,3,4
1,3,4
1,3,4
1,3,4
3,4
3,4

37,9
39,1
38,8
38,4
38,8

Perkembangan Hewan
Hari ke
1.

Perkembangan Hewan
Anjing mulai berusaha berdiri dengan keempat kakinya, makan minum dengan

3.

lahap, kondisi luka masih belum terjadi perubahan


Bagian femur yang dioperasi terlihat membengkak akibat proses kesembuhan

4.

luka dan tulang


Jahitan terbuka akibat elizabeth collar terlepas sehingga anjing menggigiti
bagian yang dijahit hingga terlepas. Dilakukan penjahitan ulang, injeksi
antibiotik diteruskan.

22

7.

Keluar cairan kuning kemerahan dari sela kulit yang telah dijahit, anjing sudah

8.
10.

bisa menapakkan ke-4 kakinya


Anjing mulai berjalan dengan normal walaupun sedikit pincang
Pencabutan benang katun
PEMBAHASAN
Prinsip dalam penanganan fraktur adalah dengan 4 R, yaitu
Rekognisi, Reduksi, Retensi dan Rehabilitasi. Namun dalam kasus mandiri
ini, anjing yang digunakan sebagai probandus adalah anjing yang sehat.
Pembahasan dalam laporan ini yaitu dari prosedur pelaksanaan operasi
yang dilakukan, yaitu meliputi persiapan pre-operasi, pelaksanaan operasi,

dan perawatan pos operasi.


Persiapan Pre-operasi
Pemeriksaan umum
Pemeriksaan pada anjing lokal jantan, berumur 7 bulan, berat
badan 3,8 kg, bernama Lucky diawali dengan anamnesa yang meliputi
gambaran keadaan anjing, penyakit-penyakit yang pernah diderita,
keadaan lingkungan, pakan, dll. Hasil anamnesa yang diperoleh antara lain
anjing tersebut baru dibeli 1 minggu sebelumnya di Godean, nafsu makan
dan minum normal, tidak diare, tidak muntah, pakan yang diberikan
adalah nasi dicampur tulang atau hati rebus, anjing tersebut belum pernah
divaksin, belum pernah diberi obat cacing, dan anjing tersebut sudah
dipuasakan sehari sebelumnya. Pemilik menginginkan anjingnya dioperasi
fraktur femur.
Pemeriksaan umum diawali dengan inspeksi dari jarak jauh dan
dekat. Usahakan hewan dalam keadaan yang tenang. Berdasar hasil
inspeksi, diketahui bahwa ekspresi muka anjing tersebut terlihat takut, dan

23

kondisi tubuhnya kecil dan kurus. Rambut kasar dan kusam, di kulitnya
terdapat ektoparasit dan turgor kulit normal (<2). Konjungtiva dan
ginggiva tampak pink kemerahan, dengan Capillary Refill Time yang
normal yaitu kurang dari 2 detik. Limfoglandula superficial juga tidak
mengalami perubahan atau tidak menunjukkan gejala sakit saat dipalpasi
dan tidak mengalami pembengkakan maupun atropi.
Pemeriksaan suhu tubuh dilakukan dengan cara memasukkan
termometer ke dalam rektum dan hasilnya yaitu 38,6C. Hal ini tergolong
normal karena suhu tubuh anjing normalnya adalah 37,6-39,5C (Surono
dkk, 2005). Pemeriksaan dilanjutkan pada alat pernafasan. Cuping hidung
tampak lembab dan tidak ada leleran yang keluar dari hidung. Palpasi
dilakukan pada daerah fascialis, pharynx, larynx, dan trachea. Hasil
palpasi menunjukkan bahwa tidak ada rasa sakit pada organ yang
dipalpasi. Saat auskultasi diperoleh hasil bahwa tipe pernafasan anjing
tersebut torako abdominal dengan suara vesikuler yang dominan.
Pemeriksaan frekuensi nafas dilakukan dengan cara melihat kembang
kempisnya daerah torako abdominal atau bisa juga dengan menempelkan
telapak tangan di daerah cuping hidung. Menurut hasil pemeriksaan,
frekuensi nafas anjing tersebut adalah 30 kali per menit. Hal ini tergolong
normal karena frekuensi nafas normal anjing adalah 24 42 kali per menit
(Surono dkk, 2005). Pemeriksaan pulsus pada anjing dilakukan dengan
meraba arteri femoralis yang terdapat pada sebelah medial femur. Hasil
pemeriksaan menunjukkan bahwa frekuensi pulsus anjing tersebut adalah
84 kali per menit. Frekuensi pulsus ini tergolong normal karena frekuensi

24

pulsus anjing normalnya adalah 76-148 kali per menit (Surono dkk, 2005).
Setelah itu, dilanjutkan dengan pemeriksaan terhadap sistem sirkulasinya.
Hasil pemeriksaan yang diperoleh adalah peredaran darah anjing tersebut
tergolong normal yaitu saat diauskultasi, suara sistole dan diastole dapat
dibedakan dengan jelas dan normal (ritmis). Pemeriksaan dilanjutkan
dengan sistem pencernaan. Mulut anjing dibuka dengan cara menekan
bibir anjing ke bawah gigi (ke dalam mulut). Hal ini bertujuan untuk
melihat kondisi di dalam mulut. Kondisi mulut anjing tersebut normal
(bersih, tidak ada lesi-lesi, dan tidak ada kerusakan pada gigi). Palpasi
dilakukan pada daerah esofagus dan hasilnya adalah normal dengan reflek
menelan yang masih baik. Palpasi pada daerah abdomen tidak
menunjukkan adanya rasa sakit, dan anus tampak bersih. Pemeriksaan
dilanjutkan dengan pemeriksaan sistem urogenital, dan hasilnya adalah
normal atau tidak mengalami perubahan. Hal ini ditunjukkan dengan tidak
adanya rasa sakit saat palpasi ginjal maupun saluran urin yang lain. Hasil
pemeriksaan pada sistem syaraf adalah normal (reflek palpebrae, reflek
pupil, dan reflek pedal masih berfungsi dengan baik), dan hasil
pemeriksaan alat gerak juga normal (anjing dapat berdiri dan berjalan
dengan 4 kaki secara normal).
Premedikasi dan Anestesi
Berdasar pertimbangan anamnesa dan pemerikaan fisik, maka
anjing Lucky dinyatakan dapat dioperasi fraktur femur. Anjing harus
dipuasakan makan 12 jam dan puasa minum selama 2 jam sebelum
dilakukan operasi, dengan tujuan agar kondisi usus dalam keadaan kosong

25

sehingga anjing tidak muntah dalam kondisi teranestesi. Bagian tubuh


yang akan diincisi yaitu daerah craniolateral femur dibasahi dengan air
sabun untuk memudahkan pencukuran. Rambut anjing tersebut dicukur
dengan menggunakan silet yang tajam, dibersihkan dengan air, kemudian
diolesi dengan yodium tincture. Setelah itu, lakukan penimbangan berat
badan anjing untuk menentukan semua volume obat yang akan digunakan.
Premedikasi yang digunakan dalam operasi ini adalah atropin sulfat
0,025% dengan dosis 0,04 mg/kg BB secara sub cutan. Berat badan anjing
adalah 3,8 kg, sehingga volume dosis atropin sulfat yang diinjeksikan
adalah 0,6 ml. Premedikasi sangat diperlukan dalam suatu operasi, dengan
tujuan untuk memudahkan dalam melakukan anestesi sehingga membuat
hewan menjadi tenang dan untuk menghindari kejadian yang fatal bagi
hewan saat operasi maupun setelah operasi (Brander et al., 1991).
Pemberian atropin sulfat ditujukan untuk meniadakan efek saliva dan
sekresi eksokrin, bronkodilatator, mengurangi aktivitas traktus digestivus,
menghambat urinasi, menekan aksi vagus, dan mendilatasi pupil selama
anestesi (Brander et al., 1991).
Anestesi yang digunakan dalam operasi ini adalah campuran
xylazine 2% dosis 2 mg/kg BB dengan ketamin HCL 10% dosis 15 mg/kg
BB yang diberikan secara intra muskuler. Adapun volume dosis ketamin
HCl yang diinjeksikan adalah 0,57 ml dan volume dosis xylazine yang
diinjeksikan adalah 0,38 ml. Ampicillin 10% dengan dosis 10 mg/kg BB
juga perlu dipersiapkan. Ketamin HCl merupakan analgetika yang tidak
menyebabkan depresi dan hipnotika pada sistem syaraf pusat, tetapi

26

berperan sebagai kataleptika. Reflek mulut dan menelan tetap ada, serta
mata masih terbuka pasca pemberian ketamin HCl (Kumar, 1997; Jones
and Lumb, 1984). Xylazine merupakan sedativa non-narkotik dan
analgetika yang paling baik, serta baik untuk relaksasi muskulus. Efek
terjadinya relaksasi muskulus disebabkan adanya hambatan pada transmisi
intraneural dari impuls pada sistem syaraf pusat (Jones and Lumb, 1984).
Anestesi dengan ketamin-xylazine memiliki efek lebih pendek jika
dibandingkan dengan pemberian ketamin saja, tetapi kombinasi ini
menghasilkan relaksasi muskulus yang baik tanpa konvulsi (Jones and
Lumb, 1984). Efek sedasi xylazin akan muncul maksimal 20 menit setelah
pemberian secara intra muskular dan akan berakhir setelah 1 jam,
sedangkan efek anestesi ketamin HCl akan berlangsung selama 30-40
menit dan untuk recovery dibutuhkan waktu 5-8 jam (Sardjana dan
Kusumawati, 2004). Efek anestesi kombinasi ketamin HCl dengan xylazin
pada operasi ini berlangsung selama 45 menit.
Persiapan alat-alat operasi
Peralatan operasi disiapkan sedemikian rupa dalam keadaan steril,
pengaturan tata letak dilakukan sedemikian rupa untuk memudahkan
kelancaran jalannya operasi. Yang perlu diperhatikan adalah pin intra
medullar yang akan digunakan harus dalam kondisi benar-benar steril.
Kondisi ini dapat dilakukan dengan merendam pin dengan alkohol 70%.
Pada pelaksanaan operasi ini, pin intramedullar yang disiapkan
menggunakan jeruji roda sepeda yang telah dimodifikasi sedemikian rupa
dengan kedua ujung dibuat lancip untuk memudahkan pemasangan.
Persiapan operator dan ko-operator.

27

Operator dan ko-operator memakai gaun operasi yang telah


disiapkan, mencuci tangan dengan larutan PK, serta memakai sarung
tangan dan masker steril.
Operasi fraktur
Daerah craniolateral femur dexter anjing diolesi alkohol secara
sirkuler dari sentral ke perifer dan ditunggu 2 menit dan dilakukan
pengolesan iodium tincture dengan cara yang sama. Duk dipasang pada
bagian tubuh dengan menempatkan lubang duk tepat didaerah yang akan
diincisi (bagian tubuh yang lain tertutup duk), keempat sudut difiksasi
dengan duk klem.
Irisan kulit dilakukan pada sepanjang craniolateral tulang yang
segaris dari trochanter mayor ke patella. Umumnya, insersi plat dan bentuk
fraktur kominutiva membutuhkan incisi yang lebih panjang. Demikian
pula jaringan subkutannya. Kulit dan jaringan subkutan diretraksikan,
fascialata diiris pada sepanjang tepi cranial muskulus biceps femoris.
Setelah fascia diiris tampak septum muskulus. M. biceps femoris ditarik ke
kaudal dan m. vastus lateralis ditarik ke depan sehingga tampak bagian
permukaan tulang femur. Usahakan batang tulang terpisah dari muskulus
di sekitarnya.
Lakukan pemotongan terhadap os femur menggunakan gergaji
khusus berupa bor listrik bermata runcing hingga terpotong menjadi dua
bagian. Setelah terpotong menjadi dua bagian, dilakukan pemasangan pin
intramedullar yang telah disiapkan. Pemasangan pin intramedular pada
operasi kali ini menggunakan metode retrograde (Permattei et al., 2006).
Dimana pemasangan pin dimulai dari fragmen tulang bagian proksimal,

28

dimulai dari lokasi fraktur sampai menembus ujung proksimal os femur.


Pemasangan dilakukan dengan menusukkan pin ke fragmen tulang bagian
proksimal hingga pin keluar menembus kulit dengan menggunakan alat
bor manual. Selanjutnya bor dipasang diujung pin yang atas yang telah
menembus kulit, kedua sisi ujung potongan tulang direposisi hingga benarbenar lurus, lalu pin didorong kearah distal sampai pangkal os femur.
Sebelum dilakukan pemasangan, pin sudah diukur agar tidak sampai
menembus pangkal femur. Selanjutnya lalukan pemotongan pin bagian
proksimal sejajar dengan kulit.
Setelah pin intramedullar terpasang, dilakukan reposisi terhadap
muskulus, difiksasi dengan jahitan sederhana menerus menggunakan
benang cat gut chromic ukuran 2/0. Pemilihan benang cat gut chromic
karena benang ini adalah salah satu benang yang bias diserap oleh tubuh
dalam jangka waktu yang tidak terlalu cepat, dan digunakan ukuran 2/0
karena untuk musculus diperlukan fiksasi yang kuat selama proses
penyembuhan. Selanjutnya dilakukan reposisi kulit dengan fiksasi jahitan
intracutan menggunakan benang catgut chromic yang telah disterilisasi.
Setelah proses reposisi selesai, luka jahitan diolesi dengan iodine
tincture, dibiarkan sampai mengering sendiri selanjutnya diolesi dengan
bioplasenton jelly kemudian ditutup dengan kasa Ipavic. Yodium selain
untuk untuk desinfeksi dapat juga dipakai untuk mengobati luka serta
sebagai agen fungusida. Kemampuan yodium dalam menembus dinding
sel sangat tinggi, dan karena adanya gangguan metabolisme pada
protoplasma, kuman akan mati. Larutan tersebut apabila mengenai luka

29

akan menyebabkan rasa perih dan meninggalkan warna jaringan (Brander


et al., 1991).
Bioplasenton jelly dipilih karena mengandung ekstrak plasenta
yang bisa memacu pertumbuhan sel. Bioplasenton jelly merupakan obat
luar dengan kandungan ekstrak plasenta 10%, neomycin sulfat 0,5% dan
jelly sampai 100%. Bioplasenton adalah ekstrak plasenta yang
mengandung biogenik stimulator yang menstimulus proses metabolisme
sel berupa peningkatan konsumsi O2 pada sel-sel hepar, percepatan
regenerasi sel dan penyembuhan luka. Neomycin sulfat adalah antibiotik
topikal dengan potensi melawan bakteri gram positif dan gram negatif,
tidak dirusak oleh eksudat atau dengan produk metabolisme bakteri.
Kombinasi dari bioplasenton dan neomycin sulfat menyebabkan
kesembuhan yang cepat (Brander et al, 1991).
Selanjutnya anjing diinjeksi dengan Ampicillin dengan dosis 0,10
ml/kg berat badan secara intra muscular. Ampicillin mempunyai aktivitas
bakterisid dan merupakan antibiotika spektrum luas serta aktif melawan
sejumlah mikroorganisme gram positif dan negatif. Aktivitas terhadap
bakteri

meliputi

Streptococcus,

Staphylococcus,

Corynebacterium,

Clostridium, Fusiformis, E. Coli, Klebsiella, Shigella, Proteus, Brucella


dan Pasteurella.
Perawatan post operasi
Segera setelah operasi selesai dilakukan kontrol terhadap
temperatur tubuh anjing pada pagi dan sore hari. Pemberian ampicillin 2
kali sehari selama tiga hari diharapkan dapat mencegah terjadinya infeksi
bakteri dan dapat membantu mempercepat proses kesembuhan luka.

30

Perawatan

terhadap

luka

jahitan

dengan

menggunakan

bioplasenton jelly yang dioleskan 2 sampai 3 kali sehari. Pada hari ke


empat post operasi, jahitan kulit jebol akibat proses kebengkakan dan
bekas jahitan digigit oleh anjing tersebut, sehingga harus dilakukan
penjahitan ulang. Penjahitan ulang dilakukan dengan melakukan
penggoresan pada tepi luka lama untuk mebuat luka baru, kemudian
dijahit menggunakan pola sederhana tunggal dengan menggunakan benang
katun. Pada hari ke 11 seluruh jahitan kulit sudah dilepas, dan terjadi
kesembuhan primer pada luka sayatan kulit.
Proses kesembuhan luka adalah suatu respon imun alami apabila
tubuh mengalami luka. Pada dasarnya proses kesembuhan luka dibedakan
menjadi: proses kesembuhan primer dan proses kesembuhan sekunder
(kesembuhan granulasi). Kesembuhan primer akan dapat terjadi apabila
luka yang masih baru, luka yang diperbarui, luka yang dalam keadaan
aseptik, luka yang tidak mengalami perdarahan lagi, tepi luka teriris licin
dan dipertemukan dengan jahitan atau cara lain, suplai darah pada dinding
luka cukup bagus, tidak ada jaringan mati pada tepi luka.
Apabila terjadi kelukaan, darah akan mengalir dari pembuluh darah
yang terpotong ke tempat luka, darah kemudian menjendal. Dalam
beberapa jam, bekuan darah pada luka akan kehilangan cairan sehingga
bagian dari permukaan luka menjadi dehidrasi dan terbentuklah keropeng
(scab) yang berfungsi melindungi luka. Bersamaan dengan reaksi tersebut,
permeabilitas kapiler dari pembuluh darah yang terganggu akibat adanya
luka permeabilitasnya menjadi meningkat dan segera terjadi eksudasi

31

dalam waktu 12 jam yang berisi RBC, leukosit polimorfonuklear,


makrofag dan fibrin mengisi luka. Selanjutnya, sel-sel kolagen yang
terdapat pada luka akan membengkak dan mengalami hialinisasi, sehingga
pada daerah luka akan terasa bengkak dan sakit. Jumlah sel
polimorfonuklear akan meningkat pada waktu 24 jam, diikuti dengan
fragmentasi pada 48 jam. Pada 25-72 jam aktivitas makrofag akan
meningkat sehingga jaringan mati di daerah luka sedikit demi sedikit akan
dibuang. Peningkatan fibroblast terjadi pada hari ke 3-5 dan menempatkan
dirinya dalam posisi tegak lurus pada arah irisan luka.
Menurut Archibald (1974), proses kesembuhan fraktur hampir
sama dengan kesembuhan pada jaringan lunak, hanya saja tidak terbentuk
serabut kolagen melainkan terbentuk osteosit dan matriks tulang. Fase
pertama yaitu terjadi peningkatan kegiatan sel-sel tulang yang akan
mengisi celah antara ujung patahan tulang dengan dibentuknya jaringan
yang banyak mengandung sel. Fase kedua yaitu terbentuknya matriks
tulang yang dibentuk di dalam sumsum tulang dan di sekeliling ujung
patahan tulang membentuk selubung penguat yang disebut kalus. Jaringan
kalus ini lama-lama akan diabsorbsi lagi yang kemudian akan terjadi
kondensasi garam-garam kalsium pada matriks sehingga akan terbentuk
sistema haversi dan matriks akan menjadi tulang yang sempurna.
Prinsip penanganan fraktur, seperti sudah disebutkan, yaitu dengan
4 R (Rekognisi, Reduksi, Retensi dan Rehabilitasi). Dalam kasus mandiri
ini, rekognisi atau anamnesa yang biasanya dilakukan dengan pengambilan
foto rongent bertujuan untuk mengetahui letak dan posisi tulang yang

32

mengalami fraktur tidak dilakukan, karena anjing yang dipakai sebagai


probandus adalah anjing sehat.
Reduksi atau reposisi, dalam kasus mandiri ini dilakukan dengan
teknik reposisi terbuka dengan jalan melakukan preparir melalui sisi
craniolateral os femur dexter untuk mencapai os femur. Retensi atau
immobilisasi, dilakukan dengan metode pemasangan pin intrameduller,
teknik ini dilakukan karena untuk os femur dengan model fraktur
tranversal, pemasangan pin intramedullar dirasa paling tepat untuk
melakukan immobilisasi agar tulang tidak mengalami pergeseran fragmen
selama proses kesembuhan berlangsung. Rehabilitasi atau perawatan post
operasi dilakukan dengan melakukan perawatan dan pengamatan intensif
selama 5 hari post operasi. Perawatan yang dilakukan berupa pemberian
analgesik injeksi 1 kali sehari selama 3 hari, antibiotik injeksi 2 kali sehari
selama 3 hari, perawatan pada luka luar dengan diolesi bioplasenton jelly 2
sampai 3 kali sehari hingga luka sembuh primer.
KESIMPULAN
Reposisi dan immobilisasi fraktur tranversal os femur dexter pada
anjing Lucky dengan reposisi terbuka dan pemasangan pin intramedullar
dilakukan dengan baik. Proses kesembuhan luka yang terjadi adalah
kesembuhan luka sekunder.
SARAN
Untuk kasus fraktur pada hewan anjing, terutama yang bersifat
hiper aktif, sebaiknya jahitan kulit yang digunakan ialah fiksasi yang kuat

33

berupa model sederhana tunggal menggunakan benang silk atau katun


steril agar jahitan tidak mudah terlepas.

DAFTAR PUSTAKA
Archibald, J. 1974. Canine Surgery 2nd Edition. America Veterinary Publication.
Amerika.
Bistner, S.l and Kirk, R.W. 1985. Hand Book of Veterinary Procedures and
Emergency Treatment 4th. W.B. Saunders Company, Philadelpia.
Boden, Edward. 2005. Black Veterinary Dictionary 21st Edition. Soho Square,
London.
Brander, G.C., Pugh, D.M., Bywater, R.J., and Jenkins, W.L. 1991. Veterinary
Applied Pharmacology and Therapeutic 5th. Baillere Tindal. ELBS.
Inggris.
Donald, C.S., 1982, The Practice of Small Animal Anasthesia. WB Saunders
Company, Philadelphia.
Donald L.P, D.V.M., Ph.D., 1993. An Atlas of Surgical Approaches to the Bones
and Joints of the Dog and Cat, Third edition. W.B Saunders Company.
Philadelphia, Pennsylvania.
Frandson, 1986, Anatomy and Physiology Farm Animal, 4th Ed., LEA and
Febiger, Philadelphia.
Hall, L.W., dan Charke, K.W., 1978, Veterinary Anasthesia, 8th ed., English
Language Book Society and Bailehere Tindall, London.
Kirk, R. W. And Bistner, S. J. 1985. Handbook of Veterinary Procedures and
Emergency Treatment. 3th edition. Philadelphia: W. B. Sounders Co.
Kumar, A. 1997.Veterinary Surgical Technique 1st. Vikas Publishing, New Delhi.
Lumb, W.V., dan Jones, E.W., 1984, Veterinary Anasthesia, 2nd ed., Lea and
Febriger, Philadelphia.

34

Muir, W.W., 1987. An Outline of Veterinary Anesthesia. Columbus: Anesthesia


Dept., Dept. Of Veterinary Clincical Sciences, Ohio State University.
Permattei D.L., Gretchen L. F., Charles E.D., 2006. Brinker, Permattei and Flos
Handbook of Small Animal Orthopedics and Fracture Repair, 4th Edition.
Saunders Elsevier. St. Louis, Missouri.
Plumb, DC., 1999. Veterinary Drugs Handbook 3rd Edition, Iowa State University
Press. Ames.
LAMPIRAN

Gambar 1. Premedikasi

Gambar 3. Preparir subcutan

Gambar 2. Incisi kulit

Gambar 4. Preparir muskulus

35

Gambar 5. Ekspose tulang femur

Gambar 6. Pemotongan tulang

36

Gambar 7. Tulang terpotong transversal


intramedular

Gambar 8. Pemasangan pin

Gambar 9. Tulang telah difiksasi


Gambar 10. Penjahitan muskulus

Gambar 11. Penjahitan intracutan


intracutan

Gambar 12. Hasil jahitan

37

LAPORAN CASE REPORT


KOASISTENSI BEDAH DAN RADIOLOGI
TEKNIK FIKSASI FRAKTUR FEMUR BAGIAN DIAFISIS
PADA ANJING MENGGUNAKAN PIN INTRAMEDULLAR

OLEH :
NAMA : Anabella Purnama Firdausyia, S.K.H.
NIM : 14/374255/KH/8281
Dosen Pembimbing :
Dr.drh. Dhirgo Adjie, M.P.
BAGIAN BEDAH DAN RADIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014