Anda di halaman 1dari 12

KEPERAWATAN GERONTIK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN


HAMBATAN MOBILITAS FISIK
DI WISMA ANGGREK PANTI WREDA HARAPAN IBU
Dosen Pembimbing: Ns. Elis Hartati, M. Kep.

Disusun Oleh:
Dina Ratnawati

(22020113183004)

PROGRAM PROFESI NERS


JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Mobilisasi adalah pengerahan yang memberikan kebebasan dan
kemandirian bagi seseorang. Mobilisasi adalah pusat utuk berpartisipasi dalam
menikmati kehidupan. Mempertahankan mobilitas optimal sangat penting
untuk kesehatan mental dan fisik semua lansia. Mobilitas bukan merupakan
sesuatu yang absolut dan statis dalam menentukan kemampuan untuk berjalan,
tetapi mobilitas optimal merupakan sesuatu yang individualistis, relatif dan
dinamis yang tergantung pada interaksi antara faktor-faktor lingkungan dan
sosial, afektif dan fungsi fisik. Mobilitas didefinisikan secara luas sebagai
tingkat aktivitas yang kurang dari mobilitas optimal. Studi-studi tentang
insidens diagnosis keperawatan yang digunakan untuk lansia yang berada di
institusi perawatan mengungkapakan bahwa hambatan mobilitas fisik adalah
diagnosis pertama atau kedua yang paling sering muncul. Keletihan dan
kelemahan batasan karakteristik intoleransi aktivitas, telah diketahui sebagai
penyebab paling umum kedua yang paling sering terjadi yang menjadi keluhan
pada lansia. Sekitar 43% lansia telah diidentifikasi memiliki gaya hidup kurang
gerak, akhirnya sekitar 50% penurunan funsional pada lansia dihubungkan
dengan disease. Penyebab imobilitas bermacam-macam, berbagai ancaman dari
imobilitas fisik dapat dikategorikan berhubungan dengan lingkungan internal
dan eksternal atau dengan kompetensi dan sumber-sumber internal dan
eksternal klien.

B.

Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa

mampu

memahami

dan

melaksanakan

asuhan

keperawatan pada lansia dengan gangguan mobilisasi.


2. Tujuan Khusus
a.
Agar mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada lansia dengan
b.

gangguan mobilisasi.
Agar mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada
lansia dengan gangguan mobilisasi.

c.

Agar mahasiswa mampu melaksanakan intervensi pada lansia dengan

d.

gangguan mobilisasi.
Agar mahasiswa mampu melaksanakan implementasi pada lansia

e.

dengan gangguan mobilisasi.


Agar mahasiswa mampu malakukan evaluasi pada lansia dengan
gangguan mobilisasi.

BAB II
PEMBAHASAN
I.

KONSEP DASAR PENYAKIT


A.

Definisi
Gangguan mobilitas fisik yaitu suatu keadaan keterbatasan
kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang.

B.

Faktor-Faktor yang Menyebabkan atau Turut Berperan Terhadap


Imobilitas
1.
Penurunan fungsi muskuloskeletal Otot-otot (atrofi, distrofi, atau
cedera),

tulang

(infeksi,

fraktur,

tumor,

osteoporosis,

atau

osteomalasia), sendi (athritis dan tumor), atau kombinasi struktur


2.

(kanker dan obat-obatan).


Perubahan fungsi neurologis Infeksi, tumor, trauma, obat-obatan,
penyakit vaskular (mis, stroke), penyakit demelinasi, penyakit
degeneratif (ex: penyakit parkinson), gangguan metabolik (mis,

3.

hiperglikemia), gangguan nutrisi.


Nyeri Penyebabnya multipel dan bervariasi seperti penyakit kronis

4.

dan trauma.
Defisit perseptual Kelebihan atau kekurangan masukan persepsi

5.

sensori.
Berkurangnya kemampuan kognitif Gangguan proses kognitif,

6.

seperti demensia berat jauh.


Jatuh Efek fisik: cedera atau fraktur. Efek psikologis: sindrom

7.

setelah jatuh.
Perubahan hubungan sosial Faktor-faktor aktual (mis, kehilangan
pasangan, pindah jauh dari keluarga atau teman-teman), faktor-faktor

persepsi (mis, perubahan pola pikir seperti depresi).


8.
Aspek psikologis Ketidakberdayaan dalam belajar.
C. Program Terapeutik
Program penanganan medis memiliki pengaruh yang kuat terhadap
kualitas dan kuantitas pergerakan pasien. Faktor-faktor mekanisme
mencegah atau menghambat pergerakan tubuh atau bagian tubuh dengan
penggunaan peralatan eksternal (misalnya gips dan traksi) atau alat-alat
(misalnya yang dihubungkan dengan pemberian cairan intravena,
pengisapan gaster, kateter urine, dan pemberian oksigen). Sebagai

intervensi dianjurkan istirahat dapat menurunkan kebutuhan metabolik,


kebutuhan oksigen dan beban kerja jantung. Selain itu istirahat
memberikan kesempatan pada sistem muskuloskeletal untuk relaksasi
menghilangkan nyeri, mencegah iritasi yang berlebihan dari jaringan yang
cedera, dan meminimalkan efek gravitasi. Secara fisiologis, suplai oksigen
yang tidak adekuat mengganggu pemeliharaan fungsi sel untuk
meningkatkan aktivitas. Secara psikologis, depresi menurunkan energi
yang tersedia.
D.

Dampak Masalah pada Lansia


Lansia sangat rentan terhadap konsekuensi fisiologis dan psikologis
dari imobilitas, perubahan yang berhubungan dengan usia disertai dengan
penyakit kronis menjadi predisposisi bagi lansia untuk mengalami
komplikasi-komplikasi ini imobilitas mempengaruhi tubuh yang telah
terpengaruh sebelumnya. Kompetensi fisik seseorang lansia mungkin
berada atau dekat dengan tingkat ambang batas untuk aktivitas mobilitas
tertentu. Perubahan lebih lanjut atau kehilangan dari imobilitas dapat
membuat seseorang menjadi tergantung. Semakin besar jumlah penyebab
imobilitas, semakin besar potensial untuk mengalami efek-efek akibat
imobilitas. Keuntungan latihan secara teratur untuk lansia termasuk
memperlambat

proses

penuaan,

memperpanjang

usia.

kardiovaskular yang lebih baik dan peningkatan perasaan sejahtera.

Fungsi

1.

E. Penatalaksanaan
Pencegahan Primer
Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan
mobilitas

dan

aktivitas

bergantungan

pada

fungsi

sistem

muskuloskeletal, kardiovaskular dan pulmonal, walaupun latihan tidak


akan mengubah rangkaian proses penuaan normal, hal tersebut dapat
mencegah efek imobilitas yang merusak dan gaya hidup kurang gerak.
Program latihan juga dihubungkan dengan peningkatan mood atau
tingkat ketegangan ansietas dan depresi. Hambatan terhadap latihan :
Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam latihan
secara teratur. Hambatan lingkungan termasuk kuranganya tempat
yang aman untuk latihan dan kondisi iklim yang tidak mendukung.
Sikap budaya adalah hambatan lain untuk melakukan latihan. Model
peran yang kurang gerak, gangguan citra tubuh, dan ketakutan akan
kegagalan atau ketidaksetujuan semuanya turut berperan terhadap
2.

kegagalan lansia untuk berpartisipasi dalam latihan yang teratur.


Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi
dan pencegahan komplikasi, disgnosa keperawatan yang dihubungkan

3.

dengan pencegahan sekunder adalah: gangguan mobilitas fisik.


Pencegahan Tersier
Upaya-upaya rehabilitatif untuk memaksimalkan mobilitas bagi
lansia melibatkan upaya multidisiplin yang terdiri dari perawat,
dokter, ahli fisioterapi dan terapi okupasi seseorang ahli gizi, aktivis
sosial, dan keluarga serta teman-teman.

II.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1.
Aktivitas/Istirahat
Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan
stres pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan
simetris. Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu
senggang, pekerjaan, keletihan.
Tanda : Malaise, keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit,
2.

kontraktor/ kelaianan pada sendi.


Kardiovaskular
Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki ( mis: pucat intermitten,
sianosis, kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali

3.

normal).
Integritas Ego
Gejala : Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis; finansial, pekerjaan,
ketidakmampuan,

faktor-faktor

hubungan,

keputusan

dan

ketidakberdayaan ( situasi ketidakmampuan ), ancaman pada konsep


diri, citra tubuh, identitas pribadi ( misalnya ketergantungan pada orang
4.

lain).
Makanan/Cairan
Gejala : Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi
makanan/ cairan adekuat: mual, anoreksia, kesulitan untuk mengunyah.

5.

Tanda : Penurunan berat badan, kekeringan pada membran mukosa.


Hygiene
Gejala : Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan

6.

pribadi, ketergantungan.
Neurosensori
Gejala : Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada
jari tangan.
Tanda : Pembengkakan sendi simetris.

7.

8.

Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Fase akut dari nyeri ( mungkin tidak disertai oleh
pembengkakan jaringan lunak pada sendi ).
Keamanan
Gejala : Kulit mengkilat, tegang, nodul subkutan, Lesi kulit, ulkus
kaki. Kesulitan dalam ringan dalam menangani tugas/ pemeliharaan

rumah tangga. Demam ringan menetap Kekeringan pada mata dan


9.

membran mukosa.
Interaksi Sosial
Gejala : Kerusakan interaksi sosial dengan keluarga/ orang lain;
perubahan peran; isolasi.

B. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


1. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan destruksi sendi.
Kriteria Hasil :
- Menunjukkan nyeri hilang/ terkontrol.
- Terlihat rileks, dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam
-

aktivitas sesuai kemampuan.


Mengikuti program farmakologis yang diresepkan.
Menggabungkan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan ke

dalam program kontrol nyeri.


Intervensi dan Rasional:
- Kaji nyeri, catat lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktorfaktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit non verbal.
Rasional : Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen
-

nyeri dan keefektifan program.


Berikan matras/kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat
tidur sesuai kebutuhan.
Rasional : Matras yang lembut/empuk, bantal yang besar akan
mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan
stress pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur

menurunkan tekanan pada sendi yang terinflamasi/nyeri.


Libatkan dalam aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu.
Rasional : Memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi,

dan meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat.


Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk.
Rasional : Sebagai anti inflamasi dan efek analgesik ringan dalam

mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas.


Berikan es kompres dingin jika dibutuhkan.
Rasional : Rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan bengkak
selama periode akut.

2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan kekuatan otot.


Kriteria Hasil :
- Mempertahankan fungsi posisi dengan tidak hadirnya/pembatasan
kontraktur.

Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari

dan/ atau konpensasi bagian tubuh.


Mendemonstrasikan tehnik/ perilaku

yang

memungkinkan

melakukan aktivitas.
Intervensi dan Rasional:
Pertahankan istirahat tirah baring/duduk jika diperlukan jadwal
aktivitas untuk memberikan periode istirahat yang terus menerus dan
tidur malam hari yang tidak terganggu.
Rasional : Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan
seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan
mempertahankan kekuatan.
Bantu dengan rentang gerak aktif/pasif.
Rasional : Mempertahankan/ meningkatkan fungsi sendi, kekuatan

otot dan stamina umum.


Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk tinggi,

berdiri, dan berjalan.


Rasional : Memaksimalkan fungsi sendi dan mempertahankan
mobilitas.
Berikan lingkungan yang aman, misalnya menaikkan kursi,

menggunakan pegangan tangga pada toilet, penggunaan kursi roda.


Rasional : Menghindari cidera akibat kecelakaan/jatuh.
Kolaborasi: konsul dengan fisoterapi.
Rasional :
Berguna dalam memformulasikan program

latihan/aktivitas yang berdasarkan pada kebutuhan individual dan


dalam mengidentifikasikan alat.
3. Kurang perawatan diri berhubungan dengan nyeri pada waktu bergerak.
Kriteria Hasil :
- Melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat yang konsisten
-

dengan kemampuan individual.


Mendemonstrasikan perubahan teknik/gaya hidup untuk memenuhi

kebutuhan perawatan diri.


Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/komunitas yang dapat

memenuhi kebutuhan perawatan diri.


Intervensi dan Rasional:
- Diskusikan tingkat fungsi umum

(0-4)

sebelum

timbul

awitan/eksaserbasi penyakit dan potensial perubahan yang sekarang


diantisipasi.

Rasional : Mungkin dapat melanjutkan aktivitas umum dengan


-

melakukan adaptasi yang diperlukan pada keterbatasan saat ini.


Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program latihan.
Rasional : Mendukung kemandirian fisik/emosional.
Kaji hambatan terhadap partisipasi dalam perawatan diri.
Identifikasi/rencana untuk modifikasi lingkungan.
Rasional : Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian yang akan

meningkatkan harga diri.


Kolaborasi: Konsul dengan ahli terapi okupasi.
Rasional : Berguna untuk menentukan alat bantu untuk memenuhi
kebutuhan individual. Mis; memasang kancing, menggunakan alat
bantu memakai sepatu, menggantungkan pegangan untuk mandi
pancuran.
BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan
Mobilitas bukan merupakan sesuatu yang absolut dan statis dalam
menentukan kemampuan untuk berjalan, tetapi mobilitas optimal merupakan
sesuatu yang individualistis, relatif dan dinamis yang tergantung pada interaksi
antara faktor-faktor lingkungan dan sosial, afektif dan fungsi fisik. Keparahan
imobilitas pada sistem muskuloskeletal adalah penurunan tonus, kekuatan,
ketahanan otot, rentang gerak sendi dan kekuatan skeletal. Pengkajian pada
pasien gangguan mobilisasi dapat ditemukan adanya atrofi otot, mengecilnya
tendon, ketidakadekuatnya sendi, nyeri pada saat bergerak, keterbatasan gerak,
penurunan kekuatan otot, paralisis, serta kifosis. Adapun diagnosa keperawatan
yang muncul pada pasien gangguan mobilisasi adalah : Nyeri akut/kronis
berhubungkan dengan destruksi sendi, Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
penurunan kekuatan otot, dan Kurang perawatan diri berhubungan dengan nyeri
pada waktu bergerak.

B.

Saran
Pada kesempatan ini kelompok akan mengemukakan beberapa saran
sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi usaha peningkatan mutu
-

pelayanan asuhan keperawatan yang akan datang, diantaranya :


Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau mengerti
tentang rencana keperawatan pada pasien dengan gangguan mobilisasi,

pendokumentasian harus jelas dan dapat menjalin hubungan yang baik


-

dengan klien dan keluarga.


Dalam rangka mengatasi masalah resiko injuri pada klien dengan gangguan
mobilisasi maka tugas perawat yang utama adalah sering mengobservasi

akan kebutuhan klien yang mengalami gangguan mobilisasi.


Untuk perawat diharapkan mampu menciptakan hubungan yang harmonis
dengan keluarga sehingga keluarga diharapkan mampu membantu dan
memotivasi klien dalam proses penyembuhan.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. EGC :
Jakarta.
Nugroho, Wahyudi. (1996). Perawatan Lanjut Usia. Penerbit Buku
Kedokteran. EGC : Jakarta.
Stanley, Mickey, dkk. (2006). Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2.
EGC : Jakarta.