Anda di halaman 1dari 19

BAB II

Anatomi

2.1 Anatomi Rongga Orbita


Rongga Orbita secara skematis digambarkan sebagai piramida dengan 4
dinding yang mengerucut ke posterior. Dinding medial orbita kiri dan kanan terletak
parallel dan di pisahkan oleh hidung. Pada setiap orbita, dinding lateral dan medialnya
membentuk sudut 45o , menghasilkan sudut siku antara kedua dinding lateral.1
Volume Orbita dewasa kira kira 30 mL dan bola mata menempati 1/5 bagian
rongga. Lemak dan otot menempati bagian terbesarnya.1
Batas anterior rongga orbita adalah Septum Orbitale, yang berfungsi sebagai
pemisah antara palpebral dan orbita.
Orbita berhubungan dengan :
Atas

: Sinus Frontalis

Bawah

: Sinus Maksilaris

Medial

: Sinus Ethmoidalis dan Sphenoidalis

Gambar 2.1.1 : Rongga Orbita

Gambar 2.1.2 : Tulang Tulang Penyangga Orbita

Dinding Orbita :
Atap

Pars orbitalis ossis frontalis

Ala parva ossis sphenoidalis (bgn posterior) mengandung


kanalis optikus

Dasar

pars orbitalis ossis maksilaris (bgn sentral yang luas)

pars frontalis ossis maksilaris (medial)

os zygomaticum (lateral)

processus orbitais ossis palatini (daerah segitiga kecil di


posterior)

Lateral

Anterior : facies orbitais ossis zygomatici (malar)

Medial

Os Ethmoidale

Os Lacrimale

Korpus Sphenoidale

crista lacrimalis anterior : dibentuk oleh processus frontalis ossis


maksilaris

crista lacrimalis posterior yg dibentuk oleh :


Atas

: processus angularis ossis frontalis

Bawah

: os lacrimale

Diantara kedua crista lacrimalis terdapat sulkus lakrimalis dan berisi sakus
lakrimalis.
Adneksa mata
1. Alis mata
2. Palpebra, diatur oleh :
Muskulus Orbikularis Okuli, berfungsi menutup palpebra, dipersarafi
nervus VII.

Muskulus Levator Palpebrae Superioris dan Muskulus Rektus Inferior,


dipersarafi nervus III.
Persarafan sensoris ke palpebra datang dari divisi I dan II dari nervus
trigeminus (V).
Palpebra diperdarahi oleh cabang-cabang palpebra lateral dan medial dari
arteri lakrimalis dan oftalmika.
3. Apparatus Lakrimalis terdiri dari :
Bagian sekretoir :

- Glandula Lakrimalis
- Duktus Lakrimalis

Bagian ekskretoir :

- Pungtum Lakrimal, superior dan inferior


- Kanalikuli Lakrimal superior dan inferior
- Sakus Lakrimal
- Duktus Nasolakrimal dan Meatus inferior

Fornix conjungtiva
superior

Canaliculu
s
lacrimalis

Glandula
lacrimalis, ductuli
excretorii
Saccus
lacrimalis
Fornix
conjungtiva
Punctum
lacrimale
Caruncula lacrimale
Duktus
nasolacrimalis Gambar 2.1.3 : Adneksa Bola Mata

Canaliculu
s
lacrimalis
inferior
Meatu
s

Air mata disekresi glandula lakrimalis, bermuara di konjungtiva forniks


superior bagian temporal. Dengan berkedip, air mata disalurkan ke seluruh bagian
anterior mata dan terkumpul di sakus lakrimal.
Muskulus orbikularis okuli menekan pada sakus lakrimal, sehingga
menimbulkan tekanan negatif di dalamnya. Pada waktu mata dibuka, dengan adanya
tekanan negatif ini, air mata dapat terserap pungtum lakrimal dan seterusnya sampai
ke meatus inferior. Air mata tidak meleleh melalui hidung, karena hidung banyak
mengandung pembuluh darah, sehingga suhunya panas, ditambah dengan pernafasan,
sehingga mempercepat penguapan. Air mata tidak meleleh melalui pipi juga, karena
isi dari glandula meibom, menjaga margo palpebra tertutup rapat pada waktu berkedip
Vaskularisasi Orbita
Arteri utama : Arteri Oftalmika yang bercabang menjadi :
1.

Arteri retina sentralis memperdarahi nervus optikus

2.

Arteri lakrimalis memperdarahi glandula lakrimalis dan kelopak mata


atas

3.

Cabang-cabang muskularis berbagai otot orbita

4.

Arteri siliaris posterior brevis memperdarahi koroid dan bagian-bagian


nervus optikus

5.

Arteri siliaris posterior longa memperdarahi korpus siliare

6.

Arteri siliaris anterior memperdarahi sklera, episklera,limbus,


konjungtiva

7.

Arteri palpebralis media ke kedua kelopak mata

8.

Arteri supraorbitalis

9.

Arteri supratrokhlearis
Arteri-arteri siliaris posterior longa saling beranastomosis satu dengan yang

lain serta dengan arteri siliaris anterior membentuk circulus arterialis mayor iris.

Vena utama : Vena Oftalmika superior dan inferior. Vena Oftalmika Superior
dibentuk dari :
Vena supraorbitais
Vena supratrokhlearis

mengalirkan darah dari kulit Satu cabang

Vena angularis

di daerah periorbita

2.2 Anatomi Palpebra


Kelopak mata atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta
mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan kornea.
Palpebra merupakan alat menutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata
terhadap trauma, paparan sinar, dan pengeringan bola mata. 1
Kelopak mempunyai lapisan kulit yang tipis pada bagian depan sedangkan
pada bagian belakang ditutupi oleh selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva
tarsal. 1
Pada kelopak terdapat bagian-bagian :
-

Kelenjar, seperti : kelenjar sebasea, kelenjar Moll atau kelenjar keringat,


kelenjar Zeis pada pangkal rambut, dan kelenjar Meibom pada tarsus. 1

Otot, seperti : M. orbikularis okuli yang berjalan melingkar di dalam


kelopak atas dan bawah, dan terletak di bawah kulit kelopak. Pada dekat
tepi margo palpebra terdapat otot orbikularis okuli yang disebut M.
Rioland. M. orbikularis berfungsi menutup bola mata yang dipersarafi N.
fasial. M. levator palpebra, yang berorigo pada annulus foramen orbita
dan berinsersi pada tarsus atas dengan sebagian menembus M. orbikularis
okuli menuju kulit kelopak bagian tengah. Bagian kulit tempat insersi M.
levator palpebra terlihat sebagai sulkus (lipatan) palpebra. Otot ini
dipersarafi oleh N. III, yang berfungsi untuk mengangkat kelopak mata
atau membuka mata. 1

Di dalam kelopak mata ada tarsus yang merupakan jaringan ikat dengan
kelenjar di dalamnya atau kelenjar Meibom yang bermuara pada margo
palpebra. 1

Septum orbita, yang merupakan jaringan fibrosis berasal dari rima orbita
merupakan pembatas isi orbita dengan kelopak depan. 1

Tarsus ditahan oleh septum orbita yang melekat pada rima orbita pada
seluruh lingkaran pembukaan rongga orbita. Tarsus, terdiri atas jaringan
ikat yang merupakan jaringan penyokong kelopak dengan kelenjar
Meibom (40 buah di kelopak atas dan 20 pada kelopak bawah). 1

Pembuluh darah yang memperdarahinya adalah a. palpebra. 1

Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal n. V, sedangkan
kelopak bawah oleh cabang ke II saraf ke V. 1

Gambar 2.2.1 : Anatomi Palpebra

BAB III
Selulitis Orbita

3.1 Definisi
Selulitis orbita adalah peradangan supuratif jaringan ikat jarang intraorbita di
belakang septum orbita.1 Selulitis orbita . Biasanya disebabkan oleh kelainan pada
sinus paranasal dan yang terutama adalah sinus etmoid. Selulitis orbita dapat
mengakibatkan kebutaan, sehingga diperlukan pengobatan segera. Pada anakanak, selulitis orbitalis biasanya berasal dari infeksi sinus dan disebabkan oleh
bakteri Haemophilus influenzae. Bayi dan anak-anak yang berumur dibawah 6-7
tahun tampaknya sangat rentan terhadap infeksi oleh Haemophilus influenzae.2
3.2 Epidemiologi
Peningkatan insiden selulitis orbita terjadi di musim dingin, baik nasional
maupun internasional, karena peningkatan insiden sinusitis dalam cuaca. Ada
mencatat peningkatan frekuensi selulitis orbita pada masyarakat disebabkan oleh
infeksi Staphylococcus aureus yang resisten methicillin.
1. Mortalitas / Morbiditas
Sebelum ketersediaan antibiotik, pasien dengan selulitis orbita
memiliki angka kematian dari 17%, dan 20% dari korban yang selamat buta di
mata yang terkena. Namun, dengan diagnosis yang cepat dan tepat
penggunaan antibiotik, angka ini telah berkurang secara signifikan; kebutaan
terjadi dalam 11% kasus. Selulitis orbita akibat S. aureus yang resisten
terhadap methicillin dapat menyebabkan kebutaan meskipun telah diobati
antibiotik.
2. Ras
Selulitis orbita tidak dipengaruhi oleh rasial.
3. Sex
Tidak ada perbedaan frekuensi antara jenis kelamin pada orang dewasa,
kecuali untuk kasus-kasus S. aureus yang resisten terhadap methicillin, yang
lebih sering terjadi pada wanita daripada laki-laki dengan rasio 4:1. Namun,

pada anak-anak, selulitis orbita telah dilaporkan dua kali lebih sering terjadi
pada laki-laki daripada perempuan.
4. Usia
Selulitis orbita, pada umumnya, lebih sering terjadi pada anak-anak daripada di
dewasa muda. Kisaran usia anak-anak yang dirawat di rumah sakit dengan selulitis
orbita adalah 7-12 tahun.
3.3 Etiologi
Selulitis orbita merupakan peradangan supuratif

yang menyerang

jaringan ikat di sekitar mata, dan kebanyakan disebabkan oleh beberapa jenis
bakteri normal yang hidup di kulit, jamur, sarkoid, dan infeksi ini biasa berasal
dari infeksi dari wajah secara lokal seperti trauma kelopak mata, gigitan hewan
atau serangga, konjungtivitis, kalazion serta

sinusitis paranasal yang

penyebarannya melalui pembuluh darah (bakteremia) dan bersamaan dengan


trauma yang kotor.
Pada anak-anak infeksi selulitis sering disebabkan oleh karena sinusitis
etmoidalis yang mengenai anak antara umur 2-10 tahun. Ada Beberapa bakteri
penyebab, diantaranya :
a. Haemophilus influenzae
Merupakan bakteri yang bersifat gram negatif dan termasuk keluarga
Pasteuracella. Haemophilus influenzae yang tidak berkapsul banyak diisolasi
dari cairan serebrospinalis, dan morfologinya seperti Bordetella pertussis
penyebab batuk rejan, namun bakteri yang didapat dari dahak besifat
pleomorfik dan sering berbentuk benang panjang dan filamen.

Gambar Haemophilus influenzae yang diperoleh dari dahak.


Haemophillus influenzae dapat tumbuh dengan media heme oleh
karena media ini merupakan media kompleks

dan mengandung banyak

prekursor-prekursor pertumbuhan khususnya faktor X (hemin) dan faktor V

( NAD dan NADP ). Di laboratorium di tanam dalam agar darah cokelat yang
sebelumnya media tanam tersebut dipanaskan dalam suhu 80

C untuk

melepaskan faktor pertumbuhan tersebut. Bakteri dapat tumbuh dengan baik


pada suhu 35

C- 38o C dengan PH optimal sebesar 7,6. Bakteri ini dapat

tumbuh pada kondisi aerobik ( sedikit CO2). Bakteri ini sekarang sudah jarang
untuk menyebabkan selulitis akibat banyaknya tipe vaksinasi untuk strain ini.
b. Staphylococcus aureus
Merupakan bakteri gram positif yang berkelompok seperti anggur dan
merupakan bakteri normal yang ada di kulit manusia terutama hidung dan
kulit. S aureus dapat menyebabkan berbagai penyakit kulit ringan khususnya
selulitis, impetigo, furunkel, karbunkel dan penyakit kulit lainnya. S aureus ini
sangat bersifat fakultatif anaerobik yang tumbuh oleh respirasi aerobik atau
melalui fermentasi asam laktat. Bakteri ini memiliki sifat katalase (+), dan
oksidase (-) dan dapat tumbuh pada suhu antara 15-45 derajat celcius pada
konsentrasi NaCl setinggi 15 persen. Oleh karena bakteri ini memiliki enzim
koagulase yang dapat menyebabkan gumpalan protein yang berbentuk bekuan,
maka bakteri ini memiki sifat patogen yang sangat potensial sekali.

Gambar Staphylococcus aureus gram negatif

c. Streptococcus pneumoniae
Merupakan bakteri gram positif yang berbentuk seperti bola yang
secara khas hidup berpasangan atau rantai pendek. Bagian ujung belakang
tisap sel berbentuk tombak ( runcing tumpul ), tidak membentuk spora, dan
tidak bergerak, namun yang galur ganas memiliki kapsul, bersifat alpha
hemolisis pada agar darah dan akan terlisis oleh garam empedu.

Streptococcus pneumoniae ini merupakan bakteri penghuni normal


pada saluran napas bagian atas manusia yang sering menyebabkan sinusitis.
Bakteri inilah yang paling sering menyebabkan selulitis orbita melalui jalur
sinusitis terlebih dahulu.
Kuman ini merupakan yang paling sering menyebabkan selulitis pada
anak-anak usia < 3 tahun yang lebih cenderung menyebar secara bakteremia.

Gambar Streptococus pneumoniae


d. Streptococcus pyogenes
Merupakan bakteri gram positif yang berbentuk kokus berantai, tidak
bergerak, bersifat katalase negatif, fakultatif anaerobik, serta sangat
membutuhkan media untuk hidupnya berupa medium yang mengandung
darah.
Streptokokus grup A biasanya memiliki sebuah kapsul yang terdiri dari
asam hialuronat dan menunjukkan hemolisis beta pada agar darah.

Gambar Streptococcus pyogenes pada pewarnaan gram dan hemolisis


beta.

Diperkirakan terdapat 5-15 % di saluran pernapasan pada tiap individu,


dan tanpa menimbulkan tanda-tanda penyakit. Seperti flora normal, S. pyogenes

dapat menjadi patogen pada saat pertahanan tubuh terganggu sehingga infeksi
supuratif bisa terjadi. Selulitis yang disebabkan oleh bakteri ini sering bersifat
lokal, bukan melalui suatu penyebaran.

Selulitis orbita merupakan infeksi yang sering terjadi melalui fokus


infeksi sinus paranasal, khususnya sinus etmoidalis. Penyebarannya disebabkan
oleh karena tipisnya tulang untuk menghalangi tersebarnya fokus infeksi dan
penyebaran masuk melalui pembuluh darah kecil yang menuju jaringan ikat di
sekitar bola mata.
3.4 Patofisiologi
Infeksi orbita dan jaringan periorbita merupakan kelompok penyakit yang
penting, tidak hanya karena seringnya kasus tersebut terjadi akan tetapi juga
keadaan tersebut berpotensial mengancam jiwa.
Orbita dikelilingi sinus sinus paranasal, dan sebagian dari drainase vena
sinus sinus tersebut berjalan melalui orbita. Sebagian besar kasus selulitis orbita
timbul akibat perluasan sinusitis melalui tulang tulang etmoid yang tipis.
Selulitis orbita ialah sebuah infeksi dalam dan difus pada jaringan palpebral
yang terlokalisasi di posterior septum orbita. Peradangan selulitis orbita dapat
berdiri sendiri atau komplikasi dari penyakit orbita yang lain.
Selulitis orbita ialah infeksi jaringan lunak pada orbita di tandai dengan
perubahan bagian posterior dari septum orbita yaitu infiltrasi jaringan oleh
mikroorganisme, sel peradangan dan edema. Infeksi orbita biasanya dikaitkan
dengan sinusitis, sebagaimana dinding dari sinus berdekatan dengan orbita yang
menjadi faktor predisposisi perluasan infeksi dari sinus. Penyebaran terjadi dari
orbita media melalui lamina papyracea.
3.5 Manifestasi Klinis
Selulitis preseptum adalah gejala awal yang sering dijumpai. Infeksi
preseptum perlu di bedakan dari infeksi orbita.
Berikut adalah beberapa gejala klinis Selulitas orbital7 :
1. Palpebra bengkak, nyeri dan kemerahan
2. Penurunan visus
3. Nyeri saat menggerakan bola mata
4. Diplopia
5. Nyeri kepala
6. Konjungtiva merah dan bengkak
7. Gejala Sinusitis ( Rhinorrhea, peningkatan tekanan sinus )
8. Proptosis

9. Ptosis
10. Peningkatan TIO

Gambar 3.5.1 : Manifestasi Klinis Selulitis Orbita dengan Edema, Kemerahan,


Proptosis

Gambar 3.5.2 : Manifestasi klinis Celulitis orbita

3.6 Diagnosis Banding

Pada anak anak, beberapa penyakit orbita berkembang secepat selulitis orbita.
Pseudotumor dan Eksoftalmus Tiroid dapat menyerupai Selulitis Orbita2.

Lateralisasi

Pseudotumor
Unilateral

Eksoftalmus Tiroid
Bilateral

Selulitis Orbita
Unilateral

Usia

21-50 th

Dekade 4 dan 5

Onset

Akut,sub
akut, Kronis
kronis
Proptosis, ptosis, Proptosis
kemosis dengan
nyeri
Peningkatan LED Abnormal
fungsi tiroid
Malaise
Gejala tiroid
Dosis Kecil
Dosis Tinggi

Anak
muda
Akut

Presentasi Klinis

Penemuan Lab
Gejala sistemik
Respon Steroid

dan

dewasa

Pembengkakan
nyeri periorbita

dan

tes Leukositosis
Demam
Respon
antibiotik

terhadap

Tabel 3.6.1 : Diagnosis Banding Kondisi Inflamasi Orbita

Beberapa gejala Selulitis Preseptal perlu di bedakan dengan Selulitis Orbita

Penemuan Klinis

Selulitis Preseptal

Selulitis Orbita

Kemampuan Penglihatan
Nyeri atau pergerakan mata
Nyeri Orbita
Proptosis
Kemosis
Reaksi Pupil
Motilitas
Sensasi Kornea
Oftalmoskop
Demam/Malaise
Leukosit
TIO

Normal
Jarang atau ringan
Normal
Normal
Normal
Normal
Ringan
Normal s/ Meningkat
Biasanya normal

Mungkin Menurun
+
+
+
Sering
Mungkin Abnormal
Menurun
Mungkin Menurun
Mungkin Abnormal
Sering Berat
Meningkat
Mungkin Meningkat

Tabel 3.6.2 : Diagnosis Banding Selulitis Preseptal dengan Orbital

3.7 Pemeriksaan Penunjang


Evaluasi pada pemeriksaan penunjang mencakup sebagai berikut 2,11 :

a.
b.
c.
d.
e.

Leukositosis lebih dari 15.000


Pemeriksaan kultur darah
Usap secret hidung
Papsmear untuk gram stain
CT Scan
Pandangan Aksial untuk menyingkirkan kemungkinan pembentukan abses
otak dan abses peridural parenkim.
Pandangan Koronal sangat membantu dalam menentukan keberadaan dan
batas dari setiap abses subperiorbital. Namun, pandangan koronal, yang
membutuhkan hiperfleksi/hiperekstensi leher, mungkin sulit pada anak
anak tidak kooperatif dan pada pasien akut

f. MRI
Membantu dalam mendefinisikan abses orbital dan dalem mengevaluasi
kemungkinan penyakit Sinus Cavernosa dan juga bermanfaat untuk
melakukan drainase pada abses orbita.
3.8 Penatalaksanaan
Pengobatan harus dimulai sebelum organisme penyebabnya di identifikasi.
Segera setelah di dapatkan biakan hidung, konjungtiva, dan darah harus di berikan
antibiotic intravena. Terapi antibiotic awal mengatasi Stafilokokus, H. Influenza dan
bakteri anaerob2.
Sebagian besar kasus berespon cepat terhadap pemberian antibiotic. Kasus
yang tidak berespon mungkin membutuhkan drainase sinus paranasal melalui
pembedahan2.
Selulitis Orbita harus di rawat inap dan pemberian antibiotic intravena
spectrum luas. Drainase bedah di indikasikan pada subperiosteal abses. Drainase
mungkin dilakukan dengan Endoskopi1.
Untuk Terapi perawatan : 10

Kompres hangat
Antibiotik IV 7-10 hari dilanjutkan Antibiotik oral 14-21 hari
Pasien rawat jalan biasa di berikan antibiotic oral selama 5-7 hari, jika di sertai
sinusitis kronik atau osteomyelitis ditambahkan pemberiannya selama 3
minggu.
Infant :

Ceftriakson 50 mg/kgbb IV 12-24 jam ( tidak boleh > 4gr / hari )

Anak anak :
Nafcilin atau oxacilin 12,5 mg/kgbb IV setiap 6 jam dan Cefuroxime 25-33

mg/kgbb setiap 8 jam ( tidak boleh >4,5 gr/hari )


Alternatialergi terhadap penicillin atau sefalosporin : Kloramfenikol 12,5-25
mg/kgbb IV setiap 6 jam ( Monitor Hematologik )

Dewasa :
Ampicilin/Sulbaktam IV 1,5 gr setiap 6 jam, Cefuroxime 1,5 gr IV setiap 8
jam, Cefoxitin 2 gr IV Setiap 8 Jam, Cefotetan 2 gr IV setiap 12 Jam
Pada kerusakan periodontal diobati dengan debrideman, kuretase subginggiva

dan obat cuci mulut Hidrogen peroksida 3 %. Disamping itu, jika diikuti gejala-gejala
sistemik seperti demam, dianjurkan pemberian pengobatan secara oral dengan
menggunakan penisilin V dosis 25.000 sampai 50.000 unit/KgBB/24 jam dibagi 4
dosis. Biasanya, jika diobati gejala akan hilang dalam waktu 48 jam. Hal yang
terpenting adalah konsultasi gigi, dianjurkan untuk pembersihan gigi yang teliti guna
mencegah kekambuhan dan memperbaiki kerusakan periodontal.3
Penanganan komplikasi periodontitis fase akut ditujukan pada perbaikan
perbaikan keadaan umum disertai pemberian antibiotik yang tepat untuk kuman
penyebab dan dilakukan debrideman, selanjutnya dilakukan pembedahan untuk
memperbaiki kerusakan. Upaya ini memerlukan perencanaan dan keahlian yang baik
dengan mengutamakan pulihnya fungsi dari aspek kosmetik.4

Beberapa jenis antibiotik yang dapat digunakan dalam terapi selulitis orbita
yaitu 11 :
a. Vankomisin (Vancocin)
Trisiklik glycopeptide antibiotik untuk pemberian intravena. Diindikasikan
untuk pengobatan strain staphylococcus methicillin-resistant (tahan beta-laktam)
pasien yang alergi penisilin.
b. Klindamisin (Cleocin)

Menghambat sintesis protein bakteri pada ribosom bakteri tuas, mengikat


dengan preferensi 50S subunit ribosom dan mempengaruhi proses inisiasi rantai
peptide

c. Sefotaksim (Claforan)
Semisintetik antibiotik spektrum luas untuk penggunaan parenteral. Efektif
terhadap gram positif aerob, seperti Staphylococcus aureus (tidak mencakup
methicillin-resistant strain), termasuk penisilinase dan non-penisilinase strain, dan
Staphylococcus pyogenes , gram negatif aerob (misalnya, H influenzae), dan anaerob
(misalnya , spesies Bacteroides).
d. Nafcillin (Unipen)
Efektif terhadap spektrum gram-positif yang luas, termasuk Staphylococcus,
pneumococci, dan grup A beta-hemolitik streptokokus semisintetik penisilin.
e. Ceftazidime (Fortaz, Ceptaz)
Semisintetik, spektrum luas, beta-laktam antibiotik untuk injeksi parenteral.
Memiliki spektrum yang luas dari efektivitas terhadap gram negatif aerob seperti H.
influenzae, gram positif aerob seperti Staphylococcus aureus (termasuk penisilinase
dan non-penghasil penisilinase strain) dan S. pyogenes , dan anaerob, termasuk
Bacteroides spesies
f. Kloramfenikol (Chloromycetin)
Efek bakteriostatik terhadap berbagai bakteri gram negatif dan gram-positif
dan sangat efektif terhadap H influenzae.

g. Tikarsilin (Ticar)
Penisilin semisintetik suntik yang bakterisida terhadap kedua organisme gram
positif dan gram negatif, termasuk H influenzae, Staphylococcus S (non-penghasil

penisilinase), beta-hemolitik streptokokus (kelompok A), S. pneumoniae, dan


organisme anaerob, termasuk Bacteroides dan Clostridium spesies.
h. Cefazolin (Ancef, Kefzol, Zolicef)
Sefalosporin IM atau IV semisintetik. Memiliki efek bakterisidal terhadap
Staphylococcus S (termasuk strain yang memproduksi penisilinase-), kelompok A
streptokokus beta-hemolitik, dan H influenza
3.9 Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi diantaranya : abses orbita, abses subperiosteal,
trombosis sinus kavernosus, gangguan pendengaran, septikemia, meningitis dan
kerusakan saraf optic dan gangguan penglihatan

Gambar 3.9.1 Komplikasi Selulitis Orbita

DAFTAR PUSTAKA
1. Asbury, Taylor. Rundaneva, Paul. Vaughan, Daniel P. Oftalmologi Umum.
Jakarta : Widya Medika. Hal. 1-5, 265-266.
2. Ilyas, S. Ilmu Penyakit Mata Edisi 3. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta.2004. Hal. 1-13, 101-102.
3. Kanski J. Clinical Ophtalmology a Systemic Approach. Philadelphia :
Butterworth Heinemann Elsevier. Page : 175-176.
4. Lang, Gerhard K .Ophtalmology a Pocket Textbook Atlas. 2006 . New york :
Thieme. Hal. 425-427.
5. Putz, R & Pabst, R. Atlas Anatomy Manusia Sobotta. Jakarta : EGC.
6. Suhardjo, Hartono. Ilmu Kesehatan Mata Edisi 1. Bagian Ilmu Penyakit Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta, 2007. Hal. 53-54
7. Anonim. Selulitis Orbita. Akses November 2011, 4. Available from
http://www.repository.usu.ac.id
8. Anonim. Orbital Cellulitis. Akses November 2011, 4. Available from
http://www.cellulitis.org
9. Barry, Seltz L. Microbiology and Antibiotic Management of Orbital Cellulitis.
Pediatric Official Journal of The Academy of Pediatric. 2011.
10. Esther, Hong S MD. Orbital Cellulitis in a Child. Akses November 2011, 4.
Page 1-8
11. Harrington, John. Orbital Cellulitis. Akses November 2011, 4. Available from
http://www.emedicine.medscape.com.