Anda di halaman 1dari 18

1.

Definisi
Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek
atau bagian yang lemah dari dinding yang bersangkutan. Pada hernia abdomen,
isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskuloaponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong, dan isi hernia
(Faradila, Nova2009).
Mansjoer (2000) menyatakan bahwa hernia merupakan isi perut dari
rongga yang ormal melalui lubang kongenital atau didapat.
Hernia adalah suatu keadaan dimana terjadi produksi atau penonjolan isi
suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding yang bersangkutan.
Pada hernia abdomen isi perut menonjol melalui defek atau bagian-bagian lemah
dari lapisan muscular apneurotik dinding perut. Hernia terdiri dari cincin, kantong
dan isi hernia (Syamsuhidajat, Wim Dejong 1998). Dalam kamus kedokteran
Dorland (2002), disebutkan bahwa hernia merupakan suatu penonjolan ruas
organ jaringan melalui lubang abnormal.
2.

ETIOLOGI
Hernia dapat terjadi karena lubang embrional yang tidak menutup atau

melebar, atau akibat tekanan rongga perut yang meninggi. Adapun beberapa
faktor yang dapat menyebabkan terjadinya hernia antara lain sebagai berikut
a.
Kongenital
Terjadi akibat prosesus vaginalis peritonium disertai dengan annulus
inguinalis yang cukup lebar, terutama ditemukan pada bayi. Lemahnya dinding
rongga perut. Dapat ada sejak lahir atau didapat kemudian dalam hidup. Adapun
penyebab kongenital atau bawaan dapat dibagi menjadi dua berdasarkan
kelainannya:

Hernia congenital sempurna. Bayi sudah menderita hernia kerena adanya

defek pada tempat tempat tertentu.


Hernia congenital tidak sempurna. Bayi dilahirkan normal (kelainan belum
tampak) tapi dia mempunyai defek pada tempat-tempat tertentu
(predisposisi) dan beberapa bulan (0 1 tahun) setelah lahir akan terjadi
hernia melalui defek tersebut karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan

b.

intraabdominal (mengejan, batuk, menangis).


Prosesus Vaginalis yang terbuka yang disebabkan oleh:
Pekerjaan mengangkat barang-barang berat.
Batuk kronik, bronchitis kronik, TBC.
Hipertropi prostat dan konstipasi.


c.

Pekerja keras

Kelemahan otot abdomen oleh karena:


Usia tua, sering melahirkan
Perubahan defek setelah apendiktomi
Aquisial

d.

Aquisial adalah hernia yang terbuka disebabkan karena adanya defek


bawaan tetapi disebabkan oleh fakor lain yang dialami manusia selama
hidupnya, antara lain :

Tekanan intraabdominal yang tinggi. Banyak dialami oleh pasien yang

sering mengejan yang baik saat BAB maupun BAK.


Konstitusi tubuh. Orang kurus cenderung terkena hernia jaringan ikatnya
yang sedikit. Sedangkan pada orang gemuk juga dapat terkena hernia
karena banyaknya jaaringan lemak pada tubuhnya yang menambah

3.

beban kerja jaringan ikat penyokong pada LMR.


Banyaknya preperitoneal fat banyak terjadi pada orang gemuk.
Distensi dinding abdomen karena peningkatan tekanan intraabdominal
MANIFESTASI KLINIS
Hernia yang tak memperlihatkan gejala-gejala diketemukan pada waktu

pemeriksaan rutin. Suatu penonjolan atau gumpalan pada skrotum, dan pada
waktu batuk dan defekasi penonjolan semakin menonjol. Juga pada waktu
meningkat sesuatu atau kegiatan fisik lainnya. Pada beberapa kasus tertentu
massa menjulur sampai ke dalam skrotum, daerah pangkal paha terasa tidak
enak, terutama kalau hernia membesar
a. Suatu massa di daerah pangkal paha, reponibel atau inkarserata,
kadang-kadang sampai ke daerah skrotum. Pada bayi dan wanita adanya
masa itu satu-satunya tanda yang ada. Hernia kecil yang tak
memperlihatkan gejala tak akan terlihat dari luar.
b. Pada anak laki yang lebih besar dan pria, maka harus dilakukan
penanganan sebagai berikut. Skrotum dimasuki jari telunjuk dan jari
ditempatkan pada atau melalui annulus inguinalis eksterna. Instrusikan
pada pasien untuk menekan (mengedan) seakan-akan hendak buang air

besar. Ini akan meningkatkan tekanan intraabdominal. Kantung hernia


merupakan suatu struktur bagaikan balon yang menekan jari secara
langsung atau dari sisi lateral. Annulus eksterna yang membesar bukan
hernia, meskipun kemungkinan hernia yang menyebabkan pembesaran
itu dan hernia harus dicari dengan cermat kalau annulus cukup besar
sehingga jari telunjuk dapat masuk. Hernia inguinalis paling mudah
diperagakan kalau pasien berdiri tetapi periksalah pasien baik dalam
posisi berdiri maupun dalam posisi telentang.
c. Indirek versus direk. Hernia indirek merupakan suatu massa elips yang
berjalan turun dan miring ke dalam kanal inguinalis. Mungkin akan masuk
ke dalam skrotum. Massa ini menekan sisi lateral jari yang dipakai untuk
memeriksa. Dengan menekan bagian atas annulus interna dengan satu
tangan maka dapat dicegah jangan sampai hernia masuk ke dalam
kanalis inguinalis.
d. Hernia direk adalah suatu massa sferis, yang jarang turun sampai ke
skrotum. Massa itu menekan jari yang memeriksa langsung dari sebelah
depan. Dengan menekan annulus interna dengan tangan kita tak dapat
mengurangi hernia tersebut (Soeparman, dkk. 2001).
Sebagian besar hernia adalah asimtomatik, dan kebanyakan ditemukan
pada pemeriksaan fisik rutin dengan palpasi benjolan pada annulus inguinalis
superfisialis atau suatu kantong setinggi annulus inguinalis profundus. Yang
terakhir dibuat terasa lebih menonjol bila pasien batuk. Salah satu tanda pertama
adalah adanya massa dalam daerah inguinalis manapun atau bagian atas
skrotum. Dengan berlalunya waktu, sejumlah hernia turun ke dalam skrotum
sehingga skrotum membesar. Pasien hernia sering mengeluh tidak nyaman dan
pegal pada daerah ini, yang dapat dihilangkan dengan reposisi manual hernia ke

dalam kavitas peritonealis. Tetapi dengan berdiri atau terutama dengan gerak
badan, maka biasanya hernia muncul lagi (Price. Silvya. A.2005).
Umumnya pasien pengatakan turun berok, burut atau kelingsir,
mengatakan adanya benjolan di selangkangan/kemaluan. Benjolan tersebut bisa
mengecil atau menghilang pada waktu tidur, dan bila menangis, mengejan, atau
mengangkat benda berat atau bila posisi pasien berdiri dapat timbul kembali. Bila
telah terjadi komplikasi dapat ditemukan nyeri (Price. Silvya. A.2005).
Keadaan umum pasien biasanya baik. Bila benjolan tidak nampak, pasien
dapat disuruh mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan berdiri. Bila ada
hernia maka akan tampak benjolan. Bila memang sudah tampak benjolan, harus
diperiksakan apakah benjolan tersebut dapat dimasukkan kembali. Pasien
diminta

berbaring,

bernapas

dengan

mulut

untuk

mengurangi

tekanan

intraabdominal, lalu skrotum diangkat perlahan-lahan. Diagnosis pasti hernia


pada umumnya sudah dapat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis yang teliti
(Price. Silvya. A.2005).
Keadaan cincin hernia juga perlu diperiksa. Melalui skrotum jari telunjuk
dimasukkan ke atas lateral dari tuberkulum pubikum. Ikuti fasikulus spermatikus
sampai ke annulus inguinalis internus. Pada keadaan normal jari tangan tidak
dapat masuk. Pasien diminta mengejan dan merasakan apakah ada massa yang
menyentuh jari tangan. Bila massa tersebut menyentuh ujung jari maka itu
adalah hernia inguinalis lateralis, sedangkan bila menyentuh sisi jari maka
diagnosisnya adalah hernia inguinalis medialis (Price. Silvya. A.2005).
Pada pasien terlihat adanya massa bundar pada annulus inguinalis
eksterna yang mudah mengecil bila pasien tidur. Karena besarnya defek pada
dinding posterior maka hernia ini jarang sekali menjadi irreponibilis. Hernia ini

disebut direkta karena langsung menuju annulus inguinalis eksterna sehingga


meskipun annulus inguinalis interna ditekan bila pasien berdiri atau mengejan,
tetap akan timbul benjolan. Bila hernia ini sampai ke skrotum, maka hanya akan
sampai ke bagian atas skrotum, sedangkan testis dan funikulus spermatikus
dapat dipisahkan dari massa hernia.
Bila jari dimasukkan dalam annulus inguinalis eksterna, tidak akan
ditemukan dinding belakang. Bila pasien disuruh mengejan tidak akan terasa
tekanan dan ujung jari dengan mudah dapat meraba ligamentum Cowperi pada
ramus superior tulang pubis. Pada pasien kadang-kadang ditemukan gejala
mudah kencing karena buli-buli ikut membentuk dinding medial hernia.
Umumnya penderita hernia menyatakan adanya benjolan di kemaluan.
Benjolan itu bisa mengecil atau menghilang, dan bila menangis mengejan waktu
defekasi/miksi, mengangkat benda berat akan timbul kembali. Dapat pula
ditemukan rasa nyeri pada benjolan atau gejala muntah dan mual bila telah ada
komplikasi (Smeltzer S. C. B. G. 2002).
Umumnya klien mengatakan adanya benjolan pada lipatan paha. Pada
bayi dan anak adanya benjolan yang hilang timbul dilipatan paha, dan hal ini
biasanya diketahui oleh orang tuanya. Pada inspeksi, diperhatikan pada keadaan
osimetris pada kedua sisi, lipatan paha, posisi berdiri dan berbaring. Pada saat
batuk dan mengedan biasanya akan timbul benjolan. Pada palpasi, teraba bising
usus, suara omentum (seperti karet) (Smeltzer S. C. B. G. 2002).
4.
a.

KLASIFIKASI
Hernia Menurut Lokasinya
Hernia inguinalis
Paling sering dan banyak dijumpai. Hernia inguinalis dibagi
menjadi 2, yaitu:

hernia inguinalis lateralis (HIL) pintu di annulus inguinalis internus.

Hernia inguinalis medialis (HIM) titik lemahnya terdapat di trigonum


hasselbach.

Hernia inguinalis ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki. Hernia


inguinalis adalah hernia yang terjadi dilipatan paha. Batang usus melewati
cincin abdomen dan mengikuti saluran sperma masuk ke dalam kanalis
inguinalis. Jenis ini merupakan yang tersering ditemukan atau terjadi
pada pasien dan dikenal dengan istilah turun berok atau burut
Hernia Femoralis
Pintunya adalah anulus femoralis.

Hernia femoralis ini mirip

dengan hernia inguinalis namun tonjolannya terletak lebih rendah


dibandingkan dengan hernia inguinalis, dan lebih sering ditemukan pada
perempuan (karena perempuan hamil). Adalah jenis hernia yang tejadi
apabila usus masuk melalui prosecus discus di paha.
Hernia umbilicalis
Umbilicus tidak menutup dengan sempurna sehingga usus bisa
keluar melalui daerah ini. Hernia ini biasanya terjadi pada ibu hamil.
Beberapa hernia umbilicalis pada bayi dapat menghilang tanpa dilakukan
pengobatan pada tahun pertama. adalah hernia yang tejadi apabila usus
masuk melalui prosecus discus pada pusat atau sering disebut hernia di
pusat, hernia jenis ini terjadi pada bayi yang baru lahir yang disebabkan
karena kelainaan kongenital.
Hernia Epigastrica
Terjadi antara pusar dan bagian bawah tulang rusuk di garis
tengah perut, hernia epigastrium biasanya terdiri dari jaringan lemak dan
jarang mengandung usus. Terjadi di daerah yang lemah di dinding perut,
hernia ini sering menimbulkan rasa sakit dan tidak dapat didorong
kembali ke dalam perut ketika pertama kali ditemukan.
Hernia Obsturatoria
Ini merupakan hernia yang sangat jarang terjadi dan maayoritas
terjadi pada perempuan. Hernia ini menonjol dari rongga yang ada di
panggul melalui lubang

yang ada pada tulang panggul (foramen

obturatorius). Pada hernia ini tidak akan menunjukkan adanya tonjolan


namun akan menimbulkan gejala seperti

ketika terjadi penyumbatan

usus dan juga menyebabkan mual dan muntah. Karena tidak terlihat,

hernia ini sangat sulit untuk di diagnosa. Ciri khasnnya adalah ileus letak
tinggi, dan pasien mengeluh nyeri paha dalam.
Hernia Semilunoris
Jarang terjadi, dinding depan perut M. rectus abdominis lamina
anterior vagina m.recti dari atas sampai bawah tidak sampai daerah
simpisis membentuk sampai garis lengkung yang disebut linea arquata
yang menjadi titik lemah sehinga usus bisa masuk melalui titik tersebut ke
bawah lamina posterior. Ususnya di antara m.rectus dan lamina
posterios.usus bisa masuk ke bawah lamina posterior
Hernia Scrotalis
Adalah hernia yang terjadi apabila usus masuk kedalam kantung
scrotum ini terjadi bila batang usus melewati cincin abdomen dan
mengikuti saluran sperma masuk ke dalam kanalis inguinalis kemudian
masuk kedalam kantong scrotum dan menekan pada isi kantung scrotum
sehingga scrotum membesar.

Umur
Sex
Thd. Lig. Ingiunalis :
Test. Invaginasi

b.

HIL

HIM

HF

Semua umur
Laki-laki
Diatas
Ujung jari

Tua
Laki-laki
Diatas
Samping jari

Tua
Perempuan
Dibawah
-

Hernia Menurut Isinya


Hernia usus halus adalah hernia yang terjadi bila yang melewati cincin

abdomen adalah usus halus.


Henia Omentum
Hernia omentum adalah hernia yang terjadi bila yang melewati cincin
abdomen adalah penyangga usus. Omentum adalah berupa organ
atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia, misalnya usus,

ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum).


Hernia Nukleus Pulposus
Adalah jenis hernia yang terjadi apabila, system syaraf pusat atau
sumsum tulang belakang pada vertebra terjepi pada discus vertebrae
terjadi karena trauma yang melibatkan tulang belakang misalmya jatuh

c.

dalam posisi terduduk.


Hernia Menurut Sifatnya
Hernia Reponibel
Isi hernia dapat keluar masuk, usus keluar jika mengejan dan masuk
jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri/gejala.

Hernia Ireponibel
Kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga, ini
disebabkan

oleh

perlengketan

isi

kantong

pada

peritonial.

Penatalaksanaan harus dengan operasi.


Hernia Inkaserata/Hernia Stragulata
Isi hernia terjepit oleh cincin hernia/terperangkap, tidak dapat kembali

ke dalam rongga perut.


Bagian bagian hernia :

Kantong hernia
Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua
hernia memiliki kantong, misalnya hernia incisional, hernia adiposa,

5.

hernia intertitialis.
Isi hernia
Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia,

misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum).


Pintu hernia
Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong

hernia.
Leher hernia
Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia.

PATOFISIOLOGI

Obesitas batuk, kongenital, mengedan,


pengangkatan beban
Tekanan intra abdomen meningkat

Rusaknya integritas dinding otot perut


Organ terdorong keluar melalui defek
Hernia

Mengeluarkan zat-zat proteolitik


(Bradakini,histamine,
prostaglandin)

Hernia umbikalis
kongenital

Hernia para
umbikalis

Hernia
inguinalis

Kantung hernia
keluar melalui
umbikalis

Kantung hernia
melewati dinding
abdomen

Kantung hernia
memasuki celah
inguinal

Respon nyeri

Nyeri

Hiatus hernia

Hernia insisional

Kantung hernia
memasuki rongga
thorak

Kantung hernia
memasuki celah
bekas insisi

Terdorong lewat dinding posterior


canalis inguinal yang lemah

Benjolan pada regio inguinal

Abdomen
terdesak

Pembedahan

Mual, muntah
Asupan nutrisi kurang
Ketidakseimbanga
n nutrisi kurang
dari kebutuhan
tubuh

Insisi bedah

Pemasangan
elektroda
Posisi tidak
tepat
Resiko

Cemas

Dampak anestesi

Terputusnya kontinitas
jaringan

Mengeluarkan zat-zat
proteolitik
(Bradakini,histamine,
prostaglandin)

Luka terbuka

Ekstremitas bawah
tidak dapat
digerakkan

Port de entry
kuman

Hambatan
mobilitas fisik

Respon nyeri
Resiko infeksi

6.

Nyeri Akut

Kerusakan
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Integritas
Kulit
Meskipun hernia dapat didefinisikan sebagai setiap penonjolan viskus,

atau sebagian daripadanya, melalui lubang normal atau abnormal, 90% dari
semua hernia ditemukan di daerah inguinal. Biasanya impuls hernia lebih jelas
dilihat daripada diraba.
Pasien disuruh memutar kepalanya ke samping dan batuk atau
mengejan. Lakukan inspeksi daerah inguinal dan femoral untuk melihat
timbulnya benjolan mendadak selama batuk, yang dapat menunjukkan hernia.
Jika terlihat benjolan mendadak, mintalah pasien untuk batuk lagi dan
bandingkan impuls ini dengan impuls pada sisi lainnya. Jika pasien mengeluh
nyeri selama batuk, tentukanlah lokasi nyeri dan periksalah kembali daerah itu.
Palpasi hernia inguinal dilakukan dengan meletakan jari pemeriksa di
dalam skrotum di atas testis kiri dan menekan kulit skrotum ke dalam. Harus ada
kulit skrotum yang cukup banyak untuk mencapai cincin inguinal eksterna.
Jari harus diletakkan dengan kuku menghadap ke luar dan bantal jari ke
dalam. Tangan kiri pemeriksa dapat diletakkan pada pinggul kanan pasien untuk
sokongan yang lebih baik. Telunjuk kanan pemeriksa harus mengikuti korda
spermatika di lateral masuk ke dalam kanalis inguinalis sejajar dengan

ligamentum inguinalis dan digerakkan ke atas ke arah cincin inguinal eksterna,


yang terletak superior dan lateral dari tuberkulum pubikum. Cincin eksterna dapat
diperlebar dan dimasuki oleh jari tangan.
Dengan jari telunjuk ditempatkan pada cincin eksterna atau di dalam
kanalis inguinalis, mintalah pasien untuk memutar kepalanya ke samping dan
batuk atau mengejan. Seandainya ada hernia, akan terasa impuls tiba-tiba yang
menyentuh ujung atau bantal jari penderita. Jika ada hernia, suruh pasien
berbaring terlentang dan perhatikanlah apakah hernia itu dapat direduksi dengan
tekanan yang lembut dan terus-menerus pada massa itu. Jika pemeriksaan
hernia dilakukan dengan perlahan-lahan, tindakan ini tidak akan menimbulkan
nyeri. Setelah memeriksa sisi kiri, prosedur ini diulangi dengan memakai jari
telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan. Sebagian pemeriksa lebih suka
memakai jari telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan pasien, dan jari telunjuk
kiri untuk memeriksa sisi kiri pasien. Cobalah kedua teknik ini dan lihatlah cara
mana yang anda rasakan lebih nyaman.
Jika ada massa skrotum berukuran besar yang tidak tembus cahaya,
suatu hernia inguinal indirek mungkin ada di dalam skrotum. Auskultasi massa itu
dapat dipakai untuk menentukan apakah ada bunyi usus di dalam skrotum, suatu
tanda yang berguna untuk menegakkan diagnosis hernia inguinal indirek. Jika
anda menemukan massa skrotum, lakukanlah transluminasi. Di dalam suatu
ruang yang gelap, sumber cahaya diletakkan pada sisi pembesaran skrotum.
Struktur vaskuler, tumor, darah, hernia dan testis normal tidak dapat ditembus
sinar. Transmisi cahaya sebagai bayangan merah menunjukkan rongga yang
mengandung

cairan

serosa,

seperti

hidrokel

atau

spermatokel.

Dalam

menegakkan diagnostik pada penderita hernia dapat dilakukan:


a.

Pemeriksaan fisik, pasien diminta untuk mengejan dengan menutup mulut

b.

dalam keadaan berdiri bila ada hernia maka akan tampak benjolan.
Bila sudah ada benjolan dapat diperiksa dengan cara meminta pasien
untuk berbaring bernafas dengan mulut untuk mengurangi tekanan intra

c.

abdominan, lalu scrotum diangkat perlahan-lahan.


Limfadenopati inguinal. Perhatikan apakah ada infeksi pada kaki sesisi.

Tindakan diagnostik yaitu :

a. Foto thoraks: Menunjukan adanya massa tanpa udara jika omentum


yang masuk dan massa yang berisi udara jika lambung adalah usus yang
masuk.
b. Laboratorium :
Menunjukan adanya peningkatn pada hasil pemeriksaan SGOT.
Darah lengkap: Peningkatan jumlah sel darah putih dengan pergeseran
diferensial.
Urinalis untuk mendeteksi adanya infeksi saluran kemih
c. EKG : Biasanya dilakukan untuk persiapan operasi.
7.
PENATALAKSANAAN
Pada hernia inguinalis lateralis responbilitas maka dilakukan tindakan
bedah efektif karena ditakutkan terjadi komplikasi. Pada yang iresponbilitas,
maka diusahakan agar isi hernia dapat dimasukkan kembali. Pasien istirahat
baring dan dipuasakan atau mendapat diit halus. Dilakukan tekanan yang
kontinyu pada benjolan misalnya dengan bantal pasir. Baik juga dilakukan
kompres es untuk mengurangi pembengkakan. Lakukan usaha ini berulangulang sehingga isi hernia masuk untuk kemudian dilakukan bedah efektif di
kemudian hari atau menjadi inkarserasi.
Pada inkerserasi dan strangulasi maka perlu dilakukan bedah darurat.
Tindakan bedah pada hernia ini disebut herniotomi (memotong hernia dan
herniorafi (menjahit kantong hernia). Pada bedah efektif manalis dibuka, isi
hernia dimasukkan kantong diikat dan dilakukan bassin plasty untuk
memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Pada bedah darurat, maka
prinsipnya seperti bedah efektif. Cincin hernia langsung dicari dan dipotong.
Usus dilihat apakah vital/tidak. Bila tidak dikembalikan ke rongga perut dan bila
tidak dilakukan reseksi usus dan anastomois end to end.
a.

Konservatif
Istirahat di tempat tidur dan menaikkan bagian kaki, hernia ditekan
secara perlahan menuju abdomen (reposisi), selanjutnya gunakan alat

penyokong.
Jika suatu operasi daya putih isi hernia diragukan, diberikan kompres

hangat dan setelah 5 menit di evaluasi kembali.


Istirahat baring

Pengobatan dengan pemberian obat penawar nyeri, misalnya


Asetaminofen, antibiotic untuk membasmi infeksi, dan obat pelunak

b.

tinja untuk mencegah sembelit.


Reposisi
Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulate, kecuali pada
pasien

anak-anak.

reposisi

dilakukan

secara

bimanual.

Reposisi

dilakukan dengan menidurkan anak dengan pemberian sedative dan


kompres es diatas hernia. Jika reposisi hernia tidak berhasil dalam waktu
enam jam harus dilakukan operasi segera.
c.

Operatif
Pengobatan

operatif

merupakan

satu-satunya

pengobatan

hernia

inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis


ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia adalah hernioraphy, yang terdiri
d.

dari herniotomi dan hernioplasti.


Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke
lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan,
kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu

e.

dipotong.
Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis
internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti
lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan
dengan herniotomi. Dikenal berbagai metode hernioplasti seperti
memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup
dan memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan muskulus
tranversus internus abdominis dan muskulus oblikus internus abdominis
yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale
poupart menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa
musculus transversus abdominis, musculus oblikus internus abdominis ke
ligamentum cooper pada metode Mac Vay. Bila defek cukup besar atau
terjadi residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintesis seperti
mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek.

Dalam melaksanakan tindakan penatalaksanaan pada pasien dengan hernia


maka yang hal-hal yang harus diperhatikan antara lain adalah prinsip
pembedahan:

a. Herniotomi: eksisi kantung hernianya saja untuk pasien anak.


b. Herniorafi: memperbaiki defek, perbaikan dengan pemasangan jaring
(mesh) yang biasa dilakukan untuk hernia inguinalis, yang dimasukkan
melalui bedah terbuka atau laparoskopik.
Setelah dilakukan tindakan pembedahan herniotomy yang harus diperhatikan
adalah perawatan untuk post operasi:
a. Hindari penyakit yang mungkin terjadi yaitu: Perdarahan, Syok, Muntah,
Distensi, Kedinginan, Infeksi, Dekubitus, Sulit buang air kecil.
Observasi keadaan klien.
Cek Tanda-tanda vital pasien.
Lakukan perawatan luka dan ganti balutan operasi sesuai dengan jadwal.
Perhatikan drainase.
Penuhi kebutuhan nutrisi klien.
Mobilisasi diri secara dini terutama pada hari pertama dan hari kedua.
Perawatan tidur dengan sikap Fowler (sudut 45o - 60o).
Hari kedua boleh duduk (untuk herniotomi hari ke-5).
Hari ketiga boleh jalan (untuk herniotomi hari ke-7).
h. Diet dan pemenuhan kebutuhan nutrisi:
Hari 0: Bila pengaruh obat anestesi hilang boleh diberi minum sedikitb.
c.
d.
e.
f.
g.

sedikit
Hari 1: Diet Vloiher atau bubur sumsum dan susu cair (herniotomi diet

sama dengan post laparatomi)


Hari 2: Diet bubur saring
Hari 3: Berturut-turut diet ditingkatkan
PENGKAJIAN KEPERAWATAN

8.

Pengkajian

a.
b.

Persiapan Pra Operatif


Informed consent (tanda persetujuan secara tertulis).
Penyuluhan pre operasi :
- Menjelaskan apa yang akan dihadapi oleh pasien jika ia akan
-

dioperasi.
Menjelaskan bagaimana tubuh akan tetap berfungsi setelah dilakukan

Herniotomy.
Menjelaskan bahwa akan merasa sakit / nyeri pada daerah luka / insisi

setelah operasi.
Untuk mencegah komplikasi pasca operasi (atelektasis) pasien
diajarkan tentang kesehatan paru-paru, batuk efektif, menarik nafas

dalam.
c. Persiapan fisik.
i.
Nutrisi

Pasien diberi makanan yang berkadar lemak rendah, tinggi


karbohidrat, protein, vitamin dan kalori. Pasien harus berpuasa 12

ii.

18 jam sebelum operasi.


Cairan
- Pasien tidak boleh minum selama 8 jam sebelum operasi. Tindakan
pemberian cairan dan elektrolit maupun plasma sebelum operasi.

iii.

iv.

Perhatikan balance 6 8 jam pre operasi.


Hygiene
- Pasien harus mandi sebelum operasi.
- Kuku disikat dan cat kuku dibuang.
- Mulut harus dibersihkan.
Istirahat
- Malam sebelum operasi diusahakan agar pasien dapat tidur
nyenyak dan beristirahat, kalau perlu kolaborasi pemberian obat

v.

penenang.
Eliminasi
Kandung kencing harus kosong, sedapat mungkin kateterisasi
harus dihindari.
Pengosongan isi usus dengan pemberian garam fisiologis atau di

vi.

lavement.
Obat-obatan pre medikasi
Pre medikasi:
Adalah pemberian obat untuk menjamin anastesi dapat berjalan
dengan baik dan lancar, dan bertujuan sebagai:
- Menghilangkan rasa gelisah dan takut sebelum operasi.
- Menurunkan BM, mengurangi pemakaian O2 tubuh.
- Melemahkan gerak refleks pada sistem saraf otonom untuk
menahan keluarnya air liur dan sekresi di bagian atas tenggorok
untuk mencegah konvulsi dan muntah.
Mengurangi pemakaian obat anestesi dasar (utama).
Analgesia, yang sering digunakan adalah:
Morfin untuk mengurangi perasan sakit.
Atrofin mengurangi sekresi dari mulut dan saluran pernafasan.
Obat anti muntah.
Kulit
- Mencukur bagian yang akan dioperasi.
Observasi tanda-tanda vital
Transporting pasien
Pasien harus dibawa tepat pada waktunya, jangan terlalu cepat, sebab
-

vii.
viii.
ix.

terlalu lama menunggu saat operasi akan menyebabkan pasien


gelisah dan takut. Baju pasien diganti dengan baju khusus operasi,
barang-barang berharga diserahkan pada keluarga.

FOKUS PENGKAJIAN
Adapun data-data yang menjadi data fokus dari hernia adalah sebagai berikut :
a.

Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelemahan, riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat berat, tidak
mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
Tanda : Gangguan dalam berjalan, kelemahan ambulasi
b. Eliminasi
Gejala: : Konstipasi, tidak dapat flaktus.
Tanda : Adanya retensi urine atau inkontinensia urine.
c. Makanan / cairan
Gejala : Hilangnya nafsu makan, mual, muntah.
Tanda : BB turun, dehidrasi, lemas otot.

d.

Nyeri / kenyamanan
Gejala : Nyeri tekan pada kwadran bawah, semakin memburuk dengan
adanya batuk, bersin, mengangkat benda berat, defekasi, nyeri tak
ada hentinya atau ada episode nyeri yang lebih berat secara
intermiten.
Tanda : Prubahan gara berjalan, nyeri tekan abdomen.

e.

Keamanan
Gejala : Peningkatan suhu 39.6 - 400C
Adapun data-data yang harus dikaji pasca operasi hernioraphy adalah
sebagai berikut :

System pernafasan
Potensi jalan nafas, perubahan pernafasan (rata-rata, pola dan
kedalaman), RR< 10 x/menit, auskultasi paru : keadekuatan ekspansi
paru, kesimetrisan.I nspeksi : pergerakan dinding dada, penggunaan otot

bantu pernafasan diafragma, retraksi sternal, thorax drain.


System cardiovascular
Sirkulasi darah, nadi dan suara jantung dikaji tiap 15 menit (4x), 30 menit
(4x), 2 jam (4x) dan setiap 4 jam selama 2 hari jika kondisi stabil. Kaji
sirkulasi perifer (kualitas denyut, warna, temperature, dan ukuran
ekstremitas).

Keseimbangan cairan dan elektrolit :

Inspeksi membrane mukosa (warna dan kelembaban, turgor kulit,

balutan), kaji intake / output, monitor cairan intravena dan tekanan darah
System persarafan.
Kaji fungsi serebral dan tingkat kesadaran, kekuatan otot, koordinasi.

System perkemihan
Control volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6-8 jam pasca
anesthesia, retensio urine, Dower catheter (kaji warna, jumlah urine,
output urine < 30 ml/jam)

System gastrointestinal
Mual muntah, kaji fungsi gastrointestinal dengan auskultasi suara usus,
kaji palitik ileus, Insersi NG tube intra operatif dengan drainage lambung
(untuk memonitor perdarahan, mencegah obstruksi usus, irigasi atau
pemberian obat, jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6- 8 jam).

System integument
Kaji factor infeksi luka, diostensi dari odema/palitik illeus, tekanan pada
daerah
luka, dehiscence, eviscerasi.

Drain dan balutan


Semua balutan dan drain dikaji setiap 15 menit pada saat diruang post
anesthesia recovery meliputi jumlah, warna, konsistensi, dan bau cairan
drain
dan tanggal observasi.

Pengkajian nyeri
Nyeri post operatif berhubungan dengan luka bedah, drain dan posisi
intra
operatif. Kaji tanda fisik dan emosi (peningkatan nadi dan tekanan darah,
hypertensi, diaphoresis, gelisah, menangis), kaji kualitas nyeri sebelum

9.

dan setelah pemberian analgetik.


DIAGNOSA KEPERAWATAN
ANALISA DATA
No
.
1.

Data

Etiologi

DS:
- Klien
mengatakan
terdapat benjolan

Kongenital dan akuisitas

Peningkatan tekanan

Masalah
Keperawatan
Nyeri akut b.d

2.

3.

di area
selangkangan
- Klien
mengatakan
bahwa terasa
nyeri pada
benjolan
- Klien mengeluh
nyeri saat BAK
dan BAB
DO:
- Ekspresi wajah
meringis
- Klien memegang
area yang sakit
- TD:
- N:

intraabdomen

Rusaknya integritas dinding


otot perut

Organ terdorong keluar


melalui defek

Hernia

Mengeluarkan zat
proteolitik (bradikini,
histamin, prostaglandin)

Respon nyeri

Nyeri akut

DS:
- Klien MRS pada
tanggal 27 Juni
2015
- Klien sering
menanyakan
kapan dirinya
akan dioperasi
- klien bertanya
berapa lama
dirinya akan
berada di ruang
operasi
DO:
- Klien tampak
tegang
- TD:
- N:

Proses hospitalisasi

Kurang pajanan informasi

ansietas

Kongenital dan akuisitas

Peningkatan tekanan
intraabdomen

Rusaknya integritas dinding


otot perut

Organ terdorong keluar


melalui defek

Hernia

Ansietas

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh


Hernia inguinalis

Kantung hernia memasuki


celah inguinal

Terdorong lewat dinding


posterior canalis inguinal
yang lemah

Benjolan pada regio


inguinal

Abdomen terdesak

Mual muntah

Asupan nutrisi menurun

Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh

MASALAH KEPERAWATAN
1. Nyeri akut
2. Ansietas
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh