Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN STRIKTUR

URETRA
MAKALAH

Disusun oleh :
1. Arfian Riska N.
2. Eka Yulia Sari
3. Febrina Trisnawati
4. Helmi Pramono
5. Ibnu Malik Andalusi
6. Levi Aprilian Mustika
7. Novi Windayani
8. Nur Imamah
9. Rina Fitriyani S.
10. Rifqyatus Surfi Maula
PRODI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)


BANYUWANGI
TAHUN 2010

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayahNya, sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini yang berjudul ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN SRTIKTUR URETRA meskipun sebelumnya kami banyak menemui
hambatan dan rintangan.
Tugas ini merupakan salah satu cara untuk pendalaman materi salah satu mata kuliah
Keperawatan Medikal Bedah II.
Oleh karena itu dalam kesempatan ini, perkenankanlah kami mengucapkan terima
kasih kepada ;
1. Bapak Drs. H. Soekardjo, S. Kep., MM selaku Ketua STIKES
Banyuwangi
2. Ibu Indah Mei Rahajeng, S. Kep. Ns selaku Dosen Pembimbing
Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah II.
3. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian
penyusunan makalah ini
Kami menyadari bahwasanya makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu,
segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi
perbaikan dan sempurnanya penyusunan makalah ini.
Akhirnya kami berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi Mahasiswa dan
Mahasiswi STIKES Banyuwangi khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Banyuwangi, April 2010

DAFTAR ISI
Halaman Judul . i
Kata Pengantar .... ii
Daftar Isi .... .iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah .....1

1.2

Perumusan Masalah ....2

1.3

Tujuan Penulisan .....2

1.4

Manfaat Penulisan ...2

BAB II PEMBAHASAN
2.1

Definisi Striktur uretra ...... 3

2.2

Etiologi Striktur uretra .................. 3

2.3

Patofisiologi Striktur uretra ....................................................................... 5

2.4

Manifestasi Klinis Sriktur uretra ................................................................ 7

2.5

Derajat penyempitan uretra ........................................................................ 7

2.6

Komplikasi Striktur uretra .......................................................................... 7

2.7

Pemeriksaan Penunjang .............................................................................. 8

2.8

Penatalaksanaan .......................................................................................... 8

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


2.9

Pengkajian .................................................................................................. 9

2.10 Diagnosa Keperawatan ............................................................................. 10


2.11 Intervensi Keperawatan ............................................................................ 10
BAB IV PENUTUP
3.1

Kesimpulan ............................................................................................... 13

3.2

Penutup ..................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG MASALAH


Uretra merupakan saluran yang urin dari vesika urinaria ke meatus uretra,
untuk dikeluarkan ke luar tubuh. Uretra pada pria memiliki fungsi ganda, yaitu
sebagai saluran urin & saluran untuk semen dari organ reproduksi. Panjang
uretra pria kira-kira 23 cm & melengkung dari kandung kemih ke luar tubuh,
melewati prostate dan penis. Sedangkan uretra pada wanita lurus & pendek,
berjalan secara langsung dari leher kandung kemih ke luar tubuh (Taufik abidin,
2009).
Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria daripada wanita terutama karena
perbedaan panjangnya uretra (C. Long , Barbara; 1996 hal 338). Penyebab
lainnya ialah tekanan dari luar uretra seperti tumor pada hipertrofi prostat
benigna, atau pun juga bisa diakibatkan oleh kelainan congenital, namun jarang
terjadi. Resiko striktur uretra meningkat pada orang yang memiliki riwayat
penyakit menular seksual, episode uretritis berulang, atau hipertrofi prostat
benigna (Taufik abidin, 2009).
Striktur uretra dapat berasal dari berbagai sebab, dan dapat tanpa gejala atau
muncul dengan ketidaknyamanan yang berat sebagai efek sekunder dari retensi
urin (iajnxebounk, 2008). Striktur uretra dapat disebabkan oleh setiap
peradangan kronik atau cedera. Radang karena gonnorhea merupakan penyebab
penting, tetapi radang lain yang kebanyakan disebabkan penyakit kelamin lain,
juga merupakan penyebab uretritis dan periuretritis (Taufik abidin, 2009).
Pengobatan dari striktur uretra tujuannya mencegah tumbuhnya jaringan
abnormal dan memacu tumbuhnya jaringan normal (iajnxebounk, 2008). Terapi
pengobatan terhadap striktur uretra tergantung pada lokasi striktur, panjang/
pendeknya striktur, dan kedaruratannya. Striktur uretra dapat diobati dengan
melakukan dilatasi uretra secara periodik (Taufik abidin, 2009).

1.2

Rumusan Masalah
Bagaimana konsep medis dan konsep asuhan keperawatan pada pasien
dengan striktur uretra ?

1.3

Tujuan Penulisan
Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui konsep medis dan konsep asuhan
keperawatan pada pasien dengan srtriktur uretra.

1.4

Manfaat Penulisan
Membantu para mahasiswa dalam memperoleh informasi mengenai konsep
medis dan konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan srtiktur uretra.

BAB II
KONSEP TEORI
2.1

DEFINISI STRIKTUR URETRA


Striktur uretra adalah berkurangnya diameter dan atau elastisitas uretra
akibat digantinya jaringan uretra dengan jaringan ikat yang kemudian
mengerut sehingga lumen uretra mengecil (Kapita selekta kedokteran,
2000).
Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan parut
dan kontraksi (C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468).

Gambar 2.1
2.2

ETIOLOGI STRIKTUR URETRA


Striktur uretra dapat terjadi secara:
a.Kongenital
Striktur uretra dapat terjadi secara terpisah ataupun bersamaan dengan
anomali saluran kemih yang lain.
b. Didapat.

Cedera uretral (akibat insersi peralatan bedah selama operasi transuretral,


kateter indwelling, atau prosedur sitoskopi)

Cedera akibat peregangan

Cedera akibat kecelakaan

Uretritis gonorheal yang tidak ditangani

Infeksi

Spasmus otot

Tekanan dari luar misalnya pertumbuhan tumor


(C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468 dan C. Long , Barbara;1996 hal
338)

2.3

PATOFISIOLOGI STRIKTUR URETRA

Kongenital

Didapat

Anomali saluran kemih yang lain

Infeksi, spasme otot, tekanan dari luar


tumor,

cidera

uretra,

cidera

peregangan, uretritis gonnorhea

Jaringan parut
Total tersumbat

Penyempitan lumen uretra


Kekuatan pancaran &
jumlah urine berkurang

Obstruksi saluran kemih yang bermuara


ke Vesika Urinaria
Perubahan pola eliminasi (retensi)

Peningkatan tekanan vesika urunaria

Refluk urine
Hidroureter

Nyeri

Penebalan dinding VU
Hidronefrosis
Penurunan kontraksi otot VU
Pyelonefritis
Kesulitan berkemih
GGK

Resiko infeksi

Retensi urine

Lanjut ke bagan pada halaman selanjutnya


Lanjutan bagan dari halaman sebelumnya

Ketakutan/ansietas

Sitostomi

Perubahan pola berkemih

Luka Insisi

Nyeri

Mekanisme koping tidak efektif


Kurangnya informasi

Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya

2.4 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Retensi b/d obstruksi mekanik, inflamasi
2. Nyeri b/d peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi ureteral, insisi bedah
sitostomi suprapubik
3. Resiko infeksi b/d pajanan bakteri akibat tahanan urine
4. Perubahan pola berkemih b/d insisi bedah sitostomi suprapubik
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan belajar b/d
tidak mengenal sumber informasi
6. Ketakutan/ansietas b/d perubahan status kesehatan, kemungkinan prosedur
bedah/malignasi

2.5

MANIFESTASI KLINIS STRIKTUR URETRA

Kekuatan pancaran dan jumlah urin berkurang

Gejala infeksi

Retensi urinarius

Adanya aliran balik dan mencetuskan sistitis, prostatitis dan


pielonefritis

Frekuensi

Urgensi

Disuria

Kadang-kadang disertai dengan infiltrat, abses dan fistel


(C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468)

2.6

DERAJAT PENYEMPITAN URETRA


1. Ringan: jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen
2. Sedang: oklusi 1/3 sampai dengan 1/2 diameter lumen uretra

3. Berat: oklusi lebih besar dari diameter lumen uretra.


Ada derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang
dikenal dengan spongiofibrosis.
(Basuki B. Purnomo; 2000 hal 126 )
2.7 KOMPLIKASI STRIKTUR URETRA
Infeksi
Sepsis
Abses pada lokasi striktur
Batu kandung kemih
Sulit ejakulasi
Fistula uretrokutaneus
Gagal ginjal
(Taufikabidin, Striktur uretra 2002)

2.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG


1. Urinalisis : warna kuning, coklat gelap, merah gelap/terang, penampilan
keruh, pH : 7 atau lebih besar, bakteria
2. Kultur

urin

adanya

staphylokokus

aureus.

Proteus,

klebsiella,

pseudomonas, e. Coli
3. BUN/kreatin : meningkat
4. Uretrografi:

adanya

penyempitan

atau

pembuntuan

uretra.

Untuk

mengetahui panjangnya penyempitan uretra dibuat foto iolar (sisto)


uretrografi
5. Uroflowmetri : untuk mengetahui derasnya pancaran saat miksi
6. Uretroskopi : untuk mengetahui pembuntuan lumen uretra
(Basuki B. Purnomo; 2000 hal 126 dan Doenges E. Marilynn, 2000 hal 672)
2.9 PENATALAKSANAAN

1. Bila panjang striktur uretra lebih dari 2 cm atau terdapat fistula uretrokutan
atau residif, dapat dilakukan uretroplasty.
Uretroplasti atau rekonstruksi uretra terbuka, ada dua jenis uretroplasti yaitu
uretroplasti anastomosis (daerah yang menyempit dibedah lalu uretra
diperbaiki dengan mencangkok jaringan atau flap dari jaringan di sekitarnya)
& uretroplasti subsitusi (mencangkok jaringan striktur yang dibedah dengan
jaringan mukosa bibir/ Buccal Mucosa Graft, jaringan kelamin, atau jaringan
preputium/ Vascularized preputial or genital skin flaps)
2. Bila panjang striktur kurang dari 2 cm dan tidak ada fistel maka dapt
dilakukan bedah endoskopi dengan lat Sachse.
3. Untuk striktur uretra anterior dapat dilakukan otis uretrotomi.
Uretrotomi (Endoscopic internal urethrotomy or incision) teknik bedah
dengan derajat invasif yang minim, di mana dilakukan tindakan insisi pada
jaringan radang untuk membuka striktur. Tindakan ini dikerjakan dengan
menggunakan kamera fiberoptik di bawah pengaruh anastesi
4. Pada wanita dilakukan dilatasi, balon kateter (plastik atau metal)
dimasukkan ke dalam uretra untuk membuka daerah yang menyempit. Jika
cara tersebut gagal bisa dilakukan otis uretrotomi
(Kapita selekta kedokteran, jijid 1. 2001)
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.10 PENGKAJIAN
1. Sirkulasi
Tanda : peningkatan TD ( efek pembesaran ginjal)
2. Eliminasi
o

Gejala : Penurunan aliran urine, keragu raguan pada awal berkemih,


ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan

lengkap, dorongan dan frekuensi berkemih, nokturia, disuria,


hematuria dan konstipasi.
o

Tanda : massa padat di bawah kandung kemih (distensi kandung kemih),


nyeri tekan kandung kemih

3. Makanan dan cairan


Gejala : anoreksia, mual muntah dan penurunan berat badan
4. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri suprapubik dan punggung bawah
5. Keamanan
Gejala : Demam
6. Seksualitas
o

Gejala : masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksual,


penurunan kekuatan kontraksi ejakulasi

(Doenges E. Marilynn, 2000 hal 672)


2.11 DIAGNOSA KEPERAWATAN
7. Retensi b/d obstruksi mekanik, inflamasi
8. Nyeri b/d peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi ureteral, insisi bedah
sitostomi suprapubik
9. Resiko infeksi b/d pajanan bakteri akibat tahanan urine
10. Perubahan pola berkemih b/d insisi bedah sitostomi suprapubik
11. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan belajar b/d
tidak mengenal sumber informasi
12. Ketakutan/ansietas b/d perubahan status kesehatan, kemungkinan prosedur
bedah/malignasi
2.12 INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Retensi urine b/d penyumbatan spingter sekunder akibat striktur

Batasan karakteristik:

Mayor: Distensi kandung kemih


Minor: Individu menyatakan perasaan bahwa kandung kemihnya tidak
kosong.

Tujuan:
Klien menunjukkan pola berkemih dengan jumlah dan kekuatan aliran urine
yang normal.
Kriteria hasil:
Individu akan:
1. Mengosongkan kandung kemih menggunakan manuver crede atau
valsafa
2. Berkemih volunter mencapai suatu keadaan yang secara pribadi merasa
puas.
Intervensi:
1. Ajarkan individu meregangkan abdomen dan melakukan maneuver
valsafa /maneuver crede/maneuver regangan anal jika diindikasikan
Rasional: agar distensi kandung kemih berkurang
2. Instruksikan individu untuk mencoba ketiga teknik atau suatu
kombinasi teknik untuk menentukan mana yang paling efektif untuk
mengosongkan kandung kemih.
Rasional: individu dapat melakukan pengosongan kandung kemih
secara mandiri.
3. Ukur residu pasca berkemih setelah usaha mengosongkan kandung
kemih, jika volume urine lebih besar dari 100cc, jadwalkan program
kateterisasi intermiten.
Rasional: mengawasi keefektifan pengosongan kandung kemih .
2.Nyeri b/d peningkatan frekuensi / dorongan kontraksi uretra, insisi bedah
sitostomi suprapubik
Batasan karakteristik:

Mayor: komunikasi tentang nyeri yang dideskripsikan


Minor: mengatupkan rahang atau pergelangan tangan, ansietas,
menggosok bagian yang nyeri, perubahan pada pola tidur.

Tujuan:

Klien menunjukkan berkurangnya tanda-tanda nyeri atau nyeri hilang sama


sekali.
Kriteria hasil:
Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol, tampak rileks, mampu untuk tidur.
Intervensi:
1. Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-10) lamanya
Rasional: memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan
pilihan intervensi
2. Berikan individu kesempatan untuk istirahat disiang hari dan dengan
waktu tidur yang tidak terganggu pada malam hari.
Rasional: istirahat mungkin diperlukan pada awal selama fase retensi akut
3. Ajarkan metode distraksi relaksasi selama nyeri akut misalnya latihan
nafas dalam
Rasional: meningkatkan relaksasi, mamfokuskan kembali perhatian dan
dapat maningkatkan kemampuan koping.
4. Kolaborasi dengan tim medis pemberian analgesic sesuai indikasi
Rasional: untuk menghilangkan nyeri

3.Resiko infeksi b/d pajanan bakteri akibat tahanan urine


Tujuan :
Tidak tampak adanya tanda- tanda infeksi
Kriteria Hasil :
Mencapai waktu penyembuhan
Tak mengalami tanda infeksi
Intervensi :
1. Awasi tanda vital, perhatikan demam ringan, menggigil, nadi dan
pernapasan cepat, gelisah, peka,disorientasi
R/ : Pasien yang mengalami sistoskopi dan/atau TUR prostat beresiko
untuk syok bedah/septik sehubungan dengan manipulasi/instrumentasi
2. Ambulasi dengan kantung drainase dependen
R/ : Menghindari reflek balik urine yang dapat memasukkan bakteri ke
dalam kandung kemih
3. Observasi drainase dari luka, sekitar kateter suprapubik
R/ : Adanya drain, insisi suprapubik meningkatkan resiko untuk infeksi
yang diindikasikan dengan eritema, drainase purulen

4. Ganti balutan dengan sering, pembersihan dan pengeringan kulit


sepanjang waktu
R/ : Balutan basah menyebabkan kulit iritasi dan memberikan media
untuk pertumbuhan bakteri, peningkatan resiko infeksi luka
5. Gunakan pelindung kulit tipe ostomi
R/ : Memberikan perlindungan untuk kulit sekitar, mencegah ekskoriasi
dan menurunkan resiko infeksi
(carpenito, lynda juall.2001)

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Uretra merupakan saluran yang urin dari vesika urinaria ke meatus uretra,
untuk dikeluarkan ke luar tubuh. Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria
daripada wanita terutama karena perbedaan panjangnya uretra. Striktur uretra
dapat berasal dari berbagai sebab, dan dapat tanpa gejala atau muncul dengan
ketidaknyamanan yang berat sebagai efek sekunder dari retensi urin. Striktur
uretra dapat disebabkan oleh setiap peradangan kronik atau cedera. Pengobatan
dari striktur uretra tujuannya mencegah tumbuhnya jaringan abnormal dan
memacu tumbuhnya jaringan normal. Terapi pengobatan terhadap striktur uretra
tergantung pada lokasi striktur, panjang/ pendeknya striktur, dan kedaruratannya.
3.2 SARAN

Semoga makalah kami ini dapat dijadikan salah satu referensi untuk dapat
memperoleh informasi mengenai asuhan keperawatan pada pasien dengan
striktur uretra. Selain

itu, saran dan kritik yang bersifat membangun selalu

kami nantikan demi perbaikan makalah kami ini. Semoga untuk ke depannya
kami dapat menghasilkan karya yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonoim,

Askep

pada

klien

dengan

striktur

uretra,

2009.

http://nursingbegin.com/askep-pada-klien-dengan-striktur-uretra/
Carpenito,lynda juall. 2001. diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran :
EGC. Jakarta
Jong, Wim De, R. Sjamsuhidayat. 2004. Striktur Uretra. Dalam: Saluran Kemih Dan
Alat Kelamin Lelaki, Buku Ajar Ilmu Bedah hal.752. EGC. Jakarta
Long C, Barbara, 1996. Perawatan Medikal Bedah, Volume 3, Bandung, Yayasan
IAPK pajajaran.
Sabiston, David C. 1994. Uretra Dalam: Sistem Urogenital, Buku Ajar Bedah Bagian
2, hal.463. EGC. Jakarta.
Susanne, C Smelzer, 2002. Keperawatan Medikal Bedah (Brunner &Suddart) , Edisi
VIII, Volume 2, Jakarta, EGC.

Tucker, S.M, et all . 1998.

Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan,

diagnosis dan evaluasi , Edisi V, Penerbit Buku Kedokteran : EGC. Jakarta