Anda di halaman 1dari 7

Portofolio III - Kegawatdaruratan

Nama Peserta: dr. Iin Baniswira


Nama Wahana: RSUD Ajjappangnge
Topik: Asma Bronkial Eksaserbasi Akut
Tanggal (Kasus): 20 Mei 2015
Nama Pasien: Ny. B
No. RM: 127511
Tanggal Presentasi: 6 Juni 2015
Pendamping: dr. Marlina Since
Tempat Presentasi: RSUD Ajjappangnge
Objek Presentasi:
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi:
Pasien datang ke RS dengan keluhan sesak nafas sejak 1 jam SMRS. Pasien berbicara
hanya dalam kata, dan terlihat cemas. Sebelumnya pasien sering sesak nafas jika cuaca
dingin atau kelelahan. Pasien menyangkal sering sesak napas sejak kecil. Pasien mulai sering
sesak napas pada usia 40 tahun. Awalnya sesak napas hanya timbul satu bulan sekali tapi
lama-lama frekuensi sesak semakin sering terutama satu tahun terakhir ini. Dan sejak satu
bulan terakhir, sesak napas datang setiap hari. Sesak napas dirasakan memberat pada malam
hari saat cuaca dingin atau jika pasien kelelahan. Dan hampir setiap malam sesak napas
datang. Pasien juga mengeluh batuk berdahak bersamaan dengan sesaknya. Selama tiga bulan
terakhir ini pasien rutin meminum obat dari kontrol ke Poliklinik Penyakit Dalam . Pasien
mendapat obat, namun pasien tidak tahu nama obatnya.
Pemeriksaan fisis didapatkan pernapasan 36x/menit, nadi 130 x/menit, tekanan darah 120/70
mmHg. Pada pemeriksaan paru diperoleh: terlihat retraksi suprasternal dan retraksi intercostal
dan pada auskultasi suara pernapasan bronkial, wheezing inspirasi dan ekspirasi +/+, ronchi
-/-.
Tujuan: menegakkan diagnosis kasus gawat darurat dan memberikan pertolongan pertama
sesuai kompetensi serta melakukan rujukan yang tepat
Bahan
Tinjauan
Riset
Kasus
Audit
Bahasan:
pustaka
Cara
Diskusi
Presentasi dan e-mail
Pos
Membahas:
diskusi
Data Pasien:
Nama: Ny.B
No. Registrasi: 127511
Nama Klinik:
RSUD Ajjappangnge
Data Utama Untuk Bahan Diskusi:
Diagnosis/Gambaran Klinis:
Pasien datang ke RS dengan keluhan sesak nafas sejak 1 jam SMRS. Pasien berbicara
hanya dalam kata, dan terlihat cemas. Sebelumnya pasien sering sesak nafas jika cuaca
dingin atau kelelahan. Pasien menyangkal sering sesak napas sejak kecil. Pasien mulai sering
sesak napas pada usia 40 tahun. Awalnya sesak napas hanya timbul satu bulan sekali tapi
lama-lama frekuensi sesak semakin sering terutama satu tahun terakhir ini. Dan sejak satu
bulan terakhir, sesak napas datang setiap hari. Sesak napas dirasakan memberat pada malam
hari saat cuaca dingin atau jika pasien kelelahan. Dan hampir setiap malam sesak napas
datang. Pasien juga mengeluh batuk berdahak bersamaan dengan sesaknya. Selama tiga bulan
1

Portofolio III - Kegawatdaruratan

terakhir ini pasien rutin meminum obat dari kontrol ke Poliklinik Penyakit Dalam . Pasien
mendapat obat, namun pasien tidak tahu nama obatnya.
Pemeriksaan fisis didapatkan pernapasan 36x/menit, nadi 130 x/menit, tekanan darah 120/70
mmHg. Pada pemeriksaan paru diperoleh: terlihat retraksi suprasternal dan retraksi intercostal
dan pada auskultasi suara pernapasan bronkial, wheezing inspirasi dan ekspirasi +/+, ronchi
-/-.
Pemeriksaan laboratorium dalam batas normal.
Riwayat Pengobatan:
Riwayat pengobatan (+) ke poli penyakit dalam semenjak 3 bulan terakhir
Riwayat Kesehatan/Penyakit:
Pasien pernah dirawat 3x dalam satu tahun terakhir karena asma
Riwayat Keluarga:
Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga (+), ayah pasien
Riwayat Pekerjaan/Kebiasaan:
Pasien adalah pensiunan pegawai negeri
Lain-lain:
Tidak ada.
Daftar Pustaka:
1. Riyanto B, Hisyam B. 2009. Obstruksi Saluran Pernapasan Akut. Dalam: Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jakarta: InternaPublishing
2. Rengganis I. Diagnosis dan Tatalaksana Asma Bronkial. Maj Kedok Indon, Volum: 58,
Nomor: 11, Nopember 2008
3. American Lung Association State of Lung Disease in Diverse Communities 2010. Asthma.
Available from: http://www.lungusa.org 1-800-LUNG-USA
4. Meiyanti, Mulia J. 2000. Perkembangan Patogenesis dan Pengobatan Asma Bronkiale. J
Kedokter Trisakti, September-Desember 2000-Vol.19, No.3
5. Batemen ED et al. 2010. Manage Asthma Exacerbation. Dalam: Global Strategy for
Asthma Management and Prevention. Available from: http://www.ginasthma.com
Hasil Pembelajaran:
1. Menegakkan diagnosis asma brokiale eksaserbasi akut
2. Memberikan penanganan primer pada pasien dengan diagnosis asma brokiale eksaserbasi
akut
3. Melakukan rujukan ke dokter spesialis paru untuk penanganan pasien lebih lanjut.

Portofolio III - Kegawatdaruratan

Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio


1. Subjektif
Pasien datang ke RS dengan keluhan sesak nafas sejak 1 jam SMRS. Pasien berbicara
hanya dalam kata, dan terlihat cemas. Sebelumnya pasien sering sesak nafas jika cuaca
dingin atau kelelahan. Pasien menyangkal sering sesak napas sejak kecil. Pasien mulai sering
sesak napas pada usia 40 tahun. Awalnya sesak napas hanya timbul satu bulan sekali tapi
lama-lama frekuensi sesak semakin sering terutama satu tahun terakhir ini. Dan sejak satu
bulan terakhir, sesak napas datang setiap hari. Sesak napas dirasakan memberat pada malam
hari saat cuaca dingin atau jika pasien kelelahan. Dan hampir setiap malam sesak napas
datang. Pasien juga mengeluh batuk berdahak bersamaan dengan sesaknya. Selama tiga bulan
terakhir ini pasien rutin meminum obat dari kontrol ke Poliklinik Penyakit Dalam . Pasien
mendapat obat, namun pasien tidak tahu nama obatnya.
2. Objektif
PEMERIKSAAN FISIS
SP: SB/GC/CM, GCS 15 (E4M6V5)
T = 120/70 mmHg, N = 130 x/menit, P = 36 x/menit, S = 36,50C
Pemeriksaan regional:
Kepala: dalam batas normal
Leher: dalam batas normal
Thorax:
Inspeksi : Retraksi suprasternal (+), retraksi intercostal (+)
Palpasi : vocal fremitus simetris kiri=kanan
Perkusi : sonor kiri=kanan
Auskultasi : Bronkial, ronchi -/-, wheezing +/+ inspirasi dan ekspirasi
Jantung: dalam batas normal
Abdomen: dalam batas normal
Ekstremitas: dalam batas normal
Genitalia: tidak dilakukan pemeriksaan
3. Assessment
Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang ditandai dengan mengi
episodik, batuk, dan sesak di dada akibat penyumbatan saluran napas. Asma dihubungkan
dengan hiperesponsif, keterbatasan aliran udara yang reversibel. Asma didefinisikan
menurut ciri-ciri klinis, fisiologis dan patologis. Ciri-ciri klinis yang dominan adalah
riwayat episode sesak, terutama pada malam hari yang sering disertai batuk. Pada
pemeriksaan fisik, tanda yang sering ditemukan adalah mengi. Ciri-ciri utama fisiologis
adalah episode obstruksi saluran napas, yang ditandai oleh keterbatasan arus udara pada
ekspirasi. Sedangkan ciri-ciri patologis yang dominan adalah inflamasi saluran napas yang
kadang disertai dengan perubahan struktur saluran napas.
Eksaserbasi asma adalah episode akut atau subakut dengan sesak yang memburuk secara
progresif disertasibatuk, mengi, dan dada sakit, atau beberapa kombinasi gejala-gejala
tersebut. Eksaserbasi ditandai dengan menurunnya arus napas yang dapat diukur secara
obyektif (spirometri atau PFM) dan merupakan indikator yang lebih dapat dipercaya
dibanding gejala.
Trigger asma bervariasi bergantung pada orang dan lingkungan. Beberapa trigger yang
3

Portofolio III - Kegawatdaruratan

telah diketahui meliputi asap rokok dan asap lainnya, serbuk sari, debu, jamur, bulu
binatang, olahraga, udara dingin, produk-produk industri dan rumah tangga, polutan udara,
dan infeksi.
Di Indonesia, prevalensi asma belum diketahui secara pasti. Hasil penelitian pada anak
sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan kuesioner ISAAC (International Study on
Asthma and Allergy in Children) tahun 1995 melaporkan prevalensi asma sebesar 2,1%,
sedangkan pada tahun 2003 meningkat menjadi 5,2%.
Diagnosis
Diagnosis asma didasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang.
Diagnosis klinis asma sering ditegakkan oleh gejala berupa sesak episodik, mengi, batuk
dan dada sakit/sempit. Pengukuran fungsi paru digunakan untuk menilai berat keterbatasan
arus udara dan reversibilitas yang dapat membantu diagnosis. Mengukur status alergi
dapat membantu identifikasi faktor risiko.
Anamnesis
Ada beberapa hal yang harus diketahui dari pasien asma antara lain: riwayat hidung
ingusan atau mampat (rhinitis alergi), mata gatal, merah, dan berair (konjungtivitis alergi),
dan eksem atopi, batuk yang sering kambuh (kronik) disertai mengi, flu berulang, sakit
akibat perubahan musim atau pergantian cuaca, adanya hambatan beraktivitas karena
masalah pernapasan (saat berolahraga), sering terbangun pada malam hari, riwayat
keluarga (riwayat asma, rinitis atau alergi lainnya dalam keluarga), memelihara binatang di
dalam rumah, banyak kecoa, terdapat bagian yang lembab di dalam rumah. Apakah sesak
dengan bau-bauan seperti parfum, spray pembunuh serangga, apakah pasien merokok,
orang lain yang merokok di rumah atau lingkungan kerja, obat yang digunakan pasien,
apakah ada beta blocker, aspirin atau steroid.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisis pasien asma, sering ditemukan perubahan cara bernapas, dan
terjadi perubahan bentuk anatomi toraks. Pada inspeksi dapat ditemukan; napas cepat,
kesulitan bernapas, menggunakan otot napas tambahan di leher, perut dan dada. Pada
auskultasi dapat ditemukan; mengi, ekspirasi memanjang.
Pemeriksaan Penunjang
1. Pulse oximetry. Pengukuran saturasi oksigen dengan pulse oximetry (SpO2) perlu
dilakukan pada seluruh pasien dengan asma akut untuk mengeksklusi hipoksemia.
Pengukuran SpO2 diindikasikan saat kemungkinan pasien jatuh ke dalam gagal napas dan
kemudian memerluka penatalaksanaan yang lebih intens.
2. Analisa gas darah. Keputusan untuk dilakukan pemeriksaan AGD jarang diperlukan
pada awal penatalaksanaan. Karena ketepatan dan kegunaan pulse oximetry, hanya pasien
dengan terapi oksigenasi yang SpO2 tidak membaik sampai >90%, perlu dilakukan
pemeriksaan AGD. Meskipun sudah diberikan terapi oksigen tetapi oksigenasi tetap tidak
adekuat perlu dipikirkan kondisi lain yang memperberat sperti adanya pneumonia.
3. Spirometer untuk menegakkan diagnosis juga untuk menilai beratnya obstruksi dan efek
pengobatan.
4. Peak Flow Meter/PFM untuk mengukur jumlah udara yang berasal dari paru. Oleh
karena pemeriksaan jasmani dapat normal, dalam menegakkan diagnosis asma diperlukan
pemeriksaan obyektif (spirometer/FEV1 atau PFM). Untuk diagnosis obstruksi saluran
4

Portofolio III - Kegawatdaruratan

napas, PFM mengukur terutama saluran napas besar, PFM dibuat untuk pemantauan dan
bukan alat diagnostik, APE dapat digunakan dalam diagnosis untuk penderita yang tidak
dapat melakukan pemeriksaan FEV1.
5. X-ray dada/thorax. Dilakukan untuk menyingkirkan penyakit yang tidak disebabkan
asma.
Klasifikasi Asma Bronkiale Eksaserbasi Akut

Tatalaksana Asma Bronkiale Eksaserbasi Akut

Portofolio III - Kegawatdaruratan

4. Plan
Diagnosis: Asma Bronkiale Eksaserbasi Akut
Terapi:
O2 1-3 L/menit dengan kanul nasal
Salbutamol inhaasi 2,5 mg dalam 4 ml larutan salin dengan nebulizer O2 (6-8L/menit)
setiap 20 menit
Dexametahsone injeksi 1 ml IV
Konsultasi: perlu dilakukan konsultasi ke dokter spesialis paru
Rujukan: pada kasus ini, perlu dilakukan konsultasi ke dokter spesialis paru untuk
6

Portofolio III - Kegawatdaruratan

penanganan pasien lebih lanjut.


Kontrol: pantau keadaan umum, tanda-tanda vital, saturasi oksigen. Bila perlu dapat
dilakukan pemeriksaan spirometri.
Prognosis: dubia.

Soppeng, 6 Juni 2015


Peserta,

Pendamping,

dr. Iin Baniswira

dr. Marlina Since