Anda di halaman 1dari 19

BAB I

I. PENDAHULUAN
Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis disebabkan oleh bakteri
dapat terlokalisir atau difus, telinga rasa sakit. Faktor ini penyebab timbulnya otitis eksterna
ini, kelembaban, penyumbatan liang telinga, trauma lokal dan alergi. Faktor ini menyebabkan
berkurangnya lapisan protektif yang menyebabkan edema dari epitel skuamosa. Keadaan ini
menimbulkan trauma local yang mengakibatkan bakteri masuk melalui kulit, inflasi dan
menimbulkan eksudat. Bakteri patogen pada otitis eksterna akut adalah pseudomonas (41 %),
strepokokus (22%), stafilokokus aureus (15%) dan bakteroides (11%).
Istilah otitis eksterna telah lama dipakai untuk menjelaskan sejumlah kondisi.
Spektrum infeksi dan radang mencakup bentuk-bentuk akut atau kronis. Dalam hal infeksi
perlu dipertimbangkan agen bakteri, jamur dan virus. Radang non-infeksi termasuk pula
dermatosis, beberapa di antaranya merupakan kondisi primer yang langsung menyerang liang
telinga. Shapiro telah menegaskan bahwa perbedaan antara otitis eksterna yang berasal dari
dermatosis dengan otitis eksterna akibat infeksi tidak selalu jelas. Suatu dermatosis dapat
menjadi terinfeksi setelah beberapa waktu, sementara ada infeksi kulit dapat terjadi reaksi
ekzematosa terhadap organisme penyebab. Sekali lagi, anamnesis dan pemeriksaan dapat
terjadi reaksi ekzematosa terhadap organisme penyebab. Sekali lagi, anamnesis dan
pemeriksaan yang cermat seringkali akan memberi petunjuk ke arah kondisi primernya.

BAB II
PEMBAHASAN
II. ANATOMI TELINGA
Anatomi telinga telinga terbagi menjadi 3 bagian :

telinga luar
telinga tengah
telinga dalam

II.a. TELINGA LUAR


terdiri dari :
1. daun telinga : terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit
2. liang telinga : panjang 2,5
3. 3 cm - 1/3 bagian luar : terdiri dari tulang rawan dan banyak terdapat kelenjar serumen
( modifikasi kelenjar keringat )dan rambut - 2/3 bagian dalam :

terdiri dari tulang

dan ditemukan sedikit kelenjar serumen

telinga luar berfungsi : mengumpulkan

suara dan mengubanya menjadi energi getar sampai ke gendang telinga


II.b. TELINGA TENGAH
Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas:

luar : membran timpani


depan : tuba austachii
bawah : vena jugularis ( bulbus jugularis)
belakang : aditus ad antrum , kanalis fasialis pars vertikalis
Atas : tegmen timpani ( meningen / otak )
dalam : berturut

Turut terdiri atas kebawah :

kanalis semisirkularis horizontal


kanalis fasialis
tingkap lonjong ( oval window )
tingkap bundar ( round window )
Promontorium

II.b.1 Membran Timpani


jika dilihat dari arah liang telinga berbentuk bundar cekung ,dan terlihat oblik terhadap
sumbu liang telinga, dengan luas permukaan 55 milimeter kuadrat.
Terdiri dari :
pars flasid (membran sharpnell):

dibagian atas terdiri dari 2 lapis :

Bagian luar : epitel kulit liang telinga


Bagian dalam : dilapisi oleh sel kubus bersilia ( mirip epitel saluran nafas)
pars tensa: dibagian bawah

terdiri dari 3 lapis :

lapisan luar dan dalam mirip pada pars flasid , bagian tengah teridiri dari serat kolagen dan
sedikit serat elastin .yang berjalan radier( dibagian luar ) dan sirkuler ( dibagian dalam )
3

penonjolan bagian bawah maleus pada membaran timpani disebut umbo . Dari umbo inilah
bermula suatu reflek cahaya ( cone of light ) kearah bawah :

pukul 7 untuk membran timpani kiri


pukul 5 untuk sebelah kanan reflek

cahaya ini di timbulkan oreh serat radier dan sirkuler yang terdapat pada membran timpani.
membran timpani terbagi menjadi 4 kuadran:

II. b.2 TULANG - TULANG PENDENGARAN

Kesesuaian impedansi oleh sistem osikuler


setiap gerakan tulang , Amplitudo gerakan wajah stapes adalah tangkai maleus
hal ini menjelaskan mengapa sistem pengungkit osikular mengurangi
jarak
pergerakan stapes tapi justru meningkatkan tenaga pergerakan sampai 1, 3 X luas

daerah permukaan timpani adalah 55 mm sedangkan wajah stapes 3,2 mm


rasio perbandingan 17 X lipat ini dibandingkan 1,3 X dari sistem pengungkit

sebabkan penekanan 22 kali cairan pada cokhlea


karena inersia cairan lebih besar dari udara maka dibutuhkan peningkatan jumlah
tekanan untuk menimbulkan getaran pada cairan dicohlea .

kerja M.tensor timpani dan M.stapedius


M.tensor timpani berkerja menarik tangkai maleus kearah dalam , sedangkan M.stapedius
menarik stapes kearah luar
kerja dua muskulus yang berlawanan ini berfungsi :
1. untuk melindungi koklea dari getaran yang merusak yang disebabkan oleh suara yang
sangat keras.karena otot - otot yang berlawanan kerjanya ini akan berkerja meredam
getaran membran timpani yang berlebih akibat suara yang keras.
4

ket : kelumpuhan m.stapedius ( misal karena kerusakan Nervus fasialis ) akan


menyebabkan pendengaran yang sangat tajam ( hiperakusis ) .hal ini terjadi akibat
gerakan stapes yang tidak terkendali.
2. untuk menutupi suara berfrekusensi rendah pada lingkaran suara yang keras dan
Menurunkan sensitivitas pendengaran seseorang sehingga seseorang dapat berkosentrasi
pada suara - suara tertentu .kedua otot memperkecil aplitudo pendengaran .

II. b. 3. TUBA AUDITIVA


saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan udara luar melalui muaranya di
nasofaring. Normalnya saluran ini selalu tertutup dan terbuka jika mengunyah atau menelan
sebagai kontraksi otot tensor veli palatini .
Fungsi tuba :
1. ventilasi menjaga agar tekanan udara dalam telinga tengah sama dengan tekanan udara luar
2. rainase sekret
3. menghalaing masuknya sekret dari nasofaring ke telinga tengah

II.c TELINGA DALAM (LABIRIN)


Labirin ( telinga dalam ) mengandung organ pendengaran dan keseimbangan, terletak pada
pars petrosa os temporal Labirin terdiri dari :
1. Labirin bagian tulang, terdiri dari : kanalis semisirkularis, vestibulum dan koklea.
2. Labirin bagian membran, yang terletak didalam labirin bagian tulang, terdiri dari : kanalis
semisirkularis, utrikulus, sakulus, sakus dan duktus endolimfatikus serta koklea.
Antara labirin bagian tulang dan membran terdapat suatu ruangan yang berisi cairan
perilimfe yang berasal dari cairan serebrospinalis dan filtrasi dari darah.Didalam labirin
5

bagian membran terdapat cairan endolimfe yang diproduksi oleh stria vaskularis dan
diresorbsi pada sakkus endolimfatikus.

II. c.1.Vestibulum
Vestibulum adalah suatu ruangan kecil yang berbentuk oval, berukuran 5 x 3 mm dan
memisahkan koklea dari kanalis semisirkularis. Pada dinding lateral terdapat foramen ovale
( fenestra vestibuli ) dimana footplate dari stapes melekat disana. Sedangkan foramen
rotundum terdapat pada lateral bawah. Pada dinding medial bagian anterior terdapat lekukan
berbentuk
spheris yang berisi makula sakuli dan terdapat lubang kecil yang berisi serabut saraf
vestibular inferior. Makula utrikuli terletak disebelah belakang atas daerah ini. Pada dinding
posterior terdapat muara dari kanalis semisirkularis dan bagian anterior berhubungan dengan
skala vestibuli koklea.

Sakulus dan utrikulus


Terletak didalam vestibulum yang dilapisi oleh perilimfe kecuali tempat masuknya saraf
didaerah makula. Sakulus jauh lebih kecil dari utrikulus tetapi strukturnya sama. Sakulus dan
utrikulus ini berhubungan satu sama lain dengan perantaraan duktus utrikulo-8
sakkularis yang bercabang menjadi duktus endolimfatikus dan berakhir pada suatu lipatan dari
duramater pada bagian belakang os piramidalis yang disebut sakkus endolimfatikus. Saluran
ini buntu.
Sel-sel persepsi disini sebagai sel-sel rambut yang dikelilingi oleh sel-sel penunjang yang
terletak pada makula. Pada sakulus terdapat makula sakuli dan pada utrikulus terdapat makula
utrikuli.

II.c.2. Kanalis Semisirkularis


Terdapat 3 buah kanalis semisirkularis : superior, posterior dan lateral yang membentuk sudut
90 satu sama lain. Masing-masing kanal membentuk 2/3 lingkaran, berdiameter antara 0,8
1,0 mm dan membesar hampir dua kali lipat pada bagian ampula. Pada vestibulum terdapat 5
muara kanalis semisirkularis dimana kanalis superior dan posterior bersatu membentuk krus
kommune sebelum memasuki vestibulum.

II.c.3. COHLEA
ket :
-

labirin tulang cohlea berpilin mengelilingi sumbu sentral tulang spons yang disebut

modiulus
ganglion spiralis
terbenam di dalam modiulus, ganglion ini terdiri dari neuron bipolar aferen dimana
akson panjang dari sel bipolar menyatu membentuk Nervus kokhlearis, sedangkan

dendrit yang lebih pendek menginervasi sel rambut organo corti .


Labirin tulang dibagi menjadi dua rongga utama oleh lamina spiralis oseosa dan

membran basalis
lamina spiralis oseosa

cohlearis .
Membran basalis berlanjut danri lamina spiralis oseosa ke ligamen spiralis
ligamen spiralis merupakan penebalan periosteum dinding tulang luar cohlea
tempat pertemuan cairan perilimfe skala vestibuli dan skala timpani disebut

helikoterma eosin.pembesaran sedang


dinding bagian luar skala media dibentuk oleh area vaskular yang disebut stria

menjulur dari modiulus

sampai setengah lumen kanalis

vaskularis strria vasikular ini ditutupi oleh epitel berlapis yang mengandung jalinan
kapiler
-

intra epitel

yang dibentuk oleh pembuluh yang memasok jaringan ikat

ligamen spiral.
Ligamen spiral terdiri dari serat kolagen , fibroblas berpigmen dan banyak pembuluh
darah

lantai skala media dibentuk oleh limbus spiralis yang merupakan penebalan dari
jaringan ikat periosteum cabang perifer ( aferen ) dari sel sel bipolar

ganglion spiralis berjalan melalui saluran saluran di lamina spiralis oseosa dan bersinap
dengan sel sel rambut didalam organo corti
skala vestibuli dan skala timpani berisikan cairan perilimfe dan berhubungan langsung
dengan ruang subarachnoid disekitar otak sehingga perilimfe hampir sama dengan cairan
serebrospinal sedangkan skala media berisikan cairan endolimfe yang mungkin disekresi oleh
stria vasikuler ( daerah dipinggir skala media ). sehingga cairan endolimfe mengandung
kosentrasi kalium yang tinggi dan Natrium yang rendah. (seperti cairan intrasel ) sedangkan
perilimfe sebaliknya ( seperti cairan extrasel ) membran basalis terdiri dari serat serat
basalis yang keluar dari modiulus /pusat penulangan koklea , satu sisi serat ini terfiksasi pada
modiulus sedangkan sisi yang lain bebas, panjang serat ini meningkat dari basis keapek , tapi
diameternya justru mengecil , sehingga serat yang berada dibasal ( dekat fenestra ovalis )
kaku dan pendek dan cenderung bergetar pada frekuensi tinggi , sedangkan yang diapex
seratnya panjang dan lentur sehingga cenderung bergetar pada frekuensi rendah.

III. OTITIS EKSTERNA


I. Defenisi
Otitis eksterna adalah radang merata kulit liang telinga yang disebabkan oleh kuman
maupun jamur (otomikosis) dengan tanda-tanda khas yaitu rasa tidak enak di liang telinga,
deskuamasi, sekret di liang telinga dan kecenderungan untuk kambuh.
Otitis eksterna difusa merupakan tipe infeksi bakteri patogen yang paling umum
disebabkan oleh pseudomonas, stafilokokus dan proteus, atau jamur.
Penyakit ini sering diumpai pada daerah-daerah yang panas dan lembab dan jarang
pada iklim-iklim sejuk dan kering. Patogenesis dari otitis eksterna sangat komplek dan sejak
8

tahun 1844 banyak peneliti mengemukakan faktor pencetus dari penyakit ini seperti Branca
(1953) mengatakan bahwa berenang merupakan penyebab dan menimbulkan kekambuhan.
Senturia dkk (1984) menganggap bahwa keadaan panas, lembab dan trauma terhadap epitel
dari liang telinga luar merupakan faktor penting untuk terjadinya otitis eksterna. Howke dkk
(1984) mengemukakan pemaparan terhadap air dan penggunaan lidi kapas dapat
menyebabkan terjadi otitis eksterna baik yang akut maupun kronik.

II. Etiologi
Swimmers ear (otitis eksterna) sering dijumpai, didapati 4 dari 1000 orang,
kebanyakan pada usia remaja dan dewasa muda. Terdiri dari inflamasi, iritasi atau infeksi
pada telinga bagian luar. Dijumpai riwayat pemaparan terhadap air, trauma mekanik dan
goresan atau benda asing dalam liang telinga. Berenang dalam air yang tercemar merupakan
salah satu cara terjadinya otitis eksterna (swimmers ear). Bentuk yang paling umum adalah
bentuk boil (Furunkulosis) salah satu dari satu kelenjar sebasea 1/3 liang telinga luar.
Pada otitis eksterna difusa disini proses patologis membatasi kulit sebagian kartilago
dari otitis liang telinga luar, trauma, iritan, bakteri atau fungal, alergi dan lingkungan.
Kebanyakan disebabkan alergi pemakaian topikal obat tetes telinga. Alergen yang paling
sering adalah antibiotik, contohnya: neomycin, framycetyn, gentamicin, polimixin, anti
bakteri (Holmes et al, 1982) dan anti histamin. Sensitifitas poten lainnya adalah metal dan
khususnya nikel yang sering muncul pada kertas dan klip rambut yang mungkin digunakan
untuk mengorek telinga. Infeksi merupakan penyakit yang paling umum dari liang telinga luar
seperti otitis eksterna difusa akut pada lingkungan yang lembab.

III. Patofisiologi

Saluran telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang sel-sel kulit
yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga. Membersihkan saluran telinga dengan
cotton bud (kapas pembersih) bisa mengganggu mekanisme pembersihan ini dan bisa
mendorong sel-sel kulit yang mati ke arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk
disana.
Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan penimbunan air
yang masuk ke dalam saluran ketika mandi atau berenang. Kulit yang basah dan lembut pada
saluran telinga lebih mudah terinfeksi oleh bakteri atau jamur.
Infeksi dapat terjadi sebagai akibat faktor-faktor predisposisi tertentu sebagai berikut :
1. Perubahan pH kulit kanalis yang biasanya asam menjadi basa.
2. Perubahan lingkungan terutama gabungan peningkatan suhu dan kelembaban.
3. Suatu trauma ringan seringkali karena berenang atau membersihkan telinga secara
berlebihan.
IV. Klasifikasi Otitis Eksterna
1. Otitis Eksterna Sirkumskripta (Furunkel/ bisul)
Otitis eksterna sirkumskripta adalah infeksi bermula dari folikel rambut di liang
telinga yang disebabkan oleh bakteri stafilokokus dan menimbulkan furunkel di liang telinga
di 1/3 luar. Sering timbul pada seseorang yang menderita diabetes.
Kondisi umun ini terbatas pada bagian kartilaginosa meatus akustikus eksternus. Jika
pemeriksa memasukkan spekulum ke dalam kanalis tanpa terlebih dahulu menarik aurikula
untuk memeriksa telinga, maka infeksi ini dapt terluputkan. Furunkolosis dimulai dari suatu
folikel pilosebaseus dan biasanya disebabkan oleh Staphyllococcus aureus atau S. albus. Pada
kasus yang lebih berat, selulitis pada jaringan sekitar dapt meluas melampaui daerah ini.
Nyeri dapat cukup hebat karena terbatasnya ruangan untuk perluasan edema pada daerah
anatomi ini.

10

Gejala klinis otitis eksterna sirkumskripta berupa rasa sakit (biasanya dari ringan
sampai berat, dapat sangat mengganggu, rasa nyeri makin hebat bila mengunyah makanan).
Keluhan kurang pendengaran, bila furunkel menutup liang telinga. Rasa sakit bila daun
telinga ketarik atau ditekan. Terdapat tanda infiltrat atau abses pada 1/3 luar liang telinga.
Penatalaksanaan otitis eksterna sirkumskripta :
1. Lokal : pada stadium infiltrat diberikan tampon yang dibasahi dengan 10%
ichthamol dalam glycerine, diganti setiap hari. Pada stadium abses dilakukan
insisi pada abses dan tampon larutan rivanol 0,1%.
2. Sistemik : Antibiotika diberikan dengan pertimbangan infeksi yang cukup
berat. Diberikan pada orang dewasa ampisillin 250 mg, eritromisin 250 mg.
Anak-anak diberikan dosis 40-50 mg per kg BB.
3. Analgetik : Parasetamol 500 mg (dewasa). Antalgin 500 mg (dewasa).
Pada kasus-kasus berulang tidak lupa untuk mencari faktor sistemik yaitu adanya
penyakit diabetes mellitus.

2. Otitis Eksterna Difus


Otitis eksterna difus adalah infeksi pada 2/3 dalam liang telinga akibat infeksi bakteri.
Umumnya bakteri penyebab yaitu Pseudomonas. Bakteri penyebab lainnya yaitu
Staphylococcus albus, Escheria coli, dan sebagainya. Kulit liang telinga terlihat hiperemis dan
udem yang batasnya tidak jelas. Tidak terdapat furunkel (bisul). Gejalanya sama dengan
gejala otitis eksterna sirkumskripta (furunkel = bisul). Kandang-kadang kita temukan sekret
yang berbau namun tidak bercampur lendir (musin). Lendir (musin) merupakan sekret yang
berasal dari kavum timpani dan kita temukan pada kasus otitis media.
Infeksi ini dikenal juga dengan nama swimmers ear. Biasanya terjadi pada cuaca
yang panas dan lembab, terutama disebabkan oleh kelompok Pseudomonas dan kadangkadang juga Staphylococcus albus, Escherichia coli dan Enterobacter aerogenes. Danau, laut
11

dan kolam renang pribadi merupakan sumber potensial untuk infeksi ini. Gambaran
diangostik antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Nyeri tekan tragus.


Nyeri hebat.
Pembengkakan sebagian besar dinding kanalis.
Sekret yang sedikit.
Pendengaran normal atau sedikit berkurang.
Tidak adanya partikel jamur.
Mungkin ada adenopati regional yang nyeri tekan.

Stroma yang menutupi tulang pada sepertiga bagian dalam liang telinga sangat tipis
sehingga hanya memungkinkan pembengkakan minimal. Maka gangguan subjektif yang
dialami pasien seringkali tidak sebanding dengan beratnya penyakit yang diamati pemeriksa.
Pengobatan otitis eksterna difus ialah dengan memasukkan tampon yang mengandung
antibiotik ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara obat dengan kulit yang
meradang. Terdapat beberapa pilihan obat telinga untuk terapi otitis eksterna difusa. Tets
telinga yang sering digunakan adalah Cortisporin (polimiksin B, neomisin, hidrokortison),
Coli-Mycin S (kolistin, neomisin, hidrokortison), Pyocidin (polimiksin B, hidrokortison),
Vosol HC (asam asetat-nonakueus 2% hidrokortison), dan Chloromycetin (kloramfenikol).

3. Otitis Eksterna Nekrotikans


Pada pengobatan otitis eksterna pasien lanjut usia, perlu diingan akan kemungkinan
otitis eksterna nekrotikans, yaitu suatu infeksi berat pada tulang temporal dan jaringan lunak
telinga. Kondisi ini disebabkan Pseudomonas aeruginosa dan biasanya ditemukan pada
penderita diabetes lanjut usia serta dianggap lebih umum pada daerah beriklim panas.
Pasien-pasien dengan otitis eksterna rekalsitrans yang berlangsung lebih dari dua
minggu, perlu dievaluasi dengan teliti terhadeap gejala-gejalan otitis eksterna nekrotikans.
Pada beberapa kasus, pasien datang dengan disfungsi saraf kranial ketujuh dan pemeriksaan
12

telinga yang normal. Pencitraan diagnostik yang menyeluruh termasuk CT scan, scan tulang,
dan scan gallium dapat membantu menentukan adanya penyakit ini. Scan tulang rutin saja
tidak cukup untuk membedakan otitis eksterna yang berat dengan otitis eksterna nokrotikans.
Meskipun mastoidektomi yang diperluas merupakan bentuk terapi yang banyak
dipilih, namun dengan temuan antibiotik spesifik Pseudomonas, maka kini intervensi dengan
antibiotik sistemik merupakan bentuk utama terapi. Ada dugaan bahwa pembedahan invasif
tanpa perlindungan antibiotik akan mendukung penyebaran infeksi pada pasien-pasien yang
telah mengalami kemunduran ini. Oleh sebab itu pembedahan sebaiknya dibatasi pada
pengangkatan sekuestra, drainase abses, dan debridement lokal jaringan granulasi. Terapi
obat-obatan yang dianjurkan adalah suatu aminoglikosida dengan antibiotik beta laktam anti
Pseudomonas.
Perlu ditekankan bahwa sekalipun pasien tampaknya telah sembuh, dianjurkan terapi
jangka panjang sekurang-kurangnya 6 minggu. Dengan semakin majunya perawatan
kesehatan di rumah, maka terapi kini dapat diberikan secara rawat jalan.

4. Otomikosis
Beberapa jamur dapat menyebabkan reaksi radang liang telinga. Dua jenis jamur yang
paling sering ditemukan pada tempat ini adalah Pityrosporum dan Aspergillus (A. niger, A.
flavus). Jamur Pityrosporum dapat hanya menyebabkan sisik superfisial yang menyerupai
ketombe pada kulit kepala atau dapat menyertai suatu dermatitis seboroika yang meradang,
atau dapat menjadi dasar berkembangnya infeksi lain yang lebih berat seperti furunkel atau
perubahan ekzematosa. Demikian pula hal nya dengan jamur Aspergillus. Jamur ini kadangkadang didaptkan dari liang telinga tanpa adanya gejala apapun kecuali rasa tersumbat dalam
telinga, atau dapat berupa peradangan yang menyerang epitel kanalis atau gendang telinga dan
menimbulkan gejala-gejala akut. Kadang-kadang dapat pula ditemukan Candida albicans.
13

Gejalanya biasanya berupa rasa gatal dan rasa penuh di liang telinga, tetapi sering pula
tanpa keluhan. Pengobatan kembali berupa pembersihan liang telinga dengan kasa ataupun
pengisap dan terkadang dengan irigasi ringan yang diikuti pengeringan. Tetes telinga siap beli
seperti Vosol (asam asetan-nonakueus 2%), Cresylate (m-kresil asetat) dan Otic Domeboro
(asam asetat 2%) bermanfaat pada banyak kasus. Akhir-akhir ini makin banyak dipakai
fungisida topikal spesifik seperti preparat yang mengandung nistatin (Mycostatin, Mycolog)
dan klotrimazol (Lotrimin) yang tidak hanya tersedia dalam kemasan tetes telinga.
V. Gejala Klinis
Rasa sakit di dalam telinga bisa bervariasi dari yang hanya berupa rasa tidak enak
sedikit, perasaan penuh didalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga rasa sakit yang
hebat, serta berdenyut. Meskipun rasa sakit sering merupakan gejala yang dominan, keluhan
ini juga sering merupakan gejala sering mengelirukan. Kehebatan rasa sakit bisa agaknya
tidak sebanding dengan derajat peradangan yang ada. Ini diterangkan dengan kenyataan
bahwa kulit dari liang telinga luar langsung berhubungan dengan periosteum dan
perikondrium, sehingga edema dermis menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit
yang hebat. Lagi pula, kulit dan tulang rawan 1/3 luar liang telinga bersambung dengan kulit
dan tulang rawan daun telinga sehingga gerakan yang sedikit saja dari daun telinga akan
dihantarkan kekulit dan tulang rawan dari liang telinga luar dan mengkibatkan rasa sakit yang
hebat dirasakan oleh penderita otitis eksterna.
Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan yang umum pada tahap awal dari otitis
eksterna difusa dan sering mendahului terjadinya rasa sakit dan nyeri tekan daun telinga.
Gatal merupakan gejala klinik yang sangat sering dan merupakan pendahulu rasa sakit
yang berkaitan dengan otitis eksterna akut. Pada kebanyakan penderita rasa gatal disertai rasa
penuh dan rasa tidak enak merupakan tanda permulaan peradangan suatu otitis eksterna akuta.
Pada otitis eksterna kronik merupakan keluhan utama.
14

Kurang pendengaran mungkin terjadi pada akut dan kronik dari otitis eksterna akut.
Edema kulit liang telinga, sekret yang sorous atau purulen, penebalan kulit yang progresif
pada otitis eksterna yang lama, sering menyumbat lumen kanalis dan menyebabkan timbulnya
tuli konduktif. Keratin yang deskuamasi, rambut, serumen, debris, dan obat-obatan yang
digunakan kedalam telinga bisa menutup lumen yang mengakibatkan peredaman hantaran
suara.

Menurut MM. Carr secara klinik otitis eksterna terbagi :


1. Otitis Eksterna Ringan : kulit liang telinga hiperemis dan eksudat, liang telinga
menyempit.
2. Otitis Eksterna Sedang : liang telinga sempit, bengkak, kulit hiperemis dan eksudat
positif
3. Otitis Eksterna Komplikas : Pina/Periaurikuler eritema dan bengkak
4. Otitis Eksterna Kronik : kulit liang telinga/pina menebal, keriput, eritema positif.
Menurut Senturia HB (1980) :
Eritema kulit, sekret yang kehijau-hijauan dan edema kulit liang telinga merupakan
tanda-tanda klasik dari otitis diffusa akuta. Bau busuk dari sekret tidak terjadi. Otitis eksterna
diffusa dapat dibagi atas 3 stadium yaitu :
1. Pre Inflammatory
2. Peradangan akut (ringan/ sedang/ berat)
3. Radang kronik

VI. Diagnosis Banding


Diagnosis banding dari keadaan yang serupa dengan otitis eksterna antara lain meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Otitis eksterna nekrotik


Otitis eksterna bullosa
Otitis eksterna granulose
Perikondritis yang berulang
Kondritis
Furunkulosis dan karbunkulosis
Dermatitis, seperti psoriasis dan dermatitis seboroika.
15

8. Karsinoma liang telinga luar yang mungkin tampak seperti infeksi stadium dini
diragukan dengan proses infeksi, sering diobati kurang sempurna. Tumor ganas yang
paling sering adalah squamous sel karsinoma, walaupun tumor primer seperti
seruminoma, kista adenoid, metastase karsinoma mamma, karsinoma prostat, small
(oat) cell dan karsinoma sel renal. Adanya rasa sakit pada daerah mastoid terutama
dari tumor ganas dan dapat disingkirkan dengan melakukan pemeriksaan biopsi.

VII. PENATALAKSANAAN
Prinsip-prinsip penatalaksanaan yang dapt diterapkan pada semua tipe otitis eksterna
antara lain :
1. Membersihkan liang telinga dengan pengisap atau kapas dengan berhati-hati
2. Penilaian terhadap sekret, edema dinding kanalis, dan membrana timpani bilaman
mungkin keputusan apakah akan menggunakan sumbu untuk mengoleskan obat.
3. Pemilihan pengobatan lokal.
Pengobatan amat sederhana tetapi membutuhkan kepatuhan penderita terutama dalam
menjaga kebersihan liang telinga.

Tabel 1. Obat-obatan Topikal untuk terapi Otitis Eksterna


NAMA OBAT
Kolistin

SPEKTRUM ORGANISME
Pseudomonas aeruginosa
Golongan Klebsiella-Enterobacter
Escherichia coli

Polimiksin B

Pseudomonas aeruginosa
Golongan Klebsiella-Enterobacter
Escherichia coli

Neomisin

Staphylococcus aureus dan S. albus


Escherichia coli
Golongan Proteus

Kloramfenikol

Staphylococcus aureus dan S. albus


16

Escherichia coli
Golongan Klebsiella-Enterobacter
Golongan Proteus
Nistatin
Klotrimazol
Mikonazol

Organisme Jamur

Tolnaftat
Karbol-fuhsin
Timol/alkohol

Terutama organisme jamur-namun dapat

Asam salisilat/alkohol

Pula efektif pada infeksi bakteri dengan

Asam borat/alkohol

Cara merendahkan pH kulit liang telinga

Asam asetat/alkohol
M-kresil asetat

Umumnya antiseptik

Mertiolat akueus

BAB III
17

PENUTUP
Secara anatomi, telinga dapat dibagi menjadi tiga yaitu telinga luar, tengah, dan dalam.
Telinga luar berfungsi mengumpulkan suara dan mengubahnya menjadi energi getaran sampai
ke gendang telinga. Telinga tengah menghubungkan gendang telinga sampai ke kanalis
semisirkularis yang berisi cairan. Di telinga tengah ini, gelombang getaran yang dihasilkan
tadi diteruskan melewati tulang-tulang pendengaran sampai ke cairan di kanalis
semisirkularis; adanya ligamen antar tulang mengamplifikasi getaran yang dihasilkan dari
gendang telinga. Telinga dalam merupakan tempat ujung-ujung saraf pendengaran yang akan
menghantarkan rangsangan suara tersebut ke pusat pendengaran di otak manusia.
Otitis eksterna adalah radang merata kulit liang telinga yang disebabkan oleh kuman
maupun jamur (otomikosis) dengan tanda-tanda khas yaitu rasa tidak enak di liang telinga,
deskuamasi, sekret di liang telinga dan kecenderungan untuk kambuhan. Pengobatan amat
sederhana tetapi membutuhkan kepatuhan penderita terutama dalam menjaga kebersihan liang
telinga.

DAFTAR PUSTAKA
18

Adams L, George dkk. 1997. BOIES : Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: EGC
Ganong WF. 1983. Fisiologi Kedokteran (Review of Medical Physiology) Edisi 10. Jakarta:
EGC
Soetirto, I.,Hendarmin, H., Bashiruddin, J., 2007. Gangguan Pendengaran dan Kelainan
Telinga dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan
Leher Edisi VI. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

19