Anda di halaman 1dari 27

ANATOMI DAN FISIOLOGI NASOFARING

Nasopharing berbentuk kerucut dan selalu terbuka pada waktu respirasi karena dindingnya
dari tulang, kecuali dasarnya yang dibentuk oleh palatum molle.
Batas nasopharing:
A. Superior : basis kranii, diliputi oleh mukosa dan fascia
B. Inferior : bidang horizontal yang ditarik dari palatum durum ke posterior, bersifat
subjektif karena tergantung dari palatum durum.
C. Anterior : choane, oleh os vomer dibagi atas choane kanan dan kiri.
D. Posterior : - vertebra cervicalis I dan II
- Fascia space = rongga yang berisi jaringan longgar
- Mukosa lanjutan dari mukosa atas
E. Lateral : - mukosa lanjutan dari mukosa atas dan belakang
- Muara tuba eustachii
- Fossa rosenmulleri

Bangunan yang penting pada nasopharing


A. Ostium tuba eustachii pars pharyngeal

Tuba eustachii merupakan kanal yang menghubungkan kavum nasi dan nasopharyng
dengan rongga telinga tengah. Mukosa ostium tuba tidak datar tetapi menonjol seperti
menara, disebut torus tubarius.
B. Torus tubarius
C. Fossa rosen mulleri
Adalah dataran kecil dibelkang torus tubarius. Daerah ini merupakan tempat
predileksi karsinoma nasofaring, suatu tumor yang mematikan nomor 1 di THT.
D. Fornix nasofaring
Adalah dataran disebelah atas torus tubarius, merupakan tempat tumor angiofibroma
nasopharing
E. Adenoid= tonsil pharyngeal=luskha
F.Secara teoritis adenoid akan hilang setelah pubertas karena adaenoid akan mencapai
titik optimal pada umur 12-14 tahun. Lokasi pada dinding superior dan dorsal
nasopharing sebelah lateral bursa pharyngea. Fungsinya sebagai mekanisme
pertahanan tubuh terhadap kuman- kuman yang lewat jalan napas hidung.

Nasopharing akan tertutup bila paltum molle melekat ke dinding posterior pada waktu
menelan, muntah, mengucapkan kata-kata etrtentu seperti hak.
Fungsi nasopharing :
1. Sebagai jalan udara pada respirasi
2. Jalan udara ke tuba eustachii
3. Resonator
4. Sebagai drainage sinus paranasal kavum timpani dan hidung
Secret dari nasopharing dapat bergerak ke bawah karena:
1. Gaya gravitasi
2. Gerakan menelan
3. Gerakan silia (kinosilia)
4. Gerakan usapan palatum molle

KOMPLEKS OSTIOMEATAL (KOM)


Merupakan celah pada dinding lateral hidung yang dibatasi oleh konka media dan lamina
papirasea. Struktur yang membentuk KOM : proc.unsinatus, infundibulum etmoid, hiatus
semilunaris, bula etmoid, agger nasi, dan resesus frontal. Fungsi : sebagai tempat ventilasi
dan drainase dari sinus-sinus yang letaknya anterior yaitu sinus maksila, etmoid anterior dan
frontal.
PERDARAHAN HIDUNG

1. Bgn atas : a. etmoid anterior dan a. etmoid posterior ( cabang dari a. oftalmika dari a.
carotis interna )
2. Bgn bawah : a. palatina mayor, a. sfenopalatina memasuki hidung dari belakang ujung
konka media
3. Bgn depan : cabang dari a. fasialis
4. Bgn depan septum : anastomosis dari cabang-cabang a. sfenopalatina, a. etmoid
anterior, a. labialis superior, a. palatina mayor Pleksus kiesselbach (littles area)
letaknya superfisial dan mudah cedera oleh trauma sering jadi sumber epistaksis
bagi anak-anak
VENA
1. Berjalan berdampingan dgn arteri nama yg sama
2. Bagian luar hidung dan vestibulum bermuara ke v. oftalmika sinus kavernosus

3. Vena di hidung tidak mempunyai katup memudahkan penyebaran infeksi ke


intracranial
PERSARAFAN HIDUNG

1. Bagian depan dan atas rongga hidung : persarafan sensoris n. etmoidalis anterior
(cabang dari n. oftalmikus)
2. Rongga hidung lainnya : n. maksila (ganglion sfenopalatinum)
3. N. olfaktorius reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius
MUKOSA HIDUNG
1. Mukosa pernafasan (respiratori) epitel torak berlapis semu + silia + sel goblet
(pseudo stratified columnar epitelium) fungsi mendorong lendir ke arah nasofaring
untuk membersihkan diri dan mengeluarkan benda asing yg masuk ke hidung
2. Mukosa penghidu : (atap rongga hidung, konka superior, sepertiga atas septum)
epitel torak berlapis semu tidak bersilia ( pseudostratified columnar non ciliated
epitelium)
FISIOLOGI HIDUNG
1. Jalan nafas ( aliran udara membentuk arkus/lengkungan):
a. Inspirasi : udara masuk dari nares anterior naik setinggi konka media turun
ke nasofaring

b. Ekspirasi : udara dari koana naik setinggi konka media di depan memecah
sebagian ke nares anterior dan sebagian kembali ke belakang membentuk pusaran
dan bergabung dgn aliran dari nasofaring
c. Pengaturan udara (air conditioning) mengatur kelembapan (oleh mukous
blanket) dan suhu ( oleh banyaknya pembuluh darah dibawah epitel , permukaan
konka dan septum yg luas)
d. Penyaring dan pelindung, dari debu dan bakteri ( oleh : rambut / vibrissae, silia,
mucous blanket, lisozym), dibantu oleh adanya refleks bersin untuk mengeluarkan
partikel yg besar
e. Penghidu : partikel bau mencapai mukosa olfaktorius dgn cara berdifusi dgn palut
lendir atau bila menarik nafas kuat
f. Resonansi suara : Sumbatan hidung rinolalia (suara sengau)
g. Membantu proses bicara. konsonan nasal (m, n, ng) rongga mulut tertutup
dan hidung terbuka, palatum mole turun untuk aliran udara
h. Refleks nasal : Pada mukosa hidung ada reseptor refleks yg berhubungan dengan
sal cerna, kardiovaskuler, pernafasan : mis : iritasi mukosa hidung bersin dan
nafas berhenti, bau tertentu sekresi kel liur, lambung dan pankreas

KONSEP DASAR PENYAKIT


A. Pengertian
Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah
nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma
nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak
ditemukan di Indonesia. (Efiaty & Nurbaiti, 2001)

Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas karsinoma berasal dari epitel


nasofaring. Biasanya tumor ganas ini tumbuh dari fossa rosenmuller dan dapat meluas
ke hidung, tenggorok, serta dasar tengkorak. (Munir, 2010)
B. Etiologi
Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV), pada hampir semua kasus KNF telah
mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut. Pada 1966,
seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap EBV pada KNF serta
titer antibodi IgG terhadap EBV, capsid antigen dan early antigen. Kenaikan titer ini
sejalan pula dengan tingginya stadium penyakit. Namun virus ini juga acapkali
dijumpai pada beberapa penyakit keganasan lainnya bahkan dapat pula dijumpai
menginfeksi orang normal tanpa menimbulkan manifestasi penyakit. Jadi adanya
virus ini tanpa faktor pemicu lain tidak cukup untuk menimbulkan proses keganasan.
Berbeda halnya dengan jenis kanker kepala dan leher lain, Kanker Nasofaring (KNF)
jarang dihubungkan dengan kebiasaan merokok dan minum alkohol tetapi lebih
dikaitkan dengan virus Epstein Barr, predisposisi genetik dan pola makan tertentu.
Meskipun demikan tetap ada peneliti yg

mencoba menghubungkannya dengan

merokok , secara umum resiko terhadap KNF pada perokok 2-6 kali dibandingkan
dengan bukan perokok (HSU dkk.2009). ditemukan juga bahwa menurunnya angka
kematian KNF di Amerika utara dan Hongkong merupakan hasil dari mengurangi
frekuensi merokok. Adanya hubungan antara faktor kebiasaan makan dengan
terjadinya KNF dipelajari oleh Ho dkk. Ditemukan kasus KNF dalam jumlah yang
tinggi pada mereka yang gemar mengkonsumsi ikan asin yang dimasak dengan gaya
Kanton (Cantonese-style salted fish). Risiko terjadinya KNF sangat berkaitan dengan
lamanya mereka mengkonsumsi makanan ini. Di beberapa bagian negeri Cina
makanan ini mulai digunakan sebagai pengganti air susu ibu pada saat menyapih.
Tentang factor genetic telah banyak ditemukan kasus herediter atau familier dari
pasien KNF dengan keganasan pada organ tubuh lain. Suatu cintoh terkenal di Cina
selatan, satu keluarga dengan 49 anggota dari dua generasi didapatkan 9 pasien KNF
dan 1 menderita tumor ganas payudara. Secara umum didapatkan 10% dari pasien
karsinoma nasofaring menderita keganasan organ lain.
Penyebab lain yang dicurigai adalah pajanan di tempat kerja seperti formaldehid, debu
kayu serta asap kayu bakar. Belakangan ini penelitian dilakukan terhadap pengobatan
alami (Chinese herbal medicine=CHB). Hildesheim dkk memperoleh hubungan yang

erat antara terjadinya KNF, infeksi EBV dan penggunaan CHB. Beebrapa tanaman
dan bahan CHB dapat menginduksi aktivasi dari virus EBV yg laten. Seperti pada
TPA ( Tetradecanoylyphorbol Acetate) yaitu substansi yg ada di alam dan tumbuhan
jika dikombinasi dengan N-Butyrate yang merupkan produk dari bakteri anaerob yang
ditemukan di nasofaring dapat menginduksi sintesis antigen EBV di tikus,
meningkatnya transformasi cell-mediated immunity dari EBV dan mempromosikan
pembentukan KNF (genesis) (TANG dkk.1988).
Secara mikroskopis karsinoma nasofaring dapat dibedakan menjadi 3 bentuk yaitu :
1. Bentuk ulseratif
Bentuk ini paling sering terdapat pada dinding posterior dan di daerah sekitar fosa
rosenmulleri. Juga dapat ditemukan pada dinding lateral didepan tuba eustachius
dan pada bagian atap nasofaring. Lesi ini biasanya lebih kecil disertai dengan
jaringan yang nekrotik dan sangat mudah mengadakan infiltrasi ke jaringan
sekitarnya. Gambaran histopatologik bentuk ini adalah karsinoma sel skuamosa
deengan diferensiasi baik.
2. Bentuk noduler/lubuler/proliferative
Bentuk noduler atau lobuler sangat sering dijumpai pada daerah sekitar muara
tuba eustachius. Tumor jenis ini berbentuk seperti buah angguratau polipoid
jarang, dijumpai adanya ulserasi, namun kadang-kadang dijumpai ulserasi kecil.
Gambaran histopatologik bentuk ini biasanya karsinoma tanpa diferensiasi.
3. Bentuk eksofitik
Bentuk eksofitik biasanya tumbuh pada satu sisi nasofaring, tidak dijumpai
adanya ulserasi, kadang-kadang bertangkai dan prmukaannya licin. Tumor jenis
ini biasanya tumbuh dari atap nasofaring dan dapat mengisi seluruh rongga
nasofaring. Tumor nini dapat mendorong palatum mole ke bawah dan tumbuh
kearah koana dan masuk ke dalam rongga hidung. Gambaran histopatologik
berupa limfasarkoma
C. Klasifikasi KNF
1. Histopatologi menurut WHO
a

Tipe WHO 1
1) Karsinoma sel skuamosa (KSS)
2) Deferensiasi baik sampai sedang.
3) Sering eksofilik (tumbuh dipermukaan).

Tipe WHO 2
1) Karsinoma non keratinisasi (KNK).

2) Paling banyak variasinya.


3) Menyerupai karsinoma transisional
c

Tipe WHO 3
1) Karsinoma tanpa diferensiasi (KTD).
2) Seperti antara lain limfoepitelioma, Karsinoma anaplastik, Clear Cell
Carsinoma, varian sel spindel.
3) Lebih radiosensitif, prognosis lebih baik.

2. Menurut bentuk dan cara tumbuh


a

Ulseratif

Eksofilik yaitu tumbuh keluar seperti polip.

Endofilik yaitu tumbuh di bawah mukosa, agak sedikit lebih tinggi dari
jaringan sekitar (creeping tumor)

3. TNM menurut American Joint Committee on Cancer


a. Primary Tumor (T)
Tx

= tidak dapat terkaji

T0

= tidak dapat dibuktikan

Tis

= karsinoma in situ

T1

= Tumor terbatas pada satu sisi nasofaring

T2

= Tumor terdapat lebih dari satu bagian nasofaring.

T2a

= dengan ekstensi parafaringeal

T2b

= tanpa ekstensi parafaringeal

T3

= Tumor menyebar ke rongga hidung atau orofaring.

T4

= Tumor menyebar ke endokranium/ mengenai syaraf otak.

b. Regional nodus limfe (N): Nasofaring


Nx

= tidak dapat terkaji

N0

= tidak dapat dibuktikan

N1

= Metastasis ke kelenjar getah bening pada sisi yang sama (unilateral),

dan berukuran kurang/sama dengan 6 cm, diatas fosaa supraklavikula


N2

= Metastasis ke kelenjar getah bening pada 2 sisi yang berbeda

(bilateral), dan berukuran kurang/sama dengan 6 cm, diatas fosaa


supraklavikula
N3

= Metastasis ke kelenjar getah bening

N3a

= ukuran lebih besar dari 6 cm

N3b

= ekstensi hingga fossa suraklavikula

c. Jarak metastasis (M)


Mx

= jarak metastasis tidak dapat terkaji

M0

= Tidak ada metastasis jauh.

M1

= Didapatkan metastasis jauh.

D. Tanda dan gejala


Gejala nasofaring yang pokok adalah :
1. Nasal sign :
a. Pilek lama yang tidak sembuh
b. Epistaksis. Keluarnya darah ini biasanya berulang-ulang, jumlahnya sedikit
dan seringkali bercampur dengan ingus, sehingga berwarna merah jambu
c. Ingus dapat seperti nanah, encer atau kental dan berbau.
2. Ear sign :
a. Tinitus. Tumor menekan muara tuba eustachii sehingga terjadi tuba oklusi,
karena muara tuba eustachii dekat dengan fosa rosenmulleri. Tekanan dalam
kavum timpani menjadi menurun sehingga terjadi tinnitus.
b. Gangguan pendengaran hantaran
c. Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri di telinga (otalgia).
3. Eye sign :
a. Diplopia. Tumor merayap masuk foramen laseratum dan menimbulkan
gangguan N. IV dan N. VI. Bila terkena chiasma opticus akan menimbulkan
kebutaan.
4. Tumor sign :
a. Pembesaran kelenjar limfoid leher ini merupakan penyebaran atau metastase
dekat secara limfogen dari karsinoma nasofaring.
5. Cranial sign
Gejala cranial terjadi bila tumor sudah meluas ke otak dan dirasakan pada
penderita. Gejala ini berupa :
a. Sakit kepala yang terus menerus, rasa sakit ini merupakan metastase secara
b.
c.
d.
e.

hematogen.
Sensitibilitas derah pipi dan hidung berkurang.
Kesukaran pada waktu menelan
Afoni
Sindrom Jugular Jackson atau sindroma reptroparotidean mengenai N. IX, N.
X, N. XI, N. XII. Dengan tanda-tanda kelumpuhan pada:
1) Lidah
2) Palatum
3) Faring atau laring
4) M. sternocleidomastoideus

E. Patofisiologi

KNF adalah tumor ganas yang berasal dari epitel yang melapisi nasofaring.
Rongga nasofaring diselaputi selapis mukosa epitel tipis, terutama berupa epitel
skuamosa, epitel torak besilia berlapis semu dan epitel transisional. Di dalam lamina
propria mukosa sering terdapat limfosit, di submukosa terdapat kelenjar serosa dan
musinosa. Infeksi virus Epstein-Barr dapat menyebabkan KNF. Hal ini dapat
dibuktikan dengan dijumpai adanya keberadaan protein-protein laten pada penderita
KNF. Pada penderita ini sel yang terinfeksi oleh EBV akan menghasilkan protein
tertentu yang berfungsi untuk proses proliferasi dan mempertahankan kelangsungan
virus di dalam sel host. Protein laten ini dapat dipakai sebagai petanda (marker) dalam
mendiagnosa KNF, yaitu EBNA-1 dan LMP-1, LMP- 2A dan LMP-2B.
Lokasi predileksi KNF adalah dinding lateral nasofaring (terutama di resesu
faringeus) dan dinding superoposterior. Tingkat keganasan KNF tinggi, tumbuh
infiltratif, dapat langsung menginfiltrasi berekspansi ke struktur yang berbatasan: ke
atas dapat langsung merusak basis cranial, juga dapat melalui foramen sfenotik,
foramen ovale, foramen spinosum, kanalis karotis internal atau sinus sphenoid dan
selula etmoidal posterior, lubang saluran atau retakan alamiah menginfiltrasi
intracranial, mengenai saraf cranial; ke anterior menyerang rongga nasal, sinus
maksilaris, selula etmoidales anterior, kemudian ke dalam orbita, juga dapat melalui
intrakranium,

fisura

orbitalis

superior

atau

kanalis

pterigoideus,

resesus

pterigopalatina lalu ke orbita; ke lateral tumor dapat menginfiltrasi celah parafaring,


fossa intratemporal dan kelompok otot mengunyah; ke posterior menginfiltrasi
jaringan lunak prevertebra servikal, vertebra servikal; ke inferior mengenai orofaring,
bahkan laringofaring.
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Gambaran Patologi Anatomi
Klasifikasi gambaran histopatologi yang direkomendasikan oleh Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) sebelum tahun 1991, dibagi atas 3 tipe, yaitu :
a. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi (Keratinizing Squamous Cell
Carcinoma). Tipe ini dapat dibagi lagi menjadi diferensiasi baik, sedang dan
buruk.
b. Karsinoma non-keratinisasi (Non-keratinizing Carcinoma). Pada tipe ini
dijumpai adanya diferensiasi, tetapi tidak ada diferensiasi sel skuamosa tanpa
jembatan intersel. Pada umumnya batas sel cukup jelas.

c. Karsinoma tidak berdiferensiasi (Undifferentiated Carcinoma). Pada tipe ini


sel tumor secara individu memperlihatkan inti yang vesikuler, berbentuk oval
atau bulat dengan nukleoli yang jelas. Pada umumnya batas sel tidak terlihat
dengan jelas.
Tipe tanpa diferensiasi dan tanpa keratinisasi mempunyai sifat yang sama, yaitu
bersifat radiosensitif. Sedangkan jenis dengan keratinisasi tidak begitu
radiosensitif. Klasifikasi gambaran histopatologi terbaru yang direkomendasikan
oleh WHO pada tahun 1991, hanya dibagi atas 2 tipe, yaitu :
a. Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi (Keratinizing Squamous Cell
Carcinoma).
b. Karsinoma non-keratinisasi (Non-keratinizing Carcinoma). Tipe ini dapat
dibagi lagi menjadi berdiferensiasi dan tak berdiferensiasi.

2. Pemeriksaan CT-Scan
Pada umunya KNF yang dapat dideteksi secara jelas dengan radiografi polos
adalah jika tumor tersebut cukup besar dan eksofitik, sedangkan bula kecil
mungkin tidak akan terdeteksi. Terlebih-lebih jika perluasan tumor adalah
submukosa, maka hal ini akan sukar dilihat dengan pemeriksaan radiografi polos.
Demikian pula jika penyebaran ke jaringan sekitarnya belum terlalu luas akan
terdapat kesukaran-kesukaran dalam mendeteksi hal tersebut. Keunggulan C.T.
Scan dibandingkan dengan foto polos ialah kemampuanya untuk membedakan
bermacam-macam densitas pada daerah nasofaring, baik itu pada jaringan lunak
maupun perubahan-perubahan pada tulang, gengan criteria tertentu dapat dinilai
suatu tumor nasofaring yang masih kecil. Selain itu dengan lebih akurat dapat
dinilai pakah sudah ada perluasan tumor ke jaringna sekitarnya, menilai ada
tidaknya destruksi tulang serta ada tidaknya penyebaran intracranial.
Ada beberapa posisi dengan foto polos yang perlu dibuat dalam mencari
kemungkina adanya tumor pada daerah nasofaring yaitu:
a.
b.
c.
d.

Posisi Lateral dengan teknik foto untuk jaringan lunak (soft tissue technique)
Posisi Basis Kranii atau Submentoverteks
Tomogram Lateral daerha nasofaring
Tomogranm Antero-posterior daerah nasofaring

2. Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan radiologi pada kecurigaan KNF merupakan pemeriksaan penunjang


diagnostic yang penting. Tujuan utama pemeriksaan radiologic tersebut adalah:
a. Memberikan diagnosis yang lebih pasti pada kecurigaan adanya tumor pada
daerah nasofaring
b. Menentukan lokasi yang lebih tepat dari tumor tersebut
c. Mencari dan menetukan luasnya penyebaran tumor ke jaringan sekitarnya.
3. Pemeriksaan Serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA
Pemeriksaan serologi IgA anti EA (early antigen) dan igA anti VCA (capsid
antigen) untuk infeksi virus E-B telah menunjukan kemajuan dalam mendeteksi
karsinoma nasofaring. Tjokro Setiyo dari FK UI Jakarta mendapatkan dari 41
pasien karsinoma nasofaring stadium lanjut (stadium III dan IV) senstivitas IgA
VCA adalah 97,5% dan spesifitas 91,8% dengan titer berkisar antara 10 sampai
1280 dengan terbanyak titer 160. IgA anti EA sensitivitasnya 100% tetapi
spesifitasnya hanya 30,0%, sehingga pemeriksaan ini hanya digunakan untuk
menetukan prognosis pengobatan, titer yang didpat berkisar antara 80 sampai
1280 dan terbanyak 160.
4. Untuk diagnosis pasti ditegakkan dengan Biopsi nasofaring
Diagnosis pasti dari KNF ditentukan dengan diagnosis klinik ditunjang dengan
diagnosis histologik atau sitologik. Diagnosis histologik atau sitologik dapat
ditegakan bila dikirim suatu material hasil biopsy cucian, hisapan (aspirasi), atau
sikatan (brush), biopsy dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dari hidung atau dari
mulut. Biopsi tumor nasofaring umunya dilakukan dengan anestesi topical dengan
xylocain 10%.
a. Biopsi melalui hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya (blind biopsy).
Cunam biopsy dimasukan melalui rongga hidung menyelusuri konka media ke
nasofaring kemudian cunam diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsy.
b. Biopsy melalui mulut dengan memakai bantuan kateter nelaton yang
dimasukan melalui hidung dan ujung kateter yang berada dalam mulut ditarik
keluar dan diklem bersama-sama ujung kateter yang dihdung. Demikian juga
kateter yang dari hidung disebelahnya, sehingga palatum

mole tertarik ke

atas. Kemudian dengan kacalaring dilihat daerah nasofaring. biopsy dilakukan


dengan melihat tumor melalui kaca tersebut atau memakai nasofaringoskop
yang dimasukan melalui mulut, masaa tumor akan terlihat lebih jelas.
5. Pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narkosis.
6. Magnetic resonance imaging (MRI)

Seperti halnya CT scan, MRI memperlihatkan perluasan karsinoma ke tempattempat yang mengandung jaringan lunak di kepala dan leher. Tetapi, MRI
menggunakan gelombang radio dan magnet yang kuat, bukan sinar X. Energi dari
gelombang radio diserap dan kemudian dilepaskan dalam sebuah pola yang
dibentuk oleh jenis jaringan tubuh manusia dan penyakit tertentu. Sebuah
komputer kemudian menerjemahkan pola yang dibentuk sebagai gambaran
jaringan tubuh. Sebuah bahan kontras disebut gadolinium sering disuntikkan ke
pembuluh darah sebelum pemeriksaan untuk melihat gambaran yang lebih baik
dan lebih jelas.
MRI dan CT-scan dapat digunakan untuk menentukan invasi karsinoma ke
struktur dekat nasofaring. MRI sedikit lebih baik daripada CT scan dalam menilai
jaringan lunak dalam hidung dan tenggorokan, akan tetapi MRI tidak sebaik CTScan untuk melihat tulang-tulang di dasar tengkorak yang merupakan lokasi
umum bagi tumbuhnya karsinoma nasofaring
7. Bone scan. Prosedur ini menggunakan material radioaktif yang sangat kecil untuk
menentukan apakah kanker telah menyebar sampai ke tulang. Alat ini
menggambarkan bila tulan sehat maka pada kamera akan tampak berwarna abuabu, dan bila ada kanker akan tampak gelap.
8. Neurologic tests. Tes ini untuk mengetahui fungsi nervus, khususnya sensasi taktil
wajah dan fungsi gerak pada nervus tertentu di area leher dan kepala.
9. Hearing test. Tes ini dilakukan bila diduga ada cairan pada telinga tengah.
10. Positron emission tomography (PET) scan. A PET scan adalah alat yang
digunakan untuk menciptakan tampilan gambaran organ dan jaringan dalam
tubuh. Substansi radioaktif yang berukuran kecil diinjeksikan ke dalam tubuh
pasien dan akan terdeteksi oleh sebuah scanner, yang akan menghasilkan gambar.
G. Penatalaksanaan Medis
1. Radioterapi
Sampai

saat

ini

radioterapi

masih

memegang

peranan

penting

dalam

penatalaksanaan karsinoma nasofaring. Penatalaksanaan pertama untuk karsinoma


nasofaring adalah radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi. Sampai saaat ini
pengobatan pilihan terhadap tumor ganas nasofaring adalah radiasi, karena
kebanyakan tumor ini tipe anaplastik yang bersifat radiosensitif. Radioterapi
dilakukan dengan radiasi eksterna, dapat menggunakan pesawat kobal (Co60 ) atau

dengan akselerator linier ( linier Accelerator atau linac). Radiasi ini ditujukan pada
kanker primer didaerah nasofaring dan ruang parafaringeal serta pada daerah aliran
getah bening leher atas, bawah seerta klasikula. Radiasi daerah getah bening ini
tetap dilakukan sebagai tindakan preventif sekalipun tidak dijumpai pembesaran
kelenjar. Metode brakhiterapi, yakni dengan memasukkan sumber radiasi kedalam
rongga nasofaring saat ini banyak digunakan guna memberikan dosis maksimal
pada tumor primer tetapi tidak menimbulkan cidera yang serius pada jaringan sehat
disekitarnya. Kombinasi ini diberikan pada kasus-kasus yang telah memeperoleh
dosis radiasi eksterna maksimum tetapi masih dijumpai sisa jaringan kanker atau
pada kasus kambuh lokal. Perkembangan teknologi pada dasawarsa terakhir telah
memungkinkan pemberian radiasi yang sangat terbatas pada daerah nasofaring
dengan menimbulkan efek samping sesedikit mungkin. Metode yang disebut
sebagai IMRT ( Intersified Modulated Radiotion Therapy ) telah digunakan
dibeberapa negara maju.
Prinsip Pengobatan Radiasi, inti sel dan plasma sel terdiri dari (1) RNA Ribose
Nucleic Acid dan (2) DNA Desoxy Ribose Nucleic Acid . DNA terutama
terdapat paa khromosom ionizing radiation menghambat metabolisme DNA dan
menghentikan aktifitas enzim nukleus. Akibatnya pada inti sel terjadi khromatolisis
dan plasma sel menjadi granuar serta timbul vakuola-vakuola yang kahirnya
berakibat sel akan mati dan menghilang. Pada suatu keganasan ditandai oleh
mitosis sel yang berlebihan ; stadium profase mitosis merupakan stadium yang
paling rentan terhadap radiasi. Daerah nasofaring dan sekitarnya yang meliputi fosa
serebri media, koane dan daerah parafaring sepertiga leher bagian atas. Daerahdaerah lainnya yang dilindungi dengan blok timah. Arah penyinaran dari lateral
kanan dan kiri, kecuali bila ada penyerangan kerongga hidung dan sinus paranasal
maka perlu penambahan lapangan radiasi dari depan. Pada penderita dengan
stadium yang masih terbataas (T1,T2), maka luas lapangan radiasi harus diperkecil
setelah dosis radiasi mencapai 4000 rad , terutama dari atas dan belakang untuk
menghindari bagian susunan saraf pusat . Dengan lapangan radiasi yang terbatas
ini, radiasi dilanjutkan sampai mencapai dosis seluruh antara 6000- 7000 rad . pada
penderita dengan stadium T3 dan T4, luas lapangan radiasi tetap dipertahankan
sampai dosis 6000 rad. Lapangan diperkecil bila dosis akan ditingkatkan lagi
sampai sekitar 7000 rad.

Daerah penyinaran kelenjar leher sampai fosa supraklavikula. Apabila tidak ada
metastasis kelenjar leher, maka radiasi daerah leher ini bersifat profilaktik dengan
dosis 4000 rad, sedangkan bila ada metastasis diberikan dosis yang sama dengan
dosis daerah tumor primer yaitu 6000 rad, atau lebih. Untuk menghindari gangguan
penyinaran terhadap medulla spinalis, laring dan esofagus, maka radiasi daerah
leher dan supraklavikula ini, sebaiknya diberikan dari arah depan dengan memakai
blok timah didaerah leher tengah.
Dosis radiasi : Dosis radiasi umumnya berkisar antara 6000 7000 rad, dalam
waktu 6 7 minggu dengan periode istirahat 2 3 minggu (split dose). Alat yang
biasanya dipakai ialah cobalt 60, megavoltageorthovoltage

Respon radiasi : Setelah diberikan radiasi, maka dilakukan evaluasi berupa respon
terhadap radiasi. Respon dinilai dari pengecilan kelenjar getah bening leher dan
pengecilan tumor primer di nasofaring. Penilaian respon radiasi berdasarkan
kriteria WHO :
-

Complete Response : menghilangkan seluruh kelenjar getah bening yang


besar.

Partial Response : pengecilan kelenjar getah bening sampai 50% atau


lebih.

No Change : ukuran kelenjar getah bening yang menetap.

Progressive Disease : ukuran kelenjar getah bening membesar 25% atau


lebih.

Komplikasi radioterapi dapat berupa :


a) Komplikasi dini
Biasanya terjadi selama atau beberapa minggu setelah radioterapi, seperti :
- Xerostomia - Mual-muntah
- Mukositis (nyeri telan, mulut kering, dan hilangnya cita rasa) kadang
-

diperparah dengan infeksi jamur pada mukosa lidah dan palatum


Anoreksi
Xerostamia (kekeringan mukosa mulut akibat disfungsi kelenjar

parotis yang terkena radiasi)


- Eritema
b) Komplikasi lanjut

Biasanya terjadi setelah 1 tahun pemberian radioterapi, seperti :


- Kontraktur
- Penurunan pendengaran
- Gangguan pertumbuhan
Untuk menghindari efek samping semaksimal mungkin maka sebelum dan selama
pengobatan, bahkan setelah selesai terapi, pasien akan selalu diawasi oleh dokter.
Perawatan sebelum radiasi adalah dengan membenahi gigi geligi, memberikan
informasi kepada pasien mengenai metode pembersihan ruang mulut dan gigi
secara benar. Untuk mengurangi keluhan penderita juga dapat diberikan obat
kumur yang mengandung adstringens, misalnya bactidol, efisol, gargarisma
diberikan 3-4 kali sehari. Bila tampak tanda-tanda moniliasis diberikan
antimikotik misalnya funfilin. Pemberian obat-obatan yang mengandung anestesi
local seperti FG troches bias mengurangi keluhan nyeri telan. Untuk keluhan
umum nausea, anorexia dan sebgainya bisa diberikan obat-obatan simptomatik
terhadap keluhan ini seperti avomit, avopreg.
2. Kemoterapi
Kemoterapi sebagai terapi tambahan pada karsinoma nasofaring ternyata dapat
meningkatkan hasil terapi. Terutama diberikan pada stadium lanjut atau pada
keadaan kambuh. Terapi adjuvan tidak dapat diberikan begitu saja tetapi memiliki
indikasi yaitu bila setelah mendapat terapi utamanya yang maksimal ternyata :
-

kankernya masih ada, dimana biopsi masih positif

kemungkinan besar kankernya masih ada, meskipun tidak ada bukti secara
makroskopis.

pada tumor dengan derajat keganasan tinggi ( oleh karena tingginya resiko
kekambuhan dan metastasis jauh).

Berdasarkan saat pemberiannya kemoterapi adjuvan pada tumor ganas kepala leher
dibagi menjadi
a. neoadjuvant atau induction chemotherapy (yaitu pemberian kemoterapi
mendahului pembedahan dan radiasi)
b. concurrent, simultaneous atau concomitant chemoradiotherapy (diberikan
bersamaan dengan penyinaran atau operasi)
c. post definitive chemotherapy (sebagai terapi tambahan paska pembedahan dan
atau radiasi )

Efek Samping Kemoterapi : Agen kemoterapi tidak hanya menyerang sel tumor
tapi juga sel normal yang membelah secara cepat seperti sel rambut, sumsum
tulang dan Sel pada traktus gastro intestinal. Akibat yang timbul bisa berupa
perdarahan, depresi sum-sum tulang yang memudahkan terjadinya infeksi. Pada
traktus gastro intestinal bisa terjadi mual, muntah anoreksia dan ulserasi saluran
cerna. Sedangkan pada sel rambut mengakibatkan kerontokan rambut. Jaringan
tubuh normal yang cepat proliferasi misalnya sum-sum tulang, folikel rambut,
mukosa saluran pencernaan mudah terkena efek obat sitostatika. Untungnya sel
kanker menjalani siklus lebih lama dari sel normal, sehingga dapat lebih lama
dipengaruhi oleh sitostatika dan sel normal lebih cepat pulih dari pada sel kanker.
Efek samping yang muncul pada jangka panjang adalah toksisitas terhadap jantung,
yang dapat dievaluasi dengan EKG dan toksisitas pada paru berupa kronik fibrosis
pada paru. Toksisitas pada hepar dan ginjal lebih sering terjadi dan sebaiknya
dievalusi fungsi faal hepar dan faal ginjalnya. Kelainan neurologi juga merupakan
salah satu efek samping pemberian kemoterapi.
Kemoradioterapi kombinasi adalah pemberian kemoterapi bersamaan dengan
radioterapi dalam rangka mengontrol tumor secara lokoregional dan meningkatkan
survival pasien dengan cara mengatasi sel kanker secara sistemik lewat
mikrosirkulasi.
Manfaat Kemoradioterapi adalah
a. Mengecilkan massa tumor, karena dengan mengecilkan tumor akan
memberikan hasil terapi radiasi lebih efektif. Telah diketahui bahwa pusat
tumor terisi sel hipoksik dan radioterapi konvensional tidak efektif jika
tidak terdapat oksigen. Pengurangan massa tumor akan menyebabkan pula
berkurangnya jumlah sel hipoksia.
b. Mengontrol metastasis jauh dan mengontrol mikrometastase.
c. Modifikasi melekul DNA oleh kemoterapi menyebabkan sel lebih sensitif
terhadap radiasi yang diberikan (radiosensitiser).
Terapi kombinasi ini selain bisa mengontrol sel tumor yang radioresisten,
memiliki manfaat juga untuk menghambat pertumbuhan kembali sel tumor yang
sudah sempat terpapar radiasi.
Kemoterapi neoajuvan dimaksudkan untuk mengurangi besarnya tumor
sebelum radioterapi. Pemberian kemoterapi neoadjuvan didasari atas pertimbangan
vascular bed tumor masih intak sehingga pencapaian obat menuju massa tumor

masih baik. Disamping itu, kemoterapi yang diberikan sejak dini dapat
memberantas mikrometastasis sistemik seawal mungkin. Kemoterapi neoadjuvan
pada keganasan kepala leher stadium II IV dilaporkan overall response rate
sebesar 80 %- 90 % dan CR ( Complete Response ) sekitar 50%. Kemoterapi
neoadjuvan yang diberikan sebelum terapi definitif berupa radiasi dapat
mempertahankan fungsi organ pada tempat tumbuhnya tumor (organ preservation).
Secara sinergi agen kemoterapi seperti Cisplatin mampu menghalangi
perbaikan kerusakan DNA akibat induksi radiasi. Sedangkan Hidroksiurea dan
Paclitaxel dapat memperpanjang durasi sel dalam keadaan fase sensitif terhadap
radiasi.
Kemoterapi yang diberikan secara bersamaan dengan radioterapi (concurrent
or concomitant chemoradiotherapy ) dimaksud untuk mempertinggi manfaat
radioterapi. Dengan cara ini diharapkan dapat membunuh sel kanker yang sensitif
terhadap kemoterapi dan mengubah sel kanker yang radioresisten menjadi lebih
sensitif terhadap radiasi. Keuntungan kemoradioterapi adalah keduanya bekerja
sinergistik yaitu mencegah resistensi, membunuh subpopulasi sel kanker yang
hipoksik dan menghambat recovery DNA pada sel kanker yang sublethal.
Kelemahan Kemoradioterapi : Kelemahan cara ini adalah meningkatkan efek
samping antara lain mukositis, leukopeni dan infeksi berat. Efek samping yang
terjadi

dapat

menyebabkan

penundaan

sementara

radioterapi.

Toksisitas

Kemoradioterapi dapat begitu besar sehingga berakibat fatal.


Beberapa

literatur

menyatakan

bahwa pemberian

kemoterapi

secara

bersamaan dengan radiasi dengan syarat dosis radiasi tidak terlalu berat dan jadwal
pemberian tidak diperpanjang, maka sebaiknya gunakan regimen kemoterapi yang
sederhana sesuai jadwal pemberian.
Untuk mengurangi efek samping dari kemoradioterapi diberikan kemoterapi
tunggal (single agent chemotherapy) dosis rendah dengan tujuan khusus untuk
meningkatkan sensitivitas sel kanker terhadap radioterapi (radiosensitizer).
Sitostatika yang sering digunakan adalah Cisplatin, 5-Fluorouracil dan MTX
dengan response rate 15%-47%.
3. Operasi
Dalam kondisi berikut ini dapat dipertimbangkan tindakan operasi : Residif lokal
nasofaring pasca radioterapi, lesi relatif terlokalisasi 3 bulan pasca radioterapi
kuratif terdapat residif lesi primer nasofaring. Pasca radioterapi kuratif terdapat

residif atau rekurensi kelenjar limfe leher. Karsinoma nasofaring dengan


diferensiasi agak tinggi seperti karsinoma sel skuamosa grade I,II, adenokarsinoma
dan lain-lain. Komplikasi radiasi (parasinusitis radiasi,ulkus radiasi, dll).
Tindakan operasi pada penderita karsinoma nasofaring berupa diseksi leher radikal
dan nasofaringektomi. Diseksi leher dilakukan jika masih ada sisa kelenjar pasca
radiasi atau adanya kekambuhan kelenjar dengan syarat bahwa tumor primer sudah
dinyatakan bersih yang dibuktikan dengan pemeriksaan radiologik dan serologi.
Nasofaringektomi merupakan suatu operasi paliatif yang dilakukan pada kasuskasus yang kambuh atau adanya residu pada nasofaring yang tidak berhasil diterapi
dengan cara lain

4. Pengobatan tambahan
Yang diberikan dapat berupa diseksi leher ( benjolan di leher yang tidak
menghilang pada penyinaran atau timbul kembali setelah penyinaran dan tumor
induknya sudah hilang yang terlebih dulu diperiksa dengan radiologik dan
serologik) , pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon, kemoterapi,
seroterapi, vaksin dan antivirus.
H. Komplikasi
1. Petrosphenoid sindrom
Tumor tumbuh ke atas ke dasar tengkorak lewat foramen laserum sampai sinus
kavernosus menekan saraf N. III, N. IV, N.VI juga menekan N.II. yang
memberikan kelainan :
a. Neuralgia trigeminus ( N. V ) : Trigeminal neuralgia merupakan suatu nyeri
pada wajah sesisi yang ditandai dengan rasa seperti terkena aliran listrik yang
terbatas pada daerah distribusi dari nervus trigeminus.
b. Ptosis palpebra ( N. III )
c. Ophthalmoplegia ( N. III, N. IV, N. VI )
2. Retroparidean sindrom
Tumor tumbuh ke depan kearah rongga hidung kemudian dapat menginfiltrasi ke
sekitarnya. Tumor ke samping dan belakang menuju ke arah daerah parapharing
dan retropharing dimana ada kelenjar getah bening. Tumor ini menekan saraf N.
IX, N. X, N. XI, N. XII dengan manifestasi gejala :

a. N. IX : kesulitan menelan karena hemiparesis otot konstriktor superior serta


gangguan pengecapan pada sepertiga belakang lidah
b. N. X : hiper / hipoanestesi mukosa palatum mole, faring dan laring disertai
gangguan respirasi dan saliva
c. N XI : kelumpuhan / atrofi oto trapezius , otot SCM serta hemiparese palatum
mole
d. N. XII : hemiparalisis dan atrofi sebelah lidah.
e. Sindrom horner : kelumpuhan N. simpaticus servicalis, berupa penyempitan
fisura palpebralis, onoftalmus dan miosis.
3. Sel-sel kanker dapat ikut mengalir bersama getah bening atau darah,
mengenaiorgan tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring. Yang sering adalah
tulang, hati dan paru. Hal ini merupakan hasil akhir dan prognosis yang buruk.
Dalam penelitian lain ditemukan bahwa karsinoma nasofaring dapat mengadakan
metastase jauh, ke paru-paru dan tulang, masing-masing 20 %, sedangkan ke hati
10 %, otak 4 %, ginjal 0.4 %, dan tiroid 0.4 %.

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1. Riwayat Penyakit
Perokok berat dan kronis, terpajan terhadap lingkungan karsinogen, penyakit paru
kronis sebelumnya yang telah mengakibatkan pembentukan jaringan parut dan
fibrosis pada jaringan paru.
2. Pemeriksaan fisik
Meliputi tanda-tanda vital. Batuk menetap akibat sekresi cairan, mengi, dyspnea,
hemoptisis karena erosi kapiler di jalan napas, sputum meningkat dengan bau tak
sedap akibat akumulasi sel yang nekrosis di daerah obstruksi akibat tumor, infeksi
saluran pernapasan berulang, nyeri karena penekanan saraf oleh tumor, disfagia,
edema daerah muka, leher dan lengan.
3. Pengkajian kebutuhan dasar
a Aktivitas dan istirahat
Gejala : Kelemahan, ketidakmampuan

dispnea karena aktivitas.


Tanda : Kelesuan
Sirkulasi
Gejala :JVD (obstruksi vena cava)
Tanda : Takikardi, jari tabuh

mempertahankan

kebiasaan rutin,

c
d

e
f

Integritas ego
Gejala : perasaan takut, takut hasil pembedahan
Tanda : Menolak keganasan
Nyeri kenyamanan
Gejala : Nyeri dada, nyeri bahu tangan, nyeri tulang sendi, nyeri abdomen
hilang timbul
Keamanan
Deman, kemerahan, kulit pucat.
Pernafasan
Gejala : Batuk ringan/perubahan pola batuk dari biasanya, nafas pendek,
bekerja terpasang polutan, debu industri, serak (paralisis pita suara), riwayat
merokok
Tanda : Dispnea, meningkat dengan bekerja, peningkatan premitus taktil,
krekels pada pada inspirasi atau ekspirasi, mengi menetap, penyimpangan

g
h
i

trahkeal.
Seksualitas
Ginekomastia, (ca sel besar), amenore/impoten
Penyuluhan/pembelajaran
Faktor resiko kanker pada keluarga
Nutrisi /cairan
Penurunan BB, nafsu makan buruk, penurunan masukan makanan, kesulitan
menelan, haus, kurus, kerempeng, edema wajah, glukosa dalam urine.

j
k

Kelemahan, berat badan menurun dan anoreksia


Eliminasi
Diare hilang timbul, peningkatan frekwensi bak/ jumlah urine.
Stres koping
Takut, cemas, tanda tanda kehilangan, faktor stress (perubahan peran atau
keuangan), cara mengatasi stress (keyakinan/religius).

B. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul


1. Nyeri berhubungan dengan agens cedera fisik,penekan jaringan saraf oleh selsel kanker
2. Gangguan sensori persepsi (pendengaran) berubungan dengan gangguan status
organ sekunder metastase tumor
3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake makanan yang kurang.
4. Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh primer tidak adekuat:
kerusakan integritas kulit trakeostomi.
5. Risiko perdarahan berhubungan dengan efek samping terapi.
6. Harga diri rendah b.d perubahan penampilan
C. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan agens cedera fisik,penekan jaringan saraf oleh selsel kanker

NIC :
a Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
b
c
d

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi


Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,

e
f
g

pencahayaan dan kebisingan


Kurangi faktor presipitasi nyeri
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi, distraksi,

h
i
j

kompres hangat/ dingin


Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri: ...
Tingkatkan istirahat
Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri

akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur


Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali

2. Gangguan sensori persepsi (pendengaran) berubungan dengan gangguan status


organ sekunder metastase tumor
a. Tentukan ketajaman pendengaran, apakah satu atau dua telinga terlibat .
b. Orientasikan pasien terhadap lingkungan.
c. Observasi tanda-tanda dan gejala disorientasi.
3. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake makanan yang kurang.
a Kaji adanya alergi makanan
b Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi
c

yang dibutuhkan pasien


Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah

konstipasi
d Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
e Monitor adanya penurunan BB dan gula darah
f Monitor lingkungan selama makan
g Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
h Monitor turgor kulit
i Monitor kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan kadar Ht
j Monitor mual dan muntah
k Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
l Monitor intake nuntrisi
m Informasikan pada klien dan keluarga tentang manfaat nutrisi
n Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan suplemen makanan seperti
o
p
q
r

NGT/ TPN sehingga intake cairan yang adekuat dapat dipertahankan.


Atur posisi semi fowler atau fowler tinggi selama makan
Kelola pemberan anti emetik:.....
Anjurkan banyak minum
Pertahankan terapi IV line

Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oval

4. Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh primer tidak adekuat:


kerusakan integritas kulit trakeostomi.
NIC :
a Pertahankan teknik aseptif
b Batasi pengunjung bila perlu
c Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
d Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
e Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan petunjuk umum
f Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
g Tingkatkan intake nutrisi
h Berikan terapi antibiotik:.................................
i Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
j Pertahankan teknik isolasi k/p
k Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
l Monitor adanya luka
m Dorong masukan cairan
n Dorong istirahat
o Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
p Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4 jam
5. Risiko perdarahan berhubungan dengan efek samping terapi.
a. Kaji terhadap potensial perdarahan : pantau jumlah trombosit
b. Kaji terhadap perdarahan : petekhie, penurunan Hb Ht, perdarahan dari
orifisium tubuh
c. Instruksikan cara-cara meminimalkan perdarahan : gunakan sikat gigi
halus, hindari cairan pembilas mulut komersial, hindari makanan yang
sulit dikunyah
d. Lakukan tindakan meminimalkan perdarahan : hindari mengukur suhu
rektal, hindari suntikan IM, lembabkan bibir dengan petrolatum,
mempertahankan masukan cairan
e. Gunakan pelunak feses atau tingkatkan serat dalam diet.
6. Harga diri rendah b.d perubahan penampilan
NIC :
Body image enhancement
a. Kaji secara verbal dan nonverbal respon klien terhadap tubuhnya
b. Monitor frekuensi mengkritik dirinya
c. Jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajuan dan prognosis penyakit
d. Dorong klien mengungkapkan perasaannya
e. Identifikasi arti pengurangan melalui pemakaian alat bantu
f. Fasilitasi kontak dengan individu lain dalam kelompok kecil

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan
dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3.
Jakarta : EGC;2000
Harry a. Asroel. Penatalaksanaan radioterapi pada karsinoma nasofaring. Referat.
Medan: FK USU,2002.h. 1-11.
Hasibuan R, A. H. pharingologi. Jakarta: Samatra Media Utama, 2004.h. 70-81.
Kartikawati,

Henny.

Penatalaksanaan

karsinoma

nasofaring

menuju

terapi

kombinasi/kemoradioterapi.
Lu Jiade J, Cooper Jay S, M Lee Anne WM. The epidemiologi of Nasopharigeal
Carcinoma In : Nasopharyngeal Cancer. Berlin : Springer,2010. p. 1-9.
Susworo, Makes D. Karsinoma nasofaring aspek radiodiagnostik dan radioterapi.
Jakarta: FK UI, 1987.h. 69-82.
Susworo, R. Kanker nasofaring : epidemiologi dan pengobatan mutakhir. Tinjauan
pustaka artikel. Dalam: Cermin Dunia Kedokteran. No. 144, 2004.h. 16-18.
Efiaty Arsyad Soepardi & Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga
Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2001
Mansjoer, Arif, dll.2002. Kapita Selekta Kedokteran.Ed.3.Jil.1.Jakarta: FKUI
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Ed 6.
Vol 2. Jakarta: EGC
Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan: Diagnosis NANDA,
Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC. Ed 9. Jakarta: EGC.
https://id.scribd.com/doc/82181138/ANATOMI-FISIOLOGI-HIDUNG#download
http://aromamediskental.blogspot.com/2010/12/karsinoma-nasofaring.html

- geografis

-pekerjaan

- jenis kelamin
- genetik
- infeksi
diawetkan

Pertumbuhan sel abnormal

Virus Eistein
Barr

- sosek
Karsinoma
nasofaring
PATHWAY CARSINOMA
NASOFARING

- makanan yang

Hidung
tersumba
t

Gejala
pendengara
n

Gejala mata

Gejala
hidung

Kerusaka
n
jaringan
Tx. radiasi

- gaya hidup

pilek

epistak
sis

Mata
kabur

diplop
ia

Hilang
pendengar
an

Gejala saraf

tinitu
s

Nyeri
kpl

Post
radioterapi
Menekan
bone
narrow

Sist
haemopoet
ik tergg

trombositope
ni

Resti
infek
si

Kekeringan kelenjar rambut

Nutrisi kurang
dr kebutuhan

alopesia

Pembesara
n k. limfe

Penekanan jar.
Sy o/ sel-sel
kanker

Perub persepsi sensori

Mualmuntah,
Kekeringan
mukosa,
Iritasi
mukosa
Resti
gastrointesti perdarahan
nal

Susah
menel
an

Gejala
tumor lain

Gg konsep diri:
HDR

nyeri