Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

PENATALAKSANAAN BRONKIOLITIS

Dokter Pembimbing :
dr. Alfred, Sp.A

Disusun oleh :
Alfonsina Chrissan Pentury (0961050090)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RS PGI CIKINI
PERIODE 15 DESEMBER 2014-28 FEBRUARI 2014
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ialah infeksi akut yang dapat terjadi di setiap
tempat di sepanjang saluran pernapasan dan adneksanya (telinga tengah, kavum pleura dan sinus
paranasalis). Secara anatomic ISPA dikelompokkan menjadi ISPA-atas misalnya batuk-pilek,
faringitis, tonsillitis, dan ISPA-bawah seperti bronchitis, bronkiolitis dan pneumonia. ISPA-atas
jarang menimbulkan kematian walaupun insidennnya jauh lebih tinggi dibandingkan ISPAbawah.
Pneumonia dan bronkiolitis yang merupakan bagian dari ISPA-bawah banyak
menimbulkan kematian, sehingga berperan besar dalam tingginya angka kematian bayi. Setiap
tahun diperkirakan 4 juta anak balita meninggal akibat ISPA (terutama akibat pneumonia dan
bronkiolitis) di negara berkembang. Bronkiolitis sendiri merupakan suatu penyakit infeksi akut
tersering pada usia kurang dari 2 tahun yang menimbulkan obstruksi inflamasi pada saluran
napas kecil (bronkiolus). Penyebab tersering dari bronkiolitis adalah virus Respiratory Syncytical
(RSV). Secara klinis bronkiolitis akut sukar dibedakan dengan pneumonia bakteri. Dan karena
mempunyai gejala obstruksi saluran napas, secara klinis sukar dibedakan dengan serangan asma.
Bronkiolitis pada masa bayi dapat menimbulkan dampak pada saluran napas berupa batuk,
wheezing dan hiperreaktivitas sampai beberapa tahun kemudian.

BAB II

BRONKIOLITIS

A.

DEFINISI1,4
Bronkiolitis adalah penyakit infeksi respiratorik akut-bawah yang ditandai dengan
adanya inflamasi pada bronkiolus. Umumnya infeksi disebabkan oleh virus. Penyakit ini
terjadi selama usia 2 tahun pertama dengan insidens puncaknya pada sekitar usia 6 bulan.
Secara klinis ditandai dengan episode wheezing, nafas cepat dan retraksi dada.

B.

EPIDEMIOLOGI1,4,6
Bronkiolitis merupakan infeksi saluran respiratori tersering pada bayi. Paling
sering terjadi pada usia 2-24 bulan, puncaknya terjadi pada usia 2-8 bulan. Sembilan
puluh lima persen kasus terjadi pada anak berusia di bawah 2 tahun dan 75 % diantaranya
terjadi pada anak berusia di bawah 1 tahun.
Orenstein menyatakan bahwa bronkiolitis paling sering terjadi pada bayi laki-laki
berusia 3-6 bulan yang tidak mendapat ASI dan hidup di lingkungan padat penduduk.
Selain Orenstein, Louden menyatakan bahwa bronkiolitis terjadi 1,25 kali lebih banyak
pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Dominasi pada anak laki-laki yang dirawat
juga disebutkan oleh Shay, yaitu 1,6 kali lebih banyak daripada anak perempuan,
sedangkan Fjaerli menyebutkan 63 % kasus bronkiolitis adalah laki-laki.
Sebanyak 11,4% anak berusia di bawah 1 tahun dan 6% anak berusia 1-2 tahun di
AS pernah mengalami bronkiolitis. Penyakit ini menyebabkan 90.000 kasus perawatan di
RS dan menyebabkan 4500 kematian setiap tahunnya. Bronkiolitis merupakan 17 % dari
semua kasus perawatan di RS pada bayi. Frekuensi bronkiolitis di Negara-negara
berkembang hampir sama dengan di AS. Insidens terbanyak terjadi pada musim dingin
atau musim hujan di Negara-negara tropis. Di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr.
Soetomo Surabaya pada tahun 2002 dan tahun 2003, bronkiolitis banyak didapatkan pada
bulan Januari sampai bulan Mei .
Angka morbiditas dan mortalitas lebih tinggi di Negara-negara berkembang
daripada di Negara-negara maju. Hal ini mungkin disebabkan oleh rendahnya status gizi
dan ekonomi, kurangnya tunjangan medis, serta kepadatan penduduk di Negara
berkembang. Angka mortalitas di negara berkembang pada anak-anak yang dirawat
adalah 1-3 %.

C.

ETIOLOGI
Penyebab utama dari bronkiolitis adalah infeksi repiratory syncytical virus (RSV) yang
memilki morbiditas dan mortalitas tinggi, terutama pada anak dengan risiko tinggi dan
imnunokompromise. Sekitar 95 % dari kasus-kasus tersebut secara serologis terbukti
disebabkan oleh invasi RSV. Orenstein menyebutkan pula beberapa penyebab lain seperti
Adenovirus, virus influenza, virus parainfluenza, Rhinovirus dan mikoplasma. Tidak ada
bukti yang kuat bahwa bakteri menyebabkan bronkiolitis.
Virus RSV lebih virulen daripada virus lain dan menghasilkan imunitas yang tidak

bertahan lama. Infeksi ini pada orang dewasa tidak menimbulkan gejala klinis. RSV adalah
golongan paramiksovirus dengan bungkus lipid serupa dengan virus parainfluenza, tetapi
hanya mempunyai satu antigen permukaan berupa glikoprotein dan nukleokapsid RNA
helik linear. Tidak adanya genom yang bersegmen dan hanya mempunyai satu antigen
bungkus berarti bahwa komposisi antigen RSV relatif stabil darI tahun ke tahun.
D.

FAKTOR RISIKO
Bronkiolitis sering mengenai anak usia dibawah 2 tahun dengan insiden tertinggi
pada bayi usia 6 bulan. Makin muda usia bayi menderita bronkiolitis biasanya akan
makin berat penyakitnya. Bayi yang menderita bronkiolitis berat mungkin oleh karena
kadar antibodi maternal (maternal neutralizing antibody) yang rendah. Selain usia, bayi
dan anak dengan penyakit jantung bawaan, bronchopulmonary dysplasia, prematuritas,
kelainan neurologis dan immunocompromized mempunyai resiko yang lebih besar untuk
terjadinya penyakit yang lebih berat. Insiden infeksi RSV sama pada laki-Iaki dan wanita,
namun bronkiolitis berat lebih sering terjadi pada laki-Iaki. Selain itu, faktor resiko
terjadinya bronkiolitis adalah status sosial ekonomi yang rendah, jumlah anggota
keluarga yang besar, perokok pasif, dan berada pada tempat penitipan anak atau tempat
dengan lingkungan yang padat penduduk.

E.

PATOFISIOLOGI
Infeksi virus pada epitel bersilia bronkiolus menyebabkan respons inflamasi akut,
ditandai dengan obstruksi bronkiolus akibat edema, sekresi mukus, timbunan debris
selular/ sel-sel mati yang terkelupas, kemudian diikuti dengan infiltrasi limfosit
peribronkial dan edema submukosa. Karena tahanan aliran udara berbanding terbalik

dengan diameter penampang saluran respiratori, maka sedikit saja penebalan mukosa
akan memberikan hambatan aliran udara yang besar, terutama pada bayi yang memilki
penampang saluran respiratori yang kecil. Resistensi pada bronkiolus meningkat selama
fase inspirasi dan ekspirasi, akan tetapi karena radius saluran respiratori lebih kecil
selama ekspirasi, maka akan menyebabkan air tapping dan hiperinflasi. Ateletaksis dapat
terjadi pada saat terjadi obstruksi total dan udara yang terjebak diabsorbsi.
Proses patologis ini akan mengganggu pertukaran gas normal di paru. Penurunan
kerja ventilasi paru akan menyebabkan ketidakseimbangan ventilasi perfusi yang
berikutnya akan menyebabkan terjadinya hipoksemia dan kemudian terjadi hipoksia
jaringan. Retensi karbondioksida (hiperkapnea) tidak selalu terjadi. Semakin tinggi laju
respiratori, maka semakin rendah tekanan oksigen arteri. Kerja pernapasan akan
meningkat selama end expiratory lung volume meningkat dan compliance paru menurun.
Hiperkapnea biasanya baru terjadi bila respirasi 60x/menit.
Pemulihan sel epitel paru tampak setelah 3-4 hari, tetapi silia akan diganti setelah
dua minggu. Jaringan mati (debris) akan dibersihkan oleh makrofag.
Berbeda dengan bayi, anak besar dan orang dewasa dapat mentolerir edema
saluran napas lebih baik, oleh karena itu pada anak besar dan dewasa jarang terjadi
bronkiolitis bila terserang infeksi virus saluran napas.
F.

MANIFESTASI KLINIS
Mula-mula menderita gejala ISPA atas ringan berupa pilek yang encer dan bersin.
Gejala ini kadang disertai demam dan nafsu makan berkurang. Kemudian satu atau dua
hari kemudian timbul distres nafas yang ditandai oleh batuk paroksismal, wheezing dan
sesak napas. Bayi-bayi akan menjadi rewel, muntah serta sulit makan dan minum.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan distres nafas dengan frekuensi nafas diatas 5060 kali per menit (takipnea), kadang disertai sianosis, nadi juga biasanya meningkat
(takikardi). Suhu badan bisa normal atau meningkat tinggi sampai 41 C. Terdapat nafas
cuping hidung, penggunaan otot bantu pernafasan dan retraksi interkostal, subkostal dan
suprasternal. Retraksi biasanya tidak dalam karena adanya hiperinflasi paru
(terperangkapnya udara dalam paru). Terdapat ekspirasi yang memanjang , wheezing
yang dapat terdengar dengan ataupun tanpa stetoskop, serta terdapat crackles. Pada
auskultasi dapat didapatkan rhonki basah halus nyaring pada akhir atau awal ekspirasi.
Suara perkusi paru hipersonor. Hepar dan lien dapat teraba dibawah tepi kosta akibat

pendorongan diafragma karena tertekan oleh paru yang hiperinflasi. Sering terjadi
hipoksia dengan saturasi oksigen <92% pada udara kamar. Pada beberapa pasien dengan
bronkiolitis didapatkan konjungtivitis ringan, otitis media serta faringitis.
G.

KLASIFIKASI
Klasifikasi bronkiolitis berdasarkan gejala klinis
Keparahan
Ringan

Sedang

Tanda
Anak sadar, warna kulit merah muda

Dapat makan dengan baik

Saturasi oksigen > 90%. Saturasi oksigen diketahui dengan alat

sederhana di kantor dokter atau RS


Salah satu di antara:

Kesulitan makan

Lemah

Kesulitan bernapas, digunakannya otot-otot bantu pernapasan

Adanya kelainan jantung atau saluran napas

Saturasi oksigen < 90%

Usia kurang dari enam bulan


Seperti kriteria untuk kategori sedang, namun:

Berat

mungkin tidak membaik dengan pemberian oksigen

menunjukkan episode terhentinya napas

menunjukkan tanda kelelahan otot pernapasan atau terkumpulnya


terlalu banyak karbon dioksida dalam tubuh.

H.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Pemeriksaan darah tepi tidak khas, jumlah leukosit berkisar antara 5000-24000 sel/l.
-

Pada keadaan leukositosis, batand dan PMN banyak ditemukan.


Analisis Gas Darah : hiperkapnia sebagai tanda dari air tapping, asidosis metabolik
atau respiratorik.
Analisa gas darah (AGD) diperlukan untuk anak dengan gangguan pernafasan
berat, khususnya yang membutuhkanventilator mekanik, gejala kelelahan dan
hipoksia.

Foto Thorak diindikasikan pada :


o

Pasien yang diperkirakan memerlukan perawatan lebih

Pasien dengan pemburukan klinis yang tidak terduga

Pasien dengan penyakit jantung dan paru yang mendasari.

Rontgen thoraks AP dan lateral dapat terlihat gambaran hiperinflasi paru dengan
diameter anteroposterior membesar pada foto lateral disertai dengan diafragma datar,
penonjolan ruang retrosternal dan penonjolan ruang interkostal. Dapat terlihat bercak
konsolidasi yang tersebar pada sekitar 30 % penderita dan disebabkan oleh ateletaksis
-

akibat obstruksi atau karena radang alveolus.


Identifikasi virus dengan memeriksa sekresi nasal dengan menggunakan tekhnik

imunofluoresens atau enzyme linked immunosorbent assay (ELISA)


Histopatologi: hipertrofi dan timbunan infiltrat meluas ke peribronkial, destruksi dan
deorganisasi jaringan otot dan elastis dinding mukosa. Terminal bronkiolus tersumbat
dan dilatasi. Alveoli overdistensi, atelektasis dan fibrosis. Sensifitas pemeriksaan ini
adalah 80-90%.

I.

DIAGNOSIS
Diagnosis bronkiolitis berdasarkan gambaran klinis, umur penderita dan adanya epidemi
RSV di masyarakat . Kriteria bronkiolitis terdiri dari: (1) wheezing pertama kali, (2) umur
24 bulan atau kurang, (3) pemeriksaan fisik sesuai dengan gambaran infeksi virus
misalnya batuk, pilek, demam dan (4) menyingkirkan pneumonia atau riwayat atopi yang
dapat menyebabkan wheezing.
Tes laboratorium rutin tidak spesifik. Hitung lekosit biasanya normal. Pada pasien dengan
peningkatan lekosit biasanya didominasi oleh PMN dan bentuk batang. Analisa gas darah
dapat menunjukkan adanya hipoksia akibat V/Q mismatch dan asidosis metabolik jika
terdapat dehidrasi.
Gambaran radiologik mungkin masih normal bila bronkiolitis ringan. Umumnya terlihat
paru-paru mengembang (hyperaerated). Bisa juga didapatkan bercak-bercak yang
tersebar, mungkin atelektasis (patchy atelectasis ) atau pneumonia (patchy infiltrates).
Pada x-foto lateral, didapatkan diameter AP yang bertambah dan diafragma tertekan ke
bawah. Pada pemeriksaan x-foto dada, dikatakan hyperaerated apabila kita mendapatkan:

siluet jantung yang menyempit, jantung terangkat, diafragma lebih rendah dan mendatar,
diameter anteroposterior dada bertambah, ruang retrosternal lebih lusen, iga horisontal,
pembuluh darah paru tampak tersebar.
Untuk menentukan penyebab bronkiolitis, dibutuhkan pemeriksaan aspirasi atau bilasan
nasofaring. Pada bahan ini dapat dilakukan kultur virus tetapi memerlukan waktu yang
lama, dan hanya memberikan hasil positif pada 50% kasus. Ada cara lain yaitu dengan
melakukan pemeriksaan antigen RSV dengan menggunakan cara imunofluoresen atau
ELISA. Sensitifitas pemeriksaan ini adalah 80-90%.

J.

DIAGNOSIS BANDING
Asma bronchial
Terdapat riwayat keluarga asma, episode berulang pada bayi yang sama, mulainya
mendadak tanpa infeksi yang mendahului, ekspirasi sangat memanjang,
eosinofilia dan respons perbaikan segera pada pemberian satu dosis albuterol

K.

aerosol.
Pneumonia
Aspirasi benda asing
Refluks gastroesophageal
Sistik fibrosis
Miokarditis

KOMPLIKASI
Komplikasi dari bronkiolitis sangat minimal dan tergantung dari penatalaksanaan
penyakit sebelumnya. Pada beberapa kasus didapatkan adanya gangguan fungsi paru
yang menetap, dimana timbulnya whezing berulang dan hiperaktifitas bronkial. Beberapa

studi kohort menghubungkan infeksi bronkiolitis akut berat pada bayi akan berkembang
menjadi asma. Suau studi kohort prospektif menemukan bahwa 23 % bayi dengan
riwayat bronkhiolitis berkembang menjadi asma pada usia 3 tahun, dibandingkan
dengan 1 % pada kelompok kontrol.
L.

PENATALAKSANAAN
Infeksi virus RSV biasanya sembuh sendiri (self limited) sehingga sebagian
besar

tatalaksana

bronkiolitis

pada

bayi

bersifat

suportif,

yaitu

pemberian

oksigen, minimal handling pada bayi, cairan intravena dan kecukupan cairan,
penyesuaian suhu lingkungan agar konsumsi oksigen minimal, tunjangan respirasi bila
perlu, dan nutrisi. Setelah itu barulah digunakan bronkodilator, antiinflamasi seperti
kortikosteroid, antiviral seperti ribavirin, dan pencegahan dengan vaksin RSV, RSV
immunoglobuline(polyclnal) atau humanized RSV monoclonal antibody (palvizumad).
Bronkiolitis ringan biasanya bisa rawat jalan dan perlu diberikan cairan peroral
yang adekuat. Bayi dengan bronkiolitis sedang sampai berat harus dirawat inap.
Penderita resiko tinggi harus dirawat inap, diantaranya: berusia kurang dari 3
bulan, prematur, kelainan jantung, kelainan neurologi, penyakit paru kronis,
defisiensi imun dan distres napas.
Manajemen dasar pengobatan bronkiolitis adalah meyakinkan pasien secara klinis
stabil, oksigenasi baik dan hidrasi baik.
Manfaat utama dari rawat inap bagi pasien dengan akut bronkiolitis adalah :
-

Dapat melakukan pengawasan terhadap status klinis

Dapat melakukan pemantauan saluran nafas (melalui penempatan posisi, pengisapan


dan pembersihan cairan).

Dapat melakukan pemantauan hidrasi cairan tubuh yang adekuat

Dapat memberikan edukasi kepada orang tua.

Mendeteksi dan mengobati komplikasi yang mungkin timbul

Mencegah penyebaran infeksi terhadap pasien lain dan pegawai

Melakukan pengobatan menggunakan antivirus yang spesifik jika terdapat indikasi.

Indikasi-indikasi untuk perawatan di rumah sakit :


-

Tanda klinis gangguan pernafasan atau tanda kelelahan

Apnoe

Ketidakmampuan untuk makan

Hypoksemia

Pasien dengan kondisi dasar medis.

Pengobatan Suportif
A. Pengawasan
Untuk pasien yang dirawat inap penting dilakukan pengawasan sistem jantung paru
dan jika ada indikasi dilakukan pemasanag pulse oxymetri.
B.

Oksigenasi
Oksigenasi sangat penting untuk menjaga jangan sampai terjadi hipoksia, sehingga
memperberat penyakitnya. Hipoksia terjadi akibat gangguan perfusi ventilasi paruparu. Pemberian oksigen tambahan direkomendasikan ketika saturasi oksigen
menetap dibawah 91% dan dihentikan ketika saturasi oksigen menetap diatas 94%.
Oksigenasi dengan kadar oksigen 30 40 % sering digunakan untuk mengoreksi
hipoksia,

gunakan

nasal

kanul

(dengan

kecepatan

maksimun

2L/m);

masker muka atau kotak kepala. Jika mungkin gunakan oksigen yang
dilembabkan. Jika hipoksemia menetap dengan atau tanpa distress berat, meskipun
sudah diberikan oksigen dengan kecepatan tinggi, maka segera lakukan permintaan
untuk penangan ICU anak dengan pemasangan ventilator.
C.

Pengaturan Cairan
Pemberian cairan sangat penting untuk mencegah dehidrasi akibat keluarnya cairan
lewat evaporasi, karena pernafasan yang cepat dan kesulitan minum. Jika tidak
terjadi dehidrasi diberikan cairan rumatan. Berikan tambahan cairan 20 % dari
kebutuhan rumatan jika didapatkan demam yang naik turun atau menetap (suhu >
38,5 0C). Cara pemberian cairan ini bisa secara intravena atau pemasangan selang
nasogastrik. Akan tetapi harus hati-hati pemberian cairan lewat lambung karena
dapat terjadi aspirasi dan menambah sesak nafas, akibat lambung yang terisi cairan
dan menekan diafragma ke paru-paru. Selain itu harus dicegah terjadinya overload
cairan.

Lakukan pemeriksaan serum elektrolit dan jika mendapatkan nilai yang tidak
normal lakukan penggantian dengan cairan elektrolit.
-Bayi > 1 bulan : infus dekstrose 10% : NaCL 0,9% = 3:1 + KCl 10 mEq/500 ml
cairan
-Neonatus : infus dekstrose 10 % : NaCl 0,9 % = 4:1 + KCl 10 mEq/500 ml
Pengobatan Medikamentosa
A. Antivirus (Ribavirin)
Bronkiolitis paling banyak disebabkan oleh virus sehingga ada pendapat untuk
mengurangi beratnya penyakit dapat diberikan antivirus.
Ribavirin adalah obat antivirusyang bersifat virus statik. The American of Pediatric
merekomendasikan penggunaan ribavirin pada keadaan diperkirakan penyakitnya
menjadi

lebih

berat

seperti

pada

penderita

bronkiolitis

dengan

kelainan

jantung, fibrosis kistik, penyakit paru-paru kronik, immunodefisiensi, dan pada


bayi-bayi premature. Ada beberapa penelitian prospektif tentang penggunaan
ribavirin pada penderita bronkiolitis dengan penyakit jantung dapat menurunkan
angka kesakitan dan kematian jika diberikan pada saat awal.
Penggunaan ribavirin biasanya dengan cara nebulizer aerosol 12-18 jam per hari atau
dosis kecil dengan 2 jam 3 x/hari.
B. Bronkodilator
Secara umum jangan gunakan bronkodilator pada pasien anak dengan usia dibawah 6
bulan. Bronkodilator juga tidak dianjurkan dan sebetulnya merupakan kontra indikasi
karena dapat memperberat keadaan anak. Penderita dapat menjadi lebih gelisah dan
keperluan oksigen akan meningkat.
Wohl dan Chernick menyatakan bahwa penyebab obstruksi saluran respiratory adalah
inflamasi dan penyempitan akibat edema mukosa dan sumbatan mukosa, serta
kolapsnya saluran respiratori kecil pada bayi dengan bronkiolitis, sehingga
pendekatan logis terapi adalah kombinasi -adrenergik dan agonis -adrenergik.
Kelebihan epinefrin dibandingkan dengan bronkodilator -adrenergik selektif adalah :

Kerja konstriktor -adrenergik yang merupakan dekongestan mukosa, membatasi


absorbsinya dan mengatur aliran darah pulmoner, dengan sedikit efek pada
ventilation perfusing matching.

Relaksasi otot bronkus karena efek -adrenergik

Kerja -adrenergik menekan pelepasan mediator kimiawi

Efek fisiologik antihistamin yang melawan efek histamin seperti edema

Mengurangi sekresi kataral.

Betaagonis masih sering digunakan dengan alasan 15 25 % pasien bronkiolitis


nantinya akan menjadi asma. Inhalasi 2-agonis diberikan satu kali sebagai trial dose.
Karena efek akan tampak dalam 1 jam, maka dosis ulangan akan diberikan bila pasien
menunjukkan perbaikan klinis fungsi paru yang jelas dan menetap.
C. Kortikosteroid
Untuk pasien rawat jalan dengan akut bronkiolitis pemberian steroid sistemik
mungkin dapat dipertimbangkan tetapi total pemberian tidak lebih dari 5 hari. Dapat
diberikan deksametason 0,5 mg/kgBB dilanjutkan 0,5 mg/kgBB/hari dibagi 3-4 dosis.
Untuk pasien rawat inap steroid sistemik tidak rutin diberikan. Sedangkan
untuk penanganan pasien pada intensive care unit dengan bronkiolitis berat
pemberian steroid sistemik dapat dipertimbangkan. Sedangkan pemberian steroid
inhalasi (budesonide & Fluticasone) sangat sedikit evidence based yang
merekomendasikan.
D. Antibiotik
Pemberian antibiotik biasanya tidak diperlukan pada penderita bronkiolitis, karena
sebagian besar disebabkan oleh virus, kecuali jika ada tanda-tanda infeksi sekunder
dapat diberikan antibiotik spektrum luas.
Pemberian antibiotik justru akan meningkatkan infeksi sekunder oleh kuman yang
resisten terhadap antibiotik tersebut.
Antibiotik bila dicurigai adanya infeksi bakteri dapat digunakan ampisilin 100-200
mg/kgBB/hr secara intravena dibagi 4 dosis. Bila ada konjungtivitis dan bayi berusia
1 4 bulan kemungkinan sekunder oleh Chlamidia trachomatis.
E. Surfaktan

Bukti klinis dan laboratorium menunjukkan bahwa bronkitis virus berat dapat
menyebabkan insufisiensi surfaktan sekunder. Dengan demikian pemberian
surfaktan eksogen merupakan potensi terapi yang menjanjikan.penggunaan surfaktan
ini dikaitkan dengan penurunan penggunaan ventilasi mekanik dan penurunan lama
perawatan di ICU
Pengobatan Intensive Care Unit
Dilakukan konsultasi untuk perawatan pada ICU anak jika :
-

Terjadi progresivitas untuk gangguan pernafasan berat terutama pada kelompok yang
beresiko.

Terdapat episode apnoe yang signifikan dengan gangguan saturasi atau adanya
frekuensi pernafasan pendek lebih dari 15 detik.

Saturasi oksigen rendah yang menetap

Ketika pemeriksaan analisa gas darah telah selesai dan menggambarkan gangguan
pernafasan dimana pada darah arteri didapatkan : pO2 > 50 mmHg; pH 5,12
Tabel 2.
Penatalaksanaan Bronkiolitis Berdasarkan Berat Ringannya Gejala

Ringan
Tidak memerlukan

Bronkiolitis
Sedang
Perawatan di rumah sakit

penilaian lebih lanjut

Berikan oksigen sehingga -

Perawatan dirumah,
jika orang tua pasien

mampu dan sudah


dijelaskan keadaannya
-

Berobat ulang ke
dokter setelah 2 3 hari
kemudian

Berat
Perawatan di rumah sakit
Pemberian oksigen sampai

saturasi oksigen > 93 %

saturasi oksigen > 95 %

Pertimbangkan pemberian -

Pengamatan seksama untuk

cairan intravena

antisipasi kemungkinan

Pengamatan seksama

memerlukan intubasi dan

terhadap perburukan

pemakaian ventilator

kondisi

Berikan cairan intravena

Foto thorak

Monitor system

Aspirasi nasopharyngeal

cardiorespiratori

untuk virus

Foto thorak

imunoflurorecency

Aspirasi nasopharyngeal untuk

dan kultur

virus imunoflurorecency
dan kultur
- Pertimbangkan pengawasan gas
pembuluh darah arteri
-

Pertimbangkan untuk
konsultasi perawatan ICU
anak.

Kriteria Pulang
Pasien direkomendasikan pulang dengan kriteria :
-

Status pernafasan
o Laju pernafasan kurang dari 70 kali dalam 1 menit dan tidak didapatkan tanda
klinis usaha pernafasan lebih
o Orang tua dapat membersihkan saluran pernafasan anak dengan menggunakan alat
sedot gelembung.
o Pasien dapat berada dalam ruang dengan udara bebas dengan oksigen terapi yang
stabil.
o Saturasi oksigen harus lebih dari 90% tanpa pemberian oksigen tambahan kecuali
anak dengan penyakit paru kronis, penyakit jantung atau mempunyai faktor resiko
lain harus dilakukan diskusi terlebih dahulu dengan konsultan.

- Status nutrisi
o Pasien dapat makan melalui mulut pada tingkatan dapat mencegah dehidrasi
-

Sosial
o Peralatan dirumah mampu untuk digunakan dalam perawatan dirumah
o Orang tua atau penjaga anak mampu untuk melakukan perawatan dirumah
o Dilakukan edukasi keluarga yang lengkap

Peninjauan lebih lanjut


o Ketika ada indikasi, perawat rumah dan penyedia alat medis harus melakukan visit
terakhir.
o

Pemberi pertolongan utama harus memberikan persetujuan untuk pemulangan

Kontrol untuk peninjauan lebih lanjut harus dilakukan.

Edukasi Keluarga
Dilakukan pada saat pasien akan dipulangkan. Yaitu dengan memberitahukan :
-

Informasi mengenai penyakit bronkiolitis

Bagaimana cara membersihkan jalan nafas dengan menggunakan penghisap


gelembung.

Segera memanggil bantuan atau membawa pasien ke rumah sakit kembali jika
didapatkan gangguan pernafasan

Cara pencegahan penyakit dan penyebarannya dengan menghindari anak dari paparan
asap rokok ataupun zat yang mengiritasi lainnya, melakukan cuci tangan, dll.

M.

PENCEGAHAN
Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari faktor paparan asap rokok dan
polusi udara, membatasi penularan terutama dirumah sakit misalnya dengan
membiasakan cuci tangan dan penggunaan sarung tangan dan masker, isolasi penderita,
menghindarkan bayi/anak kecil dari tempat keramaian umum, pemberian ASI,
menghindarkan bayi/anak kecil dari kontak dengan penderita ISPA.
Langkah preventif yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian imunisasi aktif
(Vaksinasi) dan pasif (Immunoglobulin).
H. PROGNOSIS
Prognosis tergantung berat ringannya penyakit, cepatnya penanganan, dan penyakit latar
belakang (penyakit jantung, defisiensi imun, prematuritas).
Anak biasanya dapat mengatasi serangan tersebut sesudah 48 72 jam. Mortalitas kurang
dari 1 %.
Anak biasanya meninggal karena jatuh ke dalam apneu yang lama, asidosis respiratorik
yang tidak terkoreksi atau karena dehidrasi yang disebabkan oleh takipneu dan kurang
makan-minum.
Penelitian di Norwegia menunjukkan bahwa bayi yang dirawat dengan bronkhiolitis
mempunyai kecendrungan menderita asma dan penurunan fungsi paru pada usia 7 tahun
dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukkan adanya hipereaktifitas bronkhial yang

menetap selama beberapa tahun setelah menderita bronkiolitis pada bayi muda, baik para
RSV positif, maupun RSV negatif.
bronkiolitis

terjadi

pada

anak

Tidak dapat dibuktikan secara jelas bahwa


dengan

kecendrungan

asma,

keberhasilan

pengobatan dengan kortikosteroid mungkin dapat mengurangi prevalens asma pada


anak dari kelompok pengobatan.

BAB III
KESIMPULAN
Bronkhiolitis adalah penyakit IRA bawah yang ditandai dengan adanya
inflamasi pada bronkiolus. yang sering di derita bayi dan anak kecil yang berumur kurang
dari 2 tahun.
Bronkiolitis sebagian besar disebabkan oleh Respiratory syncytial virus(RSV),
penyebab lainnya adalah parainfluenza virus, Eaton agent (mycoplasma pneumoniae),
adenovirus dan beberapa virus lainnya. Tetapi belum ada bukti kuat bahwa bronkhiolitis
disebabkan oleh bakteri.
Bronkiolitis merupakan infeksi saluran respiratory tersering pada bayi. Paling sering
terjadi pada usia 2 24 bulan, puncaknya pada usia 2 8 bulan. Sebanyak 11,4
% anak berusia dibawah 1 tahun dan 6 % anak berusia 1 2 tahun di AS pernah
mengalami bronkhiolitis. Penyakit ini menyebabkan 90.000 kasus perawatan di
rumah sakit dan menyebabkan 4500 kematian setiap tahunnya.
Faktor resiko terjadinya bronkiolitis adalah jenis kelamin laki-laki, status sosial
ekonomi rendah, jumlah anggota keluarga yang besar, perokok pasif, berada pada tempat
penitipan anak atau ke tempat-tempat umum yang ramai, rendahnya antibodi maternal
terhadap RSV, dan bayi yang tidak mendapatkan air susu ibu.
Bronkiolitis secara klinis ditandai dengan pernafasan cepat, retraksi dinding dada dan
whezing.
Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya, berdasarkan gambaran klinis, umur
penderita dan adanya epidemi RSV di masyarakat

Diagnosis banding sebaiknya dipikirkan, misalnya asma bronkiale serangan pertama,


pneumonia, aspirasi benda asing, refluks gastroesophageal, sistik fibrosis, miokarditis.
Infeksi virus RSV biasanya sembuh sendiri (self limited) sehingga sebagian besar
tatalaksana bronkiolitis pada bayi bersifat suportif, yaitu pemberian oksigen, minimal
handling pada bayi, cairan intravena dan kecukupan cairan, penyesuaian suhu lingkungan
agar konsumsi oksigen minimal, tunjangan respirasi bila perlu, dan nutrisi. Setelah itu
baru pemberian medikamentosa
Komplikasi dari bronkiolitis sangat minimal dan tergantung dari penatalaksanaan
penyaki sebelumnya. Pada beberapa kasus didapatkan adanya gangguan fungsi paru
yang menetap, dimana timbulnya whezing berulang dan hiperaktifitas bronkial.
Pencegahan dengan imunisasi aktif dan pasif serta menghindari penyebaran virus
RSV.
Prognosis tergantung berat ringannya penyakit, cepatnya penanganan, dan penyakit
latar belakang (penyakit jantung,defisiensi imun, prematuritas).

DAFTAR PUSTAKA

1. Rahajoe Nastiti N, Bambang Supriyatno, Darmawan Budi Setyanto. Buku Ajar


Respirologi Anak. Edisi Pertama. Jakarta : Badan Penerbit IDAI. 2008. Hal : 333-347.
2. Pusponegoro Hardiono D, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi
Pertama. Jakarta : Badan Penerbit IDAI.2005. Hal : 348-350..
3. Mereinstein Gerald B, David W Kaplan, Adam A Rosenberg. Buku Pegangan Pediatri.
Edisi 17. Jakarta : Penerbit Widya Medika. 2002. Hal :506-507.
4. Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. Nelson Textbook of Pediatric. Edisi ke-16.
Philadelphia : WB Saunders, 2000.Hal : 1112-1114; 1484-1486.
5. Garna H Herry. Pedoman Diagnosis Ilmu Kesehatan Anak. Bandung : Penerbit FK
Unpad. 2005. Hal : 400-402.
6. Rudolph AM, Hoffman JIE, Rudolph CD.Rudolph's Pediatrics. Edisi ke-20. California :
7.

Prentice Hall International Inc. 1996. Page : 671-676; 1636-1638.


Ilmu Kesehatan Anak RSCM. Pedoman Pelayanan Medis RSCM. Jakarta : Penerbit

FKUI. 2004. Hal : 465-466.


8. Bronkiolitis : overview. Didapat dari

http://images.google.co.id/imgres?imgurl=.

Diakses tanggal 13 Agustus 2009.


9. Bronkiolitis : overview. Didapat dari http://www.medicastore.com//. Diakses tanggal
13 Agustus 2009.
10. Bronchiolitis: overview. Didapat dari http://www.rch.org.au/kidsinfo/factsheets.
Diakses tanggal 13 Agustus 2009.
11. Bronkiolitis: overview. Didapat dari http://www.cpddokter.com/home. Diakses tanggal
13 Agustus 2009.
12. Bronchiolitis Guideline: overview. Didapat dari http://www.rch.org.au/clinicalguide//.
Diakses tanggal 13 Agustus 2009.
13. Bronkiolitis
Guideline:

overview.

Didapat

dari

http://www.yayasanorangtuapeduli.com// Diakses tanggal 13 Agustus 2009.


14. Bronchiolitis: overview. Didapat dari http://www.emedicine.com// Diakses tanggal 13
Agustus 2009.
15. Bronchiolitis: overview. Didapat dari http://www.wikipedia.com.// Diakses tanggal 13
Agustus 2009
16. Bronkiolitis: overview. Didapat dari http://www.informasikesehatan.com. Diakses
tanggal 13 Agustus 2009.
17. Bronkiolitis: overview. Didapat dari http://www.indonesiaindonesia.com. Diakses
tanggal 13 Agustus 2009.