Anda di halaman 1dari 23

A.

PENDAHULUAN
Masa nifas atau puerperium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai
dengan 6 minggu (42 minggu) setelah itu. Pelayanan pascapersalinan harus
terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi
upaya pencegahan, deteksi dini dan pengobatan komplikasi dan penyakit yang mungkin
terjadi, serta penyediaan pelayanan pemberian ASI, cara menjarangkan kehamilan,
imunisasi, dan nutrisi bagi ibu.1
Persalinan aman dan bersih merupakan salah satu pilar Safe Motherhood. Bersih
artinya bebas dari infeksi. Infeksi dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas
merupakan penyebab utama kedua dari Kematian Ibu dan Perinatal. Di negara-negara
maju, umumnya perempuan hamil dalam keadaan sehat dan bergizi baik, persalinan
terjadi di rumah sakit atau rumah sakit bersalin yang telah menjalankan praktik
pencegahan infeksi dengan baik.1
Bersamaan dengan preeklamsia dan perdarahan obstetris, infeksi nifas
membentuk trias letal penyebab kematian ibu selama beberapa dekade pada abad ke-20.
Untungnya karena terapi antimikroba yang efektif, kematian ibu karena infeksi telah
jarang terjadi.2
Sumber terjadinya infeksi kala nifas adalah manipulasi penolong yang terlalu
sering melakukan pemeriksaan dalam atau penggunaan alat yang kurang steril. Infeksi
juga dapat diperoleh dari rumah sakit (nosokomial), hubungan seks menjelang
persalinan atau sudah terdapat infeksi intrapartum, yaitu : persalinan lama, ketuban
pecah lebih dari enam jam, terdapat pusat infeksi dalam tubuh (fokal infeksi).3

A. Definisi Infeksi Nifas


Infeksi Nifas adalah istilah umum yang digunakan untuk menyatakan adanya
infeksi bakteri apapun yang menyerang saluran reproduksi setelah pelahiran. 2 infeksi
kala nifas adalah infeksi peradangan pada semua alat genital pada masa nifas oleh sebab
apapun dengan ketentuan meningkatnya suhu tubuh melebihi 38C tanpa menghitung
hari pertama dan berturut-turut selama dua hari.3
B. Etiologi
Kebanyakan infeksi nifas disebabkan oleh bakteri yang aslinya memang ada di
jalan lahir.1 Organisme ini menginvasi tempat implantasi plasenta, insisi, dan laserasi
biasanya adalah organisme yang secara normal membentuk koloni serviks, vagina, dan
perineum.4
Bila dilakukan isolasi bakteri penyebab infeksi nifas biasanya akan terisolasi
berbagai spesies bakteri. Meskipun bakteri tersebut sebenarnya memepunyai virulensi
yang rendah, akan tetapi bila terdapat pada hematom atau jaringan yang rusak akan
menjadi patogen.1
Tabel 1. Bakteri yang sering menyebabkan infeksi nifas1
Aerob
Streptokokus grup A, B, dan D

Anaerob
Peptokokus sp

Lain-lain
Mikroplasma sp

Enterokokus

Peptostreptokokus sp

Klamidia trakomatis

Bakteri gram negatif- Eskerisia Bakteroidis fragilis grup

Neisseria gonorea

Koli, kliebsiella dan Proteus sp Prevotella sp


Stafilokokus aureus

Klostridium sp

Stafilokokus epidermidis

Fusobakterium sp

Gardnella vaginalis
Mobilunkus sp
C. Faktor Predisposisi infeksi nifas
2

1. Pelahiran pervaginan
Jika dibandingkan dengan persalinan perabdominam/seksio sesarea, maka
timbulnya metritis pada persalinan pervaginam relatif jarang. Bila persalinan
pervaginam disertai penyulit yaitu pada ketuban pecah prematur yang lama, partus lama
dan pemeriksaan dalam berulang, maka kejadian metritis akan meningkat sampai
mendekati 6%. Bila terjadi korioamnionitis intrapartum, maka kejadian metritis akan
lebih tinggi yaitu mencapai 13%.1
2. Persalinan seksio sesarea
Profilaksis antimikrobial preoperatif dosis tunggal hampir diberikan secara rutin
pada bedah caesar. American College of Obstetricians and Gynecologists (2003)
merekomendasikan profilaksis seperti itu untuk ibu-ibu yang beresiko tinggi mengalami
infeksi pascapartum. Profilaksis antimikroba dosis tunggal itu telah banyak berperan
mengurangi insiden dan keparahan infeksi pascabedah caesar dibandingkan tindakan
lain dalam 30 tahun terakhir ini.2
3. Faktor resiko Lainnya
Dapat diterima secara umum bahwa infeksi pelvis lebih sering pada wanita
dengan keadaan sosial-ekonomi lemah dibandingkan dengan mereka yang lebih mampu.
Kecuali pada kasus ekstrem yang biasanya tidak ditemui di Amerika Serikat, anemia
atau nutrisi yang jelek mungkin tidak berpengaruh pada predisposisi terjadinya infeksi.
Kolonisasi bakteri traktus genitalia bagian bawah dengan mikroorganisme tertentu,
misalnya streptokokus grup B, Clamydia Trachomatis, Mycoplasma horminis,
ureaplasma urealyticum dan Gardnella vaginalis menyebabkan peningkatan risiko
infeksi pascapartum. Faktor lain yang menyebabkan peningkatan risiko infeksi
mencakup bedah caesar untuk kehamilan kembar, usia ibu yang masih muda, dan
3

nulipara, induksi persalinan yang lama, obesitas, dan cairan amnion yang tercemar
mekonium.2
D. Penularan infeksi
Infeksi dapat terjadi karena hal-hal sebagai berikut : 1

Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan
dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam
uterus. Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan atau alat-alat yang
dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman.

Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang
berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau pembentu-pembantunya. Oleh
karena itu, hidung dan mulut petugas yang bekerja di kamar bersalin harus
ditutup dengan maskerv dan penderita infeksi saluran nafas dilarang memasuki
kamar bersalin.

Dalam rumah sakit selalu banyak kuman-kuman pathogen, berasal dari


penderita-penderita dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bias
dibawa oleh aliran udara kemana-mana, antara lain ke handuk, kain dan alat-alat
yang suci-hama, serta yang digunakan untuk merawat ibu dalam persalinan atau
pada waktu nifas.

Koitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali
apabila mengakibatkan pecahnya ketuban.

Infeksi intrapartum sudah dapat memperlihatkan gajala-gejala pada waktu


berlangsungnya persalinan. Infeksi intrapartum biasanya terjadi pada partus

lama, apabila ketuban sudah lama pecah dan beberapa kali dilakukan
pemeriksaan dalam.
E. Gambaran Klinis Infeksi Nifas
Infeksi nifas terbagi menjadi 2 golongan, yaitu :3
1. Infeksi Lokal

Pembengkakan luka episiotomi.

Terbentuknya pus.

Pengeluaran lokia bercampur nanah.

Mobilisasi terbatas karena rasa nyeri.

Temperature badan dapat meningkat.

2. Infeksi umum

Tampak sakit dan lemah.

Temperature meningkat lebih dari 39C

Tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat.

Pernapasan dapat meningkat dan terasa sesak.

Kesadaran gelisan sampai menurun dan koma.

Terjadi gangguan involusi uterus.

Lokia berbau dan mengeluarkan pus serta kotor.

F. Kelainan yang dapat menyertai pada Masa Nifas


1. Demam Pascapersalinan
Demam pascapersalinan atau demam nifas atau morbiditas puerperalis
meliputi demam yang timbul masa nifas oleh sebab apapun. Demam
5

pascapersalinan ialah kenaikan suhu tubuh 38C yang terjadi selama 2 hari
pada 10 hari pertama persalinan, kecuali pada 24 jam pertama pascapersalinan
harus dievaluasi untuk menyingkirkan penyebab demam diluar panggul dan
memastikan diagnosis infeksi puerperium.1,4
Sebagian besar demam pascapersalinan disebabkan oleh infeksi saluran
genitalia, terutama jika persalinan tersebut disertai manipulasi vagina atau uterus
yang ekstensif, ketuban pecah lama, atau pemantauan elektronik intrauterus.
Penyebab ekstragenital yang paling sering berkaitan dengan demam puerperium
adalah penyulit pernapasan, pielonefritis, pembengkakan payudara yang hebat,
mastitis bakterialis, tromboflebitis dan pada kasus laparatomi serta abses luka.4
2. Infeksi perineum, vulva, vagina dan serviks
Infeksi perineum, vulva, vagina dan serviks memiliki gejala berupa rasa
nyeri dan panas pada tempet infeksi, kadang-kadang perih bila kencing. Bila isi
peradangan dapat keluar, biasanya keadaan tidak berat, suhu sekitar 38C dan
nadi dibawah 100x/menit. Bila luka tersebut terinfeksi tertutup jahitan dan isi
peradangan tidak dapat keluar, demam bias naik sampai 39-40C dan kadang
disertai menggigil.5
Biasanya infeksi perineum disebabkan oleh karena luka akibat episiotomy
yang merenggang. Laserasi vagina dapat terinfeksi secara langsung atau
perluasan dari perineum. Mukosa menjadi merah, bengkak, serta kemudian
menjadi nekrotik dan meluruh.2
Laserasi servikal umum terjadi namun jarang terinfeksi secara jelas dan
bermanifestasi sebagai metritis. Laserasi dalam yang secara langsung meluas ke

jaringan pada dasar ligamentum latum dapat menjadi terinfeksi serta


menyebabkan limfangitis, parametritis dan bakterimia.2
Protokol

Praoperatif

untuk

perbaikan

awal

luka

episiotomi

yang

merenggang2
Buka luka, lapaskan jahitan, mulai pemberian antimikroba intravena.
Perawatan luka

Sitz bath beberapa kali per hari atau hidroterapi.

Analgesia yang adekuat atau anesthesia-analgesia regional


atau anastesia umum dapat diperlukan pada beberapa
debridement awal.

Bersihkan luka dua kali sehari dengan larutan providon-iodin.

Buang jaringan nekrotik.

Tutup jika tidak demam dan terdapat jaringan granulasi yang sehat
dan berwarna merah muda.
Persiapkan usus untuk perbaikan derajat empat.
3. Septicemia dan Piemia
Pada septikemia dari permulaan pasien sudah sakit dan lemah. Sampai 3 hari
pascapersalinan suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai menggigil.
Suhu sekitar 39-40C, keadaan umum cepat memburuk, nadi cepat (140160/menit atau lebih). Pasien dapat meninggal dalam 6-7 hari pascapersalinan.
Pada premia, tidak lama pascapersalinan pasien sudah merasa sakit, perut nyeri,
dan suhu agak meningkat. Tetapi, gejala infeksi umum dengan suhu tinggi serta
menggigil terjadi setelah kuman dengan emboli memasuki peredaran darah
7

umum. Ciri khas pasien dengan piemania ialah berulang-ulang suhu meningkat
dengan cepat disertai menggigil, kemudian diikuti oleh turunnya suhu. Lambat
laun timbul gejala abses paru, pneumonia, dan pleuritis.5
4. Metritis
Infeksi uterus pada saat pascapersalinan dikenal sebagai endometritis,
endomiometritis, dan endoparametritis. Karena infeksi yang timbul tidak hanya
mengenai desidua, miometrium, dan jaringan parametrium maka terminologi
yang lebih sering digunakan adalah metritis dengan selulitis pelvis. Infeksi
uterus relatif jarang terjadi setelah persalinan pervaginam tanpa penyulit, tetapi
hal ini masih menjadi masalah besar pada perempuan yang melahirkan dengan
seksio sesarea.1,4
a. Patogenesis
Infeksi uterus pada persalinan pervaginam terutama terjadi pada tempat
implantasi plasenta, desidua, miometrium yang berdekatan. Bakteri yang
berkoloni di serviks dan vagina mendapatkan akses cairan ketuban pada
waktu persalinan dan pada saat pascapersalinan akan menginvasi tempat
implantasi plasenta yang saat itu biasanya merupakan sebuah luka
dengan diameter 4 cm dengan permukaan luka yang berbenjol-benjol
karena banyaknya vena yang ditutupi oleh thrombus. Daerah ini
merupakan tempat yang baik untuk tumbuhnya kuman-kuman pathogen.1

KONTAMINASI BAKTERI
(berasal dari flora normal vagina)
8

Inokulasi dan kolonisasi bakteri pada segmen bawah rahim, insisi dan laserasi
Pemeriksaan dalam
Pemakaian alat monitoring janin internal
Partus lama
Insisi uterus

Kondisi optimal untuk pertumbuhan bakteri anaerob


Trauma operasi
Benda asing
Kerusakan jaringan
Penumpukan darah dan serum

Proliferasi polimikroba disertai invasi ke jaringan

METRITIS
Tabel 2. Patogenesis Metritis pascaoperasi sesar1
b. Gejala Klinis
Demam merupakan gejala klinik terpenting untuk mendiagnosis metritis,
dan suhu tubuh penderita umumnya berkisar melebihi 38C - 39C.
Demam yang terjadi juga sering disertai menggigil, yang harus
diwaspadai sebagai tanda adanya bakteremia yang bias terjadi pada 1020% kasus. Demam biasanya timbul pada hari ke-3 disertai nadi yang

cepat. Penderita biasanya mengeluhkan adanya nyeri abdomen yang pada


pemeriksaan bimanual teraba agak membesar, nyeri dan lembek. Lokhia
yang berbau menyengat sering menyertai timbulnya metritis, tetapi
bukan merupakan tanda pasti.1
c. Penatalaksanaan
Pada penderita metritis ringan pascapersalinan normal pengobatan
dengan antibiotik oral biasanya memberikan hasil yang baik. Pada
penderita metritis sedang dan berat, termasuk penderita pasca seksio
sesarea, perlu diberikan antibiotika dengan spektrum luas secara
intravena dan biasanya penderita akan membaik dalam waktu 48-72 jam.
Bila setelah 72 jam demam tidak membaik perlu dicari dengan teliti
penyebabnya, karena demam yang menetap ini jarang disebabkan oleh
resistensi bakteri terhadap antibiotika atau suatu efek samping obat.1
Walaupun terapi diberikan secara empiris, terapi awal setelah bedah
Caesar diarahkan terhadap sebagian besar flora campuran sebagai
penyebab tipikal infeksi nifas. Pemberian antimikroba spectrum luas
sering tidak diperlukan untuk tata laksana infeksi setelah pelahiran per
vagina dan sebanyak 90% dari infeksi ini berespon terhadap regimen
seperti Ampicilin ditambah Gentamicin.2

Regimen antimikroba untuk infeksi pelvik setelah Bedah Caesar


Regimen
10

Clindamycin 900 mg + Gentamicin standar emas, 90-97% efektif,


1,5 mg, tiap 8 jam Intravena
dosis Gentamicin 1 kali sehari
dapat diterima.
+
Ampicilin ditambahkan untuk
sindrom sepsis atau dugaan
infeksi Enterokokus
Clyndamicin + Aztreonam

Gentamicin
diganti
insufisiensi ginjal

untuk

Penicillin spectrum luas

Piperacilin, ampicilin/sulbactam

Cephalosporin spectrum luas

Cefotetan, Cefoxitim, Cefotaxim

Imipenem + Cilastatin

Dicadangkan untuk indikasi


tertentu
Tabel 3. Regimen antimikroba untuk infeksi pelvic setelah bedah caesar2

d. Penyulit
Penyulit metritis yang sering menimbulkan demam yang menetap ini di
antaranya ialah parametrial flegmon, abses pelvik atau tempat insisi,
infeksi pada hematom dan pelvik tromboflebitis. Oleh karenanya, pada
kasus metritis yang berat dan disertai penyulit perlu dipertimbangkan
intervensi untuk drainase abses dan atau evakuasi jaringan yang rusak.
Pada sebagian besar kasus akan membaik dalam waktu 48-72 jam
pascaterapi.1
5. Infeksi Luka Operasi
Keadaan infeksi lukaoeprasi pasca tindakan seksio sesarea berkisar antara 315% dengan rata-rata 6%. Bila pad atindakan seksio sesarea diberikan antibiotic
profilaksis, maka kejadian infeksi luka operasi akan menurun sampai dengan
2%. Infeksi luka operasi merupakan penyebab utama kegagalan pengobatan
11

antibiotika pada penderita metritis. Faktor resiko timbulnya infeksi luka operasi
ini ialah obesitas, diabetes, pengobatan kortikosteroid, imunosupresi, anemia dan
hemostasis yang jelek disertai terbentuknya hematom. Penatalaksanaan meliputi
pemberian antibiotika dan drainase atau hematom yang terbentuk serta
memperhatikan secara khusus bahwa fasia abdomen masih tetap intak.1
6. Dehisensi Luka Operasi
Yang dimaksud dengan dehisensi ialah terbukanya jahitan pada fasia
abdomen. McNeeley dkk (1998) mendapatkan bahwa dehisensi pada luka
operasi dapat terjadi pada 1 dari 300 seksio sesarea, terjadi pada hari kelima
pascaoperasi disertai keluarnya cairan serosanguinus. Pada penelitian tersebut
juga didapatkan bahwa dehisensi luka operasi umumnya disebabkan oleh infeksi
pada fasia dan nekrosis jaringan. Pemberian antibiotika yang adekuat diosertai
penjahitan ulang dinding abdomen merupakan pengobatan utama.1
7. Peritonitis
Peritonitis merupakan penyulit yang kadang terjadi penderita pasca seksio
sesarea yang mengalami metritis disertai nekrosis dan dehisensi insisi uterus.
Pada keadaan yang lebih jarang didapatkan pada penderita yang sebelumnya
mengalami seksio sesarea dan kemudian dilakukan persalinan pervaginam
(VBCA : vaginal Birth after c-section). Abses pada parametrium atau adneksa
dapat pecah dan menimbulkan peritonitis generalisata.1
8. Subinvolusi uterus1

12

Sesudah persalinan uterus yang beratnya 1.000 gram akan mengecil sampai
menjadi 40-60 gram dalam 6 minggu. Proses ini dinamakan involusi uterus,
yang didahului oleh kontraksi uterus yang kuat, yang menyebabkan
berkurangnya peredaran darah dalam organ tersebut. Kontraksi itu dalam masa
nifas berlangsung terus walaupun tidak sekuat pada permulaan yang disertai
dengan hilangnya pengaruh estrogen dan progesterone menyebabkan autolisis
dengan akibat sel-sel otot pada dinding uterus menjadi lebih kecil dan lebih
pendek.
Pada sub-involusi proses mengecilnya uterus terganggu. Faktor-faktor
penyebab antara lain tertinggalnya sisa plasenta di dalam rongga uterus,
endometriosis, adanya mioma uteri, dan sebagainya. Pada peristiwa ini lokhia
bertambah banyak dan tidak jarang terdapat pula perdarahan.
Pada pemeriksaan bimanual ditemukan uterus lebih besar dan lebih lembek
daripada yang seharusnya sesuai dengan masa nifas.
Terapi subinvolusi ialah pemberian ergometrin per-os atau suntikan
intramuscular. Pada subinvolusi karena tertinggalnya sisa plasenta, perlu
dilakukan kerokan rongga rahim (Kuretase).
9. Trombosis dan Embolisme1
Trombosis dapat terjadi saat kehamilan, tetapi lebih sering ditemukan pada
masa nifas. Walau trombosis ada hubungannya dengan kehamilan, kejadian
trombosis jarang dijumpai di Indonesia. Penyebabnya ada 3 hal pokok, yaitu (a)
Perubahan susunan darah, (b) Perubahan laju peredaran darah, (c) Perlukaan
lapisan intima pembuluh darah.
13

Pada masa hamil dan khususnya pada persalinan saat terlepasnya plasenta,
kadar fibrinogen serta faktor-faktor pembekuan darah yang lain yang meningkat
akan menyebabkan mudahnya terjadi pembekuan. Pada hamil tua peredaran
darah kaki menjadi lambat karena tekanan dari uterus yang berisi janin serta
berkurangnya aktivitas ibu. Kekurangan aktivitas ini berlangsung sampai masa
nifas. Pada persalinan terutama yang diselesaikan dengan pembedahan dan
kemungkinan terjadi gangguan pada pembuluh darah terutama didaerah pelvis.
Faktor-faktir yang merupakan predisposisi timbulnya trombosis adalah
bedah kebidanan, usia lanjut, multiparitas, varises dan infeksi nifas.
Trombosis bosa terjadi pada vena-vena kaki. Akan tetapi, mungkin pula
terjadi pada vena-vena daerah panggul. Lokalisasi thrombus di kaki ialah pada
vena-vena yang dekat permukaan dan/atau yang terletak lebih dalam.
Trombosis pada vena-vena dekat permukaan biasanya disertai peradangan
sehingga merupakan trombo-flebitis. Gejala-gejala setempat ialah nyeri, panas
pada palpasi dan kemerahan dengan gejala umumnya terjadi kenaikan suhu.
Trombosis dari vena-vena yang lebih dalam kira-kira 50% tidak
menimbulkan gejala. Bila ada gejala biasanya ada rasa nyeri di kaki jika
berjalan. Kadang-kadang dapat dilihat bahwa kaki yang sakit agak
membengkak. Suhu badan dapat meningkat sedikit. Tekanan pada betis bisa
menimbulkan rasa nyeri, demikian pula dorso-fleksi ujung kaki.
Diagnoisis trombosis vena-vena yang terletak dalam kini bisa digerakkan
dengan flebografi dengan penggunaan radio-isotop dan dengan cara ultrasonik.

14

Kadang-kadang trombosis menutup total vena femoralis dengan akibat


timbulnya edema yang padat pada kaki dan rasa sakit yang sangat. Keadaan ini
terkenal dengan nama flegmasia alba dolens. Sesudah keadaan ini tenag, bisa
tertinggal sindroma pasca flebitis, terdiri atas edema, varises, eksema, dan ulkus
pada kaki.
Embolisme paru jarang terjadi dari trombosis vena kaki yang dekat
permukaan, tetapi lebih sering dari thrombus vena yang dalam dan dari venavena panggul. Embolus kecil menimbulkan gejala dispnea dan pleuritis,
sedangkan embolus besar dapat menutup arteria pulmonalis yang menimbulkan
syok sampai kematian.
Trombosis ringan, khususnya dari vena-vena daerah permukaan, ditangani
dengan istirahat dengan kaki agak tinggi dan pemberian obat-obat seperti asidum
asetilosalisilkum. Jika ada tanda keradangan dapat diberi antibiotika. Segera
setalah rasa nyeri hilang penderita dianjurkian untuk mulai berjalan.
Pada kasus yang agak berat dan terutama jika vena-vena dalam ikut serta,
perlu diberi anti koagulansia untuk mencegah bertambah luasnya thrombus, dan
mengurangi bahaya emboli. Tetapi dapat dimulai dnegan heparin melalui infus
intravena sebanyak 10.000 satuan setiap 6 jam untuk kemudian diteruskan
dengan koumarin (misalnya walfarin) yang dapat diberikan peroral. Perlu
dikemukakan bahwa koumarin tidak boleh diberikan pada ibu hamil karena
dapat melewati plasenta dan dapat menyebabkan perdarahan pada janin.
Walfarin diberikan mula-mula 10mg/hari, kemudian 3 mg/hari dan sebagai
pengawasan dilakukan pemeriksaan masa protrombin berulang, untuk mencegah

15

terjadinya perdarahan. Pengobatan dilanjutkan selam 6 minggu untuk kemudian


dikurangi dan dihentikan selama 2 minggu.
Pengobatan embolisme paru-paru terdiri atas usaha untuk menanggulangi
syok dan pemberian antikoagulansia. Pada embolus kecil yang timbul berulang
dapat dipertimbangkan pengikatan vena diatas tempat thrombus.
10. Bendungan Air Susu1
Secara fisiologis sesudah bayi lahir dan plasenta keluar, kadar estrogen dan
progesteron turun dalam 2-3 hari. Dengan ini faktor dari hipotalamus yang
menghalangi keluarnya Pituitary Lactogenic hormone (Prolaktin) saat hamil dan
sangat dipengaruhi oleh estrogen tidak diproduksi lagi, sehingga terjadilah
sekresi prolaktin oleh hipofisis anterior. Hormon ini mengaktifkan sel-sel
kelenjar payudara untuk memproduksiair susu sehingga alveoli kelenjar
payudara terisi dengan air susu. Adanya isapan putting payudara oleh bayi akan
merangsang pengeluaran oksitosin dari kelenjar hipofisis posterior. Oksitosin
mempengaruhi sel-sel mio-epitelial yang mengelilingi alveoli payudara sehingga
berkontraksi dan mengeluarkan air susu. Proses ini disebut reflex let-down.
Bendungan air susu dapat terjadi pada hari ke-2 atau ke-3 ketika payudara
telah memproduksi air susu. Bendungan disebabkan oleh pengeluaran air susu
yang tidak lancer, karena bayi tidak cukup sering menyusu, produksi meningkat,
terlambat menyusukan, hubungan denngan bayi (bonding) kurang baik, dan
dapat pula karena adanya pembatasan waktu menyusui. Gejala bendungan air
susu adalah terjadinya pembengkakan payudara bilateral dan secara palpasi
teraba keras, kadang terasa nyeri serta seringkali disertai peningkatan suhu
16

badan ibu,tetapi tidak terdapat tanda-tanda kemerahan dan demam. Ibu


dianjurkan untuk terus memberikan air susunya. Bila payudara terlalu tegang
atau bayi tidak dapat menyusu, sebaiknya air susu dikeluarkan dulu untuk
menurunkan ketegangan payudara.
Penanganan bendungan air susu dilakukan dengan pemakaian kutang untuk
menyangga payudara dan pemberian analgetika, dianjurkan menyusui segera
dan lebih sering, kompres air hangat, air susu dikeluarkan dengan pompa dan
dilakukan pemijatan (masase) serta perawatan payudara. Kalau perlu diberi
supressi laktasi untuk sementara (2-3 hari) agar bendungan terkurangi dan
memungkinkan air susu dikeluarkan dengan pijatan. Keadaan ini pada umumnya
akan menurun dalam beberapa hari dan bayi yang dapat menyusu dengan
normal.
11. Mastitis1,3
Pada masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan parenkim kelenjar
payudara (mastitis). Mastitis bernanah dapat terjadi setelah minggu pertama
persalinan, tetapi biasanya tidak sampai melewati minggu ketiga dan keempat.
Gejala awal mastitis adalah demam yang disertai menggigil, mialgia, nyeri,
dan takikardia. Pada pemeriksaan payudara membengkak, mengeras, lebih
hangat, kemerahan dengan batas tegas dan disertai rasa nyeri. Mastitits biasanya
terjadi unilateral dan dapat terjadi 3 bulan pertama menyusui, tetapi jarang dapat
terjadi selama ibu menyusui. Kejadian mastitis berkisar 2-33% ibu menysui dan
lebih kurang 10% kasus mastitis akan berkembang menjadi abses (nanah)
dengan gejala yang semakin berat.

17

Infeksi payudara (mastitis) yang berkelanjutan menjadi abses memiliki


kriteria warna kulit menjadi merah, terdapat rasa nyeri, dan pada pemeriksaan
terdapat pembengkakan, di bawah kulit teraba cairan. Dalam keadaan abses
payudara perlu dilakukan insisi agar pus dapat dikeluarkan untuk mempercepat
penyembuhan.
Predisposisi dan faktor resiko adalah primipara, stress, teknik menyusui yang
tidak benar sehingga pengosongan payudara tidak terjadi dengan baik,
pemakaian kutang yang terlalu ketat, dan pengisapan bayi yang kurang kuat juga
dapat menyebabkan stasis dan obstruksi kelenjar payudara. Adanya luka pada
putting payudara juga dapat sebagai faktor resiko terjadinya mastitis.
Mastitit dapat berasal dari luka pada putting payudara ataupun melalui
peredaran darah (hematogen). Kuman penyebab tersering pada kultur adalah
Staphylococcus Aureus sebagai 40%. Sumber utama berasal dari kuman hidung
dan multu bayi melalui luka putting payudara yang terjadi saat menyusui.
Berdasarkan tempatnya mastitis dapat dibedakan menjadi (1) mastitis yang
menyebabkan abses dibawah areola mammae; (2) mastitis ditengah payudara
yang menyebabkan abses ditempat itu; (3) mastitis pada jaringan dibawah dorsal
kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara payudara dan otot-otot
dibawahnya.
Penanganan utama mastitis adalah memulihkan keadaan dan mencegah
terjadinya komplikasi yaitu abses (bernanah) dan sepsis yang dapat terjadi bila
penanganan terlambat, tidak tepat, ataupun kurang efektif. Laktasi tetap
dianjurkan untuk dilanjutkan dan pengosongan payudara sangat penting untuk

18

keberhasilan terapi. Terapi suportif seperti bed rest, pemberian cairan yang
cukup, anti nyeri dan anti inflamasi sangat dianjurkan. Pemberian antibiotika
secara ideal berdasarkan hasil kepekaan kultur kuman yang diambil dari air susu
sehingga keberhasilan terapi dapat terjamin karena kultur kuman tidak secara
rutin dilakukan, secara empiris pilihan pengobatan pertama terutama ditujukan
pada Stafilococcus Aureus sebagai penyebab terbanyak dan Streptococcus yaitu
dengan penisilin tahan penisilinase (Diklosasilin) atau Cefalosporin. Untuk yang
alergi penisilin digunakan Eritromicin atau Sulfa. Pada sebagian kasus
antibiotika dapat diberikan secara peroral dan tidak memerlukan perawatan di
rumah sakit. Pada umumnya dengan pengobatan segera dan adekuat gejala akan
mengurang dalam 24 jam sampai 48 jam dan jarang terjadi komplikasi.
Bila

terjadi

abses

payudara

dapat

dilakukan

insisi/sayatan

untuk

mengeluarkan nanah dan dilanjutkan dengan drainase dengan pipa/handscoen


drain agar nanah dapat keluar. Sayatan sebaiknya dibuat sejajar dengan duktus
laktiferus untuk mencegah kerusakan pada jalanya duktus tersebut.
Untuk pencegahan dianjurkan perawatan payudara yang baik dan
membersihakan sisa air susu yang ada di kulit payudara.
G. Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis diperlukan pemeriksaan seksama. Perlu diketahui
apakah infeksi terbatas pada tempat masuknya kuman ke dalam badan atau menjallar
keluar ke tempat lain. Pasien dengan infeksi meluas sampai sakit, suhu meningkat,
kadang-kadang menggigil, nadi cepat dan keluhan lebih banyak.5

19

Jika ada fasilitas, lakukan pembiakan getah vagina sebelah atas dan pada infeksi
yang berat diambil darah untuk maksud yang sama. Usaha ini untuk mengetahui etiologi
infeksi dan menentukan pengobatan antibiotik yang paling tepat.5
H. Pencegahan
Dalam upaya menurunkan infeksi nifas, dapat dilakukan pencegahan sebagai
berikut : 1,3
1. Selama Kehamilan
Meningkatkan keadaan umum penderita.

Perbaiki status gizi.

Pencegahan anemia.

Perawatan antenatal
Mengurangi faktor predisposisi infeksi nifas.

2. Selama Persalinan

Mengurangi perlukaan sebanyak mungkin.

Merawat perlukaan plasenta sebaik-baiknya.

Mencegah perdarahan postpartum.

Mengurangi melakukan pemeriksaan dalam

Menghindari persalinan yang berlangsung lama.

3. Pencegahan pada kala nifas

Melakukan mobilisasi dini sehingga darah-lokia keluar dengan


lancar.

Merawat perlukaan dengan baik.

20

Rawat gabung dengan isolasi untuk mengurangi infeksi nosokomial

Petugas wajib melakukan langkah-langkah pencegahan infeksi dengan


melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan penderita, memakai
barier bila diperlukan. Pada waktu tindakan seharusnya mengikuti prosedur tetap
yang telah teruji untuk menghindari tindakan yang merugikan penderita. Pemberian
antibiotika, baik profilaksis maupun terapeutik harus dipertimbangkan pada kasuskasus dengan trauma yang cukup luas dan kecurigaan adanya infeksi sebelumnya
serta diperkirakan akan mengakibatkan infeksi nifas.1
I. Penatalaksanaan

Faktor predisposisi
Hamil
Saat persalinan
Kala Nifas

Gejala Klinis
Lokal
general

Dasar Diagnosis Infeksi Kala Nifas

Pencegahan
infeksi
Saat hamil
Saat persalinan
Saat kala nifas
Tugas Bidan
Mencegah
infeksi

Pengobatan
Lokal luka
Pengobatan umum
Rujukan ke rumah
sakit (infeksi kala
nifas berat)
Operasi
penyelamatan jiwa

Tabel 3. Penatalaksanaan infeksi kala nifas3


21

J. Prognosis
Prognosis baik bila diatasi dengan pengobatan yang sesuai. Menurut derajatnya,
septikemia merupakan infeksi paling berat dengan mortalitas tinggi diikuti
peritonitis umum dan piemania.5

22

DAFTAR PUSTAKA
1.

Sarwono Prawirohardjo. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo. 2008. 414-418, 643-658.

2.

Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, dkk. Obstetri Williams. Ed 23. Vol 1.
Jakarta : EGC. 2013. 691-701.

3.

Manuaba IAC, Manuaba IBGF, dkk. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan
KB. Ed. 2. Jakarta : EGC. 2013. 415-420.

4.

Cunningham FG, Norman FG. Dasar-Dasar Ginekologi & Obstetri. Jakarta :


EGC. 2011. 481-457.

5.

Mansjoer Arif, Triyanti Kuspuji, dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Ed 3. Jilid 1.


Jakarta : Media Aesculapius. 1999. 316-320.

23