Anda di halaman 1dari 140

HUBUNGAN LINGKUNGAN DALAM RUMAH

TERHADAP ISPA PADA BALITA DI KELURAHAN CIPUTAT


KOTA TANGERANG SELATAN TAHUN 2013

SKRIPSI
Diajukan sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)

Dosen Pembimbing :

OLEH :
RAHMAYATUL FILLACANO
109101000054

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013 M/ 1435 H

PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi denganjudul

PERSEPSI ORANG TUA TENTANG PERILAKU CARING PERAWAT PADA


PELAKSANAAN AST]HAN I(EPERAWATAN

DI RUANG RAWAT INAP ANAK RSUD SERANG TAHUN 2011


Telah disetujui dan diperiksa oleh pernbimbing skripsi
Program Studi llmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarla


DISUSLIN OLEH:

AI ROSIDAH
1

07 1 04000286

Perlbimbing I

Pembimbing

II

@,1
Ns. Waras Budi Utomo.S.Ke

Ns. Yanti Rivantini.M.Kep-.Sp. Kep.An


N

NIP : 1 9790520200901 l0l2

P: 1 96507 0619 89032002

PROGRAM STTIDI ILMU KEPERAWATAN


F'AKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH


JAKARTA
1433

W20t2

PENGESAHAN SIDANG SKRIPSI


Skripsi denganjudul
PERSEPSI ORANG TUA TEI\TANG PERILAKU CARING PERAWAT

PADA PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN


DI RUANG RAWAT INAP ANAK RSUD SERANG TAHUN

2011

Telah disetujui, diperiksa dan dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi

Ai Rosidah
NrM 107104000286
Jakarta,Mei2012

Penguji I

@.1

Ns. Yanti Riyantini.M.Kep.Sp. Kep.An


NIP. 196507 061989032002

NIP. 19790s

Pengrrji

III

Irma Nurbaeti.M.Kep.Sp.Mat
NIP. 19700s01 1996012001

SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini; saya

Nama

:Ai

NIM

: 107104000286

Program
Tahun

studi

Akademik

Rosidah

Ilmu Keperawatan

:2007

Menyatakan bahwa saya tidak melakukan plagiat dalam penulisan skripsi yang
berjudul:

PERSEPSI ORANG

TUA TENTANG PERILAKU

CARING

PERAWAT PADA PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN DI


RUANG RAWAT INAP ANAK RSUD SERANG TAHUN 2011
Apabila suatu saat terbukti saya melakukan tindakan plagiat, maka saya akan
menerima sangsi yang telah ditetapkan.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benamya.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama / Name
Alamat/ Address
Telepon/ Phone
E-mail
Jenis Kelamin / Gender
Tanggal Kelahiran / Date of Birth
Status Marital / Marital Status
Warga Negara / Nationality
Agama / Religion

: Rahmayatul Fillacano
: Serdang Street No.15 RT 01/12 Duren
Sawit East Jakarta
: 081288692690
: rahmayatul_fillacano@yahoo.com
: Perempuan/Female
: Palembang, 21 September 1992
: Sendiri/Single
: Indonesia
: Islam /Moslem

2009 2013
Environmental Health, Public Health, State Islamic University (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta
2006 2009
High School 100,Cipinang, East Jakarta
2003 2006
Junior High School 202 , Pondok Bambu East Jakarta
1997 2003
Elementary School 10 ,Duren Sawit East Jakarta

Training Integrated Management Systems ISO 9001:2008, ISO


14001:2004&OHSAS 18001:2007 (2012)

iii

1. Practical Work at PT.CPI (Chevron Pacific Indonesia) on Departement


of Health Environmental and Safety (HES), Minas,Riau 2013.
2. Job Orientation at PT.YAMA ENGINEERING Oil and Gas Services
Company as Departement HSE, BSD 2012
3. Field Trip to PT. Chevron Gheothermal Indonesia at Garut 2012
4. Field Trip to Chevron Pacific Indonesia at Balikpapan 2012
5. Field Trip to Pertamina Balikpapan,2012
6. Work at PT.Melia Sehat Sejahtera, Jakarta (until now)
7. Field Learning Experience at Puskesmas Pondok Aren Kabupaten
Tangerang Selatan (2012).

Seminar :
1. Seminar Nasional Menuju Indonesia Bebas Kaki gajah dan Sosialisasi
Flu Burung, BEM Jurusan Kesehatan Masyarakat UIN Srarif
Hidayatullah Jakarta, 2009
2. Seminar Profesi Gizi Regulasi Keamanan Pangan Minuman Isotonik
di Indonesia, Auditorium FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011
3. Seminar Profesi K3 Sudah Amankah Anda Berkendara?, Auditorium
FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011
4. Seminar Profesi Kesehatan Lingkungan Ecodriving, Auditorium FKIK
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,2012
Organization :
1. Corporate Social Responsibility (CSR) Kemitraan antara PT. YAMA
Engineering dengan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, 2012
2. Member of Environmental Health Student Association (ENVIHSA)
Indonesia, UIN 2009-2013
3. OSIS in Junior High School as Public Relation 2006

iv

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Skripsi, 1 Desember 2013
Rahmayatul Fillacano, NIM : 109101000054
Hubungan Lingkungan Dalam Rumah Terhadap ISPA Pada Balita Di
Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang Selatan Tahun 2013
( xv+88 hal+15 tabel+ 2 Bagan+6 Lampiran)
ABSTRAK
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering
dialami oleh balita dengan gejala seperti batuk, pilek dan panas selama 2 minggu
terakhir. Berdasarkan Data Dinkes Tangsel 2012 ISPA menempati urutan pertama
dari 10 penyakit yang lain. ISPA pada balita paling banyak diderita di Puskesmas
Ciputat. ISPA bisa diakibatkan oleh faktor internal/lingkungan dalam rumah yang
meliputi faktor individu balita, lingkungan fisik rumah, faktor perilaku, faktor sosialdemografi.
Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Adapun
tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lingkungan dalam
rumah terhadap ISPA pada balita. Variabel bebas/independen dalam penelitian ini
adalah status gizi, pemberian asi, ventilasi, kepadatan hunian, kelembaban, kebiasaan
merokok dan pendidikan orang tua sedangkan variabel terikat /dependen adalah ISPA
pada balita di Kelurahan Ciputat. Penelitian dilakukan pada bulan September 2013.
Sampel pada penelitian ini sebanyak 88 sampel dengan responden ibu balita.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa sebesar 51,5% atau sebanyak 45
balita mengalami ISPA dan 43 balita 48,9% tidak mengalami ISPA. Selanjutnya
berdasarkan hasil analisis bivariat diketahui bahwa terdapat tiga variabel independen
yang berhubungan terhadap ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat, yaitu kepadatan
hunian dengan nilai p=0,029, ventilasi dengan nilai p=0,019 , dan pendidikan orang
tua dengan nilai p=0,019. Sedangkan variabel yang tidak berhubungan yaitu status
gizi, kebiasaan merokok, kelembabab, dan pemberian Asi Ekslusif.

iv

FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES


DEPARTMENT OF PUBLIC HEALTH
MAJOR OF ENVIRONMENTAL HEALTH
Undergratuated Thesis, 17 December 2013
Rahmayatul Fillacano, NIM : 109101000054
Association Between Domestic Environment and Acute Respiratory Infections
(ARI) Among Children Under the Age of Five In Ciputat Subdistrict, South
Tangerang City, Year 2013
(xv+88 pages+15 Tables+2 Charts+6 Attachments)
ABSTRACT
Acute Respiratory Infections (ARI) is a disease that often suffered by children
under the age of five with symptoms such as cough, cold and heat that last throughout
the fortnight. Based on Tangsel Health Agency Data year 2012, ARI was the lead
cases out of ten other diseases that found in Tangsel, and those cases mostly found in
Ciputat health-care center. ARI could be caused by many factors in the environment
that surrounded the child under five, thus environment known as a micro
environment, which include the child-individual factor, physical factor, behavior
factor, and socio demographic factor.
This research was a descriptive analytic with Cross Sectional approach. This
study sought to examine the association between domestic environment and Acute
Respiratory Infections (ARI) among children under five. Dependent variable in this
study was an ARI among children under five in Ciputat subdistrict, whereas the
independent variable were nutritional status, humidity, exclusive breast-feeding,
smooking behavior, ventilation, occupant density, and parents education level. This
research being held in September 2013 with total sample of 88 children under five
with their parents as a respondent.
The results showed that 51.5% or approximately 45 children under five suffered
an ARI, while the other 43 child (48,9%) were not. Furthermore, bivariate analysis
showed that there are 3 independent variables that were positively associated with
Acute Respiratory Infections (ARI) that were found among children under the age of
five in Ciputat subdistrict. Those variables are occupant density (p = 0,029),
ventilation (p = 0,019), and parents education level (p = 0,019). In contrast, variables
such as nutritional status, smoking behavior, humidity, and exclusive breast-feeding
were negatively associated with ARI.

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat serta
ridho-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Tidak lupa shalawat serta salam
kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan ke
zaman yang terang saat ini. Penulisan skripsi ini dilakukan sebagai syarat untuk
mendapat gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya menyadari
bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak sangatlah sulit bagi saya
untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima
kasih kepada :
1. Kedua Orang Tua saya yang selalu memberikan doa dan motivasi dalam
menyelesaikan skripsi ini serta kepada Kakak dan Adik saya yang smemacu saya
sehingga memberikan semangat untuk menyelesaikan skripsi.
2. Bapak Arif Sumantri sebagai Penanggung Jawab Peminatan Kesehatan
Lingkungan yang selalu memberikan saran serta dukungan kepada jamaah
kesehatan lingkungan untuk segera menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya
beserta Dosen yang telah memberikan ilmu kepada penulis selama proses belajar
dikampus serta kepada seluruh karyawan di lingkungan civitas akademika
Fakultas Kesehatan Masyarakat.

3. Bapak Kepala Suku Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan yang telah
memberikan izin untuk mengambil data dan izin penelitian.
4. Ibu Ela Laelasari SKM,M.Kes selaku dosen pembimbing utama yang telah
membimbing saya selama proses penyelesaian skripsi.
5. Ibu Dewi Utami Iriani, SKM, MKM, Phd selaku pembimbing kedua, yang telah
memberikan masukan yang berharga dalam penyelesaian dan penyempurnaan
penulisan skripsi ini.
6. Kepala Puskesmas Kelurahan Ciputat beserta staf atas bantuan dan kesempatan
yang diberikan kepada penulis untuk melakukan penelitian di wilayah kerjanya.
7. Kepada Bapak Lurah Ciputat yang telah memberikan bantuan serta fasilitas untuk
menunjang menyelesaikan skripsi ini.
8. Kepada seluruh ibu balita sebagai responden dalam penelitian ini yang telah
membantu

mengisi

kuisioner

sebagai

data

penting

untuk

menunjang

menyelesaikan skripsi ini.


9. Kepada teman-teman Kesehatan Lingkungan khususnya angkatan 2009 atas
kerjasama, dukungan, support dalam membantu menyelesaikan penulisan skripsi
ini serta 4 sahabat sekaligus teman seperjuangan mulai dari semester awal hingga
akhir kepada Rahmi Hidayati, Roya Selaras Cita, Srikandi Fajarini, Ardilla
Wasiah atas kebersamaan kita selama di bangku kuliah.
10. Kepada Herisma Yanti yang membantu dan menemani saat pengambilan data di
lapangan.

vi

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Penulis
berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan penelitian selanjutnya
yang ingin mengkaji lebih dalam mengenai topik tersebut. Semoga Allah SWT
memberikan kemuliaan dan kelancaran serta kemampuan berpikir untuk mengejar
masa depan yang lebih cerah bagi kita semua. Amin

Ciputat, September 2013

Penulis

vii

DAFTAR ISI

Abstrak ................................................................................................................................. i
Abstract................................................................................................................................. ii
Riwayat Hidup ..................................................................................................................... iii
Kata Pengantar .................................................................................................................... v
Daftar Isi............................................................................................................................... viii
Daftar Tabel......................................................................................................................... xiii
Daftar Lampiran................................................................................................................... xiv
Daftar Bagan........................................................................................................................ xv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang........................................................................................................

1.2

Rumusan Masalah.....................................................................................................

1.3

Pertanyaan Penelitian................................................................................................ 6

1.4

Tujuan Penelitian......................................................................................................

1.4.1 Tujuan Umun...................................................................................................

1.4.2 Tujuan Khusus.................................................................................................

Manfaat Penelitian....................................................................................................

1.5.1 Bagi Ilmu Pengetahuan....................................................................................

1.5.2 Bagi Puskesmas...............................................................................................

1.5

1.5.3 Bagi Peneliti..................................................................................................... 8


1.6

Ruang Lingkup Penelitian........................................................................................ 1 9

viii

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Infeksi Saluran Pernafasan Akut................................................................................ 11


2.1.1 Pengertian ISPA................................................................................................ 11
2.1.2 Etiologi ISPA.................................................................................................... 12
2.1.3 Klasifikasi ISPA................................................................................................ 13
2.1.4 Cara Penularan ISPA.........................................................................................14
2.1.5 Gejala ISPA....................................................................................................... 14
2.1.6 Cara Pencegahan ISPA..................................................................................... 17

2.2

Paradigma Kejadian ISPA pada Balita...................................................................... 17


2.2.1 Pengertian Balita............................................................................................... 17
2.2.2 ISPA pada Balita............................................................................................... 17
2.2.3 Paradigma Kesehatan Masyarakat.................................................................... 18
2.2.4 Paradigma ISPA Menurut World Bank, Depkes RI dan Riskesdas................ 19

2.3

Faktor-Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi ISPA............................................. 20


2.3.1 Faktor Lingkungan Fisik Rumah...................................................................... 20
2.3.2 Faktor Sosial-Ekonomi......................................................................................26
2.3.3 Faktor Individu/Balita....................................................................................... 28
2.3.4 Faktor Perilaku.................................................................................................. 34

2.3

Kerangka Teori...........................................................................................................39

ix

BAB III
KERANGKA KONSEP & DEFINISI OPERASIONAL
3.1

Kerangka Konsep.................................................................................................. 41

3.2

Definisi Operasional............................................................................................. 42

3.3

Hipotesis................................................................................................................ 44

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1

Desain Penelitian...........................................................................................................
45

4.2

Populasi dan Sampel................................................................................................. 45


4.2.1 Populasi............................................................................................................ 45
4.2.2 Sampel.............................................................................................................. 46

4.3

Pengambilan Sampel................................................................................................ 48

4.4

Jenis Data.................................................................................................................. 48

4.5

Lokasi dan Waktu Penelitian...................................................................................... 49

4.6

Pengumpulan Data.................................................................................................... 49

4.7

Pengolahan Data......................................................................................................... 49

4.8

Analisa Data ...............................................................................................................51

BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1

Gambaran Umum Kelurahan Ciputat....................................................................... 52

5.2

Hasil Analisis Univariat............................................................................................. 53


5.2.1

Gambaran Kejadian ISPA.............................................................................. 53

5.2.2

Gambaran Status Gizi Balita.......................................................................... 53

5.2.3

Gambaran Status Imunisasi............................................................................54

5.2.4

Gambaran Pemberian Asi Ekslusif................................................................ 55

5.2.5

Gambaran Kelembaban Kamar Tidur............................................................ 55


x

5.2.6

Gambaran Ventilasi....................................................................................... 56

5.2.7

Gambaran Kepadatan Hunian........................................................................ 56

5.2.8

Gambaran Kebiasaan Merokok.....................................................................57

5.2.9

Gambaran Pendidikan Orang Tua.................................................................. 58

5.2.10 Gambaran Penggunaan Bahan Bakar.............................................................58


5.2.11 Gambaran Penggunaan Obat Nyamuk Bakar............................................... 59
5.3

Analisis Bivariat
5.3.1

Hubungan Status Gizi Terhadap ISPA pada Balita.........................................60

5.3.2

Hubungan Pemberian Asi Ekslusif Terhadap ISPA pada Balita................... 61

5.3.3

Hubungan Ventilasi Terhadap ISPA pada Balita............................................62

5.3.4

Hubungan Kelembaban Dalam Kamar Terhadap ISPA pada Balita............ 63

5.3.5

Hubungan Kepadatan Hunian terhadap ISPA pada Balita..............................64

5.3.6

Hubungan Kebiasaan Merokok terhadap ISPA pada Balita.......................... 65

5.3.7

Hubungan Pendidikan Orang Tua terhadap ISPA pada Balita..................... 66

BAB VI
PEMBAHASAN
6.1

Keterbatasan Penelitian.............................................................................................. 68

6.2

Gambaran Variabel Dependen................................................................................... 68

6.3

Analisis Bivariat.........................................................................................................70
6.3.1

Hubungan Status Gizi terhadap ISPA pada Balita......................................... 70

6.3.2

Hubungan Pemberian Asi Ekslusif Terhadap ISPA pada Balita................... 72

6.3.3

Hubungan Ventilasi Terhadap ISPA pada Balita...........................................74

6.3.4

Hubungan Kepadatan Hunian Terhadap ISPA pada Balita.......................... 76

6.3.5

Hubungan Kelembaban Terhadap ISPA pada Balita.................................... 78

6.3.6

Hubungan Kebiasaan Merokok terhadap ISPA pada Balita.......................... 80

6.3.7

Hubungan Pendidikan Orang Tua terhadap ISPA pada Balita..................... 82

xi

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1

Kesimpulan............................................................................................................... 85

7.2

Saran......................................................................................................................... 87

xii

DAFTAR TABEL

No

Judul Tabel

Hal

5.1

Distribusi ISPA Pada Balita Di Kelurahan Ciputat...............................

53

5.2

Distribusi Status Gizi.............................................................................

54

5.3

Distribusi Status Imunisasi.....................................................................

54

5.4

Distribusi Asi Ekslusif...........................................................................

55

5.5

Distribusi Kelembaban...........................................................................

55

5.6

Distribusi Ventilasi................................................................................

56

5.7

Distribusi Kepadatan Hunian Rumah....................................................

57

5.8

Distribusi Kebiasaan Merokok Penghuni Rumah..................................

57

5.9

Distribusi Pendidikan Orang Tua...........................................................

58

5.10 Distribusi Penggunaan Bahan Bakar......................................................

59

5.11 Distribusi Penggunaan Obat Nyamuk Bakar.........................................

59

5.12 Hubungan Status Gizi Terhadap ISPA Pada Balita...............................

60

5.13 Hubungan Pemberian Asi Ekslusif Terhadap ISPA Pada Balita...........

61

5.14 Hubungan Ventilasi Rumah Terhadap ISPA Pada Balita......................

62

5.15 Hubungan Kelembaban Terhadap ISPA Pada Balita ............................

63

5.16 Hubungan Kepadatan Hunian Terhadap ISPA pada Balita.................

64

5.17 Hubungan Kebiasaan Merokok Penghuni Rumah Tua Terhadap ISPA


pada Balita..............................................................................................
5.18 Hubungan Pendidikan Orang Tua Terhadap ISPA pada Balita.............

65
66

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Surat Izin Penelitian

Lampiran 2
Lampiran 3
Lampiran 4
Lampiran 5
Lampiran 6

Kuisioner
Hasil Uji Statistik
Dokumentasi Lapangan
Surat Keterangan
Peraturan Rumah Sehat

xiv

DAFTAR BAGAN

Judul Bagan
2.1 Kerangka Teori................................................................................
3.1 Kerangka Konsep............................................................................

xv

Hal
39
41

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut WHO, setiap tahun diperkirakan terdapat sekitar 200 ribu kematian
akibat pencemaran udara yang menimpa daerah perkotaan, dimana 93% kasus terjadi
di negara-negara berkembang (WHO, 2003). Kontribusi terbesar pencemaran udara
berasal dari alat transportasi yang cenderung terus meningkat sejak tahun 2000
(BPS, 2003). Pada program lingkungan PBB, tahun 2002 tercatat beban pencemaran
udara dari sumber bergerak di DKI Jakarta untuk cemaran debu sebesar 15.977,3
ton/tahun. Akibat pencemaran tersebut, munculah berbagai macam penyakit salah
satunya Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Pengertian ISPA adalah infeksi
saluran pernapasan akut yang berlangsung sampai 14 hari yang terjadi didalam organ
mulai dari hidung sampai gelembung paru (Depkes, 2007).
Di negara dengan pendapatan perkapita rendah dan menengah hampir empat
juta orang meninggal akibat ISPA setiap tahun terutama pada bayi, balita dan orang
lanjut usia (Lindawaty, 2010). ISPA merupakan salah satu penyebab utama rawat
jalan dan rawat inap di fasilitas pelayanan kesehatan terutama pada bagian perawatan
anak (WHO, 2008). Di Indonesia proporsi kematian yang disebabkan oleh ISPA
mencakup 20%-30% dari seluruh kematian anak balita (Depkes, 2002). Survei
mortalitas yang dilakukan oleh sub Direktorat ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA

(Pneumonia) sebagai penyebab kematian terbesar di Indonesia dengan persentase


22,30% dari seluruh kematian balita (Anonim, 2007). Prevalensi berdasarkan jenis
kelamin antara anak laki-laki dan perempuan relatif sama (Depkes RI, 2008). Hasil
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2001 memperlihatkan
prevalensi ISPA pada anak usia <1 tahun sebesar 38,7% dan pada anak usia 1-4tahun
sebesar 42,2% (SDKI, 2007 dalam Gertrudis, 2010).
ISPA terjadi di seluruh provinsi dan kota di Indonesia, salah satunya di Provinsi
Banten. Berdasarkan hasil laporan bulanan penyakit dari seluruh puskesmas selama
tahun 2011 tercatat jumlah kasus ISPA sebanyak 37.186 dari 131.860 jumlah balita
dan bayi (Dinkes, 2011). ISPA masuk dalam urutan 10 besar dari 30 besar penyakit
yang paling sering diderita masyarakat dengan jumlah kasus ISPA paling tinggi
berada pada wilayah kerja Pukesmas Ciputat yakni mencapai 2336 kasus ISPA dari
5.874 balita (Dinkes, 2012). Data Laporan Bulanan Puskesmas Ciputat pada tahun
2012 sesuai golongan umur, hampir sekitar 16%-25% dari masing-masing jumlah
kasus yang ada setiap bulan diderita pada umur 1-5 tahun.
Tingginya angka kejadian ISPA di Kelurahan Ciputat bisa disebabkan oleh
tingginya pencemaran udara di luar rumah balita yang bersumber dari hasil
pembakaran, dan transportasi yang dapat menghasilkan debu (Total Suspended
Particulat (TSP)). Diketahui pada penelitian oleh BPLH Tangerang Selatan pada
tanggal 5 Juni 2012 terdapat kadar TSP di Ciputat melebihi ambang batas yakni
268,64 g/m dari ambang batas yang ditetapkan sebesar 230 g/m (BPLHD, 2012).

Hasil penelitian yang dilakukan Lindawaty (2010) menyatakan bahwa nilai TSP
tinggi menyebabkan tingginya jumlah kasus ISPA.
Namun, bila dilihat dari aktivitas balita yang lebih sering melakukan kegiatan
didalam rumah bersama orang tua/anggota keluarga, ISPA yang terjadi pada balita
bisa disebabkan oleh lingkungan dalam rumah balita yang tidak memenuhi syarat
(Lindawaty, 2010). Faktor-faktor lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi ISPA
yaitu faktor lingkungan fisik rumah, faktor perilaku, faktor individu, faktor sosialekonomi (Depkes, 2004). Faktor lingkungan fisik rumah salah satunya yaitu ventilasi
rumah. Berdasarkan peraturan No. 1077/MENKES/PER/V/2011, setiap rumah wajib
memiliki ventilasi minimum 10% dari luas rumah untuk memenuhi persyaratan
rumah sehat. Pada penelitian Lindawaty (2010) ventilasi rumah yang tidak memenuhi
syarat akan menyebabkan ISPA pada balita dengan resiko 3,07 kali lebih besar
dibanding dengan ventilasi rumah yang memenuhi syarat.
Selain itu, variabel dari faktor perilaku seperti yaitu kebiasaan merokok.
Kebiasaan merokok anggota keluarga menjadikan balita sebagai perokok pasif yang
selalu terpapar asap rokok. Menurut penelitian Citra (2012) mengemukakan bahwa
perokok pasiflah yang mengalami resiko kesakitan lebih besar dari perokok aktif.
Rumah yang penghuni/anggota keluarga mempunyai kebiasaan merokok berpeluang
meningkatkan kejadian ISPA sebesar 7,83 kali dibandingkan dengan rumah balita
yang penghuninya tidak merokok didalam rumah.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di Kelurahan Ciputat

masih

banyak ibu yang ketika balita mengalami gejala ISPA tidak langsung membawa ke
Puskesmas dengan alasan bahwa gejala tersebut sering dialami anak dan akan hilang
dengan sendirinya. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan ibu
mengenai penyakit ISPA serta bagaimana tindakan pencegahan serta penanggulangan
yang seharusnya dilakukan. Pengetahuan seseorang terkait pendidikan yang
diselesaikan oleh orang tua balita. Pada penelitian yang dilakukan oleh Suptiaptini
(2007) menyatakan bahwa ada hubungan antara pendidikan yang berkaitan dengan
pengetahuan ibu terhadap ISPA pada balita.
Berdasarkan uraian diatas, penyebab terjadinya ISPA bukan hanya berasal dari
lingkungan luar rumah dengan melihat kadar TSP dimasing-masing lokasi penelitian
yang dinginkan. Namun harus diperhatikan apakah ada penyebab dari lingkungan
dalam rumah yang meliputi faktor lingkungan fisik rumah, sosial, faktor balita, dan
faktor perilaku dalam lingkup kecil yang paling dekat dengan balita setiap hari yang
berpotensi menyebabkan balita terkena ISPA. Hal ini supaya program pencegahan
yang ingin dilakukan diawali dari lingkup kecil menuju pencegahan yang bersifat
lebih luas terhadap penyebab munculnya ISPA. Oleh karena itu, dalam studi ini
peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan antara pengaruh lingkungan dalam
rumah (faktor lingkungan fisik rumah, sosial, faktor balita, faktor perilaku) terhadap
ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang Selatan.

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil laporan bulanan penyakit dari seluruh puskesmas selama

tahun 2011 tercatat jumlah kasus ISPA sebanyak 37.186 dari 131.860 jumlah balita
dan bayi (Dinkes, 2011). ISPA masuk dalam urutan 10 besar dari 30 besar penyakit
yang paling sering diderita masyarakat dengan jumlah kasus ISPA paling tinggi
berada pada wilayah kerja Pukesmas Ciputat yakni mencapai 2336 kasus ISPA dari
5.874 balita (Dinkes, 2012). Tingginya angka kejadian ISPA di Kelurahan Ciputat
mungkin bisa disebabkan oleh faktor lingkungan luar rumah seperti tingginya kadar
debu (Total Suspended Particulat (TSP)) akibat polusi udara. Namun mungkin bisa
disebabkan oleh faktor lingkungan dalam rumah dimana balita lebih banyak
menghabiskan aktivitas didalam rumah. Faktor-faktor lingkungan rumah yang dapat
mempengaruhi ISPA yaitu faktor lingkungan fisik rumah, faktor perilaku, faktor
individu, faktor sosial-ekonomi (Depkes, 2004).
Berdasarkan uraian diatas, peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan
faktor lingkungan dalam rumah terhadap kejadian ISPA pada balita di Kelurahan
Ciputat yang meliputi faktor perilaku, faktor lingkungan dalam rumah, faktor
individu balita, dan faktor sosial demograf..
1.3

Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran faktor lingkungan fisik rumah balita (ventilasi,


kelembapan, kepadatan hunian) di Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
tahun 2013.

2. Bagaimana gambaran faktor individu balita (status gizi, dan Asi Ekslusif) di
Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
3. Bagaimana gambaran faktor perilaku orang tua balita (kebiasaan merokok) di
Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
4. Bagaimana gambaran faktor sosial-demograf orang tua balita (pendidikan orang
tua) di Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
5. Apakah ada hubungan antara faktor lingkungan fisik rumah (ventilasi,
kelembapan, kepadatan hunian) terhadap ISPA pada Balita di Kelurahan
Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
6. Apakah ada hubungan faktor individu balita (asi ekslusif, status gizi) terhadap
ISPA pada Balita di Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
7. Apakah ada hubungan faktor perilaku orang tua ( kebiasaan merokok) terhadap
ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
8. Apakah ada hubungan faktor sosial orang tua (pendidikan orang tua) terhadap
ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Mengetahui hubungan lingkungan dalam rumah terhadap ISPA pada Balita di
Kelurahan Ciputat,Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
1.4.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui gambaran balita terhadap kejadian ISPA di Kelurahan Ciputat,
Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
6

2. Mengetahui gambaran faktor lingkungan fisik rumah balita (ventilasi,


kelembapan, kepadatan hunian) di Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang
Selatan tahun 2013.
3. Mengetahui gambaran faktor individu (status gizi dan pemberian ASI) di
Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
4. Mengetahui gambaran faktor perilaku orang tua (kebiasaan merokok) di
Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
5. Mengetahui gambaran faktor sosial orang tua balita (pendidikan orang tua) di
Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
6. Mengetahui hubungan faktor lingkungan fisik rumah (ventilasi, kelembapan,
dan kepadatan hunian) terhadap ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat, Kota
Tangerang Selatan tahun 2013.
7. Mengetahui hubungan faktor individu balita (status gizi, pemberian ASI
eksklusif) terhadap kejadian ISPA di Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang
Selatan tahun 2013.
8. Mengetahui hubungan faktor perilaku orang tua (kebiasaan merokok) terhadap
kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang Selatan
tahun 2013.
9. Mengetahui hubungan faktor sosial (pendidikan orang tua) terhadap ISPA
pada Balita di Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang Selatan tahun 2013.

1.5 Manfaat Peneliti


1.5.1 Bagi Ilmu Pengetahuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang
hubungan lingkungan dalam rumah terhadap ISPA pada balita khususnya
di Kelurahan Ciputat Kota Tangerang Selatan.
Penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi yang ingin melakukan penelitian
serupa ditempat lain,ataupun sebagai dasar untuk melakukan penelitian
yang lebih rinci mengenai masalah yang sama di wilayah yang sama atau
diwilayah lain.
1.5.2 Bagi Puskesmas
Bahan masukan dalam perencanaan program pengendalian ISPA pada
Balita bagi pengelola program ISPA di Kota Tangerang Selatan,khususnya
Puskesmas di Kelurahan Ciputat.
Memberikan informasi kepada keluarga tentang

hubungan lingkungan

dalam rumah sebagai faktor resiko gangguan saluran pernafasan pada anak
balita,sehingga setiap keluarga bisa berpartisi dalam pencegahan ISPA
pada anak balita.
1.5.3 Bagi Peneliti
Menjadi bahan proses belajar bagi peneliti, menambah pengalaman serta
dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai faktor fisik rumah

yang dapat mempengaruhi kejadian ISPA pada Balita di Kelurahan Ciputat,


Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
1.6 Ruang Lingkup Penelitian
Studi ini termasuk dalam ruang lingkup kesehatan masyarakat peminatan
kesehatan lingkungan. Penelitian dilakukan di Kelurahan Ciputat, Kota Tangerang
Selatan tahun 2013 pada bulan September 2013 yang bertujuan untuk mengetahui
hubungan lingkungan dalam rumah terhadap ISPA pada Balita di Kelurahan Ciputat,
Kota Tangerang Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan
menggunakan pendekatan cross sectional. Variabel dalam penelitian ini yaitu
variabel dependen yaitu ISPA dan variabel independen yaitu faktor individu (status
gizi dan pemberian ASI eksklusif), faktor lingkungan fisik rumah (ventilasi,
kepadatan hunian, kelembapan), faktor perilaku (kebiasaan merokok),dan faktor
sosial-demograf (pendidikan orang tua). Data yang digunakan yaitu dengan
mengumpulkan data primer melalui wawancara dengan kuisioner serta pengukuran.
Pengolahan data menggunakan Microsoft Excel dan SPSS.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)


2.1.1 Pengertian ISPA
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut yang
diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infection
(ARI)(Depkes RI, 2000). Menurut Depkes RI, 2007 ISPA adalah infeksi saluran
pernapasan akut akibat masuknya kuman/mikroorganisme kedalam tubuh

yang

berlangsung sampai 14 hari dengan keluhan batuk disertai pilek, sesak nafas dengan
atau tanpa demam. ISPA dibedakan menjadi dua yaitu saluran pernafasan bagian atas
seperti rhinitis,fharingitis, dan otitis serta saluran pernafasan bagian bawah seperti
laryngitis, bronchitis, bronchiolitis dan pneumonia (WHO, 2009).
Menurut Depkes RI, 2005 Infeksi saluran pernapasan akut mempunyai
pengertian sebagai berikut :
1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme kedalam tubuh manusia
dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
2. Saluran Pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta
adneksnya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura.

11

3. Infeksi Akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14
hari diambil untuk

menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa

penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung
lebih dari 14 hari.
Perbedaan ISPA dengan Pneumonia yaitu ditandai apabila balita penderita
ISPA menderita batuk-pilek yang tidak menunjukan gejala frekuensi sesak nafas dan
tidak menunjukkan adanya penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam (Depkes
RI, 2000). Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak, karena
sistem pertahan tubuh anak masih rendah. Kejadian penyakit batuk pilek pada balita
di Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali pertahun, yang berarti seorang balita ratarata mendapat serangan batuk pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun (Geturdis,
2010). Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti
batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotic, namun demikian
anak akan menderita pneumonia bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotic
dan dapat mengakibatkan kematian (Depkes RI, 2000).
2.1.2 Etiologi ISPA
Etiologi ISPA terdiri atas bakteri, virus dan ricketsia. Penyebab ISPA dapat
berupa bakteri maupun virus. Bakteri
Streptokokus,

Stafilokokus,

penyebabnya antara lain dari genus

Pneumokokus,

Hemofilus,

Bordotella

dan

Korinebakterium. Virus penyebabnya antara lain golongan Miksovirus, Adenovirus,


Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, dan Herpesvirus. Sekitar 90-95% penyakit

12

ISPA disebabkan oleh virus (Depkes R.I, 2008b). Keanekargaman penyebab ISPA
tergantung dari umur, kondisi tubuh dan kondisi lingkungan. Di Amerika Serikat
anak yang berumur 1 bulan hingga 6 tahun penyebab terbesarya adalah Streptococus
pneumonia dan heamapilus influenza serotype B. Sedangkan khusus anak 4 bulan
hingga 2 tahun kejadian ISPA antara 60-70% disebabkan oleh bakteri (Wattimena,
2004). Penyakit ISPA khususnya penumonia masih merupakan penyakit utama
penyebab kesakitan dan kematian bayi dan balita. Keadaan ini berkaitan erat dengan
berbagai kondisi yang melatar belakanginya seperti malnutrisi juga kondisi
lingkungan baik polusi di dalam rumah berupa asap maupun debu dan sebagainya
(Depkes R.I, 2006).
2.1.3 Klasifikasi ISPA
A. Klasifikasi Penyakit ISPA dibedakan menjadi 2 kelompok umur 2 bulan dan
kelompok umur 2 hingga 5 tahun (Depkes RI, 2000) yakni :
1. Kelompok umur 2 bulan terdiri atas 2 jenis yaitu

a. Pneumonia Berat, bila batuk disertai nafas cepat (>60kali/menit) dengan


atau tanpa tarikan dada bagian bawah ke dalam yang kuat. Disamping itu
ada beberapa tanda klinis yang dapat dikelompokan sebagai tanda bahaya
seperti kurang mampu minum, kejang, kesadaran menurun, stridor,
wheezing dan demam.

13

b. Bukan pneumonia, bila batuk pilek tanpa disertai nafas cepat


(<60kali/menit) dan tanpa tarikan dinding dada bagian bawah kedalam.
2. Kelompok umur 2 bulan-5tahun, terdiri dari 3 jenis yaitu

a. Pneumonia berat, jika batuk disertai nafas sesak yaitu adanya tarikan
dinding dada bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik nafas.
b. Pneumonia biasa, batuk dengan tanda-tanda tidak ada tarikan dinding dada
bagian ke dalam, namun disertai nafas cepat (>50kali/menit untuk umur 212 bulan, dan >40kali/menit untuk umur 12 bulan sampai 5 tahun).
c. Bukan Pneumonia, batuk pilek biasa dan tidak ditemukan tarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam dan tidak ada nafas cepat.
2.1.4 Cara Penularan ISPA
ISPA dapat terjadi karena transmisi organisme melalui AC, droplet dan melalui
tangan yang dapat menjadi jalan masuk bagi virus. Penularan faringitis terjadi melalui
droplet, kuman menginfiltrasi lapisan epitel, jika epitel terkikis maka jaringan limfoid
superficial bereaksi sehingga terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit
polimorfonuklear. Pada sinusitis, saat terjadi ISPA melalui virus, hidung akan
mengeluarkan ingus yang dapat menghasilkan superfinfeksi bakteri, sehingga dapat
menyebabkan bakteri patogen masuk kedalam rongga-rongga sinus (WHO, 2008).
2.1.5. Gejala ISPA
Penyakit ISPA adalah penyakit yang timbul karena menurunnya sistem
kekebalan atau daya tahan tubuh, misalnya karena kelelahan atau stres. Bakteri dan

14

virus penyebab ISPA di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran
pernafasan bagian atas, yaitu tenggorokan dan hidung. Pada stadium awal, gejalanya
berupa rasa panas, kering dan gatal dalam hidung, yang kemudian diikuti bersin terus
menerus, hidung tersumbat dengan ingus encer serta demam dan nyeri kepala.
Permukaan mukosa hidung tampak merah dan membengkak. Akhirnya terjadi
peradangan yang disertai demam, pembengkakan pada jaringan tertentu hingga
berwarna kemerahan, rasa nyeri dan gangguan fungsi karena bakteri dan virus di
daerah tersebut maka kemungkinan peradangan menjadi parah semakin besar dan
cepat. Infeksi dapat menjalar ke paru-paru, dan menyebabkan sesak atau pernafasan
terhambat, oksigen yang dihirup berkurang. Infeksi lebih lanjut membuat sekret
menjadi kental dan sumbatan di hidung bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi,
gejalanya akan berkurang sesudah 3-5 hari.
Penyakit pada saluran pernafasan mempunyai gejala yang berbeda yang pada
dasarnya ditimbulkan oleh iritasi, kegagalan mucociliary transport, sekresi lendir
yang berlebihan dan penyempitan saluran pernafasan. Tidak semua penelitian dan
kegiatan program memakai gejala gangguan pernafasan yang sama. Misalnya untuk
menentukan infeksi saluran pernafasan, menurut WHO (2008) menganjurkan
pengamatan terhadap gejala-gejala, kesulitan bernafas, radang tenggorok, pilek dan
penyakit pada telinga dengan atau tanpa disertai demam. Efek pencemaran terhadap
saluran pernafasan memakai gejala-gejala penyakit pernafasan yang meliputi radang
tenggorokan, rinitis, bunyi mengi dan sesak nafas.

15

Dalam hal efek debu terhadap saluran pernafasan telah terbukti bahwa kadar
debu berasosiasi dengan insidens gejala penyakit pernafasan terutama gejala batuk.
Di dalam saluran pernafasan, debu yang mengendap menyebabkan oedema mukosa
dinding saluran pernafasan sehingga terjadi penyempitan saluran.
Menurut Mudehir (2002), faktor yang mendasari timbulnya gejala penyakit
pernafasan :
1. Batuk
Timbulnya gejala batuk karena iritasi partikulat adalah jika terjadi rangsangan
pada bagian-bagian peka saluran pernafasan, misalnya trakeobronkial, sehingga
timbul sekresi berlebih dalam saluran pernafasan. Batuk timbul sebagai reaksi refleks
saluran pernafasan terhadap iritasi pada mukosa saluran pernafasan dalam bentuk
pengeluaran udara (dan lendir) secara mendadak disertai bunyi khas.
2. Dahak
Dahak terbentuk secara berlebihan dari kelenjar lendir (mucus glands) dan sel
goblet oleh adanya stimuli, misalnya yang berasal dari gas, partikulat, alergen dan
mikroorganisme infeksius. Karena proses inflamasi, di samping dahak dalam saluran
pernafasan juga terbentuk cairan eksudat berasal dari bagian jaringan yang
berdegenerasi.
3. Sesak nafas
Sesak nafas atau kesulitan bernafas disebabkan oleh aliran udara dalam saluran
pernafasan karena penyempitan. Penyempitan dapat terjadi karena saluran pernafasan

16

menguncup, oedema atau karena sekret yang menghalangi arus udara. Sesak nafas
dapat ditentukan dengan menghitung pernafasan dalam satu menit.
4. Bunyi mengi
Bunyi mengi merupakan salah satu tanda penyakit pernafasan yang turut
diobservasikan dalam penanganan infeksi akut saluran pernafasan.
2.1.6

Cara Pencegahan ISPA


Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA

diantaranya (Depkes RI, 2008b):


1. Menghindarkan diri dari penderita ISPA
2. Hindari asap, debu dan bahan lain yang menganggu pernafasan
3. Imunisasi lengkap pada balita di Posyandu.
4. Membersihkan rumah dan lingkungan tempat tinggal.
5. Rumah harus mendapatkan udara bersih dan sinar matahari yang cukup serta
memiliki lubang angin dan jendela.
6. Menutup mulut dan hidung saat batuk.
7. Tidak meludah sembarangan.
2.2 Paradigma Kejadian ISPA pada Balita
2.2.1 Pengertian Balita
Balita adalah anak berusia dibawah umur lima tahun yang sedang mengalami
masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Pertumbuhan perkembangan balita

17

dipengaruhi oleh kesehatan yang baik, status gizi yang baik, lingkungan yang sehat,
serta keluarga (termasuk pengasuh) yang baik dalam merawat balita (Depkes RI,
2008).
2.2.2 ISPA pada Balita
Balita sering terpajan oleh beberapa jenis polutan dan virus dengan mudah
terutama polutan yang berasal dari dalam rumah karena sekitar 80% balita
menghabiskan waktu didalam rumah. Selain itu, ditambah lagi dengan daya tahan
tubuh yang berbeda setiap balita menyebabkan balita lebih rentan terhadap penyakit
terutama ISPA. Keterpajanan balita terhadap bahaya kesehatan lingkungan terjadi di
beberapa area yang berbeda yakni didalam rumah, lingkungan tetangga, dan
komunitas dilingkungan yang lebih luas . Terdapat dua faktor kesehatan pada balita
(WHO, 2007) yaitu perumahan dan tempat tinggal (seluruh aspek ketersediaan dan
kualitas perumahan, kepadatan hunian, kondisi rumah yang berbahaya dan tidak
aman, kelembapan dan ventilasi yang buruk), dan polusi udara dalam ruangan(
misalnya asap dari pemanasan dan proses memasak, perabotan yang mengeluarkan
asap, asap rokok di lingkungan sekitar dan zat polutan dari luar ruangan yang masuk
ke dalam ruangan).
2.2.3 Paradigma Kesehatan Masyarakat
Konsep hidup sehat menurut H.L Blum (Notoadmojo, 2003) dapat digunakan
untuk mengetahui faktor-faktor kondisi yang dapat memepengaruhi kondisi kesehatan

18

secara holistik mulai dari kondisi fisik hingga sosial dalam masyarakat. Dalam teori
H.L Blum menjelaskan bahwa untuk menciptakan kondisi sehat diperlukan
harmonisasi dari 4 faktor utama yakni faktor determinan timbulnya masalah
kesehatan yang meliputi faktor perilaku/Gaya Hidup, faktor lingkungan (sosial,
ekonomi, politik, budaya maupun fisik, kimia,, biologi), faktor pelayanan kesehatan
(jenis cakupan dan kualitasnya) dan faktor genetik (keturunan). Keempat faktor
tersebut saling saling berinteraksi dan yang mempengaruhi kesehatan perorangan dan
derajat keseahtan masyarakat. Diantara keempat faktor tersebut faktor perilaku
manusia merupakan faktor determinan yang paling besar dan paling sukar di
tanggulangi dan disusul dengan faktor lingkungan. Hal ini disebabkan karena
lingkungan hidup manusia sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat.
2.2.4 Paradigma ISPA Menurut World Bank, Depkes RI dan Riskesdas
World Bank dalam Diseases Control Priorities in Developing Countries
menguraikan bahwa kejadian ISPA disebabkan oleh agen biologi yang dapat berupa
virus maupun bakteri. Bakteri yang dapat mengakibatkan ISPA adalah Streptoccous
pneumonia, Mycoplasma pneumonia, dan Chamydia pneumonia sedangkan virus
yang dapat mengakibatkan ISPA antara lain Rhinovirus, RSVs, Parainfluenza, dan
virus influenza (World Bank, 2006).
Menurut Depkes (2002) kejadian ISPA dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor
resiko antara lain pendidikan dan pengetahuan ibu, sosial ekonomi, pelayan kesehatan

19

BBLR, status gizi buruk, status ASI eksklusif, vitamin A, pemberian makan dini,
mikroorganisme (agent), daya tahan tubuh, kepadatan tempat tinggal dan kondisi fisik
rumah. Kondisi fisik rumah yang dapat menyebabkan ISPA antara lain jenis atap,
jenis lantai, jenis dinding, kepadatan hunian, penggunaan anti nyamuk bakar, jenis
bahan bakar memasak yang digunakan dan perokok di dalam rumah. Sedangkan hasil
data Riskesdas (2007) diperoleh faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan
kejadian ISPA yaitu umur, status gizi, pendidikan ibu, bahan bakar memasak,
perokok dalam rumah, jenis lantai dan polusi udara (debu). Faktor lainya yang dapat
mempengaruhi kejadian ISPA adalah suhu, kelembapan (Mudehir, 2002).
2.3 Faktor-Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi ISPA
Menurut Depkes RI 2004, faktor-faktor terjadinya ISPA secara umum
dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu :
2.3.1 Faktor Lingkungan Fisik Rumah
Rumah merupakan kebutuhan primer manusia yang berfungsi sebagai tempat
tinggal untuk berlindung dari bahaya lingkungan luar seperti perubahan iklim dan
makhluk hidup lainnya (Depkes RI, 2000). Rumah yang baik bagi penghuni atau
sebuah keluarga dapat dilihat dengan beberapa kriteria seperti (Safitri, 2010) :
a. Kepadatan Hunian
Penduduk di kota meningkat memicu terjadinya peningkatan pembangunan
sebagai tempat tinggal. Namun terkadang dalam satu rumah yang seharusnya hanya

20

bisa menampung beberapa orang saja, dipaksakan untuk menampung melebihi


kapasitas rumah. Hal ini mengakibatkan terjadinya kepadatan dalam rumah yang
dimungkinkan dapat mempengaruhi kesehatan penghuni rumah. Menurut keputusan
menteri kesehatan nomor RI No.1077/MENKES/PER/V/2011 tentang persyaratan
rumah dikatakan padat penghuni apabila perbandingan luas lantai seluruh ruangan
dengan jumlah penghuni lebih kecil dari 10m2/org, sedangkan ukuran untuk kamar
tidur diperlukan luas lantai minimum 3m2/org. Pencegahan terjadinya penularan
penyakit (misalnya penyakit pernafasan) jarak antara tepi tempat tidur yang satu
dengan yang lain minimum 90cm dan sebaiknya kamar tidur tidak dihuni lebih dari 2
orang. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan secara bermakna
antara kepadatan hunian dengan terjadinya ISPA seperti penelitian Irianto (2006)
mengatakan bahwa kepadatan hunian berpengaruh pada besarnya kejadian ISPA,
yaitu besarnya anak terkena ISPA adalah 2,27 kali lipat dari rumah yang padat
penghuninya dibandingkan dengan rumah tidak padat penghuninya. Menurut
Achmadi (2008) semakin tingginya kepadatan rumah, maka penularan penyakit
khususnya melalui udara akan semakin cepat.
b. Ventilasi
Ventilasi dalam rumah berfungsi sebagai sirkulasi udara atau pertukaran udara
dalam rumah karena udara yang segar dalam ruangan sangat dibutuhkan manusia.
Ventilasi yang

buruk akan menimbulkan gangguan kesehatan pernapasan pada

penghuninya. Penularan penyakit saluran pernapasan disebabkan karena kuman


didalam rumah tidak bisa tertukar dan mengendap sehingga ventilasi diharuskan
21

memenuhi syarat Menkes RI Nomor RI No.1077/MENKES/PER/V/2011 yakni luas


ventilasi minimal 10% dari luas lantai.
Rumah yang mempunyai ventilasi yang tidak berfungsi dengan baik akan
menghasilkan 3 akibat yaitu kekurangan oksigen, bertambahnya konsentrasi CO2 dan
adanya bahan organik beracun yang mengendap dalam rumah. Menurut hasil
penelitian Lindawaty (2010) mengatakan bahwa terdapat hubungan antara ventilasi
terhadap kejadian ISPA pada balita dan resiko balita mengalami ISPA 3,07 kali lebih
besar pada ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat dibandingkan dengan
ventilasi yang memenuhi syarat. Oleh karena itu, memperoleh udara yang segar
menurut Mudehir (2002) dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
1. Ventilasi Alamiah
Ventilasi alamiah adalah masuknya udara kedalam ruangan melalui jendela,
pintu ataupun lubang angin yang sengaja dibuat untuk masuknya udara kedalam
rumah. Ventilasi yang baik dalam suatu ruangan mempunyai persyaratan yaitu :
a. Udara yang masuk melewati ventilasi adalah udara yang bersih/tidak
tercemar oleh asap dapur, pembakaran sampah, kendaraan bermotor, atau
sumber lain disekitar pemukiman.
b. Rumah yang menggunakan lilin, lampu minyak sebagai penerangan
didalam harus memerlukan ventilasi untuk menukar CO2 menjadi O2.

22

2. Ventilasi Buatan
Ventilasi buatan yaitu sebuah alat yang digunakan didalam rumah untuk
membersihkan udara yang bersifat portable seperti AC, exhauster, kipas angin, air
purifing.
c. Pencahayaan
Pencahayaan matahari sangat penting, karena dapat membunuh bakteri patogen
dalam rumah misalnya bakteri penyebab penyakit ISPA dan TBC. Oleh karena itu,
rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Jalan masuk
cahaya (jendela) luasnya sekurang-kurangnya 15% sampai 20% dari luas lantai yang
terdapat di dalam ruangan rumah. Menurut WHO kebutuhan standar minimun cahaya
alami yang memenuhi syarat kesehatan untuk kamar keluarga dan kamar tidur yaitu
60-120 lux.
d. Kelembapan
Kelembapan merupakan presentase kandungan uap air pada atmosfir. Jumlah
uap yang terkandung di udara bervariasi tergantung cuaca dan suhu (Gertrudis, 2010).
Persyaratan kesehatan untuk kelembaban di lingkungan industri adalah berkisar
antara 65% - 95%. Bila kelembaban udara ruang kerja > 95% perlu menggunakan alat
dehumidifier dan bila kelembaban udara ruang kerja < 65% perlu menggunakan
humidifier, misalnya mesin pembentuk aerosol (Keputusan Menteri Kesehatan RI
Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002). Persyaratan kesehatan untuk kelembaban di

23

rumah adalah berkisar antara 40 - 60% (Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor :


No.1077/MENKES/PER/V/2011). Menurut Mudehir (2002) terdapat hubungan
antara kelembaban dengan kejadian ISPA pada balita. kelembaban dalam rumah
dapat dipengaruhi oleh konstruksi rumah yang tidak baik, ventilasi yang kurang, serta
pencahayaan yang minim. Pada penelitian Lindawaty (2010) resiko antara
kelembapan rumah balita terhadap kejadian ISPA didapatkan bahwa rumah yang
dengan kelembaban tidak memenuhi syarat beresiko 2,98 kali lebih besar bagi balita
terkena ISPA dibanding dengan rumah balita yang memenuhi syarat. Kelembaban
dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti lingkungan rumah yang tidak memenuhi
syarat atau oleh cuaca. Pada musim hujan kelembaban akan meningkat namun bila
kondisi rumah baik seperti cahaya matahari dapat masuk, tidak terdapat genangan air,
ventilasi udara yang cukup dapat mempertahankan kelembaban dalam rumah
(Lindawaty, 2010)
e. Suhu
Suhu sangat berhubungan dengan kenyamanan dalam ruangan. Suhu rumah
yang tinggi menyebabkan tubuh akan kehilangan garam sehingga akan terjadi kejang
atau kram dan terjadinya perubahan metabolisme dan sirkulasi darah. Suhu dapat
mempengaruhi konsentrasi pencemar udara tergantung pada keadaan cuaca tertentu.
Suhu udara dalam rumah dapat berubah jika terjadi beberapa faktor seperti
penggunaan bahan bakar, ventilasi tidak bagus, kepadatan hunian, kondisi
topografi/geografis (Aprinda, 2007). Hasil Penelitian Fanji (2006) yang mengatakan

24

bahwa rumah dengan suhu tidak memenuhi syarat beresiko 36,49 kali menderita
ISPA dibanding dengan rumah yang suhu udaranya memenuhi syarat.
f. Letak dapur
Dapur berfungsi sebagai tempat terjadinya pembakaran bahan bakar untuk
memasak dan timbul panas, asap, atau debu sehingga dapur mempengaruhi kualitas
udara dalam rumah. Penataan ruangan dalam rumah harus memperhatikan letak posisi
dapur karena jika letak dapur berdekatan dengan ruang istirahat anak/ kamar anak
akan mempengaruhi kesehatan anak. Hal ini sesuai dengan penelitian Citra (2012)
yang menyatakaan bahwa balita yang tinggal didalam rumah dengan letak dapur
menyatu/berada didalam rumah mempunyai resiko menderita pneumonia 5,2 kali
dibandingkan dengan balita dengan letak dapur terpisah. dan diperburuk dengan
ventilasi yang tidak baik akan menyebabkan terjadinya gangguan saluran pernafasan
dan gangguan penglihatan (Lindawaty, 2003).
g. Jenis Lantai
Lantai merupakan media yang sangat baik bagi perkembang biakan bakteri.
Lantai yang baik adalah lantai yang dalam kondisi kering dan tidak lembab dan harus
kedap air sehingga mudah dibersihkan. Jadi lantai seharusnya sudah diplester bahkan
lebih baik lagi jika sudah di beri ubin/keramik. Menurut Ditjen PPM dan PL, 2002
rumah yang mempunyai lantai yang terbuat dari tanah cenderung menimbulkan
lembab, dan pada musim panas lantai menjadi kering sehingga dapat menimbulkan

25

debu yang berbahaya bagi penghuni rumah. Rumah sehat memiliki lantai yang
terbuat dari marmer, ubin, keramik, sudah diplester semen (Keputusan Menteri
Kesehatan RI Nomor 1077/MENKES/PER/V/2011). Sehingga indikator lantai rumah
yang tidak sehat mempunyai lantai yang berjenis lainya. Hasil uji statistik pada
penelitian Lindawaty, 2010 menunjukkan bahwa jenis lantai yang tidak memenuhi
syarat beresiko 2,15 kali lebih besar bagi balita terkena ISPA dibanding dengan balita
yang jenis lantainya memenuhi syarat.
h. Jenis Dinding
Dinding berfungsi sebagai pelindung rumah yang terbuat dari berbagai bahan
seperti bambu, triplek, batu bata, dan dari berbagai bahan tersebut yang paling baik
yaitu yang terbuat dari batu bata atau tembok. Dinding yang terbuat dari tembok
bersifat permanen, tidak mudah terbakar dan kedap air. Rumah yang menggunakan
dinding berlapis kayu, bambu akan menyebabkan udara masuk lebih mudah yang
membawa debu-debu ke dalam rumah sehingga dapat membahayakan penghuni
rumah bila terhirup terus-menerus terutama balita. Balita yang jenis dindingnya masih
terbuat dari bahan yang tidak permanen seperti triplek, bambu, batu bata beresiko
1,51 kali lebih besar bagi balita terkena ISPA ( Lindawaty, 2010).
2.3.2

Faktor Sosial-Ekonomi

a. Pendidikan orang tua


Pendidikan ibu berpengaruh terhadap informasi yang diterima mengenai
kesehatan anak. Ibu dengan pendidikan tinggi akan menerima segala informasi

26

dengan mudah mengenai cara memelihara dan menjaga kesehatan anak serta gizi
yang baik untuk anak. Berdasarkan pengaruh terhadap kesehatan dan prilaku
seseorang peran pendidikan juga berpengaruh terhadap lingkungan, pelayanan
kesehatan dan juga heriditas (Achmadi, 2008).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Citra (2011) dan Suptiaptini (2007)
menyatakan bahwa ada hubungan antara pendidikan yang berkaitan dengan
pengetahuan ibu terhadap ISPA pada balita. Ibu yang berpendidikan rendah (<SMA)
cenderung tidak mengetahui gejala-gejala ISPA yang dialami oleh balita dan
menganggap hal tersebut tidak terlalu berbahaya. Namun, menurut Fitri (2004) tidak
ada hubungan antara pendidikan orang tua dengan kejadian ISPA pada balita. Baik
pendidikan tinggi maupun rendah hampir sama dalam menanggapi dan merespons
serta mengambil tindakan ketika salah satu keluarga mengalami ISPA atau penyakit
lain.
b. Penghasilan orang tua
Penghasilan orang tua mempengaruhi asupan makanan yang diterima dan
pemerikasaan balita ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan. Orang tua yang
berpenghasilan rendah cenderung jarang memikirkan mengenai kesehatan karena
biaya yang mahal. Selain itu asupan gizi yang diberikan pada balita tidak sesuai
dengan kebutuhan gizi yang seharusnya didapatkan oleh

balita. Hal ini akan

berpengaruh terhadap gizi balita yang cenderung menurun dan imnitas yang tidakk

27

terbentuk menyebabkan balita mudah terkena penyakit salah satunya penyakit saluran
pernafasan atau ISPA.
2.3.3

Faktor Individu/Balita

a. Umur Balita
Umur yang paling rawan adalah masa balita, oleh karena pada masa itu anak
mudah sakit. Umur bayi kurang dari 1 tahun lebih cenderung mudah terkena ISPA
dibanding dengan balita umur lebih dari 1 tahun (DepKes, 2000). Untuk keperluan
perbandingan maka WHO menganjurkan pembagian umur menurut tingkat
kedewasaan, interval lima tahun dan untuk mempelajari penyakit anak (Notoatmodjo,
2003).
b. Status Gizi Balita
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi
secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan,
metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan
kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan
energi. Seorang anak yang kekurangan gizi akan mengakibatkan terjadinya defisiensi
gizi yang merupakan awalan dari gangguan sistem kekebalan tubuh.
Penilaian status gizi dilakukan menggunakan antropometri yakni : berat badan
menurut umur (weight-for-age), panjang badan menurut umur (height-for-age), berat
badan menurut tinggi badan (weight-for-height), lingkar lengan atas kiri (left midupper arm circumference). Masing-masing indikator itu memberikan penjelasan

28

tentang status gizi bayi dan anak-anak. Indikator protein-Energy Malnutrition (PEM)
yang paling sering dipakai adalah berat badan menurut umur. Nilai rendah angka
indikator berat badan menurut umur mencerminkan terjadinya adaptasi anak terhadap
gangguann gizi jangka panjang dan jangka pendek. Defisit pertumbuhan linier yang
diindikasikan ukuran antropometri tinggi badan menurut umur baru akan terjelma
manakala defisiensi telah berlangsung lama sehingga tidak termanifestasi semasa bayi
(DepKes, 2002). Balita yang mengalami kekurangan gizi akan berpengaruh terhadap
kekuatan daya tahan tubuh dan respons imunologis terhadap penyakit dan keracunan
(Soemirat, 2000). Pada hasil penelitian yang dilakukan Gertrudis, 2010 diperoleh
bahwa balita beresiko 2,5 kali lebih besar mengalami ISPA dengan status gizi kurang
karena daya tahan tubuh akan berbagai virus lemah. Pada keadaan balita mengalami
gizi kurang, balita cenderung mengalami ISPA berat dan seranganya lebih lama (
DepKes RI, 2006). Sebaliknya, menurut penelitian yang dilakukan oleh Muhedir
(2002), dan Irianto (2004) mengatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara status
gizi balita dengan kejadian ISPA. Menurut Almatsler (2003), timbulnya gizi kurang
tidak hanya dikarenakan karena asupan makanan yang kurang, tetapi juga penyakit.
Anak yang mendapatkan cukup makanan tetapi sering menderita sakit, pada akhirnya
dapat menderita gizi kurang. Demikian pula pada anak yang tidak memperoleh cukup
makanan, maka daya tahan tubuhnya akan melemah sehingga mudah terserang
penyakit.

29

c. Imunisasi Balita
Imunisasi pada balita diberikan untuk menjaga kesehatan balita dimana
cenderung mudah terkena berbagai macam penyakit. Pemberian imunisasi dimulai
sejak lahir hingga umur 5 tahun (Depkes, 2005). Terdapat 2 imunisasi, yaitu
imunisasi aktif adalah dimana tubuh anak sendiri yang membuat zat anti yanhg akan
bertahan selama bertahun-tahun. Dan imunisasi pasif adalah tubuh anak tidak
membuat sendiri zat anti, tetapi didapatkan dari luar tubuh dengan cara penyuntikan
zat anti dari ibunya semasa dalam kandungan (Mudehir, 2002). Pemberian imunisasi
bertujuan untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat beberapa penyakit
yakni TBC, Difteri tetanus, Batuk rejan, Poliomelitis, Tifus, Campak, Hepatitis B dan
demam kuning (Nur, 2004). Menurut hasil penelitian Wattiimena (2004) anak yang
imunisasi belum lengkap mempunyai resiko 1,18 kali lebih besar untuk terkena ISPA
dibandingkan dengan anak yang telah di imunisasi campak atau pernah menderita
campak. Dengan imunisasi campak dan imunisasi pertusis (DPT) yang efektif sekitar
11% dan 6% kematian penumonia balita dapat dicegah. Infeksi virus campak pada
saluran pernafasan dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada mukosa. Pada
umumnya komplikasi penyakit campak dapat menyebabkan terjadinya diare kronis
dan pneumonia. Oleh karena itu, berikut beberapa vaksin yang harus dilengkapi bagi
anak untuk menghindari berbagai penyakit yakni :

30

a) Vaksinasi BCG

Vaksinasi BCG diberikan pada bayi umur 0-12 bulan secara suntikan intrakutan
dengan dosis 0,05 ml. Vaksinasi BCG dinyatakan berhasil apabila terjadi tuberkulin
konversi pada tempat suntikan. Ada tidaknya tuberkulin konversi tergantung pada
potensi vaksin dan dosis yang tepat serta cara penyuntikan yang benar. Kelebihan
dosis dan suntikan yang terlalu dalam akan menyebabkan terjadinya abses ditempat
suntikan. Untuk menjaga potensinya, vaksin BCG harus disimpan pada suhu 20C
(Depkes RI, 2005).

b) Vaksinasi DPT

Kekebalan terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus adalah dengan


pemberian vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan toksoid tetanus yang telah
dimurnikan ditambah dengan bakteri bortella pertusis yang telah dimatikan. Dosis
penyuntikan 0,5 ml diberikan secara subkutan atau intramuscular pada bayi yang
berumur 2-12 bulan sebanyak 3 kali dengan interval 4 minggu. Reaksi spesifik yang
timbul setelah penyuntikan tidak ada. Gejala biasanya demam ringan dan reaksi lokal
tempat penyuntikan. Bila ada reaksi yang berlebihan seperti suhu yang terlalu tinggi,
kejang, kesadaran menurun, menangis yang berkepanjangan lebih dari 3 jam,
hendaknya pemberian vaksin DPT diganti dengan DT. (Depkes RI, 2005).

31

c) Vaksinasi Polio

Untuk kekebalan terhadap poliomyelitis diberikan 2 tetes vaksin polio oral yang
mengandung virus polio tipe 1, 2 dan 3 dari suku Sabin. Vaksin yang diberikan
melalui mulut pada bayi umur 2-12 bulan sebanyak 4 kali dengan jarak waktu
pemberian 4 minggu (Depkes RI, 2005)

d) Vaksinasi Campak

Vaksin yang diberikan berisi virus campak yang sudah dilemahkan dan dalam
bentuk bubuk kering atau freeseried yang harus dilarutkan dengan bahan pelarut yang
telah tersedia sebelum digunakan. Suntikan ini diberikan secara subkutan dengan
dosis 0,5 ml pada anak umur 9-12 bulan. Dinegara berkembang imunisasi campak
dianjurkan diberikan lebih awal dengan maksud memberikan kekebalan sedini
mungkin, sebelum terkena infeksi virus campak secara alami. Pemberian imunisasi
lebih awal rupanya terbentur oleh adanya zat anti kebal bawaan yang berasal dari ibu
(maternal antibodi), ternyata dapat menghambat terbentuknya zat kebal campak
dalam tubuh anak, sehingga imunisasi ulangan masih diberikan 4-6 bulan kemudian.
Maka untuk Indonesia vaksin campak diberikan mulai anak berumur 9 bulan (Depkes
RI, 2005).

Berdasarkan beberapa penelitian yang dillakukan oleh Lindawaty (2010) dalam


melihat hubungan faktor individu (status gizi dan status imunisasi) menunjukkan

32

adanya hubungan bermakna antara status gizi dengan kejadian ISPA pada Balita
dimana balita dengan status gizi kurang mempunyai resiko 2,5 kali untuk mengalami
kejadian ISPA dibanding dengan status gizi baik. Hal ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan Mudehir (2002), Wattimena (2002), Kristina (2011) bahwa ada
hubungan status gizi terhadap ISPA pada balita. Balita yang mempunyai status gizi
yang kurang mudah terserang oleh bakteri, virus yang masuk melalui saluran
pernafasan dan menyebabkan gangguan pernafasan pada balita salah satunya ISPA.
d. Pemberian ASI
ASI merupakan makanan utama bagi bayi yang bersifat alamiah. ASI
mengandung bebagai zat gizi yang dibutuhkan dalam proses perkembangan dan
pertumbuhan bayi serta mengandung antibodi yang dapat membantu bayi
membangun sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai macam sumber penyakit.
Manfaat yang dapat diberikan dari pemberian ASI eksklusif pada bayi yaitu dapat
melindungi bayi dari penyakit diare, infeksi pernafasan, kegemukan, infeksi kandung
kemih, infeksi telinga dan lainya (Sinaga, 2012).
ASI mengandung Immunoglobulin yang dapat mencegah bayi dari penyakit
infeksi dan mengandung rangkaian asam lemak tak jenuh yang sangat penting bagi
pertumbuhan dan perkembangan anak. Selain praktis, ASI juga mudah dicerna, bersih
dan aman bagi bayi. Pada penelitian Rahayu, 2011 terdapat hubungan antara bayi
yang tidak mendapatkan ASI eksklusif dengan kejadian ISPA pada balita. Hasil studi
yang menunjukkan bahwa ASI merupakan faktor protektif terhadap kejadian ISPA

33

yaitu pada penelitian Sinaga (2012) yang mengatakan bahwa ASI memiliki daya
protektif terhadap kejadian ISPA pada bayi umur 0-4 bulan.
2.3.4 Faktor Perilaku
Pencemaran udara dalam rumah terjadi akibat adanya polutan dalam rumah
yang konsentrasinya dapat beresiko menimbulkan gangguan kesehatan penghuni
rumah (DepKes RI, 2011). Pencemaran udara dalam rumah terjadi akibat prilaku
penghuni rumah yang tidak sehat. Faktor perilaku dalam pencegahan dan
penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balita lebih efektif dilakukan oleh
keluarga baik yang dilakukan oleh ibu atau keluarga yang tinggal dalam satu rumah.
Keluarga sangat mempengaruhi munculnya penyakit didalam rumah. Bila salah satu
keluarga mengalami gangguan kesehatan yang bersifat menular maka akan
mempengaruhi anggota keluarga lainya.
Peran keluarga sangat penting dalam menangani ISPA karena penyakit ISPA
termasuk dalam penyakit yang sering diderita sehari-hari didalam keluarga/
masyarakat. Hal ini menjadi fokus perhatian keluarga karena penyakit ISPA sangat
sering diderita oleh balita, sehingga ibu balita dan anggota keluarga uang sebagian
besar dekat dengan balita harus mengetahui gejala-gejala balita terkena ISPA. Dalam
penanganan ISPA tingkat keluarga keseluruhanya dapat dogolongkan menjadi 3(tiga)
kategori yaitu perawatan oleh ibu balita, tindakan yang segera dan pengamatan
tentang perkembangan penyakit balita, pencarian pertolongan pada pelayanan
kesehatan. Sebagian besar keluarga tidak mengetahui dari kebiasaan yang sering

34

dilakukan dapat menimbulkan pencemaran udara dalam rumah dan berpengaruh


terhadao kesehatan balita seperti :
a. Kebiasaan merokok
Merokok merupakan kebiasaan yang sering dilakukan oleh penghuni rumah
terutama oleh bapak-bapak. Cenderung bapak-bapak merokok didalam rumah sambil
istirahat seperti menonton tv, membaca koran dan sebagainya. Asap rokok yang
dikeluarkan adalah gas beracun dari hasil pembakaran produk tembakau yang biasa
mengandung Poliyclinic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) yang berbahaya bagi
kesehatan (DepKes RI, 2011). Asap rokok yang di keluarkan oleh seorang perokok
mengandung bahan toksik yang berbahaya dan akan menimbulkan penyakit serta
menambah resiko kesakitan dari bahan toksik tersebut (Kusnoputranto, 2000). Dari
hasil penelitian Citra (2012) mengemukakan bahwa perokok pasiflah yang
mengalami resiko lebih besar daripada perokok aktif. Anak-anak yang keluarganya
terdapat perokok lebih rentan terkena penyakit gangguan pernafasan dibanding
dengan anak-anak yang bukan keluarga perokok. Pada hasil uji statistik penelitian
Lindawaty (2010) menyatakan bahwa balita yang tinggal bersama penguni yang
merokok beresiko 2,04 kali lebih besar terkena ISPA dibanding dengan balita yang
tidak terdapat penghuni rumah yang merokok. Oleh karena itu untuk melindungi
bayi/anak-anak dari asap rokok perlu diusahakan untuk tidak merokok didalam
rumah, atau menyediakan tempat khusus bagi keluarga yang merokok supaya asap
tidak tersebar ke ruangan lain didalam rumah.

35

Asap rokok dari seseorang yang merokok dalam rumah, tidak saja merupakan
bahan pencemaran dalam ruang yang serius melainkan juga akan menyebabkan
kesakitan dari toksik yang lain dan anak-anak yang terpapar asap rokok dapat
menimbulkan gangguan pernapasan terutama memperberat timbulnya Infeksi Saluran
Pernapaasan Akut dan gangguan paru-paru pada waktu dewasa nanti ( Avrianto,
2006). Menurut penelitian Wattimena (2004) bahwa rumah yang penghuninya
mempunyai kebiasaan merokok di dalam rumah berpeluang meningkatkan kejadian
ISPA pada balita 7,83 kali dibandingkan dengan rumah balita yang penghuninya
tidak merokok.
b. Bahan bakar memasak
Di zaman yang semakin berkembang , bahan bakar memasak beraneka ragam
mulai dari penggunaan minyak tanah, gas, atau listrik. Saat ini penggunaan kayu
sudah sangat jarang ditemukan di kota-kota besar di Indonesia. Masyarakat yang
masih menggunakan bahan bakar selain gas cenderung takut dikarenakan ledakan gas
yang sering terjadi sehingga memilih bahan bakar yang aman seperti minyak tanah
dan kayu bakar bagi pedesaan. Namun akibat penggunaan bahan bakar tersebut, dapat
menyebabkan resiko terjadinya pencemaran udara hasil pembakaran didalam rumah.
Keadaan tersebut diperburuk dengan tidak adanya ventilasi dalam rumah sehingga
asap sisa pembakaran atau debu yang dihasilkan tidak keluar melainkan mengendap
didalam rumah (DepkKes RI, 2011). Partikel debu yang dihasilkan dari pembakaran
tersebut mengandung unsur-unsur kimia, seperti timbal, besi, mangan, arsen,

36

cadmium dimana jika terhirup atau masuk langsung ke pernafasan dapat menempel
diparu-paru. Paparan partikel dengan kadar yang tinggi akan menimbulkan edema
pada trachea, bronchus, dan bronchiolus.
Hasil Cahya (2011) menyatakan bahwa pencemaran udara akibat penggunaan
bahan bakar dimungkinkan berperan walaupun kecil. Rumah dengan bahan bakar
minyak tanah memberikan kesempatan 3,8 kali lebih besar balita terkena ISPA
dibandingkan dengan bahan bakar gas.
c. Penggunaan obat nyamuk.
Pengendalian dan pemberantasan nyamuk dalam rumah sebagaian masyarakat
cenderung menggunakan obat nyamuk yang terbuat dari bahan insektisida yang
disemprot dan obat nyamuk bakar. Semakin maraknya merk-merk obat penghilang
nyamuk didalam rumah untuk mengusir vektor nyamuk. Terpengaruhnya masyarakat
dengan berbagai merk obat nyamuk membuat konsumsi akan obat nyamuk hampir
disetiap rumah warga. Walaupun tujuan dari obat nyamuk tersebut baik, namun
terdapat dampak yang harus diperhatikan oleh penguni rumah. Obat nyamuk
mengandung bahan-bahan kimia yang sulit terurai dalam waktu cepat. Jika obat
nyamuk itu mengendap setiap hari di bantal-atau tempat tidur manusia dan terhirup
akan berdampak pada gangguan kesehatan baik bersifat kronik ataupun akut.
Sehingga perlu diperhatikan intensitas penggunaan obat nyamuk tersebut.

37

Hasil Penelitian Safwan (2003) yang menyatakan bahwa balita yang tingga
didalam rumah yang menggunakan bahan bakar minyak tanah atau kayu berpeluang
menderita ISPA sebanyak 2,235 kali lebih tinggi dibanding dengan balita yang
tinggal didalam rumah yang menggunakan bahan bakar gas. Selain itu,menurut
Wattimena (2004) mengatakan bahwa ada hubungan antara kebiasaan merokok dalam
rumah terhadap ISPA pada balita. Rumah yang penghuninya mempunyai kebiasaan
merokok dalam rumah berpeluang meningkatkan kejadian ISPA pada balita sebsar
7,83 kali dibandingkan dengan rumah balita yang penghuninya tidak merokok
didalam rumah.

38

2.4 Kerangka Teori

Faktor Perilaku :
a. Kebiasaan merokok

Faktor Lingkungan

b. Bahan bakar masak


a. Rumah :

Kepadatan Hunian

Ventilasi udara

Pencahayaan rumah

Kelembapan

Suhu dalam ruang

Letak dapur

Lantai rumah

Dinding rumah

c. Penggunaan obat nyamuk.

INFEKSI SALURAN
PERNAFASAN AKUT(ISPA)

Faktor Individu Balita :


b. Sosial-Ekonomi

a. Umur Balita

a. Pendidikan orang tua

b. Status Gizi Balita

b. Pekerjaan orang tua

c. Imunisasi Balita
d. Pemberian ASI

Bagan 2.1
Kerangka Teori

Sumber : Modifikasi Hendrik L.Blum dalam Notoatmodjo (2003); Depkes RI,


(2004); World Bank (2006) dan peneliti lain.

39

BAB III
KERANGAKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL
DAN HIPOTESIS

.3.1 KERANGKA KONSEP


Berdasarkan kerangka teori yang ada, dalam studi ini peneliti ingin melihat hubungan
faktor pelayanan kesehatan/individu balita, lingkungan fisik rumah, faktor perilaku dan faktor
sosial terhadap ISPA pada balita. Berdasarkan teori H.L Blum derajat kesehatan sesorang
dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni pelayanan kesehatan genetik, lingkungan dan perilaku.
Variabel yang diambil dari keempat faktor tersebut adalah variabel yang paling berhubungan
atau signifikan yang dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya yakni status gizi, pemberian
ASI ekslusif menurut Mudehir (2002); kepadatan hunian, kelembapan ,ventilasi menurut Cahya
(2011) ; kebiasaan merokok berhubungan dengan polusi udara dalam rumah menurut Avrianto
(2006); kemudian pendidikan orang tua terkait pengetahuan yang didapat megenai penyakit
ISPA dan cara penanggualnganya penyakit pada anak. Oleh karena itu, peneliti mengambil
beberapa variabel independen tersebut berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang
menunjukkan bahwa ada hubungan masing-masing variabel dengan kejadian ISPA pada balita.

40

Bagan 3.1
Kerangka Konsep
Faktor individu balita :

Status gizi

Pemberian ASI
eksklusif

Faktor Lingkungan dalam


Rumah :

Kepadatan Hunian
Rumah

Ventilasi rumah

Kelembaban udara

ISPA
Faktor Perilaku :

Kebiasaan merokok

Faktor Sosial:

Pendidikan orang tua

41

3.2 DEFINISI OPERASIONAL


Variabel Dependen
No

Variabel

Definisi

Cara Ukur

Alat Ukur

1.

ISPA pada

Balita yang mengalami gangguan wawancara kuisioner

Balita

penyakit infeks saluran pernafasan

Skala Ukur

Kategori

Ordinal

0= Mengalami ISPA
1=Tidak Mengalami ISPA

akut atas pada anak berusia 1-5 tahun


(Depkes RI, 2007)
Variabel Independen
1.

Kelembaban

Persentase kandungan uap air udara Pengu-

Hygrometer

Ordinal

0=Tidak memenuhi syarat (TMS), jika

dalam ruangan tempat balita tidur kuran

kelembaban dalam ruang kelas <40%atau

(Keputusan Menteri Kesehatan RI

>60% (DepKes RI, 2011)

Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999)

1=Memenuhi syarat (MS), jika


kelembaban dalam ruang kelas 40-60%
(Permenkes RI
No.1077/MENKES/PER/V/2011)

2.

Kepadatan

Perbandingan luas lantai rumah(m2 ) Pengu-

Kuisioner dan

hunian rumah

dengan

rollmeter

jumlah

orang

rumah. (Kepmenkes,1999)

penghuni kuran dan


wawancara

42

Ordinal

0=Tidak memenuhi syarat(TMS)


(10m2/orang)
1=Memenuhi syarat(MS) (.>10m2 /orang)

3.

Ventilasi

Perbandingan

luas

lantai

kamar Observasi

rollmeter

Ordinal

0=Tidak memenuhi syarat (TMS), jika

dengan luas jendela dan lubang angin dan

luas ventilasi<10% dari luas lantai

kamar balita dan lubang angin yang pengukuran

1=Memenuhi syarat (MS), jika luas

dapat menghubungkan udara dalam

ventilasi10% dari luas lantai

rumah dengan udara luar di ruangan


tidur balita .(Kepmenkes,1999).
4

Status Gizi

Keadaan gizi anak balita saat

Wawancar,

Timbangan

dilakukan penelitian diukur

pengukuran

dan daftar

berdasarkanBB/U.

Ordinal

0= Gizi Kurang(-3,0 SD s/d -2SD)


1= Gizi Baik (-2,0 SD s/d +3SD)

pertanyaan

(1995/MENKES/SK/XII/2010)
5.

6.

Kebiasaan

Ada atau tidaknya anggota keluarga Wawancara

Daftar

merokok

yang merokok didalam rumah.

pertanyaan

Pendidikan

Pendidikan

orang tua

diselesaikan orang tua.

formal

yang

sudah Wawancara

Daftar

Ordinal

O= Ada
1= Tidak

Ordinal

pertanyaan

0=Rendah ( Tidak Sekolah, Tamat SD,


SMP, SMA)
1=Tinggi ( Tamat D3, Sarjana)

7.

Pemberian Asi Pemberian Asi yang dilakukan oleh Wawancara

Daftar

Ekslusif

pertanyaan

ibu selama kurun waktu 6 bulan


tanpa disertai makanan tambahan.

43

Ordinal

0= Tidak ( kurang dari 6 bulan)


1= Ya (6 bulan atau lebih)

3.3 HIPOTESIS
1. Ada hubungan antara ventilasi terhadap ISPA di Kelurahan Ciputat, Kota
Tangerang Selatan tahun 2013.
2. Ada hubungan antara kepadatan hunian terhadap ISPA pada balita di
Kelurahan Ciputat Kota Tangerang Selatan tahun 2013..
3. Ada hubungan antara kelembaban terhadap ISPA pada balita di Kelurahan
Ciputat Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
4. Ada hubungan status gizi terhadap ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat
Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
5. Ada hubungan pemberian ASI ekslusif terhadap ISPA pada balita di
Kelurahan Ciputat Kota Tangerang Selatan tahunn 2013.
6. Ada hubungan kebiasaan merokok terhadap ISPA pada balita di Kelurahan
Ciputat Kota Tangerang Selatan tahun 2013.
7. Ada hubungan pendidikan orang tua terhadap ISPA pada balita di Kelurahan
Ciputat Kota Tangerang Selatan tahun 2013.

44

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian


Metode penelitian yang digunakan yaitu survei analitik atau penelitian yang
mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi.
Kemudian melakukan analisis dinamika korelasi antara fenomena/ faktor resiko
dengan efek atau akibat dari adanya faktor resiko. Faktor resiko adalah faktor-faktor
yang mengakibatkan terjadinya efek (pengaruh). Dalam penelitian ini, faktor resiko
yang disebut sebagai variabel independen meliputi kebiasaan merokok, status gizi,
pemberian asi ekslusif dan status imunisasi, kepadatan hunian, ventilasi rumah,
kelembapan dan pendidikan orang tua. Penelitian ini menggunakan pendekatan Cross
Sectional yaitu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor
resiko dan efek dengan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat/
point time (Notoatmodjo, 2010).
4.2 Populasi dan Sampel
4.2.1 Populasi
Populasi pada studi ini adalah semua balita dengan umur 1-5 tahun yang
berada di kelurahan Ciputat periode bulan Agustus tahun 2013 dengan responden ibu
balita.
45

4.2.2 Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah anak balita yang berumur 1-5 tahun yang
melakukan pemeriksaan ke Posyandu bulan terakhir yakni Juli/Agustus yang ada
dikelurahan Ciputat. Perhitungan jumlah sampel balita yang akan diambil diperoleh
dengan rumus besar sampel menurut Lemeshow (1997) dengan menggunakan rumus
uji hipotesis beda dua proporsi, yaitu :

Keterangan :
n

: Jumlah sampel minimal yang diperlukan

P1

: Proporsi variabel kebiasaan merokok didalam rumah balita yang


mengalami ISPA sebesar 61% ( Irianto, 2006)

P2

: Proporsi variabel kebiasaan tidak merokok didalam rumah balita


yang mengalami ISPA sebesar 34,6% (Irianto, 2006)

: Rata-rata proporsi

Z1-/2 : Derajat kemaknaan pada dua sisi (two tail) yaitu sebesar 5%=1,96
Z1-

: Kekuatan uji 1- yaitu sebesar 80%=0,84


Tabel 4.2.3 Hasil Perhitungan Sampel

Variabel
Kelembapan
P1: Tidak Memenuhi Syarat
P2: Memenuhi Syarat

P1
0,778

P2
0,271

46

(%)
5
10
1

(%)
80

N
12
9
19

(Fidiani,2006)

5
90
16
10
12
1
24
Status Gizi
0,821
0,435
5
80
18
P1: Gizi Kurang
10
13
P2: Gizi Baik
1
30
(Wattimena,2004)
5
90
38
10
19
1
25
Ventilasi
0,714
0,353
5
80
23
P1: Tidak Memenuhi Syarat
10
17
P2:Memenuhi Syarat
1
37
(Wattimena,2004)
5
90
31
10
24
1
48
Kebiasaan Merokok
0,602
0,341
5
80
44
P1: Ada
10
32
P2:Tidak Ada
1
71
(Irianto,2006)
5
90
60
10
46
1
91
Berdasarkan hasil perhitungan sampel pada tabel diatas, jumlah sampel yang
akan diambil adalah yang paling besar yakni 44 orang (P1: kebiasaan merokok
didalam rumah balita yang mengalami ISPA dan P2: Proporsi kebiasaan tidak
merokok didalam rumah balita yang mengalami ISPA) pada : 5% dan : 80%).
Dari hasil tersebut kemudian dilakukan perhitungan sampel minimal dengan
menggunakan perbandingan dari hasil Lindawaty, 2003 yaitu hasil dari responden
yang tidak mengalami ISPA sebesar 49,7% :
44 =
N=
N = 88 balita

47

Jadi total keseluruhan sampel yang akan diambil yaitu 88 balita di seluruh
kelurahan Ciputat.
4.2 Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan di Kelurahan Ciputat dengan data Posyandu di
masing-masing RW terhadap responden ibu balita dengan tahapan sbb :
1. Jumlah balita (populasi balita) diambil dari 13 RW dengan data posyandu
di Kelurahan Ciputat.
2. Balita tercatat melakukan pemeriksaan di Posyandu terakhir pada bulan
Agustus 2013.
3. Sampel diambil dengan membagi jumlah populasi dengan jumlah sampel
untuk mendapatkan interval sampel. Interval yang didapat yakni 6. Jadi
dihitung dari no.1 populasi sampai no.6 dijadikan nomor sampel 1
seterusnya dilakukan sampai nomor urut sampel 88.
4.3 Jenis Data
Berdasarkan sumbernya, data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1.

Data primer adalah data yang dikumpulkan peneliti yang diperoleh secara
langsung dari responden ibu balita berupa kuisioner dengan melakukan
wawancara.

2.

Data sekunder yaitu data yang bersumber dari instansi (pihak tertentu) melalui
data Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, Data Puskesmas Ciputat, Data
Kelurahan, Data Posyandu.

48

4.4 Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian akan dilakukan di Kelurahan Ciputat Kota Tangerang Selatan dari
bulan Agustus-September 2013 mulai dari tahap pengumpulan sampai laporan hasil.
4.5 Pengumpulan Data
Pengumpulan data masing-masing variabel dilakukan dengan beberapa cara
yakni:
1. Kelembapan dengan hygrometer.
2. Ratio ventilasi menggunakan rollmeter
3. Kepadatan Hunian rumah dengan meteran dan daftar pertanyaan.
4. Kebiasaan merokok dengan wawancara.
6. Status Gizi balita berdasarkan BB/U
7. Pendidikan dengan kusioner.
8. ISPA dengan kusioner.
4.6 Pengolahan Data
Semua data yang telah terkumpul baik data primer maupun data sekunder akan
diolah melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1. Variabel yang sudah dikategorikan sesuai dengan definisi operasional,
diinput kedalam SPSS untuk dilakukan pengolahan data.
2. Variabel dependen dan independen dipindahkan didalam variabel view dan
kemudian pindah ke data view untuk menginput hasil pengkategorikan
(0/1).

49

3. Setelah semua hasil dimasukan, kemudian lakukan analisis univariat untuk


mengetahui frekuensi masing-masing variabel dengan cara Klik Analyze,
pilih Descriptive Statistics, pilih Frequencies . Kemudian masukan satu
persatu variabel yang akan dilihat kemudian akan muncul di output spss.
4. Setelah melakukan analisis univariat, kemudian lakukan analisis bivariat
dengan uji chi-square untuk melihat hubungan variabel independen dengan
variabel dependen dengan cara Klik Analyze, Pilih Descriptive Statistics,
Pilih Crosstab .Kemudian masukan satu persatu di kolom independen
variabel yang akan dilihat dengan variabel dependen ISPA.
4.7 Analisa Data
1. Analisis Univariat
Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan karakteristik masingmasing variabel dependen dan independen. Mengingat pada penelitian ini
menggunakan data kategorik maka hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel
distribusi frekuensi.
2. Analisis Bivariat
Tujuan analisis bivariat dalam penelitian ini adalah untuk melihat hubungan
faktor lingkungan fisik rumah, faktor individu balita, faktor prilaku, faktor sosial
sebagai variabel independen terhadap ISPA pada balita. Uji yang digunakan yaitu
Chi-Square , dengan nilai tingkat kemaknaan adalah 5%.
Apabila nilai p< maka hasilnya bermakna secara statistik atau terdapat
hubungan antara variabel dependen dengan independen ,sedangkan bila nilai p>
50

maka hasilnya tidak bermakna atau tidak terdapat hubungan antara variabel
independen dengan dependen.

51

BAB V
HASIL PENELITIAN

5.1 Gambaran Umum Kelurahan Ciputat


Kelurahan Ciputat merupakan salah satu Kelurahan yang berada di Kecamatan
Ciputat Kota Tangerang Selatan. Luas wilayah Kelurahan Ciputat 183,34 Ha/km2
dengan kondisi geografis penuh dengan pemukiman masyarakat. Adapun batas
wilayah Kelurahan Ciputat adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara

: Kelurahan Sawah Lama

Sebelah Selatan

: Kelurahan Pondok Cabe Ilir

Sebelah Barat

: Kelurahan Kedaung & Kelurahan Pamulang Timur

Sebelah Timur

: Kelurahan Cempaka Putih/Kelurahan Cipayung

Jumlah Penduduk di Kelurahan Ciputat yang dibagi berdasarkan jenis kelamin


yakni laki-laki sebanyak 9.780 jiwa dan perempuan sebanyak 9.100 jiwa dengan
jumlah total yakni 18.880 jiwa. Jumlah RW dikelurahan Ciputat sebanyak 15RW,
55RT, dan 4.718 KK . Berdasarkan jenis pekerjaan sebagaian besar penduduk di
Kelurahan Ciputat bekerja sebagai karyawan swasta sebanyak 20% , dan buruh
sebanyak 16,6%.

52

5.2 Hasil Analisis Univariat


Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui gambaran frekuensi dari setiap
variabel dependen dan independen pada 88 balita yang berasal dari hasil statistik data
primer di Kelurahan Ciputat tahun 2013 sebagai berikut :
5.2.1

Gambaran Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Balita


Berdasarkan hasil yang diperoleh menunjukan presentase ISPA pada balita di

kelurahan Ciputat sebagai berikut :


Tabel 5.1
Distribusi ISPA pada Balita di Kelurahan Ciputat tahun 2013
Balita

Frekuensi

Presentase

Mengalami ISPA

45

51,1%

Tidak Mengalami ISPA

43

48,9%

Jumlah

88

100%

Pada tabel 5.1 didapat presentase balita yang mengalami ISPA sebesar 45 balita
(51,1%) dan 43balita(48,9%) tidak mengalami ISPA.
5.2.2

Gambaran Status Gizi Balita


Berdasarkan hasil yang diperoleh menunjukan presentase

balita di kelurahan Ciputat sebagai berikut :

53

status gizi pada

Tabel 5.2
Distribusi Status Gizi di Kelurahan Ciputat tahun 2013
Status Gizi

Frekuensi

Presentase

Gizi Kurang

14

15,9%

Gizi Baik

74

84,1%

Jumlah

88

100%

Pada tabel 5.2 didapatkan bahwa sebanyak 14 balita (15,9%) mengalami gizi
kurang dan 74 balita (84,1%) mengalami gizi baik.
5.2.3

Gambaran Status Imunisasi


Hasil pengolahan data status imunisasi pada balita di kelurahan Ciputat

menunjukan presentase sebagai berikut :


Tabel 5.3
Distribusi Status Imunisasi di Kelurahan Ciputat tahun 2013
Status Imunisasi

Frekuensi

Presentase

Tidak Lengkap

8%

Lengkap

81

92%

Jumlah

88

100%

Pada tabel 5.3 didapatkan bahwa

81 balita (92%)

sudah mendapatkan

imunisasi dasar lengkap yakni BCG, DPT, Polio, dan campak dan 7 balita (8%)
belum mendapatkan imunisasi lengkap.

54

5.2.4

Gambaran Asi Eksklusif

Hasil pengolahan data berikut menunjukkan presentase pemberian Asi Eksklusif


pada balita dikelurahan Ciputat sebagai berikut :
Tabel 5.4
Distribusi Pemberian Asi Eksklusif pada Balita di Kelurahan Ciputat
tahun 2013
Asi Ekslusif
Frekuensi
Presentase
Tidak

69

78,4%

Ya

19

21,6%

Jumlah

88

100%

Berdasarkan tabel 5.4 didapatkan bahwa dari 88 balita, 69 balita (78,4%) tidak
diberikan Asi Eksklusif dan 19 balita (21,6%) diberikan Asi Eksklusif.
5.2.5

Gambaran Kelembaban
Hasil perhitungan statistik menunjukkan presentase kelembaban kamar tidur

balita dikelurahan Ciputat sebagai berikut :


Tabel 5.5
Distribusi Kelembaban kamar tidur Balita di Kelurahan Ciputat
tahun 2013
Kelembaban
Frekuensi
Presentase
Tidak Memenuhi Syarat

13

14,8%

Memenuhi Syarat

75

85,2%

Jumlah

88

100%

55

Hasil penelitian pada tabel 5.5

menunjukan bahwa dari 88 kamar balita

dikelurahan Ciputat, 13 kamar balita (14,8%) memiliki kelembaban yang tidak


memenuhi syarat yakni 40% - 70% & 75 balita (85,2%) memiliki kelembaban
memenuhi syarat yakni 40% - 70%.
5.2.6

Gambaran Ventilasi
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, gambaran ventilasi rumah balita

dikelurahan Ciputat sebagai berikut :


Tabel 5.6
Distribusi Ventilasi Rumah Balita di Kelurahan Ciputat tahun 2013
Ventilasi

Frekuensi

Presentase

Tidak Memenuhi Syarat

51

58%

Memenuhi Syarat

37

42%

Jumlah

88

100%

Hasil uji statistik pada tabel 5.6 diperoleh gambaran sebesar 51 rumah balita
(58%) memiliki ventilasi yang tidak memenuhi syarat (<10% dari luas rumah) dan 37
rumah balita (42%) memiliki ventilasi yang memenuhi syarat yang ditentukan yakni
>10% dari luas tanah.
5.2.7

Gambaran Kepadatan Hunian


Dibawah ini presentase hasil perhitungan variabel kepadatan hunian di

kelurahan Ciputat sebagai berikut :

56

Tabel 5.7
Distribusi Kepadatan Hunian Rumah Balita di Kelurahan Ciputat
tahun 2013
Kepadatan Hunian

Frekuensi

Presentase

Tidak Memenuhi Syarat

58

65,9%

Memenuhi Syarat

30

34,1%

Jumlah

88

100%

Pada tabel 5.7 sebanyak 58 rumah balita (65,9%) padat penghuni/tidak


memenuhi syarat yang ditetapkan yakni <10m2/org dan 30 (34,1%) rumah balita
memenuhi syarat kepadatan hunian yakni >10m2/org.
5.2.8

Gambaran Kebiasaan Merokok


Hasil perhitungan yang dilakukan pada variabel kebiasaan merokok penghuni

rumah di kelurahan Ciputat sebagai berikut :


Tabel 5.8
Distribusi Kebiasaan Merokok Penghuni Rumah di Kelurahan Ciputat
tahun 2013
Kebiasaan Merokok

Frekuensi

Presentase

Ada

54

61,8%

Tidak Ada

34

38,6%

Jumlah

88

100%

57

Pada tabel 5.8 terlihat sebanyak 54 rumah balita (61,4%) terdapat penghuni
rumah yang merokok dan 34 rumah balita (38,6%) tidak terdapat penghuni rumah
yang merokok.
5.2.9

Gambaran Pendidikan Orang Tua


Dari hasil uji statistik yang dilakukan pada variabel pendidikan orang tua balita

di Kelurahan Ciputat sebagai berikut :


Tabel 5.9
Distribusi Pendidikan Orang Tua Balita di Kelurahan Ciputat tahun 2013
Pendidikan Orang Tua

Frekuensi

Presentase

Rendah

47

53,4%

Tinggi

41

46,6%

Jumlah

88

100%

Tabel 5.9 menunjukan sebanyak 47 orang tua balita (53,4%) berpendidikan


rendah (tidak sekolah, tamat SD, dan SMP) dan 41 orang tua balita (46,6%)
berpendidikan tinggi (lulus SMA, D3, S1).
5.2.10 Gambaran Penggunaan Bahan Bakar
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada variabel penggunaan bahan
bakar dirumah balita didapat data sebagai berikut :

58

Tabel 5.10
Distribusi Penggunaan Bahan Bakar dalam rumah Balita di Kelurahan Ciputat
tahun 2013
Bahan Bakar

Frekuensi

Persentase

Kayu/Minyak Tanah

4,5%

Gas

84

95,5%

Jumlah

88

100%

Didapat hasil perhitungan sampel pada tabel 5.10 diperoleh data sebanyak 4
rumah (4,5%) ibu balita masih menggunakan minyak tanah dan 84 rumah (95,5%)
sudah menggunakan gas untuk memasak
5.2.11 Gambaran Penggunaan Obat Nyamuk Bakar
Dibawah ini hasil persentase yang dilakukan pada variabel penggunaan obat
nyamuk bakar di rumah balita sebagai berikut :
Tabel 5.11
Distribusi Penggunaan Obat Nyamuk Bakar di Kelurahan Ciputat tahun 2013
Bahan Bakar

Frekuensi

Per sentase

Menggunakan

10,2%

Tidak Menggunakan

79

89,8%

Jumlah

88

100%

Pada tabel 5.11 diperoleh sebanyak 9 rumah (10,2%) rumah balita


menggunakan obat nyamuk bakar setiap hari dan
menggunakan obat nyamuk bakar.
59

79 rumah (89,8%) tidak

5.3 Hasil Analisis Bivariat


Analisis bivariat bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel
independen (status gizi, pemberian asi eksklusif, ventilasi, kelembabab, kepadatan
hunian, kebiasaan merokok, pendidikan orang tua) dan variabel dependen (ISPA
pada Balita) dengan menggunakan uji chi square. Hasil hubungan variabel
independen dan variabel dependen pada penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut :
5.3.1

Hubungan Status Gizi terhadap ISPA pada Balita


Hasil analisis hubungan antara status gizi terhadap ISPA pada balita di

Kelurahan Ciputat tahun 2013sebagai berikut :


Tabel 5.12
Analisis Hubungan antara Status Gizi terhadap ISPA pada Balita di Kelurahan
Ciputat Tahun 2013
Balita
Status Gizi

Gizi Kurang

Mengalami

Tidak Mengalami

ISPA

ISPA

Total

28,6

10

71,4

14

100

Gizi Baik

41

55,4

33

44,6

74

100

Jumlah

45

51,1

43

48,9

88

100

60

p-value

OR

0,121

0,3 (0,09-1,1)

Pada Tabel 5.12 didapat hasil hubungan antara status gizi terhadap ISPA pada
balita yaitu sebanyak 4 dari 14 (28,6%) balita gizi kurang mengalami ISPA serta 33
dari 74 (44,6%) balita dengan gizi baik tidak mengalami. Berdasarkan hasil uji chi
square diperoleh nilai p= 0,121 (p-value >0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa
tidak ada hubungan bermakna antara status gizi terhadap ISPA pada balita di
Kelurahan Ciputat tahun 2013. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR sebesar 0,3
(95%CI : 0,09-1,1) yang berarti bahwa balita dengan status gizi kurang mempunyai
peluang 0,3 kali untuk mengalami ISPA dibanding balita gizi baik.
5.3.2

Hubungan Pemberian Asi Eksklusif terhadap ISPA pada Balita


Hasil analisis hubungan antara pemberian asi eksklusif terhadap ISPA pada

balita di Kelurahan Ciputat tahun 2013sebagai berikut :


Tabel 5.13
Analisis Hubungan Pemberian Asi Eksklusif Terhadap ISPA pada Balita
di Kelurahan Ciputat Tahun 2013
Balita
Pemberian
Asi
Eksklusif

Mengalami ISPA

Total

Tidak Mengalami

p-value

OR

0,251

2,1(0,7-5,9)

ISPA
N

Tidak

38

55,1

31

44,9

69

100

Ya

36,8

12

63,2

19

100

Jumlah

51,1

48,9

43

48,9

88

100

61

Berdasarkan tabel 5.13 menunjukkan hasill analisis hubungan antara pemberian


asi eksklusif terhadap ISPA pada balita sebanyak 38 dari 69 balita (55,1%) yang
tidak diberikan asi ekslusif mengalami ISPA dan sebanyak 12 dari 19 (63,2%) balita
yang diberikan asi ekslusif tidak mengalami ISPA. Berdasarkan hasil uji chi square
diperoleh nilai p = 0,251 (p-value>0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada
hubungan bermakna antara pemberian asi ekslusif terhadap ISPA pada balita di
Kelurahan Ciputat tahun 2013. Dari hasil analisis diperoleh pula OR sebesar 2,1
(95%CI : 0,7-5,9) yang berarti bahwa balita yang tidak diberikan ASI Eksklusif
beresiko 2,1 kali lebih besar mengalami ISPA..
5.3.3

Hubungan Ventilasi terhadap ISPA pada Balita


Hasil statistik hubungan antara ventilasi terhadap ISPA pada balita di

Kelurahan Ciputat tahun 2013 sebagai berikut :


Tabel 5.14
Analisis Hubungan Ventilasi Rumah Terhadap ISPA pada Balita
di Kelurahan Ciputat Tahun 2013
Balita
Total
Mengalami ISPA
Tidak
p-value
Ventilasi
Mengalami ISPA
N

TMS

32

62,7

19

37,3

51

100

MS

13

35,1

24

18,1

37

100

Jumlah

45

51,1

43

48,9

88

100

62

0,019

OR

3 (1,2-7,5)

Pada tabel 5.14 menunjukkan hubungan antara ventilasi rumah terhadap ISPA
pada balita yaitu sebanyak 32 dari 51 (62,7%) ventilasi rumah yang tidak memenuhi
syarat dan balita mengalami ISPA. Sedangkan sebanyak 24 dari 37 (18,1%) ventilasi
rumah memenuhi syarat dan balita tidak mengalami ISPA. Berdasarkan hasil uji chi
square diperoleh nilai p = 0,019 (p-value <0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa
ada hubungan bermakna antara ventilasi rumah terhadap ISPA pada balita di
Kelurahan Ciputat tahun 2013. Dari hasil analisis diperoleh pula OR sebesar 3
(95%CI : 1,1-7,2) yang berarti bahwa balita dengan ventilasi rumah tidak memenuhi
syarat beresiko 3 kali mengalami ISPA.
5.3.4

Hubungan Kelembaban Dalam Kamar Terhadap ISPA pada Balita


Hasil analisis hubungan antara kelembaban terhadap ISPA pada balita di

Kelurahan Ciputat tahun 2013sebagai berikut :


Tabel 5.15
Analisis Hubungan Kelembaban Dalam Kamar Terhadap ISPA pada Balita di
Kelurahan Ciputat Tahun 2013
Balita
Kelembaban

Mengalami ISPA

Total

Tidak

p-value

OR

0,49

0,5 (0,1-1,8)

Mengalami ISPA
N

TMS

38,5

61,5

13

100

MS

40

53,3

35

46,7

75

100

Jumlah

45

51,1

43

48,9

88

100

63

Tabel 5.15 menunjukkan hubungan kelembaban kamar terhadap ISPA pada


balita yaitu sebanyak 5 dari 43 (38,5%) kelembaban kamar balita yang tidak
memenuhi syarat (TMS) dan balita mengalami ISPA. Sedangkan, sebanyak 35 dari
45(46,7%) kamar balita dengan kelembaban kamar memenuhi syarat (MS) balita
tidak mengalami ISPA. Hasil uji chi square diperoleh nilai p = 0,49 (p-value >0,05)
sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara kelembaban
kamar terhadap ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat tahun 2013. Dari hasil analisis
ini pula diperoleh nilai OR sebesar 0,5 ( 95%CI : 0,3-1,9) yang berarti bahwa kamar
balita dengan kelemaban tidak memenuhi syarat beresiko 0,5 kali lebih besar
mengalami ISPA.
5.3.5

Hubungan Kepadatan Hunian terhadap ISPA pada Balita


Hasil analisis hubungan antara kepadatan hunian terhadap ISPA pada balita di

Kelurahan Ciputat tahun 2013sebagai berikut :


Tabel 5.16
Analisis Hubungan Kepadatan Hunian Rumah Terhadap ISPA pada Balita
di Kelurahan Ciputat Tahun 2013
Balita
Kepadatan

Mengalami ISPA

Hunian

TMS

Total

Tidak

p-value

OR

Mengalami ISPA
N

35

60,3

23

39,7

58

100
0,029

MS

10

33,3

20

66,7

30

100

Jumlah

45

51,1

43

48,9

88

100

64

3 (1,2-7,6)

Tabel 5.16 menunjukkan hubungan kepadatan hunian terhadap ISPA pada


balita yaitu sebanyak 35 dari 58 (60,3%) rumah balita memiliki kepadatan hunian
tidak memenuhi syarat (TMS) dan balita mengalami ISPA. Sedangkan, sebanyak 10
dari 30(33,3%) rumah balita dengan kepadatan hunian memenuhi syarat (MS) balita
tidak mengalami ISPA. Hasil uji chi square diperoleh nilai p = 0,029 sehingga dapat
disimpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara kepadatan hunian terhadap ISPA
pada balita di Kelurahan Ciputat tahun 2013. Dari hasil analisis ini pula diperoleh
nilai OR sebesar 3,0 ( 95%CI : 1,2-7,6) yang berarti bahwa kamar balita dengan
kepadatan hunian tidak memenuhi syarat beresiko 3 kali lebih besar mengalami
ISPA.
5.3.6

Hubungan Kebiasaan Merokok terhadap ISPA pada Balita


Hasil analisis hubungan antara kebiasaan merokok terhadap ISPA pada balita di

Kelurahan Ciputat tahun 2013sebagai berikut


Tabel 5.17
Analisis Hubungan Kebiasaan Merokok Penghuni Rumah Terhadap ISPA pada
Balita di Kelurahan Ciputat Tahun 2013
Balita
Kebiasaan

Mengalami ISPA

Tidak Mengalami

Merokok

Total

p-value

OR

0,409

1,7 (0,7-4)

ISPA
N

Ya

30

55,6

24

26,4

51

100

Tidak

15

44,1

19

55,9

37

100

Jumlah

45

51,5

43

48,9

88

100

65

Tabel 5.17 menunjukkan hasil analisis hubungan antara kebiasaan merokok


penghuni rumah terhadap ISPA pada balita diperoleh sebanyak 30 dari 51 (55,6%)
rumah dengan penghuni yang merokok dan balita mengalami ISPA. Sementara itu,
sebanyak 19 dari 37 (55,9%) penghuni rumah yang tidak merokok dan balita tidak
mengalami ISPA. Hasil uji chi square diperoleh nilai p = 0,409 (p-value >0,05)
sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara kebiasaan
merokok penghuni rumah terhadap ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat tahun
2013. Dari hasil analisis didapat nilai OR sebesar 1,7 ( 95%CI : 0,7-4) yang berarti
bahwa balita yang tinggal dengan penghuni yang merokok beresiko 1,7 kali
mengalami ISPA.
5.3.7

Hubungan Pendidikan Orang Tua terhadap ISPA pada Balita


Hasil analisis hubungan antara pendidikan orang tua terhadap ISPA pada balita

di Kelurahan Ciputat tahun 2013sebagai berikut :


Tabel 5.18
Analisis Hubungan Pendidikan Orang Tua Terhadap ISPA pada Balita di
Kelurahan Ciputat Tahun 2013
Balita
Pendidikan

Mengalami ISPA

Tidak Mengalami

Orang Tua

Rendah

Total

p-value

OR

0,019

3 (1,2-7,3)

ISPA
N

26

65

14

35

40

100

Tinggi

19

39,6

29

60,4

48

100

Jumlah

45

51,1

43

48,9

88

100

66

Pada tabel 5.18 menunjukkan hasil analisis hubungan antara pendidikan orang
tua terhadap ISPA pada balita yaitu sebanyak 26 dari 40 (65%) orang tua balita
dengan status pendidikan rendah dan balita mengalami ISPA. Sedangkan sebanyak
29 dari 48 ibu balita (60,4%) dengan pendidikan tinggi, balita tidak mengalami ISPA.
Berdasarkan hasil uji chi square diperoleh nilai p = 0,019 (p-value <0,05) sehingga
dapat disimpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara pendidikan orang tua
terhadap ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat tahun 2013. Dari hasil analisis
didapat nilai OR sebesar 2,8 ( 95%CI : 1,2-7,3) yang berarti bahwa balita dengan
pendidikan orang tua rendah beresiko 3 kali balita mengalami ISPA.

67

BAB VI
PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Penelitian


1. Desain yang digunakan yaitu studi cross sectional dimana semua variabel
yang diteliti diambil dalam satu waktu yang sama mengingat jadwal posyandu
yang hanya terjadi dalam 1 minggu 1 kali.
2. Penentuan Balita terkena ISPA hanya dengan pengisian kusioner pada
responden/tidak diteliti penyebab ISPA pada masing-masing balita karena
tidak memungkinkan dari segi biaya untuk menelusuri lebih jauh tentang
frekunsi kejadian, lamanya sakit atau dengan diagnosis dokter.
3. Kemungkinan terjadi bias dalam pengukuran terkait luas rumah dimana
sebagian besar responden tidak memiliki rumah pribadi sehingga tidak
mengetahui ukuran luas rumah.
4. Faktor individu balita (pemberian asi ekslusif) hanya berdasarkan daya
ingat responden kemungkinan terjadi missing memory.
6.2 Gambaran Variabel Dependen
Pada penelitian ini, balita dikatakan mengalami ISPA dan tidak mengalami
ISPA berdasarkan adanya tanda dan gejala seperti pilek, batuk-batuk, demam, dan
sukar bernafas yang terjadi dalam kurun waktu 2 minggu terakhir yang terjadi dari

68

mulai rongga hidung sampai gelembung paru yang bersifat akut (Depkes, 2007).
Dari hasil penelitian terhadap 88 anak balita di Kelurahan Ciputat didapatkan hasil
angka kejadian ISPA yaitu sebesar 51,1% mengalami ISPA dan 48,9% tidak
mengalami ISPA. ISPA bisa diakibatkan oleh virus maupun akibat polusi udara.
Ciputat merupakan daerah yang paling sering dilalui oleh kendaraan karena
sebagai jalur penghubung antara Jawa Barat dan Jakarta (Salman, 2012) sehingga
dimungkinkan nilai total partikulat semakin tinggi dan terjadi pencemaran udara.
Hal ini didukung oleh penelitian BPLHD Tangerang Selatan pada tanggal 5 Juni
2012 terdapat Total Suspended Partikulat (TSP) melebihi ambang batas yakni
268,64 g/Nmdari ambang batas yang ditetapkan sebesar 230 g/Nm. Menurut
penelitian Triska (2005) menyebutkan bahwa anak-anak dan wanita didaerah
urban lebih sering terpapar polusi dari industri dan kendaraan bermotor yang
dihubungkan dengan gangguan pernafasan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Hamidi (2002) menyatakan bahwa kadar debu yang masuk kedalam rumah dan
melebihi 70g/Nm dapat menyebabkan bayi dan balita yang tinggal didalamnya
mengalami gangguan pernapasan 3,13 kali dibandingkan dengan kadar debu
rumah yang memnuhi syarat. Namun, tidak dipungkiri bahwa ISPA bisa terjadi
akibat penularan virus dari penderita ke balita yang lain. Hasil observasi
dilapangan, letak rumah terlalu berhimpitan baik kesamping maupun kedepan
sehingga kemungkinan besar virus penyebab ISPA pada penderita menyebar lebih
cepat ke balita yang lain.

69

6.3 Analisis Bivariat


6.3.1 Hubungan Status Gizi terhadap ISPA pada Balita
Pada penelitian ini status gizi balita ditetapkan berdasarkan perbandingan
berat

badan

menurut

umur

(BB/U)

yang

mengacu

pada

keputusan

MENKES/SK/XII/2010. Balita dikatakan gizi baik apabila nilai perbandingan


antara BB dan umur yaitu SD 2 dan apabila nilai SD -2 maka dikatakan status gizi
kurang. Menurut Soemirat (2000) kekurangan gizi akan berpengaruh terhadap
kekuatan daya tahan tubuh dan respons imunoligis terhadap penyakit dan
keracunan.
Pada tabel 5.2 didapat bahwa dari 88 balita, 14 balita (15,9%) memiliki status
gizi kurang dan 74 balita (84,1%) berstatus gizi baik. Menurut Almatsler (2003)
timbulnya gizi kurang tidak hanya dikarenakan karena asupan makanan yang
kurang, tetapi juga penyakit. Anak yang mendapatkan cukup makanan tetapi
sering menderita sakit, pada akhirnya dapat menderita gizi kurang. Demikian pula
pada anak yang tidak memperoleh cukup makanan, maka daya tahan tubuhnya
akan melemah sehingga mudah terserang penyakit.
Berdasarkan hasil uji chi square pada penelitian ini disimpulkan bahwa tidak
ada hubungan yang bermakna antara status gizi terhadap kejadian ISPA pada
balita dengan nilai p= 0,121 (p>0,05). Balita dengan gizi kurang beresiko 0,3 kali
mengalami ISPA dibanding dengan balita gizi baik . Hal ini sejalan dengan

70

penelitian menurut Muhedir (2002), Irianto (2004), dan Citra (2010) yang
mengatakan bahwa tidak ada hubungan antara status gizi balita dengan kejadian
ISPA. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Geturdis (2010)
dimana terdapat hubungan antara status gizi balita terhadap kejadian ISPA dimana
balita yang gizi kurang beresiko 2,5 kali lebih besar mengalami ISPA karena daya
tahan tubuh lemah terhadap serangan virus.
Tidak adanya hubungan antara status gizi balita terhadap kejadian ISPA bisa
saja terjadi karena ISPA tidak hanya disebabkan oleh gizi kurang atau gizi buruk
dari balitanya, melainkan oleh banyak faktor salah satunya faktor lingkungan.
Menurut konsep HL Blum dalam Notoatmodjo 2003 menyatakan bahwa faktor
lingkungan merupakan faktor terbesar mempengaruhi kesehatan manusia.
Walaupun status gizi balita dalam kondisi baik, dimungkinkan balita terkena ISPA
akibat lingkungan rumah yang tidak memenuhi syarat.
Dari

88 balita pada penelitian ini ternyata hanya ada 14 balita yang

mempunyai gizi kurang. Walaupun persentase kecil, tetap perlu di lakukan upayaupaya perbaikan status gizi balita karena perbaikan gizi masyarakat harus dimulai
dari perbaikan gizi pada masa bayi dan balita (Notoatmodjo, 2007) seperti :
a. Penyuluhan dari instansi kesehatan mengenai makanan-makanan yang
mengandung gizi baik dengan harga yang tidak terlalu mahal tapi

71

mempunyai nilau asupan gizi yang tinggi sehingga tidak memberatkan ibu
balita.
b. Pemberitahuan akibat-akibat yang akan disebabkan jika balita tidak
mempunyai status gizi yang baik sehingga diharapkan menimbulkan rasa
takut dan kesadaran akan pentingnya makanan yang sehat.
c. Selain makanan, anak-anak perlu diberikan suplemen atau vitamin untuk
melengkapi kebutuhan gizi yang kurang.
6.3.2 Hubungan Pemberian Asi terhadap ISPA pada Balita
ASI merupakan makanan utama bagi bayi yang bersifat alamiah. ASI
mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan dalam proses perkembangan dan
pertumbuhan bayi serta mengandung antibodi yang dapat membantu bayi
membangun sistem kekebalan tubuh terhadap berbagai macam sumber penyakit.
Manfaat yang dapat diberikan dari pemberian ASI eksklusif pada bayi yaitu dapat
melindungi bayi dari penyakit diare, infeksi pernafasan, kegemukan, infeksi
kandung kemih, infeksi telinga dan lainya (Sinaga, 2012).
Hasil penelitiaan pada tabel 5.4 menunjukkan bahwa balita yang tidak
diberikan ASI ekslusif sebanyak 69 (78,4%) dan yang tidak diberikan ASI
eksklusif sebanyak 19 balita (21,6%) . Berdasarkan hasil observasi dilapangan
besarnya balita yang tidak diberikan ASI ekslusif disebabkan beberapa hal yakni
bekerja, tidak bisa mengeluarkan ASI, serta beberapa ibu masih mengikuti

72

kepercayaan lama dengan langsung memberikan makanan selain ASI pada saat
umur 0-6 bulan.
Hasil uji chi square diperoleh nilai p = 0,251 (p-value>0,05) sehingga
disimpulkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara pemberian asi ekslusif
terhadap ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat tahun 2013. Balita yang diberikan
ASI Eksklusif beresiko mengalami ISPA 2,1 kali lebih besar dibanding yang
diberikan asi ekslusif. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Citra (2010) bahwa
tidak ada hubungan antara pemberian ASI Eksklusif terhadap kejadian ISPA pada
balita. Namun jika pada bayi kemunginan terdapat hubungan antara ISPA dengan
bayi seperti pada penelitian Rahayu (2011).
Walaupun pada penelitian ini tidak terdapat hubungan yang bermakna antara
pemberian Asi Ekslusif terhadap kejadian ISPA di kelurahan Ciputat, tetap perlu
dilakukan upaya-upaya untuk mengatasi besarnya jumlah balita yang tidak
diberikan Asi Ekslusif supaya mencegah berbagai penyakit lain yang mungkin
timbul selain ISPA. Upaya-upaya yang dilakukan diantara lain :
a.

Sosialisasi perlunya pemberian Asi Ekslusif demi ketahanan tubuh


seorang anak terhadap ancaman berbagai macam penyakit.

b.

Alternatif bagi ibu yang bekerja agar tetap bisa memberikan Asi
Ekslusif.

c.

Pengetahuan mengenai fungsi Asi Ekslusif terhadap anak serta


melibatkan suami untuk mengingatkan ibu memberikan asi kepada
bayi.
73

6.3.3 Hubungan Ventilasi terhadap ISPA pada Balita


Ventilasi dalam rumah berfungsi sebagai sirkulasi udara atau pertukaran
udara dalam rumah karena udara yang segar dalam ruangan sangat dibutuhkan
manusia. Ventilasi yang

buruk akan menimbulkan gangguan kesehatan

pernapasan pada penghuninya. Penularan penyakit saluran pernapasan disebabkan


karena kuman didalam rumah tidak bisa tertukar dan mengendap sehingga
ventilasi

diharuskan

memenuhi

syarat

Menkes

RI

Nomor

RI

No.1077/MENKES/PER/V/2011 yakni luas ventilasi minimal 10% dari luas lantai.


Hasil gambaran ventilasi rumah pada tabel 5.6 di kelurahan Ciputat
menunjukkan bahwa 51 rumah balita (58%) memiliki ventilasi yang tidak
memenuhi syarat (<10% dari luas rumah) dan 37 rumah balita (42%) memiliki
ventilasi yang memenuhi syarat yang ditentukan yakni >10% dari luas tanah.
Berdasarkan hasil obervasi, jarak antara rumah satu dengan yang lain sangat
berhimpitan dan cenderung ventilasi rumah hanya berada di bagian depan saja
karena bagian samping sudah tertutup tembok bangunan rumah lain.
Hasil uji chi square diperoleh nilai p= 0,019 (p<0,05) sehingga dapat di
simpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara ventilasi rumah terhadap ISPA
dan di dapat bahwa rumah yang memiliki ventilasi tidak memenuhi syarat bersiko
3 kali lebih besar balita terkena ISPA di banding dengan rumah dengan ventilasi
memenuhi syarat. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Lindawaty (2010) yang

74

menyatakan ada hubungan antara ventilasi dengan kejadian ISPA pada balita.
Balita yang tinggal di rumah dengan ventilasi tidak memenuhi syarat beresiko
sebesar 3,07 kali mengalami ISPA dibanding balita yang tinggal dirumah dengan
ventilasi memenuhi syarat (Lindawaty, 2003 ).
Ventilasi yang baik dapat membebaskan udara ruangan dari bakteri patogen
karena dengan adanya ventilasi, udara bertukar secara terus menerus. Ventilasi
rumah yang tidak memenuhi syarat dapat dijadikan indikator bahwa kurangnya
pemahaman mengenai rumah sehat dengan ventilasi yang sesuai ketentuan yakni
minimal 10% dari luas rumah. Ventilasi berfungsi untuk memberikan memberikan
udara segar dan sehat bagi balita dan penghuninya. Berdasarkan hasil observasi
dilapangan menunjukkan bahwa setiap rumah memiliki ventilasi namun sebagian
rumah menutup ventilasi sepanjang hari sehingga kemunginan sirkulasi udara
dalam rumah tidak baik.
Selain itu, sebagian besar ventilasi selalu ditutupi gorden sehingga cahaya
matahari sulit masuk kedalam rumah. Rumah yang sedikit cahaya matahari masuk
dan udara yang tidak bagus akan menyebabkan ruangan menjadi lembab. Ruangan
yang lembab merupakan tempat berkembangnya mikroorganisme penyebab
penyakit. Akibat ventilasi yang tidak berfungsi dengan baik, menyebabkan
pencemaran udara semakin meningkat karena polusi udara dan berbagai
mikroorganisme penyebab penyakit dalam rumah tidak dapat keluar sehingga akan

75

membahayakan penghuni rumah terutama balita yang rentan terhadap penyakit


yang disebabkan mikroorganisme.
Untuk menekan angka kejadian ISPA pada balita akibat ventilasi rumah
yang tidak difungsikan dengan baik, maka perlu dilakukan program penyuluhan
kepada masyarakat pentingnya memiliki ventilasi minimal 10% dari luas lantai.
Bagi masyarakat perlu diberi himbauan agar tidak menutup ventilasi dengan kain
dan tidak menutup terus-menerus supaya terjadi pertukaran udara.
6.3.4 Hubungan Kepadatan Hunian terhadap ISPA pada Balita
Persyaratan kepadatan hunian untuk rumah

sehat tercantum dalam

persyaratan kesehatan perumahan RI No.1077/MENKES/PER/V/2011 . Rumah


dikatakan padat/ tidak memenuhi syarat apabila luas rumah dibagi jumlah
penghuni adalah <10m2. Pada tabel 5.16 didapat jumlah rumah yang padat
penghuni dengan balita mengalami ISPA sebanyak 35 balita (60,3%) dan rumah
dengan kepadatan hunian memenuhi syarat dengan balita tidak mengalami ISPA
sebanyak 20 balita (66,7%). Hasil uji chi square menunjukkan bahwa ada
hubungan antara kepadatan hunian terhadap kejadian ISPA pada balita dengan
nilai p=0,029 dimana balita yang tinggal dengan kepadatan hunian tidak
memenuhi syarat beresiko 3 kali mengalami ISPA. Penelitian ini sejalan dengan
Irianto (2006) bahwa ada hubungan kepadatan hunian terhadap ISPA pada balita.
Balita yang tinggal dengan rumah padat penghuni berisko 2,27 kali dibandingkan
dengan kepadatan hunian yang memenuhi syarat.

76

Hasil observasi di lapangan menunjukkan sebanyak 51 rumah dengan tingkat


kepadatan hunian tidak memenuhi syarat diakibatkan karena luas rumah tidak
sesuai dengan jumlah penghuni yang tinggal. Terdapat rumah yang terdiri dari
beberapa kepala keluarga, dan terdapat pula warga yang bahkan menempati 1
rumah dengan 8-12 orang. Alasan beberapa warga tetap tinggal satu rumah karena
keterbatasan penghasilan sehingga belum mampu untuk menyewa rumah sendiri.
Menurut Achmadi (2008) semakin tingginya kepadatan rumah, maka
penularan penyakit khususnya melalui udara akan semakin cepat. Rumah yang
padat penghuni akan menyebabkan sirkulasi udara tidak baik, pertukaran oksigen
kurang sempurna dan diperburuk apabila ventilasi rumah tidak memenuhi syarat.
Hal ini sangat berbahaya apabila ada anggota keluarga yang menderita gangguan
pernafasaan yang disebabkan oleh virus, akan cepat menyerang anggota keluarga
lain akibat menghirup udara yang sama dan sudah tercemar. Semakin padat
penghuni dalam rumah maka akan semakin mudah penularan penyakit pada balita
terutama penyakit yang diakibatkan oleh pencemaran udara seperti gangguan
pernafasan atau ISPA.
6.3.5 Hubungan Kelembaban terhadap ISPA pada Balita
Pengukuran kelembaban kamar balita menggunakan alat hygrometer dengan
berlandaskan pada peraturan RI No.1077/MENKES/PER/V/2011 mengenai
persyaratan kelembaban rumah yaitu 40-60% Rh. Rumah dengan kelembaban
yang terlalu tinggi maupun rendah merupakan kondisi dimana mikroorganisme

77

dapat tumbuh. Menurut Mudehir (2002) kelembaban dalam rumah dapat di


pengaruhi oleh konstruksi rumah yang tidak baik, ventilasi yang kurang, serta
pencahayaan yang minim.
Pada penelitian ini didapat hasil pengukuran kelembaban didalam kamar
balita yang tidak memenuhi syarat dan menyebabkan ISPA sebanyak 5 (38,5%)
dan kamar balita dengan kelembaban yang memenuhi syarat dan tidak mengalami
ISPA sebanyak 46,7%. Berdasarkan hasil uji chi-square didapatkan bahwa nilai
p=0,49 yang artinya tidak ada hubungan bermakna antara kelembaban kamar
terhadap ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat. Penelitian ini sejalan dengan
Lindawaty (2010) yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara kelembaban
dengan kejadian ISPA pada balita namun beresiko 2,98 kali lebih besar balita
mengalami ISPA dengan tinggal dikelembaban yang tidak memenuhi syarat.
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Mudehir (2002) dimana terdapat
hubungan antara kelembaban dengan kejadian ISPA pada balita.
Kelembaban dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti lingkungan rumah
yang tidak memenuhi syarat atau oleh cuaca. Pada musim hujan kelembaban akan
meningkat namun bila kondisi rumah baik seperti cahaya matahari dapat masuk,
tidak terdapat genangan air, ventilasi udara yang cukup dapat mempertahankan
kelembaban dalam rumah (Lindawaty, 2010).

78

Hasil observasi di lapangan, sebagian besar kamar balita tidak tertutup pintu,
hanya bersekatan dengan ruang tamu dan warga tidak banyak menggunakan AC di
dalam kamar sehingga kelembaban ruangan tidak terlalu rendah dan tidak terlalu
tinggi. ISPA pada balita di kelurahan Ciputat mungkin bisa disebabkan oleh faktor
lain seperti mungkin dari penularan penghuni kamar yang sedang mengalami ISPA
dan tidur satu ruangan dengan balita.
Walaupun tingkat kelembaban yang tidak memenuhi syarat rendah, tetap
perlu diadakan upaya penyehatan kelembaban ruang tidur balita seperti yang
tercantum pada peraturan RI No.1077/MENKES/PER/V/2011 yang meliputi :
1) Bila kelembaban udara kurang dari 40%, maka dapat di lakukan upaya
penyehatan antara lain :
a) Menggunakan alat untuk meningkatkan kelembaban seperti humidifier
(alat pengatur kelembaban udara)
b) Membuka jendela rumah
c) Menambah jumlah dan luas jendela rumah
d) Memodifikasi fisik bangunan (meningkatkan pencahayaan,sirkulasi
udara)
2) Bila kelembaban udara lebih dari 60%, maka dapat dilakukan upaya penyehatan
antara lain :
a) Memasang genteng kaca
b) Menggunakan alat untuk menurunkan kelembaban seperti

79

humidifier (alat pengatur kelembaban udara)


6.3.6 Hubungan Kebiasaan Merokok terhadap ISPA pada Balita
Asap rokok yang di keluarkan oleh seorang perokok mengandung bahan
toksik yang berbahaya dan akan menimbulkan penyakit serta menambah resiko
kesakitan dari bahan toksik tersebut (Kusnoputranto, 2000). Hasil penelitian pada
tabel 5.8 yang dilakukan di kelurahan Ciputat menunjukkan sebagian besar balita
54 (61,8%) tinggal didalam rumah dengan penghuni merokok dan 34 (38,6%)
tidak tinggal dengan penghuni yang merokok. Tingginya jumlah balita yang
tinggal bersama penghuni rumah yang merokok dimungkinkan bahwa sebagian
besar balita sering terpapar dan menghirup bahan toksik yang berbahaya untuk
kesehatan.
Asap rokok adalah sebuah campuran asap yang di keluarkan dari hasil
pembakaran tembakau yang mengandung Polyclinic Aromatic Hydrocarbons
(PAHs) dan berbahaya bagi kesehatan (Depkes, 2011). Manusia yang menghirup
asap rokok bisa disebut perokok pasif dan berisiko lebih besar pada kesehatan. Hal
ini sesuai dengan penelitian Citra (2012) bahwa perokok pasif yang lebih rentan
terkena penyakit gangguan pernafasan dibanding dengan perokok aktif .
Hasil uji chi square

pada penelitian ini menunjukkan tidak adanya

hubungan bermakna antara kebiasaan merokok penghuni rumah terhadap kejadian


ISPA pada balita dengan nilai p=0,409 (p>0,05). Namun, diketahui bahwa balita
yang tinggal di rumah dengan penghuni merokok mempunyai resiko 1,7 kali

80

mengalami ISPA dibanding balita yang tinggal di rumah tanpa penghuni merokok.
Hasil penelitian ini sejalan dengan Budiaman (2008) yang menyatakan bahwa
tidak ada hubungan yang bermakna antara responden yang rumahnya ada yang
merokok dengan kejadian penyakit gangguan saluran pernafasan balita. Penelitian
ini berbeda dengan Lindawaty (2010 ) yang menyatakan bahwa balita yang tinggal
bersama penguni yang merokok beresiko 2,04 kali lebih besar terkena ISPA
dibanding dengan balita yang tidak terdapat penghuni rumah yang merokok.
Pada penelitian ini tidak menujukkan hubungan antara kebiasaan merokok
dengan kejadian ISPA pada balita. Hal ini dimungkinkan karena wawancara
dilakukan hanya menanyakan ada atau tidak penghuni yang merokok tanpa
menanyakan lebih spesifik tentang kebiasaan merokok di dalam atau di luar rumah
pada perokok serta seberapa banyak jumlah rokok yang di habiskan dalam sehari.
Semakin banyak jumlah rokok yang di konsumsi perokok yang merokok di dalam
rumah kemungkinan besar balita terpapar asap rokok lebih banyak sehingga
menimbulkan gangguan pernafasan pada balita. Walaupun tidak terdapat
hubungan yang bermakna, menurut penelitian Wattimena (2004) bahwa rumah
yang penghuninya mempunyai kebiasaan merokok di dalam rumah berpeluang
meningkatkan kejadian ISPA pada balita 7,83 kali dibandingkan dengan rumah
balita yang penghuninya tidak merokok dalam rumah. Begitu pula dengan
penelitian-penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa resiko penghuni

81

perokok terhadap kejadian ISPA pada balita lebih besar sehingga perlu di lakukan
upaya-upaya untuk mengurangi pencemaran asap rokok sebagai berikut :
a.

Penyuluhan mengenai bahaya merokok kepada keluarga balita untuk


meningkatkan kesadaran penghuni dalam pentingya menjaga
kebersihan udara yang terhirup di dalam rumah.

b.

Memberikan pengetahuan mengenai ISPA serta sebab-sebab


penularan yang dimungkinkan salah satunya disebabkan oleh asap
rokok dalam rumah.

c.

Menganjurkan untuk tidak merokok di dalam rumah.

6.3.8 Hubungan Pendidikan Orang Tua terhadap ISPA pada Balita


Pada penelitian ini tingkat pendidikan ibu dibagi dalam 2 kategori yakni
pendidikan rendah (tidak sekolah, tamat SD, tamat SMP) dan tinggi (SMA, D3,
S1). Distribusi tingkat pendidikan ibu berdasarkan tabel 5.9 sebanyak 40 ibu yang
termasuk dalam kategori pendidikan rendah atau setengah dari jumlah sampel
yang ada. Hasil pernyataan ibu-ibu yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih
tinggi mulai dari sudah ingin menikah, tidak mempunyai biaya sehingga dituntut
untuk mencari kerja setelah wajib belajar 9 tahun.
Hasil uji statistik pada tabel 5.18 didapat sebanyak 26 ibu (65%) yang
berpendidikan rendah memiliki balita yang mengalami ISPA dan berpendidikan
tinggi dan memiliki balita yang mengalami ISPA sebanyak 19 ibu (39,6%).

82

Berdasarkan uji chi-square diperoleh nilai p=0,019 sehingga disimpulkan bahwa


terdapat hubungan bermakna antara pendidikan orang tua terhadap ISPA pada
balita di kelurahan Ciputat. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan
Citra (2012) dan Suptiaptini (2007), menunjukkan adanya hubungan antara
pendidikan ibu dengan kejadian ISPA pada balita. Ibu yang berpendidikan rendah
mempunyai resiko untuk menderita ISPA lebih besar dibandingkan dengan ibu
balita yang berpendidikan tinggi. Namun hal ini bertolak belakang dengan
penelitian Fitri (2004) dimana tidak ada hubungan antara pendidikan orang tua
dengan kejadian ISPA pada balita.
Pendidikan ikut menentukan atau mempengaruhi mudah tidaknya seseorang
menerima pengetahuan, semakin tinggi pendidikan masyarakat maka diharapkan
penerimaan pengetahuan akan semakin mudah sehingga diharapkan dapat
merubah perilaku seseorang. Berdasarkan pengaruh terhadap kesehatan dan
perilaku seseorang peran pendidikan juga berpengaruh terhadap lingkungan,
pelayanan kesehatan dan juga heriditas (Achmadi, 2008). Perananan tenaga
kesehatan dalam memberikan pendidikan kesehatan khususnya ISPA dengan
tujuan agar ibu yang tidak tahu menjadi tahu bagaimana tanda-tanda gejala ISPA
serta kegiatan pencegahan dan penanggulanganya bagi balita dan anggota
keluarga.
Hasil observasi dilapangan membuktikan bahwa pendidikan dapat
mempengaruhi tindakan ibu dalam menanggulangi penyakit. Ibu dengan

83

pendidikan rendah cenderung hanya membiarkan balita yang mengalami tandatanda ISPA seperti batuk, pilek atau gejala ISPA sebagai penyakit biasa dan akan
hilang dengan sendirinya. Selain itu, ibu berasumsi bahwa penyebab balita terkena
ISPA akibat sering makan permen, atau es yang menyebabkan batuk-batuk pada
anak. Tidak ada tindak lanjut terhadap ISPA yang diderita oleh balita. Sementara
itu, ibu yang termasuk dalam kategori pendidikan tinggi lebih sedikit peduli
terhadap balitanya. Ibu langsung mengambil tindakan dengan memberikan obat
penurun panas/batuk pilek pada balita saat mengalami gejala ISPA.
Pentingnya pendidikan bagi ibu atau anggota keluarga yang lain mengenai
gejala penyakit, dan cara penanggulangannya sangat dibutuhkan bagi balita
dimana lebih rentan terhadap penyakit. Jika ibu memiliki pengetahuan tinggi,
diharapkan balita yang mengalami ISPA atau gejalanya dapat segera di lakukan
tindakan penanggulangan. Balita dengan pendidikan orang tua lebih rendah
beresiko sebesar 2,8 kali balita terkena ISPA sehingga perlu diupayakan tindakan
untuk menambah pengetahuan mengenai penyakit oleh tenaga kesehatan yang
diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih pada balita dengan
tindakan yang tepat dan cepat.

84

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan
Hasil penelitian yang dilakukan pada 88 balita di Kelurahan Ciputat tahun
2013 didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Gambaran balita terhadap kejadian ISPA pada kurun waktu 2 minggu pada
88 sampel di kelurahan Ciputat yaitu sebanyak 45 balita (51,5%) mengalami
ISPA dan 43balita (48,9%) tidak mengalami ISPA.
2. Gambaran faktor lingkungan fisik rumah balita meliputi :
2.1 Ventilasi rumah dari 88 sampel balita di kelurahan Ciputat yaitu 51
rumah balita (58%) memiliki ventilasi yang tidak memenuhi syarat (<10%
dari luas rumah) dan 37 rumah balita (36,4%) memiliki ventilasi
memenuhi syarat yang ditentukan yakni >10% dari luas rumah.
2.2 Kelembaban kamar tidur balita pada 88 sampel yaitu 13 kamar balita
(14,8%) memiliki kelembaban tidak memenuhi syarat yakni <40% s/d
>60% dan 75 kamar balita (85,2%) memiliki kelembaban memenuhi
syarat yakni 40% - 60%.
2.3 Kepadatan hunian dalam rumah terhadap 88 sampel balita di kelurahan
Ciputat yaitu 58 rumah balita (65,9%) padat penghuni/tidak memenuhi

85

syarat yang ditetapkan yakni <10m2/org dan 30 (34,1%) rumah balita


memnuhi syarat kepadatan hunian yakni >10m2/org.
3. Gambaran faktor individu meliputi :
3.1 Status gizi balita dari 88 sampel di kelurahan Ciputat yaitu 14 balita
(15,9%) mengalami gizi kurang dan 74 balita (84,1%) mengalami gizi
baik.
3.2 Pemberian Asi Eksklusif dari 88 sampel di kelurahan Ciputat yaitu 69
balita (78,4%) tidak diberikan Asi Eksklusif dan 19 balita (21,6%)
diberikan Asi Eksklusif.
4. Gambaran faktor perilaku orang tua yaitu kebiasaan merokok penghuni rumah
didapat hasil dari 88 sampel di kelurahan Ciputat yaitu 54 rumah balita
(61,8%) terdapat penghuni yang merokok dan 34 rumah balita (38,6%) tidak
terdapat perokok.
5. Gambaran faktor sosial seperti pendidikan orang tua yaitu sebesar 47 orang
tua balita (46,6%) berpendidikan rendah atau tidak sekolah, tamat SD, dan
SMP dan 41 orang tua balita (46,6%) berpendidikan tinggi atau lulus SMA,
D3, S1.
6. Faktor lingkungan fisik yang berhubungan terhadap kejadian ISPA pada balita
di kelurahan Ciputat yaitu ventilasi dan kepadatan hunian dengan nilai
p<0,05. Kelembaban memiliki nilai p>0,05 sehingga tidak terdapat hubungan
terhadap ISPA pada balita.

86

7. Tidak terdapat hubungan antara faktor individu balita : status gizi dan
pemberian asi ekslusif (nilai p>0,05) terhadap kejadian ISPA pada balita di
Kelurahan Ciputat tahun 2013.
8. Tidak terdapat hubungan antara faktor perilaku orang tua : kebiasaan merokok
(nilai p<0,05) terhadap ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat tahun 2013.
9. Terdapat hubungan antara faktor sosial : pendidikan orang tua (nilai p<0,05)
terhadap ISPA pada balita di Kelurahan Ciputat tahun 2013.
7.2 Saran
1. Masyarakat dapat mengetahui bahaya merokok terhadap kesehatan pada balita
sehingga dapat mengurangi atau berhenti untuk merokok.
2. Masyarakat mengetahui pentingnya memiliki ventilasi 10% dari luar rumah dan
tetap selalu membuka ventilasi sebagai tempat pertukaran sirkulasi udara.
3. Masyarakat dapat lebih memperhatikan tanda-tanda atau gejala ISPA pada balita
dan segera memanfaatkan pelayanan kesehatan yang tersedia.
4. Puskesmas bekerja sama dengan kader di harapkan dapat memberikan penyuluhan
rutin mengenai penyakit dan menjelaskan bagaimana kegiatan penanggulanganya.
5. Bagi peneliti lain dapat melakukan penelitian lebih mendalam dengan
menggunakan bantuan tenaga medis untuk mendiagnosis lebih dalam sebab penyakit
ISPA.

87

6.Penelitian ini di harapkan dapat digunakan sebagai referensi bagi peneliti lain untuk
melakukan penelitian selanjutnya yang lebih dalam dengan sampel yang lebih besar.
7. Pemerintah daerah dapat lebih memperhatikan lingkungan tempat tinggal warga
atau di harapkan dapat membantu dan memperbaiki rumah yang layak tinggal dengan
kententuan peraturan mengenai rumah sehat.

88

Daftar Pustaka
Achmadi, Umar Fahmi, 2008. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah.Universitas
Indonesia Press. Jakarta
Anonim, 2007. Profil Kesehatan di Indonesia. Depkes RI,Jakarta.
Aprinda D.S,Soedjajadi K, 2007. Hubungan Tingkat Kesehatan Rumah. Dengan
Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut .Jurnal Kesehatan Lingkungan,
VOL.3, NO.2, JANUARI 2007: 139 150.
Avrianto,Fanji , 2011 . Analisis Kadar Partulate Matter 10(PM10) di Udara dan
Keluhan Gangguan Pernafasan Pada Masyarakat yang Tinggal di Sepanjang
Jalan Raya Kelurahan Lalang Kecamatan Sunggal Medan.Skripsi Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatra Utara Medan.
Badan Pusat Statistik, 2003. Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2002, PT Relindo
Jaya, Jakarta.
BPLH, 2012. Pengukuran Kadar TSP di Wilayah Kota Tangerang Selatan. Tangsel
Citra,Putri, 2012. Hubungan Lingkungan Dalam Rumah Dengan Kejadian ISPA
Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Atang Jungket Kecamatan Bies
Kabupaten Aceh Tengah Tahun 2012.Skripsi.FKM UI.Depok.
Depkes RI, 2000. Pedoman Program Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran
Pernafasan Akut. Direktorat PPM & PL. Jakarta
Depkes. RI, 2004. Pedoman pemberantasanpenyakit infeksi saluran pernafasan akut
untuk penanggulangan pneumonia pada balita . Jakarta.
Depkes RI, 2005. Rencana Kerja Jangka Menengah Nasional Penanggulangan
Pneumonia Balita Tahun 2005-2009.
Depkes RI, 2005. Pedoman Penyelenggaraan Pemberian Imunisasi.Jakarta
Depkes RI, 2006. Pedoman Pengendalian Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut
Untuk Penanggulangan Pneumonia pada Balita. Jakarta.
Depkes RI. 2007.Pengertian ISPA, http. www. Google. Com 26 Mei 2013.

Depkes RI, 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar.Riskesdas Indonesia tahun
2007.
Depkes RI, 2008b. Surveilans Penyakit dan Masalah Kesehatan Berbasis
Masyarakat. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan.
Depkes RI, 2011.Kualitas Udara dalam Rumah terhadap ISPA pada Balita.Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Dinkes Kota Tangerang Selatan, 2010. Profil Kesehatan Kota Tangerang Selatan
Tangerang Selatan.
Dinkes Kota Tangerang Selatan, 2011. Profil Kesehatan Kota Tangerang
Selatan.Tangerang Selatan.
Dinkes Kota Tangerang Selatan, 2012. Profil Kesehatan Kota Tangerang
Selatan.Tangerang Selatan.
Ditjen PPM dan PLP, 2002. Modul Pelatihan ISPA untuk Petugas. Jakarta :
Departemen Kesehatan RI.
Fitri, Widya,2004.Faktor Resiko yang Berhubungan dengan kejadian ISPA Pada
Balita Di Propinsi Riau tahun 2004.Tesis FKM UI.Depok
Gertrudis T, 2010.Hubungan Antara Kadar Partikulat(PM10) Udara Rumah Tinggal
Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Di Sekitar Pabrik Semen PT
Indocement,Citeurep,tahun

2010.Tesis

Fakultas

Kesehatan

Masyarakat

UI.Depok.
Haryanto,B, 2007. Blood-Lead Monitoring Exposure to Leaded-Gasoline among
School Children in Jakarta,Inonesia 2005. Jurnal Kesehatan Masyarakat
Nasional,Volume 1,No.4, Fakultas Kesehatan Masyarakat,UI,Depok
Hamidi. (2002). Pajanan Debu Dengan Kejadian Gangguan Pernapasan Studi
Terhadap Bayi dan Balita Pada Pemukiman di Jalan Transportasi Batubara,
Kecamatan Mataram Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan,Tesis, FKM UI,
Depok.

Irianto,Bambang, 2006.Hubungan Faktor Lingkungan Rumah Dan Karakteristik


Balita Dengan Kejadian Penyakit ISPA Pada Balita Di Wilayah Kecamatan
Lemahwungkuk Kota Cirebon. Program Pascasarjana FKM UI.Depok.
Keman,S,2005.

Kesehatan

Perumahan

dan

Lingkungan

Pemukiman;Bagian

Kesehatan Lingkungan,Vol.2 No.1 : 29-42.


KepMen No.1077/MENKES/PER/V/2011. Persyaratan Rumah Sehat. Jakarta
Kristina, 2011.Hubungan Faktor Kondisi Fisik Rumah dengan Kejadian ISPA pada
Balita Di Wilayah Puskesmas Pabuaran Tumpeng Kota Tangerang tahun
2011.Skripsi.FKM UI.Depok.
Lindawaty, 2010. Partikulat(PM
Kejadian

ISPA

Prapatan,Jakarata

pada
Selatan

10

Udara Rumah Tinggal Yang Memepengaruhi

Balita(Penelitian

diKecamatan

tahun2009-2010).Tesis

Fakultas

Mampang
Kesehatan

Masyarakat Universitas Indonesia.Depok.


Mudehir, 2002. Hubungan faktor-faktor lingkungan rumah dengan kejadian penyakit
ISPA pada Anak balita di Kecamatan Jambi Selatan tahun 2002. Tesis. FKM UI.
Depok.
Nur,Hidayat,2004.Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Infeksi
Saluran Pernafasan Akut(ISPA) Pada Balita Di kelurahan Pasienan Tigo
Kecamatan Koto Tengah Kota Padang.Skripsi.FKM UNSU.Sumatera Barat.
Notoatmodjo,S, 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat.Jakarta:PT.Rineka Cipta.2003.
Notoatmodjo, S,2010.Metodologi Penelitian Kesehatan.Jakarta:PT.Rineka Cipta,
2010.
Puskesmas Ciputat, 2012. Laporan Tahunan Puskesmas Ciputat 2012.Tangerang
Selatan.
Permenkes RI No.1077/MENKES/PER/V/2011.Pedoman Penyehatan Udara Dalam
Rumah.Jakarta.2011
Riset Kesehatan Dasar. 2007. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan, Departemen Kesehatan, Republik Indonesia.

Safitri,Aprinda Dwi dan Ismail,Sofyan, 2010. Hubungan Tingkat Kesehatan Rumah


Dengan Kejadian ISPA Anak Balita DI Desa Labuhan Kecamatan Labuhan
Badas Kabupaten Sumbawa. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.3,No.2,Januari
2007:139-150.
Safwan, 2003. Lingkungan Fisik Rumah dan Sumber Pencemar dalam Rumah
sebagai faktor resiko kejadian ISPA pada anak Balita. Tesis. FKM UI. Depok.
Sinaga, Epi Ria Kristina, 2012. Kualitas Lingkungan Fisik Rumah dengan Kejadian
ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Warakas Kecamatan
Tanjung Priok Jakarta Utara 2011.Skripsi FKM UI.Depok.
Soemirat,SJ,2000.Mortality and Morbidity as Related to Air Polution. A Paper.
University of Minnesota.
Supriaptini, 2007. Faktor-Faktor pencemaran udara dalam rumah yang berhubungan
dengan kejadian ispa pada balita di indonesia.Dalam jurnal ekologi
kesehatan,vol.9,2 Juni 2010.
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, 2007. Penyakit anak. Jakarta:Badan
Pusat Statistik.
Triska S.N. dan Lilis S, 2005. Hubungan Sanitasi Rumah dengan Kejadian ISPA
Jurnal Kesehatan Lingkungan, VOL. 2, NO.1, 50 JULI 2005 : 43 52.
Wattimena,C.S, 2004. Faktor Lingkungan Rumah yang Mempengaruhi Hubungan
Kadar PM10 dengan kejadian ISPA pada Balita di wilayah Puskesmas Curug
Kabupaten Tangerang tahun 2004. Tesis.FKM UI. Depok.
World Bank, 2006. Diseases Control Priorities in Developing Countries.
WHO, 1997. Health and Environment in Sustainable Development Five Years after
the Earth Summit. WHO, Geneva.
WHO, 2003. Health Aspects of Air Pollution,WHO Regional Office for Europe.
WHO. 2007. Pencegahan & pengendalianInfeksi Saluran Pernafasan Akut
(ISPA)yang cenderung menjadi epidemic &pandemic di fasilitas pelayanan
kesehatan. Diperoleh tanggal 5 April 2013. http://www. Who.or.id

WHO, 2008.Pencegahan dan Pengendalian ISPA di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.


Diakses : 21 Januari 2013.
WHO, 2008. Infection Prevention and Control of Epidemic and PandemicProne Acute Respiratory Diseases In Health Care, WHO Interim Guidelines,
June 2007, WHO/HSE/EPR/2008.2.
WHO, 2009. Acute Respiratory Infection, Initiative for V accine Reasearch(IVR).
Rahayu,Yuyu,Sri, 2011. Kejadian ISPA Pada Balita Ditinjau Dari Pengetahuan
Ibu,Karakteristik Balita,Sumber Pencemar Dalam Ruang dan Lingkungan Fisik
Rumah Di Wilayah Kerja Puskesmas DTP Cibeber Kabupaten Lebak Propinsi
Banten Tahun 2011.Skripsi.FKM UI.Depok

LAMPIRAN FOTO

Foto Saat Wawancara dan Pengukuran Tinggi Badan

Foto Pengukuran Kelembaban

Foto Pengukuran Ventilasi dan Kondisi Rumah

SAVE OUTFILE='D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav' /COMPRESSED.


FREQUENCIES VARIABLES=statusgizi
/STATISTICS=STDDEV MINIMUM MAXIMUM MEAN MEDIAN
/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Statistics
statusgizi
N
Valid

88

Missing

Mean

.84

Median

1.00

Std. Deviation

.368

Minimum

Maximum

1
statusgizi

Valid

Cumulative
Percent

Frequency

Percent

Valid Percent

gizi kurang

14

15.9

15.9

15.9

gizi baik

74

84.1

84.1

100.0

Total

88

100.0

100.0

FREQUENCIES VARIABLES=KejadianISPA
/STATISTICS=STDDEV MINIMUM MAXIMUM MEAN MEDIAN
/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Statistics
KejadianISPA
N
Valid

88

Statistics
KejadianISPA
N
Missing

Mean

.49

Median

.00

Std. Deviation

.503

Minimum

Maximum

1
KejadianISPA

Valid

Cumulative
Percent

Frequency

Percent

Valid Percent

Mengalami ISPA

45

51.1

51.1

51.1

Tidak Mengalami ISPA

43

48.9

48.9

100.0

Total

88

100.0

100.0

FREQUENCIES VARIABLES=statusimunisasi
/STATISTICS=STDDEV MINIMUM MAXIMUM MEAN MEDIAN
/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Statistics
statusimunisasi
N
Valid
Missing
Mean

88
0
.92

Median

1.00

Std. Deviation

.272

Minimum

Maximum

1
statusimunisasi
Frequency

Valid

tidak lengkap

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

8.0

8.0

8.0

lengkap

81

92.0

92.0

100.0

Total

88

100.0

100.0

FREQUENCIES VARIABLES=asieksklusif
/STATISTICS=STDDEV MINIMUM MAXIMUM MEAN MEDIAN
/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Statistics
asieksklusif
N
Valid

88

Missing

Mean

.22

Median

.00

Std. Deviation

.414

Minimum

Maximum

1
asieksklusif

Valid

Cumulative
Percent

Frequency

Percent

Valid Percent

tidak

69

78.4

78.4

78.4

iya

19

21.6

21.6

100.0

Total

88

100.0

100.0

FREQUENCIES VARIABLES=kelembaban
/STATISTICS=STDDEV MINIMUM MAXIMUM MEAN MEDIAN
/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Statistics
kelembaban
N
Valid
Missing
Mean
Median

88
0
.85
1.00

Statistics
kelembaban
Std. Deviation

.357

Minimum

Maximum

1
kelembaban

Valid

Cumulative
Percent

Frequency

Percent

Valid Percent

TMS

13

14.8

14.8

14.8

MS

75

85.2

85.2

100.0

Total

88

100.0

100.0

FREQUENCIES VARIABLES=kebiasaanmerokok
/STATISTICS=STDDEV MINIMUM MAXIMUM MEAN MEDIAN
/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Statistics
kebiasaanmerokok
N
Valid

88

Missing
Mean

0
.39

Median

.00

Std. Deviation

.490

Minimum

Maximum

1
kebiasaanmerokok

Valid

Cumulative
Percent

Frequency

Percent

Valid Percent

Ada

54

61.4

61.4

61.4

tidak ada

34

38.6

38.6

100.0

Total

88

100.0

100.0

FREQUENCIES VARIABLES=obtnymkbakar
/STATISTICS=STDDEV MINIMUM MAXIMUM MEAN MEDIAN
/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Statistics
obtnymkbakar
N
Valid
Missing
Mean

88
0
.90

Median

1.00

Std. Deviation

.305

Minimum

Maximum

1
obtnymkbakar

Valid

Frequency

Percent

Valid Percent

menggunakan

Cumulative
Percent

10.2

10.2

10.2

tidak menggunakan

79

89.8

89.8

100.0

Total

88

100.0

100.0

FREQUENCIES VARIABLES=bhnbakarmemasak
/STATISTICS=STDDEV MINIMUM MAXIMUM MEAN MEDIAN
/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Statistics
bhnbakarmemasak
N
Valid
Missing
Mean

88
0
.95

Median

1.00

Std. Deviation

.209

Minimum

Maximum

bhnbakarmemasak

Valid

Cumulative
Percent

Frequency

Percent

Valid Percent

4.5

4.5

4.5
100.0

kayu/minyak tanah
gas

84

95.5

95.5

Total

88

100.0

100.0

FREQUENCIES VARIABLES=ventilasi
/NTILES=4
/STATISTICS=STDDEV MINIMUM MAXIMUM MEAN MEDIAN
/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Statistics
ventilasi
N

Valid

88

Missing

Mean

.42

Median

.00

Std. Deviation

.496

Minimum

Maximum
Percentiles

1
25

.00

50

.00

75

1.00
ventilasi

Valid

Cumulative
Percent

Frequency

Percent

Valid Percent

TMS

51

58.0

58.0

58.0

MS

37

42.0

42.0

100.0

Total

88

100.0

100.0

SAVE OUTFILE='D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav' /COMPRESSED.


FREQUENCIES VARIABLES=kepadatanhunian
/NTILES=4
/STATISTICS=STDDEV MINIMUM MAXIMUM MEAN MEDIAN
/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Statistics
kepadatanhunian
N
Valid

88

Missing

Mean

.34

Median

.00

Std. Deviation

.477

Minimum

Maximum
Percentiles

1
25

.00

50

.00

75

1.00
kepadatanhunian

Valid

Cumulative
Percent

Frequency

Percent

Valid Percent

TMS

58

65.9

65.9

65.9

MS

30

34.1

34.1

100.0

Total

88

100.0

100.0

SAVE OUTFILE='D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav' /COMPRESSED.


FREQUENCIES VARIABLES=pendidikanorgtua
/NTILES=4
/STATISTICS=STDDEV MINIMUM MAXIMUM MEAN MEDIAN
/ORDER=ANALYSIS.

Frequencies

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Statistics
pendidikanorgtua
N
Valid

88

Missing

Statistics
pendidikanorgtua
Mean

.47

Median

.00

Std. Deviation

.502

Minimum

Maximum
Percentiles

1
25

.00

50

.00

75

1.00
pendidikanorgtua

Valid

Cumulative
Percent

Frequency

Percent

Valid Percent

Rendah

47

53.4

53.4

53.4

tinggi

41

46.6

46.6

100.0

Total

88

100.0

100.0

GET
FILE='D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SKRIPSI MAYA FIX\SPSS\spss.sav'.
DATASET NAME DataSet1 WINDOW=FRONT.
GET
FILE='D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SKRIPSI MAYA FIX\SPSS\spss.sav'.
DATASET NAME DataSet1 WINDOW=FRONT.
GET
FILE='C:\Users\Reni\Desktop\SPSS\spss.sav'.
DATASET NAME DataSet1 WINDOW=FRONT.

CROSSTABS
/TABLES=statusgizi BY KejadianISPA
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ RISK
/CELLS=COUNT EXPECTED ROW
/COUNT ROUND CELL
/METHOD=EXACT TIMER(5).

Crosstabs

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Case Processing Summary
Cases
Valid
N
statusgizi * KejadianISPA

Missing

Percent
88

100.0%

Total

Percent
0

.0%

Percent
88

100.0%

statusgizi * KejadianISPA Crosstabulation


KejadianISPA
Tidak
Mengalami
ISPA

Mengalami
ISPA
statusgizi

gizi kurang

Count
Expected Count
% within statusgizi

gizi baik

Count
Expected Count
% within statusgizi

Total

Count
Expected Count
% within statusgizi

10

Total
14

7.2

6.8

14.0

28.6%

71.4%

100.0%

41

33

74

37.8

36.2

74.0

55.4%

44.6%

100.0%

45

43

88

45.0

43.0

88.0

51.1%

48.9%

100.0%

Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction

Likelihood Ratio

Asymp. Sig.
(2-sided)

df

3.393 a

.065

2.404

.121

3.478

.062

Fisher's Exact Test


Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

3.354

.067

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

.084

.060

.084

.060

.084

.060

.084

.060

88

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6,84.
b. Computed only for a 2x2 table
c. The standardized statistic is -1,831.
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for statusgizi
(gizi kurang / gizi baik)
For cohort KejadianISPA
= Mengalami ISPA
For cohort KejadianISPA
= Tidak Mengalami ISPA
N of Valid Cases

Lower

Upper

.322

.093

1.120

.516

.220

1.210

1.602

1.055

2.432

88

GET
FILE='D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav'.
DATASET NAME DataSet1 WINDOW=FRONT.
CROSSTABS
/TABLES=asieksklusif BY KejadianISPA
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ RISK
/CELLS=COUNT EXPECTED ROW
/COUNT ROUND CELL
/METHOD=EXACT TIMER(5).

Crosstabs

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav

Point
Probability

.044

Case Processing Summary


Cases
Valid
N
asieksklusif *
KejadianISPA

Missing

Percent
88

Total

Percent

100.0%

.0%

Percent
88

100.0%

asieksklusif * KejadianISPA Crosstabulation


KejadianISPA
Tidak
Mengalami
ISPA

Mengalami
ISPA
asieksklusif

tidak

Count
Expected Count
% within asieksklusif

iya

Count
Expected Count
% within asieksklusif

Total

Count
Expected Count
% within asieksklusif

Total

38

31

69

35.3

33.7

69.0

55.1%

44.9%

100.0%

12

19

9.7

9.3

19.0

36.8%

63.2%

100.0%

45

43

88

45.0

43.0

88.0

51.1%

48.9%

100.0%

Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction

Likelihood Ratio

Asymp. Sig.
(2-sided)

df

1.982 a

.159

1.319

.251

1.997

.158

Fisher's Exact Test


Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

1.959 c

.162

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

.199

.125

.199

.125

.199

.125

.199

.125

88

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9,28.
b. Computed only for a 2x2 table
c. The standardized statistic is 1,400.
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for
asieksklusif (tidak / iya)
For cohort KejadianISPA
= Mengalami ISPA
For cohort KejadianISPA
= Tidak Mengalami ISPA
N of Valid Cases

CROSSTABS

Lower

Upper

2.101

.738

5.980

1.495

.799

2.796

.711

.462

1.095

88

Point
Probability

.078

/TABLES=kelembaban BY KejadianISPA
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ RISK
/CELLS=COUNT EXPECTED ROW
/COUNT ROUND CELL
/METHOD=EXACT TIMER(5).

Crosstabs

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Case Processing Summary
Cases
Valid
N
kelembaban *
KejadianISPA

Missing

Percent
88

100.0%

Total

Percent
0

.0%

Percent
88

100.0%

kelembaban * KejadianISPA Crosstabulation


KejadianISPA
Tidak
Mengalami
ISPA

Mengalami
ISPA
kelembaban

TMS

Count

Expected Count
% within kelembaban
MS

Count
Expected Count
% within kelembaban

Total

Count
Expected Count
% within kelembaban

Total
8

13

6.6

6.4

13.0

38.5%

61.5%

100.0%

40

35

75

38.4

36.6

75.0

53.3%

46.7%

100.0%

45

43

88

45.0

43.0

88.0

51.1%

48.9%

100.0%

Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio

Asymp. Sig.
(2-sided)

df

.981 a

.322

.476

.490

.987

.321

Fisher's Exact Test


Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

.970 c

.325

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

.378

.246

.378

.246

.378

.246

.378

.246

88

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6,35.
b. Computed only for a 2x2 table
c. The standardized statistic is -,985.

Point
Probability

.148

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for
kelembaban (TMS / MS)
For cohort KejadianISPA
= Mengalami ISPA
For cohort KejadianISPA
= Tidak Mengalami ISPA
N of Valid Cases

Lower

Upper

.547

.164

1.826

.721

.351

1.481

1.319

.805

2.159

88

CROSSTABS
/TABLES=ventilasi BY KejadianISPA
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ RISK
/CELLS=COUNT EXPECTED ROW
/COUNT ROUND CELL
/METHOD=EXACT TIMER(5).

Crosstabs

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Case Processing Summary
Cases
Valid
N
ventilasi * KejadianISPA

Missing

Percent
88

100.0%

Total

Percent
0

.0%

Percent
88

ventilasi * KejadianISPA Crosstabulation


KejadianISPA
Mengalami
ISPA
ventilasi

TMS

Count
Expected Count
% within ventilasi

MS

Count
Expected Count
% within ventilasi

Total

Count
Expected Count
% within ventilasi

32

Tidak
Mengalami
ISPA
19

Total
51

26.1

24.9

51.0

62.7%

37.3%

100.0%

13

24

37

18.9

18.1

37.0

35.1%

64.9%

100.0%

45

43

88

45.0

43.0

88.0

51.1%

48.9%

100.0%

100.0%

Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction

Likelihood Ratio

Asymp. Sig.
(2-sided)

df

6.542 a

.011

5.484

.019

6.625

.010

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

.017

.009

.017

.009

.017

.009

.017

.009

Fisher's Exact Test


Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

6.468

.011

88

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 18,08.
b. Computed only for a 2x2 table
c. The standardized statistic is 2,543.
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for ventilasi
(TMS / MS)
For cohort KejadianISPA
= Mengalami ISPA
For cohort KejadianISPA
= Tidak Mengalami ISPA
N of Valid Cases

Lower

Upper

3.109

1.287

7.511

1.786

1.098

2.904

.574

.374

.881

88

CROSSTABS
/TABLES=kebiasaanmerokok BY KejadianISPA
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ RISK
/CELLS=COUNT EXPECTED ROW
/COUNT ROUND CELL
/METHOD=EXACT TIMER(5).

Crosstabs

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Case Processing Summary
Cases
Valid
N
kebiasaanmerokok *
KejadianISPA

Missing

Percent
88

100.0%

Total

Percent
0

.0%

Percent
88

100.0%

Point
Probability

.007

kebiasaanmerokok * KejadianISPA Crosstabulation


KejadianISPA
Mengalami
ISPA
kebiasaanmerokok

Ada

Count
Expected Count
% within
kebiasaanmerokok
Count

tidak ada

Expected Count
% within
kebiasaanmerokok
Count

Total

Expected Count
% within
kebiasaanmerokok

Tidak
Mengalami
ISPA

Total

30

24

54

27.6

26.4

54.0

55.6%

44.4%

100.0%

15

19

34

17.4

16.6

34.0

44.1%

55.9%

100.0%

45

43

88

45.0

43.0

88.0

51.1%

48.9%

100.0%

Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction

Likelihood Ratio

Asymp. Sig.
(2-sided)

df

1.092 a

.296

.683

.409

1.094

.296

Fisher's Exact Test


Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

1.080

.299

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

.382

.204

.382

.204

.382

.204

.382

.204

88

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 16,61.
b. Computed only for a 2x2 table
c. The standardized statistic is 1,039.
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for
kebiasaanmerokok (Ada /
tidak ada)
For cohort KejadianISPA
= Mengalami ISPA
For cohort KejadianISPA
= Tidak Mengalami ISPA
N of Valid Cases

Lower

Upper

1.583

.667

3.756

1.259

.805

1.969

.795

.521

1.213

88

CROSSTABS
/TABLES=pendidikanorgtua BY KejadianISPA
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ RISK
/CELLS=COUNT EXPECTED ROW
/COUNT ROUND CELL

Point
Probability

.101

/METHOD=EXACT TIMER(5).

Crosstabs

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Case Processing Summary
Cases
Valid
N
pendidikanorgtua *
KejadianISPA

Missing

Percent
88

100.0%

Total

Percent
0

.0%

Percent
88

100.0%

pendidikanorgtua * KejadianISPA Crosstabulation


KejadianISPA
Mengalami
ISPA
pendidikanorgtua

Rendah

Count
Expected Count

tinggi

% within
pendidikanorgtua
Count
Expected Count
% within
pendidikanorgtua
Count

Total

Expected Count
% within
pendidikanorgtua

Tidak
Mengalami
ISPA

Total

30

17

47

24.0

23.0

47.0

63.8%

36.2%

100.0%

15

26

41

21.0

20.0

41.0

36.6%

63.4%

100.0%

45

43

88

45.0

43.0

88.0

51.1%

48.9%

100.0%

Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio

Asymp. Sig.
(2-sided)

df

6.505 a

.011

5.460

.019

6.585

.010

Fisher's Exact Test


Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

6.431

.011

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

.018

.009

.018

.009

.018

.009

.018

.009

88

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 20,03.
b. Computed only for a 2x2 table
c. The standardized statistic is 2,536.

Point
Probability

.007

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for
pendidikanorgtua
(Rendah / tinggi)
For cohort KejadianISPA
= Mengalami ISPA
For cohort KejadianISPA
= Tidak Mengalami ISPA
N of Valid Cases

Lower

Upper

3.059

1.281

7.305

1.745

1.105

2.755

.570

.365

.890

88

CROSSTABS
/TABLES=kepadatanhunian BY KejadianISPA
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ RISK
/CELLS=COUNT EXPECTED ROW
/COUNT ROUND CELL
/METHOD=EXACT TIMER(5).

Crosstabs

[DataSet1] D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav


Case Processing Summary
Cases
Valid
N
kepadatanhunian *
KejadianISPA

Missing

Percent
88

100.0%

Total

Percent
0

.0%

Percent
88

100.0%

kepadatanhunian * KejadianISPA Crosstabulation


KejadianISPA
Mengalami
ISPA
kepadatanhunian

TMS

Count
Expected Count

MS

% within
kepadatanhunian
Count
Expected Count

Total

% within
kepadatanhunian
Count

Tidak
Mengalami
ISPA

Total

35

23

58

29.7

28.3

58.0

60.3%

39.7%

100.0%

10

20

30

15.3

14.7

30.0

33.3%

66.7%

100.0%

45

43

88

kepadatanhunian * KejadianISPA Crosstabulation


KejadianISPA
Tidak
Mengalami
ISPA

Mengalami
ISPA
Total

Expected Count
% within
kepadatanhunian

Total

45.0

43.0

88.0

51.1%

48.9%

100.0%

Chi-Square Tests
Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction

Likelihood Ratio

Asymp. Sig.
(2-sided)

df

5.774 a

.016

4.743

.029

5.853

.016

Fisher's Exact Test


Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

5.708 c

.017

Exact Sig. (2sided)

Exact Sig. (1sided)

.024

.014

.024

.014

.024

.014

.024

.014

Point
Probability

.010

88

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 14,66.
b. Computed only for a 2x2 table
c. The standardized statistic is 2,389.
Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value
Odds Ratio for
kepadatanhunian (TMS /
MS)
For cohort KejadianISPA
= Mengalami ISPA
For cohort KejadianISPA
= Tidak Mengalami ISPA
N of Valid Cases

Lower

Upper

3.043

1.209

7.664

1.810

1.047

3.130

.595

.396

.893

88

SAVE OUTFILE='D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SPSS\spss.sav' /COMPRESSED.


GET
FILE='D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SKRIPSI MAYA FIX\SPSS\spss.sav'.
DATASET NAME DataSet1 WINDOW=FRONT.
GET
FILE='D:\DOKUMEN MAYA NITIP\SKRIPSI\Draft Skripsi Maya\SKRIPSI MAYA FIX\SPSS\spss.sav'.
DATASET NAME DataSet1 WINDOW=FRONT.