Anda di halaman 1dari 3

Remaja merupakan kelompok yang unik dengan kebutuhan yang khas, yaitu kebutuhan untuk

mengenal identitas/ jati dirinya. Dalam memenuhi kebutuhannya tersebut, remaja cenderung
untuk menerima tantangan atau coba-coba melakukan sesuatu tanpa didahului pertimbangan
matang, yang akhirnya dapat mendorong remaja ke arah perilaku berisiko yang dapat
menimbulkan
berbagai
masalah
yang
akan
mempengaruhi
kesehatannya.
Masa remaja merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan pesat baik fisik,
psikologis maupun intelektual. Remaja mempunyai rasa keingintahuan yang besar, menyukai
petualangan dan tantangan serta cenderung berani menanggung resiko atas perbuatannya
tanpa didahului oleh pertimbangan matang, dan rasa ingin tahu tersebut dihadapkan pada
ketersediaan sarana di sekitarnya yang dapat memenuhi keingintahuannya
Permasalahan kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja meliputi Hubungan Seksual Pra
Nikah (HSPN), aborsi yang tidak aman (Unsaved Abortion), hubungan seksual yang bebas
dan tidak bertanggung jawab, penyalahgunaan narkotika dan alkohol, merokok, penularan
Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV-AIDS (Human Immunodeficiency Virus dan
Aquired Immunodeficiency Syndrome), Kehamilan Tak Diinginkan (KTD) dan aborsi hingga
kasus
pernikahan
dini
Ditemukan fakta ternyata banyak remaja yang sudah aktif secara seksual, meskipun tidak
selalu atas kehendak sendiri, dan dibeberapa negara berkembang kira-kira separuh dari
mereka sudah menikah. Aktifitas seksual dini yang tidak bertanggung jawab menempatkan
remaja menghadapi berbagai tantangan resiko kesehatan reproduksi. Diseluruh dunia pada
tahun 1997 diperkirakan 15 juta jiwa lebih remaja putri berusia 15-19 tahun yang melahirkan,
4 juta diantaranya melakukan unsafe abortion dan hampir 100 juta orang remaja yang terkena
IMS. Secara global pun didapatkan data 40% dari total kasus HIV terjadi pada kaum muda
yang berusia 15-24 tahun atau diperkirakan lebih dari 7.000 remaja terinfeksi HIV setiap
harinya
Sedangkan di Indonesia sendiri, ditemukan prediksi sekitar 700.000 kasus aborsi pada tahun
2003 dan 50% termasuk unsafe abortion. KTD pada remaja Indonesia juga diestimasikan
meningkat setiap tahunnya sebesar 150.000-200.000, 10% remaja usia 15-19 tahun sudah
menikah dan memiliki anak. Berbagai risiko kesehatan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor
yang saling berhubungan, misalnya tuntutan kawin muda dan berhubungan seksual,
kurangnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, ketimpangan gender, kekerasan seksual,
pengaruh negatif media massa dan kemajuan teknologi, maupun gaya hidup modern yang
bebas
Pendidikan kesehatan reproduksi dapat meningkatkan pengetahuan remaja terhadap
pentingnya kesehatan reproduksi, sehingga remaja dapat bertanggung jawab atas
keputusannya mengenai perilaku seksual. United Nations Educational Scientific and Cultural
Organization (2009) mengemukakan pendidikan seksual dapat meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, nilai-nilai untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab terhadap
perilaku
seksual
remaja.
Untuk meningkatkan status kesehatan khususnya remaja yang bersekolah maupun tidak
bersekolah, Kemeterian Kesehatan RI telah mengembangkan Pelayanan Kesehatan Peduli
Remaja (PKPR) yang menekankan kepada petugas yang peduli remaja, menerima remaja
dengan tangan terbuka dan menyenangkan, lokasi pelayanan mudah dijangkau, aman,
menjaga
kerahasiaan,
kenyamanan
dan
privasi,
tidak
ada
stigma.

Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) adalah Pelayanan Kesehatan yang Peduli
Remaja, melayani semua remaja dalam bentuk konseling dan berbagai hal yang berhubungan
dengan kesehatan remaja. Disini remaja tidak perlu ragu dan khawatir untuk
curhat/konseling, mendapatkan informasi yang benar dan tepat untuk berbagai hal yang perlu
diketahui
remaja.
Sasaran dari Pelayanan Kesehatan peduli Remaja (PKPR) ini adalah Semua remaja dimana
saja berada baik di sekolah atau di luar sekolah seperti karang taruna, remaja
mesjid/gereja/vihara/pura, pondok pesantren, asrama, dan kelompok remaja lainnya.
Jenis kegiatan dalam PKPR adalah pemberian informasi dan edukasi, pelayanan klinis medis
termasuk pemeriksaan penunjang, konseling, pendidikan Keterampilan hidup sehat (PKHS),
pelatihan Peer Counselor/ Konselor sebaya dan pelayanan rujukan sosial dan medis
Pelayanan kesehatan sekolah ini meliputi pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan
perkembangan kecerdasan, pemberian imunisasi, penemuan kasus-kasus dini yang mungkin
terjadi, pengobatan sederhana, pertolongan pertama serta rujukan bila menemukan kasus
yang
tidak
dapat
ditanggulangi
di
sekolah.
Pelayanan kesehatan sekolah ini meliputi pemeriksaan kesehatan, pemeriksaan
perkembangan kecerdasan, pemberian imunisasi, penemuan kasus-kasus dini yang mungkin
terjadi, pengobatan sederhana, pertolongan pertama serta rujukan bila menemukan kasus
yang
tidak
dapat
ditanggulangi
di
sekolah.
Demi keberhasilan dalam pengembangan pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
(PKPR) digunakan strategi sebagai berikut :
1. Pemenuhan sarana dan prasarana dilaksanakan secara bertahap.
2. Penyertaan remaja secara aktif.
3. Penentuan biaya pelayanan serendah mungkin.
4. Dilaksanakan kegiatan minimal.Pemberian KIE, pelaksanaan konseling serta
pelayanan klinis medis termasuk rujukan. Tanpa konseling pelayanan tidak akan
disebut PKPR.
5. Ketepatan penentuan prioritas sasaran. Misalnya Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja
(PKPR) diperuntukkan bagi remaja yang ada di sekolah.
6. Ketepatan pengembangan jenis kegiatan. Perluasan kegiatan minimal PKPR
ditentukan sesuai dengan masalah dan kebutuhan setempat serta sesuai dengan
kemampuan puskesmas.
7. Pelembagaan monitoring dan evaluasi internal. Monitoring dan evaluasi secara
berkala dilakukan oleh tim dari puskesmas dan tim dari Dinas Kesehatan Kota/
Kabupaten.

Persiapan dalam pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja adalah :


1. Sosialisasi internal Bertujuan untuk mendapatkan kesepakatan semua staf puskesmas
untuk menyelenggarakan PKPR di Puskesmas.
2. Penunjukan petugas pengelola Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR).
3. Pembentukan Tim PKPR. Tim terdiri dari dokter puskesmas, paramedis, petugas
UKS, petugas penyuluh, petugas gizi dan petugas lain yang dibutuhkan.
4. Penentuan jenis kegiatan, pelayanan serta siapa yang menjadi sasaran dalam
pelayanan kesehatan peduli remaja (PKPR) Pemenuhan sarana dan prasarana di
puskesmas maupun di sekolah.
5. Baik di puskesmas maupun di sekolah harus disediakan ruangan khusus pelayanan
kesehatan peduli remaja (PKPR), karena dalam kegiatannya ada konseling bagi
remaja, tanpa disediakan ruangan khusus dikuatirkan kerahasiaan masalah yang
disampaikan oleh remaja tidak akan terjamin.
6. Pelatihan Peer Counselor/ konselor sebaya bagi remaja yang ada di sekolah.
Manfaat Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja ( PKPR) adalah :

Menambah wawasan dan teman melalui kegiatan-kegiatan penyuluhan, dialog


interaktif, Focus Group Discussion (FGD), seminar, jambore, dll.

Konseling/curhat masalah kesehatan dan berbagai masalah remaja lainnya (dan


kerahasiaannya dijamin).

Remaja dapat menjadi peer counselor/kader kesehatan remaja agar dapat ikut
membantu teman yang sedang punya masalah.

Pendidikan kesehatan dapat berupa mata pelajaran ilmu kesehatan atau upaya-upaya lain
yang disisipkan dalam ilmuilmu lain seperti olah raga dan kesehatan, ilmu pengetahuan
alam dan sebagainya. Selain melalui pelajaran, pendidikan kesehatan juga dapat
diperkenalkan melalui pendidikan kesehatan yang disisipkan pada kegiatan ekstrakurikuler
untuk menanamkan perilaku sehat peserta didik. Dengan adanya dukungan dari pihak sekolah
atau pendidikan diharapkan dapat meminimalisir kejadian atau masalah yang berhubungan
dengan remaja. DIAN FADHLINA (Dinas Kesehatan Kab. Sijunjung).