Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS

1.1

1.2

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. N

Umur

: 17 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Ciluncat 1/14 Kec. Cangkuang Kab. Bandung

Pekerjaan

: Pelajar

Pendidikan

: SMA

ANAMNESIS
Keluhan utama

: Penglihatan kedua mata kabur

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasein datang dengan keluhan melihat jarak jauh semakin kabur sejak 2 bulan
terakhir. Pandangan kabur apabila melihat jarak jauh dan huruf keliahatan membayang tetapi
membaik jika jaraknya menjadi dekat. Pandangan kabur terjadi perlahan dan makin lama
makin kabur, pasien juga mengeluh harus mengernyitkan mata untuk melihat fokus pada
suatu benda. Pasien merasa gatal di kedua mata dan berair apabila telah selesai membaca.
Keluhan mata merah (-), nyeri (-), silau (-), kotoran mata (-), riwayat didepan computer
dalam jangka waktu lama dalam sehari (+).
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien telah mengalami penglihatan kabur sejak 3 tahun yang lalu. Riwayat
menggunakan kacamata sebelumnya dengsn lensa S -1,75 Kanan dan S -1,50 kiri. Riwayat
trauma pada daerah mata disangkal. Riwayat minum obat-obatan dalam jangka waktu lama
disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluhan yang sama dalam keluarga disangkal.

Riwayat Gizi
Baik
Penyakit Sistemik

Tractus Respiratorius : Tidak ada keluhan

Tractus Digestivus

: Tidak ada keluhan

Kardiovaskuler

: Tidak ada keluhan

Endokrin

: Tidak ada keluhan

Neurologi

: Tidak ada keluhan

Kulit

: Tidak ada keluhan

THT

: Tidak ada keluhan

Gigi dan Mulut

: Tidak ada keluhan

Lain lain

1.3 Pemeriksaan Fisik


1.3.1

Status Oftalmologikus

PEMERIKSAAN VISUS
DAN REFRAKSI
VISUS

PIN HOLE
KOREKSI

OD
6/21
Pemeriksaan dilakukan
dengan cara:
- Pasien menutup mata
kirinya dengan
menggunakan telapak
tangan
- Pasien diminta untuk
membaca angka
terbesar pada kartu
snellen.

6/7
Visus 6/21 6/6
- Dilakukan koreksi
Dengan langkah:
dengan menggunakan
- Pasien diminta untuk
sferis -2,00
memakai trial frame
- Pasien merasa lebih
- Mata kanan diperiksa
terang dengan
terlebih dahulu dan mata
menggunakan lensa
kiri ditutup dengan
sferis -2,00.
occlude
- Pasien hanya mampu
- Pasien diminta untuk
membaca angka pada

OS
6/21
Pemeriksaan dilakukan
dengan cara:
- Pasien menutup mata
kanannya dengan
menggunakan telapak
tangan.
- Pasien diminta untuk
membaca huruf
terbesar pada kartu
snellen.
6/7
Visus 6/21 6/6
- Dilakukan koreksi
dengan menggunakan
sferis -2,00
- Pasien merasa lebih
terang dengan
menggunakan lensa
sferis -2,00.
- Pasien mampu
membaca angka pada
2

mengidentifikasi angka
terbesar pada kartu
snellen.
- Setelah mata kanan
diperiksa dilanjutkan
pada mata kiri dan mata
kanan ditutup.
MUSCLE BALANCE
Kedudukan bola mata

kartu snellen hingga


baris ke 8 sehingga visus
6/6

OD

ortoforia

kartu snellen hingga


baris ke -8 sehingga
visus 6/6

OS

Ortoforia

PERGERAKAN BOLA
MATA

Ke segala arah

PEMERIKSAAN
EKSTERNAL
SUPERSILIA

Ke segala arah

OD

OS

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

PALPEBRA SUPERIOR

Normal

Normal

PALPEBRA INFERIOR

Normal

Normal

MARGO PALPEBRA
DAN SILIA
APPARATUS
LAKRIMALIS
KONJUNGTIVA
TARSALIS SUPERIOR

Normal

Normal

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

KORNEA

Jernih

Jernih

COA

dalam

dalam

3 mm

3 mm

+
+

+
+

KONJUNGTIVA
TARSALIS INFERIOR
KONJUNGTIVA BULBI

PUPIL
- DIAMETER
- REFLEKS CAHAYA
- Direct
- Indirect

IRIS

Warna coklat, kripte (+)

Warna coklat, kripte (+)

Keruh (-)

Keruh (-)

LENSA

1.3. 2 Pemeriksaan Umum


-

KeadaanUmum
Tekanan darah
Nadi
Suhu
Pernapasan
Berat badan

: Composmentis
: 120/80 mmHg
: 84 x/menit
: Afebris
: 20 x/menit
: 43 Kg

1.4

DIAGNOSIS KERJA
Miopia ODS

1.5

PENATALAKSANAAN
Umum :

Membaca dengan pencahayaan yang cukup

Menghindari membaca sambil tiduran

Kacamata harus terus dipakai

Beristirahat jika mata mulai terasa lelah

Khusus :
Kacamata lensa sferis konkaf sesuai dengan koreksi :
OD S 2.00 D 6/6
OS S 2.00 D 6/6
1.6 PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam

BAB II
4

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KELAINAN REFRAKSI
Kelainan refraksi adalah keadaan dimana bayangan tegas tidak dibentuk pada retina.
Pada kelainan refraksi terjadi ketidakseimbangan sistem optik mata sehingga menghasilkan
bayangan yang kabur. Pada mata normal kornea dan lensa mebelokkan sinar pada titik fokus
yang tepat pada sentral retina. Keadaan ini memerlukan susunan kornea dan lensa yang
sesuai dengan panjangnya bola mata. Pada orang normal daya bias media penglihatan dan
panjangnya bola mata seimbang sehingga bayangan benda setelah melalui media refraksi
dibiaskan tepat di daerah makula lutea.1
Secara keseluruhan status refraksi dipengaruhi oleh :
1. Kekuatan kornea (rata-rata 43 D)
2. Kekuatan lensa (rata-rata 21 D)
3. Panjang aksial (rata-rata 24 cm)
Dikenal beberapa titik didalam bidang refraksi, seperti Punctum Proksimum merupakan
titik terdekat dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Puctum Remotum adalah
titik terjauh dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Titik ini merupakan titik
didalam ruang yang berhubungan dengan retina atau foveola bila mata istirahat.1
Emetropia adalah mata tanpa adanya kelainan refraksi pembiasan sinar mata dan
berfungsi normal. Ametropia adalah keadaan pembiasan mata dengan panjang bola mata yang
tidak seimbang.1
Terdapat beberapa kelainan refraksi antara lain miopia, hipermetropia, presbiopia, dan
astigmat.2
2.2 MIOPIA
A. DEFINISI
Miopia merupakan kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang memasuki mata
tanpa akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di depan retina. Dalam keadaan ini objek
yang jauh tidak dapat dilihat secara teliti karena sinar yang datang saling bersilangan pada
badan

kaca,

ketika

sinar

tersebut

sampai

di

retina

sinar-sinar

ini

menjadi

divergen,membentuk lingkaran yang difus dengan akibat bayangan yang kabur.1,2

Gambar 1. Miopia
Pasien dengan miopia akan memberikan keluhan sakit kepala, sering disertai dengan
juling dan celah kelopak yang sempit. Seseorang miopia mempunyai kebiasaan mengernyitkan
matanya untuk mencegah aberasi sferis atau unutk mendapatkan efek pinhole (lubang kecil).
Pasien miopia mempunyai punctum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam atau
berkedudukan konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat
juling kedalam atau esotropia.2
B. KLASIFIKASI1-3
Dikenal beberapa tipe dari miopia :
1. Miopia Aksial
Bertambah panjangnya diameter anteroposterior bola mata dari normal. Pada orang
dewasa panjang axial bola mata 22,6 mm. Perubahan diameter anteroposterior bola mata
1 mm akan menimbulkan perubahan refraksi sebesar 3 dioptri.
2. Miopia Refraktif
Bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti yang terjadi pada katarak intumesen
dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat.
Menurut derajat beratnya, miopia dibagi dalam :
1. Miopia ringan, dimana miopia kecil daripada 1-3 D
2. Miopia sedang, dimana miopia kecil daripada 3-6 D
3. Miopia berat atau tinggi, dimana miopia lebih besar dari 6 D

Menurut perjalanannya, miopia dikenal denan bentuk :


a. Miopia stasioner, miopia yang menetap
b. Miopia progresif, miopia yang bertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah
panjangnya bola mata
c. Miopia maligna, miopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan ablasi retina
dan kebutaan. Miopia maligna biasanya bila mopia lebih dari 6 dioptri disertai kelainan
pada fundus okuli dan pada panjangnya bola mata sampai terbentuk stafiloma postikum
yang terletak pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi korioretina.
Pada mata dengan miopia tinggi akan terdapat kelainan pada fundus okuli
sepertimiopik kresen yaitu bercak atrofi koroid yang berbentuk bulan sabit pada bagian
temporal yang berwarna putih keabu-abuan kadang-kadang bercak atrofi ini mengelilingi
papil yang disebut annular patch. Dijumpai degenerasi dari retina berupa kelompok pigmen
yang tidak merata menyerupai kulit harimau yang disebut fundus tigroid, degenerasi makula,
degenerasi retina bagian perifer (degenerasi latis).2,3
Degenerasi latis adalah degenerasi vitroretina herediter yang paling sering dijumpai,
berupa penipisan retina berbentuk bundar, oval atau linear, disertai pigmentasi, garis putih
bercabang-cabang dan bintik kuning keputihan. Degenerasi latis lebih sering dijumpai pada
mata miopia dan sering disertai ablasio retina, yang terjadi hampir 1/3 pasien dengan ablasio
retina.2,3

Gambar 2. Degenerasi Latis

Berdasarkan gambaran klinisnya, miopia dibagi menjadi :2,-5


a. Miopia simpleks
Ini lebih sering daripada tipe lainnya dan dicirikan dengan mata yang terlalu panjang
untuk tenaga optiknya (yang ditentukan dengan kornea dan lensa) atau optik yang
terlalu kuat dibandingkan dengan panjang aksialnya.
b. Miopia nokturnal
Ini merupakan keadaan dimana mata mempunyai kesulitan untuk melihat pada area
dengan cahaya kurang, namun penglihatan pada siang hari normal.
c. Pseudomiopia
Terganggunya penglihatan jauh yang diakibatkan oleh spasme otot siliar.
d. Miopia yang didapat
Terjadi karena terkena bahan farmasi, peningkatan level gula darah, sklerosis nukleus
atau kondisi anomali lainnya.
C. GEJALA KLINIS2,4,5,6
Gejala subjektif miopia antara lain:
a.

Kabur bila melihat jauh

b.

Membaca atau melihat benda kecil harus dari jarak dekat

c.

Lekas lelah bila membaca ( karena konvergensi yang tidak sesuai dengan
akomodasi ).2-3
Gejala objektif miopia antara lain:

1. Miopia simpleks :
a)Pada segmen anterior ditemukan bilik mata yang dalam dan pupil yang relatif lebar.
b)

Kadang-kadang ditemukan bola mata yang agak menonjol


Pada segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang normal atau dapat disertai
kresen miopia (myopic cresent) yang ringan di sekitar papil saraf optik.2.3

2. Miopia patologik :
Gambaran pada segmen anterior serupa dengan miopia simpleks Gambaran yang
ditemukan pada segmen posterior berupa kelainan-kelainan pada
1.Badan kaca : dapat ditemukan kekeruhan berupa pendarahan atau degenerasi yang
terlihat sebagai floaters, atau benda-benda yang mengapung dalam badan kaca.
8

Kadang-kadang ditemukan ablasi badan kaca yang dianggap belum jelas


hubungannya dengan keadaan miopia
2.Papil saraf optik : terlihat pigmentasi peripapil, kresen miopia, papil terlihat lebih pucat
yang meluas terutama ke bagian temporal. Kresen miopia dapat ke seluruh lingkaran
papil sehingga seluruh papil dikelilingi oleh daerah koroid yang atrofi dan pigmentasi
yang tidak teratur.2,3

Gambar 2. Myopic cresent


3.Makula : berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang ditemukan perdarahan
subretina pada daerah makula.
4.Retina bagian perifer : berupa degenersi kista retina bagian perifer
5. Seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa penipisan koroid dan retina. Akibat
penipisan ini maka bayangan koroid tampak lebih jelas dan disebut sebagai fundus
tigroid.

Gambar 3. Fundus Tigroid

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG2,4,5
9

Untuk mendiagnosis miopia dapat dilakukan dengan beberapa pemeriksaan pada


mata, pemeriksaan tersebut adalah :
1. Refraksi Subjektif
Diagnosis miopia dapat ditegakkan dengan pemeriksaan rekraksi subjektif, metode
yang digunakan adalah dengan metode trial and error. Jarak pemeriksaan 6 meter
dengan menggunakan kartu Snellen.
2. Refraksi Objektif
Yaitu menggunakan retinoskopi, dengan lensa kerja sferis +2.00 D pemeriksa
mengamati refleks fundus yang bergerak berlawanan arah dengan arah gerakan
retinoskop (against movement).
3. Autorefraktometer
Yaitu menentukan miopia atau besarnya kelainan refraksi dengan menggunakan
komputer.
E. PENATALAKSANAAN
a. Lensa Kacamata
Kacamata masih merupakan yang paling aman untuk memperbaiki
refraksi. Untuk mengurangi aberasi nonkromatik, lensa dibuat dalam bentuk
meniskus (kurva terkoreksi) dan dimiringkan ke depan (pantascopic tilt). 1- 4
b. Lensa Kontak
Lensa kontak pertama merupakan lensa sklera kaca yang berisi cairan. Lensa ini sulit
dipakai untuk jangka panjang serta menyebabkan edema kornea dan rasa tidak enak pada
mata. Lensa kornea keras, yang terbuat dari polimetilmetakrilat, merupakan lensa kontak
pertama yang benar-benar berhasil dan diterima secara luas sebagai pengganti kacamata.
Pengembangan selanjutnya antara lain adalah lensa kaku yang permeabel udara., yang
terbuat dari asetat butirat selulosa, silikon, atau berbagai polimer plastik dan silikon; dan
lensa kontak lunak, yang terbuat dari beragam plastik hidrogel; semuanya memberikan
kenyamanan yang lebih baik, tetapi risiko terjadinya komplikasi serius lebih besar.2-4
Lensa keras dan lensa yang permeabel-udara mengoreksi kesalahan refraksi dengan
mengubah kelengkungan permukaan anterior mata. Daya refraksi total merupakan daya yang
ditimbulkan oleh kelengkungan belakang lensa (kelengkungan dasar) bersamsa dengan daya
lensa sebenarnya yang disebabkan oleh perbedaan kelengkungan antara depan dan belakang.
Hanya yang kedua yang bergantung pada indeks refraksi bahan lensa kontak. Lensa keras
10

dan lensa permeabel-udara mengatasi astigmatisme kornea dengan memodifikasi permukaan


anterior mata menjadi bentuk yang benar-benar sferis.2-5
Lensa kontak lunak, terutama bentuk-bentuk yang lebih lentur, mengadopsi bentuk
kornea pasien. Dengan demikian, daya refraksinya hanya terdapat pada perbedaan antara
kelengkungan depan dan belakang, dan lensa ini hanya sedikit mengoreksi astigmatisme
kornea, kecuali bila disertai koreksi silindris untuk membuat suatu lensa torus.
a. Bedah Keratorefraktif
Bedah keratorefraktif mencakup serangkaian metode untuk mengubah kelengkungan
permukaan anterior mata. Efek refraktif yang diinginkan secara umum diperoleh dari hasil
empiris tindakan-tindakan serupa pada pasien lain dan bukan didasarkan pada perhitungan
optis maternatis.3-6
b. Lensa Intraokular
Penanaman lensa intraokular (IOL) telah menjadi metode pilihan untuk koreksi
kelainan refraksi pada afakia. Tersedia sejumlah rancangan, termasuk lensa lipat, yang
terbuat dari plastik hidrogel, yang dapat disisipkan ke dalam mata melalui suatu insisi kecil;
dan lensa kaku, yang paling sering terdiri atas suatu optik yang terbuat dari
polimetilmetakrilat dan lengkungan (haptik) yang terbuat dari bahan yang sama atau
polipropilen. Posisi paling aman bagi lensa intraokular adalah didalam kantung kapsul yang
utuh setelah pembedahan ekstrakapsular.4,5
e. Ekstraksi Lensa Jernih Untuk Miopia
Ekstaksi lensa non-katarak telah dianjurkan untuk koreksi refraktif miopia sedang
sampai tinggi; hasil tindakan ini tidak kalah memuaskan dengan yang dicapai oleh bedah
keratorefraktif menggunakan laser. Namun, perlu dipikirkan komplikasi operasi dan
pascaoperasi bedah intraokular, khususnya pada miopia tinggi.3-5

F. KOMPLIKASI2
11

Komplikasi lebih sering terjadi pada miopia tinggi. Komplikasi yang dapat terjadi
berupa :
-

Dinding mata yang lebih lemah, karena sklera lebih tipis

Degenerasi miopik pada retina dan koroid. Retina lebih tipis sehingga terdapat risiko
tinggi terjadinya robekan pada retina

Ablasi retina

Orang dengan miopia mempunyai kemungkinan lebih tinggi terjadi glaukoma

G. PROGNOSIS
Prognosis miopia sederhana adalah sangat baik. Pasien miopia sederhana yang telah
dikoreksi miopianya dapat melihat objek jauh dengan lebih baik. Prognosis yang didapat
sesuai dengan derajat keparahannya. Penyulit yang dapat timbul pada pasien dengan miopia
adalah terjadinya ablasi retina dan juling. Juling biasanya esotropia akibat mata
berkonvergensi terus-menerus. Bila terdapat juling keluar mungkin fungsi satu mata telah
berkurang atau terdapat ambliopia.1-3

12

PEMBAHASAN
Dari anamnesis didapatkan keluhan :
-

Pandangan kedua mata kabur yang timbul secara perlahan, pertama kali 3 tahun yang
lalu

Pandangan kabur saat melihat jauh dan huruf kelihatan membayang tetapi membaik
jika melihat dalam jarak dekat

Mata cepat terasa cepat lelah, gatal dan berair saat membaca

Dari pemeriksaan fisik didapatkan :


-

VOD 6/21 S -2.00 D 6/6

VOS 6/21 S -2.00 D 6/6

ODS : Kornea jernih, COA dalam, lensa jernih


Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa miopia merupakan suatu keadaan refraksi

mata dimana sinar sejajar yang datang dari jarak tak terhingga dalam keadaan mata istirahat,
dibiaskan di depan retina sehingga pada retina didapatkan lingkaran difus dan bayangan
kabur. Cahaya yang datang dari jarak yang lebih dekat mungkin dibiaskan tepat di retina
tanpa akomodasi.
Pasien ini diterapi dengan lensa sferis negatif. Ukuran lensa yang digunakan adalah yang
terkecil yang memberikan visus maksimal pada saat dilakukan koreksi. Hal ini sesuai dengan
kepustakaan yang menyatakan bahwa pada penderita miopia diberikan lensa sferis negatif
yang terkecil yang memberikan visus maksimal.
Prognosis quo ad vitam pada kasus ini adalah ad bonam, dan quo ad fungtionam pada
kasus ini dubia ad bonam Prognosis miopia sederhana adalah sangat baik. Pasien miopia
sederhana yang telah dikoreksi miopianya dapat melihat objek jauh dengan lebih baik.
Prognosis yang didapat sesuai dengan derajat keparahannya.

13

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, HS. 2006. Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Cetakan I. Balai Penerbit FKUI,
Jakarta
2. Vaughan A dan Riordan E 2000. Ofthalmologi Umum. Ed 17 .Cetakan 1. Widya
Medika, Jakarta.
3. Nana Wijana S.D. Ilmu Penyakit Mata. Cetakan ke-6. Jakarta. Abadi Tegal.1993
4. Ilyas S, Tanzil M, Salamun dkk. Sari Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI, 2003:5
5. Hartono, Yudono RH, Utomo

PT, Hernowo

AS. Refraksi dalam:

Ilmu

PenyakitMata. Suhardjo, Hartono (eds). Yogyakarta: Bagian Ilmu Penyaki


t Mata FK UGM,2007;185-7
6. Ilyas S. Optik dan refraksi. Dalam : Ilmu Penyakit Mata untuk dokter
umum dan mahasiswa kedokteran. Jakarta: Balai penerbit Sagung Seto,2002

LAPORAN KASUS
14

MIOPIA

Disusun oleh :
Regina Septiani 1102010234

Pembimbing :
dr. Diantinia Sp.M
dr. Tri Agus Haryono Sp.M

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI KEPANITERAAN


ILMU PENYAKIT MATA RSUD SOREANG BANDUNG
2015

15