Anda di halaman 1dari 15

1.

ASPEK HUKUM

1.1

1.2

PENGHEMATAN DAN PENERTIBAN PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK

Penghematan pemakaian tenaga listrik.

Penertiban pemakaian tenaga listrik (P2TL).

HUKUM
Himpunan peraturan-peraturan hidup yang bersifat memaksa, berisikan suatu
perintah, larangan atau izin untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu serta
dengan maksud untuk mengatur tata tertib dalam kehidupan masyarakat.

1.2.1

Pembagian hukum

HUKUM PUBLIK

HUKUM PRIVAT

Hukum pidana (materiil)

Hukum

acara

Hukum

tata

Simple,

Hukum pajak

Dll.

Inspiring,

Hukum

acara

perdata

(formil/cara
menjalankan
/
mempertahankan hukum perdata
materiil)

usaha

(administrasi) negara

Hukum perdata (materiil),


antara lain : perkawinan, jual beli

pidana

(formil)

Hukum dagang (al. Uu pt)

Dll.

Performing,

Phenomenal
1

1.2.2

Ciri ciri

HUKUM PUBLIK

Bersifat memaksa dan

HUKUM PRIVAT

mengatur.

kepentingan perseorangan
dibandingkan dengan
kepentingan masyarakat.

Lebih menitikberatkan pada


kepentingan masyarakat
dibandingkan dengan
kepentingan perseorangan.
Negara berwenang campur
tangan jika terjadi pelanggaran
hukum.

Lebih menitikberatkan

Negara tidak berwenang


campur tangan, kecuali atas
permintaan pihak yang merasa
dirugikan.

Publik
Didirikan oleh Pemerintah :

PP No. 67 tahun 1961 BPUPLN

PP No. 34 tahun 1965 PLN

PP No. 18 tahun 1972 Perum

PP No. 23 tahun 1994 Perubahan Perum ke Persero


- Ada ketentuan yang diatur / ditetapkan oleh Pemerintah (antara lain : PLN
adalah BUMN selaku PKUK, hubungan PKUK dengan masyarakat, Tarif).
- Modal seluruhnya / mayoritas dimiliki oleh Negara.
- Tunduk pada UU BUMN (UU. No. 19 tahun 2003).

Privat

Pendirian sebagai PT / Perubahan dengan Akta Notaris, mengikuti ketentuan


Hukum Perdata.

Tunduk pada No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT).

Dalam menjalankan usaha jual beli SPJBTL (Perdata).

Simple,

Inspiring,

Performing,

Phenomenal
2

1.3

DASAR HUKUM

Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 104 Th. 2003 tentang Harga Jual
Tenaga Listrik Tahun 2004 (Tarif Dasar Listrik 2004).

Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 2 Tahun 2008 tgl. 5 Mei 2008 tentang
Penghematan Energi dan Air.

Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 47/M-IND/PER/7/2008, Menteri Energi


dan Sumber Daya Mineral Nomor 23 Tahun 2008, Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Nomor Per.13/MEN/VII/2008, Menteri Dalam Negeri Nomor 35
Tahun 2008 dan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER03/MBU/08 tanggal 14 Juli 2008 tentang Pengoptimalan Beban Listrik Melalui
Pengalihan Waktu Kerja Pada Sektor Industri di Jawa - Bali.

Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No. 101.A.K/DIR/2008 tanggal 3 April 2008


tentang Ketentuan Pelaksanaan Penghematan Pemakaian Tenaga Listrik oleh
Pelanggan PT PLN (Persero).

1.3.1

Instruksi Presiden No.2 th.2008 (mencabut Instruksi Presiden No. 10


Tahun 2005)

Menteri, Jaksa Agung, Kepala Lembaga Non Departemen, Panglima TNI,


Kapolri, Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Negara, Gubernur, Bupati, Walikota
melakukan langkah-langkah dan inovasi penghematan energi dan air di
lingkungan instansi / BUMN / BUMD.

Gubernur,

Bupati,

Walikota

melaksanakan

program

dan

kegiatan

penghematan energi dan air sesuai Kebijakan Penghematan Energi dan Air yang
telah ditetapkan serta melakukan sosialisasi dan mendorong masyarakat
termasuk perusahaan swasta untuk melaksanakan penghematan energi dan air.

Membentuk Tim Nasional, dengan tugas antara lain merumuskan dan


menyiapkan kebijakan, strategi dan program penghematan energi dan air
termasuk program konservasi energi, dengan berpedoman pada prinsip :

Simple,

Kebutuhan pokok energi dan air masyarakat dewasa ini dipenuhi


Pemerintah dengan subsidi.

Kemewahan dalam pemanfaatan energi dan air harus dibatasi dan


dibayar sesuai harga keekonomian.

Kebutuhan energi dan air untuk kepentingan usaha dan bisnis, dibayar
sesuai harga keekonomian

Pemakaian energi dan air untuk Instansi Pemerintah harus dibatasi,


diawasi dan menjadi contoh masyarakat

Inspiring,

Performing,

Phenomenal
3

Melakukan sosialisasi secara menyeluruh dan komprehensif untuk penggunaan


teknologi yang dapat menghemat energi dan air.

Menetapkan kebijakan dan langkah-langkah pelaksanaan audit energi dan air


secara berkelanjutan di Kantor Pemerintah, Pemda, BUMN, BUMD dan swasta
di PLN dibentuk Tim Audit Energi.

1.3.2

Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 101.A.K/DIR/2008

Kebijakan penghematan tenaga listrik dilakukan melalui mekanisme penerapan


tarif Bersubsidi dan tarif Tidak Bersubsidi.

Pelanggan yang memakai tenaga listrik sampai Batas Hemat

(80

dari

pemakaian tenaga listrik rata-rata Nasional pada kelompok tarifnya) akan


dikenakan tarif Subsidi, sedangkan pelanggan yang tidak bisa berhemat
(pemakaian listriknya melebihi Batas Hemat), maka kelebihannya akan
dikenakan tarif Tidak Bersubsidi.

Dasar perhitungan tarif Tidak Bersubsidi adalah TDL 2004 Lampiran IX Tarif
Multiguna Rp.1.380,-.
Sesuai butir 2 f, tarif Multiguna dapat diberlakukan antara lain
- Bersifat sementara (jangka waktu pendek).
- Tergantung kondisi sistim kelistrikan PLN.
- Adanya peluang bisnis para pihak yang saling menguntungkan.

Dengan ditetapkannya Keputusan ini, maka kebijakan Tarif Insentif dan


Disinsentif yang sebelumnya telah ditetapkan dengan Keputusan Direksi PT PLN
(Persero) Nomor 091.K/DIR/2008 tanggal 14 Maret 2008 dinyatakan tidak
berlaku lagi.

1.3.3

Tahap Penerapan Tarif Subsidi Dan Tarif Tidak Bersubsidi

Kebijakan penerapan tarif Bersubsidi dan tarif Tidak Bersubsidi akan


diberlakukan secara bertahap, Tahap Pertama hanya diberlakukan bagi
pelanggan Rumah Tangga, Bisnis dan Kantor Pemerintah dengan daya mulai
6.600 VA keatas.

Bagi pelanggan-2 yang tidak termasuk dalam kategori diatas tetap membayar
tagihan listrik seperti biasanya, namun dihimbau untuk mulai melakukan
penghematan pemakaian tenaga listrik

1.3.4

Kebijakan Tarif Bersubsidi Dan Tarif Tidak Bersubsidi, Tidak Berlaku


Untuk :

Simple,

Pelanggan yang belum dilayani oleh sistim ketenagalistrikan 24 jam.

Inspiring,

Performing,

Phenomenal
4

Pelanggan yang pemakaian tenaga listriknya bersifat sementara.

Pelanggan yang telah dikenakan kebijakan Dayamax Plus.

Pelanggan yang telah ada Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan PLN dan terikat
kesepakatan khusus (antara lain Telkom, Telkomsel).

1.4

PERATURAN BERSAMA LIMA MENTERI ( Pasal 2 )


a) Perusahaan industri setiap bulannya wajib mengalihkan satu sampai dengan
dua hari waktu kerja pada hari Senin sampai dengan Jumat ke hari Sabtu dan
Minggu.
b) Penentuan perusahaan industri dan waktu kerja ditetapkan untuk setiap klaster /
daerah industri oleh Bupati berdasarkan usulan PLN setempat.
c) Jumlah pemakaian listrik dari perusahaan industri yang mengalihkan waktu
kerjanya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) Pasal ini harus mencapai
10% dari beban puncak pada klaster / daerah industri tersebut. Tidak berlaku
bagi industri yang beroperasi :

24 jam sehari selama 7 hari dalam 1 minggu atau

7 hari dalam 1 minggu.

HEMAT
LISTRIK
MEMPERTAHANKAN
PELANGGAN.

1.5

MERUPAKAN
KEANDALAN

SALAH
SATU
DAN PASOKAN

USAHA
LISTRIK

UNTUK
KEPADA

LANDASAN HUKUM P2TL

Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

Undang-undang No. 15 Th. 1985 tentang Ketenagalistrikan.

Peraturan Pemerintah (PP) No. 10 Th. 1989 tentang Penyediaan dan


Pemanfaatan Tenaga Listrik sebagaimana diubah dengan PP No. 3 Th. 2005
dan PP No. 26 Th. 2006 tentang Perubahan PP No. 10 Th. 1989.

Simple,

Inspiring,

Performing,

Phenomenal
5

Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No. 02.P/451/MPE/1991 tentang


Hubungan Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) dan Pemegang
Ijin Usaha Ketenagalistrikan untuk Kepentingan Umum (PIUKU) dengan
Masyarakat.

Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No. 234.K/DIR/2008 tentang Penertiban


Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL).

1.6
1.6.1

HAK PLN
UU NO. 15 TH 1985 : hubungan PLN dengan Masyarakat menyangkut
hak, kewajiban dan tanggung-jawab diatur dengan Peraturan
Pemerintah. PP NO. 3 TH. 2005, Pasal 25 ayat (1), PLN berhak untuk :
a) Memeriksa instalasi ketenagalistrikan yang diperlukan oleh masyarakat baik
sebelum maupun sesudah mendapat sambungan tenaga listrik.
b) Mengambil tindakan atas pelanggaran PJBTL.
c) Mengambil tindakan penertiban atas pemakaian tenaga listrik secara tidak sah.
UU No.15 Th 1985 tersebut telah diganti dengan UU No.30 Thn 2009.

1.6.2

Permentamben No. 02.P/451/MPE/1991, Pasal 2 ayat (1) :


a) Mengambil tindakan atas pelanggaran yang dilakukan pelanggan dalam setiap
perjanjian jual beli tenaga listrik, antara lain berupa tagihan susulan dan
kemudian diikuti dengan pemutusan sementara untuk jangka waktu yang dapat
ditetapkan oleh Pengusaha maksimum selama 2 (dua) bulan.
b) Menetapkan tindakan penertiban atas pemakaian tenaga listrik secara tidak sah
dan melaporkannya kepada instansi yang berwajib sebagai tindak pidana
pencurian.
Ketentuan penertiban atas pemakaian tenaga listrik tersebut
ditetapkan Pengusaha (PLN) dan disahkan Direktur Jenderal.

1.7
1.7.1

KEWAJIBAN PELANGGAN
PP NO. 10 Th. 1989 jo. No. 3 Th. 2005 jo. No. 26 Th. 2006 :

Pelanggan mempunyai kewajiban menjaga dan memelihara keamanan instalasi


ketenagalistrikan (Pasal 26 ayat (3) b).

Pelanggan bertanggung jawab karena kesalahannya mengakibatkan kerugian


bagi PKUK / PLN (Pasal 26 ayat (4).

Simple,

Inspiring,

Performing,

Phenomenal
6

Masyarakat yang memanfaatkan tenaga listrik wajib mentaati persyaratan di


bidang ketenagalistrikan yang ditetapkan oleh Menteri (Pasal 28).

1.7.2

PERMENTAMBEN NO. 02.P/451/M.PE/1991, Pasal 5 ayat (1) :

Menjaga dan memelihara keamanan Instalasi Pelanggan.

Menjaga keamanan APP PLN yang terpasang pada bangunan / persil


Pelanggan.

Menjaga keamanan sambungan listrik yang berada pada bangunan / persil


Pelanggan.

Menggunakan Tenaga Listrik sesuai dengan peruntukannya.

Permentamben No.02.P/451/MPE/1991 : Ketentuan penertiban atas pemakaian


tenaga listrik tersebut ditetapkan Pengusaha (PLN) dan disahkan Direktur Jenderal :
Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 234.K/DIR/2008 tanggal 22 Juli 2008
tentang Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) yang disahkan berdasarkan
Keputusan Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Nomor 31812/20/600.1/2008 tanggal 11 Agustus 2008. Pasal 28 Keputusan Direksi No.
234/DIR/2008 : Keputusan Direksi ini mulai berlaku 3 bulan terhitung sejak tanggal
disahkan oleh Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, yaitu :Tanggal 11
November 2008

1.8
1.8.1

PIDANA
Undang Undang Nomor 15 Tahun 1985, Pasal 19 :
Barang siapa menggunakan tenaga listrik yang bukan haknya merupakan tindak
pidana pencurian sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang - Undang Hukum
Pidana.

1.8.2

Permentamben No. 02.p/451/MPEe/1991, pasal 2 ayat (1) :


Menetapkan tindakan penertiban atas pemakaian tenaga listrik secara tidak
sah dan melaporkannya kepada instansi yang berwajib sebagai tindak pidana
pencurian.

1.8.3

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( KUHP ), pasal 362 :


Barangsiapa mengambil barang, yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang
lain, dengan maksud untuk memiliki barang itu dengan melawan hukum dipidana

Simple,

Inspiring,

Performing,

Phenomenal
7

karena mencuri selama-lamanya 5 tahun atau denda sebanyak-banyaknya


Rp.9.000,-.

1.8.4

Pasal 11 ayat (2) UU. No. 15 Th. 1985 (Ketenagalistrikan)


Sepanjang tidak bertentangan dan dengan memperhatikan peraturan perundangundangan yang berlaku, untuk kepentingan umum PKUK diberi kewenangan antara
lain a.l. masuk ke tempat umum / perorangan dan menggunakannya untuk
sementara waktu.

1.8.5

Pasal 167 KUHP


(1) Barangsiapa dengan melawan hukum masuk dengan paksa ke dalam, atau
dengan melawan hukum ada di dalam rumah atau tempat yang tertutup atau
pekarangan yang tertutup, yang dipakai oleh orang lain dan tidak dengan
segera pergi dari tempat itu, atas permintaan orang yang berhak atau
permintaan atas nama yang berhak, dipidana dengan Pidana Penjara selamalamanya 9 (sembilan) bulan atau dengan sebanyak-banyaknya Rp.4.500,(empat ribu lima ratus rupiah).
(2) Barang siapa masuk dengan merusak atau memanjat, dengan menggunakan
anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian pejabat palsu, atau barang siapa
tidak setahu yang berhak lebih dahulu serta bukan karena kekhilafan masuk dan
kedapatan disitu pada waktu malam, dianggap memaksa masuk.
(3) Jika mengeluarkan ancaman atau menggunakan sarana yang dapat menakutkan
orang, diancam dengan pidana penjara paling lama 1 tahun 4 bulan.
(4) Pidana tersebut dalam ayat 1 dan 3 dapat ditambah sepertiga jika yang
melakukan kejahatan 2 orang atau lebih dengan bersekutu.

1.9
1.9.1

PERDATA
Hubungan Hukum
Hubungan antara dua subjek hukum atau lebih dimana hak dan kewajiban di satu
pihak berhadapan dengan hak dan kewajiban di pihak lain.
Hubungan Hukum PLN dengan Pelanggan : JUAL BELI TENAGA LISTRIK
Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata : Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku
sebagai UU bagi mereka yang membuatnya.

Simple,

Inspiring,

Performing,

Phenomenal
8

1.10 FUNGSI HUKUM TERHADAP PERJANJIAN


1.10.1 Fungsi Protektif

Hukum memberikan perlindungan kepada Perjanjian.

Hukum mengatur sahnya suatu Perjanjian Pasal 1320 Kitab Undangundang Hukum Perdata (KUHPerdata).

Menyatakan Perjanjian yang sah mempunyai kekuatan hukum Pasal 1338


ayat (1) KUHPerdata.

Mengikat para pihak sebagai undang-undang Pasal 1338 ayat (1)


KUHPerdata.

1.10.2 Fungsi Destruktif


Hukum dapat membatalkan Perjanjian / salah satu klausula Perjanjian jika isi atau
proses pembuatannya tidak sah
1.10.3 Fungsi Suplementer
Hukum melengkapi ketentuan-ketentuan yang tidak tertulis dalam Perjanjian
menurut keadilan, kepatutan dan UU patut dianggap sebagai bagian dari isi
Perjanjian.

1.10.4 Fungsi Regulatif


Hukum mengatur apa akibatnya jika terjadi pelanggaran dalam Perjanjian atau jika
terjadi pembatalan Perjanjian.
Peraturan di dalam UU N0.15 Th 1985 tersebut di atas telah disempurnakan
dengan UU no.30 Th 2009.

1.11 AZAS-AZAS PERJANJIAN

KONSENSUALISME
1320 KUHPerdata

KEBEBASAN BERKONTRAK
1338 (1) KUHPerdata

KEKUATAN MENGIKAT
1338 (1) KUHPerdata

Semua
Perjanjian
yang
dibuat
secara sah
berlaku sebagai
UUpara
bagip
dan mengikat
sejak
tercapai
kata
sepakat
antara
para sesuai
pihak dengan
etiap
orang / pihak
diberi
kebebasan
membuat
Perjanjian
kesepakatan
diantara

Simple,

Inspiring,

Performing,

Phenomenal

9
Pembatasan tidak boleh bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum & kesusilaan

Simple,

Inspiring,

Performing,

Phenomenal
10

SYARAT-SYARAT SAH PERJANJIAN (Pasal 1320 KUHPerdata)

SYARAT-SYARAT SAH PERJANJIAN


(Pasal 1320 KUHPerdata)

SEPAKAT MEREKA
YG MENGIKATKAN
DIRINYA

KECAKAPAN UNTUK
MEMBUAT SUATU
PERIKATAN

SUATU HAL
TERTENTU

SUATU SEBAB
YG HALAL

SYARAT OBJEKTIF

SYARAT SUBJEKTIF

AKIBAT HUKUM PASAL 1320 TIDAK TERPENUHI


PERJANJIAN BATAL
DEMI HUKUM

PERJANJIAN DAPAT
DIBATALKAN

1.12 PERBUATAN MELANGGAR HUKUM ( PMH ) DAN JAMINAN

PASAL 1365 KUHPerdata : Tiap Perbuatan Melanggar Hukum (PMH) yang


merugikan satu pihak, mewajibkan pihak yang karena salahnya menerbitkan
kerugian tersebut mengganti kerugian.

PASAL 1131 KUHPerdata : Seluruh harta benda yang ada dan yang akan ada
menjadi jaminan atas perikatan yang dibuatnya.

1.13 TATA USAHA NEGARA (TUN)

TUN

administrasi

negara

yang

melaksanakan

fungsi

untuk

menyelenggarakan urusan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah


(PLN BUMN yang dibentuk berdasarkan PP dan mendapat tugas sesuai
UU untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam usaha penyediaan
tenaga listrik sebagai PKUK).

Simple,

Inspiring,

Performing,

Phenomenal
11

Objek Gugatan : Keputusan TUN penetapan tertulis yang dikeluarkan


Badan / Pejabat TUN yang berisi tindakan hukum TUN berdasarkan
perundangan yang berlaku, bersifat konkret, individual, dan final, yang
berakibat hukum bagi seseorang / badan hukum perdata (Surat Penetapan
Tagihan Susulan / Pemutusan dll).

Batas waktu pengajuan gugatan : 90 hari sejak diterimanya / diumumkannya


Keputusan Badan / Pejabat TUN

1.14 SENGKETA KASUS P2TL

SENGKETA KASUS P2TL

PENGADILAN NEGERI

PERDATA
PERBUATAN
MELAWAN HUKUM
(1365 KUHPdt)
ATAU
WANPRESTASI
DITUNTUT GANTI
RUGI

PENGADILAN TATA USAHA NEGARA

PIDANA
Pasal 19 UU NO. 15 TH 1985
(pencurian tenaga listrik) /
Pasal 362 KUHPidana (pencurian)
atau
Pasal 167 KUHP (masuk paksa)
atau
Pasal 310 KUHP (penghinaan)
atau
Pasal 335 KUHP
(perbuatan tidak menyenangkan)

KEPUTUSAN PENETAPAN
TAGIHAN SUSULAN
/ PEMUTUSAN TENAGA
LISTRIK DIANGGAP SEBAGAI
KEPUTUSAN
TATA USAHA NEGARA

PEMBATALAN KEPUTUSAN

1.15 ALAT BUKTI PIDANA


Pasal 184 KUHAP :

Simple,

Keterangan Saksi dari Petugas P2TL, polisi dll.

Keterangan Ahli yaitu saksi ahli independen (institusi / akademisi dll.)

Inspiring,

Performing,

Phenomenal
12

Surat berupa SPJBTL, surat tugas, BA P2TL / BA pengambilan barang bukti /


BA pemeriksaan di Lab, DIL, dll.

Petunjuk

Keterangan Terdakwa

1.16 ALAT BUKTI PERDATA


Pasal 1866 KUHPerdata

Surat / tulisan yaitu SPJBTL, surat tugas, BA P2TL /

BA

pengambilan

barang bukti / BA pemeriksaan di Lab, DIL, dll.

Saksi petugas P2TL, Polisi, saksi ahli, dll.

Persangkaan,

penyesuaian antara fakta di lapangan dan alat bukti yang

ditemukan.

Pengakuan, pengakuan pelanggan, dll.

Sumpah

1.17 P2TL = PENEGAKAN HUKUM

Tindakan PLN dalam pelaksanan P2TL adalah TINDAKAN HUKUM PUBLIK


dalam rangka Penegakan Hukum berdasarkan peraturan perundangundangan. ( UU PP PERMENTAMBEN Keputusan Direksi)

Tindakan PLN berupa pengenaan Tagihan Susulan dan Pemutusan


Sementara (Pelanggan) / Rampung (NK) dalam P2TL adalah melaksanakan
ketentuan peraturan perundangan-undangan sehingga TIDAK HARUS
MENUNGGU PUTUSAN PENGADILAN untuk pelaksanaannya

1.18 PEJABAT / PETUGAS YANG DILAPORKAN KE POLISI

Pasal 50 KUHP : Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan


ketentuan undang-undang, TIDAK BOLEH DIHUKUM.

Pasal 51 KUHP : Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan


perintah jabatan yang diberikan oleh kuasa yang berhak / pejabat yang
berwenang, TIDAK BOLEH DIHUKUM

Simple,

Inspiring,

Performing,

Phenomenal
13

1.19 PERUSAKAN INSTALASI / BANGUNAN LISTRIK

Pasal 191 Bis KUHP :


Barangsiapa dengan sengaja menghancurkan, merusak / membuat tak dapat
dipakai bangunan listrik, atau menyebabkan jalan / bekerjanya bangunan itu
terganggu, atau menggagalkan / mempersulit usaha untuk menyelamatkan /
membetulkan bangunan itu diancam dengan pidana (penjara / denda), bila
karena perbuatan itu menimbulkan :
- rintangan / kesulitan dalam penyerahan tenaga listrik, untuk kepentingan
umum, maks. penjara 9 bulan / denda Rp.4.500,-.
- bahaya umum bagi barang, maks. penjara 7 tahun.
- bahaya bagi nyawa orang lain, maks. penjara 9 tahun.
- bahaya bagi nyawa orang lain dan mengakibatkan orang mati, maks.
penjara 15 tahun.

Pasal 191 Ter KUHP :


Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan suatu
bangunan listrik hancur, rusak atau tak dapat dipakai atau menyebabkan
jalannya atau bekerjanya bangunan itu jadi terganggu, atau menyebabkan
usaha untuk menjaga keselamatan atau memperbaiki bangunan itu menjadi
terhalang atau menjadi sukar, diancam dengan pidana (penjara / denda) bila
karena itu :
timbul rintangan / kesukaran dalam memberikan tenaga listrik untuk
kepentingan umum / timbul bahaya umum bagi barang, maks. penjara 4
bulan 2 minggu / kurungan maks. 3 bulan / denda maks. Rp. 4.500,-.
timbul bahaya bagi nyawa orang lain, maks. penjara 9 bulan /
kurungan maks. 6 bulan / denda Rp. 4.500,- .
mengakibatkan orang mati, maks. penjara 1 tahun 4 bulan / kurungan
1 tahun.

1.20 PEMUTUSAN SAMBUNGAN LISTRIK DAPAT TERJADI KARENA :

Pemutusan terhadap sambungan listrik yang sah :


-

P2TL.
Tunggakan Tagihan Listrik dan tagihan lainnya.

Pemutusan terhadap sambungan listrik yang tidak sah (non


pelanggan).

Simple,

Inspiring,

Performing,

Phenomenal
14

Dasar Hukum Pemutusan Sambungan Listrik akibat adanya tunggakan tagihan listrik
dan tagihan lainnya :
KEPUTUSAN DIREKSI PT PLN (PERSERO) No.109.K/039/DIR/1997 tentang
Ketentuan Jual Beli Tenaga Listrik dan Penggunaan Piranti Tenaga Listrik Yang
Berlaku di PT PLN (Persero) :

Pasal 34 ayat (1) : Pemutusan Sementara dikenakan bila terjadi antara lain
tagihan listrik atau angsuran BP atau angsuran TS tidak dilunasi sampai
dengan masa pembayaran berakhir.

Pasal 35 ayat (1) : Pemutusan rampung dapat dilaksanakan jika dalam waktu
60 (enam puluh) hari kalender sejak dilaksanakannya Pemutusan Sementara
Pelanggan belum melunasi tunggakan Tagihan Listrik dan atau Tagihan
Susulan

Ketentuan terkait baca dalam UU No.30 Th 2009


Dan SK DIR. No.:234.K/DIR/2008

Simple,

Inspiring,

Performing,

Phenomenal
15