Anda di halaman 1dari 9

Diktat Navigasi Darat

October 16th, 2008

NAVIGASI DARAT

AS CLARISSA PUTRI AULIA

1605-B-MFS-07-TAPAK

Navigasi darat merupakan teknik menentukan posisi dan arah lintasan di peta
maupun pada medan sebenarnya (khususnya di daratan). Keahlian ini sangat
mutlak dimiliki oleh penggemar kegiatan alam terbuka karena akanmemudahkan
perjalanan kita ke daerah yang khususnya belum kita kenal sama sekali
Disamping itu, keahlian ini sangat berguna dalam usaha pencarian korban
kecelakaan tersesat atau bencana alam Untuk itu dibutuhkan pemahaman
kompas dan peta serta teknik penggunaannya.

A. Peta

HAKEKAT PETA

Peta adalah gambaran permukaan bumi diatas bidang datar dalam ukuran
diperkecil yang kebenaranya dapat dipertanggung jawabkan secara visual atau
matematis yang menyajikan informasi tentang bumi.

MACAM PETA

Secara menyeluruh peta dapat digolongkan berdasarkan skala/kedar tujuan


penggunaan cakupan daerah proyeksi gambar tanda dan simbol peta kecocokan
informasi tingkat ketelitian survei proses terjadinya dan isi/ informasinya

Dari sudut pandang isi/informasi yang dimuat suatu peta terdapat 2

jenis peta berdasar golongan ini, yakni :

1. Peta Topografi

Topografi merupakan gabungan kata topos yang berarti tempat dan graphi yang
berarti menggambar yang berasal dari bahasa yunani kuno Jadi peta topografi
berarti peta yang menggambarkan posisi mendatar dan posisi tegak dari semua
benda yang membentuk atau berada di permukaan bumi. Isinya terdiri dari 4
ciri, yakni : relief (ketinggian), perairan (seperti Sungai danau), Tumbuhan
( Hutan ,semak, kelapa) dan hasil budaya manusia (jalan raya, bangunan,
jembatan). Peta ini biasa disebut peta umum karena isinya yang lebih lengkap.

KETERANGAN TEPI PETA

o Judul peta pada margin atas tengah, yang di ambil dari salah satu nama Geografi
atau tempat yeng terbesar/terkenal dari daerah pada peta tersebut.
o Nama daerah yang dipetakan pada margin atas kiri , yang diambil dari nama daerah
tingkat I (tergantung pada versi peta)
o Nomor helai peta pada margin atas kanan.
o Petujuk letak peta pada margin bawah kiri, yang menunjukan letak peta tersebut dari
peta keseluruhan

o Pembagian daerah pada mergin bawah kanan yang menjelaskan pembagian daerah
dari propinsi hingga kecamatan.
o Utara pada margin bawah kiri , yang menunjukan utara peta, utara megnetis, serta
utara sebenarnya.
o Legenda pada margin bawah tengah yang menyajikan keterangan/penjeklasan arti
simbol yang ada.

ARAH PETA

Untuk mengetahui arah peta yang perlu diperhatikan adalah arah utara peta
dengan cara memperhatikan arah huruf-huruf tulisan pada peta yang juga berarti
arah utara peta. Pada tanda-tanda peta juga terdapat penunjuk arah utara peta,
utara sebenarnya serta utara magnetis

o Utara sebenarnya (US) adalah arah ke kutub utara bumi yang dilalui oleh garis
bujur/meridian.
o Utara magnetis (UM) adalah arah kekutub utara megnet yang ditunjukan oleh jarum
kompas
o Utara Grid (UG/UP) adalah garis utara yang ditunjukan oleh garis vertikal pada peta
yang juga disebut Utara Peta.

Karena pengaruh rotasi bumi, letak kutub megnetis bergeser dari

tahun ke tahun yang menyebabkan terjadinya variasi magnetis. Untuk tujuan


praktis variasi magnetis dan iktilaf (Penyimpangan arah utara) dapat kita
abaikan. Tetapi untuk kepentingan yang membutuhkan ketelitian yang tinggi,
kondisi diatas harus ikut kita perhitungkan juga

o Iktilaf Peta adalah beda sudut antara utara sebenarnya dengan

utara peta, yang terjadi karena perataan jarak paralel geris bujur

peta bumi menjadi garis koordinat vertikal yang di gambarkan


pada peta, atau sudut antara US dan UP.

o Iktilaf Magnetis adalah beda sudut antara utara sebenarnya dengan utara megnetis.
IM kebarat apabila ujung jarum kompas ada di sebelah barat US Sebaliknya IM ketimur
apabila ujung jarum kompas ada di sebelah timur US
o Iktilaf Peta-Magnetis, adalah beda sudut utara peta dengan utara magnetis
o Variasi Magnetis, adalah perubahan/ pergeseran sudut utara megnetis dari waktu ke
waktu. Pergeseran positif menunjukan pergeseran kearah timur sedang negatif berarti
pergeseran kearah barat.

SKALA

Skala atau kedar adalah perbandingan jarak pada peta dengan jarak mendatar di
medan. Terdapat 2 jenis skala pada peta, yakni skala angka dan skala garis.
Untuk skala angka, perbandinagan langsung ditunjukan dalam satuan yang sama
(cm) sedang pada skala garis terdapat beberapa ruas garis yang masing-masing
menunjukan jarak tertentu (km).

JARAK DI PETA x SKALA = JARAK DI MEDAN

Misalnya Skala 1:25.000, berarti 1 cm di peta sama dengan 25 m di medan yang


sebenarnya.

KONTUR

Adalah garis khayal diatas permukaan bumi yang menghubungkan titik-titik


yang tingginya sama. Sifat dari kontur adalah :

o Pebedaan tinggi antara 2 kontur adalah setengah dari angka ribuan pada skala yang
dinyatakan dalam satuan meter.
o Kontur yang rendah selalu mengelilingi kontur yang lebih tinggi, kecuali pada
kawah/depresi
o Antar kontur tidak akan saling berpotongan
o Kontur yang menjorok kedalam merupakan lembahan dan bisa terdapat sungai

o Kontur yang menjorok keluar merupakan punggungan.


o Kontur terputus-putus menyatakan ketinggian setengah atau lebih dari perbedaan
tinggi antara 2 buah kontur berurut.

o Makin rapat kontur menunjukan daerah yang makin terjal/curam.

MENGENAL TANDA MEDAN

Disamping legenda sebagai pengenal tanda medan, bentukan-bentukan alam


yang cukup mencolok dan mudah dikenali dapat kita pergunakan juga sebagai
tanda medan. Tanda medan harus kita ketahui dan kita cocokan pada peta
sebelum kita memulai pengembaraan.

Tanda Medan yang cukup mudah untuh di amati dapat berupa :

o Puncakan gunung atau bukit dan bentukan-bentukan tonjolan lain yang cukup
ekstrim,

o Punggungan merupakan rangkaian kontur yang menyerupai huruf

o Menjorok menjauhi puncak

o Lembahan merupakan rangkaian kontur yang menyerupai huruf V menjorok


mendekati puncak.

o Saddle, daerah pertemuan 2 ketinggian

o Belokan kujalan sungai jembatan ujung jalan

o Garis batas pantai muara sungai, tanjung, dan teluk yang mudah

kita kenali

2. Peta Tematik

Peta tematik adalah peta yang menyajikan unsur-unsur tertentu dari permukaan
bumi sesuai dengan topik atau tema dari peta bersangkutan. Umumnya peta ini
digunakan sebagai data analisis dari beberapa unsur permukaan bumi didalam
pengambilan suatu keputusan untuk pembangunan.

B. Kompas

Kompas adalah alat penunjuk arah, yakni arah utara maknetis bumi yang
disebabkan oleh sifat kemagnetisannya karena sifat ini maka jauhkan kompas
terutama pada saat mempergunakannya dari pengaruh benda=benda yang
terbuat dari baja atau besi, karena akan menyebabkan penunjuk yang salah pada
jarumnya.

Bagian-bagian Kompas

o Badan, tempat komponen lain berada dan terlindungi

o Jarum, yang selalu menunjukan arah utara magnetis bumi


o Skala penunjuk, Menunjukan Pembagian derajat/mil sebagai sistem satuan arah
mata angin.

Jenis Kompas

Terdapat banyak jenis kompas yang ada yang dapat kita pergunakan dalam
perjalanan secara garis besarnya dapat kita bedakan sebagai

berikut :

o Kompas orienterring untuk tujuan praktis tetapi mempunyai akurasi yang kurang
baik. Sering disebut sebagai kompas Silva (nama merk)
o Kompas bidik membutuhkan peralatan navigasi lain untuk kelengkapanya, tetapi
akurasinya sangat tinggi. Kompas bidik ini dapat kita bedakan berdasar kaca
pembacanya : kompas lensa, kompas Prismatik, kompas Optik

CARA PEMAKAIN KOMPAS

Dalam pemakainya, usahakan dalam keadaan Horisontal dengan arah garis utara
megnetis bumi. Hindarkan bende-benda yang terbuat dari besi/baja agar tidak
terjadi penyimpangan dalam penunjukan jarum kompas.

BUSUR DERAJAT ATAU PROTAKTOR

Busur derajat atau protaktor terdapat beberapa bentuk derajat yang dapat kita
gunakan yakni lingkaran setengah lingkaran segi empat dari bujur sangkar,
tetapi untuk kepraktisan dan kelengkapannya, protaktor lebih menjanjikan,
karena disamping pembagian arah mata angin dalam derajat dan mil juga
tersedia skala pengukuran panjang dan tali pusat untuk memperpanjang
pengikiran dan pempermudah perhitungan azimuth dan back azimuth.

AZIMUTH DAN BACK AZIMUTH

Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat.
Azimuth disebut juga sudut kompas. Jika anda membidik sebuah tanda medan,
dan memperolah sudutnya, maka sudut itu juga bisa dinamakan sebagai
azimuth. Kebalikannya adalah back azimuth. Dalam resection back azimuth
diperoleh dengan cara:

• Jika azimuth yang kita peroleh lebih dari 180º maka back azimuth adalah azimuth
dikurangi 180º. Misal anda membidik tanda medan, diperoleh azimuth 200º. Back
azimuthnya adalah 200º- 180º = 20º
• Jika azimuth yang kita peroleh kurang dari 180º, maka back azimuthnya adalah 180º
ditambah azimuth. Misalkan, dari bidikan terhadap sebuah puncak, diperoleh azimuth
160º, maka back azimuthnya adalah 180º+160º = 340º
Dengan mengetahui azimuth dan back azimuth ini, memudahkan kita untuk
dapat melakukan ploting peta (penarikan garis lurus di peta berdasarkan sudut
bidikan). Selain itu sudut kompas dan back azimuth ini dipakai dalam metode
pergerakan sudut kompas (lurus/ man to man-biasa digunakan untuk “Kompas
Bintang”). Prinsipnya membuat lintasan berada pada satu garis lurus dengan
cara membidikaan kompas ke depan dan ke belakang pada jarak tertentu.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Titik awal dan titik akhir perjalanan di plot di peta, tarik garis lurus dan hitung sudut
yang menjadi arah perjalanan (sudut kompas). Hitung pula sudut dari titik akhir ke titik
awal. Sudut ini dinamakan back azimuth.
2. Perhatikan tanda medan yang menyolok pada titik awal perjalanan. Perhatikan tanda
medan lain pada lintasan yang dilalui.
3. Bidikkan kompas seusai dengan arah perjalanan kita, dan tentukan tanda medan lain
di ujung lintasan/titik bidik. Sudut bidikan ini dinamakan azimuth.
4. Pergi ke tanda medan di ujung lintasan, dan bidik kembali ke titik pertama tadi,
untuk mengecek apakah arah perjalanan sudah sesuai dengan sudut kompas (back
azimuth).
5. Sering terjadi tidak ada benda/tanda medan tertentu yang dapat dijadikan sebagai
sasaran. Untuk itu dapat dibantu oleh seorang rekan sebagai tanda. Sistem pergerakan
semacam ini sering disebut sebagai sistem man to man.

ORIENTASI PETA

Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya.


Untuk keperluan ini kita perlu mengetahui tanda-tanda medan yang ada di lokasi
dan mencocokanya dengan kontur yang ada di peta. Untuk keperluan praktis
utara kompas (magnetis) dapat kita anggap sejajar dengan utara sebenarnya
tanpa memperhitungkan deklinasinya.

Langkah-langkah orientasi pada peta :

o Cari tempat yang terbuka untuk melihat tanda-tanda medan yang mencolok (dapat
dikenali)
o Letakan peta pada bidang datar
o Samakan utara peta dengan utara kompas, sehingga peta sesuai dengan bentang
alam yang ada.

o Cari tanda-tanda medan dilokasi dan himpitkan dengan tanda medan yang ada di
peta ( seperti jalan raya, sungai,dll)

C. Resection

Digunakan untuk mengetahui posisi kita dipeta dengan menggunakan dua atau
lebih tanda medan yang kita kenal.
Langkah-langkah resection :

o Lakukan orientasi peta

o Tentukan minimal dua tanda medan dilapangan dan kita ukur azimut dan back
azimutnya. Sudut antara tempat kita dengan dua tanda medan tersebut minimal
30 derajat maksimal 150 derajat

o Tarik garis back azimut dari kedua titik medan itu sehingga terjadi perpotongan
antara keduanya.
o Perpotongan tersebut adalah kedudukan kita di peta.

D. Intersection

Cara ini digunakan untuk mengetahui atau untuk menentukan posisi suatu titik
atau benda di medan pada peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda
medan.

Langkah-langkahnya :

o Lakukan orientasi peta dan resection untuk menentukan posisi kita dititik A.
o Bidik obyek dari titk A tersebut, catat azimut dan back azimutnya
o Bergerak ke posisi lain dan melakukan orientasi serta resection untuk menentukan
posisi kita di B.

o Bidik obyek dari titk B tersebut, catat azimut dan back azimutnya
o Perpotongan azimut dari titik A dan B tersebut adalah letak obyek yang kita inginkan
di peta.

E. Menentukan Arah Tanpa Kompas

1. Kuburan Islam selalu menghadap ke utara

2. Masjid selalu menghadap ke kiblat

3. Bagian tumbuhan yang berlumut tebal menunjukan arah timur karena sinar
matahari belum terik pada pagi hari

4. Arah bulan, bintang, dan Matahari yang terbit di timur dan tenggelam di barat.

F. GPS

GPS (Global Positioning System) merupakan sistem navigasi satelit yang


dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US DoD = United
States Department of Defense). GPS memungkinkan kita mengetahui posisi
geografis kita (lintang, bujur, dan ketinggian di atas permukaan laut). Jadi
dimanapun kita berada di muka bumi ini, kita dapat mengetahui posisi kita
dengan tepat.

GPS terdiri dari 3 segmen: Segmen angkasa, kontrol/pengendali, dan pengguna.,


dimana :Segmen angkasa: terdiri dari 24 satelit yang beroperasi dalam 6 orbit
pada ketinggian 20.200 km dan inklinasi 55 derajat dengan periode 12 jam
(satelit akan kembali ke titik yang sama dalam 12 jam).

Satelit tersebut memutari orbitnya sehingga minimal ada 6 satelit yang dapat
dipantau pada titik manapun di bumi ini. Satelit tersebut mengirimkan posisi
dan waktu kepada pengguna seluruh dunia. *(Berdasarkan pengalaman
penggunaan untuk wilayah Indonesia [pertambangan dari Sumatra sampai
Papua], pukul 04.00-08.00 dan 16.00-20.00 merupakan waktu tidak optimal
penerimaan sinyal satelit untuk pengukuran teliti.

Segmen Kontrol/Pengendali: terdapat pusat pengendali utama yang terdapat di


Colorodo Springs, dan 5 stasiun pemantau lainnya dan 3 antena yang tersebar di
bumi ini. Stasiun pemantau memantau semua satelit GOS dan mengumpulkan
informasinya. Stasiun pemantau kemudian mengirimkan informasi tersebut
kepada pusat pengendali utama yang kemudian melakukan perhitungan dan
pengecekan orbit satelit. Informasi tersebut kemudian dikoreksi dan dilakukan
pemuktahiran dan dikirim ke satelit GPS.

Segmen Pengguna: Pada sisi pengguna dibutuhkan penerima GPS (selanjutnya


kita sebut perangkat GPS) yang biasanya terdiri dari penerima, prosesor, dan
antena, sehingga memungkinkan kita dimanapun kita berada di muka bumi ini
(tanah, laut, dan udara) dapat menerima sinyal dari satelit GPS dan kemudian
menghitung posisi, kecepatan dan waktu.

Cara Kerja GPS:

Setiap satelit mentransmisikan dua sinyal yaitu L1 (1575.42 MHz) dan L2


( 1227.60 MHz). Sinyal L1 dimodulasikan dengan dua sinyal pseudo-random
yaitu kode P (Protected) dan kode C/A (coarse/aquisition). Sinyal L2 hanya
membawa kode P. Setiap satelit mentransmisikan kode yang unik sehingga
penerima (perangkat GPS) dapat mengidentifikasi sinyal dari setiap satelit. Pada
saat fitur “Anti-Spoofing” diaktifkan, maka kode P akan dienkripsi dan
selanjutnya dikenal sebagai kode P(Y) atau kode Y.
Perangkat GPS yang dikhususkan buat sipil hanya menerima kode C/A pada
sinyal L1 (meskipun pada perangkat GPS yang canggih dapat memanfaatkan
sinyal L2 untuk memperoleh pengukuran yang lebih teliti.

Perangkat GPS menerima sinyal yang ditransmisikan oleh satelit GPS.

Dalam menentukan posisi, kita membutuhkan paling sedikit 3 satelit untuk


penentuan posisi 2 dimensi (lintang dan bujur) dan 4 satelit untuk penentuan
posisi 3 dimensi (lintang, bujur, dan ketinggian).

Semakin banyak satelit yang diperoleh maka akurasi posisi kita akan semakin
tinggi. Untuk mendapatkan sinyal tersebut, perangkat GPS harus berada di ruang
terbuka. Apabila perangkat GPS kita berada dalam ruangan atau kanopi yang
lebat dan daerah kita dikelilingi oleh gedung tinggi maka sinyal yang diperoleh
akan semakin berkurang sehingga akan sukar untuk menentukan posisi dengan
tepat atau bahkan tidak dapat menentukan posisi.

DAFTAR PUSTAKA

Diktat Pendidikan Dasar Astacala. Diakses


padahttp://astacala.org/astacala/diktat.pdf tanggal 11 Oktober 2008.

Fasko Adventure Training. 2008. IMPK. Diakses


padahttp://fasko.multiply.com/journal/item/6 tanggal 13 Oktober 2008.

Outdoor Activity. 2006. Pengetahuan Dasar Navigasi Darat. Diakses


padahttp://penjelajahan.blogspot.com/2006/11/pengetahuan-dasar-navigasi-
darat.html tanggal 13 Oktober 2008.

Wikantika, Ketut. 2008. Apa Itu Peta? Diakses


padahttp://wikantika.wordpress.com/2008/05/06/apa-itu-peta/tanggal 13
Oktober 2008.

Anda mungkin juga menyukai