Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator dalam menentukan
derajat kesehatan masyarakat. Di Indonesia Angka Kematian Ibu tertinggi dibandingkan
negara-negara ASEAN lainnya seperti Thailand hanya 44 per 100.000 kelahiran hidup,
Malaysia 39 per 100.000 kelahiran hidup, danSingapura 6 per 100.000 kelahiran hidup
(BPS, 2003). Berdasarkan SDKI 2007 Indonesia telah berhasil menurunkan Angka
Kematian Ibu dari 390/100.000 kelahiran hidup (1992) menjadi 334/100.000 kelahiran hidup
(1997).Selanjutnya turun menjadi 228/100.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2008).
Meskipun telah terjadi penurunan dalam beberapa tahun tarakhir akan tetapi penurunan
tersebut masih sangat lambat (Wilopo, 2010). Angka Kematian Ibu di Indonesia bervariasi,
Provinsi dengan Angka Kematian Ibu terendah adalah DKI Jakarta dan tertinggi adalah
Provinsi Nusa Tenggara Barat (Profil Kesehatan 2009). Di Provinsi Nusa Tenggara Barat,
ditemukan angka kematian ibu sebesar 99 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2008,
tahun 2009 menjadi 130 per 100.000 kelahiran hidup dan tahun 2010 sebesar 114 per
100.000 kelahiran hidup. Insiden AKI di Ruang VK IRD RSUD Provinsi NTB tahun 2014
adalah 5 orang, AKB 6 orang, Abortus 117 orang, dan persalinan spontan 157 orang.
Tingginya Angka Kematian ibu di Provinsi Nusa Tenggara Barat tidak terlepas dari
tingginya angka kematian ibu pada beberapa Kabupaten/Kota khususnya di Pulau Lombok.
Penyebab kematian ibu yang paling umum di Indonesia adalah penyebab obstetri
langsung yaitu perdarahan 28 %, preeklampsi/eklampsi 24 %, infeksi 11%, sedangkan
penyebab tidak langsung adalah trauma obstetri 5 % dan lainlain 11 % (WHO, 2007).
Upaya percepatan penurunan angka kematian ibu telah banyak dilakukan, antara lain
melalui

peningkatan

aksessibilitas

serta

kualitas

pelayanan.

Upaya

peningkatan

aksessibilitas pelayanan kesehatan dilakukan dengan mendekatkan pelayanan kesehatan


kepada masyarakat melalui paket penempatan tenaga bidan dan polindes di berbagai pelosok
pedesaan serta tenaga dokter di daerah terpencil atau sangat terpencil. Sedangkan dari aspek
kualitas pelayanan, dilakukan melalui upaya peningkatan kemampuan/kompetensi tenaga
kesehatan dan fasilitas kesehatan dasar dan rujukan (PONED/PONEK), serta berbagai
program intervensi lain (Kemenkes RI, 2008).
1

Meskipun berbagai upaya tersebut telah dilakukan namun jumlah kasus kematian
yang terjadi di Pulau Lombok masih tinggi dan jauh dari target nasional yang diharapkan.
Sesuai target Nasional menurut MDGs yaitu menurunkan Angka Kematian Ibu sebesar
dari Angka Kematian Ibu pada tahun 1990 (450 per 100.000) menjadi 102 per 100.000 pada
tahun 2015 (Aganet al, 2010).Hal ini menunjukkan bahwa status kesehatan masyarakat di
Pulau Lombok masih perlu mendapatkan penanganan terutama masalah kesehatan ibu. Hal
ini terjadi karena intervensi yang diberikan masih bersifat parsial dan pada lokasi tertentu
saja, disamping itu juga masih banyak program intervensi yang kurang tepat sasaran (Pemda
Prov. NTB,2008).
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat di rumuskan beberapa masalah, yaitu:
1. Bagaimana konsep persalinan fisiologis?
2. Bagaimana konsep persalinan lama?
3. Bagaimana penatalaksanaan pada kasus persalinan lama?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Penulis dapat menerapkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah dalam
memberikan asuhan kebidanan secara nyata serta mendapatkan pengetahuan dalam
memecahkan masalah khususnya Asuhan Kebidanan Pada Ny.I G 3P2A0 Usia
Kehamilan 38 MingguJanin Tunggal Hidup Intra Uterin Preskep Inpartu Kala I
Fase AktifDengan Kala I Memanjangdi RSUD PropinsiNTB.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa diharapkan mampu melakukan pengkajian data pada klien dengan
inpartu kala I fase aktif memanjang
b. Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi diagnosa dan masalah pada klien
dengan inpartu kala I fase aktif memanjang
c. Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi masalah potensial pada klien
dengan inpartu kala I fase aktif memanjang
d. Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi kebutuhan tindakan segera pada
klien dengan inpartu kala I fase aktif memanjang
e. Mahasiswa diharapkan mampu membuat rencana asuhan pada klien dengan inpartu
kala I fase aktif memanjang
f. Mahasiswa diharapkan mampu melaksanakan rencana Asuhan atau tindakan pada
klien dengan inpartu kala I fase aktif memanjang
g. Mahasiswa diharapkan mampu membuat evaluasi asuhan yang telah dilakukan
2

h. Mahasiswa diharapkan mampu mendokumentasikan asuhan kebidanan dengan


menggunakan SOAP.
D. Manfaat
Dengan penyusunan laporan kasus ini diharapkan mahasiswa mampu melakukan
asuhan yang komprehensif pada ibu bersalin di Rumah Sakit.Untuk lahan praktik
diharapkan mampu meningkatkan mutu pelayanan pada ibu bersalin sehingga pasien
dapat merasa aman dan nyaman.Untuk pendidikan diharapkan mampu meningkatkan
pengetahuan peserta didik agar dapat memberikan asuhan secara tepat kepada klien.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Persalinan
1. Pengertian Persalinan
Persalinan normal adalah pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan
(37-42 minggu) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam
18 jam tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Prawiroharjo, 2008).
2. Proses Terjadinya Persalinan
3

Menurut Manuaba (2012) proses terjadinya persalinan belum diketahui dengan pasti,
sehingga menimbulkan beberapa teori yang berkaitan dengan mulai terjadinya kekuatan
his. Ada 2 hormon yang dominan selama kehamilan yaitu:
a. Estrogen yang meningkatkan sensitifitas otot rahim, memudahkan penerimaan
rangsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin, rangsangan prostaglandin, dan
rangsangan mekanis
b. Progesteron yang menurunkan sensitifitas otot rahim, menyulitkan penerimaan
rangsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin, rangsangan prostaglandin, dan
rangsangan mekanis, dan menyebabkan otot rahim dan otot polos relaksasi.
3. Tanda dan Gejala Inpartu
Menurut manuaba (2012) tanda persalinan adalah sebagai berikut:
a.
b.
c.
4.

Kontraksi yang teratur 2-3 kali dalam 10 menit lamanya 30-45 detik.
Adanya lendir bercampur darah keluar dari jalan lahir.
Penipisan dan pembukaan serviks.

Faktor Faktor dalam Persalinan


a. Power
His (kontraksi ritmis otot polos uterus), kekuatan mengejan ibu, keadaan
kardiovaskular respirasi metabolik ibu.
b. Passage
Keadaan jalan lahir, panggul ibu.
c. Passanger
Keadaan janin (letak, presentasi, ukuran/berat janin, ada/tidak kelainan anatomik
mayor)
d. ( faktor P lainnya : psikologi, penolong)
Dengan adanya keseimbangan / kesesuaian antara faktor-faktor P tersebut,
persalinan normal diharapkan dapat berlangsung

5. Tahapan Persalinan
Persalinan dibagi menjadi 4 tahap. Pada kala I servik membuka dari pembukaan 0-10 cm.
Kala I dinamakan juka kala pembukaan, kala II disebut kala pengeluaran, kala III disebut
juga kala pengeluaran urie, sedangkan kala IV dimulai dari lahirnya plasenta sampai 2
jam kemudian. (Sumarah. 2009: 4-5)
a. Kala I (Pembukaan)
Pasien dikatanya dalam persalina kala I, jika sudah terjadi pembukaan servik dan
kontraksi terjadi teratur minimal 2 kali dalam 10 menit selama 40 detik. Kala I adalah
4

kala pembukaan yang berlangsung antara 0-10 cm. Proses ini terbagi menjadi 2 fase,
yaitu fase laten (8 jam) dimana servik membuka sampai 4 cm dan fase aktif (6 jam)
dimana servik membuka dari 4-10 cm. (Sulistyowati. 2010: 7)
Fase aktif dibagi dalam 3 fase yaitu :
1) Fase akselerasi, dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.
2) Fase dilatasi maksimal, dalam 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat. Dari 4
cm menjadi 9 cm.
3) Fase deselerasi, pembukaan melambat kembali. Dalam 2 jam pembukaan dari 9
cm menjadi 10 cm. (Sulistyawati, ari. 2010)
b. Kala II
Kala II adalah kala pengeluaran bayi dimulai dari pembukaan lengkap sampai bayi
lahir. Proses ini berlangsung 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada multigravida.
Diagnosa kala II ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam untuk
memastikan pembukaan lengkap dan kepala janin sudah tampak divulva denagn
diameter 5-6 cm. (Sulistyowati, 2010)
Gejala utama kala II adalah sebagai berikut :
1) His semakin kuat dengan interval 2-3 menit dengan durasi 50- 100 detik
2) Menjelang akhir kala I ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran cairan
secara mendadak.
3) Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan meneran.
4) Dua kekuatan yaitu, his dan meneran akan mendorong kepala bayi sehingga
kepala beyi membuka pintu berturut-turut ubun-ubun besar, dahi, hidung, muka,
serta kepala seluruhnya.
5) Kepala lahir seluruhnya dan diikuti dengan putar paksi luar yaitu penyesuaian
kepala dan punggung
6) Setelah putar paksi luar, maka persalinan bayi ditolong dengan jalan berikut:
1. Pegang kepala pada tulang oksiput dan bagian bawah dagu, kemudian tarik
cunam kebawah untuk melahirkan bahu depan dan cunam keatas untuk
melahirkan bahu belakang.
2. Setelah kedua bahu lahir, ketiak dikait untuk melahirkan sisa badan bayi.isa
air ketuban.
3. Bayi lahir diikuti sisa air ketuban.
7) Lamanya kala II untuk primigravida 50 menit dan multigravida 30 menit.
(Sulistyawati. 2010: 8)
c. Kala III (Pelepasan plasenta)
Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengeluaran plasenta. Lepasnya plasenta
sudah dapat diperkirakan dengan memperhatikan tanda-tanda sebagai berikut :
5

1) Uterus berbentuk bundar


2) Tali pusat memanjang
3) Semburan darah
Melahirkan plasenta dilakukan dengan dorongan ringan secara kradepada fundus
uteri. (Sulistyowati.2010: 8)

d.

Kala IV (Observasi)
Kala IV mulai dari lahirnya plasenta selama 2 jam. Pada kala IV dilakukan observasi
terhadap pascapersalianan, paling sering terjadi pada 2 jam pertama. Observasi yang
dilakukan adalah sebagai berikut :
1) Tingkat kesadaran pasien.
2) Pemeriksaan tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, suhu dan pernafasan.
3) Kontraksi uterus.
4) Kandung kemih
5) Terjadinya perdarahan, perdarahan dianggap normal bila jumlahnya tidak
melebihi 400-500 cc. (Sulistyawati. 2010: 9)

B. Konsep Partus Lama


1. Pengertian Partus Lama
Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primi dan lebih
dari 18 jam pada multi (rustam mochtar, 2010)
Menurut winkjosastro, 2012. Persalinan (partus) lama ditandai dengan fase laten lebih
dari 8 jam, persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih tanpa kelahiran bayi, dan
dilatasi serviks di kanan garis waspada pada partograf.
2. Etiologi
a. Kelainan tenaga (kelainan his).
His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan rintangan pada
jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persalinan, tidak dapat diatasi, sehingga
persalinan mengalami hambatan atau kemacetan.
b. Kelainan janin.
Persalinan dapat mengalami gangguan atau kemacetan karena kelainan dalam letak
atau dalam bentuk janin.
Kelainan letak, posisi atau presentasi janin :
1) Posisi Oksipitalis Posterior Persisten
2) Presentasi Puncak Kepala
3) Presentasi Muka
6

4)
5)
6)
7)

Presentasi Dahi
Letak Sungsang
Letak Lintang
Presentasi Ganda

a. Kelainan bentuk janin


1) Pertumbuhan janin yang berlebihan
2) Hidrosefalus
3) Kelainan bentuk janin yang lain: janin kembar melekat (double monster), janin
dengan perut besar, tumor-tumor lain pada janin.
c. Kelainan jalan lahir.
Kelainan dalam ukuran atau bentuk jalan lahir bisa menghalangi kemajuan persalinan
atau menyebabkan kemacetan.
3.

Klasifikasi Partus Lama


Harry Oxorn dan Willian R. Forte () mengklasifikasikan partus lama menjadi beberapa
fase, yaitu :
a.
Fase laten yang memanjang
Fase laten yang melampaui waktu 20 jam pada primigravida atau waktu 14 jam
pada multipara merupakan keadaan abnormal. Sebab-sebab fase laten yang panjang
mencakup:
1)
Serviks belum matang pada awal persalinan
2)
Posisi janin abnormal
3)
Disproporsi fetopelvik
4)
Persalinan disfungsional
5)
Pemberian sedatif yang berlebihan
Serviks yang belum matang hanya memperpanjang fase laten, dan kebanyakan
serviks akan membuka secara normal begitu terjadi pendataran. Sekalipun fase
laten berlangsung lebih dari 20 jam, banyak pasien mencapai dilatasi serviks yang
normal ketika fase aktif mulai. Meskipun fase laten itu menjemukan, tapi fase ini
tidak berbahaya bagi ibu atau pun anak.

b.

Fase aktif yang memanjang pada primigravida


Para primigravida, fase aktif yang lebih panjang dari 12 jam merupakan keadaan
abnormal, yang lebih penting daripada panjangnya fase ini adalah kecepatan dilatasi
serviks. Pemanjangan fase aktif menyertai :
1)
Malposisi janin
7

Disproporsi fetopelvik
3)
Penggunaan sedatif dan analgesik secara sembrono
4)
Ketuban pecah sebelum dimulainya persalinan
Keadaan ini diikuti oleh peningkatan kelahiran dengan forceps tengah, secsio
2)

caesarea dan cedera atau kematian janin. Periode aktif yang memanjang dapat
dibagi menjadi dua kelompok klinis yang utama, yaitu kelompok yang masih
menunjukkan kemajuan persalinan sekalipun dilatasi servik berlangsung lambat dan
kelompok yang benar-benar mengalami penghentian dilatasi serviks.
c. Fase aktif yang memanjang pada multiparas
Fase aktif pada multipara yang berlangsung lebih dari 6 jam (rata-rata 2,5 jam) dan
laju dilatasi serviks yang kurang dari 1,5 cm per jam merupakan keadaan abnormal.
Meskipun partus lama pada multipara lebih jarang dijumpai dibandingkan dengan
primigravida, namum karena ketidakacuhan dan perasaan aman yang palsu,
keadaan tersebut bisa mengakibatkan malapetaka.
Kelahiran normal yang terjadi di waktu lampau tidak berarti bahwa kelahiran
berikutnya pasti normal kembali. Pengamatan yang cermat, upaya menghindari
kelahiran pervaginam yang traumatik dan pertimbangan secsio caesarea merupakan
tindakan penting dalam penatalaksanaan permasalahan ini. Berikut ini ciri-ciri
partus lama pada multipara :
1) Insedensinya kurang dari 1%
2)
Mortalitas perinatalnya lebih tinggi dibandingkan pada primigravida dengan
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

4.

partus lama Jumlah bayi besar bermakna


Malpresentasi menimbulkan permasalahan
Prolapsus funiculi merupakan komplikasi
Perdarahan postpartum berbahaya
Rupture uteri terjadi pada grande multipara
Sebagian besar kelahirannya berlangsung spontan pervaginam
Ekstraksi forceps tengah lebih sering dilakukan
Angka secsio caesarea tinggi, sekitar 25%.

Gejala Klinis
a.
Pada ibu
1)
Gelisah, letih, suhu badan meningkat, berkeringat, nadi cepat dan lemah,
pernapasan cepat dan meteorismus, cincin retraksi patologis, edema vulva,
edema serviks, his hilang atau lemah.

2)

Cincin retraksi patologis Bandl sering timbul akibat persalinan yang terhambat,
disertai peregangan dan penipisan berlebihan segmen bawah uterus, dan

3)

menandakan ancaman akan rupturnya segmen bawah uterus.


Pada partus kasep dapat juga muncul tanda-tanda ruptur uteri: perdarahan dari
OUE, his menghilang, bagian janin mudah teraba dari luar, pemeriksaan dalam:
bagian terendah janin mudah didorong ke atas, robekan dapat meluas sampai

serviks dan vagina.


b. Pada janin
1) Denyut jantung janin cepat/hebat/tidak teratur bahkan negatif, air ketuban
terdapat mekonium, kental kehijau-hijauan, berbau.
2) Kaput suksedaneum yang besar. Kaput ini dapat berukuran cukup besar dan
menyebabkan kesalahan diagnostik yang serius. Biasanya kaput suksedaneum,
bahkan yang besar sekalipun, akan menghilang dalam beberapa hari.
3) Moulage kepala yang hebat, akibat tekanan his yang kuat, lempeng-lempeng
tulang tengkorak saling bertumpang tindih satu sama lain.
4) Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK)
5) Kematian Janin Intra Parital (KJIP)
5.

Komplikasi Partus Lama


Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH (1998), menjelaskan mengenai bahaya partus lama
bagi ibu dan janin, yaitu :
a. Bahaya bagi ibu
Partus lama menimbulkan efek berbahaya baik terhadap ibu maupun anak. Beratnya
cedera meningkat dengan semakin lamanya proses persalinan, resiko tersebut naik
dengan cepat setelah waktu 24 jam. Terdapat kenaikan pada insidensi atonia uteri,
laserasi, perdarahan, infeksi, kelelahan ibu dan shock.Angka kelahiran dengan
tindakan yang tinggi semakin memperburuk bahaya bagi ibu.
b. Bahaya bagi janin
Semakin lama persalinan, semakin tinggi morbiditas serta mortalitas janin dan
semakin sering terjadi keadaan berikut ini :
1) Asfiksia akibat partus lama itu sendiri
2) Trauma cerebri yang disebabkan oleh penekanan pada kepala janin
3) Cedera akibat tindakan ekstraksi dan rotasi dengan forceps yang sulit
4) Pecahnya ketuban lama sebelum kelahiran. Keadaan ini mengakibatkan
terinfeksinya cairan ketuban dan selanjutnya dapat membawa infeksi paru-paru
serta infeksi sistemik pada janin.

Sekalipun tidak terdapat kerusakan yang nyata, bayi-bayi pada partus lama
memerlukan perawatan khusus.Sementara pertus lama tipe apapun membawa akibat
yang buruk bayi anak, bahaya tersebut lebih besar lagi apalagi kemajuan persalinan
pernah berhenti.Sebagian dokter beranggapan sekalipun partus lama meningkatkan
resiko pada anak selama persalinan, namun pengaruhnya terhadap perkembangan
bayi selanjutnya hanya sedikit. Sebagian lagi menyatakan bahwa bayi yang
dilahirkan melalui proses persalinan yang panjang ternyata mengalami defisiensi
intelektual sehingga berbeda jelas dengan bayi-bayi yang lahir setelah persalinan
normal.
6.

Diagnosis
Menurut Suprijadi dalam buku asuhan intrapartum pada fase laten memanjang ini
memungkinkan terjadinya partus lama. Maka dari itu bidan harus bisa mengidentifikasi
keadaan ini dengan baik.

Diagnosa partus lama ialah :


Tanda dan gejala
Diagnosa
1- Serviks tidak membuka
Belum inpartu
2- Tidak didapatkan his/his tidak teratur
- Pembukaan serviks tidak melewati 4 cm sesudah 8 jam Fase laten memanjang
inpartu dengan his yang teratur
- Pembukaan serviks melewati kanan garis waspada Fase aktif memanjang
partograf
- Frekuensi his kurang dari 3 x his per 10 menit dan Inersia uteri
lamanya kurang dari 40 detik
- Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin yang CPD
dipresentasi tidak maju, sedangkan his baik
- Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin yang Obstruksi kepala
dipresentasi tak maju dengan caput, terdapat moulase
hebat, oedema serviks, tanda ruptura uteri imins,
gawat janin
- Pembukaan serviks lengkap, ibu ingin mengedan, Kala II lama
tetapi tidak ada kemajuan penurunan
10

Kekeliruan melakukan diagnosa persalinan palsu menjadi fase laten menyebabkan


pemberian induksi yang tidak perlu yang biasanya sering gagal. Hal ini menyebabkan
tindakan operasi SC yang kurang perlu dan sering menyebabkan amnionitis. Oleh sebab itu
maka petugas kesehatan atau bidan harus benar-benar tahu atau paham tentang perbedaan
persalinan sesungguhnya dan persalinan palsu yaitu dengan ciri-ciri sebagai berikut :

b.

a. Persalinan sesungguhnya
1) Serviks menipis dan membuka
2) Rasa nyeri dengan internal teratur
3) Internal antara rasa nyeri yang secara perlahan semakin pendek
4) Waktu dan kekuatan kontraksi bertambah
5) Rasa nyeri berada dibagian perut bagian bawah dan menjalar ke belakang
6) Dengan berjalan menambah intensitas
7) Ada hubungan antara tingkat kekuatan kontraksi dengan intensitas rasa nyeri
8) Lendir darah sering tampak
9) Kepala janin terfiksasi di PAP diantara kontraksi
10) Pemberian obat penenang tidak menghentikan proses persalinan sesungguhnya
11) Ada penurunan kepala bayi
Persalinan Semu
1) Tidak ada perubahan serviks
2) Rasa nyeri tidak teratur
3) Tidak ada perubahan internal antara nyeri yang satu dan yang lain
4) Tidak ada perubahan pada waktu dan kekuatan kontraksi
5) Kebanyakan rasa nyeri dibagian depan saja
6) Tidak ada perubahan rasa nyeri dengan berjalan
7) Tidak ada hubungan antara tingkat kekuatan kontraksi uterus dengan intensitas rasa
nyeri
8) Tidak ada lendir darah
9) Tidak ada kemajuan penurunan bagian terendah janin
10) Kepala belum masuk PAP walaupun ada kontraksi
11) Pemberian obat yang efisien menghentikan rasa nyeri pada persalinan
7.

Penatalaksanaan
a.
Penanganan secara umum (menurut Sarwono Prawirohardjo)
1) Nilai secara cepat keadaan umum wanita hamil tersebut termasuk tanda-tanda
vital dan tingkat hidrasinya. Apakah ia kesakitan dan gelisah, jika ya
pertimbangkan pemberian analgetik.
2) Tentukan apakah pasien benar-benar inpartu
3) Upaya mengedan ibu menambah resiko pada bayi karena mengurangi jumlah
O2 ke plasenta, maka dari itu sebaiknya dianjurkan mengedan secara spontan

dan mengedan dengan tidak menahan napas terlalu lama


4) Perhatikan DJJ
b. Penanganan secara khusus pada kala I fase laten memanjang
11

Apabila ibu berada dalam fase laten lebih dari 8 jam dan tidak ada tanda-tanda
kemajuan, lakukan pemeriksaan dengan jalan penilaian ulang serviks :
1) Bila tidak ada perubahan penipisan dan pembukaan serviks serta tak
didapatkan tanda gawat janin, kaji ulang diagnosisnya kemungkinan ibu
belum dalam keadaan inpartu
2) Bila ada kemajuan dalam pendataran dan pembukaan serviks lakukan
amniotomi dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostoglandin.
Lakukan drip oksitosin dengan 5 unit dalam 500 cc dekstrose atau NaCl
mulai dengan 8 tetes per menit, setiap 30 menit ditambah 4 tetes sampai His
adekuat (maksimum 40 tetes/menit) atau diberikan preparat prostaglandin.
Lakukan penilaian ulang setiap 4 jam. Bila ibu tidak masuk fase aktif setelah
dilakukan pemberian oksitosin lakukan seksio sesarea.
3) Pada daerah yang prevelensi HIV tinggi, dianjurkan membiarkan ketuban
tetap utuh, selama pemberian oksitosin untuk mengurangi kemungkinan
terjadinya penularan HIV
4) Bila didapatkan tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau) lakukan
akselerasi persalinan dengan oksitosin 5 unit dalam 500 cc dekstrose atau
NaCl mulai dengan 8 tetes permenit setiap 15 menit ditambah 4 tetes sampai
his adekuat (maksimum 40 tetes/menit atau diberikan preparat prostaglandin,
serta berikan antibiotika kombinasi sampai persalinan yaitu amplisilin 29 gr
IV. Sebagai dosis awal dan 1 gr IV setiap 6 jam ditambah dengan gestamisin
setiap 24 jam.
5) Jika terjadi persalinan pervaginam stop antibiotika pasca persalinan
6) Jika dilakukan seksiosesarea, lanjutkan antibiotika ditambah metronidazol
500 mg IV setiap 8 jam sampai ibu bebas demam selama 48 jam.
c. Penanganan secara khusus pada kala I fase aktif memanjang
d. Penanganan secara khusus pada kala II lama

BAB III

12

TINJAUAN KASUS
Asuhan Kebidanan Pada Ny.I G3P2A0Usia Kehamilan 38 Minggu
Janin Tunggal Hidup Intra Uterin Preskep Inpartu Kala I
Fase AktifMemanjang Di Ruang VK IRD
Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi NTB
Tanggal 25 Mei 2015
TanggaI Pengkajian/Jam

: 25 Mei 2015 / 18.10 WITA

Tanggal Masuk/jam

: 25 Mei 2015 / 18.00 WITA

Ruangan

: VK IRD RSUD Provinsi NTB

KALA I
1.

A. Data Subjektif
Identitas
IDENTITAS
Nama
Umur
Agama
Suku/Bangsa
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat
No. MR

ISTRI
NyI
32 tahun
Islam
Sasak/Indonesia
SMP
Ibu Rumah Tangga
Gunung Sari
560975

SUAMI
TnM
36 tahun
Islam
Sasak/Indonesia
SD
Tukang

2. Keluhan Utama
Ibu hamil 9 bulan mengatakan sakit perut menjalar ke pinggang mau melahirkan.

3.
-

Riwayat perjalanan penyakit


Ibu mengatakan perut terasa mules disertai nyeri perut bagian bawah dan tembus ke
bagian belakang mulai tanggal 24 Mei 2015 pukul 17.00 WITA
- Ibu mengatakan keluar lendir dan darah dari kemaluan pada tanggal 25 Mei 2015 pukul
07.00 WITA

13

- Pasien rujukan dari Puskesmas Gunung Sari G3 P2 A0Usia Kehamilan 38 Minggu Janin
Tunggal Hidup Intra Uterin Preskep K/U ibu dan janin baik dengan inpartu Kala I fase
aktif macet.
4. Riwayat kesehatan
a. Riwayat Kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak memiliki

riwayat

penyakit

menular

(TBC,hepatitis),

menurun(diabetes,hipertensi), menahun (jantung, asma).


b. Riwayat Kesehatan sekarang
Ibu mengatakan saat ini tidak menderita penyakit apapun, kecuali yang sedang
dikeluhkan.
c. Riwayat Kesehatan keluarga
Ibu mengatakan bahwa dikeluarganya tidak ada yang menderita riwayat penyakit
menular (TBC,hepatitis), menurun(diabetes, hipertensi), menahun(jantung,asma).
d. Riwayat kehamilan kembar
Ibu mengatakan bahwa tidak ada keluarganya yang memiliki keturunan kembar.
5.
Menarche
Lama
Banyak
Siklus
Teratur/tidak
Disminore
Flour albus
6.

Riwayat menstruasi
: 14 tahun
: 5-6 hari
: 2-3x ganti pembalut / hari
: 28 hari
: teratur
: ada
: tidak ada
Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

Hamil

Usia

Tempat

Penolon

Jenis

ke

kehami

persain

persalinan

1
2
Ini
7.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

lan
9 bln
9 bln

an
Rumah
Rumah

Riwayat penyulit
H
P
N

BB

BBL
L/
Usia

H/
M

P
Dukun
Dukun

Spontan
Spontan

Riwayat kehamilan sekarang


Hamil ke
:3
HPHT
: 1 September 2014
Usia Kehamilan
: 9 bulan
Pergerakan janin dalam 12 jam terakhir : sering ( >10 kali )
Masalah/tanda bahaya selama kehamilan : tidak ada
ANC
: 4 kali di Puskesmas
14

2400
3000

L
L

14 thn
13 thn

M
H

g. Imunisasi TT
h. Riwayat KB yang lalu
i. Rencana KB
8.

: tidak diberikan
: suntik 3 bulan
: IUD

Riwayat kebutuhan biologis


Nutrisi
Makan terakhir

a.
1)

: 25 Mei 2015, pukul 16.30

WITA
2)
3)
4)

Komposisi
: roti
Porsi : bungkus
Minum terakhir

: 25 Mei 2015, pukul 16.35

WITA
5)

Kesulitan

b.

: tidak ada

Eliminasi
1)
2)
3)

BAB terakhir : 24 Mei 2015, pukul 15.00 WITA


BAK terakhir : 25 Mei 2015. Pukul 17.00 WITA
Kesulitan
: tidak ada

c.

Istirahat
1)

Istirahat terakhir

: 25 Mei 2015, pukul 05.00

WITA
2)
3)
9.

Lama : 1 jam
Kesulitan
: sering BAK
Riwayat psikososial

Status perkawinan

: sah, menikah 1 kali

Lama perkawinan

: 15 tahun

Respon ibu terhadap kehamilan

: sangat senang

Dukungan keluarga

: sangat mendukung

Pengambilan keputusan

: ibu bersama suami

Beban kerja

: masak, nyapu, mencuci

Pendamping persalinan yang diinginkan

: suami dan keluarga

B. Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan umum
b. Kesadaran
c. Emosi
d. TB
e. BB
f. Lila

: baik
: compos mentis
: stabil
: 157 cm
: 61 kg
: 24,5 cm
15

g. TTV :
1) Tekanan darah
: 130/80 mmhg
2) Nadi
: 76x/menit
3) Suhu
: 36,5C
4) Pernapasan
: 22 kali/menit
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala dan rambu
Kulit kepala bersih, warna rambut hitam, tidak ada ketombe, distribusi merata, tidak
ada rambut rontok, tidak ada luka/lesi.
b. Wajah
Pucat (-), oedema (-)
c. Mata
Konjungtiva pucat (-) ,sclera ikterus (-)
d. Mulut dan gigi
Bibir pucat (-) , gusi berdarah (-) , caries (-)
e. Leher
Bendungan vena jugularis (-) , pembesaran kelenjar tiroid (-) , pembesaran kelenjar
limfe (-)
f. Payudara
Simetris (+/+) , putting susu menonjol (+/+) , areola hiperpigmentasi (+/+) , luka/lesi
(-/-) , retraksi (-/-) , nyeri tekan (-/-) , massa (-/-) , pembesaran kelenjar limfe (-/-) ,
pengeluaran colostrums (-/-)
g. Abdomen
Inspeksi : luka bekas operasi (-) , linea nigra (+) , striae gravidarum (+).
Palpasi :
1)
2)
3)
4)

Leopold I
Leopold II
Leopold III
Leopold IV

: TFU 31 cm, teraba bokong difundus


: punggung kanan
: presentasi kepala, sudah masuk PAP
: kepala sudah masuk PAP 4/5 bagian

TBBJ

: 3100 gram

His

: 3 kali dalam 10 menit lamanya 40 detik, intensitas kuat.

Auskultasi : DJJ (+) , irama teratur 11-11-10, frekuensi 128x/menit.


h. Ekstremitas
Ekstremitas atas : oedema (-) , pucat pada kuku (-)
Ekstremitas bawah : oedema (-), varices (-) , reflek patella (+/+)
i. Genitalia
Inspeksi : oedema (-), varices (-), jaringan parut (-), blood slym (+), air ketuban (-)
Pemeriksaan dalam : tanggal 25 Mei 2015 , pukul 18.00 WITA
16

VT 9 cm, eff 95% , ketuban (+) , teraba kepala , denominator UUK kanan depan ,
penurunan kepala HI , tidak teraba bagian kecil janin atau tali pusat.
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium

Nilai normal

Hb

: 10,8 gr/dL

10-15 gr/dL

HbSAg

: Negatif

Negatif

Golongan darah

:O

A, B, O, AB

C. Analisa
G3P2A0H1 ,UK 38 minggu , janin T/H/IU , presentasi kepala , keadaan ibu dan janin baik
dengan inpartu kala I fase aktif memanjang.
D. Penatalaksanaan
Tanggal : 25 Mei 2015 , pukul : 18.10 WITA
1. Memberitahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan bahwa keadaan ibu dan janin baik,
tetapi ibu mengalami perpanjangan waktu dalam proses persalinannya sehingga
diperlukan beberapa tindakan agar proses persalinan berjalan dengan lancer. Ibu
mengetahui keadaannya dan bayinya.
2. Memfasilitasi informed consent untuk persetujuan tindakan yang akan dilakukan pada
ibu. Suami sudah menandatangani informed consent.
3. Mengobservasi kesejahteraan ibu dan janin serta kemajuan persalinan. Observasi
persalinan sudah dilakukan setiap 30 menit.
4. Memberikan dukungan moril kepada ibu agar tetap semangat menjalani proses
persalinan. Ibu memahami dan mengatakan akantetap semangat.
5. Menginformasikan kepada ibu dan keluarga untuk tetap memberikan makan dan minum
agar ibu ada tenaga untuk mengedan. Keluarga sudah memberikan ibu makan dan
minum.
6. Melakukan kolaborasi dengan dr. Malfira. Advice :
a. Pasang infus RL di guyur
b. Berikan antibiotic Ceftriaxon 1 mg setiap 12 jam
7. Melakukan rehidrasi dengan pemasangan infuse RL diguyur. Infus sudah terpasang. Ibu
merasa lebih bertenaga setelah rehidrasi
8. Melakukan injeksi Ceftriaxon 1 mg ( 5cc ) setiap 12 jam dan menjelaskan pada ibu
manfaat obat yaitu untuk mencegah terjadinya infeksi karena persalinan ibu berlangsung
lama. Injeksi Ceftriaxon 1 mg ( 5cc ) sudah dilakukan
9. Menyiapkan pertus set : 2 klem tali pusat , koher , 1 gunting episiotomy , 1 gunting tali
pusat , kassa steril , benang tali pusat , 2 pasang sarung tangan steril.
17

Tabel observasi persalinan.


Tgl/jam

His

DJJ

TTV

Penngeluaran

Keluhan

Keterangan

pervaginam

25

Mei

Frek

Lama

Inten

irama

Frek

TD

3x

40

Kuat

/+

11-11-

128

130

76

36,

22

10

x/

/80

2015
18.00

detik

Blood slym

menit

WITA

Sakit

VT 9 cm, eff 95

perut

% , ketuban (+) ,

bagian

teraba

bawah,

denom UUK kanan

sakit

depan , penurunan

pinggang

kepala HI , tidak

kepala,

teraba bagian kecil


janin/ tali puast.
25

Mei

3x

2015
18.30

35

Sedan

detik

10-11-

124x/

120

10

menit

/80

80

Blood slym

Sakit
perut
bagian

WITA

bawah,
sakit

25

Mei

2015
19.00

4x

45
detik

Kuat

11-11-

132x/

120

11

menit

/80

WITA

80

36

20

Blood slym

pinggang
Sakit

VT 10 cm, eff

perut

100% , ketuban (+)

bagian

bawah

denom UUK kanan

seperti

depan , penurunan

ingin

kepala HIII , tidak

BAB

teraba bagian kecil

teraba

kepala,

janin/ tali pusat

KALA II
Tanggal
Pukul
Tempat

: 25 Mei 2015
: 19.10 WITA
: VK IRD RSUDP NTB

A. Data Subyektif
Ibu mengatakan sakit pinggang menjalar ke perut bagian bawah serta ingin mengedan
seperti BAB.
18

B. Data Obyektif
1. Keadaan umum
2. Kesadaran
3. TTV

: baik
: compos mentis

Tekanan darah

: 120/80 mmhg

Nadi

: 80x/menit

Suhu

: 36C

Pernapasan

: 20x/menit

4. Terdapat tanda dan gejala kala II yaitu dorongan ingin mengedan, tekanan pada anus,
perineum menonjol, serta vulva dan sfingter ani membuka.
5. Pemeriksaan dalam : tanggal 25 Mei 2015 , pukul 19.00 WITA
VT 10 cm, eff 100%, ketuban (+) , teraba kepala , denom UUK kanan depan ,
penurunan kepala HIII , tidak teraba bagian kecil janin/ tali pusat.
DJJ (+) , irama 11-11-11 , frekuensi 132x/menit.
His (+) , 4 kali dalam 10 menit lamanya 45 detik, intensitas kuat.
C. Analisa
G3P2AOH1 ,UK 38 minggu, janin T/H/IU , presentasi kepala, keadaan umum ibu dan janin
baik dengan inpartu kala II.
D. Penatalaksanaan
Tanggal : 25 Mei 2015 , pukul : 19.10 WITA
1. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin
baik.Ibu dan keluarga mengetahui bahwa pembukaan sudah lengkap.
2. Menganjurkan salah satu keluarga atau suami untuk membantu ibu dalam posisi
setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan ibu kecuali terlentang dalam waktu
yang lama.Keluarga mau melaksanakannya.
3. Mengajarkan ibu cara meneran yang baik yakni ibu boleh meneran pada waktunya (saat
his) seperti orang BAB keras, meneran di bawah, kepala melihat ke fundus, tangan
merangkul kedua pahanya serta mengajarkan ibu untuk menarik nafas dari hidung dan
keluarkan melalui mulut.Ibu mengerti dan mau melakukannya.
4. Pada ukul 19.10 WITA melakukan amniotomi.
5. Pada saat kepala bayi terlihat dengan diameter 5-6 cm di vulva handuk dipasang diatas
perut ibu dan kain 1/3 bagian dipasang dibawah bokong ibu.
6. Membuka partus set dan memakai sarung tangan steril.
7. Menolong persalinan sesuai dengan langkah APN.
8. Pukul 19.45 WITA bayi lahir spontan dengan letak belakang kepala, jenis kelamin lakilaki, APGAR SKOR pada 1 menit pertama 7.
9. Penilaian keadaan bayi
No

Aspek yang Dinilai

1 menit
19

Nilai

5 menit

Nilai

1.

2.
3.
4.
5.

pertama
Badan dan

Appearance

ekstremitas

merah
DJ

merah
DJ

<100x/menit
Menyeringi
Fleksi

1
1

>100x/menit
Menyeringi
Fleksi kuat

1
2

sedikit
Napas

Napas

Respiration

teratur
Jumlah

teratur
7

KALA III
Tanggal

: 25 Mei 2015

Pukul

: 19.46 WITA

Tempat

: VK IRD RSUDP NTB

A. Data Subyektif
Ibu mengatakan masih merasa mules pada perutnya
B. Data Obyektif
1. Keadaan umum ibu baik
2. Kesadaran
: compos mentis
3. TTV :
Tekanan darah : 110/80 mmhg
Nadi

: 82x/menit

Suhu

: 36,9C

Pernapasan

: 20x/menit

ekstremitas
Pulse
Grimace
Activity

kedua
Badan dan

4. Kontraksi uterus baik


5. TFU sepusat, uterus teraba keras dan bundar
6. Plasenta belum lahir
7. Tali usat memanjang
C. Analisa
P3AOH2 ,keadaan umum ibu baik dengan kala III
D. Penatalaksanaan
20

1. Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada bayi kedua , kemudian
menyuntikan oksitosin 10 IU pada 1/3 paha kanan luar (aspirasi sebelum menyuntikan)
2. Mengklem tali pusat 2-3cm dari umbilicus dan tali pusat di urut kearah ibu sekita 1cm
dari klem pertama. Gunting tali pusat diantara klem, ikat tali pusat dengan benang satu
sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikat dengan simpul mati
pada sisi lainnya.
3. Letakkan bayi diatas perut ibu untuk melakukan IMD , membungkus bayi dengan kain
kering dan berikan tutup kepala dan ibu diminta untuk memeriksa bayinya.
4. Melakukan penegangan tali terkendali dengan memindahkan klem berjarak 5-10 cm dari
vulva. Letakkan tangan kiri diatas simpisis untuk melakukan dorso cranial dan dilakukan
ketika ada his. Setelah plasenta terlihat pada vuvva, plasenta ditangkap dan memutar
searah jarum jam sampai selaput plasenta terpilin.
5. Pukul 19.50 WITA , plasenta lahir secara spontan dengan scutzle , kotiledon dan selaput
ketuban lengkap, berat plasenta 500 gram, panjang tali pusat 50 cm.
KALA IV
Tanggal

: 25 Mei 2015

Pukul

: 19.55 WITA

Tempat

: VK IRD RSUDP NTB

A. Data Subyektif
Ibu mengatakan lega telah melahirkan bayi dengan selamat.Ibu mengatakan masih merasa
mules dan lelah.
B. Data Obyektif
1. Keadaan umum
2. Kesadaran
3. TTV

: baik
: compos mentis

Tekanan darah

: 110/80 mmhg

Nadi

: 80x/menit

Suhu

: 36,5C

Pernapasan

: 20x/menit

4. TFU 1 jari dibawah pusat


5. Kontraksi uterus baik
6. Kandung kemih kosong
7. Perdarahan 20 cc
C. Analisa
21

P3AOH2 ,keadaan umum ibu baik dengan kala IV

D. Penatalaksanaan
1. Memberitahukan kepada ibu mengenai hasil pemeriksaan yaitu , keadaan umum ibu baik
Ibu mengetahui hasil pemeriksaan.
2. Menganjarkan pada ibu cara merasakan kontraksi uterus yaitu uterus teraba bulat
dankeras serta mengajarkan untuk tetap mempertahankannya dengan cara masase uterus
sebanyak 15 kali searah jarum jam dan dilakukan diatas perut ibu.Ibu mengerti dan mau
melakukannya.
3. Membersihkan ibu serta membersihkan semua perlengkapan yang digunakan kemudian
melakukan pendekontaminasian alat dan sarung tangan dalam larutan klorin 0,5% selama
10 menit.Ibu sudah bersih dan perlengkapan telah di dekontaminasi.
4. Memasangkan ibu pembalut serta menggantikan kain yang bersih untuk ibu. Ibu sudah
dipasangkan pembalut.
5. Memantau tekanan darah , nadi, suhu, TFU , kontraksi uterus, kandung kemig serta
perdarahan setiap 15 menit pada 1 jam pertam dan setiap 30 menit pada 1 jam kedua.
6. Pemantauan kala IV
Jam

Waktu

ke

Tekanan

Nadi

Suhu

darah

Tinggi

Kontraksi

Kandung

Jumlah

Fundus

uterus

Kemih

perdarahan

Baik

Kosong

10 cc

Baik

Kosong

10 cc

Baik

Kosong

10 cc

Baik

Kosong

10 cc

Baik

Kosong

30 cc

Uteri

19.55

20.10

20.25

20.40

110/80

80x/meni

36C

1 jari

mmhg

bawah

110/80

76x/meni

pusat
1 jari

mmhg

bawah

120/80

88x/meni

pusat
1 jari

mmhg

bawah

110/80

80x/meni

pusat
1 jari

mmhg

bawah
pusat

II

21.10

110/80
mmhg

74xmenit

36,5

1 jari

bawah

22

21.40

110/80

80x/meni

pusat
1 jari

mmhg

bawah

Baik

Kosong

30 cc

pusat
7. Keadaan umum baik, tekanan daran 110/80 mmhg, Nadi 80x/menit , kendung kemih
kosong, perdarahan 100 cc.
8. Pembalut diganti dengan yang baru dan ibu telah dipasangkan sabuk.
9. Menganjurkan ibu untuk minum obat amoxicillin 500 mg 3x1dan asam mefenamat 500
mg 3x1 per oral. Ibu telah makan dan minum serta meminum obat sesuai dengan anjuran.

BAB IV
PEMBAHASAN

23

1.

Pada saat pengkajian, tidak dikaji waktu


mulainya inpartu dan waktu masuk fase aktif. Diagnose inpartu kala I fase aktif memanjang
didapatkan dari data partograf karena grafik pembukaan servik sudah melewati garis
waspada.

2.

Pada teori, gejala klinis partus lama pada ibu


antara lain suhu badan meningkat, nadi cepat dan lemah, pernapasan cepat,edema vulva, da
nada tanda-tanda rupture uteri. Tetapi pada kasus Ny. I didapatkan S = 36,5 oC, nadi = 76
x/menit, R = 22 x/menit, tidak ada edema vulva, dan tidak ada tanda-tanda rupture uteri.
Jadi, gejala klinis partus lama yang terdapat pada teori belum tentu terjadi pada semua kasus
partus lama.

3.

Pada surat rujukan, diagnose yang tertera


adalah G3 P2 A0 Usia Kehamilan 38 Minggu Janin Tunggal Hidup Intra Uterin Preskep K/U
ibu dan janin baik dengan inpartu Kala I fase aktif macet. Tetapi, di rumah sakit tempat
pengkajian diagnose yang didapat adalah G3P2A0H1 ,UK 38 minggu , janin T/H/IU ,
presentasi kepala , keadaan ibu dan janin baik dengan inpartu kala I fase aktif memanjang.
Perbedaan diagnose ini bisa disebabkan karena perbedaan standar operasional prosedur di

4.

masing-masing tempat penyedia layanan kesehatan.


Pada teori, salah satu penatalaksanaan kasus
kala I fase aktif memanjang adalah pemecahan selaput ketuban jika tidak ada tanda-tanda
disproporsi sefalopelvik atau obstruksi dan ketuban masih utuh. Tetapi, pada
penatalaksanaan kasus Ny. I, tidak dilakukan pemecahan selaput ketuban, padahal tidak ada
tanda-tanda disproporsi sefalopelvik atau obstruksi dan ketuban masih utuh. Pemecahan
ketuban dilakukan saat kala II persalinan. Hal ini dilakukan agar memperkecil risiko infeksi
pada ibu dan janin.

5.

Pada teori, penanganan kasus kala I fase


aktif memanjang jika his adekuat, adalah pertimbangkan adanya disproporsi sefalopelvik,
obstruksi, malposisi, atau malpresentasi. Pada kasus Ny. I, his adekuat dan tidak ada
disproporsi sefalopelvik, obstruksi, malposisi, atau malpresentasi. Jadi, kemungkinan
penyebab pemanjangan fase aktif adalah kurangnya tenaga/kekuatan ibu. Karena itu
keluarga dianjurkan untuk memberi ibu makan dan minum agar tenaga ibu cukup untuk
menjalani proses persalinan. Ibu juga direhidrasi dengan infus RL 500 ml diguyur. Setelah
dilakukan rehidrasi, ibu merasa lebih bertenaga dan terjadi kemajuan persalinan. Hal ini

24

menunjukkan bahwa benar penyebab fase aktif memanjang pada kasus Ny. I adalah
kurangnya kekuatan/tenaga ibu.
6.

Pada penanganan kasus Ny. I, diberikan


injeksi Ceftriaxol 1mg untuk mencegah terjadinya infeksi, meskipun selaput ketuban belum
pecah. Penanganan ini dilakukan sesuai dengan saran dokter. Hal ini dilakukan untuk
mengantisipasi terjadinya infeksi karena proses persalinan yang berlangsung lebih lama dari
normalnya, meskipun selaput ketuban belum pecah.

BAB V
25

PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah melakukan Asuhan kebidanan pada Ny.I G3 P2 A0 Usia Kehamilan 38 Minggu
dengan Kala I Fase Aktif Memanjang Di Ruang VK IRD Rumah Sakit Umum Daerah
Provinsi NTB, maka penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Dalam melakukan Asuhan Kebidanan Pada Ny. I, Penulis telah melaksanakan pengkajian
dengan baik dan lancar yang berupa data Subjektif dan Objektif.
2. Penulis dapat melakukan interprestasi data dengan menentukan diagnose kebidanan yaitu
Ny.I G3 P2 A0 Usia Kehamilan 38 Minggu Janin Tunggal Hidup Intra Uterin Preskep
Inpartu Kala I Fase Aktif Memanjang
3. Dalam kasus ini penulis telah membuat rencana asuhan kebidanan pada Ny. I yaitu
dengan melakukan penatalaksanaan kasus fase aktif memanjang.
4. Dalam Kasus ini penulis telah melaksanakan Asuhan Kebidanan sesuai dengan yang telah
direncanakan yaitu dengan melakukan asuhan kebidanan pada Ny. I yang berupa
penatalaksanaan kasus fase aktif memanjang.
5. Dalam Kasus ini penulis telah melaksanakan evaluasi pada kasus Ny. I, dimana evaluasi
yang didapat yaitu Ny. I telah diberikan penatalaksanaan kasus fase aktif memanjang dan
telah dilakukan asuhan persalinan normal. Bayi Ny. I lahir dengan selamat dan telah
dilakukan pemantauan 2 jam postpartum. Hasil pemantauan 2 jam postpartum adalah
normal. Ny. I telah dipindahkan ke ruang nifas.
B. Saran

1.

Bagi ibu bersalin dan keluarga agar lebih kooperatif sehingga proses

persalinan dapat berjalan dengan lancar dan normal.


2.
Bagi petugas kesehatan di harapkan dapat lebih meningkatakan asuhan
sayang ibu dan bayi, dengan menerapkan prinsip tindakan aseptic dan pencegahan infeksi
3.

serta dapat memberikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan kala 1 memanjang.
Bagi mahasiswa untuk selalu belajar dalam hal mendeteksi kemungkinan
kelainan yang akan timbul selama persalinan khususnya pertolongan persalinan dengan
kala 1 memanjang.

26