Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM SATUAN PROSES

PEMBUATAN GAS KLORIN


SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015

MODUL
PEMBIMBING

: PEMBUATAN GAS CHLORINE (Cl2)


: Ir. Retno Indarti, MT

PRAKTIKUM

: 09 Juni 2015

PENYERAHAN : 16 Juni 2015


(laporan)

Oleh
Kelompok
Isty Fauziah
Mega Nurjannah A.
M. Egi Ramadhan
M. Ridwan Enan S.

: IV
(141411044)
(141411045)
(141411046)
(141411047)

1 B - D3 Teknik Kimia

PROGRAM STUDI D-III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


2015

I.

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Gas chlorine merupakan bahan yang diperlukan sebagai desinfektan untuk
memperbaiki kualitas air. Beberapa bahan kimia yag dapat digunakan adalah Ozon
(O3), chlorine (Cl2), dan air chlor oksida (ClO2) atau secara fisika dengan penyinaran
UV atau pemanasan.
Gas chlorine merupakan salah satu alternatif bahan yang digunakan sebagai
desinfektan karena selain harganya murah, ,juga mempunyai daya aktivitas yang baik
selama beberapa waktu. Proses pembuatan dapat dilakukan secara elektrolisis
menggunakan larutan NaCl, karena terkandung ion-ion klorida dalam komposisinya.
Gas chlorine selain dapat digunakan sebagai deinfektan, juga dapat mengoksidasi
logam Fe dan Mn. Berdasarkan manfaat tersebut maka perlu dicari usaha-usaha untuk
memproduksi gas chlorine dari bahan baku yang murah dan mudah dalam produksi
I.2 Tujuan Percobaan
1. Mempelajati pembuatan gas chlorine denan proses elektrolisis
2. Mengidentifikasi produksi gas chlorine yang didapatkan
3. Membandingkan produksi gas chlorine dalam waktu tertentu

II.

DASAR TEORI
Produksi gas chlorine perlu dikembangkan mengingat kebutuan saat inisemakin
bertambah, terlebih kebutuhan air bersih semakin sulit, sedang kebutuhan semakin
bertambah sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Jumlah air tanah yang
dimanfaatkan sebagai air kebutuhan sehari-hari juga terus bertambah karena
ketersediaan air PAM yag disediakan pemerintah juga masih sangat terbatas.
Kondisi tersebut perlu dipikirkan karena tidak semua air tanah berkualitas baik,
terlebih didapatkan bahwa gas chlorine dapat mengoksidasi logam Fe dan Mn. Salah
satu cara yang dapat dimanfaatkan adalah proses pembuatan secara elektrolisis
menggunakan larutan NaCl, karena terkandung ion-ion klorida dalam komposisinya.
Elektrokimia adalah hubungan antara energi listrik dan reaksi kimia, dengan
reaksi yang terjadi adalah reaksi redoks (reaksi reduksi-oksidasi). Berdasarkan reaksi
tersebut dapat dilakukan proses elektrolisis untuk memproduksi bahan kimia, salah
satu diantaranya adalah gas chlorine.
Elektrolisis menggunakan air murni saja tidak dapat dilakukan, karena air murni
tidak dapat menghantarkan listrik, tetapi dengan penambahan asam, basa ataupun
garam yang dilarutkan didalamnya, maka larutan tersebut dapat menghantarkan
listrik, dan akan engalami perubahan kimia. Larutan asam atau basa tersebut
merupakan elektrolit yang dapat meneruskan arus listrik dan merupakan konduktor
yang baik. Salah satu bahan kimia yang dapat digunakan sebagai elektrolit adalah
larutan NaCl.
Reaksi yang terjadi:

Katoda
: 2H2O(l) + 2e- H2(g) + 2OHAnoda
: 2Cl-(aq) Cl2(g) + 2e2H2O(l) + 2Cl-(aq) H2(g) + 2OH- + Cl2(g)
Selain pembentukan gas chlorine, dalam anoda juga terbentuk gas oksigen, reaksi
terjadi sebagai berikut:
Katoda
: 4H2O(l) + 4e- 2H2(g) + 4OHAnoda
: 2H2O 4H+ + O2 + 4e6H2O 2H2(g) + 4OH-+ 4H+ + O2
Produk gas chlorine yang terjadi ditangkap oleh larutan kalium iodide. Adanya
gas Cl2 ditunjukkan dengan perubahan warna yang terjadi pada larutan KI. Adanya
gas oksigen yang merupakan produk samping akan naik ke atas dan mendorong
larutan kalium iodide ke bawah. Pada katoda dihasilkan gas H2 dan larutan bersifat
basa yang dapat diidentifikasi dengan penambahan indikator pp, berubah menjadi
warna merah. Penentuan konsentrasi dilakukan dengan titrasi asam basa
menggunakan larutan HCl.
III.

ALAT DAN BAHAN


Nama Alat
Reaktor elektrolisis
Scrubber
Rectifier
Buret
Gelas kimia
Labu Erlenmeyer
Pipet tetes
Gelas ukur

Nama Bahan
NaCl teknis
Larutan KI
Larutan HCl
Indikator PP
Aquadest

IV.

PROSEDUR KERJA

Spesifikasi

Jumlah
1
2
1
50 mL
1
100 mL
2
1
1
10 mL
1
Tabel 1. Alat yang digunakan
Spesifikasi

Jumlah
35 gram
2%
100 Ml
0,02 N
100 mL
3 tetes
500 mL
Tabel 2. Bahan yang digunakan

4.1 Pembuatan gas chlorine :

NaCl(s)
35g+
Aquade
s 100
ml

1. Buatlah rangkaian proses elektrolisis dengan menghubungkan reaktor


elektrolisis dengan rectifier sebagai sumber listrik dan alat penangkap gas
chlorine.
2. Sumber listrik negatif sebagai katoda dan positif sebagai anoda.
3. Masukkan larutan NaCl jenuh ( atau konsentrasi tertentu ) pada kolom
elektrolisis.
4. Masukkan selang dari
kolom elektrolisis
Merangkai
Reaktor pada scrubber yang telah berisi
Kl 2
Pencampuran
larutan KI.
Pencampuran
Elektrolisis & Scrubber
%(2g+1
& 5. Amati perubahan warna yang terjadi pada larutan KI untuk&mengetahui gas
00 ml
Pengadukan
aquades)
Pengadukanchlorine yang terbentuk.
(s)

30ml x
2

4.2 Analisis gas chlorine :

1. AmbilReaktor
10 ml larutan di katoda, dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer,
2 Scrubber
tambahkan
indikator pp, kemudian dititrasi menggunakan larutan HCl 0,02 N
Elektrolisis
untuk mengetahui konsentrasi NaOH yang terbentuk.
2. Ambil 10 ml larutan KI, dimasukkan ke dalam scrubber sebagai penampung,
tambahkan amilum dan amati perubahan warna yang terjadi.
3. Apabila gas chlorine yang terbentuk ditangkap dengan aquades, maka gas
chlorine yang terbentuk
akan bereaksi
dengan aquades membentuk air chlor.
Hubungkan
ke rectifier

Penyaringa
n

sebagai sumber arus


(katoda)
dan sumber arus + (anoda)

Pengukuran laju gas chlor


yang dihasilkan pada t = 5
menit

Reaktor
Elektrolisis

Scrubber

Diagram alir pembuatan gas chlorin


Kolom Katoda
(NaOH)

Tirasi dengan
HCL 0,02 N

Kolom anoda
(Cl2 dan 02)

Amati
yang
terjadi

Diagram alir analisis gas chlorin

V.

DATA PERCOBAAN
Persiapan
Berat NaCl
Volume aquades
konsentrasi NaCl

: 35 gram
: 100 mL
:
M=
M=

35 x 1000
58,5 100

M = 5,98 N
Tabel pembentukan gas Cl2
Tegangan
: 5 volt

Waktu
(menit)
5
10
15
Tegangan

Volume reaktor elektrolisis (ml)


(anoda) (Cl2)
Bertambah 3,2 ml
Bertambah 3,1 ml
Bertambah 3,2 ml

: 10 volt

Waktu
(menit)
0
5
10
15

Volume reaktor elektrolisis (ml)


(katoda) (Cl2)
Berkurang 3 ml
Berkurang 3 ml
Berkurang 1,2 ml

Volume reaktor elektrolisis (ml)


(katoda) (Cl2)
35,2
Berkurang 5 ml
Berkurang 4,9 ml
Berkurang 4,8 ml

Volume reaktor elektrolisis (ml)


(anoda) (Cl2)
25,3
Bertambah 4,1 ml
Bertambah 4,2 ml
Bertambah 2,7 ml

*pada katoda terbentuk gelembung yang lebih banyak sehingga terlihat berbusa dan
berwarna putih
VI.

PENGOLAHAN DATA
Penentuan konsentrasi NaOH dengan titrasi ( HCl sebagai titran)
1. Konsentrasi HCl : 0,02 N
Volume HCl
: 10,9 mL
Konsentrasi NaOH
NHCl . VHCl
= NNaOH . VNaOH
0,02 N . 10,9 mL = NNaOH. 10 mL
NNaOH
= 0,0218 N
2. Konsentrasi HCl : 0,02 N

Volume HCl
: 11 mL
Konsentrasi NaOH
NHCl . VHCl
= NNaOH . VNaOH
0,02 N . 11 mL = NNaOH. 10 mL
NNaOH
= 0,022 N
VII.

FOTO KEGIATAN

Rangkaian alat elektrolisis gas chlorine

Terbentuk gas hidrogen dan NaOH di katoda

Larutan KI ditambah gas chlorine

larutan KI mengandung gas chlorine


ditambah sedikit amilum

larutan KI mengandung gas chlorine + amilum

larutan KI mengandung gas chlorine


banyak amilum

NaOH + 3 tetes indikator PP


Analisis gas chlorine dengan menambahkan larutan amilum pada larutan KCl dari
scrubber dan terbukti dengan terjadinya perubahan warna
VIII. PEMBAHASAN
Oleh Isty Fauziah (141411044)
Pembuatan gas klorin pada praktikum ini dilakukan dengan metode elektrolisis
meggunakan larutan NaCl jenuh dengan konsentrasi 5,98 M. Larutan ini merupakan
larutan elektrolit yang berfungsi sebgai penghantar arus listrik karena dapat
terionisasi secara sempurna. Penguraian terjadi di katoda (-) yang akan menghasilkan
NaOH dan anoda (+) yang menghasilkan gas Cl2.
Untuk mengidentifikasi adanya gas klorin (Cl2) dari proses elektrolisis, digunakan
scrubber yang berisi larutan KI untuk mengikat gas Cl2 yang dihasilkan. Seharusnya
di dalam scrubber terjadi perubahan warna yang semula larutan KI berwarna bening
kemudian berubah menjadi berwarna kuning. Hal tersebut dapat terjadi karena KI
mengikat gas klorin sedangkan gas oksigen (O 2) yang dihasilkan di anoda juga akan
terdorong naik ke atas dan membuat membuat gelembung udara pada scrubber.
Perubahan warna tersebut menandakan bahwa terdapat gas klorin (Cl 2) dalam
scrubber. Namun pada praktikum yang kami lakukan tidak terjadi perubahan warna,
gas klorin tertahan pada electrolyser tidak bisa naik dan keluar di scrubber. Ini dapat
disebabkan oleh selang untuk pemasukan kurang panjang sehingga ada gas yang
keluar dari selang serta volume larutan KI yang terdapat pada scrubber sangat sedikit.
Kemudian yang kami lakukan adalah menambahkan larutan yang terdapat di anoda
agar gas chlorine yang terkandung di anoda bisa tercampur dengan larutan KI yang
terdapat di dalam scrubber, kemudian setelah ditambahkan larutan yang terdapat di

anoda terjadi perubahan warna dari bening menjadi warna kuning kecoklatan hal ini
menandakan bahwa memang terrdapat hasil gas chlorine pada praktikum ini. Untuk
lebih yakin di lakukan tahap lanjut pembuktian, larutan yang mengandung gas klorin
(berwarna kuning) dari scrubber diuji dengan menggunakan amilum untuk
mengetahui ada iodida pada larutan, yang dapat dilihat dari perubahan warna yang
semula kuning akan menjadi warna biru pekat kehitaman. Sedangkan di katoda
terdapat larutan NaOH, untuk membuktikannya diuji dengan menggunakan indikator
pp yang kemudian berubah menjadi warna merah muda. Hal ini membuktikan bahwa
terbentuk NaOH di anoda dan untuk mengetahui konsentrasi NaOH, larutan tersebut
dititrasi dengan larutan HCl dan larutan berubah warna menjadi bening. Konsentrasi
NaOH yang dihasilkan adalah 0,002 M .
MEGA NURJANNAH (141411045)
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari pembuatan gas chlorine dengan
proses elektrolisis, mengidentifikasi produksi gas chlorine yang didapatkan serta
membandingkan produksi gas chlorine dalam waktu tertentu. Pembuatan gas chlorine
dengan proses elektrolisis menggunakan NaCl jenuh (ditandai serbuk NaCl yang
sudah sulit untuk larut) yaitu dengan melarutkan 35 gr NaCl ke dalam 100 ml aquades
sebagai larutan elektrolit. NaCl tersebut dapat meneruskan arus listrik dan merupakan
konduktor yang baik. Kemudian, rangkai alat proses elektrolisis yaitu dengan
menghubungkan reaktor elektrolisis dengan rectifier sebagai sumber listrik dan alat
penangkap gas chlorine. Karena proses ini elektrolisis, sumber arus positif sebagai
anoda yang akan menghasilkan Cl2 sedangkan sumber arus negatif sebagai katoda
yang akan menghasilkan H2. Reaksi yang terjadi sebagai berikut.
Katoda : 2H2O (l) + 2eH2(g) + 2OH-(aq)
Anoda : 2Cl-(aq)
Cl2(aq) + 2eDalam anoda juga terbentuk gas O2
Katoda : 4H2O + 4e2H2 + 4OHAnoda : 2H2O
4H+ + O2 + 4eSelanjutnya, larutan NaCl dimasukkan kedalam kolom / ke dalam reaktor
elektrolisis yang dihubungkan dengan dua scrubber yaitu scrubber 1 dan scrubber 2
masing-masing berisi larutan KI yang berfungsi untuk menangkap gas Cl 2 yang akan
terbentuk. Tegangan yang digunakan adalah 5 dan 10 volt dengan waktu masing

masing 15 menit. Pada peristiwa ini, katoda timbul gelembung-gelembung yang


semakin lama semakin banyak sedangkan dianoda masih tetap diam. Lama kelamaan
larutan di anoda naik dan di katoda semakin berkurang, Cl2 pada anoda terus menguap
hingga masuk pada scrubber 1 kemudian masuk ke scrubber 2 melalui selang silikon.
Berdasarkan literatur, semakin besar arus dan semakin lama waktu, maka gas Cl2 yang
dihasilkan pun semakin besar.
Untuk menguji ada atau tidaknya chlorine dilakukan identifikasi dengan
mengambil sedikit larutan pada scrubber 1 kemudian ditambahkan larutan pada anoda
dari reaktor elektrolisis. Hal ini ditandai dengan perubahan warna pada larutan
menjadi warna kuning yang menandakan terbentuknya gas chlorine serta bau
menyengat yang tercium saat aliran anoda dibuka pada reactor elektrolisis.
Setelah itu dilakukan juga uji terhadap kandungan iodine dari reaksi yang
terjadi antara KI dengan Cl2 menggunakan amilum 2%, perubahan warna yang terjadi
menjadi kehitaman yang menandakan adanya iodine. Pada katoda gas yang terbentuk
berupa H2 dan larutan bersifat basa yaitu terbentuknya NaOH yang dapat
diidentifikasi dengan titrasi asam basa menggunakan larutan HCl 0,1 N. Titrasi yang
dilakukan sebanyak dua kali diperoleh rata-rata volume HCl yang digunakan 10,95
ml kemudian diperoleh konsentrasi NaOH sebesar 0,0218 N dan 0,022 N.
Faktor yang mempengaruhi pembentukan gas chlorine menggunakan proses
elektrolisis diantaranya kuat arus, waktu, dan tegangan (volt).
MOCH EGI RAMADHAN (141411046)
Pada praktikum kali ini kami melakukan pembuatan gas Cl 2 dengan cara
elektrolisis larutan NaCl. Elektrolisis merupakan peristiwa penguraian suatu
elektrolit oleh arus listrik. dalam sel elektrolisa terjadi perubahan energi menjadi
energi kimia.
Dalam praktikum kali ini NaCl berfungsi sebagai larutan elektrolit, yaitu larutan
yang berfungsi sebgai penghantar arus listrik karena dapat terionisasi secara
sempurna. Penguraian air terjadi di katoda (-) dan anoda (+) yang menghasilkan gas
H2 dan Cl2. Akan tetapi pada praktikum kali ini juga terbentuk gas O2 pada anoda.
Gas O2 ini dapat terbentuk karena nilai energi potensial sel dari gas O2 lebih negatif
(lebih kecil), daripada gas klorin (Cl2), sehingga terbentuklah gas Cl2 dan O2 pada
anoda.

Untuk mengidentifikasi apakah dalam proses elektrolisis itu mengandung gas


klorin (Cl2), maka digunakan lah scrubber untuk mengikat gas klorin (Cl2) yang
terlebih dahulu diisi oleh larutan KI dan NaOH. Di dalam scrubber terjadi perubahan
warna yang semula larutan KI berwarna bening akan berubah manjadi berwarna
kuning. Hal tersebut dapat terjadi karena Kalium iodida akan mengikat gas klorin
sedangkan gas oksigen (O2) yang dihasilkan di anoda juga akan terdorong naik ke
atas. Larutan yang bening mula-mula terdapat bercak kuning pada dinding scrubber
pada saat T (berapa menit) kemudian lama-kelamaan larutan akan berwarna kuning.
Perubahan warna tersebut menandakan bahwa terdapat gas klorin (Cl 2) dalam
scrubber. Kemudian larutan yang mengandung gas klorin diuji dengan menggunakan
amilum untuk mengetahui ada iodida pada larutan, yang dapat dilihat dari perubahan
warna yang semula kuning akan menjadi warna biru tua kehitaman.
Pada scrubber yang terdapat larutan NaOH, seharusnya pada scrubber yang berisi
NaOH ini akan berubah menjadi larutan NaOCl karena NaOH akan bereaksi dengan
gas oksigen (O2) dan klorin (Cl2) membentuk larutan hipoklorit. Akan tetapi kami
tidak dapat mengidentifikasinya.
Adapun faktor-faktor yang memepengaruhi jumlah gas klorin pada saat proses
elektrolisis adalah tegangan, dan waktu. Semakin besar tegangan atau kuat arus dan
waktu yang digunakan dalam proses elektrolisis, maka produksi gas klorin yang
dihasilkan akan semakin banyak.

MOH. RIDWAN ENAN SANUSI (141411047)


Pada praktikum ini akan akan dibahas dari praktikum sebelumnya yang telah
dilakukan yaitu pembuatan gas klorin (Cl2) dengan metode elektrolisis. Elektrolisis
merupakan peristiwa penguraian suatu elektrolit oleh arus listrik dalam sel elektrolisa
terjadi perubahan energi menjadi energi kimia.
Praktikum ini menggunakan larutan NaCl yang berfungsi sebagai larutan
elektrolit yaitu larutan yang berfungsi sebagai peghantar arus listrik karena dapat
terionisasi secara sempurna. Penguraian air terjadi di katoda (-) dan anoda (+) yang
menghasilkan gas H2 dan Cl2. Namun, pada elektrolisis kali ini juga yang terbentuk

gas O2 pada Anoda. Gas O2 ini dapat erbentuk karena nilai energi potensial sel dari
gas O2 lebih negaif (lebih kecil) daripada gas klorin (Cl2) sehingga terbentuklah gas
Cl2 dan O2 pada anoda.
Pada reaktor di kotoda ujung reaktornya ditutup agar gas klorin bisa terdorong
keluar menuju scrubber. Untuk mengetahui dalam proses elektrolisis itu mengandung
gas klorin (Cl2) pada scrubber diisi oleh larutan KI, jika terdapat gas klorin (Cl 2)
maka terjadi perubahan warna yang semula larutan KI berwarna bening akan berubah
menjadi berwarna kuning. Hal ini bisa terjadi karena Kalium Iodida akan mengikat
gas klorin sedangkan gas oksigen (O2) yang dihasilkan di anoda juga akan terdorong
naik ke atas. Perubahan warna tersebut menandakan bahwa terdapat gas klorin (Cl 2)
dalam scrubber. Namun, pada percobaan yang kami lakukan tidak terjadi perubahan
warna, hal ini karena kurangnya gas klorin yang tereaksi dengan larutan KI, untuk
membuktikan bahwa terdapat klorin dalam larutan maka larutan pada scrubber yang
berisi KI kami titrasi dengan larutan yang ada pada anoda, setelah kami titrasi
ternyata larutan KI berubah warna menjadi kuning. Kemudia larutan yang
mengandung gas klorin diuji dengan menggunakan amilum untuk mengetahui ada
iodida pada larutan, yang dapat dilihat dari perubahan warna yang semula kuning
menjadi warna biru hitam ini membuktikan bahwa ada ion iodida yang terdapat pada
larutan KI tersebut.
Pada reaktor katoda yang terelktrolisis membentuk larutan NaOH, kemudian
larutan ini dititrasi dengan HCl 0.02 N, sebelum dititrasi larutan NaOH ini diberikan
indikator PP, larutan ini berubah warna menjadi merah muda ketika ditambah
indikator PP karena larutan bersifat basa, titrasi dengan HCl akan membuat larutan
berubah warna menjadi bening kembali.
Kemudian ada juga faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah gas klorin pada saat
proses elektrolisi adalah tegangan dan waktu. Semakin besar tegangan atau kuat arus
dan waktu yang digunakan dalam proses elektrolisis maka produksi gas klorin yang
dihasilkansemakin banyak.

IX.

KESIMPULAN
1. Terbentuk gas klor (Cl2) dan O2 di anoda
2. Adanya gas klor ditandai dengan perubahan warna pada larutan KI menjadi
warna kuning
3. Adanya iodide (I2) dalam larutan KI dengan penambahan amilum dengan
perubahan warna menjadi biru
4. Terbentuk larutan NaOH pada katoda karena terjadi perubahan warna saat
penambahan indikator PP menjadi warna merah muda
5. Konsentrasi larutan NaOH yang diperoleh sebesar 0,002 M

X.

DAFTAR PUSTAKA

Abdel-Aal, H.K dan Husein I.A., Sultan S.M. 1993. Parametric Study for Saline Water
Electrolysis: Part II-Chlorine Evolution, Selectivity and Determination. International
Journal Hydrogen Energy 18 (7) hal. 545-551.
Huang, dkk. 2008. Application of Electrolyzed Water in the Food Industry. Journal of Food
Control 19, hal. 329-345.
Jeffrey, G.H, dkk. 1989. Vogels Textbook of Quantitative Chemical Analysis. John
Wiley&Sons: New York.
Shelva sG. 1990. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimakro. PT
Kalman Media: Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai