Anda di halaman 1dari 7

BERKAS PORTOFOLIO

Nama Peserta : Susan Fitriyana, dr.


Nama Wahana :RS PKU Muhammadiyah Gombong
Topik
:kasus medikolegal (Visum et Repertum Korban Hidup Definitif)
Tanggal (kasus)
:20 September 2013
Nama pasien
: Ny. M
No. RM : 247.068
Tanggal presentasi :
Nama Pendamping :
28 September 2013
Mardiati Rahayu, dr.,
Tempat presentasi :IGD RS PKU Muhammadiyah Gombong
Obyektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan
Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah

Istimewa
Neonatu
Dewasa Lansia
Bayi
Anak
Remaja
Bumil
s
Deskripsi : Wanita, 43 tahun, mengaku kepala dibenturkan ke tembok dan telinga kanan
dipukul oleh telepon genggam 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Setelah
kejadian tersebut telinga terasa nyeri, panas badan dan tidak terdapat gangguan
pendengaran. Sekitar 5 jam sebelum masuk rumah sakit wanita tersebut mengaku
tangan kanan dicekal dan lengan kiri dibenturkan ke pintu. Selama itu, wanita
tersebut tidak dapat bekerja. Hasil pemeriksaan fisik ditemukan kemerahan di
daerah daun telinga kanan dan bengkak kemerahan pada liang telinga kanan,
serta luka lecet pada lengan kiri dan luka lecet serta luka memar di lengan kanan.
Wanita tersebut datang dengan membawa surat permintaan visum dari Kepala
Kepolisian Sektor Rowokele dengan nomor surat B/02/IX/2013/Sek Rwk.
Tujuan :
Mengidentifikasi dan mendiagnosis luka akibat kekerasan benda tumpul maupun
benda tajam.
Mengetahui aspek medikolegal dalam melakukan pemeriksaan terhadap orang yang
menderita luka akibat kekerasan
Mengetahui pembuatan visum et repertum definitif pada korban hidup
injauan Pustaka
Kasus
Bahan bahasan :
Riset
Audit
Presentasi dan
Cara membahas : Diskusi
Email
Pos
diskusi
Data pasien

Nama: Ny. M

Nama RS: RS PKU


Muhammadiyah Gombong

Alamat: Jl. Yos Sudarso


No. 461 Gombong

No.Register: 247.068
Terdaftar sejak: -

Data utama untuk bahan diskusi:


1. Diagnosis/ gambaran klinis:
Pasien didiagnosa mengalami luka derajat kedua, yaitu luka yang menimbulkan
penyakit dan mengakibatkan halangan dalam melakukan pekerjaan jabatan atau
pencaharian untuk sementara waktu berdasarkan hasil anamnesis ditemukan kepala
1

2.

3.
4.
5.
6.

dibenturkan ke tembok dan telinga kanan dipukul oleh telepon genggam yang
mengakibatkan telinga terasa nyeri dan panas badan serta tangan kanan dicekal dan
lengan kiri dibenturkan ke pintu serta hasil pemeriksaan fisik ditemukan luka memar
kemerahan di daerah daun telinga kanan serta luka kemerahan dan bengkak pada liang
telinga kanan, serta luka lecet pada lengan kiri dan luka lecet serta luka memar di
lengan kanan. Pemeriksaan pada telinga kanan menunjukan bahwa pasien mengalami
otitis eksterna, sakit tersebut mengakibatkan pasien tidak dapat bekerja untuk
sementara waktu.
Riwayat pengobatan:
Pasien belum pernah berobat ke dokter atau ke tempat pengobatan lainnya. Saat ini
pasien juga sedang tidak mengkonsumsi obat apa pun.
Riwayat penyakit:
Riwayat penyakit pasien tidak ditanyakan.
Riwayat keluarga:
Riwayat penyakit pada keluarga tidak ditanyakan.
Riwayat pekerjaan:
Pasien adalah seorang karyawan swasta.
Lain-lain:
Pemeriksaan Fisik:
Pengamatan umum :
Seorang wanita berkulit sawo matang
Pemeriksaan pakaian :
Mengenakan baju atasan berwarna kuning dengan memakai baju dalam berwarna
hitam, mengenakan celana panjang berwarna hitam serta berkerudung kuning
Pemeriksaan umum :
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Denyut nadi : 80x/menit
Pernafasan
: 16x/menit
Suhu
: 36,20C
Kesadaran
: E4 M6 V5 Compos mentis (pasien sadar penuh)
Pemeriksaan Badan
Kepala
: Ditemukan luka memar kemerahan di daerah daun telinga
kanan, dan pada liang telinga kanan terdapat luka kemerahan dan bengkak.
Leher
:Tidak ditemukan tanda-tanda akibat kekerasan benda tumpul
maupun benda tajam.
Dada dan punggung: Tidak ditemukan tanda-tanda akibat kekerasan benda tumpul
maupun benda tajam.
Perut dan pinggang : Tidak ditemukan tanda-tanda akibat kekerasan benda tumpul
maupun benda tajam.
Anggota gerak atas :
- Ditemukan luka lecet kemerahan berukuran 10cmx2cm yang memanjang dari
siku kiri bagian dalam
- Ditemukan luka lecet berwarna merah kehitaman berukuran 0,5cm x0,5 cm
yang berada di 2 cm dari pergelangan tangan kanan sebelah dalam.
- Ditemukan luka memar merah keunguan berukuran 2x1 cm yang berada di
samping luka lecet pada lengan kanan bawah.
- Ditemukan luka memar kehitaman berukuran 0,5cm x0,5 cm yang berada di
2

6 cm dari pergelangan tangan kanan sebelah dalam.


Anggota gerak bawah :Tidak ditemukan tanda-tanda akibat kekerasan benda
tumpul maupun benda tajam.
Alat kelamin
:Tidak ditemukan tanda-tanda akibat kekerasan benda tumpul
maupun benda tajam.
Daftar Pustaka:
1. Idris AM, 1997, PEDOMAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK, Edisi pertama,
Binarupa Aksara, Jakarta.
2. Sampurna, B., Samsu, Z., 2004, PERANAN ILMU FORENSIK DALAM PENEGAKAN
HUKUM: Sebuah Pengantar, Edisi kedua, Bagian Kedokteran Forensik, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
3. Dahlan, S., 2003, PETUNJUK PRAKTIKUM Pembuatan VISUM ET REPERTUM,
Edisi II Cetakan I, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
4. Tim Kedokteran Forensik, 2005, PEDOMAN PENYUSUNAN VISUM ET
REPERTUM DI RS. DR. SARDJITO, Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada Instalasi Kedokteran Forensik RS Dr. Sardjito,
Yogyakarta.
Hasil Pembelajaran:
1. Mengidentifikasi kelainan akibat kekerasan benda tumpul maupun benda tajam
2. Mengetahui tatalaksana dan aspek medikolegal dari pembuatan visum et repertum
definitive pada korban hidup.
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio
1. Subjektif
Dari anamnesis ditemukan bahwa pasien mengaku mengalami kekerasan benda
tumpul yaitu kepala dibenturkan ke tembok dan telinga kanan dipukul oleh telepon
genggam yang mengakibatkan telinga terasa nyeri dan panas badan yang
mengakibatkan pasien tidak dapat bekerja serta tangan kanan dicekal dan lengan kiri
dibenturkan ke pintu.
2. Objektif
Pada kasus ini, pasiendidiagnosis mengalami luka derajat dua, berdasarkan
informasi dibawah ini:
-

Pemeriksaan pada telinga kanan menunjukan bahwa pasien mengalami otitis


eksterna, sakit tersebut mengakibatkan pasien tidak dapat bekerja untuk

sementara waktu
Pemeriksaan pada anggota gerak atas menunjukkan adanya luka lecet dan memar
akibat kekerasan benda tumpul, luka tersebut tidak menghalangi pasien untuk
bekerja dan tidak menimbulkan kecacatan.

Informasi tersebut digunakan untuk pembuatan visum et repertum definitif


korban hidup berdasarkan surat permintaan visum dari Kepala Kepolisian Sektor
Rowokele dengan nomor surat B/02/IX/2013/Sek Rwk.
3. Assessment
Pengertian visum et repertum menurut bahasaberasal dari kata latin yaitu
visum (sesuatu yang dilihat) dan repertum (melaporkan), sedangkan pengertian
menurut istilahadalah laporan tertulis yang dibuat oleh dokter berdasarkan sumpah
jabatannya terhadap apa yang dilihat dan diperiksa berdasarkan keilmuannya.
Menurut lembar negara 350 tahun 1973 menyatakan bahwa visum et repertum suatu
laporan medik forensik oleh dokter atas dasar sumpah jabatan terhadap pemeriksaan
barang bukti medis (hidup/mati) atau barang bukti lain, biologis (rambut, sperma,
darah), non-biologis (peluru, selongsong) atas permintaan tertulis oleh penyidik
ditujukan untuk peradilan.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa visum et repertum merupakan suatu
laporan tertulis (termasuk kesimpulan mengenai sebab-sebab perlukaan/kematian)
yang dibuat oleh dokter berdasarkan sumpah jabatan, mengenai apa yang
dilihat/diperiksa berdasarkan keilmuannya, atas permintaan tertulis dari pihak
berwajib untuk kepentingan peradilan.
Pejabat yang dapat meminta visum et repertum atas seseorang korban tindak
pidana kejahatan terhadap kesehatan dan nyawa manusia adalah penyidik dan
penyidik pembantu polisi, baik POLRI maupun Polisi Militer, sesuai dengan
jurisdiksinya masing-masing.
Syarat pembuatan visum et repertum sebagai alat bukti surat sebagaimana
tercantum dalam pasal 187 butir c sudah terpenuhi dengan adanya surat permintaan
resmi dari penyidik. Tidak ada alasan bagi dokter untuk menolak permintaan resmi
tersebut. Perlu diingat bahwa selain sebagai korban (pidana), ia juga berperan sebagai
pasien, yaitu seorang manusia yang merupakan subyek hukum, dengan segala hak dan
kewajibannya. Hal ini berarti bahwa seseorang korban hidup tidak secara "en block"
(seutuhnya) merupakan barang bukti. Yang merupakan "barang bukti" pada tubuh
korban hidup tersebut adalah perlukaannya beserta akibatnya, dan segala sesuatu yang
berkaitan dengan perkara pidananya. Sedangkan orangnya sebagai manusia tetap
diakui sebagai subyek hukum dengan segala hak dan kewajibannya. Dengan
demikian, oleh karena barang bukti tersebut tidak dapat dipisahkan dari orangnya,
maka tidak dapat disegel maupun disita. Yang dapat dilakukan adalah "menyalin"
barang bukti tersebut ke dalam bentuk visum et repertum.
4

Pada kasus ini visum et repertum dibuat berdasarkan surat permintaan visum
dari Kepala Kepolisian Sektor Rowokele dengan nomor surat B/02/IX/2013/Sek
Rwk., oleh karena itu syarat untuk pembuatan visum sudah terpenuhi.
Visum ini berisikan tentang identifikasi luka atau cedera yang terdapat pada
pasien, jenis kekerasan penyebabnya dan kualifikasi luka yang diformulasikan dengan
ketentuan yang sesuai dengan perundang-undangan, yaitu :
1. Luka ringan / luka derajat I/ luka golongan C
Luka derajat I adalah apabila luka tersebut tidak menimbulkan penyakit atau
tidak menghalangi pekerjaan korban.Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal
352 ayat 1.
2. Luka sedang / luka derajat II / luka golongan B
Luka derajat II adalah apabila luka tersebut menyebabkan penyakit atau
menghalangi pekerjaan korban untuk sementara waktu.Hukuman bagi pelakunya
menurut KUHP pasal 351 ayat 1.
3. Luka berat / luka derajat III / luka golongan A
Luka derajat III menurut KUHP pasal 90 ada 6, yaitu:
- Luka atau penyakit yang tidak dapat sembuh atau membawa bahaya maut
- Luka atau penyakit yang menghalangi pekerjaan korban selamanya
- Hilangnya salah satu panca indra korban
- Cacat besar
- Terganggunya akan selama > 4 minggu
Gugur atau matinya janin dalam kandungan ibu
Pada pasien ditemukan luka memar di daerah daun telinga kanan dan lengan
bawah kanan.Luka memar adalah suatu keadaan dimana terjadi pengumpulan darah
dalam jaringan yang terjadi sewaktu orang masih hidup, dikarenakan pecahnya pembuluh
darah kapiler akibat kekerasan benda tumpul. Luka memar berwarna kemerahan
menandakan bahwa luka masih baru, sedangkan luka yang berwarna gelap atau keunguan
menandakan

bahwa

luka

sudah

lebih

dari

24

jam.

Luka

memar

tersebut

menginformasikan bahwa pasien mengalami kekerasan benda tumpul beberapa hari yang
lalu dan juga beberapa jam sebelum dilakukan pemeriksaan.
Selain itu pada pasien terdapat luka lecet di daerah lengan kanan dan lengan
kiri.Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang
memiliki permukaan kasar atau runcing. Bentuk luka lecet pada pasien merupakan luka
lecet gores (scratch) di mana terdapat benda runcing yang menggeser permukaan lapisan
epidermis di depannya dan menyebabkan lapisan tersebut menunjukkan arah kekerasan
yang terjadi. Luka lecet gores di daerah pergelangan tangan menunjukan pasien
mengalami penjeratan manual di pergelangan tangan oleh tangan pelaku, arah

penumpukan kulit ke sisi luar pasien menandakan bahwa pergelangan tangan pasien
ditarik paksa oleh pelaku.
Berdasarkan keterangan tersebut menunjukan bahwa pasien mengalami
kekerasan benda tumpul di daerah telinga, lengan kanan dan lengan kiri. Luka-luka
tersebut tidak mengakibatkan kerusakan fungsi organ pada pasien, oleh karena itu luka
tersebut dikategorikan tidak mengganggu aktifitas pasien dengan kata lain pekerjaan
pasien.
Akan tetapi kekerasan benda tumpul pada telinga mengakibatkan pasien
mengalami otitis eksterna dekstra (berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan pada
liang telinga) yang mengakibatkan pasien tidak dapat bekerja.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka pasien mengalami luka derajat II, di
mana luka pada telinga kanan pasien menimbulkan penyakit yang bersifat sementara,
yaitu otitis eksterna dekstra yang mengakibatkan halangan dalam melakukan pekerjaan.
4. Plan
a. Diagnosis: Pada pasien ini diagnosis dapat dipastikan luka derajat II akibat
kekerasan benda tumpul berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik.
b. Pengobatan:saat ini pasien tidak memiliki keluhan apa pun, oleh karena itu
pasien tidak diberikan pengobatan apa pun. Selain itu, pasien telah
mendapatkan pengobatan untuk otitis eksterna yang dialami oleh pasien.
c. Follow up: berdasarkan surat permintaan visum dari Kepala Kepolisian Sektor
Rowokele dengan nomor surat B/02/IX/2013/Sek Rwk, maka hasil
pemeriksaan tersebut akan dilaporkan dalam visum et repertum definitif
korban hidup. Visum tersebut akan diberikan secara langsung kepada pihak
yang berwenang (penyidik).

PORTOFOLIO KASUS MEDIKOLEGAL


VISUM ET REPERTUM DEFINITIF PADA KORBAN HIDUP
(LUKA DERAJAT II AKIBAT KEKERASAN BENDA TUMPUL)

Disusun oleh:
Susan Fitriyana
Dokter Internship RS PKU Muhammadiyah Gombong

Pendamping:
Mardiati Rahayu, dr.

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG
KEBUMEN
2013
7