Anda di halaman 1dari 9

Hari/Tanggal

: Kamis, 18 September 2014

Waktu Praktikum : 11.10-13.40

Dosen

: Dr. Drh. Min Rahminiwati, M.S.

LAPORAN PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI VETERINER Absorbsi dan Resorbsi

Disusun oleh:

Noviana Dewi B04110026 ( ) .....................

Selma Anggita Rifky Rizkiantino

B04110031

B04110032

(

( ) ..................... .....................

)

Wahyu Sri Wulandari

B04110046

(

.....................

)

Mochamad Ibnu Abdhika

B04110047

(

.....................

)

Hari/Tanggal : Kamis, 18 September 2014 Waktu Praktikum : 11.10-13.40 Dosen : Dr. Drh. Min Rahminiwati,

BAGIAN FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI

DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI, DAN FARMAKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2014

PENDAHULUAN Latar Belakang

Toksikokinetik adalah ilmu yang mempelajari kinetika zat toksik atau pengaruh tubuh terhadap zat toksik yang terdiri atas sederetan proses yang sering disingkat dengan ADME, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Absorpsi adalah suatu proses masuknya bioaktif kedalam sirkulasi darah menuju target organ melalui berbagai membran penghalang. Kecepatan dan banyaknya obat yang diabsorpsi menentukan onset dan durasi suatu sediaan. Beberapa faktor penting yang berpengaruh pada jumlah dan kecepatan zat untuk terabsorpsi yaitu rute pemberian atau jalur paparan, konsentrasi dan lamanya kontak dengan tempat absorpsi, sifat kimia dan fisika dari xenobiotik. Berbagai mekanisme terlibat dalam proses ini diantaranya adalah absorpsi secara pasif tanpa memerlukan adanya energi dan proses yang memerlukan energi yang disebut transportasi aktif. Selain dua mekanisme ini dikenal juga mekanisme absorpsi lainnya diantaranya adalah absorpsi dengan transport konvektif, berfasilitas, pasangan ionn, dan pinositosis. Mekanisme absorbsi ini juga terjadi pada lambung. Umumnya obat yang bersifat mudah larut lemak akan mudah diabsorbsi oleh tubuh karena membran barier tempat masuknya bioaktif sebagian besar tersusun dari lemak pada bagian luarnya sehingga bersifat hidrofob. Kemampuan obat larut dalm lemak atau air menentukan banyaknya jumlah obat yang diabsorbsi, pernyataan tersebut disebut koefisien partisi.

Tujuan

Mempelajari pengaruh pH terhadap banyaknya obat yang diabsorbsi di lambung.

TINJAUAN PUSTAKA Asam salisilat

Asam salisilat atau nama dagangnya Orthohydroxybenzoic acid, berbentuk padat, serbuk kristal tidak berwarna atau berwarna putih tetapi jika dibuat dari

metal salisilat alami berwarna kuning atau merah muda, tidak berbau atau sedikit berbau mint, berasa manis. Berat molekul 138,1; rumus molekul C 7 H 6 O 3 . Titik sublimasi 76 o C, titik lebur 159 o C, kelarutan dalam air 0,2 g/100 mL pada 20 o C. kerapatan relative (air=1) : 1,4 (BPOM 2011). Paparan jangka pendek dan panjang bila asam salisilat tertelan adalah dering di telinga, mual, muntah, diare, pusing, kesulitan bernapas, sakit kepala, mengantuk, disorientasi, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kongesti paru, kerusakan ginjal, kejang, dan koma. LC 50 (inhalasi, tikud) . 900 mg/m 3 /1 jam; LD 50 (oral, tikus) = 480 mg/kg; LD 50 (intraperitional, tikus (rat)) = 157 mg/kg; LD 50 (oral, tikus (mouse)) = 300 mg/kg; LD 60 (subkutan, tikus) =520 mg/kg; LD 50 (intravena, tikus) = 184 mg/kg (Pike 1997). Gejala awal keracunan salisilat antara lain mual dan muntah, nyeri epigastrium dan kadang-kadang hematemesis. Pada intoksikasi ringan hingga sedang dapat menimbulkan gejala hipersalivasi, berkeringat, demam, iritabilitas, tinnitus dan hilangnya pendengaran. Pada keracunan berat kemungkinan terjadi hipoventilasi, pingsan, halusinasi, kejang, papiloedema dan koma. Dapat pula terjadi metabolic asidosis, non-kardiogenik paru edema, hepatotoksisitas dan distritmia jantung. Keracunan salisilat kronis terjadi akibat penggunaan yang berlebihan selam ajangka waktu 12 jam atau lebih. Jalur metabolism asam salisilat menjadi jenuh dan dengan demikian konsentrasi plasma mengalami peningkatan sehingga menghasilkan racun. Tanda-tanda keracunan salisilat kronis meliputi metabolic asidosis, hipoglikemia, lesu, dan koma (BPOM 2011).

Lambung

Tikus memiliki satu lambung (monogastric) terletak di sisi kiri rongga abdomen dan berbatasan dengan hati. lambung dan organ pencernaan lainnya terikat ke rongga tubuh bagian dorsal oleh mesenterium yang kaya pembuluh darah. Mesenterium yang mengikat lambung pada bagian kurvatura mayor disebut omentum (Kautsar 2009). Lambung tikus terbagi menjadi 2 bagian, glandular dan sisi lambung depan non-glanural yang berdinding tipis. Keuda bagian tersebut dibatasi oleh sebuah jembatan yang sekaligus meliputi pintu masuknya esophagus. Struktur

lambung mencegah terjadinya muntah pada tikus. Sisi lambung depan non- glanural memiliki lipatan mukosa yang menyerupai mukosa lumen dan dilapisi oleh sel epitel skuamosa bertingkat dan berperan sebagai reservoir. Sisi glanural lambung (korpus) memiliki karakterisik adanya sumur lambung yang dilapisi oleh epitel kolumnar selapis. Kelenjar lambung terdiri dari sel parietal dan chief cell/ sel zimogen. Bagian pylorus lambung tikus dilapisi oleh epitel kolumnar selapis yang juga melipisi perpangan sumur lambung. di bawah lapisan tersebut terdapat kelenjar pylorus (Kautsar 2009).

Absorbsi

Absorbsi adalah suatu proses masuknya bioaktif ke dalam system sirkulasi darah menuju target organ melalui berbagai membrane penghalang. Kecepatan dan banyaknya obat yang diabsorbsi menentukan onset dari durasi suatu sediaan. Berbagai mekanisme terlibat dalam prose ini diantaranya adalah absorbs secara pasif tanpa memerlukan adanya energy dan proses yang memerlukan energy yang disebut transportasi aktif. Selain dua mekanisme ini dikenal juga mekanisme absorbs lainnya diantaranya adalah absorbs dengan transport konvektif, berfasilitas, pasangan ion dan pinositosis. Proses ini dapat terjadi di kulit dan di saluran cerna dengan kelengkapan yang berbeda (Sittig 1991).

METODOLOGI PRAKTIKUM Alat dan bahan

Alat yang dibutuhkan dalam praktikum ini adalah spoit, stopcock, alat bedah, kertas saring, corong gelas, dan alat ukur. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tikus percobaan, asam salisilat dalam suasana asam dan suasana basa, FeCl 3, larutan NaCl fisiologis, dan standar asam salisilat.

Metode

  • - Anastesi tikus dengan urethane dosis 1.25 g/kgBB IP.

  • - Telentangkan dalam papan fiksasi kemudian ikat keempat kakinya.

  • - Cukur bulu yang terdapat di sekitar abdomen.

  • - Sayat kulit di bagian linea albadari bawah sampai ke bagian di bawah tulang rusuk.

  • - Lambung dikeluarkan dan diikat bagian esofagusnya dengan benang.

  • - Duodenum dilubangi kira-kira 1 cm di bawah pylorus.

  • - Pipa kaca yang dihubungkan dengan selang karet de stop cock dimasukkan kemudian diikat bagian pylorusnya dengan kuat. Satunya lagi dibuat ikatan 0.5-1 cm di bawah tempat pipa dimasukkan.

  • - Lambung dibilas dengan cairan BaCl fisiologis sampai bersih, kemudian dikosongkan.

-

Asam

salisilat

dalam

suasana

asam

dan

suasana

basa

dimasukkan

sebanyak 4 cc kemudian dikocok hingga homogen. Diambil 1.5 cc

kemudian saring dengan kertas saring.

  • - Lima bagian FeCl3 ditambahkan ke dalam 1 bagian filtrat yang diperoleh.

  • - Warna yang terbentuk dibandingkan dengan warna standar. Konsentrasi yang diperoleh merupakan konsentrasi sediaan pada t0.

  • - Kemudian dibiarkan selama 1 jam.

  • - Cairan yang tersisa diambil kemudian disaring.

  • - Lima bagian FeCl 3 ditambahkan ke dalam bagian filtrat yang diperoleh.

  • - Warna yang terbentuk dibandingkan kembali dengan warna standar. Konsentrasi yang diperoleh merupakan konsentrasi pada t1.

  • - Jumlah obat yang diabsorbsi dapat dihitung dengan rumus:

konsentrasiobat pada t 0konsentrasi obat pada t 1 ×100 konsentrasi obat pada t 0

HASIL

Tabel 1 Hasil percobaan absorpsi asam salisilat suasana asam di lambung tikus

Kelompok

Konsentrasi (mg %) Akhir

Awal

Persentase

absorbsi (%)

1

30

10

66,67

2

25

10

60

3

15

5

66,67

4

15

5

66,67

Rata-rata

21.25

7.5

65.00 %

Tabel 2 Hasil percobaan absorpsi asam salisilat suasana basa di lambung tikus

Kelompok

Konsentrasi (mg %) Akhir

Awal

  • 5 10

5

Persentase

absorbsi (%)

50

6 15 5 100 7 35 5 85,7 8 15 10 50 Rata-rata 18.75 6.25 71.43%
6
15
5
100
7
35
5
85,7
8
15
10
50
Rata-rata
18.75
6.25
71.43%
Grafik perbandingan rata-rata hasil percobaan absorbsi asam salisilat suasana
asam dengan suasana basa di lambung tikus
120
100
80
60
Suasana Asam (Kelompok 1, 2, 3, 4)
Suasana Basa (Kelompok 5, 6, 7, 8)
40
20
0
Kelompok 1 &
5
Kelompok 2 & 6
Kelompok 3 & 7
Kelompok 4 & 8

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil praktikum didapatkan bahwa saat preparat obat yang dimasukkan ke dalam lambung melalui selang karet de stop cock, volume obat yang telah disaring untuk mendapatkan filtrat pertama sebesar 1.5 mL. Setelah dilakukan titer terhadap filtrat dengan FeCl sebanyak tiga bagian didapatkan hasil sama dengan warna blanko dengan presentase absorbsi pada angka 10%. Kemudian, setelah 30 menit diambil kembali dan didapatkan filtrat dengan volume akhir 0.5 mL dan setelah disamakan dengan blanko mendapatkan presentase absorbsi pada angka 5% sehingga jumlah obat yang diabsorbsi pada suasana basa sebesar 50%, namun rata-rata konsentrasi absorbsinya sebesar 71.43%. Hal ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan presentasi absorbsi obat dalam suasana asam. Sedangkan asam asetil salisilat (aspirin) yang dimasukkan kedalam lambung tikus (dalam suasana asam) akan diabsorbsi lebih baik. Hasil percobaan menunjukkan, rata-rata konsentrasi awal asam asetil salisilat yang diabsorbsi oleh

lambung adalah sebesar 21.25 %.Setelah ditunggu selama satu jam, konsentrasi rata-rata asam asetil salisilat yang diperoleh dari lambung tikus adalah 7.5%. Hal ini menunjukkan bahwa dari keseluruhan asam asetil salisilat yang dimasukkan kedalam lambung tikus, 65% telah diabsorbsi oleh lambung. Berdasarkan literatur, obat atau senyawa kimia yang bersifat asam akan berdisosiasi dalam suasana basa menjadi bentuk ion dan anion dan sebaliknya, pH pelarut akan menentukan kecepatan dan banyaknya obat yang diabsorbsi (Pradyot 2002). Dalam percobaan kali ini, asam asetil salisilat dimasukkan dalam suasana asam. Asam asetil salisilat diabsorbsi dengan mekanisme difusi pasif dalam bentuk molekul tak terionkan melewati membran gastrointestinal dan dipengaruhi oleh pH larutan. Jika pH meningkat, asam asetil salisilat lebih banyak terionisasikan dan kecepatan absorbsi cenderung turun. Karena pH larutan rendah, maka pada pemberian oral asam asetil salisilat dengan cepat diabsorbsi di lambung. Asam salisilat dapat ditemukan pada banyak tanaman dalam bentuk metal salisilat dan dapat disintesa dari fenol. Asam salisilat memiliki sifat-sifat: berasa manis, membentuk Kristal berwarna putih, sedikit larut dalam air, meleleh pada 158,5°C - 161°C. Asam salisilat biasanya digunakan untuk memproduksi ester dan garam yang cukup penting (Pradyot,2002). Untuk mengetahui kemurnian asam salisilat, dapat dilakukan uji dengan menggunakan besi(III) klorida (FeCl 3 ). Besi(III) klorida bereaksi dengan gugus fenol membentuk kompleks ungu. Asam salisilat akan berubah menjadi ungu jika FeCl 3 ditambahkan, karena asam salisilat mempunyai gugus fenol. Pengujian konsentrasi awal (Ct0) dengan konsentrasi akhir (Ct1) menunjukkan derajat kepekatan warna yang menurun ketika dibandingkan dengan standar. Hal ini berarti konsentrasi awal lebih tinggi dari konsentrasi akhir yang mengindikasikan pula akan adanya mekanisme absorbs (Pradyot 2002) Suasana asam di dalam lambung menyebabkan sebagian besar dari salisilat terdapat dalam bentuk non ionisasi, sehingga memudahkan absorpsi. Hal ini sesuai dengan data hasil percobaan yaitu senyawa asam salisilat yang dilarutkan dalam HCl 0,1 N menunjukkan hasil rata-rata persen absorbsi yang lebih tinggi dari senyawa asam salisilat yang dilarutkan dalam suasana basa. Hasil itu menunjukkan bahwa pelarut terbaik untuk asam salisilat agar mudah diabsorbsi adalah dengan

pelarut yang bersifatasam.Namun, bila salisilat dalam konsentrasi tinggi memasuki sel mukosa, maka obat tersebut dapat merusak barier mukosa. Jika pH lambung ditingkatkan oleh buffer yang cocok sampai pH 3,5 atau lebih, mak airitasi terhadap lambung berkurang (Pradyot 2002). Derajat keasaman merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi proses absorbsi suatu obat untuk dapat didistribusikan ke target organ. Hal inilah yang akan memengaruhi koefisien partisi atau kemampuan melarutnya obat dalam lemak dan air yang menentukan banyaknya jumlah obat yang dapat diabsorbsi dengan mekanisme secara difuse pasif melalui membran barier (Goodman et al. 2007). Menurut Lazuardi (2010), lipofilitas dan gugus fungsional penarik elektron yang terikat pada struktur molekul inti suatu obat juga memengaruhi karakter obat tersebut. Sehingga terdapat beberapa obat dengan karakter mudah larut dalam lemak atau mudah larut dalam non-lemak. Obat akan diserap dalam bentuk molekul utuh. Dalam keadaan basa, molekul obat mengalami disosiasi. Hal inilah yang membuat kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah produk ionisasi sehingga kualitas absorbsi menjadi rendah. Sedangkan pada keadaan asam, kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah bahan atau molekul utuh sehingga kualitas absorbsi yang dihasilkan menjadi tinggi (Tjay et al. 2007). Namun, dari data yang didapatkan melalui praktikum meyimpang dari literatur yang ada. Hal ini dimungkinkan karena adanya kesalahan praktikan saat mengoleksi isi lambung dan melakukan tritrasi pada filtrat yang didapatkan sehingga mendapatkan hasil yang berkebalikan dengan landasan teori yang ada.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil yang didapat dalam praktikum ini dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi kecepatan dan presentasi absorbsi suatu obat, salah satunya adalah lingkungan absorbsi obat tersebut. Dalam suasana asam, kemampuan molekul obat dalam diabsorbsi meningkat sedangkan dalam keadaan basa justru menurunkan tingkat penyerapan

obat tersebut dalam jaringan. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya perbedaan kecepatan distribusi obat menuju organ targetnya.

Saran

Penggunaan hewan coba perlu ditambah untuk mendukung praktikum mahasiswa. Waktu dalam praktikum perlu ditambah agar mahasiswa lebih mendalami materi. Praktikan juga harus lebih teliti lagi apabila mengambil sampel yang dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

[BPOM] Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2011. Asam salisilat. Jakarta (ID):

SiKer Nas.

Goodman, Gilman. 2007. Dasar Farmakologi Terapi Edisi ke-10. Penerjemah:

Amalia. Jakarta (ID): EGC.

Kautsar A. 2009.peran capsaicin pada proses penyembuhan ulkus lambung tikus yang diberi paparan piroksikam [skripsi]. Depok (ID): Universitas Indonesia.

Lazuardi M. 2010. Biofarmasetik dan Farmakokinetik Klinik Medis Veteriner. Jakarta (ID): Penerbit Ghalia Indonesia.

Pike D. 1997. OSH. Nashville (US): MDL Information System, Inc.

Pradyot P. 2002. Handbook of Inorganic Chemicals. Philadelphia (US): McGraw- Hill.

Sittig M. 1991. Handbook of Toxic and Hazardous Chemical and Carcinogens. Ed ke-3. New Jersey (US): Noyes Publications.

Tjay TH, Rahardja K. 2007. Obat-Obat Penting. Jakarta (ID): PT Gramedia.

BERITA ACARA

  • 1. Pada hari praktikum (Kamis, 18 September 2014), seluruh anggota kelompok hadir.

  • 2. Seluruh praktikan berbagi tugas dalam pengerjaan, ada yang melakukan, persiapan alat, pengambilan obat, dan melihat hasil.