Anda di halaman 1dari 51

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit kanker menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia.
Kanker merupakan masalah kesehatan yang sangat serius karena jumlah
penderitanya sekitar 20% per tahun. Menurut data WHO tahun 2000, 22% dari
seluruh kasus kanker adalah kanker payudara. Jumlah penyakit kanker payudara
di Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai penyebab kematian pada wanita
akibat penyakit kanker setelah kanker servik (YKPJ, 2005).
Data yang diperoleh dari registrasi RSUP Karyadi Semarang kanker
payudara pada tahun 2007 menduduki peringkat pertama dari seluruh penyakit
keganasan dengan angka kejadian 634 kasus kanker payudara, sekitar 9,1%
diantaranya terjadi pada perempuan berusia di bawah 30 tahun, bahkan ada yang
berusia kurang dari 20 tahun. Kanker payudara tidak hanya dialami oleh wanita
yang berusia di atas 30 tahun tetapi dapat juga terjadi pada wanita di bawah usia
30 tahun, hal ini disebabkan oleh perubahan gaya hidup, konsumsi makanan
berkadar lemak tinggi diduga menjadi pemicu (Gondhowiardjo, 2004).
Sebagian besar penderita kanker payudara datang ke pelayanan medis pada
stadium lanjut, sehingga penderitaan yang dialami semakin berat, biaya
pengobatan yang dibutuhkan mahal dan angka kematian tinggi. Menurut statistik
hampir 85% dari seluruh kejadian kanker payudara ditemukan oleh penderita itu
sendiri. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan primer (deteksi dini) dan

dikembangkanlah metode pemeriksaan payudara sendiri disingkat SADARI (Otto,


2005).
Perilaku SADARI sangat potensial untuk identifikasi dan pengobatan
kanker payudara. Sangat penting untuk mempercayakan metode skrining kanker
payudara tidak hanya dengan satu metode tetapi dengan beberapa metode.
Diharapkan dengan adanya pemeriksaan klinik, mamografi setiap tahun
dilengkapi dengan perilaku SADARI tidak hanya meningkatkan kefamiliaran
terhadap payudara tetapi juga berguna untuk mempertahankan kelangsungan
hidup (Benson, 2009).
Rekomendasi terbaru dari American Cancer Society (2013) menganjurkan
wanita yang berusia 20 tahun keatas untuk melakukan pemeriksaan klinik
payudara sekurang-kurangnya tiga bulan sekali dan mendapat informasi tentang
keuntungan dan keterbatasan perilaku SADARI, sehingga wanita yang memilih
melakukan peilaku SADARI dapat melakukan perilaku SADARI dengan tepat
sesuai dengan pedoman teknik perilaku SADARI. Wanita usia 40 tahun mulai
melakukan mamografi secara rutin dan melakukan pemeriksaan klinik setiap
tahun, wanita yang beresiko terkena kanker payudara (riwayat keluarga, tendensi
genetik dan riwayat pernah menderita kanker peyudara) melakukan mamografi
sedini mungkin, mengikuti additional test (brest ultrasound atau MRI), serta
meningkatkan frekuensi pemeriksaan payudara. Deteksi dini kanker belum
populer di Indonesia karena selain ketidaktahuan, ketidakpedulian dan
ketidakmampuan finansial, banyak anggota masyarakat yang takut menghadapi
kenyataan (ACS, 2013).

Beberapa peneliti juga memperlihatkan adanya indikasi hubungan yang kuat


antara pengetahuan dan perilaku. Menurut Notoatmojo (2007), perilaku seseorang
atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap,
kepercayaan, tradisi dan sebaiknya dari orang atau masyarakat yang bersangkutan
(Notoadmodjo, 2007).
Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon yang
berusia lebih dari 20 tahun merupakan sasaran untuk dijadikannya sampel pada
penelitian ini. Tujuannya untuk melihat apakah mahasiswi tersebut menerapkan
pengetahuan tentang kanker payudara dalam melakukan praktik perilaku SADARI
sebagai deteksi dini kanker payudara. Adanya kasus kanker payudara yang terjadi
pada usia dibawah 30 tahun juga memperlihatkan bahwa kanker payudara yang
sebelumnya banyak terjadi pada usia 35-50 tahun mulai menyerang usia yang
lebih muda, hal ini disebabkan karena meningkatnya faktor resiko kanker
payudara itu sendiri yang meliputi faktor eksogen, misalnya pola hidup, pola
makan, serta faktor endogen yaitu genetik, sehingga sangat diperlukan deteksi dini
untuk menemukan kalainan pada payudara melalui perilaku SADARI.
Oleh karena itu alasan peneliti tersebut bertujuan untuk melakukan
penelitian yang berjudul Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Kanker
Payudara dengan Perilaku SADARI pada Mahasiswi Fakultas Hukum
Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah

tingkat

pengetahuan

Mahasiswi

Fakultas

Hukum

Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon tentang kanker payudara?


2. Bagaimanakah hubungan tingkat pengetahuan Mahasiswi Fakultas Hukum
Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon dengan perilaku SADARI?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan Mahasiswi
Fakultas Hukum Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon tentang
kanker payudara dengan perilaku SADARI.
1.3.2 Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan Mahasiswi Fakultas Hukum
Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon tentang kanker payudara.
b. Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan Mahasiswi
Fakultas Hukum Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon dengan
perilaku SADARI.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1

Manfaat teoritis
Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan tentang perilaku
SADARI akan bahayanya tumor payudara.

1.4.2

Manfaat praktisi

1.4.2.1 Mahasiswi
Agar dapat melakukan perilaku SADARI, dengan harapan
dapat mendeteksi dini kanker payudara.
1.4.2.2 Masyarakat
Masyarakat dapat memahami manfaat perilaku SADARI
1.4.2.3 Petugas kesehatan
Petugas kesehatan mengetahui gambaran pengetahuan
mengenai perilaku SADARI sehingga dapat merencanakan
suatu strategi pelayanan kesehatan untuk menindaklanjutinya.
1.4.2.4 Peneliti
Dapat meningkatkan pengetahuan penelitian mengenai
tingkat pengetahuan mahasiswi tentang perilaku SADARI
sebagai deteksi dini kanker payudara. Hal ini dapat
mengarahkan peneliti pada pemikiran terhadap solusi demi
kebaikan bersama.

1.5 ORISINALITAS
Pada penelitian ini yang akan dikaji adalah mengenai apakah terdapat
hubungan tingkat pengetahuan tentang kanker payudara dengan perilaku
SADARI pada mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Swadaya Gunung Jati
Cirebon. Disain penelitian yang akan digunakan sama dengan peneliti
sebelumnya yaitu dengan menggunakan desain cross sectionalatau potong
lintangsedangkan yang membedakan dengan penelitian terdahulu adalah:

a. Berbeda judul dengan penelitian sebelumnya


b. Variabel yang diukur adalah pengetahuan mahasiswi tentang pencegahan
dini kanker payudara dengan perilaku SADARI
c. Waktu dan tempat penelitian berbeda dengan penelitian terdahulu.
No.
1.

Peneliti
Yenny Chandra, Gambaran
Pengetahuan Wanita
Tentang SADARI Sebagai
Deteksi dini Kanker
Payudara di Kelurahan
Petisah Tengah Tahun
2009.

Metode
Penelitian ini
menggunakan Metode
survey,bersifat deskriftif,
dengan cross sectional.

Hasil
Sebagian besar subyek penelitian berumur 2150th. Jumlah penduduk di Kelurahan Petisah
Tengah 11.852 jiwa,penduduk wanita sebanyak
6.139 jiwa(51,8%). Penduduk laki-laki sebanyak
5.713 jiwa. Didapatkan pengetahuan wanita
tentang sadari sebesar 73,4% berpengetahuan
sedang 11,1% berpengetahuan buruk.

2.

Sri Septiani, Mahyar Suara,


Faktor-Faktor Yang
Berhubungan Dengan
Perilaku Pemeriksaan
Payudara Sendiri
(SADARI) Pada siswa
SMAN 62 Jakarta 2012

Metode penelitian dengan


rancangan cross
sectional . analisa
univariat dan bivariat
dengan uji Chi Square

Sampel penelitian sebanyak 100 siswa


perempuan. Dari penelitian ini diperoleh data
sebagai berikut :
84,3% tidak melakukan SADARI, 51% berusia
lebih dari 15 tahun, sebanyak 98%
berpengetahuan baik tentang SADARI, 52%
responden bersikap positif, responden yang
terpapar informasi dari media massa dan
elektronik 19%, sedangkan untuk dukungan
orang tua terhadap responden lebih dari
setengahnya dikategorikan buruk (tidak
mendukung) yakni sebanyak 62% dan
selebihnya sebanyak 38% terkategorikan baik.
Secara statistik tidak terdapat hubungan yang
bermakna antara umur, keterpaparan media,
pengetahuan,
sikap
dengan
perilaku
pemeriksaan payudara sendiri, akan tetapi
dukungan orang tua menunjukan terdapat
hubungan yang bermakna dengan perilaku
pemeriksaan
payudara
sendiri.
Setelah
dilakukan penelitian ini, disarankan kepada
pihak sekolah dan instansi kesehatan agar
mempromosikan gerakan perilaku SADARI
pada siswa.

Tabel 1.Orisinilitas

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kanker Payudara


2.1.1 Anatomi payudara
Payudara merupakan suatu kelenjar yang terdiri atas lemak.
Kelenjar, dan jaringan ikat yang terdapat di bawah kulit dan di atas otot
dada. Pria dan wnaita memiliki payudara yang bersifat sama sampai
pubertas. Pada saat pubertas terjadi perubahan pada payudara wanita,
dimana payudara wanita mengalami perkembangan dan berfungsi untuk
memproduksi susu sebagai nutrisi bagi bayi (Faiz, 2003).
Payudara terletak di dinding anterior dada dan meluas dari sisi
lateral sternum menuju garis midaxilaris di lateral. Secara umum
payudara dibagi atas korpus, areola, dan puting. Korpus adalah bagian
yang membesar di dalamnya terdapat alveolus (penghasil ASI), lobulus,
dan lobus. Areola merupakan bagian yang kecokelatan atau kehitaman di
sekitar puting. Puting (papilla) merupakan bagian yang menonjol di
puncak payudara dan tempat keluarnya ASI (Faiz, 2003).
Tiap payudara terdiri atas 15-30 lobus. Lobus-lobus tersebut
dipisahkan oleh septa fibrosa yang berjalan dari fasia profunda menuju
ke kulit atas dan membentuk struktur payudara. Dari tiap lobus keluar
duktus laktiferus dan menyatu pada puting. Areola, yaitu bagian yang
kecoklatan atau kehitaman di sekitar puting susu. Pada bagian
terminalduktus laktiferus terdapat sinus laktiferus yang kemudian
menyatu terus ke puting susu dimana ASI dikeluarkan (Faiz, 2003).

Gambar 1. Anatomi Payudara (Trialsight Medical Media, 2008)

2.1.2 Definisi
Kanker payudara adalah segolongan penyakit sebagai akibat
pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh pada payudara
yang bila tidak cepat ditangani dan diobati akan menyebabkan kematian
(Valentina, 2008).
2.1.3 Etiologi
Sampai saat ini penyebab pasti kanker payudara belum diketahui
namum data epidemologik mengisyaratkan bahwa faktor genetik,
endokrin dan lingkungan mungkin sangat berperan inisiasi atau promosi
pertumbuhan kanker payudara (Benson, 2009).
a. Genetik
Semua saudara dari penderita kanker payudara memiliki
peningkatan resiko mengalami kanker payudara namun saudara

tingkat pertama (saudara kandung, orang tua, anak) memiliki


peningkatan resiko dua sampai tiga kali lipat dibandingkan dengan
populasi umum. Hampir 5% dari semua pasien kanker payudara
memiliki kelainan genetik spesifik yang berperan dalam pembentukan
kanker payudara mereka. Para peneliti menemukan gen dengan nama
BRC-1 (Breast Cancer 1) dan BRC-2 (Breast Cancer 2). BRC-1 dapat
dideteksi pada 1 dari 400 wanita dan mutasi BRC-2 menyebabkan 5%
dari kanker payudara yang disebabkan karena faktor keturunan
(Benson, 2009).
b. Lingkungan
Radiasi dalam bentuk terapi radiasi yang intensif pada
penderita tuberculosis atau kanker lain diketahui meningkatkan resiko
terkena kanker payudara (radiasi yang disebabkan sinar X pada
payudara atau mamogram tidak dapat diperbandingkan dengan terapi
radiasi tuberculosis atau kanker lain dan tidak menyebabkan kanker
dan tidak perlu dikhawatirkan). Pestisida seperti DDT juga perlu
diperhatikan (Benson, 2009).
c. Endokrin
Banyak faktor yang meningkatkan resiko kanker payudara.
Menstruasi yang mulai pada usia terlalu muda, menopouse yang
datangnya terlambat (usia lebih dari 51 tahun), mempunyai anak
pertama di atas usia 30 tahun atau tidak sama sekali mempunyai
anak akan meningkatkan resiko terkena kanker payudara. Semua

10

faktor tersebut berhubungan dengan hormon estrogen. Kanker


payudara juga berhubungan dengan penggunaan hormon estrogen
yang digunakan sebagai terapi menopause (Benson, 2009).
d. Diet
Sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa diet tinggi
lemak dapat meningkatkan resiko terkena kanker payudara, tetapi
penelitian lain tidak memperlihatkan hasil tersebut. Karena
mengkonsumsi makanan berlemak tinggi dihubungkan dengan
resiko terkena kanker payudara dan penyakit hati maka lebih baik
apabila membatasi konsumsi makanan berlemak (Benson, 2009).
e. Alkohol
Beberapa penelitian memperlihatkan adanya hubungan yang
bermakna antara intake alkohol dengan resiko kanker payudara.
Data additional dari studi prospektif menunjukan dampak intake
alkohol yang berhubungan dengan peningkatan level esterogen
(Benson, 2009).

2.1.4 Patofisiologi kanker payudara


Transformasi sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam
suatu proses yang disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi,
promosi, dan progresi. Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam
bahan genetik sel ini disebabkan oleh suatu gen yang disebut karsinogen,
yang biasa berupa bahan kimia, virus, radiasi, atau sinar matahari.

11

Tetapi, tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu
karsinogen. Karsinogen harus merupakan mutagen yang dapat
menimbulkan mutasi pada gen. Apabila ditemukan suatu kesalahan,
maka basa-basa DNA yang terlibat akan dipotong dan diperbaiki.
Namun, kadang terjadi transkripsi dan tidak terdeteksi oleh enzimenzim. Pada keadaan tersebut, akan timbul satu atau lebih protein
legulator yang akan mengenali kesalahan tersebut dan menghentikan sel
di titik tersebut dari proses pembelahan. Pada titik ini, kesalahan DNA
dapat diperbaiki, atau sel tersebut akan diprogram untuk melakukan
bunuh diri yang secara efektif menghambat pewarisan kesalahan sel-sel
keturunan. Jika sel tersebut kembali lolos, maka kesalahan tersebut
menjadi mutasi permanen dan akan bertahan di semua sel keturunan dan
masuk ke tahap ireversibel (Corwin,2000).
Pada tahap promosi, kelainan genetik dalam sel atau bahan
lainnya yang disebut promoter, menyebabkan sel lebih rentan terhadap
suatu karsinogen. Bahkan gangguan fisik menahun bisa membuat sel
menjadi lebih peka untuk mengalami suatu keganasan. Promoter adalah
zat non mutagen tetapi dapat menaikkan reaksi karsinogen dan tidak
menimbulkan amplifikasi gen dan produksi copy multipel gen (sukardja,
2000). Suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi
maligna. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh
oleh promosi. Oleh karena itu, diperlukan beberapa faktor untuk
terjadinya keganasan (gabungan dari sel yang peka dan suatu

12

karsinogen). Pada tahap progresi, terjadi aktifasi, mutasi, dan hilangnya


gen. pada progresi ini timbul perubahan benigna menjadi pra maligna
dan maligna.

2.1.5 Faktor resiko


Menurut (Sabiston, 2011), faktor resiko terjadinya kanker
payudara adalah:
a . Usia diatas 40 tahun.
b. Ada riwayat kanker payudara pada individu atau keluarga.
c. Menstruasi pada usia muda atau usia dini.
d. Menopouse pada usia lanjut.
e. Tidak mempunyai anak atau mempunyai anak pada usia lanjut.
f. Pendidikan lebih tinggi dan status sosial ekonomi yang lebih tinggi.
g. Penggunaan eksogen esterogen jangka panjang dan progestin.
h. Terpajan pada radiasi pengionisasi berlebihan.
i. Riwayat penyakit fibrokistik.
j. Kanker endometrium, ovarium atau kanker kolon.
2.1.6 Tanda dan gejala
Fase awal kanker payudara asimptomatik (tanpa ada tanda dan
gejala). Tanda dan gejala yang paling umum adalah adanya benjolan atau
penebalan pada payudara, sedangkan tanda dan gejala lanjut kanker
payudara meliputi kulit cekung, retraksi atau deviasi puting susu dan
nyeri, nyeri tekan atau raba khususnya berdarah dari puting. Kulit tebal

13

dengan pori-pori menonjol sama dengan kulit jaruk dan atau ulserasi
pada payudara merupakan tanda lanjut dari penyakit. Jika ada
keterlibatan nodul, mungkin menjadi keras, pembesaran nodul limfa
aksilaris membesar dan nodus supraklavikula teraba pada daerah leher.
Tanda dan gejala dari metastase yang luas meliputi nyeri pada bahu,
pinggang, punggung bagian bawah atau pelvis batu menetap anoreksia
atau berat badan menurun, gangguan pencernaan, pusing, penglihatan
kabur dan sakit kepala (Sabiston, 2011).
2.1.7 Tingkatan klinik kanker payudara
a. Stadium I
Tumor kurang dari 2 cm, terbatas pada payudara, tidak ada
nodul limfa positif dan belum ada penyebaran (Sabiston, 2011).
b. Stadium II
Tumor kurang dari 2 cm dengan adanya nodul limfa positif,
tidak ada penyebaran atau tumor 2-5 cm dengan atau tanpa nodul
limpa positif, tidak ada penyebaran atau tumor lebih besar dari 5 cm
dengan nodul limfa negatif, tidak ada penyebaran yang nyata
(Sabiston, 2011).

c. Stadium III
Tumor lebih besar dari 5 cm dengan nodul limfa positif dan
belum ada penyebaran atau tumor menyebar ke dinding dada atau

14

kulit, terdapat nodul positif pada payudara tanpa ada penyebaran yang
nyata (Sabiston, 2011).
d. Stadium IV
Beberapa metastase jauh ke otak, paru-paru, hati atau tulang
dengan atau tanpa nodul limfa positif (Sabiston, 2011).
2.1.8 Penatalaksanaan kanker payudara
Penatalaksanaan kanker payudara dilakukan dengan serangkaian
pengobatan meliputi pembedahan, kemoterapi, terapi hormon, terapi
radiasi dan yang terbaru adalah terapi imunologi (antibodi). Pengobatan
ini ditujukan untuk memusnahkan kanker atau membatasi perkembangan
penyakit serta menghilangkan gejala-gejalanya. Keberagaman jenis
terapi ini mengharuskan terapi dilakukan secara individual (RS.Kanker
Dharmais, 2003).
a. Pembedahan
Tumor primer biasanya dihilangkan dengan pembedahan. Prosedur
pembedahan yang dilakukan pada pasien kanker payudara tergantung
pada tahapan penyakit, jenis tumor, umur dan kondisi kesehatan pasien
secara umum. Ahli bedah dapat mengangkat tumor (lumpectomy),
mengangkat sebagian payudara yang mengandung sel kanker atau
pengangkatan seluruh payudara (mastectomy). Untuk meningkatkan
harapan hidup, pembedahan biasanya diikuti dengan terapi tambahan
seperti radiasi, hormon atau kemoterapi (RS.Kanker Dharmais, 2003).
b. Terapi Radiasi

15

Terapi radiasi dilakukan dengan sinar-X dengan intensitas tinggi


untuk membunuh sel kanker yang tidak terangkat saat pembedahan
(RS.Kanker Dharmais, 2003).
c. Terapi Hormon
Terapi hormonal dapat menghambat pertumbuhan tumor yang
peka hormon dan dapat dipakai sebagai terapi pendamping setelah
pembedahan atau pada stadium akhir. Kemoterapi, obat kemoterapi
digunakan baik pada tahap awal ataupun tahap lanjut penyakit (tidak
dapat lagi dilakukan pembedahan). Obat kemoterapi bisa digunakan
secara tunggal atau dikombinasikan. Salah satu diantaranya adalah
Capecitabine dari Roche, obat anti kanker oral yang diaktivasi oleh
enzim yang ada pada sel kanker, sehingga hanya menyerang sel kanker
saja (RS.Kanker Dharmais, 2003).
d. Terapi Imunologik
Sekitar 15-25% tumor payudara menunjukkan adanya protein
pemicu pertumbuhan atau HER2 secara berlebihan dan untuk pasien
seperti ini, trastuzumab, antibodi yang secara khusus dirancang untuk
menyerang HER2 dan menghambat pertumbuhan tumor, bisa menjadi
pilihan terapi. Pasien sebaiknya juga menjalani tes HER2 untuk
menentukan kelayakan terapi dengan trastuzumab (RS.Kanker
Dharmais, 2003).
Mengobati Pasien Pada Tahap Akhir Penyakit. Banyak obat
anti kanker yang telah diteliti untuk membantu 50% pasien yang

16

mengalami kanker tahap akhir dengan tujuan memperbaiki harapan


hidup. Meskipun demikian, hanya sedikit yang terbukti mampu
memperpanjang harapan hidup pada pasien, diantaranya adalah
kombinasi trastuzumab dengan capecitabine. Fokus terapi pada kanker
tahap akhir bersifat paliatif (mengurangi rasa sakit). Dokter berupaya
untuk memperpanjang serta memperbaiki kualitas hidup pasien
melalui terapi hormon, terapi radiasi dan kemoterapi. Pada pasien
kanker payudara dengan HER2 positif,

trastuzumab memberikan

harapan untuk pengobatan kanker payudara yang dipicu oleh HER2


(RS.Kanker Dharmais, 2003).

2.2 Perilaku SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)


2.2.1 Definisi perilaku SADARI
Perilaku SADARI adalah pemeriksaan atau perabaan sendiri
untuk menemukan timbulnya benjolan abnormal pada payudara
(Tjindarbumi, 2002).
2.2.2 Tujuan perilaku SADARI
Tujuan dilakukannya skrining kanker payudara adalah untuk
deteksi dini. Wanita yang melakukan perilaku SADARI menunjukan
tumor yang kecil dan masih pada stadium awal, hal ini memberikan
prognosis yang baik. Perilaku SADARI hanya untuk mendeteksi dini
adanya ketidak normalan pada payudara, tidak untuk mencegah kanker
payudara. Sebagian wanita berfikir untuk apa melakukan perilaku

17

SADARI, apalagi yang masih berusia dibawah 30 tahun, kebanyakan


beranggapan bahwa kasus kanker payudara jarang ditemukan pada usia
dibawah 30 tahun. Dengan melakukan perilaku SADARI sejak dini
akan membantu deteksi kanker payudara pada stadium dini sehingga
kesempatan untuk sembuh lebih besar (Otto,S, 2005). Mayo Fundation
for Medical Education and Research (2005) mengemukakan bahwa
beberapa penelitian memang menunjukan perilaku SADARI tidak
menurunkan angka kematian akibat kanker payudara, namun kombinasi
antara perilaku SADARI dan mamografi masih dibutuhkan untuk
menurunkan resiko kematian akibat kanker payudara. Kearney dan
Murray (2006) mengemukakan bahwa keunggulan perilaku SADARI
adalah

dapat menemukan tumor atau benjolan payudara pada saat

stadium awal, penemuan awal benjolan dipakai sebagai rujukan


melakukan mamografi untuk mendeteksi interval kanker, mendeteksi
benjolan yang tidak terlihat saat melakukan mamografi dan
menurunkan kematian akibat kanker payudara.
2.2.3 Target dan waktu pelaksanaan
Perilaku SADARI dianjurkan dilakukan secara intensif pada
wanita mulai usia 20 tahun, segera ketika mulai pertumbuhan payudara
sebagai gejala pubertas. Pada wanita muda, agak sedikit sulit karena
payudara mereka masih berserabut (fibrous), sehingga dianjurkan
sebaiknya mulai melakukan perilaku SADARI pada usia 20 tahun
karena pada umumnya pada usia tersebut jaringan payudara sudah

18

terbentuk sempurna. Wanita sebaiknya melakukan perilaku SADARI


sekali dalam satu bulan. Jika wanita menjadi familiar terhadap
payudaranya dengan melakukan perilaku SADARI secara rutin maka
dia akan lebih mudah mendeteksi keabnormalan pada payudaranya
sejak awal atau mengetahui bahwa penemuanya adalah normal atau
tidak berubah selama bertahun-tahun. Wanita yang belum menopouse
sebaiknya melakukan perilaku SADARI setelah menstruasi sebab
perubahan hormonal meningkatkan kelembutan dan pembengkakan
pada payudara sebelum menstruasi. Perilaku SADARI sebaiknya
dilakukan sekitar satu minggu setelah menstruasi. Satelah menopause
perilaku SADARI sebaiknya dilakukan pada tanggal yang sama setiap
bulan sehingga aktifitas rutin dalam kehidupan wanita tersebut
(Burroughs,1997). 4 Pedoman melakukan perilaku SADARI Berikut ini
langkah-langkah melakukan perilaku SADARI menurut (Smeltzer,
1996).

1.

Melihat Perubahan di Hadapan Cermin


a. Tahap 1

19

Gambar 2.

Pemeriksaan

perilaku SADARI

Tahap I

(Yayasan Kanker

Indonesia, 2012)

Lihat pada cermin, perubahan bentuk dan besarnya payudara,


perubahan puting susu, serta kulit payudara didepan kaca. Sambil berdiri
tegak depan cermin, posisi kedua lengan lurus kebawah di samping badan.
b. Tahap 2

Gambar 3. Pemeriksaan perilakuSADARI Tahap 2


(Yayasan Kanker Indonesia, 2012)

Periksa payudara dengan tangan diangkat ke atas kepala.Untuk


melihat retraksi kulit atau perlekatan tumor terhadap otot.
c. Tahap 3

20

Gambar 4. Pemeriksaan SADARI Tahap 3


(Yayasan Kanker Indonesia, 2012)
Berdiri tegak depan cermin dengan tangan di samping kanan dan
kiri. Miringkan badan ke kanan dan kiri untuk melihat perubahan pada
payudara.
d. Tahap 4

Gambar 5. Pemeriksaan perilakuSADARI Tahap 4


(Yayasan Kanker Indonesia, 2012)

Menegangkan otot-otot bagian dada dengan berkaca pinggang atau


tangan menekan pinggul dimaksudkan untuk menegangkan otot di daerah
axilla.
2.

Melihat Perubahan Bentuk Payudara dengan Berbaring


a. Tahap 1

21

Gambar 6. Pemeriksaan perilakuSADARI Tahap 1


Berbaring
(Yayasan Kanker Indonesia, 2012)
Persiapan, dimulai dari payudara kanan. Berbaring menghadap ke
kiri dengan membengkokan kedua lutut. Letakkan bantal di bawah bahu
untuk menaikan bagian yang akan diperiksa. Kemudian letakan tangan
kanan anda di bawah kepala. Gunakan tangan kiri untuk memeriksa
payudara kanan.Gunakan telapak jari-jari untuk memeriksa sembarang
benjolan atau penebalan. Memeriksa payudara anda dengan cara Vertical
Strip dan Circular.
b. Tahap 2. Pemeriksaan payudara dengan Vertical Strip.

Gambar 7. Pemeriksaanperilaku SADARI Tahap 2


berbaring
(Yayasan Kanker Indonesia, 2012)

Memeriksa seluruh payudara dengan cara vertical, dari tulang


selangka bagian atas ke bra line bagian bawah, dan garis tengah antara
kedua payudara ke garis tengah bagian ketiak. Gunakan tangan kiri untuk

22

mengawali pijatan pada ketiak. Kemudian putar dan tekan kuat untuk
merasakan benjolan.Gerakan tangan dengan perlahan-lahan ke bawah bra
line dengan putaran ringan dan tekan kuat di setiap tempat. Di bagian
bawah bra line, bergerak kurang lebih 2cm ke kiri dan terus kearah atas
menuju tulang selangka dengan memutar dan menekan. Bergeraklah ke
atas dan ke bawah mengikuti pijatan dan meliputi seluruh bagian yang
ditunjuk.
c. Tahap 3. Pemeriksaan payudara dengan cara circular.

Gambar 8. Pemeriksaanperilaku SADARI Tahap 3


berbaring
(Yayasan Kanker Indonesia, 2012)
Berawal dari bagian atas payudara, buat putaran yang besar.
Bergeraklah sekeliling payudara dengan meperhatikan benjolan yang luar
biasa. Buatlah sekurang-kurangnya tiga putaran kecil sampai ke puting
payudara. Lakukan sebanyak 2 kali.Sekali dengan tekanan ringan dan
sekali dengan tekanan kuat. Jangan lupa periksa bagian bawah areola
mammae.
d. Tahap 4. Pemeriksaan cairan di puting payudara.

23

Gambar 9. Pemeriksaan perilakuSADARI Tahap 4


Berbaring
(Yayasan Kanker Indonesia, 2012)

Menggunakan kedua tangan, kemudian tekan payudara untuk


melihat adanya cairan tidak normal dari puting payudara.
e. Tahap 5. Memeriksa ketiak.

Gambar 10. Pemeriksaan perilakuSADARI Tahap 5


Berbaring
(Yayasan Kanker Indonesia, 2012)
Letakan tangan ke samping dan rasakan ketiak anda dengan teliti
apakah teraba benjolan yang tidak normal atau tidak.

24

BAB III
KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Teori

Faktor-faktor yang
mempengaruhi
pengetahuan :
- Lingkungan
-Pendidikan
-Pandangan
Pengetahuan Ca Mamae
-Fisik
Pengetahuan SADARI

Perilaku
SADARI

25

Skema 1. Kerangka Teori

Pelayanan
Kesehatan :
-Promosi
-Pencegahan
-Pengobatan
-Rehabilitasi

3.2 Kerangka Konsep


Pengetahuan Kanker
Payudara

Pengetahuan
Perilaku SADARI

Skema 2. Kerangka Konsep

3.3 Hipotesis Penelitian


a. Ada hubungan tingkat pengetahuan tentang kanker payudara pada
mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Swadaya Gunung Jati dengan
perilaku SADARI.

26

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup penelitian ini mencakup dua bidang keilmuan yaitu Ilmu
Kesehatan Masyarakat, dan Ilmu Onkologi.
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan pada waktu dan tempat yang telah
ditentukan, adalah sebagai berikut:
Tempat : Fakultas Hukum Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.
Waktu : Bulan April 2014

27

4.3 Jenis dan Rancangan Penelitian


Desain dalam penelitian ini dengan studi korelasional ingin mengetahui
hubungan antara tingkat pengetahuan tentang kanker payudara sebagai
variabel bebas dengan perilaku SADARI sebagai variable terikat. Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian Crosssectional, pada pengambilan data dan pada saat itu peneliti menilai atau
menanyakan tentang variabel pengetahuan kemudian variabel perilaku dalam
melakukan pemeriksaan payudara sendiri. Jenis data yang digunakan adalah
dataprimeryang diperoleh secara langsung dari jawaban dalam pengisian
kuisioner oleh responden.
4.4 Populasi dan Sampel
4.4.1 Populasi
Populasi target pada penelitian ini semua mahasiswi Fakultas
Hukum Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.
4.4.2 Sampel penelitian
Sampel adalah bagian dari populasi terjangkau yang memenuhi
kriteria inklusi penelitian. Pengambilan sampel dilakukan secara acak
sederhana (simple random sampling) dari 400 Mahasiswi Fakultas
Hukum Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon yang termasuk dalam
populasi terjangkau (Notoatmojo, 2010).
4.4.2.1 Kriteria inklusi

28

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum dari subjek


penelitian yang layak untuk dilakukan penelitian atau dijadikan
subjek. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah:
a. Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Swadaya Gunung
Jati Cirebon
b. Berumur >20 tahun
c. Bersedia ikut penelitian
4.4.2.2 Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi merupakan subjek penelitian yang tidak
dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai
sampel penelitian.Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah:
a. Tidak hadir saat penelitian
4.4.3 Cara sampling
Pengambilan sampel ini dilakukan dengan cara NonRandom
Sampling yang menggunakan teknik Accidental sampling dimana
pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil responden yang
kebetulan ada dan bersedia pada saat penelitian (Notoatmodjo, 2010).
4.4.4 Besar sampel
Dalam mengambil sampel penelitian ini digunakan cara atau
teknik-teknik tertentu, sehingga sampel tersebut sedapat mungkin
mewakili populasinya (Notoatmodjo, 2005). Untuk menentukan sampel
pada penelitian ini maka digunakan teori yang dikemukakan oleh
Notoatmodjo (2002) denganrumus sebagai berikut :

29

n =

N
1+ N (d)

n1 :besar sampel
N : besar populasi
d : derajat penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan 10% (0,10)
Dengan menggunakan rumus di atas dapat diambil jumlah sampel
sebagai berikut :
n =

n =

400
1+ 400(0,1)

400
1+ 400(0,01)

n =

400 400
=
1+ 4
5

n = 80
Sehingga besar sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 80
sampel.
4.5 Variabel Penelitian
Variabel Bebas penelitian ini adalah pengetahuan tentang kanker
payudara mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Swadaya Gunung Jati
Cirebon.

30

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah perilaku SADARI


mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.
4.6 Definisi Operasional
Menurut Notoatmodjo (2010), definisi operasional merupakan definisi
yang membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel yang diamati
atau diteliti

Tabel 4.1 Definisi Operasional


Variabel

Definisi Operasional

Variabel bebas :

Segala sesuatu yang

Pengetahuan

diketahui mengenai

kanker

penyakit kanker

payudara

payudara meliputi

Skala

Teknik

Pengukur

Pengambilan

an
Ordinal

sampel
Random

Indikator Rancangan

a.

baik jika mendapat

b.

skor 11-15
sedang jika mendapat

c.

skor 6-10
kurang jika mendapat

menggunakan
Kuesioner

definisi, penyebab,

skor 1-5

gejala dan tanda,


diagnosis, faktor
risiko, komplikasi, dan
Variabel bebas :

pengobatan
Segala sesuatu yang

Ordinal

Random

a.

baik jika mendapat

31

Pengetahuan
SADARI

diketahui mengenai

menggunakan

Pengetahuan SADARI

b.

skor 11-15
sedang jika mendapat

c.

skor 5-10
kurang jika mendapat

Kuesioner

meliputi definisi/
pengertian serta

skor 1-5

pengetahuan cara
Variabel

pemeriksaan.
Pemeriksaan atau

terikat :

perabaan sendiri untuk

Perilaku

menemukan benjolan

SADARI

pada payudara

Ordinal

Random

a.

baik jika mendapat

b.

skor 6-9
sedang jika mendapat

c.

skor 3-5
kurang jika mendapat

menggunakan
Kuesioner

skor 1-3

4.7 Cara Pengumpulan Data


4.7.1 Bahan dan Alat Kerja
Cara pengukuran variabel menggunakan skala nominal.Hasil
dinilai berdasarkan kuesioner tentang tingkat pengetahuan responden
tentang kanker payudara dengan perilaku SADARI.Alat yang digunakan
dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah kuisioner (daftar
pertanyaan). Kusioner yang digunakan untuk mengetahui tingkat
pengetahuan mahasiswi adalah kuisioner tertutup dengan jawaban benar
dan salah. Adapun alat-alat kerja yang digunakan seperti pulpen dan
komputer sebagai alat bantu dalam mengumpul data serta mengolah data
hasil penelitian.
4.7.2 Alat Penelitian

32

Alat yang dipergunakan dalam pengumpulan data penelitian ini


adalah kuisioner.
4.7.3 Prosedur penelitian
Cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan
membagikan kuisioner pada 80 mahasiswi fakultas hukum Universitas
Swadaya Gunung Jati Cirebon yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi, lalu menjelaskan cara pengisian kuisioner. Responden diminta
untuk mengisi kuisioner sampai selesai setelah selesai kuisioner diambil
saat itu juga oleh peneliti. Data yang diperoleh terdiri sebagai berikut :
1. Data Primer
Data primer diperoleh secara langsung dari sumbernya serta
diperoleh dari jawaban atas pertanyaan yang disediakan dalam
pengisian kuisioner oleh responden tentang pengetahuan SADARI.

33

4.8 Alur Penelitian


Identifikasi + Perumusan
Masalah
Perumusan Hipotesis

Identifikasi Variabel Penelitian

Penetapan Subjek dan Rancangan penelitian (Instrumentasi)

Pengambilan Data

Hasil (Kesimpulan)
Skema 4.Alur penelitian
4.9 Analisis Data

34

Data yang telah terkumpul diolah dengan cara manual dengan langkahlangkah sebagai berikut (Notoatmodjo, 2010).
1. Editing
Melihat kembali apakah lembar kuisioner atau formulir sudah terisi
dengan benar yang dapat segera diproses lebih lanjut. Editing langsung
dilakukan di tempat pengumpulan data di lapangan, sehingga jika terjadi
kesalahan maka upaya pembetulan dapat segera dilakukan.

2. Coding
Setiap lembar kuisioner yang memenuhi kriteria sampel dan telah
terisi semua dilakukan pengkodean data.
3. Entry data (pemasukan data)
Memasukkan data kedalam kartu tabulasi.
4. Cleaning Data (pembersihan data)
Data yang sudah dimasukkan dilakukan pengecekan. Pembersihan
dilakukan jika ditemukan kesalahan pada entry data sehingga dapat
diperbaiki dan dilakukan scoring terhadap pertanyaan yang berhubungan
dengan masing-masing variabel.
Data yang disajikan dengan mendistribusikan melalui analisis
bivariat, yaitu untuk melihat hubungan variabel independen (pengetahuan

35

kanker payudara) dan variabel dependen (perilaku SADARI) dengan


menggunakan computer.
Analisis ini dilakukan dengan menggunakan uji korelasi. Syarat
uji korelasi antara lain jumlah sampel harus lebih dari 30, pengamatan
harus bersifat independent, dan hanya dapat digunakan pada data deskrit
atau data kontinue yang telah dikelompokkan menjadi kategori
(Notoatmodjo, 2010).

4.10 Etika Penelitian


Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu peneliti perlu
mendapatkan rekomendasi dari institusi dengan mengajukan permohonan
ijin kepada institusi atau lembaga tempat penelitian. Setelah mendapatkan
persetujuan barulah melakukan penelitian dengan menekankan masalah
etika penelitian yang meliputi:
1

Informed concernt
Peneliti memberikan penjelasan tentang tujuan serta maksud
penelitian sebelum menyerahkan kuesioner penelitian, kemudian peneliti
memberikan surat permohonan menjadi responden sebagai permintaan
pasien untuk menjadi responden.

Confidentiality (kerahasiaan)

36

Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti, hanya data


tertentu sebagai hasil penelitian.
4.11 JadwalPenelitian
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kegiatan
Penyusunan proposal
Ujian proposal
Penyusunan instrument
Persiapan ke lapangan
Pengumpulan data
Analisa data
Penyusunan skripsi
Ujian skripsi

Bulan
Agustus Oktober
November
April
April
Mei
Mei-Juni
Mei-Juni
Juni

Tabel 2. Jadwal penelitian

37

BAB V
HASIL PENELITIAN

Dari hasil penelitian yang dilakukan di fakultas hukum Universitas


Swadaya Gunung Jati Cirebon tentang Hubungan Antara Pengetahuan Tentang
Pencegahan Dini Kanker Payudara Dengan Perilaku SADARI Pada Mahasiswi
Fakultas

Hukum

Universitas

Swadaya

Gunung

Jati

Cirebon

dengan

menggunakan uji korelasi didapatkan hasil pada diagram di bawah ini:

Tingkat Perilaku
Kurang
Sedang
Baik

Responden Pengetahuan Kanker


1
36
43

Persentase Responden
Pengetahuan Kanker
1%
45%
54%

Tabel 3. Pengetahuan Tentang Kanker Payudara


Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa sekitar 1% termasuk dalam
kategori yang kurang mengetahui tentang pengetahuan kanker payudara, 45%
termasuk dalam kategori sedang mengetahui tentang pengetahuan kanker
payudara, dan sekitar 54% termasuk dalam kategori baik mengetahui tentang
pengetahuan kanker paydara.
Tingkat Pengetahuan
Kurang

Responden Pengetahuan
SADARI
0

Persentase Responden
Pengetahuan SADARI
0%

38

Sedang
Baik

42
38

53%
47%

Tabel 4. Pengetahuan SADARI

Dari hasil analisis tentang pengetahuan SADARI dapat disimpulkan 0%


termasuk kategori kurang mengetahui tentang SADARI, sekitar 53% termasuk
kategori sedang dala mengetahui pengetahuan tentang SADARI, dan sekitar 47%
termasuk kedalam kategori yang baik dalam mengetahui pengetahuan tentang
SADARI.

Tingkat Perilaku

Responden Perilaku SADARI

Kurang
Sedang
Baik

9
39
32

Persentase Responden Perilaku


SADARI
11%
49%
40%

Tabel 5.Perilaku SADARI


Dari hasil analisis tentang perilaku SADARI dapat disimpulkan sekitar
11% termasuk ke dalam kategori kurang, sekitar 49% termasuk dalam kategori
sedang pada perilaku SADARI, dan 40% termasuk dalam kategori baik dalam
kasus perilaku SADARI.

Tingkatan
Kurang
Sedang
Baik

Pengetahuan Kanker
1 (1%)
36 (45%)
43 (54%)

Perilaku SADARI
9 (11%)
39 (45%)
32 (40%)

*Uji Korelasi
Tabel 6. Pengetahuan Kanker dan Perilaku SADARI

p
0,000*
0,000*
0,000*

39

Tingkatan

Pengetahuan
SADARI
0 (0%)
42 (53%)
38 (47%)

Kurang
Sedang
Baik

Perilaku SADARI

9 (11%)
39 (45%)
32 (40%)

0,000*
0,000*
0,000*

*Uji Korelasi
Tabel 7. Pengetahuan Kanker dan Perilaku SADARI

Interval Kekuatan
0
0,01 0,25
0,26 -0,50
0,51 0,75
0,76 0,99
1

:
:
:
:
:
:

Tidak ada korelasi


Korelasi sangat lemah
Korelasi cukup
Korelasi kuat
Korelasi sangat kuat
Korelasi sempurna

40

BAB VI
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan informasi tentang pengetahuan


kanker payudara bahwa sekitar 1% atau sebanyak 1 responden termasuk kedalam
kategori yang kurang mengetahui pengetahuan tentang kanker payudara. Sekitar
45% atau sebanyak 36 respondon termasuk kedalam kategori yang sedang dalam
mengetahui pengetahuan tentang kanker payudara, dan sekitar 54% atau sebanyak
43 responden termasuk kedalam kategori baik dalam mengetahui pengetahuan
tentang kanker payudara.
Dari hasil analisis tentang presentase pengetahuan SADARI didapatkan
hasil sekitar 0% atau sebanyak 0 responden termasuk kedalam kategori yang
kurang mengetahui pengetahuan tentang SADARI. Sekitar 53% atau sebanyak 42
responden termasuk kedalam kategori yang sedang dalam mengetahui
pengetahuan tentang SADARI, serta sekitar 47% atau sebanyak 38 responden
termasuk kedalam kategori yang baik dalam mengetahui pengetahuan tentang
SADARI.
Dari hasil analisis tentang presentase perilaku SADARI didapatkan hasil
sekitar 11% atau sebanyak 9 responden termasuk kedalam kategori yang kurang

41

pada kasus perilaku SADARI. Sekitar 49% atau sebanyak 39 responden termasuk
kedalam kategori yang sedang pada kasus perilaku SADARI, serta sekitar 40%
atau sebanyak 32 responden termasuk dalam kategori yang baik pada kasus
perilaku SADARI.
Berdasarkan hasil penelitian hasil korelasi pengetahuan tentang kanker
payudara dengan perilaku SADARI didapatkan bahwa :
a. Kesimpulan : H0 ditolak karena P.value (0,000) < alpha (0,05).
Maka dapat diartikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara pengetahuan kangker payudara dengan perilaku SADARI.
Berdasarkan hasil penelitian uji korelasi pengetahuan SADARI dengan perilaku
SADARI didapatkan bahwa :
a. Kesimpulan : H0 ditolak karena P.value (0,000) < alpha (0,05).
Maka dapat diartikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan
antara pengetahuan SADARI dengan perilaku SADARI.
Interval Kekuatan
0
0,01 0,25
0,26 -0,50
0,51 0,75
0,76 0,99
1

:
:
:
:
:
:

Tidak ada korelasi


Korelasi sangat lemah
Korelasi cukup
Korelasi kuat
Korelasi sangat kuat
Korelasi sempurna

Berdasarkan interval kekuatan pada table diatas didapatkan bahwa :


1. Interval kekuatan antara Pengetahuan tentang Kangker Payudara
dengan Perilaku SADARI sebesar 0,592. Maka dapat diartikan
bahwa kekuatan hubungan antara variabel Pengetahuan Kangker
Payudara dengan variabel Perilaku SADARI merupakan korelasi
(hubungan) yang kuat.
2. Interval kekuatan antara Pengetahuan Tentang SADARI dengan
Perilaku SADARI sebesar 0,625. Maka dapat diartikan bahwa

42

kekuatan hubungan antara variabel Pengetahuan SADARI dengan


variabel Perilaku SADARI merupakan korelasi (hubungan) yang
kuat.

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

43

7.1 Kesimpulan
a. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan terbanyak dari
pengetahuan tentang kanker payudara baik.
b. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan terbanyak mengenai
pengetahuan SADARI sedang.
c. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan terbanyak mengenai
perilaku SADARI sedang.
d. Ada hubungan antara pengetahuan kanker payudara dengan perilaku
SADARI.
e. Ada hubungan antara pengetahuan SADARI dengan perilaku SADARI
7.2 Saran
a. Diharapkan petugas kesehatan untuk meberikan penyuluhan kesehatan
tentang pentingnya SADARI terkait kanker payudara.
b. Agar mahasiswi dapat menerapkan perilaku SADARI sebagai deteksi
dini kanker payudara.
c. Meningkatkan pengetahuan tentang kanker payudara , pengetahuan
mengenai SADARI dan perilaku SADARI.
d. Melakukan penelitian ini dengan menggunakan metode lain.
DAFTAR PUSTAKA
American Cancer Society. 2009. Breast Cancer Facts and Figures. 2007-2008.
http://www.Cancer.org/pdf_diakses pada tanggal 13 April 2011.
Arikunto, S. 2007. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta:
Jakarta.

44

Benson, Ralph C. 2009. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi Edisi 9. EGC:
Jakarta.
Brashers, Valentina L. 2008.Aplikasi Klinis Patofisiologi: Pemeriksaan dan
Manajemen. EGC: Jakarta.
Chandra, Yenny. 2009. Gambaran Pengetahuan Wanita Tentang SADARI
Sebagai Deteksi Dini Kanker Payudara Di Kelurahan Petisah Tengah
tahun 2009. Skripsi.Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara.
Corwin, EJ. 2000. Buku Saku Patofisiologi. EGC: Jakarta.
Faiz, O dan Moffat D. 2003.At a Glance Anatomi. Erlangga Medical
Series: Jakarta.
Gondhowiardjo S, Sekarutami SM, Poetiray EDC, et al. 2004. Breast Cancer
Treatment Management The Role of Surgery and Irradiation In: The
Multidiciplinary Cancer Management of Solid Tumors. Faculty of
Medicine University of Indonesia: Jakarta.
H. Muchlis, ed. Deteksi Dini Kanker. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia:
Jakarta.
Notoadmodjo, Soekidjo .2007. Kesehatan Masyarakat dan Seni.Rieneka Cipta:
Jakarta.
Notoadmodjo, Soekidjo. 2003. Konsep Perilaku Kesehatan. Dalam: Pendidikan
dan Perilaku Ksehatan. Rieneka Cipta: Jakarta.

45

Notoadmodjo, Soekidjo. 2005. Teknik Pengambilan Sampel. Dalam: Metodologi


Penelitian Kesehatan. Rieneka Cipta: Jakarta.
Otto, S. 2005. Buku Saku Keperawatan Onkologi. EGC: Jakarta.
Price, Sylvia Anderson. 2005. Gangguan Sistem Reproduksi Perempuan. Dalam :
Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses penyakit. EGC: Jakarta.
Purwoastuti, E. 2008.Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Payudara. Kanisius:
Jakarta.
Sabiston, David C. 2011.Buku Ajar Bedah.Jakarta: EGC.
Septiani, S. Suara, M. 2012. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku
Pemeriksaan Payudara sendiri (SADARI) Pada Siswa SMAN 62
Jakarta.Skripsi.STIKes MH.Thamrin Jakarta.
Sukardja. 2000. Onkologi Klinik. University Press: Surabaya.
Tjindarbumi D.,& Mangunkusomo R. 2002. Cancer Indonesia.Present and
Future.Japanese Journal of Clinical Oncology.Vol 32.
Tim Penanggulangan dan Pelayanan Kanker Payudara Terpadu Paripurna Rumah
Sakit Kanker Dharmais. 2003. Penatalaksanaan Kanker Payudara
Terkini. Pustaka Obor: Jakarta
Trialsight Medical Media . 2008. Anatomy of the Breast.
http//www.trialsightmedia.com/

46

Yayasan Kanker Indonesia. 2012. Deteksi Dini Kanker Payudara; Petunjuk


Untuk Memeriksa Payudara Sendiri (SADARI)_diakses: 3 Desember 2013.

LAMPIRAN
LEMBAR KUESIONER
Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Kanker Payudara Dengan Perilaku
SADARI Pada Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Swadaya Gunung
Jati Cirebon
No. Responden

47

Identitas Responden
NamaResponden
Tahun Masuk
Lahir

:
:
: tanggal:.............bulan:...................

tahun:................

I. Pengetahuan tentang pencegahan kanker payudara


Berilah tanda silang (X) pada pilihan jawaban yang tersedia semua
pertanyaan mohon di jawab tanpa dilewati.

1.Pengetahuan Kanker Payudara


No.

Item Pertanyaan

Jawaban
Benar

1.
2.
3.
4.
5.

6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

Kanker payudara adalah segolongan penyakit sebagai akibat


pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh pada payudara yang
bila tidak cepat ditangani dan diobati akan menyebabkan kematian
Kanker payudara dapat mengenai umur kurang dari 30 tahun
Kanker payudara merupakan penyakit yang bersifat genetic
Tanda dan gejala yang paling umum kanker payudara adalah adanya
benjolan atau penebalan pada payudara
Penggunaan terapi hormon yang berlebihan dapat meningkatkan
terjadinya kanker payudara

Faktor keturunan biasa menjadi penyebab kanker payudara


Diet tinggi lemak dapat meningkatkan terjadinya kanker payudara
Nyeri pada payudara tidak perlu dicurigai sebagai gejala kanker payudara
Pada stadium IV, tumor dapat menyebar ke otak, paru-paru, hati atau
tulang
Kulit payudara yang menebal seperti kulit jeruk merupakan tanda lanjut
dari kanker payudara
Menstruasi yang mulai pada usia terlalu muda bukan merupakan factor
risiko terjadinya kanker payudara
Keterlambatan menopause meningkatkan risiko terjadinya kanker
payudara
Pada pengobatan terapi hormon dapat menghambat pertumbuhan kanker
payudara
Mempunyai anak pada usia lanjut adalah salah satu factor resiko
terjadinya kanker payudara
Terapi radiasi dapat membunuh sel-sel kanker yang tidak terangkat saat
pembedahan

Salah

48

2. Pengetahuan SADARI
No .

Pertanyaan

1.
2.

Jawaban
Benar

SADARI adalah singkatan dari Periksa Payudara Sendiri


Perilaku SADARI hanya untuk mendeteksi dini adanya ketidak
normalan pada payudara.
Perilaku SADARI dianjurkan dilakukan secara intensif pada
wanita mulai umur 20 tahun.
Pemeriksaan SADARI yang baik adalah setiap 3 bulan sekali.
Pemeriksaan payudara sendiri memerlukan biaya, waktu yang
banyak dan dilakukan oleh petugas kesehatan.
Waktu yang diperlukan untuk SADARI sangat lama
Pemeriksaan payudara sendiri dapat dilakukan dengan melakukan
perabaan dan pengamatan

3.
4.
5.
6.
7.

8.

Bila ada penyakit payudara maka puting akan mengeluarkan


cairan yang tidak normal.
Pada saat pemeriksaan SADARI tidak diperlukan pemeriksaan
pada daerah ketiak.
Langkah pertama SADARI yaitu dengna berdiri di depan cermin
untuk melihat bentuk payudara (simetris atau tidak)
Perilaku SADARI sebaiknya dilakukan sekitar 1 minggu setelah
menstruasi.
Pemeriksaan payudara sendiri tidak dapat dilakukan secara
berbaring.
Pada tindakan SADARI untuk meraba payudara diperlukan alat
khusus.
Langkah memijit putting susu pada SADARI berguna untuk
mengetahui adanya cairan yang keluar atau tidak.
SADARI seharusnya dibiasakan sejak remaja.

9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

1. Perilaku SADARI
Jawaban
No.
1.
2.
3.

4.

Item Pertanyaan
Perilaku SADARI dengan melihat perubahan
payudara di depan cermin
Perilaku SADARI dengan tangan berada di
belakang kepala
Perilaku SADARI dengan berdiri tegak di depan
cermin dan tangan di samping kanan dan kiri,
memiringkan badan ke kanan dan ke kiri
Perilaku SADARI dengan embusungkan dada

Benar

Salah

Salah

49

5.
6.

7.

8.
9.

dan berkaca di depan cermin dengan tangan


dipinggang
Perilaku SADARI dilakukan dengan berbaring
Perilaku SADARI dilakukan dengan vertical strip
atau perabaan dari bagian atas payudara menuju
ke bagian bawah payudara
Perilaku
SADARI
dilakukan
dengan
menggerakkan jari tangan berawal dari atas
payudara membuat putaran sampai ke puting
Perilaku SADARI dengan menekan payudara
menggunakan kedua tangan
Perilaku SADARI dengan berbaring dan meraba
bagian ketiak kanan dan kiri

LAMPIRAN 2

50

Foto 1. Responden Mengisi Kuesioner

Foto 2. Responden Memgisi Kuesioner

51

Foto 3. Responden Mengisi Kuesioner

Foto 4. Responden Mengisi Kuesioner