Anda di halaman 1dari 31

EVALUASI KINERJA PENGATURAN KELEMBABAN UDARA

PADA SISTEM AIR CONDITIONING SUATU STUDI KASUS DI


PT ROHTO LABORATORIES INDONESIA

Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat


menyelesaikan pendidikan
DIPLOMA III PROGRAM STUDI TEKNIK KONVERSI ENERGI
di DEPARTEMEN TEKNIK KONVERSI ENERGI

Oleh :
Hana Hanifah
121711046

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Seiring dengan berkembang pesatnya teknologi perindustrian di Indonesia, baik
dalam bidang industri makanan, obat-obatan, tekstil maupun dalam industri pengolahan
sumber daya alam, maka semakin banyak pula sistem-sistem yang dibutuhkan untuk
menunjang industri tersebut. Sistem yang dimaksud tidak hanya berupa mesin atau
teknologi yang langsung menunjang proses produksi, tapi juga sistem yang cukup
berpengaruh terhadap kenyamanan termal bagi penghuni yang bekerja di dalam ruangan
tersebut serta berpengaruh bagi kualitas produk yang akan dihasilkan. Sistem ini lebih
kita kenal dengan sistem tata udara.
Sistem tata udara juga banyak dimanfaatkan dalam berbagai segi kehidupan.
Apalagi data ini begitu banyak konstruksi bangunan seperti gedung perkantoran,
perhotelan, restoran, dan bahkan gedung farmasi pun sangat membutuhkan
pengkondisian udara yang baik. Hal ini karena pengkondisian tersebut dapat berfungsi
untuk mengatur temperatur, kelembaban, kebersihan dan pendistribusian udara secara
merata sesuai dengan yang dibutuhkan. Terutama pada cleanroom yang banyak
digunakan pada industri farmasi untuk menjamin kualitas hasil produk yang sesuai
dengan kebutuhan dan tentu saja tidak membahayakan konsumen.
PT Rohto Laboratories Indonesia merupakan salah satu industri farmasi di
Indonesia. PT Rohto Laboratories Indonesia yang berada di kabupaten Bandung Barat
merupakan bagian produksi, dimana memproduksi Intra Ocular Lens (IOL) dan
Cosmetic and Health Care (CHC). Produk-produk yang diproduksi oleh PT Rohto
Laboratories Indonesia sudah seharusnya bersih dan terbebas dari kontaminasi
partikulat-partikulat yang membahayakan. Salah satu penunjang yang sangat
Chiller Water Return (CHWR)

berpengaruh pada produksi adalah sistem tata udara di dalam gedung.


Tidak hanya kualitas produk yang terpengaruh oleh tata udara dalam gedung,
Supply
AHU
1
Filter
namun
kenyamanan para pekerja
di Air
dalam
gedung
Out
Airjuga harus diperhatikan
C / bagaimana
c
Supply Air AHU 2
Chiller Water Supply (CHWS)

supaya memberikan dan meningkatkan produktifitas pekerja yang berada di dalam


gedung.
Ada beberapa persyaratan kondisi udara yang harus dipenuhi oleh industri
farmasi sebagai tolak ukur pembuatan obat yang baik. Diantaranya salah satu yang
paling penting adalah temperatur dan kelembaban di dalam ruangan. Pengaturan
temperatur dan kelembaban dilakukan sampai tercapai standar yang harus dipenuhi oleh
sebuah industri farmasi.
Kondisi temperatur dan kelembaban udara di lingkungan sebagai sumber udara
yang disirkulasikan di dalam gedung tidak tetap atau berubah-ubah. Perlu dilakukan
setting point kelembaban yang berubah-ubah pula supaya didapatkan nilai kelembaban
yang tetap/konstan sesuai dengan kebutuhan ruangan dan sesuai dengan standar.
Terdapat beberapa kondisi pada sistem pengkondisian udara di PT. Rohto
Laboratories Indonesia. Salah satunya adalah temperatur dan kelembaban udara yang
belum sesuai dengan standar suatu industri farmasi. Kebutuhan temperatur dan
kelembaban pada setiap klasifikasi ruangan di industri farmasi berbeda-beda, maka
perlu dievaluasi kinerja pengkondisian udara dan dilakukan pengaturan kelembaban
supaya didapatkan kondisi udara yang sesuai dengan standar industry farmasi.

1.2.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana kinerja sistem pengkondisian udara
2. Bagaimana pengaturan kelembaban pada pemgkondisian udara
1.3.
Tujuan
1. Melakukan evaluasi kerja sistem air conditioning
2. Melakukan simulasi pengaturan kelembaban pada sistem air conditioning
menggunakan psychrometric chart

1.4.
Batasan Masalah
1. Simulasi pengaturan kelembaban sampai tingkat variasi RH berkisar antara 60%45% sesuai dengan standar klasifikasi kelas industri farmasi.
2. Rekomendasi peralatan yang digunakan untuk mencapai kondisi yang diinginkan

1.5.

Metodologi
Dalam penyusunan tugas akhir ini akan dilakukan beberapa kegiatan diantaranya :

1. Studi Literatur
Studi Literatur dilakukan untuk mendapatkan referensi mengenai hal-hal yang
berhubungan dengan pengaturan kelembaban pada sistem tata udara..
2. Diskusi
Melakukan tanya jawab dan diskusi dengan pembimbing dan staf pengajar yang
berkaitan dengan penyusunan Tugas Akhir.
3. Pengambilan dan Analisis Data
Melakukan pengambilan data di industri farmasi sebagai bahan penelitian yang
selanjutnya dianalisis
4. Merancang Sistem Pengkondisian Udara
Melakukan evaluasi pada sistem pengkondisian udara supaya didapatkan hasil
yang sesuai dengan yang diinginkan atau sesuai standar industri farmasi.
1.6.

Sistematika Penulisan Laporan


Sistematika pembahasan yang dibuat

adalah dengan melakukan pembahasan

setiap bab, hal ini dimaksudkan agar pembahasan mengenai Evaluasi Kinerja
Pengaturan Kelembaban Udara Pada Sistem Air Conditioning Suatu Studi Kasus Di
Pt Rohto Laboratories Indonesia lebih jelas dan mudah dimengerti dimulai dari
pengambilan data hingga penyelesaian masalah.
BAB I

PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, tujuan tugas akhir, ruang lingkup dan
pembatasan masalah, metoda pembahasan serta sistematika penulisan laporan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini berisi landasan teori berkaitan dengan judul yang diambil oleh penulis.
Berdasarkan dari teori-teori inilah penulis akan melakukan evaluasi kinerja pengaturan
kelembaban.
BAB III METODA DAN PROSES PENYELESAIAN
Bab ini berisi tentang metoda penyelesaian masalah
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi mengenai

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


DAFTAR PUSTAKA

BAB II
LANDASAN TEORI
1

Klasifikasi Kelas Industri Farmasi


Industri farmasi memiliki standar untuk klasifikasi ruangan dalam pembuatan
produk, salah satu standar yang harus terpenuhi terdapat pada CPOB 2006 (Cara
Pembuatan Obat yang Baik). Standar yang harus dipenuhi seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Standar CPOB 2006
Grade/Clas Temperatu
s

r (C)

Humidity (%)

A
B
C

16-25
16-25
16-25 or
20-27

20/27

20/28

45-55
45-55
45-55 or 40-60
40-60 or max 70
or 40
-

Psycrometric Chart

Dry-bulb Temperature (DB)


DB adalah suhu udara ruang yang diperoleh melalui pengukuran dengan
Slink Psikrometer pada theremometer dengan bulb kering. Suhu DB diplotkan
sebagai garis vertikal yang berawal dari garis sumbu mendatar yang terletak di
bagian bawah chart. Suhu DB ini merupakan ukuran panas sensibel. Perubahan
suhu DB menunjukkan adanya perubahan panas sensibel.

Wet-bulb Temperature (WB)


WB adalah suhu udara ruang yang diperoleh melalui pengukuran dengan
Slink Psikrometer pada theremometer dengan bulb basah. Suhu WB diplotkan
sebagai garis miring ke bawah yang berawal dari garis saturasi yang terletak di
bagian samping kanan chart. Suhu WB ini merupakan ukuran panas total (enthalpi).
Perubahan suhu WB menunjukkan adanya perubahan panas total.

Dew-point temperature (DP)


Suhu DP adalah suhu di mana udara mulai menunjukkan aksi pengembunan
ketika didinginkan. Suhu DP ditandai sebagai titik sepanjang garis saturasi. Pada
saat udara ruang mengalami saturasi (jenuh) maka besarnya suhu DB sama dengan
suhu WB demikian pula suhu DP. Suhu DP merupakan ukuran dari panas laten
yang diberikan oleh sistem. Adanya perubahan suhu DP menunjukkan adanya
perubahan panas laten atau adanya perubahan kandungan uap air di udara.

Specific Humidity (W)


Specific humidity adalah jumlah kandungan uap air di udara yang diukur
dalam satuan grains per pound udara. ( 7000 grains = 1 pound) dan diplotkan pada
garis sumbu vertikal yang ada di bagian samping kanan chart.

Relative Humidity (% RH)


% RH merupakan perbandingan jumlah actual dan jumlah maksimal
(saturasi) dari uap air yang ada pada suatu ruang atau lokasi tertentu. 100% RH
berarti saturasi dan diplortkan menurut garis saturasi. Untuk ukuran yang lebih
kecil diplotkan sesuai arah garis saturasi.

Enthalpi (H)
Enthalpi adalah jumlah panas total dari campuran udara dan uap air di atas
titik nol. Dinyatakan dalam satuan Btu/lb udara. Harga enthapi dapat diperoleh
sepanjang skala di atas garis saturasi

Specific volume (SpV)


Specific volume atau volume spesifik adalah kebalikan dari berat jenis,
dinyatakan dalam ft3/lb. Garis skalanya sama dengan garis skala bola basah (wet
bulb)

Perubahan Kondisi Udara Ruang

Sistem Tata Udara dapat terdiri dari beberapa proses pengkondisian udara,
yaitu proses pemanasan (heating), proses pendinginan (cooling), proses penambahan
uap

air

(humidifying),

dan

proses

pengurangan

uap air

(dehumidifying).

Pengkondisian udara akan merubah kondisi udara, dari kondisi awal menjadi kondisi
akhir.

Dalam prakteknya, ada enam proses yang lazim dilaksanakan dalam sistem tata
udara, yaitu:
1
2
3
4
5
6

Proses dengan Panas Sensibel Konstan


Proses dengan Panas Laten Konstan
Proses dengan Panas Total (entalpi) Konstan atau proses Adiabatik
Proses dengan Kelembaban relatif constan
Proses tata udara lengkap, kombinasi
Proses Pencampuran udara dalam kondisi berbeda

Perlu dicatat, bahwa:


1
2
3
1

Garis DB merupakan garis panas sensible konstan


Garis DP merupakan garis panas laten konstan
Garis WB merupakan garis entalpi (panas total) konstan
Pemanasan Udara tanpa Penambahan Uap Air
Pemanasan udara ruang tanpa menambah kandungan uap air, berarti proses
pengkondisian udara ruang dengan panas laten konstan atau proses atau proses

dengan kandungan uap air konstan. Dalam hal ini hanya panas sensibel yang
ditambahkan ke udara ruang. Proses ini dapat berupa penggunaan pemanas ruang
dengan air atau uap panas yang disalurkan melalui koil pemanas, baik dengan
blower ataupun tanpa blower. Proses ini lazim disebut sebagai proses pemanasansensibel yang direpresentasikan dengan garis horisontal pada psikrometrik chart,
karena kelembaban spesifik udara ruang tidak berubah.

Pemanasan dengan Penambahan Uap Air


Pada musim dingin didaerah empat musim, disamping suhu udara rendah
kelembaban absolut atau kandungan uap air di udara juga rendah. Sehingga
membutuhkan sistem pengkondisian udara, untuk menaikkan suhu dan kelembaban
udara pada tingkat yang nyaman. Peralatan Pemanas (heater) yang bagus dilengkapi
dengan piranti penambah kelembaban udara (humidifier). Pada peralatan itu
memungkinkan

menambah

uap

air

secukupnya

ke

udara

mempertahankan kelembaban relatif pada level 20 40% RH.

ruang

untuk

Pendinginan tanpa Pengurangan Uap Air


Proses pendinginan tanpa pengurangan uap air disebut proses pendinginan
sensibel. Proses ini dapat dilakukan dengan menggunakan koil pendingin yang
suhunya di atas suhu titik embun udara DP, tetapi di bawah suhu bola kering DB.

Pendinginan dengan Pengurangan Uap Air


Pendinginan dan proses pengurangankandungan uap air berlangsung secara
simultan dalam suatu proses pengkondisian udara, ketika udara yang akan dikondisi
disalurkan lewat koil pendingian yang mempunyai suhu permukaan di bawah suhu
titik embun (DP) udara.

Pencampuran Udara
Salah satu proses sering dijumpai dalam proses psikrometrik adalah
percampuran dua atau lebih aliran udara yang mempunyai kondisi berbeda. Dalam
kasus ini, kondisi akhir campuran udara ini ditentukan oleh keseimbangan masaenergi.

Alat Penambah dan Penurun Kelembaban


1 Humidifier (Penambah Kelembaban)
Proses ini disebut humidifying yaitu proses penambahan kandungan uap air di
udara pada ruangan yang dikondisikan dengan bantuan alat yang disebut humidifier.
Proses humidifying terjadi bila kelembaban ruangan lebih rendah dari setpoint yang
telah

ditentukan.

Humidifier

merupakan

komponen

yang

berfungsi

untuk

menghasilkan uap air untuk menaikkan kelembaban udara ruangan (relative humidity).
Uap yang dihembuskan ke dalam ruangan melalui evaporator. Humidifier bekerja jika
kelembaban udara ruangan di bawah setpoint dan di luar batas sensitivity yang
ditentukan.
2

Dehumidifier (Penurun Kelembaban)


Dehumidifier adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengontrol atau

menurunkan kadar kelembaban udara. Seperti kita ketahui karena Indonesia


merupakan negara tropis maka kelembaban udara sangat tinggi bahkan di musim hujan
RH ( relative humidity) dapat mencapai hingga lebih 80%. Pada dasarnya RH (relative
humidty) adalah rasio uap air dalam udara.
Dengan kandungan uap air yang berlebihan di udara dalam suatu ruangan pada
industri farmasi menyebabkan perkembangan mikroorganisme pencemar semakin
cepat dan tidak sesuai dengan standar cara pembuatan obat yang baik. Dasarnya
kandungan uap air atau relative humidity yang ideal dalam suatu ruangan dengan

temperatur sekitar 25C nilai dari RH berkisar antara 40% 55 % RH. Karena itu
untuk menjaga atau mengendalikan RH jika terjadi kandungan uap air yang berlebihan
maka digunakan dehumidifier untuk menghilangkan kelebihan kelembaban dari udara.
Dalam Mengendalikan nilai RH Dehumidifier telah banyak dikenal dengan sistem
refrigerasi dan absorb, Dimana sistem refrigerasi bayak digunakan dalam teknologi
AC ( Air Conditioner) dengan mengunakan refrigerant. Pada sistem refrigrant ini
udara dialirkan ke ruang evaporasi dimana pada ruang evaporasi dengan alat yang
sering disebut dengan evaporator ini bertujuan untuk menyerap energi udara sekitar
guna merubah bentuk uap air /cair dari refrigrant agar menjadi gas sehingga area yang
diserap energinya menjadi dingin dan menyebabkan dingin yang cukup untuk
menyebabkan uap air disekitar menjadi titik-titik air yang akan terkumpul sehinga
udara diarea evaporator tersebut uap airnya menjadi berkurang.
5

Proses Kompresi Uap Ideal


Siklus kompresi uap ideal/standar merupakan siklus teoritis, dimana pada siklus
tersebut mengasumsikan beberapa proses sebagai berikut :
1

Proses 1 2 merupakan proses kompresi adiabatik dan reversibel, dari uap jenuh
menuju tekanan kondensor.

Proses 2 3 merupakan proses pelepasan kalor reversibel pada tekanan konstan,


menyebabkan penurunan panas lanjut (desuperheating) dan pengembunan
refrigerasi.

Proses 3 4 merupakan proses ekspansi unreversibel pada entalpi konstan, dari fasa
cairan jenuh menuju tekanan evaporator.

Proses 4-1 merupakan proses penambahan kalor reversible pada tekanan konstan
yang menyebabkan terjadinya penguapan menuju uap jenuh.

Gambar Sistem Refrigerasi Kompresi Uap Ideal


Pada gambar diatas dapat dilihat terdapat beberapa proses yang bekerja pada
siklus tersebut diantaranya adalah :
1

Proses Kompresi
Proses kompresi berlangsung dari titik 1 ke titik 2. Pada siklus sederhana
diasumsikan refrigeran tidak mengalami perubahan kondisi selama mengalir di
jalur hisap. Proses kompresi diasumsikan isentropik sehingga pada diagram
tekanan-entalpi titik 1 dan titik 2 berada pada satu garis entropi konstan, dan titik
2 berada pada kondisi super panas. Proses kompresi memerlukan kerja dari luar
dan entalpi uap naik dari h1 ke h2, dan untuk kenaikan entalpi sama dengan
besarnya kerja kompresi yang dilakukan pada uap refrigeran.

Proses Kondensasi
Proses 2-3 terjadi pada kondensor, uap panas refrigeran dari kompresor
didinginkan oleh udara luar sampai pada temperature kondensasi dan uap tersebut
dikondensasikan. Pada titik 2 merupakan titik refrigeran pada kondisi uap jenuh
dengan tekanan dan temperature kondensasi. Jadi proses 2-2 merupakan proses
pandinginan sensible dari temperatur kompresi menuju temperatur kondensasi,
dan proses 2-3 merupakan proses kondensasi uap dari dalam kondensor. Proses
2-3 terjadi pada tekanan konstan, dan jumlah kalor yang dipindahkan selama
proses ini adalah beda entalpi antara titik 2 dan titik 3.

Proses Ekspansi
Proses ekspansi berlangsung dari titik 3 ke titik 4. Pada proses tersebut
terjadi suatu proses penurunan tekanan refrigeran dari tekanan kondensasi (titik 3)
menjadi tekanan evaporasi (titik 4). Pada saat cairan diekspansikan melalui katup
ekspansi atau pipa kapiler menuju evaporator, temperatur refrigeran juga turun
dari temperature kondensasi ke temperatur evaporasi. Proses 3-4 merupakan
proses ekspansi adiabatik dimana entalpi fluida tidak berubah sepanjang proses.
Refrigeran pada titik 4 berada pada kondisi campuran antara cairan dan uap, dan
terjadi penurunan tekanan.

Proses Evaporasi
Proses 4-1 adalah proses penguapan refrigerasi pada evaporator serta
berlangsung pada tekanan konstan. Pada titik 1 seluruh refrigeran berada pada
kondisi uap jenuh. Selama proses 4-1 entalpi refrigeran naik akibat penyerapan
kalor dari ruang refrigerasi. Besarnya kalor yang diserap adalah beda entalpi
antara titik 1 dan titik 4 dan biasa disebut efek pendinginan.

Komponen Utama Sistem Refrigerasi Siklus Kompresi Uap


1 Kompresor
Kompresor mempunyai klasifikasi yang bermacam-macam, akan tetapi pada
umumnya dapat dibagi menjadi dua jenis utama yaitu :
1

Kompresor langkah positif, dimana gas diisap masuk ke dalam silinder dan
dikompresikan .

Kompresor dinamis, dimana gas yang dihisap masuk dipercepat alirannya oleh
sebuah impeller yang kemudian mengubah energi kinetik untuk menaikkan
tekanan.

Fungsi kompresor antara lain :


1
2

Mensirkulasikan bahan pendingin (refrigeran)


Menaikkan tekanan agar bahan pendingin dapat berkondensasi pada kondisi
ruangan

3
4

Mempertahankan tekanan yang konstan pada evaporator


Menghisap gas bertekanan dan bertemperatur rendah dari evaporator, kemudian
menekan/memampatkan gas tersebut, sehingga menjadi gas yang bertekanan dan
suhu tinggi, lalu dialirkan ke kondensor.

Gambar Kompresor Hermatik


2

Kondensor
Kondensor akan mengubah uap tekanan tinggi tersebut menjadi cairan bertekanan

tinggi dengan adanya medium pendingin pada kondensor (udara maupun cair). Kalor
dari ruangan dan panas dari kompresor akan diserap medium pendingin.
Seperti halnya dengan kompresor, kondensor juga terdiri dari beberapa jenis
diantaranya jenis tabung dan pipa horizontal, jenis tabung dan koil, jenis pipa ganda dan
jenis pendingin udara.

Gambar Kondensor Pendingin Udara Jenis Koil Bersirip


3

Alat ekspansi

Pipa kapiler dibuat dari tembaga dengan diameter lubang dalam yang sangat kecil.
Panjang dan lubang pipa kapiler dapat mengontrol jumlah bahan pendingin yang masuk
evaporator. Karena tekanan dan temperatur cairan dari kondensor terlalu tinggi untuk
terjadinya penguapan dalam kondisi ruangan, maka digunakan pipa kapiler (liquid
control device) yang bekerja sebagai suatu tahanan aliran fluida (bahan pendingin cair).
Dengan adanya tahanan tersebut, tekanan fluida akan turun dan sebagian kecil
cairan pendingin menguap (flash gas). Penguapan ini akan menyerap kalor dari cairan
pendingin, sehingga temperatur cairan berkurang sampai temperatur jenuh pada tekanan
yang berkurang tersebut.
Pipa kapiler (capillary tube) berguna untuk :
a
b
c

Menurunkan tekanan bahan pendingin cair yang mengalir didalamnya.


Mengatur jumlah tekanan bahan pendingin cair yang mengalir
Membangkitkan tekanan bahan pendingin dikondensor.
Alat ekspansi yang sering digunakan adalah katup ekspansi termostatik dan pipa

kapiler. Katup ekspansi termostatik merupakan katup ekspansi berkendali panas lanjut
yang berfungsi agar refrigeran yang masuk evaporator sesuai dengan beban pendingin
yang harus dilayani. Pipa kapiler berfungsi sebagai alat ekspansi dengan memanfaatkan
tahanan gesek refrigeran terhadap pipa, sehingga tekanannya turun. Pipa kapiler
biasanya mempunyai diameter yang kecil (0,031 0,054 inch) dengan panjang 5 20 ft.
Pipa kapiler digunakan karena kemudahan dan murah.
4

Evaporator
Evaporator adalah penukar kalor yang berfungsi untuk mendinginkan media

sekitarnya. Berdasarkan kontruksinya evaporator dibedakan atas jenis tabung-koil,


tabung-pipa jenis ekspansi kering dan jenis koil pendingin udara.

Gambar 2.5 Evaporator Koil Bersirip


5

Refrigeran
Refrigeran adalah media perpindahan panas yang menyerap panas atau kalor

dengan penguapan (evaporator) pada temperatur rendah dan memberikan kalor dengan
pengembunanan (kondensor) pada temperatur dan tekanan tinggi. Refrigeran dalam
perdagangan telah diklasifikasikan oleh ASRE (American Society Of Refrigerating
Engineers). Standar dari ASRE membagi refrigeran dalam beberapa kelompok penting
yaitu senyawa Halokarbon, Anorganik, Hidrokarbon, dan Aezotop.

BAB III
METODA DAN PROSES PENYELESAIAN
1

Air Conditioning di PT. Rohto Laboratories Indonesia

PT. Rohto Laboratories Indonesia menggunakan prinsip kerja AC sentral dimana


suplai udara ke ruangan-ruangan dipusatkan di 1 tempat.
1

Sirkulasi Udara Dingin

OAHU

AHU 1

AHU 2

Gambar 3.1 Sirkulasi Udara AHU


Terdapat 3 unit AHU yang digunakan di PT. Rohto Laboratories Indonesia, yaitu
OAHU (Out Air Handling Unit), AHU 1 (Air Handling Unit 1) dan AHU 2 (Air
Handling Unit 2). Ketiga AHU ini mempunyai prinsip utama yang sama, yaitu untuk
mensuplai udara dingin. Yang membedakan adalah kapasitas dan layanan udaranya.
Secara sederhana sirkulasi udara pada AHU tersebut adalah udara segar dari
lingkungan masuk ke dalam OAHU, selanjutnya OAHU menyuplai udara ke AHU1 dan
AHU2. AHU1 dan AHU2 tidak hanya mendapatkan suplai dari OAHU saja melainkan
juga dari udara luar dan udara yang dikembalikan dari ruangan (return air). Udara dari
AHU1 dan AHU2 yang selanjutnya melayani ruangan-ruangan yang ada di dalam
gedung.
1 OAHU (Out Air Handling Unit)

Exhaust Air

Gambar 3.2 OAHU


OAHU (Out Air Handling Unit) berfungsi sebagai penyaring dan
pendingin mula sebelum udara dari lingkungan didistribusikan ke seluruh ruangan
di dalam gedung. Udara dingin tersebut disalurkan ke AHU1 (Air Handling Unit
1) dan AHU2 (air Handling Unit 2) yang bertugas sebagai penyalur udara dingin
ke ruangan-ruangan. Di OAHU suplai udara seluruhnya berasal dari lingkungan
dengan temperature berkisar antara 25C-28C. Udara dari luar disaring dari
partikel-partikel dengan menggunakan pre filter. Temperature udara hasil
pendinginan berkisar antara 9C-11C, hal tersebut dikarenakan udara dari
lingkungan melewati coil pendingin yang berisi air dingin berasal dari chiller
(Chiller Water Supply) sehingga udara keluar dari OAHU mempunyai
temperature lebih rendah. Udara dingin yang dihasilkan OAHU disulpai ke AHU1
dan AHU2.
2

AHU (Air Handling Unit) 1 dan 2

Return Air
Chiller Water Return (CHWR)

Filter
Out Air

OAHU

c/c

Supply Air

Gambar 3.3 AHU

Terdapat 2 unit AHU yang mempunyai fungsi Chiller


berbedaWater
pada Supply
ruangan(CHWS)
yang
disuplai. AHU 1 berfungsi untuk mensuplai udara ke ruangan kelas C dan D
sedangkan AHU 2 berfungsi untuk mensuplai udara ke ruangan kelas A dan B

klasifikasi tersebut berdasarkan pada CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik).
Suplai udara AHU 1 dan 2 berasal dari hasil pendinginan udara OAHU, udara
yang disirkulasikan untuk didinginkan kembali dari ruangan yang didalamnya
terdapat beban panas (Return Air) dan udara dari luar gedung (Out Air)
banyaknya udara luar yang dialirkan dalam sistem ini harus disesuaikan dengan
keperluan. Udara campuran antara udara dari OAHU, return air dan out air
disebut mixing air. Udara campuran inilah yang akan disupply ke dalam gedung
atau ruangan dengan terlebih dahulu dibersihkan dari partikel-partikel dan
didinginkan dengan temperature yang telah ditentukan.
Udara campuran ini melewati pre filter dan medium filter untuk
dibersihkan. Debu-debu akan disaring sehingga menjadi lebih bersih. Setelah
melewati pre filter dan medium filter udara campuran ini akan melepas kalor
karena melewati Cooling Coil yang memiliki temperature 6C sehingga
menerima kalor dari udara dan temperature Chiller Water Return menjadi lebih
tinggi 12C. Seteleh itu udara yang bersih dan dingin dialirkan ke ruanganruangan.
Pada AHU 2 terdapat filter dengan efisiensi tinggi (HEPA=High
Efficiency Particulate Air) pada saluran aliran udara (ducting) sebelum ke
ruangan-ruangan kelas A dan B penyaring udara ke ruangan supaya udara yang
disuplai ke ruangan kelas A dan B mempunyai jumlah partikel yang sesuai dengan
CPOB.
AHU 1 mensuplai udara ke ruangan kelas C dan D. Yang termasuk dalam
ruangan kelas C/D yaitu :
1 Unpacking
2 Pass room 1
3 Mixing room1
4 Corridor 2
5 Janitor
6 Material stock
7 Weighing room
8 Tool stock room
9 Handsanitizer
10 Clothes room male
11 Undress room male
12 Clothes room female
13 Undress room female
14 Washing room sterilization ante

15 Mixing room 2
Ruangan yang termasuk dalam kelas A/B yaitu
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Clean booth 1 dan clean booth 2 (kelas A)


Filling room 1 dan filling room 2
Sterilized tool stock room
Sterilized container stock room
Pass room 3
Corridor 1
Pass room 2
Clothes romm female
Undress room female
Clothes room male
Clothes room male

Sirkulasi Air Dingin (Chiller Water)


Temperatur air yang didinginkan pada bagian evaporator chiller
berkisar antara 4C-5C, yang selanjutnya digunakan untuk mendinginkan
udara di AHU. Water chiller disuplai ke OAHU, AHU1 dan AHU2.

OAHU

AHU 1

AHU 2

Gambar 3.4 Sirkulasi Water Chiller


Dalam sirkulasi air dingin untuk AHU terdapat beberapa komponen, yaitu :
1

Air cooled chiller


Air cooled chiller berfungsi untuk mendinginkan air yang disuplai ke
AHU dengan system kompresi uap. Dengan menggunakan jenis refrigerant R407c dan memiliki kapasitas 70 RT. Temperatur ideal air yang didinginkan
meninggalkan chiller (CHWS/Chiller Water Supply) adalah 6C sedangkan
temperature air yang kembali ke chiller (CHWR/Chiller Water Return) adalah
12C. temperature tersebut tergantung dari pendinginan di AHU.

Expansion tank

Expansion tank dengan kapasitas 500 liter yang berfungsi untuk mengisi
pipa air yang didinginkan supaya selalu terisi penuh sehingga jika ada
kebocoran pada pipa tidak akan ada udara yang akan menggangu kerja pompa.
3

Chiller Water Pump (CHWP)


Chiller Water Pump (CHWP) adalah pompa pada chiller yang berfungsi
untuk mensirkulasikan air dingin (Chiller Water Supply). Terdapat dua unit
pompa pada chiller yang mempunyai laju aliran 705 L/min dengan daya 11 KW.
Pompa pada chiller ini bekerja secara bergantian.

Metoda Perhitungan
1 Kondisi Udara Aktual
Pengaturan kelembaban udara didasarkan pada prinsip psychrometric udara.
Psychrometric adalah sifat fisik dan termodinamik campuran antara gas dan
liquid. Pada psychrometric chart data terlihat bagaimana kondisi udara actual dan
dapat menentukan parameter yang dibutuhkan dalam perhitungan.

Keterangan:
(1) (2)

: Proses pendinginan dan dehumidifikasi

(2) (3)

: Proses pemanasan udara masuk unit dehumidifier temperatur titik


embun proses pemanasan udara

Selain terjadinya proses dehumidifier di atas maka akan timbul beberapa


proses diantaranya yaitu:
1

Proses adiabatik: suatu proses di mana tidak terjadi pengurangan maupun


penambahan panas total. Panas selalu berubah dari panas sensible menjadi

2
3

panas laten atau panas laten menjadi panas sensible.


Proses isotermal: suatu proses di mana tidak ada perubahan suhu bola kering
Panas laten: adalah energi panas yang bila ditambahkan atau diambil dari
suatu benda akan menimbulkan perubahan wujud tanpa merubah suhunya
Dengan menggambarkan kondisi udara actual yang melewati AHU2 pada

psychrometric chart maka didapatkan parameter sebagai berikut.


1
2
3
4
5
6

Temperatur Dry Bulb


Relatif Humudity (RH)
Humidity Ratio (W)
Temperatur Wet Bulb
Enthalpy
Volume spesifik

Maka dengan menggunakan parameter diatas diapat menghitung


a

Laju alir massa udara (udara)


udara
=
V x (1)
dimana
udara = Laju alir massa udara(kg/s)
V = laju alir volume (m3/h)
= Massa jenis udara (kg/m3)
Panas total / Beban Evaporator (Qt = Qevap)
Qt =

udara x h(2)

dimana
Qt = Panas total (kJ/s)
h = Perbedaan enthalpy (kJ/kg)
c

Panas sensible (Qs)

Qs =

udara x Cp x T.(3)

dimana
Qs = Panas sensibel (kJ/s)
Cp = Kalor spesifik udara (kJ/kgK)
T = Perbedaan temperatur (kJ/kg)
d

Panas laten (QL)


QL =

Qt Qs(4)

dimana
QL= Panas laten (kJ/s)
Qt = Panas total (kJ/s)
Qs = Panas sensibel (kJ/s)
e

Massa uap air yang mengembun (M)


M =

udara x W.(5)

dimana
M = Massa uap air yang mengembun (g/s)
W = Perbedaan rasio kelembaban (g/kg)

Untuk mengetahui kapasitas dehumidifier yang akan digunakan maka


diperlukan perhitungan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut.

Perhitungan efek refrigerasi (RE)


(RE)

= (h1 - h4) kJ/kg

Perhitunganlaju aliran massa refrigerant (ref)


Qevap
(h1 h 4)
ref
=
dimana
ref = Laju alir massa refrigerant (kg/s)
Qevap = Beban evaporator (kJ/s)

Perhitungan kerja kompresi


Kerja Kompresi = (h2 - h1) kJ/kg

Perhitungan daya kompresi (W)


W = ref kg/s x (h2 - h1) kJ/kg
dimana
W = daya kompresi (kW)
ref = Laju alir massa refrigerant (kg/s)

BAB IV
PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS
1

Data Pengujian

Parameter
RH (%)
Temperatur (C)
Temperatur (K)
Enthalpy (kJ/kg)
Aliran Volume udara (m3/h)
Volume spesifik V (m3/kg)
Massa jenis (kg/m3)
Humidity Ratio W (g/kg)
Temperature Chiller Water

Data Aktual
53.99
22.4
295.55
45.68
28354.79
0.849
1.178
9.15
6

Supply (C)
Temperature Chiller Water

12

Data yang ingin dicapai


45
21
294.15
38.748
36300
0.842
1.195
6.98

Return (C)

Ruangan
Standard
T = 21 C
RH = 45%

AHU2
V = 28345.79 m3/h
T = 22.4 C
RH = 53.99%

Berdasarkan psychrometric chart kandungan maksimum uap air pada temperature yang
diinginkan yaitu 21 C adalah 9.15 g/kg
Relative humidity (%) 100
150

90 80

Absolute humidity (kg/kg)


70
60
50
40

140

0.0450

0.0400

30

130
0.0350

120
110

0.0300

100
20

90

0.0250

80
0.0200

70
60

0.0150

50

10

40

P1

0.0100

30
20

0.0050

10
Enthalpy (kJ/kg)
-40
-35
-30
-25
Dry bulb temperature (C)

-10

-20

0.0000
-20

-15

-10

-5

10

15

20

25

30

35

40

45

50

55

RH yang diinginkan yaitu 45%


Kandungan uap air (humidity ratio) yang sesuai adalah

45
g
x 9.15 =4.1175 g/kg
100
kg

Pada humidity ratio 4.1175 g/kg maka temperature udara yang diinginkan supaya didapatkan RH
= 45% . Temperature udara hasil pendinginan adalah 12.5C

60

Relative humidity (%) 100


150

90 80

Absolute humidity (kg/kg)


70
60
50
40

140

0.0450

0.0400

30

130
0.0350

120
110

0.0300

100
20

90

0.0250

80
0.0200

70
60

0.0150

50

10

40

P1

0.0100

30
20

P2

10
Enthalpy (kJ/kg)

-10

-20

-40
-35
-30
-25
Dry bulb temperature (C)

0.0000
-20

-15

Panas sensible
Qs =
x Cp x T
=
V x x Cp x T
=

28354.79 m3/h x

12.9897 kJ/s

Panas Total
Qt =
x h
3

28354.79 m /h x

64.3173 kJ/s

-10

-5

10

15

20

25

30

35

40

45

x 1.178 kg/m3 x 1 kj/kg K x (295.55 - 294.15)K

1h
3600 s

x 1.178 kg/m3 x (45.68 - 38.748)kJ/kg

Panas Laten
QL =
Qt Qs
=
64.3173 kJ/s - 12.9897 kJ/s
=
51.3276 kJ/s

Massa uap air yang mengembun


M=
x W
1h
=
28354.79 m3/h x 3600 s
20.1339 g/s

1h
3600 s

0.0050

x 1.178 kg/m3 x (9.15 6.98) g/kg

50

55

60

Menurunkan kelembaban dari 53.99% pada temperature 22.4 C sampai mencapai


kondisi yang diinginkan yaitu kelembaban 45%, maka udara perlu didinginkan dengan
melewati dehumidifier hingga temperature udara keluaran dehumidifier adalah 12.5 C
sesuai dengan hasil perhitungan.
Untuk menurunkan temperature dari 22.4 C menjadi 12.5C maka diperlukan
dehumidifier dengan kapasitas yang sesuai. Maka perlu dilakukan perhitungan untuk
menentukan kapasitas dehumidifier.
Berdasarkan pada diagram p-h terlihat siklus kompresi uap yang menjadi dasar
menentukan kapasitas dehumidifier. Jika diasumsikan perbedaan tekanan sebelum
kompresor dan setelah kompresor adalah 5 bar pada siklus kompresi uap ideal, maka
didapat perhitungan. (Gambar diagram p-h terdapat di lampiran)
1

Laju alir massa udara (udara)


udara =
Vx
3

28354.79 m /h x

9.278 kg/s

1h
3600 s

x 1.178 kg/m3

Panas total / Beban Evaporator (Qt = Qevap)


Qt =
udara x h
=
9.278 kg/s x (45.68 38.748) kJ/kg
=
64.315 kJ/s

Perhitungan efek refrigerasi (RE)


(RE) = (h1 - h4) kJ/kg
= (359 - 212) kJ/kg
= 183 kJ/kg

Perhitunganlaju aliran massa refrigerant (ref)


Qevap
(h1 h 4)
ref
=
64.315 kJ / s
= 183 kJ /kg

= 0.351 kg/s
5

Perhitungan kerja kompresi


Kerja Kompresi

= (h2 - h1) kJ/kg


= (422 395) kJ/kg
= 27 kJ/kg

Perhitungan daya kompresi (W)


W

= ref kg/s x (h2 - h1) kJ/kg


= 0.351 kg/s x 27 kJ/kg
= 9.477 kW

Dari hasil perhitungan maka didaptakan kapasitas dehumidifier untuk


mendinginkan udara sampai temperature 12.5 C dengan kelembaban 45% adalah
dehumidifier dengan daya kompresi 9.477 kW.
9.477 kW = 0.746 x 9.477 kW = 7.07 PK