Anda di halaman 1dari 54

BAB IV

LAPORAN HASIL PENELITIAN

Dengan mengacu pada fokus penelitian maka bab ini akan dipaparkan data

dan temuan-temuan penelitian. Adapun paparan data dan temuan penelitian yang

diperoleh untuk masing-masing fokus penelitian adalah sebagai berikut:

A. Gambaran Obyek Penelitian

1. Sejarah berdirinya Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro Kras

Kediri

Berdirinya Madrasah Tsanawiyah Negeri Kanigoro (MTsN)

Kanigoro Kras Kediri bermulai dari didirikan SMP Islam Swasta Kanigoro

Kras Kediri yang didirikan pada tanggal 1 Agustus 1964 oleh :

a. Bapak H. Said bin H. Kusnan

b. Bapak H. Rais

c. Bapak H. Nur Hasan

d. Bapak H. Abdul Manan

e. Bapak Asrib

f. Bapak Masyhuri

g. Bapak H. Mundir

Mulai tahun 1965 tokoh-tokoh tersebut merubah SMP Islam menjadi

Madrasah Tsanawiyah yang administrasi dan kurikulumnya disesuaikan

dengan tuntunan dan bimbingan dari Departemen Agama Kabupaten Kediri,

95
96

mulai tahun 1966 digabungkan dengan Yayasan Pesantren Sabilil Mustaqim

(YPSM) yang berpusat di Takeran. Agar pendidikan tersebut lebih lancar serta

pengurusannya lebih stabil dan pendidikannya lebih bermutu dan atas

dukungan dan usaha Yayasan Pesantren Sabilil Mustaqim (YPSM) yang

berpusat di Takeran Madiun, maka pada tanggal 27 Juli 1967 dengan SK dari

Menteri Agama Republik Indonesia No. 96 tahun 1967 statusnya berubah

menjadi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro.

Periodesasi Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri Kanigoro

sebagaimana hasil wawancara dengan Kepala Tata Usaha dapat dilihat pada

tabel berikut:

Tabel 4.1

Periodisasi Kepala Sekolah119

No Nama Periode

1. Maskup, BA 1967

2. R. Moh. Abror, B.Sc. 1967 – 1978

3. Drs. Widojo Atmodjo 1978 – 1991

4. Drs. H. Maksum 1991 – 1994

5. Zainal Fanani, BA 1994 – 1998

6. Mustadji, BA 1998 – 2001

7. Drs. H. Karim 2001 – 2004

119
Sudirman, Wawancara pada hari Senin, tanggal 25 Mei 2009
97

8. Drs. H. Choironi 2004 – 2008

9. Moh. Amak Burhanudin, M.Pd.I 2008 - sekarang

2. Letak Geografi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro Kras Kediri

Madrasah Tsanawiyah Negeri Kanigoro adalah lembaga pendidikan

yang terletak di suatu desa yaitu Desa Kanigoro – Kecamatan Kras –

Kabupaten Kediri, walaupun berada di desa namun sangat strategis karena

bertepatan berada di lingkungan pondok pesantren Hidayatul Mubtadiin

Kanigoro, juga dekat dengan jalur transportasi yang menghubungkan Kediri –

Tulungagung. Adapun jarak MTsN Kanigoro dari wilayah sekitarnya sebagai

berikut:

a. Dari Kecamatan Kras ke Timur ± 4 Km.

b. Dari Kabupaten Kediri ± 20 Km

c. Dari Ibu Kota Propinsi Jawa Timur ± 150 Km

3. Sarana dan Prasarana

Keadaan sarana dan prasarana yang dimiliki MTsN Kanigoro Kras

Kediri sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Kepala Tata Usaha

sebagaimana pada tabel berikut:


98

Tabel 4. 2

Keadaan Sarana dan Prasarana MTsN Kanigoro Kras - Kediri120

No Nama sarana dan prasarana Jumlah Keterangan

1 Ruang kepala sekolah 1 Baik

2 Ruang tata usaha 1 Baik

3 Ruang guru 1 Baik

4 Ruang kelas 22 Baik

5 Ruang lab 2 Baik

6 Ruang UKS 1 Baik

7 Ruang perpustakaan 1 Baik

8 Mushola 1 Baik

9 Lapangan olah raga 1 Baik

10 Sanggar pramuka 1 Baik

11 pos satpam 1 Baik

12 Ruang Musik 1 Baik

13 Komputer 40 Baik

14 Bangku 420 Baik

15 Kursi 1200 Baik

16 Koperasi sekolah 1 Baik

17 TV pembelajaran 1 Baik

120
Sudirman, Wawancara pada hari Senin, tanggal 25 Mei 2009
99

18 Radio pembelajaran 1 Baik

19 Ruang BP dan PKM 1 Baik

20 Ruang Osis 1 Baik

21 Kamar mandi / wc 16 Baik

22 Kantin 2 Baik

4. Struktur Organisasi MTsN Kanigoro secara Oprasional

Untuk mengetahui lebih lanjut stuktur organisasi MTsN Kanigoro

Kras – Kediri dapat dilihat bagan sebagai betikut:


101

Berdasarkan pada struktur di atas dapat dijelaskan bahwa dengan

adanya kelengkapan pembagian tugas jabatan di MTsN Kanigoro Kras

Kediri, maka dapat mendukung dan memperlancar berjalannya proses belajar

mengajar yang baik serta dengan adanya komunikasi dan kerjasama antar

karyawan juga dapat memperlancar berjalannya pendidikan.

5. Keadaan guru, Pegawai, dan Siswa

a. Keadaan Guru dan Pegawai MTsN Kanigoro

Yang dimaksud guru disini adalah pendidik yang secara

administrasi bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan, dalam

hal ini adalah guru yang mengajar di MTsN Kanigoro Kras – Kediri.

Jumlah guru pada saat penelitian di lakukan melalui observasi

sebagaimana dalam tabel berikut:

Tabel 4.3

Keadaan Guru MTsN Kanigoro Kras – Kediri Tahun 2008/2009120

MATA
No NAMA
PELAJARAN

1 2 3

1 Moh. Amak Burhanudin, M.Pd.I : Bimbingan & Konseling

2 Ahmad Dardiri, BA : Aqidah Akhlak

3 Drs. Imam Sururi : Matematika

4 Dra. Sri Rejeki : IPA Biologi

5 Irma Astutik, S.Pd. : IPA Biologi

120
Observasi peneliti pada hari Selasa, tanggal 26 Mei 2009
102

6 Titik Lailatul M., S.Ag. : Fiqih

7 Dra. Eny Khususiyati : Bhs. Inggris

8 Khafidz Suyuti, BA : Bhs. Inggris

9 Mukayin, S.Pd. : Fiqih

10 Sigit Prawata, S.Pd. : PKN

11 Dra. Rustiani Hanifah : Matematika

12 Dra. Mambaul Jazilah, M.Pd.I : Bhs. Arab

13 Hari Subagyo, S.Pd. : Penjas

14 Endang Muaimatul L.S., S.Pd. : Bhs. Inggris

15 Eny Nafi’atin, S.Pd., M.Pd.I : Matematika

16 Dra. Anjar : Bhs. Indonesia

17 Dra. Yueni Dwi Budi Alinta : Kertakes

18 Dra. Weny Puspita A.S. : IPS Sejarah

19 Ayu Dwi Wulandari, S.Ps.I : Bimbingan & Konseling

20 Maspuah, S.Pd. : IPS Ekonomi

21 Moh. Mujib Zunari, S.Ag. : Tekinfokom & Bhs. Arab

22 Choirul Azhar, S.Ag. : SKI

23 Drs. Djumari : PKN

24 Novi Yuniarni, S.Pd. : IPS Geografi

25 Moch. Nurhadi, S.Ag. : Qur’an Hadits

26 Siti Jubaidah, S.Pd. : Matematika

27 Sudarmaji : IPA Biologi

28 Imam Mahmudi, S.Pd.I : Bhs. Arab

29 Kholid Tuhaika, S.Ag. : Fiqih, Qur’an Hadits

30 Supriyadi, S.Ag. : Aqidah Akhlak

31 Susiati, S.Ag. : Qur’an Hadits

32 Saiful Ali, S.Ag., M.Fil.I : SKI dan Bhs. Inggris


103

33 Badik Susanto, S.Pd. : Matematika

34 Eny Yuroida, S.Pd. : Matematika

35 Anny Jauharoh, S.Pd. : IPA Fisika

36 Elvi Riana, S.Pd. : Bhs. Inggris

37 Susi Mardiyati, S.Pd. : Bhs. Indonesia

38 Komarodin, S.Pd. : Penjas

39 Moh. Ali Imron, S.Ag. : SKI & Aqidah Akhlak

40 Imam Asrori, S.Pd.I : Fiqih & Tekinfokom

41 Sri Hartini, S.Pd. : IPS Ekonomi

42 Munip, S.Pd. : PKN & Bhs. Jawa

43 Dra. Rachmawati E.W. : Bhs. Indonesia

44 Nikmatul Rohmah, S.Pd. : Bhs. Indonesia

45 Enik Zuliana : Tekninfokom

46 Saiful Zais S.Pd. : IPS Geografi

47 M. Mustaqim, S.Pd. : Kertakes

48 Erma Lutfiana, SE. : IPS Ekonomi

49 Peny Widyaningrum, S.Pd. : IPA Fisika & IPA Kimia

50 Siti Rukana, S.Ps.I : Bimbingan & Konseling

51 Nurul Arifah, S.Pd. : Bimbingan & Konseling

52 Siti Nurin Nadhofah, S.S. : Bhs. Inggris

53 Zusfar Ilham Hani, S.Kom. : Tekinfokom

54 Miftahun Nurul Huda, S.Kom. : Tekinfokom

55 Asih Switanti, S.Pd. : IPA Fisika & IPA Kimia

56 Nina Candrawati, S.Pd. : Bimbingan & Konseling

57 Setyawati, S.Pd. : Bhs. Indonesia

58 H. Abbas Sofwan, SHI, LLM. : Bhs. Arab

59 Mahayana S. Adibrata, S.Pd. : Matematika


104

60 Henry Yunianto, S.Pd. : Penjas

TABEL 4.4

Personalia Tata Usaha121

No Nama Keterangan

1 Sudirman, SH. Kepala T.U

2 Suryani Bendahara

3 Miftahun Nurhuda Administrasi Kepegawaian

4 Kuni Fitriani Administrasi Kesiswaan

5 Moch. Shohibul Anwar Administrasi Umum

6 Dra. Rustiani Hanifah Bendahara BOS

7 Mukayin, S.Pd. Bendahara Umum

8 Ahmad Dardiri, BA Bendahara Komite

9 Anas Fauzi Perpustakaan

10 Iwan Hermawan Teknisi

11 Achyar Pesuruh

12 Kusnan Pesuruh

13 Mas’ud Pesuruh

14 Mustakim Satpam

15 Abdul Kholiq, SHI Administrasi Umum

16 Eka Wahyu P., A.Md.Kep Perawat UKS

17 Anis Hudzaifah, S.Pd. KOPSIS

18 Endang Muaimatul LM, S.Pd Pembina Lab. Bhs. Inggris

121
Observasi peneliti pada hari Selasa, tanggal 26 Mei 2009
105

19 Penny Widyaningrum, S.Pd. Pembina Lab. IPA

20 Zusfar Ilham Hani, S.Kom. Pembina Lab. Komputer

21 Saiful Ali, S.Ag., M.Fil.I Pembina OSIS

22 Choirul Azhar, S.Ag Pembina PMR/Pramuka

23 Moh. Mujib Zunari, S.Ag. Pembina Lab. Bhs. Arab

b. Keadaan Siswa MTsN Kanigoro

Siswa-siswi MTs Kanigoro Kras Kediri berasal dari penjuru Kota

baik region Jawa Timur maupun dari luar Jawa Timur. Mengingat MTs

adalah sekolah yang memuat mata pelajaran umun dan agama, sehingga

untuk efektifitas dalam proses belajar mengajar dan untuk memperdalam

wawasan agama banyak siswa yang berdomisili di pondok pesantren yang

berdekatan dengan madrasah tersebut.

Selain mengikuti materi kurikulum, para siswa juga banyak

mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yang ada di MTsN Kanigoro seperti:

KIR, PMR, Pramuka, Seni Musik, Pidato, MTQ, Komputer, Bola Voly,

Tenis Meja dan bela diri.

Mengenai jumlah siswa-siswi MTsN Kanigoro Kras – Kediri pada

tahun ajaran 2008/2009 mencapai 892. Hal ini dapat dilihat dari hasil

observasi peneliti sebagaimana pada tabel berikut ini:


106

Tabel 4.5

Keadaan Siswa MTsN Kanigoro Kras – Kediri Tahun 2008/2009122

Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah

VII 152 244 320

VIII 140 226 297

IX 159 216 275

Total 451 686 892

B. Pemaparan Data

1. Konsep Sistem Informasi Manajemen dalam pengembangan Sistem

Akademik di MTsN Kanigoro

Sistem Informasi Manajemen merupakan unsur vital bagi efektifitas

lembaga pendidikan. Karena berjalan atau tidaknya sebuah lembaga

pendidikan sangat bergantung kepada pengelolaan sistem informasi.

Pengelolaan Sistem Informasi yang baik dapat membantu kelancaran dan

keberhasilan semua urusan pengaturan dan pengelolaan madrasah secara

formal kepada atasannya dan secara informal kepada masyarakat yang telah

menitipkan anak didiknya. Sistem Informasi yang dikelola dengan prinsip-

prinsip manajemen, baik planning, organizing, directing dan controlling,

diharapkan dengan sendirinya dapat mengelola sistem akademik kearah yang

lebih baik.

122
Observasi peneliti pada hari Selasa, tanggal 26 Mei 2009
107

Sistem Informasi Manajemen (SIM) mengandung banyak tafsir,

sehingga setiap orang akan berbeda dalam memahaminya. Salah satu

sebabnya ialah tidak ada ukuran yang baku tentang apa Sistem Informasi

Manajemen (SIM) dan Manajemen Sistem Informasi (MSI) itu. Oleh karena

itu untuk menjawab apakah Sistem Informasi Manajemen (SIM) dan

Manajemen Sistem Informasi (MSI) mempunyai pengertian yang sama.

Perbedaan latar belakang seseorang, sudut pandang dan profesi seseorang

sangat berpengaruh dalam menentukan pengertian Sistem Informasi

Manajemen (SIM) dan Manajemen Sistem Informasi (MSI). Hal ini terungkap

dalam hasil wawancara dengan Kepala Madrasah sebagai berikut:

Ya secara umum bisa dikatakan bahwa SIM itu artinya sangat


beragam, antara satu orang dan yang lainnya akan sulit untuk
diketemukan. Persoalannya setiap orang yang ditanya apa SIM itu
mempunyai latar belakang, sudut pandang dan pekerjaan atau bahkan
yang lainnya yang itu semua akan sangat berpengaruh dalam memaknai
SIM itu.123

Pembantu Kepala Madrasah bidang Kurikulum juga menambahkan

pula:

Kalau semua orang anda beri pertanyaan apa SIM itu. Maka secara
keseluruhan akan menjawab sesuai dengan keberadaannya, baik
keberadaan sosial, pendidikan, maupun lingkungan dan latar belakangnya.
Misalnya anda bertanya SIM kepada ahli komputer yang setiap hari
bekerja untuk memproses informasi dalam mengambil keputusan. Maka
jawaban yang akan anda dapat pasti akan berbeda dengan ketika anda
bertanya apa itu SIM kepada seorang Profesor yang setiap harinya

123
Amak Burhanudin, Wawancara pada hari Senin, tanggal 08 Juni 2009.
108

bergelut pada dunia manajemen pendidikan yang mengelola pekerjaan


informasi. Dan seterusnya……124

Namun demikian, ada kriteria umum yang disepakati tentang apa

SIM itu. Yakni bahwa terdapat keseragaman dalam pemakaian istilah Sistem

Informasi Manajemen. Ada orang menyebut Management of Information

Systems, atau bahkan ada yang menyebut Information Systems saja,

kesemuanya kurang lebih membahas persoalan-persoalan yang sama.

Kebanyakan orang Indonesia menggunakan istilah Sistem Informasi

Manajemen (SIM). Ada beberapa orang yang menggunakan istilah

“Manajemen Sistem Informasi (MSI)”, dengan maksud untuk lebih

menekankan sisi manajemennya, bukan teknologi informasinya. Tetapi

sebagian besar orang agaknya sudah lebih terbiasa dengan istilah Sistem

Informasi Manajemen (SIM) ini.

Hal ini disampaikan oleh Pembantu Kepala Madrasah bidang

Kesiswaan pada wawancara sebagai berikut:

Bila orang mengatakan suatu madrasah telah menerapkan Sistem


Informasi Manajemen, maka bisa dimaknai bahwa pengelolaan sistem
informasinya dengan menggunakan prinsip manajemen, pelayanan
gurunya baik, pengambilan keputusannya cepat dan sebagainya demikian
pula sebaiknya. Untuk menandai penerapan sistem informasi manajemen,
orang memberi simbol-simbol dengan julukan-julukan tertentu, seperti
sekolah unggulan dalam ITnya, sekolah berbasis komputer dan lain-
lain.125

124
Mambaul Jazilah, Wawancara pada hari Senin, tanggal 08 Juni 2009.
125
Moch. Nurhadi, Wawancara pada hari Rabu, tanggal 16 Juni 2009.
109

Hal senada juga disampaikan oleh Pembantu Kepala Madrasah

bidang Penelitian dan Pengembangan Madrasah yang menyatakan bahwa:

SIM itu biasanya dimaknai oleh banyak orang sebagai sesuatu yang
teratur, sistem informasi yang bagus dan sebagainya. Dan sebaliknya,
sesuatu dianggap tidak teratur ketika sesuatu itu tidak mempunyai sistem
informasi yang teratur, tidak mempunyai tujuan yang terprogram,
pengambilan keputusan yang lambat dan sebagainya. Sehingga gambaran
yang umum disepakati bersama bahwa SIM itu bermakna pengelolaan
tentang kebaikan dan keindahan atau bermakna sesuatu yang ideal.126

Demikian juga bahwa madrasah itu menerapkan SIM atau tidak

dilihat dari bagaimana kualitasnya. Kalau dikatakan menerapkan SIM,

pengelolaan akademiknya mesti baik, pelayanan yang prima, laku di dunia

kerja, bisa menciptakan kerja dan lain-lain, yang serba bernilai baik atau

sebaliknya. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara peneliti dengan Kepala

Madrasah yang menyatakan:

Sama halnya dengan perguruan tinggi, bahwa madrasah dikatakan


menerapkan SIM dalam mengelola akademik. Madrasah bisa dikatakan
berhasil dalam penerapan SIM ketika pengelolaan bidang akamiknya baik,
laku di dunia kerja, bisa menciptakan pekerjaan dan lain sebagainya.
Sedangkan orang akan mengklaim madrasah tidak berhasil dalam penerapan
SIM ketika pengelolaan bidang akademiknya kurang baik, bingung harus
bagaimana setelah mendapatkan informasi, hanya bisa menerima informasi
tanpa berpikir bagaimana mereka dapat mengelola pekerjaan informasi
dengan baik.127

Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro paham terhadap

kebutuhan SIM ini. Bagi MTsN Kanigoro penerapan SIM madrasah bisa

dilihat dari rumusan visi dan misinya, yang kemudian visi dan misi tersebut

126
Eny Nafiatin, Wawancara pada hari Sabtu, tanggal 30 Mei 2009.
127
Moh. Amak Burhanudin, Wawancara pada hari Senin, tanggal 08 Juni 2009.
110

diwujudkan dalam proses pendidikan yang akan dilakukan. Tiap Madrasah

mempunyai visi dan misi sendiri-sendiri, yang sudah pasti satu sama lain

berbeda. Demikian juga penerapan SIM yang akan dicapai. Hasil wawancara

peneliti dengan Kepala Madrasah menyebutkan:

Pada dasarnya penerapan SIM MTsN Kanigoro bisa dilihat dari


rumusan visi dan misinya. Kemudian dari visi dan misi tersebut MTsN
Kanigoro mewujudkannya dalam kegiatan pendidikannnya yang
merupakan sintesis antara tradisi pesantren dan sekolah umum. MTsN
Kanigoro berusaha dengan maksimal melalui model pendidikan semacam
ini, diharapkan akan lahir madrasah yang berkualitas dicintai oleh Allah
dan masyarakat. Karena ciri utama madrasah demikian adalah tidak saja
menguasai disiplin ilmu masing-masing sesuai dengan pilihannya, tetapi
juga menguasai al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama ajaran
Islam.128

Berdasarkan prinsip manajemen, maka Top Manajemen Madrasah

Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro bersama-sama seluruh jajaran

manajemen bawahannya menyusun visi dan misi MTsN Kanigoro. Dari Visi

MTsN Kanigoro adalah sebagai lembaga pendidikan Islam, melalui kegiatan

pendidikan dan pengajaran, mampu menciptakan madrasah yang berkualitas

dicintai Allah dan masyarakat.129

Sedangkan Misi MTsN Kanigoro adalah sebagai berikut:130

a. Menciptakan manajemen yang sehat.

b. Menciptakan budaya disiplin yang tinggi.

128
Ibid.
129
Pedoman Pendidikan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro 2008-2009,
(Kanigoro: MTsN Kanigoro, 2008), hal. 4
130
Ibid.
111

c. Menyediakan guru yang profesional.

d. Merencanakan, menyusun, melaksanakan dan menganalisis program.

e. Menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.

f. Menyediakan anggaran yang memadai.

g. Meningkatkan iman dan taqwa.

h. Meningkatkan akhlaqul karimah.

i. Mempererat tali silaturrahim.

Dari Visi dan Misi tersebut di atas, ada kata-kata yang

menggambarkan penerapan Sistem Informasi Manajemen yakni: berkualitas,

dicintai Allah, dicintai masyarakat, manajemen yang sehat, disiplin, guru yang

profesional, merencanakan, menyusun, melaksanakan dan menganalisis

program, sarana dan prasarana yang memadai, menyediakan anggaran yang

memadai, peningkatan iman dan taqwa, bermoral dan silaturrahim.

Secara umum orang akan memaknai kata tersebut dengan tafsir yang

mengandung kebaikan, yakni penerapan SIM yang diharapkan. Jadi kata ini

mengandung makna universal, artinya siapa saja akan sepakat dengan

pengembangan akademik berciri manajemen yang sehat, merencanakan,

menyusun, melaksanakan dan menganalisis program, sarana dan prasarana

yang memadai, menyediakan anggaran yang memadai seperti yang

diharapkan itu, yang bermoral, yang unggul, yang toleran dan sebagainya.

Oleh karena itu, makna SIM seperti ini diartikan sebagai SIM yang bersifat

mutlak, yang seharusnya begitu, yang das sollen. Sebagaimana hasil


112

wawancara dengan Pembantu Kepala Madrasah bidang Humas yang

menyatakan:

Secara substantif kata manajemen yang sehat, merencanakan,


menyusun, melaksanakan dan menganalisis program, sarana dan prasarana
yang memadai, menyediakan anggaran yang memadai, dan lain
sebagainya itu bersifat mutlak. Karena semua itu mengandung makna
kebaikan sehingga mutlak diharapkan…131

Pembantu Kepala Madrasah bidang Kesiswaan juga menambahkan:

Karena sifatnya yang sangat abstrak, maka meskipun semua orang


sangat sulit untuk membuat kriteria tertentu yang bersifat universal.
Makna kata manajemen yang sehat misalnya, itu seperti apa wujudnya.
Ukuran manajemen yang sehat itu, untuk satu orang berbeda dengan orang
lain. Masyarakat yang satu berbeda dengan masyarakat yang lain.
Lembaga yang satu akan berbeda dengan lembaga yang lain. Apalagi
ditinjau dari sudut agama. Islam berbeda dengan Agama lain. Oleh karena
itu ukuran sistem akademik bermanajemen yang sehat, yang direncanakan,
menyusun, melaksanakan dan menganalisis program, pasti ukurannya
berbeda antara satu madrasah yang satu dengan madrasah yang lain.
Belum lagi, apabila semua sebutan itu menjadi satu sebagai ciri yang
harus dimiliki oleh sistem akademiknya.132

Apa yang disebutkan dalam Visi Misi Madrasah Tsanawiyah Negeri

(MTsN) Kanigoro, masih bersifat absolut, yang seharusnya begitu, masih

bersifat das sollen. Jadi makna sistem akademik seperti yang tertuang dalam

visi misi itu masih pengembangan akademik dalam arti absolut, yang

universal sifatnya. Maksudnya semua orang akan setuju, bila pengembangan

akademik seperti itu, karena semuanya mengandung makna yang baik. Hal ini

sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Koordinator team pengembangan

Sistem Informasi Manajemen Madrasah :

131
Hari Subagio, Wawancara pada Sabtu, tanggal 16 Mei 2009.
132
Ibid.
113

Dalam setiap visi misi sebuah lembaga banyak terkandung kata-kata


yang masih bersifat absolut, tak terkecuali dari visi dan misi MTsN
Kanigoro. Ya yang pasti setiap orang akan sepakat, bahkan akan sangat
sepakat kalau pada akhirnya pengelolaan akademik MTsN Kanigoro dapat
tercover sebagaimana termuat dalam visi misinya.133

Namun demikian, karena perbedaan sudut pandang, kepentingan dan

karakteristik lembaga, maka terjadi perbedaan ukuran dan kriteria seperti apa

wujud dari SIM yang dikehendaki itu. Manajemen yang sehat itu seperti apa,

yang direncanakan itu bagaimana, dan sebagainya. Untuk itu, maksud SIM

dalam arti absolut, tidak bisa digunakan untuk mengukur pengembangan

akademik. Sehingga MTsN Kanigoro memaknai SIM dalam arti relatif. Yaitu

relatif menurut apa yang dikehendaki MTsN Kanigoro. Bagi MTsN makna

SIM dalam arti relatif inilah yang digunakan dalam pengembangan sistem

akademik untuk kualitas lulusan yang dihasilkannya Hal ini terlihat dari hasil

wawancara peneliti dengan Kepala Madrasah:

Kita akan sulit menentukan bermanajemen yang sehat, yang


direncanakan, menyusun, melaksanakan dan menganalisis program itu
seperti apa, bagaimana, dan sebagainya. Untuk itu, makna SIM dalam arti
absolut, tidak bisa digunakan untuk mengukur kualifikasi sistem
akademik. MTsN Kanigoro memaknai SIM dalam arti relatif. Relatif
menurut yang dikehendaki masing-masing lembaga….134

Pembantu Kepala Madrasah bidang Kesiswaaan menambahkan :

Bahwa dalam rangka pengembangan sistem akademik, MTsN


Kanigoro harus menerapkan SIM yang dikehendaki seperti apa, sesuai
dengan kebijakan SIM, standar SIM dan manual SIM yang telah disahkan
oleh pimpinan lembaga dan selanjutnya ketiga dokumen ini digunakan

133
Akoh Istifa’, Wawancara pada hari Sabtu, tanggal 30 Mei 2009
134
Moh. Amak Burhanudin, Wawancara pada hari Senin, tanggal 08 Juni 2009.
114

sebagai acuan dan pedoman dalam pengembangan sistem akademik. Agar


bisa menjamin tiap langkah dalam proses pendidikan, maka dibuatlah
manual prosedur yang mengatur alur kegiatan apa saja yang harus dilalui
dengan bukti rekaman kegiatan terkait. Dengan bukti rekaman kegiatan
ini, setelah diadakan audit internal, lembaga berani mengatakan, bahwa
pengembangan sistem akademik dapat dijamin seperti yang dijanjikan
dalam standar SIM.135

Seperti yang dijanjikan dalam standar SIM, MTsN Kanigoro dengan

academic exxelence yang diselenggarakan menerapkan pengembangan bidang

akademik yang berhubungan dengan sebagai berikut: (1) Menguasai bahasa

Arab, (2) Menguasai bahasa Inggris, (3) Berwawasan Nasional, regional dan

global, (4) Mengembangkan kegiatan pembelajaran berbasis komputer, (5)

Mengelola administrasi akademik berbasis IT, (6) Mengelola raport siswa dan

daftar nilai harian berbasis IT, (7) Trampil memanfaatkan IT (Information

Technology) dalam kegiatan pembelajaran, (8) Mengembangkan budaya dan

tradisi IT dalam segala bidang kegiatan, (9) Mampu memanfaatkan dan

menghayati pengalaman hidup selama di Madrasah, (10) Memiliki etos

belajar sepanjang hayat.136

Ada beberapa kompetensi yang agak mudah diukur seperti no 1, no

2, no 7, akan tetapi kompetensi yang lain, masih abstrak dan perlu dirumuskan

lebih rinci, sehingga dapat diukur dan direkam kegiatannya.

135
Moch. Nurhadi, Wawancara pada hari Sabtu, tanggal 16 Mei 2009.
136
Tim Penyusun SIM MTsN, Implementasi Sistem Informasi Manajemen Madrasah
Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro, : Team Pengembangan MTsN Kanigoro, 2008), hal. 34. Lihat
juga Materi Pelatihan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan MTsN Kanigoro, 2008 hal 35.
115

Oleh karena itu, agar Sistem Informasi Manajemen dapat diterapkan,

maka perlu indikator-indikator keberhasilan yang operasional dari masing-

masing kompetensi. Indikator-indikator inilah yang akan dimasukkan dalam

manual prosedur yang akan direkam sebagai bukti penerapan Sistem

Informasi Manajemen. Sehingga stakeholder dan customers menjadi lebih

mantap akan keberadaan SIM yang dijaminkan. Sebagaimana hasil

wawancara dengan Pembantu Kepala Madrasah bidang Penelitian dan

Pengembangan Madrasah :

Dalam sistem informasi manajemen, ada suatu ukuran yang harus


bisa diketahui. Sama halnya dengan kompetensi yang disebutkan standar
SIM MTsN Kanigoro, ia harus dapat diukur dan direkam kegiatannya.
Sehingga MTsN Kanigoro memerlukan indikator-indikator keberhasilan
yang operasional dari masing-masing kompetensi. Indikator-indikator
inilah yang akan dimasukkan dalam manual prosedur yang akan direkam
sebagai bukti pengembangan bidang akademik. Sehingga stakeholder dan
customers menjadi lebih mantap akan keberadaan SIM yang diterapkan137

Pengembangan Akademi tersebut di atas akan berbeda dengan Sistem

Akademik madrasah lainnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut:138

MTsN Kanigoro Madrasah Lain


a) Menguasai bahasa Arab. a) Tidak sama.

b) Menguasai bahasa Inggris. b) Sama.

c) Berwawasan Nasional, regional c) Tidak sama.

dan global.

137
Eny Nafiatin, Wawancara hari Sabtu, tanggal 30 Mei 2009.
138
Dokumentasi tentang Sistem Informasi Manajemen di Madrasah Tsanawiyah Negeri
Kanigoro
116

d) Mengembangkan kegiatan d) Tidak sama.

pembelajaran berbasis komputer.

e) Mengelola administrasi akademik e) Tidak Sama

berbasis IT.

f) Mengelola raport siswa dan daftar f) Tidak sama.

nilai harian berbasis IT.

g) Trampil memanfaatkan IT g) Tidak sama.

(Information Technology).

h) Mengembangkan budaya dan h) Tidak Sama.

tradisi berbasis IT.

i) Mampu memanfaatkan dan i) Sama.

menghayati pengalaman hidup

selama di Madrasah.

j) Memiliki etos belajar sepanjang j) Sama.

hayat.

Dalam merencanakan dan menerapkan SIM, MTsN Kanigoro harus

diketahui betul tingkat apa yang ingin diraihnya. SIM yang dikehendaki

MTsN Kanigoro tidak perlu meliputi semua model SIM yang sudah

dikemukakan oleh para tokoh. Tergantung dari tujuannya, MTsN Kanigoro

dapat memilih model-model SIM yang mana yang perlu mendapat tekanan.
117

Untuk tahap awal, MTsN Kanigoro menekankan pada SIM sebagai

pengambilan keputusan secara cepat. Sebagaimana dinyatakan oleh Ketua

team pengembangan Sistem Informasi Manajemen MTsN Kanigoro :

Mengutip Raymond McLeod bahwa SIM dikelompokkan menjadi


empat yaitu (1) SIM sebagai pengolahan transaksi (Expert System), (2)
SIM sebagai pendukung manajemen (Work Group Support System), (3)
SIM sebagai pendukung keputusan (Decision Support System), (4) SIM
sebagai pendukung pimpinan (Exscutive Support System). Dan pada tahap
awal ini MTsN Kanigoro menekankan pada yang nomor tiga, yaitu SIM
sebagai pendukung keputusan. Karena berusaha meraih semua model SIM
malah mungkin menyebabkan kesulitan sedemikian rupa, sehingga tidak
ada tindakan konkrit yang dapat dilaksanakan.139

Dari hasil observasi peneliti juga didapatkan beberapa data terkait

dengan konsep sistem informasi manajemen yang dianut Madrasah

Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro. Data itu bisa dituliskan sebagai

berikut:

Pada waktu itu, hari Rabu tanggal 3 Juni 2009 pada saat peneliti
berada diruang TU guna membina data mengenai kegiatan akademik
MTsN Kanigoro, pada saat itu, karena kepala TU sedang keluar secara
tidak sengaja peneliti melihat kepala madrasah sedang berdiri disebelah
salah satu pegawai administrasi. Dan pada saat itu kepala madrasah
bertanya seputar tugas yang dikerjakan oleh pegawai tersebut, apakah ada
masalah. Kemudian kepala madrasah memberikan pengarahan mengenai
tugas tersebut.140

Senada dengan data di atas, peneliti juga mendapatkan data serupa

ketika peneliti mulai masuk lebih dalam terkait pencarian data obyek

penelitian:

139
Akoh Istifa’, Wawancara pada hari Sabtu, tanggal 30 Mei 2009
140
Observasi, pada hari Rabu, tanggal 3 Juni 2009
118

Pada hari Rabu tanggal 17 Juni 2009 peneliti berusaha mengamati


kegiatan guru dalam menginput data nilai harian, nilai blok, nilai
semester, analisis hasil ulangan harian, ternyata peneliti mendapati bahwa
guru telah menginput data tersebut ketika di dalam kelas kemudian
dipindahkan ke dalam computer yang di sediakan oleh madrasah di ruang
guru.141

Penerapan sistem informasi manajemen, terutama yang berupa

produksi jasa atau pelayanan, sulit untuk dimengerti, sehingga orang

melihatnya sebagai pembororosan waktu dan tidak efisien, apalagi penerapan

sistem informasi manajemen itu hanya ikut-ikutan tanpa persiapan yang

masak. Akhirnya banyak terjadi suatu lembaga terbentur pada suatu sistem

informasi manajemen yang sulit ditangani dan tidak memajukan lembaga

dalam mencapai tujuannya.

Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro merupakan institusi

pendidikan yang memposisikan sebagai industri jasa, yaitu institusi yang

memberikan pelayanan (service) sesuai apa yang diinginkan pelanggan

(customers).142 Pelayanan atau jasa yang diberikan tentu harus berupa sesuatu

yang bermutu, yang bisa memberikan kepuasan pada customers, baik internal

customers maupun exsternal customers.

Sistem Informasi Manajemen di Madrasah Tsanawiyah Negeri

(MTsN) Kanigoro dirancang melalui tahap-tahap yang dirangkai dalam suatu

proses sebagai berikut :

141
Observasi, pada hari Rabu, tanggal 17 Juni 2009
142
Tim Penyusun SIM, Implementasi Sistem Informasi Manajmen MTsN Kanigoro Kras
Kediri, hal. 2.
119

a. Top Manajement (Kepala) Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro

bersama-sama seluruh jajaran manajemen bawahannya menyusun visi dan

misi MTsN Kanigoro.

Pada tahap awal ini MTsN Kanigoro melalui Top manajement dan

seluruh jajaran manajemen bawahannya menyusun visi dan Misi MTsN

Kanigoro. MTsN Kanigoro menyadari bahwa mutu suatu lembaga

pendidikan bisa dilihat dari rumusan visi dan misinya, yang kemudian visi

dan misi tersebut diwujudkan dalam proses pendidikan yang akan

dilakukan.

Ya jelas, bahwa setiap lembaga harus punya visi dan misi. Di


MTsN Kanigoro visi misi dibentuk atas empat unsur, yakni sejarah,
preferensi masa kini dari para pengelola dan manajemen atau
organisasi, lingkungan pengguna lulusan dan sumber daya organisasi.
Kami dan seluruh jajaran manajemen bawahan, mulai dari Kepala dan
semua stake holder merumuskan visi misi MTsN Kanigoro dengan
memeperhatikan keempat unsur tersebut.143

Hal senada disampaikan oleh pembantu kepala madrasah bidang

kurikulum :

….tidak sekedar visi dan misi saja yang dirumuskan oleh kepala dan
bawahannya, tetapi sekaligus tujuan MTsN Kanigoro dengan menggunakan
strategi penyusunan yang telah ditentukan, yakni: Visi MTsN Kanigoro
harus merupakan cita-cita bersama yang dapat menjadi sumber inspirasi,
motivasi dan kekuatan pembimbing yang merasuki pikiran dan tindakan
segenap pihak yang berkepentingan, Visi MTsN Kanigoro harus merupakan
cita-cita yang dapat memberika inspirasi bagi segenap pihak yang
berkepentingan untuk bertindak, Visi harus memuat tujuan dan ruang
lingkup kerja yang khas,……..dan visi seharusnya dirumuskan berdasarkan
masukan dari berbagai fihak yang berkepentingan. Sedemikiam juga dengan
143
Moh. Amak Burhanudin, Wawancara pada hari Senin, tanggal 08 Juni 2009.
120

misi dan tujuan MTsN Kanigoro ….. Top Management (Kepala, wakil
kepala madrasah, pembantu kepala madrasah, Kepala Bagian dan
sebagainya) harus mensosialisasikan visi dan misi serta tujuan MTsN ini ke
seluruh jajaran manajemen bawahan, guru dan karyawan serta pelanggan
dan stakeholders Madrasah Tsanawiyah Negeri Kanigoro…144

b. Berdasarkan visi dan misi MTsN Kanigoro tersebut, Madrasah Tsanawiyah

Negeri (MTsN) Kanigoro menentukan KSPM (Kebijakan, Standar,

Pedoman dan Manual Mutunya).

Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro menyadari bahwa

penerapan sistem informasi manajemen suatu lembaga pendidikan bisa

dilihat dari rumusan visi dan misinya, yang kemudian visi dan misi tersebut

diwujudkan dalam proses pendidikan yang akan dilakukan. Akan tetapi apa

yang disebutkan dalam visi misi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN)

Kanigoro, masih bersifat absolut dan masih bersifat das sollen. Jadi makna

pengembangan akademik seperti yang tertuang dalam visi misi itu masih

pengembangan dalam arti absolut, yang universal sifatnya. Maksudnya

semua orang akan setuju, bila pengembangan akademik seperti itu, karena

semuanya mengandung makna yang baik.

Untuk itu, pengembangan akademik dalam arti absolut, tidak bisa

digunakan untuk mengukur kualifikasi sistem informasi manajemen.

Sehingga MTsN Kanigoro memaknai sistem informasi manajemen dalam

arti relatif. Yaitu relatif menurut apa yang dikehendaki MTsN Kanigoro,

144
Mambaul Jazilah, Wawancara pada hari Jum’at, tanggal 24 Juli 2009.
121

melalui KSPM (Kebijakan, Standar, Pedoman dan Manual SIMnya). Hal

ini sebagaimana diungkapkan oleh Ketua SIM:

Ya kalau SIM itu bersifat absolut ya cukup sulit, karena SIM yang
diterapkan oleh lembaga akan pasti berbeda dengan SIM yang
diharapkan oleh pelanggan dan stakeholders. Untuk itu setelah Top
manajemen dan manajemen bawahan merumuskan visi misi, lembaga
(MTsN) melalui coordinator SIM merelatifkan SIM dalam bentuk visi
misi tersebut dengan membuat KSPM, yakni Kebijakan, Standar,
Pedoman dan Manual SIM yang pada akhirnya disahkan oleh Kepala dan
Pembantu Kepala Madrasah.145

Koordinator Bidang Sistem Informasi Manajemen menambahkan:

Standar SIM MTsN Kanigoro adalah batas atau ambang SIM


minimal yang harus dipenuhi atau dicapai oleh MTsN Kanigoro. Standar
SIM MTsN Kanigoro akan selalu mengacu pada visi MTsN Kanigoro
yang akan selalu ditingkatkan seiring dengan perkembangan dan harapan
dari stakeholders.146

Sebagaimana wawancara dengan Pembantu Kepala Madrasah

bidang Penelitian dan Pengembangan Madrasah :

SIM Pendidikan bagi MTsN Kanigoro dipahami sebagai pencapaian


tujuan yang telah ditetapkan oleh lembaga pendidikan di dalam rencana
Strategisnya (kebijakan Akademik) atau kesesuaian dengan Standar
Akademik yang telah ditentukan…147

Dan konsekuensi dari pengertian ini, maka sebagai tolok ukur

pengembangan akademik bagi MTsN Kanigoro ialah harus telah

mempunyai ketentuan tentang kebijakan Akademik dan Standar Akademik

yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan pendidikannya.

145
Akoh Istifa’, Wawancara pada hari Sabtu, tanggal 30 Mei 2009.
146
Zusfar Ilham Hani, Wawancara pada hari Rabu, tanggal 24 Juni 2009.
147
Eny Nafi’atin, wawancara pada hari Sabtu, tanggal 27 Juni 2009.
122

Ketua pengembangan SIM menambahkan bahwa:

…sedangkan Sistem Informasi Manajemen Pendidikan dipahami


sebagai program untuk pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan koreksi
sebagai tindakan penyempurnaan atau peningkatan mutu yang
berkelanjutan dan sistematis terhadap semua aspek (sarana/prasarana,
pengelola, kepemimpinan, masukan, proses pengelolaan, keluaran dan
dampak) lembaga pendidikan sesuai dengan kebijakan Akademik dan
Standar Akademik yang telah ditetapkan, dan dalam rangka
meyakinkan tentang kesempurnaan pencapaian standar kompetensi
lulusan yang telah dinyatakan dalam visi, misi, tujuan dan proses
pendidikan menengah kepada semua pihak eksternal dan internal,
pengelola, semua pimpinan lembaga terkait, organisasi profesi, dan
masyarakat pengguna yang lebih luas.148

Sistem Informasi Manajemen pendidikan seperti yang tersebut di

atas adalah sangat sempurna dan ideal, dan baru dilaksanakan oleh

Lembaga Pendidikan yang sudah maju dan komplit perlengkapannya.

Namun demikian, tidak berarti bahwa upaya pengembangan akademik

Pendidikan Menengah menunggu sampai kelengkapan Lembaga tersebut

lengkap. Justru itu pengelola lembaga pendidikan bisa menempuh strategi

prioritas bagian mana yang diupayakan untuk dijamin lebih dulu. Dan

secara bertahap bergiliran ke bagian yang lain. Dan di MTsN Kanigoro,

yang didahulukan adalah bagian yang langsung menyentuh proses kualitas

yaitu bagian proses pelaksanaan kegiatan akademik, yang dinamakan

pengembangan proses pembelajaran. Sebagaimana diungkapkan oleh

Pembantu Kepala Madrasah bidang Kurikulum :

Dan pada prakteknya pada tahun 2004-2008 MTsN Kanigoro ---


dalam pengembangan akademiknya----, melakukan beberapa langkah
148
Akoh Istifa’, Wawancara pada hari Rabu, tanggal 17 Juni 2009
123

antara lain; perumusan the Body of Knowledge, pengembangan


kurikulum dan akreditasi (program studi dan institusi).149

Terkait dengan kondisi obyektif lembaga pendidikan, dimensi yang

akan diterapkan Sistem Informasi Manajemennya dipilih secara prioritas,

sesuai dengan kemampuannya yang tersedia. Untuk MTsN Kanigoro yang

didahulukan ialah dimensi proses terutama proses pembelajaran.

Ya harus dipilih secara prioritas, mana yang harus didahulukan dan


mana yang diakhirkan. Di MTsN Kanigoro dimensi proses pembelajaran
yang didahulukan…150

c. Pembuatan dokumen-dokumen tentang Manual SIM, Sasaran SIM tiap unit,

Manual Prosedur tiap unit, dan Instruksi Kerja tiap unit dibuat dan disahkan

untuk diimplementasikan.

Setelah Dokumen tingkat Top Manajemen (Kebijakan, Standar,

Pedoman dan Manual SIM) telah dibuat, pada gilirannya setiap unit

membuat dokumen-dokumen tentang Manual SIM, Sasaran SIM, Manual

Prosedur, dan Instruksi Kerja tiap unit. Sebagaimana diungkapkan oleh

Pengurus Komite :

Ya setelah Madrasah membuat Dokumen-dokumen, mulai


Kebijakan, Standar, Pedoman dan Manual SIM kemudian ini
dilanjutkan oleh tingkat Unit. Setiap unit membuat dokumen-dokumen
penting tersebut dengan fasilitator SIM. Saat ini semuanya masih
dsalam tahap perencanaan…151

Hal senada juga diungkapkan oleh Sekertaris pengembangan SIM :

149
Mambaul Jazilah, Wawancara pada hari Senin tanggal 8 Juni 2009.
150
Ibid.
151
Ibrahim, Wawancara pada hari Senin, tanggal 22 Juni 2009.
124

Belum….untuk tahap awal ini kami mulai dengan memberikan


arahan dan pendampingan. Sebenarnya sudah dari awal kami mulai
melakukan pendampingan perumusan dokumen, tetapi pada
kenyataannya dokumen juga belum terumuskan.152

d. MTsN Kanigoro menyelenggarakan Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) dari

hasil temuan evaluasi pelaksanaan sistem informasi manajemen.

Setelah MTsN Kanigoro mengevaluasi pelaksanaan sistem jaminan

mutu melalui pemenuhan status ideal (benchmarking) secara berkelanjutan,

pada tahap perancangan selanjutnya adalah dengan menyelengarakan Rapat

Tinjauan Manajemen (RTM) dari hasil temuan Audit Mutu Internal, ini

dilakukan dalam rangka mencarikan jalan pemecahan dari hasil temuan

Audit Mutu Internal tersebut. Sebagaimana yang dikemukakan oleh

Koordinator Bidang Pengembangan dan Pelaksanaan Jaminan Mutu:

Di MTsN Kanigoro ini penerapan SIM kan bertolak pada penerapan


SIM pada proses. Setelah dokumen-dokumen madrasah ditetapkan,
disusul dengan dokumen-dokumen di bawahnya setelah itu dilaksanakan
oleh elemen di MTsN. La….pada tahap selanjutnya MTsN butuh yang
namanya evaluasi dari proses pelaksanaan tadi, mulai monitoring,
pengukuran dan evaluasi diri, serta audit mutu internal. Dari hasil temuan-
temuan nanti akan dibawa ke sdalam Rapat Tinjauan Manajemen untuk
dicarikan solusi pemecahannya…153

Hal senada juga disampaikan oleh Koordinator Bidang Pengembangan

SIM:

RTM pada dasarnya merupakan tahapan perencanaan setelah evaluasi


pelaksanaan sistem dilakukan. Kendala yang terjadi dalam proses kegiatan
di jurusan, program studi dan unit secara khusus serta kesalahan-kesalahan
umum yang dilakukan dalam proses pelaksanaan sistem yang ditemukan

152
Saiful Ali, Wawancara pada hari Senin, tanggal 29 Juni 2009.
153
Kasiram, Wawancara tanggal 28 Juli 2007.
125

dari audit internal kemudian dilaporkan, untuk kemudian dicari solusinya


pada RTM ini.154

Dari hasil RTM tersebut akan diputuskan apakah dilakukan tindakan

koreksi (jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaan) atau perbaikan Sistem

Informasi Manamen (SIM) (jika kelemahan ditemukan pada sistem).

Perbaikan Sistem Informasi Manajemen tersebut dilakukan dengan

memperbaiki Kebijakan, Standar, Manual Mutu, Manual Prosedur, Instruksi

Kerja atau Sistem Pelaksanaan. Sebagaimana diungkapkan oleh Ketua

Pengembangan SIM MTsN:

Setelah itu akan dilanjutkan pada upaya perbaikan, yakni dari hasil
RTM akan diputuskan apakah dilakukan tindakan koreksi atau perbaikan
Sistem Manajemen Mutu (SMM). Perbaikan Sistem Manajemen Mutu
tersebut dilakukan dengan memperbaiki Kebijakan, Standar, Manual Mutu,
Manual Prosedur, Instruksi Kerja atau Sistem Pelaksanaan. Demikian siklus
berputar secara terus menerus dengan menekankan pengembangan secara
terus menerus (continuous Improvement) dengan menunjukkan praktek
terbaik pada seluruh pelaksanaan proses.155

2. Kendala yang dihadapi dalam penerapan Sistem Informasi Manajemen

dalam pengembangan Sistem Akademik di MTsN Kanigoro

Menerapkan Sistem Informasi Manajemen (SIM) memiliki

konsekuensi menentang kemapanan, apalagi menerapkannya. Ada

kecenderungan bahwa staf pada umumnya menentang perubahan, terutama

bila perubahan itu mempermasalahkan kinerja mereka. Upaya peningkatan

154
Akoh Istifa’, Wawancara pada hari Selasa, tanggal 23 Juni 2009.
155
Ibid.
126

mutu memerlukan komitmen waktu, usaha dan biaya yang lebih banyak.

Merancang dan melaksanakan sistem penjaminan mutu bukan merupakan

suatu tindakan yang dimulai pihak manajemen untuk dilaksanakan oleh

seluruh lapisan dan hirarki dalam organisasi begitu saja. Upaya ini melibatkan

kerjasama seluruh staf dengan arahan, kepemimpinan dan komitmen yang

sungguh-sungguh dari pihak manajemen serta alokasi sumber daya yang

memadai untuk mencapai mutu yang dikehendaki mahasiswa dan pihak yang

berkepentingan. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Kepala Madrasah:

Merancang dan menerapkan Sistem Informasi Manajemen (SIM) pada


dasarnya bukan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh pihak top
manajemen saja, bukan dari kami (Kepala Madrasah) saja yang kemudian
secara serta merta menginstruksikan kepada para bawahannya untuk
melakukannya. Akan tetapi kegiatan ini dirancang dan dilaksanakan oleh
semua pihak yang ada di lembaga ini (MTsN), dan tentunya dengan
arahan dan komitmen dari pihak manajemen.156

Ketua team pengembangan Sistem Informasi Manajemen Madrasah


menambahkan:

Ya itu perlu proses, karena setidaknya penerapan SIM ini memerlukan


waktu yang lama serta alokasi sumber daya yang memadai untuk
mengembangkan bidang akademik yang dikehendaki siswa dan pihak
yang berkepentingan.157

Dalam skala kompleksitas kelembagaannya, beberapa hambatan yang

ditemui dari penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) di MTsN

Kanigoro, yaitu:

156
Moh. Amak Burhanudin, Wawancara pada hari Kamis, tanggal 25 Juni 2009.
157
Akoh Istifa’, Wawancara pada hari Selasa, tanggal 23 Juni 2009.
127

a. Minimnya pengetahuan para staf MTsN kanigoro terkait Sistem Informasi

Manajemen (SIM).

Tuntutan sistem informasi manajemen setiap lembaga

pendidikan sudah menjadi kebutuhan di era globalisasi sekarang ini.

Penerapan SIM tidak akan bisa jalan tanpa dukungan seluruh elemen di

madrasah tersebut, dari tingkat teratas sampai pada level terbawah, dari

kepala madrasah sampai tukang sapu.

Di MTsN Kanigoro, para staf dan elemen lembaga tidak semuanya

tahu dan paham akan penerapan SIM ini. Meskipun bisa dikatakan bahwa

tidak semua staf dan elemen MTsN Kanigoro yang tahu dan paham akan

konsep ini. Hasil wawancara dengan Wakil Ketua team pengembangan

SIM Madrasah menyatakan:

Ya itu dia….bahwa itulah salah satu kelemahan di MTsN Kanigoro


dalam rangka proses penerapan SIM. Masih minimnya pengetahuan
para staf MTsN Kanigoro terkait Sistem Informasi Manajemen (SIM)
menjadikan top manajemen MTsN harus segera mengadakan sosialisasi
melalui lembaga terkait. Karena kalau tidak sesegera diatasi maka akan
menimbulkan kesulitan tersendiri bagi lembaga, misalnya dalam proses
penerapan SIM secara khusus.158

Dari hasil observasi peneliti juga didapatkan beberapa data terkait

minimnya pengetahuan para staf MTsN Kanigoro terkait Sistem Informasi

Manajemen (SIM). Data itu bisa dituliskan sebagai berikut:

Pada waktu itu, tanggal 16 Mei 2009 peneliti mulai masuk di lokasi
penelitian secara formal. Saat pertama kali masuk ke lokasi penelitian,
peneliti agak mengalami kebingungan. Karena peta penelitian yang
158
Uzfar, Wawancara pada hari Sabtu, tanggal 13 Juni 2009.
128

selama ini peneliti bayangkan jauh berubah dibanding ketika tahun


2007 kemarin peneliti mengadakan penelitian dalam rancangan
penerapan SIM. Ini dimaklumkan karena kondisi MTsN saat ini sedang
mengadakan pembangunan lokasi kantor dan gedung baru bertingkat
tiga, sehingga lokasi perkantorannya juga mengalami pergantian secara
total. Pada saat itu pula peneliti juga mulai mengalami kebingungan
konseptual, karena pikiran awal yang peneliti bawa dari rumah ternyata
juga dimentahkan dengan realitas staf tertentu yang jauh dari
“memuaskan”. Peneliti juga menggumam dalam hati “kok beda ya
pelayanannya dengan tahun yang kemarin ?”.159

Senada dengan data di atas, peneliti juga mendapatkan data serupa

ketika peneliti mulai masuk lebih dalam terkait pencarian data obyek

penelitian:

Senin tanggal 8 Juni 2009, peneliti memasuki lokasi penelitian dengan


harapan mendapatkan data sesuai yang diharapkan. Dengan berbekal
surat ijin penelitian dari manajemen lembaga yang diteliti penulis
dengan sangat berhati-hati mengutarakan maksudnya untuk
mendapatkan data kepegawaian dan data guru di Bagian Kepegawaian.
Pada tahap awal, peneliti disambut dengan baik oleh salah satu staf di
kantor tersebut dengan menanyakan surat ijin dari lembaga. Setelah
staf tersebut mengiyakan,….belum lama ia mengucapkan iya giliran
salah satu staf menanyakan kepada peneliti terkait surat menyurat serta
keterkaitan penelitian dengan bagian kepegawaian. Dengan sangat
berhati-hati peneliti menjelaskan kepada dia, akan tetapi apa yang
peneliti sampaikan dengan bahasa santun tersebut malah
dipertanyakan dengan argumentasi anak kecil Yang lebih lucu staf
tersebut malah menyalahkan kantor bagian lain di lembaga, yang lebih
naifnya menyalahkan salah satu top manajer di lembaga tersebut.160

b. Masih minimnya kesadaran dan komitmen para staf (pimpinan, guru, dan

karyawan) MTsN Kanigoro dalam upaya penerapan Sistem Informasi

Manajemen (SIM).

159
Observasi Peneliti pada hari Selasa, tanggal 16 Juni 2009.
160
Ibid.
129

Meskipun tidak semuanya staf MTsN Kanigoro mempunyai

karakter seperti di atas, tetapi dalam upaya untuk menciptakan sebuah

kultur (budaya) penerapan SIM akan sangat berpengaruh. Jikalau

kesadaran akan peningkatan penerapan SIM tidak segera dimiliki oleh

semua elemen lembaga, maka lambat jargon Sistem Informaai Manajemen

(SIM) akan cuma menjadi slogan belaka. Dan sebaliknya, apabila

kesadaran dan komitmen ini sudah dimiliki serta tertanam sejak dini pada

setiap individu lembaga, maka lambat laun budaya penerapan SIM akan

segea tercipta. Sebagaimana dikemukakan oleh Koordinator Bidang

Pengembangan dan Pelaksanaan Sistem Informasi Manajemen Madrasah:

Ada dua alasan pokok yang bisa dikemukakan, pertama bahwa


MTsN Kanigoro sudah bertekad dan berjanji untuk mengembangkan
bidang akademiknya berkualifikasi sebagai madrasah yang dicintai
Allah dan masyarakat. Untuk lebih konkritnya, janji ini dituangkan
dalam visi dan misi MTsN Kanigoro, bahwa: MTsN Kanigoro
mennciptakan madrasah yang memiliki 4 kekuatan pokok yaitu;
keluasan ilmu dan kematangan professional. Alasan kedua ialah bahwa
di era globalisasi ini, MTsN Kanigoro telah mengubah paradigma
lama menjadi paradigma baru. Paradigma lama menyatakan bahwa
segala sesuatu yang berkaitan dengan kualitas madrasah ditentukan
menurut kehendak Madrasah yang bersangkutan, akan tetapi
paradigma baru ini menyatakan, bahwa kualitas madrasah diukur
dengan kepuasan pelanggan. Pelanggan akan terpuaskan jika
Madrasah bisa menerapkan SIM dalam melayani bidang akademiknya
seperti yang telah ditentukan (dijanjikan) pada saat pelanggan (orang
tua) memasukkan anaknya ke MTsN Kanigoro. Itu semua yang harus
segera ditanamkan pada individu lembaga ini.161

c. Terbatasnya dana yang tersedia terkait penerapan Sistem Informasi

Manajemen (SIM).
161
Akoh Istifa’, Wawancara pada hari Selasa, tanggal 30 Juni 2009.
130

Dalam upaya penerapan SIM dalam pengembangan bidang

akademik, kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro selalu

mendorong para bawahannya untuk mengikuti sejumlah kegiatan

pendidikan seperti seminar, penataran, lokakarya dan diklat. Namun

begitu dalam pelaksanaannya, ada sedikit kendala mengenai ketersediaan

dana. Apalagi kalau penataran, pelatihan/seminar diadakan oleh

lembaga/instansi lain dan diadakan di luar kota, tentunya membutuhkan

dana yang tidak sedikit. Sebagaimana disampaikan oleh kepala madrasah:

“Ya...memang keterbatasan dana juga merupakan salah satu


kendala dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan seperti penataran,
seminar dan pelatihan. Apalagi kalau misalnya kegiatan tersebut
diadakan di luar kota, maka tentunya akan membutuhkan dana
yang tidak sedikit...”.162

Hal senada juga disampaikan oleh waka Sarpras:

“Ketersediaan dana merupakan salah satu kendala dalam


pengikutsertaan para tenaga kependidikan kesejumlah kegiatan
pendidikan seperti seminar, pelatihan ataupun diklat walaupun
juga ada kendala lain selain dana dalam pelaksanaannya....”.163

3. Pemecahan masalah dari penerapan Sistem Informasi Manajemen dalam

pengembangan Sistem Akademik di MTsN Kanigoro

Melihat beberapa kendala di atas, asumsi dasar yang digunakan

MTsN Kanigoro untuk mengatasi kendala yang ditemui dalam penerapan SIM

ini adalah bahwa penerapan SIM memerlukan kekuatan riil, berupa cita-cita

162
Moh. Amak Burhanudin, Wawancara pada hari Sabtu, tanggal 13 Juni 2009
163
Sigit Prawata, Wawancara pada hari Rabu, tanggal 10 Juni 2009
131

yang melahirkan etos atau semangat gerak, manajemen dan pendanaan.

Semua kekuatan itu dapat bersumber dari dalam atau yang biasa disebut

dengan faktor internal maupun yang bersumber dari luar atau faktor eksternal.

Atas dasar pandangan itu, maka strategi yang dikembangkan ialah

bagaimana menumbuhkembangkan etos, mengoperasionalkan manajemen dan

menggali dana yang diperlukan.164

a. Mengoperasionalisasikan Manajemen

Inti manajemen adalah kemampuan mengelola, menggerakkan dan

memanfaatkan seluruh kekuatan yang dimiliki secara maksimal untuk

meningkatkan mutu pendidikan di MTsN Kanigoro sebagai lembaga

pendidikan Islam unggulan. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala

Madrasah:

Pengembangan manajemen dilakukan melalui pendekatan holistik, yaitu


yang dapat menyentuh berbagai aspek yang meliputi: Pertama,
Pengembangan aspek material, moral spiritual dan emosional.
Pengembangan aspek material berupa peningkatan kesejahteraan dan
kualitas hidup; aspek moral spiritual dikembangkan melalui kegiatan
pengalaman keagamaan, seperti melakukan shalat berjama’ah di masjid,
pembudayaan puasa Senin Kamis, khatmil Qur’an, dan sebagainya. Aspek
emosional ini dapat dikembangkan melalui sentuhan individu maupun
kelompok. Kedua, pengembangan profesional. Pengembangan ini
berupaya meningkatkan kadar keilmuan, keahlian dan keterampilan SDM
yang dimiliki. Ketiga, pengembangan program pendidikan.
Pengembangan ini berupaya membuka program-program pendidikan yang
responsif terhadap kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Ketiga,
pengembangan organisasi/kelembagaan. Pengembangan ini berupaya
memberikan pelayanan yang mudah, ramah, cepat, dan meninggalkan
kesan birokratis yang berbelit-belit. Keempat, pengembangan silaturrahmi.

164
Hari Subagiao, . Wawancara pada hari Rabu, tanggal 17 Juni 2009
132

Pengembangan ini berupaya menumbuhkembangkan silaturrahmi antara


warga besar sivitas akademika, orang tua/wali murid dan masyarakat yang
terlibat dalam pengembangan SIM MTsN Kanigoro. 165

b. Menumbuhkembangkan Etos SDM

Pertanyaan dasar yang perlu dijawab adalah bagaimana

menumbuhkan partisipasi sehingga penerapan SIM di MTsN Kanigoro ini

menjadi milik bersama seluruh warga MTsN Kanigoro. Pemahaman dan

kesadaran seperti ini dipandang strategis dikembangkan dengan alasan

bahwa penerapan SIM pada intinya adalah peningkatan partisipasi secara

menyeluruh dan terus menerus. Artinya, setiap orang yang terikat dengan

komitmen penerapan SIM ini memiliki obsesi mengembangkan diri dan

lingkungannya yang tidak mengenal berhenti dan pembatasan-pembatasan

apa saja. Sebagaimana dikemukakan oleh Kepala Madrasah:

Penerapan SIM di MTsN Kanigoro ini harus menjadi milik


bersama seluruh eleman warga MTsN Kanigoro. Pemahaman dan
kesadaran seperti ini harus dikembangkan dengan alasan bahwa
penerapan SIM pada intinya adalah peningkatan partisipasi secara
menyeluruh dan terus menerus dari semua pihak tersebut. Artinya,
setiap orang yang terikat dengan komitmen penerapan SIM ini memiliki
obsesi mengembangkan diri dan lingkungannya yang tidak mengenal
berhenti dan pembatasan-pembatasan di sekitarnya.166

Pengembangan SDM MTsN Kanigoro dipandang sebagai

persoalan inti atau sine qua non terhadap perkembangan lainnya, baik

yang menyangkut pengembangan secara fisik, akademik dan juga

165
Amak Burhanudin, Wawancara pada hari Selasa, tanggal 16 Juni 2009.
166
Amak Burhanudin, Wawancara pada hari Selasa, tanggal 16 Juni 2009.
133

pendanaan. Semua itu akan berhasil dikembangkan jika lembaga ini

memiliki tenaga yang berkualitas. Lembaga Pendidikan Islam akan

menjadi besar jika memiliki kekuatan SDM yang cakap, penuh dedikasi,

ikhlas beramal, berwawasan luas, proaktif terhadap persoalan

lingkungannya dan memiliki visi ke depan. Atas dasar pemikiran ini maka

SDM-lah yang justru selayaknya dipandang sebagai harta yang hakiki

oleh sebuah lembaga MTsN Kanigoro. Sebagaimana disampaikan oleh

Ketua Team pengembangan SIM Madrasah:

Kita yang ada di MTsN Kanigoro merasa terpanggil untuk keluar


dari kemelut turunnya mutu pendidikan kita. Pengembangan SDM
MTsN Kanigoro dipandang sebagai persoalan inti terhadap
perkembangan lainnya, baik yang menyangkut pengembangan secara
fisik, akademik dan juga pendanaan. Semua itu akan berhasil
dikembangkan jika lembaga ini memiliki tenaga yang berkualitas.
Atas dasar pemikiran ini maka SDM-lah yang justru selayaknya
dipandang sebagai harta yang hakiki oleh sebuah lembaga.167

Persoalan selanjutnya adalah bagaimana mengembangkan

partisipasi dan mengembangkan kualitas tenaga manusia. Lebih lanjut

Kepala Madrasah juga mengemukakan jawaban yang dapat diajukan

sementara ini adalah melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

Jalan yang kami rasa cukup relevan ya dengan melakukan dialog


terbuka mengenai penerapan SIM dari hati ke hati secara terus
menerus, menugaskan kepada mereka melakukan studi banding ke
berbagai sekolah yang sudah maju, menyelenggarakan workshop dari
para ahli, memberikan peran-peran sesuai dengan minat dan
kemampuan masing-masing pendidik dan tenaga kependidikan. 168

167
Akoh Istifa’, Wawancara pada hari Sabtu, tanggal 13 Juni 2009.
168
Amak Burhanudin, Wawancara pada hari Sabtu, tanggal 13 Juni 2009.
134

c. Membangun budaya penerapan SIM dan penguasaan IT.

Membangun budaya SIM berpangkal pada penanaman nilai

budaya baru yang dinginkan. Pada setiap masyarakat atau community nilai

budaya baru yang akan dibangun berbeda satu sama lain, sesuai dengan

cita-cita luhur yang akan dicapai bersama. Semakin cocok nilai-nilai yang

akan dibangun itu dengan nilai-nilai yang dicita-citakan, orang akan

makin puas dan semakin gigih ikut ambil bagian dalam gerakan

pembangunan tersebut. Inilah nilai budaya yang disebut budaya

berkualitas atau quality culture.

Agar MTsN Kanigoro bisa membangun sebuah gerakan

penguasaan IT seperti yang dmaksud di atas, maka ada empat unsur yang

mendorong atau mempengaruhi pengembangan organisasi, yaitu :169

1) ”Manusia/perilaku”; Aktivitas organisasi ditentukan oleh interaksi

antar individu atau antar kelompok, norma-norma informal, persepsi,

peran, pemimpin, konflik dalam kelompok, dan sebagainya. Perilaku

organisasi dalam banyak hal juga ditentukan oleh perilaku kelompok

dan perilaku individu.

2) “Teknologi”, yaitu Teknologi dapat diartikan sebagai tindakan yang

dilakukan oleh orang terhadap objek dengan atau tanpa alat bantuan

perkakas atau alat mekanis, untuk mengadakan perubahan tertentu

169
Wahyudi Kumorotomo, Sistem Informasi, 111
135

dalam objek tersebut. Secara luas teknologi juga bisa berarti penerapan

pengetahuan untuk melaksanakan pekerjaan.

3) “Tugas (task)”, yaitu Efisiensi organisasi dapat dicapai dengan

menyusun tugas dan pekerjaan secara sistematis. Konsepsi inilah yang

mendasari sistem pembagian kerja fungsional atau spesialisasi

menurut jenis pekerjaan.

4) “Struktur”. Struktur dipergunakan untuk mengendalikan organisasi

dan membedakan bagian-bagiannya guna mencapai tujuan bersama.

Yang dimaksud struktur adalah penetuan rentang kendali, pelimpahan

wewenang, formalisasi, dan sebagainya, yang membuat aktivitas

organisasi berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

Disamping itu, agar MTsN Kanigo bisa membangun sebuah

penerapan Sistem Informasi Manajemen seperti yang dmaksud di atas,

maka ada sejumlah nilai budaya yang harus dimiliki oleh setiap personil

MTsN Kanigoro yaitu sebagai berikut:170

1) “Were All in Together”, yaitu kebersamaan antara lembaga, stake

holders dan customer. Keberhasilan upaya lembaga tergantung

bagaimana kelompok-kelompok individu bekerja bersama

mensukseskan tercapainya tujuan organisasi. Untuk itu perlu

dibentuk Tim dan Team Works serta membangun kesetiaan para

anggota (seperti guru dan karyawan MTsN Kanigoro).


170
Tim Penyusun SIM, Implementasi Sistem............................, hal. 80
136

2) “No Subordinates or Superior Allowwed”, yaitu suatu suasana kerja

yang tidak bersifat atasan bawahan, akan tetapi pimpinan dan

anggota saling bekerjasama, bantu membantu, saling mebutuhkan

untuk tujuan bersama. Bagi tim yang sudah mapan, bisa dilepas

sendiri tanpa keterlibatan pimpinan lembaga.

3) “Open, Honest Communication is Vital”, yaitu keterbukaan dan

kejujuran dalam berkomunikasi merupakan hal vital antara

Pimpinan Lembaga, Stakeholders dan Customers. Untuk itu, perlu

dibangun budaya empathy dan listening, bagi siapa saja yang

terlibat.

4) “Every One Can Acces All Kind of Information are Needed”. Setiap

orang harus bisa mengakses semua bentuk informasi yang mereka

butuhkan. Meskipun pekerjaan dilakukan berdasarkan hierarchies,

tetapi harus tetap berfokus pada team, processes dan projecks.

Adapun informasi bisa disebarkan luaskan lewat modern computer

technology of networking, yang ternyata sangat mudah dan cepat.

Dalam hal ini, harus dihindari semua bentuk spekulasi dan jangan

membatasi informasi, yang seharusnya bisa diakses oleh semua

pihak.

“Focus on Procceses”. Proses adalah gambaran bagaimana

sesuatu kegiatan itu dikerjakan dari awal sampai selesai. Penitik

beratan pada proses, bukan pada materi atau pada produk adalah untuk
137

membangun pemahaman, pengertian, pengetahuan kepada semua

pihak tentang seluk beluk suatu kegiatan sehingga setiap orang yang

terlibat akan dapat mengikuti dan melakukan kegiatan tersebut dengan

benar dan sekaligus dapat mengontrol bila ada kesalahan dalam

pelaksanaannnya. Seperti kegiatan registrasi, perkuliahan, ujian dan

sebagainya.

Nilai-nilai tersebut di atas bila telah menjadi milik setiap

personal, maka nilai-nilai tersebut bisa membantu lembaga, karyawan

dan manajer untuk secara sungguh-sungguh memperhatikan kekuatan

mereka sendiri. Akan tetapi, tetap menampilkan kesederhanaan,

terbuka dan segala tindakan selalu berpusat pada apa yang seharusnya

mereka lakukan yaitu bagaimana bekerja lebih baik untuk memenuhi

kebutuhan customers.

Budaya penerapan SIM seperti ini sudah mulai bergaung di

MTsN Kanigoro. Para Guru sudah berlomba untuk sesegera

menguasai IT sekaligus menyelesaikan program S-2 nya. Karya ilmiah

Guru sudah bermunculan, proposal penelitian tindakan kelas sudah

diperebutkan. Demikian juga para karyawan, sudah jauh lebih baik

penampilan dan etos kerjanya. Dengan demikian membangun budaya

penerapan SIM tidak sesulit seperti pada saat sebelum menerapkan

SIM di MTsN Kanigoro dahulu. Untuk memperkuat tumbuhnya

budaya penerapan SIM, perlu dimulai dengan sebuah gerakan


138

penguasaann IT yang melibatkan seluruh unit, lembaga, atau

stakeholder dengan tujuan pokok bagaimana supaya semuanya dapat

menerapkan SIM dalam segala bidang, sehingga diharapkan dapat

mengambil keputusan secara cepat, tepat, efesien dan efektif.

C. Temuan Penelitian

1. Berkaitan dengan Konsep Sistem Informasi Manajemen (SIM) dalam

pengembangan bidang Akademik di Madrasah Tsanawiyah Negeri

(MTsN) Kanigoro

Berdasarkan paparan data sebelumnya dapat dikemukakan

bahwa MTsN Kanigoro menyadari bahwa konsep SIM mengandung banyak

tafsir, yang mengakibatkan setiap orang akan berbeda dalam memahaminya.

Sehingga untuk menjawab apakah madrasah itu menerapkan Sistem Informasi

Manajemen (SIM) atau tidak sulit untuk memperoleh pendapat yang sama.

Meskipun demikian, ada kriteria umum yang disepakati tentang

konsep SIM itu. Yakni bahwa madrasah itu dikatakan menerapkan SIM, pasti

madrasah itu memberikan pelayanan yang baik atau mengandung makna yang

baik. Sebaliknya madrasah itu dikatakan tidak menerapkan SIM, bila

madrasah itu mempunyai pelayanan yang kurang baik atau mengandung

makna yang kurang baik.

Bagi MTsN Kanigoro penerapan SIM di madrasah bisa dilihat dari

rumusan visi dan misinya, yang kemudian visi dan misi tersebut diwujudkan

dalam proses pendidikan yang akan dilakukan. Tiap lembaga pendidikan


139

mempunyai visi dan misi sendiri-sendiri, yang sudah pasti satu sama lain

berbeda. Demikian juga penerapan SIM yang akan dicapai.

Akan tetapi apa yang tertuang dalam Visi Misi Madrasah

Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro, masih bersifat absolut, yang

seharusnya begitu, masih bersifat das sollen. Artinya bahwa semua orang

akan setuju, bila pengembangan bidang akademik seperti itu, karena

semuanya mengandung makna yang baik. Sehingga SIM dalam arti absolut

tersebut harus dirumuskan menjadi SIM dalam arti relatif, yaitu sesuai apa

yang dikehendaki oleh MTsN Kanigoro.

Seperti yang dijanjikan dalam standar penerapan SIM, MTsN

Kanigoro dengan academic exxelence yang diselenggarakan menjanjikan ciri-

ciri pengembangan akademik sebagai berikut: (1) Menguasai bahasa Arab, (2)

Menguasai bahasa Inggris, (3) Berwawasan Nasional, regional dan global, (4)

Mengembangkan kegiatan pembelajaran berbasis komputer, (5) Mengelola

administrasi akademik berbasis IT, (6) Mengelola raport siswa dan daftar nilai

harian berbasis IT, (7) Trampil memanfaatkan IT (Information Technology)

dalam kegiatan pembelajaran, (8) Mengembangkan budaya dan tradisi IT

dalam segala bidang kegiatan, (9) Mampu memanfaatkan dan menghayati

pengalaman hidup selama di Madrasah, (10) Memiliki etos belajar sepanjang

hayat.

Agar pengembangan bidang akademik dapat dilaksanakan, maka

perlu indikator-indikator keberhasilan yang operasional dari masing-masing


140

kompetensi. Indikator-indikator inilah yang akan dimasukkan dalam manual

prosedur yang akan direkam sebagai bukti pengembagnan bidang akademik.

Sehingga stakeholder dan customers menjadi lebih mantap akan keberadaan

bidang akademik yang dikembangkan.

Dalam merencanakan dan menerapkan SIM MTsN Kanigoro harus

diketahui betul tingkat apa yang ingin diraihnya. Penerapan SIM yang

dikehendaki MTsN Kanigoro tidak perlu meliputi semua dimensi penerapan

SIM yang sudah dikemukakan oleh para tokoh SIM. Tergantung dari

tujuannya, MTsN Kanigoro dapat memilih dimensi-dimensi SIM yang mana

yang perlu mendapat tekanan. Untuk tahap awal, MTsN Kanigoro

menekankan pada SIM sebagai pengambil keputusan secara cepat.

Temuan mengenai Konsep SIM yang dianut oleh Madarah

Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro dapat dilihat dalam gambar.

SIM
MTsN Kanigoro

Visi Misi
MTsN Kanigoro Relatif Ciri-ciri
Akademik

Absolut

Proses

Gambar 4.2. Konsep SIM yang dianut oleh MTsN Kanigoro.


141

Sistem Informasi Manajemen di Madrasah Tsanawiyah Negeri

(MTsN) Kanigoro dirancang melalui tahap-tahap yang dirangkai dalam suatu

proses sebagai berikut :

a. Top Manajement (Kepala) Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN)

Kanigoro bersama-sama seluruh jajaran manajemen bawahannya

menyusun visi dan misi MTsN Kanigoro.

b. Berdasarkan visi dan misi MTsN Kanigoro tersebut, Madrasah

Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro menentukan KSPM (Kebijakan,

Standar, Pedoman dan Manual Mutunya).

c. Pembuatan dokumen-dokumen tentang Manual SIM, Sasaran SIM tiap

unit, Manual Prosedur tiap unit, dan Instruksi Kerja tiap unit dibuat dan

disahkan untuk diimplementasikan.

2. Berkaitan dengan kendala yang dihadapi dari penerapan Sistem

Informasi Manajemen dalam pengembangan bidang Akandemik di

Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro

Paparan data yang kedua menunjukkan bahwa dalam sebuah proses,

tidak ada satupun yang bisa berjalan secara sempurna, tak terkecuali dalam

proses penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) di MTsN Kanigoro.

Upaya penerapan SIM memerlukan komitmen waktu, usaha dan biaya yang

lebih banyak. Penerapan SIM dalam pengembangan bidang akademik bukan

merupakan suatu tindakan yang dimulai pihak manajemen untuk dilaksanakan

oleh seluruh lapisan dan hirarki dalam organisasi begitu saja. Upaya ini
142

melibatkan kerjasama seluruh staf dengan arahan, kepemimpinan dan

komitmen yang sungguh-sungguh dari pihak manajemen serta alokasi sumber

daya yang memadai untuk menerapkan SIM yang dikehendaki siswa dan

pihak yang berkepentingan.

Beberapa hambatan yang ditemui dari proses penerapan Sistem

Informasi Manajemen (SIM) di MTsN Kanigoro, yaitu:

a. Minimnya pengetahuan para staf MTsN Kanigoro terkait penerapan

Sistem Informasi Manajemen (SIM).

Tuntutan pengembangan bidang akademik setiap lembaga

pendidikan sudah menjadi kebutuhan di era globalisasi dan informasi

sekarang ini. Penerapan SIM dalam pengembangan bidang akademik tidak

akan bisa jalan tanpa dukungan seluruh elemen di lembaga pendidikan

tersebut, dari tingkat teratas sampai pada level terbawah, dari kepala

madarasah sampai tukang sapu.

Di MTsN Kanigoro, para staf dan elemen lembaga tidak semuanya

tahu dan paham akan konsep SIM dalam pengembangan bidang akademik

ini. Meskipun bisa dikatakan bahwa tidak semua staf dan elemen MTsN

Kanigoro yang tahu dan paham akan konsep ini.

b. Masih minimnya kesadaran dan komitmen para staf (pimpinan, guru, dan

karyawan) MTsN Kanigoro dalam upaya penerapan SIM.

Meskipun tidak semuanya staf MTsN Kanigoro mempunyai

karakter seperti di atas, tetapi dalam upaya untuk menciptakan sebuah


143

kultur (budaya) penerapan SIM dan gerakan penerapan IT akan sangat

berpengaruh. Jikalau kesadaran akan penerapan SIM tidak segera dimiliki

oleh semua elemen lembaga, maka lambat jargon penerapan Sistem

Informasi Manajemenn (SIM) akan cuma menjadi slogan belaka. Dan

sebaliknya, apabila kesadaran dan komitmen ini sudah dimiliki serta

tertanam sejak dini pada setiap individu lembaga, maka lambat laun

budaya penerapan SIM akan segea tercipta.

c. Terbatasnya dana yang tersedia terkait penerapan Sistem Informasi

Manajemen (SIM).

Dalam upaya penerapan SIM dalam pengembangan bidang

akademik, kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro selalu

mendorong para bawahannya untuk mengikuti sejumlah kegiatan

pendidikan seperti seminar, penataran, lokakarya dan diklat. Namun

begitu dalam pelaksanaannya, ada sedikit kendala mengenai ketersediaan

dana. Apalagi kalau penataran, pelatihan/seminar diadakan oleh

lembaga/instansi lain dan diadakan di luar kota, tentunya membutuhkan

dana yang tidak sedikit.

Temuan mengenai kendala yang ditemui dari proses penerapan Sistem

nformasi Manajemen (SIM) di Madarasah Tsanawiyah Negeri (MTsN)

Kanigoro dapat dilihat dalam gambar berikut:


144

Minimnya pengetahuan para staf MTsN Kanigoro


terkait Sistem Informasi Manajemen.

Minimnya kesadaran dan komitmen para staf (pimpinan, guru,


Kendala dan karyawan) MTsN Kanigoro dalam penerapan SIM

Terbatasnya danya untuk penerapan SIM di MTsN


Kanigoro.

Gambar 4.3
Kendala proses penerapan Sistem Informasi Manajemen di MTsN Kanigoro.

3. Berkaitan efektivitas pemecahan masalah dari penerapan Sistem

Informasi Manajemen (SIM) dalam pengembangan bidang Akademik di

Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro

Paparan data terakhir menunjukkan adanya beberapa hambatan di atas,

menjadikan asumsi dasar bagi MTsN Kanigoro untuk mengadakan efektifitas

pemecahan masalah yang ditemui dalam penerapan SIM ini. MTsN Kanigoro

menyadari bahwa pengembangan SIM memerlukan kekuatan riil, berupa cita-

cita yang melahirkan etos atau semangat gerak, manajemen dan pendanaan.

Semua kekuatan itu dapat bersumber dari dalam atau yang biasa disebut

dengan faktor internal maupun yang bersumber dari luar atau faktor eksternal.

Atas dasar pandangan itu, maka strategi yang dikembangkan oleh

MTsN Kanigoro dengan menumbuhkembangkan etos, mengoperasionalkan

manajemen dan menggali dana yang diperlukan. Selain itu juga MTsN
145

Kanigoro mengupayakan beberapa strategi antara lain:

Menumbuhkembangkan etos SDM, mengoperasionalisasikan manajemen, dan

membangun budaya dan gerakan penerapan SIM. Atas dasar pandangan itu,

maka strategi yang dikembangkan ialah bagaimana menumbuhkembangkan

etos, mengoperasionalkan manajemen dan menggali dana yang diperlukan.

Agar MTsN Kanigoro bisa menerapkan Sistem Informasi Manajemen

(SIM) dalam pengembangan akademik seperti yang dmaksud di atas, maka

ada empat unsur yang mendorong atau mempengaruhi pengembangan

organisasi, yaitu :171

a. Manusia/perilaku; Aktivitas organisasi ditentukan oleh interaksi antar

individu atau antar kelompok, norma-norma informal, persepsi, peran,

pemimpin, konflik dalam kelompok, dan sebagainya. Perilaku organisasi

dalam banyak hal juga ditentukan oleh perilaku kelompok dan perilaku

individu.

b. Teknologi; Teknologi dapat diartikan sebagai tindakan yang dilakukan

oleh orang terhadap objek dengan atau tanpa alat bantuan perkakas atau

alat mekanis, untuk mengadakan perubahan tertentu dalam objek tersebut.

Secara luas teknologi juga bisa berarti penerapan pengetahuan untuk

melaksanakan pekerjaan.

171
Wahyudi Kumorotomo, Sistem Informasi, 111
146

c. Tugas (task); Efisiensi organisasi dapat dicapai dengan menyusun tugas

dan pekerjaan secara sistematis. Konsepsi inilah yang mendasari sistem

pembagian kerja fungsional atau spesialisasi menurut jenis pekerjaan.

d. Struktur; Struktur dipergunakan untuk mengendalikan organisasi dan

membedakan bagian-bagiannya guna mencapai tujuan bersama. Yang

dimaksud struktur adalah penetuan rentang kendali, pelimpahan

wewenang, formalisasi, dan sebagainya, yang membuat aktivitas

organisasi berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

Temuan mengenai efektifitas pemecahan masalah dalam mengatasi

kendala proses penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) di Madrasah

Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro dapat dilihat dalam gambar berikut:

Mengoperasionalisasikan manajemen

Pemecahan
Masalah Menumbuhkembangkan etos SDM

Membangun budaya dan gerakan penerapan SIM dan IT.

Gambar 4.4.
Efektifitas pemecahan masalah dalam proses penerapan Sistem Informasi
Manajemen di MTsN Kanigoro.
147

Disamping itu, agar MTsN Kanigo bisa membangun sebuah

penerapan Sistem Informasi Manajemen seperti yang dmaksud di atas, maka

ada sejumlah nilai budaya yang harus dimiliki oleh setiap personil MTsN

Kanigoro yaitu sebagai berikut:172

1. “Were All in Together”, yaitu kebersamaan antara lembaga, stake holders

dan customer. Keberhasilan upaya lembaga tergantung bagaimana

kelompok-kelompok individu bekerja bersama mensukseskan tercapainya

tujuan organisasi. Untuk itu perlu dibentuk Tim dan Team Works serta

membangun kesetiaan para anggota (seperti guru dan karyawan MTsN

Kanigoro).

2. “No Subordinates or Superior Allowwed”, yaitu suatu suasana kerja yang

tidak bersifat atasan bawahan, akan tetapi pimpinan dan anggota saling

bekerjasama, bantu membantu, saling mebutuhkan untuk tujuan bersama.

Bagi tim yang sudah mapan, bisa dilepas sendiri tanpa keterlibatan

pimpinan lembaga.

3. “Open, Honest Communication is Vital”, yaitu keterbukaan dan kejujuran

dalam berkomunikasi merupakan hal vital antara Pimpinan Lembaga,

Stakeholders dan Customers. Untuk itu, perlu dibangun budaya empathy

dan listening, bagi siapa saja yang terlibat.

4. “Every One Can Acces All Kind of Information are Needed”. Setiap orang

harus bisa mengakses semua bentuk informasi yang mereka butuhkan.


172
Tim Penyusun SIM, Implementasi Sistem............................, hal. 80
148

Meskipun pekerjaan dilakukan berdasarkan hierarchies, tetapi harus tetap

berfokus pada team, processes dan projecks. Adapun informasi bisa

disebarkan luaskan lewat modern computer technology of networking,

yang ternyata sangat mudah dan cepat. Dalam hal ini, harus dihindari

semua bentuk spekulasi dan jangan membatasi informasi, yang seharusnya

bisa diakses oleh semua pihak.

5. “Focus on Procceses”. Proses adalah gambaran bagaimana sesuatu

kegiatan itu dikerjakan dari awal sampai selesai. Penitik beratan pada

proses, bukan pada materi atau pada produk adalah untuk membangun

pemahaman, pengertian, pengetahuan kepada semua pihak tentang seluk

beluk suatu kegiatan sehingga setiap orang yang terlibat akan dapat

mengikuti dan melakukan kegiatan tersebut dengan benar dan sekaligus

dapat mengontrol bila ada kesalahan dalam pelaksanaannnya. Seperti

kegiatan registrasi, perkuliahan, ujian dan sebagainya.

Nilai-nilai tersebut di atas bila telah menjadi milik setiap personal,

maka nilai-nilai tersebut bisa membantu lembaga, karyawan dan manajer

untuk secara sungguh-sungguh memperhatikan kekuatan mereka sendiri.

Akan tetapi, tetap menampilkan kesederhanaan, terbuka dan segala tindakan

selalu berpusat pada apa yang seharusnya mereka lakukan yaitu bagaimana

bekerja lebih baik untuk memenuhi kebutuhan customers.