Anda di halaman 1dari 25

BAB V

PEMBAHASAN TEMUAN PENELITIAN

Setelah data dipaparkan dan menghasilkan temuan-temuan, maka kegiatan

berikutnya adalah mengkaji hakikat dan makna temuan penelitian. Masing-masing

temuan penelitian akan dibahas dengan mengacu pada teori dan pendapat para ahli

yang kompeten di bidang sistem informasi agar benar-benar dapat menjadikan setiap

temuan tersebut kokoh dan layak untuk dibahas.

Dalam bab pembahasan temuan penelitian ini, ada tema yang akan dibahas

secara urut sebagaimana yang tercantum dalam fokus penelitian yaitu:

A. Konsep Sistem Informasi Manajemen dalam pengembangan Akademik di

MTsN Kanigoro

Dari paparan data di atas dikemukakan bahwa konsep sistem informasi

manajemen Madrasah Tsanawiyah Negeri ( MTsN) Kanigoro termasuk kedalam

konsep manajemen secara umum.

Istilah SIM memiliki pengertian yang cukup beragam, mulai dari yang

bersesuaian sampai kepada konsep yang bertentangan, sehingga setiap orang

akan berbeda dalam memahami dan memaknainya. Salah satu sebabnya adalah

tidak ada ukuran baku (standar) tentang apa SIM itu.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa MTsN Kanigoro menyadari

bahwa istilah Sistem Informasi Manajemen (SIM) mengandung banyak tafsir,

149
150

yang mengakibatkan setiap orang akan berbeda dalam memahaminya. Sehingga

untuk menjawab apakah sesuatu itu bermutu atau tidak sulit untuk memperoleh

pendapat yang sama.

Secara umum bias dikatakan bahwa sistem informasi manajemen itu

artinya sangat beragam, antara satu orang dan yang lainnya akan sulit untuik

diketemukan. Persoalannya setiap orang yang ditanya tentang apakah sistem

informasi manajemen mempunyai latar belakang, sudut pandang dan pekerjaan

atau bahkan yang lainnya itu semua akan sangat berpengaruh dalam memaknai

sistem informasi manajemen.

Demikian juga, kalau semua orang diberi pertanyaan apakah sistem

informasi manajemen itu. Maka secara keseluruhan akan menjawab sesuai

dengan keberadaannya, baik keberadaan social, pendidikan, maupun lingkungan

dan latar belakangnya. Dengan demikian, apabila sistem informasi manajemen

ditanyakan kepada seorang ahli computer yang setiap harinya bekerja untuk

memproses informasi dalam mengambil keputusan, maka jawaban yang akan

dapat dipastikan akan berbeda dengan ketika ditanyakan tentang sistem

informasi manajemen kepada seorang professor yang setiap harinya bergelut

dalam dunia manajemen pendidikan yang mengelola pekerjaan informasi.

Berdasarkan sub tema di atas diajukan hipotesis yaitu bahwa makna

SIM itu adalah multi tafsir, karena setiap orang punya makna sendiri atasnya.

Oleh karena itu multi tafsirnya konsep SIM sesuai dengan apa yang

disampaikan oleh Herbert G. Hicks & G. Gay Gullett, bahwa Sistem Informasi
151

Manajemen (SIM) adalah mengelola pekerjaan informasi dengan menggunakan

pendekatan sistem yang berdasarkan pada prinsip-prinsip manajemen.173

Meskipun demikian, ada kriteria umum yang disepakati tentang apa SIM

itu. Yakni bahwa terdapat keseragaman dalam pemakaian istilah Sistem

Informasi Manajemen. Ada orang menyebut Management of Information

Systems, atau bahkan ada yang menyebut Information Systems saja,

kesemuanya kurang lebih membahas persoalan-persoalan yang sama.

Kebanyakan orang Indonesia menggunakan istilah Sistem Informasi

Manajemen (SIM). Ada beberapa orang yang menggunakan istilah “Manajemen

Sistem Informasi (MSI)”, dengan maksud untuk lebih menekankan sisi

manajemennya, bukan teknologi informasinya. Tetapi sebagian besar orang

agaknya sudah lebih terbiasa dengan istilah Sistem Informasi Manajemen (SIM)

ini.

Dari data dipereh bahwa apabila suatu lembaga menerapkan sistem

informasi manajemen, maka bisa dikatakan bahwa pengelolaan sistem informasi

lembaga tersebut telah menggunakan prinsip-prinsip manajemen, pelayanan

terhadap seluruh stake holder baik, pengambilan keputusan dilakukan secara

cepat. Adapun untuk menandai suatu lembaga telah menerapkan sistem

informasi manajemen, orang memberi simbol-simbol yang diberi julukan

173
Herbert G. Hicks & G. Gay Gullett, Management, Fourth Edition, International Edition
for Student, (Auckland, MacGraw Hill Kongakusha Ltd., 1981), 572
152

madrasah unggulan yang berbasis IT, madrasah berbasis computer dalam

kegiatan pembelajarannya.

Penerapan sistem informasi manajemen merupakan penerapan sesuatu

yang teratur, sistem informasi manajemennya bagus. Sebaliknya, sesuatu

dianggap tidak teratur ketika sesuatu itu tidak mempunyai sistem informasi

yang teratur, tidak memiliki tujuan yang terprogram, pengambilan

keputusannya lambat. Sehingga dapat disepakati bahwa sistem informasi

manajemen itu dimaknai sebagai pengelolaan tentang kebaikan dan keindahan

yang ideal.

Inilah yang ditegaskan oleh H.M. Jogiyanto, bahwa konsep “Sistem

Informasi Manajemen (SIM)” mengandung pengertian Suatu sistem di dalam

organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian,

mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu

organisasi dan menyediakan pihak tertentu dengan laporan-laporan yang

diperlukan.174 Henry C. Jr. Lucas menyatakan bahwa Sistem Informasi

Manajemen (SIM) adalah sekumpulan prosedur organisasi yang pada saat

dilaksanakan akan memberikan informasi bagi pengambilan keputusan untuk

mengendalikan organisasi.175

Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro paham terhadap

kebutuhan Sistem Informasi Manajemen (SIM) ini. Bagi MTsN Kanigoro

174
H.M. Jogiyanto, Analisis dan Desain Sistem Informasi, 10
175
Henry C. Jr. Lucas, Analisis, Desain dan Implementasi, 2
153

penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) madrasah bisa dilihat dari

rumusan visi dan misinya, yang kemudian visi dan misi tersebut diwujudkan

dalam proses pendidikan yang akan dilakukan. Tiap Madrasah mempunyai visi

dan misi sendiri-sendiri, yang sudah pasti satu sama lain berbeda. Demikian

juga penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang akan dapat dicapai.

Pada dasarnya penerapan SIM MTsN Kanigoro bisa dilihat dari rumusan

visi dan misinya. Kemudian dari visi dan misi tersebut MTsN Kanigoro

mewujudkannya dalam kegiatan pendidikannnya yang merupakan sintesis

antara tradisi pesantren dan sekolah umum. MTsN Kanigoro berusaha dengan

maksimal melalui model pendidikan semacam ini, diharapkan akan lahir

madrasah yang berkualitas dicintai oleh Allah dan masyarakat. Karena ciri

utama madrasah demikian adalah tidak saja menguasai disiplin ilmu masing-

masing sesuai dengan pilihannya, tetapi juga menguasai al-Qur’an dan Hadis

sebagai sumber utama ajaran Islam.

Akan tetapi dalam Visi Misi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN)

Kanigoro, sistem akademik seperti yang tertuang dalam visi misi itu masih

pengembangan akademik dalam arti absolut, yang universal sifatnya.

Maksudnya semua orang akan setuju, bila pengembangan akademik seperti itu,

karena semuanya mengandung makna yang baik.

Berdasarkan prinsip manajemen, maka Top Manajemen Madrasah

Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro bersama-sama seluruh jajaran

manajemen bawahannya menyusun visi dan misi MTsN Kanigoro. Dari Visi
154

MTsN Kanigoro adalah sebagai lembaga pendidikan Islam, melalui kegiatan

pendidikan dan pengajaran, mampu menciptakan madrasah yang berkualitas

dicintai Allah dan masyarakat. Sedangkan Misi MTsN Kanigoro adalah

sebagai berikut:

a. Menciptakan manajemen yang sehat.

b. Menciptakan budaya disiplin yang tinggi.

c. Menyediakan guru yang profesional.

d. Merencanakan, menyusun, melaksanakan dan menganalisis program.

e. Menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai.

f. Menyediakan anggaran yang memadai.

g. Meningkatkan iman dan taqwa.

h. Meningkatkan akhlaqul karimah.

i. Mempererat tali silaturrahim.

Dari Visi dan Misi tersebut di atas, penerapan Sistem Informasi

Manajemen yang berkualitas, dicintai Allah, dicintai masyarakat, manajemen

yang sehat, disiplin, guru yang profesional, merencanakan, menyusun,

melaksanakan dan menganalisis program, sarana dan prasarana yang

memadai, menyediakan anggaran yang memadai, peningkatan iman dan

taqwa, bermoral dan silaturrahim.

Secara umum dapat dikatakan bahwa penerapan sistem informasi

manajemen yang diharapkan adalah yang mengandung makna universal,

artinya siapa saja akan sepakat dengan pengembangan akademik berciri


155

manajemen yang sehat, merencanakan, menyusun, melaksanakan dan

menganalisis program, sarana dan prasarana yang memadai, menyediakan

anggaran yang memadai seperti yang diharapkan itu, yang bermoral, yang

unggul, yang toleran dan sebagainya.

Secara substantif kata manajemen yang sehat, merencanakan, menyusun,

melaksanakan dan menganalisis program, sarana dan prasarana yang

memadai, menyediakan anggaran yang memadai, dan lain sebagainya itu

bersifat mutlak.

Karena sifatnya yang sangat abstrak, maka meskipun semua orang sangat

sulit untuk membuat kriteria tertentu yang bersifat universal. Makna kata

manajemen yang sehat misalnya seperti apa wujudnya. Ukuran manajemen

yang sehat itu, untuk satu orang berbeda dengan orang lain. Masyarakat yang

satu berbeda dengan masyarakat yang lain. Lembaga yang satu akan berbeda

dengan lembaga yang lain. Apalagi ditinjau dari sudut agama. Islam berbeda

dengan Agama lain. Oleh karena itu ukuran sistem akademik bermanajemen

yang sehat, yang direncanakan, menyusun, melaksanakan dan menganalisis

program, pasti ukurannya berbeda antara satu madrasah yang satu dengan

madrasah yang lain. Belum lagi, apabila semua sebutan itu menjadi satu

sebagai ciri yang harus dimiliki oleh sistem akademiknya.

Data di atas telah ditegaskan oleh Wahyudi Kumorotomo yang

menyatakan bahwa tingkat keberhasilan suatu proses pendidikan dalam suatu

madrasah sangat dipengaruhi oleh keberhasilan pimpinannya dalam mengelola


156

sistem akademik yang tersedia di madrasah tersebut. Supaya lembaga

pendidikan mampu meningkatkan efisiensi dan memberikan pelayanan umum

yang lebih baik penanganan informasi modern tidak dapat dilakukan dengan

sekedar komputerisasi yang berupa perangkat keras komputer, tetapi juga

pengembangan organisasi (organizational development) secara

berkesinambungan. Pengembangan organisasi itu dimaksudkan agar organisasi

mampu mengantisipasi dan menjawab perubahan-perubahan yang terjadi akibat

tuntutan masyarakat modern yang makin komplek. Pengembangan organisasi

diperlukan oleh setiap entitas organisasi agar mereka dapat tetap eksis sesuai

dengan misi dan visi mereka, tidak terkecuali organisasi-organisasi

pendidikan.176

Seperti yang dijanjikan dalam standar SIM, MTsN Kanigoro dengan

academic exxelence yang diselenggarakan menerapkan pengembangan bidang

akademik yang berhubungan dengan sebagai berikut: (1) Menguasai bahasa

Arab, (2) Menguasai bahasa Inggris, (3) Berwawasan Nasional, regional dan

global, (4) Mengembangkan kegiatan pembelajaran berbasis komputer, (5)

Mengelola administrasi akademik berbasis IT, (6) Mengelola raport siswa dan

daftar nilai harian berbasis IT, (7) Trampil memanfaatkan IT (Information

Technology) dalam kegiatan pembelajaran, (8) Mengembangkan budaya dan

tradisi IT dalam segala bidang kegiatan, (9) Mampu memanfaatkan dan

176
Wahyudi Kumorotomo, Sistem Informasi, 100
157

menghayati pengalaman hidup selama di Madrasah, (10) Memiliki etos belajar

sepanjang hayat.

Sedangkan dalam merencanakan dan menerapkan Sistem Informasi

Manajemen (SIM) MTsN Kanigoro harus diketahui betul tingkat apa yang ingin

diraihnya. Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang dikehendaki MTsN

Kanigoro tidak perlu meliputi semua model Sistem Informasi Manajemen

(SIM) yang sudah dikemukakan oleh para tokoh SIM. Tergantung dari

tujuannya, MTsN Kanigoro dapat memilih model-model Sistem Informasi

Manajemen (SIM) yang mana yang perlu mendapat tekanan. Untuk tahap awal,

MTsN Kanigoro menekankan pada SIM sebagai pengambilan keputusan secara

cepat. Sebagaimana dinyatakan oleh Raymond McLeod bahwa Sistem

Informasi Manajemen (SIM) dikelompokkan menjadi empat yaitu (1) Sistem

Informasi Manajemen (SIM) sebagai pengolahan transaksi (Expert System), (2)

Sistem Informasi Manajemen (SIM) sebagai pendukung manajemen (Work

Group Support System), (3) Sistem Informasi Manajemen (SIM) sebagai

pendukung keputusan (Decision Support System), (4) Sistem Informasi

Manajemen (SIM) sebagai pendukung pimpinan (Exscutive Support System).177

Dan pada tahap awal ini MTsN Kanigoro menekankan pada yang nomor tiga,

yaitu Sistem Informasi Manajemen (SIM) sebagai pendukung keputusan.

Karena berusaha meraih semua model SIM malah mungkin menyebabkan

177
Raymond Mc. Leoc, Sistem Informasi Manajemen, (New Jersey:Prentice-Hall, Inc., 1995),
322
158

kesulitan sedemikian rupa, sehingga tidak ada tindakan konkrit yang dapat

dilaksanakan.

Maksud dari penerapan ini diarahkan pada lembaga pendidikan sebagai

sebuah institusi yang harus memberikan dan memanfaatkan sumber-sumber

pendidikan secara efektif sehingga dapat meningkatkan proses pembelajaran.

Sumber-sumber dimaksud adalah seluruh komponen mulai dari input, proses

pendidikan, komponen siswa, dan komponen hasil belajar (learning outcomes).

Penerapan sistem informasi manajemen, terutama yang berupa produksi

jasa atau pelayanan, sulit untuk dimengerti, sehingga orang melihatnya sebagai

pembororosan waktu dan tidak efisien, apalagi penerapan sistem informasi

manajemen itu hanya ikut-ikutan tanpa persiapan yang masak. Akhirnya banyak

terjadi suatu lembaga terbentur pada suatu sistem informasi manajemen yang

sulit ditangani dan tidak memajukan lembaga dalam mencapai tujuannya.

Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kanigoro merupakan institusi

pendidikan yang memposisikan sebagai industri jasa, yaitu institusi yang

memberikan pelayanan (service) sesuai apa yang diinginkan pelanggan

(customers).178 Pelayanan atau jasa yang diberikan tentu harus berupa sesuatu

yang bermutu, yang bisa memberikan kepuasan pada customers, baik internal

customers maupun exsternal customers.

178
Tim Penyusun SIM, Implementasi Sistem Informasi Manajmen MTsN Kanigoro Kras
Kediri, hal. 2.
159

Sistem Informasi Manajemen di lembaga pendidikan harus dirancang

melalui tahap-tahap yang dirangkai dalam suatu proses sebagai berikut :

a. Top Manajement (Kepala) Madrasah bersama-sama seluruh jajaran

manajemen bawahannya menyusun visi dan misi.

Pada tahap awal ini melalui Top manajement dan seluruh jajaran

manajemen bawahannya menyusun visi dan Misi karena mutu suatu

lembaga pendidikan bisa dilihat dari rumusan visi dan misinya, yang

kemudian visi dan misi tersebut diwujudkan dalam proses pendidikan yang

akan dilakukan.

Setiap lembaga harus mempunyai visi dan misi yang dibentuk atas

empat unsur, yakni sejarah, preferensi masa kini dari para pengelola dan

manajemen atau organisasi, lingkungan pengguna lulusan dan sumber daya

organisasi. Dari seluruh jajaran manajemen bawahan, mulai dari Kepala dan

semua stake holder merumuskan visi misi dengan memeperhatikan keempat

unsur tersebut.

Disamping itu tidak sekedar visi dan misi saja yang dirumuskan oleh

kepala dan bawahannya, tetapi sekaligus tujuan lembaga dengan

menggunakan strategi penyusunan yang telah ditentukan, yakni:

1) Visi madrasah harus merupakan cita-cita bersama yang dapat menjadi

sumber inspirasi, motivasi dan kekuatan pembimbing yang merasuki

pikiran dan tindakan segenap pihak yang berkepentingan,


160

2) Visi madrasah harus merupakan cita-cita yang dapat memberika

inspirasi bagi segenap pihak yang berkepentingan untuk bertindak,

3) Visi madrasah harus memuat tujuan dan ruang lingkup kerja yang khas,

dan visi madrasah seharusnya dirumuskan berdasarkan masukan dari

berbagai fihak yang berkepentingan.

Demikian juga dengan misi dan tujuan madrasah, Top Management

(Kepala, wakil kepala madrasah, pembantu kepala madrasah, Kepala Bagian

dan sebagainya) harus mensosialisasikan visi dan misi serta tujuan madrasah

ini ke seluruh jajaran manajemen bawahan, guru dan karyawan serta

pelanggan dan stakeholders Madrasah.

b. Berdasarkan visi dan misi, Madrasah harus menentukan KSPM (Kebijakan,

Standar, Pedoman dan Manual SIMya).

Penerapan sistem informasi manajemen suatu lembaga pendidikan

bisa dilihat dari rumusan visi dan misinya, yang kemudian visi dan misi

tersebut diwujudkan dalam proses pendidikan yang akan dilakukan.

Untuk itu, makna sistem informasi manajemen dalam arti absolut,

tidak bisa digunakan untuk mengukur kualitas madrasah. Sehingga

madrasah memaknai sistem informasi manajemn dalam arti relatif. Yaitu

relatif menurut apa yang dikehendaki rmadrasah, melalui Kebijakan,

Standar, Pedoman dan Manual SIMnya.


161

Kalau sistem informasi manajemen itu bersifat absolut maka cukup

sulit diterapkan, karena sistem informasi manajemen yang diterapkan oleh

lembaga akan pasti berbeda dengan sistem informasi manajemen yang

diharapkan oleh pelanggan dan stakeholders. Untuk itu setelah Top

manajemen dan manajemen bawahan merumuskan visi misi, lembaga

(MTsN) melalui coordinator SIM merelatifkan sistem informasi manajemen

dalam bentuk visi misi tersebut dengan membuat Kebijakan, Standar,

Pedoman dan Manual SIM yang pada akhirnya disahkan oleh Kepala dan

Pembantu Kepala Madrasah.

Dan konsekuensi dari pengertian ini, maka sebagai tolok ukur

pengembangan akademik bagi MTsN Kanigoro ialah harus telah

mempunyai ketentuan tentang kebijakan Akademik dan Standar Akademik

yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan pendidikannya.

Sistem Informasi Manajemen di lembaga pendidikan dipahami

sebagai program untuk pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, dan koreksi

sebagai tindakan penyempurnaan atau peningkatan mutu yang berkelanjutan

dan sistematis terhadap semua aspek (sarana/prasarana, pengelola,

kepemimpinan, masukan, proses pengelolaan, keluaran dan dampak)

lembaga pendidikan sesuai dengan kebijakan Akademik dan Standar

Akademik yang telah ditetapkan, dan dalam rangka meyakinkan tentang

kesempurnaan pencapaian standar kompetensi lulusan yang telah dinyatakan

dalam visi, misi, tujuan dan proses pendidikan menengah kepada semua
162

pihak eksternal dan internal, pengelola, semua pimpinan lembaga terkait,

organisasi profesi, dan masyarakat pengguna yang lebih luas.

Sistem Informasi Manajemen pendidikan seperti yang tersebut di

atas adalah sangat sempurna dan ideal, dan baru dilaksanakan oleh Lembaga

Pendidikan yang sudah maju dan komplit perlengkapannya. Namun

demikian, tidak berarti bahwa upaya pengembangan akademik Pendidikan

Menengah menunggu sampai kelengkapan Lembaga tersebut lengkap.

Justru itu pengelola lembaga pendidikan bisa menempuh strategi prioritas

bagian mana yang diupayakan untuk dijamin lebih dulu. Dan secara

bertahap bergiliran ke bagian yang lain. Dan di MTsN Kanigoro, yang

didahulukan adalah bagian yang langsung menyentuh proses kualitas yaitu

bagian proses pelaksanaan kegiatan akademik, yang dinamakan

pengembangan proses pembelajaran.

c. Pembuatan dokumen-dokumen tentang Manual SIM, Sasaran SIM tiap unit,

Manual Prosedur tiap unit, dan Instruksi Kerja tiap unit dibuat dan disahkan

untuk diimplementasikan.

Setelah Dokumen tingkat Top Manajemen (Kebijakan, Standar,

Pedoman dan Manual SIM) telah dibuat, pada gilirannya setiap unit

membuat dokumen-dokumen tentang Manual SIM, Sasaran SIM, Manual

Prosedur, dan Instruksi Kerja tiap unit. Sebagaimana diungkapkan oleh

Pengurus Komite :
163

d. Madrasah harus menyelenggarakan Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) dari

hasil temuan evaluasi pelaksanaan sistem informasi manajemen.

Setelah madrasah mengevaluasi pelaksanaan sistem jaminan mutu

melalui pemenuhan status ideal (benchmarking) secara berkelanjutan, pada

tahap perancangan selanjutnya adalah dengan menyelengarakan Rapat

Tinjauan Manajemen (RTM) dari hasil temuan Audit Mutu Internal, ini

dilakukan dalam rangka mencarikan jalan pemecahan dari hasil temuan

Audit SIM secara Internal tersebut.

Dari hasil RTM tersebut akan diputuskan apakah dilakukan tindakan

koreksi jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaan) atau perbaikan Sistem

Informasi Manamen (SIM) (jika kelemahan ditemukan pada sistem).

Perbaikan Sistem Informasi Manajemen tersebut dilakukan dengan

memperbaiki Kebijakan, Standar, Manual Mutu, Manual Prosedur,

Instruksi Kerja atau Sistem Pelaksanaan.

B. Kendala yang di hadapi dalam penerapan Sistem Informasi Manajemen

(SIM) dalam pengembangan Akademik di MTsN Kanigoro

Temuan penelitian yang kedua menunjukkan bahwa dalam sebuah

proses, tidak ada satupun yang bisa berjalan secara sempurna, tak terkecuali

dalam proses penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) di MTsN

Kanigoro. Upaya penerapan Sistem Informasi Manajemen (SIM) memerlukan


164

komitmen waktu, usaha dan biaya yang lebih banyak. Menerapkan Sistem

Informasi Manajemen (SIM) bukan merupakan suatu tindakan yang dimulai

pihak manajemen untuk dilaksanakan oleh seluruh lapisan dan hirarki dalam

organisasi begitu saja. Upaya ini melibatkan kerjasama seluruh staf dengan

arahan, kepemimpinan dan komitmen yang sungguh-sungguh dari pihak

manajemen serta alokasi sumber daya yang memadai untuk mencapai

pengembangan akademik yang dikehendaki siswa dan pihak yang

berkepentingan.

Beberapa hambatan yang ditemui dari proses Penerapan Sistem

Informasi Manajemen (SIM) di MTsN Kanigoro, yaitu:

1. Minimnya pengetahuan para staf MTsN Kanigoro terkait Sistem Informasi

Manajemen (SIM).

2. Masih minimnya kesadaran dan komitmen para staf (pimpinan, guru, dan

karyawan) MTsN Kanigoro dalam upaya penerapan Sistem Informasi

Manajemen dalam pengembangan akademik.

3. Terbatasnya dana yang tersedia terkait penerapan Sistem Informasi

Manajemen (SIM).

Temuan data penelitian di atas dapat diinterpretasikan bahwa lemahnya

sumber daya manusia akan menjadi penghalang bagi kelangsungan sebuah

proses, tak terkecuali dalan proses penerapan Sistem Informasi Manajemen.

Sehingga sumber daya manusia (guru, bawahan serta kepala madrasah) di


165

MTsN Kanigoro harus selalu dikembangkan secara terus menerus dan

berkesinambungan.

Menurut Bernard Barber, sebagai profesional ketika melaksanakan

profesinya harus bisa berperilaku profesional. Adapun perilaku profesional

harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) Mengacu pada ilmu

pengetahuan, 2) Berorientasi kepada interest masyarakat (klien), bukan interest

pribadi, 3) Pengendalian perilaku diri sendiri dengan menggunakan kode etik,

4) Imbalan atau kompensasi uang merupakan simbul prestasi kerja bukan tujuan

dari profesi.179

Ciri keprofesian menurut T. Raka Joni seperti yang dikutip oleh

Syafruddin Nurdin bila penerapannya di dalam pendidikan adalah : 1) Profesi

itu diakui oleh masyarakat dan pemerintah dengan adanya bidang layanan

tertentu yang hanya dapat dilakukan oleh kelompok pekerja yang dikategorikan

sebagai suatu profesi, 2) Pemilikan sekumpulan ilmu yang menjadi landasan

sejumlah teknik serta prosedur kerja untuk itu, bagi profesi keguruan, keharusan

penguasaan bidang-bidang ilmu penyangganya, 3) Diperlukan persiapan yang

sengaja dan sistematis sebelum orang melaksanakan pekerjaan profesional.

Dengan kata lain, pekerjaan profesional mempersyaratkan pendidikan pra

jabatan yang sistematis yang berlangsung relatif lama, 4) Mekanisme untuk

melakukan penyaringan secara efektif sehingga hanya mereka yang dianggap

179
Depag RI, Pedoman Pengembangan Profesi Kepengawasan dan Penyusunan Karya Tulis
Ilmiah, (Jakarta : Depag RI, 2004), hal. 17.
166

kompeten yang diperbolehkan bekerja memberikan layanan ahli yang

dimaksud, 5) Diperlukan organisasi profesi di samping untuk melindungi

kepentingan anggotanya dari saingan yang datang dari luar kelompok, juga

berfungsi untuk meyakinkan supaya para anggotanya menyelenggarakan

layanan ahli terbaik yang bisa diberikan demi kemaslahatan para pemakai

layanan.180

Konteks di atas kemudian memberikan sebuah peluang kepada lembaga

pendidikan Islam untuk merencanakan dan mengembangkan SDMnya dalam

mencapai proses tertentu. Dalam upaya penerapan Sistem Informasi

Manajemen, kebutuhan akan SDM yang professional sangat diperlukan dalam

kerangka untuk memaksimalkan hambatan yang ditemui dari proses

perencanaan dan penerapan proses tersebut.

C. Efektifitas pemecahan masalah pada penerapan Sistem Informasi

Manajemen (SIM) dalam pengembangan akademik di MTsN Kanigoro

Temuan penelitian yang terakhir menunjukkan adanya beberapa kendala

di atas, menjadikan asumsi dasar bagi MTsN Kanigoro untuk mengadakan

efektifitas pemecahan masalah yang ditemui dalam penerapan Sistem Informasi

Manajemen ini. MTsN Kanigoro menyadari bahwa pengembangan Sistem

Akademik memerlukan kekuatan riil, berupa cita-cita yang melahirkan etos atau

180
Syafruddin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum (Jakarta : Ciputat Pers,
2002), hal.
167

semangat gerak, manajemen dan pendanaan. Semua kekuatan itu dapat

bersumber dari dalam atau yang biasa disebut dengan faktor internal maupun

yang bersumber dari luar atau faktor eksternal.

Atas dasar pandangan itu, dari temuan penelitian ditunjukkan bahwa

strategi yang dikembangkan oleh MTsN Kanigoro dengan

menumbuhkembangkan etos, mengoperasionalkan manajemen dan menggali

dana yang diperlukan. Selain itu juga MTsN Kanigoro mengupayakan beberapa

strategi antara lain: Menumbuhkembangkan etos SDM,

mengoperasionalisasikan manajemen, dan membangun budaya dan gerakan

penerapan SIM. Atas dasar pandangan itu, maka strategi yang dikembangkan

ialah bagaimana menumbuhkembangkan etos, mengoperasionalkan manajemen

dan menggali dana yang diperlukan.

Temuan penelitian ini secara umum memberikan peluang untuk

menjadikan kemungkinan terjadinya sebuah lembaga yang mempunyai

keefektifan lembaganya dalam upaya menciptakan kualitas pendidikan. Salah

satu upaya tersebut melalui penerapan Sistem Informasi Manajemen. Dalam

upaya tersebut, kedua hal tersebut harus dijadikan landasan bagi sebuah

lembaga untuk lebih bisa menghadapi hambatan penerapan Sistem Informasi

Manajemen. Sehingga penerapan Sistem Informasi Manajemen pada akhirnya

akan menjadikan budaya dalam sebuah lembaga.


168

Tasmara yang menyatakan bahwa kandungan utama yang menjadi

esensi budaya yaitu sebagai berikut: a) Budaya berkaitan erat dengan persepsi

terhadap nilai dan lingkungannya yang melahirkan makna dan pandangan hidup

yang akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku, b) Adanya pola nilai, sikap,

tingkah laku (termasuk bahasa), hasil karsa dan karya (termasuk segala

instrumennya), sistem kerja dan teknologi, c) Budaya merupakan hasil

pengalaman hidup, kebiasaan-kebiasaan, serta proses seleksi norma-norma yang

ada dalam cara dirinya berinteraksi sosial atau menempatkan dirinya di tengah-

tengah lingkungan tertentu, d) Dalam proses budaya terdapat saling

mempegaruhi dan saling ketergantungan, baik soisal, maupun lingkungan non

sosial. 181

Secara umum proses kemunculan budaya organisasi pada periode early

growth digambarkan sebagai berikut:

Pola Umum Proses Kemunculan Budaya


MANAJEMEN PUNCAK

Top Manajer atau manajer pada suatu perusahaan yang baru,


Mengembangkan dan berusaha mengimplementasikan visi atau filosofi
Dan/arah strategi usaha.

PERILAKU ORGANISASI

Mengimplementasikan pekerjaan. Orang-orang menjalankan tugas


dibimbing oleh filsafat/strategi

181
Aan Komariyah, Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif, hal. 97
169

HASIL

Dipandang dari berbagai segi. Organisasi berhasil dan keberhasilah itu


berkesinambungan selama bertahun tahun.

BUDAYA

Suatu budaya muncul akibat dari visi dan strategi serta pengalaman yang
telah dimilki oleh orang-orang dalam mengimplementasikannya.

Gambar 5. 1. Pola Umum Proses Kemunculan Budaya.182

Membentuk budaya organisasi merupakan tanggung jawab pimpinan

yang realisasinya merupakan tanggungjawab seluruh personal lembaga.

Pimpinan perlu memahami cara-cara pembentukan dan pengelolaan budaya

organisasi. Budaya organisasi dapat terbentuk melalui tiga cara yaitu: a) Seleksi,

sejak awal sudah ditekankan bahwa hanya pegawai-pegawai yang memenuhi

kriteria organisa yang diterima, b) Manajemen puncak, pimpinan menjadi

pendorong kuat bagi tumbuhnya perilaku bawahan, c) Sosialisasi, penanaman

norma-norma yang ditetapkan organisasi dapat dilakukan dengagan cara

membicarakannya dalam rapat-rapat, pertemuan-pertemuan atau bahkan dengan

alat atau media khusus.183

182
Aan Komariyah, Visionary Ledership Menuju Sekolah yang Efektif, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2005), hal. 96.
183
Ibid.
170

Agar MTsN Kanigoro bisa menerapkan Sistem Informasi Manajemen

(SIM) dalam pengembangan akademik seperti yang dmaksud di atas, maka ada

empat unsur yang mendorong atau mempengaruhi pengembangan organisasi,

yaitu :184

1. Manusia/perilaku;

Aktivitas organisasi ditentukan oleh interaksi antar individu atau antar

kelompok, norma-norma informal, persepsi, peran, pemimpin, konflik

dalam kelompok, dan sebagainya. Perilaku organisasi dalam banyak hal

juga ditentukan oleh perilaku kelompok dan perilaku individu.

2. Teknologi;

Teknologi dapat diartikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh orang

terhadap objek dengan atau tanpa alat bantuan perkakas atau alat mekanis,

untuk mengadakan perubahan tertentu dalam objek tersebut. Secara luas

teknologi juga bisa berarti penerapan pengetahuan untuk melaksanakan

pekerjaan.

3. Tugas (task);

Efisiensi organisasi dapat dicapai dengan menyusun tugas dan pekerjaan

secara sistematis. Konsepsi inilah yang mendasari sistem pembagian kerja

fungsional atau spesialisasi menurut jenis pekerjaan.

4. Struktur;

184
Wahyudi Kumorotomo, Sistem Informasi, 111
171

Struktur dipergunakan untuk mengendalikan organisasi dan membedakan

bagian-bagiannya guna mencapai tujuan bersama. Yang dimaksud struktur

adalah penetuan rentang kendali, pelimpahan wewenang, formalisasi, dan

sebagainya, yang membuat aktivitas organisasi berjalan sesuai dengan apa

yang telah direncanakan.

Disamping itu, agar MTsN Kanigo bisa membangun sebuah penerapan

Sistem Informasi Manajemen seperti yang dmaksud di atas, maka ada sejumlah

nilai budaya yang harus dimiliki oleh setiap personil MTsN Kanigoro yaitu

sebagai berikut:185

1. “Were All in Together”, yaitu kebersamaan antara lembaga, stake holders

dan customer. Keberhasilan upaya lembaga tergantung bagaimana

kelompok-kelompok individu bekerja bersama mensukseskan tercapainya

tujuan organisasi. Untuk itu perlu dibentuk Tim dan Team Works serta

membangun kesetiaan para anggota (seperti guru dan karyawan MTsN

Kanigoro).

2. “No Subordinates or Superior Allowwed”, yaitu suatu suasana kerja yang

tidak bersifat atasan bawahan, akan tetapi pimpinan dan anggota saling

bekerjasama, bantu membantu, saling mebutuhkan untuk tujuan bersama.

Bagi tim yang sudah mapan, bisa dilepas sendiri tanpa keterlibatan

pimpinan lembaga.

185
Tim Penyusun SIM, Implementasi Sistem............................, hal. 80
172

3. “Open, Honest Communication is Vital”, yaitu keterbukaan dan kejujuran

dalam berkomunikasi merupakan hal vital antara Pimpinan Lembaga,

Stakeholders dan Customers. Untuk itu, perlu dibangun budaya empathy dan

listening, bagi siapa saja yang terlibat.

4. “Every One Can Acces All Kind of Information are Needed”. Setiap orang

harus bisa mengakses semua bentuk informasi yang mereka butuhkan.

Meskipun pekerjaan dilakukan berdasarkan hierarchies, tetapi harus tetap

berfokus pada team, processes dan projecks. Adapun informasi bisa

disebarkan luaskan lewat modern computer technology of networking, yang

ternyata sangat mudah dan cepat. Dalam hal ini, harus dihindari semua

bentuk spekulasi dan jangan membatasi informasi, yang seharusnya bisa

diakses oleh semua pihak.

5. “Focus on Procceses”. Proses adalah gambaran bagaimana sesuatu kegiatan

itu dikerjakan dari awal sampai selesai. Penitik beratan pada proses, bukan

pada materi atau pada produk adalah untuk membangun pemahaman,

pengertian, pengetahuan kepada semua pihak tentang seluk beluk suatu

kegiatan sehingga setiap orang yang terlibat akan dapat mengikuti dan

melakukan kegiatan tersebut dengan benar dan sekaligus dapat mengontrol

bila ada kesalahan dalam pelaksanaannnya. Seperti kegiatan registrasi,

perkuliahan, ujian dan sebagainya.

Nilai-nilai tersebut di atas bila telah menjadi milik setiap personal,

maka nilai-nilai tersebut bisa membantu lembaga, karyawan dan manajer untuk
173

secara sungguh-sungguh memperhatikan kekuatan mereka sendiri. Akan tetapi,

tetap menampilkan kesederhanaan, terbuka dan segala tindakan selalu berpusat

pada apa yang seharusnya mereka lakukan yaitu bagaimana bekerja lebih baik

untuk memenuhi kebutuhan customers.