Anda di halaman 1dari 5

2.

1 Definisi Sialadenitis
Sialadenitis adalah infeksi berulang-ulang di glandula submandibularis yang
dapat diserati adanya batu (sialolith) atau penyumbatan. Biasanya sistem duktus
menderita kerusakan, jadi serangan tunggal sialadentis submandibularis jarang
terjadi. Kelenjar ini terasa panas, membengkak, nyeri tekan dan merupakan
tempat serangan nyeri hebat sewaktu makan. Pembentukan abses dapat terjadi
didalam kelenjar maupun duktus. Sering terdapat batu tunggal atau multiple
(Gordon, 1996).
Sialadenitis merupakan keadaan klinis yang lebih sering daripada pembengkakan
parotid rekuren dan berhubungan erat dengan penyumbatan batu duktus
submandibularis. Penyumbatan tersebut biasanya hanya sebagian dan oleh
karena itu gejala yang timbul berupa rasa sakit postpradial dan pembengkakan.
Kadang-kadang infeksi sekunder menimbulkan sialadenitis kronis pada kelenjar
yang tersumbat tersebut, tetapi keadaan ini jarang terjadi. Kadang-kadang
pembengkakan rekuren disebabkan oleh neoplasma yang terletak dalam kelenjar
sehingga penyumbatan duktus (Gordon,1996).
2.2 Etiologi Sialadenitis
Sialadenitis biasanya terjadi setelah obstruksi tetapi dapat berkembang tanpa
penyebab yang jelas. Peradangan kronis dapat terjadi pada parenkim kelenjar
atau duktus seperti batu (sialolithiasis) yang disebabkan karena infeksi
(sialodochitis) dari Staphylococcus aureus, Streptococcus viridians atau
pneumococcus. Selain itu terdapat komponen obstruksi skunder dari kalkulus air
liur dan trauma pada kelenjar. Faktor risiko yang dapat mengakibatkan
sialadenitis antara lain dehidrasi, terapi radiasi, stress, malnutrisi dan hiegine
oral yang tidak tepat misalnya pada orang tua, orang sakit, dan operasi (Gordon,
1996).
2.3 Klasifikasi Sialadenitis
a. Sialadenitis akut
Sialadenitis akut akan terlihat secara klinik sebagai pembengkakan atau
pembesaran glandula dan salurannya dengan disertai nyeri tekan dan rasa tidak
nyaman serta sering juga diikuti dengan demam dan lesu. Diagnosis dari
keadaan sumbatan biasanya lebih mudah ditentukan dengan berdasar pada
keluhan subjektif dan gambaran klinis. Penderita yang terkena sialadenitis akut
seringkali dalam kondisi menderita dengan pembengkakan yang besar dari
glandula yang terkena. Regio yang terkena sangat nyeri bila dipalpasi dan sedikit
terasa lebih hangat dibandingkan daerah dekatnya yang tidak terkena.
Pemeriksaan muara duktus akan menunjukkan adanya peradangan, dan jika
terliaht ada aliran saliva, biasanya keruh dan purulen.
Pasien biasanya demam dan hitung darah lengkap menunjukkan leukositosis
yang merupakan tanda proses infeksi akut. Pemijatan glandula atau duktus
(untuk mengeluarkan secret) tidak dibenarkan dan tidak akan bisa ditolerir oleh
pasien. Probing (pelebaran duktus) juga merupakan kotraindikasi karena
kemungkinan terjadinya inokulasi yang lebih dalam atau masuknya organism
lain, yang merupakan tindakan yang harus dihindarkan. Sialografi yaitu
pemeriksan glandula secara radiografis mensuplai medium kontras yang

mengandung iodine, juga sebaiknya ditunda. Bila terdapat bahan purulen,


dilakukan kultur aerob dan abaerob (Gordon, 1996).
b. Sialadenitis kronis
Infeksi atau sumbatan kronis membutuhkan pemeriksaan yang lebih
menyeluruh, yang meliputi probing, pemijatan glandula dan pemeriksaan
radiografi. Palpasi pada glandula saliva mayor yang mengalami keradangan
kronis dan tidak nyeri merupakan indikasi dan seringkali menunjukkan adanya
perubahan atrofik dan kadang-kadang fibrosis noduler. Sialadenitis kronis
seringkali timbul apabila infeksi akut telah menyebabkan kerusakan atau
pembentukan jaringan parut atau pembentukan jaringan parut atau perubahan
fibrotic pada glandula.
Tampaknya glandula yang terkena tersebut rentan atau peka terhadap proses
infeksi lanjutan. Seperti pada sialadenotis akut, perawatan yang dipilih adalah
kultur saliva dari glandula yang terlibat dan pemberian antibiotic yang sesuai.
Probing atau pelebaran duktus akan sangat membantu jika sialolit ini
menyebabkan penyempitan duktus sehingga menghalangi aliran bebas dari
saliva. Bila kasus infeksi kronis ini berulang-ulang terjadi, maka diperlukan
sialografi dan pemerasan untuk mengevaluasi fungsi glandula. Jika terlihat
adanya kerusakan glandula yang cukup besar, perlu dilakukan ekstirpasi
glandula. Pengambilan submandibularis tidak membawa tingkat kesulitan bedah
dan kemungkinan timbulnya rasa sakit sebagaimana pengambilan glandula
parotidea. Karena kedekatannya dengan n. facialis dan kemungkinan cedera
selama pembedahan, maka glandula parotidea yang mengalami gangguan
biasanya dipertahankan lebih lama daripaa jika kerusakan mengenai glandula
submandibula (Gordon, 1996).
c. Sialadenetis supuratif
Sialadenitis supuratif akut lebih jarang terjadi pada glandula submandibularis,
dan jika ada, seringkali disebabkan oleh sumbatan duktus dari batu saliva atau
oleh benturan langsung pada duktus. Dilakukan pemeriksaan kultur dari sekresi
purulen dan terapi antibiotic. Jika batu terletak pada bagian distal duktus
(intraoral), batu harus dikeluarkan. Jika sialolit terletak pada duktus proksimal.
Kadang-kadang glandula harus dipotong untuk mengontrol infeksi akut (Gordon,
1996).
2.4 Manifestasi Klinis Sialadenitis
Gejala yang timbul biasanya unilateral dan terdiri dari pembengkakan dan rasa
sakit, serta trismus ringan. Pada tahap ini belum dapat dilakukan penentuan
diagnosa yang dapat ditentukan bila telah terjadi serangan berulang kali.
Pembengkakan terjadi selama 2-10 hari dan serangan terulang kembalisetelah
beberapa minggu atau bulan. Pembengkakan yang rekurens dan nyeri didaerah
kelenjar submandibula (Haskel, 1990).
Demam terjadi jika timbul infeksi, menggigil, dan nyeri unilateral dan
pembengkakan berkembang. Kelenjar ini tegas dan lembut difus, dengan
eritema dan edema pada kulit di atasnya. Nanah sering dapat dinyatakan dari
saluran dengan menekan kelenjar yang terkena dampak dan harus berbudaya.
Focal pembesaran mungkin menunjukkan abses. Sekresi air liur yang sangat

kental dapat dikeluarkan dari duktus dengan melakukan penekanan pada


kelenjar. Kelenjar ini dapat terasa panas dan membengkak (Haskel, 1990).

2.5 Patofisiologi Sialadenitis

Terjadi penurunan fungsi duktus oleh karena infeksi, penyumbatan atau trauma
menyebabkan aliran saliva akan berkurang atau bahkan terhenti. Batu ludah
paling sering didapatkan di kelenjar submandibula. Pada glandula utama,
gangguan sekresi akan menyebabkan stasis (penghentian atau penurunan
aliran) dengan inspissations (pengentalan atau penumpukan) yang seringkali
menimbulkan infeksi atau peradangan. Glandula saliva utama yang mengalami
gengguan aliran saliva akan mudah mengalami serangan organism melalui
duktus atau pengumpulan organism yang terbawa aliran darah (Gordon, 1996).
2.6 Penatalaksanaan Sialadenitis
Pada semua keadaan, lubang masuk duktus harus diperlebar dengan
beberapa probe lakrimal. Batu pada duktus dapat dikeluarkan dengan membuat
insisi ke duktus dari mukosa mulut. Batu yang terletak lebih di dalam,
memerlukan insisi linear eksternal.
Bila faktor penyebab tidak dapat dihilangkan, sebaiknya usahakan untuk
memperbesar aliran dengan cara mengunyah permen karet. Periode akut dapat
dikontrol dengan kombinasi antibiotic dan massage kelenjar. Pada keadaan yang
lebih parah, gejala yang ada dapat dikontrol dengan pengikatan duktus atau
parotidektomi permukaan.
Pengikatan duktus hanya dilakukan bila ada hiposekresi yang hebat,
mialnya bila sindrom sicca atau kerusakan kelenjar telah sangat besar. Bila
kecepatan sekresi tinggi, parotidektomi merupakan indikasi.
Kadang-kadang terjadi infeksi akut pada kelenjar yang tersumbat, dan
perawatan dengan antibiotic (terutama penisilin) diperlukan sebelum perawatan
yang lebih menyeluruh dilakukan.
Langkah pertama adalah untuk memastikan Anda memiliki cukup cairan dalam
tubuh Anda. Anda mungkin harus menerima cairan intravena (melalui pembuluh
darah). Berikutnya, Anda akan diberikan antibiotik untuk menghancurkan
bakteri. Setelah saldo cairan telah dipulihkan, dokter gigi Anda dapat
merekomendasikan permen asam tanpa gula atau permen. Mereka dapat
merangsang tubuh memproduksi air liur lebih banyak. Jika infeksi tidak
membaik, Anda mungkin memerlukan pembedahan untuk membuka dan tiriskan
kelenjar. Jika sialadenitis disebabkan oleh batu di saluran, batu itu mungkin perlu
dihilangkan dengan operasi (Haskel, 1990).
2.7 Pemeriksaan Penunjang Sialadenitis
Hasil pemeriksaan menunjukkan pembengkakan elastic yang nyeri serta preaurikular, dengan kulit di atasnya normal. Lubang masuk duktus meradang dan
jumlah sekresi ludah berkurang, sedang massage kelenjar dapat menghasilkan
kotorsn flokulen kental disertai aliran ludah yang deras.

Radiograf pada bidang postero-anterior bagian depan duktus, dengan film yang
diletakkan pada pipi dapat menunjukkan batu, bila batu tersebut memang ada.
Sialograf harus dilakukan pad setiap keadaan diantara serangan akut yang satu
ke serangan berikut, dan dapat menunjukkan pembesaran duktus utama,
penyempitan, cacat radiolusen (baturadiolusen), sialektasis (sindrom sicca), atau
pada keadan yang sangat parah, ketidak teraturan yang menyeluruh. Keadaan
abnormal terbatas pada cabang duktus dan daerah-daerah yang berhubungan
dengannya.
Pemeriksaan jumlah ludah yang berkurang memang dianjurkan, untuk
membandingkan aliran dari kelenjar ini dengan kelenjar lain, tetapi cara
pemeriksaan ini masih dalam penelitian. Kanula Lashley dipasang pada tiap
duktus atau ludah ditampung setelah paien mengunyah permen karet atau
setelah dilakukan penyuntikan pilokarpin secara intravena. Kecepatan aliran
ludah yang normal 1 ml per menit dan pada sebagian bear keadaan tersebut
biasanya bersifat bilateral.
Bila terdapat sindrom sicca, dapat terjadi penurunan sekresi yang simetris.
Prognosa keadaan ini berhubungan dengan kecepatan sekresi, prognosa lebih
baik bila volume sekresi normal atau sedikit berkurang.
Pembengkakan rekuren (submandibula) disebabkan oleh neoplasma yang
terletak dalam kelenjar yang menimbulkan penyumbatan duktus. Hasil
pemeriksaan menunjukkan kelenjar submandibula yang membesar, keras, dan
pembengkakan dapat dilihat dengan meminta pasien mengingat makanan yang
disenanginya atau mengiap jeruk. Hasil pemeriksaan juga menunjukkan
berkurangnya aliran ludah dari duktus yang terserang.
Hasil pemeriksaan radiograf yang oblique dan oklusal dari dasar mulut
menunjukkan adanya batu. Perawatan dari keadaan ini meliputi pengeluaran
batu bila batu terletak di atas otot milohoid atau memotong kelenjar bila batu
terletak di bawah daerah yang masih dapat dicapai secara intra-oral.
Pemotongan kelenjar juga perlu dilakukan bila gejala yang hebat timbul berulang
kali. Keadaan ini, seperti terlihat pada hasil sialograf, berhubungna dengan
kerusakan kelenjar yang sangat luas dan sialektasis yang mungkin berasal dari
infeksi atau penyempitan duktus (Gordon, 1996).

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Sialadenitis. http://en.wikipedia.org/wiki/Sialadenitis, diakses


tanggal 23 Oktober 2010
Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: Penerbit buku
Kedokteran EGC
Greenberg. 2005. Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan. Jakarta: Erlangga
Ngastiyah. 2007. Perawatan Pada Anak. Jakarta: EGC

Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15. Jakarta: EGC


Pedersen, Gordon W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta: EGC
Haskel, R. 1990. Penyakit Mulut. Jakarta: EGC
Lewis, Michel A.O. 1998. Tinjauan Klinis Penyakit Mulut. Jakarta: Widya Medika
Lynch, Malcolm A. 1997. Oral Medicine. United States of America: Lippincott
Raven Publishe