Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Campak adalah suatu penyakit akut dengan daya penularan tinggi, yang ditandai
dengan demam, korisa, konjingtivitis, batuk disertai enanthem spesifik (kopliks spot)
diikuti ruam makulopapular menyeluruh. Komplikasi campak cukup serius seperti diare,
pneumonia, otitis media, eksaserbasi dan kematian. Kematian akibat campak sering
terjadi pada anak dengan malnutrisi terutama di negara berkembang. Terapi untuk
campak dan komplikasinya menyedot banyak sumber daya medis di sebagaian besar
Afrika, Asia dan Amerika Latin.1
Salah satu masalah kesehatan di Indonesia yang terjadi adalah adanya kasus
campak yang sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat. Campak merupakan
penyakit berbahaya karena dapat menyebabkan cacat dan merupakan salah satu penyebab
kematian anak di Negara berkembang termasuk Indonesia.1
Campak adalah penyakit endemik pada sebagian besar dunia. Campak sangat
menular, sekitar 90% kontak keluarga yang rentan mendapat penyakit. Campak jarang
subklinis. Sebelum penggunaan vaksin campak, puncak insiden pada umur 5-10 tahun,
kebanyakan orang dewasa imun. Sekarang di Amerika Serikat, campak terjadi paling
sering pada anak umur sekolah yang belum diimunisasi dan pada remaja dan orang
dewasa yang telah diimunisasi.1
Di Indonesia, diperkirakan lebih dari 30.000 anak meninggal setiap tahun karena
komplikasi yang diakibatkan oleh campak. Ini berarti setiap 20 menit terjadi satu
kematian anak akibat campak. Penyakit ini sangat potensial untuk menimbulkan kejadian
luar biasa (KLB), bahkan pada penderita dengan gizi buruk akan mudah terjadi kematian,
sehingga menjadi penyebab kematian utama pada anak. Pada tahun 2005 diperkirakan
345.000 kematian diseluruh dunia, sebagian besar diantaranya adalah anak-anak. Pada
tahun 2006 di Jawa Barat dilaporkan 3.748 kasus campak, 45,97% (1.723) di antaranya
terjadi pada balita.2

1 |c a m p a k

Melihat kenyataan yang ada maka perlu diadakan upaya-upaya untuk mengurangi
serta memberantas penyakit campak, yakni dengan melakukan imunisasi/pemberian
vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Biasanya imunisasi diberikan
dengan cara disuntikan maupun diteteskan pada mulut anak balita.1
Mesikupun imunisasi menurunkan jumlah kematian, namun di negara
berkembang manifestasi penyakit campak seringkali lebih berat, dengan case fatality rate
sebesar 25% serta merupakan penyebab kematian pada 800.000 anak setiap tahunnya.
Laporan dari WHO menyebutkan bahwa selama setahun 1990-1997 didaerah Asia
Tenggara (meliputi Banglades, Bhutan, Republik Korea, India, Indonesia, Maldives,
Myanmar, Nepal, Sri Lanka dan Thailand) jumlah kasus campak yang dilaporkan dan
insiden campak menurun 48% dan 53%. Pada negara dengan cakupan imunisasi tinggi,
yaitu Bhutan, Indonesia, Maldives, Sri Lanka dan Thailand, lebih 50% kasus terjadi pada
anak berusia lebih dari 5 tahun. Amerika serikat pada tahun 1978 mempunyai inisiatif
untuk memulai program eliminasi campak dengan 3 komponen pada programnya yaitu
mempertahankan tingkat imunitas yang tinggi dengan vaksin campak dosis tunggal,
memperkuat surveilan dan melakukan kontrol agresif kejadian luar biasa KLB campak.3
Hasil dari program ini terjadi penurunan kasus, tetapi 60% dari kasus yang ada
terjadi pada anak yang berumur lebih dari 10 tahun. Dari hasil ini, maka kemudian
direkomendasikan pemberian dua dosis vaksin yang mengandung campak, dengan
pemberian dosis kedua sebelum awal masuk sekolah. Pada tahun 1989-1991 terjadi
resurgence campak besar-besaran di Amerika Serikat, yang disertai dengan kematian
yang tinggi di antara antara usia prasekolah yang tidak mendapatkan imunisasi.
Dilakukan berbagai usaha, sampai akhirnya tahun 1996 hanya 508 kasus campak yang
dilaporkan dengan 65 kasus akibat trasnmisi campak dari negara lain.3
Sekarang ini masih banyak variasi yang menunjukkan keberhasilan dari
pelaksanaan PIN campak, tingginya angka kejadian campak, juga banyak hal yang
menyebabkan pelaksaan PiN campak tidak berjalan dengan baik pada beberapa tempat,
mengindikasikan perlunya melakukan Studi Kasus Pelaksanaan PIN campak.3

2. TUJUAN
Dalam tinjuan pustaka saya kali ini bertujuan untuk melakukan penerangan pada
masyarakat indonesia agar turut berpartisipasi dalam PIN campak, agar program
penurunan insiden campak menjadi berkurang sehingga banyak nyawa khususnya bayi
2 |c a m p a k

dan balita yang bisa terhindar dari penyakit campak. Selain dari pada itu tujuan dari
pembuatan tinjuan pusataka ini juga untuk memberikan penjelasan dan penerangan pada
masyrakat agar paham dan mengerti apa itu campak? Dan bagaimana bahayanya jika
campak itu tidak segera diobati.

3. MANFAAT
Tinjuan pustaka ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada penulis dan
pembaca khususnya yang terlibat dalam bidang medis dan masyarakat secara umumnya
agar dapat lebih mengetahui dan memahami lebih dalam mengenai campak.

BAB II
PEMBAHASAN
1. DEFINISI PENYAKIT CAMPAK
Penyakit campak juga termasuk toea atau kuni. Catatan dokter Rhazes dari
Persia atau dikenal juga sebagai Abu Bakar yang hidup pada abad 10 menceritakan
adanya kasus campak. Namun, catatan tersebut sebenernya hanya meceritakan kasus
yang terjadi pada abad 7 seperti halnya tulisan Al Yehudi, Israel. Rhazes menyebut
campak sebagai hasbah dalam bahasa arab maksudnya adalah eruption yakni
pemunculan bintik-bintik kemerahan diseluruh badan.mdalam bahasa latin disebut
Rubeola dan Morbili dari kata Morbus artinya penyakit.3
Campak adalah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan tiga
stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi. Nama lain
penyakit ini adalah campak, measles, rubeola.3
Penularan terjadi secara droplet dan kontak langsung dengan pasien. Virus morbili
terdapat dalam sekret nasofaring dan darah selama stadium kataral sampai 24 jam setelah
timbul bercak dikulit. Banyak kesamaan antara tanda-tanda biologis campak dan cacar
memberi kesan kemungkinan bahwa campak dapat diberantas. Tanda-tanda ini adalah
ruam khas, tidak ada reservoir binatang, tidak ada vektor, kejadian musiman dengan masa
bebas penyakit, virus laten tidak dapat ditularkan, satu serotip dan vaksin efektif.

3 |c a m p a k

Antara satu dari 15 anak yang terkena campak akan menderita radang paru-paru
dan satu dari 1000 akan menderita radang otak (encephalitis). Untuk setiap 10 anak
dengan encephalitis campak, satu akan meninggal dunia dan banyak akan menderita cacat
otak permanen. Suatu kondisi langka bersama SSPE (subacute sclerosing panecephalitis)
dapat berkembang beberapa tahun sesudah infeksi campak. SSPE dengan cepat merusak
otak dan selalu menyebabkan kematian. Campak dapat ditularkan melalui batuk dan
bersin dari seseorang penderita sebelum orang tadi menyadari bahwa dia sakit.3
DEFINISI CAMPAK MENURUT WHO
Menurut WHO kasus klinis campak adalah kasus dengan gejala bercak
kemerahan ditubuh berbentuk makulo papular didahului panas badan > 38C (teraba
panas) selama 3 hari atau lebih dan disertai salah satu gejala batuk, pilek atau mata
merah.4
Bercak kemerahan papular tersebut setelah satu minggu berubah menjadi
kehitaman (hiperpigmentasi) disertai kulit berbisik yang akan menghilang setelah kurang
lebih satu bulan. Pada kasus yang telah menunjukkan hiperpigmentasi, perlu dilakukan
anamnesis dengan teliti dan apabila pada masa akut (permulaan sakit) terrdapat gejalagejala tersebut diatas maka kasus campak klinis.4
DEFINISI CAMPAK MENURUT DEPKES
Menurut Depkes 2006, kasus konfirmasi campak adalah kasus campak klinis
disertai salah satu kriteria :
I.

Hasil pemeriksaan laboratorium serologis positif (Igm positif atau kenaiakan titer

II.

antibodi 4 kali) dan atau isolasi virus campak positif.


Kasus campak yang mempunyai kontak langsung (ada hubungan epidemiologi)

dengan kasus konfirmasi, dalam periode 1-2 minggu.4


Campak adalah suatu penyakit infeksi virus aktif menular, ditandai oleh tiga stadium:1.
Stadium inkubasi atau kataral sekitar 10-12 hari dengan sedikit, jika ada, tanda-tanda atau
gejala, 2. Stadium prodromal dengan exantem (bercak koplik) pada mukosa bukal dan
faring, demam ringan sampai sedang, konjungtivitis ringan, koryza dan batuk yang
semakin berat dan 3. Stadium akur atau konvalesen dengan ruam makuler yang muncul
4 |c a m p a k

berturut-turut pada leher dan muka, tubuh, lengan dan kaki dan disertai oleh demam
tinggi.3

2. ETIOLOGI
Penyakit ini disebabkan oleh golongan paramyxovirus (Anonim), yaitu virus
RNA dari famili Paramixofiridae, genus Morbilivirus. Hanya satu tipe antigen yang
diketahui. Selama masa prodromal dan selama waktu singkat sesudah ruam tampak, virus
ditemukan dalam sekresi nasofaring, darah dan urin. Virus dapat tetap aktif selama
sekurang-kurangnya 34 jam dalam suhu

kamar

. Virus campak sangat sensitif terhadap

temperatur sehingga virus ini menajdi tidak aktif pada suhu 37 derajat celcius atau bila
dimasukkan ke dalam lemari es selama beberapa jam. Dengan pembekuan lambat makan
infeksitasnya akan hilang.3
Virion campak berbentuk spehris, pleomorphic dan memnpunyai sampul
(envelope) dengan diameter 100-250 nm. Virion terdiri dari nukleocapsid yaitu helic dari
protein RNA dan sampul yang mempunyai tonjolan pendek pada permukaannya.
Tonjolan pendek ini disebut pepfomer dan teridei dari hemaglutinin (H) pepiomer yang
berbentuk buat fusion (F) peplomer yang berbentuk seperti bel (dumbbell-shape). Berat
molekul dari single stranded rNA adlah 4,5 x 10.3
Virus campak terdiri dari 6 protein struktural, 3 tergabung dalam RNA yaitu
nukleoprotein (N), polymerase protein (P), dan large protein (L), 3 protein lainnya
berhubungan dengan sampul virus. Membran sampul terdiri dari M protein (glycosylated
protein) yang berhubungan dengan bagian dalam lipid bilayer dan 2 glikoprotein H dan F.
Glikoprotein H menyebabkan adsorbsi virus pada reseptor host. CD46 yang merupakan
complement regulatory protein dan tersebar luas pada jaringan primata bertindak sebagai
reseptor glikoprotein H. Glikoprotein F menyebabkan fusi virus pada sel host, penetrasi
virus dan hemolisis. Dalam kultur set virus campak mengakibatkan cytopathic elect yang
terdiri dari stellate cell dan virus campak ini sangat sensitifu pada panas dan dingin, cepat
inaktivasi pada suhu 37C dan 20 C. Selain itu virus juga menjadi inaktif dengan sinar
ultraviolet, ether, trypsin dan p-propiolactone. Virus tetap infektif pada bentuk droplet di
udara selama beberapa jam terutama pada keadaan dengan tingkat kelemahan yang
rendah.3
Virus campak dapat diisolasi dalam biakan embrio manusia, perubahan sitopatik,
tampak dalam 5-10 hari, terdiri dari sel raksasa multinukleus dengan inklusi intranuklear.
Antibodi dalam sirkulasi dapat dideteksi bila ruam muncul.3
5 |c a m p a k

Penyebaran virus maksimal adalah dengan tetes semprotan selama masa


prodromal (stadium kataral). Penularan terhadap kontak rentan sering terjadi sebelum
diagnosis kasus aslinya, orang yang terinfeksi menjadi menular pada hari ke 9-10 sesudsh
pemajanan (mulai fase prodromal) , pada beberapa keadaan awal hari ke 7 sesudah
pemajanan sampai hari ke 5 sesudah ruam muncul.3

3. EPIDEMIOLOGI
Campak merupakan penyakit endemik di banyak negara tertentu di negara
berkembang. Angka kesakitan di seluruh dunia mencapai 5-10 kasus per 10.000 dengan
jumlah kematian 1-3 kasus per 1000 orang. Campak masih ditemukan di negara maju.
Sebelum ditemukan vaksin pada tahun 1963 di Amerika serikat, terdapat lebih dari 1,5
juta kasus campak setiap tahun. Mulai tahun 1963 kasus campak menurun drastis dan
hanya ditemukan kurang dari 100 kasus pada 1998. 5
Di Indonesia, campak masih menempati urutan ke 5 dari 10 penyakit utama bayi
dan anak balita (1-4 tahun) berdasarkab laporan SKRT tahun 1985/1986. KLB masih
terus dilaporkan. Dilaporkan terjadi KLB dipulau Bangka pada tahun 1971 dengan angka
kematian sekitar 12%, KLB di Provinsi Jawa Barat pada tahun 1981(CFR=15%), dan
KLB di Palembang, Lampung dan Bengkulu pada tahun 1988. Pada tahun 2003, di
Semarang masih tercatat terdapat 104 kasus campak dengan CFR 0%.5
Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan
kekebalan seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili
akan mendapatkan kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6 bulan dan
setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga si bayi dapat menderita
morbili. Bila si ibu belum pernah menderita morbili ketika ia hamil 1 atau 2 bulan, maka
50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia menderita morbili pada trimester
pertama , kedua atau ketiga maka ia mungkin melahirkan seorang anak dengan kelainan
bawaan atau seorang anak dengan berat badan lahir rendah atau lahir mati anak yang
kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.5
DISTRIBUSI dan FREKUENSI PENYAKIT CAMPAK
A. Menurut orang
6 |c a m p a k

Campak adalah penyakit yang sangat meunlar yang dapat menginfeksi


anak-anak pada usia dibawah 15 bulan, anak usia sekolah atau remaja dan kadang
kala orang dewasa. Campak endemis di masyarakat metropolitan dan mencapai
proporsi untuk menjadi epidemic setiap 2-4 tahun ketika terdapat 30-40% anak
yang rentan atau belum mendapat vaksinasi. Pada kelompok dan masyarakat yang
lebih kecil, epidemic cenderung terjadi lebih luas dan lebih berat. Setiap orang
yang telah terkena campak akan memiliki imunitas seumur hidup.6
B. Menurut tempat

Penyakit campak dapat terjadi dimana saja kecuali di daerah yang sangat
terpencil. Vaksinasi telah menurunkan insiden morbili tetapi upaya eradiksai
belum dapat direalisasikan.
Berdasarkan data yang di laporkan ke WHO, terdapat sekitar 1.141 kasus
campak di Afganistan pada tahun 2007. Di Myanmar tercatat sebanyak 735 kasus
campak pada tahun 2006.7
C. Menurut waktu

Virus penyebab campak mengalami keadaan yang paling stabil pada


kelembaban di bawah 40%. Udara yang kering menimbulkan efek yang positif
pada virus dan meningkatkan penyebaran di rumah yang memiliki alat
penghangat ruangan seperti pada musim dingin di daerah utara. Sama halnya
dengan udara pada musim kemarau di Persia atau Afrika yang memiliki insiden
kejadian

campak

yang

relative

tinggi

pada

musim-musim

tersebut.

Bagaimanapunn, kejadian campak akan meningkat karena kecenderungan


manusia untuk berkumpul pada musim-musim yang kurang baik tersebut
sehingga efek dari iklim menjadi tidak langsung dikarenakan kebiasaan manusia.
Kebanyakan kasus campak terjadi pada akhir musim dingin dan awal
musim semi di Negara dengan empat musim dengan puncak kasua terjadi pada
bulan Maret dan April. Lain halnya dengan di Negara tropis dimana kebanyakan
kasus terjadi pada musim panas. Ketika virus menginfeksi populasi yang belum
menadapatkan kekebalan atau vaksinasi maka 90-100% akan menjadi sakit dan
menunjukkan gejala klinis.8
DETERMINANT PENYAKIT CAMPAK

7 |c a m p a k

a. Host (penjamu)
Beberapa faktor host yang meningkatkan risiko terjadinya campak antara lain :
a) Umur

Pada sebagian besar masyarakat, maternal antibodi akan melindungi bayi


terhadap campak selama 6 bulan dan penyakit tersebut akan dimodifikasi oleh
tingkat maternal antibodi yang tersisa sampai bagian pertama dari tahun kedua
kehidupan. Tetapi, dibeberapa populasi, khususnya Afrika, jumlah kasus terjadi
secara signifikan pada usia dibawah 1 tahun dan angka kematian mencapai 42%
pada kelompok usia kurang dari 4 tahun. Diluar periode ini, semua umur
sepertinya memiliki kerentanan yang sama terhadap infeksi. Umur terkena
campak lebih tergantung oleh kebiasaan individu dari pada sifat alamiah virus.
Di Amerika Utara, Eropa Barat dan Australia, anak-anak menghabiskan
lebih banyak waktu dirumah, tetapi ketika memasuki sekolah jumlah anak yang
menderita menjadi meningkat.
Sebelum meningkat disosialisasikan secara luas, kebanyakan kasus
campak di negara industri terjadi pada anak usia 4-6 tahun ataupun usia sekolah
dasar dan pada anak dengan usia yang lebih muda di negara berkembang.
Cakupan imunisasi yang intensif menghasilkan perubahan dalam distribusi unur
dimana kasus lebih banyak pada anak dengan usia yang lebih tua, remaja, dan
dewasa muda.
b) Jenis kelamin

Tidak ada perbedaan insiden dan tingkat kefatalan penyakit campak pada
wanita ataupun pria. Bagaimanapun, titer antibodi wanita secara garis besar lebih
tinggi dari pada pria. Kejadian campak pada masa kehamilan berhubungan
dengan tingginya angka aborsi spontan.
Berdasarkan penelitian Suwono di Kediri dengan desain penelitian kasus kontrol
mendapatkan hasil bahwa berdasarkan jenis kelamin, penderita campak lebih banyak
pada laki-laki yakni 62%.
c) Umur pemberian imunisasi

8 |c a m p a k

Sisa antibody yang diterima dari ibu melalui plasenta merupakan factor
yang penting untuk menentukan umur imunisasi campak dapat diberikan pada
balita. Maternal antibody tersebut dapat mempengaruhi respom imun terhadap
vaksin campak hidup dan pemberian imunisasi yang terlalu awal tidak selalu
menghasilkan imunitas atau kekebalan yang adekuat.
Pada umur 9 bulan, sekitar 10% bayi di beberapa Negara masih
mempunyai antibody dari ibu yang dapat mengganggu respon terhadap imunisasi.
Menunda imunisasi dapat meningkatkan angka serokonversi. Secara umum
dinegara berkebang akan di dapatkan angka serokonversi lebih dari 85% bila
vaksin diberikan pada umur 9 bulan. Sedangkan dinegara maju, anak akan
kehilangan antibody maternal saat berumur 12-15 bulan sehingga pada umur
tersebut direkomendasikan pemberian vaksin campak. Namun, penundaan
imunisasi dapat mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas akibat
campak yang cukup tinggi di kebanyakan Negara berkembang.
d) Pekerjaan

Dalam lingkungan sosioekonomis yang buruk, anak-anak lebih mudah


mengalami infeksi silang. Kemiskinan bertanggung jawab terhadap penyakit yang
ditemukan pada anak. Hal ini karena kemiskinan mengurangi kapasitas orang tua
untuk mendukung perawtan kesehtan yang memadai pada anak, cenderung
memiliki hygiene yang kurang, miskin diet, miskin pendidikan. Frekuensi relative
anak dariorangtua yang berpenghasilan rendah 3 kali lebih besar memiliki risiko
imunisasi terlambat dan 4 kali lebih tinggi menyebabkan kematian anak
dibandingkan anak yang orang tuanya berpenghasilan cukup.
e) Pendidikan

Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang untuk


bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya. Orang yang
berpendidikan lebih tingi biasanya akan bertindak lebih rasional. Oleh karena itu orang
yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagsan baru. Pendidikan juga

mempengaruhi pola berfikirpragmatis dan rasional terhadap adat kebiasaan,

9 |c a m p a k

dengan pendidikan lebih tinggi orang dapat lebih mudah untuk menerima ide atau
masalah baru.
f) Imunisasi
Vaksin campak adalah preparat virus yang dilemahkan dan berasal dari
berbagai strain campak yang diisolasi. Vaksin dapat melindungi tubuh dari infeksi
dan memiliki efek penting dalam epidemiologis penyakit yaitu mengubah
distribusi relative umur kasus dan terjadi pergeseran ke umur yang lebi tua.
Pemberian imunisasi pada masa bayi akan menurunkan penularan agen infeksi
dan mengurangi peluang seseorang yang rentan untuk terpajan pada agen
tersebut.. anak yang belum diimunisasi akan tumbuh menjadi besar atau dewasa
tanpa pernah terpajan dengan agen infeksi tersebut. Pada campak, manifestasi
penyakit yang paling berat biasanya terjadi pada anak berumur kurang daru 3
tahun.
Pemberian imunisasi pada umur 8-9 bulan diprediksi dapat menimbulkan
serokonveksi pada sekurang-kurangnya 85% bayi dan dapat mencegah sebagian
besar kasus dan kematian.
g) Status gizi

Kejadian kematian karena campak lebih tinggi pada kondisi malnutrisi,


tetapi belum dapat dibedakan antara efek malnutrisi terhadap kegawatan penyakit
campak dan efek yang ditimbulkan penyakit campak terhadap nutrisi yang
dikarenakan penurunan selera makan dan kemampuan untuk mencerna makanan.
Dari sebuah studi dinyatakan bahwa elemen nutrisi utama yang
menyebabkan kegawatan campak bukanlah protein dan kalori tetapi vitamin A.
Ketika terjadi deviensi vitamin A, kematian atau kebutaan menyertai penyakit
campak. Apapun urutan kejadiannya, kematian yang berhubungan dengan
penyakit campak mencapai tingkat yang tinggi, biasanya lebih dari 10% terjadi
pada keadaan malnutrisi.
h) Asi ekslusif
Sebanyak lebih dari tiga puluh jenis immunoglobulin terdapat didalam
ASI yang dapat diidentifikasi dengan teknik-teknik terbaru. Delapan belas
diantaranta berasal dari serum si ibu dan sisanya hanya ditemukan di dalam
ASI/kolostrum. Immunoglobulin yang terpenting yang ditemukan pada kolostrum
10 |c a m p a k

adalah IgA, tidak saja karena konsentrasinya yang tinggi tetapi juga karena
aktivitas biologiknya.
IgA dalam kolostrum dan ASI sangat berkhasiat melindungi tubuh bayi
terhadap penyakit infeksi. Selain dari pada itu immunoglobulin G dapat
menembus plasenta dan berada dalam konsentrasi yang cukup tinggi di dalam
darah janin/bayi sampai umur beberapa bulan, sehingga dapat memberikan
perlindungan terhadap beberapa jenis penyakit. Adapun jenis antibody yang dapat
ditransfer denga baik melalui plasenta adalah difteri, tetanus, campak, rubella,
parotitis, polio dan stafilokokus.
b. Agent

Penyebab infeksi adalah virus campak, anggota genus Morbilivirus dari family
Paramyxoviridae.
c. Lingkungan

Epidemic campak dapat terjadi setiap 2 tahun di Negara berkembang dengan


cakupan vaksinasi yang rendah. Kecenderungan waktu tersebut akan hilang pada
populasi yang terisolasi dan dengan jumlah penduduk yang sangat kecil yakni <400.000
orang.
Status imunitas populasi merupakan factor penentu. Penyakit akan meledak jika
terdapat akumulasi anak-anak yang suspetibel. Ketika penyakit ini masuk ke dalam
komunitas tertutup yang belum pernah mengalami endemic, suatu epidemic akan terjadi
dengan cepat dan angka serangan mendekati 100%. Pada tempat dimana jarang terjangkit
penyakit, angka kematian bisa setinggi 25%.

4. PATOFISIOLOGI
Sebagai reaksi terhadap virus maka terjadi eksudat yang serous dan proliferasi sel
mononukleus dan beberapa sel polimorfonukleus disekitar kapiler. Kelaianan ini terdapat
pada kulit, selaput lendir nasofaring, bronkus, dan konjungtiva.5
Penularan : secara droplet terutama selama stadium kataralis. Umumnya
menyerang pada usia 6-5 tahun. Di kulit, reaksi terutama menonjol sekitar kelenjar
sebasea dan folikel rambut. Bercak koplik terdiri dari eksudat serosa dan proliferasi sel
endotel serupa dengan bercak pada lesi kulit. Reaksi radang menyeluruh pada mukosa
bukal dan faring meluas kedalam jaringan limfoid dan membran mukosa trakeobronkial.
Pneumonitis interstitial akibat dari virus campak mengambil bentuk pneumonia sel
raksasa Hecht. Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh infeksi bakteri sekunder.5
11 |c a m p a k

PATOGENESIS
Virus campak menginfeksi dengan invasi pada epitel traktus respiratorius mulai
dari hidung sampai traktur respiratorius bagian bawah. Multiplikasi lokal pada mukosa.
Respiratorius segera disusul degan viremia pertama dimana virus menyebar dalam
leukosit

pada

sistem

retikuloendotelial.

Setelah

terjadi

nekrosis

pada

sel

retikuloendotelial sejumlah virus terlepas kembali dan tjadilah viremia kedua. Sel yang
paling banyak terinfeksi adalah monosit. Jaringan yang terinfeksi termasuk timus, linen,
kelenjar limfe, hepar, kulit, konjungtiva dan paru. Setelah terjadi viremia kedua seluruh
mukosa respiratorius terlibat dalam perjalanan penyakit sehingga menyebabkan
timbulnya gejala batuk dan korisa. Campak dapat secara langsung menyebabkan croup,
bronchiolitis dan pneumonia, selain itu adanya kerusakan rspiratorius seperti edema dan
hilangnya silia menyebabkan timbulnya komplikasi otitis media dan pneumonia. Setelah
beberapa hari sesudah seluruh mukosa respiratorius terlibat, maka timbullah bercak
koplik dan kemudian timbul ruam pada kulit. Kedua manifestasi ini pada pemeriksaan
mikroskopik menunjukkan multinucleated giant cells, edema inter dan intraseluler,
parakeratosis dan dyskeratosis.5
Timbulnya ruam pada campak bersamaan dengan timbulnya antibodi serum dan
penyakit menjadi tidak infeksius. Oleh sebab itu dikatakan bahwa timbulnya ruam akibat
rekasi hipersensitivitas host pada virus campak. Hal ini berarti bahwa timbulnya ruam ini
lebih kearah imunitas seluler. Pernyataan ini didukung data bahwa pasien dengan
defisiensi imunitas seluler yang terkena campak tidak didapatkan adanya ruam
makulopapuler, sedangkan pasien dengan gamaglobulinemia bila terkena campak masih
didapatkan ruam makulopapuler.5

5. GEJALA KLINIS
Setelah masa tunas selama 10-11 hari penyakit diawali dengan demam dan
malaise. Dalam waktu 24 jam terjadi korisa, konjungtivitis dan batuk. Keluhan tersebut
semakin menghebat hingga mencapai puncaknya pada hari ke 4 dengan munculnya
erupsi kulit. Kira-kira dua sehari sebelum timbul ruam tampak bercak koplik pada selaput
mukosa pipi yang berhadapan dengan molar. Dalam tiga hari lesi semakin bertambah dan
mengenai seluruh mukosa. Demam menurun dan bercak koplik menghilang pada akhir
hati kedua setelah timbul ruam. Ruam berupa erupsi makulopapular yang kemerahan
menjalar dari kepal (muka, dahi, garis batas rambut, telinga dan leher bagian atas)
12 |c a m p a k

menuju ke ekstremitas dalam 3 sampai 4 hari. Dalam 3 sampai 4 hari berikutnya ruam
memudar sesuai urutan terjadinya.6
Manifestasi klinis campak yang lain adalah campak atipikal dan modified
measles. Campak atipikal adalah campak yang terjadi pada seseorang yang mendapat
vaksinasi virus campak mati. Sesudah masa prodromal panas dan nyeri selama 1 atau 2
hari, muncul ruam yang dimulai dari ekstremitas dan dapat berupa urtikaria,
makulopapular, hemorraghic, vesikular ataupun kombinasi dari beberapa bentuk.
Didapatkan juga panas yang tinggi, edema extremitas, hepatitis dan kadang-kadang efusi
pleura. Pada pemeriksaan serologi campak didapatkan titer antibodi HI yang tinggi.
Penyakit ini cenderung lebih parah dari pada camapk biasa. Patogenesis campak atipikal
ini adalah vaksin virus camapak yang mati tidak dapat menginduksi antibodi terhadap
protein F yang bertanggung jawab menyebarnya virus dari sel yang satu ke sel yang lain.
Vaksin virus campak mati ini digunakan pada tahun 1963 sampai 1967, maka
konsekuensinya adalah bahwa penyakit ini kini hanya dapat dijumpai pada orang dewasa.
Modified measles adalah campak yang ringan karena penderita masih punya kekebalan
terhadap virus. Hal ini dapat terjadi pada bayi yang masih mempunyai antibodi campak
dari ibunya atau seseorang yang mendapatkan gammaglobulin setelah kontak pada
penderita campak. Gejala klinis dapat bervariasi dan beberapa gejala klinis tertentu
seperyi periode prodromal, konjungtivitis, bercak koplik dan ruam mungkin tidak
didapatkan.6
Campak yang terjadi pada penderita dengan defiensi imunitas seluler seperti AIDS,
penderita dengan terapi keganasa, ataupun segala bentuk imunodefiensi kongenital,
cenderung lebih parah. Setelah pasien-pasien ini kontak dengan penderita campak, gejala
klinis yang tampak adalah pneumonia giant cell tanpa didahului oleh timbulnya ruam. Pada
kondisi seperti ini diagnosa campak klinis sulit ditegakkan. Karena penderita dengan
immunocompromised kemungkinan juga mempunya respon antibodi yang buruk, maka
isolasi virus merupakan satu-satunya alat diagnosa.6
Masa inkubasi sekitar 10-12 hari jika gejala-gejala prodromal pertama dipilih sebagai
waktu mulai, atau sekitar 14 hari jika munculnya ruam yang dipilih, jarang masa inkubasi

13 |c a m p a k

dapat sependek 6-10 hari. Kenaikan ringan pada suhu dapat terjadi 9-10 hari dari hari infeksi
dan kemudia menurun selama 24 jam.6
Penyakit ini dibagi dalam 3 stadium, yaitu :
1. Stadium Kataral
Biasanya stadium ini berlangsung selama 4-5 hari dengan disertai panas (38,5C),
malaise, batuk, nasofaring, fotopobia, konjungtivitis, dan koriza. Menjelang akhir
stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang
patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik
berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarung dan dikelilinhi oleh etitema .
Lokasinya dimukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah. Jarang ditemukan
di bibir bawah tengah atau palatum. Kadang-kadang terdapat makula halus yang
kemudian menghilang sebelum stadium erupsi. Gambaran daerah tepi ialah
limfositosis dan leukopenia. Secara klinis, gambaran penyakit menyerupai
influenza dan sering didiagnosis sebagai influenza. Diagnosis perkiraan yang
besar dapat dibuat bila ada bercak koplik dan penderita pernah kontak dengan
penderita morbili dalam waktu 2 minggu terakhir.7
2. Stadium erupsi
Koriza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema atau titik merah di palatum
durum dan palatum mole. Kadang-kadang terlihat pula bercak koplik. Terjadinya
eritema yang berbentuk makula-papula disertai menaiknya suhu badan. Diantara
makula terdapat kulit yang normal. Mula-mula eritema timbul dibelakang telinga.,
dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah.
Kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak.
Ruam mencapai anggota bawah pada hari ketiga dan akan menghilang dengan
urutan seperti terjadinya. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening disudut
mandibula dan di daerah leher belakang. Terdapat pula sedikit splenomegali.
Tidak jarang disertai diare dan muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini adalah
black measles, yaitu morbili yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidng,
dan traktus digestiv.7
3. Stadium konvalensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekss yang berwarna lebih tua (hiperpihmentasi)
yang lama-kelamaan akan hikang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak
14 |c a m p a k

indonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini


merupakan gejala patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit lain
dengan eritema dan eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi.
Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi.7
MANIFESTASI KLINIS
Gejala serta tanda-tanda timbulnya penyakit campak adalah:
a. Panas badan > 38C selama 3 hari atau lebih, disertai salah satu atau lebih gejala : batuk,
pilek, mata merah atau mata berair.
b. Khas (Pathognomosis) ditemukan Kopliks spot atau bercak putih keabuan dengan dasar
merah dipipi bagian dalam (mucosal bucal)
c. Bercak kemerahan atau rash yang dimulai dari belakang telinga tubuh berbentuk makulo
papular selama 3 hari atau lebih, beberapa hari (4-7 hari) keseluruh tubuh, kemudian
bercak merah menjadi kehitam-hitaman disertai kulit berbisik.7

6. DIAGNOSA
Diagnosa dapat ditegakkan dengan anamnesis, gejala klinis dan pemeriksaan
laboratorium.
A. Kasus campak klinis
Kasus campak klinis adalah kasus dengan gejala bercak kemerahan di
tubuh berbentuk macular popular selama tiga hari atau lebih disertai panas
badan 38C atau lebih (terasa panas) dan disertai salah satu gejalan bentuk
pilek dan mata merah.8
B. Kasus campak konfirmasi
Kasus campak konfirmasi adalah kasus campak klinis disertai
salah satu kriteria yaitu :
a. Pemeriksaan laboratorium serologis (IgM postif atau
kenaikan titer antibody 4kali) dan atau isolasi virus campak
positif.
b. Kasus campak yang mempunyai kontak langsung dengan
kasus informasi, dalam periode waktu 1-2 minggu.8

7. PENATALAKSANAAN
15 |c a m p a k

Medika mentosa
Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari pemberian cairan yang cukup, suplemen
nutrisi,antibiotik diberikan apabila terjadi infeksi sekunder, antikonvulsan apabila terjadi
kejang, dan pemberian vitamin A
Tanpa komplikasi
i.
ii.
iii.

Tirah baring ditempat tidur


Vitamin A 100.000 IU,apabila disertai malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari
Diet makanan cukup cairan, kalori yang memadai. Jenis makanan disesuaikan
dengan tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya komplikasi.8

Pengobatan dengan komplikasi


1) Ensefalalitis
a. Perlu direduksi jumlah pemberian cairan kebutuhan untuk
mengurangi odema otak, disamping pemberian kortikosteroid, perlu
dilakukan koreksi elektrolit dan gangguan gas darah.
2) Brokopneumonia
a. Berikan antibiotic ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis, sampai
gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat peroral. Antibiotik
diberikan sampai tiga hari demam reda.
3) Otitis media akut
Sering kali disebabkan oleh karena infeksi sekunder, maka perlu
mendapatkan antibiotic kontrimoksazol-sulfametokzasol.
4) Enteritis
Pada keadaan berat anak mudah dehidrasi. Pemberian cairanintravena
dapat dipertimbangkan apabila terdapat enteritis dengan dehidrasi.8

8. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi yang terjadi disebabkan oleh adanya penurunan daya tahan tubuh
secara umum sehingga mudah terjadi infeksi. Hal yang tidak dinginkan adalah terjadinya
komplikasi kerna dapat mengakibatkan kematian pada balita, keadaan inilah yang
menyebabkan mudahnya terjadi komplikasi sekunder seperti berikut. Komplikasi
penyakit campak, pada penderita campak dapat terjadi komplikasi yang terjadi sebagai
akibat replikasi atau karena superinfeksi bakteri antara lain :

a. Otitis media akut

16 |c a m p a k

Dapat terjadi karena infeksi bakterial sekunder. Otitis media akut dapat
disebabkan invasi virus campak ke dalam telinga tengah. Gendang telinga
biasanya hyperemia pada fase prodromal dan stadium erupsi. Jika terjadi invasi
bakteri pada lapisan sel mukosa yang rudak karena invasi virus terjadi otitis media
purulenta.

b. Ensefalitis
Komplikasi neurologis tidak jarang terjadi pada infeksi campak. Gejala
encephalitis biasanya timbul pada stadium erupsi dan dalam 8 hari setelah onset
penyakit. Biasanya gejala komplikasi neurologis dari infeksi campak akan timbul
pada stadium prodromal. Tadana dari enceplaitis yang dapat muncul adalah:
kejang, letargi, koma, nyeri kepala, kelainan frekuensi nafas, twictching dan
disorientasi. Dugaan penyebab timbulnya komplikasi ini antara lain adalah adanya
proses autoimun maupun akibat virus campak tersebut.

c. Subacute Slcerosing Panecncephalitis (SSPE)


Merupakan suatu proses degenarasi susunan saraf pusat dengan
karakteristik gejala terjadinya deteriorisasi tingkah laku dan intelektual yang
diikuti kejang. Merupakanpenyulit cam[ak onset lambat yang rata-rata baru
muncul 7 tahun setelah infeksi campak pertama kali. Insiden pada anak laki-laki
3x lebih sering dibandingkan dengan anak perempuan. Terjadi pada 1/25.000
kasus dan menyebabkan kerusakan otak progresif dan fatal. Anak yang belum
mendapatkan vaksinasi memiliki risiko 10x lebih tinggi untuk terkena SSPE
dibandingkan dengan anak yang telah mendapatkan vaksinasi.

d. Bronkopneumonia
Bronkopneumonia dapat terjadi apabila virus Campak menyerang epitel
saluran pernafasan sehingga terjadi peradangan disebut radang paru-paru atau
pneumonia. Bronkopneumonia dapat disebabkan virus campak sendiri atau oleh
Pneumococcus, Streptococcus, dan Staphylococcus yang menyerang epitel pada
saluran pernafasan maka Bronkopneumonia ini dapat menyebabkan kematian bayi
yang masih muda, anak dengan kurang kalori protein.

e. Enteritis

17 |c a m p a k

Enteritis terdapat pada beberapa anak yang menderita campak, penderita


mengalami muntah mencret pada fase prodromal. Keadaan ini akibat invasi ke
dalam mukosa usus.9

9. PENCEGAHAN
I.

Pencegahan tingkat awal


Pencegahan tingkat awal berhubungan dengan keadaan penyakit yang
masih dalam tahap prepatogenesis atau penyakit belum tampak yang dapat
dilakukan dengan memantapkan status kesehatan balita dengan memberikan

II.

makanan bergizi sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh.


Pencegahan tingkat pertama
Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mencegah
seseorang terkena penyakit campak, yaitu :
a. Memberi penyuluhan kepada masyarakat

mengenai

pentingnya

pelaksanaan imunisasi campak untuk semua bayi.


b. Imunisasi dengan virus campak hidup yang dilemahkan, yang diberikan
pada semua anak berumur 9bulan sangat dianjurkan karena dapat
melindungi sampai jangka waktu 4-5 tahun.9
Imunisasi campak
Imunisasi merupakan suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang
secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak terpajan pada antigen
yang serupa, tidak terjadi penyakit. Dilihat dari cara timbulnya maka terdapat
dua jenis kekebalan, yaitu kekebalan aktif dan kekebalan pasif. Kekebalan
pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan oleh individu itu
sendiri. Sedangkan kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh
sendiri akibat terpajan oleh antigen seperti pada imunisasi, atau terpajan
secara alamiah. Kekebalan aktif biasanya berlangsung lebih lama karena
adanya memori imunologik.9
Imunisasi di Indonesia telah dilaksanakan sejak sebelum perang dunia
kedua dan pada saat itu hanya ditunjukkan untuk memberantas penyakit cacar.
Keberhasilan dunia membasmi penyakit dan virus cacar dari muka bumi pada
tahun 1980 membuktikan bahwa imunisasi merupakan upaya kesehatan
masyarakat yang sanagt efektif dan efesien. Pada tahun 1982, Badan
18 |c a m p a k

Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan imunisasi cacar dihentikan, karena


penyakit tersebut sudah tidak ada lagi dimuka bumi ini.9
Program

imunisasi

di

Indonesia

kemudian

diperbaharui

dan

dikembangkan semenjak tahun 1977 dan secara bertahap telah berhasil


meningkatkan cakupan yang dapat menurunkan angka kematian bayi. Untuk
program imunisasi campak di Indonesia dimulai pada tahun 1982.9
Vaksin campak
Orang-orang yang hidup pada abad 17 sudah bisa membedakan antara
penyakit campak dengan penyakit cacar. Namun, upaya pengembangan vaksin
campak baru dimulai pada tahun 1911.10
III.

Pencegahan tingkat kedua


Pencegahan tingkat kedua ditunjukan untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin
untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan demikian pencegahan ini
sekurang-kurangnya dapat menghambat atau memperlambat progrefisitas
penyakit, mencegah komplikasi, dan membatasi kemungkinan kecacatan, yaitu:
a. Menentukan diagnosis campak dengan benar baik melalui pemeriksaan
fisik atau darah.
b. Mencegah perluasan infeksi. Anak yang menderita campak jangan masuk
sekolah selama empat hari setelah timbulnya rash. Menempatkan anak
pada ruang khusus atau mempertahankan isolasi dirumah sakit dengan
melakukan pemisahan penderita pada stadium kataral yakni dari hari
pertama hingga hari keempat setelah timbulnya rash yang dapat
mengurangi keterpajanan pasien-pasien dengan resiko tinggi lainnya.
c. Pengobatan simtomatik diberikan untuk mengurangi keluhan penderita
yakni antipiretik untuk menurunkan panas dan juga obat batuk.
Antibiotiknya hanya diberikan bila terjadi infeksi sekunder untuk
mencegah komplikasi.
d. Diet dengan gizi tinggi kalori dan tinggi protein bertujuan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh penderita sehingga dapat mengurangi
terjadinya

komplikasi

campak

yakni

bronkitis,

otitis

19 |c a m p a k

media,moneumonia,mensefalomielitis,mabortus dan miokarditis yang


reversibel.10
IV. Pencegahan tingkat ketiga
Pencegahan tingkat ketiga bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan
kematian. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan pada pencegahan tertier
yaitu:
a. Penanganan akibat lanjutan dari komplikasi campak
b. Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan turun
secara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan menurunkan
imunitas mereka.10

BAB III
KESIMPULAN
Campak adalah salah satu penyakit infeksi menular yang sering menyerang anak-anak
yang angka kejadiannya cukup tinggi didunia. Campak merupakaan penyakit yang disebabkan
oleh virus RNA dari family Paramixiviridae, genus Morbilivirus. Penyakit ini ditandai dengan
demam, korizya, batuk, konjungtivitis, dan tanda koplik. Penularan penyakit ini dapat terjadi
ketika seseorang yang daya tahan tubuhnya menurun menghirup percikan yang mengandung
virus dari secret nasofaring pasien. Pencegahan penyakit campak amat penting. Di Indonesia
sampai saat ini pencegahan penyakit campak dilakukan dengan vaksinasi Campak secara rutin
yaitu diberikan pada bayi berumur 9-15 bulan. Sebelum era vaksin setiap anak didunia akan
terkena campak. Campak adalah penyakit dengan komplikasi yang cukup serius. Setelah era
vaksin morbiditas dan mortalitas akibat campak dapat diturunkam. Masih ada beberapa hal yang
menghambat secara operasinal dilakukannya eradikasi campak.

DAFTAR PUSTAKA
1. Depkes.Pedoman Pencegahan Kejadian Luar Biasa.Jakarta.2006.
2. Arias,Kathleen Meehan.Investigasi dan Pengendlian Wabah di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan.Jakarta:Penerbit EGC.2009.H:
3. Nelson WE, Behrman RE, Kliegman R, Arvin AM. Nelson ilmu kesehatan anak. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2012.

20 |c a m p a k

4. Infeksi idai Soegijanto S. Campak . Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi & Penyakit
Tropis. Edisi I. Jakarta. Balai Penerbit FKUI; 2011.
5. SMF
Ilmu
Kesehatan
Anak
FK
Unair.Pedoman

diagnosis

dan

terapi.2006.Surabaya:bag/smf ilmu kesehatan anak fk unair/rsu dr.soetomo


6. Atmar R.L. Complications of measles during pregnancy; 2011.
7. Okada H, Kobune F. Extensive lymphopenia due to apoptosis of uninfected lymphocytes
in acute measles patient; 2010.
8. Cahyono,JB
Suharjo

B,dkk.Vaksinasi:Cara

ampuh

cegah

infeksi.2010:Yogyakarta.Kanisius.
9. Perry R.T., Halsey N.A. The clinical significance of measles. Oxford Journals;
2014Setiawan, I made.Penyakit Campak.2008:Jakarta.Cv sagung seto
10. Center for disease Control and prevention.measles-united states,January-may
20,2011.mmwr morb mortal wkly rep.2011 may 24;60

21 |c a m p a k