Anda di halaman 1dari 24

841. Serumen Pasien 20 tahun datang dengan keluhan keluar cairan dari telinga kiri.

Pada
pemeriksaan otoskopi, didapatkan adanya membrane timpani yang perforasi subtotal. Dilakukan
pemeriksaan cairan telinga. Penyebab bakteri tersering adalah?
a. Klabsiella pneumoniae
b. Streptococcus
c. Staphylococcus
d. Pseudomonas aeruginosa
e. Bacteroides Fragilis
Pembahasan: Dari keluhan pasien dan pemeriksaan otoskopi yang ditemukan, pasien
mengalami otitis media akut stadium supurasi.
Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di daerah nasofaring dan faring.
Secara fisiologik nterdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke dalam telinga tengah
oleh silia mukosa tuba Eustachius, enzim dan antibody.
Otitis media akut (OMA) biasanya terjadi karena factor pertahanan tubuh ini terganggu.
Sumbatan tuba Eustachius merupakan factor penyebab utama dari otitis media. Karena fungsi
tuba Eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke telinga tengah juga terganggu, sehingga
kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan. Selain itu, pencetus lain adalah
infeksi saluran napas atas. Pada anak, makin sering anak terkena infeksi saluran napas, makin
besar kemungkinan terjadinya OMA. Pada bayi terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba
Eustachiusnya pendek, lebar dan letaknya agak horizontal, dan jugaadenoid pada anak relatif
lebih besar dibanding orang dewasa.
Stadium pada OMA:
1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius
Stadium oklusi tuba Eustachius terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh
retraksi membrana timpani akibat tekanan negatif dalam telinga tengah karena terjadinya
absorpsi udara. Selain retraksi, membrana timpani kadang-kadang tetap normal atau hanya
berwarna keruh pucat atau terjadi efusi.
2. Stadium Hiperemis (Pre Supurasi)
Stadium hiperemis (pre supurasi) akibat pelebaran pembuluh darah di membran timpani yang
ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema mukosa dan adanya sekret eksudat
serosa yang sulit terlihat.
3. Stadium Supurasi
Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen (nanah). Selain itu
edema pada mukosa telinga tengah makin hebat dan sel epitel superfisial hancur. Ketiganya
menyebabkan terjadinya bulging (penonjolan) membrana timpani ke arah liang telinga luar.
Pasien akan tampak sangat sakit, nadi & suhu meningkat dan rasa nyeri di telinga bertambah
hebat. Anak selalu gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak.
Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan ruptur
membran timpani akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa membran timpani. Daerah
nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan. Nekrosis ini disebabkan oleh terjadinya
iskemia akibat tekanan kapiler membran timpani karena penumpukan nanah yang terus
berlangsung di kavum timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil.

Keadaan stadium supurasi dapat kita tangani dengan melakukan miringotomi. Bedah kecil ini
kita lakukan dengan membuat luka insisi pada membran timpani sehingga nanah akan keluar dari
telinga tengah menuju liang telinga luar. Luka insisi pada membran timpani akan mudah
menutup kembali sedangkan ruptur lebih sulit menutup kembali. Bahkan membran timpani bisa
tidak menutup kembali jika membran timpani tidak utuh lagi.
4. Stadium Perforasi
Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa nanah yang
jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Kadang-kadang
pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut). Stadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya
pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman.
Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu menurun dan bisa tidur
nyenyak. Jika membran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret (nanah) tetap berlangsung
selama lebih 3 minggu maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Jika kedua
keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih 1,5-2 bulan maka keadaan itu disebut otitis
media supuratif kronik (OMSK).
5. Stadium Resolusi
Stadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur normal hingga perforasi
membran timpani menutup kembali dan sekret purulen tidak ada lagi. Stadium ini berlangsung
jika membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan virulensi kuman rendah. Stadium
ini didahului oleh sekret yang berkurang sampai mengering.
Penyebab dari otitis media akut adalah bakteri dan virus. Virus ditemukan sebagai
penyebab sekitar 25% kasus. Sedangkan bakteri merupakan penyebab utama otitis media
akut. Bakteri penyebab tersering adalah bakteri Streptococcus yang juga merupakan
bakteri utama penyebab batuk dan infeksi saluran napas. Karena kejadian OMA hampir
sering didahului oleh ISPA.

842. Pasien 67 tahun keluhan gangguan pendengaran kanan dan kiri, riwayat penggunaan
streptomisin 10 tahun yang lalu. Riwayat bermain petasan ketika kecil. Setelah dilakukan
audiometric didapatkan penurunan pendengaran dari intensitas rendah ke tinggi secara perlahan.
Diagnosis?
a. Trauma akustik
b. Tuli akibat obat
c. Presbiakusis
d. NIHL
Pembahasan:
Trauma akustik: Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi
suara yang sangat besar. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga
dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. Kerusakan
dapat berupa pecahnya gendang telinga, kerusakan tulang-tulang pendengaran, atau kerusakan
langsung organ Corti. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma
yang menyebabkan kehilangan pendengaran. Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne, Weber, dan
Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif,
pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang
lebih baik, sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek.
Untuk menilai ambang pendengaran, dilakukan pemeriksaan audiometri. Pemeriksaan ini
terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal). Pada
skala frekuensi, untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada
umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500, 1000, 2000,
3000, 4000, dan 6000 Hz. Bila sudah terjadi kerusakan, untuk masalah kompensasi maka
dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini merupakan frekuensi kritis yang
menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan; tanpa
memeriksa frekuensi 8000 Hz ini, sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang
terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain.
Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari
gangguan pendengaran yang terjadi. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan
tempat dilakukannya pemeriksaan, tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah
pajanan terhadap bising di luar pekerjaan, serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat
pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen.
Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech
audiometry, pengukuran impedance, tes rekruitmen, bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan
gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik.
Tuli akibat obat: Mekanisme aminoglikosida ototoxicity diperantarai oleh gangguan sintesis
protein mitokondria, dan pembentukan radikal oksigen bebas. Mekanisme awal aminoglikosida
dalam merusak pendengaran adalah penghancuran sel-sel rambut koklea, khususnya sel-sel
rambut luar.. Aminoglikosida muncul untuk menghasilkan radikal bebas di dalam telinga bagian
dalam dengan mengaktifkan nitric oksida sintetase yang dapat meningkatkan konsentrasi oksida

nitrat. Radikal oksigen kemudian bereaksi dengan oksida nitrat untuk membentuk radikal
peroxynitrite destruktif, yang dapat secara langsung merangsang sel mati. Apoptosis adalah
mekanisme utama kematian sel dan terutama diperantarai oleh kaskade mitokondria intrinsik.
Nampaknya aminoglikosida berinteraksi dengan logam transisi seperti sebagai besi dan tembaga
mungkin terjadi pembentukan radikal bebas tersebut. Akhirnya fenomena ini menyebabkan
kerusakan permanen pada sel-sel rambut luar koklea, yang mengakibatkan kehilangan
pendengaran permanen.
Presbiakusis: Presbikusis adalah tuli sensorineural (saraf) pada usia lanjut akibat proses
degenerasi (penuaan) organ pendengaran. Proses ini terjadi berangsur angsur, dan simetris
( terjadi pada kedua sisi telinga). Kemampuan mendengar penderita presbikusis akan berkurang
secara berangsur, biasanya terjadi bersamaan pada kedua telinga. Telinga menjadi sakit bila
lawan bicaranya memperkeras suara. Selain itu penderita presbikusis juga mengalami kesulitan
dalam memahami percakapan terutama di lingkungan bising, hal ini disebabkan oleh
berkurangnya kemampuan membedakan (diskriminasi) suku kata yang hampir mirip. Jika tidak
dilakukan upaya rehabilitasi pendengaran misalnya dengan memasang alat bantu dengar maka
kemampuan untuk memahami percakapan akan makin terganggu.
NIHL: Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel rambut. Daerah
yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya degenerasi yang
meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan Stereosilia pada sel-sel rambut luar
menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon terhadap stimulasi.
Dengan bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih banyak
kerusakan seperti hilangnya stereosilia. Daerah yang pertama kali terkena adalah daerah basal.
Dengan hilangnya stereosilia, sel-sel rambut mati dan digantikan oleh jaringan parut. Semakin
tinggi intensitas paparanbunyi, sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga rusak. Dengan
semakin luasnya kerusakan pada sel-sel rambut, dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga
dapat dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak

843. Seorang wanita datang dengan keluhan hidung berair, bersin, setiap bermain dengan hewan
peliharaan atau terkena debu. Obat yang harus diberikan adalah?
a. antihistamin oral + kortikosteroid
b. antihistamin topikal + antibiotik
c. kortikosteroid
d. antihistamin topical
Pembahasan: Pasien mengalami rhinitis alergi karena menunjukkan gejala dari trias rhinitis
rhinorea, sneezing dan ada satu lagi obstruksi nasi. Pada pasien mengacu pada tipe alergi karena
pasien mengalami keluhan hanya saat terpapar hewan peliharaan atau debu.
Rhinitis adalah inflamasi pada membran mukosa di hidung. Berdasarkan penyebabnya,
dibagi menjadi 2, yaitu rhinitis alergi karena allergen dan rhinitis nonalergi yang disebabkan
faktor-faktor pemicu seperti obat(rhinitis medicamentosa), atau karena abnormalitas structural
(rhinitis structural). Rhinitis alergi muncul ketika membran mukosa terpapar oleh allergen
sehingga memberikan respon yang diperantarai oleh immunoglobulin E (IgE).
Terapi rhinitis alergi terbagi dalam tiga pendekatan, meliputi penghindaran terhadap
allergen, farmakoterapi untuk pencegahan dan penanganan gejala, imunoterapi spesifik.
Penghindaran terhadap allergen merupakan cara yang paling memberikan hasil. Namun cara ini
juga sulit dilakukan. Cara yang sering digunakan untuk menghindari allergen antara lain
mengatur kelembaban ruangan untuk mencegah pertumbuhan jamur, menjauhkan hewan berbulu
dari pasien alergi, namun hal ini sering tidak dipatuhi terutama oleh pecinta binatang.
Membersihkan kasur secara rutin juga dapat dilakukan.
Sedangkan terapi farmakologinya didasarkan pada gejala yang terjadi. Antihistamin dan
dekongestan merupakan golongan obat yang sering dipakai untuk menangani rhinitis alergi. Pada
beberapa keadaan, golongan obat-obat ini dapat diberikan tanpa resep, namun pasien juga
memerlukan konseling untuk menentukan obat yang tepat.
Antihistamin
Mekanisme kerja obat golongan ini adalah berikatan dengan reseptor H1 tanpa
mengaktivasinya, mencegah ikatan dan aksi histamine. Antihistamin generasi baru juga dapat
berefek pada respon inflamasi seperti pelepasan histamine dan influx sel inflamasi. Antihistamin
yang sering digunakan adalah antihistamin oral. Antihistamin oral dibagi menjadi dua yaitu
generasi pertama (nonselektif) dikenal juga sebagai antihistamin sedatif serta generasi kedua
(selektif) dikenal juga sebagai antihistamin nonsedatif. Efek sedative antihistamin sangat cocok
digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan tidur karena rhinitis alergi yang dideritanya.
Selain itu efek samping yang biasa ditimbulkan oleh obat golongan antihistamin adalah efek
antikolinergik seperti mulut kering, susah buang air kecil dan konstipasi. Penggunaan obat ini
perlu diperhatikan untuk pasien yang mengalami kenaikan tekanan intraokuler, hipertiroidisme,
dan penyakit kardiovaskular. Antihistamin sangat efektif bila digunakan 1 sampai 2 jam sebelum
terpapar allergen. Penggunaan antihistamin harus selalu diperhatikan terutama mengenai efek
sampingnya. Antihistamin generasi kedua memang memberikan efek sedative yang sangat kecil
namun secara ekonomi lebih mahal.

Dekongestan
Dekongestan topical dan sistemik merupakan simpatomimetik agen yang beraksi pada
reseptor adrenergic pada mukosa nasal, memproduksi vasokonstriksi. Topikal dekongestan
biasanya digunakan melalui sediaan tetes atau spray. Penggunaan dekongestan jenis ini hanya
sedikit atau sama sekali tidak diabsorbsi secara sistemik (Dipiro, 2005). Penggunaan obat ini
dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan rhinitis medikamentosa (rhinitis karena
penggunaan obat-obatan). Selain itu efek samping yang dapat ditimbulkan topical dekongestan
antara lain rasa terbakar, bersin, dan kering pada mukosa hidung. Untuk itu penggunaan obat ini
memerlukan konseling bagi pasien. Sistemik dekongestan onsetnya tidak secepat dekongestan
topical. Namun durasinya biasanya bisa lebih panjang. Agen yang biasa digunakan adalah
pseudoefedrin. Pseudoefedrin dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat walaupun
digunakan pada dosis terapinya (Dipiro, 2005). Obat ini harus hati-hati digunakan untuk pasienpasien tertentu seperti penderita hipertensi. Saat ini telah ada produk kombinasi antara
antihistamin dan dekongestan. Kombinasi ini rasional karena mekanismenya berbeda.
Nasal Steroid
Merupakan obat pilihan untuk rhinitis tipe perennial, dan dapat digunakan untuk rhinitis
seasonal. Nasal steroid diketahui memiliki efek samping yang sedikit. Obat yang biasa
digunakan lainnya antara lain sodium kromolin, dan ipatropium bromida.
Kortikosteroid Sistemik
Pemakaian sistemik kadang diberikan peroral atau suntikan sebagai depo steroid
intramuskuler. Data ilmiah yang mendukung relatif sedikit dan tidak ada penelitian komparatif
mengenai cara mana yang lebih baik dan hubungannya dengan dose response. Kortikosteroid
oral sangat efektif dalam mengurangi gejala rinitis alergi terutama dalam episode akut.

844. Seorang anak 8 tahun diantar oleh ibunya mengeluh bersin, pilek, sesak napas berulang
setiap main di kamarnya. Pemeriksaan apa yang dapat dilakukan untuk mengetahui etiologi?
a. Tes sensitisasi
b. Tes serologis
c. Tes cungkit
d. Foto thorax
e. Tes darah
Pembahasan: Pada pasien anak di atas mengalami alergi, untuk itu perlu dilakukan tes alergi.
Tes yang dapat dilakukan untuk mengetahui alergi diantaranya:
Tes Cungkit: Tes cukit kulit (prick test) merupakan tes penapisan dengan sensitivitas dan
spesifisitas tinggi, cepat, dan relatif tidak mahal. Prinsip tes ini adalah memasukkan sejumlah
kecil alergen ke epidermis yang kemudian akan berikatan dengan IgE yang melekat di
permukaan sel mast yang selanjutnya akan mengeluarkan berbagai mediator yang menyebabkan
indurasi yang dapat diukur.
Tes tempel (patch test): Test tempel kurang bermanfaat dalam penegakan diagnosis karena
hanya dapat mendeteksi reaksi alergi fase lambat yang diperantarai IgE dan reaksi tipe IV.
Namun, apabila tes dilakukan dalam 30 menit, dapat mendeteksi reaksi alergi fase cepat.
Kombinasi tes tempel dengan tes cukit kulit atau pemeriksaan IgE serum spesifik akan
meningkatkan nilai prediksi positif hingga 100% pada kasus alergi susu sapi dan telur ayam,
sehingga tidak diperlukan tes provokasi makanan. Tes ini memiliki kelemahan, yaitu sulit
menjaga keping alergen yang digunakan tetap kontak pada permukaan kulit, khususnya pada
pasien anak.
RAST (Radio Allergo Sorbent Test) IgE Spesifik: Tes ini untuk mengetahui alergi terhadap
alergen hirup dan makanan. Tes ini memerlukan sampel serum darah sebanyak 2 cc. Lalu serum
darah tersebut diproses dengan mesin komputerisasi khusus, hasilnya dapat diketahui setelah 4
jam. Kelebihan tes ini : dapat dilakukan pada usia berapapun, tidak dipengaruhi oleh obatobatan.
Tes Provokasi: Tes ini digunakan untuk mengetahui alergi terhadap obat yang diminum,
makanan, dapat juga untuk alergen hirup, contohnya debu. Tes provokasi untuk alergen hirup
dinamakan tes provokasi bronkial. Tes ini digunakan untuk penyakit asma dan pilek alergi. Tes
provokasi bronkial dan makanan sudah jarang dipakai, karena tidak nyaman untuk pasien dan
berisiko tinggi terjadinya serangan asma dan syok. tes provokasi bronkial dan tes provokasi
makanan sudah digantikan oleh Skin Prick Test dan IgE spesifik metode RAST.

845. Pria 57 tahun datang dengan keluhan keluar darah dari hidung sejak 1 jam yang lalu. Pasien
tidak mengeluhkan nyeri kepala ataupun lemah badan. Darah sangat banyak. Setelah dipasang
tampon, darah masih banyak yang merembes. Tekanan darah 170/100 mmHg. Lain-lain dalam
batas normal. Diagnosis pasien tersebut adalah?
a. Tumor hidung
b. Trauma hidung (dari soal tidak ada riwayat trauma)
c. Epistaksis anterior
d. Epistaksis posterior
e. Krisis hipertensi
Pembahasan:
Krisis Hipertensi: Krisis hipertensi ditandai dengan peningkatan akut tekanan darah sistolik >
180/120 mmHg (JNC 7) membagi krisis hipertensi berdasarkan ada atau tidaknya bukti
kerusakan organ sasaran yang progresif (hipertensi emergensi dan hipertensi urgensi). Bukti
kerusakan organ sasaran yang dimaksud antara lain ensefalopati hipertensif, infark miokard akut,
gagal jantung kiri disertai edema paru, diseksi aneurisma aorta, dan eklamsia.
Epistaksis Anterior: Epistaksis anterior adalah perdarahan yang berasal dari septum (pemisah
lubang hidung kiri dan kanan) bagian depan, yaitu dari pleksus kiesselbach atau arteri etmoidalis
anterior. Perdarahan bersifat ringan dan dapat berhenti spontan.
Epistaksis Posterior: Epistaksis posterior adalah perdarahan yang berasal dari arteri
spenopalatina dan arteri etmoidh posterior. Sifat perdarahannya Biasanya hebat dan
sebagian besar mengalir ke nasofaring dan jarang berhenti spontan.
Tumor: Baik tumor hidung maupun sinus yang jinak dan yang ganas. Tersering adalah tumor
pembuluh darah seperti angiofibroma dengan ciri perdarahan yang hebat dan karsinoma
nasofaring dengan ciri perdarahan berulang ringan bercampur lendir atau ingus.

846. Pasien anak dengan perdarahan dari hidung, pemeriksaan lain normal. Arteri apa yang
paling sering terkena?
a. pleksus kiesselbach
Pembahasan: Pada anak sering sekali terjadi epistaksis anterior. Epistaksis anterior adalah
perdarahan yang berasal dari septum (pemisah lubang hidung kiri dan kanan) bagian depan, yaitu
dari pleksus kiesselbach atau arteri etmoidalis anterior. Perdarahan bersifat ringan dan dapat
berhenti spontan.
Epistaksis ini sering sekali terjadi pada anak dkaeranakan pembuluh darah nasal yang
berada di anterior atau pleksus kiesselbach masih rapuh, sehingga mudah sekali ruptur. Ruptur
yang paling seirng dikarenakan karena trauma. Misal anak sering mengorek hidung dengan jari,
Anak jatuh terkena hidung dll.

847. Pria datang dengan keluhan keluar cairan hijau berbau busuk dari sebelah hidung, kadang
keluar darah. Dari hasil pemeriksaan rinoskopi posterior didapatkan masa keabuan. Pemeriksaan
apa yang harus dilakukan pada pasien tersebut?
a. transiluminasi
Pembahasan: Transluminasi merupakan salah satu pemeriksaan untuk mengetahui sinus,apakah
terdapat pus/cairan didalam sinus atau tidak. Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit
akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan transiluminasi bermakna bila salah satu sisi sinus
yang sakit, sehingga tampak lebih suram dibanding sisi yang normal.

848. Pria datang dengan keluhan keluar cairan hijau berbau busuk dari sebelah hidung, kadang
keluar darah. Dari hasil pemeriksaan rinoskopi posterior didapatkan masa keabuan. Apa
diagnosis pasien tersebut?
a. sinusitis maksilaris
b. polip nasal
c. angiofibroma
Pembahasan:
Sinusitis Maksilaris: Infeksi yang mengenai salah satu sinus, dalam kasus ini adalah sinus
maxilaris. Pada sinusitis kita harus mengingat trias sinusitis, vacuum pain (nyeri pada sinus),
post nasal drip (cairan yang mengalir dari hidung ke faring) dan fector et nasale (menciumbau
busuk yang memang terdapat objeknya).
Polip Nasal: Polip nasi adalah massa lunak yang tumbuh di dalam rongga hidung. Kebanyakan
polip berwarna putih bening atau keabu abuan, mengkilat, lunak karena banyak mengandung
cairan (polip edematosa). Polip yang sudah lama dapat berubah menjadi kekuning kuningan
atau kemerah merahan, suram dan lebih kenyal (polip fibrosa). Polip kebanyakan berasal dari
mukosa sinus etmoid, biasanya multipel dan dapat bilateral. Polip yang berasal dari sinus
maksila sering tunggal dan tumbuh ke arah belakang, muncul di nasofaring dan disebut polip
koanal.
Angiofibroma: Tumor jinak pembuluh darah yang secarahistologik jinak namun secara klinis
bersifat ganas karena sifatnya yang dapat merusak tulang dan meluas ke jaringan di sekitarnya,
misal ke sinus paranasal, pipi, rongga mata atau tengkorak, sangat mudah berdarah dan sulit
dihentikan. Gejalanya diantaranya obstruksi nasal, epistaksis yang bersifat rekuren, sakit kepala
(terutama saat sinus paranasal terseumbat) dari tandanya nampak masa merah keabu-abuan yang
nampak jelas di faring nasal posterior, nonkapsul dan seringkali berlobus dan bisa bertangkai
bisa tidak.

849. Wanita 28 tahun mengeluh penciuman berkurang sejak 2 minggu yang lalu, disertai nyeri
kepala dan daerah bawah mata sekitar pipi. Pada pemeriksaan rhinoskopi terdapat pus yang
berbau. Pasase udara kanan dan kiri baik. Penatalaksanaannya?
a. Miringotomi
b. Aspirasi
c. Eksisi
d. Insisi
e. Punksi sinus
Pembahasan: Pada pasien ini mengalami sinusitis dengan salah satu dari train yang nyata yaitu
vacum pain atau nyeri pada sinusnya. Jadi tindakan yang harus dilakukan pada sinusitis adalah
irigasi dan pungsi sinus. Fungsinya adalah untuk mengeluarkan sekret yang terkumpul dalam
rongga sinus. Tujuannya untuk memperbaiki drainase dan pembersihan sekret dari sinus,
sehingga mengaktifkan silia kembali dan untuk mengambil bahan tes kultur dan sensitivitas jika
pengobatan antibiotic secara empiris tidak berhasil.
Prosedur ini dilakukan jika terapi dengan medikamentosa gagal mengatasi infeksi dan gejala
sinusitis lama menyembuh atau ketika diduga menimbulkan komplikasi. Selain itu, prosedur ini
dilakukan juga pada pasien yang mengalami immunocompremised, sebab sinusitis pada pasien
ini dapat menimbulkan sepsis jika tidak cepat ditangani.

850. Anak laki-laki 4 tahun mengeluhkan sesak napas. Dari pemeriksaan fisik didapatkan stridor
inspiratoar dan retraksi. Selain itu ditemukan membrane putih keabuan di faring dan laring. Apa
diagnosis penyakit tersebut?
a. TB paru
b. Bronkopneumoia
c. Sindrom croup
d. Difteri
e. Trakeomalasia
Pembahasan:
Difteri adalah infeksi bakteri yang dapat dicegah dengan imunisasi. Infeksi saluran respiratorik
atas atau nasofaring menyebabkan selaput berwarna keabuan dan bila mengenai laring atau
trakea dapat menyebabkan ngorok (stridor) dan penyumbatan. Sekret hidung berwarna
kemerahan. Toksin difteri menyebabkan paralisis otot dan miokarditis, yang berhubungan
dengan tingginya angka kematian. Secara hati-hati periksa hidung dan tenggorokan anak, terlihat
warna keabuan pada selaputnya, yang sulit dilepaskan. Kehati-hatian diperlukan untuk
pemeriksaan tenggorokan karena dapat mencetuskan obstruksi total saluran napas.
Pada anak dengan difteri faring, terlihat jelas bengkak pada leher (bull neck).

851. Seorang laki-laki mengeluh nyeri menelan, suara serak, didapatkan membrane kelabu. TTV
dalam batas normal. Diagnosis pasien?
a. Tonsillitis difteri
b. Faringitis Akut
c. Tonsillitis bakterialis
d. Tonsillitis viral
e. Laringitis
Pembahasan: Difteri adalah penyakit menular mematikan yang menyerang saluran pernafasan
bagian atas (tonsil, faring dan hidung) dan kadang pada selaput lendir dan kulit yang disebabkan
oleh bakteri yaitu Corynebacterium diphteriae.
Pada umumnya penyakit difteri menyebabkan gejala-gejala seperti panas, sesak nafas,
nyeri telan pada tenggorokan, leher bengkak (bullneck), serta adanya selaput warna putih keabuabuan di tenggorokan yang dapat menyumbat jalan nafas. Selain itu penyakit difteri dapat
menghasilkan racun yang berbahaya karena dapat menyerang otot jantung, jaringan saraf dan
ginjal. Difteri dapat menyerang bagian tubuh seperti tenggorokan, bibir, kulit, mata, hidung,
tonsil faring, dan laring. Penyakit Difteri yang parah dapat menimbulkan komplikasi. Komplikasi
bisa dipengaruhi oleh virulensi kuman, luas membra, jumlah toksin, waktu antara timbulnya
penyakit dengan pemberian antitoksin. Komplikasi yang terjadi antara lain kerusakan jantung,
kerusakan system saraf dan obstruksi jalan nafas.

852. Seorang anak usia 10 tahun mengeluh nyeri menelan dan sulit bernafas dan demam.
Keluhan disertai pada pemeriksaan fisik didapatkan membrane berwarna putih keabuan disertai
dengan bullneck. Apa terapi yang tepat untuk kasus ini?
a. Antibiotic
b. Antibiotic + antipiretik + anti difteri serum
c. Antibiotic + kortikosteroid + antidifteri serum
d. Antibiotic + antipiretik + kortikosteroid + krikotireidektoi
e. Antibiotic + kortikosteroid + antidifteriserum + krikotireidektomi
Pembahasan: Diagnosis anak Difteri => penatalaksanaan
Antitoksin: Berikan 40 000 unit ADS IM atau IV sesegera mungkin, karena jika terlambat akan
meningkatkan mortalitas.
Antibiotik: Pada pasien tersangka difteri harus diberi penisilin prokain dengan dosis 50 000
unit/kgBB secara IM setiap hari selama 7 hari. Karena terdapat risiko alergi terhadap serum kuda
dalam ADS maka perlu dilakukan tes kulit untuk mendeteksi reaksi hipersensitivitas dan harus
tersedia pengobatan terhadap reaksi anafilaksis.
Oksigen: Hindari memberikan oksigen kecuali jika terjadi obstruksi saluran respiratorik. Tanda
tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam yang berat dan gelisah merupakan indikasi
dilakukan trakeostomi (atau intubasi) daripada pemberian oksigen. Penggunaan nasal
prongs atau kateter hidung atau kateter nasofaring dapat membuat anak tidak nyaman dan
mencetuskan obstruksi saluran respiratorik. Walaupun demikian, oksigen harus diberikan, jika
mulai terjadi obstruksi saluran respiratorik dan perlu dipertimbangkan tindakan trakeostomi.
Trakeostomi/Intubasi: Trakeostomi hanya boleh dilakukan oleh ahli yang berpengalaman, jika
terjadi tanda obstruksi jalan napas disertai gelisah, harus dilakukan trakeostomi sesegera
mungkin. Orotrakeal intubasi oratrakeal merupakan alternatif lain, tetapi bisa menyebabkan
terlepasnya membran, sehingga akan gagal untuk mengurangi obstruksi.
Kortikosteroid : Belum terdapat persamaan pendapat mengenai kegunaan obat ini pada difteria.
Dianjurkan korikosteroid diberikan kepada kasus difteria yang disertai dengan gejala obstruksi
saluran nafas bagian atas (dapat disertai atau tidak bullneck) dan bila terdapat penyulit
miokarditis. Pemberian kortikosteroid untuk mencegah miokarditis ternyata tidak terbukti.
Perawatan penunjang:Jika anak demam ( 39 C) yang tampaknya menyebabkan distres, beri
parasetamol. Bujuk anak untuk makan dan minum. Jika sulit menelan, beri makanan melalui pipa
nasogastrik

853. Seorang anak perempuan berusia 8 tahun diantar ibunya ke klinik dengan keluhan nyeri
menelan dirasakan selama 1 tahun hilang timbul. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tonsil
membesar tidak hiperemis, kripta melebar, detritus (+). Apakah diagnosis yang paling mungkin?
a. Tonsillitis lentikuler
b. Tonsillitis atrofi
c. Tonsillitis kronik eksaserbasi akut
d. Tonsillitis akut
e. Tonslitis kronik
Pembahasan: Untuk mendiagnosis tonsillitis kronik selain melihat dari pembesaran tonsilnya,
dilihat juga terdapat kripta yang melebar dan adanya detritus (kumpulan leukosit di belakang
tonsil). Ini juga termasuk dalam tanda untuk dilakukannya tonsilektomi. Tidak bersifat akut
karena tidak ditemukan adanya hiperemis yang membuktikan bahwa tonsil sedang inflamasi
aktif.

854. Seorang anak laki-laki usia 15 tahun datang ke UGD diantar orangtuanya dengan keluhan
keluar darah dari lubang hidung sebelah kiri. Keluhan tersebut mulai dirasakan pasien sejak 2
tahun yang lalu, hilang timbul dan dapat berhenti sendiri. Pada pemeriksaan didapatkan
konjungtiva anemis dan pada cavum nasi kiri tampak massa merah kebiruan setinggi konka
media yang mudah berdarah. Hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar Hb 8.0 gr/dL.
Bagaimana manajemen yang harus dilakukan?
a. Ekstirpasi tumor
b. Ekstirpasi dilanjutkan dengan radioterapi
c. Radioterapi
d. Kemoterapi

855. Pasien mengalami pusing berputar, telinga berdenging, pendengaran berkurang.Diagnosis?


A. BPPV
B. meniere disease
Pembahasan:
BPPV: Benign Paroxysmal Positional Vertigo merupakan gangguan yang terjadi di telinga dalam
dengan gejala vertigo posisional yang terjadi secara berulang-ulang dengan tipikal nistagmus
paroksimal. Penyakit ini dapat disebabkan baik oleh kanalitiasis ataupun kupulolitiasis dan
secara teori dapat mengenai ketiga kanalis semisirkularis, walaupun terkenanya kanal superior
(anterior) sangat jarang. Bentuk yang paling sering adalah bentuk kanal posterior, diikuti bentuk
lateral. Pasien biasanya mengeluh vertigo dengan onset akut kurang dari 10-20 detik akibat
perubahan posisi kepala. Posisi yang memicu adalah berbalik di tempat tidur pada posisi lateral,
bangun dari tempat tidur, melihat ke atas dan belakang, dan membungkuk. Vertigo bisa diikuti
dengan mual.
Meniere Sindrome: Suatu penyakit pada telinga dalam yang bisa mempengaruhi pendengaran
dan keseimbangan. Penyakit ini ditandai dengan keluhan berulang berupa vertigo, tinnitus,
dan pendengaran yang berkurang ssecara progresif, biasanya pada satu telinga. Penyakit ini
disebabkan oleh peningkatan volume dan tekanan dari endolimfe pada telinga dalam. Endolimph
atau cairan Scarpa adalah cairan yang berada di dalam labirin telinga dalam. Kation utama yang
berada di cairan ekstraselular ini adalah kalium. Ion yang terdapat di dalam endolimfe lebih
banyak dari perilimfe. Sedangkan perilimfe adalah cairan ekstraseluler yang terletak di koklea,
tepatnya pada bagian skala timpani dan skala vestibuli. Komposisi ionik perimlife seperti pada
plasma dan cairan serebrospinal. Kation terbanyak adalah natrium. Perilimfe dan endolimfe
memiliki komposisi ionik yang unik yang sesuai untuk menjalankan fungsinya yaitu mengatur
rangsangan elektrokimiawi dari sel-sel rambut di indera pendengaran. Potensoal listrik dari
endolimfe ~80-90 mV lebih positif dari perilimfe. Canalis semisirkularis (saluran setengah
lingkaran), merupakan suatu struktur yang terdiri dari 3 buah saluran setengah lingkaran yang
tersusun menjadi satu kesatuan dengan posisi yang berlainan, yaitu: canalis semisirkularis
horizontal, canalis semisirkularis vertikal superior, canalis semisirkularis vertikal posterior.
Masing-masing canalis semisirkularis berisi cairan endolympha dan pada salah satu ujungnya
yang membesar disebut ampula, berisi reseptor keseimbangan yang disebut cristac ampularis.
Masing-masing cristac terdiri dari sel-sel bercillia dan sel-sel penyangga yang keseluruhannya
ditutupi oleh suatu selaput yang disebut cupula. Karena kelembamannya, maka endolymph yang
terdapat di dalam canalis semisirkularis akan bergerak ke arah yang berlawanan dengan arah
putaran. Aliran endolymph akan mendorong cupula melengkungkan cillia-cillia dari sel-sel
rambut, dengan demikian maka sel bercillia tersebut terangsang dan merubahnya menjadi impuls
sensori yang untuk selanjutnya ditransmisikan ke pusat keseimbangan di otak. Canalis
semisirkularis merupakan organ keseimbangan dinamis yaitu memberikan respons terhadap
pemutaran tubuh.

856. Pasien datang dengan keluhan keluar cairan dengan dari hidung sebelah kanan, berbau amis.
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior didapatkan masa pada hidung kanan, pada hidung kiri
terdapat cairan. Pemeriksaan lanjutan yang harus dilakukan?
Pembahasan:
CT SCAN: Pemeriksaan ini dapat dipakai untuk melihat keadaan hidung dan sinus paranasal secara
jelas. Apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada kompleks osteomeatal.
Pemeriksaan ini terutama diindikasikan untuk kasus polip yang gagal diobati dengan terapi
medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah terutama
bedah endoskopi. Kriteria standar untuk mengevaluasi lesi di hidung, terutama polip hidung atau
sinusitis, adalah dengan potongan tipis (1-3 mm) CT scan pada daerah maxillofacial, axis sinus, dan
coronal plane. Pengukuran yang benar sehingga menghasilkan CT yang kompatibel sehingga dapat
digunakan sebagai gambaran pemandu intraoperative. Gambar foto polos radiology tidak mempunyai
nilai penting apabila polip telah terdiagnosa.
Pemeriksaan MRI: Diperlukan pemeriksaan MRI pada pasien apabila dicurigai telah terjadi
perluasan intracranial atau perluasan polip hidung benigna. CT dan MRI dapat membantu diagnosa
polip hidung; menggambarkan lesi dalam rongga hidung, sinus-sinus, dan membatasi diagnosis
diferensial pada polip atau presentasi klinis yang tidak biasa. Cystik Fibrosis mempunyai suatu
karakteristik bulging yang simetris pada sebelah medial dinding lateral hidung. Suatu polip antralchoanal dapat menunjukkan opacified sinus maxillary disertai penonjolan lesi yang berasal dari
antrum maxillary ke koana. Tumor seperti Rhabdomyosarcoma dapat menunjukkan adanya perluasan
lesi disertai dengan invasi mukosa sekitarnya. Kista Duktus Nasolakrimaris dapat menunjukkan
adanya dilatasi pada Duktus Nasolakrimaris Encephalocele dapat menunjukkan ekspansi pada region
nasofrontal (foramen caecum) disertai herniasi otak atau dura. Glioma dapat menunjukkan lesi
hidung terisolasi mungkin mempunyai tangkai berserat pada CNS. Pasien dengan AFS
memperlihatkan adanya area heterogen pada sinus-sinus di CT scan dan MRI; area ini terdiri dari
polip hidung dan alergic mucin fungal. Allergic Mucin fungal ini terlihat hitam pada MRI. adanya
penyakit lain dapat mengacaukan hasil dari pemeriksaan ini.
Pemeriksaan Biopsi: Pemeriksaan ini diindikasikan jika ada massa unilateral pada pasien usia
lanjut, jika penampakan makroskopis menyerupai keganasan atau bila pada foto roentgen terdapat
gambaran erosi tulang.

857. Wanita datang dengan keluhan mata nyeri, merah, berair. Secara mendadak. Visus turun,
TIO meningkat (lupa angkanya). Apa diagnosa pasien tersebut?
a. glaukoma sudut tertutup
b. konjunctivitis
c. uveitis anterior
Pembahasan: Mata merah visus turun mendadak dd keratitis(viral, bakteri, alergi, jamur), ulcus
kornea (bakteri, jamur), uveitis anterior (iridosiklitis), glaukoma sudut tertutup (akut),
endoftalmitis, panoftalmitis.
Glaukoma: suatu keadaan dimana tekanan mata seseorang demikian tinggi atau tidak normal
sehingga mengakibatkan kerusakan saraf optik dan mengakibatkan gangguan pada sebagian/
seluruh lapangan pandang. Glaukoma akut/ glaukoma sudut tertutup primer adalah penyakit mata
yang disebabkan karena terjadi hambatan penyaluran keluar cairan akous sehingga menyebabkan
peningkatan tekanan intra okular mendadak dan dramatis.
Uveitis Anterior: suatu proses inflamasi intraokular dari bagian uvea anterior hingga
pertengahan vitreus. Penyakit ini dihubungkan dengan trauma bola mata, dan juga karena
berbagai penyakit sistemik seperti juvenile rheumatoid, artritis, ankylosing spondilitis,Sindrom
Reiter, sarcoidosis, herpes zoster, dan sifilis. Gejala subyektif uveitis anterior dapat berupa rasa
nyeri, fotofobia , lakrimasi, dan mata kabur.

858. Pasien penurunan penglihatan, buram, edema kornea (+), COA dangkal, TIO 50. Diagnosis?
a. Glaucoma sudut tertutup
b. Glaucoma sudut terbuka
Pembahasan:
Sudut Tertutup: Glaukoma ditandai dengan meningkatnya tekanan intra okuler ( TIO ) yang
disertai oleh pencekungan diskus optikus, atrofi papil saraf optik, dan menciutnya lapangan
pandang. Pada sebagian kasus tidak terdapat penyakit mata lain ( glaukoma primer ). Glaukoma
sudut tertutup primer terjadi pada mata dengan predisposisi anatomis tanpa disertai kelainan
lain. Peningkatan tekanan intraocular terjadi karena sumbatan aliran keluar aqueous akibat
adanya oklusi anyaman trabekular pleh iris perifer. Keadaan ini dapat bermanifestasi sebagai
suatu kedaruratan oftalmologik atau dapat tetap asimptomatik sampai timbul penurunan
penglihatan. Diagnosis ditegakan dengan melakukan pemeriksaan segmen anterior dan
gonioskopi yang cermat. Istilah glaukoma sudut tertutup primer hanya digunakan bila penutupan
sudut primer telah menimbulkan kerusakan nervus optikus dan kehilangan lapangan pandang.
Sudut Terbuka: Glaukoma sudut terbuka primer terdapat kecenderungan familial yang kuat.
Gambaran patologi utama berupa proses degeneratif trabekular meshwork sehingga dapat
mengakibatkan penurunan drainase humor aquos yang menyebabkan peningkatan takanan
intraokuler. Pada 99% penderita glaukoma primer sudut terbuka terdapat hambatan pengeluaran
humor aquos pada sistem trabekulum dan kanalis schlemm.

859. Wanita datang dengan keluhan mata nyeri, merah, berair. Secara mendadak. Visus turun,
TIO meningkat (lupa angkanya). Apa penanganan pertama yang dapat diberikan?
a. Pilokarpin
b. Mannitol
Pembahasan:
Prinsip penataksanaan:
1. menurunkan TIO segera
2. membuka sudut yang tertutup
3. memberi suportif
4. mencegah sudut tertutup ulang
5. mencegah sudut tertutup pada mata jiran (fellow eye)
1. Menurunkan TIO segera
Hiperosmotik : tekanan osmose plasma meningkat sehingga menarik cairan dari dalam mata.
Gliserin I - 1.5 ml/kgBB dalam bentuk 50% larutan (dicampur cairan sari buah dsb. dengan
jumlah yang sama) diminum sekaligus.
Bila cairan gliserin sukar diminum karena sangat mual/muntah, dapat diberi Mannitol 1 - 2
gram/kgBB 20% daiam infus dengan kecepatan 60 tetes/menit.
NOTE : Bila TIO sudah turun mencapai normal dosis ini tidak perlu dihabiskan.
Acetazolamide: menekan produksi akuos.
Langsung diberi 500 mg peroral dan dilanjutkan dengan 250 mg tiap 6 jam. Bila sangat
mual/muntah dapat diberikan secara intravena dengan dosis 500 mg.
Beta adrenergik antagonis: menekan produksi abios*
Timolol maleate 0.25% - 0.5% tetes 2 x/hari
2. Membuka sudut yang tetutup
Miotikum : iris tertarik dan menjauh dari trabekula sehingga sudut terbuka.
Pilokarpin 2 - 4% tetes tiap 3 - 6 jam, diberi bila sudah ada tanda-tanda penurunan TIO oleh
karena TIO yang sangat tinggi akan menyebabkan:
o paralisis sfingter pupil sehingga pupil tidak bereaksi terbadap Pilokarpin.
o edema kornea sehingga daya menyerap Pilokarpin kurang.
Tidak dianjurkan frekuensi pemberian Pilokarpin yang banyak karena mungkin dapat timbul
krisis kolinergik lagi pula sudut dapat dibantu terbuka oleh Acetazolamide
Acetazolamide : akuos dibilik mata belakang berkurang sehingga tekanan dibilik mata
depan menjadi lebih tinggi dari bilik mata belakang dan hal ini akan menyebabkan penekanan
iris kebelakang menjadi trabekula, sehingga sudut terbuka (bila belum ada perlekatan).

3. Memberi suportif dengan mengurangi nyeri, mual/muntah dan reaksi radang.


Pethidine (Demerol) untuk nyeri
Antiemetik untuk mual/muntah
Anti inflamasi topikal (kortikosteroid) untuk reaksi radang
4. Mencegah sudut tertutup ulang:
Iridektomi perifer (bedah atau Laser).Walaupun dengan obat-obatan TIO sudah turun dan sudut
sudah terbuka, iridektomi perifer tetap harus dilakukan. Karena bila obat-obatan sudah
dihentikan lain mengalami cetusan yang menimbulkan blok pupil, maka akuos dibilik mata
belakang tidak akan terbendung karena dapat terus mengalir melalui lubang iridektomi ke bilik
mata depan sehingga sudut tetap terbuka
5. Mencegah sudut tertutup pada mata jiran (fellow eye).
Mata jiran umumnya memiliki anatomi mata yang sama dengan mata yang sakit sehingga
kemungkinan dapat juga mengalami serangan sudut tertutup bila ada pencetus (40-80% mata
jiran mengalami serangan glaukoma sudut tertutup dalam waktu 5 -10 tahun).
Oleh karena itu pada saat serangan akut pada mata yang sakit, mata jiran diberi Pilokarpin 2%
tiap 6 jam sambil disiapkan untuk dilakukan Iridektomi perifer.

Untuk penanganan yang bersifaat akut (glaucoma sudut tertutup): Segera turunkan tekanan
intraokuler dengan pemberian:

zat hiperosmotik untuk mengurangi volume badan kaca sehingga lensa dan iris akan
bergerak ke posterior, hal ini akan membantu pembukaan sudut yang tertutup tersebut. Misal
diberikan gliserol 50 %, 1-1,5 mg/kgBB per os, 1 kali. Atau infus Mannitol 20 %, 1-1,5
mg/kgBB, dalam 45 menit.
Acetazolamide 62,5-500 mg per os, 3-4 kali sehari. - Timolol/betaxolol 0,25 - 0,50 %
tetes mata, 2 kali sehari. - Pilokarpin 2 -4 % tetes mata, 3-4 kali sehari.

860. Pria 24 tahun datang dengan keluhan benjolan di dalam kelopak mata kanan atas sejak 3
hari yang lalu. Benjolan terasa nyeri, merah, panas dan mengganjal. Kelainan pada pasien
tersebut terdapat pada?
a. Kelenjar meibom
b. Kelenjar zeiss
c. Kelenjar mol
d. Kelenjar wolfren
e. Kelenjar sebasea
Pembahasan:
Hordeolum adalah infeksi kelenjar pada palpebra. Bila kelenjar Meibom yang terkena, timbul
pembengkakan besar yang disebut hordeolum interna. Sedangkan hordeolum eksterna yang lebih
kecil dan lebih superfisial adalah infeksi kelenjar Zeiss atau Moll.