Anda di halaman 1dari 56

USAHA (KERJA) DAN ENERGI

Konsep fisika dalam dinamika yang juga dapat digunakan untuk mengetahui keadaan gerak suatu benda
yang menghubungkan pengaruh luar (gaya) dengan keadaan gerak benda, selain hukum Newton adalah
konsep usaha (kerja) dan energi (tenaga). Bedanya dengan konsep hukum newton, usaha dan energi
adalah besaran skalar. Karena itu, untuk beberapa kasus, konsep usaha-energi dapat lebih mudah
digunakan untuk mengetahui keadaan gerak suatu benda akibat pengaruh luar (gaya).

Usaha
Dalam fisika, usaha merupakan proses perubahan Energi dan usaha ini selalu dihubungkan dengan gaya
(F) yang menyebabkan perpindahan (s) suatu benda. Dengan kata lain, bila ada gaya yang menyebabkan
perpindahan suatu benda, maka dikatakan gaya tersebut melakukan usaha terhadap benda.
Usaha yang dilakukan oleh gaya konstan adalah hasil kali skalar vektor gaya dan vektor perpindahan
benda, hasil kali komponen gaya dalam arah gerakan dan besar perpindahan titik tangkap gaya tersebut :
W=F cos x = Fx x dengan adalah sudut antara vektor gaya dan vektor perpindahan benda.

Energi
Energi sering juga disebut dengan tenaga. Dalam kehidupan sehari-hari energi dihubungkan dengan
gerak, misal orang yang energik artinya orang yang selalu bergerak tidak pernah diam. Energi
dihubungkan juga dengan kerja. Jadi Energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan kerja.
Dalam Fisika energi dihubungkan dengan gerak, yaitu kemapuan untuk melakukan kerja mekanik.
Energi dialam adalah besaran yang kekal, dengan sifat-sifat sebagai berikut :
1. Transformasi energi : energi dapat diubah menjadi energi bentuk lain, tidak dapat hilang misal
energi pembakaran berubah menjadi energi penggerak mesin
2. Transfer energi : energi dapat dipindahkan dari suatu benda kebenda lain atau dari sistem ke
sistem lain, misal kita memasak air, energi dari api pindah ke air menjadi energi panas, energi
panas atau kalor dipindah lagi keuap menjadi energi uap
3. Kerja : energi dapat dipindah ke sistem lain melalui gaya yang menyebabkan pergeseran, yaitu
kerja mekanik
4. Energi tidak dapat dibentuk dari nol dan tidak dapat dimusnahkan
Sumber-sumber energi yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari misalnya: energi minyak
bumi, energi batubara, energi air terjun, energi angin, energi nuklir dan energi kimia. Bagi tubuh
manusia energi didapatkan dari nutrisi makanan. Satuan energi dalam standar internasional adalah Joule.
Berkaitan dengan energi nutrisi biasanya digunakan kalori atau Kilokalori (Kkal), dimana 4,2 Joule
setara dengan 1 kalori.
Macam-Macam Energi
Terdapat banyak definisi jenis energi, tetapi yang paling sering dibahas dalam sistem gerak adalah
energi kinerik dan energi potensial. Energi didasarkan bentuk konversinya sangat banyak, antara lain:
energi kimia, energi listrik, energi cahaya, energi bunyi, energi mekanik dan lain-lain.
Energi Kinetik
Sebuah benda yang bermassa m dan bergerak dengan laju v, mempunyai energi kinetik sebesar Ek
dengan kata lain , energi kinetik suatu benda adalah energi yang dipunyai benda yang bergerak. Berarti
setiap benda yang bergerak, mempunyai energi kinetik Ek, secara matematis, energi kinetik dapat ditulis
sebagai:
Ek = 1/2 mv^2
Dimana

m = massa benda (kg)


v = laju benda (m/s)
Ek = energi kinetik (joule)
Energi Potensial
Energi potensial adalah energi yang dimiliki akibat kedudukan benda tersebut terhadap bidang
acuannya. Sedangkan yang dimaksud dengan bidang acuan adalah bidang yang diambil sebagai acuan
tempat benda mempunyai energi potensial sama dengan nol. Sebagai contoh dari energi potensial,
adalah energi pegas yang diregangkan, energi karet ketapel, energi air terjun.
Perumusan energi potensial, secara matematis dapat ditulis
Ep = m g h
Dimana :
m = massa benda (kg)
g = percepatan gravitasi (m/s 2 )
h = ketinggian dari muka bumi (m)
Ep = energi potensial (joule)
Tubuh kita yang berkedudukan h meter dari tanah/lantai memiliki Energi Potensial terhadap tanah.
Dalam hal ini, bidang lantai dianggap sebagai bidang acuan.

Massa secara sederhana dapat diartikan sebagai banyaknya kandungan materi di


dalam sebuah benda, misalnya kalian membawa keranjang yang isinya adalah
buah-buahan..
Nah.. banyaknya buah yang ada di dalam tas kalian itu bisa diartikan sebagai
massa keranjang kalian (walau sebenarnya keranjang dan buah kalian itu terdiri
dari materi-materi yang membentuknya).
jadi, selama kalian tidak menambah/mengurangi isi keranjang kalian, maka massa
keranjang kalian adalah tetap. Begitu juga dengan massa suatu benda yang
cenderung tetap..
Sementara Berat adalah gaya yang muncul karena adanya gravitasi dan
massa. Berat suatu benda akan berubah-ubah tergantung gravitasinya, artinya
gaya gravitasi akan bergantung pada jarak dengan pusat gravitasi. Mudahnya,
berat kalian jika ditimbang di bumi akan berbeda dengan berat kalian yang
ditimbang di bulan atau berat kamu di puncak gunung akan berbeda dengan berat
kamu di tepi pantai.

Aplikasi Impuls dan Momentum


Fisika merupakan ilmu yang mempelajari materi dan interaksinya. Banyak konsep-konsep fisika yang
bisa menjelaskan fenomena-fenomena di alam. Salah satunya penerapan konsep impuls dan momentum.
Impuls adalah gaya yang bekerja pada benda dalam waktu yang relatif singkat, sedangkan momentum
merupakan ukuran kesulitan untuk memberhentikan (mendiamkan) benda. Impuls dipengaruhi oleh
gaya yang bekerja pada benda dalam selang waktu tertentu sedangkan momentum dipengaruhi oleh
massa benda dan kecepatan benda tersebut. Berikut ini disajikan beberapa contoh penerapan konsep
impuls dan momentum dalam kehidupan sehari-hari:
1. Karateka

Apakah anda seorang karateka atau penggemar film action? Jika kita perhatikan
karateka setelah memukul lawannya dengan cepat akan menarik tangannya. Ini dilakukan agar waktu
sentuh antara tangan dan bagian tubuh musuh relatif singkat. Hal ini berakibat musuh akan menerima
gaya lebih besar. Semakin singkat waktu sentuh, maka gaya akan semakin besar.
2. Mobil

Ketika sebuah mobil tertabrak, mobil akan penyok. Penggemudi yang selamat

akan pergi ke bengkel untuk ketok magic. Lho kok jadi ngomongin ketok magic ya wajah saya aja ya,
yang diketok magic supaya lebih halus sperti primus hehehe. Ok cukup ketok magicnya. Mobil didesain
mudah penyok dengan tujuan memperbesar waktu sentuh pada saat tertabrak. Waktu sentuh yang lama
menyebabkan gaya yang diterima mobil atau pengemudi lebih kecil dan diharapkan keselamatan
penggemudi lebih terjamin.
3. Balon udara pada mobil dan sabuk pengaman

Desain mobil yang mudah penyok tidak cukup untuk menjamin keselamatan
pengemudi pada saat tetabrak. Benturan yang keras penggemudi dengan bagian dalam mobil dapat
membahayakan keselamatan pengemudi. Untuk meminimalisir resiko kecelakaan tersebut, pabrikan
mobil ternama menydiakan balon udara di dalam mobil (biasanya di bawah setir), wah bisa terbang
dong (guyon.). Ketika terjadi kecelakaan pengemudi akan menekan tombol dan balon udara akan
mengembang, sehingga waktu sentuh antara kepala atau bagian tubuh yang lain lebih lama dan gaya
yang diterima lebih kecil. Sabuk pengaman juga didesain untuk mengurangi dampak kecelakaan. Sabuk
pengaman didesain elastis.. tis tis.
4. Sarung Tinju

Chris John seorang petinju juara dunia asal Indonesia (hebat ya) pada saat bertinju
menggunakan sarung tinju, ya iyalah masa sarung yang kupakai waktu habis di sunat dulu
Sarung tinju yang dipakai oleh para petinju ini berfungsi untuk memperlama bekerjanya gaya impuls
ketika memukul lawannya, pukulan tersebut memiliki waktu kontak yang lebih lama dibandingkan
memukul tanpa sarung tinju. Karena waktu kontak lebih lama, maka gaya yang bekerja juga semakin
kecil sehingga sakit terkena pukulan bisa dikurangi.
5. Palu

Kepala palu dibuat dari bahan yang keras misalnya besi atau baja. Kenapa tidak
dibuat dari kayu atau bambu ya? Kan lebih mudah mendapatkan kayu dan bambu, nggak mahal lagi
(hemat atau pelit kambuh!!!) Palu dibuat dengan bahan yang keras agar selang waktu kontak menjadi
lebih singkat, sehingga gaya yang dihassilkan lebih besar. Jika gaya impuls besar maka paku yang
dipukul dengan palu akan tertancap lebih dalam.
6. Matras

Waktu pelajaran olahraga di sekolah dulu (sambil membayangkan ni) guruku

akan mengambil nilai lompat tinggi. Galah yang dipasang horizontal nggak terlalu tinggi sekitar 1-1,2
meter terus di bawah galah diletakan matras. Aku bersiap di garis start dan berlari kemudian melompat
seperti jaguar alaaahh jaguar atau jagoan neon ni. Aku berhasil melompati galah tersebut dan mendarat
dengan tawaan dan teriakan teman-teman. Pada saat mendarat aku terpeleset dan bokongku menerpa
(lho kok menerpa nggak apa-apa biar agak romantis) matras. Saat kuliah dan belajar tentang impuls apa
jadinya ya kalo pada saat aku melompat dibawahnya tidak ada matras.
Matras dimanfaatkan untuk memperlambat waktu kontak. Waktu kontak yang relatif lebih lama
menyebabkan gaya menjadi lebih kecil sehingga tubuh kita tidak terasa sakit pada saat jatuh atau
dibanting di atas matras.

JENIS JENIS TUMBUKAN


Berdasarkan kelentingannya, ada 3 jenis tumbukan:
1. Tumbukan Lenting Sempurna Dua benda dikatakan melakukan Tumbukan lenting
sempurna jika Momentum dan Energi Kinetik kedua benda sebelum tumbukan =
momentum dan energi kinetik setelah tumbukan. Dengan kata lain, pada tumbukan
lenting sempurna berlaku Hukum Kekekalan Momentum dan Hukum Kekekalan Energi
Kinetik. Secara matematis, Hukum Kekekalan Momentum dirumuskan sebagai berikut:
Keterangan : m1 = massa benda 1, m2 = massa benda 2 v1 = kecepatan benda
sebelum tumbukan dan v2 = kecepatan benda 2 Sebelum tumbukan v1 = kecepatan
benda Setelah tumbukan, v2 = kecepatan benda 2 setelah tumbukan Jika dinyatakan
dalam momentum, m1v1 = momentum benda 1 sebelum tumbukan, m1v1 =
momentum benda 1 setelah tumbukan m2v2 = momentum benda 2 sebelum tumbukan,
m2v2 = momentum benda 2 setelah tumbukan Pada Tumbukan Lenting Sempurna
berlaku juga Hukum Kekekalan Energi Kinetik. Secara matematis dirumuskan sebagai
berikut : Kita telah menurunkan 2 persamaan untuk Tumbukan Lenting Sempurna,
yakni persamaan Hukum Kekekalan Momentum dan Persamaan Hukum Kekekalan
Energi Kinetik. Sekarang kita tulis kembali persamaan Hukum Kekekalan Momentum :
Kita tulis kembali persamaan Hukum Kekekalan Energi Kinetik : Kita tulis kembali
persamaan ini menjadi : Ini merupakan salah satu persamaan penting dalam Tumbukan
Lenting sempurna, selain persamaan Kekekalan Momentum dan persamaan Kekekalan
Energi Kinetik. Persamaan 3 menyatakan bahwa pada Tumbukan Lenting Sempurna,
laju kedua benda sebelum dan setelah tumbukan sama besar tetapi berlawanan arah,
berapapun massa benda tersebut. Kita tulis lagi persamaan 3 : Perbandingan negatif
antara selisih kecepatan benda setelah tumbukan dengan selisih kecepatan benda
sebelum tumbukan disebut sebagai koofisien elatisitas alias faktor kepegasan (dalam
buku Karangan Bapak Marthen Kanginan disebut koofisien restitusi). Untuk Tumbukan
Lenting Sempurna, besar koofisien elastisitas = 1. ini menunjukkan bahwa total
kecepatan benda setelah tumbukan = total kecepatan benda sebelum tumbukan.
Lambang koofisien elastisitas adalah e. Secara umum, nilai koofisien elastisitas
dinyatakan dengan persamaan : e = koofisien elastisitas = koofisien restitusi, faktor
kepegasan, angka kekenyalan, faktor keelastisitasan.
2. Tumbukan Lenting Sebagian Pada tumbukan lenting sebagian, Hukum Kekekalan
Energi Kinetik tidak berlaku karena ada perubahan energi kinetik terjadi ketika pada
saat tumbukan. Perubahan energi kinetik bisa berarti terjadi pengurangan Energi
Kinetik atau penambahan energi kinetik. Pengurangan energi kinetik terjadi ketika
sebagian energi kinetik awal diubah menjadi energi lain, seperti energi panas, energi
bunyi dan energi potensial. Hal ini yang membuat total energi kinetik akhir lebih kecil
dari total energi kinetik awal. Kebanyakan tumbukan yang kita temui dalam kehidupan
sehari-hari termasuk dalam jenis ini, di mana total energi kinetik akhir lebih kecil dari
total energi kinetik awal. Energi kinetik akhir total juga bisa bertambah setelah terjadi
tumbukan. Suatu tumbukan lenting sebagian biasanya memiliki koofisien elastisitas (e)

berkisar antara 0 sampai 1. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :


Bagaimana dengan Hukum Kekekalan Momentum ? Hukum Kekekalan Momentum
tetap berlaku pada peristiwa tumbukan lenting sebagian, dengan anggapan bahwa
tidak ada gaya luar yang bekerja pada benda-benda yang bertumbukan.
3. Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali Suatu tumbukan dikatakan Tumbukan Tidak
Lenting sama sekali apabila dua benda yang bertumbukan bersatu alias saling
menempel setelah tumbukan. Ini berarti setelah tumbukan kedua benda memiliki
kecepatan yang sama. Oleh karena kedua benda menyatu, maka kecepatan kedua
benda setelah tumbukan adalah sebagai sama. v1 = v2 = v Pada setiap tumbukan
berlaku hukum kekekalan momentum, termasuk pada jenis tumbukan tak lenting sama
sekali, yaitu: = m1v1 + m2v2 = m1v1 + m2v2 m1v1 + m2v2 = (m1 + m2) v Persamaan
terakhir inilah yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan
tumbukan tak lenting sama sekali.

Biomekanika
Mekanika adalah salah satu cabang ilmu dari bidang ilmu fisika yang mempelajari gerakan dan
perubahan bentuk suatu materi yang diakibatkan oleh gangguan mekanik yang disebut gaya. Mekanika
adalah cabang ilmu yang tertua dari semua cabang ilmu dalam fisika. Tersebutlah nama-nama seperti
Archimides (287-212 SM), Galileo Galilei (1564-1642), dan Issac Newton (1642-1727) yang
merupakan peletak dasar bidang ilmu ini.
Galileo adalah peletak dasar analisa dan eksperimen dalam ilmu dinamika. Sedangkan Newton
merangkum gejala-gejala dalam dinamika dalam hukum-hukum gerak dan gravitasi.
Mekanika teknik atau disebut juga dengan mekanika terapan adalah ilmu yang mempelajari
peneraapan dari prinsip-prinpsip mekanika. Mekanika terapan mempelajari analisis dan disain dari
sistem mekanik.
Biomekanika didefinisikan sebagai bidang ilmu aplikasi mekanika pada system biologi.
Biomekanika merupakan kombinasi antara disiplin ilmu mekanika terapan dan ilmu-ilmu biologi dan
fisiologi. Biomekanika menyangkut tubuh manusia dan hampir semua tubuh mahluk hidup. Dalam
biomekanika prinsip-prinsip mekanika dipakai dalam penyusunan konsep, analisis, disain dan
pengembangan peralatan dan sistem dalam biologi dan kedoteran.
Pada dasarnya biomekanika adalah cabang ilmu yang relatif baru dan sedang berkembang secara
dinamis. Akan tetapi sebenarnya bidang ilmu sudah eksis sejak abad ke lima belas masehi ketika
Leonardo Da Vinci (1452-1519) membuat catatan akan siginikansi mekanika dalam penelitianpenelitian biologi yang dia lakukan. Kontribusi dari para peneliti dalam bidang ilmu biologi,
kedokteran, ilmu-ilmu dasar, dan teknik mewarnai perkembangan biomekanika akhir-akhir ini.
Gerak dan Gaya
Gaya adalah sebuah konsep yang digunakan untuk menerangkan interaksi fisik dari obyek
dengan sekelilingnya. Gaya dalam fisika didefinisikan sebagai kuantitas yang dapat menyebabka
perubahan dari state dari suate benda sehingga terjadi percepatan pada benda itu.
Gerakan Tubuh Manusia
Filosof Yunani Aristotle (384-322 SM) adalah orang yang pertama kali melakukan studi secara
sistematik terhadap gerakan tubuh manusia. Banyak prinsip yang mendeskripsikan aksi dan karakteristik
gemometri dari otot. Walaupun penemuan Aristotle untuk menerangkan gerakan banyak mengandung
kontradiksi, usaha awal yang telah ia ristis menjado pondasi bagi studi berikutnya seperti Galen (131201), Galileo (1564-1643), Borelli (1608-1679), Newton (1642-1727), dan Marey (1830-1904). Studi
dari para filosof dan ilmuwan tersebut telah mengakibatkan kita bisa membuktikan bahwa gerakan
tubuh manusia merupakan konsekuensi dari interkasi anatara otot dan gaya yang diakibatkan oleh
lingkungan sekitar tubuh manusia.

Seperi yang ditulis oleh Aristotle bahwa bianatang yang berjalan membuat posisisnya berubah
dengan menekan apa yang ada dibawahnya. Pernayataan ini menekankan bahwa dalam studi gerakan
harus menekankan pada (Higgins, 1985):

Pengkarateran interaksi fisik anatara hewan (manusia) dan lingkungan sekitar.

Menetukan cara hewan (manusia) mengorganisasikan interkasi fisik tersebut.

Dengan kerangka seperti ini maka gerakan tubuh system biologis dapat diakui sebagai hasil interaksi
system biologis dengan lingkungan sekelilingnya. Beberapa faktor berikut turut menentukan interaksi
tersebut:

Stuktur dari lingkunngan (bentuk dan stabilitas).

Medan dari gaya (arah relatif terhadap gravitasi, kecepatan gerakan).

Stuktur dari sistem (susunan tulang, aktifitas otot, sususan segment dari tubuh, ukuran, integrasi
motorik yang dibutuhkan untuk mendukung postur).

Peranan dari keadaan psikologis (level keatifan, motivasi).

Bentuk gerakan yang akan dikerjakan (kerangka dari organisasi dari gerakan).

Higgins menyatakan bahwa gerakan adalah bagian yang tak terpisahkan dengan struktur yang
mendukungnya dan lingkungan yang mendefinisikannya.
Goniometri
Istilah goniometri berasal dari bahasa Yunani, gonia yang berarti sudut dan metros yang
mempunyai makna maengukur. Sedangkan geniometer adalah alat untuk mengukur sudut. Gonimetri
berhubungan dengan pengukuran sudut yang dibentuk oleh sgement dari organ tubuh manusia yang
dihubungkan oleh sendi. Dalam prakteknya pengukuran sudut dari sendi, dilakukan dengan melekatkan
gonio meter pada sgement-segment yang diukur sudutnya. Goniometer dapat digunkan untuk mengukur
sudut pada suatu posisi tertentu maupun seacra kontinyu dalam melakukan suatu gerakan.
Pemodelan
Dibutuhkan asumsi-asumsi tertentu untuk membuat penyederhanaan dari sebuah sistem yang
kompleks sehingga penyelesaian analitis bisa dicapai. Sebuah model yang lengkap memperhitungkan
efek-efek dari keseluruhan bagian penyususn sistem secara detail. Akan tetapi model yang lengkap dan
detail sulit diwujudkan dan bila dapat akan sulit menghasilkan solusi dari masalah yang akan
diselesaikan.

Tidak selalu mungkin untuk memodelkan system secara lengkap dan bahkan kadang-

kadang tidak perlu untuk menyertakan setial detail dari sistem dalam analisis. Sebagai contoh adalah
pada hampir semua gerakan tubuh manusia, banyak kelompok otot (muscle) yang terlibat untuk
menggerakkan organ-organ tubuh. Akan tetapi untuk keperluan analisis gaya yang terlibat pada sendi
dan otot pada suatu gerakan tertentu, pendekatan yang terbaik adalah dengan memprediksi kelompok
otot yang mana yang paling aktif dan mengabaikan kelompok otot-otot yang lain.
Secara umum, pemodelan suatu sistem selalu diawali dengan model yang sederhana. Dari model
sederhana ini berangsur-angsur kompleksitasnya ditingkatkan sejalan dengan pemahaman karakterstik

system dan dari pengamatan terhdapa model sederhana tersebut. Peneliti dapat merancang model yang
cukup sederhana untuk dianalisa sehingga menujukkan fenomena yang diteliti dalam batas-batas
kepuasan tertentu. Dari pengetahuan akan sistem yang dimodelkan sistem sederhana terseebut kemudian
disempurnakan. Makin banyak belajar, makin banyak pula yang dipahami dari sistem dan lebih detail
pula analisis yang dapat dilakukan.
Pemodelan gerakan tubuh manusia dapat digolongkan berdasarkan pendekatan yang diambil:

Pendekatan teori yang menggunkan basis pengetahuan dalam bidang fisiologi,

mekanika, dan

robotika untuk merancang persamaan matematika yang mengepresikan

gerakan tubuh

manusia. Selanjutnya gait dapat dipelajari dengan simulasi menggunakan model tersebut dan
hasilnya dibandingkan dengan data asli yang diukur dari manusia.

Pengukuran gait secara langsung mendapatkan model yang representatif

menggambarkan

hibungan antar variabel dalam gerakan tubuh manusia.


Kedua pendekatan ini akan bertemu, utamanya bila sebuah studi gerakan tubuh manusia diarahkan pada
aplikasi tertentu, misalnya analysa patologi maupun rehabilitasi dari suatu kelumpuhan tertentu.

Biomekanika
Biomekanika adalah disiplin sumber ilmu yang mengintegrasikan faktor-faktor yang
mempengaruhi gerakan manusia, yang diambil dari pengetahuan dasar fisika, matematika, kimia,
fisiologi, anatomi dan konsep rekayasa untuk menganalisa gaya yang terjadi pada tubuh.

Dasar Gerak & Gaya Tubuh


Hukum Newton tentang Gerak
Hubungan fundamental pada mekanika klasik tercakup dalam hukum tentang gerak yang
dikemukakan oleh Isaac Newton, seorang ilmuwan Inggris. Newton sangat berjasa dalam mempelajari
hubungan antara gaya dan gerak.
Hukum 1.
Sebuah benda terus berada pada keadaan awalnya yang diam atau bergerak dengan kecepatan
konstan kecuali benda itu dipengaruhi oleh gaya yang tak seimbang, atau gaya luar neto. Secara
sederhana Hukum Newton I mengatakan bahwa perecepatan benda nol jika gaya total (gaya resultan)
yang

bekerja

pada

benda

sama

dengan

nol.

Secara

matematis

dapat

ditulis.

F neto = 0
Tubuh yang diam akan tetap diam, dan tubuh yang bergerak akan tetap bergerak dalam kecepatan
yang konstan, kecuali dipengaruhi oleh gaya yang tidak seimbang. Jika seseorang berada dalam bus
yang berjalan dan tiba-tiba mengerem, mungkin orang tersebut bisa terpelanting dan berkata aku
terlempar ke depan !, padahal itu adalah inersia yang menyebabkan ke depan berlanjut walau bus telah
berhanti.
Cedera benturan disebabkan kecenderungan kepala manusia untuk mematuhi hukum tersebut. Jika
ada gaya sentakan dari belakang, badan akan tersentak keras ke depan karena ia berkontak dengan
tempat duduknya. Namun kepala cenderung tidak bergerak dan tersentak dalam posisi yang menjulur
(ekstensi). Karena kepala melekat pada badan, maka kepala akan terbentur dengan keras ke depan
menyebabkan kerusakan pada vertebra serviks. Cedera dalam tinju atau football yang mengakibatkan
kerusakan otak terjadi dalam proses serupa.
Hukum 2.
Percepatan sebuah benda (a) berbanding terbalik dengan massanya (m) dan sebanding dengan
gaya neto (F) yang bekerja padanya :
F = ma
Bayangkan anda mendorong sebuah benda yang gaya F dilantai yang licin sekali sehingga benda
itu bergerak dengan percepatan a. Menurut hasil percobaan, jika gayanya diperbesar 2 kali ternyata
percepatannya menjadi. 2 kali lebih besar. Demikian juga jika gaya diperbesar 3 kali percepatannya

lebih besar 3 .kali lipat. Dan sini kita simpulkan bahwa percepatan sebanding dengan resultan gaya yang
bekerja. Atau...
Sekarang kita lakukan percobaan lain. Kali ini massa bendanya divariasi tetapi gayanya
dipertahankan tetap sama. Jika massa benda diperbesar 2 kali, ternyata percepatannya menjadi kali.
Kita bisa simpulkan bahwa percepatan suatu benda berbanding terbalik dengan massa benda itu.

Massa adalah sifat intrinsik dari sebuah benda yang menyatakan resistensinya terhadap
percepatan. Massa sebuah benda dapat dibandingkan dengan massa benda lain dengan menggunakan
gaya yang sama pada masing-masing benda dan dengan mengukur percepatannya. Dengan demikian
rasio massa benda-benda itu sama dengan kebalikan rasio percepatan benda-benda itu yang dihasilkan
oleh gaya yang sama : m = F/m
Massa sebuah benda tidak tergantung pada lokasi benda.
Seorang tenaga medis yang kesulitan memindahkan troli yang berat, mungkin akan meminta
bantuan sejawatnya, untuk menghasilkan gaya yang lebih besar, sehingga pergerakan troli dari keadaan
diam menjadi bergerak (percepatan) yang dihasilkannya lebih besar atau troli lebih mudah dipindahkan.
Hukum 3.
Gaya-gaya selalu terjadi berpasangan. Jika benda A, mengerjakan sebuah gaya pada benda B,
gaya yang sama besar dan berlawanan arah dikerjakan oleh benda B pada benda A.
F aksi = F reaksi
F aksi = gaya yang bekerja pada benda
F reaksi = gaya reaksi benda akibat gaya aksi
Saat berjalan, hentakan kaki atau sepatu ke permukaan lantai biasanya mengartikan bahwa orang
tersebut menekankan kakinya ke permukaan lantai dengan gaya reaksi bumi yang sama melalui lantai
pada kaki tersebut.
Hukum ketiga menyatakan bahwa tidak ada gaya timbul di alam semesta ini, tanpa keberadaan
gaya lain yang sama dan berlawanan dengan gaya itu. Jika sebuah gaya bekerja pada sebuah benda
(aksi) maka benda itu akan mengerjakan gaya yang sama besar namun berlawanan arah (reaksi).
Dengan kata lain gaya selalu muncul berpasangan. Tidak pernah ada gaya yang muncul sendirian!

Jenis-jenis Gaya
1. Gaya Berat
Berat sebuah benda adalah gaya tarikan gravitasi antara benda dan bumi. Gaya ini sebanding
dengan massa m benda itu dan medan gravitasi , yang juga sama dengan percepatan gravitasi jatuh
bebas :

Berat benda sifat intrinsik benda.


Berat bergantung pada lokasi benda, karena g bergantung pada lokasi. Gaya berat selalu tegak lurus
kebawah dimana pun posisi benda diletakkan, apakah dibidang horisontal, vertikal ataupun bidang
miring
2. Gaya Normal
Gaya normal adalah gaya yang bekerja pada bidang sentuh antara dua prmukaan yang bersentuhan,
dan arahnya selalu tegak lurus bidang sentuh.

3. Gaya Gesek
Bila dua benda dalam keadaan bersentuhan, maka keduanya dapat saling mengerjakan gaya
gesekan. Gaya-gaya gesekan itu sejajar dengan permukaan benda-benda di titik persentuhan.
Gaya

gesek

(friksi)

sangat

penting

dalam

kehidupan

keseharian

terutama

tubuh.

[1] Salah satu fungsi yang sangat penting dari kantong perikardial yang menyelubungi jantung
adalah untuk menampung cairan perikardial yang menjaga agar membran tetap terpisah dan tidak
saling bergesekan akibat friksi yang berasal dari dentuman jantung.
[2] Cairan sinovial mengurangi friksi dengan cara bertindak sebagai pelumas atau penurun friksi
antara ujung-ujung tulang yang dilapisi kartilago paa sendi sinovial, mis: sendi lutut.

Gaya-gaya pada Tubuh


Pergerakan pada tubuh terjadi karena adanya gaya yang bekerja. Ada gaya yang bekerja pada
tubuh dan gaya yang bekerja di dalam tubuh.

Gaya pada tubuh >>> dapat kita ketahui ex gaya berat tubuh.

Gaya dalam tubuh >>> seringkali td disadari ex Gaya otot jantung, gaya otot paru-paru

Gaya pada tubuh ada 2 tipe :


1. Gaya pada tubuh dlm keadaan statis.
2. Gaya pada tubuh dalam keadaan dinamis.
Berikut ini adalah beberapa aspek gaya pada tubuh dalam keadaan statis:
Gaya Berat dan Gaya Otot sebagai Sistem Pengumpil
Tubuh dalam keadaan Statis berarti tubuh dlm keadaan setimbang, jumlah gaya dan momen gaya
yang ada sama dengan nol. Tulang dan otot tubuh manusia berfungsi sebagai sistem pengumpil.
Ada 3 kelas sistem pengumpil :

a. Klas pertama
Titik tumpuan terletak diantara gaya berat dan otot
Contoh: kepala & leher
b. Klas Kedua
Gaya berat diantara titik tumpu dan gaya otot.
contoh: tumit menjinjit
c. Klas Ketiga
Gaya otot terletak diantara titik tumpuan dan gaya berat
Contoh: otot lengan
Gaya paling sering diterapkan untuk menstabilkan ekstremitas yang cedera leher, punggung, atau
area pelvik. Traksi terapeutik didapat dengan memberikan tarikan pada kepala, tubuh atau anggota gerak

menuju sedikitnya dua arah, mis: tarikan traksi dan tarikan traksi lawannya. Gaya traksi lawan atau
gaya keduanya biasanya berasal dari: >> berat tubuh pasien pada saat bertumpu atau berat lain

Penerapan Analisa Gaya dalam Terapan Kesehatan


1. Gaya Berat Tubuh & Posisi Duduk yang menyehatkan Tulang Belakang?
Punggung adalah salah satu organ tubuh yang bekerja nonstop selama 24 jam. Dalam keadaan
tidur pun, punggung tetap menjalankan fungsinya untuk menjaga postur tubuh. Punggung tersusun dari
24 buah tulang belakang (vertebrae), dimana masing-masing vertebrae dipisahkan satu sama lain oleh
bantalan tulang rawan atau diskus. Seluruh rangkaian tulang belakang ini membentuk tiga buah
lengkung alamiah, yang menyerupai huruf S.

Lengkung paling atas adalah segmen servikal (leher), yang dilanjutkan dengan segmen toraks
(punggung tengah), dan segmen paling bawah yaitu lumbar (punggung bawah). Lengkung lumbar inilah
yang bertugas untuk menopang berat seluruh tubuh dan pergerakan.
Berdasarkan data British Chiropractic Association, sekitar 32% populasi dunia menghabiskan
waktu lebih dari 10 jam sehari untuk duduk di depan meja kerja. Separuh dari populasi tenrsebut tidak
pernah meninggalkan meja kerja, bahkan saat makan siang. Sementara itu, dua pertiga populasi
menambah porsi duduk tegak saat berada di rumah.
Postur tubuh yang baik akan melindungi dari cedera sewaktu melakukan gerakan karena beban
disebarkan merata keseluruh bagian tulang belakang, ungkap Barbara Dorsch. Postur tubuh yang baik,
lanjut dia, akan dicapai jika telinga, bahu, dan pinggul berada dalam satu garis lurus ke bawah.
Duduk dalam posisi tegak 90 derajat, kerap menyebabkan timbulnya pergerakan sendi belakang
sehingga posisi tubuh tidak seimbang. Maka itu, posisi duduk santai dengan postur miring 135 derajat
adalah posisi terbaik. Dalam posisi ini, tulang belakang akan berada dalam posisi ideal, di mana tulang
belakang bagian bawah akan berbentuk seperti huruf S.

Kelebihan dari posisi ini adalah:


Posisi duduk dengan sudut kemiringan 135 derajat akan memperbaiki sirkulasi darah di bagian
bawah tubuh, sehingga dapat terhindar dari gangguan varises, selulit, dan penggumpalan darah di kaki
serta mengurangi kelelahan di kaki. Tubuh akan terasa lebih rileks, sehingga mengurangi terjadinya
ketegangan otot, papar Barbara.
Duduk dengan posisi kemiringan 135 derajat juga akan menghasilkan mobilitas yang lebih baik, mudah
bergerak di atas kursi, dan lebih mudah untuk naik turun kursi.
2. Traksi dalam Praktik Klinik
Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau
gangguan pada tulang dan otot. Tujuan dari traksi adalah untuk menangani fraktur, dislokasim atau
spasme otot dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan mmpercepat penyembuhan. Ada dua tipe
utama dari traksi : traksi skeletal dan traksi kulit, dimana didalamnya terdapat sejumlah penanganan.
Prinsip Traksi adalah menarik tahanan yang diaplikasikan pada bagian tubuh, tungkai, pelvis atau
tulang belakang dan menarik tahanan yang diaplikasikan pada arah yang berlawanan yang disebut
dengan countertraksi. Tahanan dalam traksi didasari pada hokum ketiga (Footner, 1992 and Dave,
1995). Traksi dapat dicapai melalui tangan sebagai traksi manual, penggunaan talim splint, dan berat
sebagaimana pada traksi kulit serta melalui pin, wire, dan tongs yang dimasukkan kedalam tulang
sebagai traksi skeletal (Taylor, 1987 and Osmond, 1999).
Traksi dapat dilakukan melalui kulit atau tulang. Kulit hanya mampu menanggung beban traksi
sekitar 5 kg pada dewasa. Jika dibutuhkan lebih dari ini maka diperlukan traksi melalui tulang. Traksi
tulang sebaiknya dihindari pada anak-anak karena growth plate dapat dengan mudah rusak akibat pin
tulang.
Indikasi traksi kulit diantaranya adalah untuk anak-anak yang memerlukan reduksi tertutup, traksi
sementara sebelum operasi, traksi yang memerlukan beban 5 kg. Akibat traksi kulit yang kelebihan
beban di antaranya adalah nekrosis kulit, obstruksi vaskuler, oedem distal, serta peroneal nerve palsy
pada traksi tungkai.
Traksi tulang dilakukan pada dewasa yang memerlukan beban > 5 kg, terdapat kerusakan kulit,
atau untuk penggunaan jangka waktu lama. Kontratraksi diperlukan untuk melawan gaya traksi, yaitu
misalnya dengan memposisikan tungkai lebih tinggi pada traksi yang dilakukan di tungkai.

Penggunaan Fisika di Kesehatan :


1. Faal Fisika : untuk menentukan fungsi tubuh meliputi kesehatan dan penyakit.
Contoh fenomena fisika pada tubuh manusia :
Peningkatan dan penurunan rongga dada sehingga udara bisa masuk dan keluar (inspirasi
dan ekspirasi)
Mata dapat melihat, karena berfungsi sebagai alat optik
2. Pengetahuan tentang benda yang digunakan dlm kesehatan
seperti : ultrasonik, laser, radiasi, ll.
Salah satu penggunaan fisika dalam kesehatan dipelajari dalam cakupan ilmu biomekanika.
Biomekanika didefinisikan sebagai bidang ilmu aplikasi mekanika pada system biologi.
Biomekanika merupakan kombinasi antara disiplin ilmu mekanika terapan dan ilmu-ilmu biologi dan
fisiologi. Biomekanika menyangkut tubuh manusia dan hampir semua tubuh mahluk hidup. Dalam
biomekanika prinsip-prinsip mekanika dipakai dalam penyusunan konsep, analisis, disain dan
pengembangan peralatan dan sistem dalam biologi dan kedokteran.
Filosof Yunani Aristotle (384-322 SM) adalah orang yang pertama kali melakukan studi secara
sistematik terhadap gerakan tubuh manusia. Banyak prinsip yang mendeskripsikan aksi dan karakteristik
geometri dari otot. Walaupun penemuan Aristotle untuk menerangkan gerakan banyak mengandung
kontradiksi, usaha awal yang telah ia rintis menjadi pondasi bagi studi berikutnya seperti Galen (131201), Galileo (1564-1643), Borelli (1608-1679), Newton (1642-1727), dan Marey (1830-1904). Studi
dari para filosof dan ilmuwan tersebut telah mengakibatkan kita bisa membuktikan bahwa gerakan
tubuh manusia merupakan konsekuensi dari interkasi antara otot dan gaya yang diakibatkan oleh
lingkungan sekitar tubuh manusia. Seperi yang ditulis oleh Aristotle bahwa binatang yang berjalan
membuat posisisnya berubah dengan menekan apa yang ada dibawahnya.
Dengan demikian gerak tubuh merupakan sebuah system biologis yang dapat diakui sebagai hasil
interaksi system biologis dengan lingkungan sekelilingnya. Interaksi ini dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya :

Stuktur dari lingkunngan (bentuk dan stabilitas).

Medan dari gaya (arah relatif terhadap gravitasi, kecepatan gerakan).

Stuktur dari sistem (susunan tulang, aktifitas otot, sususan segment dari tubuh, ukuran, integrasi
motorik yang dibutuhkan untuk mendukung postur).

Peranan dari keadaan psikologis (level keatifan, motivasi).

Bentuk gerakan yang akan dikerjakan (kerangka dari organisasi dari gerakan).

Pengukuran adalah proses membandingkan kuatitas besaran pokok dan turunan dan satuannya.
Pengukuran dibagi menjadi :
1. Proses pengukuran fisik berulang
Melibatkan pengulangan per menit, per detik, per jam dsb
Misal pernafasan rata-rata (breathing rate), denyut nadi, dsb
2. Proses pengukuran fisik tak berulang
Dilakukan sekali terhadap individu
Misal mengukur substansi asing yang dikelurkan ginjal, BB, TB, dsb
Kesalahan dalam pengukuran dapat dibagi menjadi dua yaitu :
Kesalahan pemeriksa
o Misalnya tidak tepatnya membaca pengukuran, terjadinya paralac yaitu tidaklurusnya
antara alat pengukur dengan mata saat membaca hasil pengukuran.
Kesalahan orang yang diperiksa
o Misal: Orang yang terburu-buru mengalami stres sehingga terjadi peningkatan saraf
simpatis kemudian terjadi pelepasan adrenalin untuk memperkuat kontraksi yang
berakibat terjadi peningkatan tekanan darah dan denyut jantung.
Akibat kesalahan tersebut dapat menimbulkan faal positif atau faal negative

Faal Positif
Error yang terjadi dimana penderita dinyatakan menderita suatu penyakit padahal tidak. Misal
Pada pemeriksaan kadar gula darah, kadar gula darah setelah makan atau minum yang manis
akan meningkat, meskipun dalam jangka waktu tertentu akan turun lagi (+ palsu). Oleh karena
itu, sebaiknya orang yang diperiksa kadar gula darahnya harus berpuasa untuk hasil yang akurat

Faal negatif
Error yang terjadi dimana penderita dinyatakan tidak sakit padahal menderita suatu penyakit .
Misalnya Tes Widal pada penderita Typoid, secara klinis gejala jelas menunjukkan tanda dan
gejala typoid tetapi hasil lab tidak mendukung dimana tes widal dan tes kultur negatif (- palsu)
Untuk menghindari kesalahan dalam pengukuran dapat dilakukan hal-hal berikut :
1. Dalam pengambilan pengukuran haruslah hati-hati dan teliti.
2. Pengulangan pengukuran untuk menghasilkan hasil pengukuran yang lebih akurat
3. Penggunaan alat yang dapat dipercaya, yaitu alat yang sudah disahkan oleh lembaga
berwenang.
4. Kalibrasi terhadap alat, yaitu secara berkala memeriksakan ketelitian alat tersebut.

KESEIMBANGAN (BALANCE)
KESEIMBANGAN PADA TUBUH MANUSIA
Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan kesetimbangan tubuh ketika
di tempatkan di berbagai posisi.
Definisi menurut OSullivan, keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan pusat
gravitasi pada bidang tumpu terutama ketika saat posisi tegak. Selain itu menurut Ann Thomson,
keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan tubuh dalam posisi kesetimbangan maupun
dalam keadaan statik atau dinamik, serta menggunakan aktivitas otot yang minimal.
Keseimbangan juga bisa diartikan sebagai kemampuan relatif untuk mengontrol pusat massa
tubuh (center of mass) atau pusat gravitasi (center of gravity) terhadap bidang tumpu (base of support).
Keseimbangan melibatkan berbagai gerakan di setiap segmen tubuh dengan di dukung oleh sistem
muskuloskleletal dan bidang tumpu. Kemampuan untuk menyeimbangkan massa tubuh dengan bidang
tumpu akan membuat manusia mampu untuk beraktivitas secara efektif dan efisien.
Keseimbangan terbagi atas dua kelompok, yaitu keseimbangan statis : kemampuan tubuh untuk
menjaga kesetimbangan pada posisi tetap (sewaktu berdiri dengan satu kaki, berdiri diatas papan
keseimbangan); keseimbangan dinamis adalah kemampuan untuk mempertahankan kesetimbangan
ketika bergerak.
Keseimbangan merupakan interaksi yang kompleks dari integrasi/interaksi sistem sensorik
(vestibular, visual, dan somatosensorik termasuk proprioceptor) dan muskuloskeletal (otot, sendi, dan
jar lunak lain) yang dimodifikasi/diatur dalam otak (kontrol motorik, sensorik, basal ganglia,
cerebellum, area asosiasi) sebagai respon terhadap perubahan kondisi internal dan eksternal.
Dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti, usia, motivasi, kognisi, lingkungan, kelelahan, pengaruh obat
dan pengalaman terdahulu.
FISIOLOGI KESEIMBANGAN
Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dan kestabilan postur oleh aktivitas
motorik tidak dapat dipisahkan dari faktor lingkungan dan sistem regulasi yang berperan dalam
pembentukan keseimbangan. Tujuan dari tubuh mempertahankan keseimbangan adalah : menyanggah
tubuh melawan gravitasi dan faktor eksternal lain, untuk mempertahankan pusat massa tubuh agar
seimbang dengan bidang tumpu, serta menstabilisasi bagian tubuh ketika bagian tubuh lain bergerak.

Komponen-komponen pengontrol keseimbangan adalah :


1) Sistem informasi sensoris
Sistem informasi sensoris meliputi visual, vestibular, dan somatosensoris.
a. Visual
Visual memegang peran penting dalam sistem sensoris. Cratty & Martin (1969) menyatakan
bahwa keseimbangan akan terus berkembang sesuai umur, mata akan membantu agar tetap fokus pada
titik utama untuk mempertahankan keseimbangan, dan sebagai monitor tubuh selama melakukan gerak
statik atau dinamik. Penglihatan juga merupakan sumber utama informasi tentang lingkungan dan
tempat kita berada, penglihatan memegang peran penting untuk mengidentifikasi dan mengatur jarak
gerak sesuai lingkungan tempat kita berada. Penglihatan muncul ketika mata menerima sinar yang
berasal dari obyek sesuai jarak pandang.
Dengan informasi visual, maka tubuh dapat menyesuaikan atau bereaksi terhadap perubahan
bidang pada lingkungan aktivitas sehingga memberikan kerja otot yang sinergis untuk mempertahankan
keseimbangan tubuh.
b. Sistem vestibular
Komponen vestibular merupakan sistem sensoris yang berfungsi penting dalam keseimbangan,
kontrol kepala, dan gerak bola mata. Reseptor sensoris vestibular berada di dalam telinga. Reseptor
pada sistem vestibular meliputi kanalis semisirkularis, utrikulus, serta sakulus. Reseptor dari sistem
sensoris ini disebut dengan sistem labyrinthine. Sistem labyrinthine mendeteksi perubahan posisi kepala
dan percepatan perubahan sudut. Melalui refleks vestibulo-occular, mereka mengontrol gerak mata,
terutama ketika melihat obyek yang bergerak. Mereka meneruskan pesan melalui saraf kranialis VIII ke
nukleus vestibular yang berlokasi di batang otak. Beberapa stimulus tidak menuju nukleus vestibular
tetapi ke serebelum, formatio retikularis, thalamus dan korteks serebri.
Nukleus vestibular menerima masukan (input) dari reseptor labyrinth, retikular formasi, dan
serebelum. Keluaran (output) dari nukleus vestibular menuju ke motor neuron melalui medula spinalis,
terutama ke motor neuron yang menginervasi otot-otot proksimal, kumparan otot pada leher dan otototot punggung (otot-otot postural). Sistem vestibular bereaksi sangat cepat sehingga membantu
mempertahankan keseimbangan tubuh dengan mengontrol otot-otot postural.
c. Somatosensoris
Sistem somatosensoris terdiri dari taktil atau proprioseptif serta persepsi-kognitif. Informasi
propriosepsi disalurkan ke otak melalui kolumna dorsalis medula spinalis. Sebagian besar masukan
(input) proprioseptif menuju serebelum, tetapi ada pula yang menuju ke korteks serebri melalui
lemniskus medialis dan talamus.
Kesadaran akan posisi berbagai bagian tubuh dalam ruang sebagian bergantung pada impuls yang
datang dari alat indra dalam dan sekitar sendi. Alat indra tersebut adalah ujung-ujung saraf yang

beradaptasi lambat di sinovia dan ligamentum. Impuls dari alat indra ini dari reseptor raba di kulit dan
jaringan lain , serta otot di proses di korteks menjadi kesadaran akan posisi tubuh dalam ruang.

2) Respon otot-otot postural yang sinergis (Postural muscles response synergies)


Respon otot-otot postural yang sinergis mengarah pada waktu dan jarak dari aktivitas kelompok
otot yang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan dan kontrol postur. Beberapa kelompok otot
baik pada ekstremitas atas maupun bawah berfungsi mempertahankan postur saat berdiri tegak serta
mengatur keseimbangan tubuh dalam berbagai gerakan. Keseimbangan pada tubuh dalam berbagai
posisi hanya akan dimungkinkan jika respon dari otot-otot postural bekerja secara sinergi sebagai reaksi
dari perubahan posisi, titik tumpu, gaya gravitasi, dan aligment tubuh.
Kerja otot yang sinergi berarti bahwa adanya respon yang tepat (kecepatan dan kekuatan) suatu
otot terhadap otot yang lainnya dalam melakukan fungsi gerak tertentu.
3) Kekuatan otot (Muscle Strength)
Kekuatan otot umumnya diperlukan dalam melakukan aktivitas. Semua gerakan yang dihasilkan
merupakan hasil dari adanya peningkatan tegangan otot sebagai respon motorik.
Kekuatan otot dapat digambarkan sebagai kemampuan otot menahan beban baik berupa beban
eksternal (eksternal force) maupun beban internal (internal force). Kekuatan otot sangat berhubungan
dengan sistem neuromuskuler yaitu seberapa besar kemampuan sistem saraf mengaktifasi otot untuk
melakukan kontraksi. Sehingga semakin banyak serabut otot yang teraktifasi, maka semakin besar pula
kekuatan yang dihasilkan otot tersebut.
Kekuatan otot dari kaki, lutut serta pinggul harus adekuat untuk mempertahankan keseimbangan
tubuh saat adanya gaya dari luar. Kekuatan otot tersebut berhubungan langsung dengan kemampuan otot
untuk melawan gaya garvitasi serta beban eksternal lainnya yang secara terus menerus mempengaruhi
posisi tubuh.
4) Adaptive systems
Kemampuan adaptasi akan memodifikasi input sensoris dan keluaran motorik (output) ketika
terjadi perubahan tempat sesuai dengan karakteristik lingkungan.
5) Lingkup gerak sendi (Joint range of motion)
Kemampuan sendi untuk membantu gerak tubuh dan mengarahkan gerakan terutama saat gerakan
yang memerlukan keseimbangan yang tinggi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan

1) Pusat gravitasi (Center of Gravity-COG)


Pusat gravitasi terdapat pada semua obyek, pada benda, pusat gravitasi terletak tepat di tengah
benda tersebut. Pusat gravitasi adalah titik utama pada tubuh yang akan mendistribusikan massa tubuh
secara merata. Bila tubuh selalu ditopang oleh titik ini, maka tubuh dalam keadaan seimbang. Pada
manusia, pusat gravitasi berpindah sesuai dengan arah atau perubahan berat. Pusat gravitasi manusia
ketika berdiri tegak adalah tepat di atas pinggang diantara depan dan belakang vertebra sakrum ke dua.
Derajat stabilitas tubuh dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu : ketinggian dari titik pusat gravitasi
dengan bidang tumpu, ukuran bidang tumpu, lokasi garis gravitasi dengan bidang tumpu, serta berat
badan.
2) Garis gravitasi (Line of Gravity-LOG)
Garis gravitasi merupakan garis imajiner yang berada vertikal melalui pusat gravitasi dengan pusat
bumi. Hubungan antara garis gravitasi, pusat gravitasi dengan bidang tumpu adalah menentukan derajat
stabilitas tubuh.

3) Bidang tumpu (Base of Support-BOS)


Bidang tumpu merupakan bagian dari tubuh yang berhubungan dengan permukaan tumpuan.
Ketika garis gravitasi tepat berada di bidang tumpu, tubuh dalam keadaan seimbang. Stabilitas yang
baik terbentuk dari luasnya area bidang tumpu. Semakin besar bidang tumpu, semakin tinggi stabilitas.

Misalnya berdiri dengan kedua kaki akan lebih stabil dibanding berdiri dengan satu kaki. Semakin dekat
bidang tumpu dengan pusat gravitasi, maka stabilitas tubuh makin tinggi.

KESEIMBANGAN BERDIRI
Pada posisi berdiri seimbang, susunan saraf pusat berfungsi untuk menjaga pusat massa tubuh
(center of body mass) dalam keadaan stabil dengan batas bidang tumpu tidak berubah kecuali tubuh
membentuk batas bidang tumpu lain (misalnya : melangkah). Pengontrol keseimbangan pada tubuh
manusia terdiri dari tiga komponen penting, yaitu sistem informasi sensorik (visual, vestibular dan
somatosensoris), central processing dan efektor.
Pada sistem informasi, visual berperan dalam contras sensitifity (membedakan pola dan bayangan)
dan membedakan jarak. Selain itu masukan (input) visual berfungsi sebagai kontrol keseimbangan,
pemberi informasi, serta memprediksi datangnya gangguan. Bagian vestibular berfungsi sebagai
pemberi informasi gerakan dan posisi kepala ke susunan saraf pusat untuk respon sikap dan memberi
keputusan tentang perbedaan gambaran visual dan gerak yang sebenarnya.

Masukan (input)

proprioseptor pada sendi, tendon dan otot dari kulit di telapak kaki juga merupakan hal penting untuk
mengatur keseimbangan saat berdiri static maupun dinamik
Central processing berfungsi untuk memetakan lokasi titik gravitasi, menata respon sikap, serta
mengorganisasikan respon dengan sensorimotor. Selain itu, efektor berfungsi sebagai perangkat
biomekanik untuk merealisasikan renspon yang telah terprogram si pusat, yang terdiri dari unsur
lingkup gerak sendi, kekuatan otot, alignment sikap, serta stamina.
Postur adalah posisi atau sikap tubuh. Tubuh dapat membentuk banyak postur yang
memungkinkan tubuh dalam posisi yang nyaman selama mungkin. Pada saat berdiri tegak, hanya
terdapat gerakan kecil yang muncul dari tubuh, yang biasa di sebut dengan ayunan tubuh. Luas dan arah
ayunan diukur dari permukaan tumpuan dengan menghitung gerakan yang menekan di bawah telapak

kaki, yang di sebut pusat tekanan (center of pressure-COP). Jumlah ayunan tubuh ketika berdiri tegak di
pengaruhi oleh faktor posisi kaki dan lebar dari bidang tumpu.
Posisi tubuh ketika berdiri dapat dilihat kesimetrisannya dengan : kaki selebar sendi pinggul,
lengan di sisi tubuh, dan mata menatap ke depan. Walaupun posisi ini dapat dikatakan sebagai posisi
yang paling nyaman, tetapi tidak dapat bertahan lama, karena seseorang akan segera berganti posisi
untuk mencegah kelelahan.
ALAT UKUR
Terdapat beberapa variasi alat ukur tes keseimbangan dinamis, untuk menetapkan tingkat
keseimbangan dinamis pada seorang lansia, ada beberapa tes yang sering dipergunakan untuk menjadi
alat ukur,antara lain:
1)

TUGT (Time Up and Go Test)

Kriteria pengukuran:
Mengukur kecepatan terhadap aktivitas yang mungkin menyebabkan gangguan keseimbangan.
Alat yang dibuthkan :
Kursi dengan sandaran dan penyangga lengan, stopwatch, dinding.
Waktu tes:
10 detik 3 menit.
Prosedur tes
Posisi awal pasien duduk bersandar pada kursi dengan lengan berada pada penyangga lengan
kursi. Pasien mengenakan alas kaki yang biasa dipakai. Pada saat fisioterapis memberi aba-aba mulai
pasien berdiri dari kursi, boleh menggunakan tangan untuk mendorong berdiri jika pasien menghendaki.
Pasien terus berjalan sesuai dengan kemampuannya menempuh jarak 3 meter menuju ke dinding,
kemudian berbalik tanpa menyentuh dinding dan berjalan kembali menuju kursi. Sesampainya di depan
kursi pasien berbalik dan duduk kembali bersandar. Waktu dihitung sejak aba-aba mulai hingga pasien
duduk bersandar kembali.
Pasien tidak diperbolehkan mencoba atau berlatih lebih dulu, stopwatch mulai menghitung setelah
pemberian aba-aba mulai dan berhenti menghitung saat subyek kembali pada posisi awal atau duduk.
Bila kurang dari 10 detik, maka subjek dikatakan normal. Bila kurang dari 20 detik, maka dapat
dikatakan baik. Subjek dapat berjalan sendiri tanpa membutuhkan bantuan. Namun bila lebih dari 30
detik, maka subjek dikatakan memiliki problem dalam berjalan dan membutuhkan bantuan saat berjalan.
Sedangkan pada subjek yang lebih lama dari 40 detik harus mendapat pengawasan yang optimal karena
sangat beresiko untuk jatuh (Shumway, 2000). Nilai normal pada lansia sehat umur 75 tahun, rata rata
waktu tempuh yang dibutuhkan adalah 8,5 detik (Podsiadlo et al., 1991).

Menurut Jacobs & Fox (2008), nilai normal lansia pada Time Up and Go Test berdasarkan kategori
umur yaitu :
Tabel 2.1.
Nilai Normal Time Up and Go Test
(Jacobs & Fox , 2008)
Umur

Jenis Kelamin

Nilai rata-rata

Nilai Normal

60-69
60-69
70-79
70-79
80-89
80-89

Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempuan

( detik )
8
8
9
9
10
11

( detik )
4-12
4-12
5-13
5-15
8-12
5-17

Jika skor < 14 detik; 87% tidak ada resiko tinggi untuk jatuh
Jika skor 14 detik; 87% resiko tinggi untuk jatuh
Keunggulan dan kelemahan:
-

Cepat, sederhana dan peralatan minimal.

Tidak sensitif terhadap gangguan keseimbangan ringan-sedang.

2)

Berg Balance Scale

Tipe pengukuran:
Pengukuran terhadap satu seri keseimbangan yang terdiri dari 14 jenis tes keseimbangan statis dan
dinamis dengan skala 0-4 (skala didasarkan pada kualitas dan waktu yang diperlukan dalam melengkapi
tes).
Alat yang dibutuhkan :
stopwatch, kursi dengan penyangga lengan, meja, obyek untuk dipungut dari lantai, blok (step
stool) dan penanda.
Waktu tes:
10 15 menit.
Prosedur tes :
Pasien dinilai waktu melakukan hal-hal di bawah ini, sesuai dengan kriteria yang dikembangkan
oleh Berg.
1. Duduk ke berdiri
2. Berdiri tak tersangga
3. Duduk tak tersangga
4. Berdiri ke duduk

5. Transfers
6. Berdiri dengan mata tertutup
7. Berdiri dengan kedua kaki rapat
8. Meraih ke depan dengan lengan terulur maksimal
9. Mengambil obyek dari lantai
10. Berbalik untuk melihat ke belakang
11. Berbalik 360 derajad
12. Menempatkan kaki bergantian ke blok (step stool)
13. Berdiri dengan satu kaki didepan kaki yang lain
14. Berdiri satu kaki
Normal skor : 56
Reliabilitas retes dan interrater tinggi pada pasien stroke dan usia lanjut (Berg K, 1995)
Validitas mempunyai korelasi yang signifikan dengan perkembangan pasien stroke (Stevenson T,
1996)
Keunggulan dan kelemahan:
-

Meliput banyak tes keseimbangan, khususnya tes fungsional baik statis maupun dinamis.

Keterbatasan dalam menilai gangguan keseimbangan ringan-sedang.

3)

Step test

Tipe pengukuran :
pengukuran kecepatan saat bergerak dinamis naik turun satu trap dengan satu kaki.
Alat yang dibutuhkan :
stopwatch, blok setinggi 7,5 cm.
Waktu tes:
30 detik.
Prosedur tes :
Pasien berdiri tegak tak tersangga, sepatu dilepas, kedua kaki sejajar berjarak 5 cm di belakang
blok. Fisioterapis berdiri di salah satu sisi pasien dengan satu kaki diletakkan di atas blok untuk
stabilisasi blok. Pasien dipersilahkan memilih kaki yang mana yang menapak ke atas blok dan kaki yang
menyangga berat badan. Pasien diajarkan bahwa kaki harus menapak sempurna pada blok dan kembali
pada tempat semula juga dengan sempurna dan ini dilakukan secepat mungkin. Tes dimulai saat pasien
menyatakan siap dengan aba-aba mulai dan stopwatch dihidupakan. Jumlah step dihitung 1 kali jika
pasien menapak pada blok dan kembali ke tempat semula. Tes diakhiri saat stopwatch menunjukkan
waktu 15 detik dengan aba-aba stop dan dicatat jumlah step yang dilakukan pasien. Prosedur yang
sama diulangi pada kaki satunya.
Skor normal: Usia 73 tahun rata-rata 17 kali tiap 15 detik.

Reliabilitas Retes ICC>0,90 pd orang tua sehat & ICC>0,88 pd pasien stroke (Hill K, 1996).
Validitas mempunyai korelasi yang signifikan dengan tes meraih (reach test), kecepatan langkah
dan lebar langkah saat jalan dan menunjukkan perkembangan pasien stroke signifikan (Hill K, 1997).
Keunggulan dan kelemahan:
-

Cepat, sederhana dan peralatan minimal.

Terlihat sensitif untuk gangguan keseimbangan ringan-sedang.

Kurang sensitif untuk menilai penyebab gangguan keseimbangan pada penderita Parkinson.

4)

Tes Pastor / Tes Marsden

Tipe pengukuran :
pengukuran kemampuan untuk mempertahankan posisi terhadap gangguan dari luar.
Alat yang dibutuhkan :
Tidak ada.
Waktu tes:
10 detik.
Prosedur tes :
Fisioterapis berdiri di belakang pasien dan memberikan tarikan secara mengejut pada bahu pasien
ke belakang. Pasien yang kedua matanya tetap terbuka selama tes diinstruksikan untuk bereaksi
melawan tarikan tersebut untuk mecegah agar tidak jatuh ke belakang. Respon pasien tersebut dinilai
dengan skala seperti di bawah ini :
0 Tetap berdiri tegak tanpa melangkah ke belakang.
1

Berdiri tegak dengan mengambil satu langkah ke belakang untuk mempertahankan stabilitas.

Mengambil dua atau lebih langkah ke belakang tetapi mampu meraih keseimbangan lagi.

Mengambil beberapa langkah ke belakang tetapi tak mampu meraih keseimbangan lagi dan

memerlukan bantuan terapis untuk membantu meraih keseimbangan.


4

Jatuh ke belakang tanpa mencoba mengambil langkah ke belakang

Skor normal: 0-1


Reliabilitas retes tinggi pada pasien Parkinson (Smithson, 1996)
Validitas menunjukkan validitas yang signifikan dalam membedakan orang normal dengan pasien
Parkinson (Smithson, 1998).
Keunggulan dan kelemahan:
-

Sederhana, cepat.

Kesulitan dalam menstandarisasi gangguan dari luar.

5)

Functional reach test

Tipe pengukuran :
mengukur kemampuan dalam meraih (reach) dari posisi berdiri tegak
Alat yang diperlukan:
Penanda dan penggaris.
Waktu tes:
15 detik.
Prosedur tes
Posisi pasien berdiri tegak rileks dengan sisi yang sehat dekat dengan dinding; kedua kaki
renggang (10 cm). Pasien mengangkat lengan sisi yang sehat (fleksi 90o). Fisioterapis menandai pada
dinding sejajar ujung jari tangan pasien.
Pasien diberikan instruksi untuk meraih sejauh-jauhnya (dengan membungkukkan badan) dan
ditandai lagi pada dinding sejajar dimana ujung jari pasien mampu meraih. Kemudian diukur jarak dari
penandaan pertama ke penandaan yang kedua.
Skor normal
Umur 20-24; laki-laki 42 cm dan wanita 37 cm
Umur 41-69; laki-laki 38 cm dan wanita 35 cm
Umur 70-87; laki-laki 33 cm dan wanita 27 cm
Reliabilitas interrater 0.98 (bagus) pada orang normal (Duncan P, 1990).
Reliabilitas retes 0.92 (bagus) pada orang normal dan penderita Parkinson (Schenkmen, 1997).
Validitas: Signifikan, termasuk dalam menilai perkembangan pasien stroke (Hill,1997).
Keunggulan dan kelemahan:
- Tes sederhana, cepat dan membutuhkan peralatan minimal.
- Kurang sensitif untuk menilai gannguan keseimbangan ringan-sedang.

Mekanisme Pengaturan suhu tubuh


PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk homeotermik, makhluk berdarah panas dimana suhu tubuhnya relatif
konstan terhadap perubahan suhu disekitarnya. Suhu tubuh manusia (suhu inti / core temperature)
dipertahankan dalam batas normal dalam suatu limit yang kecil, tidak lebih dari 0,4 C yaitu sekitar
36,7-37,1 C, bahkan dalam suatu keadaan lingkungan yang buruk oleh suatu sistem yang disebut
termoregulasi.
Termoregulasi adalah proses fisiologis yang merupakan kegiatan integrasi dan koordinasi yang
digunakan secara aktif untuk mempertahankan suhu inti tubuh melawan perubahan suhu dingin atau
hangat (Myers, 1984). Pusat pengaturan tubuh manusia ada di Hipotalamus, oleh karena itu jika
hipotalamus terganggu maka mekanisme pengaturan suhu tubuh juga akan terganggu dan
mempengaruhi thermostat tubuh manusia
Manusia membutuhkan keadaan normotermia untuk mempertahankan fungsi-fungsi tubuh
berjalan normal. Saat tubuh tidak dapat dipertahankan normal, fungsi metabolisme tubuh terganggu dan
dapat berakibat fatal.
Suhu tubuh dipertahankan konstan dengan cara memproduksi panas atau meningkatkan
pengeluaran panas. Suhu tubuh dipertahankan oleh sistem termoregulasi berkisar 24-45C. Jika suhu
tubuh berubah menjadi kurang dari 24C atau lebih dari 45C maka termoregulasi akan hilang dan
berakibat

fatal.

Perubahan suhu tubuh di pengaruhi oleh berbagai faktor sehingga menyebabkan Setiap saat suhu tubuh
manusia berubah secara fluktuatif. Hal - hal tersebut adalah :

Exercise: semakin beratnya exercise maka suhunya akan meningkat 15 x, sedangkan pada atlet
dapat meningkat menjadi 20 x dari basal ratenya.

Hormon: Thyroid (Thyroxine dan Triiodothyronine) adalah pengatur pengatur utama basal
metabolisme rate. Hormon lain adalah testoteron, insulin, dan hormon pertumbuhan dapat
meningkatkan metabolisme rate 5-15%.

Sistem syaraf: selama exercise atau situasi penuh stress, bagian simpatis dari system syaraf
otonom terstimulasi. Neuron-neuron postganglionik melepaskan norepinephrine (NE) dan juga
merangsang pelepasan hormon epinephrine dan norephinephrine (NE) oleh medulla adrenal
sehingga meningkatkan metabolisme rate dari sel tubuh.

Suhu tubuh: meningkatnya suhu tubuh dapat meningkatkan metabolisme rate, setiap peningkatan
1 % suhu tubuh inti akan meningkatkan kecepatan reaksi biokimia 10 %.

Asupan makanan: makanan dapat meningkatkan 10 20 % metabolisme rate terutama intake


tinggi protein.

Berbagai macam factor seperti: gender, iklim dan status malnutrisi.

SUHU TUBUH
Suhu tubuh merupakan keseimbangan antara panas yang diproduksi oleh tubuh dengan panas
yang dikeluarkan. Suhu tubuh manusia secara kasar dibagi menjadi 2 yaitu : suhu inti (core temperature)
dan suhu perifer/suhu kulit.

Suhu inti adalah suhu pada jaringan / organ vital yang baik perfusinya. Suhu ini relatif sama.
Dengan kata lain, distribusi panas pada bagian-bagian tubuh ini cepat, sehingga suhu pada
beberapa tempat yang berbeda hampir sama. Bagian tersebut secara fisik terletak di kepala dan
dada.

Bagian tubuh dimana suhunya tidak homogen dan bervariasi sepanjang waktu merupakan bagian
dari suhu perifer. Suhu kulit/ perifer berbeda dengan suhu inti, naik dan turun sesuai dengan
suhu lingkungan. Bagian tubuh ini terdiri dari kaki dan tangan. Suhu perifer ini biasanya 2-4C
di bawah suhu inti.
Suhu tubuh diatur dengan mengimbangi produksi panas terhadap kehilangan panas yang terjadi.

Bila laju pembentukan panas dalam tubuh lebih besar daripada laju hilangnya panas, timbul panas
dalam tubuh dan suhu tubuh meningkat. Sebaliknya, bila kehilangan panas lebih besar, panas tubuh dan
suhu tubuh menurun.
Pengukuran suhu tubuh diambil berdasarkan suhu inti dan suhu perifer. Suhu ini disebit suhu
tubuh rata-rata. Rumus yang digunakan adalah:

T body = 0,66 T core + 0,34 T skin


Suhu kulit di seluruh tubuh berbeda. Menurut Ramanathan menganjurkan untuk menentukan suhu

kulit dibutuhkan 4 tempat berbeda. Sedangkan suhu inti dapat diambil dari suhu pada membrana
timpani, esofagus distal atau arteri pulmonalis. Selain itu, juga dapat diambil dari suhu di nasofaring,
rektal atau vesika urinaria.
Suhu tubuh bervariasi tergantung dari bagian tubuh yang diukur, waktu pengukuran, aktivitas dan
umur. Suhu kulit di pergelangan kaki sekitar 20C, di pinggang sekitar 30C pada temperatur
lingkungan 22,2C. Suhu aksila sekitar 1F (0,6C) lebih rendah daripada suhu oral dan suhu rektal
sekitar 1F lebih tinggi daripada suhu oral. Suhu tubuh tergantung dari variasi diurnal, suhu tubuh
rendah pada pagi hari (terendah sekitar jam 4.00 pagi hari) dan mencapai maksimal pada sore hari
antara jam 03.00-07.00 malam.
PANAS TUBUH

Panas tubuh dihasilkan dari reaksi metabolisme tubuh. Sumber utama terbentuknya panas tubuh
ini berasal dari glukosa, protein dan lemak. Panas tubuh yang dihasilkan berasal dari pembakaran setiap
gram lemak menjadi 9,3 kal dan karbohidrat serta protein menjadi 4,1 kali.
Sebagian besar produksi panas di dalam tubuh dihasilkan organ dalam, terutama dalam hati, otak,
jantung dan otot rangka selama kerja. Kemudian panas ini dihantarkan dari organ dan jaringan yang
lebih dalam ke kulit, dimana panas tubuh hilang ke udara dan sekitarnya. Oleh karena itu, laju hilangnya
panas tubuh ditentukan oleh seberapa cepat panas tubuh dapat dikonduksikan dari tempat panas tubuh
dihasilkan dalam inti tubuh ke kulit dan seberapa cepat panas tubuh kemudian dapat dihantarkan dari
kulit ke sekitarnya.
Panas tubuh hilang dari permukaan tubuh melalui 4 mekanisme, yaitu radiasi, konduksi, konveksi
dan evaporasi. Kehilangan panas melalui radiasi adalah kehilangan dalam bentuk gelombang panas.
Tubuh manusia menyebarkan gelombang panas ke segala penjuru. Gelombang panas juga dipancarkan
dari benda-benda di sekitar ke tubuh . Tetapi bila suhu tubuh lebih besar dari suhu lingkungan, panas
tubuh ini akan dipancarkan keluar dari tubuh lebih besar daripada yang dipancarkan ke tubuh.
Kehilangan panas karena radiasi ini dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Makin rendah suhu
lingkungan makin besar panas tubuh yang hilang dan bila suhu tubuh makin mendekati suhu
lingkungan, kehilangan panas yang terjadi makin kecil. Selain dipengaruhi oleh hal tersebut, radiasi juga
dipengaruhi oleh kelembaban udara, makin tinggi kelembaban, kehilangan panas makin berkurang.
Radiasi merupakan penyebab kehilangan panas terbesar pada penderita yang menjalani operasi.
Konduksi merupakan hilangnya panas dari suatu permukaan benda ke permukaan benda
lainnya.Misalnya, dari kulit tubuh manusia ke permukaan tempat tidur. Hal ini dipengaruhi oleh suhu
dari benda tersebut dan penyekat yang ada diantara keduanya.
Di sekitar manusia terdapat suatu lapisan udara yang hangat yang berfungsi sebagai insulator
(penyekat tubuh). Lapisan udara ini yang menghalangi hilangnya panas tubuh ke udara. Tetapi bila ada
aliran udara yang bergerak yang menghilangkan lapisan udara di sekitar tubuh manusia akan
menyebabkan hilangnya panas tubuh. Proses hilangnya panas tubuh karena aliran udara ini disebut
konveksi1.
Evaporasi adalah suatu proses berubahnya cairan menjadi gas. Evaporasi terjadi melalui kulit dan
cairan yang hilang sekitar 800 ml (30-50 ml/jam). Sedangkan evaporasi melalui sistem pernapasan
terjadi melalui udara yang diekspirasikan, cairan yang hilang sekitar 400 ml/hari.
Pengeluaran keringat sendiri menyebabkan hilangnya panas dari tubuh. Mekanisme itu hanya
efektif untuk menurunkan suhu tubuh bila keringat yang terbentuk diuapkan oleh tubuh, tidak jatuh atau
meleleh dari tubuh. Setiap ml keringat yang diuapkan membutuhkan 580 kal yang akan diserap dari
tubuh.
Selama suhu kulit lebih tinggi daripada suhu lingkungan, panas dapat hilang melalui radiasi dan
konduksi. Tetapi ketika suhu lingkungan lebih tinggi daripada suhu tubuh, tubuh memperoleh panas

melalui radiasi dan konduksi dari suhu lingkungan. Dalam keadaan seperti ini satu-satunya cara tubuh
melepaskan panas adalah dengan evaporasi.
MEKANISME PENGATURAN SUHU TUBUH
Termoregulasi seperti fungsi sistem tubuh lainnya mempunyai sistem umpan balik (feed back)
negatif dan positif untuk mengatur fungsi fisiologis tubuh. Suhu tubuh dipertahankan melalui suatu
fungsi fisiologis yang melibatkan reseptor-reseptor suhu perifer dan sentral.
Bagian otak yang berpengaruh terhadap pengaturan suhu tubuh adalah hipotalamus anterior dan
hipotalamus posterior.
Hipotalamus anterior (AH/POA) berperanan meningkatkan hilangnya panas, vasodilatasi dan

menimbulkan keringat.
Hipotalamus posterior (PH/ POA) berfungsi meningkatkan penyimpanan panas, menurunkan

aliran darah, piloerektil, menggigil, meningkatnya produksi panas, meningkatkan sekresi


hormon tiroid dan mensekresi epinephrine dan norepinephrine serta meningkatkan basal
metabolisme rate.
Fungsi pengaturan suhu tubuh atau termoregulasi tersebut dibedakan menjadi 3 fase, yaitu: termal
aferen, regulasi sentral dan respon eferen.
Termal Aferen
Informasi mengenai suhu berasal dari sel-sel di seluruh tubuh yang sensitif terhadap perubahan
suhu. Reseptor-reseptor suhu ini terletak di kulit dan membrana mukosa. Terdiri dari reseptor panas dan
reseptor dingin. Reseptor dingin menyalurkan impuls melalui serabut saraf A dan reseptor dingin
melalui serabut saraf C tak bermielin. Serabut saraf C tak bermielin juga untuk mendeteksi dan
menghantarkan impuls nyeri. Hal ini yang menyebabkan impuls panas yang intens kadang-kadang sulit
dibedakan dengan impuls nyeri tajam. Reseptor di kulit ini memiliki 10 kali lebih banyak reseptor
dingin daripada reseptor panas. Oleh karena itu, deteksi suhu bagian perifer terutama menyangkut
deteksi suhu dingin daripada suhu panas.Reseptor suhu tubuh bagian dalam juga ditemukan pada bagian
tertentu dari tubuh, terutama di medula spinalis, organ dalam abdomen dan torak, hipotalamus dan
bagian lain dari otak, serta sekitar vena-vena besar. Reseptor dalam ini berbeda fungsinya dengan
reseptor kulit karena reseptor tersebut lebih banyak terpapar dengan suhu inti daripada suhu permukaan
tubuh.
Reseptor suhu juga terdapat di hipotalamus anterior area pre-optik. Area ini mengandung sejumlah
besar neuron yang sensitif terhadap panas yang jumlahnya kira-kira sepertiga neuron yang sensitif
terhadap dingin.
Regulasi Sentral

Pusat regulasi suhu di serebral terletak di hipotalamus. Impuls suhu yang berjalan melalui traktus
spinotalamikus, yang berasal dari kulit, medula spinalis, jaringan sebelah dalam torak dan abdomen
serta bagian otak lainnya akan dibawa dan diintegrasikan di hipotalamus, yang kemudian akan
mengkoordinasi jalur eferen menuju efektor.
Area pada hipotalamus yang dirangsang oleh impuls sensoris ini adalah suatu area yang terletak
secara bilateral dalam hipotalamus posterior kira-kira setinggi korpus mamilaris. Di area ini impuls dari
area pre optik dan dari perifer tubuh digabung untuk mengatur reaksi pembentukan panas atau reaksi
penyimpanan panas tubuh.
Pada manusia, suhu inti diatur dalam suatu limit yang kecil yang disebut set-point. Set-point ini
yang mengatur adalah hipotalamus posterior. Nilai ambang suhu inti tidak melebihi 0,4C, pada
umumnya berkisar 36,7-37,1C. Nilai ambang ini disebut interthreshold range. Hipotalamus mengatur
suhu tubuh dengan mengintegrasikan input suhu yang berasal dari perifer dan inti serta membandingkan
dengan set-point di hipotalamus posterior.
Interthreshold range ini bisa berubah pada penderita hipotiroid, hipertiroid, infeksi, exercise/olah
raga, makanan, anestesi dan pemberian obat-obatan, misalnya alkohol, sedatif dan nikotin. Regulasi
sentral ini intact pada bayi, tetapi seringkali terganggu pada orang tua atau penderita sakit kritis.
Respon Aferen
Respon termoregulasi dari perubahan suhu terdiri dari perubahan tingkah laku. Pada manusia
dengan kesadaran penuh, perubahan tingkah laku lebih bermanfaat dalam mempertahankan suhu tubuh.
Saat hipotalamus mendeteksi penurunan suhu tubuh, impuls akan berjalan dari hipotalamus menuju
korteks serebri untuk memberikan individu tersebut sensasi dingin. Akibatnya terjadi perubahan tingkah
laku, misalnya peningkatan aktivitas motorik, seperti berjalan menuju tempat yang lebih hangat atau
memakai baju hangat.
Respon yang lainnya adalah respon vasomotor. Respon vasomotor terbagi menjadi 2 yaitu, respon
terhadap dingin, berupa vasokonstriksi dan piloereksi serta respon terhadap panas berupa vasodilatasi
dan pengeluaran keringat (sweating)

Suhu inti jika berada dibawah nilai ambang akan merangsang terjadinya vasokonstriksi,
termogenesis non-shivering dan shivering. Jika suhu melebihi nilai ambang akan mengaktivasi
vasodilatasi dan pengeluaran keringat. Tidak terjadi respon termoregulasi jika suhu inti berada diantara
dua nilai ambang ini (interthreshold range)
Efektor menentukan suhu lingkungaan yang dapat diterima oleh tubuh sementara suhu inti tetap
dipertahankan normal. Ketika mekanisme efektor ini dihambat, toleransi terhadap perubahan suhu akan
menurun, hingga mekanisme efektor lain tidak bisa mengkompensasi perubahan suhu tersebut.
Respon Terhadap Dingin
Jika terjadi penurunan suhu tubuh inti, maka akan terjadi mekanisme homeostasis yang membantu
memproduksi panas melalui mekanisme feed back negatif untuk dapat meningkatkan suhu tubuh ke
arah normal. Manusia pada umumnya mulai merasa tidak nyaman ketika suhu kulit sekitar 7C atau
lebih di bawah suhu inti. Hal ini akan menimbulkan respon tubuh untuk mempertahankan panas tubuh
dengan melakukan mekanisme feed back negatif untuk dapat meningkatkan suhu tubuh ke arah normal.
Proses respon terhadap dingin.

Jika terjadi penurunan suhu tubuh inti, Thermoreseptor di kulit dan hipotalamus mengirimkan
impuls syaraf ke area preoptic ( kumpulan neuron-neuron di bagian anterior hypothalamus yang
merupakan Pusat pengaturan suhu tubuh yang berfungsi sebagai termostat tubuh ) dan pusat
peningkatan panas di hipotalamus, serta sel neurosekretory hipotalamus yang menghasilkan
hormon TRH (Thyrotropin releasing hormon) sebagai tanggapan.hipotalamus menyalurkan
impuls syaraf dan mensekresi TRH, yang sebaliknya merangsang Thyrotroph di kelenjar
pituitary anterior untuk melepaskan TSH (Thyroid stimulating hormon). Impuls syaraf
dihipotalamus dan TSH kemudian mengaktifkan beberapa organ efektor.

Berbagai organ efektor akan berupaya untuk meningkatkan suhu tubuh untuk mencapai nilai
normal, diantaranya adalah :
o

Impuls syaraf dari pusat peningkatan panas merangsang syaraf simpatis yang
menyebabkan pembuluh darah kulit akan mengalami vasokonstriksi. Vasokonstriksi
menurunkan aliran darah hangat, sehingga perpindahan panas dari organ internal ke kulit.
Melambatnya kecepatan hilangnya panas menyebabkan temperatur tubuh internal
meningkatkan reaksi metabolic melanjutkan untuk produksi panas.

Impuls syaraf di nervus simpatis menyebabkan Piloereksi . Piloereksi adalah berdirinya


rambut karena rangsangan simpatis menyebabkan otot erektor pili yang melekat di
folikel rambut berkontraksi. Hal ini tidak terlalu penting pada manusia, tetapi pada
hewan berdirinya rambut memungkinkan mereka untuk membentuk lapisan tebal
insulator udara.

Impuls syaraf di nervus simpatis menyebabkan medulla adrenal merangsang pelepasan


epinephrine dan norepinephrine ke dalam darah. Hormon sebaliknya, menghasilkan
peningkatan metabolisme selular, dimana meningkatkan produksi panas.

Pusat peningkatan panas merangsang bagian otak yang meningkatkan tonus otot dan
memproduksi panas. Rangsangan hipotalamus terhadap shivering (menggigil) terletak
pada bagian dorsomedial hipotalamus posterior. Pada awalnya terjadi peningkatan tonus
otot rangka di seluruh tubuh. Saat tonus meningkat diatas tingkat kritis tertentu, proses
menggigil dimulai.

Selama proses menggigil, pembentukan panas tubuh dapat

meningkat sebesar 4-5 kali dari normal.


o

Kelenjar tiroid memberikan reaksi terhadap TSH dengan melepaskan lebih hormon tiroid
kedalam darah. Peningkatan kadar hormon tiroid secara perlahan-lahan meningkatkan
metabolisme rate, dan peningkatan suhu tubuh.

Respon Terhadap Panas


Sistem pengaturan suhu menggunakan 3 mekanisme penting untuk menurunkan panas tubuh,
yaitu pengeluaran keringat (sweating), vasodilatasi dan penurunan pembentukan panas oleh tubuh.
Jika suhu tubuh meningkat diatas normal maka putaran mekanisme feed back negatif berlawanan
dengan yang telah disebutkan diatas pada mekanisme respon pada dingin. Tingginya suhu darah
merangsang termoreseptor yang mengirimkan impuls syaraf ke area preoptic, dimana sebaliknya
merangsang pusat penurun panas dan menghambat pusat peningkatan panas. Impuls syaraf dari pusat
penurun panas menyebabkan dilatasi pembuluh darah di kulit. Kulit menjadi hangat, dan kelebihan
panas hilang ke lingkungan melalui radiasi dan konduksi bersamaan dengan peningkatan volume aliran
darah dari inti yang lebih hangat ke kulit yang lebih dingin. Pada waktu yang bersamaan, metabolisme
rate berkurang, dan tidak terjadi menggigil. Tingginya suhu darah merangsang kelenjar keringat kulit

melalui aktivasi syaraf simpatis hipotalamik. Saat air menguap melalui permukaan kulit, kulit menjadi
lebih dingin. Respon ini melawan efek penghasil panas dan membantu mengembalikan suhu tubuh
kembali normal.

Termodinamika
Pengertian Termodinamika
Termodinamika (bahasa Yunani: thermos = panas and dynamic = perubahan) adalah fisika
energi , panas, kerja, entropi dan kespontanan proses. Termodinamika berhubungan dekat dengan
mekanika statistik di mana banyak hubungan termodinamika berasal.
Pada sistem di mana terjadi proses perubahan wujud atau pertukaran energi, termodinamika klasik
tidak berhubungan dengan kinetika reaksi (kecepatan suatu proses reaksi berlangsung). Karena alasan
ini, penggunaan istilah termodinamika biasanya merujuk pada termodinamika setimbang. Dengan
hubungan ini, konsep utama dalam termodinamika adalah proses kuasistatik, yang diidealkan, proses
super pelan. Proses termodinamika bergantung-waktu dipelajari dalam termodinamika tak-setimbang.
Karena termodinamika tidak berhubungan dengan konsep waktu, telah diusulkan bahwa
termodinamika setimbang seharusnya dinamakan termostatik.
Hukum termodinamika kebenarannya sangat umum, dan hukum-hukum ini tidak bergantung
kepada rincian dari interaksi atau sistem yang diteliti. Ini berarti mereka dapat diterapkan ke sistem di
mana seseorang tidak tahu apa pun kecual perimbangan transfer energi dan wujud di antara mereka dan
lingkungan. Contohnya termasuk perkiraan Einstein tentang emisi spontan dalam abad ke-20 dan riset
sekarang ini tentang termodinamika benda hitam.
Konsep Dasar dalam Termodinamika
Pengabstrakan dasar atas termodinamika adalah pembagian dunia menjadi sistem dibatasi oleh
kenyataan atau ideal dari batasan. Sistem yang tidak termasuk dalam pertimbangan digolongkan sebagai
lingkungan. Dan pembagian sistem menjadi subsistem masih mungkin terjadi, atau membentuk
beberapa sistem menjadi sistem yang lebih besar. Biasanya sistem dapat diberikan keadaan yang dirinci
dengan jelas yang dapat diuraikan menjadi beberapa parameter.

Sistem Termodinamika
Sistem termodinamika adalah bagian dari jagat raya yang diperhitungkan. Sebuah batasan yang
nyata atau imajinasi memisahkan sistem dengan jagat raya, yang disebut lingkungan. Klasifikasi sistem
termodinamika berdasarkan pada sifat batas sistem-lingkungan dan perpindahan materi, kalor dan
entropi antara sistem dan lingkungan.
Ada tiga jenis sistem berdasarkan jenis pertukaran yang terjadi antara sistem dan lingkungan:

sistem terisolasi adalah tak terjadi pertukaran panas, benda atau kerja dengan lingkunganwadah
terisolasi, seperti tabung gas terisolasi.

sistem tertutup: terjadi pertukaran energi (panas dan kerja) tetapi tidak terjadi pertukaran benda
dengan lingkungan. Rumah hijau adalah contoh dari sistem tertutup di mana terjadi pertukaran
panas tetapi tidak terjadi pertukaran kerja dengan lingkungan. Apakah suatu sistem terjadi
pertukaran panas, kerja atau keduanya biasanya dipertimbangkan sebagai sifat pembatasnya:

pembatas adiabatik: tidak memperbolehkan pertukaran panas.


pembatas rigid: tidak memperbolehkan pertukaran kerja.

sistem terbuka: terjadi pertukaran energi (panas dan kerja) dan benda dengan lingkungannya.
Sebuah pembatas memperbolehkan pertukaran benda disebut permeabel. Samudra merupakan
contoh dari sistem terbuka.
Dalam kenyataan, sebuah sistem tidak dapat terisolasi sepenuhnya dari lingkungan, karena pasti

ada terjadi sedikit pencampuran, meskipun hanya penerimaan sedikit penarikan gravitasi. Dalam
analisis sistem terisolasi, energi yang masuk ke sistem sama dengan energi yang keluar dari sistem.
Keadaan Termodinamika
Ketika sistem dalam keadaan seimbang dalam kondisi yang ditentukan, ini disebut dalam keadaan
pasti (atau keadaan sistem).
Untuk keadaan termodinamika tertentu, banyak sifat dari sistem dispesifikasikan. Properti yang
tidak tergantung dengan jalur di mana sistem itu membentuk keadaan tersebut, disebut fungsi keadaan
dari sistem. Bagian selanjutnya dalam seksi ini hanya mempertimbangkan properti, yang merupakan
fungsi keadaan.
Jumlah properti minimal yang harus dispesifikasikan untuk menjelaskan keadaan dari sistem
tertentu ditentukan oleh Hukum fase Gibbs. Biasanya seseorang berhadapan dengan properti sistem
yang lebih besar, dari jumlah minimal tersebut.
Proses Termodinamika
Kalor (Q) merupakan energi yang berpindah dari satu benda ke benda yang lain akibat adanya
perbedaan suhu. Berkaitan dengan sistem dan lingkungan, bisa dikatakan bahwa kalor merupakan energi

yang berpindah dari sistem ke lingkungan atau energi yang berpindah dari lingkungan ke sistem akibat
adanya perbedaan suhu. Jika suhu sistem lebih tinggi dari suhu lingkungan, maka kalor akan mengalir
dari sistem menuju lingkungan. Sebaliknya, jika suhu lingkungan lebih tinggi dari suhu sistem, maka
kalor akan mengalir dari lingkungan menuju sistem.
Jika Kalor (Q) berkaitan dengan perpindahan energi akibat adanya perbedaan suhu, maka Kerja
(W) berkaitan dengan perpindahan energi yang terjadi melalui cara-cara mekanis (mekanis tuh berkaitan
dengan gerak) Misalnya jika sistem melakukan kerja terhadap lingkungan, maka energi dengan
sendirinya akan berpindah dari sistem menuju lingkungan. Sebaliknya jika lingkungan melakukan kerja
terhadap sistem, maka energi akan berpindah dari lingkungan menuju sistem.
Salah satu contoh sederhana berkaitan dengan perpindahan energi antara sistem dan lingkungan
yang melibatkan Kalor dan Kerja adalah proses pembuatan popcorn. Dirimu ngerti popcorn tidak ? biji
jagung yang ada bunganya, garis besarnya seperti ini Biasanya popcorn dimasukkan ke dalam wadah
tertutup (panci atau alat masak lainnya). Selanjutnya, wadah tertutup tersebut dipanasi dengan nyala api
kompor. Adanya tambahan kalor dari nyala api membuat biji popcorn dalam panci kepanasan dan
meletup. Ketika meletup, biasanya biji popcorn berjingkrak-jingkrak dalam panci dan mendorong
penutup panci. Gaya dorong biji popcorn cukup besar sehingga kadang tutup panci bisa berguling ria
Untuk kasus ini, kita bisa menganggap popcorn sebagai sistem, panci sebagai pembatas dan udara luar,
nyala api dkk sebagai lingkungan. Karena terdapat perbedaan suhu, maka kalor mengalir dari
lingkungan (nyala api) menuju sistem (biji popcorn).
Adanya tambahan kalor menyebabkan sistem (biji popcorn) memuai dan meletup sehingga
mendorong penutup panci (si biji popcorn tadi melakukan kerja terhadap lingkungan). Dalam proses ini,
keadaan popcorn berubah. Keadaan popcorn berubah karena suhu, tekanan dan volume popcorn berubah
saat memuai dan meletup meletupnya popcorn hanya merupakan salah satu contoh perubahan
keadaan sistem akibat adanya perpindahan energi antara sistem dan lingkungan. Masih sangat banyak
contoh lain, sebagiannya sudah gurumuda ulas pada bagian pengantar Perubahan keadaan sistem
akibat adanya perpindahan energi antara sistem dan lingkungan yang melibatkan Kalor dan Kerja,
disebut sebagai proses termodinamika.
Energi dalam dan Hukum Pertama Termodinamika
Energi dalam sistem merupakan jumlah seluruh energi kinetik molekul sistem, ditambah jumlah
seluruh energi potensial yang timbul akibat adanya interaksi antara molekul sistem. Kita berharap
bahwa jika kalor mengalir dari lingkungan menuju sistem (sistem menerima energi), energi dalam
sistem akan bertambah.
Sebaliknya, jika sistem melakukan kerja terhadap lingkungan (sistem melepaskan energi), energi
dalam sistem akan berkurang

Dengan demikian, dari kekekalan energi, kita bisa menyimpulkan bahwa perubahan energi dalam
sistem = Kalor yang ditambahkan pada sistem (sistem menerima energi) Kerja yang dilakukan oleh
sistem (sistem melepaskan energi). Secara matematis, bisa ditulis seperti ini :

Keterangan :

delta U = Perubahan energi dalam

Q = Kalor

W = Kerja
Persamaan ini berlaku untuk sistem tertutup (Sistem tertutup merupakan sistem yang hanya

memungkinkan pertukaran energi antara sistem dengan lingkungan). Untuk sistem tertutup yang
terisolasi, tidak ada energi yang masuk atau keluar dari sistem, karenanya, perubahan energi dalam = 0.
Persamaan ini juga berlaku untuk sistem terbuka jika kita memperhitungkan perubahan energi dalam
sistem akibat adanya penambahan dan pengurangan jumlah zat (Sistem terbuka merupakan sistem yang
memungkinkan terjadinya pertukaran materi dan energi antara sistem tersebut dengan lingkungan).
Aturan tanda untuk Kalor (Q) dan Kerja (W)
Aturan tanda untuk Kalor dan Kerja disesuaikan dengan persamaan Hukum Pertama
Termodinamika. Kalor (Q) dalam persamaan di atas merupakan kalor yang ditambahkan pada sistem (Q
positif), sedangkan Kerja (W) pada persamaan di atas merupakan kerja yang dilakukan oleh sistem (W
positif). Karenanya, jika kalor meninggalkan sistem, maka Q bernilai negatif. Sebaliknya, jika kerja
dilakukan pada sistem, maka W bernilai negatif.

SISTEM METABOLISME DAN PENGATURAN SUHU TUBUH


A. METABOLISME
Manusia memerlukan energi yang berasal dari lingkungannya untuk kehidupannya. Energy,
didefinisikan sebagai kapasitas untuk melakukan kerja. Sumber energi tubuh adalah karbohidrat, lemak,
protein (termasuk vitamin, mineral dan air). Agar dapat digunakan, sumber energi harus dirubah
menjadi ATP (adenosin triphosphat) melalui bantuan katalisator berupa enzim. ATP merupakan
komponen berenergi tinggi yang diperlukan untuk kontraksi otot dan melaksanakan fungsi sel yang lain.

Perubahan sumber energi dilaksanakan melalui rantai metabolisme. Energi dalam tubuh dibutuhkan
untuk :
(1) kinerja (bio)-kimiawi, untuk mensintesis komponen sel yang diperlukan, menempertahankan dan
mengubah sumber energi di dalam tubuh,
(2) Kinerja mekanis, untuk kerja otot;
(3) Transport work pumping of substances across membranes
(3) Kinerja elektrokimia, untuk kerja saraf, otot, transpor aktif, pertukaran ion, membentuk perbedaan
konsentrasi ion, dan transmisi impuls syaraf.
Energi dapat dijumpai dalam beberapa macam, antara lain :
(1) Energi potensial : adalah kapasitas melakukan kerja,
(2) Energi kinetik : adalah energi untuk bergerak,
(3) Energi termal : berupa panas (berasal dari transfer energi ke ATP),
(4) Energi kimia: adalah energi potential molekules yang dapat diukur dengan satuan Kalori (=Kal).
Beberapa reaksi kimia yang memerlukan energi ATP hanya menggunakan beberapa ratus kalori dari 8
kkal yang tersedia untuk kerja, sehingga sisa energi ini akan dirubah dalam bentuk panas.
Mekanisme umum perubahan zat gizi (karbohidrat, lemak dan protein) menjadi energi di semua sel pada
dasarnya sama, yaitu menggunakan oksigen sebagai salah satu zat utama untuk membentuk energi.
Energi digunakan untuk membentuk sejumlah besar Adenosine TriPosphate (ATP). Selanjutnya, ATP
tersebut digunakan sebagai sumber energi bagi banyak fungsi sel. ATP merupakan senyawa kimia labil
yang terdapat di semua sel, dan semua mekanisme fisiologis yang memerlukan energi untuk kerjanya
mendapatkan energi langsung dari ATP. ATP adalah suatu nukleotida yang terdiri dari basa nitrogen
adenin, gula pentosa ribosa dan tiga rantai fosfat. Dua rantai fosfat yang terakhir dihubungkan dengan
bagian sisa molekul oleh ikatan fosfat berenergi tinggi yang sangat labil sehingga dapat dipecah seketika
bila dibutuhkan energi untuk meningkatkan reaksi sel.
Enzim-enzim oksidatif yang mengkatalis perubahan Adenosine Diphospate (ADP) menjadi ATP dengan
serangkaian reaksi menyebabkan energi yang dikeluarkan dari pengikatan hidrogen dengan oksigen
digunakan untuk mengaktifkan ATPase dan mengendalikan reaksi untuk membentuk ATP dalam jumlah
besar dari ADP. Bila ATP di urai secara kimia sehingga menjadi ADP akan menghasilkan energi sebesar
8 kkal/mol, dan cukup untuk berlangsungnya hampir semua langkah reaksi kimia dalam tubuh.
ATP

Gambar 1. Struktur Pospat berenergi tinggi


ATP bukan zat yang terbanyak disimpan sebagai ikatan phospate berenergi tinggi dalam sel, melainkan
Creatine Phospate (CP) yang mengandung ikatan phospate berenergi tinggi lebih banyak (9,5 kkal/mol
pada suhu tubuh) terutama di otot. CP dapat memindahkan energi dengan saling bertukar dengan ATP.
Karena itu, CP merupakan senyawa bufer/penyangga ATP. Efek ini berguna untuk mempertahankan
konsentrasi ATP hampir pada tingkat puncak selama CP tetap di dalam sel.
ATP ADP (adenosine diphosphate) + P + Energy

ADP AMP (adenosine monophosphate) + P + Energy


ADP + CP + ENERGY (Input) ATP + H2O
Gambar 2. Hidrolisis ATP
Dalam produksi energi, terdapat dua macam metabolisme, yaitu:
1. Anaerob (tanpa oksigen), hanya untuk karbohidrat, terjadi di sitosol.
2. Aerob (dengan oksigen), karbohidrat, lemak, dan protein, terjadi di mitokondria.

Setiap mol glukosa dalam proses anaerob yang terjadi di sitoplasma/sitosol menghasilkan 2 ATP,
sedangkan pada proses aerob yang terjadi di mitokondria menghasilkan 36 ATP, sehingga total
produksinya sebanyak 38 ATP (304 kkal/mol). Tiap mol glukosa dapat memberikan energi sebesar 686
kkal, sehingga energi yang tersisa dirubah dalam bentuk panas, kecuali di otot yang digunakan untuk
melakukan beberapa bentuk kerja di luar tubuh. Hasil dari proses metabolisme yang terjadi di otot,
berupa kumpulan proses kimia yang mengubah bahan makanan menjadi dua bentuk, yaitu energi
mekanik dan energi panas. Proses dari pengubahan makanan dan air menjadi bentuk energi. Sedangkan
untuk setiap mol lemak menghasilkan 2340 kkal (3,5 kali dibanding glukosa) atau sebanyak 146 ATP.
C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H20 + ENERGY
Sebagian besar energi yang dirubah menjadi panas digunakan untuk :
membentuk panas inti di dalam tubuh.
menyiapkan suhu optimal untuk kerja enzim.
merenggangkan sistem arteri sehingga menyebabkan reservoar energi potensial. Pada saat darah
mengalir melalui pembuluh darah kapiler, gesekan dari lapisan darah yang mengalir satu sama lain
terhadap dinding pembuluh mengubah energi ini menjadi panas.

Simpanan energi kinetik untuk pergerakan molekul-molekul.

Mitokondria dinamakan pusat energi bagi sel, karena menyaring energi dari zat gizi dan oksigen dan
selanjutnya menyediakan sebagian besar energi (95%) yang diperlukan agar sel dapat melakukan
fungsinya. Jumlahnya dalam setiap sel berbeda (dari puluhan sampai ribuan), tergantung pada jumlah
energi yang diperlukan oleh setiap sel, dan mitokondria mengadakan replikasi sendiri sampai tercapai
jumlah yang dapat memenuhi kebutuhan energi sel.
Di dalam sel, bahan makanan secara kimia bereaksi dengan oksigen dibawah pengaruh berbagai enzim
yang mengawasi kecepatan reaksi dan menyalurkan energi yang dikeluarkan dalam arah yang tepat.
Energi yang dihasilkan membentuk ATP, yang kemudian ditransfer keluar mitokondria menuju semua
bagian sitoplasma dan nukleoplasma. Adapun, energi digunakan untuk memberi tenaga pada fungsifungsi sel. Oleh karena itu, ATP dinamakan sebagai bentuk energi sel karena dapat disimpan dan
dibentuk kembali.
Berdasarkan hukum termodinamik I Jumlah energi selalu tetap, tidak dapat dibuat atau
dihilangkan, tetapi dapat dirubah bentuk. Perubahan bentuk (konversi) energi umumnya bersifat
reversibel. Berdasarkan energi panas yang dihasilkan energi dapat dikelompokkan dalam (1)
Endergonic energi panas berada di dalam tubuh; dan (2) Exergonic energi panas dikeluarkan dari
dalam tubuh.
Jalur Reaksi Metabolisme

Sebagian besar jalur reaki metabolisme terjadi secara reversibel. Berdasarkan reaksi metabolisme ini
dikelompokkan dalam 2 jenis, yaitu :
(1) Biosynthetic atau ANABOLISME sintesis molekul menjadi molekul yang lebih besar; membutuhkan energi; dan merupakan reaksi endergonik
(2) Degradative atau KATABOLISME memecah molekul besar menjadi mulekul yang lebih kecil;
menghasilkan energi; merupakan reaksi eksergonik; dan respirasi aerobik.
Enzim merupakan molekul katalitik (biological catalysts); yang berfungsi mempercepat reaksi
bikimiawi; tersusun dari protein dan beberapa dari RNA. Fungsi enzim semakin meningkat ketika
lingkungan sel berada dalam temperatur, pH dan salinitas yang sesuai dengan kerja masing-masing
enzim.
Gambar 3. Pemecahan makanan hingga siap di gunakan
Metabolisme Karbohidrat
Metabolisme karbohidrat meliputi : (1) Glikolisis (2) Glukoneogenesis, (3) glikogenolisis, (4) Glicogen
synthesis, (5) metabolism Galaktose, (6) metabolism fruktose and manose, (7) Glyoxylate pathway, dan
(8) siklus asam sitrat (Krebs) (lihat teksbook biokimia).
Metabolisme Lemak
Reaksi metabolisme lemak meliputi : (1) Lipolisis (hormone sensitive lipase), (2) Carnitine shuttle
(fatty acid uptake), (3) Mitochondrial -oxidation, (4) Peroxisomal -oxidation, (5) Glycerol catabolism,
(6) Fatty acid synthesis, (7) Fatty acid elongation and desaturation, (8) Triacylglyceride synthesis, (9)
Phospholipids biosynthesis, (10) Synthesis and utilization of ketone bodies, (11) Sphingolipid and
ceramide synthesis (lihat teksbook biokimia).
Metabolisme Energi
Reaksi metabolisme energi terjadi melalui : (1) Posporilasi Oksidative, dan (2) sintesis ATP (lihat
teksbook biokimia).
Gambar 4. Siklus ATP dan pembentukan ATP

Kecepatan Metabolisme
Kecepatan metabolisme adalah jumlah energi total yang dibutuhkan per unit waktu. Pengukuran
kecepatan metabolisme menggunakan Basal metabolic rate (BMR). BMR adalah kecepatan
metabolisme dalam keadaan standar (subjek dalam keadaan fisik dan dan mental istirahat tetapi tidak
tidur dalam temperatur nyaman dan tidak makan selama 12 jam). Pada kondisi BMR, energi sebagian
besar digunakan untuk mempertahankan kondisi vegetatif tubuh atau untuk aktivitas kelenjar, jantung,
liver, ginjal dan otak.
Proses metabolisme juga dikontrol oleh hormon-hormon. Hormon yang ikut meregulasi
metabolisme adalah hormon tiroid, glukagon, epinephrine, kortisol, dan hormon pertumbuhan.
1. Hormon Tiroid, dapat meningkatkan konsumsi oksigen dan produksi panas
pada sebagian besar jaringan tubuh, yang disebut dengan efek
kalorigenik, melalui mengurangan produksi ATP
2. Epinephrine, meningkatkan BMR dengan efek kalorigenik. Epinephrine
menstimulasi katabolisme glikogen dan triasilgliserol.

3. 3. Glukagon, merangsang pembongkaran simpanan glukosa hingga gula


darh kembali normal (glikogenolisis), dan meningkatkan penggunaan
lemak (lipolisis).
4. 4. Kortisol, menghambat metabolisme lemak dan karbohidrat, dengan
menstimulasi proses glukoneogenesis dan lipolisis, meningkatkan protein
katabolisme, menurunkan penyerapan glukose pada sel otot dan sel
lemak, dan meningkatkan pemecahan triasilgliserol.
5. Growth hormone, menstimulasi pertumbuhan dan anabolisme protein.

B. REGULASI SUHU TUBUH


Manusia mempunyai komponen dalam menjaga keseimbangan energi dan keseimbangan suhu tubuh
pada kisaran 37,0 2C, diantaranya adalah hipotalamus, asupan makanan, kelenjar keringat,
pembuluh darah kulit dan otot rangka. Pemakaian energi oleh tubuh menghasilkan panas yang
penting dalam pengaturan suhu tubuh. Manusia dapat hidup di beberapa wilayah dengan suhu yang
berbeda, oleh karena itu mereka harus terus-menerus mengatur panas internal untuk mempertahankan
suhu tubuh, karena kecepatan reaksi kimia sel bergantung pada suhu tubuh. Panas yang berlebihan dapat
merusak protein sel (Sherwood, 1996).

(a)

(b)

Gambar 5. Reseptor suhu (a) dan Pengaturan panas di dalam tubuh (b)

Hipotalamus
Hipotalamus adalah bagian yang sangat peka, yang merupakan pusat integrasi utama untuk memelihara
keseimbangan energi dan suhu tubuh. Hipotalamus berfungsi sebagai termostat tubuh, dengan menerima
informasi dari berbagai bagian tubuh di kulit. Penyesuaian dikoordinasi dengan sangat rumit dalam
mekanisme penambahan dan pengurangan suhu sesuai dengan keperluan untuk mengorekasi setiap
penyimpangan suhu inti dari nilai patokan normal. Hipotalamus mampu berespon terhadap perubahan
suhu darah sekecil 0,01C (Sherwood, 1996).
Hipotalamus terus-menerus mendapat informasi mengenai suhu kulit dan suhu inti melalui reseptor
khusus yang peka terhadap suhu yang disebut termoreseptor (reseptor hangat, dingin dan nyeri di
perifer). Reseptor suhu sangat aktif selama perubahan temperatur. Sensasi suhu primer diadaptasi
dengan sangat cepat. Suhu inti dipantau oleh termoreseptor sentral yang terletak di hipotalamus serta di
susunan syaraf pusat dan organ abdomen (Sherwood, 1996).
Di hipotalamus diketahui terdapat 2 pusat pengaturan suhu, yaitu di regio posterior dan anteror. Regio
posterior diaktifkan oleh suhu dingin dan kemudian memicu refleks yang memperantarai produksi panas
dan konservasi panas. Sedang, regio anterior yang diaktifkan oleh rasa hangat, memicu refleks yang
memperantarai pengurangan panas.
Mekanisme Kehilangan panas
Tubuh akan kehilangan panas melalui mekanisme (1) radiation (60%), (2) konduksi (10-15%), (3)
konveksi, dan (4) evaporasi/penguapan air (20-27%). Kehilangan panas melalui keluarnya cairan tubuh
terjadi melalui (1) Evaporasi air dari kulit, proporsi kehilangan panas 20-27% (7300-9700 kJ per jam),
(3) Perspirasi, antara lain melalui kulit/Transepidermal water loss (TEWL), ( 400-500 g/hr pada
dewasa muda dalam temperatur kamar) 9701210 kJ ketika terjadi evaporasi lengkap. Sedang,
kehilangan panas melalui respirasi (1-2% atau 200 g/hr dalam keadaan istirahat). Pada suhu dingin,

kerja keras berguna untuk meningkatkan suhu dan kelembaban tubuh. Kehilangan panas dapat mencapai
> 20-25%. Sedang melalui respirasi, tubuh akan kehilangan air mencapai 8-12 L/mnt sampai 5060
l/min. Pakaian dapat menghambat evaporasi melalui kulit.
Refleks pengaturan suhu
Perubahan suhu tubuh dideteksi oleh 2 jenis reseptor, yaitu oleh (1) termoreseptor di kulit (peripheral
thermoreceptors) dan (2) termoreseptor sentral di hipotalamus, korda spinalis, dll. (central
thermoreceptors). Termoreseptor sentral memiliki umpan balik negatif esensial untuk mempertahankan
suhu inti sedang termoreseptor periper berfungsi menghantar sinyal ke pusat integrasi dingin di
hipotalamus. Hipotalamus melayani seluruh refleks integrasi suhu dan mengirimkan sinyal kembali
melalui saraf simpatis autonom ke kelenjar keringat, pembuluh darah kulit, kelenjar adrenalis, dan
melalui neuron motoris pada otot skeletal.

(a)

(b)

Gambar 6. Sistem regulasi suhu di seluruh tubuh (a) dan di kulit (b)

Kontrol produksi panas


Perubahan aktivitas otot merupakan kontrol produksi panas utama dan menurunkan suhu inti. Pada suhu
panas, tubuh akan mengurangi gerakan otot, sedang pada suhu dingin, akan terjadi stimulasi pada
gerakan otot yang disebut dengan menggigil (rhythmical muscle contractions/ shivering thermogenesis).
Produksi panas dapat meningkat dan menurun, bahkan dapat meningkat sampai 15-20 kali BMR melalui
aktivitas saraf autonomik atau muskular. Sedang, temperatur tubuh dapat meningkatkan BMR 10-15%
(Ganong, 1997; dll). Produksi panas pada basal metabolic rate (rata-rata BMR pada dewasa muda
adalah 75-110W) dan kerja fisik (otot). Liver dan organ dalam abdominal menghasilkan 50% BMR,
otak dan susunan saraf pusat 15-20%, Jantung dan sistem sirkulasi 10% dan pada otot yang istirahat 2025%.
Efek aktivitas otot pada BMR (Basal Metabolisme Rate) pria dewasa

Istirahat
Peningkatan tonus otot

: BMR 75110W
: BMR 150200W

Menggigil

: BMR 200500W

Bekerja agak keras

: BMR 400W

Bekerja keras

: BMR 600800W

Olahraga berat dalam waktu pendek atau mencapai: BMR > 2 000W

Produksi panas dapat dipengaruhi oleh :


1. 1. Suhu Lingkungan,
2. Produksi suhu karena makanan Makan dan makan makanan yang kaya
protein akan menghasilkan peningkatan produksi panas.
3. Aktivitas otot aktivitas otot akan meningkatkan kontraksi otot. Selama bergerak
atau berolahraga atau menggigil, akan menstimulasi peningkatan BMR.
1. Regulasi Penyimpanan Energi total tubuh

Simpanan energi = Energi dari sumber makanan (produksi panas internal+ kerja luar)
Berat badan diregulasi oleh kalori yang masuk dengan energi yang terpakai.
1. Kontrol asupan makanan pengaturan asupan makanan dapat
dipengaruhi oleh hormon leptin yang terdapat pada jaringan lemak.
Hormon ini akan merangsang hipotalamus untuk mengurangi asupan
makanan dengan menghambat pelepasan neuropeptida yang merangsang
makan. Hormon leptin penting untuk kontrol jangka panjang. Sedang
kontrol jangka pendek diatur oleh bermacam-macam sinyal seperti
hormon insulin, suhu tubuh, jumlah makanan yang berada di GIT.
2. Kelebihan berat badan dan Obesitas penurunan kalori dari asupan makanan
akan menurunkan kecepatan metabolisme sehingga dapat menurunkan kehilangan
berat badan, sebaliknya dengan berolahraga akan mengatur set poin penurunan
penyimpanan lemak.
3. Gangguan Konsumsi Makan - Anorexia nervosa adalah keadaan patologis
akibat takut berat badan bertambah sehingga mengurangi jumlah makan. Keadaan
ini akan mengakibatkan penurunan tekanan darah, turunnya suhu tubuh, dan
perubahan sekresi hormon dan dalam keadaan tertentu dapat menyebabkan
kematian; dan Bulemia yaitu keadaan patologis akibat takut berat badan
bertambah dan berusaha mengurangi asupan makanan. Namun, keadaan ini
mengakibatkan orang yang bersangkutan akan mengalami periode ingin makan
banyak secara berulang-ulang sehingga mengakibatkan banyak ingin muntah,
sering BAK (buang air kecil) dan BAB (buang air besar), dan olahraga.
1. Tinggi, berat dan luas permukaan tubuh,
2. Jenis kelamin dan umur,

10. Kondisi emosional.


Transfer Panas
Transfer panas terjadi melalui (1) radiasi, (2) konveksi, (3) konduksi, (4) evaporasi (Parsons 1993, Elias
& Jackson 1996, Ganong 1997). BAK dan BAB dapat menurunkan suhu 1%. Panas inti ditransfer dari
jaringan tubuh ke permukaan kulit melalui sirkulasi darah dan penghantaran panas jaringan (tissue
conductance).
Kontrol Kehilangan panas melalui radiasi dan konduksi
Kulit merupakan bagian tubuh yang efektif sebagai insulator pada kontrol fisiologis, melalui perubahan
aliran darah di kulit. Semakin banyak aliran darah ke kulit maka akan semakin kecil perbedaan dengan
suhu lingkugan. Jika, kapasitas pembuluh darah ke kulit berkurang penghantaran panas ke perifer
semakin kecil, sehingga pengeluaran panas ke lingkungan dapat semakin kecil juga. Vasokonstriktor
karena rangsangan simpatis, akan terinervasi karena suhu dingin dan akan meningkat ketika suhu
meningkat.
Sedang mekanisme perubahan perilaku, seperti tubuh melingkar/mlungker ketika suhu dingin, akan
mengurangi luar permukaan yang terpapar suhu lingkungan yang dingin, dengan demikian akan
menurunkan pembebasan panas tubuh ke lingkungan (melalui reaksi radiasi dan konduksi) dan
menurunkan hantaran suhu lingkungan ke dalam tubuh. Demikian juga sebaliknya.
Kontrol kehilangan panas melalui Evaporasi

Kehilangan air melalui kulit, kelenjar keringat, dan jalan pernafasan juga dapat bermanfaat untuk
meningkatkan pembebasan panas.
Integrasi mekanisme efektor
Suhu lingkungan yang dapat ditoleransi oleh tubuh melalui vasokonstriksi dan vasodilatasi di kulit saja
saja disebut dengan thermoneutral zone. Di bawah atau di atas zona ini tubuh masing-masing harus
meningkatkan produksi panas atau meningkatkan pengeluaran panas.
Aklimatisasi Suhu
Perubahan keringat, baik dalam volume dan komposisi ditentukan adaptasi terhadap kenaikan
temperatur. Sodium yang hilang keringat akan berkurang karena peningkatan reabsorbsi akibat sekresi
aldosteron.
Tabel 1. Mekanisme efektor terhadap regulasi suhu
STIMULASI DINGIN
Penurunan kehilangan panas

1. Vasokronstriksi pembuluh darah kulit,


terutama ekstri-mitas
2. Penurunan luas permukaan tubuh yang
kontak dengan suhu dingin (bersedekap,
mlungker(jw)/ a protective fetal
position)

3. Pilo ereksi

Peningkatan produksi panas

1. Tindakan (Menghindari terpapar dingin,


jaket, berselimut, menaikkan suhu
ruang, minuman hangat, dll)
1. Peningkatan tonus otot,
2. Peningkatan tekanan darah
3. Menggigil dan meningkatkan aktivitas
otot volunter
4. Meningkatkan sekresi epinefrin,

Adaptasi Autonomik toleransi


dingin

5. Meningkatkan rasa lapar


1. Adaptasi psikologis
2. Adaptasi SSP (susunan saraf pusat)
3. Aklimatisasi dingin
4. Membiasakan diri hidup di tempat dingin

STIMULASI PANAS
Peningkatan kehilangan panas

1. Vasokronstriksi pembuluh darah kulit


2. Berkeringat
3. Tindakan (menurunkan suhu ruang,

Penurunan produksi panas

menggunakan pakaian yang minim/tipis,


dll)
1. Penurunan tonus otot dan aktivitas otot
volunter
2. Menurunkan sekresi epinefrin
3. Mengurangi nafsu makan.

(a)

(b)

Gambar 7. Transfer suhu dingin di seluruh tubuh (a) dan area sensitive dingin di
wajah

Demam dan hipertermia


Demam adalah peningkatan suhu tubuh karena pengaturan ulang termostat di hipotalamus. Suhu tubuh
selalu diusahakan untuk dipertahankan. Pada umumnya, demam disebabkan oleh infeksi dan stres.
Pengaturan termostat tubuh akan menimbulkan sensasi dingin di seluruh tubuh, yang kadang akan
menunjukkan kedinginan dan menggigil. Jika rekaman dalam termostat dihentikan, maka demam akan
berhenti dan tubuh akan merasa hangat kembali.
Termostat dapat dihentikan oleh biochemical messengers, yang disebut endogenous pyrogen (EP),
yang terdiri dari interleukin (IL-1 dan IL-6) yang dikeluarkan dari makrofag, yang diaktivasi oleh
hipotalamus. Stimulasi peningkatan suhu tubuh ditimbulkan oleh infeksi dan olahraga.
Peningkatan produksi panas tubuh akan mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen, produksi karbon
dioksida dan peningkatan curah jantung. Jika terjadi peningkatan suhu tubuh maka konsumsi oksigen ke
otak akan menurun, akibat terjadinya peningkatan konsumsi oksigen pada organ lain tentunya akan
menyebabkan iskemik yang meluas.
Menurut Molton (2005), respon tubuh terhadap hipertermi seperti demam dan terjadinya peningkatan
aliran darah ke otak dapat mengakibatkan peningkatan tekanan intra-kranial (TIK). Peningkatan tekanan
intra-kranial sering menyebabkan kematian. Untuk itu, perlu sekali dilakukan kontrol terhadap
peningkatan suhu untuk menghindari peningkatan tekanan intra kranial dan perluasan area iskemik.
Manfaat menurunkan suhu inti untuk menghindari kerusakan yang luas dan komplikasi pada otak.
Menurut Dr. Ginsberg, variasi temperature sangat erat kaitannya dengan injuri neuronal meliputi
penurunan pengeluaran glutamate, mekanisme radikal bebas, depolarisasi iskemik, dan aktifitas kinase,
terjaganya aliran darah ke otak dan sitoskeleton, serta penekanan mekanisme inflamasi. Berdasarkan
hasil penelitian, penurunan suhu dapat meningkatkan kadar glutamate dan menghindari perluasan
iskemik dengan adanya hidroksil radikal.
Menurut Steiner, penurunan temperature otak dapat dilakukan dengan menurunkan suhu kulit atau suhu
sentral/inti. Meskipun target dan lamanya pendinginan masih diperdebatkan tetapi terapi hipotermi
sangat mudah dilakukan dan aman. Penurunan suhu permukaan atau suhu kulit dapat dilakukan dengan
memberikan alkohol (+air), selimut pendingin dan matras pendingin. Metode ini dapat dilakukan selama
3,5-6,5 jam untuk menurunkan suhu inti sampai 32C.
Heat Exhaustion dan Heat Stroke

Panas yang hebat (Heat Exhaustion) dapat menyebabkan kolaps karena hipotensi, akibat (1) penurunan
volume plasma darah akibat semakin besarnya volume pengeluaran keringat, sehingga akan
menurunkan CO jantung; dan (2) dilatasi berlebih pada pembuluh darah kulit sehingga menurunkan
resistensi perifer. Sedang, serangan panas (heat stroke) akan menyebabkan rusaknya sistem regulasi
panas di otak, sehingga suhu tubuh menjadi semakin panas. Hal ini akan mengakibatkan umpan balik
positif, yang mengakibatkan semakin meningkatnya suhu tubuh, meningkatnya metabolisme tubuh dan
produksi panas yang terus berlangsung. Keadaan ini akan menunjukkan gejala kolaps, tidak sadar,
delirium, seizures. Serangan ini diakibatkan oleh overesktensi panas lingkungan.

Sistem Pengaturan Suhu Tubuh


Nama: Munaji Dwi Ananto
Stambuk: D1b408052

I.

PENDAHULUAN

Termoregulasi adalah proses fisiologis yang merupakan kegiatan integrasi dan koordinasi yang
digunakan secara aktif untuk mempertahankan suhu inti tubuh melawan perubahan suhu dingin atau
hangat (Myers, 1984). Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi
adalah elemen-elemen dari homeostasis. Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin
(cold-blood animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood animals). Namun, ahli-ahli Biologi lebih
suka menggunakan istilah ektoterm dan endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama tubuh
hewan. Ektoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas
lingkungan). Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktasi, tergantung pada suhu lingkungan.
Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia,dan reptilia. Sedangkan
endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini
lebih konstan. Endoterm umum dijumpai pada kelompok burung (aves) dan mamalia.
Hewan mempunyai kemampuan adaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Sebagai contoh,
pada suhu dingin, mamalia dan burung akan meningkatkan laju metabolisme dengan perubahan
hormon-hormon yang terlibat di dalamnya, sehingga meningkatkan produksi panas. Pada ektoterm
(misal pada lebah madu), adaptasi terhadapsuhu dingin dengan cara lebah berkelompok dalam
sarangnya. Hasil metabolisme lebah secara kelompok mampu menghasilkan panas di dalam sarangnya.
Beberapa adaptasi hewan untuk mengurangi kehilangan panas, misalnya adanya bulu dan rambut pada
burung dan mamalia, otot,dan modifikasi sistem sirkulasi di bagian kulit. Kontriksi pembuluh darah di
bagian kulit dan countercurrent heat exchange adalah salah satu cara untuk mengurangi kehilangan

panas tubuh. Perilaku adalah hal yang penting dalam hubungannya dengan termoregulasi. Migrasi,
relokasi,dan sembunyi ditemukan pada beberapa hewan untuk menurunkan atau menaikkan suhu tubuh.
Gajah di daerah tropis untuk menurunkan suhu tubuh dengan cara mandi atau mengipaskan daun
telinganya ke tubuh. Sedangkan manusia menggunakan pakaian adalah salah satu perilaku unik dalam
termoregulasi.

II.

PEMBAHASAN

Hipotalamus
Hipotalamus adalah bagian yang sangat peka, yang merupakan pusat integrasi utama untuk
memelihara keseimbangan energi dan suhu tubuh. Hipotalamus berfungsi sebagai termostat tubuh,
dengan menerima informasi dari berbagai bagian tubuh di kulit. Penyesuaian dikoordinasi dengan
sangat rumit dalam mekanisme penambahan dan pengurangan suhu sesuai dengan keperluan untuk
mengorekasi setiap penyimpangan suhu inti dari nilai patokan normal. Hipotalamus mampu berespon
terhadap perubahan suhu darah sekecil 0,01C (Sherwood, 1996).
Hipotalamus terus-menerus mendapat informasi mengenai suhu kulit dan suhu inti melalui
reseptor khusus yang peka terhadap suhu yang disebut termoreseptor (reseptor hangat, dingin dan nyeri
di perifer). Reseptor suhu sangat aktif selama perubahan temperatur. Sensasi suhu primer diadaptasi
dengan sangat cepat. Suhu inti dipantau oleh termoreseptor sentral yang terletak di hipotalamus serta di
susunan syaraf pusat dan organ abdomen (Sherwood, 1996).
Di hipotalamus diketahui terdapat 2 pusat pengaturan suhu, yaitu di regio posterior dan anteror. Regio
posterior diaktifkan oleh suhu dingin dan kemudian memicu refleks yang memperantarai produksi panas
dan konservasi panas. Sedang, regio anterior yang diaktifkan oleh rasa hangat, memicu refleks yang
memperantarai pengurangan panas.
Termoregulasi pada Hewan
Dalam pengaturan suhu tubuh, hewan harus mengatur panas yang diterima atau yang hilang ke
lingkungan. Mekanisme perubahan panas tubuh hewan dapat terjadi dengan 4 proses, yaitu konduksi,
konveksi, radiasi, dan evaporasi. Konduksi adalah perubahan panas tubuh hewan karena kontakdengan
suatu benda. Konveksi adalah transfer panas akibat adanya gerakan udara atau cairan melalui
permukaan tubuh. Radiasi adalah emisi dari energi elektromagnet. Radiasi dapat mentransfer panas
antar objek yang tidak kontak langsung. Sebagai contoh, radiasi sinar matahari. Evaporasi adalah proses
kehilangan panas dari permukaan cairan yang ditranformasikan dalam bentuk gas.
Hewan mempunyai kemampuan adaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Sebagai contoh,
pada suhu dingin, mamalia dan burung akan meningkatkan laju metabolisme dengan perubahan
hormon-hormon yang terlibat di dalamnya, sehingga meningkatkan produksi panas. Pada ektoterm
(misal pada lebah madu), adaptasi terhadapsuhu dingin dengan cara lebah berkelompok dalam
sarangnya. Hasil metabolisme lebah secara kelompok mampu menghasilkan panas di dalam sarangnya.
Beberapa adaptasi hewan untuk mengurangi kehilangan panas, misalnya adanya bulu dan rambut pada
burung dan mamalia, otot,dan modifikasi sistem sirkulasi di bagian kulit. Kontriksi pembuluh darah di
bagian kulit dan countercurrent heat exchange adalah salah satu cara untuk mengurangi kehilangan

panas tubuh. Perilaku adalah hal yang penting dalam hubungannya dengan termoregulasi. Migrasi,
relokasi,dan sembunyi ditemukan pada beberapa hewan untuk menurunkan atau menaikkan suhu tubuh.
Gajah di daerah tropis untuk menurunkan suhu tubuh dengan cara mandi atau mengipaskan daun
telinganya ke tubuh. Sedangkan manusia menggunakan pakaian adalah salah satu perilaku unik dalam
termoregulasi.
Termoregulasi pada Manusia
Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur
atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta
termoregulasi dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi
dibandingkan lingkungan sekitarnya
Mekanisme pengaturan suhu tubuh merupakan penggabungan fungsi dari organ-organ tubuh yang
saling berhubungan. didalam pengaturan suhu tubuh mamalia terdapat dua jenis sensor pengatur suhu,
yautu sensor panas dan sensor dingin yang berbeda tempat pada jaringan sekeliling (penerima di luar)
dan jaringan inti (penerima di dalam) dari tubuh.Dari kedua jenis sensor ini, isyarat yang diterima
langsung dikirimkan ke sistem saraf pusat dan kemudian dikirim ke syaraf motorik yang mengatur
pengeluaran panas dan produksi panas untuk dilanjutkan ke jantung, paru-paru dan seluruh tubuh.
Setelah itu terjadi umpan balik, dimana isyarat, diterima kembali oleh sensor panas dan sensor
dingin melalui peredaran darah.
Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui
evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. dan modifikasi sistim sirkulasi di bagian
kulit. Kontriksi pembuluh darah di bagian kulit dan countercurrent heat exchange adalah salah satu cara
untuk mengurangi kehilangan panas tubuh. Mausia menggunakan baju merupakan salah satu perilaku
unik dalam termoregulasi
Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan
fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan
regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang
diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus
mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme
umpan balik ini terjadi bila suhu tubuh inti telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan
suhu, yang disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan
pada 37C. apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan terangsang untuk
melakukan serangkaian mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi
panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap..

Tubuh kita dilengkapi berbagai sistem pengaturan canggih, termasuk pengaturan suhu tubuh.
Manusia memiliki pusat pengaturan suhu tubuh (termostat), terletak di bagian otak yang disebut dengan
hipotalamus. Pusat pengaturan suhu tubuh itu mematok suhu badan kita di satu titik yang disebut set
point.
Hipotalamus bertugas mempertahankan suhu tubuh agar senantiasa konstan, berkisar pada suhu
37C. Itu sebabnya, di mana pun manusia berada, di kutub atau di padang pasir, suhu tubuh harus selalu
diupayakan stabil, sehingga manusia disebut sebagai makhluk yang mampu beradaptasi. Termostat
hipotalamus bekerja berdasarkan asupan dari ujung saraf dan suhu darah yang beredar di tubuh. Di
udara dingin hipotalamus akan membuat program agar tubuh tidak kedinginan, dengan menaikkan set
point alias menaikkan suhu tubuh. Caranya dengan mengerutkan pembuluh darah, badan menggigil dan
tampak pucat.
Sedangkan di udara panas, hipotalamus tentu saja harus menurunkan suhu tubuh untuk
mencegah heatstroke. Caranya dengan mengeluarkan panas melalui penguapan. Pembuluh darah
melebar, pernapasan pun menjadi lebih cepat. Karena itu, pada saat kepanasan, selain berkeringat, kulit
kita juga tampak kemerahan (flushing).
Organ Pengatur Suhu Tubuh
-

Pusat pengatur panas dalam tubuh adalah Hypothalamus, Hipothalamus ini dikenal sebagai thermostat
yang berada dibawah otak.

Hipothalamus anterior berfungsi mengatur pembuangan panas

Hipothalamus posterior berfungsi mengatur upaya penyimpanan panas

Mekanisme pengaturan suhu

Kulit --> Reseptor ferifer --> hipotalamus (posterior dan anterior) --> Preoptika hypotalamus -->
Nervus eferent --> kehilangan/pembentukan panas
Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh
1. Kecepatan metabolisme basal
Kecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda-beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas
yang diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya, sangat
terkait dengan laju metabolisme.
2. Rangsangan saraf simpatis
Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih
cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam
jaringan untuk dimetabolisme. Hamper seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi panas.
Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan
produksi epineprin dan norepineprin yang meningkatkan metabolisme.

3. Hormone pertumbuhan
Hormone pertumbuhan ( growth hormone ) dapat menyebabkan peningkatan kecepatan
metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga meningkat.
4. Hormone tiroid
Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hamper semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga
peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal.
5. Hormone kelamin
Hormone kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15%
kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih
bervariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran hormone progesterone pada masa ovulasi
meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 0,6C di atas suhu basal.
6. Demam ( peradangan )
Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120%
untuk tiap peningkatan suhu 10C.
7. Status gizi
Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20 30%. Hal ini terjadi
karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme. Dengan
demikian, orang yang mengalami mal nutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia).
Selain itu, individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena
lemak merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan
sepertiga kecepatan jaringan yang lain.
8. Aktivitas
Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan antar
komponen otot / organ yang menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu
tubuh hingga 38,3 40,0 C.
9. Gangguan organ
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat menyebabkan
mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saai
terjadi infeksi dapat merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar
keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu.
10. Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang
atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat
mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian
besar melalui kulit.

Proses kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui pembuluh
darah dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang
mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam fleksus arteriovenosa yang cukup tinggi (kadang
mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi
sangat efisien. Dengan demikian, kulit merupakan radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu
tubuh.

III.

PENUTUP

Dari hasil penulisan makalah ini dapat disimpulkan bahwa:


1. Hipotalamus adalah bagian yang sangat peka, yang merupakan pusat integrasi utama untuk memelihara
keseimbangan energi dan suhu tubuh. Hipotalamus berfungsi sebagai termostat tubuh, dengan menerima
informasi dari berbagai bagian tubuh di kulit.
2.

Dalam pengaturan suhu tubuh, hewan harus mengatur panas yang diterima atau yang hilang ke
lingkungan. Mekanisme perubahan panas tubuh hewan dapat terjadi dengan 4 proses, yaitu konduksi,
konveksi, radiasi, dan evaporasi. Konduksi adalah perubahan panas tubuh hewan karena kontakdengan
suatu benda. Konveksi adalah transfer panas akibat adanya gerakan udara atau cairan melalui
permukaan tubuh. Radiasi adalah emisi dari energi elektromagnet. Radiasi dapat mentransfer panas
antar objek yang tidak kontak langsung. Sebagai contoh, radiasi sinar matahari. Evaporasi adalah proses
kehilangan panas dari permukaan cairan yang ditranformasikan dalam bentuk gas.

3.

Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior terdapat tiga komponen pengatur atau
penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen serta
termoregulasi dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi
dibandingkan lingkungan sekitarnya

4. Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh


-

Kecepatan metabolisme basal

Rangsangan saraf simpatis

Hormone pertumbuhan

Hormone tiroid
Hormone kelamin
Demam ( peradangan )

Status gizi
Aktivitas
Gangguan organ
Lingkungan

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadican. 2011. Termogulasi Psda Manusia. http://ahmadihcan.blogspot.com/2011/01/termoregulasi-padamanusia-makalah.html


Aninomaus. 2011. Metabolisme Suhu Tubuh. http://www.duniaperawat.com/2011/04/metabolisme-suhutubuh.html
_____.

2009.

Termogulasi

Pengaturan

Suhu

Tubuh.

http://firebiology07.wordpress.com/2009/04/21/termoregulasi-pengaturan-suhu-tubuh/
Aya,. A. 2010. Pengaturan Suhu Tubuh. http://www.duniaperawat.com/2011/04/metabolisme-suhu-tubuh.html