Anda di halaman 1dari 18

TUGAS 1

BAHAN KONSTRUKSI TEKNIK KIMIA

Disusun Oleh :
Fifin Sunarlie (03111003082)

Dosen Pengajar : Ir. Faisol Asip

Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Kimia

Universitas Sriwijaya
Inderalaya
2013

1. Kriteria Pemilihan Bahan Konstruksi Kimia, dibagi menjadi tiga :


Perancang memilih bahan-bahan untuk dijadikan komponen atau struktur harus
mempertimbangkan faktor lain misalnya, ketahanan terhadap korosi. Perancangan dalam
rekayasa harus melalui kompromi sehingga bisa didapat produk yang cukup kuat, mudah
dibuat dan tidak mahal.
Untuk memilih material kita patut berpegang kepada most important characteristics
dari suatu hal ini juga bergantung dengan keadaan geografis atau lingkungan suatu
tempat. Pedoman ini dapat dijadikan penentuan skala prioritas untuk memilih suatu
material, dan hal itu adalah:
a). Biaya (Cost)
- biaya banyaknya bahan mentah yang digunakan untuk menghasilkan produk atau
biaya kuantitas
- biaya produksi, termasuk diantaranya biaya kemampuan di las, dibentuk dan
diproses secara mesin maupun tradisional
- umur pelayanan yang diharapkan
Jumlah bahan yang digunakan akan tergantung pada berat jenis material dan
kekuatan (desainstres) dan ini harus diperhitungkan ketika membandingkan biaya
material. Moore (1970) membandingkan biaya dengan menghitung faktor biaya penilaian
ditentukan oleh persamaan:
Biaya Peringkat D
Cd
Dimana :
CD biaya per satuan massa, / kg,
D density, kg / m3
D desain stres, N / mm
Peringkat dihitung biaya nya, relatif terhadap rating untuk baja ringan (karbon
rendah), ditunjukkan pada Tabel Relatif Biaya. Bahan dengan stres desain relatif tinggi,
seperti paduan stainless dan rendah baja, dapat digunakan lebih efisien daripada baja
karbon. Biaya relatif peralatan yang terbuat dari bahan yang berbeda akan tergantung
pada biaya fabrikasi, serta biaya dasar materi. Kecuali bahan tertentu memerlukan teknik

fabrikasi khusus, biaya relatif peralatan jadi akan lebih rendah dari biaya bahan relatif
telanjang. Sebagai contoh, biaya yang dibeli dari-stainless steel tangki penyimpanan akan
menjadi 2 sampai 3 kali biaya dari tangki yang sama dalam baja karbon, sedangkan biaya
relatif dari logam adalah antara 5 sampai 8. Jika laju korosi seragam, maka materi yang
optimal dapat dipilih dengan menghitung tahunan biaya untuk bahan kandidat yang
mungkin. Biaya tahunan akan tergantung pada diperkirakan hidup, dihitung dari laju
korosi, dan biaya pembelian peralatan.
Dalam situasi tertentu, mungkin terbukti lebih ekonomis untuk menginstal bahan yang
lebih murah dengan tingkat korosi yang tinggi dan menggantinya sering; ketimbang
memilih lebih tahan tetapi lebih mahal material. Strategi ini hanya akan dipertimbangkan
untuk relatif sederhana.
Tabel Relatif biaya peringkat untuk logam
Baja karbon
Al-paduan (Mg)
Stainless steel 18/8 (Ti)
Inconel
Kuningan
Perunggu
Alumunium
Monel
Tembaga
Nikel

Peringkat
1
4
5
12
10-15
16
18
19
27
35

Desain stres (N / mm2)


100
70
130
140
76
87
14
120
46
70

Catatan: Angka desain stres ditunjukkan untuk tujuan ilustrasi saja dan tidak boleh
digunakan sebagai desain nilai-nilai.
Peralatan dengan biaya fabrikasi rendah, dan di mana kegagalan prematur tidak akan
menyebabkan serius bahaya. Misalnya, baja karbon dapat ditentukan untuk limbah cair
baris di tempat stainless steel, menerima kebutuhan kemungkinan untuk
penggantian. Pipa Tebal dinding akan dipantau in situ sering untuk menentukan kapan
pengganti dibutuhkan.
Lebih mahal tahan korosi, paduan sering digunakan sebagai cladding pada baja
karbon. Jika piring tebal diperlukan untuk kekuatan struktural, penggunaan bahan
berpakaian secara substansial dapat mengurangi biaya.

b). Ketersediaan

- tersedianya peralatan untuk pabrikasi


- tersedianya bahan baku dilingkungan sekitar yang cukup dekat, sehingga tidak perlu
mendatangkan bahan dari tempat lain
Ketersediaan bahan baku juga dipertimbangkan, termasuk kualitas bahan baku untuk
meminimalkan hasil produksi yang tidak sesuai standar/scrap. Walaupun bahan baku yang
digunakan adalah komoditas yang diperdagangkan secara global, kedekatan dengan
sumber bahan baku itu penting, mengingat biaya transportasi yang tinggi. Perusahaan
yang memiliki bermacam-macam operasi atau operasi yang terintegrasi secara vertikal
akan mendapatkan keuntungan karena tidak terlalu bergantung pada bahan baku atau
produk antara (semi-finished) yang harus dibeli dengan harga yang tinggi.

c). Sifat-sifat Umum Bahan


- Sifat Mekanik
- Sifat Termal
- Sifat Listrik
2. Sifat-sifat umum bahan ialah
- Sifat Mekanik
Sifat mekanik adalah salah satu sifat yang terpenting, karena sifat mekanik
menyatakan kemampuan suatu bahan (seperti komponen yang terbuat dari bahan tersebut)
untuk menerima beban / gaya / energi tanpa menimbulkan kerusakan pada bahan /
komponen tersebut. Seringkali bila suatu bahan mempunya sifat mekanik yang baik tetapi
kurang baik pada sifat yang lain, maka diambil langkah untuk mengatasi kekurangan
tersebut dengan berbagai cara yang diperlukan. Misalkan saja baja yang sering digunakan
sebagai bahan dasar pemilihan bahan. Baja mempunyai sifat mekanik yang cukup baik,
dimana baja memenuhi syarat untuk suatu pemakaian tetapi mempunyai sifat tahan
terhadap korosi yang kurang baik. Untuk mengatasi hal itu seringkali dilakukan sifat yang
kurang tahan terhadap korosi tersebut diperbaiki dengan cara pengecatan atau
galvanising, dan cara lainnya. Jadi tidak harus mencari bahan lain seperti selain kuat juga

harus tahan korosi, tetapi cukup mencari bahan yang syarat pada sifat mekaniknya sudah
terpenuhi namun sifat kimianya kurang terpenuhi.
Berikut adalah beberapa sifat mekanik yang penting untuk diketahui :

Kekuatan (strength), menyatakan kemampuan bahan untuk menerima tegangan tanpa


menyebabkan bahan menjadi patah. Kekuatan ini ada beberapa macam, tergantung
pada jenis beban yang bekerja atau mengenainya. Contoh kekuatan tarik, kekuatan

geser, kekuatan tekan, kekuatan torsi, dan kekuatan lengkung.


Kekerasan (hardness), dapat didefenisikan sebagai kemampuan suatu bahan untuk
tahan terhadap penggoresan, pengikisan (abrasi), identasi atau penetrasi. Sifat ini
berkaitan dengan sifat tahan aus (wear resistance). Kekerasan juga mempunya

korelasi dengan kekuatan.


Kekenyalan (elasticity), menyatakan kemampuan bahan untuk menerima tegangan
tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk yang permanen setelah tegangan
dihilangkan. Bila suatu benda mengalami tegangan maka akan terjadi perubahan
bentuk. Apabila tegangan yang bekerja besarnya tidak melewati batas tertentu maka
perubahan bentuk yang terjadi hanya bersifat sementara, perubahan bentuk tersebut
akan hilang bersama dengan hilangnya tegangan yang diberikan. Akan tetapi apabila
tegangan yang bekerja telah melewati batas kemampuannya, maka sebagian dari
perubahan bentuk tersebut akan tetap ada walaupun tegangan yang diberikan telah
dihilangkan. Kekenyalan juga menyatakan seberapa banyak perubahan bentuk elastis
yang dapat terjadi sebelum perubahan bentuk yang permanen mulai terjadi, atau dapat
dikatakan dengan kata lain adalah kekenyalan menyatakan kemampuan bahan untuk
kembali ke bentuk dan ukuran semula setelah menerima bebang yang menimbulkan

deformasi.
Kekakuan

(stiffness),

menyatakan

kemampuan

bahan

untuk

menerima

tegangan/beban tanpa mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk (deformasi) atau

defleksi. Dalam beberapa hal kekakuan ini lebih penting daripada kekuatan.
Plastisitas (plasticity) menyatakan kemampuan bahan untuk mengalami sejumlah
deformasi plastik (permanen) tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan. Sifat ini
sangat diperlukan bagi bahan yang akan diproses dengan berbagai macam
pembentukan seperti forging, rolling, extruding dan lain sebagainya. Sifat ini juga
sering disebut sebagai keuletan (ductility). Bahan yang mampu mengalami deformasi
plastik cukup besar dikatakan sebagai bahan yang memiliki keuletan tinggi, bahan

yang ulet (ductile). Sebaliknya bahan yang tidak menunjukkan terjadinya deformasi

plastik dikatakan sebagai bahan yang mempunyai keuletan rendah atau getas (brittle).
Ketangguhan (toughness), menyatakan kemampuan bahan untuk menyerap sejumlah
energi tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan. Juga dapat dikatakan sebagai
ukuran banyaknya energi yang diperlukan untuk mematahkan suatu benda kerja, pada
suatu kondisi tertentu. Sifat ini dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga sifat ini sulit

diukur.
Kelelahan (fatigue), merupakan kecendrungan dari logam untuk patah bila menerima
tegangan berulang ulang (cyclic stress) yang besarnya masih jauh dibawah batas
kekuatan elastiknya. Sebagian besar dari kerusakan yang terjadi pada komponen
mesin disebabkan oleh kelelahan ini. Karenanya kelelahan merupakan sifat yang
sangat penting, tetapi sifat ini juga sulit diukur karena sangat banyak faktor yang

mempengaruhinya.
Creep, atau bahasa lainnya merambat atau merangkak, merupakan kecenderungan
suatu logam untuk mengalami deformasi plastik yang besarnya berubah sesuai dengan
fungsi waktu, pada saat bahan atau komponen tersebut tadi menerima beban yang
besarnya relatif tetap.
Beberapa sifat mekanik diatas juga dapat dibedakan menurut cara pembebanannya,

yaitu :

Sifat mekanik statis, yaitu sifat mekanik bahan terhadap beban statis yang besarnya

tetap atau bebannya mengalami perubahan yang lambat.


Sifat mekanik dinamis, yaitu sifat mekanik bahan terhadap beban dinamis yang besar
berubah ubah, atau dapat juga dikatakan mengejut.
Ini perlu dibedakan karena tingkah laku bahan mungkin berbeda terhadap cara

pembebanan yang berbeda.


- Sifat Thermal
Sifat termal bahan dikaitkan dengan perpindahan kalor. Perpindahan kalor ada dua,
yaitu :

Keadaan tetap (steady heat flow)


Keadaan berubah (transient heat flow)

1. Perpindahan Kalor Keadaan Tetap

Dalam keadaan yang sebenarnya perpindahan kalor bersifat rumit. Oleh karena itu
untuk kepentingan praktis, persamaannya disederhanakan. Perpindahan kalor suatu
bahan tidak hanya tergantung pada tahanan (resistance) bahan tersebut tetapi tahanan
dari kedua permukaan bahan tersebut, atau koefisien permukaan bahan tersebut.
Persamaan aliran kalor : q = UA (t1-t2)
Dimana, q = aliran kalor
U = transmitan keseluruhan
A = luas bahan atau elemen
t1-t2 = perbedaan suhu udara dua permukaan
Persamaan lain : q = 1/R A (t1-t2)
U = 1/R

U=

Dimana, hi = koefisien permukaan dalam


ho = koefisien permukaan luar
k = konduktifitas termal
d = tebal lapisan

Tahanan termal
R adalah jumlah dari tahanan termal dari kedua permukaan dan jumlah tahanan dari
masing-masing lapisan.
R = 1/hi+1/ho+d1/k1+...+dn/kn
= Ri+Ro+R1+...+Rn

Faktor-faktor yang mempengaruhi konduktifitas termal


1. Kandungan uap air
Konduktivitas termal air sebesar 25x konduktifitas udara tenang. Oleh karena itu,
apabila suatu benda berpori diisi air maka akan berpengaruh terhadap konduktivitas
termal. Konduktivitas termal yang rendah pada bahan insulasi adalah selaras dengan
kandungan udara dalam bahan tersebut.
Hubungan antara konduktivitas termal dan kandungan uap air dituangkan dalam persa
-maan sebagai berikut :
Kh = Kd (1+0,0125h)
Dimana, Kh = Konduktivitas termal pada kandungan uap air h
Kd = Konduktivitas termal dalam keadaan kering
H = kandungan uap air (%berat)
2. Suhu
Pengaruh suhu terhadap konduktivitas termal suatu bahan adalah kecil. Namun secara
umu dapat dikatakan bahwa konduktivitas termal akan meningkat apabila suhu
meningkat.
3. Kepadatan dan Porositas
Konduktivitas termal berbeda pengaruh terhadap kepadatan apabila pori-pori bahan
semakin banyak maka konduktivitas termal rendah. Perbedaan konduktivitas termal
bahan dengan kepadatan yang sama, akan tergantung kepada perbedaan struktur, yang
meliputi : ukuran, distribusi, hubungan pori/lubang.
Batas Konduktivitas Termal Bahan
Konduktivitas termal bajan insulasi terbatas kepada konduktivitas gas dalam poripori. Tidak mungkin bahan yang berpori memiliki konduktivitas termal lebih rendah

dari udara tenang (still air). Namun demikian ada bahan insulasi (foam) yang
mempunyai konduktivitas termal lebih rendah dari udara tenang.
Beberapa sifat konduktivitas termal bahan dan sifat lainnya :

Klasifikasi
Perincian
Konduktivitas
Papan
Asbeston

Tanah Pengisi
Bahan Lantai
Bahan Kaca
Bahan Insulasi

Bahan Bata

Bahan Atap
Kayu

Berat Jenis
kgm/m3
1602

Kalor
kkal/kgm0C
0,20

Spesifik
kkal/m2
0,56

Semen
Gypsum Board
Tanah
Aspal
Marmer
Teraso
Kaca
Asbestos,

993
1201
2243
2723
2435
2483
144

0,25
0,20
022
0,20
0,20
0,16
0,20

015
0,32
1,12
2,16
1,49
0,64
0,05

Selimut
Asbes, Papan

705

0,09

Insulasi
Papan Gabus
Mineral Wood
Batu Bata
Beton (ringan)
Beton (padat)
Plester
Atap Genteng
Tanah
Baja
Kayu

96
16-160
1826
320
2323
1762
1922
7849
481

0,47
0,21
0,18
0,21
0,21
0,22
0,22
0,12
0,45

0,04
0,03
0,71
0,07
1,30
0,58
0,75
45,88
0,11

Koefisien Permukaan
Koefisien Permukaan berpengaruh terhadap perpindahan kalor secara konduksi,
konveksi, dan radiasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi perpindahan kalor pada
permukaan :
1. Emisivitas permukaan
Emisivitas permukaan yang semakin tinggi akan menyebabkan peningkatan kalor
yang hilang secara radiasi. Apabila suatu permukaan memancarkan radiasi kepada

suatu daerah yang memiliki suhu yang lebih rendah, maka koefisien permukaan akan
meningkat.
2. Kecepatan udara
Semakin tinggi kecepatan udara pada sebuah permukaan akan meningkatkan kadar
aliran kalor secara konveksi paksa, dan meningkatkan koefisien permukaan.
3. Perbedaan suhu
Perbedaan suhu antara permukaan dan udara diatasnya akan menyebabkan
meningkatnya koefisien permukaan disebabkan perpindahaan kalor secara konveksi.
4. Kekasaran permukaan
Semakin kasar sebuah permukaan akan menyebabkan meningkatnya perpindahan
kalor secara konveksi yang juga menyebabkan koefisien permukaan meningkat, hal
ini disebabkan terjadinya tubulensi (perputaran) udara yang mengalir didekatnya.
5. Koefisien permukaan
Koefisien permukaan yang vertikal berbeda dengan koefisien permukaan yang
horizontal.
Sifat Termal Bahan
Perbedaan suhu antara dalam dan luar bangunan menyebabkan perpindahan kalor.
Kadar kalor yang melalui unsur bangunan bergantung kepada sifat termal bahan
konstruksi bangunan. Berikut akan menerangkan sifat-sifat termal bahan :
1. Kalor Spesifik dan Kapasitas Termal
Kalor spesifik sebuah bahan adalah sejumlah kalor yang diperlukan untuk
menaikan suhu sebuah massa bahan sebanyak 10C. Unit kalor tentu adalah J kg-1 0C-1.
Bahan yang lebih besar nilai kalor tentu akan menyerap kalor yang lebih besar untuk
setiap unit kenaikan suhunya. Kapasitas termal, yang berkaitan dengan massa dan

kalor tentu dariada unsur tersebut, memainkan peranan yang penting. Bagi dinding
yang menggunakan konstruksi berat, diperlukan sejumlah kalor yang besar untuk
menaikkan suhu unsur tesebut sebelum memindahkan kalornya ke sisi dalaman.
Akibatnya, terdapat "massa lambat" antara gandaan kalor suria maksimum pada
permukaan luar dan massa perpindahan kalor maksimum oleh permukaan ruang
dalaman

terhadap

udara

di

dalam.

"Masa lambat", , didefinisikan sebagai beda massa antara massa dan suhu
permukaan dalam mencapai maksimum dan suhu permukaan luar mencapai
maksimum. Massa lambat suatu unsru selari dengan muatan termal dan terbalik
dengan konduktannya. Oleh itu, dinding batu bata yang berat dan tebal memiliki
massa lambat yang tinggi, manakala dinding yang ringan dan tipis akan mempunyai
massa

lambat

yang

rendah.

2. Konduksi Termal dan Konduktan


Konduksi termal suatu bahan, k, didefinisikan sebagai kadar aliran kalor (secara
konduksi) melalui seunit luas sekeping bahan dengan seunit ketebalan dan seunit
perbedaan suhu (Harkness, 1978; Bilington, 1952). Konduktan daripada kepingan
bahan didefinisikan sebagai kadar perpindahan kalor melalui seunit luas sebuah
bidang apabila perbedaan suhu antara permukaannya adalah 1 C. Konduksi adalah
merupakan

sifat

sesungguhnya

daripada

bahan.

Konduksi termal di pengaruhi oleh 4 faktor, yaitu :


- Kandungan uap air
- Suhu
- Berat jenis
- Keadaan pori-pori bahan
Sebuah objek dengan nilai konduksi yang besar (nilai k) adalah pengalir yang
baik. Sebaliknya apabila memiliki nilai k yang kecil objek itu merupakan pengalir
yang buruk atau penebat yang baik. Sifat-sifat penebatan hanya dapat dikekalkan
apabila berada dalam keadaan kering. Dalam semua kes, konduksi meningkat selari
dengan meningkatnya kandungan lembapan (Bilington, 1952). Konduksi termal air
adalah kira-kira 25 kali udara bersih. Oleh itu, tidak mengherankan apabila
penggantian udara dalam liagn atau antara butir halis dalam bahan dengan air akan

mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap konduksi termal bahan. Kehadiran
air akan menggandakan konduksi termal daripada dinding papan atau batu bata dan
juga mempunyai pengaruh besar terhadap bahan-bahan bangunan yang lain.
Pengaruh suhu terhadap konduksi termal bahan adalah kecil berbanding selang
suhu yang biasa ditemui dalam bangunan. Secara umum, konduksi termal cenderung
meningkat selari dengan kenaikan suhu. Situasi ini lebih kerap berlaku dalam kes
bahan ringan (light-weight) dengan perbandingan udara dalam rongga yang besar.
Konduksi juga dipengaruhi oleh berat jenis dan "keliangan" (porosity). Nilai konduksi
berubah apabila terdapat perubahan berat jenis dan kandungan lembapab sesuatu
bahan. Bahan dengan berat jenis yang tinggi merupakan pengalir yang baik,
sebaliknya apabila berat jenis semakin rendah, kandungan udara dalam ronffa
semakin besar makan semakin rendah pula konduksi termal. Secara umum dapt
disimpulkan konduksi termal yang rendah bagi kebanyakan bahan penebalan
sesungguhnya

sesuai

dengan

udara

yang

dikandungi

bahan

tersebut.

3. Rintangan dan Tahanan


Kebalikan daripada konduksi (1/k) adalah tahanan, r , dengan unit m0CW-1. Rintangan
didefinisikan sebagai balikan daripada konduktan :

R= =

= dp 0C/W

Dimana ,
R = Rintangan
C = Kalor tentu udara (W/kg/0C)
d = Pekali rangkap pindah (W/j/m2/0C)
k = Konduksi termal (W/j/m/0C)
= Berat jenis udara
4. Konduktan Permukaan dan Rintangan Permukaan
Perpindahan kalor dalam bangunan perlu mengambil kira perpindahan kalor
daripada udara ke udara melalui dinding, khususnya daripada udara luar ke udara
dalam atau sebaliknya. Selain rintangan daripada dinding, terdapat pula rintangan

yang diakibatkan oleh permukaannya. Rintangan pada permukaan ini tipis dan disebut
dengan 'rintangan filem' atau 'rintangan permukaan'. Rintangan permukaan yang
terdapat pada dinding adalah rintangan permukaan dalaman dan luaran, sesuai dengan
kehadiran lapisan filem udara pada kedua sisi dinding ini. Kebalikan daripada
rintangan permukaan adalah 'konduktan permukaan' yang ditandakan dengan f.
5. Emisiviti
Perpindahan kalor secara radiasi daripada satu objek kepada objek lainnya.
Dalam proses ini bahan pertantaranya tidak menjadi panas. Intensitas kalor yang
dipancarkan oleh suatu permukaan diberikan oleh hukum Stefan Boltzmann :
qr = eAT4
Dimana,
qr = Gandaan kalor radiasi suria (W/j)
= konstan Stefan Boltzman 1,797x108
e = emisiviti bagi seluruh bumbung atau dinding (m2)
A = luas permukaan dalaman bagi sebuah bumbung atau dinding (m2)
T = suhu udara dalam ruang pada massa (K)
Emisiviti sebuah permukaan didefinisikan sebagai perbandingan daripada energi
yang dipancarkan oleh permukaan dengan energi yang dipancarkan oleh sebuah objek
hitam pada suhu yang sama seperti permukaan itu. Nilai emisiviti, e, dan juga
kebeserapan, a, daripada sebuah objek hitam adalah satu unit. Oleh karena itu, objek
hitam adalah penyerap dan juga pemancar yang sempurna daripada segi radiasi
termal.
Emisiviti sebuah permukaan bagi radiasi gelombang panjang adalah perbandingan
radiasi termal dari satu luas terhadap radiasi daripada satu luas daripada sebuah
pemancar

bewarna

hitam

Keberpancaran =

Emisiviti merupkan fungsi daripada :

pada

suhu

yang

sama

1. Sifat permukaan, warna, dan kekerasaan


Permukaan yang halus dan terang memiliki emisiviti yang rendah
2. Suhu permukaan
Untuk setiap panjang gelombang berlaku persamaan seperti berikut :
e+r=1
Dimana e adalah emisiviti dan r adalah radiasi suria
Apabila emisiviti sama dengan daya serapan pada suatu suhu, maka persamaan di atas
berubah menjadi :
e = = 1-r
6. Rintangan Termal Ruang Udara
Konduksi termal untuk udara sangat rendah (Bilington, 1978). Oleh karena itu,
sebuah ruang yang tertutup rapat merupakan sebuah rintangan yang baik. Perpindahan
kalor secara konduksi adalah kecil berbanding dengan radiasi kalor dari satu
permukaan ke permukaan lain. Selain itu juga, berlaku roses perpindahan kalor secara
perolakan di dalam ruang udara tersebut. Perpindahan kalor secara perolakan lebih
besar

berbanding

dengan

konduksi.

Konduksi termal udara tenang (still air) samada di bawah bahan-bahan bangunan,
liang dalam dinding ataupun bumbung dianggap memiliki rintangan termal yang
tinggi. Kebanyakan proses perpindahan kalor melalui sebuah rongga berlaku secara
radiasi, yaitu antara permukaan yang berhadapan pada rongga tersebut dan hanya
sedikit kalor dipindahkan secara konduksi melalui udara (Harkeness, 1978).
Apabila liang dilapik dengan lapisan tipis logam penebat (seperti alumunium foil)
sebagai penebatan yang bersifat memantul, maka rintangannya akan meningkat. Hal
ini disebabkan daya serapan untuk lapisan tersebut terhadap radiasi adalah rendah
(daya serapan kira-kira 0,90) tidak akan menghasilkan rintangan yang lebih baik
berbanding dengan menggunakan lapisan tipis logam (Harkness, 1978). Secara
umum, permukaan logam yang berkilat adalah bahan penebat gelombang panjang,

sedangkan

permukaan

cat

putih

sesuai

untuk

radiasi

suria.

7. Rintangan Menyeluruh
Dinding atau bumbung bangunan biasanya terdiri daripada beberapa lapisan yang
berbeda bahannya. Rintangan menyeluruh daripada lapisan tersebut didapati dengan
menambahkan setiap rintangan lapisan tersebut. Oleh karena itu, persamaan rintangan
menyeluruh adalah :
RT = R1+R2+R3+...

C/W

dimana RT adalah rintangan menyeluruh bagi lapisan-lapisan sedangkan R1, R2, dan
R3 adalah rintangan untuk lapisan 1, 2, dan 3.
8. Keberhantaran atau Nilai-U
Keberhantaran atau nilai U daripada sebuah objek didefinisikan sebagai kebalikan
daripada rintangan menyeluruh. Unit keberhantaran adalah sama dengan konduktan,
yaitu wmc. Pada praktiknya, keberhantaran melalui dinding bangungan daripada
udara luar ke udara dalam senantiasa diambil kira-kira. Dalam hal ini rintangan filem
luaran dan dalaman harus diambil kira secara berasingan daripada rintangan dinding
ataupun bumbung.

- Sifat Listrik

Berdasarkan sifat listriknya, material / bahan dikelompokkan menjadi 3 sebagai


berikut :

- Konduktif jika resistansinya < 105 ohm


Disini elektron mudah bergerak atau mengalir, jadi netralisasi dapat dilakukan dengan
mudah dengan cara grounding.
Contoh : logam dan tubuh manusia

- Insulatif jika resistansinya > 1011 ohm


Elektron bisa dikatakan tak dapat bergerak, jadi netralisasi hanya mungkin dilakukan
dengan ionisasi.
Contoh : plastik dan karet
Dari pengukuran tribocharging, kita bisa menentukan apakah muatan listrik mudah
ditimbulkan pada bahan tersebut jika tidak mudah membangkitkan
muatan (atau muatan yang dihasilkan cukup rendah), maka bahan itu dapat dikatakan
sebagai anti-statik

Statik

disipatif

resistansi

di

antara

105

sampai

1011

ohm

Disini, elektron dapat bergerak tetapi lambat, jadi perlu diketahui parameter decay
time. Untuk mengetahui berapa cepat grounding dapat menetralisasi muatan.
Pengukuran tribocharging juga perlu dilakukan untuk mengetahui apakah bahan
tersebut anti-statik atau tidak.
Umumnya bahan yang masuk kategori statik disipatif adalah bahan buatan, artinya
memang khusus dibuat untuk mempunyai resistansi tertentu, misalnya bahan dasarnya
adalah insulatif tapi diberi tambahan karbon dalam kadar tertentu untuk membuatnya
bersifat statik disipatif. Jika kadarnya berlebih, bahan juga bisa bersifat konduktif.
Untuk mengukur nilai resistansi bahan, kita gunakan MegaOhmmeter (atau Surface
Resistance Meter) ini semacam multimeter biasa tetapi dengan jangkauan
pengukuran sampai 100 G Ohm atau lebih. Kita juga dapat menggunakan
electrometer (misalnya Electrostatic Voltmeter/ Fieldmeter) untuk mengukur muatan
listrik dari proses tribocharging dan dengan bantuan stopwatch, kita pun dapat
mengukur decay time secara kualitatif. Untuk hasil yang lebih akurat, kita perlu
menggunakan

Charged

Plate

Monitor.

Jadi, jika adanya muatan listrik statik menimbulkan masalah, maka salah satu
solusinya adalah dengan menetralkan mutan listrik bersangkutan. Cara efektif untuk
menetralkan muatan listrik dilakukan berdasarkan sifat listrik material/bahan.Pada
dasarnya netralisasi muatan dapat dilakukan dua cara, yaitu grounding dan ionisasi
dengan ionizer. Grounding dilakukan jika elektron dapat bergerak atau mengalir
dalam bahan bersangkutan, yaitu dengan menghubungkan bahan tersebut ke

tanah/bumi atau bagian ground dari kabel listrik karena tanah/bumi adalah reservoar
muatan (sumber muatan yang tak-terhingga). Sebaliknya, untuk bahan yang tak dapat
mengalirkan muatan, maka tidak ada jalan lain untuk menetralkan muatan kecuali
memberikan muatan yang berlawanan dari udara. Sebetulnya udara mengandung
sejumlah molekual uap air yang dapat menetralkan permukaan suatu benda, tapi
netralisasi secara alami ini akan berlangsung sangat lama. Untuk mempercepat proses
netralisasi, maka digunakan alat/peralatan yang disebut Ionizer. Ionizer dirancang
untuk menghasilkan sejumlah besar ion positif maupun negatif dan ion-ion tersebut
diarahkan ke permukaan benda yang akan dinetralisasi. Selain itu, netralisasi juga
dapat dilakukan dengan membasahi permukaan bahan bersangkutan dengan air biasa
(bukan DI water) atau larutan yang mengandung air seperti IsoPropyl Alcohol (IPA).

Daftar Pustaka

http://new.pefindo.com/scrm_korporasi_logam.php
http://newbe-for.blogspot.com/2012/05/bahan-konstruksi-teknik-kimia.html
http://queenalfa.webs.com/apps/blog/show/5927930
http://adiimrf.wordpress.com/2009/12/18/bahan-konstruksi-teknik-kimia-bahankonstruksi-korosi-pengantar/
http://chemie08.blogspot.com/2009/12/sifat-bahan-konstruksi-kimia.html